A journey to remember

Entah dari mana sumber aslinya, gue cukup sering mendengar kalimat berikut ini, “Sometimes when you really love somebody, you have to let them go. If they come back, they will be forever yours. If they don’t, it’s just not meant to be.”

Kemudian kebetulan hari ini, ada teman gue yang bercerita soal teman ibunya. “Dulu nyokap gue pernah punya teman cowok yang ngejar-ngejar satu cewek. Tiap hari, cowok ini muncul depan rumah cewek itu. Suatu hari nyokap gue saranin cowok ini untuk mendadak hilang untuk lihat reaksi si cewek. Dan bener aja, setelah si cowok bener-bener mundur, cewek ini nyariin duluan dan akhirnya mereka married sampai sekarang.”

See? Nasehat model begini memang bukan sekedar mitos!

Hilangnya seseorang yang sebelumnya selalu ada akan membuat kita merasakan bagaimana jadinya hidup tanpa ada dia. Jika terasa baik-baik saja, berarti memang sudah sebaiknya tidak dilanjutkan. Tapi jika langsung terasa ada yang hilang, rasa takut kehilangan yang mulai kita rasakan itu akan membuat kita menyadari arti dia yang sebenar-benarnya. Pernah takut kehilangan juga akan membantu kita untuk tidak lagi memperlakukan dia dengan seenaknya (taking them for granted). Kita jadi bisa lebih menghargai keberadaan dia dalam hidup kita ini.

Dulu banget, gue pernah ada di posisi sebaliknya. Ada satu cowok yang pantang menyerah berusaha deketin gue sampai hampir satu tahun lamanya. Pada satu titik, akhirnya dia nyerah juga. Akhirnya dia hilang juga dari keseharian gue. Apa yang gue rasakan? Gue sempat merasa ada yang hilang, tapi gue merasa baik-baik saja. Gue hanya merasa perlu adaptasi sebentar dan memang benar saja, akhirnya gue lupa dengan sendirinya.

Bertahun-tahun kemudian, gue menyadari bahwa memang sudah sebaiknya gue dan dia berpisah sampai di situ saja. Sekarang dia bukan cuma udah married, tapi juga terlihat benar-benar bahagia dengan pernikahannya. Gue melihat istrinya betulan bisa menerima dia apa adanya; dia bisa melakukan hal-hal yang belum tentu bisa gue lakukan untuk suaminya itu.

Dulu, gue sadar bahwa cowok ini emang sengaja menghilang untuk melihat reaksi gue. Tarik-ulur istilahnya. Tapi ternyata, gue tidak terpancing, yang memang artinya, gue dan dia hanya “not meant to be“. Dan gue yakin, dia enggak menyesali keputusannya untuk melepas gue saat itu, karena toh akhirnya, dia menemukan orang lain yang memang lebih baik untuk hidupnya.

Itulah alasannya, saat gue udah had enough dengan orang yang gue sukai, pada akhirnya gue akan melepaskan mereka dengan benar-benar mundur teratur. Kalau dia enggak kembali lagi, maka ya sudah. Buat apa gue ngotot mengejar orang yang merasa hidupnya baik-baik saja meski tanpa gue? Insyaallah suatu saat nanti, akan dagang orang lain yang lebih baik dan terbaik untuk diri gue. Tapi kalau perginya gue membuat dia merasa sangat kehilangan, maka insyaallah, dia akan mencari jalannya sendiri untuk kembali lagi.

Jangan terlalu takut melepaskan genggaman, karena pada dasarnya, orang yang benar-benar menginginkan kita dalam hidupnya tidak akan balas melepas genggaman tangan kita itu. Mereka tidak akan membiarkan kita terlepas dari genggaman tangan mereka.

Let them go, and see if they will try to find their way back to us.

Three days ago, my boss invited me to join a non-technical training in the office. Before the session was begun, he asked us to open menti.com (an online voting tool) to answer this question: from scale 1 to 10 and 10 is the happiest, how happy are you?

There was no doubt, I gave it an 8. It would be a 9 or 10 if I already sorted out my career and love life drama. If you asked me the same question one year ago, I would definitely gave it a 9 to 10. My life was at its happiest moment back then. I was so much in love, my career was beyond exciting, and my best friends hadn't bailed on me. But well, 8 is not that bad, is it?

And apparently I was right; 8 was not that bad. It was not bad at all. It appeared that the average score of almost 20 people in the room was only 5! If I gave it an 8 and the average score was 5, it meant some people only scored it a lot less than 5! In other words, so many people in that training were unhappy with their life.

That training was not intended to make us happier; that was not even the main topic. But that one vote about happiness really consumed me. I know many people in that room and apparently, some of them are not as happy as it seems.

I looked around and I wondered, "But why?"

And then it hit me. If I got the same question twenty years ago, I would only score it at 3. Ten years later, it was 5 or 6. It kept increasing with up and down in between, but in the past one decade, it's never less than 7 even in the hardest moments of my life as an adult. It feels so amazing and I'm grateful for that!

The question now, what did I do to make myself happier? What made me unhappy and how did I deal with that?

Twenty years ago, I only went on with the flow. I had no ambition, no purpose in life, no good reason to wake up in the morning and start a new day. And then I evolved. I started to write a wish list, I started to dream, I started to work hard to make it all happen. Pursuit of dreams were never easy, but it never ceased to make me happier than who I was before.

Along with my determination to have a better life, I had also learned on how to have courage and how to fight for everything that I believed was right. I was no longer silent everytime people were unfair to me, I spoke up my mind and I stood up for myself. I've won so many battles to overcome my own fear and from all of my achievements in life, this is what I'm proud the most!

Also when I was younger, I didn't care so much about friendship. As long as I had someone to have lunch with was more than enough. And then I started to make some good friends. I started to build a friendship that lasts for decades, and for lifetime, I hope. We didn't always get along in all those entire years, but we always found our way back to each others. And it always makes me happier knowing that no matter what happens, I will never be alone.

Nine or ten years ago, I was never really into my own hobby. I simply did what I wanted to do and that was that. And then I eventually did a lot more of it. I purchased this domain for my blog, I started to travel the world frequently, I read more variety of books, I also gave myself some specific budgets to shop all the things that I wanted to buy every month! I still remember how happy I was the first time I bought my authentic leather bag. It might sound artificial, but I'm happy that I've worked so hard that I'm able to reward myself a life I always dreamed of.

And finally, apart from the broken hearts, I have to admit that I'm happiest when I'm in love. It can instantly scale up my happiness score from 9 to 10! It always makes me happy to see someone I love trying so hard to make me happy, or to comfort me in the little things. It's always lovely to know there is someone else care so much about me that he always puts me before himself. That's the reason why I was happier after I knew how it felt to fall in love. The downside, it's also the reason why once I lose it, I also lose a little bit of happiness that I used to feel.

At the end of the day, I've come to learn that happiness is a work. A hard work. You can't just sit at home hoping that happiness will come along! As much as it's important to be happy with the little things, it's also important to conquer the big things to make us happier, to make us fulfilled with joy and pride. And of course, great things in life are never easy. But then, the happiness you feel after all the hard works you put into will be the greatest happiness that make all those sacrifices are just worth it. So maybe, if you feel unhappy, that's only because you're too lazy to make yourself happy.

Life is too short to be unhappy. From all people on earth, you are the only one who can make yourself the happiest version of you. Find your way to evolve, then happiness will be no longer a myth.

Sebagai pelanggan setia Gojek yang sedang berambisi mendapatkan iPad gratis (48,000 points to go! 😀 ), gue punya banyak banget cerita tentang gue dan sederetan abang Gojek. Daripada cerita soal yang paling lucu dan paling menyebalkan, gue lebih ingin bercerita soal abang Gojek yang paling meninggalkan kesan positif. Berikut ini rangkumannya!

Abang Gojek dan Aqua botol

Sebagai anak kosan yang malas naik-turun ke pantry di lantai 3, gue lebih memilih untuk beli Aqua botol sekalian saat gue pesan makanan via Gofood. Kemudian suatu hari, gue pesan makan ke Lucky Cat yang ternyata tidak menjual air mineral merk apapun!

Awalnya si abang Gojek menelepon, dia bilang Lucky Cat tidak jual air mineral karena mereka menyediakan air putih gratis untuk pengunjungnya. Si abang Gojek tanya gue mau minum apa sebagai penggantinya? Gue bilang tidak usah, gue cuma perlu air putih. “Maklum anak kos, hehehehe,” kata gue saat itu.

Hampir satu jam kemudian, abang Gojek sampai ke depan kosan membawa makanan gue lengkap dengan 3 botol Aqua yang sempat gue pesan secara manual lewat aplikasinya! Saat gue tanya, abang Gojek bilang begini, “Akhirnya tadi saya beliin di Sevel, mbak. Cuma jalan sedikit dari Lucky Cat.”

Gue tersenyum lebar… masalah air mineral selesai sudah! 😀

Abang Gojek dan mayonnaise satu kantong 

Gue ini penggemar berat Dim Sum Inc semata-mata karena mayonnaise mereka yang enak banget! Mereka menyediakan satu botol mayonnaise di masing-masing meja restorannya. Hanya saja sayangnya, mereka pelit kasih mayonnaise untuk pesan antar!

Untuk mengakali masalah Dim Sum Inc pelit mayonnaise, gue suka bilang ke abang Gojek untuk minta mayonnaise yang banyak. Kadang dikasih, kadang tidak dikasih. Entah salah di mana, tapi gue tidak selalu mendapatkan extra mayo yang gue mau meskipun gue sudah pesan banyak menu sekalipun.

Lalu suatu hari, abang Gojeknya bilang begini, “Ok, Mbak. Saya tahu caranya.”

Mau tahu bagaimana caranya? Dia minta plastik es ke restoran, lalu dia isi hampir seperempat plastik es itu dengan mayonnaise dari dalam botol! Puas banget deh pokoknya, hehehehe.

Abang Gojek dan Pablo cheesecake

Waktu Pablo baru buka, gue penasaran kepengen coba tapi malas lihat antriannya. Berkali-kali coba pesan lewat Gofood, berkali-kali gue harus klik “Try Again“. Setelah percobaan ke sekian kalinya, akhirnya ada juga Gojek yang bersedia ambil! Saat si abangnya telepon, sempat deg-degan akan dibatalkan (lagi), tapi ternyata hari itu emang hari keberuntungan gue!

Abangnya bilang, “Ini antrinya bisa 2 jam, nggak papa ya, Mbak?”

“Iya, Pak. Nggak papa. Berapa lama pun saya tungguin deh.”

Hampir tiga jam kemudian, akhirnya datanglah juga Pablo pertama gue! Abangnya senyum-senyum sambil bilang, “Saya ngantri 2 jam lho.” Belum lagi perjalanan Gandaria-Kuningan yang lumayan jauh! Jadi terharu, hehehehe.

Abang Gojek dan batagor kesukaan

Gue suka banget makan batagor di rumah makan dekat kosan. Hanya saja kadang-kadang, bumbu batagornya suka kelewatan pedasnya! Karena gue enggak suka makan pedas, gue tegaskan ke abang Gojeknya bahwa gue enggak bisa makan pedas.

Saat akhirnya pesanan gue tiba, abang Gojeknya bilang begini, “Kata orang restonya, bumbu mereka emang udah dari sananya agak pedas, Mbak. Tapi ini udah saya minta bungkusin kecap manis.”

Masalah batagor gue terpecahkan, hehehehe.

Abang Gojek dan pecel ayam

Malam itu gue benar-benar sangat lapar. Udah mepet jam tutup restoran pada umumnya, kalau tidak cepat pesan, pilihan makan malam gue akan jadi sangat terbatas. Dan benar saja, restoran yang gue inginkan sudah tutup setengah jam lebih awal 😦

Abang Gojeknya lalu bilang, “Pecel ayam aja mau, Mbak? Mirip-mirip sama ayam goreng yang Mbak tadi pesan. Di mall ini ada yang jual dan masih buka.”

Pecel ayam: sold!

Apa yang bisa kita pelajari dari semua cerita ini? 

Pelajarannya: apapun karier yang kita pilih, akan selalu ada peluang untuk melakukan “the extra miles”. Saat bekerja, tidak usah melulu hitung-hitungan! Lakukan saja semaksimal yang bisa kita lakukan. Ini yang membedakan karyawan teladan dengan karyawan yang biasa-biasa saja, dan ini pula yang menurut gue, membedakan Gojek yang dapat banyak tip ketimbang Gojek yang hanya dapat sedikit tip, hehehehe.

Do your best, let God do the rest.

Awalnya gue bertekad akhir pekan kali ini akan gue habiskan untuk review beberapa quotation yang gue terima untuk web development bisnis gue sendiri. Setelah bolak-balik merevisi blueprint, gue harap gue tidak perlu bolak-balik ganti developer juga. Quotation dan juga PKS nantinya betul-betul harus diperhatikan baik-baik!

Selain urus quotation, ada beberapa technical cost yang ingin gue masukkan ke dalam budget. Rencananya, mau mulai cari-cari di Google dulu. Pokoknya weekend ini harus produktif! Ini dia resiko kerja kantoran sambil membangun bisnis sendiri: cuma bisa fokus urus bisnis sendiri di akhir pekan saja.

Ternyata oh ternyataa… sepanjang weekend akses data XL sedang bermasalah! Wi-fi di rumah juga sedang bermasalah! Butuh waktu hampir satu jam hanya untuk donwload lampiran dari e-mail, 1 jam untuk transfer data ke adek gue via WA, 15 menit untuk Google menampilkan hasil pencarian (itupun setelah klik “refresh” berkali-kali), dan belasan menit lainnya untuk menampilkan satu halaman website yang diberikan Google!

I really wanted to scream and cry 😦 *lebay 😀

Hari ini gue jadi sadar betapa ketergantungannya gue dengan teknologi. Untuk sekedar menghitung berapa banyak foto yang bisa gue tampung (dengan asumsi satu foto ukurannya 5MB) jika gue hanya menyewa server dengan kapasitas 20 GB saja gue perlu bantuan Google dooong. Hapalan gue sudah menguap entah ke mana.

Lalu gue benar-benar frustasi gagal Googling untuk mengumpulkan kontak calon vendor untuk urusan lain-lainnya. Kalau bukan dari Google, dari mana lagi? Gue udah lama banget enggak lagi simpan Yellow Pages di rumah 😦

Belum lagi istilah-istilah teknis di quotation yang tidak gue pahami. Gue kan cuma lulusan accounting, bukan computerized accounting 😦 Frustasi, terpaksa gue tanya aja sama adek gue yang lulusan IT. Gue lalu jadi teringat buku RPAL dan setumpuk buku pelajaran lainnya yang dulu rajin gue buka untuk cari info ini-itu… Buku-buku yang sudah tergantikan mesin pencari Google.

Di satu sisi, hari ini gue merasakan dampak jelek dari teknologi: tidak ada koneksi, tidak ada informasi yang gue dapatkan. Tapi di sisi lain, gue juga jadi mensyukuri perkembangan teknologi akhir-akhir ini.

Mesin pencari Google lebih unggul bukan hanya dari segi kepraktisan saja, tapi juga kelengkapan informasinya. Saat cari vendor, bukan hanya nomor telepon yang gue dapatkan, tapi juga bisa langsung lihat hasil karya dan hasil review dari orang lain yang pernah menggunakan jasa mereka. Tetap harus selektif memilih informasi, tapi setidaknya, informasi yang gue butuhkan ada di sana. Ini dia satu hal penting yang tidak ditawarkan oleh Yellow Pages.

Kemudian soal websites yang mulai menggantikan buku-buku… Ini juga ada sisi positifnya: membuat ilmu pengetahuan jadi lebih terjangkau. Bayangkan jika gue harus membeli 10 buku yang gue butuhkan untuk membantu gue membangun bisnis gue sendiri misalnya. Berapa banyak uang yang harus gue keluarkan? Padahal informasi yang gue butuhkan tidak akan sampai beratus-ratus halaman… Gue hanya perlu beberapa informasi yang mungkin tersebar dalam banyak judul buku. Gue toh, akan hire orang lain untuk buat website-nya, notaris untuk urus perijinan, PH untuk bikin video, dan masih banyak lagi yang pada intinya, tidak relevan untuk gue baca semua isi buku yang terkait dengan masing-masing topik.

Lalu bagaimana soal teknologi yang membantu gue untuk urusan matematika? Aduh, itu udah susah! Dari dulu gue emang enggak jago matematika, hehehehe. Tapi ini beneran. Gue bahkan baru belajar aljabar saat kuliah semester dua atau tiga. Gue masih takjub dulu gue bisa lulus dari SMP dan SMA tanpa ngerti apa itu aljabar, apalagi sin cos tan dan kawan-kawannya, hehehehe. Ini juga alasan kenapa gue bukan cuma lumayan jago pakai Ms. Excel, tapi juga mulai belajar sedikit-sedikit soal database query: untuk mengatasi keterbatasan gue dalam urusan angka. Gue enggak perlu coding sendiri, tapi setidaknya, gue perlu tahu apa yang SQL script bisa lakukan untuk membantu gue menyelesaikan pekerjaan gue di kantor. Dan sekali lagi, gue berterima kasih pada kemajuan teknologi beserta orang-orang jenius yang menciptakannya!

Jadi kesimpulannya, apa rasanya hidup 2 hari tanpa proper internet? Three words: never again, please!

 

 

Awalnya gue bertekad akhir pekan kali ini akan gue habiskan untuk review beberapa quotation yang gue terima untuk web development bisnis gue sendiri. Setelah bolak-balik merevisi blueprint, gue harap gue tidak perlu bolak-balik ganti developer juga. Quotation dan juga PKS nantinya betul-betul harus diperhatikan baik-baik! 

Selain urus quotation, ada beberapa technical cost yang ingin gue masukkan ke dalam budget. Rencananya, mau mulai cari-cari di Google dulu. Pokoknya weekend ini harus produktif! Ini dia resiko kerja kantoran sambil membangun bisnis sendiri: cuma bisa fokus urus bisnis sendiri di akhir pekan saja.

Ternyata oh ternyataa… sepanjang weekend akses data XL sedang bermasalah! Wi-fi di rumah juga sedang bermasalah! Butuh waktu hampir satu jam hanya untuk donwload lampiran dari e-mail, 1 jam untuk transfer data ke adek gue via WA, 15 menit untuk Google menampilkan hasil pencarian (itupun setelah klik “refresh” berkali-kali), dan belasan menit lainnya untuk menampilkan satu halaman website yang diberikan Google!

I really wanted to scream and cry 😦 *lebay 😀

Hari ini gue jadi sadar betapa ketergantungannya gue dengan teknologi. Untuk sekedar menghitung berapa banyak foto yang bisa gue tampung (dengan asumsi satu foto ukurannya 5MB) jika gue hanya menyewa server dengan kapasitas 20 GB saja gue perlu bantuan Google dooong. Hapalan gue sudah menguap entah ke mana.

Lalu gue benar-benar frustasi gagal Googling untuk mengumpulkan kontak calon vendor untuk urusan lain-lainnya. Kalau bukan dari Google, dari mana lagi? Gue udah lama banget enggak lagi simpan Yellow Pages di rumah 😦

Belum lagi istilah-istilah teknis di quotation yang tidak gue pahami. Gue kan cuma lulusan accounting, bukan computerized accounting 😦 Frustasi, terpaksa gue tanya aja sama adek gue yang lulusan IT. Gue lalu jadi teringag buku RPAL dan setumpuk buku pelajaran lainnya yang dulu rajin gue buka untuk cari info ini-itu… Buku-buku yang sudah tergantikan mesin pencari Google.

Di satu sisi, hari ini gue merasakan dampak jelek dari teknologi: tidak ada koneksi, tidak ada informasi yang gue dapatkan. Tapi di sisi lain, gue juga jadi mensyukuri perkembangan teknologi akhir-akhir ini. 

Mesin pencari Google lebih unggul bukan hanya dari segi kepraktisan saja, tapi juga kelengkapan informasinya. Saat cari vendor, bukan hanya nomor telepon yang gue dapatkan, tapi juga busa langsung lihat hasil karya dan hasil review dari orang lain yang pernah menggunakan jasa mereka. Tetap harus selektif memilih informasi, tapi setidaknya, informasi yang gue butuhkan ada di sana. Ini dia satu hal penting yang tidak ditawarkan oleh Yellow Pages.

Kemudian soal websites yang mulai menggantikan buku-buku… Ini juga ada sisi positifnya: membuat ilmu pengetahuan jadi lebih terjangkau. Bayangkan jika gue harus membeli 10 buku yang gue butuhkan untuk membantu gue membuat website gue sendiri misalnya. Berapa banyak uang yang harus gue keluarkan? Padahal informasi yang gue butuhkan tidak perlu sampai beratus-ratus halaman… Gue hanya perlu beberapa informasi yang mungkin tersebar dalam banyak judul buku. Gue toh, akan hire orang lain untuk buat website-nya, tidak relevan untuk gue baca semua isi bukunya.

Lalu bagaimana soal teknologi yang membantu gue untuk urusan matematika? Aduh, itu udah susah! Dari dulu gue emang enggak jago matematika, hehehehe. Tapi ini beneran. Gue bahkan baru belajar aljabar saat kuliah semester dua atau tiga. Gue masih takjub dulu gue bisa lulus dari SMP dan SMA tanpa ngerti apa itu aljabar, apalagi sin cos tan dan kawan-kawannya, hehehehe. Ini juga alasan kenapa gue bukan cuma lumayan jago pakai Ms. Excel, tapi juga mulai belajar sedikit-sedikit soal database query: untuk mengatasi keterbatasan gue dalam urusan angka. Gue enggak perlu coding sendiri, tapi setidaknya, gue perlu tahu apa yang SQL script bisa lakukan untuk membantu gue menyelesaikan pekerjaan gue di kantor. Dan sekali lagi, gue berterima kasih pada kemajuan teknologi beserta orang-orang jenius yang menciptakannya!

Jadi kesimpulannya, apa rasanya hidup 2 hari tanpa proper internet? Three words: never again, please!

Terobsesi atas suatu tujuan (cita-cita misalnya) kadang kala bisa jadi sesuatu yang mendatangkan hasil positif. TAPI, hal yang sama tidak berlaku pada obsesi kepada sesama manusia. Saat kita mulai terobsesi pada orang lain, pada saat itulah kita mengakhiri kebahagiaan kita sendiri.

Sebelum gue lanjutkan, apa sih definisi obsesi itu sendiri?

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, obsesi itu gangguan jiwa berupa pikiran yang sangat sukar dihilangkan.

Atau mengutip dari kamus Cambridge, terobsesi adalah terlau memikirkan, tertarik, atau khawatir akan sesuatu.

Berikut ini contoh kasus nyata di mana seseorang sangat terobsesi dengan orang lainnya.

  1. Terobsesi pada orang yang kita cintai. Ditandai dengan perhatian yang berlebihan (sampai pada tahap di mana objek yang diperhatikan justru merasa risih atau terganggu), cemburu berlebihan, dan rasa ketergantungan yang juga berlebihan, seolah hidup akan berakhir jika sampai kehilangan orang yang dicintai;
  2. Terobsesi pada idola, penyanyi kesukaan misalnya. Saat sudah mulai terobsesi, kehidupan pribadi sudah tidak lagi penting. Banyak buang-buang uang, buang-buang waktu, bahkan sampai nekad melakukan hal ekstrim untuk menarik perhatian idola tanpa peduli bahwa sebetulnya, idola kita itu justru tidak merasa nyaman dengan apa yang kita lakukan;
  3. Terobsesi sampai senang melakukan copy-cat. Beli tas dan baju yang sama, menginginkan pekerjaan yang sama, gaya hidup yang sama, teman-teman yang sama, bahkan hal-hal kecil seperti gaya bahasa juga ditiru sekalian. Hati-hati… lama kelamaan orang ybs pasti akan menyadarinya dan mereka tidak akan merasa nyaman dengan perbuatan kita itu. Tanyakan pada diri sendiri… kenapa harus copy-cat? Kenapa tidak cukup bahagia dengan jadi diri sendiri saja? Copy-cat juga termasuk tanda ketidakbahagiaan, jangan dibiasakan dan mulai segera cari solusinya!
  4. Senang melihat ketidakbahagiaan orang-orang tertentu. Pagi siang malam kita habiskan untuk mengamati hidup mereka baik-baik, luar dalam, mencari celah ketidakbahagiaan dalam diri mereka. Dari semua jenis obsesi, ini obsesi yang paling tidak sehat menurut gue. Kenapa? Karena obsesi yang satu ini berpotensi membuat kita menjadi orang jahat. Dengan sadar dan sengaja melakukan hal-hal yang kita tahu akan menyakiti orang ybs. Membenci orang lain tanpa ada alasan yang jelas bisa jadi efek dari rasa benci pada diri kita sendiri. Jangan dibiarkan dan segera cari pertolongan!
  5. Membenci secara membabi buta. Yang ini sedang nge-trend di Indonesia akhir-akhir ini. Saat sudah mulai membenci seseorang, pikiran kita tidak jauh-jauh dari bagaimana cara untuk menghina orang tersebut. Semua berita buruk tentang orang ybs akan langsung disebarkan meski belum tentu jelas kebenarannya. Dan biasannya, kita jadi mendadak “berteman” dengan orang-orang yang juga membenci orang yang sama meskipun sebenarnya mereka juga bukan tipe orang yang biasa kita jadikan teman.

Sebetulnya gue enggak ngerti kenapa seseorang bisa terobsesi pada orang lainnya.

Cinta bertepuk sebelah tangan? Move on saja!

Ngefans dengan penyanyi idola? Cukup nonton konsernya saja.

Meniru orang lain yang gue kenal? Oh, please. I love my life as it is!

Senang melihat orang lain tidak bahagia? Gue malah sedih saat orang yang menyakiti gue tertimpa musibah lagi dan lagi. Gue sudah doakan supaya diberi kesembuhan.

Membenci membabi buta? Gue tentu pernah sangat membenci orang lain, tapi tidak sampai membabi buta. Biasanya jika gue udah sampai benci banget, gue akan jaga jarak dulu. Gue jauhkan diri gue dari hal-hal yang bisa mengingatkan gue dengan orang-orang ini. Gue paksakan diri gue untuk tidak mengatakan atau melakukan sesuatu di saat gue sedang marah-marahnya supaya tidak memperburuk keadaan.

It’s actually simple, isn’t it? It’s the obsession that makes our life becomes a lot more complicated.

Lalu apa yang harus kita lakukan jika kita sudah terlanjur terobsesi pada orang lain? Rasanya hanya ada satu solusi: belajar tahan diri. Jika sudah sangat parah, tidak ada salahnya untuk coba cari pertolongan profesional, psikolog klinis misalnya.

Bagaimana jika kita berada dalam posisi yang sebaliknya? Apa yang harus kita lakukan saat ada orang lain yang terobsesi dengan kita?

Saat ada cowok yang kelihatan terobsesi, gue tolak baik-baik. Gue putuskan komunikasi, supaya tidak memberi mereka harapan palsu.

Saat ada orang yang senang meniru, gue betulan pernah menegur mereka baik-baik. Gue bilang terus terang bahwa gue merasa tidak nyaman. Jika gue rasa tidak worth-it untuk bicara terus terang, gue lebih memilih untuk jaga jarak saja. Gue tidak bisa berteman dengan orang yang berusaha keras menjadi seperti gue. Hubungan gue dengan tipe orang seperti ini tidak pernah berakhir baik, ujung-ujungnya ada saja drama yang membuat gue semakin merasa tidak nyaman.

Lalu saat ada orang yang senang berusaha menyakiti perasaan gue, biasanya gue tegur baik-baik dulu. Akan gue tanya, gue salah apa? Jika tidak ada perubahan, ya sudah, gue tidak perlu kenal mereka lagi. Daripada gue terus berpikiran macam-macam, lebih baik benar-benar disudahi saja. Hidup yang sudah rumit tidak perlu dibuat jadi lebih rumit!

Life is too short to be obsessed of someone else. Be kind to yourself, set yourself free from your own obsessions. Find your happy place and leave all your baggage behind. Then you will be just fine!

A few months ago, I told an old friend of mine that the only reason why I was still single was merely because I hadn’t found the right person just yet. Surprisingly, he told me that it was not the real reason. He said, “You’re just too lazy to make it happen.”

I often hear people say that the right person will come along. One thing that people rarely admits is that in fact, a right person doesn’t make everything any easier. At the end of the day, it will take an equal amount of efforts just to keep going with this person. The only reason why you call him as your right person is that he is the one who’s willing to fight the battles and win the war for you, and you both are determined to spend the rest of your lives together.

This one person may not be better than you ex. He will also come with flaws, a lot of it, and he’s not so much different with your ex in a way he too makes you mad, makes you cry, and makes you wonder if you’ve been doing the right things. Did you know? 90% of brides to be I know had doubts about their weddings. What I’m trying to say, the chances are… you will never find someone whom you’re 100% sure about. The only thing that makes him different with your ex is that this time, you’re willing to get rid of your doubts to start a life with him in it.

All these facts got me thinking… maybe, it’s not about finding someone who is right for me. Because maybe, it’s about me finding myself. And it’s not that the men from my past were wrong, it was just that the timing wasn’t right for both of us. Both of us hadn’t had enough lessons on how to be right for each other.

Life has taught me that nobody is perfect, and that’s the first step. I have given up trying to find someone who is exactly like what I want. I finally accept the fact that I will never get to say this on my wedding day, “He’s everything that I always want.” There’s always a “but” in my sentence when I describe him, and that’s okay.

I’ve also learned that everyone, no matter how kind he is, will eventually hurt me. He will disagree with me, we will have a couple of fights, he will break my heart and make me upset. I will never find someone who ALWAYS, from times to times, makes me completely happy. No matter who he is, it will never be an easy road between us, and that’s okay too.

And then finally, I’ve come to learn that my life, my rule, my decision. No matter who he is, people will always have something to say. I will never find someone whom everyone approves. He won’t be able to please everyone I know, and he doesn’t have to!

I write this not because I have finally found my Mr. Right. I think it’s better that I write it now so that people won’t presume that I’m talking about my spouse :p Whether it’s right or wrong, I’ll see about that. Very soon, I guess 😉

You and your future man will come along to each other, and right now, both of you are still learning how to be right for each other. Keep going and you’ll get there. I know I’ll get there, someday.

My Blog Counter

  • 841,510 visits since May 2011

My Blog Categories

My Blog Archives

Click the pictures below to visit my Instagram...

Ayam bakar Ratu is back! The first time my Mom opened her restaurant, I used to tell my friends that it was the best chicken dish I had ever tasted and now it tastes even better! The seasoning is rich, it's delicious until the very last bite! It's one of a kind roasted chicken and you'll never ever find something like this anywhere else! Both original and spicy flavor are as delicious! Give it a try! Order now at @dapurratu_catering 
#food #foodporn #photooftheday Find your way out. Leave your baggage. Get rid of the people who only want to see you get hurt. Find your happy place, live your life to the fullest.
#quote #thought #throwback #travel #karimunjawa #indonesia #photooftheday With everything that I've been through, how can I not be kind to myself? I may spoil myself a little bit too much, but I deserve that. 
Love yourself. Be kind to yourself. And be happy with who you are. You deserve that. 
#thought #quote #photooftheday #bestoftheday #iphone7plus

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

About Me

What my blog is all about? It's all about my life; my very own fairy tale, that I would love to share. This is my story, my ups and downs, it's a journey to remember.