A journey to remember

Archive for the ‘About Life’ Category

Ada serentetan kejadian dua tahun belakangan ini yang membuat gue memutuskan untuk berhenti menaruh harapan kepada orang lain. Siapapun orangnya, sebaik apapun kelihatannya, gue lebih memilih untuk tidak menyimpan ekspektasi apa-apa. Dan bukan cuma itu, jika dulu gue selalu memulai perkenalan dengan orang lain dengan modal kepercayaan 100% di awal, sekarang justru sebaliknya. Gue lebih memilih untuk bersikap skeptis dan membiarkan orang lain “menentukan” sendiri seberapa jauh gue bisa percaya dengan perkataan dan perbuatan mereka.

And did you know? My life becomes happier and happier ever since the day I decided reduce my expectations on other people down to zero.

Gue jadi tidak lagi sakit hati saat ada orang yang gue anggap teman baik tiba-tiba datang “menyerang” gue dengan pertanyaan atau pernyataan yang menyakitkan hati (gue juga heran kenapa selalu ada saja orang iseng dan nyinyir seperti ini).

Gue tidak lagi kaget saat orang-orang yang gue kira memihak gue malah bermanis-manis dengan orang yang jelas-jelas berusaha memusuhi atau menyakiti gue.

Gue tidak lagi ambil hati apalagi sampai berkecil hati saat ada orang lain yang berbohong dan mengingkari janji-janjinya. Saat ada orang lain berjanji, gue akan lupakan saja dan tidak pernah lagi berharap mereka akan ingat untuk menepatinya.

Gue tidak pernah lagi menyesali diri gue sendiri saat orang-orang yang dulu dekat dengan gue perlahan menarik diri tanpa ada penjelasan apa-apa. Seorang teman pernah menasehati, “Not everyone is your cup of tea.”

Gue juga tidak pernah lagi ambil pusing saat ada orang-orang yang hanya baik sama gue saat mereka ada maunya atau perlunya saja.

Gue bahkan tidak pernah lagi berharap orang yang gue berikan pertolongan, atau orang-orang yang pernah gue perjuangkan kelak akan ingat untuk membalas budi. Prinsip gue sekarang; berikan… lalu lupakan.

Dulu, tiap kali ada orang lain let me down, reaksi gue, “Kok bisa ya? Emangnya gue salah apa?” Tapi sekarang, reaksi gue sudah sangat jauh berbeda. Gue cuma menghela napas sambil bilang sama diri gue sendiri, “Oh well, of course they do. And it’s not me, it’s them.”

Saat ada orang yang merasa perlu merusak kebahagiaan gue, saat ada orang yang memilih untuk bermuka dua, saat ada orang berbohong atau tidak menepati janjinya, atau saat ada orang yang hanya ingin memanfaatkan gue saja, maka semua itu bukan salah gue. Makanya gue bilang sebelumnya, “It’s not me, it’s them.”

Ada kalanya gue harus instropeksi diri, tapi menyalahkan diri sendiri atas prilaku orang lain yang masih bermasalah dengan dirinya sendiri jelas bukan pilihan yang bijak.

Mungkin sampai sini, tulisan gue terlihat suram. Tapi sebetulnya tidak juga. Seperti yang gue tulis di atas; berhenti menaruh harapan pada orang lain justru membuat gue lebih bahagia. Kenapa bisa begitu?

  1. Karena sekarang, sudah nyaris tidak ada lagi hal-hal yang bisa melukai perasaan gue. Banyak hal buruk yang sudah gue duga sejak awal; dan
  2. Rendahnya ekspektasi justru membuat gue jadi lebih mudah terkesan dengan orang-orang yang ternyata lebih baik daripada dugaan gue.

Ironisnya, jumlah orang di kelompok 1 di atas entah kenapa jauh lebih banyak daripada kelompok 2. Dengan standar yang sudah sangat rendah pun, tetap lebih banyak orang yang tidak bisa memberikan kesan baik untuk diri mereka sendiri. Gue awalnya sampai bingung sendiri, “Apa sih susahnya menjadi orang yang punya integrity? Atau kalau memang tidak bisa jadi orang baik, setidaknya jangan jahat.” Tapi sekarang, gue sudah tidak ambil pusing. Hidup ini memang berat, dan orang yang tidak cukup kuat tidak akan punya cukup energi untuk mengendalikan dirinya sendiri. Itu pangkal masalahnya, dan sekali lagi, “It’s not me, it’s them.”

Awal tahun ini gue sempat merasa khawatir dengan diri gue sendiri. Kenapa gue jadi negatif begini ya? Sampai kemudian belum lama ini, gue menemukan tulisan ini, “When one’s expectations are reduced to zero, one really appreciate everything one does have – Stephen Hawking.”

Dari situ gue mulai menyadari bahwa sebetulnya gue sudah mengambil pilihan yang tepat. Gue juga mulai melihat perubahan pola pikir gue dari sudut pandang yang berbeda. Gue bukan negatif, gue hanya memilih untuk bersikap lebih realistis.

Gue sudah berhenti berusaha mengambil hati orang-orang di sekitar gue. Orang yang mendukung gue akan tetap ada di sisi gue tanpa harus gue minta-minta.

Gue sudah berhenti berusaha menjadi pahlawan kesiangan. Gue tidak akan pernah bisa mengubah orang lain. Sekeras apapun gue berusaha untuk menolong, tetap hanya orang itu sendiri yang bisa menolong dan mengubah diri mereka sendiri.

Dan yang paling penting, gue sudah berhenti memberikan banyak ruang untuk orang lain dalam hati dan pikiran gue.

Saat ini, hidup gue terasa lebih tenang, dan ternyata, kedamaian hati dan pikiran itu banyak manfaatnya! Gue jadi lebih fokus mengurus dan menata hidup gue sendiri, gue jadi punya lebih banyak energi untuk memikirkan solusi atas permasalahan yang tengah gue hadapi, dan yang paling menyenangkan, gue jadi lebih mampu membahagiakan diri gue sendiri!

Life is too short to be unhappy, and I’m glad that I’ve found a new way to be happier!

Advertisements

Dulu, pernah ada salah satu kenalan saya yang sangat vokal menyuarakan ketidaksukaan dia atas segala sesuatu di lingkungan kerja dia.

Dia sering bilang, “Bos gue sering marah-marah.” Atau, “Banyak yang nggak betah kerja di sini.”

Kemudian saya tanya, “Memangnya seberapa sering dia marah-marah?”

Setelah berpikir sejenak, dia bilang, “Nggak tiap hari marah-marah sih, tapi bla bla bla.” Dia lanjutkan dengan pernyataan-pernyataan lain yang sifatnya sangat subjektif.

Pernah juga saya tanya, “Memang seberapa banyak orang yang nggak betah kerja di sana?”

Dia bilang, “Dua dari tiga, termasuk gue. Tim under bos gue kan emang cuma kita-kita aja, jadi ya 2 dari 3 itu banyak namanya.”

Jika merujuk pada penggunaan bahasa yang baik dan benar, sering itu artinya “most of the times“. Kemudian, banyak itu setidaknya “hampir mayoritas”. Kebetulan mengenal satu atau dua orang lain yang berpendapat sama tidak bisa langsung kita nyatakan sebagai “banyak”.

Lalu bagaimana jika jumlahnya 2 dari 3?

Well, tahukan kamu bahwa ahli statistik yang sudah sering melakukan research tidak akan berani mengambil kesimpulan hanya berdasarkan sedikit data? Sebelum memulai analisa, mereka akan pastikan dulu bahwa jumlah data yang mereka kumpulkan sudah cukup banyak sehingga mampu merepresentasikan suatu kesimpulan.

Jika ahli statistik saja sangat berhati-hati dalam mengambil kesimpulan, kenapa kita yang cuma punya sedikit coincidences bisa-bisanya langsung menghakimi dan menyebarluaskan judgement yang belum tentu benar keadaannya?

Saya akui saya juga pernah gegabah melakukan kesalahan yang sama. Dulu, saya pernah merasa banyak orang di lingkungan baru saya yang sangat suka berbohong. Kemudian saya iseng-iseng menghitung jumlah orang yang suka berbohong di tempat itu. Hasilnya? Tidak sampai 30%. Memang tidak sedikit, tapi tidak juga seburuk yang saya rasa sebelumnya. Hanya dengan perhitungan sederhana itu saja kepercayaan saya pada mereka langsung berangsur membaik. Tidak adil rasanya jika saya menyamaratakan semua orang hanya karena perkara segelintir orang saja.

Sejak itu, saya tidak lagi sembarangan melipatgandakan segala sesuatu hanya berdasarkan “kira-kira” atau berdasarkan luapan emosi yang tanpa saya sadari membuat saya menjadi hiperbolis. Jika saya bilang banyak, berarti memang betulan banyak. Jika saya punya angka pasti, atau setidaknya kisaran angka, maka saya akan lebih memilih menyebut angka tersebut ketimbang penggunaan kata “sedikit” dan “banyak” atau “jarang” dan “sering”. Itu pula alasan yang sama yang membuat saya sering bertanya kepada lawan bicara saya, “How much is it exactly?” Atau “How often does it happen?”

Ini yang gue maksud dengan pentingnya data driven decision in daily life. Sembarangan mengambil kesimpulan bisa jadi keputusan yang merugikan orang lain, dan tidak mustahil, merugikan diri kita sendiri juga. Penilaian yang sembarangan akan membuat tingkat kepercayaan orang lain atas pendapat kita menjadi perlahan menurun, bisa merusak image pribadi kita juga dengan anggapan kita ini cenderung lebay dalam menafsirkan sesuatu. Belum lagi resiko kita menyakiti orang lain dengan menyebar fitnah yang hanya berdasarkan data kira-kira.

Kita boleh saja curhat dengan teman, lebih boleh lagi menyampaikan kritik langsung kepada orang ybs, TAPI, pastikan kita sudah quantify pernyataan kita sebelum kita tuduhkan kepada orang lain. Jangan dilebih-lebihkan, jangan pula dikurang-kurangi. Ada tanggung jawab moril atas judgment yang kita sebar luaskan, jadi jangan sembarangan!

Ingat kata pepatah: mulutmu, harimaumu.

I’m not ashamed of the fact that I occasionally visit psychologist just to consult about my everyday life. I know that I’m not the most miserable person on earth, but it doesn’t mean I don’t deserve a professional’s help on my problems.

One thing I like the most about my sessions with psychologists is that they often challenge traditional paradigms that lead me to think outside the box. Here are my most favorite quotes I got from my psychologists:

  1. “You have to know the reason why you fall for him, otherwise, you won’t have any good reasons to hold on when life gets rough between you two.” I find it’s so true in so many ways! This advice fits better in reality rather than “I love him for no reason” as we often heard from a fairytale. It’s always good to do some reality check and ask ourselves, “Is it worth fighting for?”
  2. “Dating at this age is no longer about getting through the thick and thin together. Every individual should be responsible for their own problem instead of dragging the other one into their personal problem.” I know it might not sound ideal, but again, it’s always good to do a reality check! It’s not a healthy relationship if you have to fix your loved one’s problems over and over again. Both people in a relationship should have a strong will to change and help themselves; and
  3. “Negative thoughts towards anything new after an incident is actually a good thing. It means you learn something from your past mistake and you choose to be more careful to prevent the same thing from happening again. Give yourself some times to heal and it will eventually fade away.” It was such a relief for me to hear that!

I’ve come to learn that what we often heard among the society is not always the perfect fit. We’re only human and angelic advice is not always working well due our imperfections as a human. This is a real life after all, not a fairytale! Try to get real and feel the different!

Ceritanya gue beli dompet baru untuk menggantikan dompet lama yang sudah usang. Gue lalu pergi ke Kate Spade Kokas dengan harapan akan menemukan dompet model terbaru yang belum dijual oleh online shops di Instagram atau Tokopedia. Kalau gue cuma mau beli dompet Kate Spade model lama (yang cuma polos-polos aja), harga di online stores bisa jauh lebih murah.

Sesampainya di sana, gue tidak bisa menemukan model dompet yang sesuai harapan gue. Ada yang bagus warnanya, tapi jelek modelnya. Begitu juga sebaliknya. Gue sempat keluar dari toko, lalu gue masuk kembali, dan setelah menimbang agak lama, gue beli dompet pink yang gue sangat suka dengan warna dan ukuran dompetnya. Masalanya cuma satu: dompet ini modelnya agak terlalu sederhana. Cuma kelihatan sedikit berbeda dengan dompet Kate Spade keluaran lama. Tapi nggak papa. Sentuhan aksen pita dan deretan batu menyerupai permatanya itu terlihat cantik dan serasi dengan warna dompetnya.

Saking seringnya belanja di Kate Spade, gue tidak cek harga terlebih dulu. Gue langsung bayar ke kasir. Saat kasir menyebutkan harga, dalam hati gue cukup kaget juga. Sejak kapan harga dompet Kate Spade jadi semahal itu? Sekitar 40% lebih mahal dari biasanya. Karena batu-batuan yang menyerupai permata itu kah? Tapi apa boleh buat. Kasihan SPG-nya kalau sampai batal. Harganya masih masuk budget gue dan gue hanya kecewa karena untuk model sederhana seperti itu biasa dijual dengan harga lebih murah. Gue butuh banget dompet baru dan mungkin, memang ada yang istimewa dari dompet pink itu.

Dan ternyata, memang benar ada sesuatu yang istimewa dengan dompet baru gue itu. Belum sampai satu hari, gue langsung jatuh cinta dengan dompet gue sendiri. Gue senang lihatnya, senang tiap kali mengeluarkan dompet dari dalam tas. Gue sering bilang sama diri gue sendiri, “Aduh, cantiknya dompet gue!” Dan jika gue perhatikan, batu-batu di dompet gue itu memang membuat dompetnya terlihat lebih menawan, dan lebih mewah juga. Akhirnya gue bilang sama diri gue sendiri, “Ok, it is worth the price.”

Kejadian dompet itu lalu mengingatkan gue dengan sandal usang gue belasan tahun yang lalu. Waktu itu, ceritanya bokap beliin gue sandal baru sebagai hadiah. Awalnya, gue enggak suka sama sandal itu. Sandal gunung yang lebih cocok untuk anak cowok. Tapi karena enggak mau mengecewakan bokap, gue putuskan untuk mulai pakai sandal gunung yang ternyata nyaman banget dipakai itu! Sandal itu akhirnya jadi sandal favorit gue dan masih saja gue pakai saat mereka mulai tampak menua. Biasanya gue tipe orang yang saat usang sedikit saja akan langsung gue ganti dengan yang baru, tapi kali itu gue tetap saja suka memakai si sandal gunung untuk acara-acara kasual. Gue tetap pakai, sampai suatu hari teman gue meminta sandal itu dari gue. Dia tahu gue tipe orang yang suka memberikan barang gue yang sudah agak usang ke orang lain, dan waktu itu dia benar-benar butuh sandal “baru” untuk mengganti sandal dia yang sudah rusak berat. He needed them more than I did, so there I gave them anyway.

Apa kesamaan dari cerita dompet baru dan sandal tua gue itu? Kesamaannya adalah belajar menerima apa yang sudah kita miliki, karena bisa jadi, hal itu akan menjadi hal terbaik yang pernah kita miliki.

Some things will always seem too much or too little for us in the beginning, we will never know their real value to us until we give it a shot.

Akhir-akhir ini, gue harus melewati beberapa perubahan besar dalam hidup gue dan tidak semuanya terasa menyenangkan. Tulisan ini pun sebetulnya gue tulis untuk jadi reminder bahwa bisa jadi, perubahan ini juga akan jadi hal-hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidup gue ini. Dijalani dulu, dengan ikhlas, baru nanti gue boleh menghakimi keputusan gue sendiri di kemudian hari.

Perfect life is impossible to find, but many things like my new wallet and old sandals have unexpectedly made my life way beyond awesome! Take a deep breath and here I am, starting my new life!

Cheers!

Riffa

Berawal dari Instagram post orang lain yang bercerita tentang anjing yang kehilangan mata kanannya, gue jadi teringat dengan kucing gue yang buta kedua matanya sejak masih baru dilahirkan. Micky namanya.

Mata Micky sangat jelas terlihat aneh. Sangat sipit dan terlihat seperti tidak ada bola matanya. Waktu umur Micky baru beberapa bulan, gue pernah coba bawa Micky ke dokter hewan. Ternyata posisi mata Micky terbalik, harus dioperasi untuk diputar ke depan. Operasi besar yang cukup tinggi resikonya dan belum tentu terjamin keberhasilannya. Gue enggak tega membiarkan Micky naik ke meja operasi, dia cuma akan kesakitan dan belum tentu akan sembuh setelah operasinya.

Gue bawa pulang Micky ke rumah. Meski buta kedua matanya, Micky baik-baik saja. Micky sudah menghapal seluk-beluk rumah, dia bahkan bisa berkeliaran bolak-balik ke rumah seberang yang tidak lain rumah salah satu adik kandung gue. Micky tahu di mana letak pagar dan tangga, dia tahu kapan harus berhenti dan bersiap untuk melompat naik. Micky juga dapat mengenali suara kendaraan bermotor, dia akan berhenti saat mendengar suara mesin di sekitar dia. Micky memang buta, tapi dia bisa hidup baik dengan indera pendengarannya. Micky juga masih bisa kawin, jangan tanya gue gimana caranya, hehehehe.

Awalnya, gue sering sedih saat melihat Micky. Anak-anak tetangga sering meneriaki Micky “si kucing buta” sambil menunjuk-nunjuk Micky yang sedang duduk di teras rumah. Micky juga bukan kucing kesayangan orang rumah, dia kalah lucu dengan kucing-kucing kami yang lainnya. Micky juga sering mengalah saat berebut makanan dengan kucing-kucing lain, gue sering lihat dia makan makanan sisa kucing-kucing lainnya itu.

Saat gue pindah dari rumah ortu untuk tinggal sendiri di rumah kost, gue sering menitipkan pesan khusus ke keluarga gue untuk tidak lupa memberikan makanan terpisah buat Micky, sama seperti yang biasa gue lakukan setiap harinya. Setiap kali gue makan ayam atau ikan, gue juga sisakan sedikit dagingnya lalu gue akan kasih sisa makanan gue itu hanya untuk Micky saja (gue enggak tega jika hanya kasih dia tulangnya saja, gizinya jadi kurang banyak). Kadang, gue duduk di sebelah Micky sampai dia menghabiskan makanannya, hanya untuk memastikan makanan dia tidak direbut kucing-kucing lainnya.

Mungkin memang aneh, gue malah lebih sayang sama kucing jelek yang buta matanya (Micky juga terlihat lebih kotor dibanding kucing lain di rumah). Orang lain mungkin akan jijik. Padahal sebetulnya, Micky kucing yang sehat, dia hanya buta dan agak kotor saja (makin gampang terlihat kotor karena bulunya berwarna putih). Micky memang bukan kucing yang menggemaskan, tapi tiap kali melihat dia sedang makan lahap, gue sering berpikir, “Micky memang buta, tapi dia akan jadi cahaya dalam masa-masa tergelap dalam hidup gue.”

Mungkin terdengar lebay, mellow, dan tidak masuk akal, tapi memang benar begitu kenyataannya. Melihat Micky yang masih lincah dan senang bermain sering membuat gue merasa bersemangat saat hidup gue sedang dirundung banyak masalah. Micky seperti mengingatkan gue untuk tetap menikmati hidup terlepas segala kekurangan dan rintangan yang menghambat gerak langkah gue. Selain itu, melihat Micky makan lahap selalu membuat gue merasa lebih baik. It just feels good knowing that I’m doing something good even if it’s just for a blind old cat.

Micky tidak bisa melihat, tapi Micky berhasil hidup sampai tua. Hidup dengan baik, dengan kelincahan dan kemanjaannya. Hanya saja sayangnya, gue tidak bisa ingat kapan terakhir kalinya gue melihat Micky. Suatu waktu, dia menghilang begitu saja. Micky tidak pernah lagi ada tiap kali gue pulang ke rumah orang tua. Dengan sendirinya gue tahu, Micky sudah enggak ada. Micky tidak pernah bisa pergi jauh dari rumah, jadi jika dia sudah tidak terlihat, berarti dia sudah pergi untuk selama-lamanya. Micky sudah punya rumah baru, Micky sudah tidak lagi berjuang dengan kebutaannya.

Sudah lama gue tidak menangisi kucing gue yang sudah pergi, tapi menulis ini ternyata bikin gue jadi sedih sendiri. Air mata gue menetes sendiri. Jadi semakin terasa bahwa kini Micky sudah pergi. Tidak ada lagi kucing yang mesti gue tunggu sampai habis semua makanannya. Tidak ada lagi kucing yang membuat gue ngerasa cemas tiap kali melihat dia berjalan zig-zag saat menyeberang jalan menuju ke rumah. Tidak ada lagi Micky yang membuat gue merasa bersemangat hanya dengan melihat kelincahannya saja.

Membesarkan hewan peliharaan membuat gue belajar bertanggung jawab, dan membesarkan Micky secara khusus mengajarkan gue belas kasihan. Kemudian yang tidak kalah penting; memelihara Micky mengajari gue untuk untuk menerima ketidaksempurnaan, menyayangi tanpa syarat, dan mensyukuri hidup ini lengkap dengan segala kekurangan di dalamnya.

Goodbye Micky, you know you were loved, and will always be loved.

Forever in love with you,

Riffa.

I can’t stay forever mad with the people I used to care about. It can take a year, or maybe, it can take a decade, but I will eventually forgive them for what went wrong back in the past. Be it in personal or work relationship, no matter how bad it was, somehow I always found my way to have them back in my life. It might not be as close as we once were, but at least, they are not my forever enemy.

Why would I want to do that? Because they used to mean a lot to me and whatever they did wrong could never change the good memories that we used to have.

For starter, at some point, I always manage to be friends with my ex crush. Yes, they broke my heart, but in most cases, I used to broke their hearts too. It’s actually my loss if I decided to get rid of the beautiful memories I used to share with them. I would never forget the way they made me smile, the butterflies in my belly, and all the little things they did to comfort me, and most importantly, to make me feel loved. Once I fall in love with somebody, they will be forever mean something to me. I may never feel the same way again, but they will never be a stranger and I will always have a tiny place for them inside my heart. Once in my lifetime, they were my fairy tale, and they will always be my favorite stories to tell to my grandkids.

I will also stop hating the bosses who made me want to leave the companies I used to work at (I’m not saying I hate all my former bosses though). Back to the times I worked with them, each and everyone of them had contribution to my career development. They challenged me, they gave me opportunities I was unsure if I was capable of, and of course, they rewarded me even more than I thought I deserved sometimes. I am not who I am without my former bosses, and I’m thankful for that.

And finally, sooner or later, I will forgive ex best friends who betrayed me. I used to hope I could grow old with them, as people always say; best friends forever. Seeing my hopes were torn apart couldn’t be more heartbreaking to me. I’m already used to have envy people trying to ruin my happiness, but I never expect to watch my best friends doing the same thing to me. But still, there were some reasons why I called them my best friends. They helped me in the lowest points of my life, they woke up in the middle of the nights just to hear about my bad days, they were once the people I chose to be my family.

I’ve come to learn that my Mr. Wrongs were actually learning to become a Mr. Right (even if it’s most likely for someone else but me). They had to make those mistakes so that they knew what they should do to become a better man.

My horrible bosses were not pure evils or whatsoever. The crazy pressures they had were just beyond their capacities as human back then. If they are good enough, someday they’ll come around and they’ll eventually learn how to become a better leader for their teams.

Finally my former best friends… from all people in this world, I know better how kind and how good they actually could become. Hard times in life changed them, yet whatever their pain and struggle was, I sincerely hope they will soon find a light at the end of the tunnel. And if they will ever find themselves guilty, more important than my forgiveness to them is actually their forgiveness to themselves. That way, they will learn how to stay kind even when this life gets rough.

Again, this total forgiveness may take ages for me to get there. It’s not the forgiveness itself that is hard to be done; it’s to forget the way they once made me feel. Not to mention how hard it is to heal a broken trust. It’s definitely not easy, but doable.

Everyone makes mistakes, and so do I. And at the same time, everyone needs time to heal, and so do I.

Melewati tahun 2017 itu rasanya campur aduk. “The best feeling” dan “the worst feeling” pernah gue rasakan dalam satu tahun yang sama, betul-betul naik-turun seperti mengendarai roller coaster!

Awalnya gue pikir, tahun 2017 hanya “sekedar” tahun gue resign dari Lazada dan memulai bisnis gue sendiri. Atau jika mau ditambahkan, tahun 2017 adalah tahun di mana gue akhirnya bisa move on dari sakit hati terburuk yang pernah gue rasakan seumur hidup gue ini. Tapi ternyata, 2017 menyimpan pelajaran yang jauh lebih penting ketimbang hal-hal yang baru saja gue sebutkan sebelumnya.

Pada malam perpisahan gue dengan teman-teman di Lazada akhir minggu lalu, salah satu dari mereka bilang bahwa setahun belakangan ini gue terlihat lebih bahagia jika dibandingkan satu-dua tahun sebelumnya. Baru saat itulah gue menyadari pelajaran paling penting yang gue dapatkan pada tahun 2017 yang baru saja berlalu: berhasil mengembalikan kebahagiaan dalam hidup gue sendiri.

Sebetulnya, tahun 2017 juga tidak kalah beratnya. Ada masalah-masalah yang membuat gue sampai bertanya-tanya, “Kenapa bisa sampai sebegininya ya? Emangnya gue pernah salah apa?”

Hanya saja bedanya, gue mulai bisa menerima kenyataan bahwa akan selalu ada dan ada lagi orang-orang yang letting me down. Orang yang baik untuk gue saat ini belum tentu tetap baik untuk gue di masa yang akan datang. Gue tidak lagi mengharapkan siapapun untuk tetap tinggal dalam hidup gue selama-lamanya. Meski terdengar aneh, saat gue mulai memiliki pola pikir seperti itu, saat itu pula hidup gue mulai kembali terasa membahagiakan.

Kenapa bisa begitu?

Karena sekarang, ketika ada lagi orang terdekat yang membuat gue luar biasa kecewa, gue sudah lebih siap. Gue anggap itu sebagai “seleksi alam”. Gue akan langsung move on, karena bagaimanapun, orang yang betulan peduli akan berpikir seribu kali sebelum melakukan hal-hal yang mereka tahu berpotensi bikin gue jadi sakit hati.

Selain itu, tahun 2017 juga sudah jadi tahun yang sangat menyenangkan buat gue. Lebih banyak senyum dan tawa yang menghiasi wajah gue ini. Lebih banyak mimpi dan harapan yang gue kejar untuk masa depan gue nanti. Lebih banyak orang yang bisa membuat gue merasa nyaman (tim terakhir gue di Lazada betul-betul a dream team!). Dan yang paling penting, lebih banyak perubahan positif yang gue rasakan dalam diri gue sendiri.

Lalu bagaimana dengan 2018? Apa harapan gue untuk tahun baru ini? Anehnya nyaris enggak ada resolusi tahun baru seperti biasanya. Kali ini buat gue, asalkan gue bisa melewati tahun 2018 dan tahun-tahun berikutnya minimal sama baiknya dengan tahun 2017, maka itu saja sudah cukup.

2017, thanks for the crazy ride! 2018, let’s rock!


My Blog Counter

  • 962,819 visits since May 2011

My Blog Categories

My Blog Archives

Click the pictures below to visit my Instagram...

I used to read a quote written by my former lecture saying that even a bad decision would always be much better than no decision at all. It reminded me of the decisions I put on hold and I asked myself, “What prevents me from making all those decisions?” I could instantly listed down many personal reasons that didn’t even sound good to myself. So there I made a couple of decisions; the good ones and the bad ones, and apparently it was so true: even bad decision was still better than no decision at all. First of all, it helped me to move on. I no longer waited for this and that; I made decisions and I started to make the actions. It also gave me a peace of mind knowing that I owed nothing to anyone, not even to myself. And most importantly, all those decisions made me learn, notably the bad ones. It’s not that I intentionally made a bad one, but well, how did I know my decision was bad until I gave it a try? Ever since the day I decided to stop putting my decisions on hold, my life felt a lot lighter and I have never been more proud of myself. Other people might not be happy with my decisions, but I only do what I’ve got to do and they can’t blame me for having courage to do the things they’re not willing to do. If it holds me back and nobody wants to make the call, then let me do the honor. It’s actually that simple, and again, it sets me free.
My biggest career goal is always running my own business. I have been an entrepreneur even since I was a seven years old. I was never hesitate everytime I saw an opportunity to earn some cash to buy toys and comic books. Graduating from college and starting my first corporate job has stopped me from doing my own business. I was too busy to do something else beside my main job. I tried to run a small jewelry business but then I got bored. I came to learn that if I want to start a business, I have to do something bigger. But of course, a bigger scale own business will also require a bigger effort! The comfort of corporate job made me decide to postpone starting a new business until at some point, it was no longer comforting to me. I still remember one night I went home feeling extremely upset with my boss and I just told myself, “I can’t do this forever. I can do much better than working for a jerk.” Right at that moment, I decided to start my biggest dream: starting my own business. Not so long after that, @thelenstory was born.
There is this one little secret about @thelenstory. There was one particular guy who made me fall deeper with photography. He was so talented he could make an old dirty lamp look beautifully glow in his pictures. I still remember that day on a boat, he took pictures of me and he smiled behind his lens. That kind of smile that made me feel the prettiest girl on earth. I didn’t know why but I just loved seeing this guy holding his camera. I even still loved it when he took pictures of me with his grumpy face! At the end of the day, The Lens Story is way more than just a girl who fell in love. The ups and downs, and all lifetime savings that I’ve spent have been the greatest leap of faith I’ve ever taken in my entire life. That one guy from my past was just a starting point. He was my inspiration, he made me believe that there were many hidden talents like him out there and I would be more than happy to help them start their professional career in photography. That was the very beginning story on how my start-up was born, and to me, that will always be one of my favorite stories to tell.

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

About Me

What my blog is all about? It's all about my life; my very own fairy tale, that I would love to share. This is my story, my ups and downs, it's a journey to remember.

Advertisements