When Love Goes Blind, It Can Create a New Monster

A long time ago, I fell too deep for someone until at some point, it got me blinded. What was even worse, since the very beginning, he already bluntly told me what a horrible person he really was. He told me who he was but I refused to believe all that.

All that I saw at that time; he was kind, caring, and he made me feel special with all the little gestures he did for me. I kept convincing him how special he was, and I also told him how he could be anything he wanted. I really wanted him to have anything good that this life had to offer. I wanted him to see his values and to finally move on from his own insecurities so that he could become the very best of himself.

As time went by, I started to see his flaws but I was so blinded I failed to see the red light right in front of me. I told myself, “Oh well, nobody is perfect.”

Some people around us told me how his behavior hurt their feelings and I couldn’t seem to believe any of that. Two friends of ours shed tears in front of me, they told me how he hurt their feelings, and I froze. I didn’t say anything to console them as I truly thought that it was their own fault, not his.

I still remember the day a friend cried and said, “There’s nobody ever hurt me as deep as he did.”

I just nodded my head, kept myself in silence, and that’s that. It was hard for me to believe that he could be as vicious as that.

As if it was not bad enough, one day his own mother told me how she was concerned his son could hurt people around him and I still said to his mom that he was actually a good person and that he was loved by everyone.

I kept believing he was the one until the day he turned his back on me. When I just met him, he often told me how he didn’t think he was lovable, he had nothing to be proud of, and that he was physically not attractive. He also said that he was not confident dating a girl who was much prettier than he was. And of course, I proactively told him how wrong he was and that he could actually got any girl he wanted. But then when things between us went south, he really did what he once said was impossible. He turned his back on me to be with a very pretty girl; one of the prettiest girls I’ve ever seen. For the first time ever, he proved me that I was right; he could date any girl he wanted.

As if it was not hurting enough, he said all the hurtful things about what I did wrong, he told me that I made him hate waking up in the mornings, and he also said that I was not worth it. He even told me that he was sorry that the feelings between us were not mutual. He never cared to explain why he did all the things that made me fall for him even though he knew I desperately needed to hear that explanation from him. And it didn’t stop there. He showed off his pretty girlfriend in front of everyone he knew, including my friends. I know for a fact that he suddenly decided to bring his new girlfriend as soon as he found out that I would come to the same party. He was very eager to break my heart into pieces for a reason I never understand.

One night, I cried alone in my room and I told myself, “Nobody ever hurt me as much and as deep as he did.”

And then it hit me. I suddenly remembered that I used to hear the same confession from a friend who was also in tears, sitting right there in front of me.

That night I realized… I had created a new monster.

I helped him to go big in his life, to have faith in himself, and to believe that he could do what he wanted to become, but then he used all that power to hurt people. He hurt me, the one person whom he once said had helped him to be a better person. Only God knows how he’s capable to hurt anyone else going forward.

I barely regret anything in life, but I regret falling deep for him. I regret that I neglected the people whom he hurt. They came for my help and I turned them down. I didn’t believe how far he was capable to hurt people until he hurt me. And if you ask me, I don’t even know what I did so wrong I deserve to be treated like a trash. I never found out until at some point, I just don’t care. I finally realize that I’m just one of so many people whom he hurt and he wishes to forget. He will burry all of our memories as if it never happened in his life. He did that to so many people in his past, including his own families, and then he did that to me too.

It only took a couple months for me to move on and to get rid of my feelings for him, but it might take me forever to get rid of my guilt. What if the confidence I put in him will only make him more powerful to hurt other people? To win what he wants without caring how his actions could really break someone else’s feelings? And all his lies he used to tell me… the lies I never urged him to stop… what if he does more of that to other people?

Once the monster is born, there’s nothing you can do to stop him. There’s no way I want go back in touch with him just to rectify what I did wrong. My life is so much peaceful without his presence in it. What’s done is done, and I can only hope that he will come around by himself.

Looking at the silver lining, at least now I’ve had my lessons on how to love someone the right way. Just because I fall for him, it doesn’t make me have to justify all the wrongs he does. And most importantly: I should really know someone before I let myself fall deeper for him. Because who knows? He might seem like an angle outside, but he’s truly an evil inside.

Think straight even when you’re in love. You owe that to yourself.

Donโ€™t Let His Small Gestures Deceive You

Ada obrolan dengan salah satu teman cowok yang membuka mata saya soal kenapa saya beberapa kali terpedaya cowok-cowok yang ujung-ujungnya cuma menyakiti perasaan saya saja.

Jadi ceritanya, saya ini tipe cewek yang sangat senang dengan cowok yang memperhatikan saya sampai hal sekecil-kecilnya. Mengambilkan obat saat saya sakit, membelikan vitamin, mengingatkan saya tiap kali saya hampir makan pantangan saya, dan masih banyak lagi. Saya punya prinsip, “Action speaks louder than words.” Menurut saya, menggombal itu gampang, jadi yang penting adalah apa yang dia lakukan untuk saya.

Apa yang salah dari semua itu? Tidak ada, sampai akhirnya saya terus terbawa perasaan tanpa mendapat kepastian dari cowok-cowok ini. Saya bahkan bisa jadi “buta” saat sebenarnya, cowok ini hanya baik hanya karena ada maunya saja. Saat itu saya sulit percaya bahwa orang sebaik dia bisa punya niat jelek untuk memanfaatkan saya hanya demi keuntungan dia pribadi.

Belum lama, salah satu teman saya bercerita soal kakak perempuannya yang mengalami kejadian yang cukup mirip dengan saya. Teman saya itu lalu mengomentari, “Gue nggak ngerti sama kakak gue kenapa dia sampe segitu tergila-gilanya sama pacarnya yang brengsek itu. Iya sih, dia itu nice pernah beliin obat waktu kakak gue sakit, tapi beli obat itu seberapa susahnya sih? Apotik ada di mana-mana. Nggak sebanding sama kerugian yang ditimbulkan sama cowoknya itu.”

Komentar teman saya itu seperti menusuk langsung ke jantung saya. Saya coba ingat-ingat lagi hal manis yang pernah cowok-cowok itu lakukan untuk saya dan memang semuanya itu bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan. Mengenal apa yang saya suka dan tidak suka juga tidak sulit dilakukan. Jangankan mereka, orang-orang di kantor juga banyak yang tahu saya suka pink, suka traveling, dan tidak suka makanan pedas. Jika dipikir lagi, apa istimewanya?

Cowok-cowok brengsek jaman sekarang sepertinya sudah “berevolusi”. Kalau dulu, cowok brengsek itu cowok yang hanya manis di mulut saja. Tapi sekarang, cowok brengsek itu manis di mulut dan perbuatan juga. Manis di mulutnya pun sudah berevolusi. Belum tentu menggombal, tapi bisa juga dengan mengucapkan hal-hal yang dia tahu saya ingin dengar. Hal-hal yang bisa membuat saya merasa terkesan. Mengaku sudah berhenti merokok dan minum minuman keras misalnya.

Jika saya perhatikan, hal seperti ini bukan terjadi pada diri saya saja. Ada banyak contoh lain yang terjadi pada orang-orang di sekitar saya.

Misalnya, cowok yang senang membelikan bunga untuk pacar atau istrinya. Memang nice, tapi tidak sebanding dengan sifat kasar si cowok pada pasangannya. Padahal beli bunga itu seberapa susahnya sih? Kenapa mau saja bunga ditukar dengan kewarasan dia sebagai perempuan?

Contoh lainnya, cowok yang senang memberikan barang mewah atau mengajak jalan-jalan menginap ke hotel bintang lima. Memang menyenangkan, tapi tidak sebanding dengan rasa sakit hati karena sifat dia yang mata keranjang. Hati jadi tidak tenang dan malah jadi si cewek yang berkecil hati soal kekurangan dalam diri dia yang mungkin membuat pasangannya sampai melirik perempuan lain. Padahal jika memang cowok itu banyak uang, beli ini itu bukan hal yang sulit. Lagipula jika kita mau bekerja keras dan cerdas, kita juga bisa kok, membiayai itu semua dengan uang kita sendiri.

Atau ada juga cowok yang senang mengirimkan kue ke rumah pacarnya tapi jarang menyempatkan waktu untuk datang langsung menemui pacarnya itu. Padahal jaman sekarag mau kirim makanan ke pacar kan tinggal pesan lewat GoFood atau GrabFood saja. Apa susahnya?

Pada akhirnya, small gestures memang penting, tapi big gestures justru lebih penting.

Buat apa romantis tapi tidak jelas ke mana arah hubungannya? Buat apa suka membelikan ini-itu jika dia terus menerus menyakiti kita? Dan buat apa penuh dengan perhatian jika di balik itu ada banyak sekali kebohongan?

Pada akhirnya, komitmen dan usaha keras dia untuk membahagiakan kita, untuk membangun masa depan yang baik untuk kita dan dia, serta untuk menjadi pria yang betulan pantas untuk kita (dan bukan hanya tampak pantas di depan saja), itu yang jauh lebih penting.

Saya sampai pernah menasehati seorang teman cewek, “Nggak papa pacarlo nggak romantis, cari cowok yang betulan baik seperti itu udah semakin sulit.”

Jangan terlena pada bungkusnya… tapi lihat juga isinya, kualitasnya, dan komitmennya. Jika bersama dengan dia di masa-masa pendekatan atau pacaran sudah terasa sangat sulit buat kita (kita jadi sering tiba-tiba menangis tanpa sebab, lebih sering stresnya daripada senangnya, bingung hubungan kalian akan berujung di mana, atau lain sebagainya…), apalagi nanti ke depannya? Harus dipertimbangkan dengan baik plus-minusnya, buka mata dan nilailah secara objektif. Tanya pada diri sendiri, “Jika saya punya anak perempuan, apakah saya akan rela jika anak saya itu berakhir dengan laki-laki seperti dia?”

Tidak ada manusia yang sempurna, tapi ketidaksempurnaan juga ada batasnya. Jangan terus-terusan memaklumi mereka dengan alasan “nobody is perfect“. Mereka, dan juga kita, harus berusaha keras untuk mengendalikan kekurangan dalam diri sendiri. Tidak ada yang dapat mengubah seseorang selain diri mereka sendiri. Jadi jika kita tidak melihat ada real efforts dari mereka untuk berubah, maka sebaiknya lupakan saja. Jangan mengikhlaskan diri untuk orang yang sebetulnya tidak sebegitunya peduli dengan kita.

Ingat baik-baik bahwa:

  1. Jika mereka betulan peduli dengan kita, mereka akan mengupayakan hal yang terbaik untuk kita. Terus menerus jadi objek kemarahan dia (apalagi jika sampai melibatkan kekerasan fisik) jelas bukan hal yang baik untuk kita bahkan di saat memang betulan kita yang berbuat salah;
  2. Jika mereka betulan peduli dengan kita, mereka tidak akan membiarkan kita stres bertanya-tanya soal masa depan hubungan kita dengan mereka. Mereka akan menyatakan niatnya dengan jelas supaya kita tidak perlu terus-terusan khawatir dan supaya kita juga tidak sampai melirik orang lain yang lebih bisa menawarkan kepastian;
  3. Jika mereka betulan peduli dengan kita, mereka akan berusaha untuk menjaga integritasnya. Mereka tidak akan melakukan hal-hal buruk yang membuat mereka harus berbohong, mereka juga akan berusaha keras untuk menepati janji dan bukan melupakan janji-janji itu seolah tidak pernah ada; atau
  4. Jika mereka betulan peduli dengan kita, mereka akan menahan diri. Mereka akan tetap setia, apapun yang terjadi.

Cintai diri sendiri dengan mencari pasangan yang memperlakukan kita dengan baik meskipun hal itu sangat sulit untuk dilakukan. Bukan pasangan yang hanya baik saat ada maunya, bukan pasangan yang bisa berubah total saat mood-nya sedang jelek atau saat kemauannya tidak dituruti, dan bukan pula pasangan yang hanya tampak manis di depan saja. Sekali lagi, jangan biarkan hal-hal kecil yang mereka lakukan membuat kita terlena dan menutup mata dari kerusakan besar yang mereka timbulkan.

Hidup terlalu pendek untuk tidak berbahagia. Carilah pasangan yang menghargai kebahagiaan kita, dan bukan sebaliknya.

Mencintai Itu Sulit

Di awal, jatuh cinta terlihat mudah. Selalu ingin ketemu dia. Hidup terasa selalu bahagia. Penuh senyum, tawa, dan hati yang berbunga-bunga. Terus demikian, sampai akhirnya ujian demi ujian mulai menghampiri. Pelan-pelan, tetap mencintai orang yang kita pikir kita cintai mulai terasa semakin sulit.

Masih kah kamu mencintai dia setelah kamu mendengar hal-hal buruk tentang dirinya? Masihkah kamu mampu berpikiran positif tentang dirinya?

Masih kah kamu mencintai dia setelah menyaksikan sendiri kebiasaan buruknya? Masih kah kamu mencintai dia sama besarnya setelah mengetahui dia tidak sehebat yang dulu kamu kira?

Masih kah kamu mencintai dia setelah mengetahui kebohongan-kebohongannya? Masih kah kamu mempercayai perkataannya? Dan bisa kah kamu tetap mencintai orang yang tidak lagi sepenuhnya dapat kamu percaya?

Masih kah kamu mencintai dia setelah dia, sengaja atau tidak sengaja, menyakiti perasaan kamu? Bisa kah kamu tetap mencintai dia di saat kamu tengah sangat-sangat membenci perbuatannya?

Masih kah kamu mencintai dia ketika getaran dalam hati itu perlahan mulai hilang? Ketika kamu mulai jenuh, lelah, dan ingin lari dari kenyataan. Dapatkah kamu bertahan untuk tidak berpaling pada sesuatu yang lebih baru, lebih mendebarkan, dan tampak lebih membahagiakan?

Terus menerus memaafkan orang yang sama atas kesalahan yang itu-itu saja lama kelamaan akan terasa sulit. Berusaha memaklumi hal-hal yang tidak kita sukai juga sulit. Dan tetap memelihara kekaguman setelah melihat segala keburukannya juga luar biasa sulitnya.

Mencintai itu sulit. Diperlukan kesiapan dan kedewasaan untuk bisa mencintai dengan cara yang benar. Mencintai, jika dilakukan dengan cara yang salah, hanya akan berakhir menyakiti orang yang kita cintai sampai terlalu dalam, sampai titik di mana segalanya tidak akan pernah kembali sama.

Mencintai itu bukan hal mudah yang bisa dilakukan begitu saja. Ada alasannya kenapa banyak orang yang jatuh cinta tapi tidak semuanya awet berbahagia karenanya. Mencintai butuh persiapan dan bukan hal asal-asalan yang bisa kita lakukan hanya karena merasa kesepian, atau butuh pelarian, atau hal yang terasa wajib kita lakukan karena faktor usia yang sudah menua. Mencintai bahkan bukan sesuatu yang dapat kita lakukan hanya karena alasan ingin bersenang-senang.

Mencintai itu sulit, dan akan lebih sulit untuk mereka yang bahkan belum mencintai dirinya sendiri dengan baik. Untuk mereka yang belum dengan ikhlas memberikan tempat untuk orang lain dalam hidupnya. Untuk mereka yang belum punya kelapangan hati untuk memaklumi dan memaafkan ketidaksempurnaan orang lain. Untuk mereka yang bahkan belum mengenal dirinya sendiri… mereka yang belum tahu hal-hal apa saja yang bisa dan tidak bisa mereka toleransi dari pasangan mereka nantinya.

Akhir-akhir ini saya sampai bertanya pada diri saya sendiri… sudah siap kah saya untuk mencintai orang lain dengan cara yang benar? Mungkin memang belum. Untuk sekarang, saya lebih memilih untuk membenahi diri saya sendiri dulu… supaya kelak, saya bisa jadi Mrs. Right yang dapat mencintai Mr. Right saya dengan cara yang benar.

Nasehat Keren dari Seorang Teman

Semalam, salah satu teman sekantor menyampaikan ceramah yang dia dengar dari salah satu Ustadz ternama. Ceritanya semalam itu dia sedang menasehati saya soal cara memilih pasangan.

Kurang lebih, Ustadz ini bilang begini, “Saya sering banget mendengar keluhan istri yang kesal karena suaminya suka judi dan mabuk-mabukan. Saat saya tanya, “Sebelum nikah kamu tahu dia suka judi dan mabuk-mabukan atau belum?” Eh ternyata dia bilang dia sudah tahu. Kalau begitu ya kenapa kaget dan masih mengeluh?”

Ustadz ini kemudian menyampaikan, “Saat menikah, jangan memilih pasangan yang jelas-jelas masih membawa beban. Jangan diterima lalu berharap nanti akan berubah dengan sendirinya. Lain cerita kalau dia sudah tobat dengan sendirinya.”

Menurut saya, Ustadz ini ada benarnya. Merubah kebiasaan buruk orang lain itu tidak mudah. Apa yang membuat kita berpikir pernikahan akan merubah dia? Perubahan itu harus datang dari diri sendiri, bukan dari pernikahan, bukan pula datang dari keajaiban.

Katakan lah dia sudah tobat sebelum menikah. Itu saja masih ada resiko “kambuh”. Manusia pada umumnya, termasuk saya sendiri, cenderung kambuh kebiasaan buruknya saat hidup sedang banyak cobaan. Jika suatu saat pasangan kita kembali pada kebiasaan buruknya itu, kita bisa terima atau tidak? Bisa bersabar untuk membimbing dia atau tidak? Jika kiranya tidak bisa, jika kiranya hal itu bukan hal yang bisa kita toleransi, maka ada baiknya kita berpikir ulang untuk menikah dengan dia.

Masih single di usia 32 membuat saya banyak belajar mengenal diri saya sendiri. Apa yang saya sukai dan tidak sukai, apa yang bisa membuat saya bahagia, dan yang tidak kalah penting, hal-hal apa saja yang bisa dan tidak bisa saya toleransi dari orang lain, termasuk dari pria yang akan menjadi suami saya nantinya.

Apa saja batas toleransi saya? Saya tidak akan bisa menerima jika dia tidak lagi seiman dengan saya, jika dia melakukan kekerasan fisik pada saya, dan jika ada perempuan lain di antara saya dan dia.

Apa yang harus saya lakukan untuk mencegah hal itu? Jika sejak awal dia kasar dengan saya, dan jika sejak belum menikah saja dia suka lari ke perempuan lain alias mata keranjang, ya buat apa saya pilih dia sebagai suami saya?

Memang benar orang yang sekarang tidak kasar dan tidak suka selingkuh belum tentu kelak tidak akan pernah melakukannya, tapi probabilitasnya lebih rendah (ada banyak sekali riset dan literatur yang membuktikan hal ini). Terlepas dari probabilitas itu, sebagai perempuan, saya ingin jadi perempuan cerdas yang membuat pilihan cerdas. Saya tahu tidak akan ada orang yang sempurna, saya juga tahu siapapun orang yang menjadi pasangan saya nantinya pasti akan melakukan banyak kesalahan, tapi, saya punya hak untuk menentukan batas toleransi saya sendiri. Pernikahan memang tidak akan mudah untuk dijalani, tapi setidaknya, saya ingin bisa bahagia untuk menjalaninya.

Selama 32 tahun hidup saya, meski banyak sekali naik turunnya, saya selalu kembali bisa bangkit dari keterpurukan dan kembali pada kebahagiaan yang telah susah-payah saya perjuangkan untuk diri saya sendiri, dan… saya tidak ingin pernikahan memutar balik dan memporakporandakan kebahagiaan saya itu.

Jika suatu saat nanti saya memutuskan untu menikah, pernikahan itu harus membuat saya minimal sama bahagianya dengan saya yang sekarang, dan bukan sebaliknya.

Kevin Aprilio & Note to All Guys Out There

Kevin Aprilio baru saja bikin heboh dengan pengakuan utang 17milyarnya 4 tahun yang lalu. Ceritanya, dia sengaja cerita sekarang hanya untuk explain bahwa pacarnya sama sekali bukan cewek matre sebagaimana dituduhkan banyak orang lain di luar sana. Menurut Kevin, ceweknya itu tetap setia menemani saat Kevin masih terbelit utang 17milyar itu! Wow!

Menariknya, Vicy sang pacar bercerita bahwa pada saat itu, Kevin sampai beberapa kali minta putus darinya. Harus Vicy yang berusaha meyakinkan Kevin untuk tetap stay dengan dia. Kevin saat itu khawatir dia tidak akan bisa memberikan masa depan yang baik untuk pacarnya itu.

Hal ini mengingatkan saya dengan cowok-cowok lain di luar sana yang pernah melakukan hal yang serupa: di saat terkena musibah, mereka malah mengusir perempuan yang dengan tulus menyayangi mereka. Ada yang karena masalah ekonomi seperti Kevin (tidak selalu soal utang, tapi bisa juga karena hidup yang masih serba kekurangan), ada yang karena cowoknya terkena penyakit yang sulit disembuhkan, atau bisa juga karena masa lalu yang masih saja menghantui cowok yang bersangkutan.

Padahal menurut saya, tidak perlu sampai sebegitunya! Tidak usah berkeras menyuruh gebetan atau pacar kalian untuk pergi dari hidup kalian.

If she wants to stay, let her stay. Help her to stay. And if she says she believes you can get through it, then believe her. Support her to support YOU.

Biarkan saja mereka coba membuktikan bahwa mereka ikhlas menerima kalian apa adanya. Biarkan mereka mengambil keputusan mereka sendiri. Berikan mereka kesempatan untuk tetap bersama kalian; orang yang paling mereka cintai.

Terus-terusan mengusir mereka malah bisa membuat mereka berkecil hati. Membuat mereka merasa tidak diinginkan. Dan tidak mustahil, malah membuat mereka merasa tidak cukup baik untuk kalian.

Would you really do that to someone whom you care about?

Sangat dimengerti bahwa penting untuk seorang pria merasa pantas untuk pasangannya. Tapi begini… pantas atau tidak pantas, bukan kalian yang berhak memutuskan. Biarkan mereka sendiri yang menilai apakah kalian laki-laki yang pantas untuk dirinya. Itu toh hidup mereka, biarkan keputusan itu datang dari mereka sendiri. Jika mereka bilang mereka tetap memilih kalian lengkap dengan segala konsekuensinya, ya sudah, tidak usah diperpanjang.

Remember, it should be you and her against the world and definitely NOT you against her!

Bukankah lebih enak jika ada yang tulus memberikan dukungan di saat-saat tersulit dalam hidup kita? Dan bukankah lebih baik fokus bersama-sama menyelesaikan masalah yang tengah dihadapi ketimbang menciptakan drama yang tidak semestinya terjadi?

Jaman sekarang ini, semakin sulit menemukan orang yang bersedia melewati masa-masa pahit bersama-sama. Dunia menawarkan semakin banyak hal yang penuh dengan kesenangan, penuh dengan pilihan, dan penuh dengan hal-hal yang bisa jadi, memang jauh lebih baik daripada diri kita ini. Tapi, apa yang menurut kita lebih baik belum tentu lebih baik menurut mereka; orang-orang yang memilih untuk tinggal. Hargai mereka, cintai mereka sebesar cinta yang berhak mereka dapatkan. Karena bagi mereka, itu saja sudah lebih dari sekedar cukup. They will not ask for more.

Indecent Proposal… Would You Trade the Love of Your Life for a Million Dollars?

It’s been a while since the last time I watched a beautiful movie. I did watch dozens of them, but there were always times when I yawned during those movies. I felt like I continued watching just because I had to. Some of them were partially good, but none of it stole my heart away. Not until I watched Indecent Proposal just now.

This movie from 1993 is beyond beautiful. I enjoyed watching every second of it. It tells us a story about a husband who let his wife sleep with a billionaire as an exchange of a million dollars. This movie was so emotional I fell in love when the casts did, and my heart broke when they cried and lost the love of their lives.

This movie got me asking this one question to my head, “Will I ever trade the love of my life for a million bucks?”

I quickly answered, “No. Big no. Never. I’ll never ever do that.”

I’ve come to learn that there is no amount of money will ever be enough to satisfy human’s greed. I’ve also learned that it can get you all the things you want to buy, but it can’t get you all the things you need to actually live a life. Love, compassion, affection… those are all the things that money can’t buy, and those are all the things you can’t truly live without.

Now I’m a believer that I will always find my ways to make me richer. I can find a new job, get a promotion, earn myself a big bonus… or I can start my own business and I will build my own empire. I know I can do that, everyone can do that, but not everyone of us is capable to understand what a real love is all about. Not everyone is lucky enough to feel a love that deep, and to be loved as deep in a return.

And if I’ll ever be one of that few lucky people, there is no money will ever be big enough to make me want to trade all those feelings. Not for money, not for anything this life has to offer.

It took me almost my whole life to understand how it feels to truly love somebody. A desire to take care of someone other than myself. A strength to love him as much after knowing how imperfect that he really is. And a dream to spend the rest of my life just with one person, for better or worse, going through the thick and thin, me and him against the world.

It took me that long to feel this beautiful feeling, and if I find somebody who loves me as much, not a second I will ever think to let it slip through my fingers. I will never stop trying to be a better person for him. I will fix the broken parts before they totally fall apart. I will love him even when I hate him. He and I will work hand in hand to create our own version of happily ever after and breaking up will never ever be an option to us. No matter how hard this life gets, it will still be me and him against the world. To me, that’s the thing we do when we truly love someone we care about.

Last night, I watched another movie about a woman who broke up with her boyfriend just because she finally got her dream job in another city. That’s also one thing that I don’t understand. At least not now after I see what I’m capable to do with my career.

No matter where I live, I can always make something out of it. I can build an incredible farm even if I have to live in the middle of nowhere for instance. I’ll always find something to do, to create, and to succeed. But the love of my life… it’s not like it does exist in every corner of this world! Why should you choose between love and career to begin with? If you really have to sacrifice something, why would you choose to sacrifice the relationship itself?

I might sound naive here… Even myself just 10 years back would never imagine that I would be willing to go to the end of the world just for a man I love. It’s just that now as a grown up, I’ve come to learn what are the things that we can build, and the ones that we can’t. We can make ourselves a rich one, but we can never make ourselves a loved one… it’s not even our decision to make to begin with.

If you are lucky enough to love someone who loves you as much, don’t let them go. Don’t take them for granted. Don’t let their imperfections diminish your feelings for them. Take care of them even when they’re not lovable on the hardest days in their lives. Remind them their true worth, and that you love them, every single day of your life.

Here is my favorite quote from Indecent Proposal.

Diana: Have I told you that I love you?

David: No.

Diana: I do.

David: Still?

Diana: Always.

Biaya Kencan… Siapa yang Harus Bayar?

Barusan aja saya nonton video yang intinya mengajarkan para perempuan untuk membayar bagian mereka sendiri tiap kali kencan. Katanya, cowok manapun enggak punya kewajiban untuk membayar makanan atau tiket nonton mereka. Saya langsung tepuk jidat setelah selesai nonton video itu!

Jujur ya, maaf-maaf nih jika ada mas-mas yang enggak suka dengan tulisan saya ini, tapi saya pribadi enggak suka sama cowok yang meributkan siapa yang harus bayar bills saat kencan. Kenapa? Karena saya enggak suka sama orang pelit. Jangankan gebetan atau pacar, punya teman pelit aja saya paling anti!

Cowok yang menolak bayar bills saat kencan itu tipe cowok yang takut harta bendanya berkurang hanya karena traktir makan orang yang dia sayangi. Bukan tipe cowok yang percaya bahwa the more we give, the more we get in return. Selain itu menurut saya, cowok yang belum siap keluar uang buat biaya kencan adalah cowok yang belum siap membangun relationship. Mereka belum siap membagi resources dengan orang lain, belum siap berbagi hidup dengan orang lain.

Bagaimana dengan saya sendiri? Apakah itu artinya saya enggak pernah bayar bills bagian saya?

Saya sendiri ujung-ujungnya pasti akan bayar bagian bills saya sih. Kalaupun si cowok enggak mau terima, saya akan cari-cari occasion lain untuk gantian traktir dia makan. Saat saya ultah atau baru gajian misalnya. Kenapa demikian? Karena saya nggak suka punya utang budi, nggak suka pula menggantungkan hidup saya pada orang lain.

Nah, kali ini mohon maaf nih jika ada mbak-mbak yang keberatan dengan sudut pandang saya… tapi buat saya, relationship itu harus setara dalam hal ekonomi. Pertimbanggannya sederhana: saya enggak mau kehilangan independensi saya as a person.

Sejak mulai punya penghasilan, saya mulai merasakan definisi merdeka dalam artian yang sebenarnya. Dan saya merasa, bergantung secara ekonomi kepada orang lain itu (meskipun dia suami saya) menghilangkan kemerdekaan saya. Saya tidak suka meminta, dan saya tidak ingin kembali menjadi orang yang meminta. Itu sebabnya saya lebih suka bayar makanan saya sendiri: supaya saya bebas pesan menu apapun yang saya inginkan! Kebebasan yang tidak bisa saya dapatkan saat ditraktir orang lain.

Meski demikian, harus diakui bahwa cowok yang selalu insist membayar seluruh tagihan itu memang benar kelihatan seksi. Kelihatan gentleman, kelihatan cowok banget! Dan ini bukan cuma pendapat saya saja lho ya. Semua teman perempuan yang pernah saya ajak ngobrol soal topik ini pun sepakat bahwa cowok kelihatan seksi saat memaksa untuk membayar seluruh tagihan kencan. Bukan karena kita matre, tapi mungkin lebih karena naluri perempuan aja kali yah. Sama lah kayak cowok yang senang dimasakin sama ceweknya.

Jadi sudah lah, guys. Jangan terlalu heboh untuk urusan bills. Man up a little bit, okay?

Kenapa Saya Pasang Ringtone Khusus untuk Si Gebetan?

Minggu lalu, saya bukber sama teman-teman dari kantor lama. Setelah bukber, kita lanjut minum kopi di Coffee Bean. Sepanjang malam itu, saya sibuk curhat soal gebetan saya saat ini. Saat sedang asyik ngobrol, hp saya berdering… ada telepon masuk.

Salah satu teman saya berkomentar, “Wah, telepon dari si dia jangan-jangan.”

Saya menggeleng sambil merogoh HP dari dalam tas. “Nggak mungkin dia. Gue udah set ringtone yang beda buat WA dan call dari dia.”

Teman-teman saya malah menertawakan! Kata salah satu dari mereka, “Elo masih kayak anak SMA aja!”

Saya hanya nyengir. Saya punya alasan berbeda di balik ringtone khusus untuk gebetan saya itu. Bukan karena dia istimewa (walau memang dia istimewa buat saya sih), tapi lebih untuk menjaga diri saya agak tidak kecewa.

Apa maksudnya?

Begini… sebelum saya menggunakan ringtone yang berbeda khusus untuk orang yang saya sukai, saya jadi sering harap-harap cemas tiap kali mendengar hp saya berdering baik itu text ataupun call. Saya sering bertanya-tanya, “Dari dia bukan ya?”

Saya akan cepat-cepat meninggalkan apapun yang sedang saya lakukan untuk segera mengecek hp saya itu. Dan bisa ditebak… saat text atau call itu bukan dari si dia, saya akan langsung merasa kecewa.

Nah, untuk melindungi diri saya dari rasa kecewa yang seperti itulah saya pasang ringtone berbeda untuk nomor hp gebetan saya! Sejak itu, saya akan cepat-cepat menghampiri HP hanya saat ringtone khusus dia itu yang berdering, hehehehe.

Jenius kan? ๐Ÿ˜‰

Am I Scared of Ending Up All Alone?

Baru saja ada teman yang bertanya, “Elo pernah takut end up hidup sendiri nggak, Peh?”

Gue langsung menjawab, “Enggak pernah. Gue enggak masalah sendiri, asalkan gue bahagia.”

And I meant it, every single word of it.

Gue emang udah kepengen settle down. Gue ingin punya kesempatan mencintai dan dicintai satu orang yang akan berbagi hidup dengan gue. Gue juga ingin mulai mengurus orang lain selain diri gue sendiri. Gue ingin memulai hidup baru, pembelajaran baru, lika-liku baru dan kebahagiaan yang juga baru.

Tapi, jika pernikahan hanya akan membuat gue lebih banyak menderita daripada bahagianya, lebih baik gue sendiri. Jika menikah sekarang dengan pasangan seadanya hanya akan mendatangkan penyesalan, lebih baik gue menunggu lebih lama sampai gue menemukan orang yang tepat. Dan jika saat itu nyatanya tidak akan pernah kunjung tiba, gue tetap ikhlas… gue akan coba berpikiran positif bahwa memang kesendirian itulah yang terbaik buat hidup gue ini. Nggak papa sendirian, asalkan enggak kesepian.

It’s okay to be alone, but it’s not okay to be lonely.

Lalu bagaimana caranya agar tidak hidup kesepian? Banyak orang mencari kesibukan tapi tetap saja merasa kesepian dalam kesendiriannya.

Caranya gampang saja: nikmati setiap hari dalam hidup ini, hal kecil, hal besar, nikmati dan berbahagia sebanyak yang kita bisa.

Gue menikmati hari-hari sibuk di kantor sama seperti gue menikmati bisa bangun siang di akhir pekan.

Gue menikmati dikelilingi teman-teman dan keluarga sama sepeti gue menikmati me time seharian di mall (bisa nonton, belanja, mani-pedi!).

Gue menikmati membuat analisis keuangan yang complicated sama seperti gue menikmati waktu yang gue habiskan untuk menulis blog ini.

Dan gue menikmati detik demi detik yang gue habiskan dengan si gebetan kesayangan sama seperti gue menikmati waktu bermain dengan ponakan-ponakan cilik gue.

Gue masih menanti hari pernikahan gue, tapi gue tidak perlu menunggu hari besar itu tiba hanya untuk bisa bahagia. Gue akan mulai berbahagia di masa-masa penantian karena buat gue, tidak ada yang namanya timeline hanya untuk bisa merasakan kebahagiaan. Kenapa harus demikian? Supaya kalaupun hari besar itu tidak pernah datang, hidup gue tetap tidak terbuang sia-sia. Gue sudah mencicil kebahagiaan gue sehingga akumulasi kebahagiaan gue itu akan cukup besar untuk menutupi kekecewaan yang mungkin nanti gue rasakan.

Jika kalian tanya gue sekarang, pastilah gue menjawab gue akan sangat bahagia jika gue bisa berakhir sampai pernikahan sama cowok yang sekarang gue sukai, tapi itu kan cuma sekedar keinginan gue. Apa yang gue inginkan belum tentu selaras dengan apa yang gue butuhkan. Dan sekali lagi, jika memang bukan relationship itu yang gue butuhkan untuk saat ini, maka gue lebih memilih untuk ikhlas.

I’ve tried my best, I’ll let God to do the rest.

Saat Jatuh Cinta, Tidak Usah Hitung-hitungan!

Pernah merasa rugi karena kita yang lebih cinta sama gebetan atau sama pasangan kita? Serasa enggak ada timbal balik yang setimpal, berat sebelah, dan lain sebagainya…

Gue pernah. And I’m surprisingly okay with that.

Gue pernah nonton serial TV yang bercerita tentang cowok yang tergila-gila sama cewek yang hanya menganggap dia sebagai “teman baik”.

Cowok ini bilang ke ceweknya, “I love you so much my love is enough for both of us.”

Adegan yang menyentuh hati, hehehehe.

Jangan merasa rugi jika kita mencintai dia melebihi rasa cinta dia ke kita. Jangan pula merasa rugi bahkan di saat sebetulnya, kita hanya bertepuk sebelah tangan saja.

Kenapa?

Karena mencintai itu mengajarkan keberanian. Berani mencintai sama saja berani menerima resiko untuk tersakiti. Kenapa tersakiti? Karena luka yang disebabkan oleh orang yang kita cintai akan terasa jauh lebih menyakitkan ketimbang luka yang disebabkan oleh orang asing. Itulah sebabnya, punya cinta yang lebih besar sama dengan punya keberanian yang juga lebih besar. Jadi kenapa harus merasa rugi?

Tidak perlu dihitung betapa kita lebih mencintai dia daripada sebaliknya. Gue berpikirnya, mencintai dia sebesar itu adalah kemajuan besar buat diri gue sendiri. Gue yang akhirnya mau untuk setidaknya berusaha percaya pada orang lain, percaya pada diri sendiri, dan gue yang memberanikan diri untuk memgambil resiko bahwa semua ini… bisa berakhir dengan menyakiti diri gue sendiri.

I love him way more than whatever he feels about me… and I’m okay with that.