A journey to remember

Beramal, dengan Cara yang Baik dan Benar

Posted on: May 29, 2018

Akhir-akhir ini sedang populer tulisan yang dibagikan via Facebook tentang pentingnya memberikan barang yang layak pakai dan bukan hanya sekedar barang murah meriah yang akhirnya tidak terpakai sama sekali. Kue kelewat murah yang rasanya tidak karuan, pakaian murah yang terasa panas dan tipis menerawang, serta pemberian-pemberian lain yang akhirnya tidak terpakai karena memang kualitasnya sangat tidak layak pakai.

Saat membaca tulisan itu, gue bertanya-tanya… kenapa ya, banyak orang yang melakukan amal menggunakan barang yang tidak layak pakai? Meminjam kalimat penulis yang gue sebutkan di atas, banyak orang yang sering bilang begini saat sedang membeli barang untuk amalnya, “Beli yang murah saja lah, buat dibagiin ini.”

Kembali lagi ke pertanyaan gue, “Kenapa?”

Jawaban gue berikut ini sifatnya hanya hasil observasi gue yang belum tentu bisa digeneralisasi, tapi tidak ada salahnya, dibaca untuk dijadikan dasar instropeksi diri.

Ada orang yang beli barang seadanya, lalu diberikan kepada orang-orang yang membutuhkan, untuk kemudian aktivitas amalnya dibagikan berkali-kali di social media. Tidak penting kualitas barangnya, yang penting ada dokumentasinya.

Alasan lainnya, ada orang yang senang memberi karena dia senang melihat orang lain yang tampak senang saat menerima pemberiannya. Mereka lupa untuk berpikir lebih lanjut, “Akan tetap senangkah orang-orang itu saat membuka dan mengkonsumsi pemberian mereka itu?”

Ada pula orang yang asal-asalan memberikan barang asalkan dia tampak keren saat membagikan pemberiannya itu. Tipe orang yang senang menjadi pusat perhatian sehingga saat memberi, fokusnya malah diri dia sendiri dan bukan fokus kepada kebutuhan orang yang dia beri.

Atau bisa juga, ada orang yang hanya tidak menyisihkan lebih banyak waktu untuk mencicipi makanan atau mencoba barang-barang yang diberikannya itu. Fokusnya hanya budget, tanpa memikirkan kualitas pemberiannya.

Jika memang kita memiliki keterbatasan budget untuk amal kita itu, maka menurut gue, kita bisa mengurangi kuantitas untuk meningkatkan kualitasnya. Memberi 10 barang yang bermanfaat akan jauh lebih berarti dari 100 barang yang tidak layak pakai.

Kembali mengutip isi tulisan yang menginspirasi tulisan gue ini, “Jangan memberikan barang yang tidak sudi kita konsumsi sendiri.”

Coba bayangkan kesenangan orang yang kita beri yang langsung sirna dalam sekejap saat mereka mencicipi pemberian kita itu… Dari yang tadinya sangat senang akan berubah menjadi kecewa…. Tidak menutup kemungkinan, mereka bisa berkecil hati, merasa tidak cukup layak untuk menerima pemberian yang layak.

Mari kita belajar memberi di bulan yang baik ini, dengan cara yang juga baik, dengan tujuan yang tidak kalah baik.

Selamat berpuasa!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

My Blog Counter

  • 988,491 visits since May 2011

My Blog Categories

My Blog Archives

Click here to read my tweets…

Click the pictures below to visit my Instagram...

From classmates to travelmates! Been friends since we were only 15 years old! Met them up today and we’ve made a lot of plans for our coming trips. Let’s make it happen!
I don’t know why but I couldn’t seem to get any new outfit for Lebaran this year. I went to three shopping malls but then I went home with empty hands. So here I am... wearing one old dress I bought a couple years ago. Today before Eid prayer was begun, I saw something that made me smile. I instantly knew that I’ve had something way more important than a new dress for myself. I’d be happy if I had a new dress, but I’m still perfectly happy even without any of it. God has been incredibly kind to me and Ramadhan this year couldn’t be more miraculous to me. I am full of flaws, but I’ve had way more than enough, and I couldn’t ask for more. Eid mubarak and please do forgive me for all the wrong said and done. Let’s celebrate this holly day as the new beginning for each and everyone of us. Love - Riffa.
Arfa, my very first nephew, is turning six today! Just two days ago, he told me, “Aunty, when I grow up, I want to be vey rich so that I can buy for you anything you want!” He’s lovable, isn’t he? It never ceases to amaze me to see all the new things he learned, said, and did in the past 6 years. He’s growing up so fast and I can’t be prouder of him! Happy birthday, Arfa! Wish you’ll always be a loving kid and may Allah always bless you in every step of the way. So much love - your proud Aunty ❤️

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

About Me

What my blog is all about? It's all about my life; my very own fairy tale, that I would love to share. This is my story, my ups and downs, it's a journey to remember.

Advertisements
%d bloggers like this: