Jeju Teddy Bear Museum

One of my dream destinations in South Korea is the Teddy Bear Museum. Gue emang bukan kolektor Teddy, tapi berpose di tempat yang penuh dengan boneka lucu pasti akan menghasilkan sekumpulan foto yang imut-imut 😀 Lalu bagaimana kesan yang gue dapatkan setelah berkunjung ke sana?

Fyi, di Korsel terdapat 4 museum Teddy Bear yang tersebar di 4 kota. Pada kesempatan yang lalu, gue hanya mengunjungi museum Teddy Bear terbesar di Korsel, yang berlokasi di Jungmun Resort di Jeju island. Jadi… review ini hanya berlaku untuk museum Teddy Bear di Jeju saja yaa.

Begitu baru masuk menuju exhibition hall, kita langsung disambut sama sepasang boneka Teddy seukuran manusia yang berpakaian ala pengantin barat, lengkap sama tudung pengantinnya. Kemudian di dalam, kita akan menemukan banyak Teddy Bear dalam berbagai tema. Ada Teddy Bear yang menyerupai artis dan tokoh internasional legendaris, tema film seperti Princess Hour dan Titanic, ada pula yang bertemakan sejarah nasional maupun internasional. Yang tifak kalah menarik; boneka Teddy bertahta berlian, dan boneka Teddy yang pake LV fashion items!

 

 

 

 

 

 

Selain exhibition indoor, ada pula lokasi outdoor-nya. Di taman ini jelas enggak mungkin ada banyak boneka Teddy asli, hampir semua cuma patungnya saja… tapi ada beberapa setting yang lucu banget buat dijadikan tempat foto. So don’t miss it! Buat nemuin taman ini, cari café di dalam museum dan keluar lewat pintu yang ada di café tersebut. Setelah itu turun tangga, then you will see the Teddy Park.

 

 

 

 

 

 

Mengenai mana yang lebih bagus antara Teddy Bear Museum Jeju atau Seoul, sayangnya gue nggak jadi mampir ke museum Teddy di NSeoul Tower sehingga enggak bisa kasih pendapat tentang hal ini. Tapi menurut cerita yang didapatkan salah satu teman seperjalanan gue dari teman sekantornya, museum di Jeju lebih besar, tetapi museum di Seoul lebih bagus dan baru sehingga bonekanya pun masih terlihat baru. However, gue enggak lantas ngerasa boneka di Jeju udah pada dekil seperti yang dibilang sama temennya temen gue itu sih… Toh sebagian besar bonekanya tersimpan dalam etalase kaca, sehingga tidak mungkin bisa disentuh oleh pengunjung.

Oh ya, perbedaan lainnya antara museum Teddy Bear Jeju versus Teddy Bear Seoul adalah soal keragaman tema. Berbeda dengan museum Jeju yang menampilkan banyak banget tema, museum di Seoul lebih mengedepankan perjalanan bangsa Korsel dari masa ke masa, mulai dari masa penjajahan sampai masa modern sekarang ini. Atau kalau masih bingung… yaah, dateng aja ke dua-duanya, hehehehe.

Karakter Golongan Darah “O”

Berawal dari foto yang di-share salah satu teman, gue jadi nemuin Facebook page yang menarik, namanya Blood Type Comics. Isinya berbagai macam komik yang menggambarkan perbedaan karakter 4 golongan darah. Yang bikin gue kaget adalah… it’s absolutely true! Berikut ini gue rangkum sifat dasar si golongan darah O (yup, I’m an O) berdasarkan kumpulan komik di Facebook page ini:

Anger Management

“Talk to a third party to vent. They can de-stress, but people around them will be exhausted.”

Gue langsung nyengir baca bagian ini. Gue emang terkenal sebagai orang yang suka curhat. Gue membagi teman curhat gue berdasarkan topiknya. Si A buat dengerin curhat gue soal kerjaan, si B khusus denger soal masalah keluarga, si C dan D buat dengerin curhat gue soal cowok (soal ini masih terbagi lagi… si C khusus denger curhatan gue tentang si E, dan si D khusus denger soal kisah gue sama si F). Cuma ada ada dua sahabat lama yang sudah sangat-sangat dekat dengan gue yang pernah mendengar hampir semua cerita penting dalam hidup gue.

Kenapa gue membagi-bagi curhatan gue? Karena topik yang gue ceritakan itu belum tentu dianggap menarik oleh semua orang. Kemudian belakangan ini, untuk urusan gebetan, gue lebih memilih untuk curhat sama teman yang tidak mengenal cowok itu. Selain itu… yaaah, gue juga enggak mau temen-temen gue sampe exhausted cuma gara-gara dengerin semua kisah hidup gue, hehehehehe.

Inside Their Hearts

Inquisitive, likes to win…

Selalu ingin tahu? Menyukai kemenangan? Yeah, well… that’s me.

Gue tipe orang yang gampang banget penasaran. Ada satu teman di EY, dan satu lagi teman di Niro, yang dua-duanya seneng banget sengaja bikin gue jadi penasaran. Mereka tau banget gue ini bisa jadi cacing kepanasan kalo lagi penasaran.

Kemudian soal menyukai kemenangan… pada dasarnya siapa sih, yang mau mengalami kekalahan? Cuma bedanya, gue emang tipe orang yang berusaha lebih keras untuk memenangkan hal-hal yang gue anggap penting dalam hidup gue. The euphoria of a glory is pretty addictive to me. Gue rasa sifat ini justru bisa jadi sifat positif, selama gue tidak lantas menghalalkan berbagai macam cara.

Smart Phone

“For type O, the smartphone is the mean of expressing their own character. They become the number one devotee of their own phone, and start spreading rumors about it.”

O is likely saying, “Yo! I got the latest smartphone!” or “Did you try this application? It is the best!” or “Trust me! This is the right phone!”

Gue nyengir paling lebar saat baca komik bertema Smart Phone ini. Coba klik blog gue yang ini dan yang ini. Nah, see? I’m definitely an O, hehehehehe.

Gue bukan tipe orang yang ganti hp setahun dua kali. Setahun sekali aja belum tentu gue ganti. Tapi sekalinya ganti, gue pengen hp yang canggih. Itulah alasannya gue ngotot mempertahankan Android dan selalu menolak buat ganti BB. Walaupun akhirnya gue pake BB, si Android tetap jadi andalan karena BB gue itu khusus buat CDMA aja. Tapi kalo kata beberapa orang teman gue, “Yaah… apapun alasannya, akhirnya elo pake BB juga, hahahahaha,” atau, “Gue masih takjub akhirnya elo beli BB, hahahahaha.”

Yeaaah, whatever.

P.s.: Kayaknya gue sedang mempertimbangkan bikin review di blog tentang BB CDMA gue, hehehehehe.

Reaction when given a bowl of marshmallows

“Due to their strong survival instincts, they stash the marshmallows away for future needs. But also they tend to forget where they left them.”

Pada komik soal marshmallow ini, si O digambarkan menyimpan mangkuknya di dalam kulkas, supaya awet dan akan dimakan saat dibutuhkan. Tapi setelah itu, si O malah lupa… di mana dia menyimpan mangkuk marshmallow-nya?

Gue juga sering mengalami hal kayak gitu lho. Gue suka sok-sok menyimpan sesuatu di tempat yang aman, tapi akhirnya gue malah lupa… kemaren gue simpan di mana??? Makin brilian ide yang gue punya, semakin besar pula potensi gue buat lupa, hehehehe.

Type O Overview

  1. Have the strongest need for survival;
  2. Have great motivation when there’s a goal, but promptly lose their will once the goal is blurred. Kalo gue, butuh waktu agak lama untuk bangkit kembali. Dan biasanya, keberadaan orang-orang yang mendukung gue adalah salah satu faktor terpenting yang membuat gue jadi pantang menyerah;
  3. Are both an idealist… and a realist. Ini bener banget loh. Meskipun gue tipe orang yang idealis, gue tetap orang yang realistis. Bukan berarti nggak punya pendirian… gue hanya berpikir, kadang-kadang hal terbaik yang bisa terjadi sama kita itu belum tentu hal yang 100% mirip dengan idealisme kita. Bersikap realistis membuat hidup gue jadi lebih mudah, tetapi mempertahankan idealisme juga tetap penting untuk memastikan setidaknya, my life is still on the right track;
  4. Used to forming cliques and high wary of those outside cliques. Yup… dari jaman sekolah sampai kerja, gue tetap tipe orang yang suka nge-gank. Gue benar-benar membedakan perlakuan gue terhadap teman yang gue anggap dekat dengan teman yang gue anggap biasa-biasa aja;
  5. Tends to focus on a single thing, thus more people in professional line of work;
  6. Honest and opinionated, thus more people who lives with principles and ideals; and
  7. Emotional, but will not back-stab others.

Dari 7 point di atas, yap… memang itulah garis besar kepribadian gue. Gue sampe bingung… ini cuma kebetulan atau semua orang yang punya golongan darah O mempunya kepribadian yang serupa?

Well, gue bakal iseng-iseng cari orang dengan golongan darah O… untuk kemudian gue observasi apakah mereka punya kesamaan dengan gue dalam hal-hal di atas? Just curious 😀

Kenapa Traveling Saat Remaja Justru Terasa Lebih Mudah?

Hari ini gue dan Nitya, teman baik gue di bangku SMA, flash back tentang beberapa perjalanan yang dulu pernah kita lakukan bersama-sama.

Selintas gue bertanya sama Nitya, “Kenapa ya… traveling di usia yang sekarang ini rasanya jadi lebih ribet? Sekarang ini gue jadi ngerasa harus selektif banget pilih teman seperjalanan, dan jadi punya prinsip untuk enggak pergi dengan jumlah orang terlalu banyak. Padahal dulu waktu SMA, pergi sama siapapun asyik-asyik aja, dan waktu pergi belasan orang pun, rasanya tetap asyik-asyik aja.”

Adik ipar gue menimpali, “Mungkin karena waktu jaman dulu itu kalo liburan tinggal terima beres… Jadi semuanya udah lancar.”

Nitya langsung bereaksi, “Enggak juga… liburan kita dulu nggak begitu.”

Dan cerita-cerita itu pun kembali meluncur dari mulut gue…

Tentang liburan naik bis umum dari Kampung Rambutan.

Naik bis antar kota yang penuh sesak sampai tidak semua orang kebagian tempat duduk.

Numpang duduk di kantor polisi, selama berjam-jam, sambil nunggu teman yang akan datang menjemput.

Sewa kopaja untuk sampai ke Anyer, dan di tengah jalan tol, eeeh… si Kopaja malah mogok!

Kemudian begitu tiba di Anyer, cuaca super panaaas… Kita pun terpaksa tidur dengan semua jendela dan pintu terbuka lebar demi mendapatkan hawa segar.

Terdengar seperti bencana? But it was fun! Kita malah asyik foto-foto di pinggir jalan tol sambil menunggu Kopaja diperbaiki dan bukannya sibuk ngedumel karena kepanasan.

Coba lihat hal-hal tidak menyenangkan yang pernah gue alami saat traveling di usia dewasa…

Teman yang wajahnya cemberut setiap kali nyasar di jalan.

Teman yang wajahnya cemberut saat mengunjungi tempat yang tidak dia sukai.

Masih mending kalau cuma cemberut, ada pula yang tidak mau menemani gue ke tempat yang sangat-sangat ingin gue datangi tapi tidak mereka sukai.

Teman yang terus mengeluh tentang buruknya fasilitas ini-itu padahal sebetulnya, mereka sendiri yang tidak mau keluar banyak uang untuk biaya liburan.

Teman yang enggak mau ikutan sibuk mempersiapkan ini-itu, tetapi giliran sepanjang liburan kerjaannya merintah ini-itu seenak udel.

Teman yang sangat perhitungan, tidak mau dia sampai rugi, tapi tidak keberatan bikin temannya jadi rugi.

Atau yang paling mengherankan, gue pernah dua kali mengalami ‘nightmare’ saat mengunjungi amusement park. Datang beramai-ramai, tapi semua orang tidak mau beli tiket terusan (entah dengan alasan bad mood atau harga tiket yang lebih mahal) dan dengan baik hatinya bilang mereka akan tunggu di luar selagi gue naik wahana-wahana itu SENDIRIAN. Padahal ya… mana enak sih, ngantri mainan sendirian? Dan buat apa gue datang ke sana bawa teman kalau gue hanya asyik bermain sendirian?

Insiden amusement park itu terjadi sama gue dua kali, dengan dua rombongan yang berbeda… sehingga sampai sekarang gue masih heran… kenapa? Kenapa selalu kesannya, mengunjungi amusement park itu adalah ide pribadi gue dan bukan atas kesepakatan bersama? Malah pada salah satu kejadian tersebut, sebenarnya saat itu gue sendiri tidak begitu kepingin datang ke sana. Bukannya gue enggak suka amusement park, tapi masalahnya pada saat itu ada 2 amusement park yang akan kita datangi sedangkan menurut gue, cukup pilih satu yang terbaik saja. Akhirnya gue tetap ikut ke kedua amusement park itu karena ada salah satu teman yang bilang dia suka amusement park dan ingin mencoba keduanya. Tapi saat sudah tiba, orang yang dulu memberi statement ingin main di sana malah bersikap seolah-olah datang ke sana adalah idenya gue!

Saat usia kanak-kanak sampai remaja dulu, amusement park yang gue datangi dengan teman-teman tidak pernah jauh-jauh dari Dufan. Hanya Dufan, tapi selalu menyenangkan. Kenangan rasa gembira yang selalu gue rasakan saat mengunjungi Dufan adalah hal yang membuat gue selalu menyukai amusement park. Tapi kenapa sekarang bisa lain ceritanya?

Anyer, 11 tahun yang lalu… Salah satu perjalanan yang paling menyenangkan semasa gue SMA.

Gue akui sekarang ini, gue sendiri bukan orang yang selalu bersikap menyenangkan sepanjang liburan… Gue suka ngerasa capek kalo nyasar melulu. Apalagi gue ini emang tipe orang yang malu bertanya sehingga sesat di jalan. Gue juga suka kesal kalau teman seperjalanan gue tidak disiplin dan serba ngaret, atau terlalu sering ceroboh sehingga mengganggu rencana perjalanan. Makanya gue heran… dulu, gue tidak begini. Atau setidaknya, gue tidak pernah merasa jengkel hanya karena hal-hal tidak berjalan sesuai rencana.

Jadi kenapa? Kenapa sekarang ini, gue sampai mengalami perjalanan yang malah bikin gue pengen pulang, mendapatkan teman perjalanan yang menyebalkan, atau bahkan, kenapa gue sendiri bisa bersikap sebagai teman perjalanan yang tidak menyenangkan?

Traveling nightmare seperti ini bukan hanya pernah terjadi sama gue… Sebelum gue mengalaminya sendiri, gue sudah pernah beberapa kali mendengar keluhan sejenis dari teman-teman atau dari beberapa travel writers. Dan kalau gue ingat-ingat kembali… semua keluhan orang lain pun, terjadi saat usia mereka sudah masuk kepala 2.

Jadi kenapa? Apa yang membuat perjalanan ala remaja terasa lebih mudah?

Sampai saat tulisan ini gue post, gue masih belum menemukan jawabannya. Tapi daripada repot-repot mencari jawabannya, gue lebih memilih untuk tetap bersikap selektif. Teman seperjalanan yang gue anggap menyenangkan akan gue pertahankan, untuk diajak pergi lagi di kemudian hari. Kemudian gue juga sedang berpikir… gimana kalo gue coba bepergian dengan travel mate semasa remaja dulu? Gue kepingin tahu apakah bepergian dengan mereka setelah dewasa masih sama menyenangkannya seperti dulu?

Jika ternyata jawabannya adalah YA (bebepergian dengan mereka tetap menyenangkan meski sudah sama-sama berusia dewasa), berarti kemungkinan besar, I was simply a lucky teenager: I had a lot of friends who were fun to travel with. Tapi jika jawabannya adalah TIDAK… well, mungkin gue harus kembali menganalisis, atau mungkin, justru gue yang harus instropeksi.

Traveling is supposed to be fun, and it supposed to make you closer to your friends, not breaking up with them as the journey end. Back to the past, traveling was always an unforgettable memory between me and my old friends.

Intinya gue cuma ingin punya cerita perjalanan yang menyenangkan, yang bisa kembali gue ceritakan kepada anak-cucu gue nanti, atau… untuk sekedar kembali dikenang saat gue berkumpul dengan teman-teman seperjalanan. I did it very well when I was a teenager, and I shall do it better after I’m a grown up. Otherwise, my traveling activity is just a waste of time, money, and energy. That’s it.

The Beauty of Jeju Island

Pulau Jeju dikenal oleh penduduk Korea Selatan sebagai pulau vulkanis yang memiliki pemandangan spektakuler, yang merupakan objek wisata lokal favorit mereka. Ibaratnya, Jeju itu adalah Bali-nya Indonesia. Saat pertama kali meng-Google Jeju Island, hasil gambar yang pertama kali menarik perhatian gue adalah foto pantai yang dikelilingi oleh bunga-bunga berwarna kuning! Cantiknyaaa… I want to see it and take picture between the yellow flowers!

Setelah gue googling lebih lanjut, kemungkinan bunga-bunga kuning itu bisa gue temukan di Sunrise Peak. Jadilah gue memasukkan Sunrise Peak ke dalam itinerary. Lalu bagaimana kenyataannya? Berhasilkan gue menemukan si bunga-bunga kuning yang cantik itu?

Foto bunga kuning yang gue dapet via Google.

Begitu sampai di bandara Jeju, gue mendapatkan pembatas buku yang menampilkan foto bunga-bunga kuning di pinggir pantai. Kemudian sepanjang perjalanan menuju berbagai objek wisata di Jeju, gue beberapa kali melihat bunga kuning itu tumbuh liar di pinggir jalan. Musim semi itu musimnya bunga bermekaran bukan? Semakinlah gue yakin gue akan melihat hamparan luas bunga kuning yang sampai sekarang, gue tidak tahu apa nama bunganya.

Akhirnya gue pun tiba di Sunrise Peak. Begitu turun dari mobil, gue belum melihat si bunga kuning. Ketika gue mulai menanjak… oh my God… yang terlihat hanya hamparan rumput luas berwarna hijau 😦 Begitu gue sampai ke puncak pun, tidak ada satupun bunga kuning yang gue temukan di tempat itu! Hiiks, kecewa 😦

Begitu kembali lagi ke mobil, gue bertanya pada Andy, tour guide gue, soal bunga-bunga kuning itu. Dan dia bilang, dia sudah lama tidak melihat bunga kuning di Sunrise Peak. Seingat dia, terakhir kali dia melihat bunga itu di sana sudah hampir 10 tahun yang lalu! Kemungkinan, bunga itu tidak banyak tumbuh karena udaranya masih dingin.

Well, I guess I was not lucky then 😦

Meskipun gagal menemukan hamparan bunga kuning, gue tetap menganggap pulau Jeju sebagai pulau yang cantik. Berikut ini gue capture daftar keindahan Jeju yang sempat gue nikmati selama berlibur 3 hari 2 malam di pulau itu.

Sunrise Peak

Most of people say, Sunrise Peak is number one tourist attraction in Jeju. It’s a must visit place. Yang tidak gue sangka, ternyata, untuk bisa menikmati cantiknya Sunrise Peak, kita harus naik ke atas lembah sekitar lima belas menit lamanya! Begitu sampai di parkiran, gue langsung melirik ke arah puncak lembah… dan gue pun bergidik ngeri. Gue sanggup nggak yaa, naik sampai ke atas? Angin sedang berhembus cukup kencang dan udaranya juga sedang terasa sangat dingin!

But the good thing of the cold wind is it helps avoiding you from easily get tired! Capek itu sudah pasti, tapi gue enggak keringatan sama sekali lho. Bahkan saat sudah hampir sampai atas, gue malah tidak menyangka sudah mau sampai atas. Tidak seberat yang gue kira juga ternyata. Yaaa, walaupun dikit-dikit gue memilih untuk berhenti atau duduk sejenak, hehehehe.

Setiap sisi di Sunrise Peak menampilkan keindahan yang berbeda-beda. Ada yang menampilkan tampak atas perkotaan pinggir laut, pemandangan batu karang yang menjulang kokoh, laut yang tampak tenang, atau sekedar hamparan rerumputan. Memang tidak seindah yang gue kira, but still I think that Sunrise Peak was beautiful.

Tiara, my travel mate, in Sunrise Peak.

Masih menurut Andy, Sunrise Peak sore itu tampak kurang cantik karena langit sedang tidak cukup cerah. Sudah bunga kuningnya sedang tidak tumbuh, langitnya sedang tidak cukup cerah pulaaa. Gue benar-benar kurang beruntung! Setidaknya saat itu tidak turun hujan, sehingga gue bisa menikmati Sunrise Peak sampai ke atas puncak 🙂

Oeldogae Rock

Batu karang raksasa ini diberi nama Oeldogae yang artinya “kesepian”. Nggak ngerti juga asal-usul nama tersebut, yang jelas, tempat ini merupakan salah satu lokasi syuting Jewel in the Palace. Yup… gue sengaja datang ke tempat ini hanya karena Jang Geum pernah ada di sini, hehehehehe.

Begitu gue melangkah turun ke objek wisata yang satu ini, gue langsung terpukau… Pemandangannya cantik, melebihi ekspektasi gue sendiri. Bahkan menurut gue, pemandangan di sini masih lebih cantik daripada pemandangan di Sunrise Peak.

 

 

 

 

 

 

Tempat ini punya jalur tracking yang kelihatannya cukup makan waktu. Yang gue dan teman-teman lakukan hanya terus berjalan sampai menemukan lokasi syuting Jewel in the Palace. Setelah puas berfoto di sana, kita berputar balik dan kembali menuju mobil di parkiran.

Manjang Cave

Alasan gue mengujungi gua ini hanya satu: karena katanya, this is the longest lava tube in the world. Panjangnya sekitar 1 kilomoter. Sebagai traveler, gue selalu ngerasa wajib mengunjungi tempat yang serba “paling” di dunia. Setelah sebelumnya pernah mengunjungi patung Budha dan patung Dewa terbesar di negara-negara lainnya, kali ini di Korea, gue mengunjungi lava tube yang paling panjang di dunia.

Yang namanya gua, ya pemandangannya hanyalah gua. Langit-langitnya tinggi, gelap, dan sangat dingin! Untunglah masih ada lampu-lampu sorot yang dipasang di dalam membuat gua ini jadi terlihat lebih terang dan juga lebih cantik.

Tips buat kalian yang ingin mengunjungin Manjang Cave:

  1. Bawa pakaian hangat. Tangan gue sampai terasa beku gara-gara cuma mengenakan t-shirt dilapis sweater tipis; dan
  2. Pakai sepatu, jangan sandal. Yang namanya gua, sudah tentu track-nya tidak mulus. Tambah risky karena banyak tetesan air yang membuat permukaan menjadi licin.

Pada saat gue hendak memasuki mulut gua, petugas di sana, via Andy, mengingatkan gue tentang tidak baik mengenakan sandal ke dalam gua. Maka gue pun dipersilahkan meminjam, secara gratis, salah satu sepatu karet yang khusus disediakan untuk tamu. Sayangnya ukuran sepatu di sana kecil-kecil, sehingga malah bikin kaki gue jadi lecet. Dan tau nggak siiih, setelah gue keluar dari dalam gua, gue beberapa kali menemukan cewek-cewek yang pakai high heels masuk ke dalam gua! Woow…

Three Beautiful Waterfalls

Ada 3 air terjun yang cukup populer di pulau Jeju. Pada kesempatan yang lalu, karena keterbatasan waktu, gue hanya sempat mengunjung 1 air terjun saja: Jeongbang waterfall. Gue dan teman-teman memilih air terjun ini berdasarkan rekomendasi dari Andy dan gadis remaja yang kami temui di sebuah restoran.

Sayangnya saat melihat air terjun ini… gue dan teman-teman serempak berpikiran, “Cuma begini doang? Apa bagusnya???”

Kalau dilihat sepintas, memang biasa-biasa saja. Rasanya gue pernah melihat air terjun yang lebih cantik di daerah Sukabumi. Tapi setelah melihat hasil foto yang diambil oleh Andy, wah… fotonya bagus! That has become one of my favorite photos in Jeju.

Ukuran air terjun Jeongbang relatif lebih besar jika dibandingkan Cheonjeyeon dan Cheonjiyeon. Memang bukan yang paling cantik, tapii, Jeongbang ini merupakan satu-satunya air terjun di Asia yang turun langsung menuju lautan. Sayangnya pada foto di atas, tidak terlihat bahwa sebetulnya saat itu, gue sedang berfoto di pinggir laut.

Oh ya, meskipun gue tidak mengunjungi 2 waterfall lainnya, akan tetap gue share di sini foto keduanya yang gue dapatkan via Google.

Cheonjeyeon Waterfall

Cheonjiyeon Waterfall

Overall, I agree that Jeju is beautiful. Apalagi kata Andy, masih ada banyak tempat seperti Oeldogae di daerah Jeju! Sayangnya tentu saja, 3 hari tidak cukup untuk explore kecantikan Jeju. Gue masih belum mengunjungi Halla Mountain yang juga terkenal dengan keindahannya, dan tentunya, gue belum berhasil menemukan hamparan bunga kuning di pinggir lautan itu, hehehehe.

Well, let’s just hope that someday I’ll be back to experience more of Jeju beauty 🙂

Jeju TrickArt Museum

Gue pertama kali dengar soal Trick Art Museum di Jeju ini dari Tiara, salah satu teman seperjalanan gue. Awalnya gue enggak gitu excited, tapi begitu gue buka website-nya, wellit looks like an exciting place! Dan ternyata bener aja… it was a fun place for everyone. Bahkan setelah pulang ke Indonesia pun, gue paling senang memamerkan foto-foto gue di museum ini.

Apa itu TrickArt museum?

Umumnya, Trick Art museum menampilkan lukisan-lukisan 3 dimensi yang membuat kita seolah menyatu dengan lukisan tersebut jika difoto. Contoh gampangnya lukisan jerapah dan daun. Jika kita difoto dengan pose sedang memegang daun tersebut, maka pada hasil fotonya akan terlihat kita seperti sedang memberi makan daun kepada si jerapah!

Foto favorit gue di TrickArt adalah foto yang jika hasilnya di-rotate, akan terlihat seperti gue bisa menempel di sudut tembok! Lihat hasil fotonya di bawah ini…

Kemudian yang ini… lukisan 3D favorit gue yang lainnya…

Atau yang ini…

Dan yang ini…

Bukan cuma trik lukisan 3 dimensi lho

Sebagian besar memang lukisan 3 dimensi, tapi ada juga trik yang berbentuk sebuah ruangan. Setiap ruangan mempunyai trik menarik yang berbeda-beda. Contohnya…

Jadi kalau kamu melihat ada pintu masuk menuju sebuah ruangan, jangan dilewatkan! I got some of the best pictures in such a room like this.


Ketahui cara dan jarak terbaik untuk mengambil gambar!

Ada cukup banyak objek foto yang sudah diberi petunjuk posisi terbaik untuk sang pengambil gambar. Lihatlah lantai di sekitar objek dan cari gambar sepasang telapak kaki, di situlah posisi yang terbaik untuk mengambil gambar. Kemudian untuk foto di mana teman gue terlihat besar sedangkan gue terlihat kecil (lihat foto di atas), ada lubang khusus untuk meletakkan kamera yang terletak di tembok luar ruangan triknya. The effect is not going to work unless you put the camera on the right place.

Berspose lah secara maksimal! Nggak usah malu-malu 🙂

Sekedar berdiri atau duduk di depan objek foto tidak akan berhasil membuat fotonya terlihat ‘hidup’. Bakal lebih bagus lagi kalo kita jago akting saat difoto! Misalnya, akting ketakutan saat sedang berfoto ‘di dalam’ mulut naga, atau akting apapun yang sesuai dengan tema objeknya. Oh ya, untuk urusan pose, jika kamu bingung bagaimana harus berpose, cukup contek saja contoh di gambar. Ada contoh gambar untuk setiap objek di TrickArt Museum.

Be perfectionist for a perfect picture!

Contoh have to be perfect ada pada foto di bawah ini…

Supaya terlihat seolah-olah benar baru keluar dari dalam lubang (padahal aslinya hanya sedang tengkurap sambil mengangkat badan ke atas), maka kedua kaki teman gue ini tidak boleh terlihat di layar kamera. Kedua kaki harus benar-benar lurus dengan badan. Trik ala gue untuk menyembunyikan kaki adalah dengan cara menyilangkan kedua kaki gue itu… and it works! Intinya, pastikan saat mengambil foto, posisi seluruh anggota tubuh kita sudah cukup sesuai untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Jika belum berhasil, silahkan dicoba kembali 😉

You have to visit TrickArt Museum if you visit Jeju

Gue sangat merekomendasikan museum ini buat teman-teman yang berencana liburan ke Jeju. Lokasinya memang lumayan jauh dari pusat kota (secara hampir semua tourist attraction yang menarik di Jeju itu jaraknya relatif banget dari bandara), but totally worth it.

Sebetulnya selain di Jeju, museum yang sejenis juga terdapat di Seoul, dekat dengan stasiun subway Hongik University. Akan tetapi berhubung gue tidak coba datang ke museum TrickArt di Seoul, maka gue tidak begitu yakin apakah hasil foto di sana akan sama bagusnya dengan museum yang di Jeju. Atau kalau memang kalian cuma akan mampir ke Seoul dan tidak mampir ke Jeju, ya silahkan dicoba. Kalau sudah mampir ke museum sejenis ini di Seoul, jangan lupa sharing ceritanya untuk gue yaa. Ditunggu lho 🙂

Aplikasi Visa Korea Selatan

Tulisan ini gue tulis berdasarkan pengalaman gue, dan 5 orang teman yang baru saja pulang berlibur ke Korea Selatan. Jadi, tulisan ini hanya berlaku untuk aplikasi visa dalam rangka wisata.

Untuk persyaratan resmi dari kedubes Korsel untuk Indonesia, klik di sini.

Dari semua persyaratan resmi di link atas, ternyata tidak semuanya dianggap wajib oleh pihak kedutaan. Misalnya fotokopi NPWP dan SPT tahunan. Gue kelupaan submit, tapi ternyata tidak diminta dan visa gue tetap lolos. Begitu pula dengan fotokopi SIUP. Ada teman gue yang tidak submit, tapi ternyata tidak juga jadi masalah dan visanya tetap lolos. Tapi konon katanya, makin banyak dokumen yang kita serahkan, maka makin akan mendukung disetujuinya visa yang kita ajukan.

Daftar dokumen yang gue serahkan (semuanya dalam bentuk fotokopi, kecuali passport):

  1. Kartu keluarga, akta kelahiran, KTP, passport;
  2. Bukti keuangan: surat referensi bank, mutasi rekening bank selama 3 bulan terakhir, Jamsostek statement;
  3. Tiket pesawat pulang-pergi dan hotel booking confirmation (gue punya 3 hotel di Korsel, 1 hotel sudah dibayar lunas, 2 hotel lainnya baru bayar booking fee saja);
  4. Rencana perjalanan gue selama di Korsel. Isinya gue mau ke mana aja, sama ada info berapa entrance fee-nya. Banyak yang bilang, meskipun tidak diwajibkan, hal ini tetap penting untuk memberitahu pihak kedubes bahwa tujuan perjalanan kita memang jelas untuk liburan (dan bukan kepengen jadi imigran gelap yang cari kerja di sana) sekaligus sebagai bukti bahwa kita sudah well prepared for the holiday. Besaran entrance fee juga gue masukkan supaya pihak konsuler tahu bahwa gue sudah punya bayangan berapa banyak uang yang akan gue butuhkan; dan
  5. Bukti pembelian tiket Nanta dan Jump show. Ini sih sebenernya iseng-iseng aja gue lampirin… Sebagai bukti bahwa gue udah niat banget buat liburan ke saya. Dan siapa tau ajaa, si petugas konsuler jadi nggak tega nolak visa gue karena tau gue udah keluar lumayan banyak duit buat berlibur ke Korsel, hehehehehe.

Mitos yang terbukti tidak benar soal aplikasi visa Korsel:

  1. Tabungan minimal harus sekian puluh juta rupiah. Soal ini sudah gue tanya ke pihak konsuler. Yang mereka lihat bukan seberapa banyak uang di rekening, melainkan apakah tiap bulannya, kita mempunyai pemasukan tetap. However, saran gue supaya aman, kita sudah harus punya cukup dana untuk membiayai perjalanan kita tersebut. Ada saran dari travel writer lain untuk submit budget details kita saat aplikasi visa dan kita sudah harus keep di rekening sejumlah uang yang tertera dalam total budget kita itu;
  2. Paspor kosong akan sulit mendapatkan visa. Dari 5 orang teman perjalanan gue, ada beberapa yang paspornya masih kosong, dan beberapa lainnya belum terdapat banyak stampel imigrasi, tapi visa mereka lolos semua tuh;
  3. Orang yang bekerja di perusahaan yang tidak terkenal akan lebih sulit proses aplikasinya;
  4. Ibu rumah tangga yang tidak bekerja tetapi pergi tanpa suaminya akan sulit mendapatkan visa; dan
  5. Akan lebih mudah mengurus visa via travel agent. Tidak semua travel agent berpengalaman untuk urusan visa sehingga bisa jadi, mereka tidak bisa bersikap sigap saat aplikasi kita mengalami kendala. Ada pula travel agent yang suka bersikap lebay. Gue pernah baca blogger lain yang ditolak travel agent ternamauntuk bantu apply visa ke Korsel karena jumlah uang di rekeningnya tidak sampai 50 juta! Setelah dia urus sendiri, ternyata visa Korsel-nya lolos-lolos saja tuh. Jadi lebih baik kita urus sendiri, supaya jika nanti ada dokumen yang kurang bisa langsung kita siapkan.

Overall menurut gue, visa Korsel tidak masuk kategori sulit. Asalkan lengkap dokumennya, jelas tujuan perjalanannya serta punya cukup dana untuk membiayainya, maka gue yakin, visa Korsel akan kita dapatkan. Buat yang baru akan apply, good luck!

And the Journey Began…

Dari semua perjalanan gue sebelumnya, perjalanan menuju Korea Selatan ini paling bikin gue ngerasa deg-degan. Takut visa gue ditolak, takut tiba-tiba dilarang pergi sama bos di kantor, serta takut perjalanan akan berubah menjadi malapetaka karena untuk pertama kalinya, gue pergi traveling dengan orang-orang yang tidak seberapa dekat dengan gue.

Untunglah ternyata, aplikasi visa gue berjalan dengan mulus. Tidak ada dokumen yang dianggap kurang, dan visa gue pun bisa selesai tepat pada waktunya. Setelah visa Korsel sudah melekat di dalam paspor, gue malah jadi heran… kenapa gue harus takut ditolak ya? Memangnya ada hal apa yang bisa bikin visa gue jadi ditolak?

Selanjutnya soal ijin cuti. Meski gue udah sounding dari jauh-jauh hari soal rencana perjalanan gue ini ke atasan, tetep aja ada rasa khawatir si bos tiba-tiba menarik ijin cuti tersebut in the last minutes. Di hari terakhir gue bekerja sebelum cuti panjang, di ruangannya, si bos bilang begini, “Eh kamu jangan lupa lho… staf kamu ada banyak.”

Gue langsung berdiri mematung… “Emangnya kenapa, Pak?”

“Jangan lupa oleh-oleh! Kamu harus beli banyak oleh-oleh, hahahahaha.”

Fiuuuh… kalo cuma oleh-oleh sih enteng lah yaa, hehehehehe. Akhirnya tidak ada satu orang pun yang menjegal rencana cuti panjang itu. Meskipun gue harus rela lembur sampe enggak tidur satu malam menjelang keberangkatan, dan meskipun audited figures gue juga belum selesai-selesai, yang penting akhirnya gue tetep bisa pergi. Kemudian lagi-lagi, sesaat sebelum berangkat ke bandara, gue berpikir, “Kenapa gue takut banget dilarang cuti ya? My boss is not a cruel person like that, hehehehehe.”

Kemudian soal traveling dengan teman yang tidak seberapa akrab… well, ternyata selama perjalanan 11 hari 10 malam itu, gue justru ngerasa paling klik sama Tiara, temannya teman yang baru gue kenal dalam perjalanan ini. Gue sama dia punya gaya traveling yang sama: suka dandan tiap pagi tapi tetap berusaha selesai on time, hobi foto tapi tidak perlu sampai terlalu banyak pose dalam satu tempat yang sama, hobi belanja tapi tidak lantas menomorduakan itinerary, dan yang paling gue suka, dia enggak pernah memaksakan keinginan atau pendapat dia sendiri. Traveling in group, even it’s a small one, needs a huge of tolerance to keep the journey fun for everyone.

Nah, sekarang, mari kita mulai mengupas perjalanan yang gue share dalam blog ini. Selama berlibur di Korsel, ada banyak sekali ide tulisan yang terlintas di benak gue. Jadi saking banyaknya, kayaknya sih rangkaian tulisan ini baru selesai paling cepat 2 minggu dari sekarang. So keep visiting my blog to read the complete stories yaa, guys. See you in the next post!

The Things I’ve Done for Upcoming Holiday

Tahun lalu, gue pernah bikin blog yang isinya hal-hal yang harus gue siapkan sebelum liburan ke Malasyia, Hongkong, dan sekitarnya. Buat yang belum baca, klik di sini.

Tadinya tahun ini gue mau bikin tulisan yang sama, tapi ternyata awal tahun ini justru lebih hectic daripada awal tahun lalu. Sebelum sempat menulis, tahu-tahu saja gue sudah mempersiapkan semua yang gue butuhkan untuk liburan ke Korsel, 3 hari lagi.

Jadi sebagai gantinya, gue kepingin nulis hal-hal yang sudah gue persiapkan untuk liburan kali ini. Siapa tahu aja bisa jadi input buat teman-teman yang juga sedang menyiapkan acara berlibur.

  1. Beli digital camera! Sebetulnya gue udah niat beli kamera sejak beberapa tahun yang lalu. Tapi karena begitu banyak hal, enggak pernah jadi terwujudkan. Padahal gue udah berkali-kali browsing, compare products, sampe mencatat kode barang yang gue inginkan. Malah pernah udah hampir beli, tapi batal karena stok kamera warna pink-nya sedang kosong. Tahun ini pun gue hampir aja gagal beli, gara-gara seri yang gue inginkan masih langka di pasaran. Rasanya sayang beli gadget kalau bukan yang paling baru, karena toh gue jarang-jarang beli yang beginian. Tapi akhirnyaa, setelah gagal cari di PIM dan Semanggi, gue berhasil menemukan kamera incaran di Pacific Place. Nantikan review gue untuk si digicam imut-imut di blog ini yaa;
  2. Beli boots lucu, berwarna beige, yang tingginya bisa diatur sesuai keinginan. Tadinya gue enggak ada niat beli boots, tapi gara-gara chatting sama Rere, teman sekantor yang juga punya obsesi berlibur ke Korsel, tiba-tiba gue juga jadi kepengen punya boots. Selain supaya keren, ya kali aja bener di Korsel masih terlalu dingin buat gue… Tapi kalo ternyata pake boots cuma bikin kaki gue jadi nggak nyaman, itu sih tenang aja… gue sudah siapkan sandal jepit andalan di dalam koper, hehehehe;
  3. Beli little backpack. Ini juga tadinya enggak ada di agenda belanja gue. Gimanapun menurut gue, handbag terlihat lebih fashionable daripada backpack. Tapi begitu gue teringat betapa ribetnya narik-narik koper naik-turun eskalator menuju subway station di Hongkong dan Singapur… gue langsung memutuskan untuk beli backpack, sebagai pengganti handbag selama traveling. Kenapa lebih baik backpack daripada handbag? Karena saat menarik koper beroda, handbag itu cenderung merepotkan gara-gara suka melorot di bahu! Untungnya backpack yang gue beli di Charles & Keith itu modelnya manis, feminim, dan bisa dipakai menyerupai handbag juga! Really love this cute little backpack;
  4. Beli 2 buah syal murah meriah. Sebetulnya bukan berarti gue sengaja cari barang murah, tapi luckily gue menemukan syal cantik dengan harga murah meriah waktu lagi belanja bulanan di Plaza Cibubur. Bukan tipe syal rajut tebal yang menghangatkan, tapi lebih ke syal kain yang cuma buat gaya-gayaan, hehehehe. Notes: salah satu hal yang membuat foto liburan terlihat menarik adalah penampilan kita yang terlihat seperti turis. Misalnya, kacamata hitam, long coat, atau syal yang jarang dipakai oleh orang-orang di negara tropis;
  5. Beli majalah Cosmopolitan (yang ukuran mini) dan novel untuk teman perjalanan. Bengong-bengong di pesawat selama hampir 10 jam bisa bikin gue mati bosan, apalagi gue cuma terbang naik AirAsia yang nggak punya fasilitas hiburan elektronik ala Garuda…
  6. Beli Pop Mie dan cereal buat sarapan selama di Korsel, atau buat mengisi perut just in case enggak cocok sama makanannya. Sebetulnya gue tipe orang yang menentang tradisi cuma makan Pop Mie selama traveling, tapi kadang-kadang, keberadaan makanan instan ini penting supaya magh enggak kumat (misalnya saat udah kesiangan buat cari sarapan, atau udah makan tapi masih nggak kenyang). Di luar itu, tetap harus cari makanan yang layak untuk jaga kesehatan. Meskipun gue terkenal suka pilih-pilih makanan, tapi anehnya kalo lagi traveling abroad, gue justru jarang rewel suka makanan. Keinginan untuk liburan sepuas hati dengan tubuh sehat mengalahkan rasa makanan yang nggak enak, hehehehe;
  7. Siapin obat-obatan, mulai dari obat magh, Troches, Albothyl (just in case sariawan gue kumat), obat khusus dari dokter gigi gue, sampe obat diare. Jangan ketawa pas baca tulisan obat diare yaa. Sakit perut adalah penyakit yang paling sering menyerang turis asing. Perbedaan iklim dan jenis bumbu makanan berpotensi bikin sakit perut. Jadi daripada repot nerangin sama pegawai minimarket yang belum tentu ngerti Bahasa Inggris, ya mendingan bawa aja obat yang sudah biasa kita pakai;
  8. Ngurus surat cuti, kemudian transfer kerjaan ke staf-staf di kantor… dengan harapan mereka enggak bakal ganggu gue selama liburan, hehehehe;
  9. Hal-hal standar yang biasa dilakukan turis sebelum traveling abroad: ngurus visa, tuker duit ke money changer, dan packing. Yang paling sulit, tentu saja urusan packing! Koper gue enggak seberapa besar, dan gue emang ngotot nggak pengen bawa koper besar supaya enggak susah bawanya (maklum, liburan on budget, ke mana-mana naik tranportasi umum). Awalnya sempat overload, tapi akhirnya selesai dengan baik. Baju tidur gue hemat, mayoritas baju berbahan ringan,  ada baju yang akan di-mix-and-match, produk perawatan wajah yang nggak perlu udah gue singkirkan (setelah dipikir-pikir, gue nggak bakal punya waktu bukan tetep melakukan maskeran rutin seminggu sekali selama liburan nanti), dan beberapa barang yang pasti mudah ditemukan di minimarket negara manapun juga sudah gue keluarkan. Well, for me it’s the art of packing 😉
  10. Mengistirahatkan kaki dari banyak jalan. Weekend ini gue stay di rumah all day long, semua urusan belanja sudah gue bereskan sepanjang minggu kemaren. Tapi sebelnya niih, biasanya over-excited bikin gue jadi nggak bisa tidur! Tapi nggak papa lah… Gue toh masih punya banyak waktu untuk tidur sepanjang penerbangan ke Korsel nanti. Sekarang yang penting… report April gue harus selesai secepatnya! Now leave the blog and continue working, hehehehe.

One Year Anniversary With Niro Indonesia

Hari ini, sudah tepat satu tahun sejak pertama kali gue bergabung dengan Niro Granite Indonesia. Awalnya, gue bekerja untuk NCSI, kemudian awal tahun 2012, gue dipindahkan ke SRG, perusahaan induk dari NCSI.

Gue masih ingat saat dulu hendak memulai karier di Niro, tidak semua orang terdekat gue menyetujui ide tersebut. Ada yang bilang, skill yang gue punya akan terbuang sia-sia kalau gue hanya bekerja di perusahaan kecil seperti ini. Malah ada lagi yang bilang, sayang kalo gue sampe hanya kerja di perusahaan yang bertempat di ruko (entah dari mana dia dapet info NCSI itu kantornya cuma di ruko). Akan tetapi saat itu, gue punya prioritas gue sendiri, sehingga akhirnya gue putuskan untuk bergabung dengan NCSI.

Bulan-bulan pertama, jujur… gue sempat ngerasa enggak betah. Perbedaan lingkungan dan budaya kerja sempat membuat gue ngerasa kaget (kalo istilah kerennya: culture shock, hehehehe). Gue sampe sempet mempertanyakan keputusan gue untuk bekerja di perusahaan ini. Tapi pada akhirnya, dalam hati gue selalu meyakini bawha everything happens for a reason. Waktu itu gue bilang sama diri gue sendiri, “Mungkin sekarang gue enggak ngerti alasan kenapa gue harus kerja di sini, tapi suatu saat gue pasti tau bahwa memang ini yang terbaik untuk gue saat ini.”

Sekarang, satu tahun kemudian, gue mengetahui jawaban dari pertanyaan gue saat itu.

Di Niro, gue menemukan jenis teman-teman yang belum pernah gue temukan di tempat lain. Gue nggak mau sharing detailnya di sini, takut mereka geer (soalnya gue tau mereka suka baca blog gue), hehehehehe.

Di Niro, gue mendapatkan beberapa pengalaman kerja yang kemungkinan, tidak akan pernah gue dapatkan seandainya gue tetap bekerja jadi auditor.

Dan pastinya di Niro, gue jadi bisa merasakan bagaimana rasanya jadi manajer di usia 25.

Ada lagi teman gue yang blak-blakan bilang… lebih baik jadi staf di perusahaan oil & gas sekelas Medco daripada jadi manajer di SRG. Sepertinya teman gue itu masih saja menganggap bahwa perusahaan gue ini hanya perusahaan kecil yang tidak patut gue pertahankan.

Well… gue sih enggak akan tersinggung kok, dengan statement teman-teman gue itu. Gue yaking semua itu hanya bentuk dari kepedulian mereka sama gue. Tapi 3 hal yang ingin gue luruskan:

  1. Niro bukan lagi perusahaan kecil. Perusahaan dengan hampir 600 karyawan tetap (belum termasuk ratusan karyawan kontrak), yang kini sedang melakukan ekspansi, pastinya bukan perusahaan yang bisa dibilang kecil;
  2. Kantor NCSI itu di gedung Honey Lady Pluit, bukan di salah satu ruko dekat Emporium, hehehehe; dan
  3. Gue sama sekali tidak merasa lebih baik gue kerja jadi staf di Medco daripada jadi manajer di SRG. Bagaimanapun, jabatan ini merupakan suatu prestasi yang bisa gue banggakan.

Jadi terlepas dari masa-masa up and down selama gue bekerja di sini, gue tetap percaya bahwa bekerja di sini telah membuat gue jadi lebih baik dari sebelumnya. Gue sama sekali tidak menjadi lebih bodoh hanya karena pindah ke perusahaan yang ukurannya lebih kecil. Kalo nggak percaya, tanya aja sama auditor-auditor gue, hohohoho, sombooong.

Konon katanya, terkadang kita hanya punya 2 pilihan dalam dunia kerja:

  1. Menjadi ikan besar di kolam kecil; atau
  2. Menjadi ikan kecil di kolam besar.

Gue tidak tahu akan sampai kapan gue tetap bekerja untuk SRG. Satu hal yang gue yakini, pengalaman kerja gue di sini akan mempersiapkan gue untuk kelak, berpindah menjadi ikan besar yang berenang di kolam besar. Kesimpulannya… di manapun kita bekerja, selama kita melakukannya penuh dengan totalitas, maka tidak akan pernah ada yang namanya pekerjaan sia-sia.

Life is a choice… and I am so happy with choice I’ve made one year ago. Happy one year anniversary for me then 🙂

Disney on Ice: Let’s Celebrate!

Tahun 2010, gue pertama kali denger soal pertunjukan Disney on Ice yang sedang mampir di Jakarta. Sayangnya, saat periode show itu ceritanya gue lagi bokek. Maklum, waktu itu masih jamannya kerja jadi junior auditor, duit masih serba ngepas. Satu tahun kemudian, Disney on Ice kembali mampir ke Jakarta. Sayangnya lagi, bentrok sama rencana liburan gue ke Hongkong dan sekitarnya. Jadi ya sudahlah… gue pikir tunggu tahun depan lagi. Sampai akhirnya tibalah bulan April 2012… sudah saatnya gue nonton live show ini!

Tadinya gue nyaris batal nonton pertunjukan ini. Susah banget cari orang yang mau temenin gue nonton karena bermacam-macam alasan. Kebanyakan karena faktor harga yang relatif mahal, ada pula yang jadwalnya bentrok, atau tidak tertarik nonton karena katanya, ini pertunjukan buat anak-anak kecil, hehehehehe.

Sampai Minggu pagi tanggal 22 April 2011 (hari terakhir Disney on Ice Jakarta 2012 digelar), sudah gue ikhlaskan nggak jadi nonton Disney on Ice tahun ini. Insyaallah masih ada tahun depan. Tapi tiba-tiba si Nana, teman baik gue waktu di EY, kirim Whatsapp ngajakin nonton live show ini! Yaaay, akhirnya gue jadi nonton^^

Soal jalan cerita sih nggak terlalu penting lah yaa. Intinya sih tokoh-tokoh Disney itu menampilkan berbagai jenis perayaan. Ada perayaan ultah, Halloween, Valentine, Natal, dsb… Tokoh-tokoh Disney itu menampilkan tarian di atas arena ice skating menggunakan kostum yang berbeda-beda, disesuaikan dengan tema perayaannya.

Berikut ini, plus-minus dari Disney on Ice: Let’s Celebrate yang gue saksikan minggu lalu.

PLUS:

  1. Para pemainnya benar-benar terlatih. Saat nonton, dalam hati gue berpikir… “Kalo dia sampe jatuh atau kepeleset gimana ya?” Tapi ternyata sampai akhir acara, nggak ada satu pemain pun yang gue lihat mengalami kecelakaan saat pentas;
  2. Atraksinya memukau. Penonton selalu bertepuk tangan dengan riuhnya setiap kali para pemain di depan baru saja menampilkan atraksi yang rasa-rasanya impossible untuk bisa kita lakukan sendiri. Kalo kata Nana, ada beberapa pemain yang terlihat seperti sedang ‘terbang’ saking lincahnya;
  3. Kostumnya lucu-lucu! Disney benar-benar all out buat urusan kostum. Terlihat mewah, cute, dan sangat sesuai dengan tema yang sedang ditampilkan;
  4. Simple but looks sweet decorations. Kereta-kereta esnya juga lumayan lucu, walau jumlahnya tidak terlalu banyak;
  5. Gue suka banget sama tema Valentine. Pada tema ini, setiap pasangan dalam keluarga besar Disney (misalnya Cinderella dengan pangerannya, Jasmine dengan Aladdin, dsb…) ditampilkan untuk menari berpasang-pasangan. Suasananya romantis, diiringi lagu-lagu yang sudah familiar di telinga kita (misalnya, A Whole New World, Beauty and the Beast, Reflection, dsb…). Gue sampe sempet agak-agak merinding waktu nonton tema ini, hehehehehe; dan
  6. Mayoritas pemainnya cantik dan ganteng. Ada cowok di tema Hawaii yang tampil topless. Gila yaa, perutnya six pack dan tampangnya mirip-mirip Ashton Kutcher gituu, hihihihihi.

MINUS

  1. Atraksinya emang keren, tapi banyak pengulangan, sehingga lama-lama kelihatannya biasa-biasa saja;
  2. Formasi tariannya kurang rapih. Ada pula beberapa tarian yang sebetulnya masih bisa dipercantik. Tapi mungkin memang lebih sulit ya, menari ala ice skating kayak gitu, makanya jadi kelihatan kurang all out;
  3. Nggak ada acara foto bareng para pemainnya. Padahal gue pengen banget foto bareng Minnie Mouse yang pake kostum kimono warna pink;
  4. They speak English all the times. Suasana pasti akan jauh lebih meriah jika mereka menggunakan bahasa yang dimengerti oleh seluruh penontonnya. Tapi gue amazing juga sih sama anak-anak jaman sekarang. Ada cukup banyak anak yang bisa menjawab yang diajukan oleh Mickey Mouse dalam bahasa Inggris yang menurut gue tuh lumayan rumit; dan
  5. Kurang banyak unsur kejutan. Kalaupun ada, sifatnya masih nanggung. Tapi setelah gue pikir-pikir, mungkin karena keterbatasan ruangan aja kali yaa. Tapi lebih banyak kejutan (misalnya kembang api warna-warni yang meriah) bisa bikin pertunjukan tambah berkesan.

Kesimpulannya, buat gue nonton pertunjukan ini udah masuk kategori lumayan. Lumayan buat menjawab rasa penasaran gue, lumayan buat cuci mata, dengan harga yang lumayan mahal juga, hehehehe.

However kalo menurut gue, if you want to make your kids happy, you could just bring them to watch this show! Anak-anak kecil di sana tuh ya, baru ngelihat Mickey dadah-dadah aja udah histeris saking senengnya. Mirip-mirip lah sama ABG kalo ngelihat artis idolanya di panggung konser… Jadi nanti kalo ponakan gue udah gedean, atau kalo gue sendiri udah punya anak, gue bakal bawa mereka nonton pertunjukan ini. Tapi sebelumnya, mereka bakal gue kasih kursus Bahasa Inggris dulu supaya bisa ngejawab pertanyaan yang diajukan Mickey Mouse, hehehehehe.