And I’m Finally Rising from The Dust

Hari ini sebetulnya hari yang biasa-biasa saja. Pagi berangkat kerja, menghadiri beberapa meetings, dan mengakhiri rutinitas kerja dengan membalas setumpuk e-mails seperti biasa. Kemudian jam 6 sore, saya bersiap untuk berangkat ke studio tempat saya akan mencoba olahraga pound fit.

Selesai olahraga, saya mampir ke Watson untuk beli sekantong penuh camilan, lalu mampir ke Pagi Sore untuk makan malam (dan tumben banget saya makannya banyak!).

Saat tengah menghabiskan makanan, saya mendengar lagu ulang tahun diputar di restoran dan sekelompok orang ikut bernyanyi untuk temannya yang tengah berulang tahun.

Melihat mereka yang tampak bahagia, saya ikut tersenyum lebar. Dan tiba-tiba saja, saya merinding. Rasa hangat yang menjalar dalam hati saya betul-betul terasa menyenangkan. Setelah melewati luka yang sangat-sangat menyakiti perasaan, kembali merasakan rasanya bahagia itu betul-betul tidak ternilai harganya. Tidak ada hal luar biasa yang terjadi hari ini, tapi saya tetap merasa bahagia.

Akhir-akhir ini saya menyadari… Meskipun masih ada hal yang menyakiti perasaan saya (dan selama saya masih hidup, akan selalu ada hal-hal yang menyakiti perasaan saya), saya tetap harus memberi ruang untuk diri saya merasakan bahagia. Dan meskipun saya tidak selalu mendapatkan jawaban yang saya butuhkan, saya tetap harus cukup kuat untuk melanjutkan “the next chapter” dalam hidup saya.

Dan dari semua perasaan positif yang sekarang saya rasakan, saya paling bangga dengan kemampuan saya bangkit dari masalah saya sendiri.

Saat saya merasa gagal dalam satu hal, saya beralih mencetak prestasi dalam hal lainnya. Hidup ini penuh dengan battles dan saya tidak harus ngotot bertempur dalam semua battles itu. I pick my battles and I’m happy with the ones I’m fighting for.

Saat saya merasa tidak dicintai, saya malah berhasil mencintai diri sendiri lebih dalam lagi. Dan bagian dari mencintai diri sendiri adalah dengan ikhlas melepaskan orang-orang yang hanya menjadi toxic dalam hidup saya ini. Memang berat, tapi saat beban itu akhirnya lepas dari pundak saya, rasanya betul-betul merdeka!

Dan saat saya nyaris merasa kehilangan harapan hidup saya bisa membaik dan kembali seperti dulu, saya justru pelan-pelan bisa membangun harapan baru yang membuat hidup saya malah terasa lebih menyenangkan daripada sebelumnya. Saya mulai menyusun rencana-rencana baru yang kemudian menjadi alasan untuk saya bangun tidur setiap paginya.

Bisa merasakan semua perasaan positif ini setelah sempat merasa hopeless dan sangat capek dengan hidup saya sendiri betul-betul terasa seperti anugerah. Ini salah satu momen pembuktian bahwa memang benar: what doesn’t kill you makes you stronger!

I’m rising up from the dust… and I cannot ask for more. Alhamdulillah.

Mencintai Itu Sulit

Di awal, jatuh cinta terlihat mudah. Selalu ingin ketemu dia. Hidup terasa selalu bahagia. Penuh senyum, tawa, dan hati yang berbunga-bunga. Terus demikian, sampai akhirnya ujian demi ujian mulai menghampiri. Pelan-pelan, tetap mencintai orang yang kita pikir kita cintai mulai terasa semakin sulit.

Masih kah kamu mencintai dia setelah kamu mendengar hal-hal buruk tentang dirinya? Masihkah kamu mampu berpikiran positif tentang dirinya?

Masih kah kamu mencintai dia setelah menyaksikan sendiri kebiasaan buruknya? Masih kah kamu mencintai dia sama besarnya setelah mengetahui dia tidak sehebat yang dulu kamu kira?

Masih kah kamu mencintai dia setelah mengetahui kebohongan-kebohongannya? Masih kah kamu mempercayai perkataannya? Dan bisa kah kamu tetap mencintai orang yang tidak lagi sepenuhnya dapat kamu percaya?

Masih kah kamu mencintai dia setelah dia, sengaja atau tidak sengaja, menyakiti perasaan kamu? Bisa kah kamu tetap mencintai dia di saat kamu tengah sangat-sangat membenci perbuatannya?

Masih kah kamu mencintai dia ketika getaran dalam hati itu perlahan mulai hilang? Ketika kamu mulai jenuh, lelah, dan ingin lari dari kenyataan. Dapatkah kamu bertahan untuk tidak berpaling pada sesuatu yang lebih baru, lebih mendebarkan, dan tampak lebih membahagiakan?

Terus menerus memaafkan orang yang sama atas kesalahan yang itu-itu saja lama kelamaan akan terasa sulit. Berusaha memaklumi hal-hal yang tidak kita sukai juga sulit. Dan tetap memelihara kekaguman setelah melihat segala keburukannya juga luar biasa sulitnya.

Mencintai itu sulit. Diperlukan kesiapan dan kedewasaan untuk bisa mencintai dengan cara yang benar. Mencintai, jika dilakukan dengan cara yang salah, hanya akan berakhir menyakiti orang yang kita cintai sampai terlalu dalam, sampai titik di mana segalanya tidak akan pernah kembali sama.

Mencintai itu bukan hal mudah yang bisa dilakukan begitu saja. Ada alasannya kenapa banyak orang yang jatuh cinta tapi tidak semuanya awet berbahagia karenanya. Mencintai butuh persiapan dan bukan hal asal-asalan yang bisa kita lakukan hanya karena merasa kesepian, atau butuh pelarian, atau hal yang terasa wajib kita lakukan karena faktor usia yang sudah menua. Mencintai bahkan bukan sesuatu yang dapat kita lakukan hanya karena alasan ingin bersenang-senang.

Mencintai itu sulit, dan akan lebih sulit untuk mereka yang bahkan belum mencintai dirinya sendiri dengan baik. Untuk mereka yang belum dengan ikhlas memberikan tempat untuk orang lain dalam hidupnya. Untuk mereka yang belum punya kelapangan hati untuk memaklumi dan memaafkan ketidaksempurnaan orang lain. Untuk mereka yang bahkan belum mengenal dirinya sendiri… mereka yang belum tahu hal-hal apa saja yang bisa dan tidak bisa mereka toleransi dari pasangan mereka nantinya.

Akhir-akhir ini saya sampai bertanya pada diri saya sendiri… sudah siap kah saya untuk mencintai orang lain dengan cara yang benar? Mungkin memang belum. Untuk sekarang, saya lebih memilih untuk membenahi diri saya sendiri dulu… supaya kelak, saya bisa jadi Mrs. Right yang dapat mencintai Mr. Right saya dengan cara yang benar.

Nasehat Keren dari Seorang Teman

Semalam, salah satu teman sekantor menyampaikan ceramah yang dia dengar dari salah satu Ustadz ternama. Ceritanya semalam itu dia sedang menasehati saya soal cara memilih pasangan.

Kurang lebih, Ustadz ini bilang begini, “Saya sering banget mendengar keluhan istri yang kesal karena suaminya suka judi dan mabuk-mabukan. Saat saya tanya, “Sebelum nikah kamu tahu dia suka judi dan mabuk-mabukan atau belum?” Eh ternyata dia bilang dia sudah tahu. Kalau begitu ya kenapa kaget dan masih mengeluh?”

Ustadz ini kemudian menyampaikan, “Saat menikah, jangan memilih pasangan yang jelas-jelas masih membawa beban. Jangan diterima lalu berharap nanti akan berubah dengan sendirinya. Lain cerita kalau dia sudah tobat dengan sendirinya.”

Menurut saya, Ustadz ini ada benarnya. Merubah kebiasaan buruk orang lain itu tidak mudah. Apa yang membuat kita berpikir pernikahan akan merubah dia? Perubahan itu harus datang dari diri sendiri, bukan dari pernikahan, bukan pula datang dari keajaiban.

Katakan lah dia sudah tobat sebelum menikah. Itu saja masih ada resiko “kambuh”. Manusia pada umumnya, termasuk saya sendiri, cenderung kambuh kebiasaan buruknya saat hidup sedang banyak cobaan. Jika suatu saat pasangan kita kembali pada kebiasaan buruknya itu, kita bisa terima atau tidak? Bisa bersabar untuk membimbing dia atau tidak? Jika kiranya tidak bisa, jika kiranya hal itu bukan hal yang bisa kita toleransi, maka ada baiknya kita berpikir ulang untuk menikah dengan dia.

Masih single di usia 32 membuat saya banyak belajar mengenal diri saya sendiri. Apa yang saya sukai dan tidak sukai, apa yang bisa membuat saya bahagia, dan yang tidak kalah penting, hal-hal apa saja yang bisa dan tidak bisa saya toleransi dari orang lain, termasuk dari pria yang akan menjadi suami saya nantinya.

Apa saja batas toleransi saya? Saya tidak akan bisa menerima jika dia tidak lagi seiman dengan saya, jika dia melakukan kekerasan fisik pada saya, dan jika ada perempuan lain di antara saya dan dia.

Apa yang harus saya lakukan untuk mencegah hal itu? Jika sejak awal dia kasar dengan saya, dan jika sejak belum menikah saja dia suka lari ke perempuan lain alias mata keranjang, ya buat apa saya pilih dia sebagai suami saya?

Memang benar orang yang sekarang tidak kasar dan tidak suka selingkuh belum tentu kelak tidak akan pernah melakukannya, tapi probabilitasnya lebih rendah (ada banyak sekali riset dan literatur yang membuktikan hal ini). Terlepas dari probabilitas itu, sebagai perempuan, saya ingin jadi perempuan cerdas yang membuat pilihan cerdas. Saya tahu tidak akan ada orang yang sempurna, saya juga tahu siapapun orang yang menjadi pasangan saya nantinya pasti akan melakukan banyak kesalahan, tapi, saya punya hak untuk menentukan batas toleransi saya sendiri. Pernikahan memang tidak akan mudah untuk dijalani, tapi setidaknya, saya ingin bisa bahagia untuk menjalaninya.

Selama 32 tahun hidup saya, meski banyak sekali naik turunnya, saya selalu kembali bisa bangkit dari keterpurukan dan kembali pada kebahagiaan yang telah susah-payah saya perjuangkan untuk diri saya sendiri, dan… saya tidak ingin pernikahan memutar balik dan memporakporandakan kebahagiaan saya itu.

Jika suatu saat nanti saya memutuskan untu menikah, pernikahan itu harus membuat saya minimal sama bahagianya dengan saya yang sekarang, dan bukan sebaliknya.

Minder: Akar Dari Berbagai Pikiran Buruk

Dulu banget, salah satu teman saya pernah cerita bahwa sejak berat badannya mulai naik, dia jadi mulai merasa tersinggung tiap kali ditawari brosur gym membership.

Dia bilang ke saya, “Gue udah gendut banget kali ya, sampai gue ditawari brosur fitness.”

Saya hanya tersenyum sambil bilang, “Elo emang gemukan, tapi enggak gendut kok.”

Dia tetap merengut dan tetap merasa dirinya sudah masuk kategori kelebihan berat badan.

Tidak lama kemudian, saat saya melintasi salah satu pusat kebugaran di sebuah mall di Jakarta, tidak diduga-duga, pegawai yang bekerja di gym tersebut menghampiri dan memberikan saya brosur untuk ikut menjadi anggota mereka. Saya menerima brosur itu, tersenyum simpul, dan langsung lanjut jalan menuju toko yang saya ingin datangi.

Brosur yang diberikan pada saya itu membuat saya semakin meyakini bahwa teman saya itu hanya minder saja. Saya termasuk kurus, tapi toh tetap ditawari brosur yang sama. Pada dasarnya teman saya itu hanya panik karena berat badannya naik beberapa kilogram, dan itu membuat dia minder. Rasa minder itu pula yang kemudian membuat dia jadi mudah berpikiran buruk soal bentuk tubuhnya sendiri.

Teori seseorang jadi lebih sensitif karena minder (biasa disebut juga insecurity) ini menurut saya berlaku untuk banyak hal dalam hidup kita ini.

Contoh lainnya saat ada SPG yang tidak sopan saat melayani.

Orang yang percaya dirinya tinggi, akan berpikiran, “Pemilik toko ini salah pilih karyawan.”

Orang yang percaya dirinya rendah, akan berpikiran, “SPG itu judes karena gue enggak kelihatan mampu untuk beli barang yang mereka jual kali ya?”

Rasa minder ini pula yang bisa membuat seseorang mudah marah pada lelucon yang sebetulnya belum tentu bersifat harmful. Mereka tersinggung karena lelucon itu tepat sasaran langsung ke “titik minder” mereka. Bisa jadi soal kekayaan, bentuk tubuh, tingkat kecerdasan, sifat atau kebiasaan buruk, dan lain sebagainya…

Perasaan minder sebetulnya perasaan yang sangat manusiawi dan bisa terjadi pada siapa saja. Semua orang punya kekurangan yang tidak mereka sukai dan persis kekurangan itu pula yang kemudian berpotensi membuat mereka merasa minder. TAPI, hal itu tetap bukan alasan untuk membiarkan diri kita tenggelam dalam rasa minder itu!

Ingat bahwa rasa minder yang tidak terkendali bukan hanya akan merugikan diri kita sendiri, tapi juga orang-orang di sekitar kita.

Rasa minder yang berlebihan akan menciptakan konflik yang tidak perlu. Saat rasa minder tidak terkendali, orang-orang yang berniat baik pun akan tetap terlihat salah menurut kita. Kita akan selalu punya alasan untuk merasa tersinggung, untuk membenci dan menjauhi orang-orang yang membuat kita merasa tidak nyaman.

Lalu bagaimana cara mengatasi perasaan minder itu? Tip sederhana dari saya:

  1. Cari akar permasalahan yang membuat kita minder berlebihan, kemudian cari solusi yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut; dan
  2. Lakukan lebih banyak hal positif dalam hidup kita sehari-harinya.

Rasa minder sayangnya bukan perasaan yang bisa hilang dengan sendirinya. Jika tidak ditangani dengan baik, rasa minder itu cuma akan makin parah dan hanya akan menimbulkan lebih banyak masalah. Dua solusi yang saya sebutkan di atas pada dasarnya bermuara pada satu hal saja: berusahalah untuk memperbaiki diri kita sendiri.

Do better, be better, and only after that, we can feel better about ourselves.

Penting untuk kita merasa nyaman dengan diri sendiri, termasuk merasa nyaman dengan kekurangan yang kita miliki. Minder yang berlebihan bisa membuat kita pelan-pelan benci dengan diri sendiri. Lebih buruknya lagi, semakin sering insecurity kita “memakan korban”, semakin besar pula peluang kita untuk semakin benci dengan diri sendiri.

Kita tidak akan pernah bisa jadi sempurna, tapi kita selalu bisa jadi lebih baik dari sebelumnya. Sekedar melakukan itu saja, insyaallah pelan-pelan, rasa minder akan berkurang dengan sendirinya. Mungkin tidak akan sepenuhnya hilang, tapi akan selalu bisa dikendalikan. Coba dulu dan rasakan perbedaannya!

Have a nice weekend!

My NEW Wish List

Dulu, isi wish list saya banyak didominasi dengan hal-hal yang sifatnya duniawi. Tidak jauh-jauh dari segala hal yang membutuhkan uang di dalamnya. Setelah berhasil mencapai semua isi wish list saya itu, saya ingin membuat wish list baru yang sangat berbeda dengan sebelumnya.

I no longer want to pursue all the big things I haven’t had (even though having a Porsche will still be nice, hehe), I only want to fulfill my life with small things that matter.

Berikut ini isi wish list saya yang baru untuk tahun 2019 ini!

  1. Saya ingin sembuh supaya bisa makan es krim tanpa pakai muntah setelah memakannya;
  2. Saya ingin cukup fit seperti sedia kala supaya kuat pakai high heels ke kantor seperti dulu;
  3. Saya ingin berani pergi ke mana pun saya ingin pergi tanpa dihantui pikiran, “Bagaimana kalau nanti saya pingsan lagi?” P.s: Penyakit saya ini tipe penyakit yang bikin saya rentan pingsan;
  4. Saya ingin hidup bebas rasa khawatir detak jantung saya terlalu cepat. Saya nggak mau lagi sedikit-sedikit melirik ke arah jam tangan hanya untuk melihat angka BPM saya;
  5. Saya ingin cukup kuat untuk bisa mulai berolahraga;
  6. Saya ingin nanti sudah cukup sehat untuk nonton konsernya Backstreet Boys di Jakarta (jangan sampai tiketnya hangus seperti tiket Aladdin broadway bulan lalu);
  7. Saya ingin bisa mulai tidur sebelum jam 10 malam, lalu bangun sebelum jam 6 pagi;
  8. Saya ingin makan sampai habis tanpa perlu merasa “tersiksa”. Bukan berarti saya anoreksia (saya malah senang kalau berat badan saya naik), saya cuma sering bermasalah dengan nafsu makan;
  9. Saya ingin bisa menerima berita buruk tanpa diiringi nyeri di perut saya ini; dan
  10. Saya ingin berhenti bolak-balik periksa ke rumah sakit.

Doakan semuanya bisa terwujud dalam tahun ini yaa!

Because to Me, Unhappiness is Not Even an Option

Sepanjang tahun ini, saya sering mengeluh tidak bahagia. Ada saja alasannya. Mulai dari kecapekan sampai patah hati terburuk sepanjang masa. Ditambah lagi sakit-sakitan sampai sempat dirawat di RS 6 hari lamanya.

Saya sempat mengeluh pada adik saya, “Capek banget hidup kayak gini terus-terusan.”

Sedih, capek, marah, semua emosi negatif berkumpul jadi satu. Sampai puncaknya saya jatuh sakit dan saya pelan-pelan mulai menyadari, “Kalaupun takdir saya meninggal dalam usia muda, bukan ini ending yang saya inginkan.”

Pelan-pelan, saya coba berbenah. Saya fokus pada hal-hal yang saya sukai, menulis salah satunya. Mulai dari aktif menulis artikel pendek di LinkedIn sampai menulis buku pertama saya (doakan segera rampung yaa!). Saya semakin erat berkomunikasi dengan orang-orang yang care dengan saya. Saya juga perbanyak baca tulisan yang memotivasi, dan bahkan, saya jadi rajin nonton romantic comedy hanya supaya saya tidak hilang harapan kepada “happy ending“.

Beberapa hari yang lalu, salah satu sahabat saya menasehati bahwa tidak seharusnya saya merasa sebegitu pesimisnya. Dia bilang, banyak kualitas dalam diri saya yang sangat patut saya nikmati. Dari situ saya jadi sadar… hal-hal buruk yang terjadi sepanjang tahun ini tidak lantas menghilangkan hal-hal baik yang sudah saya perjuangkan sepanjang hidup saya ini! Satu-satunya hal yang salah dalam hidup saya tahun ini adalah saya terlalu fokus pada hal-hal yang “going wrong” daripada hal-hal yang “going well“. Banyaknya ujian yang datang bertubi-tubi membuat saya jadi lupa untuk berbahagia.

Akhirnya saya putuskan untuk kembali mulai berbahagia! Sejak detik ini juga! Meski keadaan sama sekali belum membaik, kesehatan belum sepenuhnya pulih, patah hati juga masih patah hati, tapi ya mau bagaimana lagi? Setelah capek-capek berusaha mendapatkan hidup bahagia, kenapa sekarang saya malah berlarut-larut dalam ketidakbahagiaan?

Unhappiness is not even an option to me!

Jadi memang saya tidak punya pilihan lain selain berusaha kembali berbahagia dalam menjalani hidup saya ini. Jika sedang tidak ada hal besar yang dapat membuat saya bahagia, saya akan fokus berbahagia dengan hal-hal yang kecil dulu saja. Sekedar punya sepatu baru yang tampak keren saja sangat saya resapi rasa bahagianya, hehehehe. Ponakan saya, sahabat-sahabat lama dan teman-teman baru saya! Apapun itu yang bisa membuat saya tersenyum dan tertawa lagi.

Be happy… and that’s only because being unhappy is not supposed to be an option to begin with.

Have a good night!

Belajar dari Balita

Saya selalu takjub tiap kali melihat ponakan-ponakan saya belajar jalan. Melihat kegigihan anak sekecil itu, melihat jatuh-bangun mereka sampai akhirnya berhasil berjalan sendiri itu betul-betul pengalaman yang mengharukan!

Awalnya, saya hanya merasa amazed melihat anak sekecil itu sudah mulai berdiri, merembet, dan pelan-pelan belajar berjalan. Seperti melihat boneka lucu yang bisa jalan aja gitu. Lalu biasanya di awal, mereka akan sering jatuh-bangun. Kadang karena hilang keseimbangan, kadang karena mereka kelihatan sedang capek dan mau istirahat dulu. Kadang mereka sampai terjatuh, kadang mereka terlihat kesal dengan dirinya sendiri, kadang mereka juga sampai menangis saat jatuh dan kesakitan.

Meski demikian hebatnya, berapa kali pun mereka terjatuh, mereka akan bangkit untuk mencoba lagi dan lagi, sampai akhirnya mereka mulai bisa berjalan dan berlari kencang.

Melihat kegigihan mereka membuat saya berpikir, “Apa jadinya jika mereka kapok lalu menyerah dan enggak mau mencoba lagi?”

Dan saya juga berpikir, “Jika anak usia satu tahun saja bisa punya kegigihan seperti itu, kenapa kita yang sudah dewasa tidak bisa mempunyai kegigihan yang sama?”

Memang benar masalah kita sekarang sudah jauh lebih besar daripada sekedar belajar jalan, tapi kemampuan dan pengalaman yang kita miliki juga sudah jauh lebih banyak daripada anak usia satu tahun. Tidak seharusnya kita yang sudah dewasa ini mudah kapok saat dan mudah menyerah begitu saja baik itu dalam hal pekerjaan maupun kehidupan pribadi.

Jika hari ini kita bisa berjalan dengan lancar, ingat bahwa hal itu adalah buah dari kegigihan kita belajar jalan saat balita dulu.

Jika dulu kita memutuskan untuk terus mencoba lagi, kenapa sekarang kita jadi lembek dengan menyerah begitu saja?

Rasa kesal, sakit, dan trauma akan selalu datang dengan sepaket dalam proses pembelajaran kita. Dari usia kanak-kanak sampai lanjut usia nanti akan tetap sama jalan ceritanya, yang berbeda hanya tingkat kesulitannya saja. Itulah sebabnya penting untuk kita bertambah kuat seiring bertambahnya usia. Kita harus bisa menjadi manusia yang lebih besar supaya kita juga sanggup menghadapi masalah yang lebih besar. Pastikan kita akan selalu cukup kuat untuk lulus dari tiap tahap ujian kehidupan.

Bagaimana jika kita pernah menyerah atas sesuatu di saat usia kita masih lebih muda dulunya? Jika kegagalan itu masih menghantui, maka selesaikan dulu unfinished business kita itu. Akan lebih sulit berjalan maju ke depan jika masih ada masa lalu yang menarik kita ke belakang.

Berapapun usia kita saat ini, ingat selalu bahwa segala hal yang terbaik dalam hidup ini memang tidak pernah mudah untuk menjalankannya. Jangan manja dan jangan mudah putus asa! Jika kita jatuh 100 kali, bangkit lagi 100 kali, lagi dan lagi dan lagi.

My Appreciation to Sephora Pondok Indah

Persis hari ini dua minggu yang lalu, saya pergi ke Pondok Indah Mall. Ada keperluan photoshoot yang ingin saya beli di Uniqlo untuk klien saya selanjutnya. Sebelum pergi ke Uniqlo, saya mampir ke Sephora untuk beli BB cushion refill yang sudah hampir habis di rumah. Saya juga berkeliling toko untuk mencari eyeshadow palette untuk menggantikan palette yang lama.

Selesai belanja, saya langsung antri di kasir. Saat itulah perut saya tiba-tiba saja terasa panas. Badan lemas. Rasa capeknya melebihi rasa capek setelah lari kelilinng lapangan basket. Selesai bayar, saya langsung mencari tempat duduk. Saya betul-betul sudah enggak kuat berdiri. Saya memilih duduk di bangku milik Benefit.

SPG Benefit menghampiri saya dan bertanya, “Mau didandani, Mbak?”

Saya masih bisa menjawab, “Nggak, Mbak. Saya cuma mau istirahat. Perut saya mual.”

Rasa panas di perut saya terus merambat naik sampai ke atas. Pandangan mulai buram, saya mulai semakin tidak kuat menopang badan meski dalam keadaan duduk. Saya masih ingat saat itu saya merebahkan kepala di atas meja riasnya Benefit, dan waktu itu saya benar-benar takut.

Pikir saya itu, “What’s happening with me? No, I don’t want to be this sick.”

Tidak lama saya mendengar pegawai perempuan di Sephora bertanya pada saya, “Mau istirahat dulu di kantor, Mbak? Ada di samping kasir.”

Saya mengangguk. Saya berdiri, mulai berjalan, tapi kemudian rasa panas di perut saya itu malah semakin menjadi-jadi. Pandangan semakin buram. Kaki saya semakin lemas. Akhirnya saya letakan tas dan kantong belanja di atas lantai, dan saya lalu merebahkan diri di atas lantai… menutup mata, berharap bisa istirahat meski hanya untuk sejenak.

Sejak titik itu ingatan saya mulai agak kabur. Tidak lama saya mulai bisa mendengar beberapa orang yang mengerumuni saya. Mereka bilang saya pingsan.

Salah satunya bertanya, “Mbak masih kuat jalan?”

Saya tidak ingat saya jawab apa. Saya coba berdiri, dipapah dua orang di kanan dan kiri saya. Saya betul-betul tidak ingat siapa mereka, sesama pengunjung atau pegawai toko, yang jelas akhirnya saya berhasil jalan sampai ke kantornya Sephora. Saya kembali duduk dan diberikan segelas air putih hangat.

Entah kenapa saat itu, badan saya masih terasa lemas. Saya lalu bertanya ke SPG yang menemani, “Di sini ada sofa nggak, mbak? Saya ingin tiduran.”

Karena tidak ada sofa, akhirnya mereka menggelar kardus. Mereka menggunakan sesuatu sebagai bantal, dan entah dari mana datangnya, mereka juga memberikan saya selimut bersih. Saya berbaring dan baru saat itulah saya mulai merasa membaik. Saya hubungi orang rumah minta segera dijemput ke Sephora PIM.

Tidak lama kemudian, SPG Sephora juga membuatkan saya secangkir teh manis dan camilan untuk mengisi perut. Saya langsung minum dan teh manis itu betul-betul mengembalikan energi saya. It worked like a charm, somehow. Saya mulai bisa duduk agak lama sambil menjawab WhatsApp dari keluarga saya.

Kira-kira satu jam kemudian, keluarga saya datang. Saya pamit pulang pada orang-orang yang memberikan saya bantuan. Isi tas saya masih utuh, kantong belanja juga tidak berkurang satu kantong pun. Saya telah ditolong oleh orang-orang yang bukan hanya baik hati, tapi juga jujur dan berintegritas.

Saat tiba di rumah sakit, salah satu dokter saya bilang jika tidak ditangani secara benar, saya akan mulai langganan pingsan. Dia juga bilang, “Kalau kemarin itu kamu pingsan di tempat lain, belum tentu kamu semujur itu.”

Saya pun kembali mengucap syukur bahwa setidaknya, saya pingsan di tempat yang tepat.

Terima kasih banyak, Sephora Pondok Indah! Saya akan selalu ingat jasa baik karyawan di sana, semoga siapapun yang saat itu menolong saya dibalas kebaikannya berkali-kali lipat. Amiin.

Take Care of Your Heart (Literally)

Ceritanya seminggu ini saya dirawat di rumah sakit. Awalnya gara-gara pingsan di mall dan saat tiba di rumah sakit, pemeriksaannya melebar sampai ke jantung dan juga syaraf. Saya yakin banget cuma bermasalah di lambung, tapi ya sudahlah… toh biaya pemeriksaannya ditanggung asuransi.

Salah satu pemeriksaan yang harus saya lakukan adalah USG jantung. Rasa haru saat melihat jantung yang berdetak itu mungkin mirip-mirip dengan rasa haru saat seorang ibu pertama kali melihat janinnya via USG, hehehehe.

Saat melihat jantung saya di layar monitor, tiba-tiba saja saya teringat slogan berikut ini, “Sayangi jantung anda.”

Tiba-tiba saja, saya merasa kasihan dengan jatung saya sendiri. Kurang istirahat, enggak pernah olahraga, ditambah lagi saya bahkan enggak pernah repot-repot mengecek apakah saya sudah cukup memgkonsumsi makanan yang baik untuk jantung saya ini. Belum lagi stres dan tekanan ekstra dari asam lambung yang pasti juga sudah jadi beban tambahan untuk jantung saya ini.

Saat itu saya juga berpikir betapa saya seharusnya lebih mensyukuri jantung saya yang masih berdetak ini. Kalau bukan karena jantung yang masih berdetak, saya nggak akan punya cukup waktu untuk mewujudkan cita-cita saya, nggak punya cukup tenaga untuk pergi melihat dunia, dan juga nggak punya kesempatan untuk mengenal orang-orang hebat dalam hidup saya. Dan kalau bukan karena jantung yang masih berdetak, saya juga tidak akan pernah merasakan indahnya jatuh cinta.

Sejak detik itu juga saya bertekad… saya harus lebih peduli pada diri saya sendiri. Masih banyak impian yang belum saya capai, masih banyak tempat yang belum saya datangi, dan saya juga masih belum puas dengan kontribusi yang saya berikan untuk society. Rasanya masih banyak hal yang bisa saya lakukan dalam hidup saya ini. Saya harus tetap hidup… saya masih ingin jantung saya berdetak lebih lama lagi.

Alhamdulillah hari ini saya sudah boleh pulang. But you know what? Tidak lama setelah saya diperbolehkan pulang, saya mendengar kabar pasien di kamar sebelah baru saja meninggal dunia… karena penyakit jantung (dia meninggal di ICCU).

I’m discharged, well and healthy, but that man I never knew… he died on the very same day.

Mendengar keluarganya yang menangisi kepergian almarhum, tekad saya jadi semakin kuat; saya harus lebih menyayangi diri saya sendiri.

Hari Senin nanti, hasil tes jantung saya akan dibacakan oleh dokter di rumah sakit yang sama. Doakan hasilnya tidak menunjukan sesuatu yang serius yaa!

Have a nice weekend!

Don’t Hurt People Who Doesn’t Make You Bleed

Sudah sejak beberapa tahun belakangan, saya menyadari bahwa ada saja orang yang saat tersakiti, mereka malah meninggalkan orang lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan masalah mereka itu. Ujung-ujungnya, mereka malah menyakiti orang-orang yang tidak bersalah.

Awalnya saya pikir, mungkin itu cuma perasaan saya saja. Mungkin, memang ada kesalahan yang pernah saya lakukan sehingga mereka pergi dari hidup saya begitu saja.

Kemudian tadi malam, saya membaca kutipan dari Jay Shetty; salah satu motivator yang tengah naik daun di US. Dia bilang…

When you’re hurt, you end up cutting people that didn’t make you bleed.

Itu jadi seperti validasi dari observasi saya selama ini. Tetap bukan hal yang pernah saya lakukan sih, tapi saya pernah beberapa kali ditinggalkan begitu saja oleh teman-teman tersekat saya saat mereka tengah terkena masalah dalam hidupnya. Saya sampai bingung, “What did I do wrong?”

Masih menurut pengamatan saya pribadi, penyebabnya bisa macam-macam. Ada yang hanya sedang ingin sendiri saja (entah sampai kapan… mereka sendiri mungkin tidak tahu jawabannya). Ada yang tidak ingin menyeret orang lain dalam permasalahan hidupnya. Dan ada pula yang sengaja melakukannya karena tidak tahan melihat kebahagiaan dalam hidup orang lain di sekitat mereka (menurut saya, ini yang paling jahat).

Padahal menurut saya pribadi, mengusir orang lain saat tengah tertimpa musibah itu hanya akan memperburuk keadaan saja sih. Sudah kena masalah, eh, kehilangan teman bicara pula! Niat mereka sudah baik, jadi buat apa menyakiti mereka dengan malah menyuruh mereka pergi? Saya malah bersyukur jika ada orang yang bersedia tetap tinggal saat hidup saya sedang susah-susahnya.

Hidup akan terasa lebih mudah jika kita tidak menciptakan drama kita sendiri. Tidak ada untungnya membuat masalah menjadi lebih rumit dari yang seharusnya. Saat tertimpa musibah atau ujian hidup lainnya, cukup fokus pada masalah yang sebenarnya. Kalaupun ada orang yang harus dijauhi, jauhi mereka yang memberi pengaruh buruk dalam hidup kita, dan bukan sebaliknya!

No drama anymore, okay? Have a great weekend! 💕