Indecent Proposal… Would You Trade the Love of Your Life for a Million Dollars?

It’s been a while since the last time I watched a beautiful movie. I did watch dozens of them, but there were always times when I yawned during those movies. I felt like I continued watching just because I had to. Some of them were partially good, but none of it stole my heart away. Not until I watched Indecent Proposal just now.

This movie from 1993 is beyond beautiful. I enjoyed watching every second of it. It tells us a story about a husband who let his wife sleep with a billionaire as an exchange of a million dollars. This movie was so emotional I fell in love when the casts did, and my heart broke when they cried and lost the love of their lives.

This movie got me asking this one question to my head, “Will I ever trade the love of my life for a million bucks?”

I quickly answered, “No. Big no. Never. I’ll never ever do that.”

I’ve come to learn that there is no amount of money will ever be enough to satisfy human’s greed. I’ve also learned that it can get you all the things you want to buy, but it can’t get you all the things you need to actually live a life. Love, compassion, affection… those are all the things that money can’t buy, and those are all the things you can’t truly live without.

Now I’m a believer that I will always find my ways to make me richer. I can find a new job, get a promotion, earn myself a big bonus… or I can start my own business and I will build my own empire. I know I can do that, everyone can do that, but not everyone of us is capable to understand what a real love is all about. Not everyone is lucky enough to feel a love that deep, and to be loved as deep in a return.

And if I’ll ever be one of that few lucky people, there is no money will ever be big enough to make me want to trade all those feelings. Not for money, not for anything this life has to offer.

It took me almost my whole life to understand how it feels to truly love somebody. A desire to take care of someone other than myself. A strength to love him as much after knowing how imperfect that he really is. And a dream to spend the rest of my life just with one person, for better or worse, going through the thick and thin, me and him against the world.

It took me that long to feel this beautiful feeling, and if I find somebody who loves me as much, not a second I will ever think to let it slip through my fingers. I will never stop trying to be a better person for him. I will fix the broken parts before they totally fall apart. I will love him even when I hate him. He and I will work hand in hand to create our own version of happily ever after and breaking up will never ever be an option to us. No matter how hard this life gets, it will still be me and him against the world. To me, that’s the thing we do when we truly love someone we care about.

Last night, I watched another movie about a woman who broke up with her boyfriend just because she finally got her dream job in another city. That’s also one thing that I don’t understand. At least not now after I see what I’m capable to do with my career.

No matter where I live, I can always make something out of it. I can build an incredible farm even if I have to live in the middle of nowhere for instance. I’ll always find something to do, to create, and to succeed. But the love of my life… it’s not like it does exist in every corner of this world! Why should you choose between love and career to begin with? If you really have to sacrifice something, why would you choose to sacrifice the relationship itself?

I might sound naive here… Even myself just 10 years back would never imagine that I would be willing to go to the end of the world just for a man I love. It’s just that now as a grown up, I’ve come to learn what are the things that we can build, and the ones that we can’t. We can make ourselves a rich one, but we can never make ourselves a loved one… it’s not even our decision to make to begin with.

If you are lucky enough to love someone who loves you as much, don’t let them go. Don’t take them for granted. Don’t let their imperfections diminish your feelings for them. Take care of them even when they’re not lovable on the hardest days in their lives. Remind them their true worth, and that you love them, every single day of your life.

Here is my favorite quote from Indecent Proposal.

Diana: Have I told you that I love you?

David: No.

Diana: I do.

David: Still?

Diana: Always.

Tentang Halte BEJ

Ceritanya malam ini saya nonton film terbarunya X-Men. Saya pergi nonton, sendirian, dalam keadaan galau atas masalah pribadi yang sangat mengganggu saya beberapa bulan belakangan ini. Bolak-balik saya ingin menyelesaikan masalah itu, tapi saya selalu saja mundur di menit-menit terakhir. Saya menyimpan rasa takut bahwa usaha saya untuk menyelesaikan masalah itu malah hanya akan membuat saya semakin menderita. Sampai lama-kelamaan, saya mulai merasa terlalu capek menanggung beban perasaan saya sendiri. Saya merasa unfinished business saya itu sungguh sudah harus diselesaikan secepatnya.

Selesai nonton di Pacific Place, saya menyeberang jalan ke Halte BEJ. Ada sederet taksi berjejer di depan PP, tapi saya malah menyeberang jalan. Saya kangen duduk sendiri di Halte BEJ; halte yang menyimpan begitu banyak kenangan selama 3 tahun saya bekerja di gedung itu.

Saya lalu duduk, sendirian, sambil menikmati angin malam yang terasa cukup sejuk di malam ini. Begitu banyak memori di halte BEJ bergantian melintas di benak saya. Kejadian demi kejadian lebih dari 7 tahun yang lalu terasa seperti baru terjadi kemarin sore.

Saya ingat pernah menunggu taksi berdua dengan cowok yang dulu pernah saya cintai. Kami sama-sama baru pulang lembur. Senior saya itu sebetulnya bawa mobil sendiri, dia enggak perlu ikut jalan sampai ke halte. Dia hanya ingin menemani sampai saya mendapatkan taksi untuk pulang. Persis kebaikan dia yang seperti itu yang dulu membuat saya jatuh hati. Dia enggak pernah sempat menjadi pacar saya, tapi dia akan tetap selalu menjadi seorang teman untuk saya, dan mungkin, kami bisa berteman untuk selama-lamanya.

Kemudian saya juga masih ingat jelas saat EY mengadakan year end party yang mengharuskan karyawannya datang dengan kostum bertema. Saya ingat kami beramai-ramai berfoto di halte BEJ sebelum gantian menyeberang jalan ke lokasi pesta yang berada persis di seberang gedung kantor kami itu.

Saya bahkan masih ingat hari di mana saya mendengar soal penyakit yang diderita teman baik saya sambil berjalan menuju halte BEJ. Saya masih ingat betapa sedih saat mendengar teman saya itu harus hidup dengan penyakitnya untuk selama-lamanya.

Yang paling pahit, saya pernah berjalan meninggalkan halte BEJ di saat sedang turun hujan rintik-rintik. Senior yang saya sayangi itu memutuskan untuk resign, dan saya merasa ditinggalkan. Emang dramatis banget sih ya waktu itu, tapi saya jadi mengerti kenapa selalu ada saja adegan orang menangis di bawah hujan baik itu di sinetron atau film layar lebar. Alasannya sederhana: karena air hujan akan menyamarkan air mata yang turun dari pelupuk mata.

Kenangan terakhir saya soal halte BEJ adalah saat saya duduk di sana memikirkan masa depan karier saya. Ada keputusan besar yang harus saya pertimbangkan, dan saya baru mantap mengambil keputusan itu setelah duduk merenung di halte BEJ, tengah malam, sendirian.

Kembali ke malam ini, saya kembali menyadari ada keputusan besar yang harus saya ambil. Hanya bedanya malam ini, saya masih tidak tahu bagaimana hasil akhirnya. Kenapa bisa demikian? Karena untuk masalah ini, bukan saya yang harus mengambil keputusan. Saya hanya perlu memberanikan diri untuk meminta seseorang mengambil keputusan itu bukan hanya untuk saya, tapi juga untuk diri dia sendiri.

Saya menghela napas setelah duduk agak lama. Saya harus segera pergi. Sudah terlalu malam untuk duduk di halte yang sudah sepi. Akhirnya saya pulang, dengan kemantapan hati.

Saya sudah melewati begitu banyak naik-turun dalam kehidupan ini… satu lagi rintangan tidak akan membuat saya mati menderita. Saya punya banyak sifat, tetapi penakut bukan salah satunya. Saya hanya perlu memberanikan diri untuk membereskan masalah saya sendiri, dan apapun hasilnya, insyaallah, saya akan baik-baik saja.

This too will pass, will not it?

Is It a Shame if We Go Back to God When this Life Knocks Us Down?

Pernah jadi orang yang baru taat beribadah setelah terlanjur terkena musibah? Musibah, masalah berat, patah hati, atau apapun itu yang menyebabkan hati terasa hancur berkeping-keping.

Saya pernah. Dan pertanyaannya: is it okay to do that?

Dulu saya pernah nonton satu episode salah satu American TV show (Desperate Housewives kalau nggak salah) yang menceritakan salah satu tokoh wanita yang tengah tertimpa musibah. Dia ingin kembali beribadah ke gereja, tetapi dia malu pada Tuhan karena sebelumnya dia seperti sudah melupakan keberadaan Tuhan-nya itu.

Kemudian sahabat wanita itu menasehati, “Ketika anak-anakmu sedang terkena masalah, bukankah kamu ingin mereka mengadu pada kamu; ibu mereka, dan bukan pada orang lain di luar sana?”

Episode yang cukup berkesan buat saya. Pengingat yang baik bahwa Tuhan akan selalu menerima kita kembali kepada-Nya, meskipun kita sempat melupakan keberadaan-Nya. Ia akan lebih ingin kita datang mengadu kepada-Nya daripada mencari pelampiasan lain yang belum tentu baik untuk diri kita ini.

It’s the beauty of believing in God, isn’t it? You will always have Him to come home to, even when you are all alone. And that makes me never feel alone. Never again.

Biaya Kencan… Siapa yang Harus Bayar?

Barusan aja saya nonton video yang intinya mengajarkan para perempuan untuk membayar bagian mereka sendiri tiap kali kencan. Katanya, cowok manapun enggak punya kewajiban untuk membayar makanan atau tiket nonton mereka. Saya langsung tepuk jidat setelah selesai nonton video itu!

Jujur ya, maaf-maaf nih jika ada mas-mas yang enggak suka dengan tulisan saya ini, tapi saya pribadi enggak suka sama cowok yang meributkan siapa yang harus bayar bills saat kencan. Kenapa? Karena saya enggak suka sama orang pelit. Jangankan gebetan atau pacar, punya teman pelit aja saya paling anti!

Cowok yang menolak bayar bills saat kencan itu tipe cowok yang takut harta bendanya berkurang hanya karena traktir makan orang yang dia sayangi. Bukan tipe cowok yang percaya bahwa the more we give, the more we get in return. Selain itu menurut saya, cowok yang belum siap keluar uang buat biaya kencan adalah cowok yang belum siap membangun relationship. Mereka belum siap membagi resources dengan orang lain, belum siap berbagi hidup dengan orang lain.

Bagaimana dengan saya sendiri? Apakah itu artinya saya enggak pernah bayar bills bagian saya?

Saya sendiri ujung-ujungnya pasti akan bayar bagian bills saya sih. Kalaupun si cowok enggak mau terima, saya akan cari-cari occasion lain untuk gantian traktir dia makan. Saat saya ultah atau baru gajian misalnya. Kenapa demikian? Karena saya nggak suka punya utang budi, nggak suka pula menggantungkan hidup saya pada orang lain.

Nah, kali ini mohon maaf nih jika ada mbak-mbak yang keberatan dengan sudut pandang saya… tapi buat saya, relationship itu harus setara dalam hal ekonomi. Pertimbanggannya sederhana: saya enggak mau kehilangan independensi saya as a person.

Sejak mulai punya penghasilan, saya mulai merasakan definisi merdeka dalam artian yang sebenarnya. Dan saya merasa, bergantung secara ekonomi kepada orang lain itu (meskipun dia suami saya) menghilangkan kemerdekaan saya. Saya tidak suka meminta, dan saya tidak ingin kembali menjadi orang yang meminta. Itu sebabnya saya lebih suka bayar makanan saya sendiri: supaya saya bebas pesan menu apapun yang saya inginkan! Kebebasan yang tidak bisa saya dapatkan saat ditraktir orang lain.

Meski demikian, harus diakui bahwa cowok yang selalu insist membayar seluruh tagihan itu memang benar kelihatan seksi. Kelihatan gentleman, kelihatan cowok banget! Dan ini bukan cuma pendapat saya saja lho ya. Semua teman perempuan yang pernah saya ajak ngobrol soal topik ini pun sepakat bahwa cowok kelihatan seksi saat memaksa untuk membayar seluruh tagihan kencan. Bukan karena kita matre, tapi mungkin lebih karena naluri perempuan aja kali yah. Sama lah kayak cowok yang senang dimasakin sama ceweknya.

Jadi sudah lah, guys. Jangan terlalu heboh untuk urusan bills. Man up a little bit, okay?

Jangan Jadi Orang yang Serba Salah

Sebisa mungkin, jangan pernah menjelma jadi orang yang serba salah.

Gaji segitu-gitu aja, complain… iri sama teman-teman seumuran yang sudah punya ini-itu. Tapi lalu dikasih kenaikan jabatan, juga complain… capek, stres, dan nggak tahan sama politik kantornya.

Masih jomblo, complain… bete ditanya “kapan married” terus-terusan. Akhirnya punya pacar lalu menikah, juga complain… banyak drama rumah tangga dan sifat asli suami ternyata enggak banget.

Belum dikaruniai anak, complain lagi. Akhirnya punya anak, masih saja complain juga… capek fisik, capek mental dan emosional karena anak rewel… kurang tidur dan tidak lagi punya cukup waktu untuk merawat atau menyenangkan diri sendiri.

Jika saya jadi Tuhan, saya akan bingung. Dikabulkan doanya salah, tidak dikabulkan juga salah. Maunya apa toh?

Yang paling berbahaya di sini bukan hanya sekedar complain-nya, tapi lebih kepada hilangnya rasa syukur atas anugerah yang kita dapatkan. Kita sibuk mengeluh sampai lupa berbahagia. Hal-hal yang dulu kita sebut berulang-ulang di dalam doa kini malah terasa biasa-biasa saja (bahkan, lebih sering terasa sebagai beban yang luar biasa beratnya).

Hidup sendiri dengan gaji yang tidak seberapa memang terasa lebih ringan. Lebih sedikit masalah, lebih sedikit tekanan, dan lebih sedikit konflik. Tapi, hidup yang serba biasa-biasa saja juga hidup yang paling tidak membahagiakan. Lama kelamaan hidup akan terasa kosong, tidak punya tujuan, tidak ada motivasi untuk hidup lebih lama.

Saya juga sering curhat soal pekerjaan saya. Soal bos-bos saya. Tapi saya tidak pernah mengeluh sampai berharap hidup saya kembali persis seperti dulu saja. Bagaimanapun, pekerjaan yang bikin stres luar biasa itu pekerjaan yang sudah mewujudkan begitu banyak impian saya, dan impian orang tua saya juga. Saya stres, tidak mudah menjalaninya, tapi saya bahagia kini telah bisa mencapai taraf hidup yang dulu saya impikan.

Buktikan pada diri sendiri bahwa kita pantas menerima segala yang kini telah kita miliki. Jangan banyak maunya tapi sedikit pengorbanannya…

Great things in life do not come easy, remember?

Boleh curhat, buat melepaskan beban… tapi jangan jadi rewel apalagi sampai menyulitkan orang lain dengan tingkah kita yang mulai taking things for granted.

Tetap kerja maksimal walaupun pekerjaan baru itu nyaris membuat kita going nuts.

Tetap cintai pasangan kamu lengkap dengan segala kekurangannya (ingat nggak, dulu seberapa gigih kamu menyebut nama dia dalam doa-doa kamu itu?).

Dan jangan pernah menyerah menjadi orang tua yang baik untuk anak-anak kamu itu!

Ingat bahwa anugerah yang kini kita miliki masih menjadi mimpi bagi begitu banyak orang di luar sana. Embrace it!

So please… less complaining and more efforts to get yourself back to the right track, okay?

A Reminder Before Lebaran: Don’t Let Messaging Technology Let You Lose The Human’s Touch

Semakin canggih teknologi, semakin berkurang pula sentuhan manusia (human’s touch) dalam halal bi halal yang seharusnya menjadi the real essence dari lebaran itu sendiri.

Berawal dari fungsi copy-paste pesan yang dikirim berulang-ulang melalui SMS, kemudian muncul broadcast satu pesan ke multiple contacts di BBM, dan yang paling mutakhir; WhatsApp Group atau messenger’s groups yang lain-lainnya.

Tidak ada salah dan benar dalam hal ini, tapi begini… apa yang membuat kita berpikir orang yang pernah kita sakiti perasaannya akan memaafkan perbuatan kita hanya dengan membaca satu pesan yang kita kirim ke semua orang?

Boleh saja menuliskan satu pesan yang kita copy-paste dari satu grup ke grup lain… ini toh memang sudah jadi bagian dari tradisi lebaran. Tapi jika ada orang-orang yang istimewa, atau orang-orang yang pernah kita sakiti perasaannya, jangan lah menganggap satu pesan massal itu cukup untuk halal bi halal dengan mereka.

Jika datang dan bertatap muka tidak memungkinkan, masih ada telepon. Jika telepon dirasa berat biayanya, masih ada direct message. Tuliskan secara personal, dengan tulus, dan sunggguh-sungguh.

Have the real talks instead of robotic messages. They are your friends/families, not your Company’s clients after all.

Mulai tahun ini, mari kita saling meminta maaf dengan cara yang layak dengan tujuan benar-benar mencari pemaafan dan bukan hanya sekedar basa-basi demi memenuhi tradisi Lebaran. Bukan demi siapa-siapa, tapi demi diri kita sendiri, dan demi mereka yang pernah kita lukai perasaannya sepanjang tahun ini.

Selamat Idul Fitri bagi semua pembaca riffasancati.com! Mohon maaf jika ada tulisan saya yang kurang berkenan, semoga sempurna ibadah puasanya, dan selamat berkumpul dengan keluarga dan kerabat tercinta.

Wish you all a blessed Eid!

Kenapa Saya Pasang Ringtone Khusus untuk Si Gebetan?

Minggu lalu, saya bukber sama teman-teman dari kantor lama. Setelah bukber, kita lanjut minum kopi di Coffee Bean. Sepanjang malam itu, saya sibuk curhat soal gebetan saya saat ini. Saat sedang asyik ngobrol, hp saya berdering… ada telepon masuk.

Salah satu teman saya berkomentar, “Wah, telepon dari si dia jangan-jangan.”

Saya menggeleng sambil merogoh HP dari dalam tas. “Nggak mungkin dia. Gue udah set ringtone yang beda buat WA dan call dari dia.”

Teman-teman saya malah menertawakan! Kata salah satu dari mereka, “Elo masih kayak anak SMA aja!”

Saya hanya nyengir. Saya punya alasan berbeda di balik ringtone khusus untuk gebetan saya itu. Bukan karena dia istimewa (walau memang dia istimewa buat saya sih), tapi lebih untuk menjaga diri saya agak tidak kecewa.

Apa maksudnya?

Begini… sebelum saya menggunakan ringtone yang berbeda khusus untuk orang yang saya sukai, saya jadi sering harap-harap cemas tiap kali mendengar hp saya berdering baik itu text ataupun call. Saya sering bertanya-tanya, “Dari dia bukan ya?”

Saya akan cepat-cepat meninggalkan apapun yang sedang saya lakukan untuk segera mengecek hp saya itu. Dan bisa ditebak… saat text atau call itu bukan dari si dia, saya akan langsung merasa kecewa.

Nah, untuk melindungi diri saya dari rasa kecewa yang seperti itulah saya pasang ringtone berbeda untuk nomor hp gebetan saya! Sejak itu, saya akan cepat-cepat menghampiri HP hanya saat ringtone khusus dia itu yang berdering, hehehehe.

Jenius kan? 😉

Am I Scared of Ending Up All Alone?

Baru saja ada teman yang bertanya, “Elo pernah takut end up hidup sendiri nggak, Peh?”

Gue langsung menjawab, “Enggak pernah. Gue enggak masalah sendiri, asalkan gue bahagia.”

And I meant it, every single word of it.

Gue emang udah kepengen settle down. Gue ingin punya kesempatan mencintai dan dicintai satu orang yang akan berbagi hidup dengan gue. Gue juga ingin mulai mengurus orang lain selain diri gue sendiri. Gue ingin memulai hidup baru, pembelajaran baru, lika-liku baru dan kebahagiaan yang juga baru.

Tapi, jika pernikahan hanya akan membuat gue lebih banyak menderita daripada bahagianya, lebih baik gue sendiri. Jika menikah sekarang dengan pasangan seadanya hanya akan mendatangkan penyesalan, lebih baik gue menunggu lebih lama sampai gue menemukan orang yang tepat. Dan jika saat itu nyatanya tidak akan pernah kunjung tiba, gue tetap ikhlas… gue akan coba berpikiran positif bahwa memang kesendirian itulah yang terbaik buat hidup gue ini. Nggak papa sendirian, asalkan enggak kesepian.

It’s okay to be alone, but it’s not okay to be lonely.

Lalu bagaimana caranya agar tidak hidup kesepian? Banyak orang mencari kesibukan tapi tetap saja merasa kesepian dalam kesendiriannya.

Caranya gampang saja: nikmati setiap hari dalam hidup ini, hal kecil, hal besar, nikmati dan berbahagia sebanyak yang kita bisa.

Gue menikmati hari-hari sibuk di kantor sama seperti gue menikmati bisa bangun siang di akhir pekan.

Gue menikmati dikelilingi teman-teman dan keluarga sama sepeti gue menikmati me time seharian di mall (bisa nonton, belanja, mani-pedi!).

Gue menikmati membuat analisis keuangan yang complicated sama seperti gue menikmati waktu yang gue habiskan untuk menulis blog ini.

Dan gue menikmati detik demi detik yang gue habiskan dengan si gebetan kesayangan sama seperti gue menikmati waktu bermain dengan ponakan-ponakan cilik gue.

Gue masih menanti hari pernikahan gue, tapi gue tidak perlu menunggu hari besar itu tiba hanya untuk bisa bahagia. Gue akan mulai berbahagia di masa-masa penantian karena buat gue, tidak ada yang namanya timeline hanya untuk bisa merasakan kebahagiaan. Kenapa harus demikian? Supaya kalaupun hari besar itu tidak pernah datang, hidup gue tetap tidak terbuang sia-sia. Gue sudah mencicil kebahagiaan gue sehingga akumulasi kebahagiaan gue itu akan cukup besar untuk menutupi kekecewaan yang mungkin nanti gue rasakan.

Jika kalian tanya gue sekarang, pastilah gue menjawab gue akan sangat bahagia jika gue bisa berakhir sampai pernikahan sama cowok yang sekarang gue sukai, tapi itu kan cuma sekedar keinginan gue. Apa yang gue inginkan belum tentu selaras dengan apa yang gue butuhkan. Dan sekali lagi, jika memang bukan relationship itu yang gue butuhkan untuk saat ini, maka gue lebih memilih untuk ikhlas.

I’ve tried my best, I’ll let God to do the rest.

I Finally Found My Life Calling

Seperti yang pernah gue tulis akhir tahun lalu di blog ini, ceritanya gue sedang bingung hidup gue ini mau dibawa ke mana lagi? Gue udah sangat happy dengan karier gue, sudah puas dengan hidup gue secara keseluruhan juga. Masih jomblo dan udah kepengen settle down sih, tapi toh gue enggak pernah jadi orang yang harus menunggu suatu momen tertentu terwujud hanya untuk bisa bahagia.

Seringkali gue bertanya pada diri gue sendiri. “What’s next?”

Kemudian suatu hari, salah satu teman terdekat gue akhir-akhir ini bilang begini, “Elo cocok jadi motivator.”

Teman yang beberapa kali pernah bilang betapa dia merasa terbantu dengan dorongan-dorongan yang gue berikan, yang kemudian membuat dia berhasil melakukan hal-hal yang sebelumnya dia pikir “impossible”.

Sejak dia bilang begitu, mulai teringat kembali begitu banyak kejadian yang menguatkan pendapat teman gue itu.

Mulai dari puluhan (atau mungkin sudah sampai ratusan?) pembaca blog gue yang bilang betapa tulisan gue sudah membantu mereka untuk melewati masa-masa sulit dalam hidup mereka. Itu belum termasuk pembaca blog yang menyampaikan ucapan terima kasihnya melalui orang-orang yang gue kenal.

Dan bukan cuma itu! Ada beberapa orang teman dan keluarga yang pernah bilang, “Ada nasehat elo yang masih jadi motivasi gue dari dulu sampai sekarang.”

Pelan-pelan gue mulai berpikiran, “Is this it? My next big thing in life?

Kemudian puncaknya kemarin lusa, iseng-iseng gue buka profil gue di LinkedIn dan gue mendapati ada lebih dari dua ribu orang mengunjungi profil gue 2 minggu belakangan ini! Padahal bisanya, jumlah profile viewers gue hanya sekitar dua ratusan selama 90 hari.

Bagaimana bisa? Ini pasti karena tulisan terakhir gue soal Pak Dosen yang ternyata sudah tembus lebih dari 18,000 views! Wow! It’s breaking my record on LinkedIn!

Dari situ gue jadi mantap memutuskan, “This is it! I want to help people to achieve a better quality of life!”

Apa yang membuat gue begitu yakin gue ingin merintis jalan sebagai motivator?

Ya, gue emang nggak punya masa lalu yang cukup traumatis yang biasanya efektif menarik minat audiences. Gue juga bukan milayrder yang sudah berhiaskan Hermes dari ujung kaki hingga ujung kepala. Dan yang lebih buruk lagi, gue ini masih jauh banget dari sifat mulia. Kalau kalian kenal gue in person, kalian pasti tahu betapa impatient dan nyebelinnya diri gue ini, hehehe.

Gue cuma manusia yang biasa-biasa aja, tapi, gue manusia yang tahu bagaimana caranya hidup bahagia. Tahu bagaimana caranya menjadi versi terbaik dari diri gue sendiri. Tahu bagaimana caranya mengenal dan mencintai diri sendiri, cara melindungi diri sendiri, dan bagaimana cara menikmati hidup, dengan cara gue sendiri. Dan menurut gue, akan ada lebih banyak orang di luar sana yang lebih bisa relate dengan gue yang cuma orang biasa ini.

Oh ya, tahu apa lagi yang memotivasi gue untuk memulai “profesi” baru ini?

Orang-orang yang pernah memotivasi gue adalah jawabannya.

Pak Dosen yang percaya gue akan bisa sukses saat gue bahkan masih ragu-ragu dengan diri gue sendiri. Bos yang percaya pada gue melebihi kepercayaan gue pada diri sendiri. Serta keluarga dan sahabat yang enggak pernah capek memotivasi di saat-saat tersulit dalam hidup gue.

I’m lucky enough to all of them in my life, and I want to be a person like “them” for many people out there.

Lalu bagaimana cara gue akan memulai?

Menulis langkah pertamanya. Gue akan mulai lebih sering menulis di blog ini plus tulisan pendek melalui LinkedIn. Setelah itu, gue juga akan mulai rekaman untuk masuk ke podcast, Youtube, dan social media lainnya. Kemudian gue juga sudah tidak sabar untuk mewujudkan mimpi gue sedari dulu: menulis dan menerbitkan buku gue sendiri!

I have hopes, don’t I? Doakan yaa!

Kenapa Gue Masih Memilih Untuk Mempercayai Keberadaan Tuhan dan Agama-Nya?

Ada obrolan menarik malam ini. Antara gue dan salah satu teman baik yang menganut atheism sejak 2 tahun belakangan ini.

Surprisingly, dia berani bilang begini, “Menurut gue, lebih besar kemungkinan elo yang jadi atheis ketimbang gue yang masuk Islam. Soalnya elo itu orangnya logis banget. You’re half way there.”

Gue enggak terlalu kaget mendengarnya. Ortu gue sering mengungkapkan kekhawatiran mereka soal gue yang cenderung lebih sekuler ketimbang anggota keluarga gue yang lainnya. Bokap sampe pernah bilang, “Jangan terlalu banyak pakai logika. Semua yang berlebihan itu enggak baik.”

Salah satu sahabat baik gue yang lainnya juga pernah bilang, “Semakin pintar dan semakin logis seseorang, semakin tinggi kemungkinan enggak lagi percaya dengan konsep ketuhanan. Elo ada kecenderungan kayak gitu.”

Pertanyaannya sekarang: is that true? Apakah benar gue punya kecenderungan untuk menjadi atheis?

Jawabannya: very big no.

Gue memang tipe orang yang sangat mengandalkan logika. Beberapa teori keagamaan memang pernah gue mentahkan hanya karena menurut gue enggak masuk akal. Tapi pertanyaan selanjutnya: jika demikian, kenapa gue masih percaya dengan keberadaan Tuhan dan memilih satu agama untuk gue yakini?

Jawabannya sederhana: karena gue memerlukan keberadaan Tuhan dan pilar-pilar agama-Nya untuk mengendalikan diri gue sendiri.

Gue pasti sudah menjadi orang yang sangat-sangat jahat, dan/atau sangat-sangat nakal, jika gue enggak punya rasa takut atas Tuhan dan jika gue enggak punya ajaran agama yang menjadi acuan gue untuk menentukan batas antara benar dan salah dalam keseharian gue.

Gue tipe orang yang sangat emosional. Tipe orang yang marahnya meledak-ledak. Gawatnya lagi gue bukan tipe orang yang takut dengan orang lain, bukan pula tipe orang yang takut berurusan dengan konflik. Berantem ya berantem aja gitu. Meski demikian, gue bukan tipe orang yang suka membalas dendam. Bukan orang yang senang mati-matian balas menyakiti orang lain yang menyakiti perasaan gue. Ada kalanya orang terdekat gue sampai berkomentar, “Elo terlalu baik sama mereka. They don’t deserve it.”

Kenapa bisa begitu? Karena ajaran agama gue. Gue masih jauh banget dari akhlak yang sempurna menurut Islam, tapi setidaknya, gue cukup bisa menahan diri gue sendiri. Gue memang galak, tapi gue enggak jahat.

Kemampuan menahan diri dari perbuatan jahat itu menjadi semakin penting dengan bertambahnya kekuasaan yang gue miliki (contohnya di lingkungan kantor). Ditambah lagi gue tipe orang yang sangat analitis sehingga sangat mudah untuk gue menemukan “kartu AS” yang dapat gue gunakan untuk menjatuhkan orang lain yang gue benci. Gue punya pilihan, dan agama gue mendorong gue untuk selalu memilih menahan diri. Ada rasa takut hidup gue akan berubah menjadi tidak tenang jika gue melanggar ajaran yang sangat gue yakini kebenarannya itu. Rasa takut itu juga yang pada akhirnya menekan amarah yang panas membara dalam diri gue ini.

Mungkin sebagian dari kalian, pada titik ini akan bertanya-tanya, “Kenapa harus banget ajaran agama yang jadi acuan? Bukankah sudah ada peraturan-peraturan lain yang bisa gue jadikan acuan untuk mengendalikan diri? Undang-undang misalnya?

Well, enggak semua perbuatan jahat yang menyakiti perasaan orang lain itu melanggar Undang-undang. Gue bisa saja menyakiti perasaan orang lain dan tetap terbebas dari jerat hukum. Sebaik-baiknya peraturan kenegaraan, tetap tidak ada yang mengatur ways of living lebih baik dari ajaran suatu agama.

Kemudian selain soal sifat gue yang emosional, agama juga membantu gue untuk tidak menjadi anak nakal meskipun sebetulnya, ada pikiran-pikiran nakal yang tersimpan di dalam benak gue. Ditambah lagi gue tipe orang yang sangat mudah merasa penasaran, hidup di lingkungan yang cenderung bebas, ditunjang dengan kemampuan ekonomi untuk membiayai kenakalan-kenakalan itu. Gue bisa melakukannya jika gue mau, tapi gue lebih memilih untuk menahan diri. Sekali lagi, karena ajaran agama gue jelas-jelas mengatakan, jika lebih banyak mudharat-nya (sisi negatifnya), lebih baik tidak usah dilakukan sama sekali. Dan tidak pernah sekalipun gue menyesali keputusan ini. Gue mungkin memang kurang pergaulan, tapi gue tidak pernah kurang kebahagiaan. Dan itu yang lebih penting.

God doesn’t need me to believe in Him, but I definitely need to believe in Him to keep me sane and to help me getting through my own life. I need Him in my prayers, in my decisions, and in every single time of my life; both the good ones, and the hard ones. When I lose my belief, I lose most of the part that makes me a decent human being. I am not who I am without my belief, and that’s not going to change. Never.

P.s.: Tulisan ini tidak berarti gue tidak menghargai atheis apalagi pemeluk agama lainnya… Teman atheis yang gue ceritakan di sini teman baik gue, orang yang sangat baik dan sangat gue hargai, dan gue tidak memandang rendah keputusannya. Toh di Islam ada ayat mengatakan, “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.” Ayat yang buat gue, berlaku juga dalam interaksi gue dengan atheis atau agnostik di sekitar gue.

Whatever your belief is, let’s live in peace, shall we?