The Art of Forgiveness

A few years ago, there was a speaker in a motivational training told the audiences, “You can’t control what people would say or do to you, but you can definitely control how you feel about that. Hence when you get hurt, it’s actually your own decision to let them get under your skin.”

Initially I thought, it was just another quote of the day, but then that quote has eventually changed my perspective. I just realized that people will always have their ways to hurt and break my heart.

The people who keeps bragging the things that I don’t have.

The people who keeps saying bad things about the things I’m so proud of.

The people who is trying to hurt me with their jokes.

The people who can’t seem to stop trying to ruin my happiness.

Or the people who tend to take me for granted over and over again.

If I let myself get hurt evertime someone breaks my heart (intentionally or accidentally) then I would spend the rest of my life in pain!

The higher I stand, the more people will try to take me down. Then no matter how good I am, I will still be imperfect and people will still manage to find my flaws if they want to. And the deeper and the more sincere I love, the more chances I will get hurt.

I’ve come to realize that life is too short to be miserable. If I can get over it and stay happy with my life, then why should I let myself be consumed by rage, hatred, and resentment?

I know that I still yell when I’m angry. I also know that I can be very cynical when I start disliking someone I know. But that’s just that. I don’t want to spend every second of my life hating them. I don’t want to let them haunt my mind and soul. And I don’t bother wasting my time just to find a way to revenge or to hurt them back. Doing all those things won’t make me feel any better anyway.

Lebaran is always a reminder to me to forgive. To give people their second chances. To help people as much as I could even if I hate them to the core. And to forgive them even if they never ask. I don’t need them to apologize because I do it not for them, I do it for myself. For my peace of mind.

No matter how bad people hurt you or break your heart or disappoint you after everything you’ve done for them, just forgive them anyway. Forgiveness will set you free. It will help you to be bigger and wiser than you were yesterday. It’s okay to remember how hurt you’ve ever been, but that’s it! Don’t let that pain from the past stops you from being happy with your life. Once you get it right, believe me, your life will never ever be the same again. I would say my friend, that is the art of forgiveness.

Eid mubarak and please forgive all the wrongs that I (unintentionally) wrote in this blog. And of course, happy weekend and happy holiday!

Apa Salahnya Sekolah Mengajarkan Siswi Muslimnya untuk Berjilbab?

Berawal dari statement Ahok yang satu ini, “Kan dipaksa tanda kutip dong. Kalau kamu bilang nih setiap hari Jumat sekolah harus pakai jilbab, berarti kan seragam sekolah. Jilbab itu bukan seragam sekolah, ini panggilan hati akhlak agama.” Gue jadi gemas untuk ikut berkomentar.

Yang pertama, tidak benar bahwa jilbab itu panggilan hati. Sama seperti shalat dan puasa, jilbab itu ajaran agama Islam yang wajib hukumnya bagi wanita yang sudah mendapatkan menstruasi pertamanya. Tidak perlu menunggu dapat panggilan hati dulu untuk menjadikan jilbab itu wajib bagi seorang wanita. Tidak benar pula jilbab itu bagian dari ahlak agama. Dalam Islam, ahlak itu artinya prilaku, sedangkan jilbab itu konteksnya pakaian untuk menutup aurat. Ahlak sifatnya tidak kasat mata, sedangkan jilbab sifatnya sudah tentu sangat kasat mata. Betul-betul dua hal yang berbeda.

Yang ke dua, mengingat jilbab juga bagian dari ajaran agama, apalah salahnya mengajarkan siswi muslim untuk menjalankan ajaran agamanya? Bukankah memang itu fungsi mata pelajaran agama di sekolah? Sama seperti guru agama mengajarkan praktek wudhu, shalat, mengaji, dan lain sebagainya.

Lalu bagaimana jika siswi ybs melepas jilbabnya selepas jam sekolah? Nah, sekarang gue tanya… Bagaimana jika siswi ybs hanya shalat saat pelajaran agama saja? Hanya mengaji saat ujian saja? Haruskah sekolah juga berhenti memberikan materi praktek shalat dan mengaji?

Menurut gue, tidak ada salahnya, bahkan ada baiknya sekolah mewajibkan siswi muslimahnya (baca: hanya yang muslim saja) berjilbab di sekolah. Supaya mereka terbiasa dengan jilbab itu sendiri, terbiasa dengan ajaran agama mereka sendiri. Sama seperti mata pelajaran lainnya, tugas sekolah hanya mengajarkan, soal diterapkan di luar sekolah atau tidak sudah jadi tanggung jawab masing-masing pelajar.

Gue nulis begini bukan berarti gue benci banget sama Ahok. Honestly, gue belum pernah menemukan tokoh politik yang selalu gue support 100% semua pendapat dan keputusannya. Mendukung satu orang bukan berarti harus mengangguk setuju pada semua perkataannya kan? Dan kebetulan untuk hal yang satu ini, gue tidak sependapat dengan Ahok.

Buat yang mau comment, please behave yaaa. I have a right to filter your comments.

Good night!

Ramadhan 2016 Resolutions

Kata siapa resolusi hanya identik dengan tahun baru saja? Ceritanya Ramadhan tahun ini, gue kepingin bikin resolusi juga! Yaah, hitung-hitung menambah pahala lah yaa, hehehe. Here we go!

Menghindari (atau setidaknya mengurangi) debat kusir

Beberapa waktu yang lalu, ada teman sekantor yang cerita mengenai rekan kerja dari regional team yang terus saja mendebat dia. Bukan suatu hal yang sangat penting, tapi si regional team itu tidak mau mengalah. Akhirnya, teman gue ini berhenti membalas, meskipun sebenarnya pada saat itu, dia punya bukti bahwa dia yang benar dalam percakapan hari itu.

Saat seseorang sudah dibutakan dengan egonya, terus menerus membantah mereka pada dasarnya hanya buang-buang waktu saja. Kita tidak akan pernah benar-benar menang dari mereka. Mengalah toh bukan berarti kalah, bukan pula berarti mengakui bahwa pendapat kita itu salah. Jadi sudahlah. Lebih baik simpan energi untuk hal-hal yang lebih bermanfaat! Lagipula toh, bukankah dalam Islam, orang yang mampu meninggalkan debat kusir meskipun dia dalam keadaan benar dijamin sebuah rumah di dasar surga?

Menahan rasa benci hanya karena orang lain melakukan dosa yang berbeda

Jujur, gue tidak merasa nyaman saat melihat perempuan yang suka melepas jilbab di saat dia masih harus mengenakannya. Padahal setelah dipikir lagi, meskipun mereka tidak disiplin dengan jilbabnya, bisa jadi mereka lebih disiplin soal shalat-nya jika dibandingkan dengan gue sendiri. Bagaimana jika gantian mereka yang membenci gue karena masalah ibadah-ibadah gue lainnya yang masih belum sempurna itu? Will I be happy with that?

Ibadah orang lain itu urusan mereka dengan Allah. Selama tidak merugikan orang lain, tidak perlu jadi sewot sendiri karenanya. Mau sesempurna apapun ibadah kita, hal itu tidak lantas memberikan kita hak untuk membenci atau memusuhi orang lain. Nabi Muhammad tidak pernah mengajari kita membenci pemeluk agama lain, apa lagi membenci saudara sesama Muslim!

Lebih memaklumi dan memaafkan kesalahan orang lain

Meskipun di sini gue bilang gue ingin menjauhi debat kusir, tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti malah gue sendiri yang memulai debat kusir itu. Tidak mustahil pula gue masih saja nge-judge orang lain atas keputusan hidup mereka yang sebetulnya bukan urusan gue sama sekali. Kenapa begitu? Karena gue hanya manusia biasa yang bisa khilaf. Belum lagi, sudut pandang tiap orang itu berbeda-beda. Misalnya, apa yang gue anggap brainstorming bisa jadi sudah masuk kategori debat kusir menurut ukuran orang lain. Jadi, kalau gue ingin dimaklumi, gue juga harus bisa memaklumi orang lain, bukan?

Kemudian saat orang lain melakukan kesalahan yang menyakiti perasaan, gue ingin bisa mengatakan terus terang dengan cara sebaik-baiknya. Katakan, maafkan, dan lupakan. Mereka mau atau tidak mau berubah itu urusan belakangan. Yang penting maafkan saja, supaya hati dan hidup kita tidak dihantui kebencian yang berlarut-larut. Saat kita membenci, yang rugi itu diri kita sendiri! Kita yang resah, terus menerus kepikiran, kita yang harus terus menerus menahan marah… Life is too short to be filled with hatred! Let’s forgive each other and move on!

 

Selamat menjalankan ibadah puasa untuk teman-teman sesama Muslim. Semoga bulan Ramadhan tahun ini bisa menjadikan kita semua pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Have a wonderful holly month ahead!

Kenapa Kita ‘Harus’ Pergi Umrah?

Jeddah, 27 Januari 2016

Awalnya, gue agak ragu-ragu untuk menulis perjalanan Umrah perdana gue ini. Gimana kalo jatuhnya seperti riya? Gimana kalo gue malah dianggap pamer, sombong, dsb dsb… Tapi setelah gue pikir kembali, jika tulisan gue ini bisa membawa manfaat untuk orang lain, kenapa tidak?

Jadi ceritanya, ortu gue udah menyarankan untuk pergi Umrah sejak beberapa tahun yang lalu. Hanya saja sayangnya, gue selalu punya alasan untuk menunda rencana Umrah gue itu. Yang penting target gue, gue harus pergi Umrah sebelum menginjak usia 30. Secara November tahun ini akan jadi ultah gue yang ke 30, akhirnya gue putuskan untuk berangkat tahun 2016. Sengaja berangkat di bulan Januari di saat cuaca di Mekah sedang sejuk-sejuknya.

Sejak tahu akan segera pergi Umrah, gue mulai merenung di dalam hati… Nanti selama Umrah, gue ingin berdoa soal apa saja ya? Nggak mungkin dong, gue berdoa hanya soal jodoh gue saja? Secara tujuan gue Umrah kan sama sekali bukan demi cepat-cepat dapat jodoh! Tapi jika gue masih saja meminta banyak hal lainnya dalam doa-doa gue itu, kesannya gue ini serakah banget nggak sih?

Tanpa bermaksud sombong, gue betulan merasa sudah punya lebih dari cukup dalam usia gue yang masih terbilang muda ini. Bukan hanya soal materi, tapi lebih soal hidup gue yang semakin dewasa justru semakin bahagia, mimpi-mimpi gue yang sudah menjadi nyata, sahabat-sahabat yang gue jumpai sepanjang jalan kehidupan gue, dan yang paling penting, soal transformasi kepribadian dari gue yang dulu menjadi gue yang sekarang ini. Kalau menurut kalian gue masih punya banyak sifat jeleknya, kalian pasti bakal syok berat kalau sampai tahu kepribadian gue yang dulu. Tanpa perubahan kepribadian gue itu, entah hanya jadi apa diri gue yang sekarang ini.

If I already have this much, how can I still ask for more?

Tapi ya sudahlah, pergi ya pergi saja dulu. Soal doa biar nanti mengalir dengan sendirinya. Dan ternyata benar saja, doa itu; doa yang paling tulus dari lubuk hati itu, akhirnya benar datang dengan sendirinya.

Gue memulai perjalanan ibadah gue dari Madinah terlebih dahulu. Doa pertama, ke dua, ke tiga dan seterusnya mulai gue panjatkan. Soal rezeki yang halal, kesehatan, kebahagiaan, dan nggak munafik, soal minta diberikan jodoh yang terbaik pada waktu yang terbaik juga. Gue coba khusuk berdoa, tapi entah kenapa, rasa haru yang biasa dirasakan jamaah-jamaah Umrah pada umumnya masih belum gue rasakan. Masih belum, sampai akhirnya gue menginjakkan kaki di Raudhoh masjid Nabawi, Madinah.

Bagi yang belum tahu, Raudhoh adalah satu area khusus di dalam masjid Nabawi di mana doa-doa yang kita panjatkan Insyaallah akan dikabulkan. Satu area kecil yang diperlukan kesabaran ekstra hanya untuk masuk, shalat, dan berdoa di dalamnya.

Sebelum masuk area Raudhoh, gue diberitahu bahwa ciri-ciri area Raudhoh adalah beralaskan sajadah berwarna hijau. Setelah menunggu selama hampir 3 jam lamanya, akhirnya, tiba giliran gue menginjakkan kaki di karpet hijau itu.

Sambil berdiri dan menunggu giliran untuk shalat sunnah di area Raudhoh, gue mulai memanjatkan doa di dalam hati. Doa-doa yang kurang lebih sama dengan doa-doa gue sebelumnya, kecuali satu doa yang secara spontan gue ucapkan, persis saat tinggal satu langkah menuju giliran gue untuk menjalankan shalat sunnah di sana.

Saat itu, gue berdoa agar tetap menjadi orang yang hidup dengan penuh rasa syukur. Berawal dari doa itu, gue lanjutkan dengan mengucapkan syukur atas segala anugerah yang telah Allah berikan. Rasa syukur yang teramat besar untuk karier gue, impian-impian gue, dan semua kebahagiaan yang gue dapatkan dalam hidup gue ini.

Gue terus mengucap syukur, sampai tanpa terasa, air mata turun membasahi kedua tangan yang sedang gue tenggadahkan untuk berdoa. Entah kenapa, bukannya menangisi hal-hal yang gue inginkan untuk hidup gue, gue malah meneteskan air mata haru atas hidup yang telah Allah anugerahkan kepada gue sampai dengan usia 29 tahun ini.

Setelah genap seminggu gue menjalankan ibadah ini, sudah begitu banyak doa yang gue panjatkan, tapi tidak ada satu doa lain pun yang berhasil mendatangkan keharuan yang sama besarnya dengan doa gue di Raudhoh itu. Gue sungguh berharap, sekedar doa guna senantiasa diingatkan untuk mengucap syukur pun, akan jadi doa yang mencukupi segala doa lainnya.

Persis kemarin siang, gue sudah menuntaskan ibadah Umrah gue. Rasa haru yang gue rasakan di Raudhoh dan rasa damai yang gue rasakan selama Sai buat gue mulai bertanya-tanya di dalam hati, “Kenapa gue tidak pergi Umrah sejak awal ya? Kenapa harus tunggu usia 29 tahun terlebih dulu?”

Banyak orang yang sering titip doa minta diberikan panggilan untuk datang ke tanah suci. Buat sebagian orang, Umrah memang bukan sesuatu yang mudah. Biayanya, waktunya, kekuatan fisiknya… Tapi berkaca dari diri gue sendiri, kedatangan gue ke sini bukan soal dipanggil atau tidak dipanggil, tapi lebih kepada mau datang atau tidak mau datang. Mau keluar uang sekarang atau nanti-nanti saja. Mau menunda, atau pergi sekarang juga.

Haruskah kita pergi Umrah? Memang bukan ibadah wajib, tapi jika sudah mampu, kenapa tidak? Tidak perlu menunggu kita butuh sesuatu untuk diminta kepada Allah, sekedar mengucap syukur atas segala anugerah-Nya, menurut gue, sudah lebih dari cukup. Dan tidak perlu direpotkan dengan pikiran, bagaimana jika sepulangnya dari Umrah, perilaku dan ketaatan kita tetap sama-sama saja dengan sebelumnya? Tetap pergi saja, karena jika kita baru pergi setelah merasa siap untuk pergi, maka bisa jadi, kita tidak akan pernah merasa cukup siap untuk pergi.

So I think I would say, if you can afford it, just do it. Your Europe trip can wait. Your new car can wait. Or maybe, your exclusive leather LV handbag can wait. If you can afford all of this, you can afford Umrah. Do it and experience the chills I got when I was there.

Kenapa Gue Pengen Pergi Umrah?

Seem’s like January first week has been a productive week for me to write. It’s only the third day and I have posted 4 new titles already! I should really keep it up! 😀

Kali ini gue mau cerita pengalaman gue manasik Umrah hari ini. Jujur awalnya, gue agak males-malesan pergi manasik. Emang penting banget ya? Toh udah ada buku panduan doa dan gue juga nanti akan pergi sama ortu yang sebelumnya udah pernah naik haji.  Masalahnya, hari ini gue ngantuk berat! Secara cuma sempat tidur 2 jam saja…

Di awal-awal, gue sempet nyaris ketiduran, sampai akhirnya ada satu judul presentasi di depan layar yang menarik perhatian gue; “Meluruskan niat untuk Umrah.” Inti dari presentasi yang satu itu adalah; kenapa kita memutuskan untuk pergi Umrah?

It’s interesting. It’s indeed a good question to myself. Why do I want to do it? Why now? 

Ada beberapa orang yang mengira gue pergi Umrah tahun ini hanya karena ingin berdoa minta diberikan jodoh. Setiap kali mendengar statement seperti itu, gue cuma senyum-senyum kecil saja. Soalnya kalau mau diladeni, bisa tidak ada habisnya!

Jadi bukan, jodoh bukan alasan gue kepingin pergi Umrah. Percaya nggak percaya, hingga hari ini, gue belum pernah sekalipun minta diberikan jodoh dalam doa-doa yang gue panjatkan.

Kenapa enggak pernah?

Karena bagaimana jika ternyata gue belum siap untuk settle down? Bagaimana jika ini bukan waktu yang tepat untuk gue menemukan pasangan hidup gue? Bagaimana jika ternyata menurut Allah, sebaiknya gue mengejar sederet cita-cita gue yang masih belum tercapai itu?

Terlepas dari kelakuan gue yang agak-agak moderat, sebetulnya gue ini tipe orang yang menyerahkan masa depan gue hanya di tangan Allah. Gue tahu apa yang gue mau, dan gue berusaha keras untuk mewujudkan semua itu, tapi, jika menurut Allah itu bukan yang terbaik untuk gue, maka gue akan coba untuk ikhlaskan. Ibaratnya, gue yang pegang pensil, gue yang menulis, tapi gue serahkan penghapusnya ke tangan Allah.

Jadi memang hanya itu saja isi doa gue pada umumnya; minta diberikan jalan keluar dan masa depan yang terbaik menurut-Nya, dan diberikan kekuatan untuk menerima kenyataan jika apa yang akhirnya Allah berikan tidak sesuai dengan harapan gue. Itulah sebabnya, di saat hubungan-hubungan gue yang terdahulu tidak berlangsung selamanya, gue ikhlas.

Dan sejujurnya, gue tidak melihat isi doa gue di Mekah dan Madinah nanti akan berubah dari biasanya. Gue tetap tidak akan meminta cepat-cepat dipertemukan dengan jodoh gue. Gue tetap hanya akan meminta diberikan hidup yang baik, masa depan yang baik, dan kekuatan yang cukup untuk bisa menjalaninya dengan baik.

Jika demikian, lantas apa alasan gue kepingin pergi Umrah?

Jawaban gue sederhana saja, gue hanya ingin mengucapkan lebih banyak syukur kepada Allah atas semua yang sudah Ia berikan untuk hidup gue. Atas segala kemudahan di tengah kesulitan, atas kekuatan di tengah segala ujian, dan atas kesuksesan setelah segala perjuangan dan kerja keras gue.

Gue menyadari, orang yang kerjanya luar biasa keras bukan hanya gue saja, tapi tidak semuanya mendapatkan apa yang telah gue dapatkan. Dan sejujurnya, gue ngerasa belum cukup banyak berterima kasih atas segala anugerah-Nya itu 😦

Satu harapan gue, semoga Umrah ini bisa mendatangkan Rahmat untuk hidup gue sehingga apapun pilihan hidup yang nantinya gue jalani, semua itu senantiasa diberkahi oleh Allah SWT.

Amiin. 🙂

 

Why Should People Lie?

Dari segala jenis dosa yang sering kita pelajari sejak kecil hingga dewasa, entah kenapa, ada satu dosa yang seolah sudah tidak lagi dianggap berdosa oleh manusia pada umumnya. Dosa apa? Dosa karena berbohong.

Di bulan puasa ini misalnya. Memang banyak yang jadi mengurangi hura-hura, mencoba lebih sabar, dsb dsb. Tapi anehnya tetap saja, mulut masih dengan mudah membesar-besarkan cerita. Atau memutarbalikkan fakta. Atau yang paling buruk, mengarang cerita yang sebetulnya tidak pernah ada.

Kemudian gue juga kenal beberapa orang yang sangat taat beragama. Sangat takut berbuat dosa. Tapi giliran sedang terjepit, kebohongan pun bisa dengan mudah terucap dari mulutnya. Sepertinya, mereka lebih berani menanggung dosa sebagai akibat dari kebohongannya ketimbang menanggung konsekuensi dari kesalahan yang dia perbuat sebelumnya.

Ada pula beberapa orang yang selalu berusaha bersikap mulia. Selalu ingin berpikiran positif, anti membicarakan keburukan orang lain, tapi lagi-lagi, giliran sedang terjepit, mereka tidak sungkan menjadikan orang lain sebagai kambing hitam. Bersikap defensive dengan menempatkan dirinya sebagai ‘korban’ sehingga orang lain yang tidak bersalah akan terlihat sebagai ‘penjahatnya’.

Yang terakhir, sebagian besar dari kita sudah pernah melakukan ini, termasuk diri gue sendiri, dengan mengatasnamakan kebaikan di atas kebohongan tersebut. Satu jenis kebohongan yang dikenal dengan istilah ‘white lies’. Memang benar ada hadits-nya Nabi Muhammad tetap mengatakan bahwa masakan istrinya terasa enak meski tidak demikian keadaannya, tapi benarkah semua white lies kita masih berada dalam koridor kemuliaan hati seorang manusia?

Kenyataannya seringkali, white lies kita lakukan untuk menutupi kesalahan yang kita perbuat. Alasannya: supaya dia tidak marah atau demi menjaga hubungan baik. Ada pula orang yang suka melontarkan white lies dengan alasan: people won’t be able to handle the truth. Padahal sebetulnya, mereka hanya takut terlihat buruk. Jika sudah demikian, masihkan white lies itu bersifat ‘wajib’ untuk dilakukan?

Berbohong adalah berbohong. Jarang sekali benar ada alasan baik untuk berbohong. Kenyataannya, menutupi satu kebohongan dengan kebohongan lain hanya akan memperburuk keadaan. Sekali, dua kali, lama-lama akan jadi kebiasaan. Sehingga sekali lagi, pada akhirnya, kita seolah lupa, bahwa berbohong juga perbuatan dosa.

Bagi teman-teman yang sesama muslim, mari kita jaga kesucian bulan Ramadhan dengan menjunjung tinggi makna kejujuran. Jangan hanya di bulan suci ini saja! Mari jadikan kejujuran sebagai kebiasaan.

Mengaku salah jika memang salah. Man up and be responsible for the damage you’ve done!

Tahan diri dari hal-hal yang hanya akan membuat kita merasa malu, sehingga nantinya, kita tidak perlu berbohong untuk menutupinya.

Sampaikan berita sesuai dengan kenyataan yang kita dengar sebelumnya. Jangan ditambah-tambah dan jangan mengubah asumsi menjadi fakta!

Hal yang sama berlaku juga di dunia kerja… Jangan sampai kerasnya politik kantor mengubah kita jadi si tukang bohong. Berpolitik boleh saja, tapi tetap harus ada batasnya! Gue tahu yang ini memang susah banget, dan kadang ini juga masih jadi PR untuk diri gue sendiri, tapi bukan berarti tidak mungkin untuk dilakukan!

Kemudian yang tidak kalah pentingnya, buat apa sih, kita suka mengarang ceirta yang tidak pernah ada? Apa tidak malu jika kelak kita tertangkap basah sudah lupa dengan cerita karangan kita itu?

Lakukanlah hal-hal yang bermanfaat, buatlah diri kita ini bangga dengan diri sendiri, sehingga kita tidak perlu repot-repot mengarang cerita hanya supaya terlihat hebat di mata orang lain. Saat kita sudah punya hidup yang luar biasa, kita akan dengan sendirinya punya segudang hal menyenangkan untuk diceritakan!

Lain kali, saat hendak berbohong, ingat prinsip dasar yang satu ini: butuh waktu lama untuk mendapatkan kepercayaan orang lain, tapi hanya butuh sekejap mata untuk kehilangan kepercayaan itu.

Orang yang sudah dicap ‘tukang bohong’ akan tetap dianggap berbohong meskipun dia sedang mengatakan yang sebenarnya. Tukang bohong akan sulit mendapatkan tempat entah itu di pertemanan atau juga lingkungan pekerjaan. Rumah tangga juga akan sulit sekali menjadi harmonis jika salah satunya suka sekali melakukan kebohongan.

Mari kita mulai berkata jujur, bersikap jujur, dimulai dari hal-hal yang sekecil-kecilnya. Dan percaya deh, mengakui kesalahan itu tidak seseram yang kita kira. Mengakui kesalahan justru akan menyelesaikan masalah kita dalam waktu yang jauh lebih singkat! Dan hati juga akan langsung lega.

Let’s use this Ramadhan opportunity to start fresh. Let’s start with a blank page and never fill in the new pages with new lies. Why should we lie if we have a truth to be told? Let’s be honest and be proud of it!

Idul Fitri: A Perfect Chance to Start Over

Satu hal yang paling gue suka dari Ramadhan dan Idul Fitri adalah kesempatan untuk kembali memulai dari awal. Dosa-dosa dihapuskan dan seluruh umat saling memaafkan. Karena sebaik-baiknya manusia, pastilah tidak luput dari kesalahan. Begitu pula dengan diri gue sendiri.

Gue tipe orang yang menjunjung tinggi kejujuran. Dalam hal terkecil sekalipun, gue selalu berusaha untuk bersikap dan berkata jujur. I have the courage to tell people the truth, even if it’s not always pretty. Tapi ada kalanya, seringkali tanpa gue sadari, gue tetap pernah mengucapkan kebohongan. I did it in the name of white lie, but who knows… what I called as white lie was actually the safest way to protect myself anyway.

Gue juga pada dasarnya enggak suka berbuat jahat. I really really want to be a good person. Gue sering menolak melakukan sesuatu dengan alasan tidak tega. Tapi tetap ada kalanya, tekanan, konflik yang berkepanjangan, atau mungkin, tuntutan pekerjaan, tanpa gue sadari memaksa gue untuk bersikap sebaliknya. Tanpa pernah gue niatkan, pastilah gue pernah berbuat atau berkata-kata yang dapat menyakiti perasaan orang lain.

Seringkali, segera setelah menyadari gue baru saja melakukan sesuatu yang tidak gue inginkan, gue akan langsung ngerasa nggak enak, menyesal, dsb dsb… Gue tentu akan selalu berusaha keras untuk memperbaiki diri sendiri, tapi tetap saja… gue cuma manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan. Sekeras apapun gue berusaha, gue tidak akan pernah bisa jadi sempurna. I was not born to be perfect and people might get hurt by my imperfection.

That’s why I’m so relieved to know that people will at least try to forgive me in this holy day. I’m grateful that they give me a chance to start over, and on top of that, I’m grateful that God give me a chance to redeem my faults.

Sebaliknya, kesadaran yang sama juga mendorong gue untuk belajar memaafkan. Jika masih luar biasa sulit untuk gue bisa memaafkan, gue juga enggak bisa berpura-pura. Tapi setidaknya di dalam hati, gue selalu berjanji pada diri sendiri, pasti akan tiba saatnya gue memaafkan dari lubuk hati gue yang paling dalam.

Lalu bagaimana dengan orang-orang yang tidak pernah memantaskan diri untuk dimaafkan? Well, sometimes, for some people I know, the best way to forgive them is by letting go. Kenapa begitu? Karena dengan gue membiarkan mereka pergi, maka dengan sendirinya, gue sudah tidak lagi memberi mereka kesempatan untuk melakukan hal-hal yang nantinya bikin gue kembali harus bersusah payah hanya untuk bisa memaafkan mereka.

I believe that forgiveness is something that we’ve got to earn. It’s not something which always comes free. Therefore in this opportunity, please do accept my deepest apology. I’m so sorry for every pain I’ve put you through and I hope, you would like to give me a chance to start over.

Happy Ied for my blog readers who celebrate. And of course, happy happy holiday!

Berdebat Panjang Lebar… Haruskah?

Gue baru aja nemuin quote keren dari seorang teman Facebook. Begini isi quote-nya:

Pick your battles. You don’t have to show up at every argument you’re invited to – Mandy Hale.

Quote itu mengingatkan gue dengan beberapa orang teman yang seneng banget mendebat semua yang gue katakan, sampai hal-hal terkecil sekalipun. Gue suka musiknya Britney Spears, dia bilang lebih bagusan Christina Aguilera soalnya bla bla bla. Gue pengen apply beasiswa ke Australia, dia bilang pendidikan di Aussie itu jelek karena bla bla bla. Pokoknya apapun yang gue suka, mereka enggak suka. Dan apapun yang gue approve, mereka akan selalu disapprove. Padahal faktanya:

  1. Argumentasi mereka belum tentu disertai dengan fakta; dan
  2. Tidak ada siapa yang benar dan siapa yang salah dalam hal selera. Apa yang bagus menurut gue tidak harus bagus pula menurut orang lain.

Nggak lama kemudian, saat gue sedang asyik main Pinterest, gue nemuin satu quote keren lainnya, yang ternyata, quote itu datangnya dari Mandy Hale juga. Begini isinya:

The less you respond to rude, critical, argumentative people… the more peaceful your life will become – Mandy Hale.

Gue pikir ada benarnya juga sih… Gue cukup sering jadi mendadak emosional hanya gara-gara perdebatan enggak penting, perdebatan berkepanjangan, dan perdebatan yang sebenarnya cuma atas nama gengsi si pendebat saja. Kadang saat gue udah terbukti benar pun, mereka akan tetep ngotot setengah mati. Ada pula yang sampe ngarang-ngarang fakta ala mereka sendiri. Padahal kalo dipikir lagi… apa sih, manfaatnya buat gue?

Kemudian… the most shocking part is… sepertinya, gue sendiri pun terkenal sebagai orang yang critical dan argumentative. Gue terkenal sebagai orang yang nggak mau kalah dan selalu memperjuangkan apa yang gue yakini kebenarannya. Dan gue juga jadi ingat… gue sampe pernah mempertanyakan kesahihan (keaslian) dari sebuah hadits yang isinya:

Rasulullah bersabda, “Aku menjamin sebuah rumah di dasar surga bagi siapa saja yang meninggalkan debat berkepanjangan meskipun dia berada dalam pihak yang benar.”

Saat itu gue berpikir… apa salahnya berdebat panjang? Bukankah terkadang memang tidak mudah untuk menyamakan pendapat dengan banyak orang? Dan tentunya, memperjuangkan argumentasi itu bisa butuh waktu yang relatif lebih lama sampai akhirnya gue memenangkan perdebatan itu, iya kan?

Tapi sekarang gue sadar… bahwa pada intinya, tidak ada yang salah dengan perdebatan, atau brainstorming, asalkan ada manfaatnya dan tidak memakan waktu yang berkepajangan. Tidak pula mengada-ada, tidak pula dengan terlalu memojokkan pihak lawannya. Tidak perlu pula gue selalu meladeni argumentasi yang dilontarkan semua orang. Seperti kata si Mandy Hale, we have to pick our battle. Kalau boleh gue tambahkan, pick our battle and don’t waste our energy on arguing something which is not worth our valuable time.

Konkretnya, mulai saat ini gue bertekad…

  1. Terlalu lama memperdebatkan mana film terbaik di tahun 2013 itu useless… Menang dari perdebatan macam ini sama sekali enggak ada untungnya buat gue. Diskusi buat seru-seruan boleh aja, tapi nggak perlu sampe saling ngotot;
  2. Gue enggak usah mendebat saat teman gue cerita tentang betapa sukanya dia dengan lagu barunya Linkin Park… Buat gue, lagu mereka itu berisik, tapi bukan berarti teman gue juga harus berpendapat yang sama…
  3. Untuk urusan pekerjaan, gunakan fakta, bukan opini semata. Jika fakta yang ada masih terus saja diperdebatkan, solusinya cuma satu: lakukan voting atau elevate to higher management. Berlama-lama debat kusir nggak akan pernah mendatangkan solusi; dan
  4. Betul kata Mandy Hale… supaya hidup lebih tentram, gue enggak usah meladeni semua argumentasi yang datang kepada gue.

Sebetulnya kalau gue ingat-ingat lagi, sejak gue tahu soal hadits yang tadi gue kutip itu, gue udah sedikit mengurangi perdebatan panjang yang enggak bermanfaat sih. Gue pernah berhenti menimpali soal social media mana yang paling keren, gue bahkan pernah dengan tegas menegur seorang teman yang terlalu sering mengkritik segala hal yang gue punya. Capek aja gitu meladeni semua perdebatan nggak penting yang dia lontarkan soal hidup gue sendiri. Dalam urusan pekerjaan pun, gue tidak lagi suka buang-buang waktu meributkan sesuatu yang tidak penting. Fokus gue bukan lagi pendapat gue harus menang, melainkan apa solusi yang terbaik untuk perusahaan tempat gue bekerja?

Hasilnya, ternyata memang benar… meninggalkan debat kusir itu banyak manfaatnya, dan meninggalkan teman yang terlalu suka mengkritik juga bikin hidup gue jadi lebih bahagia. Secara yaaah, orang-orang yang kelewat suka mengkritik segala hal dalam hidup gue itu sebetulnya cuma suka ngerusak kebahagiaan orang lain aja. Mereka enggak seneng dengan hal-hal baik dan menyenangkan dalam hidup gue sehingga mereka berusaha cari celah untuk bikin gue jadi kecil hati. So be careful!

Life is too short to be wasted on useless debates, so be smart! It’s okay to fight for what we believe is right, but do find a smart way to bring it. Even if we finally lose the arguments, then that’s okay too. Lose one argumentation doesn’t turn us to be a loser. I even believe… the first person who leaves a long useless debate is the true winner among them.

Bermaafan Via Broadcast BBM… Cukupkah?

Awal Ramadhan tahun ini, Lisa, sahabat gue sejak jaman masih ABG sampai dengan sekarang, memberi tahu gue tentang broadcast message via BB (gue emang masih awam soal BB… baru mulai pake beberapa bulan belakangan ini soalnya). Katanya, jika teks yang kita terima berwara ungu, maka itu berarti, pesan itu dikirimkan secara massal melalui fitur broadcast message. Saat itu, Lisa juga mengungkapkan opininya bahwa mengirimkan broadcast message yang isinya memohon maaf, entah itu dalam rangka menyambut Ramadhan maupun Idul Fitri, sifatnya tidaklah sopan.

Hal ini mengingatkan gue terhadap prinsip yang sudah gue pegang sejak pertama kali menggenggam hp gue sendiri belasan tahun yang lalu. Sejak awal, gue tidak pernah mengirimkan template SMS lebaran yang sudah jadi kepada teman-teman dekat gue. Maksudnya, gue tidak pernah tinggal copy-paste atau tinggal forward pesan yang sudah pernah gue kirimkan untuk orang lain kepada mereka. Gue akan ketik satu per satu, case by case, sebelum mengirimkan pesan tersebut.

Kenapa begitu?

Alasannya sederhana…  Coba ingat kembali… Apa sih, tujuan kita mengirimkan SMS lebaran? Untuk meminta maaf atas kesalahan yang pernah kita perbuat bukan? Dan apakah kamu yakin… dengan mengirimkan template pesan standar yang kamu kirimkan ke SEMUA orang bisa menghapus luka atas kesalahan yang pernah kamu perbuat kepada orang ybs?

Misalkan gue pernah memarahi rekan kerja saat sedang stres dengan pekerjaan, gue akan dengan spesifik menyebutkan mohon dimaafkan segala kesalahan yang pernah gue perbuat selama gue bekerja dengan dia. Gue ingin dia tahu bahwa gue menyesali ketidakmampuan gue dalam menahan emosi, dan gue ingin memperbaikinya.

Misalkan gue pernah bertindak ekstrim dengan meninggalkan begitu saja seseorang yang pernah dekat dengan gue, tanpa memberi penjelasan apa-apa, saat lebaran, gue akan menyatakan secara eksplisit penyesalan gue atas tindakan gue saat itu. Gue ingin dia tahu bahwa gue hanya butuh waktu untuk menenangkan diri sehingga bersikap acuh tak acuh seperti itu.

Nah… pertanyaan gue… Apakah sekedar kalimat standar saja mampu menjelaskan semua penyesalan gue itu? Akankah terketuk pintu hati orang-orang itu untuk memaafkan gue setelah membaca beberapa baris kalimat yang isinya lebih mendekati formalitas atau bahkan, hanya sekedar basa-basi belaka?

Jadi sudah jelas… Jika gue tidak menyetujui penggunaan template standar untuk semua orang, maka terlebih lagi, gue sangat-sangat tidak menyetujui pengiriman SMS lebaran melalui fitur broadcast.

Pengiriman pesan lebaran melalui broadcast BBM mengingatkan gue sama e-mail yang banyak gue terima dari berbagai perusahaan dagang, atau beberapa kantor klien dan mantan klien. Gue tahu bahwa e-mail itu mereka kirimkan secara otomatis… kepada semua alamat e-mail yang tersimpan dalam database mereka. Dan gue tidak merasa perlu tersinggung… because it’s just a business matter. It’s a part of business relationship strategy.  Tapi apakah pantas, jika cara yang sama persis, kita gunakan dalam kehidupan pertemanan? Dalam hubungan antar tetangga? Bahkan… dalam hubungan antar rekan kerja? Apakah begitu cara kita memperlakukan mereka… seolah ini semua hanya demi kepentingan bisnis belaka?

Sistem broadcast ini membuat gue berpikiran… setidaknya sistem copy-paste atau forward template masih jauh lebih baik. Setidaknya, mereka menyisihkan lebih banyak waktu untuk mengirimkannya satu per satu… Tapi tetap saja, gue masih teguh berpikiran, diperlukan usaha yang jauh lebih bernilai, untuk memohon maaf atas kesalahan yang pernah kita perbuat. Tidak apa menggunakan sistem template, selama orang yang kita tuju, bukanlah orang yang jelas-jelas pernah kita sakiti perasaannya. Dan pastikan pula, bahwa orang itu bukanlah orang-orang terdekat yang sesungguhnya berhak mendapat lebih dari sekedar basa-basi belaka.

Selain soal text message lebaran, izinkan gue menyentil sedikit tentang ucapan selamat ulang tahun. Template text lucu-lucu dari BB sudah menjadi favorit semua orang. Tidak ada salahnya kok, karena kadang template itu isinya sangat kreatif dan cukup menghibur. Tapi… bisakah bertaburannya icon smiley dan gambar lucu itu menyampaikan tulusnya doa kita KHUSUS hanya untuk mereka yang sedang berulang tahun di hari itu? Template lucu bisa menghibur, tetapi, hal itu tidak akan pernah bisa menyentuh hati mereka yang sedang merayakan hari lahirnya.

Mengetik dua atau tiga kalimat tidaklah sulit. Kecuali kamu ini selebritis yang dihujani ribuan ucapan dalam sehari, maka membalas satu per satu tidak akan memakan waktu seharian penuh. Mengirimkannya satu per satu, tidak akan membuat jari-jari kamu menjadi kram. Jadi, kirimkanlah secara layak, secara yang seharusnya kamu lakukan. Pahamilah makna bermaafan di hari raya. Dan pahamilah, bukan bermaafan via broadcast message yang selama ini Tuhan inginkan.

Gue tahu tulisan gue kali ini akan menyentil begitu banyak pihak… Sama sekali bukan untuk memancing permusuhan… Gue hanya ingin mencari cara untuk mengingatkan pentingnya makna Idul Fitri yang sesungguhnya. Jangan pernah kita biarkan kecanggihan teknologi merusak makna silaturahmi. Dan gue hanya merasa, hari ini, satu malam menjelang Idul Fitri 2012, sebagai waktu yang tepat untuk menyampaikan isi hati gue terkait hal ini.

Akhir kata, gue ingin mengucapkan minal aidzin walfaidzin kepada semua pembaca blog yang tentunya, sebagian besar tidak gue kenal secara personal. Mohon maaf jika ada tulisan di blog ini yang tidak berkenan di hati teman-teman semua. Apapun agama teman-teman yang sedang membaca tulisan ini, gue tetap ingin memohon maaf yang sama. Selamat berlebaran buat teman-teman yang merayakan, dan pastinya, selamat berlibur untuk kita semua 🙂

Lebaran, A Reminder to Be Grateful

Dulu, ada salah satu tante gue yang suka bawa fruit pie ke acara kumpul lebaran keluarga besar dari pihak Mami. Nyicipin sepotong fruit pie itu selalu jadi agenda yang sangat gue nanti-nantikan dari acara lebaran. Sayangnya setelah beberapa lama, tradisi fruit pie itu ditiadakan dan sudah diganti dengan jenis kue-kue lainnya. Sejak itu gue bertekad, kalau gue udah kerja nanti, gue akan beli sendiri fruit pie yang hanya dijual oleh sebuah toko di Jakarta Pusat itu.

Hari ini, satu hari menjelang lebaran tahun 2011, gue ditemani adik dan adik ipar, pergi ke jalan Sabang untuk membeli fruit pie favorit gue. Sempet deg-degan takut toko kue langganan keluarga gue itu udah tutup. Makanya begitu melihat papan bertuliskan “BUKA”, hati gue langsung berbunga-bunga. Begitu masuk ke dalam toko, kedua mata gue langsung hinggap ke barisan kue pie yang ingin gue beli. Aaah, wanginya yang menggoda, tampilan kue yang cantik dengan potongan buah segar di atasnya! Nggak lama-lama, gue langsung tunjuk dua jenis kue pie yang gue inginkan, satu untuk keluarga gue, satu lagi untuk dibawa ke acara kumpul lebaran keluarga besar Mami.

Fruit pie @ Sakura Anpan

Sesampainya di rumah, gue langsung sibuk memasukkan isi belanjaan: 2 pie, 2 cheesecake, 1 boks es krim, dan satu boks kecil praline ke dalam kulkas. Melihat lemari es yang penuh sesak dengan makanan (ditambah dua boks J Pops yang belum habis), gue jadi merasa bersyukur… Sekarang gue udah bukan lagi gadis kecil yang mengharapkan potongan kue dari tante gue. Alhamdulillah, sekarang gue udah mampu berbagi dengan keluarga besar gue.

Lebaran selalu mengingatkan gue untuk bersyukur. Bersyukur karena mulai dari lebaran empat tahun yang lalu, gue udah mampu membayar zakat gue sendiri. Bersyukur karena sejak itu pula gue udah keluar dari antrian bagi-bagi angpao dan berganti menjadi duduk di atas bangku untuk bagi-bagi angpao buat adik-adik sepupu. Intinya gue bersyukur, gue udah diberikan rezeki yang mencukupi oleh Allah SWT.

Tadi dalam perjalanan pulang dari toko cheesecake di Tebet, adik gue cerita ke suaminya bahwa lebaran tahun lalu gue sedang bokek berat. Jatah angpao buat adik-adik gue perkecil, dan tradisi membelikan cheesecake buat nyokap pun dengan terpaksa gue hentikan.

Gue cuma nyengir sambil mengingat-ingat… kenapa ya? Padahal lebaran tahun lalu kan gue udah jadi senior di EY? Terus gue juga jadi ingat bahwa tahun lalu itu gue sama sekali enggak belanja baju lebaran. Setelah beberapa detik lamanya, gue baru ingat… Lebaran tahun lalu, keuangan gue lagi kritis karena masih harus mencicil DP apartemen yang jumlah cicilannya lebih besar daripada gaji pokok gue per bulan. Ditambah lagi, beberapa hari setelah lebaran, gue akan pergi berlibur ke Thailand bareng temen-temen kuliah gue! Aaah, itu dia alesan yang bikin gue harus jadi pelit di hari lebaran, hehehehehe.

Mengingat hal itu, lagi-lagi, bikin gue ngerasa bersyukur. Tahun ini, gue diberikan pekerjaan baru yang setingkat lebih mapan daripada pekerjaan gue sebelumnya. Tahun ini gue juga bisa beli baju lebaran (berapa pieces ya? antara 7 atau 8, hehehehehe, anggap aja bales dendam karena tahun lalu enggak beli baju sama sekali), dan bisa kembali beli cheesecake buat Mami dan beli fruit pie buat diri gue sendiri. Dan kabar baik buat adik-adik gue… budget buat bagi-bagi angpao udah gue naikkin lho, hehehehehe.

Lebaran tahun ini yang Alhamdulillah enggak perlu pake acara berhemat bukan berarti gue menyesali lebaran gue satu tahun yang lalu. Malah sebenarnya, liburan tahun lalu tetap libur lebaran terbaik yang pernah gue lewati hingga saat ini. Have fun with the girls, menikmati keindahan kokohnya batu karang di Phi-phi Island yang seolah membingkai cantiknya air laut yang masih jernih, langit biru, dan pasir pantai putih bersih. How can I not be grateful for that?

Anyway… gue menulis blog ini sama sekali bukan berniat untuk pamer. Gue hanya ingin membagi rasa syukur gue, dan siapa tahu, bisa menginspirasi teman-teman untuk ikut menyukuri anugerah yang Tuhan berikan. Hidup memang tidak sempurna, dan tidak akan pernah bisa sempurna. Akan tetapi, jika kita pandai bersukur, maka anugerah dan rezeki sekecil apapun, akan bisa menjadi sumber kebahagiaan yang tidak ternilai harganya.

Sekalian lewat tulisan ini, gue mau mengucapkan minal aidzin walfaidzin buat semua blog readers, baik yang gue kenal maupun yang tidak gue kenal, baik yang sesama muslim maupun nonmuslim. Mohon maaf kalau ada isi dari blog ini yang tidak berkenan di hati teman-teman semua. Wish you all have a great holiday 🙂