Tentang Halte BEJ

Ceritanya malam ini saya nonton film terbarunya X-Men. Saya pergi nonton, sendirian, dalam keadaan galau atas masalah pribadi yang sangat mengganggu saya beberapa bulan belakangan ini. Bolak-balik saya ingin menyelesaikan masalah itu, tapi saya selalu saja mundur di menit-menit terakhir. Saya menyimpan rasa takut bahwa usaha saya untuk menyelesaikan masalah itu malah hanya akan membuat saya semakin menderita. Sampai lama-kelamaan, saya mulai merasa terlalu capek menanggung beban perasaan saya sendiri. Saya merasa unfinished business saya itu sungguh sudah harus diselesaikan secepatnya.

Selesai nonton di Pacific Place, saya menyeberang jalan ke Halte BEJ. Ada sederet taksi berjejer di depan PP, tapi saya malah menyeberang jalan. Saya kangen duduk sendiri di Halte BEJ; halte yang menyimpan begitu banyak kenangan selama 3 tahun saya bekerja di gedung itu.

Saya lalu duduk, sendirian, sambil menikmati angin malam yang terasa cukup sejuk di malam ini. Begitu banyak memori di halte BEJ bergantian melintas di benak saya. Kejadian demi kejadian lebih dari 7 tahun yang lalu terasa seperti baru terjadi kemarin sore.

Saya ingat pernah menunggu taksi berdua dengan cowok yang dulu pernah saya cintai. Kami sama-sama baru pulang lembur. Senior saya itu sebetulnya bawa mobil sendiri, dia enggak perlu ikut jalan sampai ke halte. Dia hanya ingin menemani sampai saya mendapatkan taksi untuk pulang. Persis kebaikan dia yang seperti itu yang dulu membuat saya jatuh hati. Dia enggak pernah sempat menjadi pacar saya, tapi dia akan tetap selalu menjadi seorang teman untuk saya, dan mungkin, kami bisa berteman untuk selama-lamanya.

Kemudian saya juga masih ingat jelas saat EY mengadakan year end party yang mengharuskan karyawannya datang dengan kostum bertema. Saya ingat kami beramai-ramai berfoto di halte BEJ sebelum gantian menyeberang jalan ke lokasi pesta yang berada persis di seberang gedung kantor kami itu.

Saya bahkan masih ingat hari di mana saya mendengar soal penyakit yang diderita teman baik saya sambil berjalan menuju halte BEJ. Saya masih ingat betapa sedih saat mendengar teman saya itu harus hidup dengan penyakitnya untuk selama-lamanya.

Yang paling pahit, saya pernah berjalan meninggalkan halte BEJ di saat sedang turun hujan rintik-rintik. Senior yang saya sayangi itu memutuskan untuk resign, dan saya merasa ditinggalkan. Emang dramatis banget sih ya waktu itu, tapi saya jadi mengerti kenapa selalu ada saja adegan orang menangis di bawah hujan baik itu di sinetron atau film layar lebar. Alasannya sederhana: karena air hujan akan menyamarkan air mata yang turun dari pelupuk mata.

Kenangan terakhir saya soal halte BEJ adalah saat saya duduk di sana memikirkan masa depan karier saya. Ada keputusan besar yang harus saya pertimbangkan, dan saya baru mantap mengambil keputusan itu setelah duduk merenung di halte BEJ, tengah malam, sendirian.

Kembali ke malam ini, saya kembali menyadari ada keputusan besar yang harus saya ambil. Hanya bedanya malam ini, saya masih tidak tahu bagaimana hasil akhirnya. Kenapa bisa demikian? Karena untuk masalah ini, bukan saya yang harus mengambil keputusan. Saya hanya perlu memberanikan diri untuk meminta seseorang mengambil keputusan itu bukan hanya untuk saya, tapi juga untuk diri dia sendiri.

Saya menghela napas setelah duduk agak lama. Saya harus segera pergi. Sudah terlalu malam untuk duduk di halte yang sudah sepi. Akhirnya saya pulang, dengan kemantapan hati.

Saya sudah melewati begitu banyak naik-turun dalam kehidupan ini… satu lagi rintangan tidak akan membuat saya mati menderita. Saya punya banyak sifat, tetapi penakut bukan salah satunya. Saya hanya perlu memberanikan diri untuk membereskan masalah saya sendiri, dan apapun hasilnya, insyaallah, saya akan baik-baik saja.

This too will pass, will not it?

Is It a Shame if We Go Back to God When this Life Knocks Us Down?

Pernah jadi orang yang baru taat beribadah setelah terlanjur terkena musibah? Musibah, masalah berat, patah hati, atau apapun itu yang menyebabkan hati terasa hancur berkeping-keping.

Saya pernah. Dan pertanyaannya: is it okay to do that?

Dulu saya pernah nonton satu episode salah satu American TV show (Desperate Housewives kalau nggak salah) yang menceritakan salah satu tokoh wanita yang tengah tertimpa musibah. Dia ingin kembali beribadah ke gereja, tetapi dia malu pada Tuhan karena sebelumnya dia seperti sudah melupakan keberadaan Tuhan-nya itu.

Kemudian sahabat wanita itu menasehati, “Ketika anak-anakmu sedang terkena masalah, bukankah kamu ingin mereka mengadu pada kamu; ibu mereka, dan bukan pada orang lain di luar sana?”

Episode yang cukup berkesan buat saya. Pengingat yang baik bahwa Tuhan akan selalu menerima kita kembali kepada-Nya, meskipun kita sempat melupakan keberadaan-Nya. Ia akan lebih ingin kita datang mengadu kepada-Nya daripada mencari pelampiasan lain yang belum tentu baik untuk diri kita ini.

It’s the beauty of believing in God, isn’t it? You will always have Him to come home to, even when you are all alone. And that makes me never feel alone. Never again.

Jangan Jadi Orang yang Serba Salah

Sebisa mungkin, jangan pernah menjelma jadi orang yang serba salah.

Gaji segitu-gitu aja, complain… iri sama teman-teman seumuran yang sudah punya ini-itu. Tapi lalu dikasih kenaikan jabatan, juga complain… capek, stres, dan nggak tahan sama politik kantornya.

Masih jomblo, complain… bete ditanya “kapan married” terus-terusan. Akhirnya punya pacar lalu menikah, juga complain… banyak drama rumah tangga dan sifat asli suami ternyata enggak banget.

Belum dikaruniai anak, complain lagi. Akhirnya punya anak, masih saja complain juga… capek fisik, capek mental dan emosional karena anak rewel… kurang tidur dan tidak lagi punya cukup waktu untuk merawat atau menyenangkan diri sendiri.

Jika saya jadi Tuhan, saya akan bingung. Dikabulkan doanya salah, tidak dikabulkan juga salah. Maunya apa toh?

Yang paling berbahaya di sini bukan hanya sekedar complain-nya, tapi lebih kepada hilangnya rasa syukur atas anugerah yang kita dapatkan. Kita sibuk mengeluh sampai lupa berbahagia. Hal-hal yang dulu kita sebut berulang-ulang di dalam doa kini malah terasa biasa-biasa saja (bahkan, lebih sering terasa sebagai beban yang luar biasa beratnya).

Hidup sendiri dengan gaji yang tidak seberapa memang terasa lebih ringan. Lebih sedikit masalah, lebih sedikit tekanan, dan lebih sedikit konflik. Tapi, hidup yang serba biasa-biasa saja juga hidup yang paling tidak membahagiakan. Lama kelamaan hidup akan terasa kosong, tidak punya tujuan, tidak ada motivasi untuk hidup lebih lama.

Saya juga sering curhat soal pekerjaan saya. Soal bos-bos saya. Tapi saya tidak pernah mengeluh sampai berharap hidup saya kembali persis seperti dulu saja. Bagaimanapun, pekerjaan yang bikin stres luar biasa itu pekerjaan yang sudah mewujudkan begitu banyak impian saya, dan impian orang tua saya juga. Saya stres, tidak mudah menjalaninya, tapi saya bahagia kini telah bisa mencapai taraf hidup yang dulu saya impikan.

Buktikan pada diri sendiri bahwa kita pantas menerima segala yang kini telah kita miliki. Jangan banyak maunya tapi sedikit pengorbanannya…

Great things in life do not come easy, remember?

Boleh curhat, buat melepaskan beban… tapi jangan jadi rewel apalagi sampai menyulitkan orang lain dengan tingkah kita yang mulai taking things for granted.

Tetap kerja maksimal walaupun pekerjaan baru itu nyaris membuat kita going nuts.

Tetap cintai pasangan kamu lengkap dengan segala kekurangannya (ingat nggak, dulu seberapa gigih kamu menyebut nama dia dalam doa-doa kamu itu?).

Dan jangan pernah menyerah menjadi orang tua yang baik untuk anak-anak kamu itu!

Ingat bahwa anugerah yang kini kita miliki masih menjadi mimpi bagi begitu banyak orang di luar sana. Embrace it!

So please… less complaining and more efforts to get yourself back to the right track, okay?

A Reminder Before Lebaran: Don’t Let Messaging Technology Let You Lose The Human’s Touch

Semakin canggih teknologi, semakin berkurang pula sentuhan manusia (human’s touch) dalam halal bi halal yang seharusnya menjadi the real essence dari lebaran itu sendiri.

Berawal dari fungsi copy-paste pesan yang dikirim berulang-ulang melalui SMS, kemudian muncul broadcast satu pesan ke multiple contacts di BBM, dan yang paling mutakhir; WhatsApp Group atau messenger’s groups yang lain-lainnya.

Tidak ada salah dan benar dalam hal ini, tapi begini… apa yang membuat kita berpikir orang yang pernah kita sakiti perasaannya akan memaafkan perbuatan kita hanya dengan membaca satu pesan yang kita kirim ke semua orang?

Boleh saja menuliskan satu pesan yang kita copy-paste dari satu grup ke grup lain… ini toh memang sudah jadi bagian dari tradisi lebaran. Tapi jika ada orang-orang yang istimewa, atau orang-orang yang pernah kita sakiti perasaannya, jangan lah menganggap satu pesan massal itu cukup untuk halal bi halal dengan mereka.

Jika datang dan bertatap muka tidak memungkinkan, masih ada telepon. Jika telepon dirasa berat biayanya, masih ada direct message. Tuliskan secara personal, dengan tulus, dan sunggguh-sungguh.

Have the real talks instead of robotic messages. They are your friends/families, not your Company’s clients after all.

Mulai tahun ini, mari kita saling meminta maaf dengan cara yang layak dengan tujuan benar-benar mencari pemaafan dan bukan hanya sekedar basa-basi demi memenuhi tradisi Lebaran. Bukan demi siapa-siapa, tapi demi diri kita sendiri, dan demi mereka yang pernah kita lukai perasaannya sepanjang tahun ini.

Selamat Idul Fitri bagi semua pembaca riffasancati.com! Mohon maaf jika ada tulisan saya yang kurang berkenan, semoga sempurna ibadah puasanya, dan selamat berkumpul dengan keluarga dan kerabat tercinta.

Wish you all a blessed Eid!

Am I Scared of Ending Up All Alone?

Baru saja ada teman yang bertanya, “Elo pernah takut end up hidup sendiri nggak, Peh?”

Gue langsung menjawab, “Enggak pernah. Gue enggak masalah sendiri, asalkan gue bahagia.”

And I meant it, every single word of it.

Gue emang udah kepengen settle down. Gue ingin punya kesempatan mencintai dan dicintai satu orang yang akan berbagi hidup dengan gue. Gue juga ingin mulai mengurus orang lain selain diri gue sendiri. Gue ingin memulai hidup baru, pembelajaran baru, lika-liku baru dan kebahagiaan yang juga baru.

Tapi, jika pernikahan hanya akan membuat gue lebih banyak menderita daripada bahagianya, lebih baik gue sendiri. Jika menikah sekarang dengan pasangan seadanya hanya akan mendatangkan penyesalan, lebih baik gue menunggu lebih lama sampai gue menemukan orang yang tepat. Dan jika saat itu nyatanya tidak akan pernah kunjung tiba, gue tetap ikhlas… gue akan coba berpikiran positif bahwa memang kesendirian itulah yang terbaik buat hidup gue ini. Nggak papa sendirian, asalkan enggak kesepian.

It’s okay to be alone, but it’s not okay to be lonely.

Lalu bagaimana caranya agar tidak hidup kesepian? Banyak orang mencari kesibukan tapi tetap saja merasa kesepian dalam kesendiriannya.

Caranya gampang saja: nikmati setiap hari dalam hidup ini, hal kecil, hal besar, nikmati dan berbahagia sebanyak yang kita bisa.

Gue menikmati hari-hari sibuk di kantor sama seperti gue menikmati bisa bangun siang di akhir pekan.

Gue menikmati dikelilingi teman-teman dan keluarga sama sepeti gue menikmati me time seharian di mall (bisa nonton, belanja, mani-pedi!).

Gue menikmati membuat analisis keuangan yang complicated sama seperti gue menikmati waktu yang gue habiskan untuk menulis blog ini.

Dan gue menikmati detik demi detik yang gue habiskan dengan si gebetan kesayangan sama seperti gue menikmati waktu bermain dengan ponakan-ponakan cilik gue.

Gue masih menanti hari pernikahan gue, tapi gue tidak perlu menunggu hari besar itu tiba hanya untuk bisa bahagia. Gue akan mulai berbahagia di masa-masa penantian karena buat gue, tidak ada yang namanya timeline hanya untuk bisa merasakan kebahagiaan. Kenapa harus demikian? Supaya kalaupun hari besar itu tidak pernah datang, hidup gue tetap tidak terbuang sia-sia. Gue sudah mencicil kebahagiaan gue sehingga akumulasi kebahagiaan gue itu akan cukup besar untuk menutupi kekecewaan yang mungkin nanti gue rasakan.

Jika kalian tanya gue sekarang, pastilah gue menjawab gue akan sangat bahagia jika gue bisa berakhir sampai pernikahan sama cowok yang sekarang gue sukai, tapi itu kan cuma sekedar keinginan gue. Apa yang gue inginkan belum tentu selaras dengan apa yang gue butuhkan. Dan sekali lagi, jika memang bukan relationship itu yang gue butuhkan untuk saat ini, maka gue lebih memilih untuk ikhlas.

I’ve tried my best, I’ll let God to do the rest.

I Finally Found My Life Calling

Seperti yang pernah gue tulis akhir tahun lalu di blog ini, ceritanya gue sedang bingung hidup gue ini mau dibawa ke mana lagi? Gue udah sangat happy dengan karier gue, sudah puas dengan hidup gue secara keseluruhan juga. Masih jomblo dan udah kepengen settle down sih, tapi toh gue enggak pernah jadi orang yang harus menunggu suatu momen tertentu terwujud hanya untuk bisa bahagia.

Seringkali gue bertanya pada diri gue sendiri. “What’s next?”

Kemudian suatu hari, salah satu teman terdekat gue akhir-akhir ini bilang begini, “Elo cocok jadi motivator.”

Teman yang beberapa kali pernah bilang betapa dia merasa terbantu dengan dorongan-dorongan yang gue berikan, yang kemudian membuat dia berhasil melakukan hal-hal yang sebelumnya dia pikir “impossible”.

Sejak dia bilang begitu, mulai teringat kembali begitu banyak kejadian yang menguatkan pendapat teman gue itu.

Mulai dari puluhan (atau mungkin sudah sampai ratusan?) pembaca blog gue yang bilang betapa tulisan gue sudah membantu mereka untuk melewati masa-masa sulit dalam hidup mereka. Itu belum termasuk pembaca blog yang menyampaikan ucapan terima kasihnya melalui orang-orang yang gue kenal.

Dan bukan cuma itu! Ada beberapa orang teman dan keluarga yang pernah bilang, “Ada nasehat elo yang masih jadi motivasi gue dari dulu sampai sekarang.”

Pelan-pelan gue mulai berpikiran, “Is this it? My next big thing in life?

Kemudian puncaknya kemarin lusa, iseng-iseng gue buka profil gue di LinkedIn dan gue mendapati ada lebih dari dua ribu orang mengunjungi profil gue 2 minggu belakangan ini! Padahal bisanya, jumlah profile viewers gue hanya sekitar dua ratusan selama 90 hari.

Bagaimana bisa? Ini pasti karena tulisan terakhir gue soal Pak Dosen yang ternyata sudah tembus lebih dari 18,000 views! Wow! It’s breaking my record on LinkedIn!

Dari situ gue jadi mantap memutuskan, “This is it! I want to help people to achieve a better quality of life!”

Apa yang membuat gue begitu yakin gue ingin merintis jalan sebagai motivator?

Ya, gue emang nggak punya masa lalu yang cukup traumatis yang biasanya efektif menarik minat audiences. Gue juga bukan milayrder yang sudah berhiaskan Hermes dari ujung kaki hingga ujung kepala. Dan yang lebih buruk lagi, gue ini masih jauh banget dari sifat mulia. Kalau kalian kenal gue in person, kalian pasti tahu betapa impatient dan nyebelinnya diri gue ini, hehehe.

Gue cuma manusia yang biasa-biasa aja, tapi, gue manusia yang tahu bagaimana caranya hidup bahagia. Tahu bagaimana caranya menjadi versi terbaik dari diri gue sendiri. Tahu bagaimana caranya mengenal dan mencintai diri sendiri, cara melindungi diri sendiri, dan bagaimana cara menikmati hidup, dengan cara gue sendiri. Dan menurut gue, akan ada lebih banyak orang di luar sana yang lebih bisa relate dengan gue yang cuma orang biasa ini.

Oh ya, tahu apa lagi yang memotivasi gue untuk memulai “profesi” baru ini?

Orang-orang yang pernah memotivasi gue adalah jawabannya.

Pak Dosen yang percaya gue akan bisa sukses saat gue bahkan masih ragu-ragu dengan diri gue sendiri. Bos yang percaya pada gue melebihi kepercayaan gue pada diri sendiri. Serta keluarga dan sahabat yang enggak pernah capek memotivasi di saat-saat tersulit dalam hidup gue.

I’m lucky enough to all of them in my life, and I want to be a person like “them” for many people out there.

Lalu bagaimana cara gue akan memulai?

Menulis langkah pertamanya. Gue akan mulai lebih sering menulis di blog ini plus tulisan pendek melalui LinkedIn. Setelah itu, gue juga akan mulai rekaman untuk masuk ke podcast, Youtube, dan social media lainnya. Kemudian gue juga sudah tidak sabar untuk mewujudkan mimpi gue sedari dulu: menulis dan menerbitkan buku gue sendiri!

I have hopes, don’t I? Doakan yaa!

Kenapa Gue Masih Memilih Untuk Mempercayai Keberadaan Tuhan dan Agama-Nya?

Ada obrolan menarik malam ini. Antara gue dan salah satu teman baik yang menganut atheism sejak 2 tahun belakangan ini.

Surprisingly, dia berani bilang begini, “Menurut gue, lebih besar kemungkinan elo yang jadi atheis ketimbang gue yang masuk Islam. Soalnya elo itu orangnya logis banget. You’re half way there.”

Gue enggak terlalu kaget mendengarnya. Ortu gue sering mengungkapkan kekhawatiran mereka soal gue yang cenderung lebih sekuler ketimbang anggota keluarga gue yang lainnya. Bokap sampe pernah bilang, “Jangan terlalu banyak pakai logika. Semua yang berlebihan itu enggak baik.”

Salah satu sahabat baik gue yang lainnya juga pernah bilang, “Semakin pintar dan semakin logis seseorang, semakin tinggi kemungkinan enggak lagi percaya dengan konsep ketuhanan. Elo ada kecenderungan kayak gitu.”

Pertanyaannya sekarang: is that true? Apakah benar gue punya kecenderungan untuk menjadi atheis?

Jawabannya: very big no.

Gue memang tipe orang yang sangat mengandalkan logika. Beberapa teori keagamaan memang pernah gue mentahkan hanya karena menurut gue enggak masuk akal. Tapi pertanyaan selanjutnya: jika demikian, kenapa gue masih percaya dengan keberadaan Tuhan dan memilih satu agama untuk gue yakini?

Jawabannya sederhana: karena gue memerlukan keberadaan Tuhan dan pilar-pilar agama-Nya untuk mengendalikan diri gue sendiri.

Gue pasti sudah menjadi orang yang sangat-sangat jahat, dan/atau sangat-sangat nakal, jika gue enggak punya rasa takut atas Tuhan dan jika gue enggak punya ajaran agama yang menjadi acuan gue untuk menentukan batas antara benar dan salah dalam keseharian gue.

Gue tipe orang yang sangat emosional. Tipe orang yang marahnya meledak-ledak. Gawatnya lagi gue bukan tipe orang yang takut dengan orang lain, bukan pula tipe orang yang takut berurusan dengan konflik. Berantem ya berantem aja gitu. Meski demikian, gue bukan tipe orang yang suka membalas dendam. Bukan orang yang senang mati-matian balas menyakiti orang lain yang menyakiti perasaan gue. Ada kalanya orang terdekat gue sampai berkomentar, “Elo terlalu baik sama mereka. They don’t deserve it.”

Kenapa bisa begitu? Karena ajaran agama gue. Gue masih jauh banget dari akhlak yang sempurna menurut Islam, tapi setidaknya, gue cukup bisa menahan diri gue sendiri. Gue memang galak, tapi gue enggak jahat.

Kemampuan menahan diri dari perbuatan jahat itu menjadi semakin penting dengan bertambahnya kekuasaan yang gue miliki (contohnya di lingkungan kantor). Ditambah lagi gue tipe orang yang sangat analitis sehingga sangat mudah untuk gue menemukan “kartu AS” yang dapat gue gunakan untuk menjatuhkan orang lain yang gue benci. Gue punya pilihan, dan agama gue mendorong gue untuk selalu memilih menahan diri. Ada rasa takut hidup gue akan berubah menjadi tidak tenang jika gue melanggar ajaran yang sangat gue yakini kebenarannya itu. Rasa takut itu juga yang pada akhirnya menekan amarah yang panas membara dalam diri gue ini.

Mungkin sebagian dari kalian, pada titik ini akan bertanya-tanya, “Kenapa harus banget ajaran agama yang jadi acuan? Bukankah sudah ada peraturan-peraturan lain yang bisa gue jadikan acuan untuk mengendalikan diri? Undang-undang misalnya?

Well, enggak semua perbuatan jahat yang menyakiti perasaan orang lain itu melanggar Undang-undang. Gue bisa saja menyakiti perasaan orang lain dan tetap terbebas dari jerat hukum. Sebaik-baiknya peraturan kenegaraan, tetap tidak ada yang mengatur ways of living lebih baik dari ajaran suatu agama.

Kemudian selain soal sifat gue yang emosional, agama juga membantu gue untuk tidak menjadi anak nakal meskipun sebetulnya, ada pikiran-pikiran nakal yang tersimpan di dalam benak gue. Ditambah lagi gue tipe orang yang sangat mudah merasa penasaran, hidup di lingkungan yang cenderung bebas, ditunjang dengan kemampuan ekonomi untuk membiayai kenakalan-kenakalan itu. Gue bisa melakukannya jika gue mau, tapi gue lebih memilih untuk menahan diri. Sekali lagi, karena ajaran agama gue jelas-jelas mengatakan, jika lebih banyak mudharat-nya (sisi negatifnya), lebih baik tidak usah dilakukan sama sekali. Dan tidak pernah sekalipun gue menyesali keputusan ini. Gue mungkin memang kurang pergaulan, tapi gue tidak pernah kurang kebahagiaan. Dan itu yang lebih penting.

God doesn’t need me to believe in Him, but I definitely need to believe in Him to keep me sane and to help me getting through my own life. I need Him in my prayers, in my decisions, and in every single time of my life; both the good ones, and the hard ones. When I lose my belief, I lose most of the part that makes me a decent human being. I am not who I am without my belief, and that’s not going to change. Never.

P.s.: Tulisan ini tidak berarti gue tidak menghargai atheis apalagi pemeluk agama lainnya… Teman atheis yang gue ceritakan di sini teman baik gue, orang yang sangat baik dan sangat gue hargai, dan gue tidak memandang rendah keputusannya. Toh di Islam ada ayat mengatakan, “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.” Ayat yang buat gue, berlaku juga dalam interaksi gue dengan atheis atau agnostik di sekitar gue.

Whatever your belief is, let’s live in peace, shall we?

Emansipasi Bukan Berarti Tidak Menghargai Laki-laki, Bukan Pula Mengurangi Kewajiban Kami Sebagai Perempuan

Emansipasi buat gue artinya kesetaraan hak. Hak untuk mendapatkan pendidikan, pekerjaan, promosi, dan lain sebagainya. Perempuan harus punya hak yang sama untuk mengejar cita-citanya, dan kami para perempuan harus dinilai berdasarkan kompetensi, dan bukan berdasarkan jenis kelamin.

Jadi sebetulnya, emansipasi tidak ada hubungannya dengan tidak lagi menghargai laki-laki. Membuat kami jadi bersaing dengan mereka, bisa jadi memang iya, tapi sekali lagi, dinilai berdasarkan kompetensi dan bukan berdasarkan jenis kelamin. Itu pula sebabnya gue menilai tidak adil jika suatu organisasi mempunyai kuota minimal pemimpin perempuan dalam organisasinya. Jika kandidat yang dinilai capable untuk duduk sebagai pemimpin secara kebetulan laki-laki semuanya, justru tidak adil jika perempuan dimenangkan hanya atas nama emansipasi.

Kemudian menurut gue, emansipasi juga tidak mengurangi tanggung jawab kami sebagai wanita. Tidak mengurangi tanggung jawab sebagai seorang isteri dan ibu dari anak-anak kami. Memang ada yang berbeda dari cara perempuan bekerja membesarkan anak-anaknya, tapi selama hal itu tidak mengurangi tanggung jawab atas suami dan anak-anak di rumah, menurut gue tidak ada salahnya. Ibu rumah tangga belum tentu ibu dan istri yang lebih baik daripada ibu yang bekerja di luar rumah, begitu pula sebaliknya. Tanggung jawab tetap sama, hanya cara dan metodenya saja yang berbeda-beda.

Gue juga tipikal perempuan yang masih meyakini emansipasi bukan berarti kedudukan istri harus setara dengan suaminya. Menurut gue bagaimanapun, kepala rumah tangga tetap harus suaminya. Suami harus tetap memimpin istrinya, dan istri tetap harus menerima suaminya itu sebagai pemimpinnya. Itulah sebabnya, penting buat gue mempunyai pasangan yang memiliki keberanian untuk memimpin gue. Orang yang berani mengatakan kesalahan apa yang baru saja gue lakukan, dan juga orang yang berani mengajarkan gue untuk bisa jadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.

Selamat hari Kartini buat para perempuan Indonesia! Apapun pilihan hidup kita masing-masing, mari kita jaga kemuliaannya! Mari kita buat Kartini bangga dengan menjadi versi terbaik dari diri kita ini. Bring it on, ladies!

Hal-hal yang Gue Lakukan Saat Susah Tidur

Pernah ingin tidur tapi nggak bisa tidur? Sudah lewat tengah malam tapi masih belum ngantuk juga. Bisa dicoba cara-cara ajaib yang pernah gue lakukan berikut ini, siapa tahu mempan!

  1. Baca buku matematika… Saking bencinya sama matematika, tiap baca buku ini, gue malah jadi ngantuk, hehehehe;
  2. Nonton film yang membosankan… Gue punya beberapa judul yang efektif bikin gue tidur saat nonton film itu. Salah satunya? A Star is Born;
  3. Makan sampai kenyang. Ini bukan kebiasaan yang menyehatkan sih. Selain bikin lambung jadi capek, ini juga bisa bikin perut jadi buncit;
  4. Buka aplikasi online shopping. Melihat isi online catalog entah kenapa bisa bikin gue pelan-pelan merasa ngantuk lalu tertidur;
  5. Dengar suara hujan, aliran sungai, atau jangkrik. Ini sebabnya, gue masih sesekali berlibur ke pedesaaan. Tapi suara seperti ini bisa didengar via aplikasi hp juga sih, cuma kurang natural saja kedengarannya;
  6. Cari teman ngobrol. Meskipun topiknya menarik, texting atau teleponan di atas tempat tidur itu efektif bikin gue ngantuk. Dan entah kenapa, percakapan yang menyenangkan sebelum tidur itu bikin tidur gue juga jadi lebih nyenyak;
  7. Baca berita. Ini juga efektif bikin gue ngantuk jika isi beritanya membosankan semua. Tapi ini bisa juga terjadi sebaliknya: isi berita sangat menarik sehingga gue malah terus-menerus baca berita sampai lupa untuk segera pergi tidur; dan
  8. Memejamkan mata dan membayangkan orang yang gue sukai, hehehehehe. It soothes me, somehow.

Punya cara-cara lain yang efektif buat kalian? Please share in comment box!

Kenapa Gue Tidak Mau Jadi Golput?

Jujur awalnya, gue hampir golput di Pemilu tahun 2019 nanti. Gue enggak happy dengan pemerintahan Jokowi, tapi gue juga pernah punya pengalaman yang tidak menyenangkan dengan Prabowo (cuma insiden kecil, tapi terasa menyebalkan). Gue juga tidak terkesan tiap kali melihat mereka berpidato di ranah publik. Beda banget dengan saat gue melihat pidatonya Obama, misalnya.

Beberapa bulan berlalu, akhirnya hari ini gue menjatuhkan pilihan. Apa pilihan gue? Pilihan untuk setidaknya, gue tidak golput.

Kenapa tidak jadi golput?

Karena kejadian yang gue alami belasan tahun yang lalu.

Saat itu gue masih duduk di bangku SMA. Ceritanya sedang ada pemilihan Ketua KIR; ekstrakurikuler yang gue ikuti. Waktu itu gue kecewa karena senior-senior di sana tidak memilih gue untuk menjadi salah satu calon ketua KIR yang baru, sehingga akhirnya pada saat pemilihan, gue memilih untuk abstain.

Saat hasil pemilihan selesai dibacakan, Ketua KIR yang lama, mengajukan pertanyaan kepada seluruh anggota, “Hari ini ada satu suara yang abstain. Boleh tahu siapa orangnya?”

Semua orang diam. Gue hanya diam.

Dia melanjutkan, “Tidak akan ada konsekuensi… kami hanya ingin dapat masukan… apa alasannya? Apa yang bisa kami perbaiki untuk pemilihan berikutnya?”

Dan gue tetap diam. Tidak berani mengakui bahwa pada saat itu, gue memilih untuk abstain.

Si kakak kelas gue itu mulai kelihatan kecewa. Dan dia mengakhiri pertemuan dengan pertanyaan yang tidak terjawab.

Saat itu, gue jadi malu dengan diri gue sendiri. Gue yang tidak mengakui perbuatan gue itu betul-betul bukan diri gue yang biasanya. Walau sebetulnya, ada alasan kenapa gue tidak mau mengakuinya. Alasan yang kemudian menjadi alasan untuk gue tidak pernah lagi memutuskan untuk abstain di pemilihan-pemilihan lain yang harus gue lakukan sepanjang hidup gue.

Alasan apa?

Alasan bahwa sebetulnya, gue malu mengakui bahwa gue baru saja melakukan hal yang tidak ada gunanya. Golput itu tidak akan pernah mengubah apa-apa. Tidak ada manfaatnya. Jadi daripada bikin malu diri sendiri, gue akhirnya lebih memilih untuk bungkam. Dalam hati gue bertekad… tidak akan pernah lagi, gue menempatkan diri gue dalam rasa malu atas keputusan gue sendiri. Gue berjanji, gue tidak akan pernah golput lagi.

Lalu kenapa gue bilang golput itu tidak ada gunanya?

Karena saat kita memilih untuk golput pun, di pemilihan manapun, pasti akan tetap ada kandidat yang keluar sebagai pemenangnya. Dengan memilih abstain, kita kehilangan kontribusi untuk menentukan siapa pemenangnya. Dan bagi gue, tidak ada kontribusi itu artinya sama saja dengan tidak ada kegunaannya.

Selain soal tidak memberikan kontribusi apa-apa, golput bisa jadi pertanda pola pikir yang terlalu pesimis. Atau bisa juga, pola pikir yang terlalu sombong… merasa diri jauh lebih baik daripada para kandidat yang namanya tertera di kertas suara. Kembali lagi apapun alasannya, dengan tidak memilih, kita memilih untuk menjadi seseorang yang tidak memberikan kontribusi.

Masih ada waktu 4 hari lagi untuk menentukan pilihan. Pelajari masing-masing paslon, plus-minusnya, track record-nya, rencana kerja dan janji-janjinya… Gue juga masih tidak sepenuhnya sreg dengan pilihan gue nanti, tapi setidaknya, gue memberikan kontribusi. Setidaknya, gue tidak membiarkan satu suara gue terbuang sia-sia.

Selamat menentukan pilihan dan selamat menikmati pesta demokrasi!