Apa Hubungannya Traveling dengan Pencarian Jati Diri?

Satu minggu sebelum keberangkatan gue ke Norway-Iceland yang baru saja berakhir kemarin siang, bos gue di kantor cerita dulu dia pernah berhenti kerja, jual mobil, dan pergi keliling South America. Dia bilang pada saat itulah dia merasa menemukan jati dirinya.

Cerita dia itu mengingatkan gue dengan popular quote dari Dalai Lama yang satu ini, “Travel far enough, you’ll meet yourself.”

Nah, pertanyaannya: memang apa hubungannya sih antara traveling dengan pencarian jati diri?

Beda orang bisa jadi beda jawabannya, tapi berikut ini jawaban pribadi yang gue tulis berdasarkan pengalaman gue pribadi juga.

Traveling membantu kita berpikir lebih jernih

Melepaskan diri dari kegiatan rutin sehari-hari memberikan diri gue ruang untuk berpikir lebih jernih. Fokus gue tidak lagi soal deadlines, konflik dengan keluarga, dan lain sebagainya. Saat traveling, isi pikiran gue menjadi lebih jernih, lebih fokus pada diri gue sendiri, dan lebih terbebas dari opini-opini orang lain di sekitar gue yang secara tidak disadari bisa membuat gue berusaha untuk menjadi orang yang diinginkan oleh orang lain dan bukan orang yang gue inginkan untuk diri gue sendiri.

Traveling menguji batas toleransi kita

Traveling ke tempat yang luar biasa asingnya buat kita itu akan sangat menguji kesabaran. Nyasar di jalan, ketinggalan kereta, hampir kehabisan uang dan lain sebagainya. Belum lagi konflik-konflik sepele yang bisa terjadi antara kita dengan teman-teman seperjalanan. Semua itu sudah membantu gue untuk mengenali batas toleransi gue; apa yang masih bisa gue maklumi serta apa yang jelas-jelas tidak akan pernah bisa gue terima. Jika sudah demikian, pengambilan keputusan penting di masa yang akan datang akan jadi terasa lebih mudah untuk gue lakukan.

Traveling mengajarkan kita cara-cara ajaib untuk bisa survive sepanjang perjalanan

Contohnya? Gue belajar cara menghemat energi yang paling cocok buat gue dari serangkaian trip yang pernah gue lakukan. Dari situ gue jadi tahu batasan aktivitas fisik yang boleh dan tidak boleh gue lakukan. Gue juga jadi belajar bagaimana cara yang paling efektif untuk meredakan emosi gue (kebanyakan marah-marah bikin trip jadi tidak menyenangkan dan buat gue itu sama saja dengan buang-buang uang, hehe). Pelajaran yang sama lalu gue terapkan dalam kehidupan sehari-hari dan seringkali mendatangkan manfaat untuk diri gue ini!

Traveling membantu kita untuk menemukan apa yang kita suka dan apa yang kita tidak suka

Hidup ini menawarkan banyak banget pilihan dan traveling udah membantu gue untuk mengenali hal-hal apa yang kemungkinan besar akan gue suka atau tidak akan pernah gue sukai. Kenapa bisa begitu? Karena ada banyak banget keputusan yang harus gue ambil sebelum dan saat pergi jalan-jalan. Harus memilih tempat yang akan didatangi, harus memilih akomodasi dan alat transportasi, belum lagi pilihan yang harus gue buat di tempat saat terjadi hal-hal yang tidak gue perkirakan sebelumnya. Berkat semua itu, mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari juga jadi terasa jauh lebih mudah! Buat apa gue buang-buang waktu mencoba sesuatu yang gue tahu tidak akan pernah gue sukai? Ada kalanya gue tetap mencoba hal baru, tapi tetap ada batasannya. Membuat pilihan yang tepat itu rasanya benar-benar menyenangkan! It feels like my time has been very well spent!

Traveling membuat wawasan gue jadi jauh lebih luas

Saat jalan-jalan, gue banyak melihat, merasakan, dan mempelajari hal-hal menarik yang tidak pernah gue ketahui sebelumnya. Hal ini pada akhirnya bukan cuma memberikan wawasan baru buat gue, tapi juga perspektif atau sudut pandang baru atas berbagai hal yang sedang terjadi dalam hidup gue ini. Hal ini juga yang kemudian membantu gue untuk mendefinisikan diri gue sendiri (misalnya, siapa gue, seperti apa sifat gue, dsb…).

Jadi benar deh, traveling itu pada akhirnya memang bukan cuma sekedar pulang dengan cerita dan foto-foto bagus saja, tapi juga tambahan keyakinan soal siapa diri kita ini. Sudah beberapa kali traveling tapi masih belum pernah merasakan apa yang gue rasakan? Mungkin, traveling-nya masih kurang sering, masih kurang jauh, atau, jumlah travelmate-nya terlalu banyak. Coba deh sesekali traveling sendirian ke tempat yang agak jauh; itu trip pertama gue yang akhirnya membantu gue menemukan jati diri gue ini.

Enjoy your vacation and hope you’ll come home with a new real you inside!

Islam Ways of Living

Meskipun gue bukan pemeluk Islam yang luar biasa taat ibadahnya (dan gue sama sekali tidak bangga akan hal ini sih sebenarnya), tapi gue tetap menjadikan ajaran agama gue sebagai petunjuk hidup. Apa yang boleh dan tidak boleh, apa yang sebaiknya gue lakukan dalam situasi tertentu, serta apa yang sebaiknya gue hindari dalam kehidupan sehari-hari. Kenapa demikian? Karena gue selalu menemukan kebenaran di balik ajaran-ajaran itu. Ada banyak sekali pelajaran yang gue dapatkan dari agama gue ini. Bukan sesuatu yang gue dapatkan dari buku pelajaran biologi, fisika, akuntansi, atau mata pelajaran apapun di dunia ini. Bukan pula pelajaran yang diatur oleh Undang-undang negara manapun di dunia ini. Pelajaran-pelajaran yang membuat gue meyakini, inilah agama yang ingin gue peluk, seumur hidup gue.

Dari Islam gue belajar untuk berbagi. Bukan berbagi hanya di saat gue mampu, tapi juga di saat gue sendiri masih menjadi orang yang memerlukan bantuan finansial. Pokoknya selama gue masih mendapatkan penghasilan, maka di situ masih ada kewajiban untuk berbagi kepada mereka yang lebih membutuhkan. Dan gue sama sekali tidak merasa terbebani! It even makes me feel good! Gue malah bangga dan bersyukur bahwa setidaknya, gue masih bisa berbagi meskipun jumlahnya tidaklah seberapa. And the more I give, the more blessings I get in return.

Islam juga mengajarkan gue untuk mengutamakan melunasi hutang. Orang yang gue hutangi bisa jadi sangat memerlukan uang yang pernah mereka pinjamkan. Jangan sampai mereka harus merasa lelah secara fisik dan emosional hanya untuk menagih haknya itu. Jangan sampai gue malah menyakiti dan merugikan orang yang pernah bersedia memberikan gue pertolongan! Dan jangan sampai mereka merasa menyesal pernah bersedia repot-repot membantu kesulitan finansial gue saat itu.

Islam mengajarkan gue untuk membayar hak karyawan gue sebelum kering keringatnya (baca: bayar gaji tepat waktu!). Gue masih ingat masa-masa di mana gue sebagai karyawan masih sering mengalami “tanggal tua”. Kalau sudah sampai begitu, tiap tanggal gajian gue akan rajin ngecek e-banking. Pernah terjadi, gaji telat masuk sama dengan gue tidak punya uang untuk makan siang atau malam di hari gajian itu. Tidak enak kan rasanya? Apalagi jika ditambah utang yang sudah jatuh tempo! Sudah sangat tepat jika Islam mewajibkan umatnya untuk membayar hak-hak karyawan tepat pada waktunya.

Perilaku Nabi Muhammad soal menghargai niat baik orang lain juga mengajarkan gue untuk menghargai pemberian orang lain meskipun gue tidak menyukainya. Suka tidak suka, hadiah itu akan tetap gue pakai untuk menghargai niat baik orang yang memberikannya. Bagaimana jika hal itu malah membuat orang yang ybs malah terus menerus memberikan barang yang sama secara berulang-ulang? Well… selama barangnya bukan barang terlarang, apa sih ruginya buat gue menerima dan memakai barang itu? Kenapa harus menyakiti perasaan orang yang niatnya hanya ingin menyenangkan diri kita sendiri ?

Islam juga mengajarkan gue untuk tidak membungakan uang yang gue pinjamkan. Gue juga tidak mendukung model bisnis yang nominal bunganya sampai mencekik para nasabahnya (bunga sampai puluhan persen misalnya). Kenapa demikian? Karena orang yang sedang dalam keadaan sangat membutuhkan uang untuk keadaan darurat umumnya tidak bisa berpikir jernih. Mereka ingin cari solusi cepat tanpa memperhitungkan kemampuan mereka untuk melunasi hutang beserta bunga puluhan persennya itu. Buat gue itu sama saja menyelesaikan masalah dengan masalah yang jauh lebih besar. Jika nominal bunga ini sudah sampai pada tahap lebih banyak menimbulkan masalah untuk para nasabahnya, maka buat gue, itu sudah masuk definisi riba yang haram hukumnya.

Gaya hidup gue juga kurang-lebih berkiblat pada ajaran Islam itu sendiri. Gue tidak mabuk-mabukan karena gue tidak mau kehilangan akal sehat gue sehingga sampai melakukan hal-hal bodoh yang hanya akan gue sesali di kemudian hari. Gue tidak mengkonsumsi babi dan menghindari air liur anjing karena ada alasan medis yang melatarbelakanginya (sudah pernah lihat video operasi mengeluarkan cacing pita dari dalam lambung manusia belum?). Dan gue juga menjauhkan diri dari zina karena seks bebas sangat rawan dengan penularan penyakit kelamin dan belum lagi resiko hamil di luar nikah (ini benar-benar bisa merusak segala hal yang sudah gue bangun untuk hidup dan masa depan gue banget sih).

Kerennya lagi, Islam juga mengajarkan untuk meninggalkan debat kusir. Bukan berarti tidak boleh mengeluarkan pendapat, tetapi jika pendapat kita itu tidak bisa diterima lawan bicara sehingga malah memicu perdebatan yang tidak ada habisnya, maka cukup akhiri sampai di situ saja. Perdebatan seperti itu tidak akan ada manfaatnya dan sangat beresiko berakhir dengan menyakiti salah satu atau bahkan kedua belah pihak yang terlibat di dalamnya. Jadi jika kalian tidak suka dengan apa yang gue tulis di sini, tolong sampaikan dengan cara yang sopan dan santun ya. Jika sifatnya hanya cercaan yang dapat berujung debat kusir, gue tidak akan menanggapinya.

Lalu bagaimana pendapat gue soal Islam yang memperbolehkan poligami? Well, memperbolehkan itu berbeda dengan mewajibkan lho. Gue sebagai perempuan punya hak untuk menolak. Dan sebetulnya jika dipelajari baik-baik, tidak semua laki-laki diperbolehkan poligami dalam Islam. Coba dipelajari baik-baik dulu ayatnya sebelum terburu-buru mengikuti hawa nafsu!

Yang terakhir gue cuma ingin bilang, gue Islam bukan karena gue terlahir di keluarga muslim. Gue sudah cukup dewasa untuk memilih keyakinan gue sendiri dan gue merasa beruntung terlahir di keluarga yang menganut agama yang juga gue yakini kebenarannya. Islam is a guidance for my ways of living, until my last breath.

Guys, Tolong Jangan Salah Sangka Dulu!

Baru-baru ini gue menyadari ada beberapa habit gue yang dulu betulan pernah disalahartikan oleh cowok yang sebetulnya hanya gue anggap teman. Gue tidak pernah berniat flirting, pdkt, atau apapun namanya, tapi ternyata, sikap dan perkataan gue malah diartikan demikian. Apa saja contohnya?

  1. Gue memang tipe orang yang senang mendengarkan cerita dan curhatan orang lain. Teman-teman gue banyak yang bilang bahwa gue ini pada dasarnya emang tipe pendengar yang baik. Jadi, jika gue dengan sabar atau antusias mendengarkan curhatan kalian, tolong jangan langsung salah sangka! Boleh geer hanya jika gue sampe texting kalian duluan hanya untuk menanyakan kabar kalian (ini hal yang cuma gue lakukan ke keluarga atau sahabat dekat saja). Kalau sampai begitu, baru itu artinya gue care sama kalian lebih dari sekedar teman;
  2. Gue tipe orang yang senang memperhatikan orang-orang di sekitar gue. Soal makan tepat waktu misalnya. Salah banget jika dikira gue cuma tanya, “Sudah makan belum?” pada lawan jenis yang gue sukai saja! Hal kayak gini termasuk rutin gue lakukan terutama di lingkungan kantor yang sebetulnya bisa juga diartikan “I’m just doing my job to take care of my team.” Lalu apa bedanya perhatian gue ke sekedar teman dengan ke gebetan yang gue suka? Lebih ke level of concerns-nya sih. Kelihatan dari ekspresi wajah dan tone suara gue harusnya. Gue akan kelihatan atau terdengar lebih worried jika menyangkut orang-orang yang gue sayangi;
  3. Gue senang traktir jajanan, belikan oleh-oleh, atau hal-hal kecil lain untuk orang-orang di sekitar gue. Selama kalian mendapatkan barang yang sama dengan barang yang gue belikan buat orang lain, maka jangan salah sangka. Boleh geer hanya jika gift gue buat kalian jauh lebih istimewa bahkan jika dibandingkan dengan gift buat sahabat terdekat gue misalnya;
  4. Gue tipe orang yang senang memuji secara terang-terangan. Cewek atau cowok, kalau memang sedang kelihatan cakep ya gue bilang cakep. Bedanya lebih ke frekuensi gue memberikan pujian saja; biasanya gue jadi lebih sering memuji orang yang gue suka ketimbang memuji orang yang cuma gue anggap teman; dan
  5. Interaksi di socmed juga tidak bisa dijadikan tolak ukur gue suka dengan seseorang. Gue lihat IG story kalian atau like foto kalian bukan berarti gue beneran suka sama kalian dalam artian yang sebenarnya. Tapi memang, saat gue suka sama seseorang, dijamin semua stories yang dia upload akan gue lihat. Orang yang selalu ingin gue lihat stories-nya itu either orang yang rajin upload foto atau video ponakan-ponakan gue, atau, orang yang gue suka 😉 Selebihnya cuma gue lihat stories-nya kalo lagi nggak ada kerjaan di rumah aja.

Di luar 5 hal itu, cara paling gampang untuk tahu isi hati gue ya dengan tanya langsung aja. Gue tipe cewek yang sangat berhati-hati soalnya. Gue enggak pernah memperlakukan orang yang gue sukai secara istimewa kecuali dia sudah duluan mengistimewakan gue juga. Jadi kalo si cowok ini enggak menunjukkan usaha yang signifikan, maka perlakuan gue ke dia juga akan tetap biasa-biasa saja. The more obvious he is, the more obvious that I am too. It’s as simple as that!

The Problem with Many Relationships in Life: We’re Nicer to The Strangers Rather than The Loved Ones

The problem with many relationships in life: we’re oftentimes nicer to the strangers rather than the loved ones.

Need some examples?

We are hesitate to tell the hard truth to colleagues, but we feel like we can tell whatever we want (with no filter) to our families.

We try so hard to be a good employee but we are careless to be a good daughter/son.

We make times for our random cool friends, but we don’t bother to make times (a real good quality times) with our old best friends.

And this is one final example that I often find in married couples: they tried so hard to be a good husband/wife material before they get married, but then they stop trying to become ones after they truly get married.

A friend used to tell me, “Many marriage fails because they both stop trying to impress each other after they get married.” And I find it so true in many other relationships in life too! Not to mention, the closer we are with someone, the less efforts we put to not hurting their feelings too. We don’t hesitate to reveal the worst part of us to the loved ones without considering how it will break their hearts.

Can’t you imagine how awful it might feel? No more good things to celebrate, only boredom and problems to solve. In this kind of relationship, being with them ends up feeling like a burden. It doesn’t feel like home, it’s not comforting and it doesn’t make us a happy person anymore. Until finally, we end up feeling depressed with our own relationships. We either want to run away or we’ve got to hold on and bear all the pains for some things that we deem as “the good reasons”.

I know that if feels good to be surrounded by the people who manage to love us unconditionally. We want them to love and accept us just the way we are. It’s actually human… but then we forget that they are too only a human. And what’s even more concerning is that we forget how love is also a work and love has to be earned not just in the beginning, but also in every single day of our life. A happy relationship is a never ending works and it might be the hardest work we should ever do in our entire life. We only need to work on it unless if we find that it’s okay just to be alone, and lonely.

Life is all about a balance, and so is a relationship. A balance between the comfort of being ourselves and the hard work to be the very best of us for the loved ones. I know for a fact that unfortunately, reaching this “balance” is always the hardest one.

Everytime it feels hard for me to deal with the loved ones, I told myself, “I don’t owe anything to any random people in the office nor any people who only text me a couple times in a year, but I owe a lot of things to my families and best friends.” And then I prioritize my resources (times, energy, and wealth) from there.

From now on, let’s try to do better for our loved ones. If we’re willing to listen to the strangers, listen to our loved ones too. Hear them out! And if we’re willing to work hard just to be “employee of the year”, why don’t we work as hard to be son/daughter or husband/wife of the year too? When we keep trying to be the very best version of us in anything in life, we do it not only for ourselves, but also for the people we care about.

Me and My “Broken Radar”

Malam ini, gue ngobrol panjang lebar sama salah satu teman soal gue yang udah mulai nggak bisa mengenali ciri-ciri cowok yang suka sama gue. Jadi menurut dia, ada teman kita yang mengaku suka sama gue tapi gue enggak pernah ngerasa cowok itu suka sama gue. Gue ngerasa dia nice sama gue cuma sebagai teman aja. Baru setelah gue ingat-ingat, memang ada beberapa hints yang dulu tidak gue anggap serius. Kenapa demikian? Berikut ini daftar alasannya!

  1. Karena cowok yang nice sama gue itu jumlahnya lumayan banyak. Contohnya, teman cowok yang bantu bawa barang berat tanpa diminta, antar gue pulang ke rumah, atau bahkan yang traktir gue makan itu jumlahnya ada lumayan banyak dan nggak mungkin gue bisa langsung menyimpulkan mereka semua sebetulnya suka sama gue!
  2. Gue punya beberapa sahabat cowok yang baiknya kebangetan dan gue tahu banget mereka cuma baik sama gue sebagai teman saja. Susah buat gue jadi geer karena kebaikan-kebaikan kecil (the small gestures) dari some other guys jika gue bahkan tidak geer dengan kebaikan-kebaikan besar (the big gestures) dari sahabat-sahabat gue itu. Gue menganggap kebaikan seperti itu memang sewajarnya dilakukan oleh sesama manusia aja gitu;
  3. Gue sendiri tipe orang yang senang memperhatikan orang lain. Gue sering menanyakan ke semua orang di tim gue soal mereka sudah makan atau belum karena gue memang peduli (dan belum tentu berarti karena gue suka sama mereka!). Ini yang bikin gue tidak mau cepat kegeeran karena bisa jadi, cowok yang perhatian sama gue ini emang pada dasarnya perhatian sama semua orang yang dia kenal (sama seperti yang gue lakukan pada orang-orang di sekitar gue); dan
  4. Gue pernah dekat sampai cukup serius dengan cowok itu cuma dua kali, dan kedua cowok ini secara jelas menunjukan rasa suka mereka ke gue. I never had to wonder how they felt about me because they made it very clear that they had feelings for me. Tanpa gue sadari, gue menjadikan dua cowok ini sebagai benchmark. Gue jadi beranggapan cowok yang suka sama gue itu minimal menunjukkan usaha yang sama besar dengan mereka berdua bertahun-tahun yang lalu itu. Kurang dari itu akan gue anggap cuma baik sebagai teman saja.

Jadi bagaimana kesimpulannya? Benarkah radar gue sudah tidak lagi ampun mendeteksi cowok-cowok yang suka sama gue?

Selesai ngobrol panjang lebar dengan teman yang gue sebutkan di atas, gue langsung kirim text ke Whatsapp Group yang isinya cuma gue dan dua teman cowok lainnya. Di situ gue menulis, “Menurut gue bukan radar gue yang udah rusak, tapi emang cowok jaman sekarang kalo suka enggak berani terang-terangan. Gue jadi susah bedain cowok ini emang suka sama gue atau cuma baik sebagai teman aja.”

Salah satu cowok di grup itu langsung menjawab, “Kalo gue emang enggak (berani terang-terangan).”

Yang satunya lagi tidak ikut menjawab tapi gue toh udah tahu betul gimana cara dia mendekati istrinya dulu. Ini jadi semakin memvalidasi pendapat gue bahwa cowok jaman sekarang emang kurang terus terang. Cowok yang secara agresif dan terang-terangan menyampaikan perasaannya mungkin memang sudah semakin berkurang jumlahnya.

Tapi, apa itu lantas berarti gue harus mengubah cara gue menyikapinya? Haruskah gue jadi orang yang making the first move? Well I don’t think so.

Cowok-cowok yang kelihatan tertarik tapi tidak benar-benar berusaha mendekati itu mungkin memang benar suka sama gue, TAPI, dia tidak sampai jatuh cinta. And why would I want to be with someone who doesn’t take me seriously? He’s Just Not that Into You, remember that book title?

If he is really into me, he will make it clear. Period.

The Things I Did to Increase My Happiness Level

Gue tipe orang yang senang mengevaluasi happiness level gue sendiri. Dari skala 1-10 dan 10 yang paling happy, berapa skor gue saat ini? Penting buat gue merasa bahagia karena apapun yang gue miliki dalam hidup ini enggak akan ada artinya jika hal itu tidak mendatangkan kebahagiaan.

Lalu berapa skor gue saat ini?

Tahun lalu, skor gue 7 dari 10.

Awal sampai pertengahan tahun ini naik menjadi 8 dari 10.

Dan baru-baru ini, naik lagi menjadi 9 dari 10!

Apa rahasianya? Apa yang gue lakukan sampai bisa menjadi lebih bahagia di kuartal terakhir di tahun ini? Atau ada kejadian apa yang telah membuat gue jadi lebih bahagia? Berikut ini daftar lengkapnya!

  1. Gue mulai lebih ikhlas menerima bahwa tidak mungkin semua orang akan bisa menerima dan menyukai gue. Mengutip dari Eat, Pray, Love, “I’m not everyone’s cup of tea”. Gue tidak lagi memaksakan diri, gue lebih memilih untuk fokus memihara hubungan baik dengan orang-orang yang juga menginginkan gue dalam hidup mereka. Rasa ikhlas ini entah bagaimana caranya bikin hati gue terasa lebih enteng, dan juga temtunya, bikin gue lebih menghargai setiap momen dengan orang-orang yang bisa menerima gue lengkap dengan segala kelebihan dan kekurangan dalam diri gue ini;
  2. Menjauhkan diri dari toxic people. Gue udah nggak mau lagi terjebak dalam drama yang tidak penting. Jika keberadaan mereka cuma membuat gue secara konstan merasa tidak nyaman, jika dekat dengan mereka cuma membawa pengaruh buruk dalam hidup gue, ya lebih baik dijauhi saja. Gue dan mereka memang not meant to be aja gitu. Hubungan dengan siapapun (baik itu dalam pertemanan, pekerjaan, atau romance relationship) memang tidak akan pernah selalu mulus, tapi tetap harus ditimbang pro dan kontranya juga. Be kind enough to ourselves by making some spaces with the wrong ones;
  3. My big holiday is approaching! Setelah sejak tahun lalu sengaja berhemat untuk modal bisnis The Lens Story, tahun ini gue kembali merencanakan a big holiday! Insyaallah, awal bulan November mau pergi ke Norway dan Iceland (yaay!). Travel planning never ceases to amuse me!
  4. Tanpa mengecilkan duka yang gue dan orang-orang terdekat almarhum sahabat gue Junet rasakan, kenyataannya kepergian dia bikin gue seperti diingatkan, “Life is short, make the most of it!” Masih banyak keinginan almarhum yang belum tercapai, dan hal itu justru membuat gue lebih terdorong untuk mewujudkan keinginan gue sebanyak yang gue bisa, selagi gue masih bisa;
  5. Punya hobi baru: fotografi. It’s sooo much fun! Gue sampe bikin satu akun Instagram baru untuk khusus memuat hasil karya gue. Go follow @sancati.photography ya, guys! 😉
  6. Meninggalkan debat kusir di dunia maya. Meninggalkan debat kusir di dunia nyata sudah sejak lama mulai coba gue lakukan, sekarang gue lebih memilih untuk melakukan hal yang sama di dunia nyata juga. Hal ini justru bikin gue ngerasa keluar sebagai pemenangnya! Nggak ada yang lebih menyenangkan dari jawaban pendek atas kenyinyiran yang luar biasa panjangnya (atau kalau perlu, nggak usah dibalas sama sekali!). Dibalas juga toh percuma, apapun yang gue tulis nggak akan bisa bikin mereka menarik ucapannya; dan
  7. Ada satu lagi yang berkontribusi besar di happiness gue akhir-akhir ini, tapi masih belum bisa gue tulis di sini 😉 I’ll write some about it soon after I have something worthy to write, ok!

New Hobby: Photography!

Emang sih, fotografi itu udah jadi hobi gue sejak lama. Makanya gue punya start-up yang bergerak di bidang fotografi kan tuh. Bedanya kalo sebelumnya gue lebih senang sebagai orang yang difoto, sekarang gue mulai senang jadi orang yang memfoto orang lain! Dan ternyata, rasanya nggak kalah menyenangkan!

Awalnya gue senang ambil foto cuma pake hp aja. Ada fitur portrait di iPhone yang bikin hasil foto gue jadi bagus banget. Di saat yang sama, gue juga lumayan sering ikut ke lokasi pemotretan klien dan gue suka iseng ikutan ambil foto pakai hp. Suatu hari, gue tertawa puas saat baru selesai ambil foto klien pakai hp gue itu. Fotografer yang gue temani hari itu lalu berkomentar, “Kalo habis ambil foto lalu ketawa, berarti sebetulnya kamu suka jadi fotografer.”

Dari situ gue mulai kepikiran… kenapa gue enggak sekalian belajar fotografi? Gue udah lumayan bisa jadi conceptor, stylist, dan pengarah gaya juga. Edit foto juga bisa walau belum canggih-canggih banget. Jadi kenapa enggak sekalian belajar tehnik fotografinya juga?

Jadilah gue kirim text via WhatsApp ke salah satu teman yang kebetulan jago untuk urusan fotografi. Gue sengaja tanya ke dia karena gue pengen beli merk Fujifilm dan sejauh ini belum ada fotografer di start-up gue yang familiar dengan merk ini. Gue suka banget sama tone-nya Fujifilm dan hasilnya menurut gue sudah langsung bagus tanpa perlu banyak efforts untuk editing.

Teman gue lalu mengusulkan beli XT20 dengan lensa yang menurut dia paling sesuai dengan kebutuhan gue untuk traveling ke Iceland bulan depan (insyaallah). Nggak lama setelah itu, gue beli lah kamera dan lensa sesuai rekomendasi dia!

Saat kamera baru tiba, gue langsung minta tolong teman gue yang lain untuk bantu setting up kameranya. Agak ribet juga mesti pasang ini-itu. Setelah terpasang semua, gue nggak terpikir lagi untuk bongkar-pasang sendiri, hehehe. Selesai pasang ini-itu, gue mulai coba pake kameranya dan gue sempat panik! Kenapa hasilnya gelap? Kenapa blur? Utak-atik sebentar, barulah gue ketemu cara gampang untuk bikin foto bagus pake kamera ini! Gue mulai norak ambil random photos orang-orang di sekitar gue, hehehe.

Kamera baru ini kemudian gue bawa ke acara kantor di Bali minggu lalu. Ceritanya gue mau latihan sebelum nanti bawa kamera ini berlibur ke Iceland. Lagi-lagi, awalnya gue kebingungan karena masih belum berhasil mendapatkan efek bokeh yang sangat gue sukai itu. Untunglah nggak lama kemudian, teman gue yang merekomendasikan kamera ini datang membantu gue dengan quick tips yang langsung menjawab kebingungan gue itu! Sejak itu, gue enggak berhenti ambil foto semua orang di tim gue sendiri, hehehehe.

Lalu bagaimana dengan hasilnya? Check this out!

Gimana? Keren nggak? Hehehehe. Ini hasil foto hanya dengan sedikit editing saja (kebanyakan koreksi lighting dan smoothing kulit wajah modelnya). Masih banyak kekurangan sih ya pastinya, namanya juga baru belajar, tapi gue tetap senang! Gue sering ngerasa excited tiap kali melihat foto bagus di balik lensa kamera gue itu! Gue sering banget berujar, “Ooh, wow! Nice! Great! Keren nih!” Pokoknya gue benar-benar ngerasa excited deh! Happiness level gue langsung naik satu tingkat cuma gara-gara ngerasa punya hobi baru, hehehehe.

Masih norak punya hobi baru, gue langsung menawarkan diri untuk jadi fotografer gratisan ke temen-temen gue aja dong, hehehe. Hitung-hitung buat nambah jam terbang gue kan tuh. Semoga gue bisa makin jago dan yang paling penting, bisa terus enjoy jadi fotografer!

Cheers and happy weekend!