A journey to remember

The Hunger Games Trilogy: My Book Review

Posted on: August 21, 2012

Satu hal yang selalu bikin gue salut dari penulis-penulis bule adalah daya imajinasi mereka yang sangat all out. Mereka seolah menciptakan dunia baru yang jauh berbeda dengan kehidupan saat ini. New governmental rules, new society, advanced technology, and many details in such a new world. Misalnya, novel Harry Potter dengan sekolah sihir Hogwarts-nya, The Selection dengan negara Illea, dan The Hunger Games dengan negara Panem.

The Hunger Games yang diikuti oleh 2 sekuelnya: Catching Fire dan Mockingjay mengambil tema dystopia a.k.a gambaran kehidupan masa depan yang justru lebih suram daripada masa sekarang. Sang penulis, Suzanne Collins, menggambarkan cukup detail sistem pemerintahan dan kondisi masyarakat di negara Panem. Nice try, hanya saja sayangnya, kalau kita mau berpikir logis sejak awal, sebetulnya yang namanya pertandingan mematikan ala Hunger Games ini jelas tidak mungkin bisa terjadi di muka bumi ini. Apa kabar PBB dan badan-badan HAM di negara tetangga? Hal ini yang terlewat oleh Suzanne: dia tidak menggambarkan apakah Panem itu tinggal satu-satunya negara yang tersisa di masa depan atau bagaimana?

Kelemahan detail lainnya adalah sulitnya buat gue mendapatkan greget dari panasnya situasi politik di Panem. Gue ngerti banget kenapa penduduk 13 distrik sampe sebegitu bencinya sama The Capitol, tapi gue enggak gitu nangkep adanya benang merah yang nyata antara sikap Katniss dan Peeta sepanjang Hunger Games dengan tersulutnya pemberontakan melawan pemerintah Capitol. Rasanya enggak ada sesuatu yang luar biasa berkesan yang bisa bikin Katniss dijadikan simbol pemberontakan. Penulis udah usaha banget buat jelasin, tapi kalo menurut gue, ujung-ujungnya justru too much details yang enggak banyak manfaatnya.

Selain soal detail yang kurang menggigit, gue juga menemukan satu klise yang umum terjadi dalam penulisan novel: banyaknya orang yang dengan sukarela mendukung sang tokoh utama tanpa alasan yang cukup kuat. Harusnya kan dibutuhkan alasan yang luar biasa besar untuk bisa membuat orang lain sampai rela mengorbankan nyawa demi si tokoh utama misalnya. Terlalu sering menemukan hal ini di trilogi Hunger Games malah bikin gue enggak lagi ngerasa tersentuh.

Satu kekurangan lain yang ingin gue tulis di sini adalah terjemahan yang tidak sempurna. Gue agak sulit membayangkan manuver yang ingin digambarkan si penulis, dan suka agak sulit juga memahami isi dari kalimat yang diterjemahkan itu. Udah gitu ada cukup banyak paragraf yang harusnya terpisah malah digabung menjadi 1 paragraf yang sama. Hal ini lumayan bikin bingung… jadinya ini siapa yang lagi ngomong sama siapa? Mungkin emang sengaja digabung untuk menghemat kertas kali yaa.

Well… terlepas dari segala kekurangannya, kenyataannya, I could declare that I’m a big fan of Hunger Games. Rasanya tuh ada ikatan khusus yang bikin gue suka banget sama trilogi ini. Jalan ceritanya bikin novel ini bikin gue enggak sabar pengen cepet baca sampai selesai. Rasanya penasaran banget untuk baca bab selanjutnya, bener-bener tipe buku yang bisa bikin lupa makan dan lupa mandi, hehehehe. Saking sukanya, tiga buku yang masing-masing setebal kurang-lebih 400 halaman ini gue habiskan tidak sampai 3 hari saja. Andai gue nggak perlu tidur, makan, minum, mandi, dan silaturahmi ke luar rumah dalam rangka lebaran, gue yakin bisa nyelesain baca buku ini dalam 24 jam.

Lalu apa yang bikin gue jatuh cinta setengah mati sama buku ini? It’s simply the romance. Terharu banget rasanya melihat betapa besar cinta Peeta buat Katniss. Peeta is not perfect, but he loves Katniss perfectly. Aww… 😉 Selain itu… ya itu tadi: jalan ceritanya bikin penasaran!

Menurut pengamatan gue, seringkali tidak dibutuhkan detail yang luar biasa rapih, karakter yang luar biasa kuat, dan jalan cerita yang luar biasa seru untuk membuat sebuah buku mendapatkan gelar best seller. Cukup taruh saja beberapa adegan romantis yang berkesan di hati pembaca, maka dijamin… buku itu bakal jadi favorit kaum hawa. Oh ya, jangan lupa… resep utamanya adalah, harus si cowok yang lebih cinta sama ceweknya. Bikinlah cerita yang bisa bikin para pembaca jadi berkhayal, atau jadi kepingin, mempunyai kisah asmara dan juga punya pacar yang sehebat itu. Resep cerita seperti ini selalu berhasil bikin cewek jadi tergila-gila.

Kita ambil contoh serial Twilight. Gue bisa bilang semua kelemahan The Hunger Games yang gue sebut di atas ada semua di bukunya Stephenie Meyer sangat booming ini. Tapi tetap saja Twilight jadi favorit cewek-cewek di berbagai belahan dunia… Karena apa? Ya karena romatisnya, dan lagi-lagi, karena besarnya cinta si tokoh utama cowok untuk ceweknya.

Untuk buku lokal, gue ingin ambil Lukisan Hujan-nya Sitta Karina sebagai contoh. Tulisan Sitta di buku itu masih belum sebaik tulisan dia di buku-buku terbarunya. Di Lukisan Hujan, gaya penulisan Sitta masih agak sulit dipahami. Konfliknya juga kurang kuat dan kurang menggigit. Meski begitu, buku ini tetap melejit sebagai best seller hanya karena 1 alasan utama: romantisme yang sungguh menyentuh hati pembaca.

Seperti review yang pernah gue tulis via Goodreads, kisah dalam trilogi ini udah berhasil mengubah sudut pandang gue soal kriteria pacar idaman. Kenyataannya memang benar, cewek-cewek tidak selalu mencari cowok yang paling hebat, mereka jauh lebih membutuhkan cowok yang bisa mencintai mereka dengan hebat. Gue sampe dengan polosnya berpikir, “Peeta emang kelihatannya cupu, tapi pengen deh, punya pacar kayak Peeta.”

Finally, selain bikin gue jadi ngefans sama tokoh Peeta, trilogi The Hunger Games bikin gue kembali tergugah, “Oh my God… kapan ya, gue bisa nyelesain novel gue sendiri? Gue pengen bikin novel yang nggak kalah hebat!”

Well, gue janji, setelah gue posting review ini di blog, gue akan langsung terusin ngetik novel perdana gue. Doakan yaa!

Advertisements
Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

My Blog Counter

  • 988,495 visits since May 2011

My Blog Categories

My Blog Archives

Click here to read my tweets…

Click the pictures below to visit my Instagram...

From classmates to travelmates! Been friends since we were only 15 years old! Met them up today and we’ve made a lot of plans for our coming trips. Let’s make it happen!
I don’t know why but I couldn’t seem to get any new outfit for Lebaran this year. I went to three shopping malls but then I went home with empty hands. So here I am... wearing one old dress I bought a couple years ago. Today before Eid prayer was begun, I saw something that made me smile. I instantly knew that I’ve had something way more important than a new dress for myself. I’d be happy if I had a new dress, but I’m still perfectly happy even without any of it. God has been incredibly kind to me and Ramadhan this year couldn’t be more miraculous to me. I am full of flaws, but I’ve had way more than enough, and I couldn’t ask for more. Eid mubarak and please do forgive me for all the wrong said and done. Let’s celebrate this holly day as the new beginning for each and everyone of us. Love - Riffa.
Arfa, my very first nephew, is turning six today! Just two days ago, he told me, “Aunty, when I grow up, I want to be vey rich so that I can buy for you anything you want!” He’s lovable, isn’t he? It never ceases to amaze me to see all the new things he learned, said, and did in the past 6 years. He’s growing up so fast and I can’t be prouder of him! Happy birthday, Arfa! Wish you’ll always be a loving kid and may Allah always bless you in every step of the way. So much love - your proud Aunty ❤️

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

About Me

What my blog is all about? It's all about my life; my very own fairy tale, that I would love to share. This is my story, my ups and downs, it's a journey to remember.

Advertisements
%d bloggers like this: