Guys, Tolong Jangan Salah Sangka Dulu!

Baru-baru ini gue menyadari ada beberapa habit gue yang dulu betulan pernah disalahartikan oleh cowok yang sebetulnya hanya gue anggap teman. Gue tidak pernah berniat flirting, pdkt, atau apapun namanya, tapi ternyata, sikap dan perkataan gue malah diartikan demikian. Apa saja contohnya?

  1. Gue memang tipe orang yang senang mendengarkan cerita dan curhatan orang lain. Teman-teman gue banyak yang bilang bahwa gue ini pada dasarnya emang tipe pendengar yang baik. Jadi, jika gue dengan sabar atau antusias mendengarkan curhatan kalian, tolong jangan langsung salah sangka! Boleh geer hanya jika gue sampe texting kalian duluan hanya untuk menanyakan kabar kalian (ini hal yang cuma gue lakukan ke keluarga atau sahabat dekat saja). Kalau sampai begitu, baru itu artinya gue care sama kalian lebih dari sekedar teman;
  2. Gue tipe orang yang senang memperhatikan orang-orang di sekitar gue. Soal makan tepat waktu misalnya. Salah banget jika dikira gue cuma tanya, “Sudah makan belum?” pada lawan jenis yang gue sukai saja! Hal kayak gini termasuk rutin gue lakukan terutama di lingkungan kantor yang sebetulnya bisa juga diartikan “I’m just doing my job to take care of my team.” Lalu apa bedanya perhatian gue ke sekedar teman dengan ke gebetan yang gue suka? Lebih ke level of concerns-nya sih. Kelihatan dari ekspresi wajah dan tone suara gue harusnya. Gue akan kelihatan atau terdengar lebih worried jika menyangkut orang-orang yang gue sayangi;
  3. Gue senang traktir jajanan, belikan oleh-oleh, atau hal-hal kecil lain untuk orang-orang di sekitar gue. Selama kalian mendapatkan barang yang sama dengan barang yang gue belikan buat orang lain, maka jangan salah sangka. Boleh geer hanya jika gift gue buat kalian jauh lebih istimewa bahkan jika dibandingkan dengan gift buat sahabat terdekat gue misalnya;
  4. Gue tipe orang yang senang memuji secara terang-terangan. Cewek atau cowok, kalau memang sedang kelihatan cakep ya gue bilang cakep. Bedanya lebih ke frekuensi gue memberikan pujian saja; biasanya gue jadi lebih sering memuji orang yang gue suka ketimbang memuji orang yang cuma gue anggap teman; dan
  5. Interaksi di socmed juga tidak bisa dijadikan tolak ukur gue suka dengan seseorang. Gue lihat IG story kalian atau like foto kalian bukan berarti gue beneran suka sama kalian dalam artian yang sebenarnya. Tapi memang, saat gue suka sama seseorang, dijamin semua stories yang dia upload akan gue lihat. Orang yang selalu ingin gue lihat stories-nya itu either orang yang rajin upload foto atau video ponakan-ponakan gue, atau, orang yang gue suka 😉 Selebihnya cuma gue lihat stories-nya kalo lagi nggak ada kerjaan di rumah aja.

Di luar 5 hal itu, cara paling gampang untuk tahu isi hati gue ya dengan tanya langsung aja. Gue tipe cewek yang sangat berhati-hati soalnya. Gue enggak pernah memperlakukan orang yang gue sukai secara istimewa kecuali dia sudah duluan mengistimewakan gue juga. Jadi kalo si cowok ini enggak menunjukkan usaha yang signifikan, maka perlakuan gue ke dia juga akan tetap biasa-biasa saja. The more obvious he is, the more obvious that I am too. It’s as simple as that!

The Problem with Many Relationships in Life: We’re Nicer to The Strangers Rather than The Loved Ones

The problem with many relationships in life: we’re oftentimes nicer to the strangers rather than the loved ones.

Need some examples?

We are hesitate to tell the hard truth to colleagues, but we feel like we can tell whatever we want (with no filter) to our families.

We try so hard to be a good employee but we are careless to be a good daughter/son.

We make times for our random cool friends, but we don’t bother to make times (a real good quality times) with our old best friends.

And this is one final example that I often find in married couples: they tried so hard to be a good husband/wife material before they get married, but then they stop trying to become ones after they truly get married.

A friend used to tell me, “Many marriage fails because they both stop trying to impress each other after they get married.” And I find it so true in many other relationships in life too! Not to mention, the closer we are with someone, the less efforts we put to not hurting their feelings too. We don’t hesitate to reveal the worst part of us to the loved ones without considering how it will break their hearts.

Can’t you imagine how awful it might feel? No more good things to celebrate, only boredom and problems to solve. In this kind of relationship, being with them ends up feeling like a burden. It doesn’t feel like home, it’s not comforting and it doesn’t make us a happy person anymore. Until finally, we end up feeling depressed with our own relationships. We either want to run away or we’ve got to hold on and bear all the pains for some things that we deem as “the good reasons”.

I know that if feels good to be surrounded by the people who manage to love us unconditionally. We want them to love and accept us just the way we are. It’s actually human… but then we forget that they are too only a human. And what’s even more concerning is that we forget how love is also a work and love has to be earned not just in the beginning, but also in every single day of our life. A happy relationship is a never ending works and it might be the hardest work we should ever do in our entire life. We only need to work on it unless if we find that it’s okay just to be alone, and lonely.

Life is all about a balance, and so is a relationship. A balance between the comfort of being ourselves and the hard work to be the very best of us for the loved ones. I know for a fact that unfortunately, reaching this “balance” is always the hardest one.

Everytime it feels hard for me to deal with the loved ones, I told myself, “I don’t owe anything to any random people in the office nor any people who only text me a couple times in a year, but I owe a lot of things to my families and best friends.” And then I prioritize my resources (times, energy, and wealth) from there.

From now on, let’s try to do better for our loved ones. If we’re willing to listen to the strangers, listen to our loved ones too. Hear them out! And if we’re willing to work hard just to be “employee of the year”, why don’t we work as hard to be son/daughter or husband/wife of the year too? When we keep trying to be the very best version of us in anything in life, we do it not only for ourselves, but also for the people we care about.

Me and My “Broken Radar”

Malam ini, gue ngobrol panjang lebar sama salah satu teman soal gue yang udah mulai nggak bisa mengenali ciri-ciri cowok yang suka sama gue. Jadi menurut dia, ada teman kita yang mengaku suka sama gue tapi gue enggak pernah ngerasa cowok itu suka sama gue. Gue ngerasa dia nice sama gue cuma sebagai teman aja. Baru setelah gue ingat-ingat, memang ada beberapa hints yang dulu tidak gue anggap serius. Kenapa demikian? Berikut ini daftar alasannya!

  1. Karena cowok yang nice sama gue itu jumlahnya lumayan banyak. Contohnya, teman cowok yang bantu bawa barang berat tanpa diminta, antar gue pulang ke rumah, atau bahkan yang traktir gue makan itu jumlahnya ada lumayan banyak dan nggak mungkin gue bisa langsung menyimpulkan mereka semua sebetulnya suka sama gue!
  2. Gue punya beberapa sahabat cowok yang baiknya kebangetan dan gue tahu banget mereka cuma baik sama gue sebagai teman saja. Susah buat gue jadi geer karena kebaikan-kebaikan kecil (the small gestures) dari some other guys jika gue bahkan tidak geer dengan kebaikan-kebaikan besar (the big gestures) dari sahabat-sahabat gue itu. Gue menganggap kebaikan seperti itu memang sewajarnya dilakukan oleh sesama manusia aja gitu;
  3. Gue sendiri tipe orang yang senang memperhatikan orang lain. Gue sering menanyakan ke semua orang di tim gue soal mereka sudah makan atau belum karena gue memang peduli (dan belum tentu berarti karena gue suka sama mereka!). Ini yang bikin gue tidak mau cepat kegeeran karena bisa jadi, cowok yang perhatian sama gue ini emang pada dasarnya perhatian sama semua orang yang dia kenal (sama seperti yang gue lakukan pada orang-orang di sekitar gue); dan
  4. Gue pernah dekat sampai cukup serius dengan cowok itu cuma dua kali, dan kedua cowok ini secara jelas menunjukan rasa suka mereka ke gue. I never had to wonder how they felt about me because they made it very clear that they had feelings for me. Tanpa gue sadari, gue menjadikan dua cowok ini sebagai benchmark. Gue jadi beranggapan cowok yang suka sama gue itu minimal menunjukkan usaha yang sama besar dengan mereka berdua bertahun-tahun yang lalu itu. Kurang dari itu akan gue anggap cuma baik sebagai teman saja.

Jadi bagaimana kesimpulannya? Benarkah radar gue sudah tidak lagi ampun mendeteksi cowok-cowok yang suka sama gue?

Selesai ngobrol panjang lebar dengan teman yang gue sebutkan di atas, gue langsung kirim text ke Whatsapp Group yang isinya cuma gue dan dua teman cowok lainnya. Di situ gue menulis, “Menurut gue bukan radar gue yang udah rusak, tapi emang cowok jaman sekarang kalo suka enggak berani terang-terangan. Gue jadi susah bedain cowok ini emang suka sama gue atau cuma baik sebagai teman aja.”

Salah satu cowok di grup itu langsung menjawab, “Kalo gue emang enggak (berani terang-terangan).”

Yang satunya lagi tidak ikut menjawab tapi gue toh udah tahu betul gimana cara dia mendekati istrinya dulu. Ini jadi semakin memvalidasi pendapat gue bahwa cowok jaman sekarang emang kurang terus terang. Cowok yang secara agresif dan terang-terangan menyampaikan perasaannya mungkin memang sudah semakin berkurang jumlahnya.

Tapi, apa itu lantas berarti gue harus mengubah cara gue menyikapinya? Haruskah gue jadi orang yang making the first move? Well I don’t think so.

Cowok-cowok yang kelihatan tertarik tapi tidak benar-benar berusaha mendekati itu mungkin memang benar suka sama gue, TAPI, dia tidak sampai jatuh cinta. And why would I want to be with someone who doesn’t take me seriously? He’s Just Not that Into You, remember that book title?

If he is really into me, he will make it clear. Period.

Apakah Benar Kemajuan Jaman & Teknologi Telah Membuat Kita Lebih Duniawi, Hedonis, & Konsumtif?

Sejak e-commerce mulai booming di Indonesia, cukup banyak kalangan yang menyuarakan keprihatinan mereka soal masyakarat yang menjadi lebih konsumtif.

Apa saja contohnya?

Kehadiran Tokopedia, Lazada, dsb membuat orang lebih sering membeli barang-barang yang tidak mereka butuhkan.

Kehadiran Go-food dan Grab Food membuat orang jadi lebih sering jajan daripada sebelumnya.

Jika ruang ligkup diskusinya gue perlebar, kemajuan teknologi ini juga dikhawatirkan membuat masyarakat menjadi lebih hedonis dan duniawi.

Apa saja contohnya?

Peluang untuk selingkuh jadi lebih tinggi. Kenapa? Karena sekarang, kita bisa dengan mudah menemui orang baru dari lingkungan yang sama sekali berbeda dengan kita. Orang yang kita kenal tidak lagi melulu tetangga atau teman-teman di sekolah dan kantor kita saja. Bisa kenalan di online forum mengenai traveling misalnya, atau ada juga pertemanan yang dimulai dari social media seperti Facebook, Instagram, Twitter, atau gue akui, seperti blog gue ini misalnya. Kirim satu saja DM, perkenalan terjadi lah sudah. Kemudahan ini pula yang membuat semakin maraknya kasus selingkuh dengan kenalan dari dunia maya.

Contoh lainnya adalah aplikasi online dating seperti Tinder. Ganti-ganti teman kencan jadi semakin mudah dengan keberadaan Tinder. Hal ini mengakibatkan semakin banyak orang yang menolak untuk buru-buru “resmi” pacaran dengan gebetannya hanya karena dia masih ingin lihat-lihat lawan jenis lain yang mungkin akan dia temui melalui aplikasi itu. Ada pula yang dengan entengnya bilang putus karena toh masih ada Tinder yang akan “memberikan” dia pengganti posisi mantan pacarnya itu.

Bagaimana pandangan pribadi gue soal semua itu?

Jawaban gue sederhana saja: dalam hidup ini, tidak akan ada satu hal pun yang 100% baik untuk hidup kita. Hal yang baik pun, jika dilakukan secara berlebihan atau dilakukan dengan cara yang salah, akan merubah hal baik tersebut menjadi hal yang luar biasa buruknya.

Menolak teknologi sayangnya tetap bukan solusi terbaik. Gue pribadi malah betul-betul ogah banget jika harus kembali ke jaman sebelum ada online store, ride hailing apps, atau social media. Kemajuan teknologi membuat hidup gue terasa lebih mudah. Hidup itu sendiri saja sudah semakin berat, jika ada solusi yang dapat memudahkan berbagai aspek dalam hidup gue, ya kenapa tidak? Contohnya, fokus gue dalam pekerjaan pasti akan berkurang jika mood gue saat datang ke kantor sudah keburu rusak hanya karena sulit cari sarapan (nasib anak kost yang nggak bisa masak) atau sulit cari alat transportasi yang nyaman dan terjangkau. Selain itu, thanks to e-commerce, gue tidak perlu selalu repot-repot menyempatkan diri pergi ke mall di tengah macetnya lalu lintas kota Jakarta hanya untuk membeli barang yang gue butuhkan. Tinggal pesan di pagi hari, malamnya barang sudah tiba di rumah gue. Nyaman banget kan?

Kemudian soal teknologi yang meperbesar peluang untuk selingkuh, jika luasnya networking dan banyaknya pilihan membuat pasangan gue tergoda untuk selingkuh, berarti dia memang bukan pasangan yang tepat buat gue saja. Itu berarti, jodoh gue dan dia memang cuma sampai di situ saja. Jika dia sampai cari perempuan lain, maka dia juga harus ikhlaskan gue untuk move on supaya gue bisa mencari laki-laki lain yang lebih baik daripada dia. Namun jika yang terjadi justru sebaliknya; dia bisa tetap setia meski dia punya banyak pilihan di depan mata, maka gue akan tahu dengan sendirinya; gue sudah memilih pasangan yang tepat untuk hidup gue ini.

Do not despise the existence of technology, despise the way we use it instead. We are smarter than our apps, it’s as simple as that.

How Did You Know That She/He was The One?

Berawal dari curhat gue ke salah satu sahabat, gue jadi mulai mempertanyakan: yang namanya Mr. Right atau The One atau apapun julukannya itu benar ada atau tidak?

Gue hapal banget tiap kali gue curhat soal cowok-cowok yang bikin gue patah hati, teman curhat gue itu akan bilang begini, “Biarin aja… he’s just not the one. Sabar, elo cuma belum ketemu cowok yang tepat.”

Nah lagi-lagi pertanyaannya, cowok yang tepat itu betulan ada atau enggak sih?

Akhir pekan ini, tiba-tiba saja gue jadi sadar betapa gue selalu punya alasan soal kenapa serentetan mantan gebetan gue itu tidak pernah good enough bahkan untuk sekedar menjadi pacar gue (dan ya, jumlahnya ada banyak banget!). Semakin lama dan semakin dalam gue mengenal mereka, semakin besar dorongan dalam diri gue untuk jaga jarak saja. Selalu ada saja hal-hal dalam diri mereka yang bikin gue berpikiran, “Kalaupun diteruskan, hubungan gue dengan dia enggak akan bertahan lama.”

Sok tahu banget nggak sih gue? Bukannya gue ini tipe orang yang sering bilang “you will never really know until you try”? Tapi entah kenapa, jika ada sangkut pautnya dengan romantic relationship, gue tipe orang yang enggak pernah berani ambil resiko. Gue suka dengan gegabahnya langsung mengambil kesimpulan “It won’t work between me and him” tanpa mau repot-repot untuk mencoba terlebih dulu.

Per sekarang ini, sudah puluhan cowok berlalu dan masih belum ada yang good enough buat gue. Dan ini bukan berarti gue ngerasa diri gue ini sudah perfect loh ya. Soalnya cukup sering juga gue memutuskan “he’s not the one” hanya karena gue ngerasa mereka nggak akan bisa handle me at my worst. Kesadaran besar atas rentetan kekurangan dalam diri gue ini juga yang akhirnya malah jadi deal breaker secara gue yakin banget nggak semua orang akan bisa awet menjalin hubungan erat sama gue.

Pada titik ini, akhirnya gue mulai bertanya-tanya. Apakah orang yang gue cari itu betulan ada di muka bumi ini? Apakah akan ada orang yang akan tanpa keraguan sedikit pun dapat gue pilih sebagai pasangan hidup gue nantinya? I surprisingly doubt that.

Gue langsung teringat dengan serentetan kenalan yang pernah ragu dengan rencana pernikahan mereka sendiri. Akhirnya memang tetap menikah juga, tapi bukankah itu berarti, mereka menikahi orang yang tidak 100% mereka yakini sebagai their Mr. Right?

Serius deh… bagaimana sih rasanya tahu dan yakin bahwa seseorang itu Mr. Right buat kita? Secara manusia itu tidak ada yang sempurna, dan secara sifat manusia itu sangat kompleks dan bervariasi antara satu orang dan yang lainnya, apa iya kita akan pernah menemukan seseorang yang sangat kompatibel dengan diri kita ini? Seseorang yang punya segala yang kita mau untuk kita jadikan sebagai pasangan hidup… Apakah orang seperti itu betulan ada?

Alasan lain gue mulai ragu soal keberadaan Mr. Right adalah fakta bahwa cowok-cowok yang dulu pernah gue kira sebagai “the one” ternyata hanya another jerk who broke my heart. Pernah ada momen-momen di mana dengan polosnya gue berpikir, “Akhirnya gue menemukan my Mr. Right!” Gue saat itu betul-betul yakin seyakin-yakinnya deh, tapi ternyata, semua itu cuma semacam false alarms belaka. Awalnya gue masih optimis, masih hopeful, tapi sekarang ini gue mulai berpikiran, “Maybe, it’s not them, it’s me.”

Kenapa gue malah menyalahkan diri gue sendiri? Karena mungkin, ekspektasi gue soal definisi Mr. Right yang menjadi akar permasalahannya. Mungkin, apa yang gue sebut sebagai “Mr. Right” ini memang tidak pernah ada di muka bumi ini (yang artinya, selama ini gue sudah sibuk mencari sesuatu yang nggak ada!). Mungkin memang sebetulnya, yang namanya the one itu cuma sekedar orang yang kita pilih untuk menjadi pasangan hidup meskipun dia tidak sepenuhnya kompatibel dengan diri kita ini.

What do you think, guys? Bagi yang pernah menemukan pasangan impiannya, tolong comment atau DM gue di socmed gue ya. Gue beneran bingung apakah memang benar “gue hanya belum menemukan cowok yang tepat” atau malah sebetulnya “tidak akan pernah ada cowok yang gue anggap 100% tepat sehingga sudah seharusnya gue mengubah pola pikir gue.”

Ditunggu pendapatnya!

Bisa Nggak, Cewek & Cowok Murni Bersahabat?

Judul blog ini boleh dibilang topik yang termasuk sering dibahas di berbagai media sejak jaman gue masih ABG sampai gue menginjak usia dewasa saat ini. Jawabannya pun selalu cenderung terbagi dua: bisa dan tidak bisa.

Lalu bagaimana pendapat pribadi gue?

Gue tentu tidak bisa menjawab pertanyaan ini atas nama semua orang di muka bumi ini, tapi gue tentu bisa menjawab berdasarkan pengalaman pribadi gue sendiri yang kebetulan, awet bersahabat dengan 3 lawan jenis mulai dari teman SMA (yang baru saja wafat 3 hari yang lalu, may he rest in peace), sampai teman yang gue temui di tempat gue pernah bekerja.

Siapa saja mereka? Berikut ini cerita singkatnya!

My high school buddy: Junet

Yang pertama namanya Junet; almarhum Junet, sahabat gue dari kelas 1 SMA. Dulu ceritanya gue dan dia bergabung dalam satu gank yang sama dengan 3 orang perempuan lainnya. Gue masih ingat saat SMA dulu, sempat ada gosip beredar soal gue pacaran sama Junet. Gosip yang tidak bertahan lama karena kemudian marak beredar kabar soal siapa cowok yang beneran gue suka di kelas kita itu, hehehe.

Junet ini orangnya selalu ceria. Setiap ada dia, gue pasti bisa ketawa sampai sepuas-puasnya. Junet juga sangat helpful, mulai dari bantu gue menyelesaikan skripsi sampai bantu gue supaya biaya liburan gue ke Bali bisa di-reimburse ke kantor gue sebelumnya (di sana memang ada program yang memberikan gue pilihan antata gadget, education, atau travel reimbursement).

Yang paling unik, Junet ini semacam gay radar buat gue. Berawal dari sebuah penelitian yang menyatakan 1 dari 10 cowok Indonesia itu ada kecenderungan homoseksual, gue jadi parno sendiri. Jadilah (hampir) tiap kali gue naksir cowok baru, gue akan kirim socmed link cowok itu ke Junet hanya untuk bertanya, “Do you think he’s gay?

Sejujurnya gue ini bukan tipe orang yang mudah mendapatkan sahabat. Ada banyak banget orang yang mengenal gue di sekolah dan di kantor gue, tapi hanya sedikit yang bisa awet dan tahan lama menjadi sahabat gue. Sifat keras gue bukan sifat yang bisa dimaklumi oleh semua orang. Itu pula sebabnya kehilangan Junet sudah jadi kehilangan terbesar dalam hidup gue; sahabat yang bisa menerima gue apa adanya (termasuk sahabat yang tidak pernah cemburu dengan pencapaian hidup gue), sudah berkurang jumlahnya satu orang. Gugur sudah rencana gue untuk menjadikan dia sebagai salah satu “best man” gue di pernikahan gue suatu saat nanti. He’s gone, but I will always remember him as my friend; my best friend (literally) forever.

My Playboy Best Friend: Steven

Jujur awalnya, gue enggak berniat menjadikan Steven sebagai sahabat. Kenapa? Karena awalnya gue langsung naksir sama dia, hehehe. Semacam naksir pada pandangan pertama. Kenapa gue berani nulis di sini? Ya karena orangnya juga sudah tahu. Dia malah pernah bilang cinta sama gue via telepon bertahun-tahun yang lalu (walau sekarang gue ragu apakah saat itu dia sedang dalam keadaan sober, hehehe). Perasaan gue ke Steven enggak bertahan lama selain karena dia sudah punya pacar, tapi juga karena gue menemukan gebetan baru di kantor gue yang selanjutnya (iya, gue emang gampang kena cinlok, hehe). Gebetan setelah Steven itu malah bukan sekedar gebetan sih. Kalau dipikir sekarang, dari semua cowok yang pernah gue suka, cuma satu orang itu saja yang pernah sampai tahap gue beneran cinta sama dia.

Kisah cinta gue itu sayangnya tidak berakhir baik. Gue patah hati habis-habisan. Dan saat itu, Steven banyak bantu gue untuk move on. Dari situ gue sadar, Steven akan lebih baik menjadi sahabat buat gue ketimbang pacar apalagi calon suami. Dan benar saja… sudah 10 tahun gue dan dia saling mengenal, dan dia selalu ada untuk mendengar kisah-kisah patah hati gue yang tidak pernah ada habisnya itu, hehehe.

With that being said, pertemanan gue dengan Steven ini ada pasang-surutnya. Kalau sedang berantem, kita bisa lose contact sampai setahun lamanya. Meski begitu hebatnya, tiap kali gue ngerasa butuh teman ngobrol setelah lose contact dengan dia berbulan-bulan lamanya, dia tetap bisa langsung meluangkan waktu untuk mendengarkan curhatan gue. Beda sama Junet yang sering gue jadikan sebagai gay radar, kalau Steven malah tanpa ditanya bisa langsung seenaknya menuduh begitu banyak mantan gebetan gue sebagai gay. Kadang bete sih, tapi berhubung gue butuh teman curhat (and again, teman gue itu jumlahnya nggak banyak), jadi ya sudahlah, terima saja resiko diceramahi, “I’ve told you, he’s gay!”

Yang namanya perasaan itu memang aneh ya. Rasa naksir gue ke Steven ini seperti sudah menguap dengan sendirinya. Gue bisa santai saja kenalan atau bahkan hang out bareng pacar terbarunya dia. Gue juga pernah dengan santainya membawa dia sebagai wedding date gue. Gue bahkan pernah datang ke rumah orang tua dia sebagai teman dan sama sekali enggak ada yang terasa aneh dari itu semua. He is my friend and will always be my platonic friend.

Best of the best: Chrisnata

Maaf yah Steven, tapi Chris ini emang best of the best, hehehe. Gue mengenal Chris sekitar 7 tahun yang lalu dan persahabatan gue dengan dia terjalin secara konsisten sampai sekarang. Dari semua sahabat gue, cuma Chris yang pernah mendengar segala-galanya. Biasa gue curhat ke Steven cuma kalo Chris sudah tidur dan nggak balas Whatsapp gue (gue tipe pekerja yang sering lembur dan cuma sempat curhat di malam hari, dan kebetulan Steven ini tipe orang yang meleknya malah di malam hari, hehehe).

Chris ini so sweet banget deh orangnya. Mengambilkan obat saat gue sakit, nemenin gue belanja baju, dan ingat cerita soal teman yang datang menjenguk saat gue sakit sambil membawa DVD Grey’s Anatomy kesukaan gue itu? Yup, that was Chris who did that. Beda sama Steven dan Junet yang lebih blak-blakan, Chris ini lebih berusaha untuk menjaga perasaan gue tiap kali dia menyatakan pendapatnya soal curhatan gue. That what makes him the best of the best, hehehehe.

Gue ingat banget beberapa tahun yang lalu, Chris bilang begini saat baru jadian dengan pacarnya, “Gue udah bilang sama cewek gue kalo elo itu temen baik gue.” Jadi ceritanya, saat itu dia merasa enggak nyaman jika harus kehilangan gue sebagai temannya hanya karena keberadaan pacarnya. Gue dan dia sama-sama berharap, kita berdua bisa terus bersahabat, untuk selama-lamanya. Amiin!

Jadi apa kesimpulannya?

Gue jelas meyakini bahwa cewek dan cowok bisa murni bersahabat bahkan hingga usia dewasa. Menurut gue, chemistry untuk sahabat dengan chemistry untuk pasangan hidup itu dua hal yang jauh berbeda. Bagaimanapun, ketetertarikan fisik itu komponen penting dalam romantic relationship, dan ketertarikan fisik itu yang tidak gue rasakan pada sahabat-sahabat gue ini (dan begitu pula sebaliknya). Kita juga bukan tipe sepasang sahabat yang punya pikiran, “Kalo sampe usia 40 kita masih single, kita married aja lah.” Karena memang bukan itu arah, niat, dan tujuannya! Kedudukan mereka buat gue sama persis dengan semua sahabat perempuan gue: kita hanya ingin menjalin persahabatan yang long lasting, yang bisa kita wariskan sampai ke generasi anak-anak kita nanti.

Ya, gue memang tidak punya banyak teman, tapi syukur alhamdulillah, gue punya cukup banyak sahabat yang luar biasa. Merusak persahabatan itu dengan unsur cinta-cintaan? Big no no!

If He‘s Really that Into You…

Many girls are often in denial everytime the boys they like seem to give them a (false) hope. In case you’re wondering if you are one of those girls, read the points below and score yourself!

  1. If he’s really that into you, you won’t feel like you’ve got to make the first move. You don’t have to figure out how to let him know how you feel about him. Forget that voice in your head telling you that “he’s just shy”. Chances are, he’s not that shy, he’s just not that into you;
  2. If he’s really that into you, you won’t have to spend that much times just to stalk his social medias. He will be more than happy to tell you where he is and what he is up to. What’s even better, if he really likes you, you’ll be that girl he shows off in his social medias!
  3. If he’s really that into you, you won’t need to do all the efforts just to be right where he is. You don’t need to spend so much times to track him down hoping that you will bump into him along the way. If he has that feeling for you, he will find you! He will definitely take you out, he will want to have you right by his side;
  4. If he’s really that into you, you won’t need to get through all the hassles just to give him “the signs”. He doesn’t need you to push him to give all those signs right back to you. He will do his own things not only to give you his signs, but also to make it clear between you and him;
  5. If he’s really that into you, you don’t have to do some random things with some random guys just to see if he gets jealous. You won’t need that kind of assurance on how he truly feels about you, and that’s only because he clearly let you know where you both are standing; and
  6. If he’s really that into you, he won’t do anything that risks him of losing you. He won’t wait until he’s ready, he won’t wait until the right time comes, because for him, the right time is NOW!

The right man wouldn’t want to make you have any doubt about him. He won’t make you have to guess and to wonder. He wants to make you his. He won’t come and go anytime he likes to; he would love to be exactly where you are. He won’t need you to convince him, and he will pursue you on his own!

Love yourself enough to only love the man who loves you right. Real love is not supposed to be that complicated to begin with. If he can’t seem to make up his mind, then believe me, he’s not the one.