I Only Want to Have a Freedom to Fall in Love

Baru-baru ini gue menyadari bahwa gue sangat sering punya “hot and cold syndrome” tiap kali gue sedang suka dengan seseorang. Kadang gue hangat, peduli, penuh perhatian, tapi kadang gue terlihat dingin seolah enggak ada apa-apa di antara gue dan dia.

Awalnya gue kira, gue masalahnya. Tapi setelah gue pikir, justru mereka masalahnya. Gue ragu-ragu karena mereka juga ragu-ragu, dan itu membuat gue merasa enggak aman. Itu membuat gue takut jatuh hati lebih dalam.

I don’t want to fall for someone who is not ready to catch me down there.

Sekali saja, sekali untuk selama-lamanya, gue ingin punya kebebasan untuk jatuh cinta.

Gue enggak mau lagi menahan diri dari rasa senang tiap kali melihat dia datang menghampiri. Gue ingin menikmati tiap momen bersama dia tanpa khawatir dia cuma akan pergi lagi.

Gue ingin bebas menikmati kebaikan dan perhatian dari dia tanpa rasa khawatir dia cuma baik sebagai teman saja.

Gue ingin bebas jatuh hati, tanpa takut gue hanya bertepuk sebelah tangan.

Gue ingin yakin bahwa hanya gue satu-satunya, dan bukan hanya satu dari sekian perempuan dalam hidupnya.

Dan gue ingin bebas menaruh harapan, tanpa rasa khawatir dia hanya akan mengecewakan gue dengan ketidaksiapan dia untuk melangkah lebih lanjut bersama dengan gue.

Entah kenapa, rasa aman seperti itu tidak pernah gue dapatkan sebelumnya. Gue sangat protektif pada perasaan gue sendiri, dan segala “hot and cold syndrome” gue itu hanya bentuk proteksi gue untuk diri gue sendiri. Gue hanya ingin melindungi diri gue dari orang-orang yang hanya menjadikan gue sebagai objek coba-coba. Maunya sih gue langsung tegas saja, tapi gue juga cuma manusia biasa. Ada kalanya gue ragu, dengan naifnya berharap masih ada kesempatan untuk gue dan dia, sampai pada satu titik gue akan sadar dengan sendirinya, “I love him, but I have to love me more.”

Cara Blogger Menyampaikan Cinta

Ceritanya tadi malam, gue iseng-iseng mampir ke blog milik penulis lain. Ada beberapa blogger yang gue relatif suka sama tulisannya. Sampai kemudian gue menemukan satu tulisan yang isinya manis banget. Isinya cerita soal penulis yang belum pernah bilang cinta sama pacarnya. Instead, dia bilang cinta sama si pacar melalui tulisan, dengan cara yang romantis banget.

Gue sampai berpikir, “Kalau gue jadi pacarnya, gue akan lebih senang mendapatkan pernyataan cinta yang seperti itu ketimbang kalimat “I love you” seperti orang lain pada umumnya.”

Kenapa begitu? Karena pernyataan cinta dalam bentuk blog itu sifatnya sangat personal, ditulis khusus buat kita, hanya ada satu-satunya, dan dibagikan secara terbuka… seperti enggak ada rasa ragu atau malu untuk membiarkan seisi dunia mengetahuinya.

It’s beautiful, isn’t it?

Beranjak ke blog lain, gue lalu menemukan beberapa tulisan yang isinya menyatakan kekaguman penulis kepada lawan jenis yang disukainya. Isinya sangat detail, sampai ada pembaca yang bertanya melalui kolom komentar, “Kira-kira dia baca tulisan ini nggak ya?”

Gue tersenyum tipis membaca komentar itu. Siapapun penulisnya, dalam hati kecilnya, dia pasti berharap, sangat-sangat berharap, orang yang dia sukai akan membaca tulisannya itu. Karena memang begitulah cara kami; para blogger, menyatakan isi hati kami kepada orang-orang yang kami sukai. Gue juga lumayan sering kok, menuangkan isi hati gue dalam bentuk tulisan yang lalu gue bagi melaui blog gue ini.

Kenapa harus dengan cara seperti itu?

Gue enggak tahu ya, apakah jawaban gue berikut ini mewakili alasan para blogger lain di luar sana, tapi alasan gue mengungkapkan isi hati melalui blog adalah:

  1. Gue bukan tipe orang yang bisa dengan santainya bilang “I love you.” Gue enggak pernah sekalipun mengucapkan kalimat sakti itu kepada siapapun sepanjang 32 tahun hidup gue ini. Enggak ke orang yang gue suka, enggak juga ke anggota keluarga gue sendiri. It just feels odd and awkward, you know…
  2. Pada umumnya, cowok nggak akan berani maju lebih jauh jika mereka merasa tidak punya peluang. Tapi masalahnya itu tadi, gue bukan tipe orang yang pintar menunjukan ketertarikan gue pada orang lain. Saat ada orang yang doing something nice, gue malah suka bingung harus berkata atau bersikap bagaimana. Untuk mengakalinya, gue menunjukan ketertarikan gue itu melalui tulisan. Cowok yang suka sama gue toh biasanya rajin baca blog gue dan dia bisa anggap tulisan gue itu sebagai sinyal balik dari gue, hehehehe; dan
  3. Kalaupun gue dalam keadaan pesimis hubungan gue dan si gebetan akan going somewhere, menuangkan isi hati lewat tulisan itu akan jadi semacam pelampiasan buat gue. Sekedar menulis bisa bikin gue ngerasa sangat lega! It feels like, “Okay, this is it! I’ve done my part to let him know how I truly feel about him.” Mungkin, cuma sesama penulis saja yang bisa memahami point of view gue ini kali ya.

Intinya sih, gue merasa lebih mampu menuangkan isi hati gue dalam bentuk tulisan ketimbang dalam bentuk kata-kata yang gue ucapkan langsung ke orangnya. Aslinya gue sama sekali enggak seromantis isi tulisan gue dalam blog ini, hehehehe.

The best I can do when I fall for someone is to write something nice about him, to drop him a hint, and hoping that he will read it anytime soon. Sounds stupid? I know, but maybe, just maybe, that’s the only way I know how to tell people how I truly feel about them.

Cara Menghemat Biaya Pernikahan Ala Gue

Wait, jangan heboh dulu! Gue masih jomblo dan masih enggak jelas kapan bakalan getting married. Kalau gue bisa punya pacar di tahun ini pun (eh tapi, tahun ini udah tinggal seminggu yah), belum tentu berarti gue married tahun depan juga sih. Selain mesti nabung, gue juga ngerasa mesti mengenal dengan baik calon suami gue juga kan (ini serasa lagi ngomongin an imaginary boyfriend, hehehe).

But well, once I decided to get married, I already have a well planned wedding budget!

Ada beberapa hal yang menurut gue bisa dihemat tanpa perlu membuat acara pernikahan gue itu terasa apa adanya. Jujur, gue tipe orang yang ingin membuat acara yang berkesan… Anggaplah sebagai bentuk rasa syukur, serta untuk berbagi kebahagiaan, setelah jatuh-bangun mencari pria yang tepat selama puluhan tahun lamanya (and now I feel old, hehehe).

Worry not, a dream wedding doesn’t always mean a billion rupiah wedding! Here are some costs that can be reduced in my wedding someday!

  1. Enggak perlu ada acara lamaran yang melibatkan banyak orang. Menurut gue, acara lamaran itu seharusnya bersifat intimate, cukup melibatkan keluarga inti plus ipar plus ponakan saja. Supaya enggak usah kebanyakan pendapat saat masuk ke pembicaraan soal tanggal, lokasi, dan lain sebagainya gitu lho. Enggak usah juga booking satu ballroom hanya untuk acara lamaran atau pertunangan, cukup booking satu lounge di salah satu hotel di Jakarta (Peacock Lounge Fairmont misalnya, hehehehe);
  2. Gue hanya perlu satu cincin saja, tinggal dipindah dari tangan kiri ke tangan kanan. Asal bentuknya sesuai cincin impian gue (classic ring with a small diamond on it), cukup satu itu saja sudah bikin gue happy banget. Besides, gue ini orangnya ceroboh… bisa terasa seperti beban kalau harus menjaga 2 cincin sekaligus, hehehehe;
  3. Pre-wedding dan wedding photography cukup memanfaatkan jaringan dan keahlian gue sendiri saja. Sia-sia dong, punya bisnis fotografi kalau masih menghabiskan banyak uang untuk biaya yang satu ini!
  4. Tamu yang diundang cukup maksimal 300 orang saja (ini sudah termasuk keluarga dekat). Gue lebih suka acara yang sifatnya intimate. Enggak usah ada pelaminan, cukup buat 2-3 photo booths untuk foto-foto, supaya gue dan pasangan bisa bebas berbaur dengan orang-orang terdekat kita. Kenapa gue enggak tertarik mengundang banyak orang? Well, jumlah orang yang masih menemani hidup gue sekarang kan memang tidak seberapa banyak, dan buat gue, cukup mereka saja yang tetap menemani gue di hari pernikahan gue nanti;
  5. Tidak perlu buat acara terpisah antara akad nikah dengan resepsinya… Hidangkan tamu dengan appetizer saat akad nikah, main course dan desserts saat resepsi;
  6. Gue cukup pakai satu wedding gown saja…yang diganti cukup hijab styling-nya saja (mesti ada aksesoris warna pink saat resepsinya, hehe);
  7. Wedding gown jangan sewa, tapi bikin baru oleh designer impian gue; Anne Avantie. Mahal? Memang iya. Tapi setelah itu, bisa gue sewakan melalui bisnis fotografi gue itu (sekarang ini bisnis gue itu memang sekaligus melayani sewa busana juga); dan
  8. Untuk wedding venue, gue lebih suka outdoor daripada indoor… dan kebetulan, outdoor wedding venue harga sewanya memang jauh lebih murah daripada indoor ballroom.

Delapan hal di atas, jika gue lakukan dengan benar, semua itu akan sangat menghemat biaya pernikahan dengan tetap mewujudkan hari pernikahan yang gue impikan!

Sounds good? Now let me stop daydreaming and going back to reality, hehehehe.

Apa Tolak Ukur Kita Sudah Move On dari Mantan?

Ada pembicaraan dengan salah satu teman sekantor yang bikin gue berpikiran, “Sebetulnya apa sih, tolak ukur kita sudah move on dari mantan pacar atau mantan gebetan?”

Sudah berhenti menangisi si mantan yang bikin kita patah hati itu? Belum tentu berarti kita sudah move on. Bisa jadi kita hanya sudah terbiasa dengan absennya dia dari kehidupan kita. It’s like having “a new normal”.

Sudah punya pacar baru? Ini juga belum tentu. Orang yang sudah menikah tapi belum move on dari mantan pacarnya juga ada kok.

Atau sudah berhenti sedikit-sedikit curhat soal si mantan? Well, bisa jadi kita cuma sudah kehabisan teman curhat yang masih tampak tertarik mendengar curhatan kita yang isinya itu-itu saja.

Kalau begitu, lalu apa tolak ukurnya?

Menurut gue, beda orang beda tolak ukurnya.

Teman yang tadi gue sebutkan di awal tulisan ini masih anti melihat Instagram stories milik mantannya. Dan menurut gue, itu tanda dia belum move on. Dia masih takut terbayang-bayang, atau mungkin, dia masih enggan melihat hidup si mantan sudah baik-baik saja meski sudah enggak ada dia di dalamnya.

Bagaimana dengan diri gue sendiri? Apa tolak ukur gue sudah move on dari orang yang pernah bikin gue patah hati?

Satu dekade yang lalu, gue masih senang menulis diary. Bukan lagi diary dalam bentuk buku fisik, tetapi diary yang gue tulis menggunakan komputer. Waktu itu gue sudah mulai kenalan dengan blog, tapi gue masih suka menulis diary untuk hal-hal yang enggak mungkin gue bagi di blog gue saat itu. Gue terus menulis diary, sampai akhirnya gue patah hati. Itu pertama kalinya gue jatuh cinta (cowok-cowok sebelumnya cuma naksir-naksir biasa saja), dan itu juga pertama kalinya gue patah hati, habis-habisan.

Saat gue memutuskan untuk move on dan berhenti menunggu cowok itu, gue juga memutuskan untuk “mengubur” diary gue dalam-dalam. Gue taruh folder berisi diary gue itu di dalam tempat yang sangat dalam di hard drive gue untuk menghindari gue yang tanpa sengaja melihat kembali isi dari folder itu. Pikir gue saat itu, melihat kembali isi folder itu akan menjadi pengalaman yang sangat-sangat menakutkan. Gue tidak ingin hapus, tapi gue juga tidak ingin melihatnya untuk sementara waktu. Sejak saat itu sebetulnya gue sudah pernah beberapa kali suka sama beberapa cowok baru, tapi entah kenapa, gue tetap tidak berani menyentuh diary folder yang satu itu.

Beberapa bulan yang lalu, gue ketemu cowok baru yang sifatnya agak mirip dengan mantan gebetan gue 8 tahun yang lalu itu. Beberapa sifat dia mengingatkan gue dengan sifat si mantan gebetan, sampai akhirnya, mengingatkan gue dengan diary yang gue sembunyikan itu.

And you know what I did? Yes, I finally opened the folder and I reread that diary I wrote over 8 years ago.

Saat itulah gue tahu dengan sendirinya, bahwa akhirnya, setelah 8 tahun lamanya, gue benar-benar move on dari si mantan gebetan.

Apa rasanya membaca diary yang gue hindari selama 8 tahun lamanya? Sedih, tapi lebih karena gue kasihan sama diri gue sendiri. Kasihan melihat naik-turunnya emosi gue saat itu. Di satu hari gue merasa sangat optimis, hopeful, bahagia… di lain hari gue merasa pesimis, hopeless, sedih dan kadang sampai terpuruk juga. Gue juga jadi ingat bahwa awalnya, dulu itu gue enggak sebegitu yakinnya dengan perasaan gue ke si mantan gebetan sampai akhirnya gue kehilangan dia. Mungkin itu pertama kalinya gue merasakan apa yang orang bilang dengan, “You don’t really know what you have until it’s gone.”

Lalu apa yang harus kita lakukan supaya bisa move on? Ini juga beda orang bisa beda jawabannya, tapi menurut gue, ada satu yang pasti: time heals. Cuma memang, rasanya enggak enak banget kalau sampai perlu waktu satu dekade hanya untuk bisa benar-benar move on, hehehehe.

Balik lagi ke teman sekantor yang menginspirasi gue menulis post ini, gue lalu mengajarkan dia cara untuk bisa menyembunyikan Instagram stories tanpa perlu unfollow orang yang bersangkutan. Setelah gue ajarkan, dia malah bilang begini, “Tapi jangan deh… kalo gue hide, nanti gue malah nggak belajar.”

Hmm… ada benarnya. Mungkin, kalo dulu gue lebih keras sama diri gue sendiri, kalo gue enggak sebegitu protektifnya sama perasaan gue sampai harus menghindari segala hal tentang si mantan gebetan, maka mungkin, gue enggak akan butuh waktu sampai satu dekade.

Tu Me Manques

Frustrated with writer’s block, I opened drafts folder in my WordPress blog and I found a lot of unfinished posts inside that folder. I didn’t find much interesting stuffs (if it’s good enough, I would have finished the post and published it) until I found the following post. It was beautifully written and the only reason I didn’t publish the draft because it would reveal how I truly felt of someone I cared about back then. I’ve moved on from him for more than a year by now but I still want to publish this just because it’s too beautiful to be kept to myself! It’s also a beautiful reminder how I once genuinely cared about someone else.

April 7, 2017

I miss the moment when everything was right. When I still had hopes and thought, “What’s next?” When this feeling was beautiful, when I could smile alone as I thought of you.

I miss the way you look at me. A deep and warm look on your eyes. I miss the way you never took your eyes off me when I spoke to you. That kind of look in your eyes that made me feel like I was the only one.

I miss the way you took care the little things for me. I miss our long chats. I miss your jokes, our jokes; that only the two of us could understand.

I miss seeing your smile behind your lens when you took picture of me. I miss listening to you singing a song that made me felt like you were singing for me.

And did you know? I also miss your cranky face. Your cranky voice. It never ceased to amaze me how some random guys could turn your mood upside down, just like that.

I enjoyed all the little things, the ups and downs, the struggles, the hopes, until it’s all gone the day you told me that I was wrong. The day I started to think that everything I cherished, all the things that made me miss you like this, was not real.

Everything is broken and I don’t know how to fix this. I don’t know how to come back from the pain. I don’t know which parts were real. I don’t know what I did so wrong we ended up like this.

I really want to be so angry with you, hate you, and just walk away. But no matter how much I despise everything you did, there’s always a part of me missing you. The old you. Or maybe, the illusion of you. I don’t know. If my memories were wrong, then I miss being wrong.

Tu me manques. I miss you.

Back to 2018: I read this and I told myself, “Oh I’m a damn good writer, hehehehehe.”

Cinta dan Macam-macam Jenisnya

Menurut gue, cinta itu ada macam-macam jenisnya. Malah sebetulnya bisa jadi, apa yang gue sangka sebagai cinta sebetulnya hanya sebatas rasa suka saja. Atau bisa juga, hanya sebatas cinta lokasi saja. Bagaimana cara membedakannya?

Tahap pertama: naksir

Ibarat kita melirik baju yang dipakai manekin, itulah tahap naksir. Tahap di mana seseorang mulai mencuri perhatian kita. Tahap di mana kita mulai mencari berbagai informasi tentang dia, dan salah satunya, masih single atau sudah taken? Ibarat memilih baju, masih sangat mungkin kita naksir lebih dari satu cowok sekaligus. Ini kan masih tahap melihat-lihat opsi yang ada. Kalaupun ternyata tidak bisa berlanjut pun, kita bisa dengan mudah move on tanpa harus melewati fase patah hati.

Tahap ke dua: suka

Pada tahap ini, kita mulai menaruh harapan. Kita mulai memiliki keinginan untuk bisa jadian dengan si dia. Kita semakin sering memikirkan dia, makin senang saat melihat ada dia, dan yang paling terasa, kita mulai kangen saat dia sedang nggak ada di sekitar kita. Ini juga tahap di mana kita mulai menyusun rencana untuk bisa mendekati dia atau bahkan kita mulai berusaha untuk bisa membahagiakan dia. Keberadaan pesaing di luar sana juga mulai membuat kita merasa cemburu. Di saat yang bersamaan, kita sudah masuk tahap di mana hal-hal yang tidak diinginkan mulai bisa sampai menyakiti perasaan kita. Harapan yang tidak menjadi kenyataan itu mulai bisa berujung pada kekecewaan yang membuat kita harus melewati fase patah hati hanya untuk bisa move on dari dia.

Tahap ke tiga: cinta

Saat sudah sampai cinta, harapan bukan lagi sekedar sampai jadian, tapi sudah jauh sampai pada jenjang pernikahan. Bukan berarti sudah kepengen nikah sama dia dalam waktu dekat, tapi setidaknya, kita sudah mulai melihat keberadaan dia di masa depan kita nanti. Pada tahap ini, sulit untuk kita membayangkan hidup tanpa ada dia di samping kita. Kita sudah tidak lagi pada tahap di mana hal-hal kecil berpotensi menjadi a deal breaker. Rasa sayang kita ke dia sudah mulai stabil dan di saat yang bersamaan, dia mulai jadi prioritas kita melebihi hal-hal lain termasuk melebihi diri kita sendiri. Rasa peduli kita akan keadaan mereka juga sudah jauh lebih tulus dan bukan lagi sekedar ingin tampak peduli hanya demi menarik perhatian dia saja. Tulusnya perasaan itu pula yang membuat putus cinta di tahap ini akan menjadi pengalaman yang sangat menyakitkan, bahkan bisa jadi traumatis juga. Untuk beberapa orang, putus cinta di tahap ini membutuhkan waktu yang sangat lama (bisa mencapai hitungan tahun) hanya untuk bisa move on. Malah ironisnya, sekalinya kita jatuh cinta, maka orang tersebut akan selalu punya tempat tersendiri di hati kita ini. Kenyataannya, kita tidak akan pernah benar-benar lupa betapa dulu kita pernah sebegitu menyayangi orang ini. Kita bisa jatuh cinta lagi pada orang lain, tapi tetap saja, akan ada bagian kecil dari diri kita yang terus mengenang dia, selama-lamanya.

Hati-hati sama yang ini: cinta lokasi

Cinlok ini rasanya sangat mirip dengan cinta betulan, hanya saja bedanya, cinlok akan segera hilang saat sudah tidak lagi berada dalam satu lokasi yang sama. Misalnya, sudah tidak lagi kerja sekantor. Cinlok biasanya muncul karena rasa nyaman atas kebersamaan kita dengan dia, tapi belum tentu cinta betulan karena belum cukup kuat untuk tidak terpisahkan oleh jarak. Banyak juga cinlok yang berkembang menjadi cinta betulan, tapi tidak sedikit juga cinlok yang sifatnya murni hanya temporary feeling saja. Cinlok tidak bahaya asalkan keduanya mempunyai perasaan yang sama. Bisa repot jika satu orang sudah jatuh cinta betulan sedangkan yang satunya lagi hanya sekedar cinlok belaka! Makanya kalau kita sampai suka dengan orang yang sering bareng sama kita di lokasi tertentu, lebih baik segera diputuskan saja: mau lanjut jadian atau tidak? Cinlok yang menggantung itu cuma buang-buang waktu padahal sebetulnya moving on dari perasaan seperti ini tidak akan sebegitu sulitnya juga.

Salah satu teman gue pernah menyarankan supaya gue tidak buru-buru “naik level”. Jangan cepat sampai di tahap suka, apalagi sampai jatuh cinta, kecuali jika gue sudah mendapatkan bukti yang solid bahwa gue tidak bertepuk sebelah tangan. Boleh mulai suka setidaknya saat sudah ada ajakan nge-date, dan boleh berkembang sampai cinta jika sudah sampai jadian. Teman gue bilang, jangan sampai gue harus melewati fase patah hati yang tidak perlu. Saran yang bagus sih, menurut gue. Dengan menjaga perasaan itu sebatas rasa naksir saja dapat menghindari kita dari terlalu cepat memakai kacamata kuda (cuma fokus pada cowok yang belum tentu suka sama kita juga). Pelan-pelan, beri waktu supaya tidak berakhir buang-buang waktu.

It’s Not My Loss, It’s My Victory

Belum lama ini, gue baca tulisan di Instagram-nya Mandy Hale; salah satu penulis buku self-help kesukaan gue. Dia bilang, “You were merely a sentence in his story while he was several chapters in yours. And that’s okay! Because some people come into our lives not to be loved, but to be lost and learned in order to help us change and grow.”

I can totally relate to what she wrote! Jadi ceritanya belum lama ini, gue mengeluh sama diri gue sendiri… kenapa ya, selalu gue yang lebih sayang atau bahkan lebih cinta sama cowok-cowok yang dekat dengan gue satu dekade belakangan ini? Sering banget terulang sampai bikin gue berpikir ada yang salah dalam diri gue ini. Saking seringnya terjadi, tiap kali gue dekat dengan cowok baru, tanpa gue sadari gue jadi bisa mendeteksi titik balik di mana gue tahu bahwa gue akan segera balik lagi ke fase patah hati. Ternyata di mata dia, gue ini bukan siapa-siapa. Lagi-lagi, perasaan gue ke mereka sudah tumbuh jauh lebih dalam daripada perasaan mereka ke gue.

Apa rasanya berada di posisi seperti itu?

Jujur awalnya gue ngerasa rugi. Rugi karena gue udah buang waktu untuk care sama cowok yang salah dan rugi harus buat buang lebih banyak waktu lagi hanya untuk bisa move on dari mereka. Rasanya benar-benar nggak enak!

Tapi sekarang agak berbeda jalan ceritanya. Sekali ini, patah hati yang sama tidak membuat gue merasa rugi. Yang kali ini terjadi justru membuat gue berpikiran, “Hanya karena dia enggak punya perasaan apa-apa sama gue, bukan berarti semuanya serba sia-sia buat gue.”

Cowok terakhir yang bikin gue patah hati ini bikin gue ingin jadi orang yang lebih sabar, lebih mampu mengontrol emosi, dan bikin gue ingin berbuat lebih banyak untuk keluarga gue sendiri. Dia ini tipe cowok yang sangat care sama keluarganya, banyak berkorban untuk keluarganya, benar-benar menginspirasi gue untuk melakukan hal yang sama untuk keluarga gue sendiri.

This one guy has been an inspiration to me in so many ways!

Pintar tapi humble. Sangat takut menyakiti perasaan orang lain. Tipe orang yang sengaja menyisihkan penghasilannya untuk beramal, tipe orang yang juga selalu memberikan tip minimal Rp. 5,000 ke Go-jek driver-nya.

Bagaimana sikap dia ke gue selama ini?

He’s a truly gentleman in my eyes. He often helps me with the little things without being asked. It feels good to have someone looks after me the way he does. I’ve known him just for a few months but somehow I know that he will always be there for me anytime I need a helping hand. He’s also that kind of person who makes me feel like I can be myself, I can tell him anything I want to share without worrying of being judged.

Lalu kenapa gue bilang gue patah hati karena cowok yang satu ini? Ya karena itu tadi; ternyata gue hanya bertepuk sebelah tangan. Gue salah mengartikan kebaikan dia ke gue selama ini. Dia memang baik sama gue, baik banget, tapi mungkin untuk alasan yang berbeda. Mungkin hanya sekedar ingin membalas budi. Atau mungkin, hanya baik sebagai seorang teman saja. Dan dengan sendirinya gue tahu, lagi-lagi, ini waktunya untuk moving on.

Dekat dengan cowok ini (setidaknya sebagai teman) membuat gue merasa terdorong untuk jadi lebih baik dari gue yang sebelumnya. Nggak ikhlas sebetulnya, tapi gue enggak mau memaksakan keadaan. Jika dia tidak melihat ada masa depan untuk gue dan dia, maka sebaiknya, gue ikhlaskan dan biarkan dia melanjutkan hidup dia dengan cara dia sendiri.

For this once, I don’t think that I’ve wasted my times to get to know him. To spend times with him. To take care of him. And to like him for a million little things he said and did. I’m thankful that I met him and the fact that I cared about him more than he cared about me never seems like a loss to me. It even feels like a victory knowing the fact that I once fell for a kind man who made me want to be as kind and as compassionate as he was. That girl who wins his heart someday will definitely be one of the luckiest girls on earth and I wish, she will love him for who he is, and she will take a good care of him as genuine as I once did.