My Appreciation to Sephora Pondok Indah

Persis hari ini dua minggu yang lalu, saya pergi ke Pondok Indah Mall. Ada keperluan photoshoot yang ingin saya beli di Uniqlo untuk klien saya selanjutnya. Sebelum pergi ke Uniqlo, saya mampir ke Sephora untuk beli BB cushion refill yang sudah hampir habis di rumah. Saya juga berkeliling toko untuk mencari eyeshadow palette untuk menggantikan palette yang lama.

Selesai belanja, saya langsung antri di kasir. Saat itulah perut saya tiba-tiba saja terasa panas. Badan lemas. Rasa capeknya melebihi rasa capek setelah lari kelilinng lapangan basket. Selesai bayar, saya langsung mencari tempat duduk. Saya betul-betul sudah enggak kuat berdiri. Saya memilih duduk di bangku milik Benefit.

SPG Benefit menghampiri saya dan bertanya, “Mau didandani, Mbak?”

Saya masih bisa menjawab, “Nggak, Mbak. Saya cuma mau istirahat. Perut saya mual.”

Rasa panas di perut saya terus merambat naik sampai ke atas. Pandangan mulai buram, saya mulai semakin tidak kuat menopang badan meski dalam keadaan duduk. Saya masih ingat saat itu saya merebahkan kepala di atas meja riasnya Benefit, dan waktu itu saya benar-benar takut.

Pikir saya itu, “What’s happening with me? No, I don’t want to be this sick.”

Tidak lama saya mendengar pegawai perempuan di Sephora bertanya pada saya, “Mau istirahat dulu di kantor, Mbak? Ada di samping kasir.”

Saya mengangguk. Saya berdiri, mulai berjalan, tapi kemudian rasa panas di perut saya itu malah semakin menjadi-jadi. Pandangan semakin buram. Kaki saya semakin lemas. Akhirnya saya letakan tas dan kantong belanja di atas lantai, dan saya lalu merebahkan diri di atas lantai… menutup mata, berharap bisa istirahat meski hanya untuk sejenak.

Sejak titik itu ingatan saya mulai agak kabur. Tidak lama saya mulai bisa mendengar beberapa orang yang mengerumuni saya. Mereka bilang saya pingsan.

Salah satunya bertanya, “Mbak masih kuat jalan?”

Saya tidak ingat saya jawab apa. Saya coba berdiri, dipapah dua orang di kanan dan kiri saya. Saya betul-betul tidak ingat siapa mereka, sesama pengunjung atau pegawai toko, yang jelas akhirnya saya berhasil jalan sampai ke kantornya Sephora. Saya kembali duduk dan diberikan segelas air putih hangat.

Entah kenapa saat itu, badan saya masih terasa lemas. Saya lalu bertanya ke SPG yang menemani, “Di sini ada sofa nggak, mbak? Saya ingin tiduran.”

Karena tidak ada sofa, akhirnya mereka menggelar kardus. Mereka menggunakan sesuatu sebagai bantal, dan entah dari mana datangnya, mereka juga memberikan saya selimut bersih. Saya berbaring dan baru saat itulah saya mulai merasa membaik. Saya hubungi orang rumah minta segera dijemput ke Sephora PIM.

Tidak lama kemudian, SPG Sephora juga membuatkan saya secangkir teh manis dan camilan untuk mengisi perut. Saya langsung minum dan teh manis itu betul-betul mengembalikan energi saya. It worked like a charm, somehow. Saya mulai bisa duduk agak lama sambil menjawab WhatsApp dari keluarga saya.

Kira-kira satu jam kemudian, keluarga saya datang. Saya pamit pulang pada orang-orang yang memberikan saya bantuan. Isi tas saya masih utuh, kantong belanja juga tidak berkurang satu kantong pun. Saya telah ditolong oleh orang-orang yang bukan hanya baik hati, tapi juga jujur dan berintegritas.

Saat tiba di rumah sakit, salah satu dokter saya bilang jika tidak ditangani secara benar, saya akan mulai langganan pingsan. Dia juga bilang, “Kalau kemarin itu kamu pingsan di tempat lain, belum tentu kamu semujur itu.”

Saya pun kembali mengucap syukur bahwa setidaknya, saya pingsan di tempat yang tepat.

Terima kasih banyak, Sephora Pondok Indah! Saya akan selalu ingat jasa baik karyawan di sana, semoga siapapun yang saat itu menolong saya dibalas kebaikannya berkali-kali lipat. Amiin.

Take Care of Your Heart (Literally)

Ceritanya seminggu ini saya dirawat di rumah sakit. Awalnya gara-gara pingsan di mall dan saat tiba di rumah sakit, pemeriksaannya melebar sampai ke jantung dan juga syaraf. Saya yakin banget cuma bermasalah di lambung, tapi ya sudahlah… toh biaya pemeriksaannya ditanggung asuransi.

Salah satu pemeriksaan yang harus saya lakukan adalah USG jantung. Rasa haru saat melihat jantung yang berdetak itu mungkin mirip-mirip dengan rasa haru saat seorang ibu pertama kali melihat janinnya via USG, hehehehe.

Saat melihat jantung saya di layar monitor, tiba-tiba saja saya teringat slogan berikut ini, “Sayangi jantung anda.”

Tiba-tiba saja, saya merasa kasihan dengan jatung saya sendiri. Kurang istirahat, enggak pernah olahraga, ditambah lagi saya bahkan enggak pernah repot-repot mengecek apakah saya sudah cukup memgkonsumsi makanan yang baik untuk jantung saya ini. Belum lagi stres dan tekanan ekstra dari asam lambung yang pasti juga sudah jadi beban tambahan untuk jantung saya ini.

Saat itu saya juga berpikir betapa saya seharusnya lebih mensyukuri jantung saya yang masih berdetak ini. Kalau bukan karena jantung yang masih berdetak, saya nggak akan punya cukup waktu untuk mewujudkan cita-cita saya, nggak punya cukup tenaga untuk pergi melihat dunia, dan juga nggak punya kesempatan untuk mengenal orang-orang hebat dalam hidup saya. Dan kalau bukan karena jantung yang masih berdetak, saya juga tidak akan pernah merasakan indahnya jatuh cinta.

Sejak detik itu juga saya bertekad… saya harus lebih peduli pada diri saya sendiri. Masih banyak impian yang belum saya capai, masih banyak tempat yang belum saya datangi, dan saya juga masih belum puas dengan kontribusi yang saya berikan untuk society. Rasanya masih banyak hal yang bisa saya lakukan dalam hidup saya ini. Saya harus tetap hidup… saya masih ingin jantung saya berdetak lebih lama lagi.

Alhamdulillah hari ini saya sudah boleh pulang. But you know what? Tidak lama setelah saya diperbolehkan pulang, saya mendengar kabar pasien di kamar sebelah baru saja meninggal dunia… karena penyakit jantung (dia meninggal di ICCU).

I’m discharged, well and healthy, but that man I never knew… he died on the very same day.

Mendengar keluarganya yang menangisi kepergian almarhum, tekad saya jadi semakin kuat; saya harus lebih menyayangi diri saya sendiri.

Hari Senin nanti, hasil tes jantung saya akan dibacakan oleh dokter di rumah sakit yang sama. Doakan hasilnya tidak menunjukan sesuatu yang serius yaa!

Have a nice weekend!

Don’t Hurt People Who Doesn’t Make You Bleed

Sudah sejak beberapa tahun belakangan, saya menyadari bahwa ada saja orang yang saat tersakiti, mereka malah meninggalkan orang lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan masalah mereka itu. Ujung-ujungnya, mereka malah menyakiti orang-orang yang tidak bersalah.

Awalnya saya pikir, mungkin itu cuma perasaan saya saja. Mungkin, memang ada kesalahan yang pernah saya lakukan sehingga mereka pergi dari hidup saya begitu saja.

Kemudian tadi malam, saya membaca kutipan dari Jay Shetty; salah satu motivator yang tengah naik daun di US. Dia bilang…

When you’re hurt, you end up cutting people that didn’t make you bleed.

Itu jadi seperti validasi dari observasi saya selama ini. Tetap bukan hal yang pernah saya lakukan sih, tapi saya pernah beberapa kali ditinggalkan begitu saja oleh teman-teman tersekat saya saat mereka tengah terkena masalah dalam hidupnya. Saya sampai bingung, “What did I do wrong?”

Masih menurut pengamatan saya pribadi, penyebabnya bisa macam-macam. Ada yang hanya sedang ingin sendiri saja (entah sampai kapan… mereka sendiri mungkin tidak tahu jawabannya). Ada yang tidak ingin menyeret orang lain dalam permasalahan hidupnya. Dan ada pula yang sengaja melakukannya karena tidak tahan melihat kebahagiaan dalam hidup orang lain di sekitat mereka (menurut saya, ini yang paling jahat).

Padahal menurut saya pribadi, mengusir orang lain saat tengah tertimpa musibah itu hanya akan memperburuk keadaan saja sih. Sudah kena masalah, eh, kehilangan teman bicara pula! Niat mereka sudah baik, jadi buat apa menyakiti mereka dengan malah menyuruh mereka pergi? Saya malah bersyukur jika ada orang yang bersedia tetap tinggal saat hidup saya sedang susah-susahnya.

Hidup akan terasa lebih mudah jika kita tidak menciptakan drama kita sendiri. Tidak ada untungnya membuat masalah menjadi lebih rumit dari yang seharusnya. Saat tertimpa musibah atau ujian hidup lainnya, cukup fokus pada masalah yang sebenarnya. Kalaupun ada orang yang harus dijauhi, jauhi mereka yang memberi pengaruh buruk dalam hidup kita, dan bukan sebaliknya!

No drama anymore, okay? Have a great weekend! 💕

Hey, You! Thank You!

Hey, you! You know who you are! You are still my favorite story to tell. This time, I want to thank you!

Thanks for sharing your life with me. For letting me deep dive to your life. To let me help you. And to help me finally found my life purpose: to help others, just like the way I helped you, you said.

Thanks for being very kind down to the little things. For all the helps, the ones I asked, and the ones I never asked. Even just the thoughts have really counted to me.

Thanks for being a listener. For reading my long texts. And listening to my super speedy talks. I always love every minute I spent just to talk with you.

Thanks for all the advices you gave to me. I didn’t always instantly do what you said, but oftentimes, I eventually realized how right you were. I know how much you hate telling people what they should do; it was a big responsibility you once said. But you do give me advice anyway. And I couldn’t be more thankful of it.

Thanks for genuinely care about me. My health. My happiness. My wellbeing.

And finally, thanks for being a good friend to me. A very good one. The one who always finds his ways to forgive me, over and over. I still really hope, you will not give up on me… the way I will never ever give up on you.

I’m thankful that we crossed path… and the day we first met… would always be the day I never forget.

Kevin Aprilio & Note to All Guys Out There

Kevin Aprilio baru saja bikin heboh dengan pengakuan utang 17milyarnya 4 tahun yang lalu. Ceritanya, dia sengaja cerita sekarang hanya untuk explain bahwa pacarnya sama sekali bukan cewek matre sebagaimana dituduhkan banyak orang lain di luar sana. Menurut Kevin, ceweknya itu tetap setia menemani saat Kevin masih terbelit utang 17milyar itu! Wow!

Menariknya, Vicy sang pacar bercerita bahwa pada saat itu, Kevin sampai beberapa kali minta putus darinya. Harus Vicy yang berusaha meyakinkan Kevin untuk tetap stay dengan dia. Kevin saat itu khawatir dia tidak akan bisa memberikan masa depan yang baik untuk pacarnya itu.

Hal ini mengingatkan saya dengan cowok-cowok lain di luar sana yang pernah melakukan hal yang serupa: di saat terkena musibah, mereka malah mengusir perempuan yang dengan tulus menyayangi mereka. Ada yang karena masalah ekonomi seperti Kevin (tidak selalu soal utang, tapi bisa juga karena hidup yang masih serba kekurangan), ada yang karena cowoknya terkena penyakit yang sulit disembuhkan, atau bisa juga karena masa lalu yang masih saja menghantui cowok yang bersangkutan.

Padahal menurut saya, tidak perlu sampai sebegitunya! Tidak usah berkeras menyuruh gebetan atau pacar kalian untuk pergi dari hidup kalian.

If she wants to stay, let her stay. Help her to stay. And if she says she believes you can get through it, then believe her. Support her to support YOU.

Biarkan saja mereka coba membuktikan bahwa mereka ikhlas menerima kalian apa adanya. Biarkan mereka mengambil keputusan mereka sendiri. Berikan mereka kesempatan untuk tetap bersama kalian; orang yang paling mereka cintai.

Terus-terusan mengusir mereka malah bisa membuat mereka berkecil hati. Membuat mereka merasa tidak diinginkan. Dan tidak mustahil, malah membuat mereka merasa tidak cukup baik untuk kalian.

Would you really do that to someone whom you care about?

Sangat dimengerti bahwa penting untuk seorang pria merasa pantas untuk pasangannya. Tapi begini… pantas atau tidak pantas, bukan kalian yang berhak memutuskan. Biarkan mereka sendiri yang menilai apakah kalian laki-laki yang pantas untuk dirinya. Itu toh hidup mereka, biarkan keputusan itu datang dari mereka sendiri. Jika mereka bilang mereka tetap memilih kalian lengkap dengan segala konsekuensinya, ya sudah, tidak usah diperpanjang.

Remember, it should be you and her against the world and definitely NOT you against her!

Bukankah lebih enak jika ada yang tulus memberikan dukungan di saat-saat tersulit dalam hidup kita? Dan bukankah lebih baik fokus bersama-sama menyelesaikan masalah yang tengah dihadapi ketimbang menciptakan drama yang tidak semestinya terjadi?

Jaman sekarang ini, semakin sulit menemukan orang yang bersedia melewati masa-masa pahit bersama-sama. Dunia menawarkan semakin banyak hal yang penuh dengan kesenangan, penuh dengan pilihan, dan penuh dengan hal-hal yang bisa jadi, memang jauh lebih baik daripada diri kita ini. Tapi, apa yang menurut kita lebih baik belum tentu lebih baik menurut mereka; orang-orang yang memilih untuk tinggal. Hargai mereka, cintai mereka sebesar cinta yang berhak mereka dapatkan. Karena bagi mereka, itu saja sudah lebih dari sekedar cukup. They will not ask for more.

Why Do I Love Him This Much?

I just read a very well written true story on other blogger’s website. That blogger wrote about one big revelation that made him want to say how much he loved his girlfriend at that time. It’s one sweet blog that touches your heart and makes you want to fall in love again. And it reminds me of the man I love.

I asked myself, “Why do I love him?”

He’s the first one whom I dropped the love word by the way. He’s not my first love but I never loved any other man as much and as deep my feelings for him.

The question now, “Why?”

I tried to recall every moment I shared with him in the past one year and unlike that other blogger I mentioned earlier, I can’t seem to find any revelation moment that made me fall deep for him. It’s more like an accumulation of small events that made me fall for him.

To name a few, I like it when he suddenly bought me a bottle of vitamin I might need to deal with my short term memory loss. Or when he walked somewhere to find me a pill to cure my headache.

I like it when he handed me his credit card when mine was blocked just one night before my Iceland trip. Other than that one particular favor, I like all the helps he gave to me without being asked.

I like it when he asked me what my doctor told me not to eat and he reminded me that I couldn’t eat those foods everytime I was tempted to taste them. He also used that knowledge to find a restaurant who sold food that I could eat everytime I was sick and was about to eat together with him.

I like it when he tried to convince me that he was fine when he was actually sick. He was in pain, but he told me, “You don’t need to worry. I’ll be fine.”

I also like his little surprises on my birthday end of last year. His little gestures counted to me. It was definitely a birthday I’ll never forget.

And not to mention, I like the way he listens to all my (long and sometimes boring) stories. I also like the way he trusts me with his stories (I know that some of them were hard for him to tell). His advices, supports, and also his jokes just never failed to make my days. There were some long nights with good talks that I’ll never forget.

I still remember that my shrink told me that I should have a reason to love someone. One reason that makes me hold into him when the things are going ugly between us. Yet again, I can’t seem to find just one big reason why I love him.

He’s patient but not always that patient. He’s nice and kind but he sure has his bad days too. He’s smart, very smart, but sometimes I know some things that he doesn’t. He cares about me, most of the times, but there were times he looked like he’s completely careless. He’s only a human after all, and I’m fine with all that.

I guess love is when you’re capable to see someone beyond their flaws. It’s when you love them even when they annoy you, hurt you, and disappoint you. It’s when you are willing to give them unlimited chances to fix the broken pieces, over and over again. It’s when you want nothing but the best for them, and when you put their happiness and wellbeing before yours.

And that’s how much I love him.

I’m not very good at consistently showing him how much I care about him, but it doesn’t mean I take him for granted. There were times I was too afraid to let my feelings showed. But again, it doesn’t diminish how I truly feel about him. He may doubt anything and everything in his life, but he should never doubt my feelings for him.

I love him because of who he is, and that my friend, the reason why I love him this much.

Jakarta, The City Where I Fall in Love

Tiap kali Jakarta merayakan ulang tahunnya, bawaan saya selalu mellow. Sebal sama macet dan polusinya, tapi selalu cinta dengan kenangan dan orang-orang di dalamnya.

Salah satu alasan terbesar kenapa saya cinta kota Jakarta adalah karena di sini lah, tempat saya pernah jatuh cinta.

Ada cinta monyet, ada cinta lokasi, ada pula cinta betulan. Semuanya terjadi di kota Jakarta tercinta ini.

Saya ingat di gedung mana saja saya pertama kali bertemu dengan mereka (baca: cowok-cowok yang pernah saya cintai). Pernah nge-date dengan mereka (saya bahkan masih ingat makan di mana dan duduk di meja sebelah mana!). Saya bahkan masih mengingat, di mana persisnya, saya terakhir kali bertemu dengan mereka.

Kota tempat saya belajar mencintai juga sudah menjadi kota tempat saya belajar patah hati. Belajar berbesar hati. Belajar melepaskan. Dan belajar untuk bangkit dan jatuh cinta lagi. Bagaimana saya bisa move on dari kota yang menyimpan beribu kenangan seperti ini?

Saya tidak tahu ke mana hidup akan membawa saya suatu saat nanti. Tapi saya tahu sejauh apapun nanti saya melangkah, Jakarta akan tetap selalu menjadi tempat saya untuk pulang. Jakarta akan tetap menjadi kota yang menyimpan sejuta kenangan, kota yang menjadi saksi betapa saya bertumbuh, saksi jatuh dan bangun saya saat belajar mencintai, lagi, dan lagi, dan lagi.

Tahu apa yang paling hebat dari semua ini? Jakarta juga sudah menjadi saksi jatuh dan bangun saya saat belajar mencintai diri saya sendiri. Lagi, dan lagi, dan lagi. Seolah tidak pernah ada habisnya, dan tidak akan pernah ada habisnya.

Selamat ulang tahun, kota Jakata! I’ll be forever in love, with you ❤️

Indecent Proposal… Would You Trade the Love of Your Life for a Million Dollars?

It’s been a while since the last time I watched a beautiful movie. I did watch dozens of them, but there were always times when I yawned during those movies. I felt like I continued watching just because I had to. Some of them were partially good, but none of it stole my heart away. Not until I watched Indecent Proposal just now.

This movie from 1993 is beyond beautiful. I enjoyed watching every second of it. It tells us a story about a husband who let his wife sleep with a billionaire as an exchange of a million dollars. This movie was so emotional I fell in love when the casts did, and my heart broke when they cried and lost the love of their lives.

This movie got me asking this one question to my head, “Will I ever trade the love of my life for a million bucks?”

I quickly answered, “No. Big no. Never. I’ll never ever do that.”

I’ve come to learn that there is no amount of money will ever be enough to satisfy human’s greed. I’ve also learned that it can get you all the things you want to buy, but it can’t get you all the things you need to actually live a life. Love, compassion, affection… those are all the things that money can’t buy, and those are all the things you can’t truly live without.

Now I’m a believer that I will always find my ways to make me richer. I can find a new job, get a promotion, earn myself a big bonus… or I can start my own business and I will build my own empire. I know I can do that, everyone can do that, but not everyone of us is capable to understand what a real love is all about. Not everyone is lucky enough to feel a love that deep, and to be loved as deep in a return.

And if I’ll ever be one of that few lucky people, there is no money will ever be big enough to make me want to trade all those feelings. Not for money, not for anything this life has to offer.

It took me almost my whole life to understand how it feels to truly love somebody. A desire to take care of someone other than myself. A strength to love him as much after knowing how imperfect that he really is. And a dream to spend the rest of my life just with one person, for better or worse, going through the thick and thin, me and him against the world.

It took me that long to feel this beautiful feeling, and if I find somebody who loves me as much, not a second I will ever think to let it slip through my fingers. I will never stop trying to be a better person for him. I will fix the broken parts before they totally fall apart. I will love him even when I hate him. He and I will work hand in hand to create our own version of happily ever after and breaking up will never ever be an option to us. No matter how hard this life gets, it will still be me and him against the world. To me, that’s the thing we do when we truly love someone we care about.

Last night, I watched another movie about a woman who broke up with her boyfriend just because she finally got her dream job in another city. That’s also one thing that I don’t understand. At least not now after I see what I’m capable to do with my career.

No matter where I live, I can always make something out of it. I can build an incredible farm even if I have to live in the middle of nowhere for instance. I’ll always find something to do, to create, and to succeed. But the love of my life… it’s not like it does exist in every corner of this world! Why should you choose between love and career to begin with? If you really have to sacrifice something, why would you choose to sacrifice the relationship itself?

I might sound naive here… Even myself just 10 years back would never imagine that I would be willing to go to the end of the world just for a man I love. It’s just that now as a grown up, I’ve come to learn what are the things that we can build, and the ones that we can’t. We can make ourselves a rich one, but we can never make ourselves a loved one… it’s not even our decision to make to begin with.

If you are lucky enough to love someone who loves you as much, don’t let them go. Don’t take them for granted. Don’t let their imperfections diminish your feelings for them. Take care of them even when they’re not lovable on the hardest days in their lives. Remind them their true worth, and that you love them, every single day of your life.

Here is my favorite quote from Indecent Proposal.

Diana: Have I told you that I love you?

David: No.

Diana: I do.

David: Still?

Diana: Always.

Tentang Halte BEJ

Ceritanya malam ini saya nonton film terbarunya X-Men. Saya pergi nonton, sendirian, dalam keadaan galau atas masalah pribadi yang sangat mengganggu saya beberapa bulan belakangan ini. Bolak-balik saya ingin menyelesaikan masalah itu, tapi saya selalu saja mundur di menit-menit terakhir. Saya menyimpan rasa takut bahwa usaha saya untuk menyelesaikan masalah itu malah hanya akan membuat saya semakin menderita. Sampai lama-kelamaan, saya mulai merasa terlalu capek menanggung beban perasaan saya sendiri. Saya merasa unfinished business saya itu sungguh sudah harus diselesaikan secepatnya.

Selesai nonton di Pacific Place, saya menyeberang jalan ke Halte BEJ. Ada sederet taksi berjejer di depan PP, tapi saya malah menyeberang jalan. Saya kangen duduk sendiri di Halte BEJ; halte yang menyimpan begitu banyak kenangan selama 3 tahun saya bekerja di gedung itu.

Saya lalu duduk, sendirian, sambil menikmati angin malam yang terasa cukup sejuk di malam ini. Begitu banyak memori di halte BEJ bergantian melintas di benak saya. Kejadian demi kejadian lebih dari 7 tahun yang lalu terasa seperti baru terjadi kemarin sore.

Saya ingat pernah menunggu taksi berdua dengan cowok yang dulu pernah saya cintai. Kami sama-sama baru pulang lembur. Senior saya itu sebetulnya bawa mobil sendiri, dia enggak perlu ikut jalan sampai ke halte. Dia hanya ingin menemani sampai saya mendapatkan taksi untuk pulang. Persis kebaikan dia yang seperti itu yang dulu membuat saya jatuh hati. Dia enggak pernah sempat menjadi pacar saya, tapi dia akan tetap selalu menjadi seorang teman untuk saya, dan mungkin, kami bisa berteman untuk selama-lamanya.

Kemudian saya juga masih ingat jelas saat EY mengadakan year end party yang mengharuskan karyawannya datang dengan kostum bertema. Saya ingat kami beramai-ramai berfoto di halte BEJ sebelum gantian menyeberang jalan ke lokasi pesta yang berada persis di seberang gedung kantor kami itu.

Saya bahkan masih ingat hari di mana saya mendengar soal penyakit yang diderita teman baik saya sambil berjalan menuju halte BEJ. Saya masih ingat betapa sedih saat mendengar teman saya itu harus hidup dengan penyakitnya untuk selama-lamanya.

Yang paling pahit, saya pernah berjalan meninggalkan halte BEJ di saat sedang turun hujan rintik-rintik. Senior yang saya sayangi itu memutuskan untuk resign, dan saya merasa ditinggalkan. Emang dramatis banget sih ya waktu itu, tapi saya jadi mengerti kenapa selalu ada saja adegan orang menangis di bawah hujan baik itu di sinetron atau film layar lebar. Alasannya sederhana: karena air hujan akan menyamarkan air mata yang turun dari pelupuk mata.

Kenangan terakhir saya soal halte BEJ adalah saat saya duduk di sana memikirkan masa depan karier saya. Ada keputusan besar yang harus saya pertimbangkan, dan saya baru mantap mengambil keputusan itu setelah duduk merenung di halte BEJ, tengah malam, sendirian.

Kembali ke malam ini, saya kembali menyadari ada keputusan besar yang harus saya ambil. Hanya bedanya malam ini, saya masih tidak tahu bagaimana hasil akhirnya. Kenapa bisa demikian? Karena untuk masalah ini, bukan saya yang harus mengambil keputusan. Saya hanya perlu memberanikan diri untuk meminta seseorang mengambil keputusan itu bukan hanya untuk saya, tapi juga untuk diri dia sendiri.

Saya menghela napas setelah duduk agak lama. Saya harus segera pergi. Sudah terlalu malam untuk duduk di halte yang sudah sepi. Akhirnya saya pulang, dengan kemantapan hati.

Saya sudah melewati begitu banyak naik-turun dalam kehidupan ini… satu lagi rintangan tidak akan membuat saya mati menderita. Saya punya banyak sifat, tetapi penakut bukan salah satunya. Saya hanya perlu memberanikan diri untuk membereskan masalah saya sendiri, dan apapun hasilnya, insyaallah, saya akan baik-baik saja.

This too will pass, will not it?

Is It a Shame if We Go Back to God When this Life Knocks Us Down?

Pernah jadi orang yang baru taat beribadah setelah terlanjur terkena musibah? Musibah, masalah berat, patah hati, atau apapun itu yang menyebabkan hati terasa hancur berkeping-keping.

Saya pernah. Dan pertanyaannya: is it okay to do that?

Dulu saya pernah nonton satu episode salah satu American TV show (Desperate Housewives kalau nggak salah) yang menceritakan salah satu tokoh wanita yang tengah tertimpa musibah. Dia ingin kembali beribadah ke gereja, tetapi dia malu pada Tuhan karena sebelumnya dia seperti sudah melupakan keberadaan Tuhan-nya itu.

Kemudian sahabat wanita itu menasehati, “Ketika anak-anakmu sedang terkena masalah, bukankah kamu ingin mereka mengadu pada kamu; ibu mereka, dan bukan pada orang lain di luar sana?”

Episode yang cukup berkesan buat saya. Pengingat yang baik bahwa Tuhan akan selalu menerima kita kembali kepada-Nya, meskipun kita sempat melupakan keberadaan-Nya. Ia akan lebih ingin kita datang mengadu kepada-Nya daripada mencari pelampiasan lain yang belum tentu baik untuk diri kita ini.

It’s the beauty of believing in God, isn’t it? You will always have Him to come home to, even when you are all alone. And that makes me never feel alone. Never again.