I Finally Found My Life Calling

Seperti yang pernah gue tulis akhir tahun lalu di blog ini, ceritanya gue sedang bingung hidup gue ini mau dibawa ke mana lagi? Gue udah sangat happy dengan karier gue, sudah puas dengan hidup gue secara keseluruhan juga. Masih jomblo dan udah kepengen settle down sih, tapi toh gue enggak pernah jadi orang yang harus menunggu suatu momen tertentu terwujud hanya untuk bisa bahagia.

Seringkali gue bertanya pada diri gue sendiri. “What’s next?”

Kemudian suatu hari, salah satu teman terdekat gue akhir-akhir ini bilang begini, “Elo cocok jadi motivator.”

Teman yang beberapa kali pernah bilang betapa dia merasa terbantu dengan dorongan-dorongan yang gue berikan, yang kemudian membuat dia berhasil melakukan hal-hal yang sebelumnya dia pikir “impossible”.

Sejak dia bilang begitu, mulai teringat kembali begitu banyak kejadian yang menguatkan pendapat teman gue itu.

Mulai dari puluhan (atau mungkin sudah sampai ratusan?) pembaca blog gue yang bilang betapa tulisan gue sudah membantu mereka untuk melewati masa-masa sulit dalam hidup mereka. Itu belum termasuk pembaca blog yang menyampaikan ucapan terima kasihnya melalui orang-orang yang gue kenal.

Dan bukan cuma itu! Ada beberapa orang teman dan keluarga yang pernah bilang, “Ada nasehat elo yang masih jadi motivasi gue dari dulu sampai sekarang.”

Pelan-pelan gue mulai berpikiran, “Is this it? My next big thing in life?

Kemudian puncaknya kemarin lusa, iseng-iseng gue buka profil gue di LinkedIn dan gue mendapati ada lebih dari dua ribu orang mengunjungi profil gue 2 minggu belakangan ini! Padahal bisanya, jumlah profile viewers gue hanya sekitar dua ratusan selama 90 hari.

Bagaimana bisa? Ini pasti karena tulisan terakhir gue soal Pak Dosen yang ternyata sudah tembus lebih dari 18,000 views! Wow! It’s breaking my record on LinkedIn!

Dari situ gue jadi mantap memutuskan, “This is it! I want to help people to achieve a better quality of life!”

Apa yang membuat gue begitu yakin gue ingin merintis jalan sebagai motivator?

Ya, gue emang nggak punya masa lalu yang cukup traumatis yang biasanya efektif menarik minat audiences. Gue juga bukan milayrder yang sudah berhiaskan Hermes dari ujung kaki hingga ujung kepala. Dan yang lebih buruk lagi, gue ini masih jauh banget dari sifat mulia. Kalau kalian kenal gue in person, kalian pasti tahu betapa impatient dan nyebelinnya diri gue ini, hehehe.

Gue cuma manusia yang biasa-biasa aja, tapi, gue manusia yang tahu bagaimana caranya hidup bahagia. Tahu bagaimana caranya menjadi versi terbaik dari diri gue sendiri. Tahu bagaimana caranya mengenal dan mencintai diri sendiri, cara melindungi diri sendiri, dan bagaimana cara menikmati hidup, dengan cara gue sendiri. Dan menurut gue, akan ada lebih banyak orang di luar sana yang lebih bisa relate dengan gue yang cuma orang biasa ini.

Oh ya, tahu apa lagi yang memotivasi gue untuk memulai “profesi” baru ini?

Orang-orang yang pernah memotivasi gue adalah jawabannya.

Pak Dosen yang percaya gue akan bisa sukses saat gue bahkan masih ragu-ragu dengan diri gue sendiri. Bos yang percaya pada gue melebihi kepercayaan gue pada diri sendiri. Serta keluarga dan sahabat yang enggak pernah capek memotivasi di saat-saat tersulit dalam hidup gue.

I’m lucky enough to all of them in my life, and I want to be a person like “them” for many people out there.

Lalu bagaimana cara gue akan memulai?

Menulis langkah pertamanya. Gue akan mulai lebih sering menulis di blog ini plus tulisan pendek melalui LinkedIn. Setelah itu, gue juga akan mulai rekaman untuk masuk ke podcast, Youtube, dan social media lainnya. Kemudian gue juga sudah tidak sabar untuk mewujudkan mimpi gue sedari dulu: menulis dan menerbitkan buku gue sendiri!

I have hopes, don’t I? Doakan yaa!

Kenapa Gue Masih Memilih Untuk Mempercayai Keberadaan Tuhan dan Agama-Nya?

Ada obrolan menarik malam ini. Antara gue dan salah satu teman baik yang menganut atheism sejak 2 tahun belakangan ini.

Surprisingly, dia berani bilang begini, “Menurut gue, lebih besar kemungkinan elo yang jadi atheis ketimbang gue yang masuk Islam. Soalnya elo itu orangnya logis banget. You’re half way there.”

Gue enggak terlalu kaget mendengarnya. Ortu gue sering mengungkapkan kekhawatiran mereka soal gue yang cenderung lebih sekuler ketimbang anggota keluarga gue yang lainnya. Bokap sampe pernah bilang, “Jangan terlalu banyak pakai logika. Semua yang berlebihan itu enggak baik.”

Salah satu sahabat baik gue yang lainnya juga pernah bilang, “Semakin pintar dan semakin logis seseorang, semakin tinggi kemungkinan enggak lagi percaya dengan konsep ketuhanan. Elo ada kecenderungan kayak gitu.”

Pertanyaannya sekarang: is that true? Apakah benar gue punya kecenderungan untuk menjadi atheis?

Jawabannya: very big no.

Gue memang tipe orang yang sangat mengandalkan logika. Beberapa teori keagamaan memang pernah gue mentahkan hanya karena menurut gue enggak masuk akal. Tapi pertanyaan selanjutnya: jika demikian, kenapa gue masih percaya dengan keberadaan Tuhan dan memilih satu agama untuk gue yakini?

Jawabannya sederhana: karena gue memerlukan keberadaan Tuhan dan pilar-pilar agama-Nya untuk mengendalikan diri gue sendiri.

Gue pasti sudah menjadi orang yang sangat-sangat jahat, dan/atau sangat-sangat nakal, jika gue enggak punya rasa takut atas Tuhan dan jika gue enggak punya ajaran agama yang menjadi acuan gue untuk menentukan batas antara benar dan salah dalam keseharian gue.

Gue tipe orang yang sangat emosional. Tipe orang yang marahnya meledak-ledak. Gawatnya lagi gue bukan tipe orang yang takut dengan orang lain, bukan pula tipe orang yang takut berurusan dengan konflik. Berantem ya berantem aja gitu. Meski demikian, gue bukan tipe orang yang suka membalas dendam. Bukan orang yang senang mati-matian balas menyakiti orang lain yang menyakiti perasaan gue. Ada kalanya orang terdekat gue sampai berkomentar, “Elo terlalu baik sama mereka. They don’t deserve it.”

Kenapa bisa begitu? Karena ajaran agama gue. Gue masih jauh banget dari akhlak yang sempurna menurut Islam, tapi setidaknya, gue cukup bisa menahan diri gue sendiri. Gue memang galak, tapi gue enggak jahat.

Kemampuan menahan diri dari perbuatan jahat itu menjadi semakin penting dengan bertambahnya kekuasaan yang gue miliki (contohnya di lingkungan kantor). Ditambah lagi gue tipe orang yang sangat analitis sehingga sangat mudah untuk gue menemukan “kartu AS” yang dapat gue gunakan untuk menjatuhkan orang lain yang gue benci. Gue punya pilihan, dan agama gue mendorong gue untuk selalu memilih menahan diri. Ada rasa takut hidup gue akan berubah menjadi tidak tenang jika gue melanggar ajaran yang sangat gue yakini kebenarannya itu. Rasa takut itu juga yang pada akhirnya menekan amarah yang panas membara dalam diri gue ini.

Mungkin sebagian dari kalian, pada titik ini akan bertanya-tanya, “Kenapa harus banget ajaran agama yang jadi acuan? Bukankah sudah ada peraturan-peraturan lain yang bisa gue jadikan acuan untuk mengendalikan diri? Undang-undang misalnya?

Well, enggak semua perbuatan jahat yang menyakiti perasaan orang lain itu melanggar Undang-undang. Gue bisa saja menyakiti perasaan orang lain dan tetap terbebas dari jerat hukum. Sebaik-baiknya peraturan kenegaraan, tetap tidak ada yang mengatur ways of living lebih baik dari ajaran suatu agama.

Kemudian selain soal sifat gue yang emosional, agama juga membantu gue untuk tidak menjadi anak nakal meskipun sebetulnya, ada pikiran-pikiran nakal yang tersimpan di dalam benak gue. Ditambah lagi gue tipe orang yang sangat mudah merasa penasaran, hidup di lingkungan yang cenderung bebas, ditunjang dengan kemampuan ekonomi untuk membiayai kenakalan-kenakalan itu. Gue bisa melakukannya jika gue mau, tapi gue lebih memilih untuk menahan diri. Sekali lagi, karena ajaran agama gue jelas-jelas mengatakan, jika lebih banyak mudharat-nya (sisi negatifnya), lebih baik tidak usah dilakukan sama sekali. Dan tidak pernah sekalipun gue menyesali keputusan ini. Gue mungkin memang kurang pergaulan, tapi gue tidak pernah kurang kebahagiaan. Dan itu yang lebih penting.

God doesn’t need me to believe in Him, but I definitely need to believe in Him to keep me sane and to help me getting through my own life. I need Him in my prayers, in my decisions, and in every single time of my life; both the good ones, and the hard ones. When I lose my belief, I lose most of the part that makes me a decent human being. I am not who I am without my belief, and that’s not going to change. Never.

P.s.: Tulisan ini tidak berarti gue tidak menghargai atheis apalagi pemeluk agama lainnya… Teman atheis yang gue ceritakan di sini teman baik gue, orang yang sangat baik dan sangat gue hargai, dan gue tidak memandang rendah keputusannya. Toh di Islam ada ayat mengatakan, “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.” Ayat yang buat gue, berlaku juga dalam interaksi gue dengan atheis atau agnostik di sekitar gue.

Whatever your belief is, let’s live in peace, shall we?

Apa Rasanya Jadi Pepper Potts?

Penggemar Marvel pastilah familiar dengan nama Pepper Potts; asisten Tony Stark “Iron Man” yang kemudian berakhir menjadi istrinya. Dan seingat gue, pasangan Tony-Pepper inilah yang butuh waktu paling lama untuk jadian jika dibandingkan pasangan-pasangan lain di MCU (Marvel Cinematic Universe).

Saat tadi menonton ulang film pertama Iron Man, gue bertanya-tanya pada diri gue sendiri, “Apa rasanya hidup jadi Pepper Potts?”

Pepper jelas menunjukkan ketertarikan dia pada atasannya itu. Perhatian-perhatian kecilnya, rasa khawatirnya, serta pengorbanannya, jelas bukan hal-hal yang biasa dilakukan oleh bawahan untuk atasannya. Tony juga jelas mengetahui perasaan Pepper terhadap dirinya, tapi tetap saja… dia lebih memilih berganti-ganti teman kencan ketimbang langsung memilih Pepper sebagai kekasihnya.

Seolah itu saja belum cukup buruk, di awal cerita, Pepper sang asisten rutin bertugas untuk “mengusir secara halus” teman kencan Tony dari kediamannya. Pengorbanan perasaan yang sangat besar menurut gue. Memang hanya film, tapi bisa saja terjadi di dunia nyata. Nggak usah jauh-jauh sampai melihat si dia dengan perempuan lain misalnya. Melihat dia di kantor setiap hari tanpa pernah bisa memilikinya juga sudah cukup menyedihkan. Mau move on juga pasti sangat susah karena masih harus kerja bareng setiap harinya.

Banyak dari kita pastilah juga pernah berada di situasi yang mirip seperti Pepper. Merasa seperti ada harapan, tapi tidak juga banyak kemajuan. Mencintai, tapi enggak punya privilege untuk menyampaikannya. Kangen tapi enggak bisa bilang kangen, cemburu tapi enggak punya hak untuk complain, sekedar ingin ketemu dia pun masih harus pintar-pintar mencari alasan. Situasi yang lama kelamaan akan membuat kita bertanya-tanya… apa jangan-jangan semua ini hanya sekedar cinta yang bertepuk sebelah tangan? Dan yang paling penting, mau begini sampai kapan?

Gue sering berharap… andai gue tahu kapan gue harus terus mencoba atau kapan sebaiknya gue menyerah saja. Bagaimana jika gue hanya perlu sedikit waktu lagi? Berusaha sedikit lebih keras lagi? Bersabar sedikit lebih banyak lagi?

Tapi bagaimana jika semua itu pada akhirnya hanya akan terbuang sia-sia? Bagaimana jika kenyataannya, apapun yang gue lakukan, apapun yang gue katakan, berikan, atau bahkan korbankan, tidak akan pernah cukup untuk bisa mengubah pikirannya? Untuk menggerakan hatinya? Untuk meyakinkan dia bahwa gue adalah “the one“?

If Pepper Potts were real, how did she manage all that?

Beruntung untuk Pepper Potts perasaan dia akhirnya terbalas juga. Pasangan Tony-Pepper akhirnya jadi pasangan favorit hampir semua MCU fans yang gue kenal. Tapi sayangnya, tidak semua dari kita akan berakhir seperti Pepper Potts. Seperti frase yang cukup populer akhir-akhir ini; pada akhirnya, kita hanya sedang menjaga jodoh milik orang lain.

Oh ya, tahu apa yang lebih berat dari menjadi Pepper Potts? Rasa takut orang yang dia cintai akan pergi selama-lamanya sebagai resiko dari “pekerjaannya”.

Gue masih ingat suatu hari saat gue sedang meeting, cowok yang gue sayang banget, mengabari dia akan pulang lebih awal karena mendadak demam tinggi. Mau periksa ke UGD katanya. Membaca isi pesan itu, fokus gue langsung buyar. Telinga gue seolah berhenti mendengar kalimat yang diucapkan oleh rekan kerja gue di meeting itu. Bayangan saat terakhir kali gue melihat dia terbaring di Rumah Sakit tiba-tiba melintas di benak gue. Bagaimana jika dia sakit sampai separah itu lagi?

My brain froze… and that was when I knew how much deeper my feelings had grown for this man.

Tapi tetap saja. Dia bukan pacar gue. Gue pengen ikut mengantar ke UGD. Ingin melihat keadaan dia dengan mata kepala gue sendiri. Tapi gue enggak punya hak untuk itu. Satu-satunya hal yang bisa gue lakukan hanya membalas via WhatsApp, “Kabari dokternya bilang apa. And get well soon!”

Balik lagi ke Pepper Potts… gue mungkin tidak akan bisa sekuat dia. Dan mungkin, gue tidak akan berakhir bahagia dengan cowok yang gue sayangi itu…

Every girl wishes for a happy ending, but maybe, this one is just never meant to be… Still hoping that someday, I will find someone who chooses me, just like Tony Stark chooses Pepper Potts.

Emansipasi Bukan Berarti Tidak Menghargai Laki-laki, Bukan Pula Mengurangi Kewajiban Kami Sebagai Perempuan

Emansipasi buat gue artinya kesetaraan hak. Hak untuk mendapatkan pendidikan, pekerjaan, promosi, dan lain sebagainya. Perempuan harus punya hak yang sama untuk mengejar cita-citanya, dan kami para perempuan harus dinilai berdasarkan kompetensi, dan bukan berdasarkan jenis kelamin.

Jadi sebetulnya, emansipasi tidak ada hubungannya dengan tidak lagi menghargai laki-laki. Membuat kami jadi bersaing dengan mereka, bisa jadi memang iya, tapi sekali lagi, dinilai berdasarkan kompetensi dan bukan berdasarkan jenis kelamin. Itu pula sebabnya gue menilai tidak adil jika suatu organisasi mempunyai kuota minimal pemimpin perempuan dalam organisasinya. Jika kandidat yang dinilai capable untuk duduk sebagai pemimpin secara kebetulan laki-laki semuanya, justru tidak adil jika perempuan dimenangkan hanya atas nama emansipasi.

Kemudian menurut gue, emansipasi juga tidak mengurangi tanggung jawab kami sebagai wanita. Tidak mengurangi tanggung jawab sebagai seorang isteri dan ibu dari anak-anak kami. Memang ada yang berbeda dari cara perempuan bekerja membesarkan anak-anaknya, tapi selama hal itu tidak mengurangi tanggung jawab atas suami dan anak-anak di rumah, menurut gue tidak ada salahnya. Ibu rumah tangga belum tentu ibu dan istri yang lebih baik daripada ibu yang bekerja di luar rumah, begitu pula sebaliknya. Tanggung jawab tetap sama, hanya cara dan metodenya saja yang berbeda-beda.

Gue juga tipikal perempuan yang masih meyakini emansipasi bukan berarti kedudukan istri harus setara dengan suaminya. Menurut gue bagaimanapun, kepala rumah tangga tetap harus suaminya. Suami harus tetap memimpin istrinya, dan istri tetap harus menerima suaminya itu sebagai pemimpinnya. Itulah sebabnya, penting buat gue mempunyai pasangan yang memiliki keberanian untuk memimpin gue. Orang yang berani mengatakan kesalahan apa yang baru saja gue lakukan, dan juga orang yang berani mengajarkan gue untuk bisa jadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.

Selamat hari Kartini buat para perempuan Indonesia! Apapun pilihan hidup kita masing-masing, mari kita jaga kemuliaannya! Mari kita buat Kartini bangga dengan menjadi versi terbaik dari diri kita ini. Bring it on, ladies!

Saat Jatuh Cinta, Tidak Usah Hitung-hitungan!

Pernah merasa rugi karena kita yang lebih cinta sama gebetan atau sama pasangan kita? Serasa enggak ada timbal balik yang setimpal, berat sebelah, dan lain sebagainya…

Gue pernah. And I’m surprisingly okay with that.

Gue pernah nonton serial TV yang bercerita tentang cowok yang tergila-gila sama cewek yang hanya menganggap dia sebagai “teman baik”.

Cowok ini bilang ke ceweknya, “I love you so much my love is enough for both of us.”

Adegan yang menyentuh hati, hehehehe.

Jangan merasa rugi jika kita mencintai dia melebihi rasa cinta dia ke kita. Jangan pula merasa rugi bahkan di saat sebetulnya, kita hanya bertepuk sebelah tangan saja.

Kenapa?

Karena mencintai itu mengajarkan keberanian. Berani mencintai sama saja berani menerima resiko untuk tersakiti. Kenapa tersakiti? Karena luka yang disebabkan oleh orang yang kita cintai akan terasa jauh lebih menyakitkan ketimbang luka yang disebabkan oleh orang asing. Itulah sebabnya, punya cinta yang lebih besar sama dengan punya keberanian yang juga lebih besar. Jadi kenapa harus merasa rugi?

Tidak perlu dihitung betapa kita lebih mencintai dia daripada sebaliknya. Gue berpikirnya, mencintai dia sebesar itu adalah kemajuan besar buat diri gue sendiri. Gue yang akhirnya mau untuk setidaknya berusaha percaya pada orang lain, percaya pada diri sendiri, dan gue yang memberanikan diri untuk memgambil resiko bahwa semua ini… bisa berakhir dengan menyakiti diri gue sendiri.

I love him way more than whatever he feels about me… and I’m okay with that.

Hari Ini Gue Pilih Pasangan Nomor 02, Tapi Kalau Mereka Benar Kalah pun, Gue Nggak Akan Buat Keributan

Hasil quick count mulai bermunculan di media massa jam 3 sore hari ini. Antusias menunggu, gue malah ketiduran. Bangun tidur jam 4 sore, gue langsung ambil hp, buka aplikasi detik.com, dan mendapati pasangan nomor 01 unggul di semua lembaga survey yang diberitakan oleh news portal itu.

Kecewa? Sedikit. Gue enggak ngefans sama Prabowo, tapi gue masih punya belief and hopes sama Sandiaga. Tapi ya sudah. Pemilu itu kan bukan keputusan gue saja. Kalah-menang juga sudah biasa. And I don’t have to win all the times anyway.

Jadi daripada bikin keributan, apalagi sampai menciptakan atau ikutan mengedarkan hoax, lebih baik gue tetap fokus dengan hidup gue sendiri. Fokus dengan hal-hal yang bisa gue kendalikan. Fokus dengan bertanya pada diri gue sendiri, “Apa yang bisa gue kontribusikan untuk negeri gue ini?”

Kontribusi kita pada tanah air tidak berhenti setelah Pemilu usai. Setidaknya untuk diri gue sendiri, gue masih punya cara untuk mengubah apa yang menurut gue baik untuk bangsa ini. Gue memang bukan siapa-siapa, tapi pastilah ada yang bisa gue coba lakukan dengan kapasitas diri yang gue miliki.

Apa contohnya? Sederhana saja: gue bisa memulai dari karier yang gue miliki.

Pekerjaan gue saat ini memberikan gue akses untuk mengutarakan pendapat ke lembaga pemerintahan. Bank Indonesia dan Dirjen Pajak misalnya. Memang spesifik terkait industri perusahaan tempat gue bekerja, tapi gue bisa mulai dari sana. Pelan-pelan, gue bisa membangun relasi dengan petinggi di masing-masing lembaga dan tidak mustahil jika suatu hari nanti, gue bisa membagikan gagasan yang didengar yang tidak lagi terbatas pada industri perusahaan tempat gue bekerja.

Banyak di antara kita yang mempunyai kapasitas untuk benar-benar mengubah sebagian kecil dari negeri kita tercinta ini. Apapun itu, menciptakan keributan bukan salah satunya. Jadi bagi pendukung pasangan yang kalah, mari berbesar hati. Dan bagi pendukung pasangan yang hari ini menang, tolong jangan terlalu tinggi hati. Tidak ada ruginya menjaga perasaan pendukung pasangan yang kini tengah merasa kecewa.

Selamat kepada semua orang yang hari ini memberikan hak pilihnya di tengah gencarnya ajakan untuk tidak memilih. Kalian luar biasa! Setidaknya kalian masih percaya, negeri ini masih bisa berubah lebih baik dari sebelumnya.

Hal-hal yang Gue Lakukan Saat Susah Tidur

Pernah ingin tidur tapi nggak bisa tidur? Sudah lewat tengah malam tapi masih belum ngantuk juga. Bisa dicoba cara-cara ajaib yang pernah gue lakukan berikut ini, siapa tahu mempan!

  1. Baca buku matematika… Saking bencinya sama matematika, tiap baca buku ini, gue malah jadi ngantuk, hehehehe;
  2. Nonton film yang membosankan… Gue punya beberapa judul yang efektif bikin gue tidur saat nonton film itu. Salah satunya? A Star is Born;
  3. Makan sampai kenyang. Ini bukan kebiasaan yang menyehatkan sih. Selain bikin lambung jadi capek, ini juga bisa bikin perut jadi buncit;
  4. Buka aplikasi online shopping. Melihat isi online catalog entah kenapa bisa bikin gue pelan-pelan merasa ngantuk lalu tertidur;
  5. Dengar suara hujan, aliran sungai, atau jangkrik. Ini sebabnya, gue masih sesekali berlibur ke pedesaaan. Tapi suara seperti ini bisa didengar via aplikasi hp juga sih, cuma kurang natural saja kedengarannya;
  6. Cari teman ngobrol. Meskipun topiknya menarik, texting atau teleponan di atas tempat tidur itu efektif bikin gue ngantuk. Dan entah kenapa, percakapan yang menyenangkan sebelum tidur itu bikin tidur gue juga jadi lebih nyenyak;
  7. Baca berita. Ini juga efektif bikin gue ngantuk jika isi beritanya membosankan semua. Tapi ini bisa juga terjadi sebaliknya: isi berita sangat menarik sehingga gue malah terus-menerus baca berita sampai lupa untuk segera pergi tidur; dan
  8. Memejamkan mata dan membayangkan orang yang gue sukai, hehehehehe. It soothes me, somehow.

Punya cara-cara lain yang efektif buat kalian? Please share in comment box!