When People Tend to Forget that I am Only a Human Too

Sometimes it hurts knowing that some people don’t consider how I might feel as an impact of the things they said or did. Just because I’m a tough person, that doesn’t mean I’m a superwoman with superpower! I’m only a human with feelings too. The truth is, I’m hurt when they hurt me.

When they bad mouth me behind my back.

When they choose to protect others or even protecting themselves even though that only means they hurt me badly.

When they keep me in the dark.

When they lie.

Or simply when they don’t tell me the truth that I desperately need.

They think I will be just fine. That I’m used to it. That I’m strong enough to get through all that s***. That I’ll move on and I’ll leave all that behind. And that I’ll be a survivor on my own.

Oh yes I will be all that. I don’t want to be permanently bent and broken no matter what. But is that really necessary to let me fight all those nightmares on my own? Is it really necessary to push me to deal with pain, or wonder, or disappointment over and over again? What did I do so wrong I deserve all that?

Just because I’m strong, it doesn’t mean I’m happy to be hurt.

Oftentimes I wish I could just look them in the eyes and tell them how wounded I really was. How I wish I didn’t have to deal with another heartbreak. And how I desperately wanted to let people know that I was not fine. Not at all.

Do you know what’s even worse from all these? It’s knowing the fact that the people who let me go through all these pains are sometimes the people I care about. The people whose opinions do count to me. The people whom I thought would always be “my person”.

I still remember a few years ago, I read this quote saying that the strongest people are mostly the most wounded. And now I find it so true! The more I look fine from the outside, the less people really care how I feel inside.

I also find it so true that everyone is fighting their own battle. Because so am I! Hence if you can’t be kind to me, at least, be kind enough not to be cruel. It’s not that I want you to pity me, it’s just that I want you to treat me as human with feelings inside. And to me, that would be a luxury.

Cinta dan Macam-macam Jenisnya

Menurut gue, cinta itu ada macam-macam jenisnya. Malah sebetulnya bisa jadi, apa yang gue sangka sebagai cinta sebetulnya hanya sebatas rasa suka saja. Atau bisa juga, hanya sebatas cinta lokasi saja. Bagaimana cara membedakannya?

Tahap pertama: naksir

Ibarat kita melirik baju yang dipakai manekin, itulah tahap naksir. Tahap di mana seseorang mulai mencuri perhatian kita. Tahap di mana kita mulai mencari berbagai informasi tentang dia, dan salah satunya, masih single atau sudah taken? Ibarat memilih baju, masih sangat mungkin kita naksir lebih dari satu cowok sekaligus. Ini kan masih tahap melihat-lihat opsi yang ada. Kalaupun ternyata tidak bisa berlanjut pun, kita bisa dengan mudah move on tanpa harus melewati fase patah hati.

Tahap ke dua: suka

Pada tahap ini, kita mulai menaruh harapan. Kita mulai memiliki keinginan untuk bisa jadian dengan si dia. Kita semakin sering memikirkan dia, makin senang saat melihat ada dia, dan yang paling terasa, kita mulai kangen saat dia sedang nggak ada di sekitar kita. Ini juga tahap di mana kita mulai menyusun rencana untuk bisa mendekati dia atau bahkan kita mulai berusaha untuk bisa membahagiakan dia. Keberadaan pesaing di luar sana juga mulai membuat kita merasa cemburu. Di saat yang bersamaan, kita sudah masuk tahap di mana hal-hal yang tidak diinginkan mulai bisa sampai menyakiti perasaan kita. Harapan yang tidak menjadi kenyataan itu mulai bisa berujung pada kekecewaan yang membuat kita harus melewati fase patah hati hanya untuk bisa move on dari dia.

Tahap ke tiga: cinta

Saat sudah sampai cinta, harapan bukan lagi sekedar sampai jadian, tapi sudah jauh sampai pada jenjang pernikahan. Bukan berarti sudah kepengen nikah sama dia dalam waktu dekat, tapi setidaknya, kita sudah mulai melihat keberadaan dia di masa depan kita nanti. Pada tahap ini, sulit untuk kita membayangkan hidup tanpa ada dia di samping kita. Kita sudah tidak lagi pada tahap di mana hal-hal kecil berpotensi menjadi a deal breaker. Rasa sayang kita ke dia sudah mulai stabil dan di saat yang bersamaan, dia mulai jadi prioritas kita melebihi hal-hal lain termasuk melebihi diri kita sendiri. Rasa peduli kita akan keadaan mereka juga sudah jauh lebih tulus dan bukan lagi sekedar ingin tampak peduli hanya demi menarik perhatian dia saja. Tulusnya perasaan itu pula yang membuat putus cinta di tahap ini akan menjadi pengalaman yang sangat menyakitkan, bahkan bisa jadi traumatis juga. Untuk beberapa orang, putus cinta di tahap ini membutuhkan waktu yang sangat lama (bisa mencapai hitungan tahun) hanya untuk bisa move on. Malah ironisnya, sekalinya kita jatuh cinta, maka orang tersebut akan selalu punya tempat tersendiri di hati kita ini. Kenyataannya, kita tidak akan pernah benar-benar lupa betapa dulu kita pernah sebegitu menyayangi orang ini. Kita bisa jatuh cinta lagi pada orang lain, tapi tetap saja, akan ada bagian kecil dari diri kita yang terus mengenang dia, selama-lamanya.

Hati-hati sama yang ini: cinta lokasi

Cinlok ini rasanya sangat mirip dengan cinta betulan, hanya saja bedanya, cinlok akan segera hilang saat sudah tidak lagi berada dalam satu lokasi yang sama. Misalnya, sudah tidak lagi kerja sekantor. Cinlok biasanya muncul karena rasa nyaman atas kebersamaan kita dengan dia, tapi belum tentu cinta betulan karena belum cukup kuat untuk tidak terpisahkan oleh jarak. Banyak juga cinlok yang berkembang menjadi cinta betulan, tapi tidak sedikit juga cinlok yang sifatnya murni hanya temporary feeling saja. Cinlok tidak bahaya asalkan keduanya mempunyai perasaan yang sama. Bisa repot jika satu orang sudah jatuh cinta betulan sedangkan yang satunya lagi hanya sekedar cinlok belaka! Makanya kalau kita sampai suka dengan orang yang sering bareng sama kita di lokasi tertentu, lebih baik segera diputuskan saja: mau lanjut jadian atau tidak? Cinlok yang menggantung itu cuma buang-buang waktu padahal sebetulnya moving on dari perasaan seperti ini tidak akan sebegitu sulitnya juga.

Salah satu teman gue pernah menyarankan supaya gue tidak buru-buru “naik level”. Jangan cepat sampai di tahap suka, apalagi sampai jatuh cinta, kecuali jika gue sudah mendapatkan bukti yang solid bahwa gue tidak bertepuk sebelah tangan. Boleh mulai suka setidaknya saat sudah ada ajakan nge-date, dan boleh berkembang sampai cinta jika sudah sampai jadian. Teman gue bilang, jangan sampai gue harus melewati fase patah hati yang tidak perlu. Saran yang bagus sih, menurut gue. Dengan menjaga perasaan itu sebatas rasa naksir saja dapat menghindari kita dari terlalu cepat memakai kacamata kuda (cuma fokus pada cowok yang belum tentu suka sama kita juga). Pelan-pelan, beri waktu supaya tidak berakhir buang-buang waktu.

Indonesia dan Budaya Cyber Bully

Sekitar 5 tahun yang lalu, gue mulai aktif ikut online forum khusus traveling. Lumayan buat cari info, bahkan pernah juga 2 kali dapat teman jalan dari forum tersebut. Awalnya menyenangkan, tapi akhir-akhir ini, gue sering merasa risih tiap kali membaca isi online forum yang sekarang mulai merambah sampai ke Facebook itu. Kenapa risih? Karena gue bisa menemukan begitu banyak komentar negatif (beberapa sampai level cyber bully saking sadisnya) di hampir semua post yang gue baca di forum-forum tersebut. Ironisnya lagi, beberapa anggota forum sampai ada yang menambahkan kalimat “please jangan di-bully ya” dalam post yang mereka tulis di forum-forum tersebut.

Gue betulan heran sih. Kenapa mesti sebegitu judesnya sih? Apa untungnya buat mereka? Kenapa sebegitu tersinggung dengan tulisan yang bahkan menurut gue biasa-biasa saja. Jawaban judes mereka itu bahkan belum tentu menjawab pertanyaan yang diajukan oleh penulis thread-nya. Jika tidak bisa memberikan jawaban yang bermanfaat, seharusnya tidak usah membalas sama sekali. Jangan lupa jejak digital itu sangat sulit dihapus dan bisa jadi batu sandungan untuk diri kita sendiri. Ingat bahwa saat kita menyerang orang lain, image kita yang akan terlihat jelek dan bukan image orang yang kita serang itu. If it’s not nice nor useful, just keep our thoughts to ourselves!

Tapi ya yang gue heran dari begitu banyak orang Indonesia akhir-akhir ini… kenapa ya, jumlah orang vokal di dunia maya cenderung jauh lebih banyak daripada orang yang berani menyuarakan dan memperjuangkan pendapatnya di dunia nyata? Misalnya saat ikut meeting atau training. Berapa banyak sih jumlah orang yang aktif memgajukan pertanyaan, menyanggah, atau memberikan pendapat? Seringnya sangat sedikit sekali! Gue kenal beberapa orang yang cenderung tidak banyak bicara di dunia nyata tetapi sangat vokal bahkan sampai kelewat kritis saat memberikan komentar di dunia maya.

Lalu bagaimana cara gue mengatasi forum-forum yang penuh dengan tukang bully itu? Paling gampang emang leave group aja sih ya, tapi karena sejauh ini masih lumayan informatif, atau masih sering memberikan gue inspirasi untuk tujuan wisata selanjutnya, gue memutuskan untuk tetap stay di dua forum itu. Strategi gue:

  1. Tidak usah baca bagian komentar jika tidak diperlukan;
  2. Tidak usah membalas kejudesan orang lain dengan kejudesan lainnya;
  3. Jika tulisan gue di forum itu banyak dibalas dengan komentar yang tidak mengenakkan, maka gue hapus saja post gue yang dianggap kontroversial itu; dan yang paling penting
  4. Gue tidak ikut-ikutan mem-bully orang lain. Gue hanya ikut komentar jika gue tahu gue bisa memberikan jawaban yang bermafaat, yang sesuai dengan konteks pertanyaan ybs.

Hidup sudah rumit, jangan dibuat makin rumit dengan hal-hal yang tidak perlu. Selalu ambil sisi positifnya saja, pastikan kita sudah berusaha menjadi orang baik, sampai pada hal-hal yang sekecil-kecilnya.

Wanted: The Next Big Thing in Life

My birthday this year was quite a story. Two weeks before my birthday, my mood suddenly dropped and it felt such a hot mess inside. Just went back from an incredible holiday didn’t make me feel any better (I even thought it might be what people called as post-holiday blues). I tried everything I could do to cheer me up but none of it was working. I kept wondering and I asked myself, “On my birthday, many people will wish me a long life to live, but for what? What else do I want to do in the rest of my life?”

November 30 around 3 PM, in the middle of a meeting in the office, my teammates entered the room singing a birthday song with a birthday cake and three candles on it. Right before blowing out the candles, I made a wish. I simply wishes that life would find me a reason to live longer. Something that excites me to wake up early in the morning, something that brings smiles and big laughters on my face, something that makes every step I take feels lighter no matter how hard this life gets.

It’s not that I’m not happy with my life. I am happy with my life. It’s just that it feels like I’ve been living the same old life, dealing with the same old dramas, and winning the same old battles in the past 10 years.

Need some examples?

I’ve had enough guys coming to my life just to watch them leave not so long after that. I’m sick of wondering how they truly feel about me. At this point, I’ve started to think that maybe, happily ever after is just not my thing.

Need another example?

A promotion at work doesn’t feel as good as it used to be. Yes, it keeps me proud of myself but that’s that. I’ve went through 6 promotions in the past 10 years and I’m thankful of that, but somehow, the euphoria was just not there anymore. It’s like no matter how delicious a food is, I’ll eventually get bored eating the same food over and over again.

Traveling still feels as good, but I can’t travel everyday of my life anyway (and again, once it becomes “regular”, the hypes will fade away!). What about writing, shopping, watching movies and all the things I always love to do? They are all still fun, but still, they are not sufficient to become a good reason to have a long life, aren’t they?

You know… writing all these has really made me feel bad about myself. It might sound like I’m not grateful for everything I have in life. But well, if you know me in person, for sure you’ll know how grateful I really am. I’m grateful but I need changes, the big ones, in my life. I want to have a brand new chapter in life. I was once unhappy with my life so many years ago and I don’t want to go back there! Letting myself feeling this way (empty, unmotivated, bored, emotionally tired and mentally exhausted) will eventually makes me less happy than I am right now. And to me, living an unhappy life is a nightmare!

I’m determined to figure out what is the real problem that leads me to this feeling and what I should do to make myself feel better over this weekend. If you guys have any idea, feel free to let me know! I desperately need an enlightenments at the moment. I hope this horrible feeling is just temporary and it will soon go far away!

It’s Not My Loss, It’s My Victory

Belum lama ini, gue baca tulisan di Instagram-nya Mandy Hale; salah satu penulis buku self-help kesukaan gue. Dia bilang, “You were merely a sentence in his story while he was several chapters in yours. And that’s okay! Because some people come into our lives not to be loved, but to be lost and learned in order to help us change and grow.”

I can totally relate to what she wrote! Jadi ceritanya belum lama ini, gue mengeluh sama diri gue sendiri… kenapa ya, selalu gue yang lebih sayang atau bahkan lebih cinta sama cowok-cowok yang dekat dengan gue satu dekade belakangan ini? Sering banget terulang sampai bikin gue berpikir ada yang salah dalam diri gue ini. Saking seringnya terjadi, tiap kali gue dekat dengan cowok baru, tanpa gue sadari gue jadi bisa mendeteksi titik balik di mana gue tahu bahwa gue akan segera balik lagi ke fase patah hati. Ternyata di mata dia, gue ini bukan siapa-siapa. Lagi-lagi, perasaan gue ke mereka sudah tumbuh jauh lebih dalam daripada perasaan mereka ke gue.

Apa rasanya berada di posisi seperti itu?

Jujur awalnya gue ngerasa rugi. Rugi karena gue udah buang waktu untuk care sama cowok yang salah dan rugi harus buat buang lebih banyak waktu lagi hanya untuk bisa move on dari mereka. Rasanya benar-benar nggak enak!

Tapi sekarang agak berbeda jalan ceritanya. Sekali ini, patah hati yang sama tidak membuat gue merasa rugi. Yang kali ini terjadi justru membuat gue berpikiran, “Hanya karena dia enggak punya perasaan apa-apa sama gue, bukan berarti semuanya serba sia-sia buat gue.”

Cowok terakhir yang bikin gue patah hati ini bikin gue ingin jadi orang yang lebih sabar, lebih mampu mengontrol emosi, dan bikin gue ingin berbuat lebih banyak untuk keluarga gue sendiri. Dia ini tipe cowok yang sangat care sama keluarganya, banyak berkorban untuk keluarganya, benar-benar menginspirasi gue untuk melakukan hal yang sama untuk keluarga gue sendiri.

This one guy has been an inspiration to me in so many ways!

Pintar tapi humble. Sangat takut menyakiti perasaan orang lain. Tipe orang yang sengaja menyisihkan penghasilannya untuk beramal, tipe orang yang juga selalu memberikan tip minimal Rp. 5,000 ke Go-jek driver-nya.

Bagaimana sikap dia ke gue selama ini?

He’s a truly gentleman in my eyes. He often helps me with the little things without being asked. It feels good to have someone looks after me the way he does. I’ve known him just for a few months but somehow I know that he will always be there for me anytime I need a helping hand. He’s also that kind of person who makes me feel like I can be myself, I can tell him anything I want to share without worrying of being judged.

Lalu kenapa gue bilang gue patah hati karena cowok yang satu ini? Ya karena itu tadi; ternyata gue hanya bertepuk sebelah tangan. Gue salah mengartikan kebaikan dia ke gue selama ini. Dia memang baik sama gue, baik banget, tapi mungkin untuk alasan yang berbeda. Mungkin hanya sekedar ingin membalas budi. Atau mungkin, hanya baik sebagai seorang teman saja. Dan dengan sendirinya gue tahu, lagi-lagi, ini waktunya untuk moving on.

Dekat dengan cowok ini (setidaknya sebagai teman) membuat gue merasa terdorong untuk jadi lebih baik dari gue yang sebelumnya. Nggak ikhlas sebetulnya, tapi gue enggak mau memaksakan keadaan. Jika dia tidak melihat ada masa depan untuk gue dan dia, maka sebaiknya, gue ikhlaskan dan biarkan dia melanjutkan hidup dia dengan cara dia sendiri.

For this once, I don’t think that I’ve wasted my times to get to know him. To spend times with him. To take care of him. And to like him for a million little things he said and did. I’m thankful that I met him and the fact that I cared about him more than he cared about me never seems like a loss to me. It even feels like a victory knowing the fact that I once fell for a kind man who made me want to be as kind and as compassionate as he was. That girl who wins his heart someday will definitely be one of the luckiest girls on earth and I wish, she will love him for who he is, and she will take a good care of him as genuine as I once did.

One More Reason to Leave What’s Best on God’s Hands

Salah satu teman di kantor baru berangkat Umrah, dan seperti orang lain yang hendak berangkat Umrah pada umumnya, dia tanya ke gue, “Mau titip doa apa?”

Gue dengan cepat menjawab, “Semoga Allah tetap selalu memberikan segala yang terbaik buat gue.”

Hal ini mengingatkan gue dengan perjalanan Umrah gue sendiri beberapa tahun yang lalu. Waktu itu kebetulan gue sedang dihadapkan pada 2 pilihan: 2 cowok yang keduanya terlihat berusaha mendekati gue. Saat Umrah, gue berdoa minta dipilihkan yang terbaik oleh Allah. Lalu apa yang terjadi antara gue dengan 2 cowok ini? Gue tidak jadian dengan satupun dari mereka.

Setelah susah payah move on dari salah satu cowok yang gue sebutkan di atas, akhirnya, gue sempat kembali dekat dengan satu cowok baru yang tipe gue banget. Naksir pada pandangan pertama banget deh pokoknya. Ganteng, tinggi, pintar, rajin beribadah pula! Pikir gue saat itu, “He has everything I always wanted.” Gue sempat dengan sok tahunya berpikiran dia itu memang jodoh yang Allah inginkan buat gue (honestly, gue jarang banget dekat sama cowok alim kayak dia).

Cowok yang satu itu juga tidak sungkan menunjukan ketertarikan dia dengan gue. Dia juga cerita ke beberapa orang temannya soal perasaan dia ke gue. Sounds perfect and on track, no?

Waktu itu rasanya gue ngotot banget pengen cepat jadian sama dia. Harusnya mudah saja, tapi fakta malah menunjukan yang sebaliknya. Makin ke sini, hubungan gue dengan dia justru semakin rumit dan penuh drama. Banyak hal yang kemudian membuat gue dengan sangat sadar memutuskan untuk mulai jaga jarak dengan cowok yang satu itu.

Kalau ditanya sekarang, gue bersyukur banget saat itu gue tidak lantas jadian dengan cowok-cowok itu. Bukan soal mereka tidak baik buat gue, tapi lebih soal gue dan mereka memang tidak tepat untuk satu sama lainnya.

Mereka bukan tipe cowok yang akan bisa mengatasi gue dalam saat-saat terburuk gue. Begitu pula sebaliknya.

Mereka bukan juga tipe cowok yang bisa dengan tulus berbahagia atas setiap kemajuan dalam perjalanan karier gue. Tipe cowok yang menganggap pencapaian gue itu sebagai suatu “kekurangan” dalam diri gue ini.

Atau bisa juga terjadi, gue dan mereka punya prioritas yang berbeda. Salah satu sahabat gue sampai menasehati, “Jangan aja elo sampe kayak Luna Maya… Nunggu 5 tahun tapi akhirnya putus juga. Si Reino-nya nggak pernah niat nikahin dia ternyata. Luna Maya berharap itu bisa berubah, tapi nyatanya enggak kan.” Enggak ada benar-salah dalam hal ini karena bagaimanapun, tiap orang berhak punya prioritas untuk hidupnya masing-masing.

Don’t you see? We were just not meant to be! Padahal suka sama suka, tapi saat itu seperti tidak ada jalannya. Hal yang harusnya sederhana jadi luar biasa rumit dan bikin pusing kepala. Kalau dipikir sekarang, bisa jadi, itulah cara Allah menjawab doa gue: mereka bukan cowok yang terbaik untuk hidup dan masa depan gue. Mereka bukan cowok yang Allah pilihkan buat gue.

Sejak itu, moving on dari siapapun jadi terasa lebih mudah buat gue. Jika usaha terbaik gue tidak cukup baik untuk mereka, maka masalahnya hanya satu: bukan mereka orangnya. Allah hanya ingin gue menunggu lebih lama lagi. Dan hebatnya dari semua ini, keikhlasan gue itu malah membawakan lebih banyak kebahagiaan buat gue! Kenapa demikian? Karena hidup sendiri tanpa mereka di dalamnya ternyata jauh lebih baik daripada hidup dengan terus-terusan berusaha mempertahankan sesuatu yang secara konstan membuat gue merasa sedih dan patah hati.

Baru kemarin, sahabat gue yang mencetuskan teori soal Luna Maya itu juga bilang ke gue, “You are stronger than you were 3-5 years ago, you know.”

Yes, I’m much stronger than I was long time ago, and it’s only because I know, I truly know, what might seem like a loss to me is actually a redirection to the person that I belong.

Don’t lose faith, don’t be afraid to take care of the people we care about, be brave enough to love them, and let God do the rest.

Apa Hubungannya Traveling dengan Pencarian Jati Diri?

Satu minggu sebelum keberangkatan gue ke Norway-Iceland yang baru saja berakhir kemarin siang, bos gue di kantor cerita dulu dia pernah berhenti kerja, jual mobil, dan pergi keliling South America. Dia bilang pada saat itulah dia merasa menemukan jati dirinya.

Cerita dia itu mengingatkan gue dengan popular quote dari David Mitchell yang satu ini, “Travel far enough, you meet yourself.”

Nah, pertanyaannya: memang apa hubungannya sih antara traveling dengan pencarian jati diri?

Beda orang bisa jadi beda jawabannya, tapi berikut ini jawaban pribadi yang gue tulis berdasarkan pengalaman gue pribadi juga.

Traveling membantu kita berpikir lebih jernih

Melepaskan diri dari kegiatan rutin sehari-hari memberikan diri gue ruang untuk berpikir lebih jernih. Fokus gue tidak lagi soal deadlines, konflik dengan keluarga, dan lain sebagainya. Saat traveling, isi pikiran gue menjadi lebih jernih, lebih fokus pada diri gue sendiri, dan lebih terbebas dari opini-opini orang lain di sekitar gue yang secara tidak disadari bisa membuat gue berusaha untuk menjadi orang yang diinginkan oleh orang lain dan bukan orang yang gue inginkan untuk diri gue sendiri.

Traveling menguji batas toleransi kita

Traveling ke tempat yang luar biasa asingnya buat kita itu akan sangat menguji kesabaran. Nyasar di jalan, ketinggalan kereta, hampir kehabisan uang dan lain sebagainya. Belum lagi konflik-konflik sepele yang bisa terjadi antara kita dengan teman-teman seperjalanan. Semua itu sudah membantu gue untuk mengenali batas toleransi gue; apa yang masih bisa gue maklumi serta apa yang jelas-jelas tidak akan pernah bisa gue terima. Jika sudah demikian, pengambilan keputusan penting di masa yang akan datang akan jadi terasa lebih mudah untuk gue lakukan.

Traveling mengajarkan kita cara-cara ajaib untuk bisa survive sepanjang perjalanan

Contohnya? Gue belajar cara menghemat energi yang paling cocok buat gue dari serangkaian trip yang pernah gue lakukan. Dari situ gue jadi tahu batasan aktivitas fisik yang boleh dan tidak boleh gue lakukan. Gue juga jadi belajar bagaimana cara yang paling efektif untuk meredakan emosi gue (kebanyakan marah-marah bikin trip jadi tidak menyenangkan dan buat gue itu sama saja dengan buang-buang uang, hehe). Pelajaran yang sama lalu gue terapkan dalam kehidupan sehari-hari dan seringkali mendatangkan manfaat untuk diri gue ini!

Traveling membantu kita untuk menemukan apa yang kita suka dan apa yang kita tidak suka

Hidup ini menawarkan banyak banget pilihan dan traveling udah membantu gue untuk mengenali hal-hal apa yang kemungkinan besar akan gue suka atau tidak akan pernah gue sukai. Kenapa bisa begitu? Karena ada banyak banget keputusan yang harus gue ambil sebelum dan saat pergi jalan-jalan. Harus memilih tempat yang akan didatangi, harus memilih akomodasi dan alat transportasi, belum lagi pilihan yang harus gue buat di tempat saat terjadi hal-hal yang tidak gue perkirakan sebelumnya. Berkat semua itu, mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari juga jadi terasa jauh lebih mudah! Buat apa gue buang-buang waktu mencoba sesuatu yang gue tahu tidak akan pernah gue sukai? Ada kalanya gue tetap mencoba hal baru, tapi tetap ada batasannya. Membuat pilihan yang tepat itu rasanya benar-benar menyenangkan! It feels like my time has been very well spent!

Traveling membuat wawasan gue jadi jauh lebih luas

Saat jalan-jalan, gue banyak melihat, merasakan, dan mempelajari hal-hal menarik yang tidak pernah gue ketahui sebelumnya. Hal ini pada akhirnya bukan cuma memberikan wawasan baru buat gue, tapi juga perspektif atau sudut pandang baru atas berbagai hal yang sedang terjadi dalam hidup gue ini. Hal ini juga yang kemudian membantu gue untuk mendefinisikan diri gue sendiri (misalnya, siapa gue, seperti apa sifat gue, dsb…).

Jadi benar deh, traveling itu pada akhirnya memang bukan cuma sekedar pulang dengan cerita dan foto-foto bagus saja, tapi juga tambahan keyakinan soal siapa diri kita ini. Sudah beberapa kali traveling tapi masih belum pernah merasakan apa yang gue rasakan? Mungkin, traveling-nya masih kurang sering, masih kurang jauh, atau, jumlah travelmate-nya terlalu banyak. Coba deh sesekali traveling sendirian ke tempat yang agak jauh; itu trip pertama gue yang akhirnya membantu gue menemukan jati diri gue ini.

Enjoy your vacation and hope you’ll come home with a new real you inside!