AADC 2014 – Will You Ever Wait THAT Long?

imagesJadi awalnya, gue rada-rada bingung kenapa beberapa orang temen di Path bikin posting tentang AADC. Awalnya cuma lihat-lihat sepintas, secara kerjaan di kantor lagi banyak-banyaknya. Tapi begitu tadi sampe di rumah, gue baru sadar… ceritanya LINE baru aja bikin short movie tentang kelanjutan kisah Rangga dan Cinta, 12 tahun kemudian.

Penasaran, gue langsung buka Youtube. Dan bener aja… video AADC 2014 itu langsung muncul di layar laptop. Tanpa pikir panjang, gue tekan “Play“.

Nonton dulu video-nya, di sini.

Hal pertama yang gue suka dari video ini adalah saat muncul tulisan “Ada Apa Dengan Cinta” diikuti angka “2002” yang lalu berganti menjadi “2014”. Gue jadi sadar… sudah 12 tahun berlalu sejak pertama kali gue nonton drama yang kemudian membangkitkan dunia perfilman Indonesia itu. Jadi ingat masa-masa SMA. Harus ngantri panjang demi dapat tiket nontonnya. Jaman-jaman ngikutin gaya bicara ala Cinta dan kawan-kawan. Dan tentunya, jadi ingat betapa cute-nya cinta monyet ala SMA dulu 😉

Hal ke dua yang melintas di benak gue… Seriously? Jadi setelah ending film itu, mereka 12 tahun enggak ketemu??? Rangga nggak pernah pulang lagi ke Jakarta selama itu? Dia ngelupain Cinta begitu aja tanpa ada kabar berita? No wonder kalo awalnya Cinta enggak mau bales LINE-nya Rangga! Saat lagi kesel-keselnya nonton short movie ini, gue lalu kepikiran. “Lho… bukannya dulu itu pernah ada kelanjutan AADC versi sinetron? Rangga-nya pulang lagi ke Indonesia bukan?” Tapi sudahlah. Anggap aja sinetron itu enggak pernah ada, hehehehe.

Hal selanjutnya yang bikin gue mengerutkan kening… Jadi cuma segitu aja, usaha Rangga buat dapetin lagi Cinta yang udah dia ‘terlantarkan’ selama 12 tahun lamanya? Hanya sekedar 2 baris LINE buat ngajakin ketemuan? Kesannya kok, kayak iseng-iseng berhadiah yah? Itu lho… kayak cowok-cowok galau yang kalo galaunya lagi kumat, suka iseng-iseng texting ngajakin ketemuan. Kalo mau ya syukur, enggak mau juga nggak papa.

Saat beranjak ke ending short movie di bandara, gue makin gemes aja. Again??? Cinta yang ngejar-ngejar ke bandara? Emang efek emansipasi kali yah… Jadi malah si cewek yang harus lebih usaha buat mulai suatu hubungan… Kenapa juga bukan si Rangga yang usaha ketemuan sama Cinta, face to face? Kenapa harus Cinta, lagi, yang usaha buat cari-cari jadwal penerbangan si Rangga lalu nyusul ke bandara?

Hal terakhir yang melintas di benak gue… Will you ever wait that long? Dan kenapa juga mereka berdua masih sama-sama single saat usia mereka udah masuk kepala 3? Apa iya karena emang mereka udah sebegitu berjodohnya gitu? And will you ever give someone a second chance after 12 years passed you by? A second chance for someone who terribly failed you 12 years ago?

Well... terlepas dari isi kepala gue yang nggak penting-penting amat itu, gue tetep lebih suka ending versi short movie ini daripada versi sinetron yang gue bahkan udah lupa gimana ending-nya itu. Senang rasanya melihat bagian dari masa remaja kita itu muncul kembali di depan mata, di saat semua pemainnya sudah beranjak dewasa. Bukan hanya reuni untuk para pemainnya, tapi juga reuni untuk semua penggemar setia 🙂

Sekali lagi pertanyaannya; will you ever wait that long?

Kalian pernah nggak sih… jatuh cinta sama seseorang yang lebih memilih untuk pergi? Sedih campur benci kenapa malah ditinggal gitu aja… Ngerasa nggak dikasih kesempatan… Kangen tapi gengsi kalo harus cari-cari dia duluan… Harap-harap cemas bakal dia duluan yang nyariin kita… Makin lama nggak ada kabar, mau move on tapi masih nyimpen harapan someday dia akan balik lagi… Mau move on tapi selalu ada aja yang ngingetin kita sama dia… Terus begitu, sampai lama-lama, harapan itu memudar dengan sendirinya.

Orang yang menjawab “iya” untuk pertanyaan gue di paragraf sebelumnya, mestinya bisa mengerti, kenapa pada akhirnya, Cinta memberikan kesempatan ke dua buat Rangga. Umumnya kita bisa mengerti, cinta yang tidak pernah diberi kesempatan untuk tumbuh, adalah cinta yang tidak akan pernah benar-benar mati. Bisa saja ada cinta-cinta selanjutnya, tapi cinta terpendam yang dulu pernah dipaksa mati itu, akan tetap tersimpan dalam lubuk hati yang paling dalam.

Dia akan selalu jadi cerita masa muda favorit kita. Dia akan selalu tersimpan sebagai impian yang terpendam. Dan dia… akan selalu menjadi bagian dari andai-andai yang melintas di benak kita. Sebuah andai-andai, yang hanya akan berakhir jika diberi kesempatan untuk mewujudkannya.

Untuk menutup tulisan ini, gue ingin mengutip satu quote yang gue dapat dari Pinterest: “It might take a day, it might take a year, but what’s mean to be will always find its way.”

Selamat 12 tahun Ada Apa Dengan Cinta!

P.S.: Nicely done for LINE Indonesia! I love love it! The best advertisement ever! Anyway, Dian Sastro makin cantik ajaa. Jadi iri, hehehehe.

G.I. Joe Retaliation: Big Disappointment for Big Fan

GI Joe RetaliationWarning… this post contains spoiler. Buat kamu yang belum pernah nonton dan nggak ingin tahu bocoran ceritanya, cukup berhenti sampai di paragraf ini.

Pertama kali nonton G.I. Joe pada tahun 2009, gue langsung suka! Sejak nonton film ini pula, gue jadi ngefans sama Channing Tatum dan mulai heboh cari setiap film yang pernah dia bintangi. Nggak heran kalo gue pun jadi menanti-nantikan sekuel action movie yang satu ini.

Gue penasaran… gimana nasib Ana Lewis (Sienna Miller), pacarnya Duke (Channing Tatum) setelah akhirnya berhasil lepas dari cengkraman pasukan Cobra? Gimana kelanjutan persahabatan Duke dengan Rex yang tidak lain saudara kandungnya Ana? Dan akan ada teknologi canggih apa lagi yang dimiliki oleh pasukan G.I. Joe selanjutnya?

Buat kalian yang belum pernah nonton film pertamanya, G.I. Joe: The Rise of Cobra, mungkin akan menilai sekuel film ini keren-keren aja. Adegan action-nya emang tetap seru, terutama yang bagian kejar-kejaran ala ninja antara Snake Eyes dan Jinx versus pengawal-pengawalnya Cobra di tebing-tebing curam. Tapi bagi penggemar G.I. Joe sejak lama yang masih ingat persis jalan cerita film pertamanya, dijamin kecewa saat nonton G.I. Joe Retaliation.

Lupakan rasa penasaran gimana nasib Ana yang sempat disuntikkan nano-mites oleh kakaknya sendiri, karena di film ke dua, Ana tidak muncul sama sekali. Namanya sama sekali tidak disebut, seolah tidak pernah ada tokoh Ana dalam sejarah G.I. Joe. Lupakan pula teknologi super canggih seperti yang banyak kita lihat di film pertama, karena satu-satunya senjata yang paling canggih di G.I. Joe Retaliation hanya senapan yang punya menu touch screen yang sebetulnya, senjata yang mirip-mirip juga sudah pernah ada di film pendulunya. Dan yang paling mengecewakan adalah… tokoh Duke cuma muncul sebentar lalu dibikin mati di medan perang. Mati terkena serangan udara, lalu sosoknya hilang begitu saja. Sama sekali kisah kematian yang tidak berkesan. Orang yang enggak pernah nonton film pertamanya pasti nggak akan menyangka bahwa sebetulnya dan seharusnya, Duke adalah tokoh utama dalam film ini.

Seolah itu semua belum cukup mengecewakan, satu-satunya anggota G.I. Joe yang masih terus eksis dalam sekuelnya hanya tinggal the Snake Eyes saja. Jagoan-jagoan lainnya benar-benar tidak muncul batang hidungnya. Jagoan ceweknya pun berganti tokoh dari Scarlett menjadi Jaye. Tapi untunglah kisah hidup Snake Eyes dan Storm Shadow masih terus dibahas tuntas, kalau tidak, film ini benar-benar sudah kehilangan ‘napas’ G.I. Joe-nya.

Sampai sekarang gue belum dengan desas-desus seputar film ini. Misalnya, kenapa tokoh Duke dihilangkan begitu saja? Atau, kenapa anggota tim inti G.I. Joe-nya dirombak total? Dan kenapa tokoh Ana dan Rex dihilangkan begitu saja? Padahal, konflik antara Duke, Ana, dan Rex merupakan salah satu bumbu cerita yang paling menarik di film pendahulunya.

Terlepas dari hal-hal yang gue anggap mengecewakan dari film ini, sekali lagi, gue tetap mengakui adegan action dalam film ini memang asli seru dan layak tonton. Tidak ada kisah cinta-cintaan dalam film ini – dan bahkan setelah gue pikir-pikir, rasa-rasanya ini film action pertama yang gue tonton yang tidak menampilkan romantic scene sama sekali – tapi hal itu nggak bikin film-nya jadi terasa hambar. Kemudian meskipun tim G.I. Joe tidak lagi bersenjatakan teknologi tingkat tinggi seperti dulu, untuk special effect, sekuelnya ini tetap memanjakan mata penonton. So overall, it’s a fine movie, it’s just disappointing me who has been waiting for years just to see my favorite actor died just like that in this movie.

Dalam hati kecil, gue masih berharap, kekecewaan ini akan terbayar di film ke tiga. Mungkin sebenarnya, Duke masih hidup, dan nanti masih akan ada kelanjutan kisah Duke dan Ana juga. Soalnya to be honest… gue enggak ngefans sama jagoan-jagoan G.I. Joe yang baru, dan kalo buat gue. nonton film tanpa ada aktor favorit yang bermain di dalamnya itu ibarat makan sayur tanpa garam, hehehehe.

Perfect Ending in Breaking Dawn Part II

Biasanya, gue enggak gitu ngefans sama serial Twilight. Gue emang baca habis semua bukunya, dan selalu nonton film-filmnya, tapi ya udah, cuma sekedar gitu aja. Bukan tipe orang yang baca bukunya dan nonton filmnya sampe berkali-kali. Malah sebenernya, gue termasuk tipe orang yang suka mencela berbagai keganjilan dalam serial ini. Soal keberadaan vampir aja gue udah nggak percaya, apalagi vampir vegetarian yang bisa menghamili manusia biasa? Come on…

Terlepas dari kesinisan gue sama serial ini, gue akui, gue sudah merasakan chemistry yang sedikit berbeda saat menyaksikan official trailer-nya Breaking Dawn Part II. Trailer-nya itu keren, menyentuh hati, dan bikin gue jadi penasaran pengen cepet nonton filmnya.

Akhirnya Sabtu kemarin, gue dan adek gue nonton Breaking Dawn Part II di Mall Taman Anggrek. Bagaimana jalan ceritanya?

Kalo menurut adek gue yang mengaku Twilight big fan itu, terdapat beberapa perbedaan detail antara film dengan novelnya. Tapi kalo menurut gue… ada beberapa hal yang sudah sesuai dengan imajinasi gue saat membaca novelnya. Misalnya, rumah yang dihadiahkan untuk Edward dan Bella. The house is as beautiful as I imagined. Tidak semewah rumahnya Carlisle, tapi tetap terlihat klasik, manis, dan bikin iri! Kemudian soal kemarahan Bella saat tahu Jacob mengalami imprint dengan Renesmee (anaknya Bella dan Edward), itu juga mirip-mirip dengan apa yang gue bayangkan.

Jadi kalo menurut gue, film ini berhasil mewujudkan imjinasi para pembaca novel pada umumnya. Malah lebih dari itu, versi film menampilkan humor yang berhasil mengundang tawa para penonton. Thumbs up buat para pemain yang bisa menampilkan kelucuan itu hanya dengan gerak tubuh, mimik wajah, dan intonasi yang tepat. I just cannot remember whether I have ever laughed while reading the books, so I think this is a plus point for the movie.

Soal jalan cerita, sebetulnya tidak ada yang berbeda, kecuali satu kejutan besar saat pertarungan antara tim Edward dengan Volturi. Dari yang awalnya gue sempat berpikir, “Gilaaa… filmnya kok jadi nyebelin gini sih? Nyesel gue udah bela-belain ngantri tiket hampir 2 jam, dalam keadaan baru sembuh sakit pula!” Tapi ketika film itu tinggal sedikit lagi berakhir, gue malah langsung berubah pendapat, “This is the coolest Twilight movie ever! Malah, masih lebih bagus filmnya daripada bukunya!”

Soal detail cerita, gue enggak mau ngebocorin. Satu hal yang gue berani bilang, kali ini, film ini juga akan disukai oleh penonton cowok. Biasanya kan cowok-cowok suka ngeluh filmnya Twilight itu more romance but less action tuh. Tapi kalo kali ini, adegan action-nya terbilang seru, mendebarkan, dan sangat-sangat menguras emosi penonton. I never thought this movie would be as cool as this. Malah kalo menurut gue, masih lebih seru Breaking Dawn Part II daripada Skyfall…

Oh ya, satu hal yang selalu gue sukai dari Twilight adalah kisah persahabatan antara werewolf dengan vampire meskipun sebenarnya, golongan mereka itu sudah saling bermusuhan sejak jaman dahulu kala. Terharu rasanya saat melihat gerombolan serigala melangkah masuk ke lapangan untuk melengkapi tim Edward saat mereka hendak menghadapi Volturi. Lebih terharu lagi ketika akhirnya, mulai ada satu serigala yang berhasil dibunuh oleh tim lawan… Sedih banget rasanya saat layar menunjukkan kesedihan di kedua bola mata serigala yang terbunuh itu… Belum lagi lolongan pilu dari kawanan serigala lainnya saat melihat kawanan mereka terkapar tidak berdaya.

Yang terakhir ingin gue komentari adalah soal pemilihan pemainnya. Renesmee saat masih bayi terlihat cukup menggemaskan, tapi masih lebih lucu lagi si bayi immortal yang kemudian dibakar hidup-hidup oleh Volturi. Kemudian pada saat pertarungan itu terjadi, kalo menurut gue, pemeran Renesmee harusnya sedikit lebih muda daripada itu. Tapi kalo aktingnya sih udah cukup ok lah buat ukuran aktris cilik.

Finally, Breaking Dawn mengakhiri kisahnya dengan manis, dan ditutup dengan credit title yang menampilkan foto-foto seluruh pemain film dari mulai Twilight sampai Breaking Dawn. Para penonton pun terlihat meninggalkan bioskop dengan wajah puas, film yang sudah lama dinanti-nantikan menyajikan ending yang terbilang sempurna.

Gue pernah membaca komentar seorang pengamat film lokal. Katanya, untuk menjadi film yang berkesan, cukup berikan pembukaan yang bikin penasaran, dan penutupan yang tidak terlupakan. Jadi sekali lagi, terlepas dari semua kesinisan gue sama serial ini, gue akui, versi filmnya udah berhasil menyajikan ending yang tidak terlupakan. Berhasil memunculkan perasaan romantis dalam hati penontonnya, sekaligus memunculkan harapan kecil bahwa mungkin, loving someone for forever does still exist.

Loyalitas Kepada Atasan ala Skyfall

Menurut gue, big theme dari Skyfall adalah soal menguji loyalitas James Bond terhadap atasannya yang biasa disapa M. M yang memerintahkan anak buahnya untuk menembak musuh meskipun saat itu sang musuh sedang berduel dengan Bond di atas kereta yang melaju cepat sehingga beresiko salah sasaran, dan M yang berbohong agar dapat menerjunkan Bond kembali ke lapangan meskipun sebetulnya, menurut hasil tes mental dan fisik menyatakan Bond tidak lagi layak untuk bertugas. Ditambah lagi, ada hasutan dari mantan anak buah M tentang betapa tidak berperasaannya M kepada dia di waktu yang lalu. Jika kita yang menjadi James Bond, masihkah kita percaya, mau bekerja untuknya, bahkan masih mau mati-matian berusaha untuk melindungi nyawa M?

Jalan cerita Skyfall menurut gue terbilang sederhana. Tidak banyak unsur teka-teki dan tidak ada kejutan di akhir cerita seperti film action papan atas pada umumnya. Soal adegan laganya pun menurut gue standar-standar aja. Berkejaran dengan musuh menggunakan motor dan mobil sampai bikin keadaan kota panik dan kacau berantakan, berkelahi di atas kereta yang sedang melaju, memanfaatkan tabung gas untuk menciptakan ledakan, atau menembak permukaan danau yang membeku untuk mengalahkan musuh. Semua orang yang hobi nonton film pasti pernah melihat adegan sejenis di berbagai judul film lainnya.

Soal special effect juga nothing new lah ya. Udah sering disuguhi special effect yang wow dalam film-film masa kini, terutama film yang mempunyai versi 3D, membuat special effect di Skyfall jadi terlihat biasa-biasa saja. Tapi soal ide ada pistol yang hanya bisa dipakai oleh pemiliknya sounds like a good one sih. Rasanya udah bosen lihat adegan laga di mana pistol yang terlepas dari tangan sang jagoan malah berhasil direbut oleh sang musuh.

Selain beberapa kekurangan yang gue sebutkan di atas, tetap ada satu kelebihan yang nyaris selalu menjadi ciri khas film-film James Bond: menampilkan pemandangan yang spektakuler. Shanghai, Macau, dan Scotlandia tampak sangat menawan di film ini. Shanghai dengan gedung-gedung pencakar langitnya, Macau dengan keunikan kasinonya, dan Scotlandia dengan pemandangan alamnya… Bener-bener bikin pengen dateng ke sana! Bahkan Macau yang sudah pernah gue kunjungi pun terihat jauh lebih cantik di film ini.

Saat nonton Skyfall, dalam hati gue berpikir… Kalo gue jadi meneteri pariwisata Indonesia, gue bakal ngelobi PH film-film Hollywood sekelas James Bond supaya mau syuting di Indonesia. Let’s say, di Raja Ampat yang mempunyai pemandangan atas dan bawah laut yang luar biasa indah. Masih ingat salah satu pulau di Pha Nga Bay Phuket, Thailand yang kini ramai dikunjungi turis dan lebih dikenal dengan James Bond Island? Film James Bond yang berjudul The Man with the Golden Gun pernah syuting di tempat itu pada tahun 1974. Sudah lewat puluhan tahun… tetapi pulau itu tetap jadi salah satu top destination di Phuket.

Pada akhirnya, meskipun jalan cerita terbilang sederhana dan special effect tidak tampak luar biasa, Skyfall tetap salah satu film yang tergolong must watch di tahun ini. Bond Girl yang sangat cantik dan seksi, akting pemeran Silva (si penjahat) yang sangat all out, nice soundtrack, pemandangan kota dan alam yang sangat spektakuler, ending yang cukup menyentuh, dan moral lesson yang bisa kita dapatkan setelah nonton film ini.

Bicara soal moral lesson dalam Skyfall kembali lagi bicara soal loyalitas terhadap atasan. Gue pernah merasakan sendiri betapa sulitnya untuk tetap mempercayai atasan setelah mendengar berbagai sisi negatif tentang diri si bos yang beberapa di antaranya merupakan fakta, dan bukan sekedar isapan jempol belaka. Tidak peduli betapa baiknya si bos selama ini, tetap akan terasa sulit untuk kita tetap mempertahankan loyalitas pada saat-saat buruk seperti itu. Akan tetapi yang tidak kalah sulitnya bukan hanya mempertahankan loyalitas terhadap atasan di saat-sata terburuknya, melainkan juga bagaimana caranya agar kita bisa menjadi atasan yang dapat dipercayai sepenuhnya oleh anak buah kita?

Sebagai atasan, gue selalu berusaha untuk menjaga performance dan credibility gue dengan sebaik-baiknya. Oleh karenanya, di luar itu gue berharap anak-anak buah gue pun akan selalu berusaha untuk percaya sama gue, tidak mudah terpengaruh oleh gosip-gosip yang beredar, dan selalu mencoba untuk melihat alasan kenapa gue melakukan sesuatu yang tampaknya tidak ideal itu? M was so lucky to have an agent like James Bond, and I wish I could be as luck as she was 🙂

The Hunger Games Trilogy: My Book Review

Satu hal yang selalu bikin gue salut dari penulis-penulis bule adalah daya imajinasi mereka yang sangat all out. Mereka seolah menciptakan dunia baru yang jauh berbeda dengan kehidupan saat ini. New governmental rules, new society, advanced technology, and many details in such a new world. Misalnya, novel Harry Potter dengan sekolah sihir Hogwarts-nya, The Selection dengan negara Illea, dan The Hunger Games dengan negara Panem.

The Hunger Games yang diikuti oleh 2 sekuelnya: Catching Fire dan Mockingjay mengambil tema dystopia a.k.a gambaran kehidupan masa depan yang justru lebih suram daripada masa sekarang. Sang penulis, Suzanne Collins, menggambarkan cukup detail sistem pemerintahan dan kondisi masyarakat di negara Panem. Nice try, hanya saja sayangnya, kalau kita mau berpikir logis sejak awal, sebetulnya yang namanya pertandingan mematikan ala Hunger Games ini jelas tidak mungkin bisa terjadi di muka bumi ini. Apa kabar PBB dan badan-badan HAM di negara tetangga? Hal ini yang terlewat oleh Suzanne: dia tidak menggambarkan apakah Panem itu tinggal satu-satunya negara yang tersisa di masa depan atau bagaimana?

Kelemahan detail lainnya adalah sulitnya buat gue mendapatkan greget dari panasnya situasi politik di Panem. Gue ngerti banget kenapa penduduk 13 distrik sampe sebegitu bencinya sama The Capitol, tapi gue enggak gitu nangkep adanya benang merah yang nyata antara sikap Katniss dan Peeta sepanjang Hunger Games dengan tersulutnya pemberontakan melawan pemerintah Capitol. Rasanya enggak ada sesuatu yang luar biasa berkesan yang bisa bikin Katniss dijadikan simbol pemberontakan. Penulis udah usaha banget buat jelasin, tapi kalo menurut gue, ujung-ujungnya justru too much details yang enggak banyak manfaatnya.

Selain soal detail yang kurang menggigit, gue juga menemukan satu klise yang umum terjadi dalam penulisan novel: banyaknya orang yang dengan sukarela mendukung sang tokoh utama tanpa alasan yang cukup kuat. Harusnya kan dibutuhkan alasan yang luar biasa besar untuk bisa membuat orang lain sampai rela mengorbankan nyawa demi si tokoh utama misalnya. Terlalu sering menemukan hal ini di trilogi Hunger Games malah bikin gue enggak lagi ngerasa tersentuh.

Satu kekurangan lain yang ingin gue tulis di sini adalah terjemahan yang tidak sempurna. Gue agak sulit membayangkan manuver yang ingin digambarkan si penulis, dan suka agak sulit juga memahami isi dari kalimat yang diterjemahkan itu. Udah gitu ada cukup banyak paragraf yang harusnya terpisah malah digabung menjadi 1 paragraf yang sama. Hal ini lumayan bikin bingung… jadinya ini siapa yang lagi ngomong sama siapa? Mungkin emang sengaja digabung untuk menghemat kertas kali yaa.

Well… terlepas dari segala kekurangannya, kenyataannya, I could declare that I’m a big fan of Hunger Games. Rasanya tuh ada ikatan khusus yang bikin gue suka banget sama trilogi ini. Jalan ceritanya bikin novel ini bikin gue enggak sabar pengen cepet baca sampai selesai. Rasanya penasaran banget untuk baca bab selanjutnya, bener-bener tipe buku yang bisa bikin lupa makan dan lupa mandi, hehehehe. Saking sukanya, tiga buku yang masing-masing setebal kurang-lebih 400 halaman ini gue habiskan tidak sampai 3 hari saja. Andai gue nggak perlu tidur, makan, minum, mandi, dan silaturahmi ke luar rumah dalam rangka lebaran, gue yakin bisa nyelesain baca buku ini dalam 24 jam.

Lalu apa yang bikin gue jatuh cinta setengah mati sama buku ini? It’s simply the romance. Terharu banget rasanya melihat betapa besar cinta Peeta buat Katniss. Peeta is not perfect, but he loves Katniss perfectly. Aww… 😉 Selain itu… ya itu tadi: jalan ceritanya bikin penasaran!

Menurut pengamatan gue, seringkali tidak dibutuhkan detail yang luar biasa rapih, karakter yang luar biasa kuat, dan jalan cerita yang luar biasa seru untuk membuat sebuah buku mendapatkan gelar best seller. Cukup taruh saja beberapa adegan romantis yang berkesan di hati pembaca, maka dijamin… buku itu bakal jadi favorit kaum hawa. Oh ya, jangan lupa… resep utamanya adalah, harus si cowok yang lebih cinta sama ceweknya. Bikinlah cerita yang bisa bikin para pembaca jadi berkhayal, atau jadi kepingin, mempunyai kisah asmara dan juga punya pacar yang sehebat itu. Resep cerita seperti ini selalu berhasil bikin cewek jadi tergila-gila.

Kita ambil contoh serial Twilight. Gue bisa bilang semua kelemahan The Hunger Games yang gue sebut di atas ada semua di bukunya Stephenie Meyer sangat booming ini. Tapi tetap saja Twilight jadi favorit cewek-cewek di berbagai belahan dunia… Karena apa? Ya karena romatisnya, dan lagi-lagi, karena besarnya cinta si tokoh utama cowok untuk ceweknya.

Untuk buku lokal, gue ingin ambil Lukisan Hujan-nya Sitta Karina sebagai contoh. Tulisan Sitta di buku itu masih belum sebaik tulisan dia di buku-buku terbarunya. Di Lukisan Hujan, gaya penulisan Sitta masih agak sulit dipahami. Konfliknya juga kurang kuat dan kurang menggigit. Meski begitu, buku ini tetap melejit sebagai best seller hanya karena 1 alasan utama: romantisme yang sungguh menyentuh hati pembaca.

Seperti review yang pernah gue tulis via Goodreads, kisah dalam trilogi ini udah berhasil mengubah sudut pandang gue soal kriteria pacar idaman. Kenyataannya memang benar, cewek-cewek tidak selalu mencari cowok yang paling hebat, mereka jauh lebih membutuhkan cowok yang bisa mencintai mereka dengan hebat. Gue sampe dengan polosnya berpikir, “Peeta emang kelihatannya cupu, tapi pengen deh, punya pacar kayak Peeta.”

Finally, selain bikin gue jadi ngefans sama tokoh Peeta, trilogi The Hunger Games bikin gue kembali tergugah, “Oh my God… kapan ya, gue bisa nyelesain novel gue sendiri? Gue pengen bikin novel yang nggak kalah hebat!”

Well, gue janji, setelah gue posting review ini di blog, gue akan langsung terusin ngetik novel perdana gue. Doakan yaa!

Cinta Sejati ala The Hunger Games

Berawal dari nonton filmnya, gue langsung tertarik buat ngeborong 3 novelnya sekaligus. Novel yang cukup tebal, masing-masing buku berisi sekitar 400 halaman. Terdapat beberapa perbedaan detail cerita antara The Hunger Games versi film dengan novelnya. Tapi dalam kesempatan ini, gue lebih memilih untuk menulis berdasarkan sudut pandang buku. Gue enggak akan membocorkan soal akhir dari pemerintahan kejam ala Capitol, di sini gue lebih tertarik untuk membahas akhir dari kisah asmaranya. Jadi buat kamu yang yang tidak mau melihat bocoran ending kisah cinta dari trilogi ini, silahkan stop baca tulisan gue sampai di sini saja.

Mengambil setting di masa depan, The Hunger Games bercerita tentang permainan mematikan yang diadakan satu tahun sekali oleh Capitol, semacam ibu kota dari negara Panem (ceritanya, Panem ini dulunya adalah Amerika Utara). Peserta Hunger Games bukan penduduk Capitol, melainkan dua orang remaja perwakilan dari setiap distrik yang mengelilingi kota tersebut.  In total ada 12 distrik yang masih eksis, sehingga setiap tahunnya, terdapat 24 peserta Hunger Games yang biasa disebut dengan the tributes. Dalam Hunger Games ini, the tributes diharuskan untuk saling membunuh hingga tinggal tersisa satu tribute yang akan meraih gelar The Victor.

Hunger Games diselenggarakan oleh Capitol sebagai hukuman atas pemberontakan 12 distrik tersebut 74 tahun yang lalu. Hal ini dianggap efektif untuk menakut-nakuti penduduk distrik agar tidak berani mengulangi pemberontakan melawan Capitol.

Pada Hunger Games ke 74, Distrik 12 diwakili oleh gadis bernama Katniss, dan remaja pria bernama Peeta. Kemudian diketahui, ternyata Peeta sudah memendam cinta kepada Katniss sejak belasan tahun lamanya. Jadi bagaimana mungkin Peeta tega menghabisi nyawa Katniss? Karena itulah sejak awal, Peeta cenderung mengalah, dan selalu mencari cara untuk menjaga agar Katniss bisa tetap hidup di arena Hunger Games. Dalam Hunger Games, hanya ada satu pemenang… Dan Peeta ingin, satu orang pemenang itu adalah Katniss, meskipun itu berarti, Katniss harus tega membunuh Peeta.

Katniss sendiri sebetulnya sudah beberapa tahun dekat dengan laki-laki lain bernama Gale yang juga berasal dari Distrik 12. Jadi bisa ditebak… ada konflik cinta segitiga yang menjadi bumbu dalam trilogi Hunger Games. Di sini ada Katniss, gadis tangguh yang sudah menjadi tulang punggung keluarga sejak usia dini. Ada Peeta, anak dari keluarga penjual roti yang termasuk berkecukupan, yang cenderung penakut dan sejak awal Hunger Games dimulai, dia sudah bertekad tidak akan pernah mau membunuh siapapun di arena itu. Makanya selama latihan, daripada mempelajari cara untuk membunuh, Peeta lebih tertarik mempelajari cara untuk melindungi diri. Kemudian ada Gale, anak penambang batu bara yang cenderung nekad dan sangat mudah tersulut amarahnya.

Logikanya, gadis manapun akan lebih memilih Gale daripada Peeta. Gale digambarkan memiliki bentuk tubuh atletis dan wajah yang sangat tampan. Kemudian Gale itu pemberani. Dia dan Katniss sama-sama berani melanggar peraturan pemerintah keluar dari pagar pembatas distrik hanya untuk berburu di dalam hutan. Berbeda dengan Peeta yang di awal permainan tampak manis dan tampak lemah. Jadi tentunya, secara kemampuan fisik, Gale jauh lebih unggul daripada Peeta yang hanya pandai membuat dan melukis roti.

However, believe it or not, gue… tipe cewek yang menggemari cowok yang ‘laki banget’, berkali-kali merasa jatuh cinta dengan sosok Peeta.

Peeta yang masih ingat warna baju dan kepang rambut Katniss di hari pertama mereka sekolah saat masih kanak-kanak.

Peeta yang hapal gerak-gerik dan kebiasaan Katniss.

Peeta yang pernah rela dipukuli orang tuanya hanya demi bisa memberikan sepotong roti kepada Katniss yang sedang kelaparan.

Peeta yang berusaha menjadikan Katniss favorit penonton hanya supaya gadis itu mendapat banyak bantuan dari penonton untuk terus bertahan hidup di arena Hunger Games.

Peeta yang setengah mati melawan Cato, tribute paling jago di arena Hunger Games, sampai mendapat luka tusukan di kakinya hanya supaya Katniss bisa melarikan diri dari kejaran Cato yang sangat bernafsu untuk membunuh Katniss.

Peeta yang jauh lebih peduli pada keselamatan Katniss daripada keselamatan dirinya sendiri… Bahkan saat sedang menjadi tawanan pemerintah pun, Peeta tetap nekad membocorkan rencana serangan pemerintah supaya Katniss dan sekutunya dapat bersikap waspada… Dan tentunya setelah itu, Peeta harus rela disika habis-habisan atas ulahnya tersebut.

Atau hal-hal kecil… seperti saat Peeta memberikan jaketnya dan mengancingkan jaket itu untuk Katniss, atau sekedar memeluk dan membelai rambut Katniss yang sedang ketakutan saat dihantui mimpi buruk dalam tidurnya.

Kedengarannya Peeta emang jagoan banget. Tapi sebetulnya, Peeta itu enggak jago bertarung. Dia cuma rela menjadikan dirinya tameng untuk melindungi Katniss. Dia rela dijadikan sasaran pukulan bertubi-tubi, asalkan Katniss tetap selamat.  Berbeda dengan Gale yang selalu melindungi dengan cara melawan sekuat tenaga, yang mana Gale memang memiliki kemampuan untuk melakukannya.

Kelemahan Peeta membuat Katniss juga harus melakukan hal yang sebaliknya: berjuang sekuat tenaga agar Peeta tetap hidup. Pada akhirnya, Katniss sendiri juga selalu berecana untuk mengorbankan dirinya, asalkan Peeta selamat sampai akhir. Di buku terakhir, Katniss berkata pada Peeta, “Kita memang selalu saling melindungi.”

Dalam kehidupan nyata, gambaran kehidupan ala Hunger Games jelas sangat-sangat terlalu berlebihan. Jadi mari kita sederhanakan… Ambil contoh adegan saat Katniss mengajari Peeta berenang di arena Hunger Games. Dalam kehidupan nyata, mana yang kamu pilih… Cowok yang jago berenang seperti Gale, atau cowok yang kamu ajari cara untuk bisa berenang seperti Peeta?

Jika hanya satu itu saja pertanyaannya, jelas mudah menjawabnya: perempuan cenderung tidak memilih laki-laki yang tidak lebih hebat dari mereka. Gue malah kenal seorang teman yang bakal langsung ilfil saat tahu cowok yang dia suka ternyata enggak bisa nyetir mobil, sedangkan teman gue ini termasuk jago nyetir buat ukuran cewek.

Gue sendiri juga begitu… Sejak kuliah, a.k.a sejak nilai-nilai gue mulai melesat jauh di atas rata-rata, gue mulai berubah jadi pemilih. Gue enggak pernah naksir sama cowok-cowok yang pernah belajar akuntansi sama gue (jadi dulu itu, selain kerja jadi guru privat akuntansi, gue juga suka ngajarin temen-temen secara gratisan). Gue gampang ilfil sama cowok yang menurut gue shallow, dan tentunya… gue cenderung mudah mengagumi cowok-cowok yang gue anggap pintar.

Selain itu, gue mengenal sangat banyak teman perempuan yang punya prinsip, pasangan mereka harus memiliki penghasilan yang melebihi penghasilan mereka. Bukan karena matre, tapi hal itu seperti sudah jadi sesuatu yang melekat dalam daya tarik seorang cowok. Banyak cewek yang merasa, cowok dengan penghasilan di bawah mereka kelihatan kurang menarik perhatian mereka.

Intinya adalah, secara naluriah, cewek cenderung menginginkan cowok yang serba lebih daripada mereka. Well, itu kan hanya keinginan, impian, mimpi, harapan, atau yang sejenisnya. Tapi mari kita lihat kenyataannya…

Gue kenal seorang suami yang penghasilannya cukup jauh di bawah istrinya. Dan istrinya bilang, dia ngerasa beruntung punya suami sebaik suaminya itu.

Gue juga kenal sama istri yang sedang sambil kuliah S3, sedangkan suaminya, hanya seorang lulusan S1. Might sounds strange, tapi mereka adalah salah satu pasangan yang paling bahagia yang pernah gue kenal.

Ada temen gue yang orangnya berani banget. Semua wahana permainan paling mengerikan di Dufan, dia berani coba. Sedangkan suaminya… sangat takut sama ketinggian.

Gue kenal cowok yang penakut banget… Takut sama hal-hal seperti hantu maksud gue. Dan kalo ketakutan… dia suka minta temenin ke mana-mana sama ceweknya.

Gue sering lihat banyak cewek cantik yang malah married sama cowok-cowok yang biasa banget, dan cenderung kurang gaul. Bahasa kasarnya… cupu dan kuper. Padahal, cewek-cewek itu dulunya punya sederet mantan pacar yang ganteng dan keren banget.

Kembali lagi ke Hunger Games, Katniss sangat sulit menentukan kepada siapa cintanya berlabuh… Peeta… atau Gale? Katniss sangat takut kehilangan dua orang tersebut, dia menyayangi keduanya dengan sepenuh hati. Akan tetapi sebetulnya, kita sebagai pembaca semakin lama akan semakin yakin dengan sendirinya tentang siapa yang sesungguhnya dicintai oleh Katniss.

Di buku ke tiga, dikisahkan Peeta menjadi korban cuci otak pemerintahan Capitol. Otak Peeta ditanamkan ingatan-ingatan palsu yang membuat dia jadi membenci Katniss setengah mati. Saat sudah kembali ke tangan sekutu Katniss, ingatan Peeta berangsur membaik. Akan tetapi, Peeta tetap suka sulit membedakan… antara yang nyata dengan tidak nyata. Untuk mengatasinya, orang-orang memainkan sesi tanya-jawab. Si penanya akan menceritakan suatu hal, dan Peeta diminta menebak… apakah hal itu nyata atau tidak nyata? Peeta juga akan mengungkapkan isi pikirannya dan bertanya kepada orang lain, nyata atau tidak nyata? Strategi ini pula yang akhirnya berhasil menyembuhkan Peeta.

Saat Peeta baru saja pulih dari masalah ingatannya, Peeta bilang kepada Katniss bahwa dia ingat pernah rela dipukuli orang tuanya hanya demi memberikan sepotong roti untuk Katniss yang sedang kepalaran. Setelah mengingat hal tersebut, Peeta berkata, “Aku pasti sangat mencintaimu.”

“Memang,” jawab Katniss.

“Dan apakah kau mencintaiku?”

“Semua orang bilang aku mencintaimu. Semua orang bilang itu sebabnya Presiden Snow menyiksamu. Untuk menghancurkanku.”

“Itu bukan jawaban,” kata Peeta.

Ya, meskipun pembaca tahu, dan semua orang dalam kisah itu tahu tentang perasaan Katniss kepada Peeta, tetap saja Katniss tidak pernah mau mengakui perasaannya itu. Dari buku pertama hingga ke tiga dipenuhi keraguan Katniss akan hal itu. Sampai akhirnya, pada paragraf penutup di buku ke tiga, Katniss mengakui perasaannya itu. Berikut cuplikan pargraf yang gue maksud, satu paragraf yang paling gue sukai dari buku ini. (P.s.: beberapa kata gue edit supaya mudah dipahami oleh kalian yang tidak pernah mengikuti jalan cerita Hunger Games).

“Aku dan Peeta kembali bersama. Ada saat-saat ketika dia memegangi sandaran kursi sampai kilasan-kilasan ingatan palsu yang ada dalam benaknya lenyap. Aku masih bangun sambil menjerit-jerit karena mimpi buruk dengan mahluk mutan dan anak-anak yang hilang. Tapi lengan Peeta selalu ada untuk menghiburku. Hingga akhirnya bibirnya juga. Pada malam ketika aku merasakannya lagi – rasa lapar untuk terus menciumnya yang pernah menguasaiku di pantai arena Hunger Games – aku tahu memang ini yang akan terjadi. Bahwa yang kubutuhkan untuk bertahan hidup bukanlah api Gale, yang dikobarkan oleh kemarahan dan kebencian. Aku sendiri sudah punya banyak api dalam diriku. Yang kubutuhkan adalah bunga dandelion pada musim semi. Warna kuning cerah yang berarti kelahiran kembali, dan bukannya kehancuran. Janji bahwa hidup bisa berlanjut, tak peduli seburuk apa pun kami kehilangan. Bahwa hidup bisa menjadi baik lagi. Dan hanya Peeta yang bisa memberiku semua itu.”

Setelah paragraf itu, Peeta berbisik kepada Katniss, “Kau mencintaiku. Nyata atau tidak?”

Akhirnya, Katniss menjawab, “Nyata.”

Gale memang lebih kuat… dan lebih tampan. Tapi Peeta, hanya Peeta, yang bisa memberi Katniss rasa aman, serta hanya Peeta… yang bisa melengkapi kekurangan dalam diri Katniss.

Dalam kehidupan nyata, pada akhirnya, hanya itulah yang akan dicari oleh wanita dewasa dari laki-laki pilihannya: rasa aman untuk terus hidup bersama dengan dia. Laki-laki itu bisa jadi tidak lebih kaya, tidak lebih pintar, tidak lebih rupawan… tetapi, laki-laki itulah yang paling mampu memberikan rasa aman. Buat apa kita cari cowok pintar dan kaya… kalau dia tidak pernah mau berusaha untuk memperjuangkan keberadaan kita dalam hidupnya? Buat apa pula pintar dan kaya… kalau kita tidak yakin, dia akan selamanya mencintai kita dengan tulus dan apa adanya…

Gue tidak bilang the most wanted bachelor yang ganteng, pintar, dan kaya itu tidak layak jadi pendamping hidup. Itu kan tergantung orangnya… But the thing is… in fact, it’s not the most important consideration. Sekedar keren dan kaya raya saja tidak cukup. Make her feel safe, comfort, and feel like being sincerely loved, then she’s gonna be truly yours.

The Amazing Spiderman on IMAX

Awalnya, gue enggak ngeh bakal ada film reboot dari Spiderman. Tapi waktu lagi mampir di Sency, gue terkejut juga ngelihat poster besar filmnya… Spidey yang baru ganteng banget booo… Jauh lebih ganteng dari Peter Parker versi pertama! Gue pun langsung enggak sabar pengen nonton filmnya. Dan waktu tahu ada versi 3D untuk film ini, gue tambah penasaran. Film 3D yang satu ini pasti akan diputar di IMAX Gandaria City. Pasti bakalan perfect banget kalo gue nonton the new Spidey di layar IMAX.

Kesan pertama gue begitu masuk ke studio IMAX itu adalah bentuk layarnya agak melengkung ke depan. Kalo bentuk kacamata sih mirip-mirip lah yaa. Enggak ngerti juga apakah ada bedanya sama kacamata 3D yang biasa. Kemudian sound system juga lebih kenceng, lebih mampu menggetarkan lantai studio. Kemudian saat tulisan tanda kacamata 3D sudah harus digunakan, mulai terasa betapa istimewanya IMAX… Nyaris sesuai dengan yang dijanjikan, nonton di IMAX itu rasanya emang seperti be a part of the movie. Meskipun bangkunya hanya diam saja, tapi rasa-rasanya tuh kayak kita ikut bergerak seirama dengan adegan di dalam film!

Tapi efek spektakuler itu enggak selalu terasa sepanjang film pastinya. Tergantung apa yang sedang ditampilkan di layar juga. Untuk film The Amzaing Spiderman itu sendiri, jumlah 3D effect-nya udah cukup banyak lah ya. Terlalu banyak efek yang spektakuler bisa bikin pusing juga soalnya.

Bicara soal cerita film… secara garis besar sih masih sama aja kayak versi pertama. Soal Peter Parker culun yang berubah jadi superhero gara-gara digigit laba-laba, serta soal Peter yang dibesarkan Paman dan Bibi-nya, yang kemudian sang Paman meninggal gara-gara tertembak penjahat yang sebetulnya bisa saja dihentikan oleh power-nya Peter.

Meskipun secara garis besar masih mirip-mirip, ada juga beberapa perbedaan yang sangat mencolok:

  1. Yang paling mencolok adalah cewek yang disukai oleh Peter Parker. Di Amazing Spiderman, tidak ada Mary Jane. Yang ada malah Gwen Stacy, teman sekolah Peter yang cantik dan cerdas. Di versi lama, Gwen Stacy ini pernah muncul di seri ke tiga… Ingat kan, cewek pirang yang juga pernah dicium dengan posisi terbalik oleh Spiderman?
  2. Musuh pertama Spiderman tidak langsung berhadapan dengan Norman Osborn, melainkan seorang profesor yang pernah menjadi rekan kerja ayahnya Peter. Osborn itu sendiri masih belum benar-benar muncul… Hanya diceritakan bahwa Osborn adalah orang yang men-support dana penelitian sang profesor. Gue yakin banget, Osborn baru muncul di seri yang ke dua nanti; dan
  3. Di seri terbaru ini, ada cuplikan masa kecil Peter, dan… ada misteri soal hilangnya kedua orang tua Peter. Dan misteri ini masih menjadi teka-teki sampai akhir cerita… Sengaja digantung di akhir, supaya penonton jadi penasaran dan akan kembali menonton sekuelnya kelak. Oh ya, kalau nanti nonton film ini, jangan langsung pulang begitu filmnya selesai. Tunggu agak lama, akan ada satu scene kemunculan Osborn yang menyebut-nyebut soal orang tua Peter. Just stay tune until the end!

Satu hal yang terasa kurang sreg dari film ini buat gue adalah dua tokoh utama yang tampak ketuaan untuk ukuran usia 17 tahun. Udah gitu entah kenapa, karakter Peter Parker dan Gwen Stacy itu juga terlalu dewasa buat ukuran ABG. Aneh aja kalo bisa ada ABG sedewasa, seberani, dan secerdas mereka berdua… Untunglah akting Andrew Garfield dan Emma Stone sebagai dua tokoh utama itu terlihat sangat meyakinkan. Chemistry antara mereka juga lumayan dapet kalo menurut gue. Garfield kelihatan lebih ganteng daripada waktu dia main di Social Network. Tapi kadang-kadang… gue ngerasa gerak-gerik Peter Parker ala Garfield itu kok jadi mirip-mirip Edward Cullen ala Robert Pattinson yaah?

The Amazing Spiderman jelas juara untuk ukuran special effect. Jalan cerita juga lebih menarik dan ada beberapa adegan yang sangat mendebarkan. Ada satu adegan yang bikin gue cukup terharu… Ceritanya saat harus mencegah The Lizard menyebarkan racun, sang Spidey malah sedang cedera. Dia kesulitan melompat-lompat untuk menuju menara tempat The Lizard hendak menyebar racun. Melihat Spidey kesulitan, seorang operator tower crane yang pernah diselamatkan anaknya oleh Spidey, mengkoordinasi semua operator tower crane agar mengarahkan alat berat mereka untuk digunakan sebagai tempat Spidey bergelantungan… supaya dia bisa cepat sampai ke menara tujuan.

Gue bisa bilang… reboot Spiderman seri pertama ini udah cukup berhasil. Memikat penonton, dengan cara yang berbeda. Pemilihan Garfield sebagai the new Spidey juga udah tepat banget kalo menurut gue… ya walaupun itu tadi, agak ketuaan buat jadi anak SMA. Gimana enggak ketuaan kalo orang yang umurnya udah 29 disuruh memerankan ABG umur 17 tahun? Tapi yang penting sih, gantengnya itu lho… Jangkung dan body yang atletis pulaaa… Calon idola baru cewek-cewek sepertinya, hehehehe.

Overall… Spiderman on IMAX was pretty impressive for me. Sempet bikin mata gue terasa agak perih dan capek di awal… tapi cuma sebentar. Selanjutnya, gue sangat menikmati jalan cerita plus efek 3D yang jauh berbeda dengan studio 3D yang biasa. The 3D effect has made the movie became more amazing to me. Totally worth the price… in my opinion.

Oh ya, just in case you have this question in your mind… nonton di IMAX tetap ada subtitle-nya kok. So you don’t need to worry about getting lost in translation, hehehehe.

P.s.: Buat yang belum tau, sampai saat tulisan ini gue publish, studio IMAX di Indonesia baru ada di Gandaria City aja ya, guys.