A journey to remember

My ‘Career’ Journey… Since I was a Kid

Posted on: September 18, 2012

Tiba-tiba aja, gue kepingin cerita tentang sumber penghasilan gue dari jaman dulu sampai sekarang. Ngelihat perjalanan ‘karier’ ala gue ini bikin gue jadi ngerasa sangat-sangat bersyukur dengan apa yang gue miliki saat ini. Gue emang bukan orang paling kaya dari semua orang yang gue kenal, tapi gue bersyukur udah bisa meningkatkan taraf hidup gue sendiri, perlahan tapi pasti, hingga akhirnya gue tiba di hari ini.

Waktu Masih SD

Yup, gue udah mulai dagang kecil-kecilan dari jamannya masih pake seragam putih-merah. Apa aja barang dagangan gue?

  1. Baju Barbie jahitan tangan sendiri… Modalnya cuma kain perca (a.k.a kain sisa jahitan nyokap), dan benang plus jarum jahit punya nyokap juga. Bisnis yang nggak ngeluarin modal sepeser pun, hehehehe;
  2. Gantungan kunci handmade. Waktu itu lagi ngetren gantungan kunci kertas bertuliskan nama yang kemudian di-laminating. Sayangnya bisnis yang ini enggak terlalu laku. Gue emang nggak bakat gambar sepertinya; dan
  3. Jualan oleh-oleh. Setiap kali pergi ke luar kota, gue selalu dikasih uang saku sama ortu atau om tante gue buat belanja oleh-oleh. Begitu sampe rumah… oleh-oleh itu gue jual lagi ke teman-teman sekolah. Ini juga bisnis yang nggak pake modal, hehehehe.

Pada masa itu, gue jualan cuma supaya gue bisa beli camilan yang gue mau. Seneng aja rasanya bisa beli makanan apapun yang gue pengen 😀 Oh ya, waktu kelas 6 SD, pengen ngoleksi kertas file bergambar juga jadi motivasi gue buat jualan kecil-kecilan. Abisnya kalo kata nyokap, beliin kertas file itu cuma buang-buang duit! Jadi ya udah, gue cari sendiri aja duit buat koleksi kertas file gue…

SMP

Selain masih suka jualan oleh-oleh, berikut ini bisnis gue yang lumayan nguntungin waktu SMP dulu:

  1. Jualan kertas file koleksi gue. Saat kelas 3 SMP, gue mulai bosan sama koleksi kertas file. Akhirnya, tumpukan kertas file itupun gue jual ke teman-teman sekolah. Kertas file yang tadinya gue beli seharga 50 perak (harga sebelum krismon), gue jual seharga 100 sampe 500 perak (harga setelah krismon… makin lucu kertasnya, gue jual makin mahal!).

Saat itu motivasi gue jualan adalah buat beli komik dan majalah remaja yang gue pengen. Bisa aja minta sama ortu, tapi nggak bakalan dikasih beli komik sampe sebanyak yang gue mau, hehehehe.

SMA

Bisnis gue jaman SMA udah mulai lebih keren. Gue udah nggak pernah lagi jualan oleh-oleh di rentang usia ini.

  1. Ngajar les privat bahasa Inggris. Murid-muridnya anak-anak di lingkungan rumah gue. Cuma dapet sekitar 500ribu dalam sebulan, tapi waktu itu rasanya lumayan banget buat gue beli ini-itu;
  2. Ikutan bazaar di pensi sekolah, modalnya dari ‘lembar saham’ yang gue jual ke temen-temen sekelas. Keren kan gue, masih ABG udah ngerti sistem profit sharing, hehehehe. Waktu itu gue nyari barang buat dijual sampe ke pasar Jatinegara segala loh. Gue juga jual kue-kue yang dimasak nyokap. Bazaar pertama sukses besar, return per ‘saham’ sampe lebih dari 50%, tapi bazaar yang ke dua cuma untung dikit gara-gara salah pilih lokasi jualan; dan
  3. Di akhir kelas 3 SMA, gue mulai ikutan MLM. Waktu itu gue jualan Avon dan lagi-lagi, untungnya lumayan besar buat ukuran gue saat itu. Sekitar 20% atau 30% dari harga katalog kalo nggak salah.

Saat SMA, alokasi duit udah mulai lebih centil. Buat beli fashion items, make-up, dan tentunya, komik, majalah dan novel juga.

Kuliah

  1. MLM Oriflame. Avon Indonesia bangkrut saat gue kuliah, dan gue pun beralih ke Oriflame. Target pasar keluarga besar dan teman-teman gue sendiri;
  2. Ngajar les privat akuntansi. Hasil ngajar bener-bener lumayan banget. Bisa mencapai jutaan rupiah per semester. Asyiknya lagi, ngajar privat secara nggak sadar justru bikin gue jadi makin pinter. Murid gue nggak jauh-jauh dari temen sekelas atau adik kelas atau temennya temen gue. Benar-benar pekerjaan yang menyenangkan 😀
  3. Sumber penghasilan lainnya: beasiswa dari Binus yang dikasih buat mahasiswa berprestasi 🙂 Jumlahnya sekitar 5jutaan… dan semua duitnya gue pake buat belanja, hehehehe.

Saat kuliah, biaya hidup gue meningkat cukup drastis. Mulai suka beli-beli barang dengan harga lebih mahal, ngoleksi sepatu dan tas, dan mulai hobi nonton film juga. Selain buat mengakomodasi semua itu, gue mempertahankan tradisi ngajar les privat sampe semester 7 juga karena rasanya senang saat tahu nilai murid-murid jadi membaik setelah les sama gue. Besides, berkat ngajar les, gue jadi dapet temen dan sahabat baru 🙂

Mulai kerja kantoran

Gue mulai kerja kantoran saat masih UAS semester 7. Pekerjaan pertama gue hasilnya udah termasuk lumayan buat ukuran anak yang masih bikin skripsi. Sistem honornya per proyek gitu, dan kalo gue lagi hoki, gue bisa dapet sekitar empat jutaan tiap bulannya. Gue kerja di kantor yang pertama cuma sekitar 8 bulan. Dua hari setelah resign, gue langsung mulai kerja di perusahaan berikutnya.

Setelah itu gue kerja di EY, nggak lama setelah lulus sidang skripsi. It was a good company for me…  Gue mulai mewujudkan impian buat traveling abroad saat kerja di EY. Kalo gue kerja cuma untuk cari duit, gue pasti akan tetap stay di sana. Sayangnya gue bener-bener ngerasa bosen sama kerjaannya, so there I left the Firm early in 2011.

Setelah itu gue kerja di Niro, sampai hari ini. Tadinya gue takut setelah keluar dari EY, karier dan penghasilan gue bakalan stuck. Tapi Alhamdulillah, sampe hari ini, bukan itu yang terjadi sama gue. Gue banyak menerima jenis pekerjaan baru di sini, yang bikin gue juga jadi belajar lebih banyak. Dan dari segi financial pun, I believe this is the best I can have at least for this year.

Kalo gue buat ringkasannya, awalnya gue cari uang hanya untuk memuaskan keinginan gue buat beli ini-itu. Gue tipe orang yang sangat menyukai financial independence, bahkan sejak usia gue belum sampai 2 digit. Tapi kemudian, gue mulai bekerja karena gue suka bisa menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Dan sekarang, lebih dari itu, gue bekerja karena challenge at work sudah menjadi kesenangan tersendiri buat gue. Rasa senang dan bangga saat berhasil mengatasi rintangan dengan baik bener-bener bikin gue ketagihan! Dan kalo bukan karena pekerjaan gue, gue enggak akan pernah kenal dengan beberapa teman terbaik dalam hidup gue.

Again… thank God for blessing me this much 🙂

Advertisements

2 Responses to "My ‘Career’ Journey… Since I was a Kid"

Kak..saya juga anak akuntansi yang mau cba jdi auditor di big 4..pertanyaan saya knp kakak kluar dr EY untuk jdi company accountant ?..apakah dari segi financial mmg company accountant lbh baik ketimbang KAP ?..

Hi Vincent… soal gaji tergantung perusahaannya sih ya… Ada company yang gajinya besar, ada juga yang kecil. Seperti yang saya tulis di atas, saya resign dari EY karena bosan sama pekerjaannya. Udah nggak ngelihat ada challenge dan variasi pekerjaannya juga sedikit banget. Orang lain bisa jadi cocok kerja jadi auditor, but not for me.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

My Blog Counter

  • 938,643 visits since May 2011

My Blog Categories

My Blog Archives

Click here to read my tweets…

  • Is there any way to turn off Memories feature on Path, please? 5 days ago

Click the pictures below to visit my Instagram...

We can’t control whatever life throws at us, but we definitely can control our reaction toward anything that can possibly happen to us.
It’s our decision whether or not we set ourselves free from miseries.
It’s our action that makes our life either colorful or plain boring.
It’s our behavior that leads us to feel merry or lonely.
And it’s certainly our own choices that bring us happiness in life.
Life is too short to be lonely, unhappy, and to be less proud of who we are.
Make the most of every day in your life, be happy with the little and the big things, make your life not only worth living, but also worth to celebrate!
You tell this to yourself, “Happiness starts now!” I’ve been working as a pre-wedding conceptor in past couple of months and I really enjoy seeing how two people so much in love with each other.
With that being said, instead of rushing myself to my own wedding, I’d rather tell myself to take my time. I want my wedding to be a lifetime event, I want this to be something worth fighting for, and for that, I need the right man who also shares the same wishes as mine.
I still have to find someone who clearly tells me what he wants, the one who never makes me have to wonder where he stands, the one who will certainly catch me when I fall. And maybe, it takes times until I find him. But that’s okay! Good things take times, do they? Either you are my friend, enemy, or just somebody I know. The choice is yours.

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

About Me

What my blog is all about? It's all about my life; my very own fairy tale, that I would love to share. This is my story, my ups and downs, it's a journey to remember.

Advertisements
%d bloggers like this: