Minder: Akar Dari Berbagai Pikiran Buruk

Dulu banget, salah satu teman saya pernah cerita bahwa sejak berat badannya mulai naik, dia jadi mulai merasa tersinggung tiap kali ditawari brosur gym membership.

Dia bilang ke saya, “Gue udah gendut banget kali ya, sampai gue ditawari brosur fitness.”

Saya hanya tersenyum sambil bilang, “Elo emang gemukan, tapi enggak gendut kok.”

Dia tetap merengut dan tetap merasa dirinya sudah masuk kategori kelebihan berat badan.

Tidak lama kemudian, saat saya melintasi salah satu pusat kebugaran di sebuah mall di Jakarta, tidak diduga-duga, pegawai yang bekerja di gym tersebut menghampiri dan memberikan saya brosur untuk ikut menjadi anggota mereka. Saya menerima brosur itu, tersenyum simpul, dan langsung lanjut jalan menuju toko yang saya ingin datangi.

Brosur yang diberikan pada saya itu membuat saya semakin meyakini bahwa teman saya itu hanya minder saja. Saya termasuk kurus, tapi toh tetap ditawari brosur yang sama. Pada dasarnya teman saya itu hanya panik karena berat badannya naik beberapa kilogram, dan itu membuat dia minder. Rasa minder itu pula yang kemudian membuat dia jadi mudah berpikiran buruk soal bentuk tubuhnya sendiri.

Teori seseorang jadi lebih sensitif karena minder (biasa disebut juga insecurity) ini menurut saya berlaku untuk banyak hal dalam hidup kita ini.

Contoh lainnya saat ada SPG yang tidak sopan saat melayani.

Orang yang percaya dirinya tinggi, akan berpikiran, “Pemilik toko ini salah pilih karyawan.”

Orang yang percaya dirinya rendah, akan berpikiran, “SPG itu judes karena gue enggak kelihatan mampu untuk beli barang yang mereka jual kali ya?”

Rasa minder ini pula yang bisa membuat seseorang mudah marah pada lelucon yang sebetulnya belum tentu bersifat harmful. Mereka tersinggung karena lelucon itu tepat sasaran langsung ke “titik minder” mereka. Bisa jadi soal kekayaan, bentuk tubuh, tingkat kecerdasan, sifat atau kebiasaan buruk, dan lain sebagainya…

Perasaan minder sebetulnya perasaan yang sangat manusiawi dan bisa terjadi pada siapa saja. Semua orang punya kekurangan yang tidak mereka sukai dan persis kekurangan itu pula yang kemudian berpotensi membuat mereka merasa minder. TAPI, hal itu tetap bukan alasan untuk membiarkan diri kita tenggelam dalam rasa minder itu!

Ingat bahwa rasa minder yang tidak terkendali bukan hanya akan merugikan diri kita sendiri, tapi juga orang-orang di sekitar kita.

Rasa minder yang berlebihan akan menciptakan konflik yang tidak perlu. Saat rasa minder tidak terkendali, orang-orang yang berniat baik pun akan tetap terlihat salah menurut kita. Kita akan selalu punya alasan untuk merasa tersinggung, untuk membenci dan menjauhi orang-orang yang membuat kita merasa tidak nyaman.

Lalu bagaimana cara mengatasi perasaan minder itu? Tip sederhana dari saya:

  1. Cari akar permasalahan yang membuat kita minder berlebihan, kemudian cari solusi yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut; dan
  2. Lakukan lebih banyak hal positif dalam hidup kita sehari-harinya.

Rasa minder sayangnya bukan perasaan yang bisa hilang dengan sendirinya. Jika tidak ditangani dengan baik, rasa minder itu cuma akan makin parah dan hanya akan menimbulkan lebih banyak masalah. Dua solusi yang saya sebutkan di atas pada dasarnya bermuara pada satu hal saja: berusahalah untuk memperbaiki diri kita sendiri.

Do better, be better, and only after that, we can feel better about ourselves.

Penting untuk kita merasa nyaman dengan diri sendiri, termasuk merasa nyaman dengan kekurangan yang kita miliki. Minder yang berlebihan bisa membuat kita pelan-pelan benci dengan diri sendiri. Lebih buruknya lagi, semakin sering insecurity kita “memakan korban”, semakin besar pula peluang kita untuk semakin benci dengan diri sendiri.

Kita tidak akan pernah bisa jadi sempurna, tapi kita selalu bisa jadi lebih baik dari sebelumnya. Sekedar melakukan itu saja, insyaallah pelan-pelan, rasa minder akan berkurang dengan sendirinya. Mungkin tidak akan sepenuhnya hilang, tapi akan selalu bisa dikendalikan. Coba dulu dan rasakan perbedaannya!

Have a nice weekend!

My NEW Wish List

Dulu, isi wish list saya banyak didominasi dengan hal-hal yang sifatnya duniawi. Tidak jauh-jauh dari segala hal yang membutuhkan uang di dalamnya. Setelah berhasil mencapai semua isi wish list saya itu, saya ingin membuat wish list baru yang sangat berbeda dengan sebelumnya.

I no longer want to pursue all the big things I haven’t had (even though having a Porsche will still be nice, hehe), I only want to fulfill my life with small things that matter.

Berikut ini isi wish list saya yang baru untuk tahun 2019 ini!

  1. Saya ingin sembuh supaya bisa makan es krim tanpa pakai muntah setelah memakannya;
  2. Saya ingin cukup fit seperti sedia kala supaya kuat pakai high heels ke kantor seperti dulu;
  3. Saya ingin berani pergi ke mana pun saya ingin pergi tanpa dihantui pikiran, “Bagaimana kalau nanti saya pingsan lagi?” P.s: Penyakit saya ini tipe penyakit yang bikin saya rentan pingsan;
  4. Saya ingin hidup bebas rasa khawatir detak jantung saya terlalu cepat. Saya nggak mau lagi sedikit-sedikit melirik ke arah jam tangan hanya untuk melihat angka BPM saya;
  5. Saya ingin cukup kuat untuk bisa mulai berolahraga;
  6. Saya ingin nanti sudah cukup sehat untuk nonton konsernya Backstreet Boys di Jakarta (jangan sampai tiketnya hangus seperti tiket Aladdin broadway bulan lalu);
  7. Saya ingin bisa mulai tidur sebelum jam 10 malam, lalu bangun sebelum jam 6 pagi;
  8. Saya ingin makan sampai habis tanpa perlu merasa “tersiksa”. Bukan berarti saya anoreksia (saya malah senang kalau berat badan saya naik), saya cuma sering bermasalah dengan nafsu makan;
  9. Saya ingin bisa menerima berita buruk tanpa diiringi nyeri di perut saya ini; dan
  10. Saya ingin berhenti bolak-balik periksa ke rumah sakit.

Doakan semuanya bisa terwujud dalam tahun ini yaa!

Because to Me, Unhappiness is Not Even an Option

Sepanjang tahun ini, saya sering mengeluh tidak bahagia. Ada saja alasannya. Mulai dari kecapekan sampai patah hati terburuk sepanjang masa. Ditambah lagi sakit-sakitan sampai sempat dirawat di RS 6 hari lamanya.

Saya sempat mengeluh pada adik saya, “Capek banget hidup kayak gini terus-terusan.”

Sedih, capek, marah, semua emosi negatif berkumpul jadi satu. Sampai puncaknya saya jatuh sakit dan saya pelan-pelan mulai menyadari, “Kalaupun takdir saya meninggal dalam usia muda, bukan ini ending yang saya inginkan.”

Pelan-pelan, saya coba berbenah. Saya fokus pada hal-hal yang saya sukai, menulis salah satunya. Mulai dari aktif menulis artikel pendek di LinkedIn sampai menulis buku pertama saya (doakan segera rampung yaa!). Saya semakin erat berkomunikasi dengan orang-orang yang care dengan saya. Saya juga perbanyak baca tulisan yang memotivasi, dan bahkan, saya jadi rajin nonton romantic comedy hanya supaya saya tidak hilang harapan kepada “happy ending“.

Beberapa hari yang lalu, salah satu sahabat saya menasehati bahwa tidak seharusnya saya merasa sebegitu pesimisnya. Dia bilang, banyak kualitas dalam diri saya yang sangat patut saya nikmati. Dari situ saya jadi sadar… hal-hal buruk yang terjadi sepanjang tahun ini tidak lantas menghilangkan hal-hal baik yang sudah saya perjuangkan sepanjang hidup saya ini! Satu-satunya hal yang salah dalam hidup saya tahun ini adalah saya terlalu fokus pada hal-hal yang “going wrong” daripada hal-hal yang “going well“. Banyaknya ujian yang datang bertubi-tubi membuat saya jadi lupa untuk berbahagia.

Akhirnya saya putuskan untuk kembali mulai berbahagia! Sejak detik ini juga! Meski keadaan sama sekali belum membaik, kesehatan belum sepenuhnya pulih, patah hati juga masih patah hati, tapi ya mau bagaimana lagi? Setelah capek-capek berusaha mendapatkan hidup bahagia, kenapa sekarang saya malah berlarut-larut dalam ketidakbahagiaan?

Unhappiness is not even an option to me!

Jadi memang saya tidak punya pilihan lain selain berusaha kembali berbahagia dalam menjalani hidup saya ini. Jika sedang tidak ada hal besar yang dapat membuat saya bahagia, saya akan fokus berbahagia dengan hal-hal yang kecil dulu saja. Sekedar punya sepatu baru yang tampak keren saja sangat saya resapi rasa bahagianya, hehehehe. Ponakan saya, sahabat-sahabat lama dan teman-teman baru saya! Apapun itu yang bisa membuat saya tersenyum dan tertawa lagi.

Be happy… and that’s only because being unhappy is not supposed to be an option to begin with.

Have a good night!

Belajar dari Balita

Saya selalu takjub tiap kali melihat ponakan-ponakan saya belajar jalan. Melihat kegigihan anak sekecil itu, melihat jatuh-bangun mereka sampai akhirnya berhasil berjalan sendiri itu betul-betul pengalaman yang mengharukan!

Awalnya, saya hanya merasa amazed melihat anak sekecil itu sudah mulai berdiri, merembet, dan pelan-pelan belajar berjalan. Seperti melihat boneka lucu yang bisa jalan aja gitu. Lalu biasanya di awal, mereka akan sering jatuh-bangun. Kadang karena hilang keseimbangan, kadang karena mereka kelihatan sedang capek dan mau istirahat dulu. Kadang mereka sampai terjatuh, kadang mereka terlihat kesal dengan dirinya sendiri, kadang mereka juga sampai menangis saat jatuh dan kesakitan.

Meski demikian hebatnya, berapa kali pun mereka terjatuh, mereka akan bangkit untuk mencoba lagi dan lagi, sampai akhirnya mereka mulai bisa berjalan dan berlari kencang.

Melihat kegigihan mereka membuat saya berpikir, “Apa jadinya jika mereka kapok lalu menyerah dan enggak mau mencoba lagi?”

Dan saya juga berpikir, “Jika anak usia satu tahun saja bisa punya kegigihan seperti itu, kenapa kita yang sudah dewasa tidak bisa mempunyai kegigihan yang sama?”

Memang benar masalah kita sekarang sudah jauh lebih besar daripada sekedar belajar jalan, tapi kemampuan dan pengalaman yang kita miliki juga sudah jauh lebih banyak daripada anak usia satu tahun. Tidak seharusnya kita yang sudah dewasa ini mudah kapok saat dan mudah menyerah begitu saja baik itu dalam hal pekerjaan maupun kehidupan pribadi.

Jika hari ini kita bisa berjalan dengan lancar, ingat bahwa hal itu adalah buah dari kegigihan kita belajar jalan saat balita dulu.

Jika dulu kita memutuskan untuk terus mencoba lagi, kenapa sekarang kita jadi lembek dengan menyerah begitu saja?

Rasa kesal, sakit, dan trauma akan selalu datang dengan sepaket dalam proses pembelajaran kita. Dari usia kanak-kanak sampai lanjut usia nanti akan tetap sama jalan ceritanya, yang berbeda hanya tingkat kesulitannya saja. Itulah sebabnya penting untuk kita bertambah kuat seiring bertambahnya usia. Kita harus bisa menjadi manusia yang lebih besar supaya kita juga sanggup menghadapi masalah yang lebih besar. Pastikan kita akan selalu cukup kuat untuk lulus dari tiap tahap ujian kehidupan.

Bagaimana jika kita pernah menyerah atas sesuatu di saat usia kita masih lebih muda dulunya? Jika kegagalan itu masih menghantui, maka selesaikan dulu unfinished business kita itu. Akan lebih sulit berjalan maju ke depan jika masih ada masa lalu yang menarik kita ke belakang.

Berapapun usia kita saat ini, ingat selalu bahwa segala hal yang terbaik dalam hidup ini memang tidak pernah mudah untuk menjalankannya. Jangan manja dan jangan mudah putus asa! Jika kita jatuh 100 kali, bangkit lagi 100 kali, lagi dan lagi dan lagi.

My Appreciation to Sephora Pondok Indah

Persis hari ini dua minggu yang lalu, saya pergi ke Pondok Indah Mall. Ada keperluan photoshoot yang ingin saya beli di Uniqlo untuk klien saya selanjutnya. Sebelum pergi ke Uniqlo, saya mampir ke Sephora untuk beli BB cushion refill yang sudah hampir habis di rumah. Saya juga berkeliling toko untuk mencari eyeshadow palette untuk menggantikan palette yang lama.

Selesai belanja, saya langsung antri di kasir. Saat itulah perut saya tiba-tiba saja terasa panas. Badan lemas. Rasa capeknya melebihi rasa capek setelah lari kelilinng lapangan basket. Selesai bayar, saya langsung mencari tempat duduk. Saya betul-betul sudah enggak kuat berdiri. Saya memilih duduk di bangku milik Benefit.

SPG Benefit menghampiri saya dan bertanya, “Mau didandani, Mbak?”

Saya masih bisa menjawab, “Nggak, Mbak. Saya cuma mau istirahat. Perut saya mual.”

Rasa panas di perut saya terus merambat naik sampai ke atas. Pandangan mulai buram, saya mulai semakin tidak kuat menopang badan meski dalam keadaan duduk. Saya masih ingat saat itu saya merebahkan kepala di atas meja riasnya Benefit, dan waktu itu saya benar-benar takut.

Pikir saya itu, “What’s happening with me? No, I don’t want to be this sick.”

Tidak lama saya mendengar pegawai perempuan di Sephora bertanya pada saya, “Mau istirahat dulu di kantor, Mbak? Ada di samping kasir.”

Saya mengangguk. Saya berdiri, mulai berjalan, tapi kemudian rasa panas di perut saya itu malah semakin menjadi-jadi. Pandangan semakin buram. Kaki saya semakin lemas. Akhirnya saya letakan tas dan kantong belanja di atas lantai, dan saya lalu merebahkan diri di atas lantai… menutup mata, berharap bisa istirahat meski hanya untuk sejenak.

Sejak titik itu ingatan saya mulai agak kabur. Tidak lama saya mulai bisa mendengar beberapa orang yang mengerumuni saya. Mereka bilang saya pingsan.

Salah satunya bertanya, “Mbak masih kuat jalan?”

Saya tidak ingat saya jawab apa. Saya coba berdiri, dipapah dua orang di kanan dan kiri saya. Saya betul-betul tidak ingat siapa mereka, sesama pengunjung atau pegawai toko, yang jelas akhirnya saya berhasil jalan sampai ke kantornya Sephora. Saya kembali duduk dan diberikan segelas air putih hangat.

Entah kenapa saat itu, badan saya masih terasa lemas. Saya lalu bertanya ke SPG yang menemani, “Di sini ada sofa nggak, mbak? Saya ingin tiduran.”

Karena tidak ada sofa, akhirnya mereka menggelar kardus. Mereka menggunakan sesuatu sebagai bantal, dan entah dari mana datangnya, mereka juga memberikan saya selimut bersih. Saya berbaring dan baru saat itulah saya mulai merasa membaik. Saya hubungi orang rumah minta segera dijemput ke Sephora PIM.

Tidak lama kemudian, SPG Sephora juga membuatkan saya secangkir teh manis dan camilan untuk mengisi perut. Saya langsung minum dan teh manis itu betul-betul mengembalikan energi saya. It worked like a charm, somehow. Saya mulai bisa duduk agak lama sambil menjawab WhatsApp dari keluarga saya.

Kira-kira satu jam kemudian, keluarga saya datang. Saya pamit pulang pada orang-orang yang memberikan saya bantuan. Isi tas saya masih utuh, kantong belanja juga tidak berkurang satu kantong pun. Saya telah ditolong oleh orang-orang yang bukan hanya baik hati, tapi juga jujur dan berintegritas.

Saat tiba di rumah sakit, salah satu dokter saya bilang jika tidak ditangani secara benar, saya akan mulai langganan pingsan. Dia juga bilang, “Kalau kemarin itu kamu pingsan di tempat lain, belum tentu kamu semujur itu.”

Saya pun kembali mengucap syukur bahwa setidaknya, saya pingsan di tempat yang tepat.

Terima kasih banyak, Sephora Pondok Indah! Saya akan selalu ingat jasa baik karyawan di sana, semoga siapapun yang saat itu menolong saya dibalas kebaikannya berkali-kali lipat. Amiin.

Take Care of Your Heart (Literally)

Ceritanya seminggu ini saya dirawat di rumah sakit. Awalnya gara-gara pingsan di mall dan saat tiba di rumah sakit, pemeriksaannya melebar sampai ke jantung dan juga syaraf. Saya yakin banget cuma bermasalah di lambung, tapi ya sudahlah… toh biaya pemeriksaannya ditanggung asuransi.

Salah satu pemeriksaan yang harus saya lakukan adalah USG jantung. Rasa haru saat melihat jantung yang berdetak itu mungkin mirip-mirip dengan rasa haru saat seorang ibu pertama kali melihat janinnya via USG, hehehehe.

Saat melihat jantung saya di layar monitor, tiba-tiba saja saya teringat slogan berikut ini, “Sayangi jantung anda.”

Tiba-tiba saja, saya merasa kasihan dengan jatung saya sendiri. Kurang istirahat, enggak pernah olahraga, ditambah lagi saya bahkan enggak pernah repot-repot mengecek apakah saya sudah cukup memgkonsumsi makanan yang baik untuk jantung saya ini. Belum lagi stres dan tekanan ekstra dari asam lambung yang pasti juga sudah jadi beban tambahan untuk jantung saya ini.

Saat itu saya juga berpikir betapa saya seharusnya lebih mensyukuri jantung saya yang masih berdetak ini. Kalau bukan karena jantung yang masih berdetak, saya nggak akan punya cukup waktu untuk mewujudkan cita-cita saya, nggak punya cukup tenaga untuk pergi melihat dunia, dan juga nggak punya kesempatan untuk mengenal orang-orang hebat dalam hidup saya. Dan kalau bukan karena jantung yang masih berdetak, saya juga tidak akan pernah merasakan indahnya jatuh cinta.

Sejak detik itu juga saya bertekad… saya harus lebih peduli pada diri saya sendiri. Masih banyak impian yang belum saya capai, masih banyak tempat yang belum saya datangi, dan saya juga masih belum puas dengan kontribusi yang saya berikan untuk society. Rasanya masih banyak hal yang bisa saya lakukan dalam hidup saya ini. Saya harus tetap hidup… saya masih ingin jantung saya berdetak lebih lama lagi.

Alhamdulillah hari ini saya sudah boleh pulang. But you know what? Tidak lama setelah saya diperbolehkan pulang, saya mendengar kabar pasien di kamar sebelah baru saja meninggal dunia… karena penyakit jantung (dia meninggal di ICCU).

I’m discharged, well and healthy, but that man I never knew… he died on the very same day.

Mendengar keluarganya yang menangisi kepergian almarhum, tekad saya jadi semakin kuat; saya harus lebih menyayangi diri saya sendiri.

Hari Senin nanti, hasil tes jantung saya akan dibacakan oleh dokter di rumah sakit yang sama. Doakan hasilnya tidak menunjukan sesuatu yang serius yaa!

Have a nice weekend!

Don’t Hurt People Who Doesn’t Make You Bleed

Sudah sejak beberapa tahun belakangan, saya menyadari bahwa ada saja orang yang saat tersakiti, mereka malah meninggalkan orang lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan masalah mereka itu. Ujung-ujungnya, mereka malah menyakiti orang-orang yang tidak bersalah.

Awalnya saya pikir, mungkin itu cuma perasaan saya saja. Mungkin, memang ada kesalahan yang pernah saya lakukan sehingga mereka pergi dari hidup saya begitu saja.

Kemudian tadi malam, saya membaca kutipan dari Jay Shetty; salah satu motivator yang tengah naik daun di US. Dia bilang…

When you’re hurt, you end up cutting people that didn’t make you bleed.

Itu jadi seperti validasi dari observasi saya selama ini. Tetap bukan hal yang pernah saya lakukan sih, tapi saya pernah beberapa kali ditinggalkan begitu saja oleh teman-teman tersekat saya saat mereka tengah terkena masalah dalam hidupnya. Saya sampai bingung, “What did I do wrong?”

Masih menurut pengamatan saya pribadi, penyebabnya bisa macam-macam. Ada yang hanya sedang ingin sendiri saja (entah sampai kapan… mereka sendiri mungkin tidak tahu jawabannya). Ada yang tidak ingin menyeret orang lain dalam permasalahan hidupnya. Dan ada pula yang sengaja melakukannya karena tidak tahan melihat kebahagiaan dalam hidup orang lain di sekitat mereka (menurut saya, ini yang paling jahat).

Padahal menurut saya pribadi, mengusir orang lain saat tengah tertimpa musibah itu hanya akan memperburuk keadaan saja sih. Sudah kena masalah, eh, kehilangan teman bicara pula! Niat mereka sudah baik, jadi buat apa menyakiti mereka dengan malah menyuruh mereka pergi? Saya malah bersyukur jika ada orang yang bersedia tetap tinggal saat hidup saya sedang susah-susahnya.

Hidup akan terasa lebih mudah jika kita tidak menciptakan drama kita sendiri. Tidak ada untungnya membuat masalah menjadi lebih rumit dari yang seharusnya. Saat tertimpa musibah atau ujian hidup lainnya, cukup fokus pada masalah yang sebenarnya. Kalaupun ada orang yang harus dijauhi, jauhi mereka yang memberi pengaruh buruk dalam hidup kita, dan bukan sebaliknya!

No drama anymore, okay? Have a great weekend! 💕

Jakarta, The City Where I Fall in Love

Tiap kali Jakarta merayakan ulang tahunnya, bawaan saya selalu mellow. Sebal sama macet dan polusinya, tapi selalu cinta dengan kenangan dan orang-orang di dalamnya.

Salah satu alasan terbesar kenapa saya cinta kota Jakarta adalah karena di sini lah, tempat saya pernah jatuh cinta.

Ada cinta monyet, ada cinta lokasi, ada pula cinta betulan. Semuanya terjadi di kota Jakarta tercinta ini.

Saya ingat di gedung mana saja saya pertama kali bertemu dengan mereka (baca: cowok-cowok yang pernah saya cintai). Pernah nge-date dengan mereka (saya bahkan masih ingat makan di mana dan duduk di meja sebelah mana!). Saya bahkan masih mengingat, di mana persisnya, saya terakhir kali bertemu dengan mereka.

Kota tempat saya belajar mencintai juga sudah menjadi kota tempat saya belajar patah hati. Belajar berbesar hati. Belajar melepaskan. Dan belajar untuk bangkit dan jatuh cinta lagi. Bagaimana saya bisa move on dari kota yang menyimpan beribu kenangan seperti ini?

Saya tidak tahu ke mana hidup akan membawa saya suatu saat nanti. Tapi saya tahu sejauh apapun nanti saya melangkah, Jakarta akan tetap selalu menjadi tempat saya untuk pulang. Jakarta akan tetap menjadi kota yang menyimpan sejuta kenangan, kota yang menjadi saksi betapa saya bertumbuh, saksi jatuh dan bangun saya saat belajar mencintai, lagi, dan lagi, dan lagi.

Tahu apa yang paling hebat dari semua ini? Jakarta juga sudah menjadi saksi jatuh dan bangun saya saat belajar mencintai diri saya sendiri. Lagi, dan lagi, dan lagi. Seolah tidak pernah ada habisnya, dan tidak akan pernah ada habisnya.

Selamat ulang tahun, kota Jakata! I’ll be forever in love, with you ❤️

Tentang Halte BEJ

Ceritanya malam ini saya nonton film terbarunya X-Men. Saya pergi nonton, sendirian, dalam keadaan galau atas masalah pribadi yang sangat mengganggu saya beberapa bulan belakangan ini. Bolak-balik saya ingin menyelesaikan masalah itu, tapi saya selalu saja mundur di menit-menit terakhir. Saya menyimpan rasa takut bahwa usaha saya untuk menyelesaikan masalah itu malah hanya akan membuat saya semakin menderita. Sampai lama-kelamaan, saya mulai merasa terlalu capek menanggung beban perasaan saya sendiri. Saya merasa unfinished business saya itu sungguh sudah harus diselesaikan secepatnya.

Selesai nonton di Pacific Place, saya menyeberang jalan ke Halte BEJ. Ada sederet taksi berjejer di depan PP, tapi saya malah menyeberang jalan. Saya kangen duduk sendiri di Halte BEJ; halte yang menyimpan begitu banyak kenangan selama 3 tahun saya bekerja di gedung itu.

Saya lalu duduk, sendirian, sambil menikmati angin malam yang terasa cukup sejuk di malam ini. Begitu banyak memori di halte BEJ bergantian melintas di benak saya. Kejadian demi kejadian lebih dari 7 tahun yang lalu terasa seperti baru terjadi kemarin sore.

Saya ingat pernah menunggu taksi berdua dengan cowok yang dulu pernah saya cintai. Kami sama-sama baru pulang lembur. Senior saya itu sebetulnya bawa mobil sendiri, dia enggak perlu ikut jalan sampai ke halte. Dia hanya ingin menemani sampai saya mendapatkan taksi untuk pulang. Persis kebaikan dia yang seperti itu yang dulu membuat saya jatuh hati. Dia enggak pernah sempat menjadi pacar saya, tapi dia akan tetap selalu menjadi seorang teman untuk saya, dan mungkin, kami bisa berteman untuk selama-lamanya.

Kemudian saya juga masih ingat jelas saat EY mengadakan year end party yang mengharuskan karyawannya datang dengan kostum bertema. Saya ingat kami beramai-ramai berfoto di halte BEJ sebelum gantian menyeberang jalan ke lokasi pesta yang berada persis di seberang gedung kantor kami itu.

Saya bahkan masih ingat hari di mana saya mendengar soal penyakit yang diderita teman baik saya sambil berjalan menuju halte BEJ. Saya masih ingat betapa sedih saat mendengar teman saya itu harus hidup dengan penyakitnya untuk selama-lamanya.

Yang paling pahit, saya pernah berjalan meninggalkan halte BEJ di saat sedang turun hujan rintik-rintik. Senior yang saya sayangi itu memutuskan untuk resign, dan saya merasa ditinggalkan. Emang dramatis banget sih ya waktu itu, tapi saya jadi mengerti kenapa selalu ada saja adegan orang menangis di bawah hujan baik itu di sinetron atau film layar lebar. Alasannya sederhana: karena air hujan akan menyamarkan air mata yang turun dari pelupuk mata.

Kenangan terakhir saya soal halte BEJ adalah saat saya duduk di sana memikirkan masa depan karier saya. Ada keputusan besar yang harus saya pertimbangkan, dan saya baru mantap mengambil keputusan itu setelah duduk merenung di halte BEJ, tengah malam, sendirian.

Kembali ke malam ini, saya kembali menyadari ada keputusan besar yang harus saya ambil. Hanya bedanya malam ini, saya masih tidak tahu bagaimana hasil akhirnya. Kenapa bisa demikian? Karena untuk masalah ini, bukan saya yang harus mengambil keputusan. Saya hanya perlu memberanikan diri untuk meminta seseorang mengambil keputusan itu bukan hanya untuk saya, tapi juga untuk diri dia sendiri.

Saya menghela napas setelah duduk agak lama. Saya harus segera pergi. Sudah terlalu malam untuk duduk di halte yang sudah sepi. Akhirnya saya pulang, dengan kemantapan hati.

Saya sudah melewati begitu banyak naik-turun dalam kehidupan ini… satu lagi rintangan tidak akan membuat saya mati menderita. Saya punya banyak sifat, tetapi penakut bukan salah satunya. Saya hanya perlu memberanikan diri untuk membereskan masalah saya sendiri, dan apapun hasilnya, insyaallah, saya akan baik-baik saja.

This too will pass, will not it?

Is It a Shame if We Go Back to God When this Life Knocks Us Down?

Pernah jadi orang yang baru taat beribadah setelah terlanjur terkena musibah? Musibah, masalah berat, patah hati, atau apapun itu yang menyebabkan hati terasa hancur berkeping-keping.

Saya pernah. Dan pertanyaannya: is it okay to do that?

Dulu saya pernah nonton satu episode salah satu American TV show (Desperate Housewives kalau nggak salah) yang menceritakan salah satu tokoh wanita yang tengah tertimpa musibah. Dia ingin kembali beribadah ke gereja, tetapi dia malu pada Tuhan karena sebelumnya dia seperti sudah melupakan keberadaan Tuhan-nya itu.

Kemudian sahabat wanita itu menasehati, “Ketika anak-anakmu sedang terkena masalah, bukankah kamu ingin mereka mengadu pada kamu; ibu mereka, dan bukan pada orang lain di luar sana?”

Episode yang cukup berkesan buat saya. Pengingat yang baik bahwa Tuhan akan selalu menerima kita kembali kepada-Nya, meskipun kita sempat melupakan keberadaan-Nya. Ia akan lebih ingin kita datang mengadu kepada-Nya daripada mencari pelampiasan lain yang belum tentu baik untuk diri kita ini.

It’s the beauty of believing in God, isn’t it? You will always have Him to come home to, even when you are all alone. And that makes me never feel alone. Never again.