Somehow I Know, I Have the Greatest Friends on Earth

Ceritanya hari ini gue sakit (lagi). Berawal dari flu, pagi ini kepala gue rasanya sakit banget. Gue sahur hanya seadanya, kembali tidur, dan saat bangun, kepala gue malah terasa lebih sakit dibanding sebelumnya. Mau minum paracetamol tapi sudah lewat waktu sahur. Jadilah gue ijin sakit untuk hari ini dan hanya berbaring lemas di atas tempat tidur.

Sekitar jam 3 sore, gue mulai bosan. Iseng-iseng gue Whatsapp sahabat gue di kantor sebelumnya. Gue bilang gue bosan karena hanya istirahat seharian di kosan saja. Teman gue ini lalu bilang begini, “Gue ke kosanlo deh. Gue bawain dokter sekalian, hehe.”

Awalnya gue kira dia cuma bercanda, tapi benar saja, sore menjelang buka puasa, teman gue ini muncul di depan kosan. Dia lalu menyodorkan sesuatu dari dalam ras ranselnya, “Ini gue bawain dokter kesukaanlo.”

Tahu apa yang dia bawa? DVD Grey’s Anatomy season 13! Teman gue ini emang tahu banget kalo gue penggemar berat Grey’s Anatomy sejak serial ini baru mulai tayang bertahun-tahun yang lalu. Senang rasanya punya teman yang sangat thoughtful seperti dia!


Hal ini mengingatkan gue dengan acara bukber dengan sahabat-sahabat dari bangku SMA hari Minggu yang lalu. We’ve been friends for sixteen years! It’s amazing, isn’t it?

Gue dan gank gue saat SMA itu punya kepribadian yang sangat bertolak belakang. Satu orang yang sangat humoris, satu orang yang sangat tomboy, satu orang yang sangat pendiam, satu orang yang sangat cerewet, ditambah dengan gue, si judes yang gila kerja, hehehehe. 

Gue dan keempat orang itu udah melewati banyak hal selama enam belas tahun belakangan. Ada up and down, ada jarak dan kesibukan yang memisahkan, tapi gue bersyukur, sangat-sangat bersyukur, gue dan mereka masih saling meluangkan waktu untuk sekedar bertukar kabar. I really can’t wait for our next trip to Bali September this year!

Selain mereka berlima, masih ada lagi sahabat yang sudah gue kenal dari bangku SMP. Dari bangku kuliah. Dan dari kantor pertama gue juga. Gue senang di mana pun gue berada, selalu ada sahabat baik yang menemani perjalanan hidup gue. 

I don’t have a thousand friends, but I do have a couple of the GREATEST friends on earth. And I cannot ask for more.

My Appreciation to Gojek

Entah kenapa, dua minggu belakangan ini gue sedang malas-malasnya pergi keluar rumah. Badan gue rasanya luar biasa pegal dan capek banget! Belum pernah tempat tidur gue terasa sampai sebegitu nyamannya. Bantal terasa lebih empuk, selimut lebih lembut, sampai AC yang temperaturnya tidak bisa diatur itu mendadak terasa pas untuk menemani gue tetap tidur di akhir pekan. 

Masalahnya cuma satu: gue kehabisan bedak padat. Sudah 2 weekends plus 1 hari libur nasional terlewati, gue masih saja belum menyempatkan diri pergi ke Grand Indonesia; mall terdekat yang menjual bedak gue itu. 

Gue mulai bingung. Hari Rabu minggu ini gue berangkat ke Vietnam untuk urusan pekerjaan. Apa jadinya gue pergi tanpa bedak? Tapi tetap saja, pikiran harus meninggalkan kasur hanya untuk pergi beli bedak terasa bukan ide yang menyenangkan. Pikir gue, “Minggu ini akan bikin capek banget! Harus submit beberapa reports sebelum pergi ke Vietnam dan selama di sana, pagi sampai sore ikut summit, lalu malamnya pasti harus kerja di hotel untuk handle urusan di Jakarta sini. Pulang dari Vietnam hari Minggu sore dan besoknya harus kerja lagi!”

Lihat kan? Lebih baik gue tetap tidur di rumah saja! Lalu bagaimana dengan bedak gue? Ah… Beli pakai aplikasi Gojek saja!

Awalnya gue ragu-ragu mau beli bedak pakai fitur Go-Shop. Cash di dompet hanya ada dua ratus ribu sedangkan harga bedak gue bisa lebih dari lima ratus ribu. Bisa pakai Go-Pay, tapi masalahnya, jarang ada driver yang mau ambil order Go-Pay dengan nilai sampai setinggi itu. Tapi ya gue coba saja dulu. Sambil tunggu aplikasi Gojek cari driver-nya, sambil gue menyusun back-up plan jika sampai tidak ada driver yang bersedia ambil order gue. Tapi ternyataa, tidak butuh waktu lama sampai ada driver yang ambil order gue!

Gue sempat khawatir si driver ini akan cancel order gue. Udah lima menit lebih tidak ada SMS atau telepon dari si driver. Jadi ya sudah. Gue SMS dia duluan untuk menjelaskan lokasi toko kosmetiknya. Nggak lama si driver telepon dan meminta gue untuk konfirmasi warna bedak langsung ke SPG-nya. Tidak sampai setengah jam kemudian, bedak gue sudah tiba di kosan! Persis sesuai pesanan yang gue tulis di aplikasinya.

Beres urusan bedak seperti mengingatkan gue betapa gue mulai sangat tergantung dengan aplikasi ini. Jalanan macet dan malas naik taksi, gue tinggal pesan Go-Ride. Malas ke salon untuk potong rambut, gue pesan Go-Glam. Shampo yang baru gue beli ketinggalan di rumah nyokap, gue ambil pakai Go-Send. Dan yang paling sering, malas keluar cari makan, gue pesan pakai Go-Food saja! Berkat Go-Food, gue jadi lebih banyak makan daripada sebelumnya! Banyak pilihan yang bisa gue coba setiap harinya! Walau anehnya, badan gue tetap saja kurus seperti biasanya sih. 😐

Selain fitur yang sudah pernah gue coba, gue masih pengen coba Go-Massage. Pengen cobain hot stone massage-nya. Lalu kapan-kapan mau coba make-up plus hijab styling-nya juga! Trus nanti pas Lebaran, mau coba pesan Go-Clean juga. Gojek sudah sangat lengkap buat gue, kecuali untuk urusan alis; masih belum ada jasa eyebrow wax atau threading di menu Go-Glam-nya. Gojek, please hear me out!

Saking terkesannya sama Gojek, gue iseng-iseng Googling si Nadiem Makarim dan berakhir di Instagram-nya. Cuma sedikit foto, entah benar punya dia atau bukan, yang sudah dihujani komentar dari unhappy customers dan bahkan, banyak juga komentar dari unhappy drivers!

Emang sih, gue enggak kerja di Gojek. Tapi gue bisa memahami sulitnya menjalankan online business skala besar. Semakin banyak transaksinya, semakin canggih fitur yang ditawarkan, semakin tinggi pula potensi terjadinya system error. Not an excuse, but understandable. Gue percaya Gojek tidak berniat menelan dana Go-Pay nasabah yang gagal top-up, gue yakin itu hanya system glitch saja. Perusahaan tempat gue bekerja juga terkadang bisa terlambat melakukan refund, tapi hal itu betul-betul bukan sesuatu yang disengaja, bukan pula dilakukan untuk cari untung dengan mengambil dana milik customers. It’s not easy to run an e-commerce, but it’s fun!

Balik ke Gojek, gue senang dan merasa sangat terbantu dengan aplikasi ini. Tarifnya juga bersahabat, sangat bersahabat, sehingga kadang gue penasaran, “Kalau tarifnya terus serendah ini, gimana kalau suatu saat nanti Gojek sudah tidak lagi mendapatkan suntikan dana? Bagaimana cara mereka bisa survive? Oh, well… I guess that is Gojek’s homework! 😉

Berkat Gojek, hari ini gue bisa santai-santai seharian. Makan, tidur, makan lagi. Nonton TV kabel, ketawa-tawa sendirian, sambil makan lagi 😀 Ada banyak definisi hari yang menyenangkan, dan hari ini salah satunya. And I thank Gojek for this! Hehehehe.

Great job, Gojek! Keep it up!

Little Things I’m Enjoying This Year

I’m a believer that happiness can also come from the little things. Here is the list of the little things I’m enjoying throughout the year!

  1. Wake up early in the morning and I can hear the birds chipping from the trees outside of my windows!
  2. Sleep surrounded by multiple pillows, bolsters, cushions, and dolls!
  3. Taking pictures with my new phone! Check my Instagram account to see how awesome this phone camera really is!
  4. Random talks with my four years nephew. He can be smart, funny and sweet all in the same time!
  5. Open video gallery in my phone and watch the videos of my little niece. She’s so adorable!
  6. Leave office on time just to watch my favorite TV shows (The Royals, Scandal, Notorious, and many more!)
  7. Just found a dessert restaurant in Kemang (restaurant name: Cacaote) and I have tried nearly all of their cakes menu! It’s fun to try different cake in every order and to wonder how it tastes! My favorite? Mango, vanilla, and raspberry flavor; they’re the best!
  8. Play Gojek swipe games and I can earn up to 400 points at one swipe!
  9. Order Gofood only to buy one cup of bajigur, almost everyday until I get bored, hehehehe;
  10. Browse my old folders and find many pictures to be posted to Instagram. Somehow I can be surprised seeing how good those pictures are, hehehe;
  11. Pamper myself with mani-pedi (I love seeing how pretty my nails turned out!), brow threading (tried once and I’m addicted to it now!), try Bio Oil to get rid the marks from my bike accident in Greece;
  12. Mix and match old clothes in my wardrobe. It’s odd how I can forget that I have some cool stuffs in there, hehehe;
  13. Long chats with some old friends. They’ve really helped me to get through the worst days of my life!
  14. Watch cute cats and dogs videos on Instagram; and
  15. Spend times alone just to figure out, “What’s next?” The ideas popped up on my mind can be unpredictably awesome, hehehehe.

Have fun with the little things and wish you a wonderful weekend!

Should We Get Rid of Everything About Our Ex?

Saat transfer musik dari iTunes ke hp baru, gue menemukan beberapa lagu yang pernah gue beli tapi sudah tidak lagi masuk ke dalam playlist hanya karena dulunya, lagu itu lagu kesukaan cowok yang pernah gue suka. Lagu yang kemudian gue singkirkan dari playlist hanya supaya bisa cepat move on, supaya enggak lagi teringat dia saat mendengar lagunya dimainkan.

Iseng-iseng, gue mainkan salah satu lagu kesukaan si mantan gebetan di hp baru gue itu. Gue suka lagu yang satu itu bukan semata-mata karena dia dulu juga suka! Awalnya, gue emang hanya penasaran, tapi tetap hanya lagu yang gue suka yang kemudian gue beli dan download! Dan, jika memang gue betulan suka, kenapa harus tetap gue sembunyikan? 

Hal ini mengingatkan gue dengan hal-hal yang gue pelajari dari mantan pacar atau gebetan lainnya. Hal-hal yang tetap gue pertahankan sampai detik ini. Mulai dari hal sepele seperti musik, fim, dan makanan kesukaan, sampai hal-hal besar seperti pola pikir dan life principles. Ada pula hal-hal yang gue pelajari dari hobi mereka seperti tehnik fotografi atau bahkan hal-hal yang berbau komputer dan otomotif! Hal-hal kecil yang membuat hidup gue jadi lebih kaya dan beragam (dengan mencoba hal-hal baru yang ternyata gue juga suka!) dan hal-hal besar yang membuat gue jadi a better person.

Think about it… What’s wrong from all that?

Terlepas bagaimana ending-nya, dulu pastilah ada alasannya kenapa gue bisa suka sama mereka. Hal-hal yang gue kagumi dari mereka, yang membuat gue tertarik untuk menyelami dunia mereka saat itu, atau membuat gue ingin belajar sesuatu dari pola pikir dan sudut pandang mereka. Padahal gue bukan tipe orang yang suka ikut-ikutan, jadi kalau sampai ada orang yang bisa memberikan influence sampai sebegitunya, itu artinya, pastilah ada sesuatu dalam diri mereka yang gue anggap sangat valuable. Buat gue,  itu bukti nyata bahwa gue bukan tipe orang yang ganpang jatuh cinta dengan sembarang orang!

Banyak orang yang berpendapat bahwa suatu hubungan tidak seharusnya mengubah seseorang. Kalau menurut gue, tidak ada yang salah dari perubahan selama hal itu sifatnya positif dan membuat keduanya menjadi lebih baik dari sebelumnya. Suatu pelajaran yang memperkaya hidup kita, yang tidak semerta-merta harus kita tinggalkan hanya karena kisahnya sudah selesai. 

Embrace all the things you learned from your ex, because once in your lifetime, it was everything that made your life your kind of fairytale.

My Birthday, from Morning to Evening

This morning, my phone woke me up. It buzzed nearly every second all mornings. Notifications from Whatsapp, LINE, Skype, Facebook, Path, even Linkedin kept coming to my phone. And yes, it was because today is my birthday. 🙂

It surprised me how many birthday wishes I had all day today. It’s a lot more than I used to get last years. Not only close friends and families, but also colleagues across the countries, old friends that I haven’t met for quite some times, and some other people that I never thought would care about my birthday. And did you know what’s even better? All people that I expected to text me did actually text or call me just right in time. None of the people those matter to me forget my birthday today, hehehehe.

When I just arrived in the office, an ex-colleague called me for a few minutes and we had a good laugh, as we always do. I’m so excited that I will meet her very soon in my birthday bash this weekend! And then exactly at 11 AM today, my Dad texted his birthday wishes along with some pictures of me when I was still a little baby. My parents looked so young in those pictures, and I looked so tiny in their arms! These pictures were heartwarming to me, somehow. Looking at those picture made me feel (more) blessed and grateful for the life that I live in. My life has never been easy even since I was a little kid, but it’s always always worth living.

And then after I was back from lunch with the MC who’s going to host my party, I found a wrapped box with a post-it on top of it right on my desk. My party is still three days away and I already received this early gift! And actually, I already received three other early birthday presents from my friends even since one month ago! Ahh, how can’t I love my own birthday? Hehehehe.

My phone kept ringing once in a while all day today, so there I decided to go to the coffee shop downstairs just to reply my texts (oops, I’m sorry for this, Boss! In case you read this, hehehehe). I spent 10 minutes replying all those texts until my phone rang. Sarah from my team called asking me to go upstairs for an urgent matter related with the MC. Oh well, somehow I knew she had prepared a birthday cake for me and she was waiting in the canteen with all other team members, hehehehe.

And of course I was right! When I entered the canteen, everyone was singing and Sarah gave me my birthday cake. I blew the candles, made the first cut, and gave the first cake to Rian (and it was only because he was craving for the cake so badly, hehehehe). Then as usual, we took some pictures and exchanged jokes with each other. Thanks for making time to prepare this, guys! I know you were all super busy today! You know… it’s closing time for the finance team everywhere!

purq24931

Today, someone in my team asked me, “How does it feel to be 30?”

I didn’t deliver any good answer back then, but now, I have prepared the real good answer (at least I hope it’s a good one!). How does it feel to be 30? It feels like I have won the first round of my life. People says that 20’s will determine a lot of things in the future to come, and I do think that I have made the most of my 20’s. The ups and downs, the rights and wrongs, the tears and laughter, all of it have made me the one whom I always dreamed of. I’m grateful for every moment of my life, I’m even grateful for the mistakes that I ever did. Thanks to all those wrong turns I took, they have finally led me to where I am right now; to the place that I belong.

Yes, being 30 is scary in a way it makes me realize that I should really start a new phase in my life. I can’t be forever alone, but am I ready to share my life with someone for the rest of my life? Being 30 also pushes me to do something a lot better that I already did when I was younger. Given that I have achieved a pretty high bar in my 20’s, the next targets would be a lot more challenging to achieve. Just yesterday I told myself, “I know what’s next, but I’m not yet sure if I’m ready for it.”

But… hey… What’s the rush here? This is just my first day being thirty! Relax! If God gives me a chance to live longer, then I will still have plenty of times to make my wishes come true! If I could do it back in my 20’s, then insyallah, I can try to find a way to make my dreams happen in my 30’s too.

And finally… I want to share with you the biggest achievement I’ve made just a moment before I turned thirty: I learned how to sincerely forgive and let go of the things that are not meant to be. I’m also so proud that I’m never too tired to push myself to be a better one, I never lose my faith in humanity, and I’m really proud that I could remain as a happy person after every loss and failure I had over the first thirty years of my life.

Thank you everyone for the prayers, for being a part of my life (be it for years or just a little while), and for my blog readers, thanks for reading and motivating me to keep writing for you!

I’m gonna stop writing this long post and back to work! Hehehehe.

Wish you all a wonderful night!

Future Is Not Going to Be That Scary, Is It?

Ceritanya, hari ini gue nemenin adek gue berburu stroller ke baby fair di JCC. Gue pergi berempat sama adek gue, suaminya, dan anak pertamanya. Begitu sampai di sana, bisa ditebak, JCC penuh dengan keluarga muda yang juga banyak membawa anak-anak kecil mereka.

Entah kenapa, yang terlintas di benak gue malah masa depan gue setelah berkeluarga nanti.

Bisa kah gue membagi waktu untuk karier dan keluarga gue?

Bisa kah gue bersabar menghadapi rewelnya anak-anak gue nanti?

Bisa kah gue tetap akur, awet, dan hidup bahagia dengan suami gue hingga nanti ajal memisahkan?

Bagaimana kalau anak atau suami gue sakit?

Bagaimana kalau anak gue sulit diatur dan selalu jelek nilainya di sekolah?

Bagaimana kalau nanti suami gue malah naksir perempuan lain?

Entah kenapa, melihat sekumpulan keluarga muda di JCC tadi malah membuat gue berpikir yang jelek-jelek seperti itu. Dan ini bukan soal gue berpikiran buruk soal hidup orang lain, tapi lebih kepada mempertanyakan kesiapan gue untuk menempuh jalan hidup yang sepenuhnya berbeda dengan hidup gue saat ini.

Selesai beli stroller dan beberapa keutuhan bayi lainnya, di perjalanan pulang menuju kosan, kita mampir makan malam di daerah Tebet. Seperti biasa, acara makan malam diramaikan oleh celotehan ponakan kecil gue. Umur Arfa baru empat tahun, tapi dia sudah pintar berceloteh ini-itu!

Setelah makan beberapa potong sushi dan tiba waktunya untuk makan dessert, Arfa berkeras ingin menyuapi gue makan es krim. Dan jadilah gue makan disuapi anak umur empat tahun! Namanya juga anak balita, suapinnya asal-asalan. Pisang dipotong super besar dan suapan es krimnya malah meleleh ke mana-mana. Meski akhirnya malah mengotori syal dan baju gue, entah kenapa, gue benar-benar merasa senang makan bareng ponakan gue itu.

Saat itulah gue menyadari… gue yang sekarang sudah jauh berbeda dengan gue bertahun-tahun yang lalu. Salah satu contohnya soal interaksi gue dengan anak kecil. Sebelum ada Arfa, gue paling malas basa-basi sama anak kecil. Gue bingung mesti gimana dan gue benar-benar enggak tertarik main sama mereka. Tapi kalo sekarang, jangankan Arfa, hanya sekedar anak kecil tidak dikenal yang tiba-tiba nempel sama gue di restoran pun udah mulai bisa bikin gue ngerasa terhibur.

Dan sebetulnya, yang berubah dari gue bukan hanya soal keluwesan menghadapi anak kecil saja. Gue udah melewati begitu banyak hal selama belasan tahun belakangan ini, melewati begitu banyak naik-turun kehidupan, melewati begitu banyak hal yang kemudian mendewasakan dan mengubah beberapa hal penting dalam diri gue ini. Pada akhirnya gue berkesimpulan… jika gue sudah berhasil melewati 30 tahun pertama hidup gue dengan baik, kenapa gue harus takut melewati tahun-tahun berikutnya dalam hidup gue nanti?

Dulu, gue tipe orang yang anti sosial. Tapi sekarang, bukan hanya berhasil mempererat hubungan gue dengan keluarga gue, tapi gue juga mulai berhasil mempertahankan persahabatan hingga bertahun-tahun lamanya.

Dulu, gue juga tipe orang yang luar biasa malasnya. Hidup cukup ikut air mengalir saja. Tapi sekarang, alhamdulillah, gue mulai sedikit demi sedikit berhasil mewujudkan hal-hal yang dulu hanya bisa gue simpan dalam impian.

Kemudian beberapa tahun belakangan ini, gue banyak dikejutkan dengan hal-hal yang sangat-sangat menyakiti perasaan gue. Tapi hebatnya, semua kejadian buruk itu tidak menghilangkan kepercayaan gue kepada sesama manusia. Salah mempercayai satu orang bukan berarti semua orang juga pasti akan melakukan hal yang sama.

Soal karier juga jatuh bangunnya tidak jauh berbeda. Gue pernah gagal, pernah merasa sangat dikecewakan, pernah merasa tidak yakin dan ragu-ragu, tapi alhamdulillah, semua pengalaman buruk itu justru mengajarkan gue hal-hal berharga yang tidak pernah ada di buku kuliah dulu. Dan yang paling membuat gue merasa bangga, gue berhasil mendapatkan rezeki gue dengan cara yang halal, serta tetap bisa melangkah maju tanpa perlu repot-repot menjatuhkan orang lain yang gue anggap sebagai pesaing.

Yang terakhir, dan ini yang paling penting, terlepas dari segala kesalahan yang pernah gue lakukan, perbuatan yang kemudian gue sesali, dan pilihan-pilihan yang ternyata hanya merugikan diri gue sendiri, pada akhirnya, gue tetap bisa bertahan untuk mencintai diri gue sendiri. Gue tidak pernah terlalu letih untuk bangkit kembali. Gue tidak pernah kehilangan keyakinan bahwa gue pasti bisa terus berubah menjadi lebih baik daripada diri gue yang sekarang ini.

Pulang ke rumah, gue sudah merasa lebih baik. Ulang tahun gue ke tiga puluh tahun hanya tinggal hitungan hari, dan insyaallah, gue udah siap memasuki babak baru dalam hidup gue ini. Semoga di tahun-tahun berikutnya, entah apapun yang terjadi nanti, gue tetap bisa mempertahankan hal-hal positif yang gue tulis dalam blog ini. Hidup tidak akan semakin mudah, tapi semoga, gue tidak akan pernah berhenti belajar untuk berbahagia.

To my future… let’s bring it on!

Everything I Always Wished for in My Career

Last night, a friend from Ernst & Young (EY); my first full time employer, got married. Unlike any other wedding party, I was a little bit nervous on my way to the wedding venue. I was going to meet the people in my first professional job. Even though I only worked for EY less than three years, my short tenures with this Company was still a major contributor in my career achievements.

Working for EY has taught me how to be tough. You may be tired and lack of sleep, but deadline is deadline anyway.

I learned how to be confident and went talking to the clients even though I was just a fresh graduate (read: a newbie).

I also learned how to build a decent working paper, how to solve accounting problem efficiently, and some other survival kits you need to fight on finance and accounting battlefield.

I even still remember some of my seniors’ advice:

  1. Not documented, not done;
  2. Do not let anything pending on you. It has to be pending on someone else, always; and
  3. Fake it until you make it.

And did you know? I would never get my jobs at the two companies after EY if I didn’t have working experience at EY written in my CV.

Resigning from EY was another milestone of my life. I loved the Company, I loved my team, but I just couldn’t stand working as an auditor. I used to tell my teammates this and that about my dream job and then I truly left. I knew, I just knew, auditing was not made for me.

It’s been more than five years since I left EY and almost everyone in my former audit team have left EY as well. And then last night, I met them again. I only stayed in touch with a few of them and it was really nice to meet many familiar faces from the past again!

Most of my friends came to the party with their spouses and kids, of course. Intimidating? Apparently not! None of them asked me when I would get married, and nearly all of them asked me about my career instead. We talked about how I liked my current job, my bosses who really trust me to run the Company, and the most discussed topic was about my business trips (they know how much I love traveling). Last night, the more I realized… I’ve got everything I always wished for in my career.

Finding in a dream job is pretty much the same in finding myself. I’ve got to try everything the Company can offer to me, the ups and downs, learn from the mistakes and restart from the scratch again. And then when I find “the one”, it does really make my life feel complete. I know what I want, what I’d love to do more, I know where to keep up and where to improve myself.

People says that I’m already good at my job, but the truth is, I’m still learning. I still have a lot of flaws that I’ve got to work on. Having said that, it’s still nice to know that I’m already on the very right track. It’s nice to know that I left EY for something better; for a brighter future, for a path toward my dream job. Insyaallah! 🙂

Staying or leaving your current job, either way is okay, as long as you know that you would do awesome in whichever decision you make.

The Little Things I’m Happy About

People says that happiness comes from the little things and lately I find it definitely true! You don’t need to have a big reason in life just to be happy.

To me, in the past one month, happiness was when I…

  1. Received a voice note from my nephew after one long day at work;
  2. Met a pleasant taxi or Uber driver and had a nice chat along the trip;
  3. Ordered a mineral water from a Gojek driver (it’s only because I’m too lazy to walk to the pantry upstairs, hehehehe) but apparently, the café only sold the food. Then the driver went somewhere else just to buy the water for me (without being asked!);
  4. Met an old friend’s Mom and she said that I looked 5 years younger than I was, hehehehe;
  5. My friend’s son called me “the pretty Aunty” 😉
  6. My best friend asked her boyfriend if he knew someone potential to be my date (she hasn’t got one but I appreciate the effort, seriously, hehehehe);
  7. Planned a birthday bash next month and a few friends helped to connect me with some contacts to make it happen;
  8. Had new lunch mates (I have known them for a while though) and we had a couple of good laughs during the meals;
  9. Bought a pretty dress with size M (because it was the last size remained) and my Aunty offered to fix the size for me, and for free, hehehehe;
  10. One of my ex-best employees told me that she had returned to Jakarta and she was interested to join my team again!
  11. My birthday is one month away but I already received two gifts from my friends;
  12. Had a bad day and an office mate offered to have coffee and chat at 24 hours café. We went home at 2 AM and I felt a lot better;
  13. My sister was so pissed when I was hurt. I just knew that no matter what happened, I would always have someone in my corner;
  14. Sleep tight and eat a lot! My appetite is back!
  15. Received a few texts from my friends asking if things got better recently. Their texts have made my days better already 🙂

I have a lot of problems, I know, but I also have a lot more blessings to celebrate.

Wish you all a wonderful weekend!

My Current Life, in a Nutshell

Waktu jaman duluuu banget, gue pernah punya masalah bertubi-tubi yang akhirnya bikin gue jatuh sakit, sampe hampir dirawat di rumah sakit. Gue baru sembuh total setelah beberapa minggu lamanya, setelah tiga kali ganti-ganti dokter spesialis. Saat itu gue tahu, masalahnya bukan kecapekan, bukan kebanyakan lembur, tapi stres, tertekan, kekecewaan, sedih, patah hati, yang semuanya seolah melebur jadi satu. Waktu itu rasa-rasanya benar-benar titik terendah sepanjang hidup gue.

Daaan… tepat di saat gue berpikir tidak ada yang mungkin lebih buruk dari kejadian bertahun-tahun yang lalu itu, rentetan konflik yang baru kembali menimpa gue. Kali ini, saking tertekannya, gue sampe dateng ke tempat praktek psikolog klinis. Bukan berarti gue punya masalah kejiwaan lho yaa, hanya saja entah kenapa, saat itu gue ngerasa butuh sudut pandang orang asing yang bisa gue percaya dan bisa memberikan penilaian secara objektif. Kalau bukan psikolog, siapa lagi?

Bukannya beres sampai di situ, keadaan justru memburuk beberapa saat setelah kunjungan gue ke psikolog itu. Tapi justru di situ itu lah perfect timing menurut gue. Saat keadaan memburuk, saran si mbak psikolog itu sudah mulai gue terapkan, dan percaya tidak percaya, gue ngerasa bisa melewati ujian kali ini jauh lebih baik daripada kejadian bertahun-tahun yang lalu itu.

Berawal dari saran untuk kembali menghubungi sahabat-sahabat lama, untuk mengubah tabiat gue, untuk memberanikan diri mencari penyelesaian dari masalah gue, lama kelamaan, gue jadi ketagihan ingin mengubah cara hidup gue sendiri.

Gue mulai menyempatkan diri untuk kembali terhubung dengan sahabat-sahabat lama. Mulai kembali curhat sama mereka, mulai ketemuan, atau curi-curi waktu untuk makan siang bareng… Gue seperti kembali teringat alasan kenapa dulu gue bisa berteman sebegitu erat dengan mereka semua.

Gue yang tadinya hanya makan siang, makan malam, pergi nonton dan karoke dengan orang-orang yang itu-itu saja, mulai melebarkan sayap dengan ngobrol panjang lebar dengan lebih banyak orang. Gue berusaha lebih mengenal orang-orang yang sebelumnya hanya gue kenal sepintas saja. Wajah-wajah di socmed homepage gue jadi lebih bervariasi daripada sebelumnya!

Gue juga mulai menantang diri gue sendiri untuk bisa belajar sabar. Bukan berarti gue tidak akan pernah marah lagi, jika memang harus marah, ya gue tetap marah. Tapi setidaknya, gue lebih mengendalikan kata-kata yang gue ucapkan. Dan setidaknya, sekarang gue udah bisa marah-marah dengan suara sepelan-pelannya, hehehehe.

Lalu malam ini, untuk pertama kalinya, gue memberanikan datang ke wedding reception seorang diri! Biasanya, gue mesti banget janjian dengan minimal satu orang teman yang gue kenal dengan baik. Tapi hari ini, gue langsung datang dan sesampainya di sana, langsung cari-cari orang yang bisa gue ajak ngobrol-ngobrol. Awalnya sempat boring, tapi lama-lama, malah ada beberapa percakapan yang lumayan interesting. Tanpa terasa, dua jam di sana sudah terlewat dengan sendirinya.

Kembali ke tadi siang, setelah resepsi pernikahan pertama yang gue hadiri di hari ini, gue menyempatkan makan sore (iya, makan sore-sore, hehehehe) bareng sahabat dari kantor gue sebelumnya. Dia bilang, dia membelikan sesuatu yang menurut dia tuh bener-bener gue banget. Dia belikan barang-barang itu sebagai kado ultah gue yang jatuhnya masih sebulan lagi! Tahu apa isi kadonya? Buku berjudul The Alpha Girl’s Guide, dilengkapi dengan satu batang cokelat yang katanya bisa bikin enteng jodoh (dan nama produknya beneran Cokelat Enteng Jodoh!). Rasanya udah lama banget sejak terakhir kali gue tertawa bahagia saat menerima pemberian orang lain. This gift is very thoughtful!

Hari ini, gue juga sempat ngobrol panjang lebar dengan sahabat baik gue di bangku kuliah dulu. Gue sempat mengenalkan sahabat kuliah dengan sahabat di kantor lama sambil makan-makan sore itu. Melihat mereka bisa akur dan saling bercanda satu sama lainnya, hati gue jadi tersentuh! Gue jadi menyadari betapa beruntungnya diri gue ini. Gue jadi sadar bahwa ternyata, seumur hidup gue, gue tidak pernah benar-benar sendiri.

Ternyata, gue memiliki hal-hal yang belum tentu dimiliki orang lain pada umumnya: sahabat dan keluarga yang tulus mengasihi, orang-orang luar biasa yang selalu bisa menerima gue dengan segala kekurangan dalam diri gue ini. Menghabiskan waktu bersama mereka membuat gue menyadadari bahwa seburuk apapun situasi gue saat ini, setidaknya, gue tidak pernah seorang diri.

Gue selalu punya orang-orang yang ikut marah saat gue sedih dan tersakiti.

Gue selalu punya orang-orang yang tidak putus menyemangati untuk gue bangkit lagi.

Gue selalu punya orang-orang yang menyempatkan waktu, bahkan di tengah malam sekalipun, untuk mendengar keluh kesah gue.

Gue selalu punya orang-orang yang betulan serius memutar otak bagaimana caranya untuk menghibur dan membuat gue kembali tertawa.

Gue selalu punya orang-orang yang menemani tiap langkah gue, dalam suka-duka, dalam titik terbaik dan juga titik terburuk sepanjang hidup gue.

Banyak orang yang bilang, karier gue adalah anugerah terbaik dalam hidup gue. Tanpa mengurangi rasa syukur gue untuk kemudahan karier gue, kali ini gue mau bilang… Kenyataannya, sahabat dan keluarga gue adalah anugerah terbesar dalam hidup gue ini. Tanpa mereka, gue pastilah bukan siapa-siapa.

Thanks for the love, the patience, the never ending support, and on top of all that, thanks for always being there for me. You guys are the best! And I just cannot ask for more.

I’m Beyond Blessed!

Setelah menghabiskan 6 malam di kota Hangzhou (I’ll write more about that later), akhirnya gue kesampaian menginjakan kaki di kota Guilin, China. Rencananya, besok gue akan mengunjungi Li river yang terkenal indah itu!

Sesampainya di Guilin, seperti biasa, gue langsung norak foto-foto ruangan kamar gue. Gue udah bayar sedikit lebih mahal buat dapetin kamar dengan balcony dan juga kamar mandi menghadap ke sungai, rugi banget kalo enggak didokumentasikan. Sesuai prinsip auditor pada umumnya; not documented not done, hehehehe.

Selesai foto-foto, gue langsung retouch dan naik ke sky garden buat early dinner. Udah hampir jam 6 sore tapi gue baru sempat makan besar! Tadi pagi gue sibuk hunting foto di Hangzhou, lanjut meeting sebentar di kantor Alibaba (plus sempat-sempatnya belanja oleh-oleh di office complex-nya Alibaba), lalu setelah itu terjebak macet 2 jam di perjalanan menuju airport. Untunglah pesawat gue delay, jadi sempat makan cheesecake dulu di restaurant kecil di dalam bandara.

Begitu naik ke sky garden hotel gue di Guilin ini, gue langsung terpukau! View-nya malah lebih bagus daripada teras kamar gue itu. Sungainya, pepohonannya, ditambah suara jangkriknya!

Setelah puas ambil banyak foto pemandangan, gue pesan makan. Ini agak tricky secara sangat susah cari makanan halal di Cina ini, jadi sudahlah, gue pesan cream soup dan garlic bread saja. Sambil menunggu, gue sempat-sempatnya minta tolong mbak penjaga restoran buat ambilin foto gue! 😀 Dan si mbak ini niat banget lho bantuin fotonya. Dia foto gue dari berbagai angle yang dia anggap bagus. I like it!

Saat makanan datang, tentu makanannya gue foto dulu. Setelah itu langsung gue makan, dan nggak disangka-sangka, rasa supnya enak banget! Garlic bread-nya juga gurih dan terasa pas menyatu dengan cream soup-nya. Sambil makan, pandangan mata gue tidak bisa lepas dari pemandangan di depan sana. Hembusan angin, suara alam sekitar, dan rakit bambu yang melintas di sungai di bawah sana membuat acara makan malam gue jadi terasa sangat berbeda. Saat itulah, dalam hati gue berpikiran, “I am beyond blessed! This is exactly the life I’ve been dreaming of.”

7I’ve been spending a lovely week this week. Mengunjungi tempat baru, ketemu orang-orang baru, tinggal di dua hotel yang sangat fotogenik! Memang capek karena jadwal kerja di sini padat banget, tapi toh, gue masih sempat menghabiskan akhir pekan untuk acara jalan-jalan. What can be better than such a job like this? 😉

Emang sih, hidup gue ini banyak banget rintangannya. Tanggung jawab besar, tekanan besar, stres dan deadline yang tidak pernah ada habisnya… Belum lagi permasalahan pribadi yang terkadang membuat gue bertanya-tanya sama diri gue sendiri, “Did I do something wrong?” Memang tidak mudah menjalani keseharian gue, tapi, rasanya betul-betul menyenangkan! Ibaratnya prinsip investasi, higher risk, higher return, hehehehe 😉

Di saat hati gue sedang terasa luar biasa damainya, eeh, tiba-tiba di depan gue ada orang asyik pacaran! Si cowok sibuk mengambil gambar pasangannya, pakai kamera SLR, dan si cewek sibuk berpose secantik-cantiknya. Mereka kelihatan serasi, dan gue betulan ngerasa iri! Duh duh duh, manusia emang nggak pernah ada puasnya :p Sambil senyum-senyum sendiri melihat sepasang muda-mudi itu, dalam diam gue berbisik sama diri gue sendiri, “Someday, I’ll have my turn too.”

Sometimes, all that you really need is simply a break. Away from your own everyday life. Meet the strangers, get lost in some new places, have some times alone just to figure out the next big thing in life. When you finally find your peace in your getaway, you’ll eventually realize how grateful you are with the life you’ve been living in. At least, that’s exactly what I feel right in this moment.

Thank God for this decent life! Again, I’m beyond blessed! 🙂