A journey to remember

Buat yang belum tahu, BB cushion adalah bedak cair yang disimpan dalam wadah yang menyerupai bedak badat. Di dalamnya, bedak cair itu disimpan di dalam cushion (bantalan dengan pori-pori). Cara ambil bedaknya harus menggunakan sponge (bisa pakai sponge yang sama dengan sponge untuk bedak padat). Praktis, tapi cepat habis.

Awalnya, gue beli BB cushion merk Clinique karena terpaksa. Waktu itu gue sedang ikut program pendidikan di Lazada Thailand dan kehabisan bedak. SPG di Sephora dekat kantor menawarkan bedak itu dan gue setuju untuk membeli. Dan gue langsung suka dengan hasilnya!

Kelebihan BB cushion:

  1. Lebih ringan dari alas bedak cair;
  2. Medium coverage tanpa terasa tebal di wajah; dan
  3. Penggunaan sponge bikin telapak tangan jadi bebas dari noda bekas bedak! Lebih praktis daripada bedak cair karena enggak usah repot-repot pakai sponge terpisah (seperti Beauty Blender misalnya).

Hanya saja sayangnya, BB Cushion merk Clinique terasa too oily untuk wajah gue. Teman gue lalu menganjurkan merk Laneige; pelopor BB cushion katanya sih. Tapi ternyata, Laneige malah lebih nggak cocok buat kulit wajah gue. Jatuhnya malah lebih greasy dibanding Clinique.

Nggak lama kemudian, gue menemukan iklan Sulwhasoo di Cosmopolitan. Tergoda, gue coba beli, dan yang ini jauh lebih baik! Hanya saja sayangnya, merk ini pun tetap tidak menahan minyak di t-zone gue (dahi dan hidung). Yang paling ganggu, setelah agak siang, akan mulai tampak gumpalan bedak cair di sudut cuping hidung gue. It’s really not cool, isn’t it?

Gue bertahan pakai Sulwhasoo lebih lama daripada Laneige yang langsung gue kasih ke orang lain itu. Kulit gue jadi kelihatan lebih enak dilihat dengan BB cushion keluaran Sulwhasoo. Coverage-nya juga tampak lebih baik daripada Clinique dan Laneige. Sampai akhirnya, gue iseng coba YSL berdasarkan rekomendasi dari adik gue yang sedang obsessed jadi beauty influencer itu.

YSL memang paling mahal dibanding semua merk yang gue tulis di sini, but it definitely worths the price! Masalah bedak menggumpal di sudut hidung itu akhirnya terselesaikan oleh YSL! T-zone gue tetap sedikit berminyak sih, tapi gue rasa itu bukan salah bedaknya, tapi emang kulit gue saja yang terlalu berminyak di daerah hidung. Gue tanpa bedak sedikitpun, di dalam ruangan ber-AC sekalipun, akan tetap mengeluarkan minyak berlebih! Asalkan bedak gue tidak terlihat berantakan saja sudah sangat bagus buat ukuran gue.

Oh ya, YSL sedang mengeluarkan BB cushion special edition dengan case yang sangat cantik! Nanti bisa beli refill-nya saja kalau sudah habis isinya. SPG mereka juga sangat helpful btw. Si mbaknya mengajarkan gue cara supaya sponge-nya awet (dibuka sedikit penutup bagian atasnya supaya ada sirkulasi udara), dan cara mengeluarkan bedak saat sudah hampir habis (cukup dicubit bantalannya). Belanja di sini selalu jadi pengalaman yang menyenangkan buat gue (favorit gue yang lainnya apa lagi kalau bukan lipstik legendarisnya!). Silahkan dicoba jika ada budget lebih untuk make-up!

Advertisements

Sebetulnya, hidup bahagia itu tidak sulit. Menambah kebahagiaan juga sama sekali tidak sulit. Bagaimana caranya? Cara paling instan: ikut berbahagia atas kebahagiaan orang lain.

Contohnya?

Gue ikut tersenyum lebar saat melihat luapan kegembiraan seorang teman yang baru lulus SPMB. Gue bukan lulusan negeri, tapi beda orang beda pula jalan hidupnya. Gue senang melihat dia senang, hasil kerja kerasnya untuk lulus SPMB sudah terbayar. And it worths a celebration!

Gue ikut lega saat akhirnya, teman gue melahirkan anak pertamanya setelah 8 tahun menikah. Gue sendiri belum menikah, tapi bukan berarti gue mesti nyinyir tiap kali melihat kebahagiaan pasangan yang sudah menikah.

Gue bahkan pernah beberapa kali ikut repot menyiapkan pernikahan teman baik gue. Gue ikut berbahagia di hari bahagianya mereka, ikut terharu di posesi akad nikah mereka, dan dengan tulus mendoakan yang terbaik untuk hidup dan masa depan mereka.

Gue selalu paling senang lihat-lihat toko online yang dibangun teman atau kerabat gue. Kadang sampai merinding melihat mimpi mereka sudah jadi kenyataan! Meskipun masih kecil-kecilan, setidaknya mereka sudah memulai.

Gue juga sangat menikmati foto-foto liburan milik teman-teman di socmed gue. Kadang gue tertarik bertanya soal pengalaman liburan mereka di sana. Tidak pernah terpikir oleh gue untuk menuduh mereka sedang pamer. Buat gue, foto-foto mereka itu justru menambah wawasan!

Iri adalah penyakit hati yang paling tidak membahagiakan. Jika kita tidak senang melihat orang lain senang, jika kita senang menyindir atau melakukan hal-hal tertentu untuk mengurangi kebahagiaan orang lain, maka pada saat itu, satu-satunya orang yang sedang tidak berbahagia adalah diri kita sendiri.

Belajar berbahagia untuk orang lain bisa dimulai dengan berhenti melihat kebahagiaan orang lain dengan sudut pandang yang selalu negatif. Sebetulnya saat kita sedang merusak kebahagiaan orang lain, kita juga sedang merusak kesempatan untuk membahagiakan diri kita sendiri. Belum lagi rasa panas karena dengki yang tersimpan dalam hati! Berbahagia untuk orang lain itu bukan cuma indah, tapi juga bisa melipatkgandakan kebahagiaan yang kita rasakan dalam hati kita ini.

Mulai dari sekarang, dan rasakan perbedaannya!

Semakin ke sini, semakin sering gue menyudahi yang namanya debat kusir. Gue bahkan juga mulai berusaha untuk tidak memulai perdebatan yang tidak perlu.

Apa saja contohnya?

Yang pertama saat gue dengar sekelompok ABG ngobrol soal pentingnya kuliah di universitas negeri. Supaya gampang cari kerja katanya sih. Waktu itu rasanya, gatal ingin ikut komentar. Tapi lalu gue berpikiran, apa gunanya? Nanti malah gue dicap iri hati hanya karena gue ini “cuma” lulusan swasta. Jadi ya sudah, gue ignore saja. Memulai perdebatan soal kampus dan memenangkan perdebatan itu tidak bikin karier gue jadi lebih baik atau lebih buruk. Tidak ada manfaatnya dan malah beresiko merusak hubungan baik dengan mereka. Ada banyak nasehat baik yang bisa gue berikan kepada adik-adik gue itu, dan mendikte mereka harus kuliah di mana jelas bukan salah satunya.

Yang ke dua saat gue posting di salah satu komunitas traveling online Indonesia. Gue cari teman jalan ke Iceland untuk ride sharing dan dengan jujur gue bilang gue enggak bisa nyetir. Respons yang gue dapatkan? 80% komentar yang tidak membantu sama sekali. Ada yang malah nyuruh gue belajar nyetir (padahal, orang yang sudah biasa nyetir di Indonesia saja belum tentu sanggup menyetir di atas salju dan es), dan kebanyakan, malah bilang seolah tidak pantas mencari teman jalan hanya untuk dijadikan supir (malah, ada juga yang minta dibayari tiket pesawatnya, hehehe). Akhirnya, setelah gue dapat teman jalannya, post itu gue hapus dari forum. Menjawab kenyinyiran netijen tidak akan bikin gue merasa lebih baik, yang ada hati akan makin panas dengan balasan mereka. Baru di situ gue sadari istilah ride sharing masih tidak common di Indonesia. Jika mendengar ride sharing saja mereka langsung sewot, apalagi saat mereka tahu soal konsep hitchhiking yang 100% numpang gratisan ya? Gue sempat jelaskan soal konsep ini, sampai gue kasih link khusus komunitas ride sharing sedunia, tapi komentar julid terus saja berdatangan. Niatnya cari teman jalan yang sama-sama orang Indonesia, eh gue malah kena bully. Dan sayangnya, saat mereka sudah terlanjur salah ngomong, mau dijelaskan seperti apapun, mereka tidak akan mau menerima kebenaran yang gue sampaikan. Jadi sudahlah, dihapus saja! Beres masalahnya.

Yang ke tiga, saat ada teman yang mengomentari isi Instagram story yang gue tulis berdasarkan pengalaman kerja di kantor. Dia merasa lebih ahli di bidang itu sehingga apapun yang gue tulis dia anggap salah. Setelah beberapa menit, gue sudahi percakapan itu. Nggak ada untungnya buat gue. Dia ini teman yang sama yang dulu ngotot memaksa gue untuk lebih suka sama penyanyi kesukaan dia dan gemar sekali menjelek-jelekan penyanyj kesukaan gue (padahal, soal selera kan tidak bisa dipaksa!). Dia selalu merasa benar, sehingga kalau mau diteruskan, tidak akan pernah ada habisnya. Gue tidak akan pernah menang melawan dia, dan kalaupun gue bisa menang, apa sih yang sebenarnya akan gue dapatkan? Terus berdebat dengan dia tidak akan membuat gue lebih pintar, yang ada malah akan buang-buang waktu gue saja. Lebih baik waktu itu gue gunakan untuk hal-hal yang jauh lebih bermanfaat!

Gue sangat mengerti lonjakan emosi yang membuat kita merasa gatal ingin mendebat, tapi sekarang, gue lebih memilih untuk memakai logika. Sebelum mendebat, gue tanya pada diri gue sendiri; apa untungnya buat gue? Jika tidak ada, tinggalkan saja. Sebagai muslim, meninggalkan debat kusir ini salah satu bagian dari ajaran agama lho. Dan jika saja ada lebih banyak orang yang mempunyai kesadaran ini, maka perdebatan panas di online media tidak akan sampai separah situasi kita saat ini. Mungkin niatnya baik, tapi akhirnya malah jadi merugikan diri sendiri, merusak tali silaturahmi, dan tentunya, malah merusak image kita di mata lawan bicara.

Think before you argue, once it’s out, it’s out forever.

I am introvert, but I can be extrovert when I have to.

Introvert is not comfort to be in the middle of the crowds, and neither am I. Mingle is definitely not my thing, except when it comes to work. Talking to clients and colleagues is a part of my job description, so that like it or not, I have to blend in. I can’t be just the girl who sits quietly on the corner (even back in college, I always sat on the front row just because it helped me to focus with my study back then).

Introvert is more comfortable with small circle of friends and I find it is so true to me. I feel more engaged with a smaller group of friends and I’m not interested to have more friends in my phonebook. However, that simply can’t be the case when I’m at work. Networking can be so powerful I can’t ignore it at all. Not only networking helps me to achieve my goals, but also it gives me the best opportunity I could possibly have.

Finally, as most people know, introvert is shy, and so am I. Introvert is not that kind of person who is carving to be the center of attention. With that being said, I just can’t be shy at work. I have to show others what I’m capable of even if it will tend to make me as the center of people’s attention. I know that being shy will never take me this far in my career. And it turns out that being well known is actually not that bad, not at all!

Does it mean we have to be extrovert at work? Not entirely. There are many introvert qualities that also keep me going with my career.

The first one, introvert is a good observer. When I don’t talk, I observe, I connect the dots, and I get myself an insight. It makes me good at reading people and this kind of knowledge is a powerful skill you’ve got to have at work. When you know the people you work with, you know how to deal with them so that you can work together with them to pursue the goals (in other words, your goal).

The second one, introvert is a better listener. I’m capable to patiently listen to my colleague instead of rushing to get my own turn to speak. And once again, it helps me to get to know the people I’m working with. It gives me so many useful information about them and about many other things happening in the office. Knowledge is power, and sometimes, all you’ve got to do is just to listen to others’ long talks.

The third one, introvert is usually sensitive and so am I. I can sense how others feel towards something just by looking at their gestures and facial expressions. It helps me to predict someone’s reaction to certain thing so that I can prepare the best way to deliver that information to them. Different people may require different approach, and this is where being sensible can be a huge help.

The fourth one, and this is the most important one, happiness of an introvert comes from within. I don’t lay my personal satisfaction on someone else, not even my bosses. I know myself better than anyone else in the office. That’s why I don’t need my boss’ compliment just to make me proud of my works. Not all bosses keen to let me know how satisfied they are with my works and that’s totally fine to me. Same thing when my boss has a bad day, it won’t instantly get under my skin. His problem is not necessarily my problem too. And that to me, is the beauty of being an introvert.

Unlike many researches out there, I’m a firm believer that introvert and extrovert have equal chance to succeed. Everyone can be anyone they want as long as they work hard and work smart to make it happen. Don’t let ourselves become the barrier of our career. Overcome our personality problems and start to make things happen!

Dari begitu banyak tempat yang ingin gue datangi, berikut ini Top 10 yang belum kesampaian! Semoga gue diberikan cukup umur dan juga cukup waktu untuk mewududkan semuanya. Doakan yaa!

  1. Japan in winter, pengen mampir ke Shirakawa-go saat sedang turun salju dan Jigokudani (mau lihat monyet salju sedang berendam air panas!)
  2. Iceland in winter, pengen coba masuk ke ice cave (mesti kuat dingin!), berendam di Blue Lagoon (di sini boleh pake muslim swimsuit kok), dan pastinya, pengen kejar aurora juga. November tahun ini, insyaallah πŸ™‚
  3. France in summer, terutama karena kepingin foto di ladang bunga lavender saat sedang mekar-mekarnya! Pengen juga hire professionals photographer untuk berfoto dengan Eiffel sebagai backdrop dari berbagai angles! Gue sampe udah simpan beberapa referensi foto untuk nanti berfoto di sana, hehehe;
  4. Foto sambil pangku bayi panda di Chengdu, Cina. Kalau mau, ada juga program volunteer berbayar untuk satu hari penuh. Peserta volunteer bertugas mulai dari bersih-bersih dan kasih makan panda-panda di sana! Aktivitas wajib buat pencinta panda!
  5. Berfoto di tengah gurun pasir yang gede. Foto di tenda dan foto naik unta juga. Waktu ke Arab, cuma sempat foto di sebelah unta dan ukuran gurun pasirnya termasuk kecil banget! Belum good enough untuk centang bucket list gue, hehehehe;
  6. Naik balon udara mengelilingi Cappadocia Turkey dan The Grand Canyon US (kalo nanti main ke US, bolehlah sekalian lihat Niagara Falls, naik ke Empire State Building, dan nonton Broadway);
  7. Pergi ke Maldives bareng sama future husband. Maldives ini udah lama jadi satu-satunya tempat yang nggak akan gue datangi tanpa pasangan. I just don’t think it’s suitable for a trip with friends, isn’t it?
  8. Going back to Santorini, ini juga mesti sama si future husband, hehehehe;
  9. Mampir ke Venice, Italia. Dan ya, ini juga kalo bisa sih pergi sama si future husband gue itu (semoga tulisan ini nggak bikin siapapun orangnya keluar keringat dingin, hehehehe);
  10. My final goal: lihat polar bear di habitat aslinya. Ini bisa dilakukan via Canada, Greenland, Rusia, atau Norway. Pengen juga sekalian foto-foto di rumah igloo yang masih asli (penasaran pingin ngerasain bagian dalam rumahnya). Sebelum datang ke sana mesti latihan tahan dingin dulu nih!

Akhir-akhir ini, sedang ngetren istilah “julid”. Menurut staf gue yang masih baru lulus kuliah, julid itu artinya nyinyir (satu lagi istilah yang juga sedang naik daun akhir-akhir ini). Kemudian tadi pagi, gue menemukan video yang mengatakan, “Online media dapat membuat kita mengatakan hal-hal yang tidak akan kita ucapkan langsung kepada orang yang duduk semeja dengan kita.”

And I find it so true!

Awalnya gue pikir, budaya nyinyir di online media (mulai dari social media hingga news portal) itu hanya sering terjadi di Indonesia saja. Tapi ternyata, di negara-negara maju juga keadaannya enggak jauh berbeda! Bule-bule di LinkedIn gue juga seringkali meninggalkan comments yang isinya bikin geleng-geleng kepala.

Nah, balik lagi pertanyaannya… akankah kita mengucapkan hal yang sama tajamnya langsung kepada orang di depan kita?

Gue pribadi fortunately bukan tipe orang yang cuma berani di dunia maya saja. Apapun yang gue tulis di dunia maya juga bisa gue utarakan langsung di dunia nyata. Meski begitu, gue tetap sependapat bahwa kenyataannya, ada begitu banyak orang di sekitar kita yang bisa berubah menjadi lebih lancang di online media.

Kenapa bisa demikian?

Seperti yang pernah gue tulis sebelumnya, seringkali kita lupa bahwa orang yang kita sakiti di dunia maya adalah orang yang juga punya perasaan di dunia nyata. Itu kemungkinan pertama.

Kemungkinan ke dua, online media telah “berhasil” memunculkan sifat asli yang kita sembunyikan di kehidupan nyata sehari-harinya. Jika benar begitu, maka kita sepatutnya khawatir. Jelas bukan pertanda baik jika sifat asli kita betulan kental dengan kebencian yang membabi buta.

Kemungkinan ke tiga, yang ini sederhana saja: kita cuma pengecut yang hanya berani berkomentar di dunia maya saja πŸ˜‰

Tidak ada yang salah dari menyuarakan pendapat, terutama jika niat dan muatannya positif. Akan tetapi, hal yang paling baik sekalipun akan tetap bisa menjadi suatu hal yang sangat salah jika dilakukan dengan cara yang juga salah. Jangan sampai kita kehilangan teman, keluarga, atau bisa juga, kehilangan kesempatan kerja, hanya karena sesuatu yang kita tulis di dunia maya.

Ingat selalu bahwa sekali kita menaruh sesuatu di online media, maka hal itu akan selalu ada di dunia maya, selama-lamanya.

Ever since I was a little kid, I’ve been trying so hard to be more courageous than I was yesterday. It’s not that I was born brave; it’s just that I push myself so hard to be bold enough even in the most difficult times.

The 8 years old me pushed myself to sleep alone in my room (I put a Qur’an right next to pillow for the first 2 weeks hoping that it would keep all the ghosts away, hehe).

The 15 years old me pushed myself to go asking how I ended with a bad score in an English test directly to the teacher (I was 100% sure that I nailed the test). I still remember how nervous I was before entering that teacher’s room. I was frozen in front of her room trying to convince myself that I would be just fine.

As a grown-up at work, I never hesitate to speak up and give feedback everytime I find it necessary (and it includes feedback for my super mean bosses). I’m not afraid of traveling abroad just by myself. And then in personal life, I didn’t hesitate to ask this question to the guy who kept me wonder where I stood, “How do you actually feel about me?”

Sleeping alone in my room taught me how to be brave. Filing complain to my teacher about my grade taught me how to fight for my rights. Giving feedback to my horrible bosses taught me how to solve a problem (gossiping behind their back will NEVER solve any of it!). And finally, asking how my crush actually felt about me taught me how to get out of my misery. All of it combined have really helped me to win my battles, get many things that I deserve, and turn a lot of my dreams to reality.

I often see many people around me doing stupid things, even in the very little things, just because of their fear. They lie, they pretend, they fake, they hide, they run away, or they simply stay quiet in the name of, “Silence is gold”. It really makes me wonder, “Is it really that hard just to be brave?”

I may have many flaws, but fearful is not one of them. And I couldn’t be more proud of it! I would be ashamed of myself if I ever let my fear got in the way. Give it a try and make yourself proud of you too!

My Blog Counter

  • 1,000,279 visits since May 2011

My Blog Categories

My Blog Archives

Click here to read my tweets…

  • It feels like God is trying to tell me, β€œWait... and see.” 3 weeks ago

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

About Me

What my blog is all about? It's all about my life; my very own fairy tale, that I would love to share. This is my story, my ups and downs, it's a journey to remember.

Advertisements