A journey to remember

Archive for the ‘My Days’ Category

Been busy with lots of stuffs going on in my life and now I’m back to this blog! Kali ini gue mau tulis hal-hal yang baru gue coba dan gue langsung suka banget! Siapa tahu bermanfaat buat yang lainnya juga.

  1. The Face Shop cleansing puff. Awalnya gue cuma iseng-iseng beli puff yang warna putih, trus gue ketagihan beli lagi yang warna hitam. Apa bedanya? Nggak jelas juga, tapi gue cara pakenya, putih buat pagi, hitam buat malam (soalnya bekas bedak susah hilang kalau si putih dipake di malam hari setelah gue bersihin make-up). Berkat dua puff ini kulit gue jadi berasa halus dan kenyal! Gue lebih suka pake yang putih karena enak aja dipegangnya, kenyal-kenyal membal di tangan dan di muka, hehehehe;
  2. Listerine Multi Protect mouthwash (botol warna ungu). Biasanya gue pake Listerine yang rasa orange, tapi karena terakhir gue belanja bulanan sedang sold-out, gue cobain si botol ungu ini. Awalnya gue gak suka banget, terasa nggak enak di mulut. Tapi ajaibnya, sekali kumur pake seri yang ini, radang di gusi gue langsung membaik dengan sendirinya! It works like a charm to my gum!
  3. Clinique BB cushion compact. Berawal dari terdampar di Bangkok tanpa bedak, gue terpaksa beli bedak di Sephora terdekat. Awalnya mau beli bedat padat, tapi tergoda pengen coba BB cushion compact yang katanya lebih bagus dari BB cream yang botolan. Gue suka karena teksturnya lebih ringan, terlihat lebih halus, dan nggak bikin jerawatan. Asyiknya lagi, pemakaian spons bikin tangan gue tidak lagi dikotori oleh alas bedak di pagi hari! Kadang kalau kelupaan, bekas bedak di tangan bisa mengotori pakaian gue sendiri. Suka banget deh sama BB cushion gue ini! Jadi penasaran pengen coba BB cushion merk Laneige yang terkenal banget itu!
  4. Snapseed. Gue lagi ketagihan banget edit foto pake apps ini. Fitur “selection” bikin gue bisa edit di bagian-bagian tertentu yang gue inginkan saja, fitur “portrait” bisa bikin model di dalam foto kelihatan lebih menonjol, dan fitur “curves” betul-betul quickfix untuk foto yang bermasalah dengan lighting;
  5. Dum-dum Thai tea. Ini beneran Thai tea paling enak yang pernah gue coba! Gue bisa pesan tiga kali dalam seminggu. Sejak minum ini, Thai tea merk lain yang sebelumnya gue suka banget jadi terasa biasa-biasa aja. Dum-dum ini bahkan terasa lebih enak daripada Thai tea yang betulan gue beli langsung di Thailand, hehehehehe.

Punya sesuatu yang kamu lagi suka banget? Share with me in the comment box!

Advertisements

Bulan September tahun ini benar-benar bikin gue ngerasa excited! Bakalan capek, tapi capek dalam artian yang positif!

Ini agenda lengkapnya!

1 September: Idul Adha. Senang meskipun tahun ini keuangan gue sedang sangat ketat, gue bersyukur masih bisa berpartisipasi. Senang juga karena jadi dapat long weekend dan kerja cuma 4 hari aja, hehehehehe.

2 September: The first ever The Lens Story photo session! Tujuannya memang hanya untuk membangun portfolio, tapi gue tetap senang! Peran gue? Director merangkap stylist merangkap model, hehehehe.

5-8 September: Lazada Summit di Bangkok. Kerja kantoran cuma sehari aja! Big yaay! πŸ˜€

9-12 September: Bali trip with my friends! Udah kebayang akan banyak foto baru buat dipajang di Instagram gue, hehehehe.

17 September: the second photoshoot for The Lens Story portfolio πŸ˜‰

21-22 September: Lazada finance team outing trip. Excited karena tahun ini panitianya tim gue sendiri! I just know that we’re gonna rock it!

See? September this year is gonna be awesome!

Awalnya, minggu ini benar-benar minggu yang melelahkan. Ngebut bikin report bulanan karena akan ada business trip 3 hari di Bali, berangkat ke Bali dalam keadaan belum tidur (I was awake for more than 24 hours!), sampai harus menahan kantuk selama workshop berlangsung di Bali.

Awalnya workshop itu terasa membosankan buat gue, tapi lama kelamaan gue mulai enjoy! Ada juga hal-hal menyenangkan lainnya di akhir minggu yang membuat gue puas banget dengan satu minggu yang gue lewati.

Ini daftar lengkapnya!

  1. Ketemu sama teman-teman baru dari ventures lain (Lazada di negara lain). Bangga rasanya saat tahu tim gue di Indonesia sudah dua-tiga langkah lebih maju dibanding tim Finance di negara lainnya!
  2. Workshop break selama dua jam dan kita curi-curi waktu buat spa bareng! Pergi spa bareng tim FP&A dari negara lain sambil cerita banyak soal hobi kita masing-masing. Meskipun hasil mani pedi-nya mengecewakan, gue tetap senang!
  3. Mbak-mbak di spa (tiga orang sekaligus) mengira umur gue masih 21-23 tahun saja doong. It’s so flattering, hehehehe;
  4. The foot massages were so good! Pas banget ngilangin capek dan pegal di kaki gue ini. Sayang pewarnaan kuteksnya benar-benar berantakan;
  5. Kumpul bareng di pinggir kolam renang hotel sambil curhat soal beban pekerjaan masing-masing. Ternyata semua orang dari negara yang berbeda-beda punya “penderitaan” yang sama dengan tim gue. Good to know that I’m not the only one!
  6. Pergi shopping bareng adek gue, beli kelengkapan wardrobe untuk photoshoot The Lens Story yang pertama kalinya!
  7. Rapihin alis lalu mampir ke nail salon buat memperbaiki hasil meni-pedi di Bali yang kacau balau itu. And I really my new nail colors! They’re gonna look stunning in the photoshoot next week!

I have a lot of plans for September and I know it’s going to be a lot of fun! September, bring it on!

Awalnya gue bertekad akhir pekan kali ini akan gue habiskan untuk review beberapa quotation yang gue terima untuk web development bisnis gue sendiri. Setelah bolak-balik merevisi blueprint, gue harap gue tidak perlu bolak-balik ganti developer juga. Quotation dan juga PKS nantinya betul-betul harus diperhatikan baik-baik!

Selain urus quotation, ada beberapa technical cost yang ingin gue masukkan ke dalam budget. Rencananya, mau mulai cari-cari di Google dulu. Pokoknya weekend ini harus produktif! Ini dia resiko kerja kantoran sambil membangun bisnis sendiri: cuma bisa fokus urus bisnis sendiri di akhir pekan saja.

Ternyata oh ternyataa… sepanjang weekend akses data XL sedang bermasalah! Wi-fi di rumah juga sedang bermasalah! Butuh waktu hampir satu jam hanya untuk donwload lampiran dari e-mail, 1 jam untuk transfer data ke adek gue via WA, 15 menit untuk Google menampilkan hasil pencarian (itupun setelah klik “refresh” berkali-kali), dan belasan menit lainnya untuk menampilkan satu halaman website yang diberikan Google!

I really wanted to scream and cry 😦 *lebay πŸ˜€

Hari ini gue jadi sadar betapa ketergantungannya gue dengan teknologi. Untuk sekedar menghitung berapa banyak foto yang bisa gue tampung (dengan asumsi satu foto ukurannya 5MB) jika gue hanya menyewa server dengan kapasitas 20 GB saja gue perlu bantuan Google dooong. Hapalan gue sudah menguap entah ke mana.

Lalu gue benar-benar frustasi gagal Googling untuk mengumpulkan kontak calon vendor untuk urusan lain-lainnya. Kalau bukan dari Google, dari mana lagi? Gue udah lama banget enggak lagi simpan Yellow Pages di rumah 😦

Belum lagi istilah-istilah teknis di quotation yang tidak gue pahami. Gue kan cuma lulusan accounting, bukan computerized accounting 😦 Frustasi, terpaksa gue tanya aja sama adek gue yang lulusan IT. Gue lalu jadi teringat buku RPAL dan setumpuk buku pelajaran lainnya yang dulu rajin gue buka untuk cari info ini-itu… Buku-buku yang sudah tergantikan mesin pencari Google.

Di satu sisi, hari ini gue merasakan dampak jelek dari teknologi: tidak ada koneksi, tidak ada informasi yang gue dapatkan. Tapi di sisi lain, gue juga jadi mensyukuri perkembangan teknologi akhir-akhir ini.

Mesin pencari Google lebih unggul bukan hanya dari segi kepraktisan saja, tapi juga kelengkapan informasinya. Saat cari vendor, bukan hanya nomor telepon yang gue dapatkan, tapi juga bisa langsung lihat hasil karya dan hasil review dari orang lain yang pernah menggunakan jasa mereka. Tetap harus selektif memilih informasi, tapi setidaknya, informasi yang gue butuhkan ada di sana. Ini dia satu hal penting yang tidak ditawarkan oleh Yellow Pages.

Kemudian soal websites yang mulai menggantikan buku-buku… Ini juga ada sisi positifnya: membuat ilmu pengetahuan jadi lebih terjangkau. Bayangkan jika gue harus membeli 10 buku yang gue butuhkan untuk membantu gue membangunΒ bisnis gue sendiri misalnya. Berapa banyak uang yang harus gue keluarkan? Padahal informasi yang gue butuhkan tidak akan sampai beratus-ratus halaman… Gue hanya perlu beberapa informasi yang mungkin tersebar dalam banyak judul buku. Gue toh, akan hire orang lain untuk buat website-nya, notaris untuk urus perijinan, PH untuk bikin video, dan masih banyak lagi yang pada intinya, tidak relevan untuk gue baca semua isi buku yang terkait dengan masing-masing topik.

Lalu bagaimana soal teknologi yang membantu gue untuk urusan matematika? Aduh, itu udah susah! Dari dulu gue emang enggak jago matematika, hehehehe. Tapi ini beneran. Gue bahkan baru belajar aljabar saat kuliah semester dua atau tiga. Gue masih takjub dulu gue bisa lulus dari SMP dan SMA tanpa ngerti apa itu aljabar, apalagi sin cos tan dan kawan-kawannya, hehehehe. Ini juga alasan kenapa gue bukan cuma lumayan jago pakai Ms. Excel, tapi juga mulai belajar sedikit-sedikit soalΒ database query: untuk mengatasi keterbatasan gue dalam urusan angka. Gue enggak perlu coding sendiri, tapi setidaknya, gue perlu tahu apa yang SQL script bisa lakukan untuk membantu gue menyelesaikan pekerjaan gue di kantor. Dan sekali lagi, gue berterima kasih pada kemajuan teknologi beserta orang-orang jenius yang menciptakannya!

Jadi kesimpulannya, apa rasanya hidup 2 hari tanpa proper internet? Three words: never again, please!

 

 

Awalnya gue bertekad akhir pekan kali ini akan gue habiskan untuk review beberapa quotation yang gue terima untuk web development bisnis gue sendiri. Setelah bolak-balik merevisi blueprint, gue harap gue tidak perlu bolak-balik ganti developer juga. Quotation dan juga PKS nantinya betul-betul harus diperhatikan baik-baik! 

Selain urus quotation, ada beberapa technical cost yang ingin gue masukkan ke dalam budget. Rencananya, mau mulai cari-cari di Google dulu. Pokoknya weekend ini harus produktif! Ini dia resiko kerja kantoran sambil membangun bisnis sendiri: cuma bisa fokus urus bisnis sendiri di akhir pekan saja.

Ternyata oh ternyataa… sepanjang weekend akses data XL sedang bermasalah! Wi-fi di rumah juga sedang bermasalah! Butuh waktu hampir satu jam hanya untuk donwload lampiran dari e-mail, 1 jam untuk transfer data ke adek gue via WA, 15 menit untuk Google menampilkan hasil pencarian (itupun setelah klik “refresh” berkali-kali), dan belasan menit lainnya untuk menampilkan satu halaman website yang diberikan Google!

I really wanted to scream and cry 😦 *lebay πŸ˜€

Hari ini gue jadi sadar betapa ketergantungannya gue dengan teknologi. Untuk sekedar menghitung berapa banyak foto yang bisa gue tampung (dengan asumsi satu foto ukurannya 5MB) jika gue hanya menyewa server dengan kapasitas 20 GB saja gue perlu bantuan Google dooong. Hapalan gue sudah menguap entah ke mana.

Lalu gue benar-benar frustasi gagal Googling untuk mengumpulkan kontak calon vendor untuk urusan lain-lainnya. Kalau bukan dari Google, dari mana lagi? Gue udah lama banget enggak lagi simpan Yellow Pages di rumah 😦

Belum lagi istilah-istilah teknis di quotation yang tidak gue pahami. Gue kan cuma lulusan accounting, bukan computerized accounting 😦 Frustasi, terpaksa gue tanya aja sama adek gue yang lulusan IT. Gue lalu jadi teringag buku RPAL dan setumpuk buku pelajaran lainnya yang dulu rajin gue buka untuk cari info ini-itu… Buku-buku yang sudah tergantikan mesin pencari Google.

Di satu sisi, hari ini gue merasakan dampak jelek dari teknologi: tidak ada koneksi, tidak ada informasi yang gue dapatkan. Tapi di sisi lain, gue juga jadi mensyukuri perkembangan teknologi akhir-akhir ini. 

Mesin pencari Google lebih unggul bukan hanya dari segi kepraktisan saja, tapi juga kelengkapan informasinya. Saat cari vendor, bukan hanya nomor telepon yang gue dapatkan, tapi juga busa langsung lihat hasil karya dan hasil review dari orang lain yang pernah menggunakan jasa mereka. Tetap harus selektif memilih informasi, tapi setidaknya, informasi yang gue butuhkan ada di sana. Ini dia satu hal penting yang tidak ditawarkan oleh Yellow Pages.

Kemudian soal websites yang mulai menggantikan buku-buku… Ini juga ada sisi positifnya: membuat ilmu pengetahuan jadi lebih terjangkau. Bayangkan jika gue harus membeli 10 buku yang gue butuhkan untuk membantu gue membuat website gue sendiri misalnya. Berapa banyak uang yang harus gue keluarkan? Padahal informasi yang gue butuhkan tidak perlu sampai beratus-ratus halaman… Gue hanya perlu beberapa informasi yang mungkin tersebar dalam banyak judul buku. Gue toh, akan hire orang lain untuk buat website-nya, tidak relevan untuk gue baca semua isi bukunya.

Lalu bagaimana soal teknologi yang membantu gue untuk urusan matematika? Aduh, itu udah susah! Dari dulu gue emang enggak jago matematika, hehehehe. Tapi ini beneran. Gue bahkan baru belajar aljabar saat kuliah semester dua atau tiga. Gue masih takjub dulu gue bisa lulus dari SMP dan SMA tanpa ngerti apa itu aljabar, apalagi sin cos tan dan kawan-kawannya, hehehehe. Ini juga alasan kenapa gue bukan cuma lumayan jago pakai Ms. Excel, tapi juga mulai belajar sedikit-sedikit soal database query: untuk mengatasi keterbatasan gue dalam urusan angka. Gue enggak perlu coding sendiri, tapi setidaknya, gue perlu tahu apa yang SQL script bisa lakukan untuk membantu gue menyelesaikan pekerjaan gue di kantor. Dan sekali lagi, gue berterima kasih pada kemajuan teknologi beserta orang-orang jenius yang menciptakannya!

Jadi kesimpulannya, apa rasanya hidup 2 hari tanpa proper internet? Three words: never again, please!

Ceritanya hari ini gue sakit (lagi). Berawal dari flu, pagi ini kepala gue rasanya sakit banget. Gue sahur hanya seadanya, kembali tidur, dan saat bangun, kepala gue malah terasa lebih sakit dibanding sebelumnya. Mau minum paracetamol tapi sudah lewat waktu sahur. Jadilah gue ijin sakit untuk hari ini dan hanya berbaring lemas di atas tempat tidur.

Sekitar jam 3 sore, gue mulai bosan. Iseng-iseng gue Whatsapp sahabat gue di kantor sebelumnya. Gue bilang gue bosan karena hanya istirahat seharian di kosan saja. Teman gue ini lalu bilang begini, “Gue ke kosanlo deh. Gue bawain dokter sekalian, hehe.”

Awalnya gue kira dia cuma bercanda, tapi benar saja, sore menjelang buka puasa, teman gue ini muncul di depan kosan. Dia lalu menyodorkan sesuatu dari dalam ras ranselnya, “Ini gue bawain dokter kesukaanlo.”

Tahu apa yang dia bawa? DVD Grey’s Anatomy season 13! Teman gue ini emang tahu banget kalo gue penggemar berat Grey’s Anatomy sejak serial ini baru mulai tayang bertahun-tahun yang lalu. Senang rasanya punya teman yang sangat thoughtful seperti dia!


Hal ini mengingatkan gue dengan acara bukber dengan sahabat-sahabat dari bangku SMA hari Minggu yang lalu. We’ve been friends for sixteen years! It’s amazing, isn’t it?

Gue dan gank gue saat SMA itu punya kepribadian yang sangat bertolak belakang. Satu orang yang sangat humoris, satu orang yang sangat tomboy, satu orang yang sangat pendiam, satu orang yang sangat cerewet, ditambah dengan gue, si judes yang gila kerja, hehehehe. 

Gue dan keempat orang itu udah melewati banyak hal selama enam belas tahun belakangan. Ada up and down, ada jarak dan kesibukan yang memisahkan, tapi gue bersyukur, sangat-sangat bersyukur, gue dan mereka masih saling meluangkan waktu untuk sekedar bertukar kabar. I really can’t wait for our next trip to Bali September this year!

Selain mereka berlima, masih ada lagi sahabat yang sudah gue kenal dari bangku SMP. Dari bangku kuliah. Dan dari kantor pertama gue juga. Gue senang di mana pun gue berada, selalu ada sahabat baik yang menemani perjalanan hidup gue. 

I don’t have a thousand friends, but I do have a couple of the GREATEST friends on earth. And I cannot ask for more.

Entah kenapa, dua minggu belakangan ini gue sedang malas-malasnya pergi keluar rumah. Badan gue rasanya luar biasa pegal dan capek banget! Belum pernah tempat tidur gue terasa sampai sebegitu nyamannya. Bantal terasa lebih empuk, selimut lebih lembut, sampai AC yang temperaturnya tidak bisa diatur itu mendadak terasa pas untuk menemani gue tetap tidur di akhir pekan. 

Masalahnya cuma satu: gue kehabisan bedak padat. Sudah 2 weekends plus 1 hari libur nasional terlewati, gue masih saja belum menyempatkan diri pergi ke Grand Indonesia; mall terdekat yang menjual bedak gue itu. 

Gue mulai bingung. Hari Rabu minggu ini gue berangkat ke Vietnam untuk urusan pekerjaan. Apa jadinya gue pergi tanpa bedak? Tapi tetap saja, pikiran harus meninggalkan kasur hanya untuk pergi beli bedak terasa bukan ide yang menyenangkan. Pikir gue, “Minggu ini akan bikin capek banget! Harus submit beberapa reports sebelum pergi ke Vietnam dan selama di sana, pagi sampai sore ikut summit, lalu malamnya pasti harus kerja di hotel untuk handle urusan di Jakarta sini. Pulang dari Vietnam hari Minggu sore dan besoknya harus kerja lagi!”

Lihat kan? Lebih baik gue tetap tidur di rumah saja! Lalu bagaimana dengan bedak gue? Ah… Beli pakai aplikasi Gojek saja!

Awalnya gue ragu-ragu mau beli bedak pakai fitur Go-Shop. Cash di dompet hanya ada dua ratus ribu sedangkan harga bedak gue bisa lebih dari lima ratus ribu. Bisa pakai Go-Pay, tapi masalahnya, jarang ada driver yang mau ambil order Go-Pay dengan nilai sampai setinggi itu. Tapi ya gue coba saja dulu. Sambil tunggu aplikasi Gojek cari driver-nya, sambil gue menyusun back-up plan jika sampai tidak ada driver yang bersedia ambil order gue. Tapi ternyataa, tidak butuh waktu lama sampai ada driver yang ambil order gue!

Gue sempat khawatir si driver ini akan cancel order gue. Udah lima menit lebih tidak ada SMS atau telepon dari si driver. Jadi ya sudah. Gue SMS dia duluan untuk menjelaskan lokasi toko kosmetiknya. Nggak lama si driver telepon dan meminta gue untuk konfirmasi warna bedak langsung ke SPG-nya. Tidak sampai setengah jam kemudian, bedak gue sudah tiba di kosan! Persis sesuai pesanan yang gue tulis di aplikasinya.

Beres urusan bedak seperti mengingatkan gue betapa gue mulai sangat tergantung dengan aplikasi ini. Jalanan macet dan malas naik taksi, gue tinggal pesan Go-Ride. Malas ke salon untuk potong rambut, gue pesan Go-Glam. Shampo yang baru gue beli ketinggalan di rumah nyokap, gue ambil pakai Go-Send. Dan yang paling sering, malas keluar cari makan, gue pesan pakai Go-Food saja! Berkat Go-Food, gue jadi lebih banyak makan daripada sebelumnya! Banyak pilihan yang bisa gue coba setiap harinya! Walau anehnya, badan gue tetap saja kurus seperti biasanya sih. 😐

Selain fitur yang sudah pernah gue coba, gue masih pengen coba Go-Massage. Pengen cobain hot stone massage-nya. Lalu kapan-kapan mau coba make-up plus hijab styling-nya juga! Trus nanti pas Lebaran, mau coba pesan Go-Clean juga. Gojek sudah sangat lengkap buat gue, kecuali untuk urusan alis; masih belum ada jasa eyebrow wax atau threading di menu Go-Glam-nya. Gojek, please hear me out!

Saking terkesannya sama Gojek, gue iseng-iseng Googling si Nadiem Makarim dan berakhir di Instagram-nya. Cuma sedikit foto, entah benar punya dia atau bukan, yang sudah dihujani komentar dari unhappy customers dan bahkan, banyak juga komentar dari unhappy drivers!

Emang sih, gue enggak kerja di Gojek. Tapi gue bisa memahami sulitnya menjalankan online business skala besar. Semakin banyak transaksinya, semakin canggih fitur yang ditawarkan, semakin tinggi pula potensi terjadinya system error. Not an excuse, but understandable. Gue percaya Gojek tidak berniat menelan dana Go-Pay nasabah yang gagal top-up, gue yakin itu hanya system glitch saja. Perusahaan tempat gue bekerja juga terkadang bisa terlambat melakukan refund, tapi hal itu betul-betul bukan sesuatu yang disengaja, bukan pula dilakukan untuk cari untung dengan mengambil dana milik customers. It’s not easy to run an e-commerce, but it’s fun!

Balik ke Gojek, gue senang dan merasa sangat terbantu dengan aplikasi ini. Tarifnya juga bersahabat, sangat bersahabat, sehingga kadang gue penasaran, “Kalau tarifnya terus serendah ini, gimana kalau suatu saat nanti Gojek sudah tidak lagi mendapatkan suntikan dana? Bagaimana cara mereka bisa survive? Oh, well… I guess that is Gojek’s homework! πŸ˜‰

Berkat Gojek, hari ini gue bisa santai-santai seharian. Makan, tidur, makan lagi. Nonton TV kabel, ketawa-tawa sendirian, sambil makan lagi πŸ˜€ Ada banyak definisi hari yang menyenangkan, dan hari ini salah satunya. And I thank Gojek for this! Hehehehe.

Great job, Gojek! Keep it up!


My Blog Counter

  • 900,232 visits since May 2011

My Blog Categories

My Blog Archives

Click here to read my tweets…

Click the pictures below to visit my Instagram...

The beauty of diversity. I'm glad that I met them along my career path at Lazada. Just a little help like this could mean everything to me and The Lens Story. Many thanks! ❀️
πŸ“·: @thelenstory πŸ‘š: @adidaswomen πŸ‘•: @nike 
#friends #friendshipgoals #diversity #photography #photooftheday #canon #snapseed #thelenstory Find someone who loves you properly.
The one who never intentionally let you wait for him.
The one who never makes you have to wonder how he truly feels about you.
The one who will definitely catch you and hold you tight as you fall for him.
The one who gives you all he has to be a better man, to fix what goes wrong, to fight for you and to never let you go.
You are too old for another Mr. Wrong, reward yourself with the right one.
Love yourself enough to leave your past, you deserve better.
πŸ“·: @thelenstory
πŸ’„: @yuficarolin.mua
πŸ‘—: @calla.atelier
πŸ‘ : @charleskeithofficial 
#love #life #quote #photography #photooftheday #thelenstory I'm not perfect. I make mistakes. I do the things I'm not proud of. I give up, sometimes. I hurt people, mostly the ones that I actually care about. I have a lot of flaws, but at least, I'm trying hard to be a better person. I'm no saint nor angel, but I'm not a pure evil either. I'm simply a human who is trying to be the very best that I can be. I'll never stop learning, until my very last breath.
πŸ“· @thelenstory
πŸ’„ @yuficarolin.mua
πŸ‘— @calla.atelier
πŸ‘  @charleskeithofficial
#photooftheday #beauty #photography #quote #thelenstory

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

About Me

What my blog is all about? It's all about my life; my very own fairy tale, that I would love to share. This is my story, my ups and downs, it's a journey to remember.