A journey to remember

Notes to men; here’s what’s going to happen after you let a girl go.

She will spend some times mourning, feeling sorry for herself, and she will spend more times wondering if there is still hope, even if it’s just a little hope. She will also be wondering what she did so wrong and if there is anything she can do to make it up to you. She may be crying over you, knowing that things will just never be the same again.

But then she’ll move on. She’ll start to see the light at the end of the tunnel. She’ll eventually have a new hope of a better future, even without you in it anymore.

She will miss you, sometimes. There will be times she checks your feed just to see your face again, or just to hear your life stories through your captions and tweets. She may also reopen her old chat with you and smile alone; a bitter smile, knowing that what’s gone is gone.

Life goes on and so does she. She’ll start a new life, meet new people, get herself busy with all the things that make her want to wake up and jump off the bed every morning in her life. Until someday, sooner or later, she starts to fall in love again.

Someday, you won’t matter to her anymore. She will forget the last time she checks your feed. She will tell her friends her love stories with you and she will laugh over it. She’ll cherish her memory about you and she let it go. She keeps you and all stories about you as a part of her past, she moves forward, and she’ll never look back.

She’ll learn that what doesn’t kill her makes her stronger is true… Losing you will make her stronger than she was before. She’ll embrace the one who stays for her, and she’ll be thankful for every smile and laughter she has on her face after all the tears she shed for you.

She won’t be there waiting for you for the rest of her life. She loves herself enough to let someone who doesn’t love her enough go out of her life. She knows she deserves better, and she believes in finding her right man, someday, somewhere in her future. She may still remember you, but it will never ever be the same again.

Advertisements

Semakin ke sini, netizen di dunia maya semakin liar dan tidak terkendali. Semakin anonymous, semakin tidak terkendali. Mentang-mentang tidak saling kenal, mentang-mentang tidak mesti berhadapan langsung, banyak sekali netizen yang jadi lebih berani berkoar yang menyakiti perasaan.

Apa saja contoh kekejaman netizen yang bikin gue geleng-geleng kepala? Ada banyak!

Nggak usah lah ya, sebut-sebut soal SARA, di sini cukup gue sebutkan contoh kenyinyiran netizen dalam topik lain yang sampai bikin gue berpikiran, “Mesti banget ya, mereka komentar kayak gitu?”

Gue pernah lihat salah satu selebgram nekad posting foto selfie dia saat hendak snorkeling: polos tanpa make-up sama sekali. Kenapa gue bilang nekad? Karena posting seperti ini sering sekali mengundang cibiran dari netizen! Dan benar saja… selebgram yang menurut gue tetap cantik apa adanya itu habis dihujat para netizen di comment box-nya… Dibilang ternyata aslinya jelek lah, alisnya botak lah, hitam dan lain sebagainya. Gue sampe berpikir, “Ya ampun, udah kayak mereka (si tukang bully) aslinya lebih cantik daripada si selebgram ini!”

Kemudian pernah juga beredar foto yang diduga Syahrini di halaman IG Lambe Turah. Caption Lambe Turah sih cuma soal mempertanyakan siapa cowok yang jalan bareng sama Syahrini di foto itu, tapi isi comment netizen yang sampai bawa-bawa soal fisiknya Syahrini. Kurang lebih mereka bilang begini, “Iya itu emang Syahrini… kalau difoto candid baru kelihatan aslinya dia itu b*****.” Pikir gue, “Ini ada supermodel yang tinggi langsing ngomentarin tinggi badan orang lain.” Gosh.

Gue sendiri juga pernah jadi korban nyinyirnya netizen btw. Ada satu yang sampe bikin research soal gue lalu menyerang gue via LINE… Intinya dia tidak terima soal artikel gue yang membahas soal “kutu loncat”. Dia jabarkan di LINE work history gue yang saat kerja freelance jaman kuliah dulu cuma stay 8 bulan saja. Dia juga sebutkan soal gue kerja di EY nggak sampe 3 tahun. Kalo gue mau membela diri, wajar kerja freelance cuma sebentar, cuma sampingan sambil menyelesaikan skripsi saja kok. Kalau setelah lulus gue bisa dapat pekerjaan tetap, kenapa gue harus tetap jadi freelancer? Setelah itu, masa bakti gue sekitar 2.5-3.5 tahun untuk satu perusahaan. Masuk hitungan kutu loncat kah? Kalaupun iya, kenapa juga mesti sebegitu niatnya bikin fake LINE account hanya untuk caci maki gue? Malas meladeni, gue block orang itu tanpa pernah gue balas. Nasehat guru agama gue dulu: orang yang meninggalkan debat kusir dijanjikan rumah di dasar surga, hehehehe.

Selain itu pernah juga ada orang komentar negatif di blog gue. Di situ gue menulis soal rasa minder gue yang masih juga single di usia hampir 30. Lalu ceritanya salah satu sahabat cowok menasehati gue soal cowok-cowok minder mendekati gue yang menurut mereka “cantik dan pintar”. Gue bercerita di tulisan itu soal nasehat si sahabat yang bikin gue ngerasa lebih baik. Nggak lama setelah gue post, muncul satu comment yang sangat pedas. Intinya dia bilang kenapa gue mesti ngaku-ngaku cantik padahal di blog ini ada foto gue dan semua orang bisa menilai kalau gue enggak ada cantik-cantiknya. My God. Ini juga malas balasnya. Gue mau ngotot memang betulan ada orang bilang kalau gue ini cantik juga dia nggak akan yang percaya. Nggak ada untungnya juga gue berdebat dalam hal yang sifatnya sangat subjektif seperti itu. Akhirnya gue nonaktifkan tulisan gue yang satu itu. Gue ingin blog gue jadi wadah diskusi dan bertukar informasi, bukan wadah kenyinyiran netizen!

Dari semua kisah nyata itu, gue bisa menarik beberapa kesimpulan:

  1. Orang yang sudah happy dengan dirinya sendiri tidak akan usil mengusik orang lain dengan komentar pedas yang tidak ada gunanya. Tidak ada gunanya buat si netizen, terlebih lagi buat orang yang dia hina-hina;
  2. Orang yang mempunyai kepercayaan diri tinggi memang sering jadi sasaran kemarahan netizen yang belum cukup happy dengan diri dan hidupnya sendiri. Mereka tidak senang melihat orang lain senang, as simple as that; dan
  3. Akankah netizen nyinyir itu secara terbuka menghina orang yang dia benci itu saat mereka sedang bertatap muka? I don’t think so.

Budaya internet ini cukup bikin gue sebagai orang Indonesia kaget. Orang Indonesia terkenal lebih tertutup, lebih banyak sungkannya, lebih banyak tidak berani bicara terus terang. Meski demikian, saat sudah masuk ranah internet, isi ocehannya bisa lebih parah dari orang bule yang aslinya sudah blak-blakan. Sudah sampai tahap di mana ciri khas keramahtamahan orang Indonesia sudah tidak lagi tampak. Sudah tidak ada lagi perilaku berhati-hati untuk menjaga perasaan orang lain. Mereka seolah lupa bahwa orang yang mereka hina di dunia maya adalah orang yang juga punya perasaan di dunia nyata.

Jika sudah begitu, menurut gue, orang Indonesia tidak lagi tampak sopan dan santunnya. Aslinya mereka bukan sungkan, mereka hanya tidak punya keberanian untuk bisa bicara langsung alias beraninya cuma di internet saja. Teman gue malah pernah bilang begini, “Ah, di IG aja si artis dimaki-maki… kalo ketemu langsung juga diajak foto bareng!”

Gue nulis begini juga termasuk nekad sebenarnya… tidak menutup kemungkinan akan ada lagi angry netizen yang tidak suka dengan tulisan gue ini. Tapi, jika benar tulisan ini bikin kalian tersinggung, coba kalian tanya sama diri kalian sendiri, “Are you really that low?”

Ingat, ada orang bijak yang bilang energi mengalir ke tempat di mana fokus kita berada. Kalau fokus kalian malah mencari kejelekan orang lain, maka energi kalian juga akan habis untuk hinaan yang tidak membuat kalian jadi lebih baik. Boleh bebas berpendapat, tapi ada aturan mainnya. Kalau kalian tidak suka dihina, jangan menghina. It’s simple, isn’t it?

Ada salah satu teman lama yang rutin bertanya via WhatsApp, “Elo udah married belum, Fa?” Padahal dia tahu jawabannya, tapi tetap saja, dia rajin WA gue hanya untuk mengulang pertanyaan yang sama. Dan tidak berhenti sampai di situ saja. Setelah gue menjawab, teman yang satu ini akan selalu menimpali dengan komentar-komentar yang luar biasa tajamnya. Contoh, “Elo kan udah tua, Nek, masa’ masih jomblo aja?”

Tipe teman yang bikin gue menghela napas… sungguh sulit jadi perempuan single di usia 30-an di Indonesia ini.

Saat mendengar cerita itu, salah satu sahabat gue berkomentar, “Kenapa juga elo mesti bales semua WA dia? Cuekin aja! Nggak ada gunanya balas-balas WA dia.”

Gue menghelas napas lagi… Kalau gue cuekin, image gue akan terlihat semakin jelek. Bisa-bisa teman lama gue itu akan semakin nyinyir dengan bilang begini, “Sensitif banget ih… pasti deh dia sensi gitu karena belum married.”

Karena benar deh… Kenyinyiran sesama perempuan Indonesia untuk topik ini memang bisa sebegitu kejamnya. Contohnya, opini publik soal cewek yang suka marah-marah. Kalau cewek tersebut sudah married, komentar publik biasanya hanya begini saja, “Dasar emak-emak bawel!” Tapi kalau cewek tersebut belum married, komentar publik, “Tuh kan… dia galak sih, makanya nggak ada cowok yang mau sama dia.” Atau seperti yang gue sebutkan di atas, “Dia jadi judes dan sensi gitu karena stres belum married kali ya.”

Karena malas mendengar komentar seperti itu makanya gue lebih memilih untuk pura-pura manis depan si tukang nyinyir. Capek, tapi mau gimana lagi?

Gue tetap sok-sok sabar sampai suatu kejadian yang tidak bisa gue ceritakan mengubah jalan pikiran gue. Kejadian yang menyadarkan gue bahwa “telat” menikah bukanlah satu-satunya keputusan gue yang bisa jadi sasaran empuk untuk dikomentari secara negatif. Menikah bukan berarti segelintir tukang nyinyir itu akan berhenti mengomentari jalan hidup gue. Ada banyak pilihan hidup gue nantinya yang sifatnya tidak lazim di mata orang Indonesia pada umumnya. Pilihan-pilihan yang jika gue tulis di sini pasti hanya akan disambut oleh komentar-komentar yang tidak menyenangkan.

Setelah gue pikir-pikir lagi, memang benar tidak ada gunanya gue meladeni si tukang nyinyir. Membiarkan mereka tetap ada dalam hidup gue sama saja memelihara duri dalam daging gue sendiri: mereka akan terus dan terus menyakiti gue dari dalam.

Minggu lalu, si teman lama yang suka nyinyir itu kembali WA gue. Tidak langsung gue buka pesannya. Gue berpikir dulu. Dan akhirnya gue putuskan; gue tidak akan lagi membalas pesan-pesan dia. Memang sih, tidak baik memutus tali silaturahmi. Tapi kalau dipikir lagi, apakah masih silaturahmi namanya jika tujuannya hanya untuk menyakiti perasaan gue saja? Gue malah berpikiran, dengan tidak gue balas, gue justru menghindarkan dia dari dosa karena terus-terusan menyakiti perasaan gue, hehehehe.

Tidak ada satu orangpun di dunia ini yang pernah melewati segala hal yang pernah gue lewati sehingga tidak ada satu orangpun yang bisa sepenuhnya memahami alasan-alasan yang kemudian membentuk pilihan-pilihan gue. Tidak ada satupun yang akan pernah benar-benar mengerti, sehingga tidak ada satupun dari mereka yang memiliki hak untuk menghakimi keputusan-keputusan gue itu.

Only God who can judge me and my decisions, and that’s that.

Ada serentetan kejadian dua tahun belakangan ini yang membuat gue memutuskan untuk berhenti menaruh harapan kepada orang lain. Siapapun orangnya, sebaik apapun kelihatannya, gue lebih memilih untuk tidak menyimpan ekspektasi apa-apa. Dan bukan cuma itu, jika dulu gue selalu memulai perkenalan dengan orang lain dengan modal kepercayaan 100% di awal, sekarang justru sebaliknya. Gue lebih memilih untuk bersikap skeptis dan membiarkan orang lain “menentukan” sendiri seberapa jauh gue bisa percaya dengan perkataan dan perbuatan mereka.

And did you know? My life becomes happier and happier ever since the day I decided reduce my expectations on other people down to zero.

Gue jadi tidak lagi sakit hati saat ada orang yang gue anggap teman baik tiba-tiba datang “menyerang” gue dengan pertanyaan atau pernyataan yang menyakitkan hati (gue juga heran kenapa selalu ada saja orang iseng dan nyinyir seperti ini).

Gue tidak lagi kaget saat orang-orang yang gue kira memihak gue malah bermanis-manis dengan orang yang jelas-jelas berusaha memusuhi atau menyakiti gue.

Gue tidak lagi ambil hati apalagi sampai berkecil hati saat ada orang lain yang berbohong dan mengingkari janji-janjinya. Saat ada orang lain berjanji, gue akan lupakan saja dan tidak pernah lagi berharap mereka akan ingat untuk menepatinya.

Gue tidak pernah lagi menyesali diri gue sendiri saat orang-orang yang dulu dekat dengan gue perlahan menarik diri tanpa ada penjelasan apa-apa. Seorang teman pernah menasehati, “Not everyone is your cup of tea.”

Gue juga tidak pernah lagi ambil pusing saat ada orang-orang yang hanya baik sama gue saat mereka ada maunya atau perlunya saja.

Gue bahkan tidak pernah lagi berharap orang yang gue berikan pertolongan, atau orang-orang yang pernah gue perjuangkan kelak akan ingat untuk membalas budi. Prinsip gue sekarang; berikan… lalu lupakan.

Dulu, tiap kali ada orang lain let me down, reaksi gue, “Kok bisa ya? Emangnya gue salah apa?” Tapi sekarang, reaksi gue sudah sangat jauh berbeda. Gue cuma menghela napas sambil bilang sama diri gue sendiri, “Oh well, of course they do. And it’s not me, it’s them.”

Saat ada orang yang merasa perlu merusak kebahagiaan gue, saat ada orang yang memilih untuk bermuka dua, saat ada orang berbohong atau tidak menepati janjinya, atau saat ada orang yang hanya ingin memanfaatkan gue saja, maka semua itu bukan salah gue. Makanya gue bilang sebelumnya, “It’s not me, it’s them.”

Ada kalanya gue harus instropeksi diri, tapi menyalahkan diri sendiri atas prilaku orang lain yang masih bermasalah dengan dirinya sendiri jelas bukan pilihan yang bijak.

Mungkin sampai sini, tulisan gue terlihat suram. Tapi sebetulnya tidak juga. Seperti yang gue tulis di atas; berhenti menaruh harapan pada orang lain justru membuat gue lebih bahagia. Kenapa bisa begitu?

  1. Karena sekarang, sudah nyaris tidak ada lagi hal-hal yang bisa melukai perasaan gue. Banyak hal buruk yang sudah gue duga sejak awal; dan
  2. Rendahnya ekspektasi justru membuat gue jadi lebih mudah terkesan dengan orang-orang yang ternyata lebih baik daripada dugaan gue.

Ironisnya, jumlah orang di kelompok 1 di atas entah kenapa jauh lebih banyak daripada kelompok 2. Dengan standar yang sudah sangat rendah pun, tetap lebih banyak orang yang tidak bisa memberikan kesan baik untuk diri mereka sendiri. Gue awalnya sampai bingung sendiri, “Apa sih susahnya menjadi orang yang punya integrity? Atau kalau memang tidak bisa jadi orang baik, setidaknya jangan jahat.” Tapi sekarang, gue sudah tidak ambil pusing. Hidup ini memang berat, dan orang yang tidak cukup kuat tidak akan punya cukup energi untuk mengendalikan dirinya sendiri. Itu pangkal masalahnya, dan sekali lagi, “It’s not me, it’s them.”

Awal tahun ini gue sempat merasa khawatir dengan diri gue sendiri. Kenapa gue jadi negatif begini ya? Sampai kemudian belum lama ini, gue menemukan tulisan ini, “When one’s expectations are reduced to zero, one really appreciate everything one does have – Stephen Hawking.”

Dari situ gue mulai menyadari bahwa sebetulnya gue sudah mengambil pilihan yang tepat. Gue juga mulai melihat perubahan pola pikir gue dari sudut pandang yang berbeda. Gue bukan negatif, gue hanya memilih untuk bersikap lebih realistis.

Gue sudah berhenti berusaha mengambil hati orang-orang di sekitar gue. Orang yang mendukung gue akan tetap ada di sisi gue tanpa harus gue minta-minta.

Gue sudah berhenti berusaha menjadi pahlawan kesiangan. Gue tidak akan pernah bisa mengubah orang lain. Sekeras apapun gue berusaha untuk menolong, tetap hanya orang itu sendiri yang bisa menolong dan mengubah diri mereka sendiri.

Dan yang paling penting, gue sudah berhenti memberikan banyak ruang untuk orang lain dalam hati dan pikiran gue.

Saat ini, hidup gue terasa lebih tenang, dan ternyata, kedamaian hati dan pikiran itu banyak manfaatnya! Gue jadi lebih fokus mengurus dan menata hidup gue sendiri, gue jadi punya lebih banyak energi untuk memikirkan solusi atas permasalahan yang tengah gue hadapi, dan yang paling menyenangkan, gue jadi lebih mampu membahagiakan diri gue sendiri!

Life is too short to be unhappy, and I’m glad that I’ve found a new way to be happier!

Dulu, pernah ada salah satu kenalan saya yang sangat vokal menyuarakan ketidaksukaan dia atas segala sesuatu di lingkungan kerja dia.

Dia sering bilang, “Bos gue sering marah-marah.” Atau, “Banyak yang nggak betah kerja di sini.”

Kemudian saya tanya, “Memangnya seberapa sering dia marah-marah?”

Setelah berpikir sejenak, dia bilang, “Nggak tiap hari marah-marah sih, tapi bla bla bla.” Dia lanjutkan dengan pernyataan-pernyataan lain yang sifatnya sangat subjektif.

Pernah juga saya tanya, “Memang seberapa banyak orang yang nggak betah kerja di sana?”

Dia bilang, “Dua dari tiga, termasuk gue. Tim under bos gue kan emang cuma kita-kita aja, jadi ya 2 dari 3 itu banyak namanya.”

Jika merujuk pada penggunaan bahasa yang baik dan benar, sering itu artinya “most of the times“. Kemudian, banyak itu setidaknya “hampir mayoritas”. Kebetulan mengenal satu atau dua orang lain yang berpendapat sama tidak bisa langsung kita nyatakan sebagai “banyak”.

Lalu bagaimana jika jumlahnya 2 dari 3?

Well, tahukan kamu bahwa ahli statistik yang sudah sering melakukan research tidak akan berani mengambil kesimpulan hanya berdasarkan sedikit data? Sebelum memulai analisa, mereka akan pastikan dulu bahwa jumlah data yang mereka kumpulkan sudah cukup banyak sehingga mampu merepresentasikan suatu kesimpulan.

Jika ahli statistik saja sangat berhati-hati dalam mengambil kesimpulan, kenapa kita yang cuma punya sedikit coincidences bisa-bisanya langsung menghakimi dan menyebarluaskan judgement yang belum tentu benar keadaannya?

Saya akui saya juga pernah gegabah melakukan kesalahan yang sama. Dulu, saya pernah merasa banyak orang di lingkungan baru saya yang sangat suka berbohong. Kemudian saya iseng-iseng menghitung jumlah orang yang suka berbohong di tempat itu. Hasilnya? Tidak sampai 30%. Memang tidak sedikit, tapi tidak juga seburuk yang saya rasa sebelumnya. Hanya dengan perhitungan sederhana itu saja kepercayaan saya pada mereka langsung berangsur membaik. Tidak adil rasanya jika saya menyamaratakan semua orang hanya karena perkara segelintir orang saja.

Sejak itu, saya tidak lagi sembarangan melipatgandakan segala sesuatu hanya berdasarkan “kira-kira” atau berdasarkan luapan emosi yang tanpa saya sadari membuat saya menjadi hiperbolis. Jika saya bilang banyak, berarti memang betulan banyak. Jika saya punya angka pasti, atau setidaknya kisaran angka, maka saya akan lebih memilih menyebut angka tersebut ketimbang penggunaan kata “sedikit” dan “banyak” atau “jarang” dan “sering”. Itu pula alasan yang sama yang membuat saya sering bertanya kepada lawan bicara saya, “How much is it exactly?” Atau “How often does it happen?”

Ini yang gue maksud dengan pentingnya data driven decision in daily life. Sembarangan mengambil kesimpulan bisa jadi keputusan yang merugikan orang lain, dan tidak mustahil, merugikan diri kita sendiri juga. Penilaian yang sembarangan akan membuat tingkat kepercayaan orang lain atas pendapat kita menjadi perlahan menurun, bisa merusak image pribadi kita juga dengan anggapan kita ini cenderung lebay dalam menafsirkan sesuatu. Belum lagi resiko kita menyakiti orang lain dengan menyebar fitnah yang hanya berdasarkan data kira-kira.

Kita boleh saja curhat dengan teman, lebih boleh lagi menyampaikan kritik langsung kepada orang ybs, TAPI, pastikan kita sudah quantify pernyataan kita sebelum kita tuduhkan kepada orang lain. Jangan dilebih-lebihkan, jangan pula dikurang-kurangi. Ada tanggung jawab moril atas judgment yang kita sebar luaskan, jadi jangan sembarangan!

Ingat kata pepatah: mulutmu, harimaumu.

I’m not ashamed of the fact that I occasionally visit psychologist just to consult about my everyday life. I know that I’m not the most miserable person on earth, but it doesn’t mean I don’t deserve a professional’s help on my problems.

One thing I like the most about my sessions with psychologists is that they often challenge traditional paradigms that lead me to think outside the box. Here are my most favorite quotes I got from my psychologists:

  1. “You have to know the reason why you fall for him, otherwise, you won’t have any good reasons to hold on when life gets rough between you two.” I find it’s so true in so many ways! This advice fits better in reality rather than “I love him for no reason” as we often heard from a fairytale. It’s always good to do some reality check and ask ourselves, “Is it worth fighting for?”
  2. “Dating at this age is no longer about getting through the thick and thin together. Every individual should be responsible for their own problem instead of dragging the other one into their personal problem.” I know it might not sound ideal, but again, it’s always good to do a reality check! It’s not a healthy relationship if you have to fix your loved one’s problems over and over again. Both people in a relationship should have a strong will to change and help themselves; and
  3. “Negative thoughts towards anything new after an incident is actually a good thing. It means you learn something from your past mistake and you choose to be more careful to prevent the same thing from happening again. Give yourself some times to heal and it will eventually fade away.” It was such a relief for me to hear that!

I’ve come to learn that what we often heard among the society is not always the perfect fit. We’re only human and angelic advice is not always working well due our imperfections as a human. This is a real life after all, not a fairytale! Try to get real and feel the different!

Ceritanya gue beli dompet baru untuk menggantikan dompet lama yang sudah usang. Gue lalu pergi ke Kate Spade Kokas dengan harapan akan menemukan dompet model terbaru yang belum dijual oleh online shops di Instagram atau Tokopedia. Kalau gue cuma mau beli dompet Kate Spade model lama (yang cuma polos-polos aja), harga di online stores bisa jauh lebih murah.

Sesampainya di sana, gue tidak bisa menemukan model dompet yang sesuai harapan gue. Ada yang bagus warnanya, tapi jelek modelnya. Begitu juga sebaliknya. Gue sempat keluar dari toko, lalu gue masuk kembali, dan setelah menimbang agak lama, gue beli dompet pink yang gue sangat suka dengan warna dan ukuran dompetnya. Masalanya cuma satu: dompet ini modelnya agak terlalu sederhana. Cuma kelihatan sedikit berbeda dengan dompet Kate Spade keluaran lama. Tapi nggak papa. Sentuhan aksen pita dan deretan batu menyerupai permatanya itu terlihat cantik dan serasi dengan warna dompetnya.

Saking seringnya belanja di Kate Spade, gue tidak cek harga terlebih dulu. Gue langsung bayar ke kasir. Saat kasir menyebutkan harga, dalam hati gue cukup kaget juga. Sejak kapan harga dompet Kate Spade jadi semahal itu? Sekitar 40% lebih mahal dari biasanya. Karena batu-batuan yang menyerupai permata itu kah? Tapi apa boleh buat. Kasihan SPG-nya kalau sampai batal. Harganya masih masuk budget gue dan gue hanya kecewa karena untuk model sederhana seperti itu biasa dijual dengan harga lebih murah. Gue butuh banget dompet baru dan mungkin, memang ada yang istimewa dari dompet pink itu.

Dan ternyata, memang benar ada sesuatu yang istimewa dengan dompet baru gue itu. Belum sampai satu hari, gue langsung jatuh cinta dengan dompet gue sendiri. Gue senang lihatnya, senang tiap kali mengeluarkan dompet dari dalam tas. Gue sering bilang sama diri gue sendiri, “Aduh, cantiknya dompet gue!” Dan jika gue perhatikan, batu-batu di dompet gue itu memang membuat dompetnya terlihat lebih menawan, dan lebih mewah juga. Akhirnya gue bilang sama diri gue sendiri, “Ok, it is worth the price.”

Kejadian dompet itu lalu mengingatkan gue dengan sandal usang gue belasan tahun yang lalu. Waktu itu, ceritanya bokap beliin gue sandal baru sebagai hadiah. Awalnya, gue enggak suka sama sandal itu. Sandal gunung yang lebih cocok untuk anak cowok. Tapi karena enggak mau mengecewakan bokap, gue putuskan untuk mulai pakai sandal gunung yang ternyata nyaman banget dipakai itu! Sandal itu akhirnya jadi sandal favorit gue dan masih saja gue pakai saat mereka mulai tampak menua. Biasanya gue tipe orang yang saat usang sedikit saja akan langsung gue ganti dengan yang baru, tapi kali itu gue tetap saja suka memakai si sandal gunung untuk acara-acara kasual. Gue tetap pakai, sampai suatu hari teman gue meminta sandal itu dari gue. Dia tahu gue tipe orang yang suka memberikan barang gue yang sudah agak usang ke orang lain, dan waktu itu dia benar-benar butuh sandal “baru” untuk mengganti sandal dia yang sudah rusak berat. He needed them more than I did, so there I gave them anyway.

Apa kesamaan dari cerita dompet baru dan sandal tua gue itu? Kesamaannya adalah belajar menerima apa yang sudah kita miliki, karena bisa jadi, hal itu akan menjadi hal terbaik yang pernah kita miliki.

Some things will always seem too much or too little for us in the beginning, we will never know their real value to us until we give it a shot.

Akhir-akhir ini, gue harus melewati beberapa perubahan besar dalam hidup gue dan tidak semuanya terasa menyenangkan. Tulisan ini pun sebetulnya gue tulis untuk jadi reminder bahwa bisa jadi, perubahan ini juga akan jadi hal-hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidup gue ini. Dijalani dulu, dengan ikhlas, baru nanti gue boleh menghakimi keputusan gue sendiri di kemudian hari.

Perfect life is impossible to find, but many things like my new wallet and old sandals have unexpectedly made my life way beyond awesome! Take a deep breath and here I am, starting my new life!

Cheers!

Riffa

My Blog Counter

  • 974,558 visits since May 2011

My Blog Categories

My Blog Archives

Click here to read my tweets…

Click the pictures below to visit my Instagram...

It’s very important to feel content about our own life. No matter how hard we try, the truth is, we will NEVER get EVERYTHING we want to have in life. I want to have more curves, I want to have a pair of cheekbones and a chin like a supermodel, I want to be married at 30 years old, I want to be a Math expert, I want so many things in life and some of them are just some mission impossible. It’s true that I’m a go getter, but I simply have no time nor resource to pursue everything I want in life. There are some things that I need to live with it probably for the rest of my life. But you know what? I never regret any of that. I would rather count my blessings rather than feeling sorry for my imperfections. I’ve tried to make the very best of every day in my life, and for me, that is way more than enough. I’m happy just the way I am, and I’m thankful for everything I have, everything I don’t have, and everything that I will never have.
Be a better you, for you. Dress up, wear heels, put some make-up on, for you. Live in your dream, be awesome in what you do, especially for you. Learn from your mistakes, get back up from your downfalls, for you. Be kind, be compassionate, also for you. Make yourself proud for being the very best of you, not to please anyone else but you.
Every people has their very own insecurity. They have flaws, failures, they all once did a couple of things they are not proud of. They have one soul crushing events they wish to forget. Their life is not perfect and nor is mine. I am no different with any other person I know. If there’s one thing I do differently, that one thing that many people is reluctant to do, is that I forgive my past. I accept my flaws. I make peace with my guilts and failures. It’s all simply because there’s nothing I can do to change everything that has happened back in my past. What’s gone is gone, I can only decide what I would like to do on the days to come. Rather than drowning in miseries, I moved on. I’ve seen many people turned their problems to a nightmare. They made their worst moments in life even worse than it should be. They pointed fingers, they blamed random innocent people, they pushed people away, they ran off from reality, they did nothing useful for their own life. Some of them even made their personal problems as someone else’s problems for no particular reason. They let their insecurities hurt people who has nothing to do with their downfalls. My life is no better nor easier than anyone else, but at least, I’m trying so hard to make my own life a better place. If I can do it, and so can you!

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

About Me

What my blog is all about? It's all about my life; my very own fairy tale, that I would love to share. This is my story, my ups and downs, it's a journey to remember.

Advertisements