Prostitusi, Boleh atau Tidak?

Baca variasi komentar di Lambe Turah soal penangkapan Vanessa Angel (oh yes, Lambe Turah is my guilty pleasure, hehehehe) bikin gue gatal ingin menulis judul yang satu ini.

Apa pendapat gue soal prostitusi? Boleh atau tidak?

Jika dibahas dari sudut pandang agama, apapapun agamanya, jelas jawabannya tidak boleh. Tapi apakah itu artinya prostitusi tidak diperbolehkan hanya karena agama kita tidak memperbolehkannya?

Jadi mari kita bahas topik ini tanpa membawa-bawa ajaran agama manapun, supaya tulisan gue ini tetap relevan untuk semua orang.

Untuk menjawab boleh atau tidak boleh, coba jawab dulu pertanyaan di bawah ini:

  1. Tahukah kamu berapa persen pelanggan prostitusi yang sebetulnya sudah terikat dalam pernikahan resmi? Menurut kamu, apa akibat psikologis yang dirasakan oleh istri dan anak-anak pelanggan prostitusi atas perilaku suami dan ayahnya itu?
  2. Tahukah kamu berapa persen kontribusi prostitusi terhadap penyakit kelamin dan HIV/AIDS? Bagaimana jika penyakit itu kemudian menular kepada istri resminya? Apalagi jika si istri sampai hamil saat mengidap penyakit itu… Apakah tidak kasihan pada istri dan anak yang tidak berdosa itu?
  3. Sebetulnya, apa sih manfaat dari prostitusi untuk si perempuan? Membantu dia untuk menyambung hidup? Atau dalam kasusnya prostitusi di kalangan artis… bantu dia untuk hidup penuh dengan kemewahan, begitu? Bahagiakah mereka hidup seperti itu? Tenang dan bangga kah mereka atas pilihan hidup mereka itu?
  4. Lalu yang terakhir, selain mendapatkan kepuasan sesaat, apa sih manfaat prostitusi untuk para pelanggannya? Benarkah lebih banyak manfaatnya daripada kerugian yang didatangkannya?

Gue tipe orang yang selalu berpendapat, jika lebih banyak kerugiannya, maka jangan dilakukan. Gue juga tidak mendukung pembiaran atas praktek prostitusi di tempat gue tinggal. Kenapa? Karena sama seperti rokok, prostitusi juga banyak diawali oleh ikut-ikutan teman. Sudah susah payah mendidik anak, ada kalanya pengaruh lingkungan akan lebih kuat. Bagaimana jika suatu saat nanti anak-anak atau keponakan-keponakan gue ikut terseret dalam praktek prostitusi?

Hal ini mengingatkan gue pada salah satu teman yang dulu benci banget saat banyak aktivis Islam menolak kedatangan Miyabi ke Indonesia. Menurut dia, tidak ada yang salah dari pornografi karena itu adalah “sarana untuk belajar”. Tidak sampai satu dekade kemudian, teman gue itu malah aktif menjadi aktivis anti pornografi! Kenapa bisa berubah haluan? Karena dia sudah punya anak perempuan. Kenyataannya, 100% pemerkosa melakukan tindakan biadabnya karena terdorong oleh pornografi dan anak-anak merupakan sasaran yang paling mudah.

Dari teman gue itu gue jadi belajar; pikir dua kali sebelum memberikan dukungan pada hal-hal yang sangat kontroversial seperti ini. Prostitusi itu bukan cuma soal agama, tapi lebih kepada persoalan sosial. Berpikir jauh ke depan, jangan sampai asal bicara (atau asal memberikan komentar di dunia maya) yang akhirnya malah memberi angin segar pada para pelakunya. Be wise, okay?

The Next Ultimate Goal

Malam tahun baru kemarin, gue dan keluarga pergi berlibur ke villa yang baru dibeli oleh salah satu om gue. Villa-nya termasuk sederhana, tapi cukup menyenangkan untuk tempat berlibur. Udaranya masih cukup sejuk dan masih ada sawah dan pepohonan untuk menemani jalan-jalan pagi.

Tinggal empat hari tiga malam di villa om gue itu mengingatkan cita-cita gue untuk punya villa di tengah pegunungan. Cita-cita yang tidak pernah gue anggap serius, yang tampak masih sangat jauh di depan mata. Tapi setelah liburan akhir tahun itu, gue jadi terpikir untuk mulai berusaha mewujudkannya.

Seperti apa wujud villa yang gue inginkan?

Gue ingin punya villa yang dikelilingi pegunungan dengan kebun teh. Gue juga ingin punya perkebunan anggur di tanah gue sendiri. Villa terletak persis di tengah-tengah kebun anggurnya.

Villa gue nanti akan dibuat dengan modern design. Ukuran rumahnya tidak terlalu besar, hanya berisi 4 kamar dengan 1 kamar utama di lantai 2. Dan kamar utama milik gue itu adalah best feature-nya!

Gue ingin kamar gue itu memiliki dinding kaca di salah dua sisinya… Gue akan pasang tirai yang bisa otomatis dibuka-tutup menggunakan remote. Tempat tidur gue akan persis menghadap salah satu dinding kaca itu.

Kemudian kamar gue juga akan punya teras dengan meja dan kursi. Gue ingin duduk sore-sore di teras itu untuk menulis blog dan novel gue! Lalu masih di dalam kamar, gue ingin bikin fireplace dengan sofa dan karpet tebal di depannya. Gue mesti cari tempat yang benar-benar dingin supaya fireplace ini ada gunanya, hehe.

Di halaman belakang villa, gue ingin bikin hot springs dengan design ala-ala modern onsen. Pengen juga punya villa yang lokasinya enggak jauh dari air terjun kecil yang masih jernih. Misal benar ada air terjunnya, tanaman di sekitar lokasi air terjun juga akan gue rawat untuk menjaga keasrian air terjunnya! Nanti gue juga buatkan gazebo di halaman belakang villa gue itu. Nggak ketinggalan fasilitas barbecue masih di halaman belakang villa impian gue itu.

Keren nggak villa impian gue ini? Bakal butuh waktu lama banget untuk pembangunannya sih. Butuh banyak uang juga, tapi toh bisa dicicil kan. Misal beli tanahnya dulu, lalu dibangun pelan-pelan sampai akhirnya jadi seperti wishes yang gue tulis di sini!

Doakan gue bisa mewujudkan big dreams yang satu ini jadi kenyataan yaa! Semoga ini bisa bikin gue tetap semangat kerja setiap harinya, hehehehe.

My 2018 Greatest Lesson

I initially planned to close this 2018 with writing my personal kaleidoscope along the year, but then I found that this time, I’d rather write something more useful for my blog readers. After writing a confession about my depression in the previous post, here I write a post about the greatest lesson I learned in 2018.

In this year, I’ve come to learn that I should never let bad moments in life diminish the value of the good ones happened to me along the year.

Just because some people don’t feel the same way like I do, it doesn’t mean they don’t care at all. They do care about me, only in different ways.

I also learned that just because some people do not appreciate me, it doesn’t mean the whole world refuses to see my efforts.

And just because the people I care about didn’t seem to want me in their life, it doesn’t mean that I’m completely unwanted by anyone else. I have to accept that I am just not everyone’s cup of tea.

I won’t ever again let one bad event in life overpower the good memories I have ever had. And I won’t let the people who hurt me leave the most marks in my heart over the ones who were always there for me to support and help me with the little things.

It also means, just because I stumbled upon a few disappointments in 2018, it doesn’t necessarily make the whole year as a failure. Apart from my problems, in 2018 I managed to make a good progress on evolving myself, I made another milestone in my career, my life was merrier with all the new people I met, and most importantly, I feel so much love… Love from my friends, my colleagues, and my teammates at work. I guess I had no luck when it came to romance, but it doesn’t mean that all the love I got from other people were not as valuable. It feels good knowing how I played an important role in someone else’s life journey and I’m touched knowing how they appreciate me for that.

It’s such a relief that I close this year with all these positive feelings. I finally realized that even though I didn’t always get all the things I really wanted, but instead, God has given me all the things I really needed. The things that I never thought I need in life. And to me, that’s even better.

Thank God for this year! Thanks for all the good and the bad times! This year was insane! This will definitely be a year I will never forget.

Happy new year 2019 to my blog readers and I wish nothing but a wonderful year to come!

How I Got Out from Depression – Only in a Month

How do I know that I was depressed? Because I started to show the symptoms. It was still the early stage I guess, but still, it was really the worst one month of my life!

In the beginning, I refused to admit that I was depressed. I was one of the happiest persons I knew and depression was just never my thing even in the hardest times of my life. Until one night in the office, I felt so alone and so upset for no reason. I decided to Google the symptoms of depression and there I was… having to admit that I had problems with my mental health.

Here are what I felt during my depression phase:

  1. I tried to avoid crowd as much as I could. I only wanted to be alone. I didn’t even come to my niece’s birthday lunch just because I didn’t feel like spending weekend with anybody. I isolated myself from the outside world anytime it was possible for me to be alone;
  2. Lost interest in doing all the things I always enjoyed to do. I still wanted to travel somewhere in the first week of my depression, but then when I really had the chance to solo travel, I decided that I didn’t want it anymore;
  3. I started to question why I should live longer. It’s not that I wanted to die, it’s just that I was not interested to keep living like this anymore. I was sick of the same old problems over and over. The thought of having to deal with those nightmares in my entire life had really killed me from the inside. I didn’t feel alive anymore, somehow;
  4. I felt empty, incredibly sad, angry to myself, and what was even worse, I felt hopeless. I started to stop believing that things would ever change. I started to think that maybe, happily ever after was just not meant to be for me;
  5. I started to find how worthless and unlovable person that I was. I was trapped in that dark thoughts blaming myself for keep failing in so many past relationships (in friendship, romantic relationship, and even at works, sometimes). It felt like I had tried everything in my power but none of it took me where I wanted to be; and
  6. Someone else’s compliments didn’t please me anymore. I was very much inconsolable.

I am thankful that I quickly recognized that I was depressed. The first step of every problem solving is to admit that we have problem in the first place. Started from there, here are the efforts I did to get out of that depression:

  1. Find a friend to talk to. Yes, I was sitting alone on my bed at home, but I still tried to reach out my friends (phone calls and WhatsApp) just to talk about my feelings. And it really helped me to gradually feel better;
  2. Keep doing what I always do best: my job. I tried to stay focus and stay on top of my works knowing that I would only feel worse if I screwed up that one thing I was always good at. I just couldn’t afford anymore failures and apparently, all the positive results I got from my hard works eventually made me feel positive about myself. Little by little, I earned my self worth back to me again;
  3. I tried to dig the root cause of my depression. And this was the hardest part because apparently, it didn’t always take one big problem to make us depressed. The accumulation of small problems I tend to ignore was piling up until at some point, I just couldn’t take it anymore;
  4. Piece by piece, I started to find similarities between all those small problems that gradually irritated my feelings inside. And the funny thing is that, the root cause of my depression was already happening since one decade ago! What happened ever since only worsened that one problem I buried deep in my past;
  5. I started to make a solid plan; a plan that will take me a couple months just to get it done. It will take times, but still, coming up with a good plan already made me feel much better! I felt better and better as I started execute my plans with a great determination to get done with my unfinished businesses;
  6. Until I complete all my plans, I decided to focus more on all the good things in my life instead of the bad ones. I started to redefine my value and I told myself, “No matter how much flaws I have in me, it doesn’t diminish my value as a person.” When I was depressed, I judged that 2018 was a bad year to me. But then as I started to see at the bright sides, I quickly realized that I had good times in 2018 a lot more more than the bad ones. I started to wonder, “What am I complaining here?”
  7. I started to reconnect with my friends and families. I decided to go out there and I had a lot of fun along the way! Having great times with the loved ones has really distracted me from all the sorrows. I was just too busy to think of my problems;
  8. I started to sincerely let go of the things I couldn’t control. I didn’t want to insist, I’m just too tired of fighting something I cannot change. If my very best effort was never enough and there was nothing more I could do about it, then I just need to move on. I have to know that just because I’m about to close my problems with my past, it will not automatically solve my problems in the future. I will lose again, and I only need to be okay with it;
  9. I persistently pursued to close my problems back in the past even when I already felt a lot better about myself. That unfinished business is like a ticking bomb… sooner or later, it will only explode and hurt my feelings again. Just wait until I have another trigger and I will only fall to that dark place again. I hope by solving my unfinished businesses will help me to get through the hard times that are inevitable in my life; and
  10. I prayed, and I felt better. A friend of mine talked to me about her problems and she said, “I couldn’t imagine how I would feel right now if I didn’t even believe in God. My prayers have strengthened me to get through this rough times in life.”

For some cases, meeting a psychologist will most likely help. It helped me once, but this time, I knew that the only person who can saved me was myself. No matter how hard other people tried to drag me out of this depression, it would mean nothing unless I was determined to help myself. I knew I could help myself and I couldn’t be happier that I was right.

One other thing I’ve learned from this phase is that depression can happen to anyone of us. No matter how happy and successful our life is, it doesn’t mean we’re depression proof. And in fact, people who have achieved a lot in their life are even prone to depression because they had to deal with many obstacles that might have left wounds deep in their heart. I don’t know if there is anything we can do to prevent this episode in our life, but at least, now I know what to do when I get to that dark place deep on my mind.

Now it’s a shame for me to admit this episode. I’m even proud to tell the world, “I was once depressed, and I pulled myself out of it.”

Greatest Things in Life Do Not Come Easy

Belum lama ini, gue ngobrol sama salah satu teman yang baru saja punya anak ke dua. Teman gue ini dulunya tipe cowok yang tidak terlalu menyukai anak kecil, lumayan mengejutkan juga pada akhirnya dia bisa settle down dengan keluarga kecilnya itu.

Setelah menanyakan kabar, gue lanjut bertanya, “How does it feel to have two little kids?”

Dia jawab, “Susah dijelaskan. Kadang gue juga suka bingung sendiri gimana gue bisa sampai ke sini.”

Saat terlintas di pikiran gue soal dia menyesali keputusannya untuk settle down, dia mengirimkan sebuah foto bergambar kertas dengan coretan tangan di atasnya.

Dia bilang, “Biru itu single, hijau itu married, merah itu punya anak.”

Tanpa perlu dia jelaskan lebih lanjut, gue langsung bisa mengerti dengan sendirinya.

Teman gue melanjutkan, “Happy as a single itu skornya cuma 50, tapi susahnya juga cuma 50 aja. Kalo elo pengen ngerasain happiness yang level 100, elo harus punya anak dulu. Tapi ya gitu… perjuangannya juga gila-gilaan.”

Meskipun gue belum married, gue bisa langsung relate dengan penjelasan dia itu. Gue juga sering merasakan bahwa hal-hal yang paling bikin gue susah adalah hal-hal yang juga bikin gue paling bahagia.

Contohnya bisnis gue; The Lens Story. Saat sedang kesal dengan business partner di The Lens Story, rasanya jauh melebihi rasa kesal gue saat kerja kantoran. Tapi saat gue sedang menikmati serunya ikut pemotretan, rasa senang yang gue rasakan juga jauh melebihi rasa senang yang pernah gue dapatkan saat kerja kantoran.

Sama halnya dengan jatuh cinta. Hidup single pun sebetulnya gue sudah bahagia, tapi gue enggak memungkiri bahwa gue lebih dan paling bahagia saat sedang jatuh cinta. Cuma ya resikonya, naik-turun perasaan saat sedang jatuh cinta itu betul-betul bisa bikin gue ngerasa frustasi banget.

Kemudian yang terakhir dalam mengejar cita-cita dan mimpi gue dulu. Jangan tanya gimana stresnya, capeknya, marahnya, frustasinya… Tapi tiap kali gue melihat betapa hasil kerja keras gue memberikan positive impact untuk orang lain, tiap kali gue baru saja membeli barang yang dulu menurut gue harganya “enggak masuk akal”, atau saat akhirnya gue menapakkan kaki di tempat yang dulu hanya bisa gue lihat melalui layar kaca, saat itulah gue menyadari… semua perjuangan gue itu tidak pernah sia-sia, dan gue tidak akan pernah menyesalinya.

Meski begitu pada akhirnya, hidup itu adalah murni sebuah pilihan. Gue agak tidak sependapat dengan teman gue bahwa untuk merasakan kebahagiaan level 100 itu hanya bisa didapat dengan menikah dan mempunyai anak. Kenapa gue bisa berpendapat demikian? Karena kenyataannya, banyak juga pasangan yang malah tercerai berai, lalu anak terlantar entah ke mana, hanya karena merasa tidak tahan dengan penderitaan setelah memiliki anak dalam hidup mereka.

Tidak ada yang salah dari memilih untuk tetap sendiri, atau untuk tidak memiliki keturunan, selama memang itu yang betul-betul kita inginkan. Sama halnya dengan pekerjaan baik itu kerja kantoran atau bisnis sendiri. Apapun yang kita lalukan, pastikan memang itu yang ingin kita lakukan dan bukan hanya sekedar memilih yang mudah buat kita. Jangan pernah “settle for the less” di saat sebetulnya kita mampu mendapatkan yang jauh lebih baik daripada hal yang biasa-biasa saja itu. Jangan pula memendam apalagi sampai mengubur impian dalam-dalam hanya karena kita terlalu takut untuk mewujudkannya.

You will never know how your courage will take you to the fullest level of happiness in life.

Saat sedang memotivasi orang lain untuk mengejar impian mereka, gue biasanya bilang begini, “It’s not going to be easy, but it’s going to be worth it.”

Nah, mumpung sebentar lagi kita akan masuk ke tahun yang baru, tidak ada salahnya untuk kita bertanya pada diri kita sendiri, “Sudahkah saya mengejar hal-hal yang ingin saya dapatkan?”

Set your goal and work hard to make it happen! This life is too short to stay on the sidewalk just to watch other people living in your dreams. Why should you be the spectator if you can be the spectacle?

Penting untuk kita betul-betul memikirkan pilihan kita dengan baik karena biasanya, rasa iri (yang bisa berkembang menjadi dengki) lahir dari impian yang tidak diwujudkan untuk jadi nyata. Harus diakui bagaimana pun, kita pasti ingin hidup bahagia. Dan jika kita bisa merasakan kebahagiaan level 100, kenapa kita harus mengambil jalan aman hanya untuk mendapatkan kebahagiaan di level yang sangat jauh di bawahnya? Apalagi jika sebetulnya, kita tidak merasa bahagia dengan hidup kita yang “biasa-biasa saja” ini.

You will never know until you try, and always remember: you will fail only when you stop trying to make your goals happen.

Berhenti mencari alasan untuk cari aman dan mari kita mulai mengejar impian di tahun 2019 yang baru ini!

Be great and be proud of yourself!

Kenapa Harus Minder?

Belum lama ini, ada satu kenalan baru yang sedikit mengubah sudut pandang gue tentang insecurity. Tadinya gue pikir, orang yang insecured atau minder adalah orang yang belum memiliki cukup banyak hal yang bisa mereka banggakan. Tapi ternyata, belum tentu begitu juga.

Jadi ceritanya, teman gue ini terang-terangan bilang ke gue bahwa sebetulnya dia merasa insecured. Padahal dia baru saja mendapatkan a big promotion, tapi tetap saja, hal itu nggak lantas membuat dia jadi lebih bangga dengan dirinya sendiri. Hal ini benar-benar bikin gue ngerasa heran. Dia punya banyak kelebihan, tapi entah kenapa, dia masih saja sering merasa inferior dengan dirinya sendiri.

Apa saja kelebihan dia yang seharusnya bisa dia banggakan?

Yang pertama dan yang paling obvious, dia itu good looking. Tipe orang yang makin sering dilihat makin kelihatan cakepnya. Banyak cewek yang terang-terangan suka sama teman gue ini.

Yang ke dua, dia itu orangnya pintar dan wawasan dia juga luas banget. Dia ini satu dari sangat sedikit orang yang mampu mengoreksi technical knowledge gue. Dia juga tipe orang yang bisa dengan cepat menyerap hal-hal yang masih baru dia pelajari.

Yang ke tiga, dia itu sangat karismatik. Tipe orang yang kelihatan seperti natural leader. Cara dia ngomong entah kenapa sangat enak didengar. Kebetulan suaranya juga bagus, dengar dia ngomong (dan kebetulan orangnya emang sangat suka ngomong) rasanya seperti mendengarkan orang yang sedang siaran radio, hehehehe.

Yang ke empat, dia itu tipe orang yang sangat mudah disukai oleh orang lain. Dia tipe orang yang care dengan orang-orang di sekitar dia. Itu yang menurut gue bikin dia jadi punya banyak teman dalam hidupnya.

Yang terakhir, dia orangnya lucu. Ini juga kualitas yang bikin dia mudah disukai orang lain.

Let me summarize: ganteng, pintar, karismatik, baik hati dan humoris.

Can you believe a person like that can feel so insecured?

Sekarang gue jadi sadar bahwa atribut yang terlihat dari luar tidak menjamin kepercayaan diri yang dirasakan seseorang. Kenapa? Karena pada akhirnya, kepercayaan diri itu datangnya dari dalam dan bukan dari segala hal yang masih kasat mata.

Bagaimana dengan gue sendiri?

Sejak duduk di bangku SMA, gue nyaris enggak pernah ngerasa minder. Padahal saat itu nilai gue masih pas-pasan, pakai baju seadanya, saat belum ada satu hal apapun yang bisa gue banggakan, gue sudah cenderung bebas dari rasa minder. Entah kenapa, gue selalu tahu bahwa suatu saat nanti gue akan “berevolusi”. I always told myself that I was going to be much bigger than I was many years ago.

Sekarang ini pun, jika gue mau, gue masih punya banyak alasan untuk minder.

Gue terlalu tinggi, terlalu kurus, tidak punya banyak teman, terlalu judes, dan masih single di usia 32.

Gue bisa saja minder, tapi gue lebih memilih untuk mempercayai dan mencintai diri gue sendiri.

From all people, I know best who I am, what I’m capable to achieve, and the person that I’m about to become.

Gue lebih memilih untuk fokus kepada “hal-hal yang masih bisa gue lakukan” ketimbang merasa minder dan merasa buruk tentang diri gue sendiri. Gue punya kekurangan, banyak kekurangan, tapi semua orang yang gue kenal juga pasti punya kekurangan kan. Jadi kenapa harus berkecil hati?

I’m not perfect, and neither is everyone else.

Kemudian satu lagi, gue juga bukan tipe orang yang senang menjadikan orang lain sebagai benchmark. Setiap orang punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Apa yang tampak baik untuk orang lain belum tentu sama baiknya untuk diri gue ini. Gue nggak akan bisa menjelma jadi orang lain, tapi orang lain juga nggak akan bisa menjelma jadi diri gue ini 😉

Rasa minder, insecure, tidak pede, dan lain sebagainya, hanya akan menjauhkan kita dari segala hal yang terbaik dalam hidup kita ini. Kepercayaan diri adalah kunci kesuksesan, modal awal untuk kita mewujudkan hal-hal yang dulunya hanya bisa kita simpan sebagai impian.

Kita harus percaya, jika orang lain bisa melakukannya, maka kita juga akan bisa melakukan hal yang sama!

Mungkin, kita akan gagal dulu. Jatuh-bangun dulu. Tapi semua kegagalan itu juga yang akan membuat kita belajar bagaimana caranya mencapai impian kita itu. Enggak ada satupun orang yang enggak pernah gagal dalam hidupnya, jadi kenapa kita harus berkecil hati hanya karena kita pernah gagal? Atau pernah ditolak, atau pengalaman buruk apapun yang membuat kita merasa kapok atau bahkan sampai trauma. Kenapa kita harus malu mengakui sesuatu yang juga pernah terjadi pada semua orang di sekitar kita itu?

Hidup terlalu pendek untuk dibayangi dengan rasa minder. Don’t waste your time feeling bad about yourself!

Seperti yang pernah gue tulis sebelumnya, “Courage will take us places!”

Cara Blogger Menyampaikan Cinta

Ceritanya tadi malam, gue iseng-iseng mampir ke blog milik penulis lain. Ada beberapa blogger yang gue relatif suka sama tulisannya. Sampai kemudian gue menemukan satu tulisan yang isinya manis banget. Isinya cerita soal penulis yang belum pernah bilang cinta sama pacarnya. Instead, dia bilang cinta sama si pacar melalui tulisan, dengan cara yang romantis banget.

Gue sampai berpikir, “Kalau gue jadi pacarnya, gue akan lebih senang mendapatkan pernyataan cinta yang seperti itu ketimbang kalimat “I love you” seperti orang lain pada umumnya.”

Kenapa begitu? Karena pernyataan cinta dalam bentuk blog itu sifatnya sangat personal, ditulis khusus buat kita, hanya ada satu-satunya, dan dibagikan secara terbuka… seperti enggak ada rasa ragu atau malu untuk membiarkan seisi dunia mengetahuinya.

It’s beautiful, isn’t it?

Beranjak ke blog lain, gue lalu menemukan beberapa tulisan yang isinya menyatakan kekaguman penulis kepada lawan jenis yang disukainya. Isinya sangat detail, sampai ada pembaca yang bertanya melalui kolom komentar, “Kira-kira dia baca tulisan ini nggak ya?”

Gue tersenyum tipis membaca komentar itu. Siapapun penulisnya, dalam hati kecilnya, dia pasti berharap, sangat-sangat berharap, orang yang dia sukai akan membaca tulisannya itu. Karena memang begitulah cara kami; para blogger, menyatakan isi hati kami kepada orang-orang yang kami sukai. Gue juga lumayan sering kok, menuangkan isi hati gue dalam bentuk tulisan yang lalu gue bagi melaui blog gue ini.

Kenapa harus dengan cara seperti itu?

Gue enggak tahu ya, apakah jawaban gue berikut ini mewakili alasan para blogger lain di luar sana, tapi alasan gue mengungkapkan isi hati melalui blog adalah:

  1. Gue bukan tipe orang yang bisa dengan santainya bilang “I love you.” Gue enggak pernah sekalipun mengucapkan kalimat sakti itu kepada siapapun sepanjang 32 tahun hidup gue ini. Enggak ke orang yang gue suka, enggak juga ke anggota keluarga gue sendiri. It just feels odd and awkward, you know…
  2. Pada umumnya, cowok nggak akan berani maju lebih jauh jika mereka merasa tidak punya peluang. Tapi masalahnya itu tadi, gue bukan tipe orang yang pintar menunjukan ketertarikan gue pada orang lain. Saat ada orang yang doing something nice, gue malah suka bingung harus berkata atau bersikap bagaimana. Untuk mengakalinya, gue menunjukan ketertarikan gue itu melalui tulisan. Cowok yang suka sama gue toh biasanya rajin baca blog gue dan dia bisa anggap tulisan gue itu sebagai sinyal balik dari gue, hehehehe; dan
  3. Kalaupun gue dalam keadaan pesimis hubungan gue dan si gebetan akan going somewhere, menuangkan isi hati lewat tulisan itu akan jadi semacam pelampiasan buat gue. Sekedar menulis bisa bikin gue ngerasa sangat lega! It feels like, “Okay, this is it! I’ve done my part to let him know how I truly feel about him.” Mungkin, cuma sesama penulis saja yang bisa memahami point of view gue ini kali ya.

Intinya sih, gue merasa lebih mampu menuangkan isi hati gue dalam bentuk tulisan ketimbang dalam bentuk kata-kata yang gue ucapkan langsung ke orangnya. Aslinya gue sama sekali enggak seromantis isi tulisan gue dalam blog ini, hehehehe.

The best I can do when I fall for someone is to write something nice about him, to drop him a hint, and hoping that he will read it anytime soon. Sounds stupid? I know, but maybe, just maybe, that’s the only way I know how to tell people how I truly feel about them.