A journey to remember

Archive for the ‘Islam’ Category

Beberapa minggu yang lalu, gue mengadakan photoshoot untuk website yang sedang gue bangun. Gue masuk ke ruang make-up bersamaan dengan make-up artist gue (sama-sama perempuan). Kemudian tiba-tiba saja, penjaga studio (laki-laki) masuk ke dalam ruangan dan dia tetap masuk meskipun gue bilang jangan masuk ke dalam karena gue sedang tidak mengenakan jilbab. Padahal, penjaga studio itu sama-sama muslim (gue tahu karena gue lihat dia shalat di studio), tapi dia tetap tidak mengindahkan larangan gue itu.

Hal ini mengingatkan gue dengan acara jalan-jalan dengan beberapa orang kenalan di waktu yang lalu. Waktu itu perempuan yang berjilbab bukan hanya gue, tapi ternyata, beberapa perempuan berjilbab lainnya tipe orang yang hanya pakai jilbab kalau bepergian saja. Mereka semua melepas jilbabnya di dalam villa meskipun saat itu ada beberapa teman laki-laki yang menginap di villa yang sama.

Akibatnya? Teman-teman cewek ini dengan santainya memperbolehkan teman-teman cowoknya masuk ke dalam kamar tanpa mengecek dulu apakah semua teman berjilbabnya sudah mengenakan penutup kepalanya (mungkin karena dipikirnya, semua hijabers punya kebiasaan yang sama dengan mereka). Dan di saat yang bersamaan, teman-teman cowok di sana juga jadi tidak merasa perlu berhati-hati.

Jika diingat lagi, sejak satu trip itu, gue putuskan pada group trips selanjutnya untuk tidak pernah lagi melepas jilbab gue di dalam kamar (kecuali jika gue mendapatkan satu kamar hanya untuk gue sendiri). Memang sangat tidak nyaman, tapi gue tidak akan pernah tahu siapa yang teman sekamar gue perbolehkan masuk saat gue sedang tidur tanpa jilbab gue.

Kenapa gue sangat ketat untuk urusan ini? Karena buat gue, jilbab itu sudah jadi bagian dari diri gue. Ibadah gue secara keseluruhan memang masih jauh dari sempurna, tapi untuk urusan aurat, gue ingin menjaga sebanyak yang gue bisa. Kepergok tanpa jilbab bisa bikin gue merasa sangat malu dan terus kepikiran sampai berhari-hari lamanya. Emang sih, jilbab gue belum sesuai syariat yang sebenar-benarnya, tapi tetap saja… jilbab gue kurang panjang bukan berarti gue memperbolehkan cowok yang bukan muhrim melihat gue tanpa jilbab sama sekali!

Memang benar akhir-akhir ini ada makin banyak perempuan yang terbiasa lepas-pasang jilbab, tapi bukan berarti kita boleh main pukul rata! Beda orang beda pula prinsip mereka dalam menjaga auratnya. Karena hal ini tidak selalu bisa dibedakan secara kasat mata, maka sebetulnya sama sekali tidak susah untuk kita bersikap hati-hati saat berada di sekitar perempuan yang berjilbab.

Jadi jika kamu mengenal perempuan lain yang berjilbab:

  1. Jangan biarkan laki-laki yang bukan muhrim melihat mereka tanpa jilbabnya. Bantu mereka untuk menjaga privasinya;
  2. Jangan mengambil foto mereka (apalagi menyimpannya!) saat mereka sedang tidak mengenakan jilbabnya;
  3. Minta ijin mereka sebelum menyebarluaskan (upload ke socmed misalnya) foto mereka saat belum mengenakan jilbab. Foto masa kecil mungkin masih tidak masalah, tapi pikir dua kali jika foto yang ingin disebarkan adalah foto mereka setelah dewasa; dan
  4. Jangan mendeskripsikan penampilan mereka tanpa jilbab kepada orang lain (menyebutkan model atau panjang rambut mereka misalnya). Jangan pula keluar kalimat, “Dia kalo lagi nggak pake jilbab itu cantik banget lho. Badannya bagus bla bla bla.” Mungkin maksudnya memuji, tapi perempuan yang tingkat keimanannya sangat tinggi tidak suka dibicarakan seperti ini.

Kita tidak perlu mengerti alasan kenapa ada perempuan yang menjaga aurat sampai sebegitunya, tapi kita tetap perlu menghargai keputusan mereka untuk menutup auratnya. Apa yang kita anggap tidak penting bisa jadi luar biasa penting untuk banyak hijabers di luar sana. Dan seperti yang gue tulis sebelumnya, melakukan 4 hal di atas sama sekali tidak sulit, jadi terlepas dari pendapat pribadi kita mengenai jilbab, tidak ada salahnya untuk melakukan hal-hal yang akan sangat mereka hargai itu.

Let’s learn to live in diversity, and we can start with protecting the others to believe in their beliefs.

Have a nice Sunday!

Advertisements

I’ve learned that not all people who looks forgiving are actually holding no grudge. And not all people who speaks the ugly truth having the hard times to forgive the others’ flaws. Forgiveness is not how it seems, it’s how it really feels inside our heart.

Sometimes, forgiving is easy. Sometimes, it’s hard and it takes times. And sometimes, we’re not even sure if we can come back from the pain they put us through.

On the other hands, asking for forgiveness is easy. Sometimes, it’s terrifying. But then sometimes, we don’t even think we have something to apologize.

Forgiveness is getting more complicated as we grow older. We don’t always want to, but we have to. It’s not always asked for, but we still have to. And I believe, that’s Eid is all about: to forgive and to seek for forgiveness.

I know that it’s always easier being said than being done. Some pain is just too much to take. Not everything requires apology to make things right, but in the same time, not everything can be solved and fixed by an apology.

With that being said, somehow I found my way to forgive the people whom I never thought I’d ever forgive. They never ask for forgiveness, I never say they are forgiven either, and it’s not like I’m willing to live a life with them in it like it used to be. But still, I forgive them, in my own way.

I hope, they forgive themselves for everything they did. Or if they still believe they didn’t do anything wrong, I hope that someday they will wake up and learn from it. And on top of all that, I sincerey hope that God will forgive them for all the wrong said and done. I hope, God will help them to be a better person, and help them with a light at the end of the tunnels. Apart from all the nightmare they put me through, they used to be the people who meant a lot and whom I cherished the most.

Forgive people even when they don’t ask for forgiveness. Or even when they don’t deserve any of it. Forgive them not for them, forgive them for you, for your soul and your peace of mind.

Finally, if I ever hurt you with anything I said or did, please do forgive me with a chance to restart all over again. I’m no pure angel, but I’m no pure evil either.

Please forgive me for being a straight-talking.

Forgive me for fighting for what I believed was right until it hurt you along the process.

Forgive me when I’m not always capable of controlling my own anger.

And for the people I care about, please forgive me for the tough love and for not always being nice all the times. When it comes to you, I’m not being mean, I’m being myself who wants nothing but the best for you and your life. Maybe, I just don’t know how to do it right.

As usual for all my blog readers, please forgive me if I ever wrote something offended to you. Wish you all a blessed Eid and a new beginning for you and the loved ones. Happy Eid mubarak and happy holiday!

Ceritanya hari ini, gue pesan taksi untuk berangkat ke apartemen gue untuk serah terima unit (akhirnya, setelah bertahun-tahun lamanya, apartemen gue itu selesai juga!). Kebetulan pagi ini, gue diantar bapak supir taksi yang terlihat sangat dalam pemahaman agama Islam-nya. Ngobrol panjang lebar, si bapak supir bilang begini sama gue, “Saya salut… jarang ada orang kaya yang sifatnya santun kayak Mbak.”

Gue terdiam. Gue? Santun?

Well, pada dasarnya gue tipe orang yang menjunjung tinggi sopan santun. No bad languages, tidak pernah menghina orang lain dengan julukan-julukan yang merendahkan, tidak pernah marah-marah sampai banting barang dan sebagainya… Tapi… benarkah gue tipe orang yang santun dalam artian selalu bisa bersikap sopan, ramah, dan baik hati sepanjang waktu?

Jika lawan bicara gue menyenangkan, mood sedang bagus, tidak banyak tekanan, hidup sedang indah-indahnya… tentu mudah untuk bersikap santun. Tapi tunggu saat gue sedang ditempa banyak cobaan, stres dan tertekan karena pekerjaan, ditambah lagi jika dihadapi pada lawan bicara yang terasa menyebalkan! Masihkah bisa gue bersikap santun?

Baru-baru ini gue menyadari betapa benar bahwa kata-kata itu bisa lebih ‘tajam’ daripada pedang. Betapa emosi yang tidak terkendali benar-benar bisa melukai perasaan orang lain. Melukai dan bisa jadi, tidak akan pernah benar-benar bisa pulih sepenuhnya. Dan ironisnya, gue baru menyadari hal tersebut justru setelah gue mengalaminya sendiri. Saking sakit hatinya, gue malah bertanya-tanya sama diri gue sendiri, “Have I ever done the same thing to someone else?”

Sepanjang perjalanan, gue sangat-sangat menikmati percakapan gue dengan bapak supir ini. Percakapan yang seolah mengingatkan diri gue untuk terus berusaha menjadi a good person. Percakapan yang juga membuat gue berpikir keras, “Is there anything I can do to undo the pain I’ve put people through?”

Gue enggak bilang gue akan bisa berubah dalam sekejap mata. Usaha untuk bisa mengendalikan emosi itu udah seperti proyek abadi buat gue. Berkali-kali gue coba, berkali-kali gue gagal lagi dan lagi. Tetap ada saja salah-salah kata yang terucap dari mulut gue di saat gue sedang marah. Padahal sebetulnya, niat gue baik, hanya pemilihan kata dan intonasi yang banyak dipengaruhi oleh emosi gue itu.

Being a good person is not as easy as posting a good quote. It’s not as easy as writing this blog either. It takes quite an effort, and it may take us a lifetime to keep fighting for just being a good person. However somehow, just having the idea that I wanted to try harder already made me feel a lot better about myself. Suddenly, I knew, I just knew, I could still do better than I already did. 

A few years ago, there was a speaker in a motivational training told the audiences, “You can’t control what people would say or do to you, but you can definitely control how you feel about that. Hence when you get hurt, it’s actually your own decision to let them get under your skin.”

Initially I thought, it was just another quote of the day, but then that quote has eventually changed my perspective. I just realized that people will always have their ways to hurt and break my heart.

The people who keeps bragging the things that I don’t have.

The people who keeps saying bad things about the things I’m so proud of.

The people who is trying to hurt me with their jokes.

The people who can’t seem to stop trying to ruin my happiness.

Or the people who tend to take me for granted over and over again.

If I let myself get hurt evertime someone breaks my heart (intentionally or accidentally) then I would spend the rest of my life in pain!

The higher I stand, the more people will try to take me down. Then no matter how good I am, I will still be imperfect and people will still manage to find my flaws if they want to. And the deeper and the more sincere I love, the more chances I will get hurt.

I’ve come to realize that life is too short to be miserable. If I can get over it and stay happy with my life, then why should I let myself be consumed by rage, hatred, and resentment?

I know that I still yell when I’m angry. I also know that I can be very cynical when I start disliking someone I know. But that’s just that. I don’t want to spend every second of my life hating them. I don’t want to let them haunt my mind and soul. And I don’t bother wasting my time just to find a way to revenge or to hurt them back. Doing all those things won’t make me feel any better anyway.

Lebaran is always a reminder to me to forgive. To give people their second chances. To help people as much as I could even if I hate them to the core. And to forgive them even if they never ask. I don’t need them to apologize because I do it not for them, I do it for myself. For my peace of mind.

No matter how bad people hurt you or break your heart or disappoint you after everything you’ve done for them, just forgive them anyway. Forgiveness will set you free. It will help you to be bigger and wiser than you were yesterday. It’s okay to remember how hurt you’ve ever been, but that’s it! Don’t let that pain from the past stops you from being happy with your life. Once you get it right, believe me, your life will never ever be the same again. I would say my friend, that is the art of forgiveness.

Eid mubarak and please forgive all the wrongs that I (unintentionally) wrote in this blog. And of course, happy weekend and happy holiday!

Berawal dari statement Ahok yang satu ini, “Kan dipaksa tanda kutip dong. Kalau kamu bilang nih setiap hari Jumat sekolah harus pakai jilbab, berarti kan seragam sekolah. Jilbab itu bukan seragam sekolah, ini panggilan hati akhlak agama.” Gue jadi gemas untuk ikut berkomentar.

Yang pertama, tidak benar bahwa jilbab itu panggilan hati. Sama seperti shalat dan puasa, jilbab itu ajaran agama Islam yang wajib hukumnya bagi wanita yang sudah mendapatkan menstruasi pertamanya. Tidak perlu menunggu dapat panggilan hati dulu untuk menjadikan jilbab itu wajib bagi seorang wanita. Tidak benar pula jilbab itu bagian dari ahlak agama. Dalam Islam, ahlak itu artinya prilaku, sedangkan jilbab itu konteksnya pakaian untuk menutup aurat. Ahlak sifatnya tidak kasat mata, sedangkan jilbab sifatnya sudah tentu sangat kasat mata. Betul-betul dua hal yang berbeda.

Yang ke dua, mengingat jilbab juga bagian dari ajaran agama, apalah salahnya mengajarkan siswi muslim untuk menjalankan ajaran agamanya? Bukankah memang itu fungsi mata pelajaran agama di sekolah? Sama seperti guru agama mengajarkan praktek wudhu, shalat, mengaji, dan lain sebagainya.

Lalu bagaimana jika siswi ybs melepas jilbabnya selepas jam sekolah? Nah, sekarang gue tanya… Bagaimana jika siswi ybs hanya shalat saat pelajaran agama saja? Hanya mengaji saat ujian saja? Haruskah sekolah juga berhenti memberikan materi praktek shalat dan mengaji?

Menurut gue, tidak ada salahnya, bahkan ada baiknya sekolah mewajibkan siswi muslimahnya (baca: hanya yang muslim saja) berjilbab di sekolah. Supaya mereka terbiasa dengan jilbab itu sendiri, terbiasa dengan ajaran agama mereka sendiri. Sama seperti mata pelajaran lainnya, tugas sekolah hanya mengajarkan, soal diterapkan di luar sekolah atau tidak sudah jadi tanggung jawab masing-masing pelajar.

Gue nulis begini bukan berarti gue benci banget sama Ahok. Honestly, gue belum pernah menemukan tokoh politik yang selalu gue support 100% semua pendapat dan keputusannya. Mendukung satu orang bukan berarti harus mengangguk setuju pada semua perkataannya kan? Dan kebetulan untuk hal yang satu ini, gue tidak sependapat dengan Ahok.

Buat yang mau comment, please behave yaaa. I have a right to filter your comments.

Good night!

Kata siapa resolusi hanya identik dengan tahun baru saja? Ceritanya Ramadhan tahun ini, gue kepingin bikin resolusi juga! Yaah, hitung-hitung menambah pahala lah yaa, hehehe. Here we go!

Menghindari (atau setidaknya mengurangi) debat kusir

Beberapa waktu yang lalu, ada teman sekantor yang cerita mengenai rekan kerja dari regional team yang terus saja mendebat dia. Bukan suatu hal yang sangat penting, tapi si regional team itu tidak mau mengalah. Akhirnya, teman gue ini berhenti membalas, meskipun sebenarnya pada saat itu, dia punya bukti bahwa dia yang benar dalam percakapan hari itu.

Saat seseorang sudah dibutakan dengan egonya, terus menerus membantah mereka pada dasarnya hanya buang-buang waktu saja. Kita tidak akan pernah benar-benar menang dari mereka. Mengalah toh bukan berarti kalah, bukan pula berarti mengakui bahwa pendapat kita itu salah. Jadi sudahlah. Lebih baik simpan energi untuk hal-hal yang lebih bermanfaat! Lagipula toh, bukankah dalam Islam, orang yang mampu meninggalkan debat kusir meskipun dia dalam keadaan benar dijamin sebuah rumah di dasar surga?

Menahan rasa benci hanya karena orang lain melakukan dosa yang berbeda

Jujur, gue tidak merasa nyaman saat melihat perempuan yang suka melepas jilbab di saat dia masih harus mengenakannya. Padahal setelah dipikir lagi, meskipun mereka tidak disiplin dengan jilbabnya, bisa jadi mereka lebih disiplin soal shalat-nya jika dibandingkan dengan gue sendiri. Bagaimana jika gantian mereka yang membenci gue karena masalah ibadah-ibadah gue lainnya yang masih belum sempurna itu? Will I be happy with that?

Ibadah orang lain itu urusan mereka dengan Allah. Selama tidak merugikan orang lain, tidak perlu jadi sewot sendiri karenanya. Mau sesempurna apapun ibadah kita, hal itu tidak lantas memberikan kita hak untuk membenci atau memusuhi orang lain. Nabi Muhammad tidak pernah mengajari kita membenci pemeluk agama lain, apa lagi membenci saudara sesama Muslim!

Lebih memaklumi dan memaafkan kesalahan orang lain

Meskipun di sini gue bilang gue ingin menjauhi debat kusir, tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti malah gue sendiri yang memulai debat kusir itu. Tidak mustahil pula gue masih saja nge-judge orang lain atas keputusan hidup mereka yang sebetulnya bukan urusan gue sama sekali. Kenapa begitu? Karena gue hanya manusia biasa yang bisa khilaf. Belum lagi, sudut pandang tiap orang itu berbeda-beda. Misalnya, apa yang gue anggap brainstorming bisa jadi sudah masuk kategori debat kusir menurut ukuran orang lain. Jadi, kalau gue ingin dimaklumi, gue juga harus bisa memaklumi orang lain, bukan?

Kemudian saat orang lain melakukan kesalahan yang menyakiti perasaan, gue ingin bisa mengatakan terus terang dengan cara sebaik-baiknya. Katakan, maafkan, dan lupakan. Mereka mau atau tidak mau berubah itu urusan belakangan. Yang penting maafkan saja, supaya hati dan hidup kita tidak dihantui kebencian yang berlarut-larut. Saat kita membenci, yang rugi itu diri kita sendiri! Kita yang resah, terus menerus kepikiran, kita yang harus terus menerus menahan marah… Life is too short to be filled with hatred! Let’s forgive each other and move on!

 

Selamat menjalankan ibadah puasa untuk teman-teman sesama Muslim. Semoga bulan Ramadhan tahun ini bisa menjadikan kita semua pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Have a wonderful holly month ahead!

Jeddah, 27 Januari 2016

Awalnya, gue agak ragu-ragu untuk menulis perjalanan Umrah perdana gue ini. Gimana kalo jatuhnya seperti riya? Gimana kalo gue malah dianggap pamer, sombong, dsb dsb… Tapi setelah gue pikir kembali, jika tulisan gue ini bisa membawa manfaat untuk orang lain, kenapa tidak?

Jadi ceritanya, ortu gue udah menyarankan untuk pergi Umrah sejak beberapa tahun yang lalu. Hanya saja sayangnya, gue selalu punya alasan untuk menunda rencana Umrah gue itu. Yang penting target gue, gue harus pergi Umrah sebelum menginjak usia 30. Secara November tahun ini akan jadi ultah gue yang ke 30, akhirnya gue putuskan untuk berangkat tahun 2016. Sengaja berangkat di bulan Januari di saat cuaca di Mekah sedang sejuk-sejuknya.

Sejak tahu akan segera pergi Umrah, gue mulai merenung di dalam hati… Nanti selama Umrah, gue ingin berdoa soal apa saja ya? Nggak mungkin dong, gue berdoa hanya soal jodoh gue saja? Secara tujuan gue Umrah kan sama sekali bukan demi cepat-cepat dapat jodoh! Tapi jika gue masih saja meminta banyak hal lainnya dalam doa-doa gue itu, kesannya gue ini serakah banget nggak sih?

Tanpa bermaksud sombong, gue betulan merasa sudah punya lebih dari cukup dalam usia gue yang masih terbilang muda ini. Bukan hanya soal materi, tapi lebih soal hidup gue yang semakin dewasa justru semakin bahagia, mimpi-mimpi gue yang sudah menjadi nyata, sahabat-sahabat yang gue jumpai sepanjang jalan kehidupan gue, dan yang paling penting, soal transformasi kepribadian dari gue yang dulu menjadi gue yang sekarang ini. Kalau menurut kalian gue masih punya banyak sifat jeleknya, kalian pasti bakal syok berat kalau sampai tahu kepribadian gue yang dulu. Tanpa perubahan kepribadian gue itu, entah hanya jadi apa diri gue yang sekarang ini.

If I already have this much, how can I still ask for more?

Tapi ya sudahlah, pergi ya pergi saja dulu. Soal doa biar nanti mengalir dengan sendirinya. Dan ternyata benar saja, doa itu; doa yang paling tulus dari lubuk hati itu, akhirnya benar datang dengan sendirinya.

Gue memulai perjalanan ibadah gue dari Madinah terlebih dahulu. Doa pertama, ke dua, ke tiga dan seterusnya mulai gue panjatkan. Soal rezeki yang halal, kesehatan, kebahagiaan, dan nggak munafik, soal minta diberikan jodoh yang terbaik pada waktu yang terbaik juga. Gue coba khusuk berdoa, tapi entah kenapa, rasa haru yang biasa dirasakan jamaah-jamaah Umrah pada umumnya masih belum gue rasakan. Masih belum, sampai akhirnya gue menginjakkan kaki di Raudhoh masjid Nabawi, Madinah.

Bagi yang belum tahu, Raudhoh adalah satu area khusus di dalam masjid Nabawi di mana doa-doa yang kita panjatkan Insyaallah akan dikabulkan. Satu area kecil yang diperlukan kesabaran ekstra hanya untuk masuk, shalat, dan berdoa di dalamnya.

Sebelum masuk area Raudhoh, gue diberitahu bahwa ciri-ciri area Raudhoh adalah beralaskan sajadah berwarna hijau. Setelah menunggu selama hampir 3 jam lamanya, akhirnya, tiba giliran gue menginjakkan kaki di karpet hijau itu.

Sambil berdiri dan menunggu giliran untuk shalat sunnah di area Raudhoh, gue mulai memanjatkan doa di dalam hati. Doa-doa yang kurang lebih sama dengan doa-doa gue sebelumnya, kecuali satu doa yang secara spontan gue ucapkan, persis saat tinggal satu langkah menuju giliran gue untuk menjalankan shalat sunnah di sana.

Saat itu, gue berdoa agar tetap menjadi orang yang hidup dengan penuh rasa syukur. Berawal dari doa itu, gue lanjutkan dengan mengucapkan syukur atas segala anugerah yang telah Allah berikan. Rasa syukur yang teramat besar untuk karier gue, impian-impian gue, dan semua kebahagiaan yang gue dapatkan dalam hidup gue ini.

Gue terus mengucap syukur, sampai tanpa terasa, air mata turun membasahi kedua tangan yang sedang gue tenggadahkan untuk berdoa. Entah kenapa, bukannya menangisi hal-hal yang gue inginkan untuk hidup gue, gue malah meneteskan air mata haru atas hidup yang telah Allah anugerahkan kepada gue sampai dengan usia 29 tahun ini.

Setelah genap seminggu gue menjalankan ibadah ini, sudah begitu banyak doa yang gue panjatkan, tapi tidak ada satu doa lain pun yang berhasil mendatangkan keharuan yang sama besarnya dengan doa gue di Raudhoh itu. Gue sungguh berharap, sekedar doa guna senantiasa diingatkan untuk mengucap syukur pun, akan jadi doa yang mencukupi segala doa lainnya.

Persis kemarin siang, gue sudah menuntaskan ibadah Umrah gue. Rasa haru yang gue rasakan di Raudhoh dan rasa damai yang gue rasakan selama Sai buat gue mulai bertanya-tanya di dalam hati, “Kenapa gue tidak pergi Umrah sejak awal ya? Kenapa harus tunggu usia 29 tahun terlebih dulu?”

Banyak orang yang sering titip doa minta diberikan panggilan untuk datang ke tanah suci. Buat sebagian orang, Umrah memang bukan sesuatu yang mudah. Biayanya, waktunya, kekuatan fisiknya… Tapi berkaca dari diri gue sendiri, kedatangan gue ke sini bukan soal dipanggil atau tidak dipanggil, tapi lebih kepada mau datang atau tidak mau datang. Mau keluar uang sekarang atau nanti-nanti saja. Mau menunda, atau pergi sekarang juga.

Haruskah kita pergi Umrah? Memang bukan ibadah wajib, tapi jika sudah mampu, kenapa tidak? Tidak perlu menunggu kita butuh sesuatu untuk diminta kepada Allah, sekedar mengucap syukur atas segala anugerah-Nya, menurut gue, sudah lebih dari cukup. Dan tidak perlu direpotkan dengan pikiran, bagaimana jika sepulangnya dari Umrah, perilaku dan ketaatan kita tetap sama-sama saja dengan sebelumnya? Tetap pergi saja, karena jika kita baru pergi setelah merasa siap untuk pergi, maka bisa jadi, kita tidak akan pernah merasa cukup siap untuk pergi.

So I think I would say, if you can afford it, just do it. Your Europe trip can wait. Your new car can wait. Or maybe, your exclusive leather LV handbag can wait. If you can afford all of this, you can afford Umrah. Do it and experience the chills I got when I was there.


My Blog Counter

  • 900,237 visits since May 2011

My Blog Categories

My Blog Archives

Click here to read my tweets…

Click the pictures below to visit my Instagram...

The beauty of diversity. I'm glad that I met them along my career path at Lazada. Just a little help like this could mean everything to me and The Lens Story. Many thanks! ❤️
📷: @thelenstory 👚: @adidaswomen 👕: @nike 
#friends #friendshipgoals #diversity #photography #photooftheday #canon #snapseed #thelenstory Find someone who loves you properly.
The one who never intentionally let you wait for him.
The one who never makes you have to wonder how he truly feels about you.
The one who will definitely catch you and hold you tight as you fall for him.
The one who gives you all he has to be a better man, to fix what goes wrong, to fight for you and to never let you go.
You are too old for another Mr. Wrong, reward yourself with the right one.
Love yourself enough to leave your past, you deserve better.
📷: @thelenstory
💄: @yuficarolin.mua
👗: @calla.atelier
👠: @charleskeithofficial 
#love #life #quote #photography #photooftheday #thelenstory I'm not perfect. I make mistakes. I do the things I'm not proud of. I give up, sometimes. I hurt people, mostly the ones that I actually care about. I have a lot of flaws, but at least, I'm trying hard to be a better person. I'm no saint nor angel, but I'm not a pure evil either. I'm simply a human who is trying to be the very best that I can be. I'll never stop learning, until my very last breath.
📷 @thelenstory
💄 @yuficarolin.mua
👗 @calla.atelier
👠 @charleskeithofficial
#photooftheday #beauty #photography #quote #thelenstory

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

About Me

What my blog is all about? It's all about my life; my very own fairy tale, that I would love to share. This is my story, my ups and downs, it's a journey to remember.