Cinta dan Macam-macam Jenisnya

Menurut gue, cinta itu ada macam-macam jenisnya. Malah sebetulnya bisa jadi, apa yang gue sangka sebagai cinta sebetulnya hanya sebatas rasa suka saja. Atau bisa juga, hanya sebatas cinta lokasi saja. Bagaimana cara membedakannya?

Tahap pertama: naksir

Ibarat kita melirik baju yang dipakai manekin, itulah tahap naksir. Tahap di mana seseorang mulai mencuri perhatian kita. Tahap di mana kita mulai mencari berbagai informasi tentang dia, dan salah satunya, masih single atau sudah taken? Ibarat memilih baju, masih sangat mungkin kita naksir lebih dari satu cowok sekaligus. Ini kan masih tahap melihat-lihat opsi yang ada. Kalaupun ternyata tidak bisa berlanjut pun, kita bisa dengan mudah move on tanpa harus melewati fase patah hati.

Tahap ke dua: suka

Pada tahap ini, kita mulai menaruh harapan. Kita mulai memiliki keinginan untuk bisa jadian dengan si dia. Kita semakin sering memikirkan dia, makin senang saat melihat ada dia, dan yang paling terasa, kita mulai kangen saat dia sedang nggak ada di sekitar kita. Ini juga tahap di mana kita mulai menyusun rencana untuk bisa mendekati dia atau bahkan kita mulai berusaha untuk bisa membahagiakan dia. Keberadaan pesaing di luar sana juga mulai membuat kita merasa cemburu. Di saat yang bersamaan, kita sudah masuk tahap di mana hal-hal yang tidak diinginkan mulai bisa sampai menyakiti perasaan kita. Harapan yang tidak menjadi kenyataan itu mulai bisa berujung pada kekecewaan yang membuat kita harus melewati fase patah hati hanya untuk bisa move on dari dia.

Tahap ke tiga: cinta

Saat sudah sampai cinta, harapan bukan lagi sekedar sampai jadian, tapi sudah jauh sampai pada jenjang pernikahan. Bukan berarti sudah kepengen nikah sama dia dalam waktu dekat, tapi setidaknya, kita sudah mulai melihat keberadaan dia di masa depan kita nanti. Pada tahap ini, sulit untuk kita membayangkan hidup tanpa ada dia di samping kita. Kita sudah tidak lagi pada tahap di mana hal-hal kecil berpotensi menjadi a deal breaker. Rasa sayang kita ke dia sudah mulai stabil dan di saat yang bersamaan, dia mulai jadi prioritas kita melebihi hal-hal lain termasuk melebihi diri kita sendiri. Rasa peduli kita akan keadaan mereka juga sudah jauh lebih tulus dan bukan lagi sekedar ingin tampak peduli hanya demi menarik perhatian dia saja. Tulusnya perasaan itu pula yang membuat putus cinta di tahap ini akan menjadi pengalaman yang sangat menyakitkan, bahkan bisa jadi traumatis juga. Untuk beberapa orang, putus cinta di tahap ini membutuhkan waktu yang sangat lama (bisa mencapai hitungan tahun) hanya untuk bisa move on. Malah ironisnya, sekalinya kita jatuh cinta, maka orang tersebut akan selalu punya tempat tersendiri di hati kita ini. Kenyataannya, kita tidak akan pernah benar-benar lupa betapa dulu kita pernah sebegitu menyayangi orang ini. Kita bisa jatuh cinta lagi pada orang lain, tapi tetap saja, akan ada bagian kecil dari diri kita yang terus mengenang dia, selama-lamanya.

Hati-hati sama yang ini: cinta lokasi

Cinlok ini rasanya sangat mirip dengan cinta betulan, hanya saja bedanya, cinlok akan segera hilang saat sudah tidak lagi berada dalam satu lokasi yang sama. Misalnya, sudah tidak lagi kerja sekantor. Cinlok biasanya muncul karena rasa nyaman atas kebersamaan kita dengan dia, tapi belum tentu cinta betulan karena belum cukup kuat untuk tidak terpisahkan oleh jarak. Banyak juga cinlok yang berkembang menjadi cinta betulan, tapi tidak sedikit juga cinlok yang sifatnya murni hanya temporary feeling saja. Cinlok tidak bahaya asalkan keduanya mempunyai perasaan yang sama. Bisa repot jika satu orang sudah jatuh cinta betulan sedangkan yang satunya lagi hanya sekedar cinlok belaka! Makanya kalau kita sampai suka dengan orang yang sering bareng sama kita di lokasi tertentu, lebih baik segera diputuskan saja: mau lanjut jadian atau tidak? Cinlok yang menggantung itu cuma buang-buang waktu padahal sebetulnya moving on dari perasaan seperti ini tidak akan sebegitu sulitnya juga.

Salah satu teman gue pernah menyarankan supaya gue tidak buru-buru “naik level”. Jangan cepat sampai di tahap suka, apalagi sampai jatuh cinta, kecuali jika gue sudah mendapatkan bukti yang solid bahwa gue tidak bertepuk sebelah tangan. Boleh mulai suka setidaknya saat sudah ada ajakan nge-date, dan boleh berkembang sampai cinta jika sudah sampai jadian. Teman gue bilang, jangan sampai gue harus melewati fase patah hati yang tidak perlu. Saran yang bagus sih, menurut gue. Dengan menjaga perasaan itu sebatas rasa naksir saja dapat menghindari kita dari terlalu cepat memakai kacamata kuda (cuma fokus pada cowok yang belum tentu suka sama kita juga). Pelan-pelan, beri waktu supaya tidak berakhir buang-buang waktu.

It’s Not My Loss, It’s My Victory

Belum lama ini, gue baca tulisan di Instagram-nya Mandy Hale; salah satu penulis buku self-help kesukaan gue. Dia bilang, “You were merely a sentence in his story while he was several chapters in yours. And that’s okay! Because some people come into our lives not to be loved, but to be lost and learned in order to help us change and grow.”

I can totally relate to what she wrote! Jadi ceritanya belum lama ini, gue mengeluh sama diri gue sendiri… kenapa ya, selalu gue yang lebih sayang atau bahkan lebih cinta sama cowok-cowok yang dekat dengan gue satu dekade belakangan ini? Sering banget terulang sampai bikin gue berpikir ada yang salah dalam diri gue ini. Saking seringnya terjadi, tiap kali gue dekat dengan cowok baru, tanpa gue sadari gue jadi bisa mendeteksi titik balik di mana gue tahu bahwa gue akan segera balik lagi ke fase patah hati. Ternyata di mata dia, gue ini bukan siapa-siapa. Lagi-lagi, perasaan gue ke mereka sudah tumbuh jauh lebih dalam daripada perasaan mereka ke gue.

Apa rasanya berada di posisi seperti itu?

Jujur awalnya gue ngerasa rugi. Rugi karena gue udah buang waktu untuk care sama cowok yang salah dan rugi harus buat buang lebih banyak waktu lagi hanya untuk bisa move on dari mereka. Rasanya benar-benar nggak enak!

Tapi sekarang agak berbeda jalan ceritanya. Sekali ini, patah hati yang sama tidak membuat gue merasa rugi. Yang kali ini terjadi justru membuat gue berpikiran, “Hanya karena dia enggak punya perasaan apa-apa sama gue, bukan berarti semuanya serba sia-sia buat gue.”

Cowok terakhir yang bikin gue patah hati ini bikin gue ingin jadi orang yang lebih sabar, lebih mampu mengontrol emosi, dan bikin gue ingin berbuat lebih banyak untuk keluarga gue sendiri. Dia ini tipe cowok yang sangat care sama keluarganya, banyak berkorban untuk keluarganya, benar-benar menginspirasi gue untuk melakukan hal yang sama untuk keluarga gue sendiri.

This one guy has been an inspiration to me in so many ways!

Pintar tapi humble. Sangat takut menyakiti perasaan orang lain. Tipe orang yang sengaja menyisihkan penghasilannya untuk beramal, tipe orang yang juga selalu memberikan tip minimal Rp. 5,000 ke Go-jek driver-nya.

Bagaimana sikap dia ke gue selama ini?

He’s a truly gentleman in my eyes. He often helps me with the little things without being asked. It feels good to have someone looks after me the way he does. I’ve known him just for a few months but somehow I know that he will always be there for me anytime I need a helping hand. He’s also that kind of person who makes me feel like I can be myself, I can tell him anything I want to share without worrying of being judged.

Lalu kenapa gue bilang gue patah hati karena cowok yang satu ini? Ya karena itu tadi; ternyata gue hanya bertepuk sebelah tangan. Gue salah mengartikan kebaikan dia ke gue selama ini. Dia memang baik sama gue, baik banget, tapi mungkin untuk alasan yang berbeda. Mungkin hanya sekedar ingin membalas budi. Atau mungkin, hanya baik sebagai seorang teman saja. Dan dengan sendirinya gue tahu, lagi-lagi, ini waktunya untuk moving on.

Dekat dengan cowok ini (setidaknya sebagai teman) membuat gue merasa terdorong untuk jadi lebih baik dari gue yang sebelumnya. Nggak ikhlas sebetulnya, tapi gue enggak mau memaksakan keadaan. Jika dia tidak melihat ada masa depan untuk gue dan dia, maka sebaiknya, gue ikhlaskan dan biarkan dia melanjutkan hidup dia dengan cara dia sendiri.

For this once, I don’t think that I’ve wasted my times to get to know him. To spend times with him. To take care of him. And to like him for a million little things he said and did. I’m thankful that I met him and the fact that I cared about him more than he cared about me never seems like a loss to me. It even feels like a victory knowing the fact that I once fell for a kind man who made me want to be as kind and as compassionate as he was. That girl who wins his heart someday will definitely be one of the luckiest girls on earth and I wish, she will love him for who he is, and she will take a good care of him as genuine as I once did.

One More Reason to Leave What’s Best on God’s Hands

Salah satu teman di kantor baru berangkat Umrah, dan seperti orang lain yang hendak berangkat Umrah pada umumnya, dia tanya ke gue, “Mau titip doa apa?”

Gue dengan cepat menjawab, “Semoga Allah tetap selalu memberikan segala yang terbaik buat gue.”

Hal ini mengingatkan gue dengan perjalanan Umrah gue sendiri beberapa tahun yang lalu. Waktu itu kebetulan gue sedang dihadapkan pada 2 pilihan: 2 cowok yang keduanya terlihat berusaha mendekati gue. Saat Umrah, gue berdoa minta dipilihkan yang terbaik oleh Allah. Lalu apa yang terjadi antara gue dengan 2 cowok ini? Gue tidak jadian dengan satupun dari mereka.

Setelah susah payah move on dari salah satu cowok yang gue sebutkan di atas, akhirnya, gue sempat kembali dekat dengan satu cowok baru yang tipe gue banget. Naksir pada pandangan pertama banget deh pokoknya. Ganteng, tinggi, pintar, rajin beribadah pula! Pikir gue saat itu, “He has everything I always wanted.” Gue sempat dengan sok tahunya berpikiran dia itu memang jodoh yang Allah inginkan buat gue (honestly, gue jarang banget dekat sama cowok alim kayak dia).

Cowok yang satu itu juga tidak sungkan menunjukan ketertarikan dia dengan gue. Dia juga cerita ke beberapa orang temannya soal perasaan dia ke gue. Sounds perfect and on track, no?

Waktu itu rasanya gue ngotot banget pengen cepat jadian sama dia. Harusnya mudah saja, tapi fakta malah menunjukan yang sebaliknya. Makin ke sini, hubungan gue dengan dia justru semakin rumit dan penuh drama. Banyak hal yang kemudian membuat gue dengan sangat sadar memutuskan untuk mulai jaga jarak dengan cowok yang satu itu.

Kalau ditanya sekarang, gue bersyukur banget saat itu gue tidak lantas jadian dengan cowok-cowok itu. Bukan soal mereka tidak baik buat gue, tapi lebih soal gue dan mereka memang tidak tepat untuk satu sama lainnya.

Mereka bukan tipe cowok yang akan bisa mengatasi gue dalam saat-saat terburuk gue. Begitu pula sebaliknya.

Mereka bukan juga tipe cowok yang bisa dengan tulus berbahagia atas setiap kemajuan dalam perjalanan karier gue. Tipe cowok yang menganggap pencapaian gue itu sebagai suatu “kekurangan” dalam diri gue ini.

Atau bisa juga terjadi, gue dan mereka punya prioritas yang berbeda. Salah satu sahabat gue sampai menasehati, “Jangan aja elo sampe kayak Luna Maya… Nunggu 5 tahun tapi akhirnya putus juga. Si Reino-nya nggak pernah niat nikahin dia ternyata. Luna Maya berharap itu bisa berubah, tapi nyatanya enggak kan.” Enggak ada benar-salah dalam hal ini karena bagaimanapun, tiap orang berhak punya prioritas untuk hidupnya masing-masing.

Don’t you see? We were just not meant to be! Padahal suka sama suka, tapi saat itu seperti tidak ada jalannya. Hal yang harusnya sederhana jadi luar biasa rumit dan bikin pusing kepala. Kalau dipikir sekarang, bisa jadi, itulah cara Allah menjawab doa gue: mereka bukan cowok yang terbaik untuk hidup dan masa depan gue. Mereka bukan cowok yang Allah pilihkan buat gue.

Sejak itu, moving on dari siapapun jadi terasa lebih mudah buat gue. Jika usaha terbaik gue tidak cukup baik untuk mereka, maka masalahnya hanya satu: bukan mereka orangnya. Allah hanya ingin gue menunggu lebih lama lagi. Dan hebatnya dari semua ini, keikhlasan gue itu malah membawakan lebih banyak kebahagiaan buat gue! Kenapa demikian? Karena hidup sendiri tanpa mereka di dalamnya ternyata jauh lebih baik daripada hidup dengan terus-terusan berusaha mempertahankan sesuatu yang secara konstan membuat gue merasa sedih dan patah hati.

Baru kemarin, sahabat gue yang mencetuskan teori soal Luna Maya itu juga bilang ke gue, “You are stronger than you were 3-5 years ago, you know.”

Yes, I’m much stronger than I was long time ago, and it’s only because I know, I truly know, what might seem like a loss to me is actually a redirection to the person that I belong.

Don’t lose faith, don’t be afraid to take care of the people we care about, be brave enough to love them, and let God do the rest.

Guys, Tolong Jangan Salah Sangka Dulu!

Baru-baru ini gue menyadari ada beberapa habit gue yang dulu betulan pernah disalahartikan oleh cowok yang sebetulnya hanya gue anggap teman. Gue tidak pernah berniat flirting, pdkt, atau apapun namanya, tapi ternyata, sikap dan perkataan gue malah diartikan demikian. Apa saja contohnya?

  1. Gue memang tipe orang yang senang mendengarkan cerita dan curhatan orang lain. Teman-teman gue banyak yang bilang bahwa gue ini pada dasarnya emang tipe pendengar yang baik. Jadi, jika gue dengan sabar atau antusias mendengarkan curhatan kalian, tolong jangan langsung salah sangka! Boleh geer hanya jika gue sampe texting kalian duluan hanya untuk menanyakan kabar kalian (ini hal yang cuma gue lakukan ke keluarga atau sahabat dekat saja). Kalau sampai begitu, baru itu artinya gue care sama kalian lebih dari sekedar teman;
  2. Gue tipe orang yang senang memperhatikan orang-orang di sekitar gue. Soal makan tepat waktu misalnya. Salah banget jika dikira gue cuma tanya, “Sudah makan belum?” pada lawan jenis yang gue sukai saja! Hal kayak gini termasuk rutin gue lakukan terutama di lingkungan kantor yang sebetulnya bisa juga diartikan “I’m just doing my job to take care of my team.” Lalu apa bedanya perhatian gue ke sekedar teman dengan ke gebetan yang gue suka? Lebih ke level of concerns-nya sih. Kelihatan dari ekspresi wajah dan tone suara gue harusnya. Gue akan kelihatan atau terdengar lebih worried jika menyangkut orang-orang yang gue sayangi;
  3. Gue senang traktir jajanan, belikan oleh-oleh, atau hal-hal kecil lain untuk orang-orang di sekitar gue. Selama kalian mendapatkan barang yang sama dengan barang yang gue belikan buat orang lain, maka jangan salah sangka. Boleh geer hanya jika gift gue buat kalian jauh lebih istimewa bahkan jika dibandingkan dengan gift buat sahabat terdekat gue misalnya;
  4. Gue tipe orang yang senang memuji secara terang-terangan. Cewek atau cowok, kalau memang sedang kelihatan cakep ya gue bilang cakep. Bedanya lebih ke frekuensi gue memberikan pujian saja; biasanya gue jadi lebih sering memuji orang yang gue suka ketimbang memuji orang yang cuma gue anggap teman; dan
  5. Interaksi di socmed juga tidak bisa dijadikan tolak ukur gue suka dengan seseorang. Gue lihat IG story kalian atau like foto kalian bukan berarti gue beneran suka sama kalian dalam artian yang sebenarnya. Tapi memang, saat gue suka sama seseorang, dijamin semua stories yang dia upload akan gue lihat. Orang yang selalu ingin gue lihat stories-nya itu either orang yang rajin upload foto atau video ponakan-ponakan gue, atau, orang yang gue suka 😉 Selebihnya cuma gue lihat stories-nya kalo lagi nggak ada kerjaan di rumah aja.

Di luar 5 hal itu, cara paling gampang untuk tahu isi hati gue ya dengan tanya langsung aja. Gue tipe cewek yang sangat berhati-hati soalnya. Gue enggak pernah memperlakukan orang yang gue sukai secara istimewa kecuali dia sudah duluan mengistimewakan gue juga. Jadi kalo si cowok ini enggak menunjukkan usaha yang signifikan, maka perlakuan gue ke dia juga akan tetap biasa-biasa saja. The more obvious he is, the more obvious that I am too. It’s as simple as that!

The Problem with Many Relationships in Life: We’re Nicer to The Strangers Rather than The Loved Ones

The problem with many relationships in life: we’re oftentimes nicer to the strangers rather than the loved ones.

Need some examples?

We are hesitate to tell the hard truth to colleagues, but we feel like we can tell whatever we want (with no filter) to our families.

We try so hard to be a good employee but we are careless to be a good daughter/son.

We make times for our random cool friends, but we don’t bother to make times (a real good quality times) with our old best friends.

And this is one final example that I often find in married couples: they tried so hard to be a good husband/wife material before they get married, but then they stop trying to become ones after they truly get married.

A friend used to tell me, “Many marriage fails because they both stop trying to impress each other after they get married.” And I find it so true in many other relationships in life too! Not to mention, the closer we are with someone, the less efforts we put to not hurting their feelings too. We don’t hesitate to reveal the worst part of us to the loved ones without considering how it will break their hearts.

Can’t you imagine how awful it might feel? No more good things to celebrate, only boredom and problems to solve. In this kind of relationship, being with them ends up feeling like a burden. It doesn’t feel like home, it’s not comforting and it doesn’t make us a happy person anymore. Until finally, we end up feeling depressed with our own relationships. We either want to run away or we’ve got to hold on and bear all the pains for some things that we deem as “the good reasons”.

I know that if feels good to be surrounded by the people who manage to love us unconditionally. We want them to love and accept us just the way we are. It’s actually human… but then we forget that they are too only a human. And what’s even more concerning is that we forget how love is also a work and love has to be earned not just in the beginning, but also in every single day of our life. A happy relationship is a never ending works and it might be the hardest work we should ever do in our entire life. We only need to work on it unless if we find that it’s okay just to be alone, and lonely.

Life is all about a balance, and so is a relationship. A balance between the comfort of being ourselves and the hard work to be the very best of us for the loved ones. I know for a fact that unfortunately, reaching this “balance” is always the hardest one.

Everytime it feels hard for me to deal with the loved ones, I told myself, “I don’t owe anything to any random people in the office nor any people who only text me a couple times in a year, but I owe a lot of things to my families and best friends.” And then I prioritize my resources (times, energy, and wealth) from there.

From now on, let’s try to do better for our loved ones. If we’re willing to listen to the strangers, listen to our loved ones too. Hear them out! And if we’re willing to work hard just to be “employee of the year”, why don’t we work as hard to be son/daughter or husband/wife of the year too? When we keep trying to be the very best version of us in anything in life, we do it not only for ourselves, but also for the people we care about.

Me and My “Broken Radar”

Malam ini, gue ngobrol panjang lebar sama salah satu teman soal gue yang udah mulai nggak bisa mengenali ciri-ciri cowok yang suka sama gue. Jadi menurut dia, ada teman kita yang mengaku suka sama gue tapi gue enggak pernah ngerasa cowok itu suka sama gue. Gue ngerasa dia nice sama gue cuma sebagai teman aja. Baru setelah gue ingat-ingat, memang ada beberapa hints yang dulu tidak gue anggap serius. Kenapa demikian? Berikut ini daftar alasannya!

  1. Karena cowok yang nice sama gue itu jumlahnya lumayan banyak. Contohnya, teman cowok yang bantu bawa barang berat tanpa diminta, antar gue pulang ke rumah, atau bahkan yang traktir gue makan itu jumlahnya ada lumayan banyak dan nggak mungkin gue bisa langsung menyimpulkan mereka semua sebetulnya suka sama gue!
  2. Gue punya beberapa sahabat cowok yang baiknya kebangetan dan gue tahu banget mereka cuma baik sama gue sebagai teman saja. Susah buat gue jadi geer karena kebaikan-kebaikan kecil (the small gestures) dari some other guys jika gue bahkan tidak geer dengan kebaikan-kebaikan besar (the big gestures) dari sahabat-sahabat gue itu. Gue menganggap kebaikan seperti itu memang sewajarnya dilakukan oleh sesama manusia aja gitu;
  3. Gue sendiri tipe orang yang senang memperhatikan orang lain. Gue sering menanyakan ke semua orang di tim gue soal mereka sudah makan atau belum karena gue memang peduli (dan belum tentu berarti karena gue suka sama mereka!). Ini yang bikin gue tidak mau cepat kegeeran karena bisa jadi, cowok yang perhatian sama gue ini emang pada dasarnya perhatian sama semua orang yang dia kenal (sama seperti yang gue lakukan pada orang-orang di sekitar gue); dan
  4. Gue pernah dekat sampai cukup serius dengan cowok itu cuma dua kali, dan kedua cowok ini secara jelas menunjukan rasa suka mereka ke gue. I never had to wonder how they felt about me because they made it very clear that they had feelings for me. Tanpa gue sadari, gue menjadikan dua cowok ini sebagai benchmark. Gue jadi beranggapan cowok yang suka sama gue itu minimal menunjukkan usaha yang sama besar dengan mereka berdua bertahun-tahun yang lalu itu. Kurang dari itu akan gue anggap cuma baik sebagai teman saja.

Jadi bagaimana kesimpulannya? Benarkah radar gue sudah tidak lagi ampun mendeteksi cowok-cowok yang suka sama gue?

Selesai ngobrol panjang lebar dengan teman yang gue sebutkan di atas, gue langsung kirim text ke Whatsapp Group yang isinya cuma gue dan dua teman cowok lainnya. Di situ gue menulis, “Menurut gue bukan radar gue yang udah rusak, tapi emang cowok jaman sekarang kalo suka enggak berani terang-terangan. Gue jadi susah bedain cowok ini emang suka sama gue atau cuma baik sebagai teman aja.”

Salah satu cowok di grup itu langsung menjawab, “Kalo gue emang enggak (berani terang-terangan).”

Yang satunya lagi tidak ikut menjawab tapi gue toh udah tahu betul gimana cara dia mendekati istrinya dulu. Ini jadi semakin memvalidasi pendapat gue bahwa cowok jaman sekarang emang kurang terus terang. Cowok yang secara agresif dan terang-terangan menyampaikan perasaannya mungkin memang sudah semakin berkurang jumlahnya.

Tapi, apa itu lantas berarti gue harus mengubah cara gue menyikapinya? Haruskah gue jadi orang yang making the first move? Well I don’t think so.

Cowok-cowok yang kelihatan tertarik tapi tidak benar-benar berusaha mendekati itu mungkin memang benar suka sama gue, TAPI, dia tidak sampai jatuh cinta. And why would I want to be with someone who doesn’t take me seriously? He’s Just Not that Into You, remember that book title?

If he is really into me, he will make it clear. Period.

Apakah Benar Kemajuan Jaman & Teknologi Telah Membuat Kita Lebih Duniawi, Hedonis, & Konsumtif?

Sejak e-commerce mulai booming di Indonesia, cukup banyak kalangan yang menyuarakan keprihatinan mereka soal masyakarat yang menjadi lebih konsumtif.

Apa saja contohnya?

Kehadiran Tokopedia, Lazada, dsb membuat orang lebih sering membeli barang-barang yang tidak mereka butuhkan.

Kehadiran Go-food dan Grab Food membuat orang jadi lebih sering jajan daripada sebelumnya.

Jika ruang ligkup diskusinya gue perlebar, kemajuan teknologi ini juga dikhawatirkan membuat masyarakat menjadi lebih hedonis dan duniawi.

Apa saja contohnya?

Peluang untuk selingkuh jadi lebih tinggi. Kenapa? Karena sekarang, kita bisa dengan mudah menemui orang baru dari lingkungan yang sama sekali berbeda dengan kita. Orang yang kita kenal tidak lagi melulu tetangga atau teman-teman di sekolah dan kantor kita saja. Bisa kenalan di online forum mengenai traveling misalnya, atau ada juga pertemanan yang dimulai dari social media seperti Facebook, Instagram, Twitter, atau gue akui, seperti blog gue ini misalnya. Kirim satu saja DM, perkenalan terjadi lah sudah. Kemudahan ini pula yang membuat semakin maraknya kasus selingkuh dengan kenalan dari dunia maya.

Contoh lainnya adalah aplikasi online dating seperti Tinder. Ganti-ganti teman kencan jadi semakin mudah dengan keberadaan Tinder. Hal ini mengakibatkan semakin banyak orang yang menolak untuk buru-buru “resmi” pacaran dengan gebetannya hanya karena dia masih ingin lihat-lihat lawan jenis lain yang mungkin akan dia temui melalui aplikasi itu. Ada pula yang dengan entengnya bilang putus karena toh masih ada Tinder yang akan “memberikan” dia pengganti posisi mantan pacarnya itu.

Bagaimana pandangan pribadi gue soal semua itu?

Jawaban gue sederhana saja: dalam hidup ini, tidak akan ada satu hal pun yang 100% baik untuk hidup kita. Hal yang baik pun, jika dilakukan secara berlebihan atau dilakukan dengan cara yang salah, akan merubah hal baik tersebut menjadi hal yang luar biasa buruknya.

Menolak teknologi sayangnya tetap bukan solusi terbaik. Gue pribadi malah betul-betul ogah banget jika harus kembali ke jaman sebelum ada online store, ride hailing apps, atau social media. Kemajuan teknologi membuat hidup gue terasa lebih mudah. Hidup itu sendiri saja sudah semakin berat, jika ada solusi yang dapat memudahkan berbagai aspek dalam hidup gue, ya kenapa tidak? Contohnya, fokus gue dalam pekerjaan pasti akan berkurang jika mood gue saat datang ke kantor sudah keburu rusak hanya karena sulit cari sarapan (nasib anak kost yang nggak bisa masak) atau sulit cari alat transportasi yang nyaman dan terjangkau. Selain itu, thanks to e-commerce, gue tidak perlu selalu repot-repot menyempatkan diri pergi ke mall di tengah macetnya lalu lintas kota Jakarta hanya untuk membeli barang yang gue butuhkan. Tinggal pesan di pagi hari, malamnya barang sudah tiba di rumah gue. Nyaman banget kan?

Kemudian soal teknologi yang meperbesar peluang untuk selingkuh, jika luasnya networking dan banyaknya pilihan membuat pasangan gue tergoda untuk selingkuh, berarti dia memang bukan pasangan yang tepat buat gue saja. Itu berarti, jodoh gue dan dia memang cuma sampai di situ saja. Jika dia sampai cari perempuan lain, maka dia juga harus ikhlaskan gue untuk move on supaya gue bisa mencari laki-laki lain yang lebih baik daripada dia. Namun jika yang terjadi justru sebaliknya; dia bisa tetap setia meski dia punya banyak pilihan di depan mata, maka gue akan tahu dengan sendirinya; gue sudah memilih pasangan yang tepat untuk hidup gue ini.

Do not despise the existence of technology, despise the way we use it instead. We are smarter than our apps, it’s as simple as that.