Apa Rasanya Jadi Pepper Potts?

Penggemar Marvel pastilah familiar dengan nama Pepper Potts; asisten Tony Stark “Iron Man” yang kemudian berakhir menjadi istrinya. Dan seingat gue, pasangan Tony-Pepper inilah yang butuh waktu paling lama untuk jadian jika dibandingkan pasangan-pasangan lain di MCU (Marvel Cinematic Universe).

Saat tadi menonton ulang film pertama Iron Man, gue bertanya-tanya pada diri gue sendiri, “Apa rasanya hidup jadi Pepper Potts?”

Pepper jelas menunjukkan ketertarikan dia pada atasannya itu. Perhatian-perhatian kecilnya, rasa khawatirnya, serta pengorbanannya, jelas bukan hal-hal yang biasa dilakukan oleh bawahan untuk atasannya. Tony juga jelas mengetahui perasaan Pepper terhadap dirinya, tapi tetap saja… dia lebih memilih berganti-ganti teman kencan ketimbang langsung memilih Pepper sebagai kekasihnya.

Seolah itu saja belum cukup buruk, di awal cerita, Pepper sang asisten rutin bertugas untuk “mengusir secara halus” teman kencan Tony dari kediamannya. Pengorbanan perasaan yang sangat besar menurut gue. Memang hanya film, tapi bisa saja terjadi di dunia nyata. Nggak usah jauh-jauh sampai melihat si dia dengan perempuan lain misalnya. Melihat dia di kantor setiap hari tanpa pernah bisa memilikinya juga sudah cukup menyedihkan. Mau move on juga pasti sangat susah karena masih harus kerja bareng setiap harinya.

Banyak dari kita pastilah juga pernah berada di situasi yang mirip seperti Pepper. Merasa seperti ada harapan, tapi tidak juga banyak kemajuan. Mencintai, tapi enggak punya privilege untuk menyampaikannya. Kangen tapi enggak bisa bilang kangen, cemburu tapi enggak punya hak untuk complain, sekedar ingin ketemu dia pun masih harus pintar-pintar mencari alasan. Situasi yang lama kelamaan akan membuat kita bertanya-tanya… apa jangan-jangan semua ini hanya sekedar cinta yang bertepuk sebelah tangan? Dan yang paling penting, mau begini sampai kapan?

Gue sering berharap… andai gue tahu kapan gue harus terus mencoba atau kapan sebaiknya gue menyerah saja. Bagaimana jika gue hanya perlu sedikit waktu lagi? Berusaha sedikit lebih keras lagi? Bersabar sedikit lebih banyak lagi?

Tapi bagaimana jika semua itu pada akhirnya hanya akan terbuang sia-sia? Bagaimana jika kenyataannya, apapun yang gue lakukan, apapun yang gue katakan, berikan, atau bahkan korbankan, tidak akan pernah cukup untuk bisa mengubah pikirannya? Untuk menggerakan hatinya? Untuk meyakinkan dia bahwa gue adalah “the one“?

If Pepper Potts were real, how did she manage all that?

Beruntung untuk Pepper Potts perasaan dia akhirnya terbalas juga. Pasangan Tony-Pepper akhirnya jadi pasangan favorit hampir semua MCU fans yang gue kenal. Tapi sayangnya, tidak semua dari kita akan berakhir seperti Pepper Potts. Seperti frase yang cukup populer akhir-akhir ini; pada akhirnya, kita hanya sedang menjaga jodoh milik orang lain.

Oh ya, tahu apa yang lebih berat dari menjadi Pepper Potts? Rasa takut orang yang dia cintai akan pergi selama-lamanya sebagai resiko dari “pekerjaannya”.

Gue masih ingat suatu hari saat gue sedang meeting, cowok yang gue sayang banget, mengabari dia akan pulang lebih awal karena mendadak demam tinggi. Mau periksa ke UGD katanya. Membaca isi pesan itu, fokus gue langsung buyar. Telinga gue seolah berhenti mendengar kalimat yang diucapkan oleh rekan kerja gue di meeting itu. Bayangan saat terakhir kali gue melihat dia terbaring di Rumah Sakit tiba-tiba melintas di benak gue. Bagaimana jika dia sakit sampai separah itu lagi?

My brain froze… and that was when I knew how much deeper my feelings had grown for this man.

Tapi tetap saja. Dia bukan pacar gue. Gue pengen ikut mengantar ke UGD. Ingin melihat keadaan dia dengan mata kepala gue sendiri. Tapi gue enggak punya hak untuk itu. Satu-satunya hal yang bisa gue lakukan hanya membalas via WhatsApp, “Kabari dokternya bilang apa. And get well soon!”

Balik lagi ke Pepper Potts… gue mungkin tidak akan bisa sekuat dia. Dan mungkin, gue tidak akan berakhir bahagia dengan cowok yang gue sayangi itu…

Every girl wishes for a happy ending, but maybe, this one is just never meant to be… Still hoping that someday, I will find someone who chooses me, just like Tony Stark chooses Pepper Potts.

Emansipasi Bukan Berarti Tidak Menghargai Laki-laki, Bukan Pula Mengurangi Kewajiban Kami Sebagai Perempuan

Emansipasi buat gue artinya kesetaraan hak. Hak untuk mendapatkan pendidikan, pekerjaan, promosi, dan lain sebagainya. Perempuan harus punya hak yang sama untuk mengejar cita-citanya, dan kami para perempuan harus dinilai berdasarkan kompetensi, dan bukan berdasarkan jenis kelamin.

Jadi sebetulnya, emansipasi tidak ada hubungannya dengan tidak lagi menghargai laki-laki. Membuat kami jadi bersaing dengan mereka, bisa jadi memang iya, tapi sekali lagi, dinilai berdasarkan kompetensi dan bukan berdasarkan jenis kelamin. Itu pula sebabnya gue menilai tidak adil jika suatu organisasi mempunyai kuota minimal pemimpin perempuan dalam organisasinya. Jika kandidat yang dinilai capable untuk duduk sebagai pemimpin secara kebetulan laki-laki semuanya, justru tidak adil jika perempuan dimenangkan hanya atas nama emansipasi.

Kemudian menurut gue, emansipasi juga tidak mengurangi tanggung jawab kami sebagai wanita. Tidak mengurangi tanggung jawab sebagai seorang isteri dan ibu dari anak-anak kami. Memang ada yang berbeda dari cara perempuan bekerja membesarkan anak-anaknya, tapi selama hal itu tidak mengurangi tanggung jawab atas suami dan anak-anak di rumah, menurut gue tidak ada salahnya. Ibu rumah tangga belum tentu ibu dan istri yang lebih baik daripada ibu yang bekerja di luar rumah, begitu pula sebaliknya. Tanggung jawab tetap sama, hanya cara dan metodenya saja yang berbeda-beda.

Gue juga tipikal perempuan yang masih meyakini emansipasi bukan berarti kedudukan istri harus setara dengan suaminya. Menurut gue bagaimanapun, kepala rumah tangga tetap harus suaminya. Suami harus tetap memimpin istrinya, dan istri tetap harus menerima suaminya itu sebagai pemimpinnya. Itulah sebabnya, penting buat gue mempunyai pasangan yang memiliki keberanian untuk memimpin gue. Orang yang berani mengatakan kesalahan apa yang baru saja gue lakukan, dan juga orang yang berani mengajarkan gue untuk bisa jadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.

Selamat hari Kartini buat para perempuan Indonesia! Apapun pilihan hidup kita masing-masing, mari kita jaga kemuliaannya! Mari kita buat Kartini bangga dengan menjadi versi terbaik dari diri kita ini. Bring it on, ladies!

Saat Jatuh Cinta, Tidak Usah Hitung-hitungan!

Pernah merasa rugi karena kita yang lebih cinta sama gebetan atau sama pasangan kita? Serasa enggak ada timbal balik yang setimpal, berat sebelah, dan lain sebagainya…

Gue pernah. And I’m surprisingly okay with that.

Gue pernah nonton serial TV yang bercerita tentang cowok yang tergila-gila sama cewek yang hanya menganggap dia sebagai “teman baik”.

Cowok ini bilang ke ceweknya, “I love you so much my love is enough for both of us.”

Adegan yang menyentuh hati, hehehehe.

Jangan merasa rugi jika kita mencintai dia melebihi rasa cinta dia ke kita. Jangan pula merasa rugi bahkan di saat sebetulnya, kita hanya bertepuk sebelah tangan saja.

Kenapa?

Karena mencintai itu mengajarkan keberanian. Berani mencintai sama saja berani menerima resiko untuk tersakiti. Kenapa tersakiti? Karena luka yang disebabkan oleh orang yang kita cintai akan terasa jauh lebih menyakitkan ketimbang luka yang disebabkan oleh orang asing. Itulah sebabnya, punya cinta yang lebih besar sama dengan punya keberanian yang juga lebih besar. Jadi kenapa harus merasa rugi?

Tidak perlu dihitung betapa kita lebih mencintai dia daripada sebaliknya. Gue berpikirnya, mencintai dia sebesar itu adalah kemajuan besar buat diri gue sendiri. Gue yang akhirnya mau untuk setidaknya berusaha percaya pada orang lain, percaya pada diri sendiri, dan gue yang memberanikan diri untuk memgambil resiko bahwa semua ini… bisa berakhir dengan menyakiti diri gue sendiri.

I love him way more than whatever he feels about me… and I’m okay with that.

Hari Ini Gue Pilih Pasangan Nomor 02, Tapi Kalau Mereka Benar Kalah pun, Gue Nggak Akan Buat Keributan

Hasil quick count mulai bermunculan di media massa jam 3 sore hari ini. Antusias menunggu, gue malah ketiduran. Bangun tidur jam 4 sore, gue langsung ambil hp, buka aplikasi detik.com, dan mendapati pasangan nomor 01 unggul di semua lembaga survey yang diberitakan oleh news portal itu.

Kecewa? Sedikit. Gue enggak ngefans sama Prabowo, tapi gue masih punya belief and hopes sama Sandiaga. Tapi ya sudah. Pemilu itu kan bukan keputusan gue saja. Kalah-menang juga sudah biasa. And I don’t have to win all the times anyway.

Jadi daripada bikin keributan, apalagi sampai menciptakan atau ikutan mengedarkan hoax, lebih baik gue tetap fokus dengan hidup gue sendiri. Fokus dengan hal-hal yang bisa gue kendalikan. Fokus dengan bertanya pada diri gue sendiri, “Apa yang bisa gue kontribusikan untuk negeri gue ini?”

Kontribusi kita pada tanah air tidak berhenti setelah Pemilu usai. Setidaknya untuk diri gue sendiri, gue masih punya cara untuk mengubah apa yang menurut gue baik untuk bangsa ini. Gue memang bukan siapa-siapa, tapi pastilah ada yang bisa gue coba lakukan dengan kapasitas diri yang gue miliki.

Apa contohnya? Sederhana saja: gue bisa memulai dari karier yang gue miliki.

Pekerjaan gue saat ini memberikan gue akses untuk mengutarakan pendapat ke lembaga pemerintahan. Bank Indonesia dan Dirjen Pajak misalnya. Memang spesifik terkait industri perusahaan tempat gue bekerja, tapi gue bisa mulai dari sana. Pelan-pelan, gue bisa membangun relasi dengan petinggi di masing-masing lembaga dan tidak mustahil jika suatu hari nanti, gue bisa membagikan gagasan yang didengar yang tidak lagi terbatas pada industri perusahaan tempat gue bekerja.

Banyak di antara kita yang mempunyai kapasitas untuk benar-benar mengubah sebagian kecil dari negeri kita tercinta ini. Apapun itu, menciptakan keributan bukan salah satunya. Jadi bagi pendukung pasangan yang kalah, mari berbesar hati. Dan bagi pendukung pasangan yang hari ini menang, tolong jangan terlalu tinggi hati. Tidak ada ruginya menjaga perasaan pendukung pasangan yang kini tengah merasa kecewa.

Selamat kepada semua orang yang hari ini memberikan hak pilihnya di tengah gencarnya ajakan untuk tidak memilih. Kalian luar biasa! Setidaknya kalian masih percaya, negeri ini masih bisa berubah lebih baik dari sebelumnya.

Hal-hal yang Gue Lakukan Saat Susah Tidur

Pernah ingin tidur tapi nggak bisa tidur? Sudah lewat tengah malam tapi masih belum ngantuk juga. Bisa dicoba cara-cara ajaib yang pernah gue lakukan berikut ini, siapa tahu mempan!

  1. Baca buku matematika… Saking bencinya sama matematika, tiap baca buku ini, gue malah jadi ngantuk, hehehehe;
  2. Nonton film yang membosankan… Gue punya beberapa judul yang efektif bikin gue tidur saat nonton film itu. Salah satunya? A Star is Born;
  3. Makan sampai kenyang. Ini bukan kebiasaan yang menyehatkan sih. Selain bikin lambung jadi capek, ini juga bisa bikin perut jadi buncit;
  4. Buka aplikasi online shopping. Melihat isi online catalog entah kenapa bisa bikin gue pelan-pelan merasa ngantuk lalu tertidur;
  5. Dengar suara hujan, aliran sungai, atau jangkrik. Ini sebabnya, gue masih sesekali berlibur ke pedesaaan. Tapi suara seperti ini bisa didengar via aplikasi hp juga sih, cuma kurang natural saja kedengarannya;
  6. Cari teman ngobrol. Meskipun topiknya menarik, texting atau teleponan di atas tempat tidur itu efektif bikin gue ngantuk. Dan entah kenapa, percakapan yang menyenangkan sebelum tidur itu bikin tidur gue juga jadi lebih nyenyak;
  7. Baca berita. Ini juga efektif bikin gue ngantuk jika isi beritanya membosankan semua. Tapi ini bisa juga terjadi sebaliknya: isi berita sangat menarik sehingga gue malah terus-menerus baca berita sampai lupa untuk segera pergi tidur; dan
  8. Memejamkan mata dan membayangkan orang yang gue sukai, hehehehehe. It soothes me, somehow.

Punya cara-cara lain yang efektif buat kalian? Please share in comment box!

Kenapa Gue Tidak Mau Jadi Golput?

Jujur awalnya, gue hampir golput di Pemilu tahun 2019 nanti. Gue enggak happy dengan pemerintahan Jokowi, tapi gue juga pernah punya pengalaman yang tidak menyenangkan dengan Prabowo (cuma insiden kecil, tapi terasa menyebalkan). Gue juga tidak terkesan tiap kali melihat mereka berpidato di ranah publik. Beda banget dengan saat gue melihat pidatonya Obama, misalnya.

Beberapa bulan berlalu, akhirnya hari ini gue menjatuhkan pilihan. Apa pilihan gue? Pilihan untuk setidaknya, gue tidak golput.

Kenapa tidak jadi golput?

Karena kejadian yang gue alami belasan tahun yang lalu.

Saat itu gue masih duduk di bangku SMA. Ceritanya sedang ada pemilihan Ketua KIR; ekstrakurikuler yang gue ikuti. Waktu itu gue kecewa karena senior-senior di sana tidak memilih gue untuk menjadi salah satu calon ketua KIR yang baru, sehingga akhirnya pada saat pemilihan, gue memilih untuk abstain.

Saat hasil pemilihan selesai dibacakan, Ketua KIR yang lama, mengajukan pertanyaan kepada seluruh anggota, “Hari ini ada satu suara yang abstain. Boleh tahu siapa orangnya?”

Semua orang diam. Gue hanya diam.

Dia melanjutkan, “Tidak akan ada konsekuensi… kami hanya ingin dapat masukan… apa alasannya? Apa yang bisa kami perbaiki untuk pemilihan berikutnya?”

Dan gue tetap diam. Tidak berani mengakui bahwa pada saat itu, gue memilih untuk abstain.

Si kakak kelas gue itu mulai kelihatan kecewa. Dan dia mengakhiri pertemuan dengan pertanyaan yang tidak terjawab.

Saat itu, gue jadi malu dengan diri gue sendiri. Gue yang tidak mengakui perbuatan gue itu betul-betul bukan diri gue yang biasanya. Walau sebetulnya, ada alasan kenapa gue tidak mau mengakuinya. Alasan yang kemudian menjadi alasan untuk gue tidak pernah lagi memutuskan untuk abstain di pemilihan-pemilihan lain yang harus gue lakukan sepanjang hidup gue.

Alasan apa?

Alasan bahwa sebetulnya, gue malu mengakui bahwa gue baru saja melakukan hal yang tidak ada gunanya. Golput itu tidak akan pernah mengubah apa-apa. Tidak ada manfaatnya. Jadi daripada bikin malu diri sendiri, gue akhirnya lebih memilih untuk bungkam. Dalam hati gue bertekad… tidak akan pernah lagi, gue menempatkan diri gue dalam rasa malu atas keputusan gue sendiri. Gue berjanji, gue tidak akan pernah golput lagi.

Lalu kenapa gue bilang golput itu tidak ada gunanya?

Karena saat kita memilih untuk golput pun, di pemilihan manapun, pasti akan tetap ada kandidat yang keluar sebagai pemenangnya. Dengan memilih abstain, kita kehilangan kontribusi untuk menentukan siapa pemenangnya. Dan bagi gue, tidak ada kontribusi itu artinya sama saja dengan tidak ada kegunaannya.

Selain soal tidak memberikan kontribusi apa-apa, golput bisa jadi pertanda pola pikir yang terlalu pesimis. Atau bisa juga, pola pikir yang terlalu sombong… merasa diri jauh lebih baik daripada para kandidat yang namanya tertera di kertas suara. Kembali lagi apapun alasannya, dengan tidak memilih, kita memilih untuk menjadi seseorang yang tidak memberikan kontribusi.

Masih ada waktu 4 hari lagi untuk menentukan pilihan. Pelajari masing-masing paslon, plus-minusnya, track record-nya, rencana kerja dan janji-janjinya… Gue juga masih tidak sepenuhnya sreg dengan pilihan gue nanti, tapi setidaknya, gue memberikan kontribusi. Setidaknya, gue tidak membiarkan satu suara gue terbuang sia-sia.

Selamat menentukan pilihan dan selamat menikmati pesta demokrasi!

Kadang, Melakukan Hal Baik itu Harus Dipaksa

Dulu, bokap seringkali menasehati…

“Zakat itu mesti dipaksa. Nggak apa-apa merasa terpaksa. Nggak usah nunggu ikhlas. Rajin shalat juga mesti dipaksa. Nggak usah nunggu dapat hidayah.”

Dan dalam begitu banyak hal lainnya, nasehat bokap itu ada benarnya!

Rajin belajar itu mesti dipaksa. Entah dipaksa orang tua, atau dipaksa oleh diri sendiri. Gue sering merasa terpaksa harus belajar saat kuliah dulu, tapi hasilnya sekarang betul-betul bikin bangga!

Rajin olahraga juga mesti dipaksa. Paksa diri bangun pagi, paksa diri melakukan aktivitas fisik yang hanya bikin diri kita merasa capek dan penuh keringat. Jika tidak dipaksa, bisa jadi kita tidak akan pernah memulai!

Menyisihkan waktu luang untuk diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita juga lama kelamaan harus dipaksa. Harus disempatkan. Nggak usah nunggu ada waktu luang karena bisa jadi, akan selalu ada alasan untuk selalu sibuk kerja.

Memaafkan orang lain, memaklumi kekurangan mereka, dan berdamai dengan mereka juga seringkali harus dipaksa. Enggak ada manusia yang sempurna membuat enggak ada hubungan antara 2 manusia yang akan pernah bisa sempurna. Suka nggak suka, paksa diri untuk bisa menerima orang lain apa adanya.

Memperbaiki diri sendiri juga harus dipaksa. Memang enggak enak, capek, dan menjengkelkan. Tapi tetap harus diusahakan! Paksa siri sendiri untuk berubah, untuk keluar dari zona nyaman yang sebetulnya tidak terasa betulan bikin nyaman itu!

Orang yang tidak pernah memaksa dirinya untuk melakukan hal-hal baik dalam hidupnya hanyalah orang-orang malas! Orang-orang yang malas berubah dan sangat senang mencari excuse.

Gue bersyukur sepanjang hidup gue, selalu ada hal-hal yang mengingatkan gue untuk memaksa diri agar berusaha lebih keras dari sebelumnya. Hal-hal yang seringkali pahit, yang mengingatkan gue untuk melakukan hal-hal yang sudah seharusnya gue lakukan.

Great things in life require great efforts… and sometimes, we only need to push ourselves more, and harder than we already did.

Merasa terpaksa? Biarkan saja! Lama-lama, kita akan mulai merasa terbiasa.

Start pushing yourself, start from now!

We Learn How to Love from The Hearts We Broke

Beberapa waktu yang lalu, gue ikut games di acara office gathering. MC mengajukan pertanyaan dan peserta diwajibkan menjawab pertanyaan itu dengan cara bangkit berdiri atau tetap duduk.

Salah satu pertanyaannya, “Bagi kamu yang pernah bikin orang lain patah hati, dipersilahkan berdiri.”

Ruangan dipenuhi dengan tawa, dan cukup banyak orang yang menjawab pertanyaan dengan cara berdiri. Gue hanya tertawa geli, sambil tetap duduk. Salah satu teman menunjuk ke arah gue sambil bilang, “Eh elo kok enggak berdiri, Rif?”

Sejak itu gue jadi berpikir… pernah kah gue bikin orang lain patah hari?

Pernah. Gue tahu gue pernah bikin orang lain jadi patah hati. Dan jujur, ada beberapa tingkah laku gue saat itu yang membuat gue menyesalinya.

Apa saja?

Gue menyesal pernah tiba-tiba kabur ke rumah tante saat gue sudah setuju untuk pergi nonton bareng cowok yang waktu itu sedang dekat dengan gue. Saat dia datang menjemput dan gue tidak di rumah, dia kirim SMS, dan gue tidak membalasnya. I knew that I should have texted him before he came, but I didn’t. I hated confrontation and I wanted him to just disappear… and that was actually cruel.

Gue menyesal pernah sengaja tidak membalas SMS, YM, dan tidak mengangkat telepon gebetan gue yang lainnya hanya karena gue masih ragu hubungan itu mau dibawa ke mana. Gue bahkan pernah dengan ketusnya membalas, “Elo sadar nggak sih, gue lagi berusaha ngehindarin elo?” I should have treated him better. I should have told him how I felt. And I’m so sorry I didn’t do any of that.

Gue menyesal pernah dengan judesnya menolak cowok yang sudah begitu banyak melakukan hal-hal manis buat gue. Hal-hal yang tidak pernah gue dapatkan dari begitu banyak cowok yang gue temui di tahun-tahun berikutnya. Seharusnya saat itu, gue lebih menghargai perhatian-perhatian kecil dia. He’s now happily married and I’m genuinely happy for him… he deserves that.

Gue menyesal pernah sengaja menjodohkan cowok yang gue sukai dengan teman gue sendiri. Entah apa alasannya. Padahal gue tahu cowok itu juga suka sama gue. Dan teman gue juga tidak minta dijodohkan. I guess I was just too afraid of getting too close to him. And I went back off. I was such a coward, wasn’t I?

Dan gue menyesal pernah beberapa kali bersikap seperti cewek plin-plan. Kadang hangat dan penuh perhatian, kadang dingin dan seolah tidak peduli sama sekali. Ragu sedikit saja, gue lebih memilih untuk menarik diri. I was always too afraid of getting hurt and when I thought I was just protecting myself, I hurt them along the way.

Bertahun-tahun sudah berlalu, dan akhirnya gue belajar dari pengalaman gue itu. Gue belajar untuk mengatasi rasa takut gue sendiri. Gue belajar untuk bertahan di saat-saat sulit. Gue belajar untuk memberanikan diri. Pelan-pelan, gue belajar untuk mencintai.

I wish I didn’t have to hurt all their feelings, but I did. And I have to admit… I learned how to love from the hearts those I broke. They all deserved better, and I sincerely hope, the universe will find its way to treat them better.

Serbuk Eyeshadow Mengotori Wajah? Ini Triknya!

Awalnya, gue sempat berhenti pakai eyeshadow palette karena tidak suka dengan serpihan eyeshadow yang mengotori wajah gue sendiri. Sudah ganti-ganti merk eyeshadow, sampai beli yang harganya relatif mahal juga, tapi hasilnya sama saja. Gue akali dengan membersihkan wajah dengan cotton bud setelah pemakaian eyeshadow lalu dilapis dengan bedak padat, tapi tetap saja ada serbuk yang tertinggal dan baru kelihatan di siang hari.

Gue sempat berpikir jangan-jangan masalahnya ada di kulit kelopak mata gue yang relatif kering sehingga eyeshadow-nya tidak menempel dengan sempurna… tapi ternyata enggak juga sih. Memang ada pengaruhnya, tapi nggak signifikan.

Capek dengan eyeshadow palette, gue beralih ke eyeshadow stick keluaran Clinique. Bentuknya mirip banget sama lip balm dan cara pakainya juga sama: langsung dioleslan ke kelopak mata. Eyeshadow stick ini hasilnya tidak cukup tebal untuk ukuran selera gue sih, tapi ini betul-betul solusi sempurna untuk gue yang enggak suka melihat serpihan eyeshadow di wajah gue ini (apalagi gue tipe orang yang cuma mau pakai eyeshadow warna cokelat sangat tua atau hitam sekalian… jadi benar-benar nggak enak dilihat jika serbuknya sampai berjatuhan).

Gue cukup happy dengan eyeshadow stick sampai suatu hari gue menyadari Clinique sudah tidak lagi memproduksi produk ini (why oh why? 🙁). Stick gue sudah hampir habis… sudah waktunya gue mencari solusi lain.

Belum sempat menemukan alternatif eyeshadow lainnya, gue nonton salah satu episode Friends yang menceritakan Rachel yang tengah didandani oleh temannya. Di situ ceritanya, Rachel meniup dulu eyeshadow brush dia sebelum dioleslan ke kelopak matanya.

Ah, that might be a good solution to my problem!

Dan benar saja sih… it works like a charm! Cukup ditiup satu kali saja dan serbuknya tidak lagi meninggalkan bekas di wajah gue!

Aduh duh duh, kenapa gue baru tahu sekarang ya?

Gue pun sekarang kembali lagi menggunakan eyeshadow palette kesukaan gue itu! Yaay!

Punya tips dan trik make-up yang lainnya? Share di comment box!

Kekerasan Pada Anak… Salah Siapa?

Sudah lihat video seorang ibu yang mendorong anaknya keluar dari dalam mobil? Bukan cuma diusir, tapi juga didorong sampai jatuh. Di depan umum, jadi tontotan orang-orang asing, yang kemudian viral di dunia maya. Berawal dari Lambe Turah, berakhir di kepolisian.

Pertanyaannya… salah siapa?

Salah orang yang merekam dan menyebarkan videonya? Ini jelas opini ngawur! Gue enggak ngerti kenapa ada pihak kepolisian yang sempat-sempatnya mengancam hukuman pidana kepada penyebar video itu! Menurut gue, video ini justru sudah berkontribusi dalam upaya perlindungan anak dan bukan sebaliknya!

Salah anaknya? Ya, mungkin memang benar ada kesalahan si anak yang membuat ibunya menjadi marah dan gelap mata. Tapi bukankah kita semua tahu bahwa yang namanya manusia (apalagi masih anak-anak) sudah pasti pernah berbuat salah?

Beberapa hari yang lalu, gue baca komentar dari salah satu netizen yang bilang kurang-lebih begini, “Kalau ortu sampai marah dan memukul, itu pasti salah saya. Saya pantas dipukul dan saya harus instropeksi.”

Gue setuju harus kita harus instropeksi… tapi membenarkan pemukulan pada anak?

Rupa-rupanya, di Indonesia ini masih ada saja orang yang:

  1. Membenarkan kekerasan pada anak atas nama parenting (alasannya; demi kebaikan si anak); dan/atau
  2. Merasa punya hak milik dan hak penuh untuk memperlakukan anak mereka seenak jidat mereka saja.

Kenapa perlu ada undang-undang perlindungan anak? Untuk melindungi anak dari 2 tipe orang tua yang gue sebutkan di atas. Salah besar jika ada netizen yang bilang urusan rumah tangga bukan urusan pemerintah. Gue bahkan tidak menyalahkan netizen lain yang ikut keras (keras, bukan kasar) menyuarakan ketidaksetujuan mereka atas perbuatan si ibu meskipun sebetulnya hal itu bukan urusan pribadi mereka.

Gue betul-betul enggak paham dengan pelaku kekerasan dalam rumah tangga. Katanya cinta, sayang, tapi kok dipukul dan disakiti? Jangankan memukul, melihat orang yang gue sayang sedang jatuh sakit saja rasanya sudah enggak tega!

Meski demikian anehnya, selalu ada saja anak yang dibesarkan oleh orang tua yang kasar yang mengaku berterima kasih atas didikan keras dari orang tuanya. Anak yang kemungkinan besar, akan mendidik anaknya dengan cara yang sama. Tapi masalahnya, tidak semua anak yang didik keras oleh orang tuanya bisa mengatasi trauma masa kecilnya. Tidak semuanya bisa move on dan benar-benar memaafkan orang tuanya. Coba pelajari dulu efek psikis dari kekerasan dalam rumah tangga dan tanyakan kembali pada diri sendiri… is that really what you want to happen to your loved ones?

Lagipula toh… anak yang tidak dibesarkan dengan kekerasan juga bisa survive dan sukses sebagai orang dewasa. Jika bisa dibesarkan dengan cara yang baik, kenapa harus dilakukan dengan cara yang buruk?

Jangan pernah membenarkan kekerasan, apapun alasannya. Bedakan batas antara parenting dengan domestic violence. Jangan pula menyalahkan diri sendiri saat ada orang lain yang berbuat kasar saat kita berbuat salah! Bahkan binatang pun tidak boleh diperlakukan dengan kasar! Please… always put that in your mind! You deserve to be treated much better.

Jadi kesimpulannya, siapa yang salah? Ibunya atau anaknya?

Anaknya mungkin saja salah, tapi ibunya jelas lebih salah.

Ingat bapak-ibu, tidak ada anak yang minta dilahirkan ke dunia. Anda sendiri yang memutuskan ingin punya keturunan. Punya anak adalah pilihan anda sendiri, maka bertanggung jawablah atas pilihan anda sendiri.

Setiap orang hanya punya masa kecil satu kali saja… dan kebahagiaan anak masih sepenuhnya bergantung kepada orang tuanya. Jangan terlalu dalam melukai anak-anak sendiri… anda tidak akan pernah tahu betapa kekerasan itu (baik verbal maupun physical) akan meninggalkan luka hati yang sangat dalam perasaan anak anda.