Confession of a Workaholic

Hari ini, gue cerita ke salah satu teammate di kantor soal obrolan gue dengan dokter internis tadi malam.

Dokter: Sering telat makan?

Gue: Sering.

Dokter: Kenapa?

Gue: Kerja.

Dokter: Sering stres?

Gue: Sering.

Dokter: Kenapa?

Gue: Kerja.

Dokter: Istirahat cukup?

Gue: Enggak. Tidur sehari kira-kira cuma 5 jam aja.

Dokter: Kenapa?

Gue: Kerja juga.

Mendengar cerita itu, teman gue tertawa kecil. Dia lalu bilang, “Ini persis yang waktu itu elo ceritain, Mbak. Problem elo besar, tapi happiness lo juga besar.”

Gue mengerutkan dahi. “Oh? Gue pernah bilang begitu ke elo ya?”

Teman gue mengangguk. “Iya. Waktu itu elo bilang, problem score elo 9 dari 10, tapi happiness score elo juga 9 dari 10.”

Gue tersenyum dalam hati. Memang persis itu yang gue bilang ke dia beberapa bulan yang lalu. Dan persis seperti itu pula yang gue rasakan selama 10 tahun belakangan ini. Selama 10 tahun; sejak gue mulai meniti karier gue.

Banyak orang yang mengasihani workaholic seperti gue. Nggak punya kehidupan di luar dinding kantor, katanya. Sering lembur, kerja sampai sakit-sakitan, masih jomblo pula! Tapi sejujurnya, gue enggak merasa perlu dikasihani. Karier gue telah memberikan gue begitu banyak hal yang tidak pernah gue dapatkan sebelumnya.

Apa saja?

Yang pertama, teman-teman terbaik sepanjang masa. Teman yang datang menjenguk ke kosan saat gue tengah sakit sambil membawakan DVD kesukaan, teman yang mengirimkan hadiah ke kantor baru gue untuk merayakan pertemanan kita yang sudah menginjak 7 tahun lamanya, dan teman-teman yang ikut sedih saat gue sedih, ikut bahagia saat gue bahagia. Tidak pernah ada teman-teman yang begitu menginginkan happy ending buat gue melebihi teman-teman yang gue temui di dunia kerja.

Masih ada juga bos-bos yang luar biasa. Bos yang percaya pada kemampuan gue di saat gue berpikir gue bukan siapa-siapa. Bos yang memberikan lebih dari yang kiranya berhak gue dapatkan. Bos yang memperhatikan wellbeing gue sampai ke hal yang paling kecil sekecil-kecilnya. Bos yang membuat gue merasa sudah menjadi pribadi yang utuh, yang membuat gue pelan-pelan mulai menyadari value dalam diri gue sendiri. Bos luar biasa yang tanpa mereka, gue mungkin bukan siapa-siapa.

Kemudian ilmu dan pengalaman yang membuat gue merasa “kaya raya”. Gue seringkali merasa telah belajar lebih banyak di dunia kerja ketimbang belajar di bangku sekolah sampai kuliah dulu. Senang banget rasanya jika gue bisa membagi ilmu gue ini kepada orang lain (seperti yang tadi gue bilang; gue jadi merasa kaya raya!). Dan pengalaman seperti itu tuh rasanya sangat menyenangkan! Gue enggak akan pernah merasakan betapa fulfilling-nya perasaan bahwa gue ini bisa berguna buat orang lain jika bukan karena pekerjaan gue 10 tahun belakangan ini.

Dan yang terakhir, karier gue ini juga yang kemudian mewujudkan mimpi-mimpi gue yang lainnya. Mulai dari lihat bunga sakura di Jepang, menginap di cave house di Santorini, sampai masuk ke dalam ice cave dan melihat aurora di Iceland. Jangankan itu semua deh. Sekedar tempat tinggal yang nyaman saja gue sudah sangat bersyukur! Gue juga masih bisa beli baju, tas, sepatu, dan apapun yang dulu cuma bisa gue lihat di halaman majalah saja.

Di balik segala hal yang menyenangkan dari karier gue ini, perjuangannya memang tidak mudah. Makin ke sini, pekerjaan gue terasa makin sulit dan banyak rintangannya. Semakin susah untuk sekedar bisa tidur nyenyak dan makan tepat waktu. Bukan sesuatu yang gue banggakan, tapi juga bukan sesuatu yang gue sesali.

My life is hard, my job is hard, but I’ve been having a lot of fun along my way.

Kalaupun gue bisa memutar balik waktu, gue tidak akan mengubah pilihan karier gue. Gue akan tetap memulai karier di Accurate walaupun itu bikin skripsi gue hanya bisa selesai “ala kadarnya”. Gue akan tetap memilih EY yang terkenal dengan jam lemburnya (pekerjaan yang kemudian memberikan gue penyakit lambung). Gue akan tetap memilih Niro, Lazada, dan Go-jek Group lengkap dengan segala suka-dukanya. Memang sulit dan terkadang menguras air mata, tapi gue sangat mensyukurinya! Entah apa jadinya jalan hidup gue tanpa rentetan pekerjaan gue itu…

I am not who I am without my long nights at work… and I have nothing to regret. And that my friend… a confession of a workaholic.

The Ones Who Are Hopeful of My Happy Ending

I don’t know why, but there were two colleagues in two separated occasions today happened to tell me how they were hoping for my “happy ending”.

The first one told me that he was optimistic that I was going to meet someone I had been looking for. I’d find someone who could make me want to settle down. He said that, “If there is someone who is appealing to you, I’m sure that guy is super cool!”

Later in that conversation I told him, “But that guy doesn’t even exist.”

He replied, “I’m positive. I’ll look forward to meeting him, no matter who he is.”

A few hours later, another friend told me, “I really hope not only you succeed with your career, but also in your love life. That will be your ultimate happiness in life, you know. I hope you two find your way. I’ll be happy when you are.”

It really touched me to hear all that! I often think that many people are unhappy seeing me going well with my life. Me being single is the only pleasure for these haters and it could really hurt sometimes. Knowing that I still have these two friends and a few others who are rooting for my happy ending is somewhat unexpected to me. These people are hard to find but I’m lucky enough to have some along my way. It really makes me wonder what I did so well I deserve all this!

And you know what… it brings me hopes, somehow. It makes me want to believe again that I will too, have my happy ending. Yeah I know it’s not going to be as beautiful as it might seem, but you know… having someone to share my life with, the one who loves me more than anyone else on earth, the one who takes me with all I have and all my flaws… that would be nice to have. But then if I think about it… having people who truly believe in all that feels very nice too! Not only they always have my back when others want to bring me down, they also sincerely wish a happier life for me to live in. It’s lovely, isn’t it?

This is one of the times when I find myself that even though I don’t have everything that other people might have, I also have so many things that other people might never have. And to this, I’m beyond grateful.

What Makes Jakarta’s MRT So Special to Me?

It was not my first time taking MRT, but it was my first time taking Indonesian modern trains. The last memory I have in mind about Indonesian train was an economy train from Jakarta to Depok around 15 years ago. Getting back on Jakarta’s train and seeing such a beautiful train station with modern technology (exactly like what I saw in other countries) was just mind blowing to me. It might be nothing for someone else from other country, but to me, it’s a huge step forward for Indonesia!

Apart from the train itself, taking that train has made my nephew got really excited. He’s a big fan of train and he often told me how he wanted Indonesia to have the same train as he used to take in Singapore. Even my little niece and my other baby nephew were as excited as their older brother! Seeing them jumping around, running here and there, playing with the handhelds, or simply sitting by the windows and looking out to the scenery, all that has really made my day! I’m happy when they’re happy and it was one of the moments I find it’s so true when people say that happiness comes from the little things.

And one more thing. Other than my nephews and niece, my sister also took her kids’ sitter with us. And I never saw her that happy in the past 2 years since she started working for my family. She was so excited during the whole trip and she got more excited when she saw Bundaran HI for the first time! She politely asked my sister to take some pictures of her. We also then took a few pictures together and I told her, “Oh wow, now we all look like a tourist here, hehehehe.”

This MRT trip today has added one more reason for me to feel grateful of my life. I never thought that an MRT train experience could mean that big to someone else. My life has taken me to so many things that other people might have never seen, and I’m beyond thankful for that. I’m thankful of the little things as much as I’m thankful of the biggest ones. And I cannot ask for more.

Provokator ala Asia’s Next Top Model

Ada sesuatu yang cukup menarik di episode terbaru Asia’s Next Top Model. Ceritanya para kontestan ini sedang mengadakan girls’ night di Model House mereka. Sambil makan malam, mereka mulai bertukar pikiran satu sama lainnya. Acara buka-bukaan gitu lah ceritanya. Saat itulah salah satu kontestan bernama Mia diminta oleh para kontestan lainnya untuk bersikap lebih terbuka. Mereka ingin Mia bisa bicara terus terang tanpa di-filter sama sekali.

Sayangnya, Mia terpancing. Dia buka-bukaan soal rasa tidak suka dia dengan perilaku kontestan lain bernama Han yang dia nilai sangat sering mengeluh (Han saat itu duduk persis di depan Mia). Han yang biasanya paling kalem tiba-tiba langsung terpancing amarahnya! Dia tidak terima dengan kejujuran yang diutarakan Mia.

Lalu apa yang dilakukan kontestan lainnya? Saat diwawancara perorangan, beberapa kontestan lainnya mengaku senang melihat Mia dimarahi oleh Han! Mereka sampai cekikikan saking senangnya! Lalu yang lebih konyol lagi, setelah Han sadar sudah terlalu galak, dia minta maaf pada Mia dan cewek-cewek lainnya lalu berujar, “No hate, love only!”

Oh, wow! Provokatif banget nggak sih? Sengaja memancing drama lalu saat situasi memanas, mereka malah memunculkan diri sebagai pahlawan kesiangan! Seolah-olah mereka yang paling benar, bertingkah selayaknya pembawa kedamaian… No hate love only, they said? Oh, come on!

Emang sih, bisa jadi drama ala Next Top Model ini hanya gimmick yang sudah disiapkan sejak awal. Tapi sebetulnya ya, hal seperti ini memang lazim terjadi di kehidupan sehari-hari lho. Ada orang yang sengaja mengorek-ngorek, memanas-manasi, berusaha mengadu domba kita dengan orang lain yang mereka targetkan. Kemudian saat akhirnya kita terpancing dan betulan marah, mereka malah akan bersikap sok lugu seperti malaikat dengan bilang, “Udah jangan gitu, biarin aja. Yang sabar ya…”

Dan ironisnya, yang kebanyakan bersikap provokatif model begini ya sesama perempuan juga.

Gue jadi ingat waktu kuliah dulu, ada salah satu teman cewek yang lebih menyukai berteman dengan cowok hanya karena menurut dia, cewek itu banyak dramanya. Episode Asia’s Next Top Model yang baru gue tonton itu bikin gue jadi berpikiran, “She was so damn right!”

My New “Discoveries”

Been busy with lots of stuffs going on in my life and now I’m back to this blog! Kali ini gue mau tulis hal-hal yang baru gue coba dan gue langsung suka banget! Siapa tahu bermanfaat buat yang lainnya juga.

  1. The Face Shop cleansing puff. Awalnya gue cuma iseng-iseng beli puff yang warna putih, trus gue ketagihan beli lagi yang warna hitam. Apa bedanya? Nggak jelas juga, tapi gue cara pakenya, putih buat pagi, hitam buat malam (soalnya bekas bedak susah hilang kalau si putih dipake di malam hari setelah gue bersihin make-up). Berkat dua puff ini kulit gue jadi berasa halus dan kenyal! Gue lebih suka pake yang putih karena enak aja dipegangnya, kenyal-kenyal membal di tangan dan di muka, hehehehe;
  2. Listerine Multi Protect mouthwash (botol warna ungu). Biasanya gue pake Listerine yang rasa orange, tapi karena terakhir gue belanja bulanan sedang sold-out, gue cobain si botol ungu ini. Awalnya gue gak suka banget, terasa nggak enak di mulut. Tapi ajaibnya, sekali kumur pake seri yang ini, radang di gusi gue langsung membaik dengan sendirinya! It works like a charm to my gum!
  3. Clinique BB cushion compact. Berawal dari terdampar di Bangkok tanpa bedak, gue terpaksa beli bedak di Sephora terdekat. Awalnya mau beli bedat padat, tapi tergoda pengen coba BB cushion compact yang katanya lebih bagus dari BB cream yang botolan. Gue suka karena teksturnya lebih ringan, terlihat lebih halus, dan nggak bikin jerawatan. Asyiknya lagi, pemakaian spons bikin tangan gue tidak lagi dikotori oleh alas bedak di pagi hari! Kadang kalau kelupaan, bekas bedak di tangan bisa mengotori pakaian gue sendiri. Suka banget deh sama BB cushion gue ini! Jadi penasaran pengen coba BB cushion merk Laneige yang terkenal banget itu!
  4. Snapseed. Gue lagi ketagihan banget edit foto pake apps ini. Fitur “selection” bikin gue bisa edit di bagian-bagian tertentu yang gue inginkan saja, fitur “portrait” bisa bikin model di dalam foto kelihatan lebih menonjol, dan fitur “curves” betul-betul quickfix untuk foto yang bermasalah dengan lighting;
  5. Dum-dum Thai tea. Ini beneran Thai tea paling enak yang pernah gue coba! Gue bisa pesan tiga kali dalam seminggu. Sejak minum ini, Thai tea merk lain yang sebelumnya gue suka banget jadi terasa biasa-biasa aja. Dum-dum ini bahkan terasa lebih enak daripada Thai tea yang betulan gue beli langsung di Thailand, hehehehehe.

Punya sesuatu yang kamu lagi suka banget? Share with me in the comment box!

September, Please Come Soon!

Bulan September tahun ini benar-benar bikin gue ngerasa excited! Bakalan capek, tapi capek dalam artian yang positif!

Ini agenda lengkapnya!

1 September: Idul Adha. Senang meskipun tahun ini keuangan gue sedang sangat ketat, gue bersyukur masih bisa berpartisipasi. Senang juga karena jadi dapat long weekend dan kerja cuma 4 hari aja, hehehehehe.

2 September: The first ever The Lens Story photo session! Tujuannya memang hanya untuk membangun portfolio, tapi gue tetap senang! Peran gue? Director merangkap stylist merangkap model, hehehehe.

5-8 September: Lazada Summit di Bangkok. Kerja kantoran cuma sehari aja! Big yaay! 😀

9-12 September: Bali trip with my friends! Udah kebayang akan banyak foto baru buat dipajang di Instagram gue, hehehehe.

17 September: the second photoshoot for The Lens Story portfolio 😉

21-22 September: Lazada finance team outing trip. Excited karena tahun ini panitianya tim gue sendiri! I just know that we’re gonna rock it!

See? September this year is gonna be awesome!

Fun Things this Week

Awalnya, minggu ini benar-benar minggu yang melelahkan. Ngebut bikin report bulanan karena akan ada business trip 3 hari di Bali, berangkat ke Bali dalam keadaan belum tidur (I was awake for more than 24 hours!), sampai harus menahan kantuk selama workshop berlangsung di Bali.

Awalnya workshop itu terasa membosankan buat gue, tapi lama kelamaan gue mulai enjoy! Ada juga hal-hal menyenangkan lainnya di akhir minggu yang membuat gue puas banget dengan satu minggu yang gue lewati.

Ini daftar lengkapnya!

  1. Ketemu sama teman-teman baru dari ventures lain (Lazada di negara lain). Bangga rasanya saat tahu tim gue di Indonesia sudah dua-tiga langkah lebih maju dibanding tim Finance di negara lainnya!
  2. Workshop break selama dua jam dan kita curi-curi waktu buat spa bareng! Pergi spa bareng tim FP&A dari negara lain sambil cerita banyak soal hobi kita masing-masing. Meskipun hasil mani pedi-nya mengecewakan, gue tetap senang!
  3. Mbak-mbak di spa (tiga orang sekaligus) mengira umur gue masih 21-23 tahun saja doong. It’s so flattering, hehehehe;
  4. The foot massages were so good! Pas banget ngilangin capek dan pegal di kaki gue ini. Sayang pewarnaan kuteksnya benar-benar berantakan;
  5. Kumpul bareng di pinggir kolam renang hotel sambil curhat soal beban pekerjaan masing-masing. Ternyata semua orang dari negara yang berbeda-beda punya “penderitaan” yang sama dengan tim gue. Good to know that I’m not the only one!
  6. Pergi shopping bareng adek gue, beli kelengkapan wardrobe untuk photoshoot The Lens Story yang pertama kalinya!
  7. Rapihin alis lalu mampir ke nail salon buat memperbaiki hasil meni-pedi di Bali yang kacau balau itu. And I really my new nail colors! They’re gonna look stunning in the photoshoot next week!

I have a lot of plans for September and I know it’s going to be a lot of fun! September, bring it on!

Dua Hari Tanpa “Proper Internet”

Awalnya gue bertekad akhir pekan kali ini akan gue habiskan untuk review beberapa quotation yang gue terima untuk web development bisnis gue sendiri. Setelah bolak-balik merevisi blueprint, gue harap gue tidak perlu bolak-balik ganti developer juga. Quotation dan juga PKS nantinya betul-betul harus diperhatikan baik-baik!

Selain urus quotation, ada beberapa technical cost yang ingin gue masukkan ke dalam budget. Rencananya, mau mulai cari-cari di Google dulu. Pokoknya weekend ini harus produktif! Ini dia resiko kerja kantoran sambil membangun bisnis sendiri: cuma bisa fokus urus bisnis sendiri di akhir pekan saja.

Ternyata oh ternyataa… sepanjang weekend akses data XL sedang bermasalah! Wi-fi di rumah juga sedang bermasalah! Butuh waktu hampir satu jam hanya untuk donwload lampiran dari e-mail, 1 jam untuk transfer data ke adek gue via WA, 15 menit untuk Google menampilkan hasil pencarian (itupun setelah klik “refresh” berkali-kali), dan belasan menit lainnya untuk menampilkan satu halaman website yang diberikan Google!

I really wanted to scream and cry 😦 *lebay 😀

Hari ini gue jadi sadar betapa ketergantungannya gue dengan teknologi. Untuk sekedar menghitung berapa banyak foto yang bisa gue tampung (dengan asumsi satu foto ukurannya 5MB) jika gue hanya menyewa server dengan kapasitas 20 GB saja gue perlu bantuan Google dooong. Hapalan gue sudah menguap entah ke mana.

Lalu gue benar-benar frustasi gagal Googling untuk mengumpulkan kontak calon vendor untuk urusan lain-lainnya. Kalau bukan dari Google, dari mana lagi? Gue udah lama banget enggak lagi simpan Yellow Pages di rumah 😦

Belum lagi istilah-istilah teknis di quotation yang tidak gue pahami. Gue kan cuma lulusan accounting, bukan computerized accounting 😦 Frustasi, terpaksa gue tanya aja sama adek gue yang lulusan IT. Gue lalu jadi teringat buku RPAL dan setumpuk buku pelajaran lainnya yang dulu rajin gue buka untuk cari info ini-itu… Buku-buku yang sudah tergantikan mesin pencari Google.

Di satu sisi, hari ini gue merasakan dampak jelek dari teknologi: tidak ada koneksi, tidak ada informasi yang gue dapatkan. Tapi di sisi lain, gue juga jadi mensyukuri perkembangan teknologi akhir-akhir ini.

Mesin pencari Google lebih unggul bukan hanya dari segi kepraktisan saja, tapi juga kelengkapan informasinya. Saat cari vendor, bukan hanya nomor telepon yang gue dapatkan, tapi juga bisa langsung lihat hasil karya dan hasil review dari orang lain yang pernah menggunakan jasa mereka. Tetap harus selektif memilih informasi, tapi setidaknya, informasi yang gue butuhkan ada di sana. Ini dia satu hal penting yang tidak ditawarkan oleh Yellow Pages.

Kemudian soal websites yang mulai menggantikan buku-buku… Ini juga ada sisi positifnya: membuat ilmu pengetahuan jadi lebih terjangkau. Bayangkan jika gue harus membeli 10 buku yang gue butuhkan untuk membantu gue membangun bisnis gue sendiri misalnya. Berapa banyak uang yang harus gue keluarkan? Padahal informasi yang gue butuhkan tidak akan sampai beratus-ratus halaman… Gue hanya perlu beberapa informasi yang mungkin tersebar dalam banyak judul buku. Gue toh, akan hire orang lain untuk buat website-nya, notaris untuk urus perijinan, PH untuk bikin video, dan masih banyak lagi yang pada intinya, tidak relevan untuk gue baca semua isi buku yang terkait dengan masing-masing topik.

Lalu bagaimana soal teknologi yang membantu gue untuk urusan matematika? Aduh, itu udah susah! Dari dulu gue emang enggak jago matematika, hehehehe. Tapi ini beneran. Gue bahkan baru belajar aljabar saat kuliah semester dua atau tiga. Gue masih takjub dulu gue bisa lulus dari SMP dan SMA tanpa ngerti apa itu aljabar, apalagi sin cos tan dan kawan-kawannya, hehehehe. Ini juga alasan kenapa gue bukan cuma lumayan jago pakai Ms. Excel, tapi juga mulai belajar sedikit-sedikit soal database query: untuk mengatasi keterbatasan gue dalam urusan angka. Gue enggak perlu coding sendiri, tapi setidaknya, gue perlu tahu apa yang SQL script bisa lakukan untuk membantu gue menyelesaikan pekerjaan gue di kantor. Dan sekali lagi, gue berterima kasih pada kemajuan teknologi beserta orang-orang jenius yang menciptakannya!

Jadi kesimpulannya, apa rasanya hidup 2 hari tanpa proper internet? Three words: never again, please!

 

 

Dua Hari Tanpa “Proper Internet”

Awalnya gue bertekad akhir pekan kali ini akan gue habiskan untuk review beberapa quotation yang gue terima untuk web development bisnis gue sendiri. Setelah bolak-balik merevisi blueprint, gue harap gue tidak perlu bolak-balik ganti developer juga. Quotation dan juga PKS nantinya betul-betul harus diperhatikan baik-baik! 

Selain urus quotation, ada beberapa technical cost yang ingin gue masukkan ke dalam budget. Rencananya, mau mulai cari-cari di Google dulu. Pokoknya weekend ini harus produktif! Ini dia resiko kerja kantoran sambil membangun bisnis sendiri: cuma bisa fokus urus bisnis sendiri di akhir pekan saja.

Ternyata oh ternyataa… sepanjang weekend akses data XL sedang bermasalah! Wi-fi di rumah juga sedang bermasalah! Butuh waktu hampir satu jam hanya untuk donwload lampiran dari e-mail, 1 jam untuk transfer data ke adek gue via WA, 15 menit untuk Google menampilkan hasil pencarian (itupun setelah klik “refresh” berkali-kali), dan belasan menit lainnya untuk menampilkan satu halaman website yang diberikan Google!

I really wanted to scream and cry 😦 *lebay 😀

Hari ini gue jadi sadar betapa ketergantungannya gue dengan teknologi. Untuk sekedar menghitung berapa banyak foto yang bisa gue tampung (dengan asumsi satu foto ukurannya 5MB) jika gue hanya menyewa server dengan kapasitas 20 GB saja gue perlu bantuan Google dooong. Hapalan gue sudah menguap entah ke mana.

Lalu gue benar-benar frustasi gagal Googling untuk mengumpulkan kontak calon vendor untuk urusan lain-lainnya. Kalau bukan dari Google, dari mana lagi? Gue udah lama banget enggak lagi simpan Yellow Pages di rumah 😦

Belum lagi istilah-istilah teknis di quotation yang tidak gue pahami. Gue kan cuma lulusan accounting, bukan computerized accounting 😦 Frustasi, terpaksa gue tanya aja sama adek gue yang lulusan IT. Gue lalu jadi teringag buku RPAL dan setumpuk buku pelajaran lainnya yang dulu rajin gue buka untuk cari info ini-itu… Buku-buku yang sudah tergantikan mesin pencari Google.

Di satu sisi, hari ini gue merasakan dampak jelek dari teknologi: tidak ada koneksi, tidak ada informasi yang gue dapatkan. Tapi di sisi lain, gue juga jadi mensyukuri perkembangan teknologi akhir-akhir ini. 

Mesin pencari Google lebih unggul bukan hanya dari segi kepraktisan saja, tapi juga kelengkapan informasinya. Saat cari vendor, bukan hanya nomor telepon yang gue dapatkan, tapi juga busa langsung lihat hasil karya dan hasil review dari orang lain yang pernah menggunakan jasa mereka. Tetap harus selektif memilih informasi, tapi setidaknya, informasi yang gue butuhkan ada di sana. Ini dia satu hal penting yang tidak ditawarkan oleh Yellow Pages.

Kemudian soal websites yang mulai menggantikan buku-buku… Ini juga ada sisi positifnya: membuat ilmu pengetahuan jadi lebih terjangkau. Bayangkan jika gue harus membeli 10 buku yang gue butuhkan untuk membantu gue membuat website gue sendiri misalnya. Berapa banyak uang yang harus gue keluarkan? Padahal informasi yang gue butuhkan tidak perlu sampai beratus-ratus halaman… Gue hanya perlu beberapa informasi yang mungkin tersebar dalam banyak judul buku. Gue toh, akan hire orang lain untuk buat website-nya, tidak relevan untuk gue baca semua isi bukunya.

Lalu bagaimana soal teknologi yang membantu gue untuk urusan matematika? Aduh, itu udah susah! Dari dulu gue emang enggak jago matematika, hehehehe. Tapi ini beneran. Gue bahkan baru belajar aljabar saat kuliah semester dua atau tiga. Gue masih takjub dulu gue bisa lulus dari SMP dan SMA tanpa ngerti apa itu aljabar, apalagi sin cos tan dan kawan-kawannya, hehehehe. Ini juga alasan kenapa gue bukan cuma lumayan jago pakai Ms. Excel, tapi juga mulai belajar sedikit-sedikit soal database query: untuk mengatasi keterbatasan gue dalam urusan angka. Gue enggak perlu coding sendiri, tapi setidaknya, gue perlu tahu apa yang SQL script bisa lakukan untuk membantu gue menyelesaikan pekerjaan gue di kantor. Dan sekali lagi, gue berterima kasih pada kemajuan teknologi beserta orang-orang jenius yang menciptakannya!

Jadi kesimpulannya, apa rasanya hidup 2 hari tanpa proper internet? Three words: never again, please!

Somehow I Know, I Have the Greatest Friends on Earth

Ceritanya hari ini gue sakit (lagi). Berawal dari flu, pagi ini kepala gue rasanya sakit banget. Gue sahur hanya seadanya, kembali tidur, dan saat bangun, kepala gue malah terasa lebih sakit dibanding sebelumnya. Mau minum paracetamol tapi sudah lewat waktu sahur. Jadilah gue ijin sakit untuk hari ini dan hanya berbaring lemas di atas tempat tidur.

Sekitar jam 3 sore, gue mulai bosan. Iseng-iseng gue Whatsapp sahabat gue di kantor sebelumnya. Gue bilang gue bosan karena hanya istirahat seharian di kosan saja. Teman gue ini lalu bilang begini, “Gue ke kosanlo deh. Gue bawain dokter sekalian, hehe.”

Awalnya gue kira dia cuma bercanda, tapi benar saja, sore menjelang buka puasa, teman gue ini muncul di depan kosan. Dia lalu menyodorkan sesuatu dari dalam ras ranselnya, “Ini gue bawain dokter kesukaanlo.”

Tahu apa yang dia bawa? DVD Grey’s Anatomy season 13! Teman gue ini emang tahu banget kalo gue penggemar berat Grey’s Anatomy sejak serial ini baru mulai tayang bertahun-tahun yang lalu. Senang rasanya punya teman yang sangat thoughtful seperti dia!


Hal ini mengingatkan gue dengan acara bukber dengan sahabat-sahabat dari bangku SMA hari Minggu yang lalu. We’ve been friends for sixteen years! It’s amazing, isn’t it?

Gue dan gank gue saat SMA itu punya kepribadian yang sangat bertolak belakang. Satu orang yang sangat humoris, satu orang yang sangat tomboy, satu orang yang sangat pendiam, satu orang yang sangat cerewet, ditambah dengan gue, si judes yang gila kerja, hehehehe. 

Gue dan keempat orang itu udah melewati banyak hal selama enam belas tahun belakangan. Ada up and down, ada jarak dan kesibukan yang memisahkan, tapi gue bersyukur, sangat-sangat bersyukur, gue dan mereka masih saling meluangkan waktu untuk sekedar bertukar kabar. I really can’t wait for our next trip to Bali September this year!

Selain mereka berlima, masih ada lagi sahabat yang sudah gue kenal dari bangku SMP. Dari bangku kuliah. Dan dari kantor pertama gue juga. Gue senang di mana pun gue berada, selalu ada sahabat baik yang menemani perjalanan hidup gue. 

I don’t have a thousand friends, but I do have a couple of the GREATEST friends on earth. And I cannot ask for more.