We Have the Rest of Our Lives to Be Awesome!

Got bored at home and I ended up browsing the pictures my friends liked on Instagram. Then there I found a beautiful picture of a girl on the beach. I thought she was a girl, but apparently, she was a 50 something woman and a mother of three! I scrolled down her Instagram account and her pictures had really awed me! She always looks stylish, pretty, and that perfect body! It’s so perfect that I thought she might have had some jobs done, hehehehe.

Looking at her glamorous pictures made me realize that we wouldn’t need to be 20 something just to be awesome. We have the rest of our lives to be as awesome as we are! We can always dress up, wearing heels, put some make up and take a lot more stunning photographs as long as we’re still breathing! So why should we all be worried of growing old?

Honestly, getting closer to 30 has terrified me a little bit. I love being 20’s. The past ten years have been the greatest years of my life! I love seeing what a changed person I am, and I like it when people look me in the eyes, and they tell me, “And you’re still so young!” It feels good to win the things I’ve won, and it feels even better knowing that I can get there at this age! I’m honestly worried all that glorious feeling will pass as I get older. I’m also worried that someday, I won’t look attractive no more, hehehehe.

Looking back to the past 10 years, the only reason why I’m capable to live my dream is that I worked hard to earn every little thing in my life. I studied hard, worked even harder, I even had to put a lot of works just to stay happy with my life! I’ve also put a huge effort to make myself a better person than I was yesterday. If I can do it at my 20’s (when I was still young, naïve, and a little bit stupid sometimes), what makes me think that I can’t do the same thing at my 30’s?

So thanks to that stunning woman on Instagram (I forgot her name already), I’ve started to see a lot more perks of getting older. I hope, I’ll be wiser and I’ll be having more of the things I’ve always dreamed of! I also hope that later on, people will look at me in the eyes, and they tell me, “Wow, you look fabulous for your age!” 😉

Stay awesome, no matter how old you are! And happy Sunday!

My Nephew’s Fourth Birthday Party

Ceritanya kemarin, gue dan adek gue ngerayain hari ulang tahun ke empat-nya Arfa (anaknya adek gue itu). Karena Arfa sekolah di Bekasi, mau tidak mau, tempat perayaan juga tidak jauh-jauh dari sekolahnya Arfa. Agak tidak ideal karena justru jauh dari tempat tinggal keluarga besar dan teman-teman terdekat. Dan honestly, gue agak-agak enggak pede dengan lokasi rumah kalau mengingat ekspresi dan komentar orang-orang yang pernah jauh-jauh datang ke sini, hehehehe.

Saking akrabnya gue dengan Arfa, gue jadi kepengen ngundang teman-teman terdekat di kantor juga. Agak khawatir soal jarak dan macetnya, tapi tetap gue undang juga. Gue undang, tapi tidak ada satupun yang gue tanya mau datang atau enggak karena takut kecewa sama jawabannya, hehehehe. I just thought that true friends will walk a thousand miles without being asked anyway 😉

Saat sampai hari H, gue sempat harap-harap cemas. Sudah jam 15:30, sesuai undangan harusnya pesta sudah dimulai, tapi belum ada tamu yang datang 😦 Pikir gue, mungkin karena bulan puasa, karena sedang turun hujan, dan karena macet sedang parah-parahnya. Memang bukan pesta gue, tapi gue jadi kayak balik lagi ke anak kecil yang khawatir tidak ada temannya yang datang ke pesta, hehehehe.

Ternyata oh ternyata, tamu undangan hanya datang terlambat saja! Pesta telat dimulai, tapi teman-teman sekelas Arfa dan dua orang gurunya datang semua ke pestanya Arfa! Bahkan ada cukup banyak keluarga besar dan teman-teman dekat adik gue yang baru datang jam 7 malam! Lalu teman-teman gue sendiri, yang janji datang betulan datang ditambah satu personil yang tidak diduga-duga ikut muncul di tempat pesta, hehehehe. Gue betul-betul terharu mereka mau jauh-jauh datang ke sini!

This slideshow requires JavaScript.

Gue senang pesta ulang tahun Arfa berjalan lancar. Anaknya juga kelihatan sangat-sangat senang sepanjang acara ulang tahunnya! Kadonya ada banyak, termasuk dari orang-orang yang tidak bisa hadir. Ada beberapa kado yang harganya jelas fantastis, tapi tahu apa yang lebih berharga daripada kado yang termahal sekalipun? Kesediaan untuk menyediakan waktu untuk datang ke pesta ini. Time is the most valuable gift that someone could ever give, because once it’s passed, there’s no way people can take it back. So thank you, thank you, and thank you for coming!

Finally, happy birthday for my amazing nephew! The last four year of our lives have been a lot merrier since the day our families had him between us. We hope nothing but the best things for him and his life! He will always be loved, and he knows that 🙂

Another Solo Traveling Will Be Fun!

Tiba-tiba, gue teringat dengan solo travel gue di 2 hari pertama gue di Greece September tahun lalu. Dan tiba-tiba pula, mumpung masih single, gue kepingin  sekali pergi traveling sendirian. Ke Eropa. Kenapa Eropa? Karena menurut gue, berlibur ke Eropa itu betul-betul paling terasa nuansa traveling ke negeri asingnya. Budayanya, penduduknya, gaya arsitektur dan tata kotanya…

Lalu apa menariknya traveling sendirian? Banyak!

Gue pernah ngobrol akrab dengan supir taksi yang gue book seharian untuk keliling Kalambaka, Greece. Banyak obrolan menarik yang tidak akan terjadi jika saat itu gue tidak sendiri secara bisa jadi gue akan lebih banyak ngobrol dengan teman gue sendiri. Asyiknya lagi, si supir taksi ini senang banget fotoin gue di begitu banyak tempat yang fotogenik. He insisted me to jump to a cliff just to get a stunning picture and I’m glad he did! Foto-foto hari itu udah jadi salah satu koleksi foto paling keren yang pernah gue punya.

Di Kalambaka itu gue sempat juga ikut tur bareng travel agent resmi, berbaur dengan satu keluarga asing lainnya. Gue banyak ngobrol dengan mereka, banyak ngobrol dengan tour guide-nya, bahkan, gue dan si tour guide berlanjut berteman di beberapa social media.

Satu malam di Santorini juga sempat gue habiskan sendirian. Gue pergi nonton live show yang tidak diminati teman seperjalanan gue. Melihat gue hanya duduk sendiri, sekelompok wanita paruh baya dari US mengajak gue untuk bergabung dengan meja mereka. Gue pun menghabiskan sisa malam dengan bernyanyi dan bertepuk tangan bersama dengan mereka.

Kembali lagi ke Kalambaka, di kereta pulang menuju Athens, gue sempat duduk satu coach dengan cowok asal Dubai. Cowok yang jago banget flirting kalo menurut gue. Baik, lucu, dan sangat membantu gue dengan koper gue yang super berat itu. Holiday fling? Bisa jadi. Dan gue sangat menikmatinya! Ngerti kan sekarang, kenapa gue ingin traveling sendirian mumpung gue masih single? Hehehehe.

Segera setelah ide itu muncul di benak gue, gue langsung sibuk menyusun rencana.

Gue ingin menghabiskan lebih banyak waktu di Paris dan sekitarnya. Gue ingin mewujudkan salah satu things to do before 30-nya gue: beli satu tas LV langsung di butik Paris! Gue naksir berat sama hat box-nya LV yang sepertinya tidak dijual di Jakarta.

Kemudian gue ingin mampir sebentar ke Italia, Spanyol, dan Jerman untuk meet up dengan mantan teman-teman sekantor yang pernah kerja di Lazada. Sudah waktunya memanfaatkan privilege kerja di perusahaan multinasional yang banyak ekspatnya, hehehe. And it’s gonna be fun to catch up with them again after long time no see!

Kemudian masalah foto-foto. Tadinya gue pikir, rugi pergi jauh ke Eropa kalo nggak ada teman yang bantu fotoin gue. Tapi sekarang gue sudah punya solusinya! Gue bisa sewa 1 travel photographer untuk 1 sampai 2 hari penuh! Mereka itu penduduk lokal yang khusus menangani turis-turis asing. Mereka pasti lebih tahu tempat-tempat menarik untuk berfoto!

Aaaah, it sounds so exciting, right? Masalahnya cuma satu… Jatah cuti gue tahun ini sudah habis! 😦 I think I’m gonna spend the next few weeks to figure out how to make it happen before I turn 30 November this year, hehehehe.

AADC dan ‘Rangga Syndrome’

Warning! This post contains spoiler! Save this post for later unless you are keen on having some kind of sneak peek here 😉

Jadi ceritanya hari ini gue nonton AADC 2 setelah tertunda satu minggu gara-gara Hong Kong-Macau trip gue. Tadinya gue pikir, asyik juga kalo nontonnya sekalian movie date. Tapi berhubung masih jomblo juga, ya sudahlah, nonton sama teman-teman sekantor juga nggak masalah. Dan bener deh, meskipun kamu suka nonton sendirian, khusus untuk AADC lebih baik cari teman nonton. Secara AADC itu identik dengan cerita percintaan dan persahabatan  kan tuh. Sedih aja kalo jadi berasa udah pacar nggak punya, masa’ teman nonton juga nggak punya? Hehehehe.

Di awal film, gue sibuk menganalisa penampilan Cinta and the gank. Mereka itu kan ceritanya kelahiran tahun ’86, which is seangkatan sama gue, dan sempat terpikir di benak gue, “Well… Gue masih lebih awet muda kalo dibanding sama mereka, hehehehe.”

Semua pemain ceweknya lebih cantik sekarang kalo menurut gue. Paling salut sama Titi Kamal. Masih langsing meskipun anaknya udah lebih dari satu! Lalu untuk si ganteng Rangga… Gue yakin banget Nicholas Saputra sampe diet ketat hanya untuk main film sekuel ini, hehehehe.

Hal selanjutnya yang gue amati sudah tentu akting para pemainnya! Gaya akting yang masih nggak jauh beda dengan AADC 1 belasan tahun yang lalu. Dan entah kenapa, ada beberapa adegan Rangga-Cinta yang bikin gue bergumam, “Ih apaan sih” saking kaku dan jadulnya. Maksud gue, emangnya masih ada ya, orang Jakarta yang ngobrol dengan kosakata dan intonasi seperti itu di tahun 2016 ini? Terlalu kaku, baku, dan nggak enak didengar. Dan satu lagi, saat pertama Rangga muncul di layar, gue langsung cekikikan, “Si Rangga masih galau aja!”

Terlepas dari beberapa adegan kaku yang bikin gue berkerut dahi itu, tetap ada, bahkan lumayan banyak, adegan yang bikin gue senyum-senyum sendiri. Berantemnya Rangga dan Cinta emang selalu bikin gemas! Komentar salah satu teman nobar gue, “Pelajaran dari AADC 2: kalo cewek lagi galak mode: on, jangan langsung dikonfrontasi. Ajak jalan-jalan dulu! Bravo, Rangga!” Dan emang bener, cara Rangga mengatasi amarahnya Cinta udah berhasil bikin hati penonton jadi ikutan lumer, hehehehe.

Selain bikin senyum-senyum sendiri, ada pula adegan romantis dan sedih yang bikin gue merinding. Bener-bener merinding. Kayaknya ini film yang paling banyak bikin gue jadi merinding deh. Tipikal merinding yang bikin gue mempertanyakan keputusan yang baru saja gue ambil untuk love life gue sendiri. Tipikal merinding yang bikin sedih sekaligus bikin kita kangen sama orang yang kita suka. Tipe merinding yang bikin kita kepingin jatuh cinta lagi 😉

Tahu apa lagi yang gue suka dari AADC 2? Lokasi syutingnya! Gue tidak menyangka Yogyakarta bisa tampak seindah itu. Dari sekedar vila tempat Cinta dan teman-temannya menginap saja sudah luar biasa cantiknya! Belum lagi sederetan tempat kencan reuninya Rangga dan Cinta! Aaah… Jadi pengen balik lagi ke Yogyakarta! Tempat gue pertama kali ketemu sama first love gue dulu! 😉

Finally soal jalan cerita. Agak-agak klise sih menurut gue. Nggak sengaja ketemu di Yogya dalam waktu yang bersamaan? Cinta nyaris ketabrak truk dan jadi sadar kalo dia harus ngejar Rangga lagi? Oh, come on! Belum lagi Cinta yang udah nyaris married sama cowok lain itu… Cintapuccino banget nggak siih?

Yang konsisten kerennya apa lagi kalau bukan kisah persahabatannya! Persahabatan sepanjang masa dalam suka dan dalam duka. Nggak gampang dan jarang ada, makanya tadi saat nonton, gue jadi ngerasa beruntung! Gue emang payah buat urusan cinta-cintaan, tapi untuk persahabatan, gue masih beruntung punya beberapa sahabat yang sudah gue kenal belasan tahun lamanya! Tadi saja, gue nonton bareng teman sekantor yang juga sahabat gue dari bangku kuliah dulu!

Pada akhirnya, terlepas dari segala kekurangannya, gue tetap suka banget sama AADC 2. Tetap movie of the year kalo buat gue. It’s simply sweet and heartwarming. Tipe film yang bikin gue kepingin nonton sekali lagi! It’s a must watch, terutama buat generasi ABG di tahun 2000 awal kayak gue ini, hehehehe.

Speaking of AADC 2, film ini bikin gue jadi menyadari sesuatu: entah sejak kapan, gue udah terjebak dalam ‘Rangga syndrome‘. You know… Cowok puitis, tukang galau, misterius, susah ditebak, insecured dan kurang usaha buat ngejar cewek yang dia suka… Bahkan ternyata, selain hobi menulis, ceritanya Rangga itu suka fotografi dan traveling juga! Ya ampuun, deskripsinya mirip banget sama cowok terakhir yang gue sukaaa, uups 😀

Tanpa sengaja gue jadi berpikir… Apa yang bikin cowok seperti Rangga kelihatan menarik? Mari gue ulang: tukang galau, insecured dan kurang usaha buat deketin cewek yang dia suka! Apa menariknya coba? Cowok kok ya mellow banget gitu. Kenapa si Cinta bisa tergila-gila? Dan kenapa begitu banyak cewek Indonesia juga ikut tergila-gila sama si Rangga?

Ah sudahlah, itu toh bukan pertanyaan yang ada jawabannya. Toh si Rangga juga, ujung-ujungnya ada perubahannya. Realitanya pun begitu juga. Kalau Rangga tetap Rangga yang menutup diri dari Cinta, siapa pula yang masih akan jatuh cinta sama pujangga ini? Percuma jago nulis puisi kalau merasa mampu terus hidup sendiri…. Penonton juga pasti bosan kalau sepanjang film isinya tetap kebanyakan Cinta yang sibuk ngejar-ngejar si Rangga kayak film pertamanya dulu itu. If the feelings are mutual, the effort will be equal, remember?

Whatever it is, I would say AADC already had a perfect ending. And that tender kiss in a beautiful place like that… It may make you want to have someone by your side too 😉 Watch it and feel what I feel!

Tapi jangan salahin gue kalo abis itu jadi baper sendiri lho yaa, hehehehe.

Selamat menonton!

I Love My Life, Myself, with All the Flaws that Come with It

This morning, I woke up late. With the dress I wore all day yesterday, with the makeup stayed still on my face. I woke up for a while, changed my dress, cleansed my face, put some masker on, and went back to sleep. I skipped breakfast and lunch, and I had no idea how I could find a dinner with empty wallet and the rain dropped outside my windows.

So there I texted my best friends, looking for a company so that I no longer felt empty. One friend who tried to console me with his jokes, and another one who tried to figure out if there was anything he could do to deliver some foods to my doorstep. And just like that, I felt better.

I may lose many things in life, but I never lose my very best friends. And believe me, such a friend like them, is hard to find. Especially when it comes to me. I’m not an easy person to be with. I’m not always as kind and as wise as I write in this blog. I could totally relate when someone else told me, “I’m not surprised when people leave, I’m more surprised when they stay.”

There’s nobody happy for being left behind. And neither am I. It makes me feel unwanted. It makes me feel like I do have something wrong in me. But think again! My imperfection doesn’t necessarily mean that it is wrong for being me!

Yes, I’m a workaholic and it may never change. That’s only because I love how it has changed my life and how it has put a lot of smiles on my parents’ faces. Yet it doesn’t mean that I have no space to have a life aside from my career life!

Yes, I can be so annoying when I’m angry. I’ve tried so hard to deal with it but I guess it will always be a part of me. It will always be my imperfection. Yet it doesn’t mean that I’m a cruel evil! It’s not like I have an intention to hurt other people.

Yes, I can be so fancy sometimes. I’m a big fan of branded handbag, I don’t want to take picture with the same outfits twice, I can’t leave home without any makeup on my face. But seriously, does it all make me a bad person? Does it hurt anyone else if I do all these?

And yes, I’m a high maintenance person. I can’t stand too much heat, I hate too much walks, and I’m always craving for a comfort bed. After all hard works I’ve done, I really need to soothe myself. Yet it doesn’t mean that I’m not in for any adventure in life!

Finally, all I want to say is that I love my life, myself, with all the flaws that come with it. All I need to have is solely the people who is willing to be a part of it. I believe it’s true when Marilyn Monroe once said, “I’m selfish, impatient and a little insecure. I make mistakes, I am out of control and at times hard to handle. But if you can’t handle me at my worst, then you sure as hell don’t deserve me at my best.”

Unconditional Happiness

Pernah dengar istilah unconditional love a.k.a cinta tanpa syarat? Kita harus bisa mencintai orang lain dengan tulus tanpa banyak syarat dia harus begini dan dia harus begitu. Nah, gue juga punya istilah ala gue sendiri: unconditional happiness a.k.a kebahagiaan tanpa syarat. Nggak perlu tunggu ini dan tunggu itu hanya untuk bisa ngerasa bahagia.

Dan hari ini, gue kembali membuktikan kalo gue benar bisa tetap hidup bahagia tanpa banyak syarat ini dan itu. Today, I could stay happy even though I didn’t get what I really want to have in this particular day: a Valentine date.

Sebelum gue teruskan, maaf banget ya, buat teman-teman yang tidak merayakan Valentine… I really really respect your point of view. Tapi menurut gue, kalaupun ada yang salah dari perayaan Valentine, yang salah itu prilaku orangnya, bukan event-nya. It’s debatable, I know… but please let us just agree to disagree, okay? 😉

Back to the blog… what makes me feel happy apart from just staying at home all alone all day long? It’s just those simple things in life!

Dimulai dengan nyobain restoran dim sum baru yang rasanya enak banget! Pesan antar pakai Klikeat!

Lalu nonton film dan serial TV kesukaan sambil duduk bersandar di atas tempat tidur, berselimut hangat diiringi suara rintik hujan…

Nulis satu lagi judul blog yang bikin gue bangga banget sama diri gue sendiri, hehehehe… Please pardon my narcissism, ok! 😉

Dapat satu lagi comment di blog yang bikin gue ngerasa senang dan puas dengan blog gue yang hanya ala kadarnya ini…

Dapat kiriman video lucu dari salah satu sahabat yang disertai caption, “Maybe this is the reason why your crush didn’t ask you out today, hahahaha.” And it really made me laugh outloud 😀

Kemudian bertukar comment agak-agak flirty di Path sama sahabat gue yang lainnya… Comment yang bikin gue berpikir, “It looks like I’m a flirting expert! Tapi giliran ngomong sama gebetan, gue speechless berat!”

Dan diakhiri dengan bikin tulisan tentang unconditional happiness ini yang udah bikin gue jadi senyum-senyum sendiri! 😉

See? I’m home alone today, but I’m not lonely at all. I would be very happy if I had a candle light dinner tonight or maybe just a casual lunch would do, but even without it all, I’m okay too. I want to be able to stay happy in all conditions in life, that’s why I mentioned this as an ‘unconditional happiness’, get it now? 🙂

At the end of the day, love is not only about your crush, boyfriend, fiance, or husband. I love my families, my friends, my career, my comfort home, my hobbies, my life! And I think, that’s Valentine is all about: a reminder on how grateful I am for being able to love this much!

So guys… merayakan atau tidak merayakan Valentine, gue sungguh berharap semoga hidup kita selalu dilingkupi kasih sayang dan kebahagiaan, bahkan dalam kondisi terburuk sekalipun.

Have a lovely life, everyone! And please, be happy unconditionally! 🙂

Long Weekend Agenda

Iseng-iseng, gue kepengen tulis daftar kegiatan gue untuk long weekend kali ini. Emang bukan tulisan yang bermanfaat, tapi tetap sangat lumayan untuk menyalurkan hobi nulisnya gue 😀 Who knows it will give you a long weekend idea too!

  1. Beres-beres kamar kosan. Kamar gue udah tiap hari dirapihin sama si Mbak sebenernya, tapi kalo lemari dan laci-laci itu dibuka… well, barang-barang pribadi gue saling bertumpuk dan udah enggak jelas lagi aturan main untuk peletakkan jenis barangnya! 😀
  2. Cari beberapa barang yang ‘hilang’ dengan sendirinya. Kaca mata, baju batik kesayangan, sampe bros kecil favorit gue. It must be somewhere under those piles of goods! Hehehehe;
  3. Bersih-bersih koleksi tas dan sepatu kesayangan. Sekalian dipilih-pilih tas dan baju yang udah sebaiknya dicuci di laundry terdekat;
  4. Transfer foto-foto Umrah plus Turki dari SLR ke laptop gue. Edit dikit lalu langsung upload ke social media pastinya!
  5. Belanja online. Jadi seminggu ini gue udah dua kali bolak-balik ke ke Kokas, tapi anehnya, masih ada aja barang-barang yang belum kebeli! Gue selalu aja baru ingat masih ada yang kurang setelah terlanjur naik taksi pulang ke kosan… Padahal udah pake apps shopping check list! Jadi sudahlah, belanja online saja!
  6. Home spa. Mau tau rutinitas home spa ala gue? Dimulai dari facial steaming, scrubbing, pake masker, pake lotion, abis itu self manicure and pedicure juga;
  7. Meet up with an old friend. This one is gonna be so much fun!
  8. Googling tempat-tempat yang belum gue kunjungi di Bangkok dan Phuket untuk trip selanjutnya bulan depan. Aaah, I just can’t wait for this trip!
  9.  Nonton siaran ulang acara-acara TV kesukaan gue di Starworld;
  10. One thing for sure: writing more blogs!

Entah kenapa, long weekend ini gue pengen bisa bebas dulu dari pekerjaan. Karena jangan salah, selama di Arab dan Turki kemarin, gue tetap aktif baca dan balas e-mail pekerjaan dari kantor lho. Tapi kali ini, gue mau istirahat dulu!

Welcome long weekend and let’s have some fun!

Curhatan si Tiang Listrik

Ceritanya malam ini, ada acara kantor selepas jam kerja di Kuningan City. Sekitar hampir jam 7 malam, gue baru turun ke lobby menyusul teman-teman setim gue. Sesampainya di bawah, gue baru ingat harus naik lagi ke kantor buat jemput bos gue secara ceritanya kita mau nebeng mobil si bos untuk sampai ke Kuningan City.

Tidak lama setelah menunggu lift sendirian untuk kembali ke kantor gue di lantai 8, sekumpulan bapak-bapak lewat dari arah berlawanan dan salah satunya berkomentar sambil memandangi gue dari ujung kaki sampai ujung kepala, “Eh, ada tiang listrik!”

Saking kagetnya, gue hampir saja ingin balas menegur orang itu. Sebelum sempat membalas, pintu lift di depan gue terbuka dan salah satu teman sekantor keluar dari dalam lift yang satu itu. Sempat ngobrol sekitar 30 detik dengan teman gue itu, dan bapak tadi masih saja mengomentari tinggi badan gue meski jaraknya sudah mulai menjauh. Kira-kira dia bilang begini, “Mbak kok tinggi banget? Kayak tiang listrik, hahahaha.”

Entah teman gue dan orang-orang sekantor gue lainnya dengar atau tidak, yang jelas karena sudah lumayan banyak orang di sekitar gue, jadilah gue putuskan untuk pura-pura tidak mendengar. Gue langsung masuk ke dalam lift dan menekan lantai 8.

Pernah terpikir alasan kenapa banyak orang yang merasa minder dengan penampilan fisiknya? Orang-orang seperti bapak itu salah satu alasannya!

Waktu SMP dulu, gue pernah sangat minder dengan fisik gue ini, salah satunya karena tinggi badan gue juga. Bayangkan saja, baru kelas 3 SMP, tinggi badan gue sudah hampir mencapai 170 CM! Bagaimana tidak minder? Gue sering banget dipanggil tiang listrik! Masih mending jika hanya tiang listrik, julukan yang lebih menyakitkan hati pun juga pernah gue dengar 😦 Ditambah lagi orang-orang iseng yang suka membuat lelucon dengan sok-sok berjinjit sambil cengengesan di belakang gue, atau orang-orang yang terang-terangan menolak berfoto di samping gue hanya karena gue dianggap terlalu tingi. Sering dibilang akan susah cari pacar pula! Karena itulah, bahkan sampai gue kuliah pun, gue tidak pernah mau coba memakai sepatu berhak tinggi.

Hanya saja entah sejak kapan persisnya, pola pikir gue mulai berubah. I’m tall, I’m too thin, and I know it, but so what? Gue terlahir tinggi, dan gue terlahir dengan kelenjar tiroid yang terlalu aktif sehingga akan sangat sulit untuk menaikkan berat badan, tapi ya sudahlah… Semua itu bukan salah gue, dan semua itu juga toh tidak merugikan siapa-siapa!

Akhirnya, sedikit demi sedikit, gue mulai suka memakai high heels. 1 CM, 2 CM, dan sekarang berakhir di 7-8 CM. I love high heels, and apparently, it makes me a lot more confident! Wearing heels is not a sin anyway.

Gue kenal banyak mantan ‘ugly duckling‘ yang memperoleh kepercayaan dirinya setelah berhasil mengubah drastis penampilan fisiknya. Dari gemuk menjadi kurus, atau sebaliknya. Prestasi yang patut dibanggakan kalau menurut gue, tapi sayangnya, perubahan fisik yang sama belum pernah terjadi pada diri gue sampai saat ini. Gue masih Riffa yang tinggi kurus itu, sama seperti gue di bangku SMP dulu. Hanya saja bedanya, gue mulai bisa melihat dari sisi positifnya. Benar-benar tidak ada perubahan fisik, hanya perubahan mental dan sudut pandang, ditambah cinta yang luar biasa besar untuk diri gue sendiri 😉

Jujur bagaimanapun, kejadian hari ini tetap membuat gue sempat merasa sedih. Setelah bertahun-tahun tidak lagi mendengar ejekan si tiang listrik, bisa-bisanya malam ini gue kembali berhadapan dengan orang norak seperti itu! Gue jadi kembali diingatkan dengan rasa minder yang sudah susah payah gue kalahkan bertahun-tahun yang lalu.

Orang-orang di sekitar gue pastilah jarang sekali mendengar gue mengomentari kekurangan fisik orang lain. Kenapa? Karena gue tahu bagaimana tidak enaknya disoroti sampai mendetail seperti itu. Dan seringkali, gue bergumam di dalam hati saat melihat orang-orang megomentari fisik orang lain, “Kalau gantian orang lain mengomentari fisik kalian, memangnya kalian tidak akan tersinggung?”

Ya, banyak orang yang senang mengomentari fisik orang lain (mungkin niatnya bisik-bisik, tapi kadang tetap terdengar lho), tapi giliran sebaliknya mereka yang dikomentari fisiknya, wah, galaknya setengah mati! If you won’t be happy hearing people’s honest opinion on your body, then keep your thought just for yourself!

Pada akhirnya, kembali lagi gue bilang di sini: people will always talk anyway. Mau secantik dan seseksi apapun kita, tetap akan ada saja komentar baru yang kita dapatkan. Pendapat orang lain tidak akan pernah ada habisnya! Itulah sebabnya menurut gue, perubahan pola pikir jauh lebih penting daripada perubahan fisik itu sendiri.

Sudah tinggi dan mau pakai high heels? If it makes you happy, then why not?

High heels bakal bikin tambah susah cari pacar? Yang namanya Mr. Right tidak akan sebegitu bodohnya! Toh dia juga tahu bahwa kita masih bisa sesekali melepas high heels itu kalo lagi jalan bareng sama dia…

Meski kedengarannya klise, tapi memang benar bahwa tubuh kita ini pemberian dari Tuhan. Syukuri, nikmati, dan lihat saja dari sisi positifnya!

Badan gue seperti tiang listrik? Oh, well… Kalian harus dengar cerita yang satu ini… Baru-baru ini,  salah satu rekan kerja di Vietnam yang hanya gue kenal via e-mail dan Skype, pernah bilang begini, “I heard you have really long legs, like supermodel, hehehe.”

Dan tahukah kamu alasan kenapa supermodel umumnya berpostur tinggi kurus? Karena postur tubuh seperti ini bisa membuat nyaris semua jenis pakaian terlihat bagus 😉

See? Selalu ada sisi positifnya! Hehehe.

Cheers!

Sometimes, All that We Need is Just a Break

Last Friday was really one of those exhausting days in life. So many things went wrong, everything ran so fast that I barely had a moment to breath, so many plans didn’t work out in a way I desired, so little times yet so many works remained undone… Not to mention that I literally feel extremely tired everytime I wake up from sleep in the morning.

At some point, I couldn’t help myself but wondering… When will this madness end? Will it ever end in the first place?

But then on Saturday, I had a lovely day. After being occupied with lots of works for a while, I finally had a chance to do one thing that I always love to do: went shopping. As much as I love shopping online; which I did a lot more often lately, walk along the mall and carry the shopping bags on my own hands are somehow irreplaceable.

I love the sounds of the hangers in a small boutique. The smell of new books in a bookstore. I love hunting, fitting, and paying for the stuffs I love to buy. And just like that, I forgot my things to do back at work. I forgot how stressful this life can be. I forgot all the disappointment and failure that brought me down. And then at the end of the day, I asked myself, why should I want this madness to end? My life is running so fast, but thanks to that, it also brought me faster to the things I always dreamed of in life.

You know… that last shopping day was actually no ordinary shopping day. It was a shopping trip to buy the things I need for the upcoming vacation trip by the end of this week.

I bought a pair of sandals, and when I did, I picture myself walking on a white sandy beach. I also bought a new beach bag that fits my snorkel, and when I saw it, all that I could think of was the beauty of under the sea. I also bought a sunblock, travel size toiletries, medicines, all of the small things that will come in handy during my trip!

All that joys on last Saturday has told me this one big thing: I simply need a break. It’s not about my job, it’s not about the battles I’ve lost, it’s not about me having no idea about my own life. It’s simply about me doing all other things that I love to do. I love working and pursuing my dreams, but a nonstop run will only kill myself. It’s just like traveling. No matter how much I love it, a nonstop trip will only make me dying over a boredom.

I need to wake up in a beautiful place knowing that a new adventure will soon begin. I need to wander and get lost and made a discovery along the way. I need to jump off to the water and make that blue sea as my pool. I need to go to bed at night knowing that I still have another day to travel and even later in my last night, I will be able to tell myself that I’m ready to get back to my real and wonderful life back at home.

Again sometimes, all that we need is just a break, a very good one. Reward ourselves for all the hard works, the sleepless nights, and all the pain and tears we had along the journey. Relax, have fun, and when I’m back, I will be in my very best state to figure out the next best thing in life. What’s next? What do I really want? And how do I get there? Well, let’s keep those questions until my vacations ends! 😉

Happy Monday and happy holiday for those who celebrate! 🙂

Tonight in Shell

Malam ini sepulang kerja, gue mampir dulu ke Shell dekat kantor. Pom bensin yang sudah biasa gue datangi, tapi baru malam ini gue memperhatikan sesuatu yang sangat menarik perhatian gue.

Seperti biasa, begitu masuk ke kawasan Shell, petugasnya mengarahkan mobil gue menuju tempat yang masih kosong. Awalnya, gue udah ngerasa ada yang berbeda dari petugas itu, tapi gue masih belum benar-benar sadar apa yang membedakan dia dengan petugas lainnya. Baru pada saat si petugas Shell itu datang mendekat ke kaca mobil, gue menyadari… petugas laki-laki itu hanya mempunyai satu tangan saja.

I knew that it was not polite to keep staring at him, so I tried to look away, but my bad, I couldn’t help myself looking at him once in a while.  

Sama seperti petugas lainnya, dia dengan cekatan mengisi bahan bakar mobil gue. Dia juga dengan cekatan membersihkan kaca depan mobil gue. He could do it as fast as his colleagues, and of course, with a bright wide smile on his humble face.

Dalam perjalanan pulang, begitu banyak pikiran acak menyerbu masuk ke benak gue.

I’m proud of him for doing his best at work.

I’m proud of Shell for giving him that job opportunity.

And I’m proud that tonight, I managed to learn that I need to complain a little bit less.

Gue suka mengeluh sama sakit kepala yang tiba-tiba datang saat pekerjaan sedang banyak-banyaknya. Mengeluh capek dan kurang tidur. Mengeluh soal mata berkantung, jerawat-jerawat kecil, kerutan halus di sekitar mata… Tiba-tiba saja, gue ngerasa manja. I tend to forget to count my blessing much more than I count my problems in life.

Gue tipe orang yang percaya bahwa setiap orang punya jalan hidupnya masing-masing. Gue juga percaya bahwa tidak pernah ada kerja keras yang sia-sia. Jadi tidak, gue tidak perlu merasa kasihan meskipun petugas Shell itu hanya punya satu tangan. I know that if he works hard, works smart, behave and do the right things at work, he will find his way to success in life.

He can do it, I can do it, all of us can do it. Just do our best, and let God do the rest.

Let’s call it a night and sleep tight!