When Someday I Am on My Death Bed

There is this one interesting quote I got from Grey’s Anatomy.

Nobody on their death bed wishes they should have worked harder… Oh well tell that to the people who love their job!

That quote got me thinking… Will I ever regret spending a lot of times of my life to work this hard?

Honestly, I don’t think so.

Here are the things I wish I will never think of when I’m about to die someday…

  1. I should have taken all those very good (yet challenging) opportunities;
  2. I wish I worked harder to pursue what I really wanted in life;
  3. I should have told (certain) people how I used to feel about them;
  4. I wish I didn’t hurt someone’s feeling that bad. Nobody deserves to be treated that way;
  5. I should have asked for forgiveness for the great mistakes I have ever done;
  6. I wish I have travelled more. I want to see more, feel more, live more…
  7. I should have loved myself more.

From all seven things listed above, my biggest fear is definitely number 4. I have been bent and broken so that I know how terrible it can feel inside. I would really hate myself if I ever make other people feel that bad. I’ve spent years of my life trying to be better and I hope I make a good progress on it.

I also still remember that one quote that says, “We only live once, but if we do it right, once is enough.”

I hope I will have lived my life to the fullest before I die. I hope that on my death bed, I will not be haunted by all the 7 things I listed in this blog.

I only live once, but if I do it right, once is enough.

I Only Want to Have a Freedom to Fall in Love

Baru-baru ini gue menyadari bahwa gue sangat sering punya “hot and cold syndrome” tiap kali gue sedang suka dengan seseorang. Kadang gue hangat, peduli, penuh perhatian, tapi kadang gue terlihat dingin seolah enggak ada apa-apa di antara gue dan dia.

Awalnya gue kira, gue masalahnya. Tapi setelah gue pikir, justru mereka masalahnya. Gue ragu-ragu karena mereka juga ragu-ragu, dan itu membuat gue merasa enggak aman. Itu membuat gue takut jatuh hati lebih dalam.

I don’t want to fall for someone who is not ready to catch me down there.

Sekali saja, sekali untuk selama-lamanya, gue ingin punya kebebasan untuk jatuh cinta.

Gue enggak mau lagi menahan diri dari rasa senang tiap kali melihat dia datang menghampiri. Gue ingin menikmati tiap momen bersama dia tanpa khawatir dia cuma akan pergi lagi.

Gue ingin bebas menikmati kebaikan dan perhatian dari dia tanpa rasa khawatir dia cuma baik sebagai teman saja.

Gue ingin bebas jatuh hati, tanpa takut gue hanya bertepuk sebelah tangan.

Gue ingin yakin bahwa hanya gue satu-satunya, dan bukan hanya satu dari sekian perempuan dalam hidupnya.

Dan gue ingin bebas menaruh harapan, tanpa rasa khawatir dia hanya akan mengecewakan gue dengan ketidaksiapan dia untuk melangkah lebih lanjut bersama dengan gue.

Entah kenapa, rasa aman seperti itu tidak pernah gue dapatkan sebelumnya. Gue sangat protektif pada perasaan gue sendiri, dan segala “hot and cold syndrome” gue itu hanya bentuk proteksi gue untuk diri gue sendiri. Gue hanya ingin melindungi diri gue dari orang-orang yang hanya menjadikan gue sebagai objek coba-coba. Maunya sih gue langsung tegas saja, tapi gue juga cuma manusia biasa. Ada kalanya gue ragu, dengan naifnya berharap masih ada kesempatan untuk gue dan dia, sampai pada satu titik gue akan sadar dengan sendirinya, “I love him, but I have to love me more.”

Kuota Pemimpin Perempuan dalam Organisasi? Harus kah?

Debat capres dua malam yang lalu mengingatkan gue pada aturan beberapa organisasi yang menerapkan kuota minimal untuk pemimpin perempuan dalam organisasi mereka. Misalnya, 10% dari anggota BOD harus perempuan. Apa pendapat gue soal aturan macam itu? Menurut gue, aturan itu justru melemahkan posisi perempuan.

Kenapa demikian?

Karena peraturan itu memunculkan kemungkinan bahwa perempuan yang terpilih sebagai pemimpin adalah perempuan yang dipilih untuk sekedar memenuhi kuota. Padahal bisa saja sebetulnya, ada kandidat lain yang jauh lebih capable, tetapi tidak terpilih hanya karena dia laki-laki sedangkan organisasi ybs mau tidak mau harus punya pemimpin perempuan dalam susunan manajemennya.

Saat gue terpilih sebagai pemimpin, gue ingin dipilih karena gue memang dianggap mampu dan bukan hanya untuk sekedar memenuhi kuota. Begitu pula saat gue harus memilih pemimpin baru dalam organisasi yang gue pimpin; yang gue lihat bukan gender-nya, tapi kemampuannya untuk menjalankan tugas dan amanah tersebut.

Tidak dibenarkan mencekal perempuan dari suatu jabatan hanya karena gender-nya, tapi tidak juga dibenarkan memberikan suatu jabatan kepada seorang perempuan hanya karena gender-nya.

Gue senang Indonesia mulai makin terbuka menerima perempuan sebagai pemimpin, tapi bukan berarti hal itu harus banget dijadikan kuota. Dan yang harus dibanggakan itu bukan soal kita punya pemimpin perempuan, tapi soal kita punya pemimpin yang capable menjalalankan tugasnya, apapun jenis kelaminnya.

The Things I Had in Mind When I Woke Up This Morning

I woke up and I thought, “Grilled cheese sandwich would be nice.” But then I fell asleep again.

I woke up again, hugged my bolster in my arms, and I asked myself, “Am I still falling for him? Do I still want him? He doesn’t seem to do anything about me anyway. He has too many girls in his life. And that’s annoying.”

And… I fell asleep again, and when I woke up again, “Having someone on Valentine’s day will be nice though.”

Getting upset not knowing what I really wanted, I went back to sleep and when I finally woke up at 11 AM, “Whatever it is, I want grilled cheese sandwiches.”

So there I grabbed my phone and ordered myself a delicious grilled cheese sandwiches from a restaurant nearby.

Happy Saturday, everyone!

10 Years Challenge

The hype of 10 years challenge on Instagram is exciting and fun! I love to see how different my new friends in 10 years back and to remember how my old friends used to look like back then. It’s also as exciting to see the old pictures of mine (thanks to Facebook for this!). And it’s only exciting to watch the 10 years younger version of me because I think, now I look a lot more attractive compared with myself 10 years ago 😆

Here’s a picture of me now and then!

What are the differences? Oh, a lot of it!

  1. I no longer use braces on my teeth! Thank God!
  2. My cheeks are less chubby now (those braces have done their magic, hehe);
  3. Brighter skin tone, I guess? The skin care I use now is just the best! It works well on my skin;
  4. Make-up on my face. I only could afford a cheap compact powder so that the powder was the only make-up I put on my face 10 years ago;
  5. Not only make-up, I’m also a fashion lover now. I feel good when I look good, hehehehe;
  6. Contact lens is on! They make my eyes look brighter, don’t they?

Now it got me thinking… how will I look like in the next 10 years to come? Oh, we’ll see! I promise you I will write the same post again 10 years from now! Stay tuned (for ten years), hehehehe.

Night night!

Prostitusi, Boleh atau Tidak?

Baca variasi komentar di Lambe Turah soal penangkapan Vanessa Angel (oh yes, Lambe Turah is my guilty pleasure, hehehehe) bikin gue gatal ingin menulis judul yang satu ini.

Apa pendapat gue soal prostitusi? Boleh atau tidak?

Jika dibahas dari sudut pandang agama, apapapun agamanya, jelas jawabannya tidak boleh. Tapi apakah itu artinya prostitusi tidak diperbolehkan hanya karena agama kita tidak memperbolehkannya?

Jadi mari kita bahas topik ini tanpa membawa-bawa ajaran agama manapun, supaya tulisan gue ini tetap relevan untuk semua orang.

Untuk menjawab boleh atau tidak boleh, coba jawab dulu pertanyaan di bawah ini:

  1. Tahukah kamu berapa persen pelanggan prostitusi yang sebetulnya sudah terikat dalam pernikahan resmi? Menurut kamu, apa akibat psikologis yang dirasakan oleh istri dan anak-anak pelanggan prostitusi atas perilaku suami dan ayahnya itu?
  2. Tahukah kamu berapa persen kontribusi prostitusi terhadap penyakit kelamin dan HIV/AIDS? Bagaimana jika penyakit itu kemudian menular kepada istri resminya? Apalagi jika si istri sampai hamil saat mengidap penyakit itu… Apakah tidak kasihan pada istri dan anak yang tidak berdosa itu?
  3. Sebetulnya, apa sih manfaat dari prostitusi untuk si perempuan? Membantu dia untuk menyambung hidup? Atau dalam kasusnya prostitusi di kalangan artis… bantu dia untuk hidup penuh dengan kemewahan, begitu? Bahagiakah mereka hidup seperti itu? Tenang dan bangga kah mereka atas pilihan hidup mereka itu?
  4. Lalu yang terakhir, selain mendapatkan kepuasan sesaat, apa sih manfaat prostitusi untuk para pelanggannya? Benarkah lebih banyak manfaatnya daripada kerugian yang didatangkannya?

Gue tipe orang yang selalu berpendapat, jika lebih banyak kerugiannya, maka jangan dilakukan. Gue juga tidak mendukung pembiaran atas praktek prostitusi di tempat gue tinggal. Kenapa? Karena sama seperti rokok, prostitusi juga banyak diawali oleh ikut-ikutan teman. Sudah susah payah mendidik anak, ada kalanya pengaruh lingkungan akan lebih kuat. Bagaimana jika suatu saat nanti anak-anak atau keponakan-keponakan gue ikut terseret dalam praktek prostitusi?

Hal ini mengingatkan gue pada salah satu teman yang dulu benci banget saat banyak aktivis Islam menolak kedatangan Miyabi ke Indonesia. Menurut dia, tidak ada yang salah dari pornografi karena itu adalah “sarana untuk belajar”. Tidak sampai satu dekade kemudian, teman gue itu malah aktif menjadi aktivis anti pornografi! Kenapa bisa berubah haluan? Karena dia sudah punya anak perempuan. Kenyataannya, 100% pemerkosa melakukan tindakan biadabnya karena terdorong oleh pornografi dan anak-anak merupakan sasaran yang paling mudah.

Dari teman gue itu gue jadi belajar; pikir dua kali sebelum memberikan dukungan pada hal-hal yang sangat kontroversial seperti ini. Prostitusi itu bukan cuma soal agama, tapi lebih kepada persoalan sosial. Berpikir jauh ke depan, jangan sampai asal bicara (atau asal memberikan komentar di dunia maya) yang akhirnya malah memberi angin segar pada para pelakunya. Be wise, okay?

The Next Ultimate Goal

Malam tahun baru kemarin, gue dan keluarga pergi berlibur ke villa yang baru dibeli oleh salah satu om gue. Villa-nya termasuk sederhana, tapi cukup menyenangkan untuk tempat berlibur. Udaranya masih cukup sejuk dan masih ada sawah dan pepohonan untuk menemani jalan-jalan pagi.

Tinggal empat hari tiga malam di villa om gue itu mengingatkan cita-cita gue untuk punya villa di tengah pegunungan. Cita-cita yang tidak pernah gue anggap serius, yang tampak masih sangat jauh di depan mata. Tapi setelah liburan akhir tahun itu, gue jadi terpikir untuk mulai berusaha mewujudkannya.

Seperti apa wujud villa yang gue inginkan?

Gue ingin punya villa yang dikelilingi pegunungan dengan kebun teh. Gue juga ingin punya perkebunan anggur di tanah gue sendiri. Villa terletak persis di tengah-tengah kebun anggurnya.

Villa gue nanti akan dibuat dengan modern design. Ukuran rumahnya tidak terlalu besar, hanya berisi 4 kamar dengan 1 kamar utama di lantai 2. Dan kamar utama milik gue itu adalah best feature-nya!

Gue ingin kamar gue itu memiliki dinding kaca di salah dua sisinya… Gue akan pasang tirai yang bisa otomatis dibuka-tutup menggunakan remote. Tempat tidur gue akan persis menghadap salah satu dinding kaca itu.

Kemudian kamar gue juga akan punya teras dengan meja dan kursi. Gue ingin duduk sore-sore di teras itu untuk menulis blog dan novel gue! Lalu masih di dalam kamar, gue ingin bikin fireplace dengan sofa dan karpet tebal di depannya. Gue mesti cari tempat yang benar-benar dingin supaya fireplace ini ada gunanya, hehe.

Di halaman belakang villa, gue ingin bikin hot springs dengan design ala-ala modern onsen. Pengen juga punya villa yang lokasinya enggak jauh dari air terjun kecil yang masih jernih. Misal benar ada air terjunnya, tanaman di sekitar lokasi air terjun juga akan gue rawat untuk menjaga keasrian air terjunnya! Nanti gue juga buatkan gazebo di halaman belakang villa gue itu. Nggak ketinggalan fasilitas barbecue masih di halaman belakang villa impian gue itu.

Keren nggak villa impian gue ini? Bakal butuh waktu lama banget untuk pembangunannya sih. Butuh banyak uang juga, tapi toh bisa dicicil kan. Misal beli tanahnya dulu, lalu dibangun pelan-pelan sampai akhirnya jadi seperti wishes yang gue tulis di sini!

Doakan gue bisa mewujudkan big dreams yang satu ini jadi kenyataan yaa! Semoga ini bisa bikin gue tetap semangat kerja setiap harinya, hehehehe.