Am I Scared of Ending Up All Alone?

Baru saja ada teman yang bertanya, “Elo pernah takut end up hidup sendiri nggak, Peh?”

Gue langsung menjawab, “Enggak pernah. Gue enggak masalah sendiri, asalkan gue bahagia.”

And I meant it, every single word of it.

Gue emang udah kepengen settle down. Gue ingin punya kesempatan mencintai dan dicintai satu orang yang akan berbagi hidup dengan gue. Gue juga ingin mulai mengurus orang lain selain diri gue sendiri. Gue ingin memulai hidup baru, pembelajaran baru, lika-liku baru dan kebahagiaan yang juga baru.

Tapi, jika pernikahan hanya akan membuat gue lebih banyak menderita daripada bahagianya, lebih baik gue sendiri. Jika menikah sekarang dengan pasangan seadanya hanya akan mendatangkan penyesalan, lebih baik gue menunggu lebih lama sampai gue menemukan orang yang tepat. Dan jika saat itu nyatanya tidak akan pernah kunjung tiba, gue tetap ikhlas… gue akan coba berpikiran positif bahwa memang kesendirian itulah yang terbaik buat hidup gue ini. Nggak papa sendirian, asalkan enggak kesepian.

It’s okay to be alone, but it’s not okay to be lonely.

Lalu bagaimana caranya agar tidak hidup kesepian? Banyak orang mencari kesibukan tapi tetap saja merasa kesepian dalam kesendiriannya.

Caranya gampang saja: nikmati setiap hari dalam hidup ini, hal kecil, hal besar, nikmati dan berbahagia sebanyak yang kita bisa.

Gue menikmati hari-hari sibuk di kantor sama seperti gue menikmati bisa bangun siang di akhir pekan.

Gue menikmati dikelilingi teman-teman dan keluarga sama sepeti gue menikmati me time seharian di mall (bisa nonton, belanja, mani-pedi!).

Gue menikmati membuat analisis keuangan yang complicated sama seperti gue menikmati waktu yang gue habiskan untuk menulis blog ini.

Dan gue menikmati detik demi detik yang gue habiskan dengan si gebetan kesayangan sama seperti gue menikmati waktu bermain dengan ponakan-ponakan cilik gue.

Gue masih menanti hari pernikahan gue, tapi gue tidak perlu menunggu hari besar itu tiba hanya untuk bisa bahagia. Gue akan mulai berbahagia di masa-masa penantian karena buat gue, tidak ada yang namanya timeline hanya untuk bisa merasakan kebahagiaan. Kenapa harus demikian? Supaya kalaupun hari besar itu tidak pernah datang, hidup gue tetap tidak terbuang sia-sia. Gue sudah mencicil kebahagiaan gue sehingga akumulasi kebahagiaan gue itu akan cukup besar untuk menutupi kekecewaan yang mungkin nanti gue rasakan.

Jika kalian tanya gue sekarang, pastilah gue menjawab gue akan sangat bahagia jika gue bisa berakhir sampai pernikahan sama cowok yang sekarang gue sukai, tapi itu kan cuma sekedar keinginan gue. Apa yang gue inginkan belum tentu selaras dengan apa yang gue butuhkan. Dan sekali lagi, jika memang bukan relationship itu yang gue butuhkan untuk saat ini, maka gue lebih memilih untuk ikhlas.

I’ve tried my best, I’ll let God to do the rest.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s