Perfect Ending in Breaking Dawn Part II

Biasanya, gue enggak gitu ngefans sama serial Twilight. Gue emang baca habis semua bukunya, dan selalu nonton film-filmnya, tapi ya udah, cuma sekedar gitu aja. Bukan tipe orang yang baca bukunya dan nonton filmnya sampe berkali-kali. Malah sebenernya, gue termasuk tipe orang yang suka mencela berbagai keganjilan dalam serial ini. Soal keberadaan vampir aja gue udah nggak percaya, apalagi vampir vegetarian yang bisa menghamili manusia biasa? Come on…

Terlepas dari kesinisan gue sama serial ini, gue akui, gue sudah merasakan chemistry yang sedikit berbeda saat menyaksikan official trailer-nya Breaking Dawn Part II. Trailer-nya itu keren, menyentuh hati, dan bikin gue jadi penasaran pengen cepet nonton filmnya.

Akhirnya Sabtu kemarin, gue dan adek gue nonton Breaking Dawn Part II di Mall Taman Anggrek. Bagaimana jalan ceritanya?

Kalo menurut adek gue yang mengaku Twilight big fan itu, terdapat beberapa perbedaan detail antara film dengan novelnya. Tapi kalo menurut gue… ada beberapa hal yang sudah sesuai dengan imajinasi gue saat membaca novelnya. Misalnya, rumah yang dihadiahkan untuk Edward dan Bella. The house is as beautiful as I imagined. Tidak semewah rumahnya Carlisle, tapi tetap terlihat klasik, manis, dan bikin iri! Kemudian soal kemarahan Bella saat tahu Jacob mengalami imprint dengan Renesmee (anaknya Bella dan Edward), itu juga mirip-mirip dengan apa yang gue bayangkan.

Jadi kalo menurut gue, film ini berhasil mewujudkan imjinasi para pembaca novel pada umumnya. Malah lebih dari itu, versi film menampilkan humor yang berhasil mengundang tawa para penonton. Thumbs up buat para pemain yang bisa menampilkan kelucuan itu hanya dengan gerak tubuh, mimik wajah, dan intonasi yang tepat. I just cannot remember whether I have ever laughed while reading the books, so I think this is a plus point for the movie.

Soal jalan cerita, sebetulnya tidak ada yang berbeda, kecuali satu kejutan besar saat pertarungan antara tim Edward dengan Volturi. Dari yang awalnya gue sempat berpikir, “Gilaaa… filmnya kok jadi nyebelin gini sih? Nyesel gue udah bela-belain ngantri tiket hampir 2 jam, dalam keadaan baru sembuh sakit pula!” Tapi ketika film itu tinggal sedikit lagi berakhir, gue malah langsung berubah pendapat, “This is the coolest Twilight movie ever! Malah, masih lebih bagus filmnya daripada bukunya!”

Soal detail cerita, gue enggak mau ngebocorin. Satu hal yang gue berani bilang, kali ini, film ini juga akan disukai oleh penonton cowok. Biasanya kan cowok-cowok suka ngeluh filmnya Twilight itu more romance but less action tuh. Tapi kalo kali ini, adegan action-nya terbilang seru, mendebarkan, dan sangat-sangat menguras emosi penonton. I never thought this movie would be as cool as this. Malah kalo menurut gue, masih lebih seru Breaking Dawn Part II daripada Skyfall…

Oh ya, satu hal yang selalu gue sukai dari Twilight adalah kisah persahabatan antara werewolf dengan vampire meskipun sebenarnya, golongan mereka itu sudah saling bermusuhan sejak jaman dahulu kala. Terharu rasanya saat melihat gerombolan serigala melangkah masuk ke lapangan untuk melengkapi tim Edward saat mereka hendak menghadapi Volturi. Lebih terharu lagi ketika akhirnya, mulai ada satu serigala yang berhasil dibunuh oleh tim lawan… Sedih banget rasanya saat layar menunjukkan kesedihan di kedua bola mata serigala yang terbunuh itu… Belum lagi lolongan pilu dari kawanan serigala lainnya saat melihat kawanan mereka terkapar tidak berdaya.

Yang terakhir ingin gue komentari adalah soal pemilihan pemainnya. Renesmee saat masih bayi terlihat cukup menggemaskan, tapi masih lebih lucu lagi si bayi immortal yang kemudian dibakar hidup-hidup oleh Volturi. Kemudian pada saat pertarungan itu terjadi, kalo menurut gue, pemeran Renesmee harusnya sedikit lebih muda daripada itu. Tapi kalo aktingnya sih udah cukup ok lah buat ukuran aktris cilik.

Finally, Breaking Dawn mengakhiri kisahnya dengan manis, dan ditutup dengan credit title yang menampilkan foto-foto seluruh pemain film dari mulai Twilight sampai Breaking Dawn. Para penonton pun terlihat meninggalkan bioskop dengan wajah puas, film yang sudah lama dinanti-nantikan menyajikan ending yang terbilang sempurna.

Gue pernah membaca komentar seorang pengamat film lokal. Katanya, untuk menjadi film yang berkesan, cukup berikan pembukaan yang bikin penasaran, dan penutupan yang tidak terlupakan. Jadi sekali lagi, terlepas dari semua kesinisan gue sama serial ini, gue akui, versi filmnya udah berhasil menyajikan ending yang tidak terlupakan. Berhasil memunculkan perasaan romantis dalam hati penontonnya, sekaligus memunculkan harapan kecil bahwa mungkin, loving someone for forever does still exist.

DMZ Tour, South Korea

Di Seoul, terdapat 2 wisata perbatasan Korsel-Korut yang paling populer: Joint Security Area (JSA) dan Demilitarized Zone (DMZ). Sesuai namanya, JSA merupakan satu area di mana terdapat tentara Korsel dan Korut yang sedang bertugas menjaga perbatasan, sedangkan DMZ merupakan wilayah tidak berpenghuni yang terletak di antara Korsel dan Korut.

Pada saat tahap persiapan, gue sempat bingung… pilih DMZ atau JSA? Masing-masing tur memakan waktu sekitar 6 s/d 8 jam, sehingga sayang rasanya jika belasan jam habis untuk wisata yang berbau-bau perbatasan Korea.

Salah satu travel agent yang gue hubungi (untuk kedua jenis tur ini wajib menggunakan jasa travel agent) mengatakan bahwa JSA lebih menarik daripada DMZ. Based on review yang gue baca pun, atmosfer tur di JSA itu menegangkan tapi menyenangkan. Bayangin aja… sederet tentara Korsel dan sederet tentara Korut saling berdiri tegak berhadapan… Banyak orang suka berlelucon, jika sampai kembali pecah perang, maka orang-orang yang sedang berada di JSA itulah yang nanti akan mati duluan 😀

Setelah diskusi panjang lebar dengan teman-teman seperjalanan, akhirnya pilihan jatuh kepada DMZ. Alasannya, durasi tur DMZ lebih singkat dari JSA. Kemudian ada teman gue yang penasaran kepingin masuk ke dalam terowongan bawah tanah sisa masa-masa perang di jaman dulu, dan terowongan ini hanya bisa kita temui di DMZ, bukan JSA. Pertimbangan lainnya, prosedur memasuki JSA itu lebih ribet daripada DMZ. Harus ada digital passport segala (bingung juga… apa sih yang mereka maksud dengan digital passport?).

Ya, JSA memang lebih strict, itu sebabnya tidak semua agent boleh menjadi penyelenggara utama dari tur ini. Untuk mengakalinya, ada banyak travel agent yang menjadi ‘feeder’ di mana turis yang mereka bawa akan diserahkan kepada penyelenggara berlisensi itu.

Tiba pada hari H, rombongan dibawa mengunjungi beberapa tempat bersejarah yang berlokasi di sana. Selama berada di sana, gue selalu aja nemuin orang-orang yang berusaha buat ‘mengintip’ negara Korut di seberang sana. Mulai dari memasukkan uang koin untuk mengaktifkan teleskop, sampai ada juga cowok yang sampe sengaja gendong ceweknya di atas pundak hanya supaya si cewek bisa mengambil gambar Korut dengan lebih jelas!

Korut terletak persis di ujung sana… di belakang gue.

Yang paling gue suka dari DMZ adalah pada saat berkunjung ke Dorasan Station. Bukan karena gue bisa lihat bangkai kereta jaman perang dulu (jangankan keretanya, ngelihat rel keretanya juga enggak tuh, enggak sampe diajak  masuk ke dalem banget sih), melainkan karena di sana ada beberapa tentara ganteng! Tinggi, putih, perut rata, dada yang bidang… ouch, rasanya udah kayak ngelihat artis Korea, hehehehe.

My favorite army 😉

Kemudian yang paling gue nggak suka dari tur DMZ malah si terowongan itu sendiri. Awalnya gue excited mau masuk ke ex war tunnel untuk pertama kalinya, tapi ternyataa, tunnel-nya itu rendah banget! Cewek jangkung kayak gue mau nggak mau harus jalan sambil bungkukin badan. Nggak keitung berapa kali kepala gue kejedot terowongan (thank God semua pengunjung diwajibkan pakai helm), sehingga lama-lama gue jadi stres takut kejedot lagi. Dalam hati gue berharap supaya cepet-cepet sampe ujungnya dan bisa puter balik ke mulut terowongan.

Entah ini monumen apa… nggak ngerti sama tulisannya 😀

Oh ya, selain menderita karena harus jalan bungkuk sambil kejedot-jedot, penderitaan lainnya adalah jalan menanjak menuju pintu keluar. Makanya saat gue melihat ada tempat duduk, rasanya kayak melihat surga! Gue biarin temen-temen jalan duluan sementara gue beristirahat dulu. Kemudian saat gue ngelirik ke kanan dan ke kiri… ya ampuuun, gue itu satu-satunya anak muda yang duduk istirahat di deretan bangku itu! Whoaa, jadi malu, hehehehe.

Overall, meskipun gue tidak menilai DMZ as one of the best destinations in Korea, tapi kalo dipikir-pikir lagi… pengalaman yang gue dapatkan lumayan seru. Gue jadi bisa pamer ke orang-orang, “Gue pernah lho, masuk ke dalem terowongan bawah tanah sisa perang jaman dulu di Korea.” At least, it’s one life time experience lah yaa 🙂 Tapi tetep aja sih… kalo saran gue, misal kalian juga punya keterbatasan waktu, lebih baik pilih JSA daripada DMZ.

Karimunjawa Trip: The Last Day

Sudah baca cerita hari pertama dan ke dua gue di sini? Kalau sudah, ini lanjutannya!

Sunrise at Nirwana Resort

Secara dadakan, gue dan roommates minta dibawa lihat sunrise ke Nirwana Resort. Ada extra charges, secara hal ini tidak include di dalam itinerary, tapi nggak mahal dan hasil foto-fotonya bikin gue ngerasa sangat puas 🙂

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Selain menikmati sunrise, gue dan teman-teman juga diajak naik ke atas batu karang. Dan bukan cuma itu… kita bahkan nekad masuk ke dalam gedung resort meskipun sebetulnya, kita bukan tamu hotel tersebut. Tapi sepertinya nggak masalah… Secara untuk masuk ke sana pun, gue dikenakan entrance fee. Lagipula resort ini memang sering dijadikan tourist destination, bahkan oleh mereka yang tidak menginap di sana.

Nah, masih belum puas foto… kita tetep sibuk foto-foto di area luar resort. Selalu adaaa aja objek yang bisa kita jadikan background foto. Hasil fotonya? Check these out!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sekedar info, Nirwana Resort merupakan satu dari sedikit sekali hotel ‘berbintang’ di Karimunjawa. So if you wish to have a decent place to stay, this resort could be a right choice.

Snorkeling on the last day

Niat awalnya, gue nggak kepengen nyemplung lagi di hari berikutnya. Percuma nyemplung kalo setiap kali gue coba snorkeling yang ada malah mulut gue kemasukan air laut. Tapi waktu gue lagi asyik ngasih makan ikan dari atas perahu, tiba-tiba gue kepikiran… gue belum punya foto sedang dikelilingi ikan-ikan kecil itu. Akhirnya gue pun melepas kain pantai, mengenakan jaket pelampung, dan langsung nyebur ke dalam air laut. Dan ternyata fish feeding could be so fun!

Selesai fish feeding, tiba-tiba aja gue tergoda buat kembali mencoba snorkeling. Strateginya, sebelum masuk ke dalam air, gue latihan napas menggunakan snorkel gue di daratan. Waktu masih di atas, rasanya mudah. Tapi pas udah sampe bawah, yang ada gagal lagi dan lagi! Meskipun gagal, ceritanya gue belum nyerah. Gue bahkan setuju ikutan pake fin, dibantuin sama Pauline. Sulitnya pake fin dalam air juga udah jadi memory yang bisa bikin gue jadi malu sendiri, hehehehe.

Fin berhasil terpasang, gue coba lagi snorkeling, dan yah… masih gagal juga. Trus tau-tau aja gue udah sampe tempat yang karangnya tuh besar-besar banget. Dengkul gue sempet nabrak karang, legging gue sampe sobek di bagian lutut. Yang ada gue malah jadi ngeri… tambah ngeri saat dengar di karang-karang itu suka ada bulu babinya! Gue pun memutuskan untuk putar balik dan kembali naik ke perahu.

Dalam perjalanan kembali ke perahu, setelah terbebas dari karang-karang besar, gue kembali mencoba snorkeling. Cantiknya pemandangan bawah laut kembali membuat gue terpesona, hingga tanpa gue sadari… gue udah berhasil snorkeling dalam waktu yang cukup lama! Saat gue kembali ke permukaan, ternyata gue sudah dekat ke perahu. Dan bukannya meneruskan niat awal balik ke perahu, yang ada gue malah balik badan dan kembali mencari pemandangan bawah laut yang bisa gue nikmati. Yaaay, I finally could do it right, hehehehe.

Setelah berputar-putar cukup lama, acara snorkeling gue terpaksa berakhir gara-gara nggak sengaja nabrak perahu gue sendiri. Waktu terbentur perahu, snorkel gue sampe copot, otomatis air laut pun berebut masuk ke tenggorokan dan telinga gue. Keasyikan snorkeling bener-bener bikin gue lupa daratan, dalam artian yang sebenarnya, hehehehe.

Begitu naik ke atas perahu, gue bilang sama Lili, “Gue jadi pengen balik lagi ke Phuket… nyesel waktu itu nggak snorkeling di sana.”

To be honest, pemandangan alam Phuket jauh lebih cantik daripada Karimunjawa. Pikiran sederhana gue, bisa jadi pemandangan bawah lautnya pun, jauh lebih cantik Phuket daripada Karimunjawa kan? Kalau tidak ada hambatan, insyaallah, tahun depan gue akan kembali lagi ke Phuket dan mencoba snorkeling untuk yang ke dua kalinya. Ada yang mau ikut? 🙂

The last stop

Setelah selesai acara snorkeling yang terakhir, kita dibawa ke sebuah pulau yang perairannya cenderung dangkal. Lagi-lagi, tempat yang bagus untuk berfoto. Dan kalo menurut gue, warna laut di pulau inilah yang paling cantik jika dibandingkan dengan pulau-pulau kecil lainnya. Perpaduan warnanya sedikit mirip dengan Phi-phi Island. Hanya saja sayangnya, dari beberapa kali foto yang gue ambil, tidak satupun yang berhasil mencerminkan cantiknya perpaduan warna yang gue maksud itu. Hal ini baru bisa tertangkap kamera dalam rekaman video, hanya saja sayangnya, gue nggak berlangganan fitur blog yang supaya bisa upload video. Jadi… gue cuma bisa share foto-foto yang seadanya saja lah yaa.

Liburan membumi, but it was fun!

Dari semua perjalanan gue, sejak kecil hingga dewasa, liburan Karimunjawa inilah yang boleh dibilang paling membumi, alias paling sederhana, dan… yah… paling murah meriah. Kepanasan di hotel, menu makanan seadanya, makan malam beralaskan tikar, island hoping naik perahu ala nelayan… Belum lagi surrounding area yang masih tampak seperti Indonesia tahun 80-an. Tapi setelah gue pikir lagi, justru di situ letak serunya! Gue jadi punya hal yang bisa gue ceritakan selain percobaan snorkeling dan foto underwater gue yang gagal itu, hehehehe.

P.s.: Selain paket hotel (yang mana gue dapat hotel yang lebih mirip kamar kos-kosan), ada pula pilihan paket homestay di Karimunjawa. Sedikit lebih murah, tapi gue sangat-sangat tidak merekomendasikan. Ada beberapa teman yang memilih homestay, dan mereka nyaris tidak bisa tidur saking panasnya. Jadi kecuali kamu tipe orang yang sangat tahan panas, lebih baik pilih paket hotel, cuma beda Rp. 150.000 per malamnya dengan hotel ala kos-kosan gue itu. Tapi jangan lupa yah, itu AC cuma nyala di jam-jam tertentu aja, hehehehe.

Karimunjawa Trip: First & Second Day

Buat yang belum tahu, Karimunjawa merupakan bagian dari kabupaten Jepara. Untuk sampai ke sana, gue naik pesawat ke Semarang. Dari Semarang, gue sewa mobil plus driver menuju pelabuhan Jepara (Semarang-Jepara kira-kira 2 jam perjalanan). Barulah dari Jepara, gue naik kapal cepat menuju Karimunjawa dengan jarak tempuh kurang lebih satu setengah jam.

Hari pertama lebih banyak gue habiskan di hotel saja. Gue kaget banget saat tahu listrik baru akan tersedia jam setengah 5 sore sampai dengan jam 5 Subuh. Artinya, AC baru bisa dinyalakan di jam-jam tersebut saja… hiiiks. Untunglah sebagai gantinya, kita masih boleh minta dinyalakan kipas angin.

Makan malam di bawah cahaya rembulan

Saat hari sudah menjelang sore, gue dan teman-teman pergi berjalan kaki menuju alun-alun. Niatnya mau lihat sunset di bukit Joko Tuo, tapi ternyata si tour guide malah missing in action. Akhirnya gue dan teman-teman lebih memilih untuk duduk-duduk menikmati angin sore, ngobrol-ngobrol, makan gorengan, minum es cendol, dan foto-foto di dermaga dekat alun-alun. And you know what… the sunset was also looked pretty from the pier. Siluet perahu-perahu tua dan cahaya sunset itu terlihat fotogenik.

Sunset @ the pier.

Malam harinya, gue dan rombongan kembali lagi ke alun-alun untuk cari makan malam. Surprise-nya adalah… kita semua makan malam hanya beralaskan tikar di tengah lapangan aja dong… Saat itu gue berpikir… ini sih bener-bener one life time experience. Kapan lagi coba, gue makan malam beralaskan tikar di tengah lapangan kayak gitu? Bahkan rombongan bule di sana pun terlihat menikmati acara makan malam mereka. Kalau mau pake istilah romantisnya… kita semua makan malam di bawah cahaya rembulan, hehehehe.

Wahana ala laut Karimunjawa

Keesokan paginya, gue langsung dandan cantik buat island hoping. Gue sengaja beli satu summer dress, dan repair koleksi kalung lama jaman kuliah dulu, hanya demi mendapatkan dress code yang sesuai untuk liburan kali itu. Jadilah hari itu gue pakai manset hitam, legging hitam, dan summer dress berwarna orange dipadu dengan kalung kayu dan sunglasses. Tapi begitu sampai di dermaga… ternyata kita semua udah langsung disuruh pake jaket pelampung. Terpaksa lah gue copot dress dan kalung gue… Supaya terasa lebih nyaman aja gitu.

Me and my island hoping team^^

Tidak lama setelah boat melaju… barulah gue mengerti alasan kenapa kita semua disuruh pakai life vest. Ombaknya itu lho… dahsyat banget! Secara gue duduk di barisan paling depan, gue benar-benar merasakan betapa serunya saat ombak datang menerjang dari depan. Naik-turunnya boat, atau saat boat miring ke kanan dan ke kiri dihajar ombak, rasanya tuh lebih seru daripada wahana kora-kora di Dufan! Setiap kali melihat gelombang yang cukup tinggi di depan sana, gue dan teman-teman langsung berteriak heboh. Dan saat ombak itu mengguyur wajah dan tubuh kita semua… gue malah ketawa girang sambil bertepuk tangan. Ternyata naik boat yang lebih mirip perahu nelayan itu cukup seru juga loh. Masih goyang-goyang tiap kali ada ombak 😀

Pemberhentian pertama kita bernama pulau Gosong (entah pulau Gosong atau pulau Kosong, not sure). Cuma pulau kecil yang nggak ada apa-apanya, tapi ternyata foto di pulau itu hasilnya cukup seru juga. Gue sempet keseleo waktu berhenti di sana, untunglah ada Lili, dan kemudian ada juga Pauline yang megangin gue saat jalan balik ke perahu. Masalahnya nggak boleh ada ombak dikit, jalan gue langsung miring-miring, hehehehe.

Setelah insiden keseleo di Pulau Gosong… giliran difoto, harus tetep bergaya, hehehehe.

Snorkeling and underwater picture taking

Pada pemberhentian selanjutnya, barulah kita mulai snorkeling babak pertama. That was my first time snorkeling anyway. Sayangnya, pada percobaan pertama, gue gagal terus. Entah kenapa, air terus menerus masuk ke mulut gue. Tapi meskipun sebentar, gue sempat menikmati indahnya pemandangan bawah laut. Batu karang, tanaman laut, ikan-ikan kecil… Bener-bener kelihatan indah! Sekarang gue jadi bisa ngerti kenapa banyak banget orang yang tergila-gila sama snorkeling dan diving. Pemandangan atas dan bawah laut memang benar menyajikan 2 jenis keindahan yang jauh berbeda.

Pada waktu makan siang, kita berhenti di sebuah pulau yang menurut feeling gue, bakal kelihatan fotogenik. Gue pun melepas pelampung dan kembali mengenakan dress dan kalung gue. Hasil fotonya? Look at these pictures below!

Oh ya, hari itu gue sempat memberanikan diri ikutan foto underwater. It was pretty scary for a person who cannot swim like me. Masalahnya untuk dapat hasil foto yang memuaskan, sudah tentu life vest harus dilepas supaya badan tidak terus terapung di permukaan air. Nggak heran kalo foto underwater gue nggak ada bagus-bagusnya. Setiap kali sedang difoto, yang ada dalam pikiran gue cuma, “Where is my life vest? Where is it?” Bawaannya pengen cepet-cepet naik ke atas dan meraih kembali pelampung gue itu, hehehehe.

Napping time!

Pada aktivitas snorkeling setelah makan siang, gue putuskan buat enggak ikutan nyemplung. Gue lebih memilih untuk tidur siang di atas perahu yang sedang kosong. Cuma tidur siang, tapi rasanya menyenangkan. Tidur di atas perahu serasa tidur di atas ayunan, tambah sempurna dengan aroma laut yang lembut, hembusan angin, dan suara tawa teman-teman dari kejauhan seolah jadi ‘lagu’ pengiring tidur. Boleh dibilang, itu salah satu tidur siang terbaik dalam hidup gue, hehehehe.

Berfoto bersama hiu, dilanjutkan crazy banana boat

Satu hal yang paling gue nanti-nantikan adalah befoto bersama baby sharks. Jadi di sana itu ada satu penangkaran, di dalam sebuah kolam, yang berisi hiu-hiu jinak berukuran kecil. Asalkan kita tidak sedang datang bulan, maka foto-foto di kolam itu dijamin aman!

Meskipun dijamin aman, herannya suka ada aja orang yang takut masuk ke sana. Padahal hiu-hiu itu enggak bakalan ngegigit kok. Malah yang suka gigit itu ikan-ikan kecil yang berada di kolam yang sama. Digigitnya juga nggak sakit kok, so you don’t need to worry! Gue sebetulnya malah kecewa… pada gilirannya gue foto-foto di kolam hiu, ikan-ikannya malah berenang menjauh ke pinggiran. Hasil fotonya jadi enggak sekeren foto lain yang gue temuin via googling.

In the shark pool… Cuma ada satu ekor hiu melintas di depan gue >,<

Setelah mampir ke penangkaran hiu, gue dan teman-teman tergoda buat naik banana boat. It was not my first time, but that was the craziest banana boat I’ve ever ride! Awalnya masih asyik, nyemplungnya juga masih bikin ketawa-tawa… Tapi setelah itu, ada teman gue yang terbawa suasana dan bilang begini, “Mas… yang ngebut dong!”

Memang seru kalau dibawa ngebut, tapi saat jatuh ke air… sakitnya bukan main! Kuping kanan gue rasanya seperti bertabrakan dengan air, dan air laut pun langsung menyerbu masuk ke tenggorokan gue. Batuk-batuk nggak terhindarkan, dan betenya, sekarang gue kena infeksi di THT sebelah kanan… hiiiks.

Untuk cerita Karimunjawa di hari selanjutnya, baca blog gue yang setelah ini yaa.

Self-assessment Today

Hari ini, entah kenapa, tiba-tiba aja gue ngerasa perlu mengevaluasi perjalanan hidup gue sampai saat ini. Gue pun mulai menilai berbagai aspek dalam hidup gue sendiri. Kemudian seperti biasa, gue kepingin berbagi hasil penilaian itu melalui blog ini. Rasanya kok ya belum lengkap kalo belum gue share lewat tulisan gitu, hehehehe.

Career

  1. I’m sure I’m doing well in this first year as a manager, but after this, where will I go? Setelah gue jadi manajer, selanjutnya apa? I’m suddenly afraid of standing still and going nowhere;
  2. I said I was doing well… but NOT extraordinary. Gue ngerasa bahasa Inggris gue, terutama active English, masih kurang bule, kurang keren, kurang fasih, kurang lancar… IELTS score gue aja masih 6.5, belum 8. Kemudian presentation skill dan confidence level gue juga masih harus ditingkatkan. Still have so many areas of improvement!
  3. Masih belum berhasil mendapatkan pekerjaan impian… hiiks;
  4. Anehnya, gue juga mulai bertanya-tanya… si pekerjaan impian itu, memang benar-benar sesuatu yang akan jadi passion gue, atau hanya sekedar ambisi untuk mendapatkan pekerjaan yang gue anggap bergengsi? Hmm… what is my passion, anyway?
  5. Di sisi lain, I’m also making an excellent progress. Mulai bisa nahan diri untuk enggak maki-maki anak buah (I haven’t done this in the last 10 months!), mulai belajar untuk memaafkan anak buah yang dengan teganya ngomongin gue di belakang, kemudian mencoba cari solusinya dengan kepala dingin (and I made it!), dan sekarang mulai berusaha bersikap lebih kalem terhadap klien-klien yang gue anggap menyebalkan.

Friendship

  1. I lost many best friends in the last 2 years… Kebanyakan sih karena gue udah kehilangan kepercayaan sama mereka, tapi ada juga yang karena gue mulai ngerasa, elo kok ngakunya sahabat tapi kenapa memperlakukan gue seperti musuh? Awalnya gue takut kalo begini terus, lama-lama gue cuma bakal end-up seorang diri, tapi sekarang gue sadar… gue enggak perlu takut kehilangan orang-orang yang hanya membuat gue ngerasa takut dibohongi, atau takut ditikam dari belakang. Sebetulnya gue kangen sama mereka, tapi sampai mereka belajar dari kesalahan dan berjanji untuk berubah, maka gue lebih memilih untuk tetap seperti ini saja;
  2. Di saat yang sama, gue juga mulai belajar memaafkan… Ya, gue maafkan, tapi memang untuk kembali sama persis seperti dulu, gue masih butuh waktu. Gue perlu yakin bahwa kali ini, keadaannya akan berbeda;
  3. Gue selalu yakin, di mana ada tempat baru, di situ ada sahabat baru. Baru-baru ini gue menyadari… di kantor yang sekarang, gue punya beberapa teman baik, dan di antaranya lagi, ada 2 orang yang sudah bisa gue sebut sebagai sahabat, yang juga menganggap gue sebagai sahabat baru mereka. Keberadaan mereka udah bikin hidup gue di kantor jadi sedikit lebih mudah. Tiap kali ada orang yang bicara buruk tentang gue, mereka nggak akan ragu buat bilang, “Riffa enggak gitu kok…” I really thank them for just saying such a simple statement;
  4. Oh ya… di tengah sulitnya mencari teman yang bisa dipercaya, dari hasil self assessment ini gue juga jadi menyadari bahwa gue punya 2 orang sahabat yang selalu bisa gue percaya; satu orang sahabat lama di kampus Binus, satu lagi sahabat baru di kantor yang sekarang. Gue belum pernah menangkap basah mereka sedang berbohong sehingga secara otomatis, gue enggak pernah sekalipun mempertanyakan apapun yang keluar dari mulut mereka.

Love Life

  1. Ini dia yang paling menyedihkan… sepanjang tahun 2012 ini, gue enggak naksir satu cowokpun. Nggak satupun! Hiiks…
  2. Ok, sekarang gue akui… dulu itu gue salah berdoa. Jadi ceritanya, setelah susah payah menuntaskan patah hati gue di hampir sepanjang tahun 2011, gue berpikiran, “It’s okay to be single, as long as not single and broken hearted.” Ternyata nggak gitu juga sih… Faktanya, being single and not in love with somebody is not okay either, hehehehe. Gue nggak bakal bisa berjodoh dengan siapapun kalo gue enggak berani ngambil resiko untuk patah hati kan?
  3. Right, kalau begitu, gue ralat doa gue… Hope God will give me another chance with another man… and please, give me a good one for this time 😀 Yaah, mau good or bad, selalu ada aja yang bisa gue pelajari kok. Intinya sih saat ini, gue kangen banget sama rasanya jatuh cinta. Senyum-senyum sendiri kalo inget dia, rasa nggak sabar kepengen cepet ketemu sama dia, nyimpen semua yang berhubungan sama dia seolah sedang menyimpan intan berlian, rasa bahagia waktu akhirnya dia bilang cinta… aaaah, I really miss those moments 😉

Health

  1. Ini dia yang masih perlu banyak banget perbaikan. Mulai sekarang gue bertekad, suka nggak suka sama makanannya, harus makan minimal setengah porsi. Jam sepuluh malam sudah harus tidur. Rajin minum vitamin, jangan cuma dijadiin pajangan doang. Perbanyak makan sayur dan bua-buahan. Perbanyak minum air putih. Dan… uhm… mulai berolahraga kali yaa;
  2. Harus daftar asuransi kesehatan, tapi kali ini harus lebih teliti. Baru aja punya pengalaman buruk sama perusahaan asuransi yang katanya nomor satu di Indonesia. Kalo nanti masalahnya udah clear, akan gue sharing di blog ini detail konfliknya, supaya teman-teman lain bisa lebih cermat memilih asuransi.

Family         

  1. Lagi betah di rumah… karena ada ponakan yang lucu dan menggemaskan (meskipun ngengeng dan suka ileran, hehehehe);
  2. Ngelihat perjuangan adek gue selama hamil, melahirkan, dan membesarkan anaknya bikin gue jadi sadar… Allah sudah merencanakan segala sesuatu tepat pada waktunya. My sister might be ready for a kid, but I’m not her, not now. Itu pula yang bikin gue semakin terpacu untuk mengejar impian gue, as soon as possible, mumpung gue masih belum punya prioritas lain selain diri gue sendiri. Gue yakin kelak, Allah juga akan memberikan gue keturunan yang baik di saat gue juga sudah siap menjadi ibu yang baik. Untuk sementara, jadi aunty yang baik aja udah cukup lah ya, hehehehe.

Jadilah Diri Sendiri; Versi Terbaik dari Diri Kita Sendiri

Waktu jaman SD sampai SMA dulu, masih ngetren yang namanya ngisi-ngisi buku diary. Itu lho… kita nyebar buku diary kosong buat diisi sama teman-teman kita. Pada saat itu, gue seringkali menemukan tulisan begini di dalam diary semua orang yang pernah gue baca, “Just be yourself”.

Waktu itu gue berpikir… Apakah memang si penulis berniat menasehati pemilik buku untuk jadi diri sendiri, atau itu hanya sekedar kata-kata penghias diary saja? Saking pasarannya tulisan itu bikin gue enggak mau ikut-ikutan menulis pesan yang sama. Gue kan just be myself gitu, hehehehe.

Tulisan “just be yourself” itu bisa jadi hanya sekedar penghias untuk meramaikan tampilan diary. Tapi sebetulnya, tulisan itu banyak benarnya. Dan kenyataannya, menjadi diri sendiri tidak selalu mudah untuk semua orang, atau mungkin, tidak selalu mudah untuk diri kita sendiri.

Ada orang yang ikut-ikutan melakukan sesuatu hanya supaya tidak dicap cupu, kuper, nggak gaul dsb…

Banyak pula bermunculan copy cat… Hobinya meniru segala sesuatu yang dilakukan oleh orang lain meskipun sebetulnya, hal itu belum tentu cocok untuk dirinya sendiri.

Ada lagi orang-orang yang membeli suatu benda yang nggak diperlukan hanya karena enggak mau kalah sama orang lain.

Atau tipikal orang-orang yang senang mengiyakan semua perkataan orang lain, seolah dia tidak punya pendapatnya sendiri.

Gue pernah melihat seorang teman yang punya kepribadian unik. Kalem, dewasa, keibuan, dan punya beberapa kebiasaan yang membuat dia kelihatan menarik. Sayangnya saat dia mulai berganti teman, tiba-tiba dia seperti kehilangan jati diri. Suka kecentilan, kelewat heboh, yang mana hal itu tidak terlihat cocok untuk kepribadian dia. In my opinion, she’s no longer as attractive as she used to be.

Kemudian gue juga sering merasa risih saat ada orang lain yang jelas-jelas berusaha meniru gue. Senang sih, bisa menjadi inspirasi buat orang lain. Tapi to be honest… kalau mereka sebegitu obvious-nya, gue malah jadi berpikir, “Elo ini nganggep gue temen atau saingan sih?”

Gue akui gue pernah membeli sebuah tas yang sama persis seperti yang dimiliki teman baik gue. Bukan karena nggak mau kalah, tapi memang karena gue suka sama modelnya. Dan kebetulan, gue punya cukup uang untuk membeli tas itu.

Gue beli tablet juga karena tergiur melihat tablet teman-teman gue. Lagi-lagi bukan karena gue nggak mau kalah, bukan pula untuk pamer, tapi karena gue yakin tablet itu bakal bermanfaat buat gue dan harganya pun masih sesuai dengan kapasitas kantong.

Gue juga pernah meniru trik-trik yang dilakukan orang lain, biasanya dalam hal pekerjaan… Bukan karena ingin jadi copy cat, tapi karena gue melihat trik itu memang cara yang paling efektif untuk melakukan suatu hal.

Dan gue juga suka secara nggak sadar ketularan gaya bicara orang lain. Kalau yang itu asli nggak disengaja… bukan diniatiin atau apa.

Intinya, tidak masalah meniru orang lain, asalkan masih pada tempatnya, ada kegunaannya, dan ada batas-batasnya. Terobsesi ingin menjadi mirip seperti orang-orang tertentu tidak akan membuat hidup kita jadi lebih baik. Apa yang baik untuk orang lain belum tentu baik untuk diri kita, dan apa yang kelihatan keren dan menyenangkan untuk orang lain juga belum tentu berlaku sama untuk kita. Malah menurut pengamatan gue, orang yang paling bahagia adalah orang yang tahu bagaimana cara menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri.

Menjadi diri sendiri itu sebetulnya tidaklah sulit. Langkah awalnya, cintailah diri kita sendiri! Gali potensi yang kita punya, kembangkan hobi, nikmati hidup dan belajar bersyukur sampai hal yang sekecil-kecilnya… maka dijamin, gantian orang lain yang akan ingin meniru kehidupan kita. Good luck!

17 Ways to Make You Look Cool at Work

Gue pernah mendengar sebuah quote yang bilang… adalah hal yang penting untuk menjadi pintar, tapi, yang lebih penting lagi adalah bagaimana caranya agar terlihat pintar. Kenyataannya memang begitu… Kepintaran seseorang tidak dapat memberikan power dalam hal positioning jika dia tidak kelihatan pintar di mata orang lain.

Hal yang sama berlaku juga dalam hal pekerjaan. Percuma jabatan tinggi kalau kita tidak terlihat seperti seorang yang mempunyai kedudukan penting. Percaya tidak percaya, penampilan kita, gerak-gerik dan gaya bahasa kita, dapat menentukan respect orang lain dalam dunia kerja.

Nah, berdasarkan pengalaman pribadi gue, berikut ini hal-hal yang dapat membuat kita terlihat lebih keren dalam dunia kerja.

  1. Gunakan kata ‘saya’, bukan ‘aku’, apalagi ‘gue’ terutama pada saat formal meeting;
  2. Jangan tertawa saat sedang berbicara, hal ini akan membuat kita kelihatan nervous dan ragu-ragu;
  3. Gunakan istilah-istilah ilmiah ketimbang bahasa yang gampang-gampang. Supaya bisa menguasai istilah-istilah sulit, perbanyak baca buku, berita (asal bukan berita gosip yah), dan jurnal-jurnal ilmiah;
  4. Hilangkan kebiasaan jelek pada gerak-gerik tubuh kita… Menggaruk tubuh di saat bingung, misalnya. Jika kita sulit untuk menilai diri sendiri… tanyakan pada orang lain; bad habit apa yang tampak ganjil di mata mereka?
  5. Melek teknologi. Orang yang gaptek kelihatan kurang menarik di dunia kerja masa kini. Dan jangan cuma bisa punya gadget keren, tapi juga harus tahu bagaimana cara memanfaatkannya;
  6. Good English. Orang yang fasih berbahasa Inggris selalu meninggalkan kesan tersendiri di mata rekan kerjanya. Makanya jangan malas belajar dan berlatih! Tidak ada kata terlambat untuk mulai belajar bahasa Inggris;
  7. Hilangkan logat daerah saat sedang bicara dalam Bahasa Inggris;
  8. Perhatikan intonasi bicara… Penting untuk belajar public speaking yang baik dan benar. Oh ya, jangan pernah bicara menggunakan intonasi manja dan kekanakan. It’s no longer cute at all;
  9. Pakaian yang harus dihindari (kecuali jika kamu bekerja di industri kreatif): legging, corak binatang (macan, zebra, dsb…), corak bunga-bunga besar ala baju Bali, pakaian berbahan kaus (bahkan di hari Jum’at pun, lebih baik mengenakan batik atau kalaupun kaus, pastikan tipe kaus yang berkerah), dan warna yang kelewat ngejreng;
  10. Hindari aksesoris yang berlebihan, dan hindari juga aksesoris yang lebih cocok untuk dikenakan ABG;
  11. Untuk wanita, pakailah high heel, setidaknya 5 CM. High heel selalu membuat pemakainya terlihat lebih percaya diri (jangan lupa, harus pilih high heel yang nyaman);
  12. Jangan memakai sepatu karet untuk pergi ke kantor (Friday masih acceptable lah ya) apalagi kalau mau pergi meeting sama klien!
  13. Warna-warna gelap seperti hitam dan abu-abu dapat membuat kita terlihat lebih resmi. Tidak heran kalau ada cukup banyak professional yang memilih warna ini;
  14. Kenakan dasi dan jas (untuk pria) dan blazer (untuk wanita) plus hand bag (hand bag terlihat lebih resmi daripada tote bag) pada saat menghadiri meeting penting;
  15. Jaga kebersihan wajah, dan untuk wanita, kenakan sedikit make-up, tapi jangan berlebihan seperti mau pergi ke kondangan ya;
  16. Di Indonesia, tato sifatnya masih kontroversial. Pikir dua kali sebelum membuat tato di bagian tubuh yang jarang tertutup kain (misalnya telapak tangan). Again, working in creative industry could be an exception. Tato yang terekspos akan mempersempit pilihan karier yang kita punya; dan
  17. Pada akhirnya… be smart and look smart. Orang yang kelihatan pintar otomatis akan kelihatan keren di mata rekan kerjanya.

Loyalitas Kepada Atasan ala Skyfall

Menurut gue, big theme dari Skyfall adalah soal menguji loyalitas James Bond terhadap atasannya yang biasa disapa M. M yang memerintahkan anak buahnya untuk menembak musuh meskipun saat itu sang musuh sedang berduel dengan Bond di atas kereta yang melaju cepat sehingga beresiko salah sasaran, dan M yang berbohong agar dapat menerjunkan Bond kembali ke lapangan meskipun sebetulnya, menurut hasil tes mental dan fisik menyatakan Bond tidak lagi layak untuk bertugas. Ditambah lagi, ada hasutan dari mantan anak buah M tentang betapa tidak berperasaannya M kepada dia di waktu yang lalu. Jika kita yang menjadi James Bond, masihkah kita percaya, mau bekerja untuknya, bahkan masih mau mati-matian berusaha untuk melindungi nyawa M?

Jalan cerita Skyfall menurut gue terbilang sederhana. Tidak banyak unsur teka-teki dan tidak ada kejutan di akhir cerita seperti film action papan atas pada umumnya. Soal adegan laganya pun menurut gue standar-standar aja. Berkejaran dengan musuh menggunakan motor dan mobil sampai bikin keadaan kota panik dan kacau berantakan, berkelahi di atas kereta yang sedang melaju, memanfaatkan tabung gas untuk menciptakan ledakan, atau menembak permukaan danau yang membeku untuk mengalahkan musuh. Semua orang yang hobi nonton film pasti pernah melihat adegan sejenis di berbagai judul film lainnya.

Soal special effect juga nothing new lah ya. Udah sering disuguhi special effect yang wow dalam film-film masa kini, terutama film yang mempunyai versi 3D, membuat special effect di Skyfall jadi terlihat biasa-biasa saja. Tapi soal ide ada pistol yang hanya bisa dipakai oleh pemiliknya sounds like a good one sih. Rasanya udah bosen lihat adegan laga di mana pistol yang terlepas dari tangan sang jagoan malah berhasil direbut oleh sang musuh.

Selain beberapa kekurangan yang gue sebutkan di atas, tetap ada satu kelebihan yang nyaris selalu menjadi ciri khas film-film James Bond: menampilkan pemandangan yang spektakuler. Shanghai, Macau, dan Scotlandia tampak sangat menawan di film ini. Shanghai dengan gedung-gedung pencakar langitnya, Macau dengan keunikan kasinonya, dan Scotlandia dengan pemandangan alamnya… Bener-bener bikin pengen dateng ke sana! Bahkan Macau yang sudah pernah gue kunjungi pun terihat jauh lebih cantik di film ini.

Saat nonton Skyfall, dalam hati gue berpikir… Kalo gue jadi meneteri pariwisata Indonesia, gue bakal ngelobi PH film-film Hollywood sekelas James Bond supaya mau syuting di Indonesia. Let’s say, di Raja Ampat yang mempunyai pemandangan atas dan bawah laut yang luar biasa indah. Masih ingat salah satu pulau di Pha Nga Bay Phuket, Thailand yang kini ramai dikunjungi turis dan lebih dikenal dengan James Bond Island? Film James Bond yang berjudul The Man with the Golden Gun pernah syuting di tempat itu pada tahun 1974. Sudah lewat puluhan tahun… tetapi pulau itu tetap jadi salah satu top destination di Phuket.

Pada akhirnya, meskipun jalan cerita terbilang sederhana dan special effect tidak tampak luar biasa, Skyfall tetap salah satu film yang tergolong must watch di tahun ini. Bond Girl yang sangat cantik dan seksi, akting pemeran Silva (si penjahat) yang sangat all out, nice soundtrack, pemandangan kota dan alam yang sangat spektakuler, ending yang cukup menyentuh, dan moral lesson yang bisa kita dapatkan setelah nonton film ini.

Bicara soal moral lesson dalam Skyfall kembali lagi bicara soal loyalitas terhadap atasan. Gue pernah merasakan sendiri betapa sulitnya untuk tetap mempercayai atasan setelah mendengar berbagai sisi negatif tentang diri si bos yang beberapa di antaranya merupakan fakta, dan bukan sekedar isapan jempol belaka. Tidak peduli betapa baiknya si bos selama ini, tetap akan terasa sulit untuk kita tetap mempertahankan loyalitas pada saat-saat buruk seperti itu. Akan tetapi yang tidak kalah sulitnya bukan hanya mempertahankan loyalitas terhadap atasan di saat-sata terburuknya, melainkan juga bagaimana caranya agar kita bisa menjadi atasan yang dapat dipercayai sepenuhnya oleh anak buah kita?

Sebagai atasan, gue selalu berusaha untuk menjaga performance dan credibility gue dengan sebaik-baiknya. Oleh karenanya, di luar itu gue berharap anak-anak buah gue pun akan selalu berusaha untuk percaya sama gue, tidak mudah terpengaruh oleh gosip-gosip yang beredar, dan selalu mencoba untuk melihat alasan kenapa gue melakukan sesuatu yang tampaknya tidak ideal itu? M was so lucky to have an agent like James Bond, and I wish I could be as luck as she was 🙂