Buku Pertama Saya Akhirnya Release Juga!

MAIN AD - MERCHANTEmpat bulan belakangan ini, saya disibukkan dengan penulisan dan penerbitan buku pertama saya. Saya bertekad, resign dari GoPay, saya harus langsung fokus menulis buku. Nggak ada lagi tuh, excuse nggak sempat nulis karena banyak kerjaan di kantor. Untuk hasil yang maksimal, saya membeli one way ticket ke Bali. Saya hanya akan pulang ke Jakarta setelah buku selesai ditulis.

Orang-orang terdekat saya pasti tahu betul ada kisah panjang di balik keputusan saya untuk meninggalkan pekerjaan saya yang luar biasa di Gopay untuk nekad mengejar impian terbesar saya: menjadi penulis buku dan pengusaha penuh waktu. Jujur awalnya, saya pergi ke Bali untuk menenangkan diri. Tahun 2019 merupakan tahun yang sangat berat untuk saya dan Bali trip itu merupakan usaha saya untuk “detox” diri saya sendiri. Saya harus move on, harus memulihkan diri, harus kembali melanjutkan hidup yang bukan sekadar hidup, melainkan hidup yang sejahtera dan bahagia.

Awalnya, Bali trip itu adalah adalah upaya saya untuk memulihkan diri, tapi ternyata pada akhirnya, trip itu malah menjadi salah satu perjalanan terbaik dalam hidup saya ini. Berawal dari Bali, lanjut ke Lombok, berakhir di Flores. Selama satu bulan, saya traveling sendirian sambil menulis naskah buku saya. Di sela-sela kesibukan menulis buku, saya menyempatkan diri untuk menikmati keindahan alam Indonesia. Hiking ke air terjun, ke atas bukit, atau berenang sembari snorkeling di tengah laut. Banyaknya waktu untuk menyendiri membuat saya menyadari hal-hal yang selama ini “tertutup kabut”. Saya bukan hanya berhasil move on, saya juga kembali berhasil membahagiakan diri saya sendiri.

Dan bukan itu saja! Menulis di tempat yang indah betul-betul membantu untuk membangun mood. Mulai dari menulis di tengah hutan, di pinggir air terjun, di pinggir sawah, sampai di pinggir pantai. Teman saya sampai berkomentar, “Itu impian elo banget nggak sih? Nulis di teras hotel di pinggir pantai.”

Ya, akhirnya setelah sekian tahun lamanya, saya berhasil mewujudkan impian terbesar dalam hidup saya ini: menulis dan menerbitkan buku karya sendiri.

Buku itu saya beri judul The Little Handbook for Big Career; buku panduan karier yang bertujuan untuk membantu para pembaca dalam mewujudkan impian terbesar dalam perjalanan kariernya. Buku itu saya jual melalui Tokopedia, Shopee, dan Google Play Book. Alhamdulillah dalam satu bulan pertama, sudah lebih dari 700 eksemplar buku yang terjual. Review yang sudah saya terima pun selalu berhasil membuat saya senyum-senyum sendiri. Kerja keras untuk menyelesaikan buku ini sungguh terbayar saat mengetahui tulisan saya itu dianggap bermanfaat oleh para pembacanya.

Menulis buku sungguh tidak semudah perkiraan awal. Selesai menulis bukunya memang hanya sebulan, tapi proses editing, design, belum lagi proses administrasi untuk menerbitkan buku sendiri itu perlu waktu sampai hampir tiga bulan. Diperlukan komitmen untuk terus menulis walau sedang enggak mood untuk nulis, harus sabar membaca naskah buku sendiri sampai puluhan kali, harus kuat fisik juga untuk menulis depan laptop selama berhari-hari dari pagi hingga pagi lagi. Saya sampai berpikir bahwa sepertinya, menulis buku ini sudah menjadi pekerjaan yang paling berat sepanjang hidup saya. Rasa gemas dan stres saat harus membongkar tulisan yang sudah tersusun rapih itu betul-betul enggak mengenakkan. Lagi-lagi, semua rasa tidak nyaman itu harus saya lawan demi memenuhi janji untuk release buku di akhir bulan Maret. Lega sekali rasanya saat saya berhasil menepati janji itu pada para pembaca yang sudah lama menunggu. Akhirnya, saya bisa tidur nyenyak!

Melihat buku saya sudah selesai dicetak, saya tersenyum pada diri sendiri. Mewujudkan impian itu memang tidak mudah, tapi saat kita berhasil mendapatkannya, segala kesulitan itu akan terbayar dengan sendirinya.

It was not easy, but it was definitely worth it.

P.s.:

Bagi teman-teman yang belum membaca, berikut ini link penjualan buku saya ya. Jika sudah membaca, ditunggu book review-nya!

Tokopedia: https://www.tokopedia.com/cerita-media/the-little-handbook-for-big-career-pengiriman-2-april-edisi-bahasa

Shopee: https://shopee.co.id/The-Little-Handbook-for-Big-Career-(Edisi-Bahasa-Indonesia)-i.231912362.5218215942

Google Play Book: https://play.google.com/store/books/details?id=Dt7WDwAAQBAJ

Kumpulan testimoni atas buku ini bisa kamu lihat di Instagram account @thelittlehandbook.

Selamat membaca dan semoga bukunya juga bermanfaat untuk kamu yaa.

When Love Goes Blind, It Can Create a New Monster

A long time ago, I fell too deep for someone until at some point, it got me blinded. What was even worse, since the very beginning, he already bluntly told me what a horrible person he really was. He told me who he was but I refused to believe all that.

All that I saw at that time; he was kind, caring, and he made me feel special with all the little gestures he did for me. I kept convincing him how special he was, and I also told him how he could be anything he wanted. I really wanted him to have anything good that this life had to offer. I wanted him to see his values and to finally move on from his own insecurities so that he could become the very best of himself.

As time went by, I started to see his flaws but I was so blinded I failed to see the red light right in front of me. I told myself, “Oh well, nobody is perfect.”

Some people around us told me how his behavior hurt their feelings and I couldn’t seem to believe any of that. Two friends of ours shed tears in front of me, they told me how he hurt their feelings, and I froze. I didn’t say anything to console them as I truly thought that it was their own fault, not his.

I still remember the day a friend cried and said, “There’s nobody ever hurt me as deep as he did.”

I just nodded my head, kept myself in silence, and that’s that. It was hard for me to believe that he could be as vicious as that.

As if it was not bad enough, one day his own mother told me how she was concerned his son could hurt people around him and I still said to his mom that he was actually a good person and that he was loved by everyone.

I kept believing he was the one until the day he turned his back on me. When I just met him, he often told me how he didn’t think he was lovable, he had nothing to be proud of, and that he was physically not attractive. He also said that he was not confident dating a girl who was much prettier than he was. And of course, I proactively told him how wrong he was and that he could actually got any girl he wanted. But then when things between us went south, he really did what he once said was impossible. He turned his back on me to be with a very pretty girl; one of the prettiest girls I’ve ever seen. For the first time ever, he proved me that I was right; he could date any girl he wanted.

As if it was not hurting enough, he said all the hurtful things about what I did wrong, he told me that I made him hate waking up in the mornings, and he also said that I was not worth it. He even told me that he was sorry that the feelings between us were not mutual. He never cared to explain why he did all the things that made me fall for him even though he knew I desperately needed to hear that explanation from him. And it didn’t stop there. He showed off his pretty girlfriend in front of everyone he knew, including my friends. I know for a fact that he suddenly decided to bring his new girlfriend as soon as he found out that I would come to the same party. He was very eager to break my heart into pieces for a reason I never understand.

One night, I cried alone in my room and I told myself, “Nobody ever hurt me as much and as deep as he did.”

And then it hit me. I suddenly remembered that I used to hear the same confession from a friend who was also in tears, sitting right there in front of me.

That night I realized… I had created a new monster.

I helped him to go big in his life, to have faith in himself, and to believe that he could do what he wanted to become, but then he used all that power to hurt people. He hurt me, the one person whom he once said had helped him to be a better person. Only God knows how he’s capable to hurt anyone else going forward.

I barely regret anything in life, but I regret falling deep for him. I regret that I neglected the people whom he hurt. They came for my help and I turned them down. I didn’t believe how far he was capable to hurt people until he hurt me. And if you ask me, I don’t even know what I did so wrong I deserve to be treated like a trash. I never found out until at some point, I just don’t care. I finally realize that I’m just one of so many people whom he hurt and he wishes to forget. He will burry all of our memories as if it never happened in his life. He did that to so many people in his past, including his own families, and then he did that to me too.

It only took a couple months for me to move on and to get rid of my feelings for him, but it might take me forever to get rid of my guilt. What if the confidence I put in him will only make him more powerful to hurt other people? To win what he wants without caring how his actions could really break someone else’s feelings? And all his lies he used to tell me… the lies I never urged him to stop… what if he does more of that to other people?

Once the monster is born, there’s nothing you can do to stop him. There’s no way I want go back in touch with him just to rectify what I did wrong. My life is so much peaceful without his presence in it. What’s done is done, and I can only hope that he will come around by himself.

Looking at the silver lining, at least now I’ve had my lessons on how to love someone the right way. Just because I fall for him, it doesn’t make me have to justify all the wrongs he does. And most importantly: I should really know someone before I let myself fall deeper for him. Because who knows? He might seem like an angle outside, but he’s truly an evil inside.

Think straight even when you’re in love. You owe that to yourself.

Etika Baru dalam Bersosial Media: Jangan Suka Main Hakim Sendiri

Akhir-akhir ini, semakin gencar bermunculan opini bahwa social media, khususnya Instagram, dipenuhi dengan kepalsuan. Sampai muncul teori (yang bahkan diperkuat oleh opini psikolog) soal pasangan yang tampak mesra di social media adalah pasangan yang aslinya tidak harmonis.

Saya tidak menutup mata bahwa kepalsuan itu memang benar ada, tapi saya yakin tidak semuanya. Pasangan yang hanya saling memeluk saat sedang difoto hanya untuk keperluan pencitraandi social media juga memang benar ada, tapi tetap bukan berarti semua pasangan yang tampak mesra itu sedang berpura-pura. Saya sendiri, dan beberapa beberapa orang yang saya kenal baik sama sekali tidak suka memajang kehidupan palsu di social media yang kami miliki sehingga tidak adil jika kepalsuan itu dipukul rata kepada semua pengguna social media.

Saat saya menulis caption soal saya yang sedang merasa bahagia, maka saya betulan sedang merasa bahagia saat menulis caption tersebut. Lalu apakah saya juga pernah menulis caption sedih di saat sedang sedih? Pernah, tapi tidak sering. Menulis soal perjuangan saya sembuh dari depresi pun pernah saya lakukan. Jadi apapun yang saya tulis memang benar demikian adanya.

Lalu bagaimana dengan foto yang saya upload? Kenapa saya hanya upload foto-foto di saat saya sedang tersenyum lebar?

Sederhana saja sih jawabannya: masa’ iya saya mau upload foto saya setelah menangis tersedu-sedu? Hidung merah, mata bengkak dan berair, make-up luntur ke mana-mana… Buat apa saya pamer foto wajah saya yang sedang jelek-jeleknya?

Saya hanya upload foto saat sedang merasa senang bukan berarti saya berpura-pura hidup saya selalu senang. Saya hanya memilih untuk tidak banyak membagikan kesedihan atau musibah yang sifatnya sangat personal.

Beberapa sahabat saya pernah bilang bahwa mereka bisa menebak kondisi mood saya hanya dari Instagram posts saya saja. Saat sedih, saya jadi lebih sering repost kalimat-kalimat motivasi. Caption yang saya tulis juga isinya seperti tengah menyemangati diri saya sendiri. Atau kalau sedang kelewatan sedihnya, saya bisa berhari-hari absen dari social media. Frekuensi saya posting akan turun drastis selama mourning period saya itu.

Kesimpulannya: saya bukan orang yang suka memalsukan hidup saya di social media dan saya yakin di luar sana pun masih banyak orang lain yang seperti saya. Jadi jelas tidak bisa disimpulkan bahwa semua isi socmed itu sudah pasti palsu.

Nah, masalah selanjutnya: bagaimana cara membedakan akun yang senang memalsukan kehidupannya dengan akun yang apa adanya?

Jawaban saya: memangnya buat apa sih, kita ingin jadi “hakim” yang menilai kehidupan orang lain? Apa manfaatnya main hakim sendiri seperti itu? Dan kalau benar isi social media orang lain itu penuh dengan kepalsuan, apa ruginya buat kita?

Masalahnya begini… bisa jadi, hanya orang yang bersangkutan dan Tuhan saja yang tahu autentik atau tidaknya isi social media mereka. Sudah repot-repot jadi hakim juga belum tentu dapat jawaban yang akurat. Kemudian itu tadi… kalaupun kita bisa dapat jawaban akurat, apa untungnya buat kita?

Saya pribadi lebih memilih untuk berpikiran positif tentang konten teman-teman saya.

Pasangan yang tampak mesra di socmed saya lihat sebagai “harapan” bahwa suatu saat, saya juga akan bisa mendapatkan pasangan saya sendiri. Saya tidak repot-repot berpikiran bahwa jangan-jangan kemesraan itu hanyalah topeng. Saya justru berharap mereka betulan bahagia dengan pasangannya itu.

Saya juga tidak pernah repot-repot berpikiran orang yang malah sering upload foto saat dia sedang pergi berlibur adalah orang yang tidak menikmati perjalanannya itu. Saya paham betul bahwa upload foto adalah salah satu cara mereka untuk menikmati perjalanan itu sendiri. Lagipula bisa saja dia upload foto-foto itu saat sedang duduk dalam perjalanan menggunakan mobil atau bis selama berjam-jam lamanya. Di saat orang lain tidur, dia upload foto ke social media. Bisa saja kan?

Lalu bagaimana dengan orang yang senang upload foto makanan di social media? Saya malah senang melihatnya. Kadang saya jadi dapat ide selanjutnya mau makan apa dan di mana. Lagipula sebetulnya, upload foto makanan enak itu bisa membantu rezeki penjual makanannya lho.

Saat ada teman yang gemar upload jam tangan atas tas mewah pun buat saya tidak ada salahnya. Saya tidak pernah menghakimi mereka sebagai tukang pamer. Lagipula coba deh, dipikir begini. Masih kah kita anggap mereka sedang pamer jika mereka hanya upload foto tas seharga lima puluh ribu rupiah? Nah masalahnya, bagaimana jika mereka memang hanya punya tas yang paling murah seharga lima puluh juta? Mereka jadi sama sekali enggak boleh upload foto tas ke social media begitu? Is that even fair to them?

Sudah waktunya kita berhenti main hakim sendiri apalagi jika kita sampai menyebarkan asumsi yang tidak berdasar itu kepada orang lain. Selama isi konten teman kita tidak merugikan orang lain dan tidak melanggar ketentuan masing-masing platform, maka biarkan saja mereka posting apapun yang mereka sukai. Jika kita tetap tidak suka melihatnya, kita selalu bisa hide atau menyembunyikan konten mereka dari timeline kita (semua popular socmed mempunyai fitur ini). Tidak perlu membuang waktu kita sendiri untuk berpikiran negatif tentang hidup orang lain.

Ingat kembali satu hal: social media itu seharusnya menyenangkan sekaligus mempererat silaturahmi, bukan sebaliknya.

Nah, mumpung sedang musim liburan, coba dinonaktifkan julid mode-nya 😉 Daripada pusing memikirkan liburan orang lain, kenapa tidak menikmati hari libur kita sendiri?

Have fun and happy holiday!

Don’t Let His Small Gestures Deceive You

Ada obrolan dengan salah satu teman cowok yang membuka mata saya soal kenapa saya beberapa kali terpedaya cowok-cowok yang ujung-ujungnya cuma menyakiti perasaan saya saja.

Jadi ceritanya, saya ini tipe cewek yang sangat senang dengan cowok yang memperhatikan saya sampai hal sekecil-kecilnya. Mengambilkan obat saat saya sakit, membelikan vitamin, mengingatkan saya tiap kali saya hampir makan pantangan saya, dan masih banyak lagi. Saya punya prinsip, “Action speaks louder than words.” Menurut saya, menggombal itu gampang, jadi yang penting adalah apa yang dia lakukan untuk saya.

Apa yang salah dari semua itu? Tidak ada, sampai akhirnya saya terus terbawa perasaan tanpa mendapat kepastian dari cowok-cowok ini. Saya bahkan bisa jadi “buta” saat sebenarnya, cowok ini hanya baik hanya karena ada maunya saja. Saat itu saya sulit percaya bahwa orang sebaik dia bisa punya niat jelek untuk memanfaatkan saya hanya demi keuntungan dia pribadi.

Belum lama, salah satu teman saya bercerita soal kakak perempuannya yang mengalami kejadian yang cukup mirip dengan saya. Teman saya itu lalu mengomentari, “Gue nggak ngerti sama kakak gue kenapa dia sampe segitu tergila-gilanya sama pacarnya yang brengsek itu. Iya sih, dia itu nice pernah beliin obat waktu kakak gue sakit, tapi beli obat itu seberapa susahnya sih? Apotik ada di mana-mana. Nggak sebanding sama kerugian yang ditimbulkan sama cowoknya itu.”

Komentar teman saya itu seperti menusuk langsung ke jantung saya. Saya coba ingat-ingat lagi hal manis yang pernah cowok-cowok itu lakukan untuk saya dan memang semuanya itu bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan. Mengenal apa yang saya suka dan tidak suka juga tidak sulit dilakukan. Jangankan mereka, orang-orang di kantor juga banyak yang tahu saya suka pink, suka traveling, dan tidak suka makanan pedas. Jika dipikir lagi, apa istimewanya?

Cowok-cowok brengsek jaman sekarang sepertinya sudah “berevolusi”. Kalau dulu, cowok brengsek itu cowok yang hanya manis di mulut saja. Tapi sekarang, cowok brengsek itu manis di mulut dan perbuatan juga. Manis di mulutnya pun sudah berevolusi. Belum tentu menggombal, tapi bisa juga dengan mengucapkan hal-hal yang dia tahu saya ingin dengar. Hal-hal yang bisa membuat saya merasa terkesan. Mengaku sudah berhenti merokok dan minum minuman keras misalnya.

Jika saya perhatikan, hal seperti ini bukan terjadi pada diri saya saja. Ada banyak contoh lain yang terjadi pada orang-orang di sekitar saya.

Misalnya, cowok yang senang membelikan bunga untuk pacar atau istrinya. Memang nice, tapi tidak sebanding dengan sifat kasar si cowok pada pasangannya. Padahal beli bunga itu seberapa susahnya sih? Kenapa mau saja bunga ditukar dengan kewarasan dia sebagai perempuan?

Contoh lainnya, cowok yang senang memberikan barang mewah atau mengajak jalan-jalan menginap ke hotel bintang lima. Memang menyenangkan, tapi tidak sebanding dengan rasa sakit hati karena sifat dia yang mata keranjang. Hati jadi tidak tenang dan malah jadi si cewek yang berkecil hati soal kekurangan dalam diri dia yang mungkin membuat pasangannya sampai melirik perempuan lain. Padahal jika memang cowok itu banyak uang, beli ini itu bukan hal yang sulit. Lagipula jika kita mau bekerja keras dan cerdas, kita juga bisa kok, membiayai itu semua dengan uang kita sendiri.

Atau ada juga cowok yang senang mengirimkan kue ke rumah pacarnya tapi jarang menyempatkan waktu untuk datang langsung menemui pacarnya itu. Padahal jaman sekarag mau kirim makanan ke pacar kan tinggal pesan lewat GoFood atau GrabFood saja. Apa susahnya?

Pada akhirnya, small gestures memang penting, tapi big gestures justru lebih penting.

Buat apa romantis tapi tidak jelas ke mana arah hubungannya? Buat apa suka membelikan ini-itu jika dia terus menerus menyakiti kita? Dan buat apa penuh dengan perhatian jika di balik itu ada banyak sekali kebohongan?

Pada akhirnya, komitmen dan usaha keras dia untuk membahagiakan kita, untuk membangun masa depan yang baik untuk kita dan dia, serta untuk menjadi pria yang betulan pantas untuk kita (dan bukan hanya tampak pantas di depan saja), itu yang jauh lebih penting.

Saya sampai pernah menasehati seorang teman cewek, “Nggak papa pacarlo nggak romantis, cari cowok yang betulan baik seperti itu udah semakin sulit.”

Jangan terlena pada bungkusnya… tapi lihat juga isinya, kualitasnya, dan komitmennya. Jika bersama dengan dia di masa-masa pendekatan atau pacaran sudah terasa sangat sulit buat kita (kita jadi sering tiba-tiba menangis tanpa sebab, lebih sering stresnya daripada senangnya, bingung hubungan kalian akan berujung di mana, atau lain sebagainya…), apalagi nanti ke depannya? Harus dipertimbangkan dengan baik plus-minusnya, buka mata dan nilailah secara objektif. Tanya pada diri sendiri, “Jika saya punya anak perempuan, apakah saya akan rela jika anak saya itu berakhir dengan laki-laki seperti dia?”

Tidak ada manusia yang sempurna, tapi ketidaksempurnaan juga ada batasnya. Jangan terus-terusan memaklumi mereka dengan alasan “nobody is perfect“. Mereka, dan juga kita, harus berusaha keras untuk mengendalikan kekurangan dalam diri sendiri. Tidak ada yang dapat mengubah seseorang selain diri mereka sendiri. Jadi jika kita tidak melihat ada real efforts dari mereka untuk berubah, maka sebaiknya lupakan saja. Jangan mengikhlaskan diri untuk orang yang sebetulnya tidak sebegitunya peduli dengan kita.

Ingat baik-baik bahwa:

  1. Jika mereka betulan peduli dengan kita, mereka akan mengupayakan hal yang terbaik untuk kita. Terus menerus jadi objek kemarahan dia (apalagi jika sampai melibatkan kekerasan fisik) jelas bukan hal yang baik untuk kita bahkan di saat memang betulan kita yang berbuat salah;
  2. Jika mereka betulan peduli dengan kita, mereka tidak akan membiarkan kita stres bertanya-tanya soal masa depan hubungan kita dengan mereka. Mereka akan menyatakan niatnya dengan jelas supaya kita tidak perlu terus-terusan khawatir dan supaya kita juga tidak sampai melirik orang lain yang lebih bisa menawarkan kepastian;
  3. Jika mereka betulan peduli dengan kita, mereka akan berusaha untuk menjaga integritasnya. Mereka tidak akan melakukan hal-hal buruk yang membuat mereka harus berbohong, mereka juga akan berusaha keras untuk menepati janji dan bukan melupakan janji-janji itu seolah tidak pernah ada; atau
  4. Jika mereka betulan peduli dengan kita, mereka akan menahan diri. Mereka akan tetap setia, apapun yang terjadi.

Cintai diri sendiri dengan mencari pasangan yang memperlakukan kita dengan baik meskipun hal itu sangat sulit untuk dilakukan. Bukan pasangan yang hanya baik saat ada maunya, bukan pasangan yang bisa berubah total saat mood-nya sedang jelek atau saat kemauannya tidak dituruti, dan bukan pula pasangan yang hanya tampak manis di depan saja. Sekali lagi, jangan biarkan hal-hal kecil yang mereka lakukan membuat kita terlena dan menutup mata dari kerusakan besar yang mereka timbulkan.

Hidup terlalu pendek untuk tidak berbahagia. Carilah pasangan yang menghargai kebahagiaan kita, dan bukan sebaliknya.

Tahun Ini, Saya Tidak Punya Birthday Wishes

Kemarin adalah hari ulang tahun saya yang ke 33. Saya habiskan pagi hari untuk berisitirahat sambil membalas ratusan birthday greetings yang masuk ke hp saya (mayoritas datang dari LinkedIn… thanks a lot! Saya masih mencicil untuk balas semuanya), siang hari untuk berolahraga (untuk pertama kalinya saya mencoba barre toning dan saya sangat menikmati kelas ini!), ditutup dengan family dinner di malam harinya.

Hari yang menyenangkan, terutama saat berkumpul dengan keluarga dan banyak terhibur dengan kepolosan ponakan-ponakan saya. Saya juga baru punya ponakan ke empat yang makin hari makin menggemaskan!

Pulang ke rumah di tengah malam, baru lah saya menyadari bahwa tahun ini, saya tidak mempunyai birthday wishes. Tidak satupun. Saya sudah merasa sangat-sangat terbekati sehingga tidak ada lagi sesuatu apapun yang ingin saya minta kepada Tuhan.

Sudah dua bulan berturut-turut saya sehat total… tidak lagi bolak-balik ke rumah sakit. Hanya ini saja, saya sudah sangat berysukur.

Sempat didiagnosa mengidap depresi dan berhasil melewatinya, saya juga sudah sangat bersyukur. I came back stronger and happier than I ever was.

Saya juga sudah mulai ikhlas dengan “tragedi” yang pernah membuat saya merasa sangat terpukul. Saya tidak lagi ngotot mencari jawaban dan saya ciptakan “closure” saya sendiri. Ini juga, saya sangat bersyukur sudah diberi kekuatan sebesar ini.

Dan yang paling penting, saya banyak belajar. Mata saya terbuka lebar. Saya juga jadi sadar bahwa memang kenyataannya, Tuhan lah yang lebih mengetahui.

He saw what I didn’t see, and he heard what I didn’t hear… God knows best, and I should never insist.

The learning process was not a pleasant experience, but it was necessary. And I can’t be more thankful that it happened.

Oh ya, ingat wish list yang pernah saya tulis di sini beberapa bulan yang lalu? Per bulan kemarin, semuanya sudah tercapai 🙂

Don’t you see? I’ve earned a LOT!

Salah satu sahabat kemarin bilang bahwa 33 adalah usia kedewasaan… dan entah kenapa, itu juga yang saya rasakan. Saya seperti kembali menemukan jati diri, semakin mengenal diri sendiri, dan yang paling penting, semakin mencintai diri saya sendiri.

I’m 33 and I’ve never been stronger, happier, and healthier. Alhamdulillah. Thank God for all the blessings, and thanks for many of you (whether or not I know you in person) for the tremendous supports in the past one year.

I’m beyond blessed, and I cannot ask for more.

Just Surviving Your Life is NOT Enough… You’ve Got to Thrive and Be Happy with It

What I’m about to share might sound ordinary as this kind of problem can truly happen to anyone of us. It can happen to anyone of us, but I’m afraid not everyone is aware that it’s a real problem they’ve got to fix. I hope this post can help anyone who reads this to finally realize that each and everyone of us deserves to have a better quality of life.

It all started in the last quarter of 2018. Suddenly, I got sick very often. Nausea, stomachache, random headache, and coming down with the flu over and over again. I thought, I was only tired because of the long nights I spent in the office. 

And then on my birthday last year (in the last week of November), for the first time in my adult life, I got extremely bored with my own life. It felt like I no longer had any good reason to wake up in the morning and start my days. I no longer had anything to look forward to. I started to have troubles sleeping at night  (I went to sleep between 2-4 AM almost everyday) but then I would get sleepy during the day. I barely slept tight at night and it made me wake up feeling physically tired every morning. What was even worse, I often lost my appetite and there were times I perceived eating as a liability. I thought it was only a phase that would pass anytime soon. I refused to admit that I had a problem with my own life because it didn’t feel right for me to complain after so many blessings I had in life.

Coming to 2019, tons of works (along with the pressures that came with it) and piles of personal problems made everything even worse. But still I thought everything that happened to me was not a big deal. I “only” got disappointed that some people were nice in front of me but then they bad mouthed me or made fun of me when I was not around, some people lied and broke their promises over and over again, and some people hurt and left me wondered what I did wrong. It felt beyond horrible yet I still insisted that they were all common grown-up problems so that I pushed myself to behave like an adult and just be okay with it.

I kept telling myself I was okay and everything was just fine until in the middle of this year, something very bad happened and I started to lose hopes that my life would ever get any better like it used to be. I lost my faith in other people, in my future, and it made me cry over the nights despite the fact that I’m not that kind of girl who easily cries. And then one night, after spending an hour crying alone in my room feeling mentally and physically exhausted, out of the blue, I told myself, “I’m okay if I have to die right here right now.”

Knowing that my mental condition was worsening, I pushed myself to go out of the house. At that time I always made excuses that I stayed at home because l was sick and I needed some good rest, but that day, I decided to go out to shopping mall and only 30 minutes later, I passed out in that shopping mall. My family rushed me to a hospital and I had to spend the rest of the week in that hospital. After countless of tests, I was diagnosed with two chronic illnesses in stomach, two chronic illnesses in intestines, and two mild heart problems. I took 3-6 pills of antibiotics a day for almost a month but I didn’t get much better. My condition was worsening again only one month after I was discharged from the hospital. Only God knows how tired I was coming back and forth to the hospitals at that time.

I decided to seek for second opinion and my new internist said that my former doctor already did all the right things yet somehow, my body didn’t respond the meds. He decided to appoint me to meet a psychiatrist who diagnosed me with moderate and prescribed me with anti anxiety pills for two weeks. My psychiatrist said that those anti anxiety pills would help the other meds from the internist to cure my stomachache. And you know what? I got better only less than a week. My body instantly felt lighter, my appetite significantly improved, and what’s even better, my insomnia was healed too!

Determined to continue living a healthy life without further help from anti anxiety pill, I made myself some life transformation plans.

I started to regularly workout. Yoga, zumba, and pound fit. 

I started to do all the things I always love to do again (writing, traveling, shopping).

I joined weekly event at Al Azhar mosque (their weekly event is a good food for a moslem’s soul). 

I surrounded myself only with the people who genuinely care about me.

I also met a shrink to openly talk about my problems.

And most importantly, I finally got rid of the toxic people from my inner circle.

My families, best friends, and some people at work told me that I looked much brighter, healthier, and happier now. S*** still happens, but I manage to deal with it gracefully. 

The most important lesson I learned in the past year is that it’s okay to admit that I’m not okay and that I have every right to be angry. People can’t be a jerk and hope I would still perceive them as an angel nor a saint. When I admitted that I was not okay, I started to find my way to make it better. And when I admitted that some people were toxic to me, I started to make some plans to intoxicate myself from them. I know letting go is not always easy when it comes to people we care about, but caring should be a two ways street. We can’t take care of someone who only puts our wellbeing at risk. Love yourself enough to walk away from the people who only sees the bad in you and make you feel like you’re never good enough for them.

Don’t let yourself drawn in misery. You only live once and unhappy life is NOT a normal life. Just surviving your life is actually not enough; you have to thrive and be happy despite the ups and downs in your everyday life. Heal yourself and make your life a better place for you to live in.

Be happy, no matter what. You owe it to yourself.

And I’m Finally Rising from The Dust

Hari ini sebetulnya hari yang biasa-biasa saja. Pagi berangkat kerja, menghadiri beberapa meetings, dan mengakhiri rutinitas kerja dengan membalas setumpuk e-mails seperti biasa. Kemudian jam 6 sore, saya bersiap untuk berangkat ke studio tempat saya akan mencoba olahraga pound fit.

Selesai olahraga, saya mampir ke Watson untuk beli sekantong penuh camilan, lalu mampir ke Pagi Sore untuk makan malam (dan tumben banget saya makannya banyak!).

Saat tengah menghabiskan makanan, saya mendengar lagu ulang tahun diputar di restoran dan sekelompok orang ikut bernyanyi untuk temannya yang tengah berulang tahun.

Melihat mereka yang tampak bahagia, saya ikut tersenyum lebar. Dan tiba-tiba saja, saya merinding. Rasa hangat yang menjalar dalam hati saya betul-betul terasa menyenangkan. Setelah melewati luka yang sangat-sangat menyakiti perasaan, kembali merasakan rasanya bahagia itu betul-betul tidak ternilai harganya. Tidak ada hal luar biasa yang terjadi hari ini, tapi saya tetap merasa bahagia.

Akhir-akhir ini saya menyadari… Meskipun masih ada hal yang menyakiti perasaan saya (dan selama saya masih hidup, akan selalu ada hal-hal yang menyakiti perasaan saya), saya tetap harus memberi ruang untuk diri saya merasakan bahagia. Dan meskipun saya tidak selalu mendapatkan jawaban yang saya butuhkan, saya tetap harus cukup kuat untuk melanjutkan “the next chapter” dalam hidup saya.

Dan dari semua perasaan positif yang sekarang saya rasakan, saya paling bangga dengan kemampuan saya bangkit dari masalah saya sendiri.

Saat saya merasa gagal dalam satu hal, saya beralih mencetak prestasi dalam hal lainnya. Hidup ini penuh dengan battles dan saya tidak harus ngotot bertempur dalam semua battles itu. I pick my battles and I’m happy with the ones I’m fighting for.

Saat saya merasa tidak dicintai, saya malah berhasil mencintai diri sendiri lebih dalam lagi. Dan bagian dari mencintai diri sendiri adalah dengan ikhlas melepaskan orang-orang yang hanya menjadi toxic dalam hidup saya ini. Memang berat, tapi saat beban itu akhirnya lepas dari pundak saya, rasanya betul-betul merdeka!

Dan saat saya nyaris merasa kehilangan harapan hidup saya bisa membaik dan kembali seperti dulu, saya justru pelan-pelan bisa membangun harapan baru yang membuat hidup saya malah terasa lebih menyenangkan daripada sebelumnya. Saya mulai menyusun rencana-rencana baru yang kemudian menjadi alasan untuk saya bangun tidur setiap paginya.

Bisa merasakan semua perasaan positif ini setelah sempat merasa hopeless dan sangat capek dengan hidup saya sendiri betul-betul terasa seperti anugerah. Ini salah satu momen pembuktian bahwa memang benar: what doesn’t kill you makes you stronger!

I’m rising up from the dust… and I cannot ask for more. Alhamdulillah.

Mencintai Itu Sulit

Di awal, jatuh cinta terlihat mudah. Selalu ingin ketemu dia. Hidup terasa selalu bahagia. Penuh senyum, tawa, dan hati yang berbunga-bunga. Terus demikian, sampai akhirnya ujian demi ujian mulai menghampiri. Pelan-pelan, tetap mencintai orang yang kita pikir kita cintai mulai terasa semakin sulit.

Masih kah kamu mencintai dia setelah kamu mendengar hal-hal buruk tentang dirinya? Masihkah kamu mampu berpikiran positif tentang dirinya?

Masih kah kamu mencintai dia setelah menyaksikan sendiri kebiasaan buruknya? Masih kah kamu mencintai dia sama besarnya setelah mengetahui dia tidak sehebat yang dulu kamu kira?

Masih kah kamu mencintai dia setelah mengetahui kebohongan-kebohongannya? Masih kah kamu mempercayai perkataannya? Dan bisa kah kamu tetap mencintai orang yang tidak lagi sepenuhnya dapat kamu percaya?

Masih kah kamu mencintai dia setelah dia, sengaja atau tidak sengaja, menyakiti perasaan kamu? Bisa kah kamu tetap mencintai dia di saat kamu tengah sangat-sangat membenci perbuatannya?

Masih kah kamu mencintai dia ketika getaran dalam hati itu perlahan mulai hilang? Ketika kamu mulai jenuh, lelah, dan ingin lari dari kenyataan. Dapatkah kamu bertahan untuk tidak berpaling pada sesuatu yang lebih baru, lebih mendebarkan, dan tampak lebih membahagiakan?

Terus menerus memaafkan orang yang sama atas kesalahan yang itu-itu saja lama kelamaan akan terasa sulit. Berusaha memaklumi hal-hal yang tidak kita sukai juga sulit. Dan tetap memelihara kekaguman setelah melihat segala keburukannya juga luar biasa sulitnya.

Mencintai itu sulit. Diperlukan kesiapan dan kedewasaan untuk bisa mencintai dengan cara yang benar. Mencintai, jika dilakukan dengan cara yang salah, hanya akan berakhir menyakiti orang yang kita cintai sampai terlalu dalam, sampai titik di mana segalanya tidak akan pernah kembali sama.

Mencintai itu bukan hal mudah yang bisa dilakukan begitu saja. Ada alasannya kenapa banyak orang yang jatuh cinta tapi tidak semuanya awet berbahagia karenanya. Mencintai butuh persiapan dan bukan hal asal-asalan yang bisa kita lakukan hanya karena merasa kesepian, atau butuh pelarian, atau hal yang terasa wajib kita lakukan karena faktor usia yang sudah menua. Mencintai bahkan bukan sesuatu yang dapat kita lakukan hanya karena alasan ingin bersenang-senang.

Mencintai itu sulit, dan akan lebih sulit untuk mereka yang bahkan belum mencintai dirinya sendiri dengan baik. Untuk mereka yang belum dengan ikhlas memberikan tempat untuk orang lain dalam hidupnya. Untuk mereka yang belum punya kelapangan hati untuk memaklumi dan memaafkan ketidaksempurnaan orang lain. Untuk mereka yang bahkan belum mengenal dirinya sendiri… mereka yang belum tahu hal-hal apa saja yang bisa dan tidak bisa mereka toleransi dari pasangan mereka nantinya.

Akhir-akhir ini saya sampai bertanya pada diri saya sendiri… sudah siap kah saya untuk mencintai orang lain dengan cara yang benar? Mungkin memang belum. Untuk sekarang, saya lebih memilih untuk membenahi diri saya sendiri dulu… supaya kelak, saya bisa jadi Mrs. Right yang dapat mencintai Mr. Right saya dengan cara yang benar.

Nasehat Keren dari Seorang Teman

Semalam, salah satu teman sekantor menyampaikan ceramah yang dia dengar dari salah satu Ustadz ternama. Ceritanya semalam itu dia sedang menasehati saya soal cara memilih pasangan.

Kurang lebih, Ustadz ini bilang begini, “Saya sering banget mendengar keluhan istri yang kesal karena suaminya suka judi dan mabuk-mabukan. Saat saya tanya, “Sebelum nikah kamu tahu dia suka judi dan mabuk-mabukan atau belum?” Eh ternyata dia bilang dia sudah tahu. Kalau begitu ya kenapa kaget dan masih mengeluh?”

Ustadz ini kemudian menyampaikan, “Saat menikah, jangan memilih pasangan yang jelas-jelas masih membawa beban. Jangan diterima lalu berharap nanti akan berubah dengan sendirinya. Lain cerita kalau dia sudah tobat dengan sendirinya.”

Menurut saya, Ustadz ini ada benarnya. Merubah kebiasaan buruk orang lain itu tidak mudah. Apa yang membuat kita berpikir pernikahan akan merubah dia? Perubahan itu harus datang dari diri sendiri, bukan dari pernikahan, bukan pula datang dari keajaiban.

Katakan lah dia sudah tobat sebelum menikah. Itu saja masih ada resiko “kambuh”. Manusia pada umumnya, termasuk saya sendiri, cenderung kambuh kebiasaan buruknya saat hidup sedang banyak cobaan. Jika suatu saat pasangan kita kembali pada kebiasaan buruknya itu, kita bisa terima atau tidak? Bisa bersabar untuk membimbing dia atau tidak? Jika kiranya tidak bisa, jika kiranya hal itu bukan hal yang bisa kita toleransi, maka ada baiknya kita berpikir ulang untuk menikah dengan dia.

Masih single di usia 32 membuat saya banyak belajar mengenal diri saya sendiri. Apa yang saya sukai dan tidak sukai, apa yang bisa membuat saya bahagia, dan yang tidak kalah penting, hal-hal apa saja yang bisa dan tidak bisa saya toleransi dari orang lain, termasuk dari pria yang akan menjadi suami saya nantinya.

Apa saja batas toleransi saya? Saya tidak akan bisa menerima jika dia tidak lagi seiman dengan saya, jika dia melakukan kekerasan fisik pada saya, dan jika ada perempuan lain di antara saya dan dia.

Apa yang harus saya lakukan untuk mencegah hal itu? Jika sejak awal dia kasar dengan saya, dan jika sejak belum menikah saja dia suka lari ke perempuan lain alias mata keranjang, ya buat apa saya pilih dia sebagai suami saya?

Memang benar orang yang sekarang tidak kasar dan tidak suka selingkuh belum tentu kelak tidak akan pernah melakukannya, tapi probabilitasnya lebih rendah (ada banyak sekali riset dan literatur yang membuktikan hal ini). Terlepas dari probabilitas itu, sebagai perempuan, saya ingin jadi perempuan cerdas yang membuat pilihan cerdas. Saya tahu tidak akan ada orang yang sempurna, saya juga tahu siapapun orang yang menjadi pasangan saya nantinya pasti akan melakukan banyak kesalahan, tapi, saya punya hak untuk menentukan batas toleransi saya sendiri. Pernikahan memang tidak akan mudah untuk dijalani, tapi setidaknya, saya ingin bisa bahagia untuk menjalaninya.

Selama 32 tahun hidup saya, meski banyak sekali naik turunnya, saya selalu kembali bisa bangkit dari keterpurukan dan kembali pada kebahagiaan yang telah susah-payah saya perjuangkan untuk diri saya sendiri, dan… saya tidak ingin pernikahan memutar balik dan memporakporandakan kebahagiaan saya itu.

Jika suatu saat nanti saya memutuskan untu menikah, pernikahan itu harus membuat saya minimal sama bahagianya dengan saya yang sekarang, dan bukan sebaliknya.

Minder: Akar Dari Berbagai Pikiran Buruk

Dulu banget, salah satu teman saya pernah cerita bahwa sejak berat badannya mulai naik, dia jadi mulai merasa tersinggung tiap kali ditawari brosur gym membership.

Dia bilang ke saya, “Gue udah gendut banget kali ya, sampai gue ditawari brosur fitness.”

Saya hanya tersenyum sambil bilang, “Elo emang gemukan, tapi enggak gendut kok.”

Dia tetap merengut dan tetap merasa dirinya sudah masuk kategori kelebihan berat badan.

Tidak lama kemudian, saat saya melintasi salah satu pusat kebugaran di sebuah mall di Jakarta, tidak diduga-duga, pegawai yang bekerja di gym tersebut menghampiri dan memberikan saya brosur untuk ikut menjadi anggota mereka. Saya menerima brosur itu, tersenyum simpul, dan langsung lanjut jalan menuju toko yang saya ingin datangi.

Brosur yang diberikan pada saya itu membuat saya semakin meyakini bahwa teman saya itu hanya minder saja. Saya termasuk kurus, tapi toh tetap ditawari brosur yang sama. Pada dasarnya teman saya itu hanya panik karena berat badannya naik beberapa kilogram, dan itu membuat dia minder. Rasa minder itu pula yang kemudian membuat dia jadi mudah berpikiran buruk soal bentuk tubuhnya sendiri.

Teori seseorang jadi lebih sensitif karena minder (biasa disebut juga insecurity) ini menurut saya berlaku untuk banyak hal dalam hidup kita ini.

Contoh lainnya saat ada SPG yang tidak sopan saat melayani.

Orang yang percaya dirinya tinggi, akan berpikiran, “Pemilik toko ini salah pilih karyawan.”

Orang yang percaya dirinya rendah, akan berpikiran, “SPG itu judes karena gue enggak kelihatan mampu untuk beli barang yang mereka jual kali ya?”

Rasa minder ini pula yang bisa membuat seseorang mudah marah pada lelucon yang sebetulnya belum tentu bersifat harmful. Mereka tersinggung karena lelucon itu tepat sasaran langsung ke “titik minder” mereka. Bisa jadi soal kekayaan, bentuk tubuh, tingkat kecerdasan, sifat atau kebiasaan buruk, dan lain sebagainya…

Perasaan minder sebetulnya perasaan yang sangat manusiawi dan bisa terjadi pada siapa saja. Semua orang punya kekurangan yang tidak mereka sukai dan persis kekurangan itu pula yang kemudian berpotensi membuat mereka merasa minder. TAPI, hal itu tetap bukan alasan untuk membiarkan diri kita tenggelam dalam rasa minder itu!

Ingat bahwa rasa minder yang tidak terkendali bukan hanya akan merugikan diri kita sendiri, tapi juga orang-orang di sekitar kita.

Rasa minder yang berlebihan akan menciptakan konflik yang tidak perlu. Saat rasa minder tidak terkendali, orang-orang yang berniat baik pun akan tetap terlihat salah menurut kita. Kita akan selalu punya alasan untuk merasa tersinggung, untuk membenci dan menjauhi orang-orang yang membuat kita merasa tidak nyaman.

Lalu bagaimana cara mengatasi perasaan minder itu? Tip sederhana dari saya:

  1. Cari akar permasalahan yang membuat kita minder berlebihan, kemudian cari solusi yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut; dan
  2. Lakukan lebih banyak hal positif dalam hidup kita sehari-harinya.

Rasa minder sayangnya bukan perasaan yang bisa hilang dengan sendirinya. Jika tidak ditangani dengan baik, rasa minder itu cuma akan makin parah dan hanya akan menimbulkan lebih banyak masalah. Dua solusi yang saya sebutkan di atas pada dasarnya bermuara pada satu hal saja: berusahalah untuk memperbaiki diri kita sendiri.

Do better, be better, and only after that, we can feel better about ourselves.

Penting untuk kita merasa nyaman dengan diri sendiri, termasuk merasa nyaman dengan kekurangan yang kita miliki. Minder yang berlebihan bisa membuat kita pelan-pelan benci dengan diri sendiri. Lebih buruknya lagi, semakin sering insecurity kita “memakan korban”, semakin besar pula peluang kita untuk semakin benci dengan diri sendiri.

Kita tidak akan pernah bisa jadi sempurna, tapi kita selalu bisa jadi lebih baik dari sebelumnya. Sekedar melakukan itu saja, insyaallah pelan-pelan, rasa minder akan berkurang dengan sendirinya. Mungkin tidak akan sepenuhnya hilang, tapi akan selalu bisa dikendalikan. Coba dulu dan rasakan perbedaannya!

Have a nice weekend!