A journey to remember

Recently I realize… I’ve been learning how to love others since the day I was born thirty years ago. I’ve learned how to love as a daughter, a sister, a friend, a colleague, or as a girl who falls in love.

I’ve learned how to tell people how I feel, knowing that silence is in fact not always golden.

I’ve learned to accept that I’m not perfect, and neither is anyone else.

I’ve learned to fight for the people I love, I even fight myself just to keep that feeling alive inside my heart.

I’ve learned to never give up easily on the people I care about.

I’ve learned to not forget someone’s else good deed just because one mistake they did.

I’ve learned that to love is to take and to give, equally, and to love is to be less selfish than I once was.

I’ve learned to give people their second chances. 

I’ve also learned how far I should go knowing that I should also love myself enough to walk away everytime I realize I deserve better.

I’ve learned to forgive, to let go, and be okay with it.

I’ve learned to heal myself from a heartbreak and to love again. To believe in humanity, again.

I’ve learned how blessed and loved that I really am. And I cannot ask for more.

Ceritanya hari ini gue sakit (lagi). Berawal dari flu, pagi ini kepala gue rasanya sakit banget. Gue sahur hanya seadanya, kembali tidur, dan saat bangun, kepala gue malah terasa lebih sakit dibanding sebelumnya. Mau minum paracetamol tapi sudah lewat waktu sahur. Jadilah gue ijin sakit untuk hari ini dan hanya berbaring lemas di atas tempat tidur.

Sekitar jam 3 sore, gue mulai bosan. Iseng-iseng gue Whatsapp sahabat gue di kantor sebelumnya. Gue bilang gue bosan karena hanya istirahat seharian di kosan saja. Teman gue ini lalu bilang begini, “Gue ke kosanlo deh. Gue bawain dokter sekalian, hehe.”

Awalnya gue kira dia cuma bercanda, tapi benar saja, sore menjelang buka puasa, teman gue ini muncul di depan kosan. Dia lalu menyodorkan sesuatu dari dalam ras ranselnya, “Ini gue bawain dokter kesukaanlo.”

Tahu apa yang dia bawa? DVD Grey’s Anatomy season 13! Teman gue ini emang tahu banget kalo gue penggemar berat Grey’s Anatomy sejak serial ini baru mulai tayang bertahun-tahun yang lalu. Senang rasanya punya teman yang sangat thoughtful seperti dia!


Hal ini mengingatkan gue dengan acara bukber dengan sahabat-sahabat dari bangku SMA hari Minggu yang lalu. We’ve been friends for sixteen years! It’s amazing, isn’t it?

Gue dan gank gue saat SMA itu punya kepribadian yang sangat bertolak belakang. Satu orang yang sangat humoris, satu orang yang sangat tomboy, satu orang yang sangat pendiam, satu orang yang sangat cerewet, ditambah dengan gue, si judes yang gila kerja, hehehehe. 

Gue dan keempat orang itu udah melewati banyak hal selama enam belas tahun belakangan. Ada up and down, ada jarak dan kesibukan yang memisahkan, tapi gue bersyukur, sangat-sangat bersyukur, gue dan mereka masih saling meluangkan waktu untuk sekedar bertukar kabar. I really can’t wait for our next trip to Bali September this year!

Selain mereka berlima, masih ada lagi sahabat yang sudah gue kenal dari bangku SMP. Dari bangku kuliah. Dan dari kantor pertama gue juga. Gue senang di mana pun gue berada, selalu ada sahabat baik yang menemani perjalanan hidup gue. 

I don’t have a thousand friends, but I do have a couple of the GREATEST friends on earth. And I cannot ask for more.

Beberapa kali dalam sebulan, ruas jalan di depan kosan gue langganan dipakai untuk menggelar semacam pasar kaget. Pedagang pakaian, aksesoris, mainan, jajanan pasar, dan bahkan ada juga wahana sederhana untuk anak-anak kecil. Pasar malam di tengah kota Jakarta yang sangat sederhana tapi tidak pernah sekalipun tampak kekurangan pengunjung.

Suatu malam, gue melewati pasar dadakan itu di perjalanan pulang menuju kosan. Dari dalam taksi, gue melihat keluarga kecil berjalan bergandengan. Si anak terlihat gembira dengan balon merah di tangan kanannya. Begitu pula raut wajah ayah dan ibunya. Mereka bertiga tampak sangat bersemangat melihat-lihat barang dagangan yang digelar di sepanjang jalan.

Hanya begitu saja, hari gue saat itu menjadi lebih baik dengan sendirinya. Gue masih saja sering lupa… bahagia itu sederhana. Sesederhana menikmati malam bersama keluarga. Atau sesederhana berbahagia melihat kebahagiaan orang lain.

Sejak malam itu, perjalanan melewati pasar malam yang awalnya terasa menjengkelkan saking ramainya, berubah menjadi terasa menyenangkan. Gue seperti menemukan satu lagi alasan kecil untuk bisa berbahagia.

Find your happiness, start from the little things.

Beberapa bulan belakangan ini, gue mulai terpikir untuk menjalankan bisnis gue sendiri. Di satu sisi, gue jelas merasa sangat bersemangat, tapi di sisi lain, gue masih saja bertanya-tanya pada diri gue sendiri.

Do I really want to do this? And why would I want to do it?

Membangun perusahaan sendiri jelas jauh berbeda dengan sekedar pindah kerja ke perusahaan lain milik orang lain. Ada modal kerja yang jadi taruhan, yang kali ini dalam kasus gue, jumlahnya tidak sedikit. Dan kenapa gue sampai harus senekad itu?

Ada satu kekhawatiran yang sebetulnya gue simpan diam-diam… Bagaimana jika ternyata bisnis gue ini hanya pelarian gue saja? Masalahnya, gue punya kebiasaan over excited terhadap hal-hal baru sebelum akhirnya gue merasa bosan dengan sendirinya. Pernah ada yang bilang, yang paling sulit itu bukan saat harus menentukan pilihan, tetapi lebih pada saat harus bertahan pada satu pilihan. Teori yang sangat mengena buat diri gue ini.

Kemudian beberapa hari yang lalu, gue menemukan artikel keren ini via Linkedin. Dari semua gambar yang ditampilkan, ada satu gambar yang paling menarik perhatian gue. Berikut ini gambar yang gue maksud!


Sambil membaca tulisan di dalam gambar, sambil gue menilai diri gue sendiri. Masih belum cukup sampai di situ, gue juga mengirimkan gambar ini ke adik dan beberapa teman terdekat gue. Gue tanya sama mereka, “Menurutlo, gue yang mana?”

Lalu apa hasilnya?

Pendapat gue:

  1. Easily bored. Seperti yang gue tulis di atas: gue tipe orang yang pembosan. Di mana pun gue bekerja, gue selalu aja mulai merasa jenuh tiap kali sudah memasuki tahun ke tiga. Pernah satu kali bisnis kecil-kecilan, tapi hanya bertahan sebentar saja hanya karena gue cepat merasa bosan;
  2. Too impatient. Tiap kali gue punya ide yang gue anggap brilian, gue akan mulai tidak sabaran ingin cepat-cepat mewujudkannya. Hanya saja sayangnya, mewujudkan ide akan jadi lebih sulit saat harus berhadapan dengan begitu banyak kepentingan yang berbeda-beda. Benar-benar bikin gemas!
  3. Wants freedom above all. Entah kenapa, gue seringkali merasa “terbelenggu” sepanjang perjalanan karier gue selama 9 tahun belakangan ini. Meskipun banyak yang bilang bahwa gue ini an agent of change, tapi tetap saja… gue belum pernah menemukan freedom sampai pada tingkat yang gue inginkan dalam dunia kerja;
  4. Too ambitious. Bukan cuma gue ingin ini dan ingin itu, gue juga tipe orang yang senang membuktikan bahwa gue masih bisa menjadi lebih baik daripada diri gue di hari sebelumnya. Gue betulan bisa merasa kecewa jika gue sampai melewati satu tahun tanpa prestasi apa-apa; dan
  5. Been through school of hard knocks. Meski terdengar aneh, tapi pengalaman jatuh-bangun di dunia kerja malah membuat gue semakin yakin untuk memulai bisnis sendiri. Seringkali gue berpikir, “Is there anything that is even worse than what I’ve already been through?” Pernah melewati hal-hal sulit membuat gue lebih optimis bahwa insyaallah, gue juga akan bisa melewati rintangan-rintangan lainnya di masa depan nanti.

Bagaimana dengan jawaban adik dan teman-teman gue?

  1. Can’t have a boss. Mungkin karena gue sering banget curhat soal bos, siapapun bosnya, hehehehe;
  2. Too educated. Wow, this is flattering, hehehehe;
  3. Can sell ice to eskimos. This is flattering too. Entah kenapa ada saja orang yang menilai gue punya bakat sales;
  4. Addicted to risk. Ah, really?
  5. Wants freedom above all (akhirnya ada jawaban yang sama persis kayak jawaban gue sendiri, hehehehe).

Setelah mengevaluasi diri dengan cara seperti ini, gue mulai merasa lebih baik. Maybe, this is just meant to be, isn’t it?

Semoga bisnis ini bisa memberikan hal-hal yang belum pernah bisa diberikan oleh pekerjaan-pekerjaan gue sebelumnya, membuka jalan untuk hal-hal luar biasa lainnya, dan juga mempertemukan gue dengan orang-orang baru yang akan menemani petualangan gue selanjutnya. 🙂

One of the greatest lessons I learned from getting  older is to learn the things I like, want, and need for my own life. I’ve come to learn quality over quantities, and it includes the people that I need to have around.

I don’t need a thousand friends on my social media, I only need a smaller circle of people who truly care.

I don’t need dozens of social event invitations, I only need unforgettable moments with the loved ones.

And I don’t need a bunch of bride maids on my wedding day, I only need a couple of best friends who are always there in my ups and downs.

Why can’t I have all of that with more of people in my life? Because it takes a great amount of effort just to have a few of them in a longer run and that makes all of them very hard to find!

And why did I say they were hard to find? What precisely do I need from the people that count to me?

Here’s the short list!

  1. I need the people who is genuinely happy for me when my life is up on the sky (and not the ones who let their envy consumes themselves);
  2. The people who is genuinely upset when my life knocks me down (and not the ones who are secretly happy to see me fail);
  3. The people who think of my problems as if it were theirs;
  4. The people who can keep my secrets carefully;
  5. The people who never get bored with the stories and problems I share with them repeatedly;
  6. The people who always reply my text, even the not so important ones (and just because they understand it’s really important for me);
  7. The people who are always willing to forgive my flaws;
  8. The people who still believe in me and capable to see my lights even in my darkest times;
  9. The people who are always in my corner (even when I’m doing all the wrong things in public); and
  10. The people who make time for me, no matter how busy they are.

What makes it even more difficult? Because when I know how hard they try to do all that for me, I will also put my very best effort to do all that for them back. That’s why I said; quality over quantities. I would rather to spend my times and energy to the ones that really matter.

It would be great if you can have dozens of people like that in your life, but to me, I’m beyond grateful just to have a couple of them. I don’t know what I ever did in my past that makes me deserve every single one of them. Not only they are the people I need, they’re also the people I want and I love to have to be a part of my life. I hope, I really hope, we’re going to have each other for the rest of our life.

So I’ve been on something big, like really really big, in the past couple of months… and I’ve started to doubt myself.

Am I really going to do this?

Do I really know how to do it all?

Do I really have what it takes to make it happen?

Tried to treat myself a movie to distract me from all that crazy thoughts, but here I am… sitting on a wooden bench in Starbucks, wandering and still wondering all the things I’ve done to pursue this one big dream.

I know that I’m not a coward, I’ve never been one in my entire life, but still… doing what I’m doing at this age is beyond brave! What made me think I could survive this one too? It’s gonna change my life, but what if, it’s not gonna change my life in a good way?

I’m actually a believer that if I believe I will, then I will. But what if I’m wrong this one time? What if I’m wrong and I miserably fail? 

I really want to tell you that I go back home 100% sure that I will be just fine. But the truth is, I’m still doubting myself. Yes, I doubt myself, but make no mistake, it doesn’t mean I no longer believe in me. 

Yes, I might be wrong, BUT… what if I’m right? What if I’m right and I can make it all happen?

I don’t know, and neither does anyone else. I’ll never know, unless I try. Hence at least for now, if I believe I will, I will. Insyaallah.

Entah kenapa, banyak dari kita yang lebih “mendengarkan” hinaan daripada saran yang membangun. Saat dihina: langsung dimasukkan ke dalam hati. Tapi saat diberi saran: masuk kuping kanan, keluar kuping kiri.

Padahal seharusnya, kita hanya boleh mendengar saran, dan tidak perlu menerima hinaan apapun dan dari siapapun.

Bagaimana cara membedakan saran, masukan, dan nasehat dengan hinaan?

Saran diucapkan dengan tenang, secara konstruktif, dan atas niat membawa kebaikan untuk orang yang bersangkutan.

Sedangkan hinaan diucapkan berbarengan dengan amarah, secara menggebu-gebu, atas niat menyudutkan objek yang sedang dibencinya.

Saran yang konstruktif bisa jadi memang benar cerminan dari diri kita sebagai penerima saran, lain halnya dengan hinaan yang bisa jadi hanya luapan emosi dari orang yang mengucapkannya.

And don’t you know? Hurt people will tend to hurt another people.

Orang yang sedang sakit hati, atau sedang bermasalah dengan diri dan hidupnya sendiri, disadari atau tidak, cenderung berpotensi melukai orang-orang di sekitar mereka. Malah dalam kasus-kasus tertentu, hinaan mereka itu bukan hanya sekedar luapan emosi mereka saja, tapi juga cerminan atas kekecewaan mereka terhadap diri dan hidup mereka sendiri. Itulah sebabnya, saat mereka sedang marah, tidak selamanya kita punya andil dalam kemarahan mereka itu. Dan kalaupun ada, biasanya mereka hanya membesar-besarkan masalah kecil saja.

So maybe… it’s not you, it’s just them.

Kenapa gue bisa sangat yakin dengan teori gue ini? Karena gue juga pernah melakukan keduanya: memberi saran dengan niat untuk menolong, pernah pula mengucap hal buruk hanya karena terlarut dengan emosi yang sedang meluap. Saat gue memberi nasehat, tidak ada salahnya untuk didengar, tapi saat gue menyindir atau bersikap sinis, tolong tegur dan ingatkan. Dan jangan dimasukkan ke dalam hati! Gue tidak bermaksud demikian, jangan dengarkan isi kalimat yang bahkan langsung gue sesali segera setelah gue ucapkan. Jangan dengarkan sindiran yang pernah keluar dari mulut gue di saat gue sedang berada dalam titik terburuk gue. Orang yang tengah meluap emosinya bukan orang yang berada dalam posisi terbaik untuk memberikan meski hanya sepotong nasehat.

Bedakan saran dengan hinaan. Belajar menerima saran sama pentingnya dengan belajar untuk tidak menggubris hinaan. Jangan merugikan diri sendiri dengan terus menolak saran dari orang yang peduli, serta jangan pula merugikan diri sendiri dengan membiarkan hinaan orang lain mengkonsumsi pikiran dan energi dalam diri kita ini.

Be smart enough, and you’ll be more than just fine.

My Blog Counter

  • 825,672 visits since May 2011

My Blog Categories

My Blog Archives

Click the pictures below to visit my Instagram...

I was visiting my birthday album, found this picture, and I asked myself, "What does R stand for? If this initial represents me, what does it tell?"
Somehow, the first word came to my mind was "rough". It's not that I'm rough, it's my life. My life is rough. I often look back to what I've been through and I wow myself.
I still think I'm beautiful even after some people told me that I was ugly with lots of pimples on my face.
I still think I'm smart even after some teachers and lecturers looked down on me.
I still believe I can be more than who I was even after some people laughed at my dreams.
I still believe in humanity even after a couple of horrible betrayals by some people I trusted and cherished the most.
And I still learn to love again even after my heart was bent and broken, over and over, hoping that I will finally find my happy ending.
My life is never as easy as it may seem. I work very hard, day and night, to pursue my dreams. I run when everyone else is walking and I don't stop until I'm done. I am the greatest critics to myself, I've been very hard on myself, and after all those efforts, I will never let anybody make me feel less than who I really am.
With that being said, did you know what makes me proud the most? I'm proud of the fact that even when my life gets rough, I still manage to be happy with everything in it. I'm happy with all I have and all that I don't have, and I'm proud of my victories as much as I'm proud of my downfalls.
Yes, R stands for Rough. But maybe, I am not who I am if everything is easy.
#thought #quote #throwback #photooftheday My nephew makes me feel so blessed in so many ways. He's funny, smart, he's so lovable I can barely stand a week without hearing his voice and laughter. He grows up so fast, and he is officially five years old today. 
Many people say he is lucky to have me as his aunty, but I say I am lucky to have him as my nephew. He brings a lot of joy since the day that he was born.
Happy birthday my little nephew! Wish you nothing but all the best to come! I love you to the moon and back!
#nephew #family #birthday #photooftheday #bestoftheday I just can't wait what the future has to offer! I hope that this time too, when I believe I will, I will.
#thought #quote #motivation #portrait #beautyshot #photooftheday #bestoftheday #throwback

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

About Me

What my blog is all about? It's all about my life; my very own fairy tale, that I would love to share. This is my story, my ups and downs, it's a journey to remember.