My NEW Wish List

Dulu, isi wish list saya banyak didominasi dengan hal-hal yang sifatnya duniawi. Tidak jauh-jauh dari segala hal yang membutuhkan uang di dalamnya. Setelah berhasil mencapai semua isi wish list saya itu, saya ingin membuat wish list baru yang sangat berbeda dengan sebelumnya.

I no longer want to pursue all the big things I haven’t had (even though having a Porsche will still be nice, hehe), I only want to fulfill my life with small things that matter.

Berikut ini isi wish list saya yang baru untuk tahun 2019 ini!

  1. Saya ingin sembuh supaya bisa makan es krim tanpa pakai muntah setelah memakannya;
  2. Saya ingin cukup fit seperti sedia kala supaya kuat pakai high heels ke kantor seperti dulu;
  3. Saya ingin berani pergi ke mana pun saya ingin pergi tanpa dihantui pikiran, “Bagaimana kalau nanti saya pingsan lagi?” P.s: Penyakit saya ini tipe penyakit yang bikin saya rentan pingsan;
  4. Saya ingin hidup bebas rasa khawatir detak jantung saya terlalu cepat. Saya nggak mau lagi sedikit-sedikit melirik ke arah jam tangan hanya untuk melihat angka BPM saya;
  5. Saya ingin cukup kuat untuk bisa mulai berolahraga;
  6. Saya ingin nanti sudah cukup sehat untuk nonton konsernya Backstreet Boys di Jakarta (jangan sampai tiketnya hangus seperti tiket Aladdin broadway bulan lalu);
  7. Saya ingin bisa mulai tidur sebelum jam 10 malam, lalu bangun sebelum jam 6 pagi;
  8. Saya ingin makan sampai habis tanpa perlu merasa “tersiksa”. Bukan berarti saya anoreksia (saya malah senang kalau berat badan saya naik), saya cuma sering bermasalah dengan nafsu makan;
  9. Saya ingin bisa menerima berita buruk tanpa diiringi nyeri di perut saya ini; dan
  10. Saya ingin berhenti bolak-balik periksa ke rumah sakit.

Doakan semuanya bisa terwujud dalam tahun ini yaa!

Because to Me, Unhappiness is Not Even an Option

Sepanjang tahun ini, saya sering mengeluh tidak bahagia. Ada saja alasannya. Mulai dari kecapekan sampai patah hati terburuk sepanjang masa. Ditambah lagi sakit-sakitan sampai sempat dirawat di RS 6 hari lamanya.

Saya sempat mengeluh pada adik saya, “Capek banget hidup kayak gini terus-terusan.”

Sedih, capek, marah, semua emosi negatif berkumpul jadi satu. Sampai puncaknya saya jatuh sakit dan saya pelan-pelan mulai menyadari, “Kalaupun takdir saya meninggal dalam usia muda, bukan ini ending yang saya inginkan.”

Pelan-pelan, saya coba berbenah. Saya fokus pada hal-hal yang saya sukai, menulis salah satunya. Mulai dari aktif menulis artikel pendek di LinkedIn sampai menulis buku pertama saya (doakan segera rampung yaa!). Saya semakin erat berkomunikasi dengan orang-orang yang care dengan saya. Saya juga perbanyak baca tulisan yang memotivasi, dan bahkan, saya jadi rajin nonton romantic comedy hanya supaya saya tidak hilang harapan kepada “happy ending“.

Beberapa hari yang lalu, salah satu sahabat saya menasehati bahwa tidak seharusnya saya merasa sebegitu pesimisnya. Dia bilang, banyak kualitas dalam diri saya yang sangat patut saya nikmati. Dari situ saya jadi sadar… hal-hal buruk yang terjadi sepanjang tahun ini tidak lantas menghilangkan hal-hal baik yang sudah saya perjuangkan sepanjang hidup saya ini! Satu-satunya hal yang salah dalam hidup saya tahun ini adalah saya terlalu fokus pada hal-hal yang “going wrong” daripada hal-hal yang “going well“. Banyaknya ujian yang datang bertubi-tubi membuat saya jadi lupa untuk berbahagia.

Akhirnya saya putuskan untuk kembali mulai berbahagia! Sejak detik ini juga! Meski keadaan sama sekali belum membaik, kesehatan belum sepenuhnya pulih, patah hati juga masih patah hati, tapi ya mau bagaimana lagi? Setelah capek-capek berusaha mendapatkan hidup bahagia, kenapa sekarang saya malah berlarut-larut dalam ketidakbahagiaan?

Unhappiness is not even an option to me!

Jadi memang saya tidak punya pilihan lain selain berusaha kembali berbahagia dalam menjalani hidup saya ini. Jika sedang tidak ada hal besar yang dapat membuat saya bahagia, saya akan fokus berbahagia dengan hal-hal yang kecil dulu saja. Sekedar punya sepatu baru yang tampak keren saja sangat saya resapi rasa bahagianya, hehehehe. Ponakan saya, sahabat-sahabat lama dan teman-teman baru saya! Apapun itu yang bisa membuat saya tersenyum dan tertawa lagi.

Be happy… and that’s only because being unhappy is not supposed to be an option to begin with.

Have a good night!

Belajar dari Balita

Saya selalu takjub tiap kali melihat ponakan-ponakan saya belajar jalan. Melihat kegigihan anak sekecil itu, melihat jatuh-bangun mereka sampai akhirnya berhasil berjalan sendiri itu betul-betul pengalaman yang mengharukan!

Awalnya, saya hanya merasa amazed melihat anak sekecil itu sudah mulai berdiri, merembet, dan pelan-pelan belajar berjalan. Seperti melihat boneka lucu yang bisa jalan aja gitu. Lalu biasanya di awal, mereka akan sering jatuh-bangun. Kadang karena hilang keseimbangan, kadang karena mereka kelihatan sedang capek dan mau istirahat dulu. Kadang mereka sampai terjatuh, kadang mereka terlihat kesal dengan dirinya sendiri, kadang mereka juga sampai menangis saat jatuh dan kesakitan.

Meski demikian hebatnya, berapa kali pun mereka terjatuh, mereka akan bangkit untuk mencoba lagi dan lagi, sampai akhirnya mereka mulai bisa berjalan dan berlari kencang.

Melihat kegigihan mereka membuat saya berpikir, “Apa jadinya jika mereka kapok lalu menyerah dan enggak mau mencoba lagi?”

Dan saya juga berpikir, “Jika anak usia satu tahun saja bisa punya kegigihan seperti itu, kenapa kita yang sudah dewasa tidak bisa mempunyai kegigihan yang sama?”

Memang benar masalah kita sekarang sudah jauh lebih besar daripada sekedar belajar jalan, tapi kemampuan dan pengalaman yang kita miliki juga sudah jauh lebih banyak daripada anak usia satu tahun. Tidak seharusnya kita yang sudah dewasa ini mudah kapok saat dan mudah menyerah begitu saja baik itu dalam hal pekerjaan maupun kehidupan pribadi.

Jika hari ini kita bisa berjalan dengan lancar, ingat bahwa hal itu adalah buah dari kegigihan kita belajar jalan saat balita dulu.

Jika dulu kita memutuskan untuk terus mencoba lagi, kenapa sekarang kita jadi lembek dengan menyerah begitu saja?

Rasa kesal, sakit, dan trauma akan selalu datang dengan sepaket dalam proses pembelajaran kita. Dari usia kanak-kanak sampai lanjut usia nanti akan tetap sama jalan ceritanya, yang berbeda hanya tingkat kesulitannya saja. Itulah sebabnya penting untuk kita bertambah kuat seiring bertambahnya usia. Kita harus bisa menjadi manusia yang lebih besar supaya kita juga sanggup menghadapi masalah yang lebih besar. Pastikan kita akan selalu cukup kuat untuk lulus dari tiap tahap ujian kehidupan.

Bagaimana jika kita pernah menyerah atas sesuatu di saat usia kita masih lebih muda dulunya? Jika kegagalan itu masih menghantui, maka selesaikan dulu unfinished business kita itu. Akan lebih sulit berjalan maju ke depan jika masih ada masa lalu yang menarik kita ke belakang.

Berapapun usia kita saat ini, ingat selalu bahwa segala hal yang terbaik dalam hidup ini memang tidak pernah mudah untuk menjalankannya. Jangan manja dan jangan mudah putus asa! Jika kita jatuh 100 kali, bangkit lagi 100 kali, lagi dan lagi dan lagi.

My Appreciation to Sephora Pondok Indah

Persis hari ini dua minggu yang lalu, saya pergi ke Pondok Indah Mall. Ada keperluan photoshoot yang ingin saya beli di Uniqlo untuk klien saya selanjutnya. Sebelum pergi ke Uniqlo, saya mampir ke Sephora untuk beli BB cushion refill yang sudah hampir habis di rumah. Saya juga berkeliling toko untuk mencari eyeshadow palette untuk menggantikan palette yang lama.

Selesai belanja, saya langsung antri di kasir. Saat itulah perut saya tiba-tiba saja terasa panas. Badan lemas. Rasa capeknya melebihi rasa capek setelah lari kelilinng lapangan basket. Selesai bayar, saya langsung mencari tempat duduk. Saya betul-betul sudah enggak kuat berdiri. Saya memilih duduk di bangku milik Benefit.

SPG Benefit menghampiri saya dan bertanya, “Mau didandani, Mbak?”

Saya masih bisa menjawab, “Nggak, Mbak. Saya cuma mau istirahat. Perut saya mual.”

Rasa panas di perut saya terus merambat naik sampai ke atas. Pandangan mulai buram, saya mulai semakin tidak kuat menopang badan meski dalam keadaan duduk. Saya masih ingat saat itu saya merebahkan kepala di atas meja riasnya Benefit, dan waktu itu saya benar-benar takut.

Pikir saya itu, “What’s happening with me? No, I don’t want to be this sick.”

Tidak lama saya mendengar pegawai perempuan di Sephora bertanya pada saya, “Mau istirahat dulu di kantor, Mbak? Ada di samping kasir.”

Saya mengangguk. Saya berdiri, mulai berjalan, tapi kemudian rasa panas di perut saya itu malah semakin menjadi-jadi. Pandangan semakin buram. Kaki saya semakin lemas. Akhirnya saya letakan tas dan kantong belanja di atas lantai, dan saya lalu merebahkan diri di atas lantai… menutup mata, berharap bisa istirahat meski hanya untuk sejenak.

Sejak titik itu ingatan saya mulai agak kabur. Tidak lama saya mulai bisa mendengar beberapa orang yang mengerumuni saya. Mereka bilang saya pingsan.

Salah satunya bertanya, “Mbak masih kuat jalan?”

Saya tidak ingat saya jawab apa. Saya coba berdiri, dipapah dua orang di kanan dan kiri saya. Saya betul-betul tidak ingat siapa mereka, sesama pengunjung atau pegawai toko, yang jelas akhirnya saya berhasil jalan sampai ke kantornya Sephora. Saya kembali duduk dan diberikan segelas air putih hangat.

Entah kenapa saat itu, badan saya masih terasa lemas. Saya lalu bertanya ke SPG yang menemani, “Di sini ada sofa nggak, mbak? Saya ingin tiduran.”

Karena tidak ada sofa, akhirnya mereka menggelar kardus. Mereka menggunakan sesuatu sebagai bantal, dan entah dari mana datangnya, mereka juga memberikan saya selimut bersih. Saya berbaring dan baru saat itulah saya mulai merasa membaik. Saya hubungi orang rumah minta segera dijemput ke Sephora PIM.

Tidak lama kemudian, SPG Sephora juga membuatkan saya secangkir teh manis dan camilan untuk mengisi perut. Saya langsung minum dan teh manis itu betul-betul mengembalikan energi saya. It worked like a charm, somehow. Saya mulai bisa duduk agak lama sambil menjawab WhatsApp dari keluarga saya.

Kira-kira satu jam kemudian, keluarga saya datang. Saya pamit pulang pada orang-orang yang memberikan saya bantuan. Isi tas saya masih utuh, kantong belanja juga tidak berkurang satu kantong pun. Saya telah ditolong oleh orang-orang yang bukan hanya baik hati, tapi juga jujur dan berintegritas.

Saat tiba di rumah sakit, salah satu dokter saya bilang jika tidak ditangani secara benar, saya akan mulai langganan pingsan. Dia juga bilang, “Kalau kemarin itu kamu pingsan di tempat lain, belum tentu kamu semujur itu.”

Saya pun kembali mengucap syukur bahwa setidaknya, saya pingsan di tempat yang tepat.

Terima kasih banyak, Sephora Pondok Indah! Saya akan selalu ingat jasa baik karyawan di sana, semoga siapapun yang saat itu menolong saya dibalas kebaikannya berkali-kali lipat. Amiin.

Take Care of Your Heart (Literally)

Ceritanya seminggu ini saya dirawat di rumah sakit. Awalnya gara-gara pingsan di mall dan saat tiba di rumah sakit, pemeriksaannya melebar sampai ke jantung dan juga syaraf. Saya yakin banget cuma bermasalah di lambung, tapi ya sudahlah… toh biaya pemeriksaannya ditanggung asuransi.

Salah satu pemeriksaan yang harus saya lakukan adalah USG jantung. Rasa haru saat melihat jantung yang berdetak itu mungkin mirip-mirip dengan rasa haru saat seorang ibu pertama kali melihat janinnya via USG, hehehehe.

Saat melihat jantung saya di layar monitor, tiba-tiba saja saya teringat slogan berikut ini, “Sayangi jantung anda.”

Tiba-tiba saja, saya merasa kasihan dengan jatung saya sendiri. Kurang istirahat, enggak pernah olahraga, ditambah lagi saya bahkan enggak pernah repot-repot mengecek apakah saya sudah cukup memgkonsumsi makanan yang baik untuk jantung saya ini. Belum lagi stres dan tekanan ekstra dari asam lambung yang pasti juga sudah jadi beban tambahan untuk jantung saya ini.

Saat itu saya juga berpikir betapa saya seharusnya lebih mensyukuri jantung saya yang masih berdetak ini. Kalau bukan karena jantung yang masih berdetak, saya nggak akan punya cukup waktu untuk mewujudkan cita-cita saya, nggak punya cukup tenaga untuk pergi melihat dunia, dan juga nggak punya kesempatan untuk mengenal orang-orang hebat dalam hidup saya. Dan kalau bukan karena jantung yang masih berdetak, saya juga tidak akan pernah merasakan indahnya jatuh cinta.

Sejak detik itu juga saya bertekad… saya harus lebih peduli pada diri saya sendiri. Masih banyak impian yang belum saya capai, masih banyak tempat yang belum saya datangi, dan saya juga masih belum puas dengan kontribusi yang saya berikan untuk society. Rasanya masih banyak hal yang bisa saya lakukan dalam hidup saya ini. Saya harus tetap hidup… saya masih ingin jantung saya berdetak lebih lama lagi.

Alhamdulillah hari ini saya sudah boleh pulang. But you know what? Tidak lama setelah saya diperbolehkan pulang, saya mendengar kabar pasien di kamar sebelah baru saja meninggal dunia… karena penyakit jantung (dia meninggal di ICCU).

I’m discharged, well and healthy, but that man I never knew… he died on the very same day.

Mendengar keluarganya yang menangisi kepergian almarhum, tekad saya jadi semakin kuat; saya harus lebih menyayangi diri saya sendiri.

Hari Senin nanti, hasil tes jantung saya akan dibacakan oleh dokter di rumah sakit yang sama. Doakan hasilnya tidak menunjukan sesuatu yang serius yaa!

Have a nice weekend!

Don’t Hurt People Who Doesn’t Make You Bleed

Sudah sejak beberapa tahun belakangan, saya menyadari bahwa ada saja orang yang saat tersakiti, mereka malah meninggalkan orang lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan masalah mereka itu. Ujung-ujungnya, mereka malah menyakiti orang-orang yang tidak bersalah.

Awalnya saya pikir, mungkin itu cuma perasaan saya saja. Mungkin, memang ada kesalahan yang pernah saya lakukan sehingga mereka pergi dari hidup saya begitu saja.

Kemudian tadi malam, saya membaca kutipan dari Jay Shetty; salah satu motivator yang tengah naik daun di US. Dia bilang…

When you’re hurt, you end up cutting people that didn’t make you bleed.

Itu jadi seperti validasi dari observasi saya selama ini. Tetap bukan hal yang pernah saya lakukan sih, tapi saya pernah beberapa kali ditinggalkan begitu saja oleh teman-teman tersekat saya saat mereka tengah terkena masalah dalam hidupnya. Saya sampai bingung, “What did I do wrong?”

Masih menurut pengamatan saya pribadi, penyebabnya bisa macam-macam. Ada yang hanya sedang ingin sendiri saja (entah sampai kapan… mereka sendiri mungkin tidak tahu jawabannya). Ada yang tidak ingin menyeret orang lain dalam permasalahan hidupnya. Dan ada pula yang sengaja melakukannya karena tidak tahan melihat kebahagiaan dalam hidup orang lain di sekitat mereka (menurut saya, ini yang paling jahat).

Padahal menurut saya pribadi, mengusir orang lain saat tengah tertimpa musibah itu hanya akan memperburuk keadaan saja sih. Sudah kena masalah, eh, kehilangan teman bicara pula! Niat mereka sudah baik, jadi buat apa menyakiti mereka dengan malah menyuruh mereka pergi? Saya malah bersyukur jika ada orang yang bersedia tetap tinggal saat hidup saya sedang susah-susahnya.

Hidup akan terasa lebih mudah jika kita tidak menciptakan drama kita sendiri. Tidak ada untungnya membuat masalah menjadi lebih rumit dari yang seharusnya. Saat tertimpa musibah atau ujian hidup lainnya, cukup fokus pada masalah yang sebenarnya. Kalaupun ada orang yang harus dijauhi, jauhi mereka yang memberi pengaruh buruk dalam hidup kita, dan bukan sebaliknya!

No drama anymore, okay? Have a great weekend! 💕

Hey, You! Thank You!

Hey, you! You know who you are! You are still my favorite story to tell. This time, I want to thank you!

Thanks for sharing your life with me. For letting me deep dive to your life. To let me help you. And to help me finally found my life purpose: to help others, just like the way I helped you, you said.

Thanks for being very kind down to the little things. For all the helps, the ones I asked, and the ones I never asked. Even just the thoughts have really counted to me.

Thanks for being a listener. For reading my long texts. And listening to my super speedy talks. I always love every minute I spent just to talk with you.

Thanks for all the advices you gave to me. I didn’t always instantly do what you said, but oftentimes, I eventually realized how right you were. I know how much you hate telling people what they should do; it was a big responsibility you once said. But you do give me advice anyway. And I couldn’t be more thankful of it.

Thanks for genuinely care about me. My health. My happiness. My wellbeing.

And finally, thanks for being a good friend to me. A very good one. The one who always finds his ways to forgive me, over and over. I still really hope, you will not give up on me… the way I will never ever give up on you.

I’m thankful that we crossed path… and the day we first met… would always be the day I never forget.

Kevin Aprilio & Note to All Guys Out There

Kevin Aprilio baru saja bikin heboh dengan pengakuan utang 17milyarnya 4 tahun yang lalu. Ceritanya, dia sengaja cerita sekarang hanya untuk explain bahwa pacarnya sama sekali bukan cewek matre sebagaimana dituduhkan banyak orang lain di luar sana. Menurut Kevin, ceweknya itu tetap setia menemani saat Kevin masih terbelit utang 17milyar itu! Wow!

Menariknya, Vicy sang pacar bercerita bahwa pada saat itu, Kevin sampai beberapa kali minta putus darinya. Harus Vicy yang berusaha meyakinkan Kevin untuk tetap stay dengan dia. Kevin saat itu khawatir dia tidak akan bisa memberikan masa depan yang baik untuk pacarnya itu.

Hal ini mengingatkan saya dengan cowok-cowok lain di luar sana yang pernah melakukan hal yang serupa: di saat terkena musibah, mereka malah mengusir perempuan yang dengan tulus menyayangi mereka. Ada yang karena masalah ekonomi seperti Kevin (tidak selalu soal utang, tapi bisa juga karena hidup yang masih serba kekurangan), ada yang karena cowoknya terkena penyakit yang sulit disembuhkan, atau bisa juga karena masa lalu yang masih saja menghantui cowok yang bersangkutan.

Padahal menurut saya, tidak perlu sampai sebegitunya! Tidak usah berkeras menyuruh gebetan atau pacar kalian untuk pergi dari hidup kalian.

If she wants to stay, let her stay. Help her to stay. And if she says she believes you can get through it, then believe her. Support her to support YOU.

Biarkan saja mereka coba membuktikan bahwa mereka ikhlas menerima kalian apa adanya. Biarkan mereka mengambil keputusan mereka sendiri. Berikan mereka kesempatan untuk tetap bersama kalian; orang yang paling mereka cintai.

Terus-terusan mengusir mereka malah bisa membuat mereka berkecil hati. Membuat mereka merasa tidak diinginkan. Dan tidak mustahil, malah membuat mereka merasa tidak cukup baik untuk kalian.

Would you really do that to someone whom you care about?

Sangat dimengerti bahwa penting untuk seorang pria merasa pantas untuk pasangannya. Tapi begini… pantas atau tidak pantas, bukan kalian yang berhak memutuskan. Biarkan mereka sendiri yang menilai apakah kalian laki-laki yang pantas untuk dirinya. Itu toh hidup mereka, biarkan keputusan itu datang dari mereka sendiri. Jika mereka bilang mereka tetap memilih kalian lengkap dengan segala konsekuensinya, ya sudah, tidak usah diperpanjang.

Remember, it should be you and her against the world and definitely NOT you against her!

Bukankah lebih enak jika ada yang tulus memberikan dukungan di saat-saat tersulit dalam hidup kita? Dan bukankah lebih baik fokus bersama-sama menyelesaikan masalah yang tengah dihadapi ketimbang menciptakan drama yang tidak semestinya terjadi?

Jaman sekarang ini, semakin sulit menemukan orang yang bersedia melewati masa-masa pahit bersama-sama. Dunia menawarkan semakin banyak hal yang penuh dengan kesenangan, penuh dengan pilihan, dan penuh dengan hal-hal yang bisa jadi, memang jauh lebih baik daripada diri kita ini. Tapi, apa yang menurut kita lebih baik belum tentu lebih baik menurut mereka; orang-orang yang memilih untuk tinggal. Hargai mereka, cintai mereka sebesar cinta yang berhak mereka dapatkan. Karena bagi mereka, itu saja sudah lebih dari sekedar cukup. They will not ask for more.

Why Do I Love Him This Much?

I just read a very well written true story on other blogger’s website. That blogger wrote about one big revelation that made him want to say how much he loved his girlfriend at that time. It’s one sweet blog that touches your heart and makes you want to fall in love again. And it reminds me of the man I love.

I asked myself, “Why do I love him?”

He’s the first one whom I dropped the love word by the way. He’s not my first love but I never loved any other man as much and as deep my feelings for him.

The question now, “Why?”

I tried to recall every moment I shared with him in the past one year and unlike that other blogger I mentioned earlier, I can’t seem to find any revelation moment that made me fall deep for him. It’s more like an accumulation of small events that made me fall for him.

To name a few, I like it when he suddenly bought me a bottle of vitamin I might need to deal with my short term memory loss. Or when he walked somewhere to find me a pill to cure my headache.

I like it when he handed me his credit card when mine was blocked just one night before my Iceland trip. Other than that one particular favor, I like all the helps he gave to me without being asked.

I like it when he asked me what my doctor told me not to eat and he reminded me that I couldn’t eat those foods everytime I was tempted to taste them. He also used that knowledge to find a restaurant who sold food that I could eat everytime I was sick and was about to eat together with him.

I like it when he tried to convince me that he was fine when he was actually sick. He was in pain, but he told me, “You don’t need to worry. I’ll be fine.”

I also like his little surprises on my birthday end of last year. His little gestures counted to me. It was definitely a birthday I’ll never forget.

And not to mention, I like the way he listens to all my (long and sometimes boring) stories. I also like the way he trusts me with his stories (I know that some of them were hard for him to tell). His advices, supports, and also his jokes just never failed to make my days. There were some long nights with good talks that I’ll never forget.

I still remember that my shrink told me that I should have a reason to love someone. One reason that makes me hold into him when the things are going ugly between us. Yet again, I can’t seem to find just one big reason why I love him.

He’s patient but not always that patient. He’s nice and kind but he sure has his bad days too. He’s smart, very smart, but sometimes I know some things that he doesn’t. He cares about me, most of the times, but there were times he looked like he’s completely careless. He’s only a human after all, and I’m fine with all that.

I guess love is when you’re capable to see someone beyond their flaws. It’s when you love them even when they annoy you, hurt you, and disappoint you. It’s when you are willing to give them unlimited chances to fix the broken pieces, over and over again. It’s when you want nothing but the best for them, and when you put their happiness and wellbeing before yours.

And that’s how much I love him.

I’m not very good at consistently showing him how much I care about him, but it doesn’t mean I take him for granted. There were times I was too afraid to let my feelings showed. But again, it doesn’t diminish how I truly feel about him. He may doubt anything and everything in his life, but he should never doubt my feelings for him.

I love him because of who he is, and that my friend, the reason why I love him this much.

Jakarta, The City Where I Fall in Love

Tiap kali Jakarta merayakan ulang tahunnya, bawaan saya selalu mellow. Sebal sama macet dan polusinya, tapi selalu cinta dengan kenangan dan orang-orang di dalamnya.

Salah satu alasan terbesar kenapa saya cinta kota Jakarta adalah karena di sini lah, tempat saya pernah jatuh cinta.

Ada cinta monyet, ada cinta lokasi, ada pula cinta betulan. Semuanya terjadi di kota Jakarta tercinta ini.

Saya ingat di gedung mana saja saya pertama kali bertemu dengan mereka (baca: cowok-cowok yang pernah saya cintai). Pernah nge-date dengan mereka (saya bahkan masih ingat makan di mana dan duduk di meja sebelah mana!). Saya bahkan masih mengingat, di mana persisnya, saya terakhir kali bertemu dengan mereka.

Kota tempat saya belajar mencintai juga sudah menjadi kota tempat saya belajar patah hati. Belajar berbesar hati. Belajar melepaskan. Dan belajar untuk bangkit dan jatuh cinta lagi. Bagaimana saya bisa move on dari kota yang menyimpan beribu kenangan seperti ini?

Saya tidak tahu ke mana hidup akan membawa saya suatu saat nanti. Tapi saya tahu sejauh apapun nanti saya melangkah, Jakarta akan tetap selalu menjadi tempat saya untuk pulang. Jakarta akan tetap menjadi kota yang menyimpan sejuta kenangan, kota yang menjadi saksi betapa saya bertumbuh, saksi jatuh dan bangun saya saat belajar mencintai, lagi, dan lagi, dan lagi.

Tahu apa yang paling hebat dari semua ini? Jakarta juga sudah menjadi saksi jatuh dan bangun saya saat belajar mencintai diri saya sendiri. Lagi, dan lagi, dan lagi. Seolah tidak pernah ada habisnya, dan tidak akan pernah ada habisnya.

Selamat ulang tahun, kota Jakata! I’ll be forever in love, with you ❤️