The Best BB Cushion This Far: YSL!

Buat yang belum tahu, BB cushion adalah bedak cair yang disimpan dalam wadah yang menyerupai bedak badat. Di dalamnya, bedak cair itu disimpan di dalam cushion (bantalan dengan pori-pori). Cara ambil bedaknya harus menggunakan sponge (bisa pakai sponge yang sama dengan sponge untuk bedak padat). Praktis, tapi cepat habis.

Awalnya, gue beli BB cushion merk Clinique karena terpaksa. Waktu itu gue sedang ikut program pendidikan di Lazada Thailand dan kehabisan bedak. SPG di Sephora dekat kantor menawarkan bedak itu dan gue setuju untuk membeli. Dan gue langsung suka dengan hasilnya!

Kelebihan BB cushion:

  1. Lebih ringan dari alas bedak cair;
  2. Medium coverage tanpa terasa tebal di wajah; dan
  3. Penggunaan sponge bikin telapak tangan jadi bebas dari noda bekas bedak! Lebih praktis daripada bedak cair karena enggak usah repot-repot pakai sponge terpisah (seperti Beauty Blender misalnya).

Hanya saja sayangnya, BB Cushion merk Clinique terasa too oily untuk wajah gue. Teman gue lalu menganjurkan merk Laneige; pelopor BB cushion katanya sih. Tapi ternyata, Laneige malah lebih nggak cocok buat kulit wajah gue. Jatuhnya malah lebih greasy dibanding Clinique.

Nggak lama kemudian, gue menemukan iklan Sulwhasoo di Cosmopolitan. Tergoda, gue coba beli, dan yang ini jauh lebih baik! Hanya saja sayangnya, merk ini pun tetap tidak menahan minyak di t-zone gue (dahi dan hidung). Yang paling ganggu, setelah agak siang, akan mulai tampak gumpalan bedak cair di sudut cuping hidung gue. It’s really not cool, isn’t it?

Gue bertahan pakai Sulwhasoo lebih lama daripada Laneige yang langsung gue kasih ke orang lain itu. Kulit gue jadi kelihatan lebih enak dilihat dengan BB cushion keluaran Sulwhasoo. Coverage-nya juga tampak lebih baik daripada Clinique dan Laneige. Sampai akhirnya, gue iseng coba YSL berdasarkan rekomendasi dari adik gue yang sedang obsessed jadi beauty influencer itu.

YSL memang paling mahal dibanding semua merk yang gue tulis di sini, but it definitely worths the price! Masalah bedak menggumpal di sudut hidung itu akhirnya terselesaikan oleh YSL! T-zone gue tetap sedikit berminyak sih, tapi gue rasa itu bukan salah bedaknya, tapi emang kulit gue saja yang terlalu berminyak di daerah hidung. Gue tanpa bedak sedikitpun, di dalam ruangan ber-AC sekalipun, akan tetap mengeluarkan minyak berlebih! Asalkan bedak gue tidak terlihat berantakan saja sudah sangat bagus buat ukuran gue.

Oh ya, YSL sedang mengeluarkan BB cushion special edition dengan case yang sangat cantik! Nanti bisa beli refill-nya saja kalau sudah habis isinya. SPG mereka juga sangat helpful btw. Si mbaknya mengajarkan gue cara supaya sponge-nya awet (dibuka sedikit penutup bagian atasnya supaya ada sirkulasi udara), dan cara mengeluarkan bedak saat sudah hampir habis (cukup dicubit bantalannya). Belanja di sini selalu jadi pengalaman yang menyenangkan buat gue (favorit gue yang lainnya apa lagi kalau bukan lipstik legendarisnya!). Silahkan dicoba jika ada budget lebih untuk make-up!

Critical Eleven – Movie Review

Berawal dari rekomendasi beberapa orang teman, gue jadi kepingin nonton film ini. Tipe film yang bisa menguras air mata katanya. It sounds perfect for my current mood! 

Jadilah gue memisahkan diri dari keluarga setelah acara buka bareng dan langsung beranjak sendirian ke bioskop hanya untuk nonton Critical Eleven. 

Berikut ini serangkaian isi pikiran gue dari awal hingga akhir film. Berhenti baca sampai di sini jika tidak ingin dapat bocoran soal jalan cerita film ini!

Hal pertama yang terlintas di benak gue: aktingnya kok agak kaku ya? Dialognya kurang menggigit. Kenapa dua orang itu cekikikan atas sesuatu yang enggak ada lucu-lucunya? Hmm… Bisa jadi maksudnya, orang yang lagi pdkt emang suka kayak begitu kali ya? Ngetawain hal-hal yang enggak lucu-lucu amat…

Begitu menginjak adegan Ale mengenalkan Anya ke seluruh anggota keluarganya… hati gue mulai meleleh. Tipe adegan yang bikin gue jadi berpikir, “Kalo gue enggak cepat-cepat move on, gue akan semakin lama untuk bisa mendapatkan hidup yang seperti itu.”

Semakin lama, semakin gue menilai dua tokoh utama dalam film ini punya kemampuan akting yang mumpuni. Chemistry-nya dapet banget! Pasangan suami-isteri betulan aja belum tentu bisa menunjukan chemistry sekuat itu! Adegan saat mereka harus berpisah sementara (si Ale ceritanya kerja di tambang minyak laut lepas), lumayan bikin gue jadi berpikir, “Bisa nggak ya, gue menjalani rumah tangga yang seperti itu?”

Konflik rumah tangga mulai bermunculan perlahan. Ale mulai terlihat sebagai sosok suami yang termasuk posesif. Sifat yang sebetulnya sangat tidak cocok untuk dipasangkan dengan karakter Anya yang juga termasuk keras. The conflict looks real and somewhat it feels relatable to myself.

Konflik yang awalnya bisa diatasi dengan cara Anya yang terpaksa mengalah saja, akhirnya mulai terasa terlalu berat saat bayi mereka lahir dalam keadaan meninggal. Akting para pemainnya betulan keren banget! Air mata gue sampai sedikit menetes saat nonton adegan yang satu ini. Enggak terbayang kalau sampai harus melewati cobaan seperti itu!

Pasca meninggalnya anak Ale dan Anya, konflik antara mereka semakin meruncing hingga puncaknya, Ale mengucapkan kalimat yang tidak seharusnya dia ucapkan. Kalimat yang membuat Anya kehilangan gairah untuk mempertahankan rumah tangganya. Dan lagi-lagi, gue merasa terhubung dengan adegan itu. Gue kenal satu cowok yang sifatnya persis seperti Ale: tidak bisa mengendalikan kata-katanya di saat sedang marah. Gue sampai berpikiran, “Pasti seperti itu rasanya kalau sampai gue betulan married dengan cowok ini.”

Sampai sini, sempat ada beberapa adegan yang agak terlalu lebay. Anya terpikir untuk bunuh diri? Orang dengan karakter kuat seperti Anya semestinya tidak punya mental lemah seperti itu. Kemudian saat adegan Ale mengalami kecelakaan mobil… gue malah menghela napas. Pikir gue, “Really? An accident? It’s so typical Indinesian novel story!”

Dan tentu saja, Ale dan Anya akhirnya berbaikan setelah kecelakaan mobil tersebut! Rasa kecewa karena kisah klise itu akhirnya tertutupi dengan adegan penutup film ini. Kehangatan keluarga dan persahabatan di akhir film, membuat gue kembali berbisik pada diri gue sendiri, “Right… At the end of the day, that’s the life I want for my future.”

10 Random Thoughts – Beauty and the Beast 2017 Movie

I watched this movie a couple of weeks back and I just managed to write down my thoughts.

Here we go!

  1. The village and the castle are beautiful! Can’t wait to visit the real castle and village that inspired this fairy tale!
  2. Emma is the most beautiful Belle I’ve seen;
  3. The prince is also cute… except when he puts too much make-up on his face;
  4. I really love the songs! I always love the songs. They reminded me of the broadway show I used to watch! Both are enjoyable!
  5. Promoting gay in this popular fairy tale? Really? They’re kidding me!
  6. A beast becomes a better person only in a week? Even normal people don’t change that fast!
  7. And two people can fall in love only in a week? Come on!
  8. It’s true that there’s always a good side in every people we know though;
  9. The Paris short trip is a nice touch. It fills the gap about Belle’s mother;
  10. I like how they keep most of the original story lines. I just regret the gay casts in this movie.

My Stupid Boss the Movie

Saat pertama dengar film ini akan tayang, awalnya gue lupa-lupa ingat; ini film adaptasi novel yang mana ya? Rasanya kok familiar banget gitu. Lalu entah kenapa, gue malah sempat teringat dengan novel yang bercerita soal atasan yang selingkuh dengan sekretarisnya! Baru saat melihat poster filmnya gue menyadari… Ini My Stupid Boss yang lucu banget itu! Yang diangkat dari kisah nyata itu! Jadilah gue yang awalnya pengen nonton AADC (lagi) malah beralih ke film ini.

Soal jalan cerita kurang lebih sama persis kayak bukunya. Sepanjang film dipenuhi kekonyolan Bossman yang bikin penonton tertawa geli. Di luar itu, ada pula interaksi antar pemain lainnya yang terasa cukup menghibur (untuk bagian ini rasanya tidak pernah ada di versi bukunya). Klimaks cerita hanya sekedar Diana marah besar tetapi langsung jadi luluh saat melihat sisi baik hati dari bosnya itu.

Selain sukses bikin gue tertawa terbahak-bahak, ada pula adegan yang membuat gue ngerasa tersentuh. Yang pertama adegan saat Diana menari-nari dengan teman sekantornya (friendships in office nowadays is hard to find!) dan apa lagi kalau bukan adegan di panti asuhan! Adegan yang seolah mengingatkan kita bahwa selalu ada sisi baik dalam diri setiap orang.

Ya, itu dia pesan moral dari buku dan film ini: selalu ada sisi baik dalam diri setiap orang; semenyebalkan apapun orang tersebut. Dan tiba-tiba saja, gue jadi teringat dengan bos gue yang dulu. Tipe bos yang tidak kelihatan seperti bos. Penampilan sederhana, suka ngomong blak-blakan, senang bercanda dan suka dengan polosnya bilang begini, “Kalo yang susah-susah tanya Riffa aja, dia lebih pintar dari saya, hahahaha.”

Believe it or not, bos gue yang satu ini justru masih jadi bos terbaik yang pernah gue punya. Gue pernah punya bos lain yang jauh lebih pintar, yang lebih bijaksana, bahkan ada pula bos lain yang lebih serius berupaya untuk mengembangkan karier gue, tapi tetap saja, mantan bos gue yang sangat unik itu tetap meninggalkan kesan yang paling mendalam.

Kenapa bisa begitu? Karena banyak hal yang gue pelajari dari dia!

Gue banyak belajar soal kepemimpinan dari bos gue itu. Misalnya, mau tahu kunci untuk mendapatkan loyalitas tim? Jangan pernah jadi atasan pelit yang suka hitung-hitungan! Dan tidak ada salahnya sesekali mengeluarkan uang untuk tim dari dompet kita sendiri! Bukan untuk membeli loyalitas, tapi untuk sekedar membuktikan bahwa kita punya niat baik untuk merangkul tim kita lebih dari hanya sekedar rekan kerja!

Gue juga banyak belajar memaafkan dari bos gue itu. Kelakuan gue di awal kerja benar-benar enggak banget deh. Terlalu labil dan suka heboh mendramatisir keadaan. Si mantan bos udah banyak banget memaklumi kelakuan gue itu. Alasannya sederhana, karena saat itu gue dianggap masih sangat muda. Itu pula sebabnya, jika sekarang gue melihat tim gue bersikap kekanakan, gue akan coba nasehati sambil coba memaklumi, “Mereka masih muda… Suatu saat juga mereka akan sadar dan belajar dari kesalahannya.”

Si mantan bos ini juga mengajarkan gue soal pentingnya berusaha memahami perasaan tim kita sendiri. Amati dan coba tempatkan diri kita sendiri di posisi mereka. Bukan berarti kita harus berusaha membuat mereka selalu merasa senang, melainkan untuk membantu mereka menyelesaikan masalah mereka di dunia kerja. Saat kita sedang menolong bawahan itu sebetulnya sama saja kita sedang menolong tim, perusahaan, dan juga diri kita sendiri sebagai atasannya!

Selain tiga pelajaran penting itu, masih banyak hal-hal kecil lainnya yang gue palajari dari mantan bos gue itu. Soal memberikan perhatian-perhatian kecil, pentingnya memberikan penghargaan atas kerja keras tim, soal team bonding dan lain sebagainya. Itulah sebabnya, tiap kali atasan-atasan gue selanjutnya memuji bakat kepemimpinan gue, dalam hati gue akan langsung teringat dengan atasan gue yang satu itu. Meski gue udah enggak kerja bareng dia lagi, segala hal yang dulu gue pelajari dari dia tetap selalu membantu gue di perjalanan karier gue selanjutnya.

Oh ya, tahu apa lagi satu hal penting yang gue pelajari dari dia? Bahwa sekeras apapun kita berusaha, kita tetap tidak akan pernah bisa menyenangkan semua orang. Kita tetap tidak akan pernah bisa jadi bos kesayangan semua orang. And it’s okay! As long as you’ve done your best, then the rest is none of your business.

Selamat hari Senin dan selamat mencoba untuk jadi atasan yang baik! Don’t be a stupid boss, okay? 😉

Why do We Fall for AADC 2?

Spoiler alert! Jangan baca kalau enggak mau tahu jalan cerita dan ending film-nya!

Belakangan ini gue baru menyadari bahwa sebetulnya, jalan cerita AADC 2 itu tidak ‘ideal’. Sebetulnya, Rangga dan Cinta melakukan hal yang kalau menurut istilahnya Cinta, hal yang ‘jahat’. Coba dipikir lagi… Rangga ngerebut tunangan orang lain dan Cinta selingkuh dari tunangannya. Well, she kissed Rangga first in that movie, didn’t she? Buat gue itu sama aja dengan selingkuh, hehehehe.

Tapi entah kenapa, fakta bahwa mereka berdua melakukan hal yang sifatnya jahat sama sekali tidak mengganggu gue selama nonton film itu. Padahal biasanya, gue paling sebal kalau nonton film tentang orang-orang yang selingkuh. Kesannya kok, seperti membenarkan hal yang salah gitu. Tapi sekali lagi, anehnya, gue tidak merasakan rasa sebal yang sama saat nonton AADC 2.

Kenapa bisa begitu?

Mungkin, tulisan gue setelah ini tidak merepresentasikan pendapat semua orang, tapi jika kamu juga merasakan hal yang sama dengan gue, maka bisa jadi, berikut ini alasannya.

Bisa jadi, kita tidak merasa ada yang salah dengan lanjutan kisah Rangga dan Cinta karena pada dasarnya, kita semua ingin melihat bahwa pada akhirnya, cinta sejati pasti akan bersatu. True love will win, it will always find a way back to each other. 

Kalau meminjam nasehatnya salah satu teman gue, “Jangan sampai elo mutusin buat give up tapi nanti, bertahun-tahun dari sekarang, elo bertanya-tanya sama diri lo sendiri; what if you did it differently? Jangan pernah bikin keputusan yang bikin elo berakhir dengan pertanyaan ‘what if‘ itu.”

Hanya saja kenyataannya, tidak semua orang punya kemampuan atau mungkin kemauan yang cukup keras untuk memperjuangkan true love itu sendiri. Tidak selalu soal mantan pacar yang pernah terlanjur kita tinggalkan, tapi juga semua kesempatan yang pernah kita lewatkan hanya karena kita anggap sebagai ‘mission impossible‘. Itulah sebabnya, saat kita melihat kisah percintaan di layar kaca, kita seolah berkaca pada pengalaman diri sendiri dengan harapan akan melihat ending yang berbeda. Kalau pemikiran gue sendiri, “Di dunia nyata aja hidup gue udah nggak happy ending, masa’ gue nonton film enggak happy ending juga sih?”

Nyaris semua orang yang nonton AADC 2 sudah mengikuti kisahnya Rangga dan Cinta dari film pertamanya. Seolah masih segar di ingatan kita naik-turunnya mereka berdua, betapa cute-nya proses pdkt mereka berdua, sehingga saat melihat merasa nyaris terpisahkan, kita jadi cenderung berpikir, “Seriously? You want to let it go?” Kita jadi melupakan bahwa dalam kisah itu, ada Trias yang tersakiti hatinya 😉

By the way, omong-omong soal Trias, meskipun amit-amit banget sih ya, tapi kalo gue jadi dia, gue akan lebih memilih untuk mengikhlaskan Cinta. Gue malah akan bersyukur Rangga datang kembali di saat yang ‘tepat’. Buat apa married sama seseorang yang hatinya masih ‘milik’ orang lain? Cepat atau lambat, Rangga akan jadi masalah dalam pernikahan mereka anyway. Dan percaya nggak percaya, gue cukup sering menemukan kejadian seperti ini dalam kehidupan nyata.

Dan ya, selain soal cinta segitiga, banyak hal dalam kisah AADC ini sangat dekat dengan kehidupan kita sendiri.

Jatuh cinta dengan orang yang jauh berbeda dengan kita.

Jatuh cinta dengan orang yang sama sekali tidak terduga.

Kisah cinta yang awalnya tidak ‘direstui’ orang-orang terdekat kita.

Terpaksa pisah atau putus karena keadaan.

Perpisahan tanpa penjelasan.

Waktu yang terbuang hanya untuk bertanya-tanya, “Apa yang salah?”

Dan penyesalan yang datang kemudian.

Segala hal yang sifatnya common itulah yang membuat AADC melekat erat di hati kita. Setidaknya, melekat di hati gue. Dan sekali lagi, kesamaan itu pula yang membuat kita mengidam-idamkan happy ending antara Rangga dan Cinta. Happy ending yang diam-diam, kita harapkan untuk diri kita sendiri.

Dan tahu apa yang bisa kita pelajari dari film AADC? Happy ending itu tidak ditemukan, tapi diusahakan. Fight for someone you love. Give your very best fight, before you give it up.

AADC dan ‘Rangga Syndrome’

Warning! This post contains spoiler! Save this post for later unless you are keen on having some kind of sneak peek here 😉

Jadi ceritanya hari ini gue nonton AADC 2 setelah tertunda satu minggu gara-gara Hong Kong-Macau trip gue. Tadinya gue pikir, asyik juga kalo nontonnya sekalian movie date. Tapi berhubung masih jomblo juga, ya sudahlah, nonton sama teman-teman sekantor juga nggak masalah. Dan bener deh, meskipun kamu suka nonton sendirian, khusus untuk AADC lebih baik cari teman nonton. Secara AADC itu identik dengan cerita percintaan dan persahabatan  kan tuh. Sedih aja kalo jadi berasa udah pacar nggak punya, masa’ teman nonton juga nggak punya? Hehehehe.

Di awal film, gue sibuk menganalisa penampilan Cinta and the gank. Mereka itu kan ceritanya kelahiran tahun ’86, which is seangkatan sama gue, dan sempat terpikir di benak gue, “Well… Gue masih lebih awet muda kalo dibanding sama mereka, hehehehe.”

Semua pemain ceweknya lebih cantik sekarang kalo menurut gue. Paling salut sama Titi Kamal. Masih langsing meskipun anaknya udah lebih dari satu! Lalu untuk si ganteng Rangga… Gue yakin banget Nicholas Saputra sampe diet ketat hanya untuk main film sekuel ini, hehehehe.

Hal selanjutnya yang gue amati sudah tentu akting para pemainnya! Gaya akting yang masih nggak jauh beda dengan AADC 1 belasan tahun yang lalu. Dan entah kenapa, ada beberapa adegan Rangga-Cinta yang bikin gue bergumam, “Ih apaan sih” saking kaku dan jadulnya. Maksud gue, emangnya masih ada ya, orang Jakarta yang ngobrol dengan kosakata dan intonasi seperti itu di tahun 2016 ini? Terlalu kaku, baku, dan nggak enak didengar. Dan satu lagi, saat pertama Rangga muncul di layar, gue langsung cekikikan, “Si Rangga masih galau aja!”

Terlepas dari beberapa adegan kaku yang bikin gue berkerut dahi itu, tetap ada, bahkan lumayan banyak, adegan yang bikin gue senyum-senyum sendiri. Berantemnya Rangga dan Cinta emang selalu bikin gemas! Komentar salah satu teman nobar gue, “Pelajaran dari AADC 2: kalo cewek lagi galak mode: on, jangan langsung dikonfrontasi. Ajak jalan-jalan dulu! Bravo, Rangga!” Dan emang bener, cara Rangga mengatasi amarahnya Cinta udah berhasil bikin hati penonton jadi ikutan lumer, hehehehe.

Selain bikin senyum-senyum sendiri, ada pula adegan romantis dan sedih yang bikin gue merinding. Bener-bener merinding. Kayaknya ini film yang paling banyak bikin gue jadi merinding deh. Tipikal merinding yang bikin gue mempertanyakan keputusan yang baru saja gue ambil untuk love life gue sendiri. Tipikal merinding yang bikin sedih sekaligus bikin kita kangen sama orang yang kita suka. Tipe merinding yang bikin kita kepingin jatuh cinta lagi 😉

Tahu apa lagi yang gue suka dari AADC 2? Lokasi syutingnya! Gue tidak menyangka Yogyakarta bisa tampak seindah itu. Dari sekedar vila tempat Cinta dan teman-temannya menginap saja sudah luar biasa cantiknya! Belum lagi sederetan tempat kencan reuninya Rangga dan Cinta! Aaah… Jadi pengen balik lagi ke Yogyakarta! Tempat gue pertama kali ketemu sama first love gue dulu! 😉

Finally soal jalan cerita. Agak-agak klise sih menurut gue. Nggak sengaja ketemu di Yogya dalam waktu yang bersamaan? Cinta nyaris ketabrak truk dan jadi sadar kalo dia harus ngejar Rangga lagi? Oh, come on! Belum lagi Cinta yang udah nyaris married sama cowok lain itu… Cintapuccino banget nggak siih?

Yang konsisten kerennya apa lagi kalau bukan kisah persahabatannya! Persahabatan sepanjang masa dalam suka dan dalam duka. Nggak gampang dan jarang ada, makanya tadi saat nonton, gue jadi ngerasa beruntung! Gue emang payah buat urusan cinta-cintaan, tapi untuk persahabatan, gue masih beruntung punya beberapa sahabat yang sudah gue kenal belasan tahun lamanya! Tadi saja, gue nonton bareng teman sekantor yang juga sahabat gue dari bangku kuliah dulu!

Pada akhirnya, terlepas dari segala kekurangannya, gue tetap suka banget sama AADC 2. Tetap movie of the year kalo buat gue. It’s simply sweet and heartwarming. Tipe film yang bikin gue kepingin nonton sekali lagi! It’s a must watch, terutama buat generasi ABG di tahun 2000 awal kayak gue ini, hehehehe.

Speaking of AADC 2, film ini bikin gue jadi menyadari sesuatu: entah sejak kapan, gue udah terjebak dalam ‘Rangga syndrome‘. You know… Cowok puitis, tukang galau, misterius, susah ditebak, insecured dan kurang usaha buat ngejar cewek yang dia suka… Bahkan ternyata, selain hobi menulis, ceritanya Rangga itu suka fotografi dan traveling juga! Ya ampuun, deskripsinya mirip banget sama cowok terakhir yang gue sukaaa, uups 😀

Tanpa sengaja gue jadi berpikir… Apa yang bikin cowok seperti Rangga kelihatan menarik? Mari gue ulang: tukang galau, insecured dan kurang usaha buat deketin cewek yang dia suka! Apa menariknya coba? Cowok kok ya mellow banget gitu. Kenapa si Cinta bisa tergila-gila? Dan kenapa begitu banyak cewek Indonesia juga ikut tergila-gila sama si Rangga?

Ah sudahlah, itu toh bukan pertanyaan yang ada jawabannya. Toh si Rangga juga, ujung-ujungnya ada perubahannya. Realitanya pun begitu juga. Kalau Rangga tetap Rangga yang menutup diri dari Cinta, siapa pula yang masih akan jatuh cinta sama pujangga ini? Percuma jago nulis puisi kalau merasa mampu terus hidup sendiri…. Penonton juga pasti bosan kalau sepanjang film isinya tetap kebanyakan Cinta yang sibuk ngejar-ngejar si Rangga kayak film pertamanya dulu itu. If the feelings are mutual, the effort will be equal, remember?

Whatever it is, I would say AADC already had a perfect ending. And that tender kiss in a beautiful place like that… It may make you want to have someone by your side too 😉 Watch it and feel what I feel!

Tapi jangan salahin gue kalo abis itu jadi baper sendiri lho yaa, hehehehe.

Selamat menonton!

Cinderella, The Movie

CinderellaHal pertama yang menarik perhatian gue dari film Cinderella adalah lokasi syutingnya. Rumah tempat tinggal Cinderella saja sudah sangat cantik dan mempesona, apalagi istana tempat tinggal sang pangeran! Kelihatan lebih real dan lebih indah daripada Maleficent yang released tahun lalu. Benar-benar tipikal film yang sangat memanjakan mata kalo menurut gue.

Lalu bagaimana dengan jalan ceritanya?

Well, Cinderella is Cinderella. We all know her life story from the beginning until the end. There’s not much of surprises, yet I like this movie a lot more than the cartoon version.

Hal selanjutnya yang gue sukai, film versi 2015 ini menceritakan sedikit lebih banyak hal tentang sosok ibu tiri. Tentang isi hati dan asal muasal kebencian dia kepada Cinderella. We can see her more as a human in this movie version.

Selanjutnya, gue juga suka dengan bagian ending di mana sang Pangeran (yang sudah naik tahta menjadi Raja) ternyata menyamar sebagai pengawal demi ikut mencari Cinderella ke seluruh penjuru negeri. The idea of a man trying so hard to get the woman he loves always works to make my heart feels warm 😉

Gue juga suka satu scene yang menceritakan Cinderella sudah pernah bertemu satu kali dengan sang Pangeran yang kemudian, pertemuan singkat itu pula yang mendorong the prince charming menggelar pesta dansa yang terbuka untuk seluruh gadis di kerajaannya. Setidaknya, ini masih sedikit lebih masuk akal ketimbang jatuh cinta dan tergila-gila hanya karena satu kali pertemuan di pesta dansa.

Yang terakhir, kepribadian Cinderella di film ini terlihat lebih hidup, lebih menarik, dan juga lebih menyentuh hati. I like it when she looked at her step mother and said, “I forgive you.” Percakapan Cinderella dengan ayah kandungnya, dan juga dengan sang Pangeran sudah memberi bumbu tersendiri untuk fairy tale ini.

Terlepas dari kelebihannya, ada pula beberapa hal yang mengusik gue sepanjang film. Yang pertama soal pinggang Cinderella yang kecil banget! Benar-benar mirip figur boneka Barbie kalo menurut gue. Lalu yang ke dua soal noraknya penampilan kedua saudara tiri Cinderella. Si Ibu tiri, meskipun nyentrik, setidaknya masih terlihat fashionable. Tapi kenapa dua puteri kesayangannya dia biarkan berdandan norak seperti itu?

Cinderella gimanapun tetap bukan the best movie of the year buat gue. Apalagi sebetulnya gue tipikal orang yang suka sinis dengan pola pikir ala fairy tale. Maksud gue, kenyataannya hidup tidak pernah semudah itu. Tapi tetap saja, nonton film ini terasa cukup menghibur buat gue. Lagipula, seperti yang pernah gue dengar di salah satu American TV show, “Everyone, no matter how cynical, wants a happy ending.”