A journey to remember

DMZ Tour, South Korea

Posted on: November 16, 2012

Di Seoul, terdapat 2 wisata perbatasan Korsel-Korut yang paling populer: Joint Security Area (JSA) dan Demilitarized Zone (DMZ). Sesuai namanya, JSA merupakan satu area di mana terdapat tentara Korsel dan Korut yang sedang bertugas menjaga perbatasan, sedangkan DMZ merupakan wilayah tidak berpenghuni yang terletak di antara Korsel dan Korut.

Pada saat tahap persiapan, gue sempat bingung… pilih DMZ atau JSA? Masing-masing tur memakan waktu sekitar 6 s/d 8 jam, sehingga sayang rasanya jika belasan jam habis untuk wisata yang berbau-bau perbatasan Korea.

Salah satu travel agent yang gue hubungi (untuk kedua jenis tur ini wajib menggunakan jasa travel agent) mengatakan bahwa JSA lebih menarik daripada DMZ. Based on review yang gue baca pun, atmosfer tur di JSA itu menegangkan tapi menyenangkan. Bayangin aja… sederet tentara Korsel dan sederet tentara Korut saling berdiri tegak berhadapan… Banyak orang suka berlelucon, jika sampai kembali pecah perang, maka orang-orang yang sedang berada di JSA itulah yang nanti akan mati duluan 😀

Setelah diskusi panjang lebar dengan teman-teman seperjalanan, akhirnya pilihan jatuh kepada DMZ. Alasannya, durasi tur DMZ lebih singkat dari JSA. Kemudian ada teman gue yang penasaran kepingin masuk ke dalam terowongan bawah tanah sisa masa-masa perang di jaman dulu, dan terowongan ini hanya bisa kita temui di DMZ, bukan JSA. Pertimbangan lainnya, prosedur memasuki JSA itu lebih ribet daripada DMZ. Harus ada digital passport segala (bingung juga… apa sih yang mereka maksud dengan digital passport?).

Ya, JSA memang lebih strict, itu sebabnya tidak semua agent boleh menjadi penyelenggara utama dari tur ini. Untuk mengakalinya, ada banyak travel agent yang menjadi ‘feeder’ di mana turis yang mereka bawa akan diserahkan kepada penyelenggara berlisensi itu.

Tiba pada hari H, rombongan dibawa mengunjungi beberapa tempat bersejarah yang berlokasi di sana. Selama berada di sana, gue selalu aja nemuin orang-orang yang berusaha buat ‘mengintip’ negara Korut di seberang sana. Mulai dari memasukkan uang koin untuk mengaktifkan teleskop, sampai ada juga cowok yang sampe sengaja gendong ceweknya di atas pundak hanya supaya si cewek bisa mengambil gambar Korut dengan lebih jelas!

Korut terletak persis di ujung sana… di belakang gue.

Yang paling gue suka dari DMZ adalah pada saat berkunjung ke Dorasan Station. Bukan karena gue bisa lihat bangkai kereta jaman perang dulu (jangankan keretanya, ngelihat rel keretanya juga enggak tuh, enggak sampe diajak  masuk ke dalem banget sih), melainkan karena di sana ada beberapa tentara ganteng! Tinggi, putih, perut rata, dada yang bidang… ouch, rasanya udah kayak ngelihat artis Korea, hehehehe.

My favorite army 😉

Kemudian yang paling gue nggak suka dari tur DMZ malah si terowongan itu sendiri. Awalnya gue excited mau masuk ke ex war tunnel untuk pertama kalinya, tapi ternyataa, tunnel-nya itu rendah banget! Cewek jangkung kayak gue mau nggak mau harus jalan sambil bungkukin badan. Nggak keitung berapa kali kepala gue kejedot terowongan (thank God semua pengunjung diwajibkan pakai helm), sehingga lama-lama gue jadi stres takut kejedot lagi. Dalam hati gue berharap supaya cepet-cepet sampe ujungnya dan bisa puter balik ke mulut terowongan.

Entah ini monumen apa… nggak ngerti sama tulisannya 😀

Oh ya, selain menderita karena harus jalan bungkuk sambil kejedot-jedot, penderitaan lainnya adalah jalan menanjak menuju pintu keluar. Makanya saat gue melihat ada tempat duduk, rasanya kayak melihat surga! Gue biarin temen-temen jalan duluan sementara gue beristirahat dulu. Kemudian saat gue ngelirik ke kanan dan ke kiri… ya ampuuun, gue itu satu-satunya anak muda yang duduk istirahat di deretan bangku itu! Whoaa, jadi malu, hehehehe.

Overall, meskipun gue tidak menilai DMZ as one of the best destinations in Korea, tapi kalo dipikir-pikir lagi… pengalaman yang gue dapatkan lumayan seru. Gue jadi bisa pamer ke orang-orang, “Gue pernah lho, masuk ke dalem terowongan bawah tanah sisa perang jaman dulu di Korea.” At least, it’s one life time experience lah yaa 🙂 Tapi tetep aja sih… kalo saran gue, misal kalian juga punya keterbatasan waktu, lebih baik pilih JSA daripada DMZ.

Advertisements
Tags:

4 Responses to "DMZ Tour, South Korea"

Hmm seandainya di Indonesia tempat-tempat bersejarah bekas perang dulu juga di buat sbg area wisata pastinya banyak turis2 belanda/ jepang yang pada dateng..

Dulu saya pernah mengunjungi lorong bawah tanah di Yogya, sisa jaman perang juga, penghubung dari istana ke mesjid, kalau sekarang istilahnya jalur evakuasi lah ya. Jadi sebetulnya di Indonesia pun juga ada, seperti Lawang Sewu di Semarang salah satunya. Tapi sayangnya… kondisi bangunan sudah tidak terawat 😦 Kusam, berlumut, banyak dimakan rayap, bahkan ada pula yang bau pesing atau terlihat sudah mau rubuh. Belum lagi tidak ada fasilitas umum seperti toilet yang memadai. Dan satu lagi, promosinya kurang gencar! Payah…

Hallo, blog nya bagus sekali. Kebetulan saya juga berencana untuk tour ke DMZ dan JSA. Kalo boleh tau waktubitu pake tour agent apa? Lalu untuk mekanisme pemesanannya seperti apa? Terimakasih sebelumnya… ^^

Hi Rani

Thanks! Waktu itu saya pakai Yeha Tour. Enjoy!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

My Blog Counter

  • 988,491 visits since May 2011

My Blog Categories

My Blog Archives

Click here to read my tweets…

Click the pictures below to visit my Instagram...

From classmates to travelmates! Been friends since we were only 15 years old! Met them up today and we’ve made a lot of plans for our coming trips. Let’s make it happen!
I don’t know why but I couldn’t seem to get any new outfit for Lebaran this year. I went to three shopping malls but then I went home with empty hands. So here I am... wearing one old dress I bought a couple years ago. Today before Eid prayer was begun, I saw something that made me smile. I instantly knew that I’ve had something way more important than a new dress for myself. I’d be happy if I had a new dress, but I’m still perfectly happy even without any of it. God has been incredibly kind to me and Ramadhan this year couldn’t be more miraculous to me. I am full of flaws, but I’ve had way more than enough, and I couldn’t ask for more. Eid mubarak and please do forgive me for all the wrong said and done. Let’s celebrate this holly day as the new beginning for each and everyone of us. Love - Riffa.
Arfa, my very first nephew, is turning six today! Just two days ago, he told me, “Aunty, when I grow up, I want to be vey rich so that I can buy for you anything you want!” He’s lovable, isn’t he? It never ceases to amaze me to see all the new things he learned, said, and did in the past 6 years. He’s growing up so fast and I can’t be prouder of him! Happy birthday, Arfa! Wish you’ll always be a loving kid and may Allah always bless you in every step of the way. So much love - your proud Aunty ❤️

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

About Me

What my blog is all about? It's all about my life; my very own fairy tale, that I would love to share. This is my story, my ups and downs, it's a journey to remember.

Advertisements
%d bloggers like this: