A Tribute to My Grandpa

Gue selalu worried ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi ketika gue sedang bepergian jauh ke luar negeri. Enggak terbayang deh mesti gimana… Selain jauh, jadwal penerbangan juga jumlahnya masih terbatas. Itu pula yang gue khawatirkan saat hendak berangkat ke Iceland bulan lalu… Kondisi Kakek dari nyokap makin memburuk… dan firasat kami sekeluarga sudah mulai enggak enak. Jadi lah gue mengunjungi Kakek beberapa hari menjelang keberangkatan ke Iceland bulan lalu itu.

Hari itu gue duduk menemani Kakek yang terbaring di tempat tidur. Ngobrol panjang lebar, bantu Kakek download aplikasi radio supaya ada hiburan buat Kakek yang sudah enggak kuat lama berdiri, dan juga bantu beli-beli barang yang Kakek butuhkan melalui online store.

Waktu itu gue bilang begini, “Aku mau ke Iceland, Kek, rencananya. Sama Norway juga. Tapi Kakek lagi sakit begini…”

Kakek menjawab, “Nggak papa, Fa… Kakek malah seneng ngelihat Ifa bisa jalan-jalan, mewujudkan cita-cita Ifa dari kecil. Kakek seneng Ifa sukses, bahagia, bagus rezekinya… Pergi aja, nggak usah mikirin Kakek.”

Setelah ngobrol beberapa lama, gue keluar kamar untuk makan malam, dan nggak lama kemudian gue pulang ke rumah nyokap. Saat mobil sudah terlanjur jalan… baru gue sadar gue lupa pamit sama Kakek! Entah kenapa gue bisa kelupaan. Sempat berniat mau telepon Kakek, tapi akhirnya gue cuma titip pesan melalui WhatsApp ke Nenek saja.

Dua minggu gue habiskan di Iceland dan Norway, saat gue pulang, kondisi Kakek sempat agak membaik. Lega banget kekhawatiran gue enggak terbukti. Sempat terpikir ingin jenguk Kakek lagi, tapi kesibukan di kantor, plus masalah pribadi yang sedang menguras emosi gue pasca liburan, membuat gue lebih memilih menghabiskan akhir pekan di kosan saja, sendirian. Bawaannya capek dan enggak mood untuk ketemu banyak orang.

Kemudian minggu lalu, gue ditugaskan ke Singapura. Dalam perjalanan menuju bandara, gue dapat kabar Kakek dibawa ambulans ke rumah sakit terdekat. Perasaan gue mulai enggak enak. Pesawat gue akan take-off dalam 2 jam, dan jarak rumah sakit lumayan jauh dari kosan gue. Dalam hati gue hanya bisa berdoa, semoga Kakek akan baik-baik saja.

Sampai di Singapura, tidak lama setelah gue kembali dari makan malam di Orchard road, gue mendapatkan kabar duka… Kakek sudah meninggal dunia, meninggalkan kami sekeluarga, untuk selama-lamanya…

Apa yang selalu khawatirkan akhirnya terjadi juga… musibah menimpa keluarga saat gue sedang jauh dari mereka. Rasanya memang betul-betul enggak enak! Nangis sendiri, mau pulang tapi sudah tidak ada penerbangan, ingin curhat nggak ada teman ngobrol karena sudah lewat tengah malam… Rasanya betul-betul kesepian banget deh.

Senin pagi, gue langsung ambil first flight kembali ke Jakarta. Semalaman nggak bisa tidur, ingin cepat pulang, tapi jadwal penerbangan tentu saja enggak bisa gue majukan! Sampai di Jakarta, gue sudah serba buru-buru, sesampainya di lokasi, Kakek sudah selesai dimakamkan 😦

Bokap banyak bercerita tentang masa-masa terakhir Kakek. Berkali-kali shalat, dan tidak henti-hentinya Kakek berdzikir, dan mengucap dua kalimat syahadat, sampai helaan napas terakhirnya…

Almarhum Kakek ini mulai taat beragama sejak 10 tahun yang lalu. Kakek sampai sengaja beli rumah baru yang lokasinya di seberang mesjid tidak lama setelah mengidap glukoma. Kakek bilang, ingin tinggal depan mesjid supaya saat penglihatannya mulai menghilang, Kakek akan tetap dengan mudah pergi shalat ke mesjid depan rumah. Kakek yang sudah tidak terhitung berapa kali khatam Qur’an, Kakek yang selalu membanggakan anak-anak serta cucunya, sudah pergi untuk selama-lamanya…

Sehari setelah kepergian Kakek, nyokap bantu Nenek berberes kamar. Saat itulah nyokap menemukan secarik kertas berisi tulisan tangan kakek… secarik kertas yang berisi doa-doa almarhum Kakek untuk seluruh anggota keluarganya 😦

Tadi malam menjelang tidur, tiba-tiba saja gue ingat Kakek. Aneh rasanya saat memikirkan orang lain dan menyadari bahwa gue enggak akan pernah bisa melihat mereka lagi… Baru di tahun 2018 ini, gue merasakan kehilangan dalam artian yang sebenar-benarnya.

Dan jujur gue menyesali…

Harusnya waktu itu, gue putar balik ke rumah kakek untuk salim dulu…

Atau harusnya, gue mampir lagi ke rumah Kakek sebelum berangkat ke Singapura…

Jika bisa putar balik waktu, gue kepingin banget bisa lihat Kakek lagi, untuk yang terakhir kalinya…

Salah satu pesan terakhir Kakek adalah supaya gue tetap menjadi orang yang baik… Kakek sangat meyakini hidup gue diberkahi karena kebaikan yang gue berikan kepada orang-orang di sekitar gue. Saat itu gue hanya mengangguk… Kakek tidak tahu saja, gue juga tidak selamanya selalu baik pada orang-orang di sekitar gue 😦

Rest in peace, Kakek… semoga amal ibadah Kakek diterima oleh Allah, semoga Kakek mendapatkan tempat di surga, dan semoga doa Kakek untuk kami sekeluarga juga dijabah oleh Allah SWT.

You will be missed, Kek… always, and forever.

When People Tend to Forget that I am Only a Human Too

Sometimes it hurts knowing that some people don’t consider how I might feel as an impact of the things they said or did. Just because I’m a tough person, that doesn’t mean I’m a superwoman with superpower! I’m only a human with feelings too. The truth is, I’m hurt when they hurt me.

When they bad mouth me behind my back.

When they choose to protect others or even protecting themselves even though that only means they hurt me badly.

When they keep me in the dark.

When they lie.

Or simply when they don’t tell me the truth that I desperately need.

They think I will be just fine. That I’m used to it. That I’m strong enough to get through all that s***. That I’ll move on and I’ll leave all that behind. And that I’ll be a survivor on my own.

Oh yes I will be all that. I don’t want to be permanently bent and broken no matter what. But is that really necessary to let me fight all those nightmares on my own? Is it really necessary to push me to deal with pain, or wonder, or disappointment over and over again? What did I do so wrong I deserve all that?

Just because I’m strong, it doesn’t mean I’m happy to be hurt.

Oftentimes I wish I could just look them in the eyes and tell them how wounded I really was. How I wish I didn’t have to deal with another heartbreak. And how I desperately wanted to let people know that I was not fine. Not at all.

Do you know what’s even worse from all these? It’s knowing the fact that the people who let me go through all these pains are sometimes the people I care about. The people whose opinions do count to me. The people whom I thought would always be “my person”.

I still remember a few years ago, I read this quote saying that the strongest people are mostly the most wounded. And now I find it so true! The more I look fine from the outside, the less people really care how I feel inside.

I also find it so true that everyone is fighting their own battle. Because so am I! Hence if you can’t be kind to me, at least, be kind enough not to be cruel. It’s not that I want you to pity me, it’s just that I want you to treat me as human with feelings inside. And to me, that would be a luxury.

Indonesia dan Budaya Cyber Bully

Sekitar 5 tahun yang lalu, gue mulai aktif ikut online forum khusus traveling. Lumayan buat cari info, bahkan pernah juga 2 kali dapat teman jalan dari forum tersebut. Awalnya menyenangkan, tapi akhir-akhir ini, gue sering merasa risih tiap kali membaca isi online forum yang sekarang mulai merambah sampai ke Facebook itu. Kenapa risih? Karena gue bisa menemukan begitu banyak komentar negatif (beberapa sampai level cyber bully saking sadisnya) di hampir semua post yang gue baca di forum-forum tersebut. Ironisnya lagi, beberapa anggota forum sampai ada yang menambahkan kalimat “please jangan di-bully ya” dalam post yang mereka tulis di forum-forum tersebut.

Gue betulan heran sih. Kenapa mesti sebegitu judesnya sih? Apa untungnya buat mereka? Kenapa sebegitu tersinggung dengan tulisan yang bahkan menurut gue biasa-biasa saja. Jawaban judes mereka itu bahkan belum tentu menjawab pertanyaan yang diajukan oleh penulis thread-nya. Jika tidak bisa memberikan jawaban yang bermanfaat, seharusnya tidak usah membalas sama sekali. Jangan lupa jejak digital itu sangat sulit dihapus dan bisa jadi batu sandungan untuk diri kita sendiri. Ingat bahwa saat kita menyerang orang lain, image kita yang akan terlihat jelek dan bukan image orang yang kita serang itu. If it’s not nice nor useful, just keep our thoughts to ourselves!

Tapi ya yang gue heran dari begitu banyak orang Indonesia akhir-akhir ini… kenapa ya, jumlah orang vokal di dunia maya cenderung jauh lebih banyak daripada orang yang berani menyuarakan dan memperjuangkan pendapatnya di dunia nyata? Misalnya saat ikut meeting atau training. Berapa banyak sih jumlah orang yang aktif memgajukan pertanyaan, menyanggah, atau memberikan pendapat? Seringnya sangat sedikit sekali! Gue kenal beberapa orang yang cenderung tidak banyak bicara di dunia nyata tetapi sangat vokal bahkan sampai kelewat kritis saat memberikan komentar di dunia maya.

Lalu bagaimana cara gue mengatasi forum-forum yang penuh dengan tukang bully itu? Paling gampang emang leave group aja sih ya, tapi karena sejauh ini masih lumayan informatif, atau masih sering memberikan gue inspirasi untuk tujuan wisata selanjutnya, gue memutuskan untuk tetap stay di dua forum itu. Strategi gue:

  1. Tidak usah baca bagian komentar jika tidak diperlukan;
  2. Tidak usah membalas kejudesan orang lain dengan kejudesan lainnya;
  3. Jika tulisan gue di forum itu banyak dibalas dengan komentar yang tidak mengenakkan, maka gue hapus saja post gue yang dianggap kontroversial itu; dan yang paling penting
  4. Gue tidak ikut-ikutan mem-bully orang lain. Gue hanya ikut komentar jika gue tahu gue bisa memberikan jawaban yang bermafaat, yang sesuai dengan konteks pertanyaan ybs.

Hidup sudah rumit, jangan dibuat makin rumit dengan hal-hal yang tidak perlu. Selalu ambil sisi positifnya saja, pastikan kita sudah berusaha menjadi orang baik, sampai pada hal-hal yang sekecil-kecilnya.

Wanted: The Next Big Thing in Life

My birthday this year was quite a story. Two weeks before my birthday, my mood suddenly dropped and it felt such a hot mess inside. Just went back from an incredible holiday didn’t make me feel any better (I even thought it might be what people called as post-holiday blues). I tried everything I could do to cheer me up but none of it was working. I kept wondering and I asked myself, “On my birthday, many people will wish me a long life to live, but for what? What else do I want to do in the rest of my life?”

November 30 around 3 PM, in the middle of a meeting in the office, my teammates entered the room singing a birthday song with a birthday cake and three candles on it. Right before blowing out the candles, I made a wish. I simply wishes that life would find me a reason to live longer. Something that excites me to wake up early in the morning, something that brings smiles and big laughters on my face, something that makes every step I take feels lighter no matter how hard this life gets.

It’s not that I’m not happy with my life. I am happy with my life. It’s just that it feels like I’ve been living the same old life, dealing with the same old dramas, and winning the same old battles in the past 10 years.

Need some examples?

I’ve had enough guys coming to my life just to watch them leave not so long after that. I’m sick of wondering how they truly feel about me. At this point, I’ve started to think that maybe, happily ever after is just not my thing.

Need another example?

A promotion at work doesn’t feel as good as it used to be. Yes, it keeps me proud of myself but that’s that. I’ve went through 6 promotions in the past 10 years and I’m thankful of that, but somehow, the euphoria was just not there anymore. It’s like no matter how delicious a food is, I’ll eventually get bored eating the same food over and over again.

Traveling still feels as good, but I can’t travel everyday of my life anyway (and again, once it becomes “regular”, the hypes will fade away!). What about writing, shopping, watching movies and all the things I always love to do? They are all still fun, but still, they are not sufficient to become a good reason to have a long life, aren’t they?

You know… writing all these has really made me feel bad about myself. It might sound like I’m not grateful for everything I have in life. But well, if you know me in person, for sure you’ll know how grateful I really am. I’m grateful but I need changes, the big ones, in my life. I want to have a brand new chapter in life. I was once unhappy with my life so many years ago and I don’t want to go back there! Letting myself feeling this way (empty, unmotivated, bored, emotionally tired and mentally exhausted) will eventually makes me less happy than I am right now. And to me, living an unhappy life is a nightmare!

I’m determined to figure out what is the real problem that leads me to this feeling and what I should do to make myself feel better over this weekend. If you guys have any idea, feel free to let me know! I desperately need an enlightenments at the moment. I hope this horrible feeling is just temporary and it will soon go far away!

Apa Hubungannya Traveling dengan Pencarian Jati Diri?

Satu minggu sebelum keberangkatan gue ke Norway-Iceland yang baru saja berakhir kemarin siang, bos gue di kantor cerita dulu dia pernah berhenti kerja, jual mobil, dan pergi keliling South America. Dia bilang pada saat itulah dia merasa menemukan jati dirinya.

Cerita dia itu mengingatkan gue dengan popular quote dari David Mitchell yang satu ini, “Travel far enough, you meet yourself.”

Nah, pertanyaannya: memang apa hubungannya sih antara traveling dengan pencarian jati diri?

Beda orang bisa jadi beda jawabannya, tapi berikut ini jawaban pribadi yang gue tulis berdasarkan pengalaman gue pribadi juga.

Traveling membantu kita berpikir lebih jernih

Melepaskan diri dari kegiatan rutin sehari-hari memberikan diri gue ruang untuk berpikir lebih jernih. Fokus gue tidak lagi soal deadlines, konflik dengan keluarga, dan lain sebagainya. Saat traveling, isi pikiran gue menjadi lebih jernih, lebih fokus pada diri gue sendiri, dan lebih terbebas dari opini-opini orang lain di sekitar gue yang secara tidak disadari bisa membuat gue berusaha untuk menjadi orang yang diinginkan oleh orang lain dan bukan orang yang gue inginkan untuk diri gue sendiri.

Traveling menguji batas toleransi kita

Traveling ke tempat yang luar biasa asingnya buat kita itu akan sangat menguji kesabaran. Nyasar di jalan, ketinggalan kereta, hampir kehabisan uang dan lain sebagainya. Belum lagi konflik-konflik sepele yang bisa terjadi antara kita dengan teman-teman seperjalanan. Semua itu sudah membantu gue untuk mengenali batas toleransi gue; apa yang masih bisa gue maklumi serta apa yang jelas-jelas tidak akan pernah bisa gue terima. Jika sudah demikian, pengambilan keputusan penting di masa yang akan datang akan jadi terasa lebih mudah untuk gue lakukan.

Traveling mengajarkan kita cara-cara ajaib untuk bisa survive sepanjang perjalanan

Contohnya? Gue belajar cara menghemat energi yang paling cocok buat gue dari serangkaian trip yang pernah gue lakukan. Dari situ gue jadi tahu batasan aktivitas fisik yang boleh dan tidak boleh gue lakukan. Gue juga jadi belajar bagaimana cara yang paling efektif untuk meredakan emosi gue (kebanyakan marah-marah bikin trip jadi tidak menyenangkan dan buat gue itu sama saja dengan buang-buang uang, hehe). Pelajaran yang sama lalu gue terapkan dalam kehidupan sehari-hari dan seringkali mendatangkan manfaat untuk diri gue ini!

Traveling membantu kita untuk menemukan apa yang kita suka dan apa yang kita tidak suka

Hidup ini menawarkan banyak banget pilihan dan traveling udah membantu gue untuk mengenali hal-hal apa yang kemungkinan besar akan gue suka atau tidak akan pernah gue sukai. Kenapa bisa begitu? Karena ada banyak banget keputusan yang harus gue ambil sebelum dan saat pergi jalan-jalan. Harus memilih tempat yang akan didatangi, harus memilih akomodasi dan alat transportasi, belum lagi pilihan yang harus gue buat di tempat saat terjadi hal-hal yang tidak gue perkirakan sebelumnya. Berkat semua itu, mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari juga jadi terasa jauh lebih mudah! Buat apa gue buang-buang waktu mencoba sesuatu yang gue tahu tidak akan pernah gue sukai? Ada kalanya gue tetap mencoba hal baru, tapi tetap ada batasannya. Membuat pilihan yang tepat itu rasanya benar-benar menyenangkan! It feels like my time has been very well spent!

Traveling membuat wawasan gue jadi jauh lebih luas

Saat jalan-jalan, gue banyak melihat, merasakan, dan mempelajari hal-hal menarik yang tidak pernah gue ketahui sebelumnya. Hal ini pada akhirnya bukan cuma memberikan wawasan baru buat gue, tapi juga perspektif atau sudut pandang baru atas berbagai hal yang sedang terjadi dalam hidup gue ini. Hal ini juga yang kemudian membantu gue untuk mendefinisikan diri gue sendiri (misalnya, siapa gue, seperti apa sifat gue, dsb…).

Jadi benar deh, traveling itu pada akhirnya memang bukan cuma sekedar pulang dengan cerita dan foto-foto bagus saja, tapi juga tambahan keyakinan soal siapa diri kita ini. Sudah beberapa kali traveling tapi masih belum pernah merasakan apa yang gue rasakan? Mungkin, traveling-nya masih kurang sering, masih kurang jauh, atau, jumlah travelmate-nya terlalu banyak. Coba deh sesekali traveling sendirian ke tempat yang agak jauh; itu trip pertama gue yang akhirnya membantu gue menemukan jati diri gue ini.

Enjoy your vacation and hope you’ll come home with a new real you inside!

Islam Ways of Living

Meskipun gue bukan pemeluk Islam yang luar biasa taat ibadahnya (dan gue sama sekali tidak bangga akan hal ini sih sebenarnya), tapi gue tetap menjadikan ajaran agama gue sebagai petunjuk hidup. Apa yang boleh dan tidak boleh, apa yang sebaiknya gue lakukan dalam situasi tertentu, serta apa yang sebaiknya gue hindari dalam kehidupan sehari-hari. Kenapa demikian? Karena gue selalu menemukan kebenaran di balik ajaran-ajaran itu. Ada banyak sekali pelajaran yang gue dapatkan dari agama gue ini. Bukan sesuatu yang gue dapatkan dari buku pelajaran biologi, fisika, akuntansi, atau mata pelajaran apapun di dunia ini. Bukan pula pelajaran yang diatur oleh Undang-undang negara manapun di dunia ini. Pelajaran-pelajaran yang membuat gue meyakini, inilah agama yang ingin gue peluk, seumur hidup gue.

Dari Islam gue belajar untuk berbagi. Bukan berbagi hanya di saat gue mampu, tapi juga di saat gue sendiri masih menjadi orang yang memerlukan bantuan finansial. Pokoknya selama gue masih mendapatkan penghasilan, maka di situ masih ada kewajiban untuk berbagi kepada mereka yang lebih membutuhkan. Dan gue sama sekali tidak merasa terbebani! It even makes me feel good! Gue malah bangga dan bersyukur bahwa setidaknya, gue masih bisa berbagi meskipun jumlahnya tidaklah seberapa. And the more I give, the more blessings I get in return.

Islam juga mengajarkan gue untuk mengutamakan melunasi hutang. Orang yang gue hutangi bisa jadi sangat memerlukan uang yang pernah mereka pinjamkan. Jangan sampai mereka harus merasa lelah secara fisik dan emosional hanya untuk menagih haknya itu. Jangan sampai gue malah menyakiti dan merugikan orang yang pernah bersedia memberikan gue pertolongan! Dan jangan sampai mereka merasa menyesal pernah bersedia repot-repot membantu kesulitan finansial gue saat itu.

Islam mengajarkan gue untuk membayar hak karyawan gue sebelum kering keringatnya (baca: bayar gaji tepat waktu!). Gue masih ingat masa-masa di mana gue sebagai karyawan masih sering mengalami “tanggal tua”. Kalau sudah sampai begitu, tiap tanggal gajian gue akan rajin ngecek e-banking. Pernah terjadi, gaji telat masuk sama dengan gue tidak punya uang untuk makan siang atau malam di hari gajian itu. Tidak enak kan rasanya? Apalagi jika ditambah utang yang sudah jatuh tempo! Sudah sangat tepat jika Islam mewajibkan umatnya untuk membayar hak-hak karyawan tepat pada waktunya.

Perilaku Nabi Muhammad soal menghargai niat baik orang lain juga mengajarkan gue untuk menghargai pemberian orang lain meskipun gue tidak menyukainya. Suka tidak suka, hadiah itu akan tetap gue pakai untuk menghargai niat baik orang yang memberikannya. Bagaimana jika hal itu malah membuat orang yang ybs malah terus menerus memberikan barang yang sama secara berulang-ulang? Well… selama barangnya bukan barang terlarang, apa sih ruginya buat gue menerima dan memakai barang itu? Kenapa harus menyakiti perasaan orang yang niatnya hanya ingin menyenangkan diri kita sendiri ?

Islam juga mengajarkan gue untuk tidak membungakan uang yang gue pinjamkan. Gue juga tidak mendukung model bisnis yang nominal bunganya sampai mencekik para nasabahnya (bunga sampai puluhan persen misalnya). Kenapa demikian? Karena orang yang sedang dalam keadaan sangat membutuhkan uang untuk keadaan darurat umumnya tidak bisa berpikir jernih. Mereka ingin cari solusi cepat tanpa memperhitungkan kemampuan mereka untuk melunasi hutang beserta bunga puluhan persennya itu. Buat gue itu sama saja menyelesaikan masalah dengan masalah yang jauh lebih besar. Jika nominal bunga ini sudah sampai pada tahap lebih banyak menimbulkan masalah untuk para nasabahnya, maka buat gue, itu sudah masuk definisi riba yang haram hukumnya.

Gaya hidup gue juga kurang-lebih berkiblat pada ajaran Islam itu sendiri. Gue tidak mabuk-mabukan karena gue tidak mau kehilangan akal sehat gue sehingga sampai melakukan hal-hal bodoh yang hanya akan gue sesali di kemudian hari. Gue tidak mengkonsumsi babi dan menghindari air liur anjing karena ada alasan medis yang melatarbelakanginya (sudah pernah lihat video operasi mengeluarkan cacing pita dari dalam lambung manusia belum?). Dan gue juga menjauhkan diri dari zina karena seks bebas sangat rawan dengan penularan penyakit kelamin dan belum lagi resiko hamil di luar nikah (ini benar-benar bisa merusak segala hal yang sudah gue bangun untuk hidup dan masa depan gue banget sih).

Kerennya lagi, Islam juga mengajarkan untuk meninggalkan debat kusir. Bukan berarti tidak boleh mengeluarkan pendapat, tetapi jika pendapat kita itu tidak bisa diterima lawan bicara sehingga malah memicu perdebatan yang tidak ada habisnya, maka cukup akhiri sampai di situ saja. Perdebatan seperti itu tidak akan ada manfaatnya dan sangat beresiko berakhir dengan menyakiti salah satu atau bahkan kedua belah pihak yang terlibat di dalamnya. Jadi jika kalian tidak suka dengan apa yang gue tulis di sini, tolong sampaikan dengan cara yang sopan dan santun ya. Jika sifatnya hanya cercaan yang dapat berujung debat kusir, gue tidak akan menanggapinya.

Lalu bagaimana pendapat gue soal Islam yang memperbolehkan poligami? Well, memperbolehkan itu berbeda dengan mewajibkan lho. Gue sebagai perempuan punya hak untuk menolak. Dan sebetulnya jika dipelajari baik-baik, tidak semua laki-laki diperbolehkan poligami dalam Islam. Coba dipelajari baik-baik dulu ayatnya sebelum terburu-buru mengikuti hawa nafsu!

Yang terakhir gue cuma ingin bilang, gue Islam bukan karena gue terlahir di keluarga muslim. Gue sudah cukup dewasa untuk memilih keyakinan gue sendiri dan gue merasa beruntung terlahir di keluarga yang menganut agama yang juga gue yakini kebenarannya. Islam is a guidance for my ways of living, until my last breath.

The Problem with Many Relationships in Life: We’re Nicer to The Strangers Rather than The Loved Ones

The problem with many relationships in life: we’re oftentimes nicer to the strangers rather than the loved ones.

Need some examples?

We are hesitate to tell the hard truth to colleagues, but we feel like we can tell whatever we want (with no filter) to our families.

We try so hard to be a good employee but we are careless to be a good daughter/son.

We make times for our random cool friends, but we don’t bother to make times (a real good quality times) with our old best friends.

And this is one final example that I often find in married couples: they tried so hard to be a good husband/wife material before they get married, but then they stop trying to become ones after they truly get married.

A friend used to tell me, “Many marriage fails because they both stop trying to impress each other after they get married.” And I find it so true in many other relationships in life too! Not to mention, the closer we are with someone, the less efforts we put to not hurting their feelings too. We don’t hesitate to reveal the worst part of us to the loved ones without considering how it will break their hearts.

Can’t you imagine how awful it might feel? No more good things to celebrate, only boredom and problems to solve. In this kind of relationship, being with them ends up feeling like a burden. It doesn’t feel like home, it’s not comforting and it doesn’t make us a happy person anymore. Until finally, we end up feeling depressed with our own relationships. We either want to run away or we’ve got to hold on and bear all the pains for some things that we deem as “the good reasons”.

I know that if feels good to be surrounded by the people who manage to love us unconditionally. We want them to love and accept us just the way we are. It’s actually human… but then we forget that they are too only a human. And what’s even more concerning is that we forget how love is also a work and love has to be earned not just in the beginning, but also in every single day of our life. A happy relationship is a never ending works and it might be the hardest work we should ever do in our entire life. We only need to work on it unless if we find that it’s okay just to be alone, and lonely.

Life is all about a balance, and so is a relationship. A balance between the comfort of being ourselves and the hard work to be the very best of us for the loved ones. I know for a fact that unfortunately, reaching this “balance” is always the hardest one.

Everytime it feels hard for me to deal with the loved ones, I told myself, “I don’t owe anything to any random people in the office nor any people who only text me a couple times in a year, but I owe a lot of things to my families and best friends.” And then I prioritize my resources (times, energy, and wealth) from there.

From now on, let’s try to do better for our loved ones. If we’re willing to listen to the strangers, listen to our loved ones too. Hear them out! And if we’re willing to work hard just to be “employee of the year”, why don’t we work as hard to be son/daughter or husband/wife of the year too? When we keep trying to be the very best version of us in anything in life, we do it not only for ourselves, but also for the people we care about.