A journey to remember

Archive for the ‘Islam’ Category

Gue tidak pernah bosan untuk menulis di sini pentingnya bermaafan di hari Lebaran dalam artian yang sebenarnya.

Bermaafan di hari raya bukan hanya soal copy-paste gambar atau text dari satu grup WA ke grup lainnya. Bukan pula sekedar mengirimkan ucapan yang sama persis ke semua isi kontak di hp kita. Jangan gunakan “corporate style” yang mengirimkan standardtemplate ke seluruh rekan bisnis dalam kehidupan kita pribadi! Kenyataannya, standard template seperti ini seringnya tidak betul-betul dibaca dengan baik dan langsung saja dibalas dengan standard template yang lainnya. Niat untuk saling meminta maaf pada akhirnya jadi tidak betul-betul tersampaikan.

Kenapa? Karena beda orang bisa beda pula jenis kesalahan yang pernah kita perbuat pada mereka. Untuk tingkat kesalahan yang sangat menyakitkan hati, template yang kita copy dari orang lain atau kita download dari internet kemungkinan besar tidak akan membuat orang yang pernah kita sakiti merasa lebih baik. Ketulusan kita akan dipertanyakan… ini sebenarnya mau minta maaf atau tidak? Apalagi kalau tulisan yang kita niatkan sebagai personal apology itu malah dikirim ke WA group! Itu sih cuma akan dianggap angin lalu saja!

Sisihkan waktu untuk menulis permintaan maaf yang tulus, yang secara spesifik menggambarkan penyesalan kita atas kejadian terdahulu. Menggunakan nama mereka sebagai sapaan pembuka kalimat juga akan membuat pesan kita lebih tersampaikan. Bagaimana jika kita tidak pandai merangkai kata? Telepon saja!

Setiap kali Lebaran, gue selalu mengetik sendiri ucapan maaf gue ke orang-orang yang gue sadari pernah gue sangat gue sakiti perasaannya. Khusus untuk rekan satu tim di kantor, kecuali ada satu kasus yang spesifik, gue tetap mengirim pesan ke WA group, tapi isinya gue sesuaikan dengan konteks gue meminta maaf sebagai atasan mereka. Gue tulis secara personal hal-hal yang memang hanya relevan untuk ruang lingkup pekerjaan saja. Barulah untuk yang lain-lainnya gue ikut menggunakan standard template untuk membalas incoming text sebagai bentuk sopan-santun saja.

Lebaran itu seharusnya permulaan baru, memulai kembali dari lembaran baru. Bisa dicapai, asalkan dilakukan dengan cara yang benar.

Finally dari gue, mohon dimaafkan jika ada salah kata dalam tulisan-tulisan gue selama ini. Maafkan jika tanpa gue sadari, tulisan gue tanpa sengaja menyakiti hati kalian sebagai pembaca. Sebagai penulis, ada kalanya apa yang gue anggap “biasa saja” diterima secara berbeda oleh pembacanya. Apapun itu, mohon dibukanan pintu maaf sebesar-besarnya.

Selamat Idul Fitri dan selamat berlibur panjang!

Advertisements

Akhir-akhir ini sedang populer tulisan yang dibagikan via Facebook tentang pentingnya memberikan barang yang layak pakai dan bukan hanya sekedar barang murah meriah yang akhirnya tidak terpakai sama sekali. Kue kelewat murah yang rasanya tidak karuan, pakaian murah yang terasa panas dan tipis menerawang, serta pemberian-pemberian lain yang akhirnya tidak terpakai karena memang kualitasnya sangat tidak layak pakai.

Saat membaca tulisan itu, gue bertanya-tanya… kenapa ya, banyak orang yang melakukan amal menggunakan barang yang tidak layak pakai? Meminjam kalimat penulis yang gue sebutkan di atas, banyak orang yang sering bilang begini saat sedang membeli barang untuk amalnya, “Beli yang murah saja lah, buat dibagiin ini.”

Kembali lagi ke pertanyaan gue, “Kenapa?”

Jawaban gue berikut ini sifatnya hanya hasil observasi gue yang belum tentu bisa digeneralisasi, tapi tidak ada salahnya, dibaca untuk dijadikan dasar instropeksi diri.

Ada orang yang beli barang seadanya, lalu diberikan kepada orang-orang yang membutuhkan, untuk kemudian aktivitas amalnya dibagikan berkali-kali di social media. Tidak penting kualitas barangnya, yang penting ada dokumentasinya.

Alasan lainnya, ada orang yang senang memberi karena dia senang melihat orang lain yang tampak senang saat menerima pemberiannya. Mereka lupa untuk berpikir lebih lanjut, “Akan tetap senangkah orang-orang itu saat membuka dan mengkonsumsi pemberian mereka itu?”

Ada pula orang yang asal-asalan memberikan barang asalkan dia tampak keren saat membagikan pemberiannya itu. Tipe orang yang senang menjadi pusat perhatian sehingga saat memberi, fokusnya malah diri dia sendiri dan bukan fokus kepada kebutuhan orang yang dia beri.

Atau bisa juga, ada orang yang hanya tidak menyisihkan lebih banyak waktu untuk mencicipi makanan atau mencoba barang-barang yang diberikannya itu. Fokusnya hanya budget, tanpa memikirkan kualitas pemberiannya.

Jika memang kita memiliki keterbatasan budget untuk amal kita itu, maka menurut gue, kita bisa mengurangi kuantitas untuk meningkatkan kualitasnya. Memberi 10 barang yang bermanfaat akan jauh lebih berarti dari 100 barang yang tidak layak pakai.

Kembali mengutip isi tulisan yang menginspirasi tulisan gue ini, “Jangan memberikan barang yang tidak sudi kita konsumsi sendiri.”

Coba bayangkan kesenangan orang yang kita beri yang langsung sirna dalam sekejap saat mereka mencicipi pemberian kita itu… Dari yang tadinya sangat senang akan berubah menjadi kecewa…. Tidak menutup kemungkinan, mereka bisa berkecil hati, merasa tidak cukup layak untuk menerima pemberian yang layak.

Mari kita belajar memberi di bulan yang baik ini, dengan cara yang juga baik, dengan tujuan yang tidak kalah baik.

Selamat berpuasa!

Beberapa minggu yang lalu, gue mengadakan photoshoot untuk website yang sedang gue bangun. Gue masuk ke ruang make-up bersamaan dengan make-up artist gue (sama-sama perempuan). Kemudian tiba-tiba saja, penjaga studio (laki-laki) masuk ke dalam ruangan dan dia tetap masuk meskipun gue bilang jangan masuk ke dalam karena gue sedang tidak mengenakan jilbab. Padahal, penjaga studio itu sama-sama muslim (gue tahu karena gue lihat dia shalat di studio), tapi dia tetap tidak mengindahkan larangan gue itu.

Hal ini mengingatkan gue dengan acara jalan-jalan dengan beberapa orang kenalan di waktu yang lalu. Waktu itu perempuan yang berjilbab bukan hanya gue, tapi ternyata, beberapa perempuan berjilbab lainnya tipe orang yang hanya pakai jilbab kalau bepergian saja. Mereka semua melepas jilbabnya di dalam villa meskipun saat itu ada beberapa teman laki-laki yang menginap di villa yang sama.

Akibatnya? Teman-teman cewek ini dengan santainya memperbolehkan teman-teman cowoknya masuk ke dalam kamar tanpa mengecek dulu apakah semua teman berjilbabnya sudah mengenakan penutup kepalanya (mungkin karena dipikirnya, semua hijabers punya kebiasaan yang sama dengan mereka). Dan di saat yang bersamaan, teman-teman cowok di sana juga jadi tidak merasa perlu berhati-hati.

Jika diingat lagi, sejak satu trip itu, gue putuskan pada group trips selanjutnya untuk tidak pernah lagi melepas jilbab gue di dalam kamar (kecuali jika gue mendapatkan satu kamar hanya untuk gue sendiri). Memang sangat tidak nyaman, tapi gue tidak akan pernah tahu siapa yang teman sekamar gue perbolehkan masuk saat gue sedang tidur tanpa jilbab gue.

Kenapa gue sangat ketat untuk urusan ini? Karena buat gue, jilbab itu sudah jadi bagian dari diri gue. Ibadah gue secara keseluruhan memang masih jauh dari sempurna, tapi untuk urusan aurat, gue ingin menjaga sebanyak yang gue bisa. Kepergok tanpa jilbab bisa bikin gue merasa sangat malu dan terus kepikiran sampai berhari-hari lamanya. Emang sih, jilbab gue belum sesuai syariat yang sebenar-benarnya, tapi tetap saja… jilbab gue kurang panjang bukan berarti gue memperbolehkan cowok yang bukan muhrim melihat gue tanpa jilbab sama sekali!

Memang benar akhir-akhir ini ada makin banyak perempuan yang terbiasa lepas-pasang jilbab, tapi bukan berarti kita boleh main pukul rata! Beda orang beda pula prinsip mereka dalam menjaga auratnya. Karena hal ini tidak selalu bisa dibedakan secara kasat mata, maka sebetulnya sama sekali tidak susah untuk kita bersikap hati-hati saat berada di sekitar perempuan yang berjilbab.

Jadi jika kamu mengenal perempuan lain yang berjilbab:

  1. Jangan biarkan laki-laki yang bukan muhrim melihat mereka tanpa jilbabnya. Bantu mereka untuk menjaga privasinya;
  2. Jangan mengambil foto mereka (apalagi menyimpannya!) saat mereka sedang tidak mengenakan jilbabnya;
  3. Minta ijin mereka sebelum menyebarluaskan (upload ke socmed misalnya) foto mereka saat belum mengenakan jilbab. Foto masa kecil mungkin masih tidak masalah, tapi pikir dua kali jika foto yang ingin disebarkan adalah foto mereka setelah dewasa; dan
  4. Jangan mendeskripsikan penampilan mereka tanpa jilbab kepada orang lain (menyebutkan model atau panjang rambut mereka misalnya). Jangan pula keluar kalimat, “Dia kalo lagi nggak pake jilbab itu cantik banget lho. Badannya bagus bla bla bla.” Mungkin maksudnya memuji, tapi perempuan yang tingkat keimanannya sangat tinggi tidak suka dibicarakan seperti ini.

Kita tidak perlu mengerti alasan kenapa ada perempuan yang menjaga aurat sampai sebegitunya, tapi kita tetap perlu menghargai keputusan mereka untuk menutup auratnya. Apa yang kita anggap tidak penting bisa jadi luar biasa penting untuk banyak hijabers di luar sana. Dan seperti yang gue tulis sebelumnya, melakukan 4 hal di atas sama sekali tidak sulit, jadi terlepas dari pendapat pribadi kita mengenai jilbab, tidak ada salahnya untuk melakukan hal-hal yang akan sangat mereka hargai itu.

Let’s learn to live in diversity, and we can start with protecting the others to believe in their beliefs.

Have a nice Sunday!

I’ve learned that not all people who looks forgiving are actually holding no grudge. And not all people who speaks the ugly truth having the hard times to forgive the others’ flaws. Forgiveness is not how it seems, it’s how it really feels inside our heart.

Sometimes, forgiving is easy. Sometimes, it’s hard and it takes times. And sometimes, we’re not even sure if we can come back from the pain they put us through.

On the other hands, asking for forgiveness is easy. Sometimes, it’s terrifying. But then sometimes, we don’t even think we have something to apologize.

Forgiveness is getting more complicated as we grow older. We don’t always want to, but we have to. It’s not always asked for, but we still have to. And I believe, that’s Eid is all about: to forgive and to seek for forgiveness.

I know that it’s always easier being said than being done. Some pain is just too much to take. Not everything requires apology to make things right, but in the same time, not everything can be solved and fixed by an apology.

With that being said, somehow I found my way to forgive the people whom I never thought I’d ever forgive. They never ask for forgiveness, I never say they are forgiven either, and it’s not like I’m willing to live a life with them in it like it used to be. But still, I forgive them, in my own way.

I hope, they forgive themselves for everything they did. Or if they still believe they didn’t do anything wrong, I hope that someday they will wake up and learn from it. And on top of all that, I sincerey hope that God will forgive them for all the wrong said and done. I hope, God will help them to be a better person, and help them with a light at the end of the tunnels. Apart from all the nightmare they put me through, they used to be the people who meant a lot and whom I cherished the most.

Forgive people even when they don’t ask for forgiveness. Or even when they don’t deserve any of it. Forgive them not for them, forgive them for you, for your soul and your peace of mind.

Finally, if I ever hurt you with anything I said or did, please do forgive me with a chance to restart all over again. I’m no pure angel, but I’m no pure evil either.

Please forgive me for being a straight-talking.

Forgive me for fighting for what I believed was right until it hurt you along the process.

Forgive me when I’m not always capable of controlling my own anger.

And for the people I care about, please forgive me for the tough love and for not always being nice all the times. When it comes to you, I’m not being mean, I’m being myself who wants nothing but the best for you and your life. Maybe, I just don’t know how to do it right.

As usual for all my blog readers, please forgive me if I ever wrote something offended to you. Wish you all a blessed Eid and a new beginning for you and the loved ones. Happy Eid mubarak and happy holiday!

Ceritanya hari ini, gue pesan taksi untuk berangkat ke apartemen gue untuk serah terima unit (akhirnya, setelah bertahun-tahun lamanya, apartemen gue itu selesai juga!). Kebetulan pagi ini, gue diantar bapak supir taksi yang terlihat sangat dalam pemahaman agama Islam-nya. Ngobrol panjang lebar, si bapak supir bilang begini sama gue, “Saya salut… jarang ada orang kaya yang sifatnya santun kayak Mbak.”

Gue terdiam. Gue? Santun?

Well, pada dasarnya gue tipe orang yang menjunjung tinggi sopan santun. No bad languages, tidak pernah menghina orang lain dengan julukan-julukan yang merendahkan, tidak pernah marah-marah sampai banting barang dan sebagainya… Tapi… benarkah gue tipe orang yang santun dalam artian selalu bisa bersikap sopan, ramah, dan baik hati sepanjang waktu?

Jika lawan bicara gue menyenangkan, mood sedang bagus, tidak banyak tekanan, hidup sedang indah-indahnya… tentu mudah untuk bersikap santun. Tapi tunggu saat gue sedang ditempa banyak cobaan, stres dan tertekan karena pekerjaan, ditambah lagi jika dihadapi pada lawan bicara yang terasa menyebalkan! Masihkah bisa gue bersikap santun?

Baru-baru ini gue menyadari betapa benar bahwa kata-kata itu bisa lebih ‘tajam’ daripada pedang. Betapa emosi yang tidak terkendali benar-benar bisa melukai perasaan orang lain. Melukai dan bisa jadi, tidak akan pernah benar-benar bisa pulih sepenuhnya. Dan ironisnya, gue baru menyadari hal tersebut justru setelah gue mengalaminya sendiri. Saking sakit hatinya, gue malah bertanya-tanya sama diri gue sendiri, “Have I ever done the same thing to someone else?”

Sepanjang perjalanan, gue sangat-sangat menikmati percakapan gue dengan bapak supir ini. Percakapan yang seolah mengingatkan diri gue untuk terus berusaha menjadi a good person. Percakapan yang juga membuat gue berpikir keras, “Is there anything I can do to undo the pain I’ve put people through?”

Gue enggak bilang gue akan bisa berubah dalam sekejap mata. Usaha untuk bisa mengendalikan emosi itu udah seperti proyek abadi buat gue. Berkali-kali gue coba, berkali-kali gue gagal lagi dan lagi. Tetap ada saja salah-salah kata yang terucap dari mulut gue di saat gue sedang marah. Padahal sebetulnya, niat gue baik, hanya pemilihan kata dan intonasi yang banyak dipengaruhi oleh emosi gue itu.

Being a good person is not as easy as posting a good quote. It’s not as easy as writing this blog either. It takes quite an effort, and it may take us a lifetime to keep fighting for just being a good person. However somehow, just having the idea that I wanted to try harder already made me feel a lot better about myself. Suddenly, I knew, I just knew, I could still do better than I already did. 

A few years ago, there was a speaker in a motivational training told the audiences, “You can’t control what people would say or do to you, but you can definitely control how you feel about that. Hence when you get hurt, it’s actually your own decision to let them get under your skin.”

Initially I thought, it was just another quote of the day, but then that quote has eventually changed my perspective. I just realized that people will always have their ways to hurt and break my heart.

The people who keeps bragging the things that I don’t have.

The people who keeps saying bad things about the things I’m so proud of.

The people who is trying to hurt me with their jokes.

The people who can’t seem to stop trying to ruin my happiness.

Or the people who tend to take me for granted over and over again.

If I let myself get hurt evertime someone breaks my heart (intentionally or accidentally) then I would spend the rest of my life in pain!

The higher I stand, the more people will try to take me down. Then no matter how good I am, I will still be imperfect and people will still manage to find my flaws if they want to. And the deeper and the more sincere I love, the more chances I will get hurt.

I’ve come to realize that life is too short to be miserable. If I can get over it and stay happy with my life, then why should I let myself be consumed by rage, hatred, and resentment?

I know that I still yell when I’m angry. I also know that I can be very cynical when I start disliking someone I know. But that’s just that. I don’t want to spend every second of my life hating them. I don’t want to let them haunt my mind and soul. And I don’t bother wasting my time just to find a way to revenge or to hurt them back. Doing all those things won’t make me feel any better anyway.

Lebaran is always a reminder to me to forgive. To give people their second chances. To help people as much as I could even if I hate them to the core. And to forgive them even if they never ask. I don’t need them to apologize because I do it not for them, I do it for myself. For my peace of mind.

No matter how bad people hurt you or break your heart or disappoint you after everything you’ve done for them, just forgive them anyway. Forgiveness will set you free. It will help you to be bigger and wiser than you were yesterday. It’s okay to remember how hurt you’ve ever been, but that’s it! Don’t let that pain from the past stops you from being happy with your life. Once you get it right, believe me, your life will never ever be the same again. I would say my friend, that is the art of forgiveness.

Eid mubarak and please forgive all the wrongs that I (unintentionally) wrote in this blog. And of course, happy weekend and happy holiday!

Berawal dari statement Ahok yang satu ini, “Kan dipaksa tanda kutip dong. Kalau kamu bilang nih setiap hari Jumat sekolah harus pakai jilbab, berarti kan seragam sekolah. Jilbab itu bukan seragam sekolah, ini panggilan hati akhlak agama.” Gue jadi gemas untuk ikut berkomentar.

Yang pertama, tidak benar bahwa jilbab itu panggilan hati. Sama seperti shalat dan puasa, jilbab itu ajaran agama Islam yang wajib hukumnya bagi wanita yang sudah mendapatkan menstruasi pertamanya. Tidak perlu menunggu dapat panggilan hati dulu untuk menjadikan jilbab itu wajib bagi seorang wanita. Tidak benar pula jilbab itu bagian dari ahlak agama. Dalam Islam, ahlak itu artinya prilaku, sedangkan jilbab itu konteksnya pakaian untuk menutup aurat. Ahlak sifatnya tidak kasat mata, sedangkan jilbab sifatnya sudah tentu sangat kasat mata. Betul-betul dua hal yang berbeda.

Yang ke dua, mengingat jilbab juga bagian dari ajaran agama, apalah salahnya mengajarkan siswi muslim untuk menjalankan ajaran agamanya? Bukankah memang itu fungsi mata pelajaran agama di sekolah? Sama seperti guru agama mengajarkan praktek wudhu, shalat, mengaji, dan lain sebagainya.

Lalu bagaimana jika siswi ybs melepas jilbabnya selepas jam sekolah? Nah, sekarang gue tanya… Bagaimana jika siswi ybs hanya shalat saat pelajaran agama saja? Hanya mengaji saat ujian saja? Haruskah sekolah juga berhenti memberikan materi praktek shalat dan mengaji?

Menurut gue, tidak ada salahnya, bahkan ada baiknya sekolah mewajibkan siswi muslimahnya (baca: hanya yang muslim saja) berjilbab di sekolah. Supaya mereka terbiasa dengan jilbab itu sendiri, terbiasa dengan ajaran agama mereka sendiri. Sama seperti mata pelajaran lainnya, tugas sekolah hanya mengajarkan, soal diterapkan di luar sekolah atau tidak sudah jadi tanggung jawab masing-masing pelajar.

Gue nulis begini bukan berarti gue benci banget sama Ahok. Honestly, gue belum pernah menemukan tokoh politik yang selalu gue support 100% semua pendapat dan keputusannya. Mendukung satu orang bukan berarti harus mengangguk setuju pada semua perkataannya kan? Dan kebetulan untuk hal yang satu ini, gue tidak sependapat dengan Ahok.

Buat yang mau comment, please behave yaaa. I have a right to filter your comments.

Good night!


My Blog Counter

  • 1,011,909 visits since May 2011

My Blog Categories

My Blog Archives

Click here to read my tweets…

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

About Me

What my blog is all about? It's all about my life; my very own fairy tale, that I would love to share. This is my story, my ups and downs, it's a journey to remember.

Advertisements