A journey to remember

Archive for the ‘Work History’ Category

Setelah nonton Kung Fu Panda untuk ke sekian kalinya, saya jadi menyadari ada beberapa pelajaran yang bisa kita terapkan dalam dunia kerja, baik itu dari sudut pandang atasan maupun sudut pandang bawahan.

Apa saja?

Sebagai atasan….

  1. Jangan mudah menyerah saat mengembangkan bawahan di kantor. Tidak semua orang mempunyai learning curve yang sama cepatnya. Jika kita sebagai atasan sudah menyerah, mereka sebagai bawahan juga akan menyerah pada dirinya sendiri. Po tidak akan mau meneruskan latihannya jika bukan karena Shifu yang terus berusaha melatih anak didiknya itu!
  2. Believe in your team, even in their darkest times! Pada dasarnya, semua orang memiliki kebutuhan akan rasa dipercaya oleh orang-orang yang mereka anggap penting (dalam dunia kerja, atasan adalah salah satunya). Kepercayaan kita sebagai atasan dapat membantu mereka untuk bangkit dari masa-masa sulit dalam perjalanan karier mereka;
  3. Pelajari motivasi masing-masing orang dan kembangkan mereka dengan cara yang paling sesuai untuk mereka. Tidak ada yang namanya one size fits all dalam dunia kerja. Ingat adegan di mana Shifu melatih Po menggunakan makanan? Motivasi Po adalah makanan, sesuatu yang belum tentu sama penting untuk lima anak didik Shifu yang lainnya;
  4. Jangan membuat bawahan merasa “not good enough”. Ketika seseorang merasa bahwa upaya terbaik mereka tidak pernah cukup baik untuk atasannya, mereka akan lebih memilih untuk pergi dan mencari tempat lain yang membuat mereka merasa masih memiliki peluang untuk level up. Terkadang, bersikap keras dan tegas memang diperlukan, tapi jangan sampai kelewatan. Jika kita masih ingin mempertahankan mereka dalam tim, maka jangan sampai membuat mereka merasa kehilangan masa depan karier-nya bersama kita; dan
  5. Jangan sampai kita bablas membesarkan seorang “monster”. Terkadang, rasa bangga yang berlebihan terhadap bawahan bisa membuat mereka menjadi sombong. Membuat mereka menjadi lupa untuk bersikap rendah hati. Tujuan karier mereka jadi hanya materi dan jabatan semata (sama seperti Tai Lung yang terobsesi mendapatkan Dragon Scroll). Terlalu banyak pujian bisa membuat mereka tidak mau menerima kritik sekalipun kritik itu baik untuk mereka. Ingat selalu satu hal ini: atasan yang gelap mata akan menciptakan bawahan yang juga gelap mata.

Sebagai bawahan…

  1. Jangan takut untuk bermimpi besar. Banyak orang yang terlalu minder terhadap dirinya sendiri. Hanya untuk bermimpi pun mesti pakai embel-embel “harus tahu diri”. Seolah hanya orang besar yang boleh punya mimpi besar! Bermimpilah seperti Po si anak tukang mie yang akhirnya jadi Kung Fu master!
  2. Cari atasan yang bisa kita percaya sebagai role model. Penting untuk kita mendapatkan atasan yang dapat menjadi role model dalam perjalanan karier kita. Saat kita sudah menemukannya, maka kita harus percaya bahwa segala yang dia lakukan adalah untuk kebaikan diri kita, termasuk segala tuntutan dan kritikan yang dia berikan untuk kita! Cara seorang atasan mengembangkan anak buahnya tidak selalu manis dan membahagiakan, ibarat menelan pil pahit yang sebetulnya baik untuk diri kita ini;
  3. Jangan terlalu santai dalam menjalani karier. Orang yang terlihat selalu santai cenderung sulit mendapatkan kepercayaan rekan kerjanya, terutama atasannya. Selalu bercanda dan memasang silly face hanya selalu lucu untuk pergaulan sehari-hari saja. Selalu bertingkat demikian dalam dunia kerja dapat membuat orang lain mempertanyakan komitmen kita sebagai seorang pekerja;
  4. Jangan pernah terlalu lelah, apalagi terlalu malas, untuk terus bekerja keras. Tidak ada kesuksesan yang mudah untuk dicapai, itu sebabnya, atasan akan lebih memilih untuk mengembangkan orang-orang yang mempunyai kesadaran diri untuk bekerja keras dalam membangun karier-nya sendiri; dan
  5. Salah satu pelajaran terbesar yang ingin disampaikan Kung Fu Panda adalah untuk percaya pada diri sendiri. Akan percuma saja atasan punya kepercayaan besar pada diri kita jika kita justru tidak bisa mempercayai diri kita sendiri. Seperti isi movie quote-nya Kung Fu Panda: “To make something special, you only have to believe that is special,” dan “There is no secret ingredient, it’s just you.”

Finally, meskipun saya bilang ada hal-hal yang dapat kita pelajari dari Kung Fu Panda, tetap ada satu hal yang tidak boleh kita percaya dari jalan cerita film kartun ini.

Apa persisnya?

Jangan percaya bahwa kita bisa menjadi “master” dalam suatu hal hanya dalam waktu yang singkat saja. Seringkali, meskipun kita sudah berusaha sangat-sangat keras, tetap dibutuhkan waktu yang cukup atau bahkan sangat lama untuk kita bisa sampai di tujuan.

Kung Fu Panda tetap hanya film kartun, dan kenyataannya, tidak ada orang yang bisa jadi ahli Kung Fu hanya setelah berlatih selama beberapa minggu saja πŸ˜‰


I was upset last night. I’ve started to do some free advertising (Instagram, Facebook, Path) to recruit sellers for my online marketplace and I’ve announced that the sellers can find us at hunters@thelenstory.com.

I was so excited that the website was underway and I was getting closer to my biggest dream, excited with the tremendous supports given by my families, friends, and even my colleagues in my current employer (yeah, I’m still working for someone else’s corporate too), until my sister in law texted me and she said that her friend could not send e-mail to that mailing group!

I instantly knew that I made mistake on the permission setting and I thought that I could easily fix it. I logged in to my domain administration account but then I was confused.

What did I do wrong?

What should I do to fix this?

So there I googled to search for some clues and it was super annoying that the given guideline was no longer matching with the latest version of the mailing service I use! I clicked here and there, I finally found the setting I was looking for!

The first trial, I told myself, “Oh well, this is easy.” I logged in to my personal Yahoo mail account and sent a testing e-mail to that mailing group… but it bounced back!

I googled again… it appeared that there was one separated setting that I should change. I changed it and sent a second trial e-mail… and it bounced back again! I rechecked everything, one by one, until I realized I missed clicking one button!

Alright, here we go… the third trial… and the e-mail didn’t bounce back to my Yahoo mail! I finally nailed it! But… wait. The e-mail was sent from my Yahoo mail, but I can’t seem to find it in my thelenstory.com inbox!

I refreshed my browser, over and over again, but still, the e-mail was not coming!

At this point, I was super upset to myself. If the same thing happens in my corporate job, I can just text IT Helpdesk and they will fix it right away. This kind of issue may never ever happen in my corporate job anyway. I can ask IT team to prepare the mailing group and they will get it done with no issue like this in the first place!

Can’t you see? My current corporate job is actually comforting!

Have a connection problem? Go to IT team.

Have a legal confusion? Consult with Legal team.

Tax administration? Let the Finance team handles everything (you have no idea how irritating it could be!).

Running out of money? Send e-mail to your HQ or regional office asking (or a bit of begging) for more funding, hehehehe.

But seriously, running a business is like “running” from your comfort zone. Unless you are very well funded, building a new company will push you to learn all the little things at work. You will have to roll up your sleeves even higher than your old corporate job!

Back to my group e-mail problem… how did it end? I finally realized that I hadn’t registered myself as the member of that mailing group! That’s why I didn’t receive the e-mail in my inbox, hehehe.

Having said that my old corporate job was comforting, running my own business is way more challenging to me. Yes it makes me have to touch the ground, but if you see it from another perspective, it actually makes me learn a lot of new things about building a company from the scratch. Until someday, this little scratch; this start-up, is going to be my very own corporate job.

As I mentioned earlier in this blog, I’m currently working on my own start-up. Just finished the blueprint, business plan, and of course, vendors hunting.

Here are 3 things I’ve learned about building a start-up at this very early stage:

  1. How to choose vendors and the traits you should consider before awarding the projects. You don’t need to hire super expensive vendors but you can’t always choose the cheapest service just because it fits your budget. At this point, you will realize the importance of chemistry and belief in your business partners. If you don’t feel clicked since the very beginning, it they don’t share the same passions as yours, and if it takes ages for them to response your inquiries, then you’re just not meant to work with them. There are plenty of good vendors out there, but not everyone will work well with your business;
  2. How to do free marketing. I’ve learned a lot from a couple of successful business founders. Free is not always bad, it can be as effective, it just requires more times to figure it out and a lot more times to work on it. Your apps is not yet live anyway, you have plenty of times to do it yourself. I’ve chosen not to accept any investor’s funding and free marketing (or cheap marketing to some extent) is the only choice I have at the moment; and
  3. I’ve learned the hard way that I can’t have all features I want to have in the first development. I should be able to distinguish “the must have” against “the nice to have”. It’s better to have a few well developed features rather than a lot of troublesome features on your apps. Go live as soon as you can, new features can be developed later on.

I’ll write more about my start-up later on! I’ve created a new category in this blog named The Lens Story and a new tag named The Start-up Story.

And yes, my start-up is named The Lens Story. The web apps is going live in the next three months (insyaallah).

Stay tune!

A couple of months ago, an old friend from high school passed away. She was just 30 years old, yet she died from a heart attack. That day she said that she was tired and took a nap in her office, and she never woke up.

That news was somehow beyond shocking to me. I came to question my purpose of life. It reminded me of my forgotten dreams; all the things I wanted to do before I die, all the things that I sacrificed for mornings to nights in the office. I always thought I had plenty of times, but what if I didn’t?

It was also shocking to me because the day my friend died, I also felt pretty much the same symptoms as hers. I didn’t think I was sick, I just felt extremely tired and I always craved for a long nap. I still remember the nights I fell asleep in the office, with a cushion in my arms, and then I’d woke up just to go back to my laptop again.

I finally asked myself, “Do I really want to do this for the rest of my life? Β And from allΒ the things I wanted to do in life, what did I want the most?”

I want to run my own business. Turning my biggest dreams to a reality. I want to run a company that makes the employees a better person; the very best version of themselves. I want to see my ideas becoming a brand. And I want to prove myself that I can really do what I thought as “the impossible”.

I want to take further study. I miss reading thick books and worked on my exams. I miss the butterflies in my stomach everytime I was expecting my grades came out on the screen. I missed the excitement, the joy, and the pride knowing that my hard work was paid off. I really really miss to be a student again and to learn from someone else again.

I want to write a book. Any book. A novel, I hope. I’ve always wanted to become a real writer ever since I was a little kid. I want to be able to see a book with my name on it displayed in a bookstore. I want to have some legacies, and the book I write should be one of them.

I want to travel around the world. One or two countries in every continent on earth only in one trip. I had been working too hard even before I finished my study and I really want to take a long break.

And of course, I want to finally meet my Mr. Right. I’m sick of feeling like I’m not good enough. I’ve had enough of restarting over and over again. I’m done with wondering and waiting. I want to be able to tell myself that I have finally found someone to share a lifetime with.

Right after all those thoughts, I made up my mind. I should not wait any longer. So there I told my boss I would only stay until end of year. I wanted to spend more times on my own start-up. I also eventually reduce my overtime to have a lot more of me times. I continued writing my novel and I started to look for the best business school in town. And the best part is that I finally moved on from my latest heartbreak and all the dramas that came with it. What about traveling the world? Oh well I can’t do everything only in a year, but least, I’m starting to get my life back to the track that I really want for myself!

I hope, I really hope, I will still have enough times to do at least, to pursue all these 5 biggest dreams of mine.

Amiin for me, please? πŸ™‚

Sebagai pelanggan setia Gojek yang sedang berambisi mendapatkan iPad gratis (48,000 points to go! πŸ˜€ ), gue punya banyak banget cerita tentang gue dan sederetan abang Gojek. Daripada cerita soal yang paling lucu dan paling menyebalkan, gue lebih ingin bercerita soal abang Gojek yang paling meninggalkan kesan positif. Berikut ini rangkumannya!

Abang Gojek dan Aqua botol

Sebagai anak kosan yang malas naik-turun ke pantry di lantai 3, gue lebih memilih untuk beli Aqua botol sekalian saat gue pesan makanan via Gofood. Kemudian suatu hari, gue pesan makan ke Lucky Cat yang ternyata tidak menjual air mineral merk apapun!

Awalnya si abang Gojek menelepon, dia bilang Lucky Cat tidak jual air mineral karena mereka menyediakan air putih gratis untuk pengunjungnya. Si abang Gojek tanya gue mau minum apa sebagai penggantinya? Gue bilang tidak usah, gue cuma perlu air putih. “Maklum anak kos, hehehehe,” kata gue saat itu.

Hampir satu jam kemudian, abang Gojek sampai ke depan kosan membawa makanan gue lengkap dengan 3 botol Aqua yang sempat gue pesan secara manual lewat aplikasinya! Saat gue tanya, abang Gojek bilang begini, “Akhirnya tadi saya beliin di Sevel, mbak. Cuma jalan sedikit dari Lucky Cat.”

Gue tersenyum lebar… masalah air mineral selesai sudah! πŸ˜€

Abang Gojek dan mayonnaise satu kantongΒ 

Gue ini penggemar berat Dim Sum Inc semata-mata karena mayonnaise mereka yang enak banget! Mereka menyediakan satu botol mayonnaise di masing-masing meja restorannya. Hanya saja sayangnya, mereka pelit kasih mayonnaise untuk pesan antar!

Untuk mengakali masalah Dim Sum Inc pelit mayonnaise, gue suka bilang ke abang Gojek untuk minta mayonnaise yang banyak. Kadang dikasih, kadang tidak dikasih. Entah salah di mana, tapi gue tidak selalu mendapatkan extra mayo yang gue mau meskipun gue sudah pesan banyak menu sekalipun.

Lalu suatu hari, abang Gojeknya bilang begini, “Ok, Mbak. Saya tahu caranya.”

Mau tahu bagaimana caranya? Dia minta plastik es ke restoran, lalu dia isi hampir seperempat plastik es itu dengan mayonnaise dari dalam botol! Puas banget deh pokoknya, hehehehe.

Abang Gojek dan Pablo cheesecake

Waktu Pablo baru buka, gue penasaran kepengen coba tapi malas lihat antriannya. Berkali-kali coba pesan lewat Gofood, berkali-kali gue harus klik “Try Again“. Setelah percobaan ke sekian kalinya, akhirnya ada juga Gojek yang bersedia ambil! Saat si abangnya telepon, sempat deg-degan akan dibatalkan (lagi), tapi ternyata hari itu emang hari keberuntungan gue!

Abangnya bilang, “Ini antrinya bisa 2 jam, nggak papa ya, Mbak?”

“Iya, Pak. Nggak papa. Berapa lama pun saya tungguin deh.”

Hampir tiga jam kemudian, akhirnya datanglah juga Pablo pertama gue! Abangnya senyum-senyum sambil bilang, “Saya ngantri 2 jam lho.” Belum lagi perjalanan Gandaria-Kuningan yang lumayan jauh! Jadi terharu, hehehehe.

Abang Gojek dan batagor kesukaan

Gue suka banget makan batagor di rumah makan dekat kosan. Hanya saja kadang-kadang, bumbu batagornya suka kelewatan pedasnya! Karena gue enggak suka makan pedas, gue tegaskan ke abang Gojeknya bahwa gue enggak bisa makan pedas.

Saat akhirnya pesanan gue tiba, abang Gojeknya bilang begini, “Kata orang restonya, bumbu mereka emang udah dari sananya agak pedas, Mbak. Tapi ini udah saya minta bungkusin kecap manis.”

Masalah batagor gue terpecahkan, hehehehe.

Abang Gojek dan pecel ayam

Malam itu gue benar-benar sangat lapar. Udah mepet jam tutup restoran pada umumnya, kalau tidak cepat pesan, pilihan makan malam gue akan jadi sangat terbatas. Dan benar saja, restoran yang gue inginkan sudah tutup setengah jam lebih awal 😦

Abang Gojeknya lalu bilang, “Pecel ayam aja mau, Mbak? Mirip-mirip sama ayam goreng yang Mbak tadi pesan. Di mall ini ada yang jual dan masih buka.”

Pecel ayam: sold!

Apa yang bisa kita pelajari dari semua cerita ini?Β 

Pelajarannya: apapun karier yang kita pilih, akan selalu ada peluang untuk melakukan “the extra miles”. Saat bekerja, tidak usah melulu hitung-hitungan! Lakukan saja semaksimal yang bisa kita lakukan.Β Ini yang membedakan karyawan teladan dengan karyawan yang biasa-biasa saja, dan ini pula yang menurut gue, membedakan Gojek yang dapat banyak tip ketimbang Gojek yang hanya dapat sedikit tip, hehehehe.

Do your best, let God do the rest.

Pernah baca cerita sukses Jack Ma yang tersohor itu? Atau Oprah Winfrey, JK Rowling, Walt Disney, atau Colonel Sanders dari Kentucky Fried Chicken? Jika belum, coba Google dulu kisah sukses lima tokoh ini, baru kemudian kembali lagi ke blog saya ini.

Apa kesamaan lima tokoh besar tersebut? Mereka sama-sama pernah gagal, dan mereka sama-sama pantang menyerah, bangkit, bekerja keras, sehingga akhirnya sukses besar seperti mereka yang sekarang ini.

Tidak usah melihat jauh-jauh ke lima nama besar yang sangat jauh dari kehidupan kita, cukup lihat saja orang paling sukses yang kita kenal dalam hidup kita sendiri. Bisa jadi rekan kerja, klien, teman sepermainan, atau mungkin, anggota keluarga kita sendiri. Percayakah kalian jika saya bilang, mereka semua juga pernah mengalami kegagalan saat merintis karier mereka masing-masing?

Meski saya tidak mengenal semua orang sukses di dunia ini, saya tetap berani bilang bahwa semua orang sukses pasti pernah mengalami kegagalan. Bahkan orang yang sudah sukses pun tidak selalu menang dalam setiap ‘kompetisi’ yang mereka jalani.

Semua orang pasti pernah mengalami kegagalan.

Pasti pernah dipertemukan dengan orang lain yang memandang mereka sebelah mata.

Pasti pernah berhadapan dengan orang-orang yang berusaha menjatuhkan mereka.

Pasti pernah harus menghibur diri saat ada orang lain yang berusaha membuat mereka berkecil hati.

Pasti pernah mengalami keraguan. Frustasi. Putus asa. Dan lain sebagainya.

Pasti pernah mengalami penolakan yang membuat mereka nyaris merasa tidak cukup bagus untuk mimpinya sendiri.

Pasti pernah merasa takut gagal. Dan pasti pernah benar-benar gagal.

Hanya saja bedanya, orang yang sukses tidak lantas menyerah begitu saja.

Mereka berjibaku melawan rasa takutnya, mindernya, ragunya, frustasinya, stresnya, dan depresinya.

Mereka tidak pernah bosan untuk terus coba dan coba lagi. Bangkit dan bangkit lagi. Terus demikian, sampai akhirnya mereka menemukan pintu sukses mereka.

Mereka tidak mengharapkan keajaiban. Mereka tidak mengandalkan siapa-siapa. Mereka tidak menyalahkan keadaan. Mereka kuat dengan sendirinya, mereka berjuang, dan mereka tidak pernah berhenti hingga mereka benar-benar sampai di suatu tujuan.

Semua orang sukses pasti pernah gagal, tapi, mereka menolak untuk menyerah dan menganggap diri dan hidup mereka sebagai suatu kegagalan. Konon katanya, kita hanya gagal jika kita sudah berhenti mencoba!

Pemikiran itulah yang membantu saya untuk bangkit tiap kali saya merasa kalah. Tiap kali saya ragu untuk memulai terobosan baru dalam hidup saya sendiri. Mungkin saya tidak akan langsung sukses di perjalanan karier saya selanjutnya, tapi pelajaran yang saya dapatkan dari kegagalan itu akan membantu saya untuk kembali berusaha mencapai kesuksesan yang selanjutnya. Insyaaallah, selama saya terus mencoba, cepat atau lambat, saya akan sampai di tempat tujuan.

Mohon doanya, dan mari kita sama-sama mencoba!

Beberapa bulan belakangan ini, gue mulai terpikir untuk menjalankan bisnis gue sendiri. Di satu sisi, gue jelas merasa sangat bersemangat, tapi di sisi lain, gue masih saja bertanya-tanya pada diri gue sendiri.

Do I really want to do this? And why would I want to do it?

Membangun perusahaan sendiri jelas jauh berbeda dengan sekedar pindah kerja ke perusahaan lain milik orang lain. Ada modal kerja yang jadi taruhan, yang kali ini dalam kasus gue, jumlahnya tidak sedikit. Dan kenapa gue sampai harus senekad itu?

Ada satu kekhawatiran yang sebetulnya gue simpan diam-diam… Bagaimana jika ternyata bisnis gue ini hanya pelarian gue saja? Masalahnya, gue punya kebiasaan over excited terhadap hal-hal baru sebelum akhirnya gue merasa bosan dengan sendirinya. Pernah ada yang bilang, yang paling sulit itu bukan saat harus menentukan pilihan, tetapi lebih pada saat harus bertahan pada satu pilihan. Teori yang sangat mengena buat diri gue ini.

Kemudian beberapa hari yang lalu, gue menemukan artikel keren ini via Linkedin. Dari semua gambar yang ditampilkan, ada satu gambar yang paling menarik perhatian gue. Berikut ini gambar yang gue maksud!

Sambil membaca tulisan di dalam gambar, sambil gue menilai diri gue sendiri. Masih belum cukup sampai di situ, gue juga mengirimkan gambar ini ke adik dan beberapa teman terdekat gue. Gue tanya sama mereka, “Menurutlo, gue yang mana?”

Lalu apa hasilnya?

Pendapat gue:

  1. Easily bored. Seperti yang gue tulis di atas: gue tipe orang yang pembosan. Di mana pun gue bekerja, gue selalu aja mulai merasa jenuh tiap kali sudah memasuki tahun ke tiga. Pernah satu kali bisnis kecil-kecilan, tapi hanya bertahan sebentar saja hanya karena gue cepat merasa bosan;
  2. Too impatient. Tiap kali gue punya ide yang gue anggap brilian, gue akan mulai tidak sabaran ingin cepat-cepat mewujudkannya. Hanya saja sayangnya, mewujudkan ide akan jadi lebih sulit saat harus berhadapan dengan begitu banyak kepentingan yang berbeda-beda. Benar-benar bikin gemas!
  3. Wants freedom above all. Entah kenapa, gue seringkali merasa “terbelenggu” sepanjang perjalanan karier gue selama 9 tahun belakangan ini. Meskipun banyak yang bilang bahwa gue ini an agent of change, tapi tetap saja… gue belum pernah menemukan freedom sampai pada tingkat yang gue inginkan dalam dunia kerja;
  4. Too ambitious. Bukan cuma gue ingin ini dan ingin itu, gue juga tipe orang yang senang membuktikan bahwa gue masih bisa menjadi lebih baik daripada diri gue di hari sebelumnya. Gue betulan bisa merasa kecewa jika gue sampai melewati satu tahun tanpa prestasi apa-apa; dan
  5. Been through school of hard knocks. Meski terdengar aneh, tapi pengalaman jatuh-bangun di dunia kerja malah membuat gue semakin yakin untuk memulai bisnis sendiri. Seringkali gue berpikir, “Is there anything that is even worse than what I’ve already been through?” Pernah melewati hal-hal sulit membuat gue lebih optimis bahwa insyaallah, gue juga akan bisa melewati rintangan-rintangan lainnya di masa depan nanti.

Bagaimana dengan jawaban adik dan teman-teman gue?

  1. Can’t have a boss. Mungkin karena gue sering banget curhat soal bos, siapapun bosnya, hehehehe;
  2. Too educated. Wow, this is flattering, hehehehe;
  3. Can sell ice to eskimos. This is flattering too. Entah kenapa ada saja orang yang menilai gue punya bakat sales;
  4. Addicted to risk. Ah, really?
  5. Wants freedom above all (akhirnya ada jawaban yang sama persis kayak jawaban gue sendiri, hehehehe).

Setelah mengevaluasi diri dengan cara seperti ini, gue mulai merasa lebih baik. Maybe, this is just meant to be, isn’t it?

Semoga bisnis ini bisa memberikan hal-hal yang belum pernah bisa diberikan oleh pekerjaan-pekerjaan gue sebelumnya, membuka jalan untuk hal-hal luar biasa lainnya, dan juga mempertemukan gue dengan orang-orang baru yang akan menemani petualangan gue selanjutnya. πŸ™‚

My Blog Counter

  • 900,232 visits since May 2011

My Blog Categories

My Blog Archives

Click here to read my tweets…

Click the pictures below to visit my Instagram...

The beauty of diversity. I'm glad that I met them along my career path at Lazada. Just a little help like this could mean everything to me and The Lens Story. Many thanks! ❀️
πŸ“·: @thelenstory πŸ‘š: @adidaswomen πŸ‘•: @nike 
#friends #friendshipgoals #diversity #photography #photooftheday #canon #snapseed #thelenstory Find someone who loves you properly.
The one who never intentionally let you wait for him.
The one who never makes you have to wonder how he truly feels about you.
The one who will definitely catch you and hold you tight as you fall for him.
The one who gives you all he has to be a better man, to fix what goes wrong, to fight for you and to never let you go.
You are too old for another Mr. Wrong, reward yourself with the right one.
Love yourself enough to leave your past, you deserve better.
πŸ“·: @thelenstory
πŸ’„: @yuficarolin.mua
πŸ‘—: @calla.atelier
πŸ‘ : @charleskeithofficial 
#love #life #quote #photography #photooftheday #thelenstory I'm not perfect. I make mistakes. I do the things I'm not proud of. I give up, sometimes. I hurt people, mostly the ones that I actually care about. I have a lot of flaws, but at least, I'm trying hard to be a better person. I'm no saint nor angel, but I'm not a pure evil either. I'm simply a human who is trying to be the very best that I can be. I'll never stop learning, until my very last breath.
πŸ“· @thelenstory
πŸ’„ @yuficarolin.mua
πŸ‘— @calla.atelier
πŸ‘  @charleskeithofficial
#photooftheday #beauty #photography #quote #thelenstory

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

About Me

What my blog is all about? It's all about my life; my very own fairy tale, that I would love to share. This is my story, my ups and downs, it's a journey to remember.