Mencintai Itu Sulit

Di awal, jatuh cinta terlihat mudah. Selalu ingin ketemu dia. Hidup terasa selalu bahagia. Penuh senyum, tawa, dan hati yang berbunga-bunga. Terus demikian, sampai akhirnya ujian demi ujian mulai menghampiri. Pelan-pelan, tetap mencintai orang yang kita pikir kita cintai mulai terasa semakin sulit.

Masih kah kamu mencintai dia setelah kamu mendengar hal-hal buruk tentang dirinya? Masihkah kamu mampu berpikiran positif tentang dirinya?

Masih kah kamu mencintai dia setelah menyaksikan sendiri kebiasaan buruknya? Masih kah kamu mencintai dia sama besarnya setelah mengetahui dia tidak sehebat yang dulu kamu kira?

Masih kah kamu mencintai dia setelah mengetahui kebohongan-kebohongannya? Masih kah kamu mempercayai perkataannya? Dan bisa kah kamu tetap mencintai orang yang tidak lagi sepenuhnya dapat kamu percaya?

Masih kah kamu mencintai dia setelah dia, sengaja atau tidak sengaja, menyakiti perasaan kamu? Bisa kah kamu tetap mencintai dia di saat kamu tengah sangat-sangat membenci perbuatannya?

Masih kah kamu mencintai dia ketika getaran dalam hati itu perlahan mulai hilang? Ketika kamu mulai jenuh, lelah, dan ingin lari dari kenyataan. Dapatkah kamu bertahan untuk tidak berpaling pada sesuatu yang lebih baru, lebih mendebarkan, dan tampak lebih membahagiakan?

Terus menerus memaafkan orang yang sama atas kesalahan yang itu-itu saja lama kelamaan akan terasa sulit. Berusaha memaklumi hal-hal yang tidak kita sukai juga sulit. Dan tetap memelihara kekaguman setelah melihat segala keburukannya juga luar biasa sulitnya.

Mencintai itu sulit. Diperlukan kesiapan dan kedewasaan untuk bisa mencintai dengan cara yang benar. Mencintai, jika dilakukan dengan cara yang salah, hanya akan berakhir menyakiti orang yang kita cintai sampai terlalu dalam, sampai titik di mana segalanya tidak akan pernah kembali sama.

Mencintai itu bukan hal mudah yang bisa dilakukan begitu saja. Ada alasannya kenapa banyak orang yang jatuh cinta tapi tidak semuanya awet berbahagia karenanya. Mencintai butuh persiapan dan bukan hal asal-asalan yang bisa kita lakukan hanya karena merasa kesepian, atau butuh pelarian, atau hal yang terasa wajib kita lakukan karena faktor usia yang sudah menua. Mencintai bahkan bukan sesuatu yang dapat kita lakukan hanya karena alasan ingin bersenang-senang.

Mencintai itu sulit, dan akan lebih sulit untuk mereka yang bahkan belum mencintai dirinya sendiri dengan baik. Untuk mereka yang belum dengan ikhlas memberikan tempat untuk orang lain dalam hidupnya. Untuk mereka yang belum punya kelapangan hati untuk memaklumi dan memaafkan ketidaksempurnaan orang lain. Untuk mereka yang bahkan belum mengenal dirinya sendiri… mereka yang belum tahu hal-hal apa saja yang bisa dan tidak bisa mereka toleransi dari pasangan mereka nantinya.

Akhir-akhir ini saya sampai bertanya pada diri saya sendiri… sudah siap kah saya untuk mencintai orang lain dengan cara yang benar? Mungkin memang belum. Untuk sekarang, saya lebih memilih untuk membenahi diri saya sendiri dulu… supaya kelak, saya bisa jadi Mrs. Right yang dapat mencintai Mr. Right saya dengan cara yang benar.

Nasehat Keren dari Seorang Teman

Semalam, salah satu teman sekantor menyampaikan ceramah yang dia dengar dari salah satu Ustadz ternama. Ceritanya semalam itu dia sedang menasehati saya soal cara memilih pasangan.

Kurang lebih, Ustadz ini bilang begini, “Saya sering banget mendengar keluhan istri yang kesal karena suaminya suka judi dan mabuk-mabukan. Saat saya tanya, “Sebelum nikah kamu tahu dia suka judi dan mabuk-mabukan atau belum?” Eh ternyata dia bilang dia sudah tahu. Kalau begitu ya kenapa kaget dan masih mengeluh?”

Ustadz ini kemudian menyampaikan, “Saat menikah, jangan memilih pasangan yang jelas-jelas masih membawa beban. Jangan diterima lalu berharap nanti akan berubah dengan sendirinya. Lain cerita kalau dia sudah tobat dengan sendirinya.”

Menurut saya, Ustadz ini ada benarnya. Merubah kebiasaan buruk orang lain itu tidak mudah. Apa yang membuat kita berpikir pernikahan akan merubah dia? Perubahan itu harus datang dari diri sendiri, bukan dari pernikahan, bukan pula datang dari keajaiban.

Katakan lah dia sudah tobat sebelum menikah. Itu saja masih ada resiko “kambuh”. Manusia pada umumnya, termasuk saya sendiri, cenderung kambuh kebiasaan buruknya saat hidup sedang banyak cobaan. Jika suatu saat pasangan kita kembali pada kebiasaan buruknya itu, kita bisa terima atau tidak? Bisa bersabar untuk membimbing dia atau tidak? Jika kiranya tidak bisa, jika kiranya hal itu bukan hal yang bisa kita toleransi, maka ada baiknya kita berpikir ulang untuk menikah dengan dia.

Masih single di usia 32 membuat saya banyak belajar mengenal diri saya sendiri. Apa yang saya sukai dan tidak sukai, apa yang bisa membuat saya bahagia, dan yang tidak kalah penting, hal-hal apa saja yang bisa dan tidak bisa saya toleransi dari orang lain, termasuk dari pria yang akan menjadi suami saya nantinya.

Apa saja batas toleransi saya? Saya tidak akan bisa menerima jika dia tidak lagi seiman dengan saya, jika dia melakukan kekerasan fisik pada saya, dan jika ada perempuan lain di antara saya dan dia.

Apa yang harus saya lakukan untuk mencegah hal itu? Jika sejak awal dia kasar dengan saya, dan jika sejak belum menikah saja dia suka lari ke perempuan lain alias mata keranjang, ya buat apa saya pilih dia sebagai suami saya?

Memang benar orang yang sekarang tidak kasar dan tidak suka selingkuh belum tentu kelak tidak akan pernah melakukannya, tapi probabilitasnya lebih rendah (ada banyak sekali riset dan literatur yang membuktikan hal ini). Terlepas dari probabilitas itu, sebagai perempuan, saya ingin jadi perempuan cerdas yang membuat pilihan cerdas. Saya tahu tidak akan ada orang yang sempurna, saya juga tahu siapapun orang yang menjadi pasangan saya nantinya pasti akan melakukan banyak kesalahan, tapi, saya punya hak untuk menentukan batas toleransi saya sendiri. Pernikahan memang tidak akan mudah untuk dijalani, tapi setidaknya, saya ingin bisa bahagia untuk menjalaninya.

Selama 32 tahun hidup saya, meski banyak sekali naik turunnya, saya selalu kembali bisa bangkit dari keterpurukan dan kembali pada kebahagiaan yang telah susah-payah saya perjuangkan untuk diri saya sendiri, dan… saya tidak ingin pernikahan memutar balik dan memporakporandakan kebahagiaan saya itu.

Jika suatu saat nanti saya memutuskan untu menikah, pernikahan itu harus membuat saya minimal sama bahagianya dengan saya yang sekarang, dan bukan sebaliknya.

Hey, You! Thank You!

Hey, you! You know who you are! You are still my favorite story to tell. This time, I want to thank you!

Thanks for sharing your life with me. For letting me deep dive to your life. To let me help you. And to help me finally found my life purpose: to help others, just like the way I helped you, you said.

Thanks for being very kind down to the little things. For all the helps, the ones I asked, and the ones I never asked. Even just the thoughts have really counted to me.

Thanks for being a listener. For reading my long texts. And listening to my super speedy talks. I always love every minute I spent just to talk with you.

Thanks for all the advices you gave to me. I didn’t always instantly do what you said, but oftentimes, I eventually realized how right you were. I know how much you hate telling people what they should do; it was a big responsibility you once said. But you do give me advice anyway. And I couldn’t be more thankful of it.

Thanks for genuinely care about me. My health. My happiness. My wellbeing.

And finally, thanks for being a good friend to me. A very good one. The one who always finds his ways to forgive me, over and over. I still really hope, you will not give up on me… the way I will never ever give up on you.

I’m thankful that we crossed path… and the day we first met… would always be the day I never forget.

Kevin Aprilio & Note to All Guys Out There

Kevin Aprilio baru saja bikin heboh dengan pengakuan utang 17milyarnya 4 tahun yang lalu. Ceritanya, dia sengaja cerita sekarang hanya untuk explain bahwa pacarnya sama sekali bukan cewek matre sebagaimana dituduhkan banyak orang lain di luar sana. Menurut Kevin, ceweknya itu tetap setia menemani saat Kevin masih terbelit utang 17milyar itu! Wow!

Menariknya, Vicy sang pacar bercerita bahwa pada saat itu, Kevin sampai beberapa kali minta putus darinya. Harus Vicy yang berusaha meyakinkan Kevin untuk tetap stay dengan dia. Kevin saat itu khawatir dia tidak akan bisa memberikan masa depan yang baik untuk pacarnya itu.

Hal ini mengingatkan saya dengan cowok-cowok lain di luar sana yang pernah melakukan hal yang serupa: di saat terkena musibah, mereka malah mengusir perempuan yang dengan tulus menyayangi mereka. Ada yang karena masalah ekonomi seperti Kevin (tidak selalu soal utang, tapi bisa juga karena hidup yang masih serba kekurangan), ada yang karena cowoknya terkena penyakit yang sulit disembuhkan, atau bisa juga karena masa lalu yang masih saja menghantui cowok yang bersangkutan.

Padahal menurut saya, tidak perlu sampai sebegitunya! Tidak usah berkeras menyuruh gebetan atau pacar kalian untuk pergi dari hidup kalian.

If she wants to stay, let her stay. Help her to stay. And if she says she believes you can get through it, then believe her. Support her to support YOU.

Biarkan saja mereka coba membuktikan bahwa mereka ikhlas menerima kalian apa adanya. Biarkan mereka mengambil keputusan mereka sendiri. Berikan mereka kesempatan untuk tetap bersama kalian; orang yang paling mereka cintai.

Terus-terusan mengusir mereka malah bisa membuat mereka berkecil hati. Membuat mereka merasa tidak diinginkan. Dan tidak mustahil, malah membuat mereka merasa tidak cukup baik untuk kalian.

Would you really do that to someone whom you care about?

Sangat dimengerti bahwa penting untuk seorang pria merasa pantas untuk pasangannya. Tapi begini… pantas atau tidak pantas, bukan kalian yang berhak memutuskan. Biarkan mereka sendiri yang menilai apakah kalian laki-laki yang pantas untuk dirinya. Itu toh hidup mereka, biarkan keputusan itu datang dari mereka sendiri. Jika mereka bilang mereka tetap memilih kalian lengkap dengan segala konsekuensinya, ya sudah, tidak usah diperpanjang.

Remember, it should be you and her against the world and definitely NOT you against her!

Bukankah lebih enak jika ada yang tulus memberikan dukungan di saat-saat tersulit dalam hidup kita? Dan bukankah lebih baik fokus bersama-sama menyelesaikan masalah yang tengah dihadapi ketimbang menciptakan drama yang tidak semestinya terjadi?

Jaman sekarang ini, semakin sulit menemukan orang yang bersedia melewati masa-masa pahit bersama-sama. Dunia menawarkan semakin banyak hal yang penuh dengan kesenangan, penuh dengan pilihan, dan penuh dengan hal-hal yang bisa jadi, memang jauh lebih baik daripada diri kita ini. Tapi, apa yang menurut kita lebih baik belum tentu lebih baik menurut mereka; orang-orang yang memilih untuk tinggal. Hargai mereka, cintai mereka sebesar cinta yang berhak mereka dapatkan. Karena bagi mereka, itu saja sudah lebih dari sekedar cukup. They will not ask for more.

Why Do I Love Him This Much?

I just read a very well written true story on other blogger’s website. That blogger wrote about one big revelation that made him want to say how much he loved his girlfriend at that time. It’s one sweet blog that touches your heart and makes you want to fall in love again. And it reminds me of the man I love.

I asked myself, “Why do I love him?”

He’s the first one whom I dropped the love word by the way. He’s not my first love but I never loved any other man as much and as deep my feelings for him.

The question now, “Why?”

I tried to recall every moment I shared with him in the past one year and unlike that other blogger I mentioned earlier, I can’t seem to find any revelation moment that made me fall deep for him. It’s more like an accumulation of small events that made me fall for him.

To name a few, I like it when he suddenly bought me a bottle of vitamin I might need to deal with my short term memory loss. Or when he walked somewhere to find me a pill to cure my headache.

I like it when he handed me his credit card when mine was blocked just one night before my Iceland trip. Other than that one particular favor, I like all the helps he gave to me without being asked.

I like it when he asked me what my doctor told me not to eat and he reminded me that I couldn’t eat those foods everytime I was tempted to taste them. He also used that knowledge to find a restaurant who sold food that I could eat everytime I was sick and was about to eat together with him.

I like it when he tried to convince me that he was fine when he was actually sick. He was in pain, but he told me, “You don’t need to worry. I’ll be fine.”

I also like his little surprises on my birthday end of last year. His little gestures counted to me. It was definitely a birthday I’ll never forget.

And not to mention, I like the way he listens to all my (long and sometimes boring) stories. I also like the way he trusts me with his stories (I know that some of them were hard for him to tell). His advices, supports, and also his jokes just never failed to make my days. There were some long nights with good talks that I’ll never forget.

I still remember that my shrink told me that I should have a reason to love someone. One reason that makes me hold into him when the things are going ugly between us. Yet again, I can’t seem to find just one big reason why I love him.

He’s patient but not always that patient. He’s nice and kind but he sure has his bad days too. He’s smart, very smart, but sometimes I know some things that he doesn’t. He cares about me, most of the times, but there were times he looked like he’s completely careless. He’s only a human after all, and I’m fine with all that.

I guess love is when you’re capable to see someone beyond their flaws. It’s when you love them even when they annoy you, hurt you, and disappoint you. It’s when you are willing to give them unlimited chances to fix the broken pieces, over and over again. It’s when you want nothing but the best for them, and when you put their happiness and wellbeing before yours.

And that’s how much I love him.

I’m not very good at consistently showing him how much I care about him, but it doesn’t mean I take him for granted. There were times I was too afraid to let my feelings showed. But again, it doesn’t diminish how I truly feel about him. He may doubt anything and everything in his life, but he should never doubt my feelings for him.

I love him because of who he is, and that my friend, the reason why I love him this much.

Indecent Proposal… Would You Trade the Love of Your Life for a Million Dollars?

It’s been a while since the last time I watched a beautiful movie. I did watch dozens of them, but there were always times when I yawned during those movies. I felt like I continued watching just because I had to. Some of them were partially good, but none of it stole my heart away. Not until I watched Indecent Proposal just now.

This movie from 1993 is beyond beautiful. I enjoyed watching every second of it. It tells us a story about a husband who let his wife sleep with a billionaire as an exchange of a million dollars. This movie was so emotional I fell in love when the casts did, and my heart broke when they cried and lost the love of their lives.

This movie got me asking this one question to my head, “Will I ever trade the love of my life for a million bucks?”

I quickly answered, “No. Big no. Never. I’ll never ever do that.”

I’ve come to learn that there is no amount of money will ever be enough to satisfy human’s greed. I’ve also learned that it can get you all the things you want to buy, but it can’t get you all the things you need to actually live a life. Love, compassion, affection… those are all the things that money can’t buy, and those are all the things you can’t truly live without.

Now I’m a believer that I will always find my ways to make me richer. I can find a new job, get a promotion, earn myself a big bonus… or I can start my own business and I will build my own empire. I know I can do that, everyone can do that, but not everyone of us is capable to understand what a real love is all about. Not everyone is lucky enough to feel a love that deep, and to be loved as deep in a return.

And if I’ll ever be one of that few lucky people, there is no money will ever be big enough to make me want to trade all those feelings. Not for money, not for anything this life has to offer.

It took me almost my whole life to understand how it feels to truly love somebody. A desire to take care of someone other than myself. A strength to love him as much after knowing how imperfect that he really is. And a dream to spend the rest of my life just with one person, for better or worse, going through the thick and thin, me and him against the world.

It took me that long to feel this beautiful feeling, and if I find somebody who loves me as much, not a second I will ever think to let it slip through my fingers. I will never stop trying to be a better person for him. I will fix the broken parts before they totally fall apart. I will love him even when I hate him. He and I will work hand in hand to create our own version of happily ever after and breaking up will never ever be an option to us. No matter how hard this life gets, it will still be me and him against the world. To me, that’s the thing we do when we truly love someone we care about.

Last night, I watched another movie about a woman who broke up with her boyfriend just because she finally got her dream job in another city. That’s also one thing that I don’t understand. At least not now after I see what I’m capable to do with my career.

No matter where I live, I can always make something out of it. I can build an incredible farm even if I have to live in the middle of nowhere for instance. I’ll always find something to do, to create, and to succeed. But the love of my life… it’s not like it does exist in every corner of this world! Why should you choose between love and career to begin with? If you really have to sacrifice something, why would you choose to sacrifice the relationship itself?

I might sound naive here… Even myself just 10 years back would never imagine that I would be willing to go to the end of the world just for a man I love. It’s just that now as a grown up, I’ve come to learn what are the things that we can build, and the ones that we can’t. We can make ourselves a rich one, but we can never make ourselves a loved one… it’s not even our decision to make to begin with.

If you are lucky enough to love someone who loves you as much, don’t let them go. Don’t take them for granted. Don’t let their imperfections diminish your feelings for them. Take care of them even when they’re not lovable on the hardest days in their lives. Remind them their true worth, and that you love them, every single day of your life.

Here is my favorite quote from Indecent Proposal.

Diana: Have I told you that I love you?

David: No.

Diana: I do.

David: Still?

Diana: Always.

Biaya Kencan… Siapa yang Harus Bayar?

Barusan aja saya nonton video yang intinya mengajarkan para perempuan untuk membayar bagian mereka sendiri tiap kali kencan. Katanya, cowok manapun enggak punya kewajiban untuk membayar makanan atau tiket nonton mereka. Saya langsung tepuk jidat setelah selesai nonton video itu!

Jujur ya, maaf-maaf nih jika ada mas-mas yang enggak suka dengan tulisan saya ini, tapi saya pribadi enggak suka sama cowok yang meributkan siapa yang harus bayar bills saat kencan. Kenapa? Karena saya enggak suka sama orang pelit. Jangankan gebetan atau pacar, punya teman pelit aja saya paling anti!

Cowok yang menolak bayar bills saat kencan itu tipe cowok yang takut harta bendanya berkurang hanya karena traktir makan orang yang dia sayangi. Bukan tipe cowok yang percaya bahwa the more we give, the more we get in return. Selain itu menurut saya, cowok yang belum siap keluar uang buat biaya kencan adalah cowok yang belum siap membangun relationship. Mereka belum siap membagi resources dengan orang lain, belum siap berbagi hidup dengan orang lain.

Bagaimana dengan saya sendiri? Apakah itu artinya saya enggak pernah bayar bills bagian saya?

Saya sendiri ujung-ujungnya pasti akan bayar bagian bills saya sih. Kalaupun si cowok enggak mau terima, saya akan cari-cari occasion lain untuk gantian traktir dia makan. Saat saya ultah atau baru gajian misalnya. Kenapa demikian? Karena saya nggak suka punya utang budi, nggak suka pula menggantungkan hidup saya pada orang lain.

Nah, kali ini mohon maaf nih jika ada mbak-mbak yang keberatan dengan sudut pandang saya… tapi buat saya, relationship itu harus setara dalam hal ekonomi. Pertimbanggannya sederhana: saya enggak mau kehilangan independensi saya as a person.

Sejak mulai punya penghasilan, saya mulai merasakan definisi merdeka dalam artian yang sebenarnya. Dan saya merasa, bergantung secara ekonomi kepada orang lain itu (meskipun dia suami saya) menghilangkan kemerdekaan saya. Saya tidak suka meminta, dan saya tidak ingin kembali menjadi orang yang meminta. Itu sebabnya saya lebih suka bayar makanan saya sendiri: supaya saya bebas pesan menu apapun yang saya inginkan! Kebebasan yang tidak bisa saya dapatkan saat ditraktir orang lain.

Meski demikian, harus diakui bahwa cowok yang selalu insist membayar seluruh tagihan itu memang benar kelihatan seksi. Kelihatan gentleman, kelihatan cowok banget! Dan ini bukan cuma pendapat saya saja lho ya. Semua teman perempuan yang pernah saya ajak ngobrol soal topik ini pun sepakat bahwa cowok kelihatan seksi saat memaksa untuk membayar seluruh tagihan kencan. Bukan karena kita matre, tapi mungkin lebih karena naluri perempuan aja kali yah. Sama lah kayak cowok yang senang dimasakin sama ceweknya.

Jadi sudah lah, guys. Jangan terlalu heboh untuk urusan bills. Man up a little bit, okay?

Kenapa Saya Pasang Ringtone Khusus untuk Si Gebetan?

Minggu lalu, saya bukber sama teman-teman dari kantor lama. Setelah bukber, kita lanjut minum kopi di Coffee Bean. Sepanjang malam itu, saya sibuk curhat soal gebetan saya saat ini. Saat sedang asyik ngobrol, hp saya berdering… ada telepon masuk.

Salah satu teman saya berkomentar, “Wah, telepon dari si dia jangan-jangan.”

Saya menggeleng sambil merogoh HP dari dalam tas. “Nggak mungkin dia. Gue udah set ringtone yang beda buat WA dan call dari dia.”

Teman-teman saya malah menertawakan! Kata salah satu dari mereka, “Elo masih kayak anak SMA aja!”

Saya hanya nyengir. Saya punya alasan berbeda di balik ringtone khusus untuk gebetan saya itu. Bukan karena dia istimewa (walau memang dia istimewa buat saya sih), tapi lebih untuk menjaga diri saya agak tidak kecewa.

Apa maksudnya?

Begini… sebelum saya menggunakan ringtone yang berbeda khusus untuk orang yang saya sukai, saya jadi sering harap-harap cemas tiap kali mendengar hp saya berdering baik itu text ataupun call. Saya sering bertanya-tanya, “Dari dia bukan ya?”

Saya akan cepat-cepat meninggalkan apapun yang sedang saya lakukan untuk segera mengecek hp saya itu. Dan bisa ditebak… saat text atau call itu bukan dari si dia, saya akan langsung merasa kecewa.

Nah, untuk melindungi diri saya dari rasa kecewa yang seperti itulah saya pasang ringtone berbeda untuk nomor hp gebetan saya! Sejak itu, saya akan cepat-cepat menghampiri HP hanya saat ringtone khusus dia itu yang berdering, hehehehe.

Jenius kan? 😉

Am I Scared of Ending Up All Alone?

Baru saja ada teman yang bertanya, “Elo pernah takut end up hidup sendiri nggak, Peh?”

Gue langsung menjawab, “Enggak pernah. Gue enggak masalah sendiri, asalkan gue bahagia.”

And I meant it, every single word of it.

Gue emang udah kepengen settle down. Gue ingin punya kesempatan mencintai dan dicintai satu orang yang akan berbagi hidup dengan gue. Gue juga ingin mulai mengurus orang lain selain diri gue sendiri. Gue ingin memulai hidup baru, pembelajaran baru, lika-liku baru dan kebahagiaan yang juga baru.

Tapi, jika pernikahan hanya akan membuat gue lebih banyak menderita daripada bahagianya, lebih baik gue sendiri. Jika menikah sekarang dengan pasangan seadanya hanya akan mendatangkan penyesalan, lebih baik gue menunggu lebih lama sampai gue menemukan orang yang tepat. Dan jika saat itu nyatanya tidak akan pernah kunjung tiba, gue tetap ikhlas… gue akan coba berpikiran positif bahwa memang kesendirian itulah yang terbaik buat hidup gue ini. Nggak papa sendirian, asalkan enggak kesepian.

It’s okay to be alone, but it’s not okay to be lonely.

Lalu bagaimana caranya agar tidak hidup kesepian? Banyak orang mencari kesibukan tapi tetap saja merasa kesepian dalam kesendiriannya.

Caranya gampang saja: nikmati setiap hari dalam hidup ini, hal kecil, hal besar, nikmati dan berbahagia sebanyak yang kita bisa.

Gue menikmati hari-hari sibuk di kantor sama seperti gue menikmati bisa bangun siang di akhir pekan.

Gue menikmati dikelilingi teman-teman dan keluarga sama sepeti gue menikmati me time seharian di mall (bisa nonton, belanja, mani-pedi!).

Gue menikmati membuat analisis keuangan yang complicated sama seperti gue menikmati waktu yang gue habiskan untuk menulis blog ini.

Dan gue menikmati detik demi detik yang gue habiskan dengan si gebetan kesayangan sama seperti gue menikmati waktu bermain dengan ponakan-ponakan cilik gue.

Gue masih menanti hari pernikahan gue, tapi gue tidak perlu menunggu hari besar itu tiba hanya untuk bisa bahagia. Gue akan mulai berbahagia di masa-masa penantian karena buat gue, tidak ada yang namanya timeline hanya untuk bisa merasakan kebahagiaan. Kenapa harus demikian? Supaya kalaupun hari besar itu tidak pernah datang, hidup gue tetap tidak terbuang sia-sia. Gue sudah mencicil kebahagiaan gue sehingga akumulasi kebahagiaan gue itu akan cukup besar untuk menutupi kekecewaan yang mungkin nanti gue rasakan.

Jika kalian tanya gue sekarang, pastilah gue menjawab gue akan sangat bahagia jika gue bisa berakhir sampai pernikahan sama cowok yang sekarang gue sukai, tapi itu kan cuma sekedar keinginan gue. Apa yang gue inginkan belum tentu selaras dengan apa yang gue butuhkan. Dan sekali lagi, jika memang bukan relationship itu yang gue butuhkan untuk saat ini, maka gue lebih memilih untuk ikhlas.

I’ve tried my best, I’ll let God to do the rest.

Apa Rasanya Jadi Pepper Potts?

Penggemar Marvel pastilah familiar dengan nama Pepper Potts; asisten Tony Stark “Iron Man” yang kemudian berakhir menjadi istrinya. Dan seingat gue, pasangan Tony-Pepper inilah yang butuh waktu paling lama untuk jadian jika dibandingkan pasangan-pasangan lain di MCU (Marvel Cinematic Universe).

Saat tadi menonton ulang film pertama Iron Man, gue bertanya-tanya pada diri gue sendiri, “Apa rasanya hidup jadi Pepper Potts?”

Pepper jelas menunjukkan ketertarikan dia pada atasannya itu. Perhatian-perhatian kecilnya, rasa khawatirnya, serta pengorbanannya, jelas bukan hal-hal yang biasa dilakukan oleh bawahan untuk atasannya. Tony juga jelas mengetahui perasaan Pepper terhadap dirinya, tapi tetap saja… dia lebih memilih berganti-ganti teman kencan ketimbang langsung memilih Pepper sebagai kekasihnya.

Seolah itu saja belum cukup buruk, di awal cerita, Pepper sang asisten rutin bertugas untuk “mengusir secara halus” teman kencan Tony dari kediamannya. Pengorbanan perasaan yang sangat besar menurut gue. Memang hanya film, tapi bisa saja terjadi di dunia nyata. Nggak usah jauh-jauh sampai melihat si dia dengan perempuan lain misalnya. Melihat dia di kantor setiap hari tanpa pernah bisa memilikinya juga sudah cukup menyedihkan. Mau move on juga pasti sangat susah karena masih harus kerja bareng setiap harinya.

Banyak dari kita pastilah juga pernah berada di situasi yang mirip seperti Pepper. Merasa seperti ada harapan, tapi tidak juga banyak kemajuan. Mencintai, tapi enggak punya privilege untuk menyampaikannya. Kangen tapi enggak bisa bilang kangen, cemburu tapi enggak punya hak untuk complain, sekedar ingin ketemu dia pun masih harus pintar-pintar mencari alasan. Situasi yang lama kelamaan akan membuat kita bertanya-tanya… apa jangan-jangan semua ini hanya sekedar cinta yang bertepuk sebelah tangan? Dan yang paling penting, mau begini sampai kapan?

Gue sering berharap… andai gue tahu kapan gue harus terus mencoba atau kapan sebaiknya gue menyerah saja. Bagaimana jika gue hanya perlu sedikit waktu lagi? Berusaha sedikit lebih keras lagi? Bersabar sedikit lebih banyak lagi?

Tapi bagaimana jika semua itu pada akhirnya hanya akan terbuang sia-sia? Bagaimana jika kenyataannya, apapun yang gue lakukan, apapun yang gue katakan, berikan, atau bahkan korbankan, tidak akan pernah cukup untuk bisa mengubah pikirannya? Untuk menggerakan hatinya? Untuk meyakinkan dia bahwa gue adalah “the one“?

If Pepper Potts were real, how did she manage all that?

Beruntung untuk Pepper Potts perasaan dia akhirnya terbalas juga. Pasangan Tony-Pepper akhirnya jadi pasangan favorit hampir semua MCU fans yang gue kenal. Tapi sayangnya, tidak semua dari kita akan berakhir seperti Pepper Potts. Seperti frase yang cukup populer akhir-akhir ini; pada akhirnya, kita hanya sedang menjaga jodoh milik orang lain.

Oh ya, tahu apa yang lebih berat dari menjadi Pepper Potts? Rasa takut orang yang dia cintai akan pergi selama-lamanya sebagai resiko dari “pekerjaannya”.

Gue masih ingat suatu hari saat gue sedang meeting, cowok yang gue sayang banget, mengabari dia akan pulang lebih awal karena mendadak demam tinggi. Mau periksa ke UGD katanya. Membaca isi pesan itu, fokus gue langsung buyar. Telinga gue seolah berhenti mendengar kalimat yang diucapkan oleh rekan kerja gue di meeting itu. Bayangan saat terakhir kali gue melihat dia terbaring di Rumah Sakit tiba-tiba melintas di benak gue. Bagaimana jika dia sakit sampai separah itu lagi?

My brain froze… and that was when I knew how much deeper my feelings had grown for this man.

Tapi tetap saja. Dia bukan pacar gue. Gue pengen ikut mengantar ke UGD. Ingin melihat keadaan dia dengan mata kepala gue sendiri. Tapi gue enggak punya hak untuk itu. Satu-satunya hal yang bisa gue lakukan hanya membalas via WhatsApp, “Kabari dokternya bilang apa. And get well soon!”

Balik lagi ke Pepper Potts… gue mungkin tidak akan bisa sekuat dia. Dan mungkin, gue tidak akan berakhir bahagia dengan cowok yang gue sayangi itu…

Every girl wishes for a happy ending, but maybe, this one is just never meant to be… Still hoping that someday, I will find someone who chooses me, just like Tony Stark chooses Pepper Potts.