Islam Ways of Living

Meskipun gue bukan pemeluk Islam yang luar biasa taat ibadahnya (dan gue sama sekali tidak bangga akan hal ini sih sebenarnya), tapi gue tetap menjadikan ajaran agama gue sebagai petunjuk hidup. Apa yang boleh dan tidak boleh, apa yang sebaiknya gue lakukan dalam situasi tertentu, serta apa yang sebaiknya gue hindari dalam kehidupan sehari-hari. Kenapa demikian? Karena gue selalu menemukan kebenaran di balik ajaran-ajaran itu. Ada banyak sekali pelajaran yang gue dapatkan dari agama gue ini. Bukan sesuatu yang gue dapatkan dari buku pelajaran biologi, fisika, akuntansi, atau mata pelajaran apapun di dunia ini. Bukan pula pelajaran yang diatur oleh Undang-undang negara manapun di dunia ini. Pelajaran-pelajaran yang membuat gue meyakini, inilah agama yang ingin gue peluk, seumur hidup gue.

Dari Islam gue belajar untuk berbagi. Bukan berbagi hanya di saat gue mampu, tapi juga di saat gue sendiri masih menjadi orang yang memerlukan bantuan finansial. Pokoknya selama gue masih mendapatkan penghasilan, maka di situ masih ada kewajiban untuk berbagi kepada mereka yang lebih membutuhkan. Dan gue sama sekali tidak merasa terbebani! It even makes me feel good! Gue malah bangga dan bersyukur bahwa setidaknya, gue masih bisa berbagi meskipun jumlahnya tidaklah seberapa. And the more I give, the more blessings I get in return.

Islam juga mengajarkan gue untuk mengutamakan melunasi hutang. Orang yang gue hutangi bisa jadi sangat memerlukan uang yang pernah mereka pinjamkan. Jangan sampai mereka harus merasa lelah secara fisik dan emosional hanya untuk menagih haknya itu. Jangan sampai gue malah menyakiti dan merugikan orang yang pernah bersedia memberikan gue pertolongan! Dan jangan sampai mereka merasa menyesal pernah bersedia repot-repot membantu kesulitan finansial gue saat itu.

Islam mengajarkan gue untuk membayar hak karyawan gue sebelum kering keringatnya (baca: bayar gaji tepat waktu!). Gue masih ingat masa-masa di mana gue sebagai karyawan masih sering mengalami “tanggal tua”. Kalau sudah sampai begitu, tiap tanggal gajian gue akan rajin ngecek e-banking. Pernah terjadi, gaji telat masuk sama dengan gue tidak punya uang untuk makan siang atau malam di hari gajian itu. Tidak enak kan rasanya? Apalagi jika ditambah utang yang sudah jatuh tempo! Sudah sangat tepat jika Islam mewajibkan umatnya untuk membayar hak-hak karyawan tepat pada waktunya.

Perilaku Nabi Muhammad soal menghargai niat baik orang lain juga mengajarkan gue untuk menghargai pemberian orang lain meskipun gue tidak menyukainya. Suka tidak suka, hadiah itu akan tetap gue pakai untuk menghargai niat baik orang yang memberikannya. Bagaimana jika hal itu malah membuat orang yang ybs malah terus menerus memberikan barang yang sama secara berulang-ulang? Well… selama barangnya bukan barang terlarang, apa sih ruginya buat gue menerima dan memakai barang itu? Kenapa harus menyakiti perasaan orang yang niatnya hanya ingin menyenangkan diri kita sendiri ?

Islam juga mengajarkan gue untuk tidak membungakan uang yang gue pinjamkan. Gue juga tidak mendukung model bisnis yang nominal bunganya sampai mencekik para nasabahnya (bunga sampai puluhan persen misalnya). Kenapa demikian? Karena orang yang sedang dalam keadaan sangat membutuhkan uang untuk keadaan darurat umumnya tidak bisa berpikir jernih. Mereka ingin cari solusi cepat tanpa memperhitungkan kemampuan mereka untuk melunasi hutang beserta bunga puluhan persennya itu. Buat gue itu sama saja menyelesaikan masalah dengan masalah yang jauh lebih besar. Jika nominal bunga ini sudah sampai pada tahap lebih banyak menimbulkan masalah untuk para nasabahnya, maka buat gue, itu sudah masuk definisi riba yang haram hukumnya.

Gaya hidup gue juga kurang-lebih berkiblat pada ajaran Islam itu sendiri. Gue tidak mabuk-mabukan karena gue tidak mau kehilangan akal sehat gue sehingga sampai melakukan hal-hal bodoh yang hanya akan gue sesali di kemudian hari. Gue tidak mengkonsumsi babi dan menghindari air liur anjing karena ada alasan medis yang melatarbelakanginya (sudah pernah lihat video operasi mengeluarkan cacing pita dari dalam lambung manusia belum?). Dan gue juga menjauhkan diri dari zina karena seks bebas sangat rawan dengan penularan penyakit kelamin dan belum lagi resiko hamil di luar nikah (ini benar-benar bisa merusak segala hal yang sudah gue bangun untuk hidup dan masa depan gue banget sih).

Kerennya lagi, Islam juga mengajarkan untuk meninggalkan debat kusir. Bukan berarti tidak boleh mengeluarkan pendapat, tetapi jika pendapat kita itu tidak bisa diterima lawan bicara sehingga malah memicu perdebatan yang tidak ada habisnya, maka cukup akhiri sampai di situ saja. Perdebatan seperti itu tidak akan ada manfaatnya dan sangat beresiko berakhir dengan menyakiti salah satu atau bahkan kedua belah pihak yang terlibat di dalamnya. Jadi jika kalian tidak suka dengan apa yang gue tulis di sini, tolong sampaikan dengan cara yang sopan dan santun ya. Jika sifatnya hanya cercaan yang dapat berujung debat kusir, gue tidak akan menanggapinya.

Lalu bagaimana pendapat gue soal Islam yang memperbolehkan poligami? Well, memperbolehkan itu berbeda dengan mewajibkan lho. Gue sebagai perempuan punya hak untuk menolak. Dan sebetulnya jika dipelajari baik-baik, tidak semua laki-laki diperbolehkan poligami dalam Islam. Coba dipelajari baik-baik dulu ayatnya sebelum terburu-buru mengikuti hawa nafsu!

Yang terakhir gue cuma ingin bilang, gue Islam bukan karena gue terlahir di keluarga muslim. Gue sudah cukup dewasa untuk memilih keyakinan gue sendiri dan gue merasa beruntung terlahir di keluarga yang menganut agama yang juga gue yakini kebenarannya. Islam is a guidance for my ways of living, until my last breath.

The Problem with Many Relationships in Life: We’re Nicer to The Strangers Rather than The Loved Ones

The problem with many relationships in life: we’re oftentimes nicer to the strangers rather than the loved ones.

Need some examples?

We are hesitate to tell the hard truth to colleagues, but we feel like we can tell whatever we want (with no filter) to our families.

We try so hard to be a good employee but we are careless to be a good daughter/son.

We make times for our random cool friends, but we don’t bother to make times (a real good quality times) with our old best friends.

And this is one final example that I often find in married couples: they tried so hard to be a good husband/wife material before they get married, but then they stop trying to become ones after they truly get married.

A friend used to tell me, “Many marriage fails because they both stop trying to impress each other after they get married.” And I find it so true in many other relationships in life too! Not to mention, the closer we are with someone, the less efforts we put to not hurting their feelings too. We don’t hesitate to reveal the worst part of us to the loved ones without considering how it will break their hearts.

Can’t you imagine how awful it might feel? No more good things to celebrate, only boredom and problems to solve. In this kind of relationship, being with them ends up feeling like a burden. It doesn’t feel like home, it’s not comforting and it doesn’t make us a happy person anymore. Until finally, we end up feeling depressed with our own relationships. We either want to run away or we’ve got to hold on and bear all the pains for some things that we deem as “the good reasons”.

I know that if feels good to be surrounded by the people who manage to love us unconditionally. We want them to love and accept us just the way we are. It’s actually human… but then we forget that they are too only a human. And what’s even more concerning is that we forget how love is also a work and love has to be earned not just in the beginning, but also in every single day of our life. A happy relationship is a never ending works and it might be the hardest work we should ever do in our entire life. We only need to work on it unless if we find that it’s okay just to be alone, and lonely.

Life is all about a balance, and so is a relationship. A balance between the comfort of being ourselves and the hard work to be the very best of us for the loved ones. I know for a fact that unfortunately, reaching this “balance” is always the hardest one.

Everytime it feels hard for me to deal with the loved ones, I told myself, “I don’t owe anything to any random people in the office nor any people who only text me a couple times in a year, but I owe a lot of things to my families and best friends.” And then I prioritize my resources (times, energy, and wealth) from there.

From now on, let’s try to do better for our loved ones. If we’re willing to listen to the strangers, listen to our loved ones too. Hear them out! And if we’re willing to work hard just to be “employee of the year”, why don’t we work as hard to be son/daughter or husband/wife of the year too? When we keep trying to be the very best version of us in anything in life, we do it not only for ourselves, but also for the people we care about.

The Things I Did to Increase My Happiness Level

Gue tipe orang yang senang mengevaluasi happiness level gue sendiri. Dari skala 1-10 dan 10 yang paling happy, berapa skor gue saat ini? Penting buat gue merasa bahagia karena apapun yang gue miliki dalam hidup ini enggak akan ada artinya jika hal itu tidak mendatangkan kebahagiaan.

Lalu berapa skor gue saat ini?

Tahun lalu, skor gue 7 dari 10.

Awal sampai pertengahan tahun ini naik menjadi 8 dari 10.

Dan baru-baru ini, naik lagi menjadi 9 dari 10!

Apa rahasianya? Apa yang gue lakukan sampai bisa menjadi lebih bahagia di kuartal terakhir di tahun ini? Atau ada kejadian apa yang telah membuat gue jadi lebih bahagia? Berikut ini daftar lengkapnya!

  1. Gue mulai lebih ikhlas menerima bahwa tidak mungkin semua orang akan bisa menerima dan menyukai gue. Mengutip dari Eat, Pray, Love, “I’m not everyone’s cup of tea”. Gue tidak lagi memaksakan diri, gue lebih memilih untuk fokus memihara hubungan baik dengan orang-orang yang juga menginginkan gue dalam hidup mereka. Rasa ikhlas ini entah bagaimana caranya bikin hati gue terasa lebih enteng, dan juga temtunya, bikin gue lebih menghargai setiap momen dengan orang-orang yang bisa menerima gue lengkap dengan segala kelebihan dan kekurangan dalam diri gue ini;
  2. Menjauhkan diri dari toxic people. Gue udah nggak mau lagi terjebak dalam drama yang tidak penting. Jika keberadaan mereka cuma membuat gue secara konstan merasa tidak nyaman, jika dekat dengan mereka cuma membawa pengaruh buruk dalam hidup gue, ya lebih baik dijauhi saja. Gue dan mereka memang not meant to be aja gitu. Hubungan dengan siapapun (baik itu dalam pertemanan, pekerjaan, atau romance relationship) memang tidak akan pernah selalu mulus, tapi tetap harus ditimbang pro dan kontranya juga. Be kind enough to ourselves by making some spaces with the wrong ones;
  3. My big holiday is approaching! Setelah sejak tahun lalu sengaja berhemat untuk modal bisnis The Lens Story, tahun ini gue kembali merencanakan a big holiday! Insyaallah, awal bulan November mau pergi ke Norway dan Iceland (yaay!). Travel planning never ceases to amuse me!
  4. Tanpa mengecilkan duka yang gue dan orang-orang terdekat almarhum sahabat gue Junet rasakan, kenyataannya kepergian dia bikin gue seperti diingatkan, “Life is short, make the most of it!” Masih banyak keinginan almarhum yang belum tercapai, dan hal itu justru membuat gue lebih terdorong untuk mewujudkan keinginan gue sebanyak yang gue bisa, selagi gue masih bisa;
  5. Punya hobi baru: fotografi. It’s sooo much fun! Gue sampe bikin satu akun Instagram baru untuk khusus memuat hasil karya gue. Go follow @sancati.photography ya, guys! 😉
  6. Meninggalkan debat kusir di dunia maya. Meninggalkan debat kusir di dunia nyata sudah sejak lama mulai coba gue lakukan, sekarang gue lebih memilih untuk melakukan hal yang sama di dunia nyata juga. Hal ini justru bikin gue ngerasa keluar sebagai pemenangnya! Nggak ada yang lebih menyenangkan dari jawaban pendek atas kenyinyiran yang luar biasa panjangnya (atau kalau perlu, nggak usah dibalas sama sekali!). Dibalas juga toh percuma, apapun yang gue tulis nggak akan bisa bikin mereka menarik ucapannya; dan
  7. Ada satu lagi yang berkontribusi besar di happiness gue akhir-akhir ini, tapi masih belum bisa gue tulis di sini 😉 I’ll write some about it soon after I have something worthy to write, ok!

New Hobby: Photography!

Emang sih, fotografi itu udah jadi hobi gue sejak lama. Makanya gue punya start-up yang bergerak di bidang fotografi kan tuh. Bedanya kalo sebelumnya gue lebih senang sebagai orang yang difoto, sekarang gue mulai senang jadi orang yang memfoto orang lain! Dan ternyata, rasanya nggak kalah menyenangkan!

Awalnya gue senang ambil foto cuma pake hp aja. Ada fitur portrait di iPhone yang bikin hasil foto gue jadi bagus banget. Di saat yang sama, gue juga lumayan sering ikut ke lokasi pemotretan klien dan gue suka iseng ikutan ambil foto pakai hp. Suatu hari, gue tertawa puas saat baru selesai ambil foto klien pakai hp gue itu. Fotografer yang gue temani hari itu lalu berkomentar, “Kalo habis ambil foto lalu ketawa, berarti sebetulnya kamu suka jadi fotografer.”

Dari situ gue mulai kepikiran… kenapa gue enggak sekalian belajar fotografi? Gue udah lumayan bisa jadi conceptor, stylist, dan pengarah gaya juga. Edit foto juga bisa walau belum canggih-canggih banget. Jadi kenapa enggak sekalian belajar tehnik fotografinya juga?

Jadilah gue kirim text via WhatsApp ke salah satu teman yang kebetulan jago untuk urusan fotografi. Gue sengaja tanya ke dia karena gue pengen beli merk Fujifilm dan sejauh ini belum ada fotografer di start-up gue yang familiar dengan merk ini. Gue suka banget sama tone-nya Fujifilm dan hasilnya menurut gue sudah langsung bagus tanpa perlu banyak efforts untuk editing.

Teman gue lalu mengusulkan beli XT20 dengan lensa yang menurut dia paling sesuai dengan kebutuhan gue untuk traveling ke Iceland bulan depan (insyaallah). Nggak lama setelah itu, gue beli lah kamera dan lensa sesuai rekomendasi dia!

Saat kamera baru tiba, gue langsung minta tolong teman gue yang lain untuk bantu setting up kameranya. Agak ribet juga mesti pasang ini-itu. Setelah terpasang semua, gue nggak terpikir lagi untuk bongkar-pasang sendiri, hehehe. Selesai pasang ini-itu, gue mulai coba pake kameranya dan gue sempat panik! Kenapa hasilnya gelap? Kenapa blur? Utak-atik sebentar, barulah gue ketemu cara gampang untuk bikin foto bagus pake kamera ini! Gue mulai norak ambil random photos orang-orang di sekitar gue, hehehe.

Kamera baru ini kemudian gue bawa ke acara kantor di Bali minggu lalu. Ceritanya gue mau latihan sebelum nanti bawa kamera ini berlibur ke Iceland. Lagi-lagi, awalnya gue kebingungan karena masih belum berhasil mendapatkan efek bokeh yang sangat gue sukai itu. Untunglah nggak lama kemudian, teman gue yang merekomendasikan kamera ini datang membantu gue dengan quick tips yang langsung menjawab kebingungan gue itu! Sejak itu, gue enggak berhenti ambil foto semua orang di tim gue sendiri, hehehehe.

Lalu bagaimana dengan hasilnya? Check this out!

Gimana? Keren nggak? Hehehehe. Ini hasil foto hanya dengan sedikit editing saja (kebanyakan koreksi lighting dan smoothing kulit wajah modelnya). Masih banyak kekurangan sih ya pastinya, namanya juga baru belajar, tapi gue tetap senang! Gue sering ngerasa excited tiap kali melihat foto bagus di balik lensa kamera gue itu! Gue sering banget berujar, “Ooh, wow! Nice! Great! Keren nih!” Pokoknya gue benar-benar ngerasa excited deh! Happiness level gue langsung naik satu tingkat cuma gara-gara ngerasa punya hobi baru, hehehehe.

Masih norak punya hobi baru, gue langsung menawarkan diri untuk jadi fotografer gratisan ke temen-temen gue aja dong, hehehe. Hitung-hitung buat nambah jam terbang gue kan tuh. Semoga gue bisa makin jago dan yang paling penting, bisa terus enjoy jadi fotografer!

Cheers and happy weekend!

Provokator ala Asia’s Next Top Model

Ada sesuatu yang cukup menarik di episode terbaru Asia’s Next Top Model. Ceritanya para kontestan ini sedang mengadakan girls’ night di Model House mereka. Sambil makan malam, mereka mulai bertukar pikiran satu sama lainnya. Acara buka-bukaan gitu lah ceritanya. Saat itulah salah satu kontestan bernama Mia diminta oleh para kontestan lainnya untuk bersikap lebih terbuka. Mereka ingin Mia bisa bicara terus terang tanpa di-filter sama sekali.

Sayangnya, Mia terpancing. Dia buka-bukaan soal rasa tidak suka dia dengan perilaku kontestan lain bernama Han yang dia nilai sangat sering mengeluh (Han saat itu duduk persis di depan Mia). Han yang biasanya paling kalem tiba-tiba langsung terpancing amarahnya! Dia tidak terima dengan kejujuran yang diutarakan Mia.

Lalu apa yang dilakukan kontestan lainnya? Saat diwawancara perorangan, beberapa kontestan lainnya mengaku senang melihat Mia dimarahi oleh Han! Mereka sampai cekikikan saking senangnya! Lalu yang lebih konyol lagi, setelah Han sadar sudah terlalu galak, dia minta maaf pada Mia dan cewek-cewek lainnya lalu berujar, “No hate, love only!”

Oh, wow! Provokatif banget nggak sih? Sengaja memancing drama lalu saat situasi memanas, mereka malah memunculkan diri sebagai pahlawan kesiangan! Seolah-olah mereka yang paling benar, bertingkah selayaknya pembawa kedamaian… No hate love only, they said? Oh, come on!

Emang sih, bisa jadi drama ala Next Top Model ini hanya gimmick yang sudah disiapkan sejak awal. Tapi sebetulnya ya, hal seperti ini memang lazim terjadi di kehidupan sehari-hari lho. Ada orang yang sengaja mengorek-ngorek, memanas-manasi, berusaha mengadu domba kita dengan orang lain yang mereka targetkan. Kemudian saat akhirnya kita terpancing dan betulan marah, mereka malah akan bersikap sok lugu seperti malaikat dengan bilang, “Udah jangan gitu, biarin aja. Yang sabar ya…”

Dan ironisnya, yang kebanyakan bersikap provokatif model begini ya sesama perempuan juga.

Gue jadi ingat waktu kuliah dulu, ada salah satu teman cewek yang lebih menyukai berteman dengan cowok hanya karena menurut dia, cewek itu banyak dramanya. Episode Asia’s Next Top Model yang baru gue tonton itu bikin gue jadi berpikiran, “She was so damn right!”

This Is One Example How Life Always Has Enough Lemons to Throw

I am that kind of person who is trying so hard to always stay happy no matter how rough things get in my life. Just like this proverb says, “When life gives you lemons, make lemonade.”

It’s always easier said than done though. There is always that unpredictable event, happening over and over, that eventually makes happiness seems impossible. And here is one good example how hard it is to have just one happy day when life throws you a lot of lemonades in a row.

A few weeks ago, I was so excited to finally have a few days off from work. It’s not that I hate my job, it’s just that I’ve been working very hard in the past 6 months. Not to mention it was my first vacation after starting my new job with my current employer. I was hoping that upcoming long weekend would be able to recharge my energy.

The day before my vacation went smoothly in the beginning. I woke up early, almost finished packing my clothes to my luggage, I had a great morning laughing with my colleagues, and I also had a very delicious lunch at Fish & Co with some of them. And then after that decent lunch, something annoying happened to me.

My colleagues and I left Senayan City heading back to the office after having that delicious lunch at Fish & Co. We took a taxi; just one taxi for 5 of us. It was wrong, I know, but I thought it should be fine as long as we paid more to the driver (I already planned to pay him two times the meter). I just wanted all of us to go back to the office immediately and that one taxi was the only option we had that noon.

Apparently, the driver was not happy having 5 passengers in his cab. He could just say it out loud and clear, but he decided to harass us with inappropriate jokes instead! He asked one of us to sit on his lap, repeatedly. I was so angry I decided not to say a word. I really wanted to pullover and left that cab but then it would make the situation even more awkward for my team. So I could only stay silent in that cab and apparently, that driver was not happy with my silence (I sat on the front seat, right next to him). That impolite driver asked me over and over why I stayed quiet but of course, I stayed quiet anyway. When we arrived, I handed over the money, I slammed the door, and I walked away.

I told myself, “This should NOT ruin my good day!”

I spent the next few hours in the office hoping that I could go home early that day (by early, I meant 6 PM sharp instead of a long night like I usually had). Right at 6 PM, I packed my bag and I went home… still feeling excited for my upcoming trip!

But then another lemon was thrown at me. Just a few seconds after I sat on the cab that was taking me home, I received a phone call that made me realize that I was just trapped in a very difficult position between two groups of people who were equally important to me. I spent the next two hours on the phone, I let the food I ordered online got cold, and all that I could do that night was just escalating their problems to some other people whom I know for sure could handle that problem better than I did.

I felt a bit relieved and I continued eating my cold noodle quickly so that I could finish packing my clothes to my luggage. I was still very excited to go on with my family trip, imagining that I was gonna meet my nephew and niece very soon, but then again, life threw me another lemon that night.

Someone texted me and I instantly knew another bad thing just happened to me. Just like before, I was trapped in another difficult position that night. I tried to help, but then this person who texted me ended up scolding me just because I stood up for the person he hated. He asked me through his texts to take side and I just couldn’t take his side because the way I saw it, he was the bad guy in that office war. He was upset and he told me all the things he should never say to me in the first place. I started to get angry, he started to get panic knowing that I was upset to him, he called me over the phone, and he said he was sorry for saying all those things to me in his texts.

After that phone call, I told myself, “Life threw me a lot of lemons just in a day!” Just three horrible events in a day, but they were way more than enough to kill all the joy and excitement I felt inside. The phone calls have stopped but I just knew that all those problems had not been totally resolved that night. Soon after coming back from my trip, I would be coming back to all those uncomfortable situations. It was such a buzz killer, wasn’t it?

With that being said, no matter how angry and upset I was, it was totally wrong if I let my bad mood ruin the whole trip. I didn’t want to make my families felt uncomfortable with my bad mood. It was none of their fault anyway. So there I chose to ignore all those problems for a while and I’m so glad that I did that! It was definitely one of the greatest trips I’ve ever had! Nice hotel, great foods, decent pictures to come home with, and not to mention, I got to spend a great time with my big families all over that long weekend! It was that kind of trip that made me feel even more grateful for all I have.

Life will always give us reasons to be upset and sometimes, we don’t even have any control over it. Troubles could just happened out of nowhere and even a total stranger can ruin our good days too. No matter how well we’ve been doing, s**t happens anyway. But well, no matter what happens, stay happy anyway. If the options are between having problem and get depressed or having problem and stay happy, I will always be more than happy to choose the latter one. Always.

If I Were Born Rich…

All these hypes about Crazy Rich Asian leads me to wonder… what if I were born rich? What if my parents could afford a fancy school abroad? What if I had a family business to inherit? And what if I grew up with many crazy rich Indonesians all my life?

When I was kid, I was a very lazy kid. I often got bad scores at school and I secretly hid my test results underneath the clothes in my closet. What even worse, I often went early to school just to copy my smart friends’ homeworks! No wonder if my parents were very upset with me back then. Not to mention I was also very lazy at home too. I hated doing dishes, cleaning up my room and all those domestic stuffs at home. My Mom often told me when she was angry, “You should grow up as a rich person, you know! Otherwise, you won’t be able to hire a helper to clean your room!”

It all changed little by little when I entered high school. I started to make a solid plan for my future (otherwise, as my Mom said, I would not survive my own miserable life!). And then in the college, I studied very hard and I managed to graduate with a very decent GPA. I started my career a few months before graduation and it went so well I couldn’t be more thankful for all achievements I’ve earned by far. Life has been great in the past one decade and I can tell that I’m one of the happiest persons I know.

Question now: would I be as accomplished and happy as I am right now if only I were born rich many years ago?

I honestly doubt that I could be the same person as I am right now if my parents were crazy rich. Why? It’s simply because I was born lazy!

Wanting to have a decent life, comfort bed to sleep, see the world, and wear a nice outfit was my greatest motivation in the first place. The only reason why I started to fight my laziness was to get myself the comfortable life I always wanted. That would never be the same if I already had all those privileges since I was a baby! I wonder what would be my life motivation after all.

It’s a lie if I tell you that I don’t envy what I saw in Crazy Rich Asian movie, but still, that movie doesn’t change the fact that I am grateful for not being born in a rich family. Telling people how I started my career from the scratch has always been my most favorite stories to tell! I’m not ashamed to tell people how poor I once was and how I worked day and night to turn my life to be a better place to live in. All those prides and satisfactions would never exist if only I were born rich 31 years ago.

Be thankful of who we are. We are who we are for a reason, and we are the only person who can make the most of out life path. It doesn’t matter to me how I was born, but it’s very important to me how I live my life, right now, as a grown up.

I hope… I really really hope… I can keep making myself feel proud of myself until the day I die, someday.