When Someday I Am on My Death Bed

There is this one interesting quote I got from Grey’s Anatomy.

Nobody on their death bed wishes they should have worked harder… Oh well tell that to the people who love their job!

That quote got me thinking… Will I ever regret spending a lot of times of my life to work this hard?

Honestly, I don’t think so.

Here are the things I wish I will never think of when I’m about to die someday…

  1. I should have taken all those very good (yet challenging) opportunities;
  2. I wish I worked harder to pursue what I really wanted in life;
  3. I should have told (certain) people how I used to feel about them;
  4. I wish I didn’t hurt someone’s feeling that bad. Nobody deserves to be treated that way;
  5. I should have asked for forgiveness for the great mistakes I have ever done;
  6. I wish I have travelled more. I want to see more, feel more, live more…
  7. I should have loved myself more.

From all seven things listed above, my biggest fear is definitely number 4. I have been bent and broken so that I know how terrible it can feel inside. I would really hate myself if I ever make other people feel that bad. I’ve spent years of my life trying to be better and I hope I make a good progress on it.

I also still remember that one quote that says, “We only live once, but if we do it right, once is enough.”

I hope I will have lived my life to the fullest before I die. I hope that on my death bed, I will not be haunted by all the 7 things I listed in this blog.

I only live once, but if I do it right, once is enough.

Kuota Pemimpin Perempuan dalam Organisasi? Harus kah?

Debat capres dua malam yang lalu mengingatkan gue pada aturan beberapa organisasi yang menerapkan kuota minimal untuk pemimpin perempuan dalam organisasi mereka. Misalnya, 10% dari anggota BOD harus perempuan. Apa pendapat gue soal aturan macam itu? Menurut gue, aturan itu justru melemahkan posisi perempuan.

Kenapa demikian?

Karena peraturan itu memunculkan kemungkinan bahwa perempuan yang terpilih sebagai pemimpin adalah perempuan yang dipilih untuk sekedar memenuhi kuota. Padahal bisa saja sebetulnya, ada kandidat lain yang jauh lebih capable, tetapi tidak terpilih hanya karena dia laki-laki sedangkan organisasi ybs mau tidak mau harus punya pemimpin perempuan dalam susunan manajemennya.

Saat gue terpilih sebagai pemimpin, gue ingin dipilih karena gue memang dianggap mampu dan bukan hanya untuk sekedar memenuhi kuota. Begitu pula saat gue harus memilih pemimpin baru dalam organisasi yang gue pimpin; yang gue lihat bukan gender-nya, tapi kemampuannya untuk menjalankan tugas dan amanah tersebut.

Tidak dibenarkan mencekal perempuan dari suatu jabatan hanya karena gender-nya, tapi tidak juga dibenarkan memberikan suatu jabatan kepada seorang perempuan hanya karena gender-nya.

Gue senang Indonesia mulai makin terbuka menerima perempuan sebagai pemimpin, tapi bukan berarti hal itu harus banget dijadikan kuota. Dan yang harus dibanggakan itu bukan soal kita punya pemimpin perempuan, tapi soal kita punya pemimpin yang capable menjalalankan tugasnya, apapun jenis kelaminnya.

The Things I Had in Mind When I Woke Up This Morning

I woke up and I thought, “Grilled cheese sandwich would be nice.” But then I fell asleep again.

I woke up again, hugged my bolster in my arms, and I asked myself, “Am I still falling for him? Do I still want him? He doesn’t seem to do anything about me anyway. He has too many girls in his life. And that’s annoying.”

And… I fell asleep again, and when I woke up again, “Having someone on Valentine’s day will be nice though.”

Getting upset not knowing what I really wanted, I went back to sleep and when I finally woke up at 11 AM, “Whatever it is, I want grilled cheese sandwiches.”

So there I grabbed my phone and ordered myself a delicious grilled cheese sandwiches from a restaurant nearby.

Happy Saturday, everyone!

10 Years Challenge

The hype of 10 years challenge on Instagram is exciting and fun! I love to see how different my new friends in 10 years back and to remember how my old friends used to look like back then. It’s also as exciting to see the old pictures of mine (thanks to Facebook for this!). And it’s only exciting to watch the 10 years younger version of me because I think, now I look a lot more attractive compared with myself 10 years ago 😆

Here’s a picture of me now and then!

What are the differences? Oh, a lot of it!

  1. I no longer use braces on my teeth! Thank God!
  2. My cheeks are less chubby now (those braces have done their magic, hehe);
  3. Brighter skin tone, I guess? The skin care I use now is just the best! It works well on my skin;
  4. Make-up on my face. I only could afford a cheap compact powder so that the powder was the only make-up I put on my face 10 years ago;
  5. Not only make-up, I’m also a fashion lover now. I feel good when I look good, hehehehe;
  6. Contact lens is on! They make my eyes look brighter, don’t they?

Now it got me thinking… how will I look like in the next 10 years to come? Oh, we’ll see! I promise you I will write the same post again 10 years from now! Stay tuned (for ten years), hehehehe.

Night night!

Prostitusi, Boleh atau Tidak?

Baca variasi komentar di Lambe Turah soal penangkapan Vanessa Angel (oh yes, Lambe Turah is my guilty pleasure, hehehehe) bikin gue gatal ingin menulis judul yang satu ini.

Apa pendapat gue soal prostitusi? Boleh atau tidak?

Jika dibahas dari sudut pandang agama, apapapun agamanya, jelas jawabannya tidak boleh. Tapi apakah itu artinya prostitusi tidak diperbolehkan hanya karena agama kita tidak memperbolehkannya?

Jadi mari kita bahas topik ini tanpa membawa-bawa ajaran agama manapun, supaya tulisan gue ini tetap relevan untuk semua orang.

Untuk menjawab boleh atau tidak boleh, coba jawab dulu pertanyaan di bawah ini:

  1. Tahukah kamu berapa persen pelanggan prostitusi yang sebetulnya sudah terikat dalam pernikahan resmi? Menurut kamu, apa akibat psikologis yang dirasakan oleh istri dan anak-anak pelanggan prostitusi atas perilaku suami dan ayahnya itu?
  2. Tahukah kamu berapa persen kontribusi prostitusi terhadap penyakit kelamin dan HIV/AIDS? Bagaimana jika penyakit itu kemudian menular kepada istri resminya? Apalagi jika si istri sampai hamil saat mengidap penyakit itu… Apakah tidak kasihan pada istri dan anak yang tidak berdosa itu?
  3. Sebetulnya, apa sih manfaat dari prostitusi untuk si perempuan? Membantu dia untuk menyambung hidup? Atau dalam kasusnya prostitusi di kalangan artis… bantu dia untuk hidup penuh dengan kemewahan, begitu? Bahagiakah mereka hidup seperti itu? Tenang dan bangga kah mereka atas pilihan hidup mereka itu?
  4. Lalu yang terakhir, selain mendapatkan kepuasan sesaat, apa sih manfaat prostitusi untuk para pelanggannya? Benarkah lebih banyak manfaatnya daripada kerugian yang didatangkannya?

Gue tipe orang yang selalu berpendapat, jika lebih banyak kerugiannya, maka jangan dilakukan. Gue juga tidak mendukung pembiaran atas praktek prostitusi di tempat gue tinggal. Kenapa? Karena sama seperti rokok, prostitusi juga banyak diawali oleh ikut-ikutan teman. Sudah susah payah mendidik anak, ada kalanya pengaruh lingkungan akan lebih kuat. Bagaimana jika suatu saat nanti anak-anak atau keponakan-keponakan gue ikut terseret dalam praktek prostitusi?

Hal ini mengingatkan gue pada salah satu teman yang dulu benci banget saat banyak aktivis Islam menolak kedatangan Miyabi ke Indonesia. Menurut dia, tidak ada yang salah dari pornografi karena itu adalah “sarana untuk belajar”. Tidak sampai satu dekade kemudian, teman gue itu malah aktif menjadi aktivis anti pornografi! Kenapa bisa berubah haluan? Karena dia sudah punya anak perempuan. Kenyataannya, 100% pemerkosa melakukan tindakan biadabnya karena terdorong oleh pornografi dan anak-anak merupakan sasaran yang paling mudah.

Dari teman gue itu gue jadi belajar; pikir dua kali sebelum memberikan dukungan pada hal-hal yang sangat kontroversial seperti ini. Prostitusi itu bukan cuma soal agama, tapi lebih kepada persoalan sosial. Berpikir jauh ke depan, jangan sampai asal bicara (atau asal memberikan komentar di dunia maya) yang akhirnya malah memberi angin segar pada para pelakunya. Be wise, okay?

The Next Ultimate Goal

Malam tahun baru kemarin, gue dan keluarga pergi berlibur ke villa yang baru dibeli oleh salah satu om gue. Villa-nya termasuk sederhana, tapi cukup menyenangkan untuk tempat berlibur. Udaranya masih cukup sejuk dan masih ada sawah dan pepohonan untuk menemani jalan-jalan pagi.

Tinggal empat hari tiga malam di villa om gue itu mengingatkan cita-cita gue untuk punya villa di tengah pegunungan. Cita-cita yang tidak pernah gue anggap serius, yang tampak masih sangat jauh di depan mata. Tapi setelah liburan akhir tahun itu, gue jadi terpikir untuk mulai berusaha mewujudkannya.

Seperti apa wujud villa yang gue inginkan?

Gue ingin punya villa yang dikelilingi pegunungan dengan kebun teh. Gue juga ingin punya perkebunan anggur di tanah gue sendiri. Villa terletak persis di tengah-tengah kebun anggurnya.

Villa gue nanti akan dibuat dengan modern design. Ukuran rumahnya tidak terlalu besar, hanya berisi 4 kamar dengan 1 kamar utama di lantai 2. Dan kamar utama milik gue itu adalah best feature-nya!

Gue ingin kamar gue itu memiliki dinding kaca di salah dua sisinya… Gue akan pasang tirai yang bisa otomatis dibuka-tutup menggunakan remote. Tempat tidur gue akan persis menghadap salah satu dinding kaca itu.

Kemudian kamar gue juga akan punya teras dengan meja dan kursi. Gue ingin duduk sore-sore di teras itu untuk menulis blog dan novel gue! Lalu masih di dalam kamar, gue ingin bikin fireplace dengan sofa dan karpet tebal di depannya. Gue mesti cari tempat yang benar-benar dingin supaya fireplace ini ada gunanya, hehe.

Di halaman belakang villa, gue ingin bikin hot springs dengan design ala-ala modern onsen. Pengen juga punya villa yang lokasinya enggak jauh dari air terjun kecil yang masih jernih. Misal benar ada air terjunnya, tanaman di sekitar lokasi air terjun juga akan gue rawat untuk menjaga keasrian air terjunnya! Nanti gue juga buatkan gazebo di halaman belakang villa gue itu. Nggak ketinggalan fasilitas barbecue masih di halaman belakang villa impian gue itu.

Keren nggak villa impian gue ini? Bakal butuh waktu lama banget untuk pembangunannya sih. Butuh banyak uang juga, tapi toh bisa dicicil kan. Misal beli tanahnya dulu, lalu dibangun pelan-pelan sampai akhirnya jadi seperti wishes yang gue tulis di sini!

Doakan gue bisa mewujudkan big dreams yang satu ini jadi kenyataan yaa! Semoga ini bisa bikin gue tetap semangat kerja setiap harinya, hehehehe.

My 2018 Greatest Lesson

I initially planned to close this 2018 with writing my personal kaleidoscope along the year, but then I found that this time, I’d rather write something more useful for my blog readers. After writing a confession about my depression in the previous post, here I write a post about the greatest lesson I learned in 2018.

In this year, I’ve come to learn that I should never let bad moments in life diminish the value of the good ones happened to me along the year.

Just because some people don’t feel the same way like I do, it doesn’t mean they don’t care at all. They do care about me, only in different ways.

I also learned that just because some people do not appreciate me, it doesn’t mean the whole world refuses to see my efforts.

And just because the people I care about didn’t seem to want me in their life, it doesn’t mean that I’m completely unwanted by anyone else. I have to accept that I am just not everyone’s cup of tea.

I won’t ever again let one bad event in life overpower the good memories I have ever had. And I won’t let the people who hurt me leave the most marks in my heart over the ones who were always there for me to support and help me with the little things.

It also means, just because I stumbled upon a few disappointments in 2018, it doesn’t necessarily make the whole year as a failure. Apart from my problems, in 2018 I managed to make a good progress on evolving myself, I made another milestone in my career, my life was merrier with all the new people I met, and most importantly, I feel so much love… Love from my friends, my colleagues, and my teammates at work. I guess I had no luck when it came to romance, but it doesn’t mean that all the love I got from other people were not as valuable. It feels good knowing how I played an important role in someone else’s life journey and I’m touched knowing how they appreciate me for that.

It’s such a relief that I close this year with all these positive feelings. I finally realized that even though I didn’t always get all the things I really wanted, but instead, God has given me all the things I really needed. The things that I never thought I need in life. And to me, that’s even better.

Thank God for this year! Thanks for all the good and the bad times! This year was insane! This will definitely be a year I will never forget.

Happy new year 2019 to my blog readers and I wish nothing but a wonderful year to come!