Loyalitas Kepada Atasan ala Skyfall

Menurut gue, big theme dari Skyfall adalah soal menguji loyalitas James Bond terhadap atasannya yang biasa disapa M. M yang memerintahkan anak buahnya untuk menembak musuh meskipun saat itu sang musuh sedang berduel dengan Bond di atas kereta yang melaju cepat sehingga beresiko salah sasaran, dan M yang berbohong agar dapat menerjunkan Bond kembali ke lapangan meskipun sebetulnya, menurut hasil tes mental dan fisik menyatakan Bond tidak lagi layak untuk bertugas. Ditambah lagi, ada hasutan dari mantan anak buah M tentang betapa tidak berperasaannya M kepada dia di waktu yang lalu. Jika kita yang menjadi James Bond, masihkah kita percaya, mau bekerja untuknya, bahkan masih mau mati-matian berusaha untuk melindungi nyawa M?

Jalan cerita Skyfall menurut gue terbilang sederhana. Tidak banyak unsur teka-teki dan tidak ada kejutan di akhir cerita seperti film action papan atas pada umumnya. Soal adegan laganya pun menurut gue standar-standar aja. Berkejaran dengan musuh menggunakan motor dan mobil sampai bikin keadaan kota panik dan kacau berantakan, berkelahi di atas kereta yang sedang melaju, memanfaatkan tabung gas untuk menciptakan ledakan, atau menembak permukaan danau yang membeku untuk mengalahkan musuh. Semua orang yang hobi nonton film pasti pernah melihat adegan sejenis di berbagai judul film lainnya.

Soal special effect juga nothing new lah ya. Udah sering disuguhi special effect yang wow dalam film-film masa kini, terutama film yang mempunyai versi 3D, membuat special effect di Skyfall jadi terlihat biasa-biasa saja. Tapi soal ide ada pistol yang hanya bisa dipakai oleh pemiliknya sounds like a good one sih. Rasanya udah bosen lihat adegan laga di mana pistol yang terlepas dari tangan sang jagoan malah berhasil direbut oleh sang musuh.

Selain beberapa kekurangan yang gue sebutkan di atas, tetap ada satu kelebihan yang nyaris selalu menjadi ciri khas film-film James Bond: menampilkan pemandangan yang spektakuler. Shanghai, Macau, dan Scotlandia tampak sangat menawan di film ini. Shanghai dengan gedung-gedung pencakar langitnya, Macau dengan keunikan kasinonya, dan Scotlandia dengan pemandangan alamnya… Bener-bener bikin pengen dateng ke sana! Bahkan Macau yang sudah pernah gue kunjungi pun terihat jauh lebih cantik di film ini.

Saat nonton Skyfall, dalam hati gue berpikir… Kalo gue jadi meneteri pariwisata Indonesia, gue bakal ngelobi PH film-film Hollywood sekelas James Bond supaya mau syuting di Indonesia. Let’s say, di Raja Ampat yang mempunyai pemandangan atas dan bawah laut yang luar biasa indah. Masih ingat salah satu pulau di Pha Nga Bay Phuket, Thailand yang kini ramai dikunjungi turis dan lebih dikenal dengan James Bond Island? Film James Bond yang berjudul The Man with the Golden Gun pernah syuting di tempat itu pada tahun 1974. Sudah lewat puluhan tahun… tetapi pulau itu tetap jadi salah satu top destination di Phuket.

Pada akhirnya, meskipun jalan cerita terbilang sederhana dan special effect tidak tampak luar biasa, Skyfall tetap salah satu film yang tergolong must watch di tahun ini. Bond Girl yang sangat cantik dan seksi, akting pemeran Silva (si penjahat) yang sangat all out, nice soundtrack, pemandangan kota dan alam yang sangat spektakuler, ending yang cukup menyentuh, dan moral lesson yang bisa kita dapatkan setelah nonton film ini.

Bicara soal moral lesson dalam Skyfall kembali lagi bicara soal loyalitas terhadap atasan. Gue pernah merasakan sendiri betapa sulitnya untuk tetap mempercayai atasan setelah mendengar berbagai sisi negatif tentang diri si bos yang beberapa di antaranya merupakan fakta, dan bukan sekedar isapan jempol belaka. Tidak peduli betapa baiknya si bos selama ini, tetap akan terasa sulit untuk kita tetap mempertahankan loyalitas pada saat-saat buruk seperti itu. Akan tetapi yang tidak kalah sulitnya bukan hanya mempertahankan loyalitas terhadap atasan di saat-sata terburuknya, melainkan juga bagaimana caranya agar kita bisa menjadi atasan yang dapat dipercayai sepenuhnya oleh anak buah kita?

Sebagai atasan, gue selalu berusaha untuk menjaga performance dan credibility gue dengan sebaik-baiknya. Oleh karenanya, di luar itu gue berharap anak-anak buah gue pun akan selalu berusaha untuk percaya sama gue, tidak mudah terpengaruh oleh gosip-gosip yang beredar, dan selalu mencoba untuk melihat alasan kenapa gue melakukan sesuatu yang tampaknya tidak ideal itu? M was so lucky to have an agent like James Bond, and I wish I could be as luck as she was 🙂

The Hunger Games Trilogy: My Book Review

Satu hal yang selalu bikin gue salut dari penulis-penulis bule adalah daya imajinasi mereka yang sangat all out. Mereka seolah menciptakan dunia baru yang jauh berbeda dengan kehidupan saat ini. New governmental rules, new society, advanced technology, and many details in such a new world. Misalnya, novel Harry Potter dengan sekolah sihir Hogwarts-nya, The Selection dengan negara Illea, dan The Hunger Games dengan negara Panem.

The Hunger Games yang diikuti oleh 2 sekuelnya: Catching Fire dan Mockingjay mengambil tema dystopia a.k.a gambaran kehidupan masa depan yang justru lebih suram daripada masa sekarang. Sang penulis, Suzanne Collins, menggambarkan cukup detail sistem pemerintahan dan kondisi masyarakat di negara Panem. Nice try, hanya saja sayangnya, kalau kita mau berpikir logis sejak awal, sebetulnya yang namanya pertandingan mematikan ala Hunger Games ini jelas tidak mungkin bisa terjadi di muka bumi ini. Apa kabar PBB dan badan-badan HAM di negara tetangga? Hal ini yang terlewat oleh Suzanne: dia tidak menggambarkan apakah Panem itu tinggal satu-satunya negara yang tersisa di masa depan atau bagaimana?

Kelemahan detail lainnya adalah sulitnya buat gue mendapatkan greget dari panasnya situasi politik di Panem. Gue ngerti banget kenapa penduduk 13 distrik sampe sebegitu bencinya sama The Capitol, tapi gue enggak gitu nangkep adanya benang merah yang nyata antara sikap Katniss dan Peeta sepanjang Hunger Games dengan tersulutnya pemberontakan melawan pemerintah Capitol. Rasanya enggak ada sesuatu yang luar biasa berkesan yang bisa bikin Katniss dijadikan simbol pemberontakan. Penulis udah usaha banget buat jelasin, tapi kalo menurut gue, ujung-ujungnya justru too much details yang enggak banyak manfaatnya.

Selain soal detail yang kurang menggigit, gue juga menemukan satu klise yang umum terjadi dalam penulisan novel: banyaknya orang yang dengan sukarela mendukung sang tokoh utama tanpa alasan yang cukup kuat. Harusnya kan dibutuhkan alasan yang luar biasa besar untuk bisa membuat orang lain sampai rela mengorbankan nyawa demi si tokoh utama misalnya. Terlalu sering menemukan hal ini di trilogi Hunger Games malah bikin gue enggak lagi ngerasa tersentuh.

Satu kekurangan lain yang ingin gue tulis di sini adalah terjemahan yang tidak sempurna. Gue agak sulit membayangkan manuver yang ingin digambarkan si penulis, dan suka agak sulit juga memahami isi dari kalimat yang diterjemahkan itu. Udah gitu ada cukup banyak paragraf yang harusnya terpisah malah digabung menjadi 1 paragraf yang sama. Hal ini lumayan bikin bingung… jadinya ini siapa yang lagi ngomong sama siapa? Mungkin emang sengaja digabung untuk menghemat kertas kali yaa.

Well… terlepas dari segala kekurangannya, kenyataannya, I could declare that I’m a big fan of Hunger Games. Rasanya tuh ada ikatan khusus yang bikin gue suka banget sama trilogi ini. Jalan ceritanya bikin novel ini bikin gue enggak sabar pengen cepet baca sampai selesai. Rasanya penasaran banget untuk baca bab selanjutnya, bener-bener tipe buku yang bisa bikin lupa makan dan lupa mandi, hehehehe. Saking sukanya, tiga buku yang masing-masing setebal kurang-lebih 400 halaman ini gue habiskan tidak sampai 3 hari saja. Andai gue nggak perlu tidur, makan, minum, mandi, dan silaturahmi ke luar rumah dalam rangka lebaran, gue yakin bisa nyelesain baca buku ini dalam 24 jam.

Lalu apa yang bikin gue jatuh cinta setengah mati sama buku ini? It’s simply the romance. Terharu banget rasanya melihat betapa besar cinta Peeta buat Katniss. Peeta is not perfect, but he loves Katniss perfectly. Aww… 😉 Selain itu… ya itu tadi: jalan ceritanya bikin penasaran!

Menurut pengamatan gue, seringkali tidak dibutuhkan detail yang luar biasa rapih, karakter yang luar biasa kuat, dan jalan cerita yang luar biasa seru untuk membuat sebuah buku mendapatkan gelar best seller. Cukup taruh saja beberapa adegan romantis yang berkesan di hati pembaca, maka dijamin… buku itu bakal jadi favorit kaum hawa. Oh ya, jangan lupa… resep utamanya adalah, harus si cowok yang lebih cinta sama ceweknya. Bikinlah cerita yang bisa bikin para pembaca jadi berkhayal, atau jadi kepingin, mempunyai kisah asmara dan juga punya pacar yang sehebat itu. Resep cerita seperti ini selalu berhasil bikin cewek jadi tergila-gila.

Kita ambil contoh serial Twilight. Gue bisa bilang semua kelemahan The Hunger Games yang gue sebut di atas ada semua di bukunya Stephenie Meyer sangat booming ini. Tapi tetap saja Twilight jadi favorit cewek-cewek di berbagai belahan dunia… Karena apa? Ya karena romatisnya, dan lagi-lagi, karena besarnya cinta si tokoh utama cowok untuk ceweknya.

Untuk buku lokal, gue ingin ambil Lukisan Hujan-nya Sitta Karina sebagai contoh. Tulisan Sitta di buku itu masih belum sebaik tulisan dia di buku-buku terbarunya. Di Lukisan Hujan, gaya penulisan Sitta masih agak sulit dipahami. Konfliknya juga kurang kuat dan kurang menggigit. Meski begitu, buku ini tetap melejit sebagai best seller hanya karena 1 alasan utama: romantisme yang sungguh menyentuh hati pembaca.

Seperti review yang pernah gue tulis via Goodreads, kisah dalam trilogi ini udah berhasil mengubah sudut pandang gue soal kriteria pacar idaman. Kenyataannya memang benar, cewek-cewek tidak selalu mencari cowok yang paling hebat, mereka jauh lebih membutuhkan cowok yang bisa mencintai mereka dengan hebat. Gue sampe dengan polosnya berpikir, “Peeta emang kelihatannya cupu, tapi pengen deh, punya pacar kayak Peeta.”

Finally, selain bikin gue jadi ngefans sama tokoh Peeta, trilogi The Hunger Games bikin gue kembali tergugah, “Oh my God… kapan ya, gue bisa nyelesain novel gue sendiri? Gue pengen bikin novel yang nggak kalah hebat!”

Well, gue janji, setelah gue posting review ini di blog, gue akan langsung terusin ngetik novel perdana gue. Doakan yaa!

Cinta Sejati ala The Hunger Games

Berawal dari nonton filmnya, gue langsung tertarik buat ngeborong 3 novelnya sekaligus. Novel yang cukup tebal, masing-masing buku berisi sekitar 400 halaman. Terdapat beberapa perbedaan detail cerita antara The Hunger Games versi film dengan novelnya. Tapi dalam kesempatan ini, gue lebih memilih untuk menulis berdasarkan sudut pandang buku. Gue enggak akan membocorkan soal akhir dari pemerintahan kejam ala Capitol, di sini gue lebih tertarik untuk membahas akhir dari kisah asmaranya. Jadi buat kamu yang yang tidak mau melihat bocoran ending kisah cinta dari trilogi ini, silahkan stop baca tulisan gue sampai di sini saja.

Mengambil setting di masa depan, The Hunger Games bercerita tentang permainan mematikan yang diadakan satu tahun sekali oleh Capitol, semacam ibu kota dari negara Panem (ceritanya, Panem ini dulunya adalah Amerika Utara). Peserta Hunger Games bukan penduduk Capitol, melainkan dua orang remaja perwakilan dari setiap distrik yang mengelilingi kota tersebut.  In total ada 12 distrik yang masih eksis, sehingga setiap tahunnya, terdapat 24 peserta Hunger Games yang biasa disebut dengan the tributes. Dalam Hunger Games ini, the tributes diharuskan untuk saling membunuh hingga tinggal tersisa satu tribute yang akan meraih gelar The Victor.

Hunger Games diselenggarakan oleh Capitol sebagai hukuman atas pemberontakan 12 distrik tersebut 74 tahun yang lalu. Hal ini dianggap efektif untuk menakut-nakuti penduduk distrik agar tidak berani mengulangi pemberontakan melawan Capitol.

Pada Hunger Games ke 74, Distrik 12 diwakili oleh gadis bernama Katniss, dan remaja pria bernama Peeta. Kemudian diketahui, ternyata Peeta sudah memendam cinta kepada Katniss sejak belasan tahun lamanya. Jadi bagaimana mungkin Peeta tega menghabisi nyawa Katniss? Karena itulah sejak awal, Peeta cenderung mengalah, dan selalu mencari cara untuk menjaga agar Katniss bisa tetap hidup di arena Hunger Games. Dalam Hunger Games, hanya ada satu pemenang… Dan Peeta ingin, satu orang pemenang itu adalah Katniss, meskipun itu berarti, Katniss harus tega membunuh Peeta.

Katniss sendiri sebetulnya sudah beberapa tahun dekat dengan laki-laki lain bernama Gale yang juga berasal dari Distrik 12. Jadi bisa ditebak… ada konflik cinta segitiga yang menjadi bumbu dalam trilogi Hunger Games. Di sini ada Katniss, gadis tangguh yang sudah menjadi tulang punggung keluarga sejak usia dini. Ada Peeta, anak dari keluarga penjual roti yang termasuk berkecukupan, yang cenderung penakut dan sejak awal Hunger Games dimulai, dia sudah bertekad tidak akan pernah mau membunuh siapapun di arena itu. Makanya selama latihan, daripada mempelajari cara untuk membunuh, Peeta lebih tertarik mempelajari cara untuk melindungi diri. Kemudian ada Gale, anak penambang batu bara yang cenderung nekad dan sangat mudah tersulut amarahnya.

Logikanya, gadis manapun akan lebih memilih Gale daripada Peeta. Gale digambarkan memiliki bentuk tubuh atletis dan wajah yang sangat tampan. Kemudian Gale itu pemberani. Dia dan Katniss sama-sama berani melanggar peraturan pemerintah keluar dari pagar pembatas distrik hanya untuk berburu di dalam hutan. Berbeda dengan Peeta yang di awal permainan tampak manis dan tampak lemah. Jadi tentunya, secara kemampuan fisik, Gale jauh lebih unggul daripada Peeta yang hanya pandai membuat dan melukis roti.

However, believe it or not, gue… tipe cewek yang menggemari cowok yang ‘laki banget’, berkali-kali merasa jatuh cinta dengan sosok Peeta.

Peeta yang masih ingat warna baju dan kepang rambut Katniss di hari pertama mereka sekolah saat masih kanak-kanak.

Peeta yang hapal gerak-gerik dan kebiasaan Katniss.

Peeta yang pernah rela dipukuli orang tuanya hanya demi bisa memberikan sepotong roti kepada Katniss yang sedang kelaparan.

Peeta yang berusaha menjadikan Katniss favorit penonton hanya supaya gadis itu mendapat banyak bantuan dari penonton untuk terus bertahan hidup di arena Hunger Games.

Peeta yang setengah mati melawan Cato, tribute paling jago di arena Hunger Games, sampai mendapat luka tusukan di kakinya hanya supaya Katniss bisa melarikan diri dari kejaran Cato yang sangat bernafsu untuk membunuh Katniss.

Peeta yang jauh lebih peduli pada keselamatan Katniss daripada keselamatan dirinya sendiri… Bahkan saat sedang menjadi tawanan pemerintah pun, Peeta tetap nekad membocorkan rencana serangan pemerintah supaya Katniss dan sekutunya dapat bersikap waspada… Dan tentunya setelah itu, Peeta harus rela disika habis-habisan atas ulahnya tersebut.

Atau hal-hal kecil… seperti saat Peeta memberikan jaketnya dan mengancingkan jaket itu untuk Katniss, atau sekedar memeluk dan membelai rambut Katniss yang sedang ketakutan saat dihantui mimpi buruk dalam tidurnya.

Kedengarannya Peeta emang jagoan banget. Tapi sebetulnya, Peeta itu enggak jago bertarung. Dia cuma rela menjadikan dirinya tameng untuk melindungi Katniss. Dia rela dijadikan sasaran pukulan bertubi-tubi, asalkan Katniss tetap selamat.  Berbeda dengan Gale yang selalu melindungi dengan cara melawan sekuat tenaga, yang mana Gale memang memiliki kemampuan untuk melakukannya.

Kelemahan Peeta membuat Katniss juga harus melakukan hal yang sebaliknya: berjuang sekuat tenaga agar Peeta tetap hidup. Pada akhirnya, Katniss sendiri juga selalu berecana untuk mengorbankan dirinya, asalkan Peeta selamat sampai akhir. Di buku terakhir, Katniss berkata pada Peeta, “Kita memang selalu saling melindungi.”

Dalam kehidupan nyata, gambaran kehidupan ala Hunger Games jelas sangat-sangat terlalu berlebihan. Jadi mari kita sederhanakan… Ambil contoh adegan saat Katniss mengajari Peeta berenang di arena Hunger Games. Dalam kehidupan nyata, mana yang kamu pilih… Cowok yang jago berenang seperti Gale, atau cowok yang kamu ajari cara untuk bisa berenang seperti Peeta?

Jika hanya satu itu saja pertanyaannya, jelas mudah menjawabnya: perempuan cenderung tidak memilih laki-laki yang tidak lebih hebat dari mereka. Gue malah kenal seorang teman yang bakal langsung ilfil saat tahu cowok yang dia suka ternyata enggak bisa nyetir mobil, sedangkan teman gue ini termasuk jago nyetir buat ukuran cewek.

Gue sendiri juga begitu… Sejak kuliah, a.k.a sejak nilai-nilai gue mulai melesat jauh di atas rata-rata, gue mulai berubah jadi pemilih. Gue enggak pernah naksir sama cowok-cowok yang pernah belajar akuntansi sama gue (jadi dulu itu, selain kerja jadi guru privat akuntansi, gue juga suka ngajarin temen-temen secara gratisan). Gue gampang ilfil sama cowok yang menurut gue shallow, dan tentunya… gue cenderung mudah mengagumi cowok-cowok yang gue anggap pintar.

Selain itu, gue mengenal sangat banyak teman perempuan yang punya prinsip, pasangan mereka harus memiliki penghasilan yang melebihi penghasilan mereka. Bukan karena matre, tapi hal itu seperti sudah jadi sesuatu yang melekat dalam daya tarik seorang cowok. Banyak cewek yang merasa, cowok dengan penghasilan di bawah mereka kelihatan kurang menarik perhatian mereka.

Intinya adalah, secara naluriah, cewek cenderung menginginkan cowok yang serba lebih daripada mereka. Well, itu kan hanya keinginan, impian, mimpi, harapan, atau yang sejenisnya. Tapi mari kita lihat kenyataannya…

Gue kenal seorang suami yang penghasilannya cukup jauh di bawah istrinya. Dan istrinya bilang, dia ngerasa beruntung punya suami sebaik suaminya itu.

Gue juga kenal sama istri yang sedang sambil kuliah S3, sedangkan suaminya, hanya seorang lulusan S1. Might sounds strange, tapi mereka adalah salah satu pasangan yang paling bahagia yang pernah gue kenal.

Ada temen gue yang orangnya berani banget. Semua wahana permainan paling mengerikan di Dufan, dia berani coba. Sedangkan suaminya… sangat takut sama ketinggian.

Gue kenal cowok yang penakut banget… Takut sama hal-hal seperti hantu maksud gue. Dan kalo ketakutan… dia suka minta temenin ke mana-mana sama ceweknya.

Gue sering lihat banyak cewek cantik yang malah married sama cowok-cowok yang biasa banget, dan cenderung kurang gaul. Bahasa kasarnya… cupu dan kuper. Padahal, cewek-cewek itu dulunya punya sederet mantan pacar yang ganteng dan keren banget.

Kembali lagi ke Hunger Games, Katniss sangat sulit menentukan kepada siapa cintanya berlabuh… Peeta… atau Gale? Katniss sangat takut kehilangan dua orang tersebut, dia menyayangi keduanya dengan sepenuh hati. Akan tetapi sebetulnya, kita sebagai pembaca semakin lama akan semakin yakin dengan sendirinya tentang siapa yang sesungguhnya dicintai oleh Katniss.

Di buku ke tiga, dikisahkan Peeta menjadi korban cuci otak pemerintahan Capitol. Otak Peeta ditanamkan ingatan-ingatan palsu yang membuat dia jadi membenci Katniss setengah mati. Saat sudah kembali ke tangan sekutu Katniss, ingatan Peeta berangsur membaik. Akan tetapi, Peeta tetap suka sulit membedakan… antara yang nyata dengan tidak nyata. Untuk mengatasinya, orang-orang memainkan sesi tanya-jawab. Si penanya akan menceritakan suatu hal, dan Peeta diminta menebak… apakah hal itu nyata atau tidak nyata? Peeta juga akan mengungkapkan isi pikirannya dan bertanya kepada orang lain, nyata atau tidak nyata? Strategi ini pula yang akhirnya berhasil menyembuhkan Peeta.

Saat Peeta baru saja pulih dari masalah ingatannya, Peeta bilang kepada Katniss bahwa dia ingat pernah rela dipukuli orang tuanya hanya demi memberikan sepotong roti untuk Katniss yang sedang kepalaran. Setelah mengingat hal tersebut, Peeta berkata, “Aku pasti sangat mencintaimu.”

“Memang,” jawab Katniss.

“Dan apakah kau mencintaiku?”

“Semua orang bilang aku mencintaimu. Semua orang bilang itu sebabnya Presiden Snow menyiksamu. Untuk menghancurkanku.”

“Itu bukan jawaban,” kata Peeta.

Ya, meskipun pembaca tahu, dan semua orang dalam kisah itu tahu tentang perasaan Katniss kepada Peeta, tetap saja Katniss tidak pernah mau mengakui perasaannya itu. Dari buku pertama hingga ke tiga dipenuhi keraguan Katniss akan hal itu. Sampai akhirnya, pada paragraf penutup di buku ke tiga, Katniss mengakui perasaannya itu. Berikut cuplikan pargraf yang gue maksud, satu paragraf yang paling gue sukai dari buku ini. (P.s.: beberapa kata gue edit supaya mudah dipahami oleh kalian yang tidak pernah mengikuti jalan cerita Hunger Games).

“Aku dan Peeta kembali bersama. Ada saat-saat ketika dia memegangi sandaran kursi sampai kilasan-kilasan ingatan palsu yang ada dalam benaknya lenyap. Aku masih bangun sambil menjerit-jerit karena mimpi buruk dengan mahluk mutan dan anak-anak yang hilang. Tapi lengan Peeta selalu ada untuk menghiburku. Hingga akhirnya bibirnya juga. Pada malam ketika aku merasakannya lagi – rasa lapar untuk terus menciumnya yang pernah menguasaiku di pantai arena Hunger Games – aku tahu memang ini yang akan terjadi. Bahwa yang kubutuhkan untuk bertahan hidup bukanlah api Gale, yang dikobarkan oleh kemarahan dan kebencian. Aku sendiri sudah punya banyak api dalam diriku. Yang kubutuhkan adalah bunga dandelion pada musim semi. Warna kuning cerah yang berarti kelahiran kembali, dan bukannya kehancuran. Janji bahwa hidup bisa berlanjut, tak peduli seburuk apa pun kami kehilangan. Bahwa hidup bisa menjadi baik lagi. Dan hanya Peeta yang bisa memberiku semua itu.”

Setelah paragraf itu, Peeta berbisik kepada Katniss, “Kau mencintaiku. Nyata atau tidak?”

Akhirnya, Katniss menjawab, “Nyata.”

Gale memang lebih kuat… dan lebih tampan. Tapi Peeta, hanya Peeta, yang bisa memberi Katniss rasa aman, serta hanya Peeta… yang bisa melengkapi kekurangan dalam diri Katniss.

Dalam kehidupan nyata, pada akhirnya, hanya itulah yang akan dicari oleh wanita dewasa dari laki-laki pilihannya: rasa aman untuk terus hidup bersama dengan dia. Laki-laki itu bisa jadi tidak lebih kaya, tidak lebih pintar, tidak lebih rupawan… tetapi, laki-laki itulah yang paling mampu memberikan rasa aman. Buat apa kita cari cowok pintar dan kaya… kalau dia tidak pernah mau berusaha untuk memperjuangkan keberadaan kita dalam hidupnya? Buat apa pula pintar dan kaya… kalau kita tidak yakin, dia akan selamanya mencintai kita dengan tulus dan apa adanya…

Gue tidak bilang the most wanted bachelor yang ganteng, pintar, dan kaya itu tidak layak jadi pendamping hidup. Itu kan tergantung orangnya… But the thing is… in fact, it’s not the most important consideration. Sekedar keren dan kaya raya saja tidak cukup. Make her feel safe, comfort, and feel like being sincerely loved, then she’s gonna be truly yours.

The Amazing Spiderman on IMAX

Awalnya, gue enggak ngeh bakal ada film reboot dari Spiderman. Tapi waktu lagi mampir di Sency, gue terkejut juga ngelihat poster besar filmnya… Spidey yang baru ganteng banget booo… Jauh lebih ganteng dari Peter Parker versi pertama! Gue pun langsung enggak sabar pengen nonton filmnya. Dan waktu tahu ada versi 3D untuk film ini, gue tambah penasaran. Film 3D yang satu ini pasti akan diputar di IMAX Gandaria City. Pasti bakalan perfect banget kalo gue nonton the new Spidey di layar IMAX.

Kesan pertama gue begitu masuk ke studio IMAX itu adalah bentuk layarnya agak melengkung ke depan. Kalo bentuk kacamata sih mirip-mirip lah yaa. Enggak ngerti juga apakah ada bedanya sama kacamata 3D yang biasa. Kemudian sound system juga lebih kenceng, lebih mampu menggetarkan lantai studio. Kemudian saat tulisan tanda kacamata 3D sudah harus digunakan, mulai terasa betapa istimewanya IMAX… Nyaris sesuai dengan yang dijanjikan, nonton di IMAX itu rasanya emang seperti be a part of the movie. Meskipun bangkunya hanya diam saja, tapi rasa-rasanya tuh kayak kita ikut bergerak seirama dengan adegan di dalam film!

Tapi efek spektakuler itu enggak selalu terasa sepanjang film pastinya. Tergantung apa yang sedang ditampilkan di layar juga. Untuk film The Amzaing Spiderman itu sendiri, jumlah 3D effect-nya udah cukup banyak lah ya. Terlalu banyak efek yang spektakuler bisa bikin pusing juga soalnya.

Bicara soal cerita film… secara garis besar sih masih sama aja kayak versi pertama. Soal Peter Parker culun yang berubah jadi superhero gara-gara digigit laba-laba, serta soal Peter yang dibesarkan Paman dan Bibi-nya, yang kemudian sang Paman meninggal gara-gara tertembak penjahat yang sebetulnya bisa saja dihentikan oleh power-nya Peter.

Meskipun secara garis besar masih mirip-mirip, ada juga beberapa perbedaan yang sangat mencolok:

  1. Yang paling mencolok adalah cewek yang disukai oleh Peter Parker. Di Amazing Spiderman, tidak ada Mary Jane. Yang ada malah Gwen Stacy, teman sekolah Peter yang cantik dan cerdas. Di versi lama, Gwen Stacy ini pernah muncul di seri ke tiga… Ingat kan, cewek pirang yang juga pernah dicium dengan posisi terbalik oleh Spiderman?
  2. Musuh pertama Spiderman tidak langsung berhadapan dengan Norman Osborn, melainkan seorang profesor yang pernah menjadi rekan kerja ayahnya Peter. Osborn itu sendiri masih belum benar-benar muncul… Hanya diceritakan bahwa Osborn adalah orang yang men-support dana penelitian sang profesor. Gue yakin banget, Osborn baru muncul di seri yang ke dua nanti; dan
  3. Di seri terbaru ini, ada cuplikan masa kecil Peter, dan… ada misteri soal hilangnya kedua orang tua Peter. Dan misteri ini masih menjadi teka-teki sampai akhir cerita… Sengaja digantung di akhir, supaya penonton jadi penasaran dan akan kembali menonton sekuelnya kelak. Oh ya, kalau nanti nonton film ini, jangan langsung pulang begitu filmnya selesai. Tunggu agak lama, akan ada satu scene kemunculan Osborn yang menyebut-nyebut soal orang tua Peter. Just stay tune until the end!

Satu hal yang terasa kurang sreg dari film ini buat gue adalah dua tokoh utama yang tampak ketuaan untuk ukuran usia 17 tahun. Udah gitu entah kenapa, karakter Peter Parker dan Gwen Stacy itu juga terlalu dewasa buat ukuran ABG. Aneh aja kalo bisa ada ABG sedewasa, seberani, dan secerdas mereka berdua… Untunglah akting Andrew Garfield dan Emma Stone sebagai dua tokoh utama itu terlihat sangat meyakinkan. Chemistry antara mereka juga lumayan dapet kalo menurut gue. Garfield kelihatan lebih ganteng daripada waktu dia main di Social Network. Tapi kadang-kadang… gue ngerasa gerak-gerik Peter Parker ala Garfield itu kok jadi mirip-mirip Edward Cullen ala Robert Pattinson yaah?

The Amazing Spiderman jelas juara untuk ukuran special effect. Jalan cerita juga lebih menarik dan ada beberapa adegan yang sangat mendebarkan. Ada satu adegan yang bikin gue cukup terharu… Ceritanya saat harus mencegah The Lizard menyebarkan racun, sang Spidey malah sedang cedera. Dia kesulitan melompat-lompat untuk menuju menara tempat The Lizard hendak menyebar racun. Melihat Spidey kesulitan, seorang operator tower crane yang pernah diselamatkan anaknya oleh Spidey, mengkoordinasi semua operator tower crane agar mengarahkan alat berat mereka untuk digunakan sebagai tempat Spidey bergelantungan… supaya dia bisa cepat sampai ke menara tujuan.

Gue bisa bilang… reboot Spiderman seri pertama ini udah cukup berhasil. Memikat penonton, dengan cara yang berbeda. Pemilihan Garfield sebagai the new Spidey juga udah tepat banget kalo menurut gue… ya walaupun itu tadi, agak ketuaan buat jadi anak SMA. Gimana enggak ketuaan kalo orang yang umurnya udah 29 disuruh memerankan ABG umur 17 tahun? Tapi yang penting sih, gantengnya itu lho… Jangkung dan body yang atletis pulaaa… Calon idola baru cewek-cewek sepertinya, hehehehe.

Overall… Spiderman on IMAX was pretty impressive for me. Sempet bikin mata gue terasa agak perih dan capek di awal… tapi cuma sebentar. Selanjutnya, gue sangat menikmati jalan cerita plus efek 3D yang jauh berbeda dengan studio 3D yang biasa. The 3D effect has made the movie became more amazing to me. Totally worth the price… in my opinion.

Oh ya, just in case you have this question in your mind… nonton di IMAX tetap ada subtitle-nya kok. So you don’t need to worry about getting lost in translation, hehehehe.

P.s.: Buat yang belum tau, sampai saat tulisan ini gue publish, studio IMAX di Indonesia baru ada di Gandaria City aja ya, guys.

Disney on Ice: Let’s Celebrate!

Tahun 2010, gue pertama kali denger soal pertunjukan Disney on Ice yang sedang mampir di Jakarta. Sayangnya, saat periode show itu ceritanya gue lagi bokek. Maklum, waktu itu masih jamannya kerja jadi junior auditor, duit masih serba ngepas. Satu tahun kemudian, Disney on Ice kembali mampir ke Jakarta. Sayangnya lagi, bentrok sama rencana liburan gue ke Hongkong dan sekitarnya. Jadi ya sudahlah… gue pikir tunggu tahun depan lagi. Sampai akhirnya tibalah bulan April 2012… sudah saatnya gue nonton live show ini!

Tadinya gue nyaris batal nonton pertunjukan ini. Susah banget cari orang yang mau temenin gue nonton karena bermacam-macam alasan. Kebanyakan karena faktor harga yang relatif mahal, ada pula yang jadwalnya bentrok, atau tidak tertarik nonton karena katanya, ini pertunjukan buat anak-anak kecil, hehehehehe.

Sampai Minggu pagi tanggal 22 April 2011 (hari terakhir Disney on Ice Jakarta 2012 digelar), sudah gue ikhlaskan nggak jadi nonton Disney on Ice tahun ini. Insyaallah masih ada tahun depan. Tapi tiba-tiba si Nana, teman baik gue waktu di EY, kirim Whatsapp ngajakin nonton live show ini! Yaaay, akhirnya gue jadi nonton^^

Soal jalan cerita sih nggak terlalu penting lah yaa. Intinya sih tokoh-tokoh Disney itu menampilkan berbagai jenis perayaan. Ada perayaan ultah, Halloween, Valentine, Natal, dsb… Tokoh-tokoh Disney itu menampilkan tarian di atas arena ice skating menggunakan kostum yang berbeda-beda, disesuaikan dengan tema perayaannya.

Berikut ini, plus-minus dari Disney on Ice: Let’s Celebrate yang gue saksikan minggu lalu.

PLUS:

  1. Para pemainnya benar-benar terlatih. Saat nonton, dalam hati gue berpikir… “Kalo dia sampe jatuh atau kepeleset gimana ya?” Tapi ternyata sampai akhir acara, nggak ada satu pemain pun yang gue lihat mengalami kecelakaan saat pentas;
  2. Atraksinya memukau. Penonton selalu bertepuk tangan dengan riuhnya setiap kali para pemain di depan baru saja menampilkan atraksi yang rasa-rasanya impossible untuk bisa kita lakukan sendiri. Kalo kata Nana, ada beberapa pemain yang terlihat seperti sedang ‘terbang’ saking lincahnya;
  3. Kostumnya lucu-lucu! Disney benar-benar all out buat urusan kostum. Terlihat mewah, cute, dan sangat sesuai dengan tema yang sedang ditampilkan;
  4. Simple but looks sweet decorations. Kereta-kereta esnya juga lumayan lucu, walau jumlahnya tidak terlalu banyak;
  5. Gue suka banget sama tema Valentine. Pada tema ini, setiap pasangan dalam keluarga besar Disney (misalnya Cinderella dengan pangerannya, Jasmine dengan Aladdin, dsb…) ditampilkan untuk menari berpasang-pasangan. Suasananya romantis, diiringi lagu-lagu yang sudah familiar di telinga kita (misalnya, A Whole New World, Beauty and the Beast, Reflection, dsb…). Gue sampe sempet agak-agak merinding waktu nonton tema ini, hehehehehe; dan
  6. Mayoritas pemainnya cantik dan ganteng. Ada cowok di tema Hawaii yang tampil topless. Gila yaa, perutnya six pack dan tampangnya mirip-mirip Ashton Kutcher gituu, hihihihihi.

MINUS

  1. Atraksinya emang keren, tapi banyak pengulangan, sehingga lama-lama kelihatannya biasa-biasa saja;
  2. Formasi tariannya kurang rapih. Ada pula beberapa tarian yang sebetulnya masih bisa dipercantik. Tapi mungkin memang lebih sulit ya, menari ala ice skating kayak gitu, makanya jadi kelihatan kurang all out;
  3. Nggak ada acara foto bareng para pemainnya. Padahal gue pengen banget foto bareng Minnie Mouse yang pake kostum kimono warna pink;
  4. They speak English all the times. Suasana pasti akan jauh lebih meriah jika mereka menggunakan bahasa yang dimengerti oleh seluruh penontonnya. Tapi gue amazing juga sih sama anak-anak jaman sekarang. Ada cukup banyak anak yang bisa menjawab yang diajukan oleh Mickey Mouse dalam bahasa Inggris yang menurut gue tuh lumayan rumit; dan
  5. Kurang banyak unsur kejutan. Kalaupun ada, sifatnya masih nanggung. Tapi setelah gue pikir-pikir, mungkin karena keterbatasan ruangan aja kali yaa. Tapi lebih banyak kejutan (misalnya kembang api warna-warni yang meriah) bisa bikin pertunjukan tambah berkesan.

Kesimpulannya, buat gue nonton pertunjukan ini udah masuk kategori lumayan. Lumayan buat menjawab rasa penasaran gue, lumayan buat cuci mata, dengan harga yang lumayan mahal juga, hehehehe.

However kalo menurut gue, if you want to make your kids happy, you could just bring them to watch this show! Anak-anak kecil di sana tuh ya, baru ngelihat Mickey dadah-dadah aja udah histeris saking senengnya. Mirip-mirip lah sama ABG kalo ngelihat artis idolanya di panggung konser… Jadi nanti kalo ponakan gue udah gedean, atau kalo gue sendiri udah punya anak, gue bakal bawa mereka nonton pertunjukan ini. Tapi sebelumnya, mereka bakal gue kasih kursus Bahasa Inggris dulu supaya bisa ngejawab pertanyaan yang diajukan Mickey Mouse, hehehehehe.

The Vow; Pentingnya Menjaga Janji Pernikahan

Awalnya, gue ngebet kepengen nonton The Vow cuma karena satu alasan: there is Chaning Tatum in this movie. Gue emang udah ngefans banget sama aktor ganteng ini sejak pertama kali nonton G.I. Joe. Baru sejak itu gue sadar bahwa dia adalah cowok ganteng yang sama yang sebelumnya pernah membintangi She’s the Man! Dari situ gue pun mulai mencari-cari film yang pernah dia bintangi, dan kebetulan, gue emang selalu suka sama film-filmnya dia. Sebut aja Step Up dan Dear John, 2 filmnya Chaning Tatum yang paling gue sukai setelah G.I. Joe.

Now let’s go to talk about The Vow; film yang terinspirasi dari kisah nyata yang dialami pasangan Carpenters di New Mexico, pada tahun 1993.

The Vow bercerita tentang kecelakaan tragis yang menimpa sepasang suami isteri, Leo (Chaning Tatum) dan Paige (Rachel McAdams), yang mengakibatkan Paige sempat terbaring koma beberapa minggu lamanya. Saat sang isteri bangun dari tidur panjangnya, diketahui bahwa ternyata, dia mengalami lupa ingatan yang menghapus semua memori jangka pendeknya, termasuk memori mengenai Leo, suaminya sendiri.

Pada saat terbangun, Paige merasa dia masih Paige yang dulu: anak praktisi hukum kaya raya yang juga sedang mengambil pendidikan hukum di universitas ternama, yang bahkan ironisnya, Paige merasa masih bertunangan dengan mantan kekasihnya yang dulu!

Leo yang terlihat sangat-sangat mencintai istrinya itu lalu berusaha keras untuk mengembalikan ingatan Paige, serta berusaha keras untuk membuat sang istri kembali jatuh cinta kepadanya seperti sebelum kecelakaan itu terjadi. Hal ini seolah pembuktian dari “the vow” atau janji yang dulu diucapkan Leo pada hari pernikahannya bahwa dia akan mencintai Paige dalam keadaan apapun, dan bahwa cinta yang dia miliki adalah cinta untuk selama-lamanya.

Saat membaca resensi film The Vow, gue mengharapkan ada banyak adegan romantis yang menunjukkan usaha Leo untuk kembali memenangkan hati istrinya. Adegan seperti itu memang ada, tapi tidak sebanyak yang gue harapkan. Sepanjang film ini, Leo hanya mengajak Paige yang lupa ingatan itu untuk berkencan sebanyak satu kali saja. Bagaimana mungkin Paige bisa jatuh cinta kepada Leo hanya setelah satu kali berkencan? Bagi Leo, kencan itu bisa jadi sudah kencan yang ke puluhan atau ratusan kali, tapi bagi Paige, that was her first date with Leo. Jadi kenapa usaha Leo hanya sampai di situ saja?

Masih ingat film 50 First Dates yang dibintangi oleh Adam Sandler dan Drew Barrymore? Film ini juga bercerita tentang wanita yang mengalami gangguan pada ingatannya. Dalam 50 First Dates malah jauh lebih parah; Lucy sang wanita akan melupakan Henry sang pria satu hari sesudahnya! Akhirnya, setiap hari, Henry selalu mencari cara-cara baru untuk membuat Lucy kembali jatuh hati kepada dirinya. Hubungannya dengan The Vow, menurut pendapat gue pribadi, usaha sekeras Henry itulah yang mungkin penonton harapkan akan senantiasa dilakukan oleh Leo, tanpa pernah mengenal kata menyerah.

Jadi kalau menurut pendapat pribadi gue, film The Vow terasa agak-agak mengecewakan. Akhirnya Leo menyerah dan memutuskan untuk bercerai dengan Paige. At that point, his vow in his wedding day has been broken. Memang mengharukan melihat Leo menitikkan air mata saat memutuskan untuk menyerah dan melepaskan Paige. Tapi akan lebih mengharukan jika bisa melihat Leo pantang menyerah untuk mendekati istrinya kembali.

Kembali ke pasangan Carpenters; pasangan yang mengilhami lahirnya film layar lebar ini, kenyataannya, perceraian itu tidak pernah terjadi di anatara mereka. Jika merujuk pada kisah nyata keluarga ini, sang suami benar-benar tidak pernah menyerah menghadapi istrinya yang sudah melupakan dirinya itu. Dia bukan cuma harus berusaha mendapatkan kembali cinta sang istri, melainkan juga harus bersabar menghadapi perubahan tingkah laku yang dialami istrinya pasca trauma otak.

Pada saat-saat tersulitnya, Mr. Carpenter berkata, “I’m no hero. I made a vow.”

Begitu pula dengan Mrs. Carpenter. Selama lupa ingatan (yang sampai sekarang ingatan yang hilang itu masih belum kembali lagi), dia tetap berusaha mempertahankan pernikahannya hanya karena dia merasa harus memegang teguh janjinya kepada Tuhan, yang dia ucapkan di hari pernikahannya.

Kesimpulannya kali ini, The Vow tidak berhasil masuk ke daftar film favorit sepanjang masa yang gue punya. Alur ceritanya kurang rapih, jalan pikiran tokoh-tokohnya agak sulit dimengerti, dan jalan ceritanya tidak sesuai dengan ekspektasi. Padahal film ini bisa jauh lebih bagus, dan seharusnya, film ini bisa memberikan inspirasi tentang pentingnya menjaga janji pernikahan.

Menurut gue, janji adalah sesuatu yang terkadang diperlukan usaha keras hanya untuk dapat memenuhinya. Begitu pula dengan jodoh… Tuhan hanya mempertemukan, tetapi tetap manusia yang harus berusaha untuk mendapatkan dan mempertahankannya. Itulah alasannya gue tidak setuju dengan pernyataan Leo saat memutuskan untuk melepas Paige. Dia bilang, jika mereka memang ditakdirkan untuk bersama, maka mereka akan kembali bersama.

Memang pada akhirnya, Paige sendiri yang datang kembali kepada Leo. But the thing is… the vow has been broken and in real love, having just faith is not enough. You have to fight for it, no matter what the barrier is. Berkacalah pada pasangan Carpenter… yang benar-benar berjuang sekuat tenaga instead of hanya sekedar pasrah kepada takdir.

At the end… The Vow movie is not too bad for me. At least… seeing the cute Chaning Tatum could be so much entertaining, hehehehehe.

Clinique Dramatically Different Mousturizing Gel

Berawal dari obrolan gue sama salah satu teman kantor, gue jadi terinspirasi buat coba cari pelembab lain yang harganya lebih mahal dengan harapan, hasilnya akan lebih bagus buat muka gue. Waktu itu ceritanya gue ngeluh… kenapa kulit wajah gue enggak seputih dan semulus kulit badan gue? Temen gue otomatis nanya… emangnya gue pake apa buat kulit badan gue? Untuk sabun mandi, gue lebih suka pake sabun merk sejuta umat (soalnya entah kenapa, pake sabun mahal itu malah bikin badan terasa lengket setelah mandi), tapi untuk body lotion, memang agak eksklusif dan harganya pun relatif mahal.

Dari situ gue baru sadar… meskipun pake sabun murah yang katanya sih bisa bikin kulit jadi kering, nyatanya kulit badan gue tetep sangat ketolong sama si pricey lotion. Kulit jadi lebih putih (padahal body lotion gue itu bukan pelembab yang tujuannya mencerahkan warna kulit lho), lebih halus, dan kelihatan sangat mulus.

Nah, akhirnya gue pun terpikir untuk melakukan hal yang sama buat kulit wajah gue. Entah kenapa, muka gue ini justru lebih cocok sama pembersih muka yang murah meriah. Gue bilang cocok karena cuma pembersih murah meriah inilah yang berhasil ngurangin jumlah jerawat di muka gue. Tapi tetep aja… pembersih ini enggak berhasil bikin muka gue jadi kelihatan bersih bersinar. Malah biasanya, setiap kali habis membersihkan muka, yang ada kulit gue jadi terasa kering. Waktu pake bedak pun jadi terlihat semakin jelas ada permukaan kulit wajah yang agak bersisik. Jadi siapa tahu aja, dengan pake pelembab yang lebih mahal juga akan bisa menutupi kekurangan yang tidak bisa diatasi oleh pembersih muka gue.

Akhirnya gue pun buka makeupalley.com buat cari referensi. Sengaja gue cari produk pelembab yang banyak disukai oleh member yang mempunyai kulit sangat berminyak seperti gue. Nggak butuh waktu lama, gue langsung tertarik buat beli pelembab khusus kulit berminyak keluaran Clinique. Nama produknya: Clinique Dramatically Different Moisturizing Gel.

Berhubung gue tahu harga Clinique di Indonesia itu relatif mahal, maka gue pun memutuskan buat pesan online via strawberrynet.com. Kenapa strawberrynet.com? Karena gue udah beberapa kali membuktikan sendiri bahwa produk mereka memang benar-benar asli, service-nya cepat dan memuaskan, transaksi pembayaran online-nya juga sejauh ini aman-aman aja buat gue. Strategi bisnis mereka juga masuk di akal, sehingga gue jadi tahu bagaimana caranya mereka bisa tetap menjual produk branded asli dengan harga yang jauh lebih murah.

Enggak sampai dua minggu kemudian, produk yang gue pesan itu tiba di kantor dengan selamat. Kemudian begitu gue coba pakai pelembab berbahan dasar gel ini, gue langsung bisa ngerasain bedanya; hanya dengan sedikit gel saja sudah bisa membuat kulit wajah gue terasa lembab! Beda banget sama lotion lama gue yang mesti sampai beberapa kali ambil baru bisa bikin muka gue terasa nyaman dan tidak kering. Kemudian entah kenapa, di beberapa kali pemakaian pertama, seperti ada butiran-butiran sangat kecil yang keluar dari permukaan kulit saat gue mengusapkan gel itu ke seluruh wajah. Gue sampe sempet mikir jangan-jangan produk ini ada mengandung unsur exfoliating juga kali yaa…

Sekitar dua sampai tiga hari setelah pemakaian, kulit wajah gue sudah terlihat lebih mulus. Gue baru menyadari hal itu setelah beberapa orang mulai berkomentar, “Eh, kulitlo kok sekarang kinclong gitu sih? Jerawatnya pada ke mana?” – itu komentar temen gue yang hobi nyablak, atau, “Ipeh kok tumben… lagi stres tapi jerawatnya nggak keluar?” – itu komentar temen gue yang orangnya halus ala puteri Solo, hehehehehe.

Dari situ gue sadar… jerawat sih sebenernya emang udah lama jarang keluar. Tapi emang kulit wajah gue sedikit demi sedikit sudah kelihatan lebih mulus! Kalo gue bandel bersihin muka masih tetep suka break-out siih, tapi overall beneran deh, terlihat dan terasa ada perubahan signifikan setelah gue pakai pelembab ini. Lama-lama kulit wajah gue jadi terasa semakin halus kalau disentuh, dan bedak juga jadi bisa nempel lebih bagus di kulit wajah gue. Pokoknya benar-benar memuaskan! I do really think that the quality worth the price. It feels like… I have found my soul mate in moisturizer area, hehehehehe.

Raditya Dika dan Manusia Setengah Salmon

Waktu gue baru aja beli buku ke enamnya Raditya Dika ini, adek gue bertanya, “Ini buku apa sih? Novel?”

Pertanyaan yang sulit… Kalo ada orang yang nanya hal serupa untuk buku ke limanya Raditya Dika yang berjudul Marmut Merah Jambu itu, gue bisa jawab, “Kumpulan kisah cintanya si Raditya Dika.” Tapi kalo buat buku Manusia Setengah Salmon iniii, gue juga bingung mau kasih jawaban apa.

Hal ini ngingetin gue sama percakapan antara dua orang teman sekantor gue yang dulu. Salah satunya bertanya, “Blog-nya si Ipeh isinya apa?”

Temen gue yang satunya lagi, yang gue tau emang lumayan sering baca isi blog gue ini menjawab, “Hmmm… macem-macem.”

Jadi… itu pula jawaban yang gue berikan untuk adek gue soal buku terbarunya Raditya Dika, “Ya macem-macem. Mirip-mirip isi blog gitu lah.”

Nah, sekarang gue mau nge-review isi buku yang baru aja selesai gue baca ini. Dari segi coversorry to say, agak-agak kurang komersil. Semua cover bukunya Raditya Dika emang identik dengan aneh, tapi baru yang satu ini yang kalo menurut gue penampilannya terlihat ‘murah’. Tapi mestinya hal ini bukan masalah besar secara si pengarang ini udah punya nama yang cukup terkenal di Indonesia. Ditambah lagi promosi ala Raditya Dika yang gencar dia lakukan via Twitter-nya yang notabene, punya sangat banyak followers buat ukuran seorang penulis.

Kemudian dari segi isi buku… Masih ada beberapa jokes khas Raditya Dika yang to be honest, it’s not my personal taste. Gue bukan tipe orang yang akan tertawa saat membaca atau menonton komedi yang menjadikan kentut dan hal-hal jijik yang berbau aneh lainnya sebagai lelucon. Di buku ini, di bab pertamanya aja udah menampilkan kentut sebagai topik utama. Tapi karena sejak awal gue udah berniat mau bikin review, mau nggak mau harus gue baca semuanya sampai tuntas. I think it’s not fair if I judge a book without completely reading the whole of the pages.

Tapi, yaah, bukan Raditya Dika namanya kalo enggak berhasil bikin orang jadi ketawa. Gue enggak bisa berhenti nyengir waktu baca tulisan yang berjudul “Hal-hal yang Seharusnya Tidak Dipikirkan tapi Entah Kenapa Kepikiran”. Sempet pula ketawa ngakak waktu baca tulisan yang judulnya “Kasih Ibu Sepanjang Belanda”. Sisanya cukup menghibur, dan menyenangkan untuk dibaca sehingga tanpa disadari, satu buku itu sudah gue baca dalam sekejap saja.

Selain tulisan-tulisan lucu, ada pula beberapa tulisan yang menurut gue, sama sekali enggak lucu. Misalnya tulisan yang berjudul “Akibat Bertanya ke Orang Yang Salah Tentang Ujian” atau “Hal-hal Untuk Diingat Ketika Kencan Pertama.” Dua topik ini asli bikin gue bosen banget. Gue bukan tipe orang yang mempraktekkan tehnik membaca cepat, tapi buat dua tulisan tersebut itu, gue terpaksa membaca dengan cepat supaya bisa segera lanjut ke tulisan berikutnya.

Di buku ini ada pula tulisan yang sebenarnya pernah dimuat di Twitter-nya Raditya Dika. Gue inget banget, gue pernah ngerasa agak tersinggung sama tweet yang bertema penggalauan itu. Gue sempet mikir, “Nih orang ngerasa sebegitu oke-nya ya, sampe bisa nulis seperti itu?” However it was not a big deal karena faktanya, gue tetep aja beli buku ini persis di hari pertama sang buku beredar di pasaran. Dan meski ada kalanya Raditya Dika ini ‘kumat’ bikin tweet yang isinya menyebalkan, toh itu nggak berhasil bikin gue unfollow si penulis Kambing Jantan itu… Jadi sudahlah. Toh kayaknya, topik penggalauan itu justru salah satu tweet-nya dia yang paling terkenal.

Overall, gue menyimpulkan buku Manusia Setengah Salmon ini cukup menghibur lah yaa. Not the best of Raditya Dika siih. My favorite still goes to Marmut Merah Jambu. Tapiii, yaah, itu kan menurut pendapat pribadi gue. Beda orang kan beda selera. Ada orang yang bisa ketawa ngakak lihat adegan orang muntah di layar lebar, tapi ada pula yang merasa jijik seperi gue. Atau misalnya, gue yang hobi traveling pasti lebih menaruh minat sama tulisan di buku Manusia Setengah Salmon yang bercerita tentang pengalaman si penulis saat berada di luar negeri. Buat orang lain yang wawasan globalnya tidak seberapa, bisa jadi lelucon yang gue anggap lucu malah terlihat seperti kalimat biasa yang tidak ada lucu-lucunya. Tapi sekali lagi… bukan Raditya Dika namanya kalo ada orang yang sama sekali tidak tertawa saat membaca semua isi dalam satu buku yang dia tulis. It’s definitely a book for everyone. So just read and prove it guys.

Don’t Bring Your Kids to Watch Breaking Dawn!

Gue akui gue tipe orang yang suka mengolok-olok jalan cerita Twilight tapi anehnya, gue tetep aja baca keempat novelnya sampe habis, dan… gue juga enggak pernah ketinggalan nonton filmnya di masa-masa awal penayangan di layar lebar. Kenapa gue suka mengolokg-olok? Karena menurut gue, ada beberapa hal aneh yang enggak well connected dalam cerita berseri ini.

Kenahean pertama soal tidak konsistennya keistimewaan Bella sebagai manusia biasa: dia tidak bisa dibaca isi pikirannya oleh Edward, tidak bisa pula ditembus oleh berbagai keistimewaan para keluarga vampir Volturi, tapi anehnya, si vampir Alice masih bisa menggunakan kemampuannya dalam meramal masa depan untuk menerawang hal-hal buruk yang akan menimpa Bella.

Keanehan yang ke dua, kok bisa vampir yang seluruh organ tubuhnya sudah membeku, yang juga tidak lagi mempunyai denyut jantung dan darah mengalir dalam tubuhnya itu masih bisa memproduksi sperma yang kemudian membuahi sel telur istrinya?

Yang paling aneh menurut gue, bener-bener enggak kebayang gimana kesakitannya Bella saat malam pertama mereka, dan lebih enggak kebayang lagi gimana bisa dia malah jadi ketagihan? I have heard from so many friends that their first time sex didn’t work as easy as they thought mostly because it was very painful for the women. Ada beberapa dari mereka yang memutuskan untuk menunda ‘percobaan’ berikutnya sampai mereka kembali siap. Jadi gimana mungkin Bella si manusia biasa yang ceritanya masih virgin itu malah jadi ketagihan setelah dibuat memar di sana-sini sama Edward si powerful vampire setelah malam pertama mereka?

Lupakan semua keanehan itu dan mari kita bahas esensi dari judul tulisan gue di blog ini: don’t bring your kids to watch Breaking Dawn. In my opinion, berikut ini daftar alasannya:

  1. As you know, ada adegan seks pertama kalinya antara Edward dengan Bella selama honeymoon mereka. Dan ternyata, adegan seks itu ditampilkan sang sutradara film dengan cara yang melebihi imajinasi gue. Nggak nyangka aja Kristen Stewart berani tampil almost naked di film itu. Lagian bukannya Twilight ini banyak digemari oleh anak-anak dan ABG di seluruh dunia yah? Kalo buat gue sih enggak terlalu vulgar lah ya, tapi tetep aja… I don’t think it’s appropriate for the children;
  2. Adegan Bella melahirkan juga bukan sesuatu yang boleh dilihat sama anak-anak. Bayangin aja… ada perut hamil dibelah pisau bedah, sebuah suntikan besar yang ditancapkan sekuat tenaga langsung ke jantungnya Bella, serta kondisi Bella yang terlihat sangat mengerikan setelah melahirkan anaknya. Jangan aja anak-anak jadi berpikir memang seperti itulah proses melahirkan yang sewajarnya; dan
  3. Yang terakhir, adegan-adegan sepele kayak isi mimpinya Bella satu malam menjelang pernikahan, adegan Edward menghisap darah manusia yang masih hidup, atau waktu Bella minum segelas besar darah manusia selama kehamilannya. I’m afraid those scenes would harm the children’s mind.

Terlepas dari semua review negatif yang gue sebutkan di atas (oh iya, masih ada satu lagi negative review dari gue: special effect saat para serigala ‘menggelar meeting’ terlihat sangat fake… seems like the producer didn’t spent a lot of money for this), tetap ada beberapa hal yang gue sukai dari film Breaking Dawn.

Yang pertama adegan pernikahan pernikahan Bella dengan Edward. Berlokasi di taman belakang rumah The Cullens yang dihiasi dengan bunga-bunga rampai yang turun dari langit-langit. To be honest… that is the wedding decoration I’ve been dreaming of. Dan meski gue bukan tipe cewek yang pengen cepet-cepet getting married, gue tetep ngerasa adegan pernikahan di film ini terlihat sangat mempesona. Sederhana, sakral, dan menyentuh hati.

Yang ke dua, bayi Renesmee di film ini bener-bener sesuai sama imajinasi gue saat baca novelnya: bayi mungil yang cantik, lucu, dan menggemaskan. Sayang banget bayi ini cuma muncul sebentar di akhir film…

Yang ke tiga, interior cantik rumah Edward dan juga cantiknya villa pribadi tempat Edward dan Bella menghabiskan bulan madu. I guess everyone is dreaming of such a beautiful place to spend their honeymoon.

Yang terakhir adalah akting Robert Pattinson yang berhasil menunjukkan betapa Edward sangat-sangat mencintai Bella. Dan menurut gue, alasan kenapa banyak cewek tergila-gila sama Twilight adalah keinginan dalam hati kecil mereka untuk dicintai sampai sebesar itu. Apalagi ada pula si Jacob sang serigala yang juga tergila-gila sama Bella Swan. Gue rasa semua cewek pernah punya semacam khayalan diperebutkan dua cowok yang sama-sama ganteng dan keren kayak Edward dan Jacob.

Overall, this movie is still entertaining for me. Buat cowok-cowok yang ngerasa males nemenin ceweknya nonton juga enggak usah sebegitu ogahnya. Lagian gue yakin, hanya dengan baca review dari gue di blog ini aja udah cukup bikin cowok-cowok jadi penasaran pengen nonton, hehehehehe. Finally gue cuma mau bilang… dibanding tiga film pendahulunya, film Breaking Dawn inilah yang realisasinya paling mendekati imajinasi para pembaca. Two thumbs up for the movie makers.

Real Steel

Yesterday, I’ve just watched another awesome Hollywood movie. Dari awal, gue udah tau dari temen-temen kalo Real Steel ini bagus. Setelah gue nonton sendiri, gue setuju bahwa film ini emang bagus, keren, dan gue suka banget!

Real Steel bercerita tentang Charlie, cowok urakan yang tiba-tiba harus mengasuh anak kandungnya untuk sementara waktu. Jadi ceritanya, semenjak Max – anak Charlie, lahir sebelas tahun yang lalu, Charlie tidak pernah ikut membesarkan anak itu. Baru setelah sang mantan pacar a.k.a ibunya Max meninggal dunia, Charlie jadi harus berhadapan kembali dengan puteranya itu.

Charlie ini berprofesi sebagai fighter yang mengendalikan robot-robot canggih dalam pertandingan tinju. Tadinya Charlie hampir saja bangkrut. Satu per satu robot yang dimilikinya malah jadi hancur berantakan karena kalah bertanding melawan robot-robot lainnya. Tetapi berkat robot bekas yang ditemukan Max di pembuangan sampah, yang kemudian dimodifikasi dan dilatih oleh Charlie dan Max, Atom sang robot bekas berhasil membawa nama kedua orang itu ke puncak popularitas dalam dunia pertandingan robot profesional.

Yang paling gue suka dari film ini adalah kekuatan karakter tokoh-tokoh utamanya. Penonton bisa dengan mudah mendalami karakter mereka tanpa perlu banyak-banyak berpikir. Misalnya memahami dengan sendirinya bahwa karakter Max itu benar-benar sama persis dengan karakter ayah kandungnya: menyukai robot boxing, gambling freak, keras kepala, serta sangat suka menjadi pusat perhatian . Akting para pemainnya, termasuk akting pemeran si kecil Max benar-benar sangat memukau penonton. Karakter Charlie dan Max jadi terasa benar-benar nyata.

Meskipun tema utama film ini adalah action robot, unsur drama tetap cukup terasa menyentuh hati. Konflik emosi antara Charlie dengan Max lumayan bisa bikin penonton jadi mengharu-biru. Hanya saja sayangnya, unsur ikatan emosi yang sama tidak tampak dalam hubungan Charlie dan Max dengan Atom sang robot binaan mereka. Beda banget sama ikatan emosi antara Bumblebee dengan Sam di Transformers misalnya. Adek gue bilang, dia sempet sampe nangis waktu melihat adegan Bumblebee hampir saja musnah saat bertarung melawan musuh-musuhnya. Hal yang sama tidak begitu terasa saat melihat Atom babak belur karena dipukuli oleh Zeus saingan terberatnya.

Biasanya, suatu film bisa jadi film favorit gue karena ada unsur moral of the story yang sangat mengena di hati gue. Tapi untuk film yang satu ini, rasa-rasanya hampir tidak ada moral of the story yang bisa gue bawa pulang. Tidak ada pula inspirational quotes yang berkesan banget buat gue. Satu-satunya kalimat yang lumayan mengena di hati gue adalah pada saat dialog sebagai berikut:

Charlie  : “What do you want from me?”

Max       : “I only want you to fight for me all the way.”

I simply think that deep in their hearts, everyone is longing for someone who is willing to always fight for their existences.

Meskipun enggak ada moral of the story yang gue anggap penting, hal ini sama sekali tidak mengurangi kesenangan yang gue rasakan saat dan setelah nonton film ini. Ada cukup banyak adegan lucu, pertandingan yang seru, special effect yang semakin keren, serta adegan yang tanpa banyak bicara sudah mampu menyentuh hati para penontonnya. Kesimpulannya, it’s a must watch movie, and yes… I have just added this movie title as one of my favorite movies.