Stop Budaya Bertanya, “Kapan Married?”

Awalnya, malam ini gue lagi asyik nerusin report yang udah lama gue tunda… sampai tiba-tiba, notifikasi Facebook gue berbunyi pelan. Begitu gue berganti layar ke halaman Facebook, ternyata ada comment baru dari temannya teman gue soal status yang intinya berisi sebuah curhatan rasa kesal karena lebaran selalu identik dengan pertanyaan: “Kapan married?”

Sama seperti kaum jomblo pada umumnya, gue juga paling males kalo ditanya kapan merit. Alasan gue:

  1. Kata siapa gue pengen buru-buru merit? Someday I want to, but it’s not my biggest wish right know. Daripada sok tahu mendoakan supaya gue cepet-cepet nyusul 2 adek gue yang udah pada merit itu, mendingan ya mbok doain supaya beasiswa S2 gue tembus gitu… kan ceritanya supaya itu doa tepat sasaran, hehehehe;
  2. Sebagian besar orang yang nanya kapan merit itu adalah orang-orang yang dulunya, saat mereka masih single, mereka juga paling bete kalo ditanyain, “Kapan married?” Kalo pun mau bales dendam, ya bales dendamnya jangan sama gue atuh… Kan yang dulu suka iseng tanya-tanya kapan merit sama mereka itu bukan gue orangnya…
  3. Gue enggak suka dikasihani hanya karena gue belum merit… terutama kalo dikasihaninya sama orang-orang yang sorry to say… pernikahan mereka sendiri gue tau banget penuh dengan derita dan air mata. Is it a kind of invitation to join your ‘misery club’? Kalo berurusan sama orang kayak gini, rasanya gue pengen ngebales, “Mendingan elo urusin deh tuh, rumah tanggalo sendiri…”
  4. Ada beberapa hater yang menggunakan pertanyaan ini semata-mata untuk membuat gue ngerasa ‘incomplete‘. Dari dulu, mereka emang seneng cari-cari celah buat nyindir gue. Padahal kadang lucunya, si hater itu sendiri juga masih belum merit lho. What a world
  5. I’m still 26… and this question always makes me feel like I’m an old woman!

Gue yakin tiap orang punya alasan sendiri-sendiri kenapa mereka masih berstatus lajang. Ada yang masih ingin dengan leluasa mengejar cita-citanya, ada yang merasa belum cukup mapan, ada yang karena faktor belum dapat restu orang tua, atau sederhana saja, mereka masih melajang karena masih belum menemukan pasangan yang tepat. Apapun alasannya, apa susahnya sih, menahan mulut untuk tidak mengajukan pertanyaan usil itu? Ngepain juga nanyain kapan merit kepada orang-orang yang kalian tahu persis mereka tidak berencana menikah dalam waktu dekat? Mereka merit atau nggak merit toh nggak ada untung-ruginya buat kalian?

Mungkin pertanyaan macam ini udah semacam tradisi turun menurun kali ya… Buat beberapa orang, bisa jadi ini bukan a big deal, tapi ada pula orang-orang yang merasa dihantui, atau merasa tertekan dengan pertanyaan ini. Gue kenal beberapa orang yang sampai alergi datang ke resepsi pernikahan, ada pula yang sampai takut pulang kampung, hanya karena takut ditanya kapan merit!

Lalu bagaimana dengan gue sendiri? Kalo gue sih… lebih memilih untuk jaga jarak dengan orang-orang ybs. Masalahnya, tipe orang yang kayak gini ini bukan cuma senang menanyakan kapan merit sampai berulang-ulang saja, tapi mereka juga akan terus-menerus kepo dengan urusan hidup gue di tahap-tahap selanjutnya. Nggak worth keeping aja gitu kalo menurut gue.

Finally… saran gue buat teman-teman yang masih single… gue ngerti, hati pasti panas, tapi sebisa mungkin, bereaksi tenang-tenang aja. Don’t give them a satisfaction, not either a new juicy gossip, by being angry with their question. Jangan pula terbebani dengan pertanyaan macam ini… karena faktanya, banyak orang yang jadi lantas sembarang pilih pasangan hidup hanya karena capek ditanya kapan merit!

Lebih baik nikmati saja sisa-sisa hidup kita sebagai lajang, karena sekalinya kita getting married, masa-masa itu tidak akan pernah terulang kembali. Makanya kalo gue bersyukur masih single di umur segini… soalnya gue ini kan tipe orang yang punya banyak banget keinginan, dan gue maunya saat merit nanti, gue udah puas dengan berbagai macam keinginan gue itu. Gue udah puas dengan pencapaian karier gue, level pendidikan gue, udah puas jalan-jalan melihat dunia, udah puas keluyuran tanpa perlu mikir ada keluarga yang menunggu di rumah… sehingga pada waktunya gue menikah, gue sudah lebih ikhlas sekaligus sudah siap memulai hidup yang benar-benar baru. Getting married for forever is a long time… a very very long time, so why should we do it in a rush? What’s wrong with enjoying our short single times?

So guys… let’s move on! Mari kita anggap aja pertanyaan kapan merit itu sebagai the art of life. Kemudian yang paling penting… mari kita jadi generasi pertama yang berhenti mengajukan pertanyaan nggak penting ini. Kalau nanti kita sudah merit, jangan gantian usil nanya-nanya kapan merit kepada kenalan yang masih single! Kalaupun masih pengen tetep membudayakan pertanyaan ini… ya sudahlah… Pastikan saja pernikahan kalian sendiri akan selalu happily ever after, supaya kalian enggak malu sama kaum single yang kalian tanya-tanya itu.

 

P.s.: Semoga enggak ada yang tersinggung sama tulisan gue ini yah… Mumpung masih suasana lebaran, mohon dimaafkan kalo ada salah-salah kata, hehehehe.

10 Hal Kecil yang Bisa Bikin Gue Happy

  1. Ditraktir dan dikasih hadiah, berapapun harganya. Semakin ke sini, semakin sedikit orang yang kasih gue hadiah. Bukannya gue matre atau apa, tapi rasanya terharu aja gitu… Walau cuma ditraktir bakso, gue udah seneng banget!
  2. Lihat-lihat online shop punya temen gue. Gue juga bingung ya… tapi tiap ada temen yang minta gue lihat-lihat online shop mereka, gue suka ngerasa happy for them aja gitu;
  3. Didandanin. Ini gue juga bingung apa sebabnya gue suka banget kalo lagi didandanin orang lain… Hmm, it makes me feels like a princess maybe? Hehehehe;
  4. Dapat pujian atas kinerja gue di kantor, atau, pujian atas tulisan gue di blog 😉 Pujian yang sifatnya menjilat atau dibuat-buat tidak masuk hitungan lho yaa;
  5. Finding something old! Misalnya, nggak sengaja nemuin film kenangan di HBO, nemuin foto bayi mantan gebetan di laci meja belajar, nemuin surat dari sahabat kecil gue dulu… dan masih banyak lagi!
  6. Fitting ulang semua hasil belanja gue. Setiap kali baru pulang belanja, sue suka pake baju yang baru gue beli, kemudian gue pamer ke adek, nyokap, atau siapapun yang ada di rumah, “Baju baruku bagus nggak?” Hehehehe;
  7. Gue selalu hepi tiap kali ada teman yang mengungkit kebodohan kita di masa yang lalu… Itu dia fungsinya sahabat lama: untuk mengenang masa muda, hehehehe;
  8. Beli barang berwarna pink! Terutama kalo ada gambar Hello Kitty-nya, hehehehe;
  9. Nyiapin itinerary buat acara jalan-jalan berikutnya. Baru tahap bikin itinerary aja udah bikin gue excited banget!
  10. Masa-masa pdkt… Senyum-senyum kecil kalo inget gebetan itu rasanya priceless banget deh.

10 Hal Kecil yang Bisa Bikin Gue Ngerasa Bete

  1. Gue paling sebel kalo ada orang yang ogah foto sebelahan sama gue hanya karena ngerasa gue terlalu tinggi. Sekali dua kali masih nggak papa, tapi kalo keseringan, rasanya annoying juga. Mereka toh nggak akan suka kalo gue juga melakukan hal yang sama kepada mereka…
  2. Dalam situasi tertentu, gue ngerasa nggak sreg saat melihat ada lebih dari 1 tanda tanya berturut-turut di akhir kalimat. Rasanya kayak lagi dibentak gitu;
  3. Gue nggak suka sama orang yang suka nggak balas SMS/e-mail/chatting gue. Entah kenapa, pertemanan gue dengan orang-orang tipe ini enggak pernah bisa bertahan lama;
  4. Gue nggak pernah ngerasa nyaman dengan teman yang usaha banget buat jadi ‘mirip’ sama gue. Semua yang gue beli, dia beli juga. Semua tempat yang pernah gue kunjungi, dia ikutan pergi ke sana juga. Padahal dia belum tentu butuh, belum tentu suka, tapi anehnya tetep aja dia ‘copy-paste’. Senang sih, bisa jadi inspirasi buat orang lain, tapi ya enggak segitunya juga;
  5. Gue nggak suka kalo ada orang yang ngejelekin atau mandang rendah atau menjadikan jokes tentang almamater gue, tempat kerja gue, anggota keluarga gue, dan teman-teman dekat gue, apapun alasannya;
  6. Gue nggak suka sama undangan pernikahan dan ucapan selamat lebaran yang dikirim via broadcast BBM. Nggak niat banget siih? Usaha dikit kenapa…
  7. Gue ngerasa nggak nyaman kalo ada orang yang mengajukan pertanyaan persis di depan gue kepada orang lain setelah dia menanyakan hal yang sama ke gue;
  8. Gue nggak suka suka kalo orang lain come up with: gaji per bulan gue, limit kartu kredit gue, dan utang-piutang gue. It’s privacy!
  9. Gue nggak suka kalo orang yang gue curhatin malah ngebelain orang yang lagi gue sebel… Nasehatinnya nanti aja kalo gue udah cool down; dan
  10. Kalo kepala lagi panas, situasi sedang genting, orang lain malah asyik tertawa terbahak-bahak dengan ‘timnya’ sendiri, biasanya malah bikin gue jadi tambah bete. It’s not helping and not professional if you do this at work.

Jangan Sia-siakan Usia Kepala 2

Baru-baru ini, gue baca artikel keren soal usia 20-an. Klik di sini untuk original article yang akan gue kutip dalam tulisan ini, lalu pilih “View As List“. Ada baiknya, teman-teman baca dulu artikel aslinya sebelum lanjut membaca tulisan gue ini.

Saat gue pertama baca artikel itu, gue tidak bisa berhenti merasa kagum di dalam hati. Wow… artikelnya keren banget! Tapi saat gue lanjut baca ke bagian comments… wah, ternyata ada banyak banget komentar negatif lho. Rupanya ada beberapa opini penulis yang dianggap kontroversial oleh para pembaca.

Nah, sekalian untuk sharing dengan teman-teman pembaca blog gue, berikut ini tanggapan gue soal poin-poin yang banyak dikritik dari artikel tersebut.

 

Learn to Dress Well

Ada salah satu pembaca yang berkomentar, “”Women need to learn how to wear dresses and walk in heels (walk, not waddle)…” Thank you for teaching me the secret to success. Who needs a college degree when you have stilettos!”

Padahal kalo menurut gue, yang dibilang sama si penulis itu ada benarnya lho. Sejak usia 20-an, perempuan harus belajar cara pakai high heels. Makin tinggi cita-cita kita, maka semakin besar pula kemungkinan kita dihadapi dengan occasion yang mengharuskan kita pakai high heels. Misalnya kita diundang ke gala dinner atau black tie party, masa’ iya kita mau pakai flat shoes? Belum lagi ada cukup banyak perusahaan besar yang mewajibkan karyawan perempuannya pakai high heels. Atau misalnya suatu hari getting married, apa iya ingin tetap pakai flat shoes?

Saran gue, berlatih pakai high heels dari sekarang, supaya pada saat kita benar-benar harus memakainya, kita sudah bisa berjalan dengan lancar!

 

Start to accumulate a fortune…

Ada beberapa komentar yang menentang poin ini… Rupanya target mengumpulkan aset senilai satu juta dolar (alias sepuluh milyar rupiah) di usia 30-an dianggap target yang terlalu ambisius. Padahal kalo menurut gue… apa salahnya sih, punya cita-cita setinggi langit? Gue tipe orang yang percaya bahwa cita-cita itu harus setinggi langit, supaya segagal-gagalnya, pencapaian gue at least masih setinggi pohon kelapa, hehehe.

Ada pula komentar yang bilang… hal ini cuma bisa dicapai oleh orang-orang yang terlahir kaya raya. Kalo menurut gue sih, enggak juga kok. Di Indonesia saja, ada beberapa pengusaha yang berhasil mencapai prestasi ini di usia muda kan… Sebutlah satu yang paling fenomenal; Merry Riana yang populer dengan bukunya, “Mimpi Sejuta Dolar.”

Kalaupun ada orang yang tetap tidak setuju dengan ambisi macam ini… kenapa juga sih, harus meninggalkan komentar negatif? Si penulis punya cita-cita setinggi itu toh tidak merugikan siapa-siapa? Stay calm and focus with your dream! Anyway… line pake kata-kata ‘stay calm’ itu dari mana asal mulanya sih? Hehehehe. Serius deh… kalo ada pembaca yang tahu jawabannya, tolong share via comment 😀

 

Surround Yourself with People that You Would Like to Keep Around

Untuk poin yang ini, gue menemukan komentar, “”Do people in their 30s make new friends?” F**k yes they do. I’m still in my 20s but a fair share of my friends are older than I and all the better at connecting with people because of their life experience. I never want to stop making new friends.”

Gue setuju dengan komentar bahwa making new friends itu tidak terbatas di usia 20-an, tapi gue juga setuju bahwa usia 20-an merupakan usia terbaik untuk cari teman. Kenapa begitu? Berikut alasan pribadi berdasarkan pengalaman pribadi gue:

  1. Entah kenapa, teman-teman terbaik di masa kecil s/d masa remaja belum tentu bisa menjadi teman baik setelah kita dewasa. Ada teman-teman yang tiba-tiba berubah jadi hater, ada yang jadi suka jaga jarak tanpa alasan jelas, ada pula yang setelah dewasa, gaya hidupnya jadi tidak sesuai dengan gaya hidup gue. Misalnya, terlalu nakal dan liar…
  2. Sejak mulai punya penghasilan tetap, gue jadi cukup sering menemukan orang-orang yang mendekati gue hanya karena ada maunya. Gue dengan senang hati menolong orang lain, tapi kalau orang itu hanya datang saat ada maunya, itu lain cerita! Belum lagi orang-orang yang sengaja mendekati gue untuk kepentingan politik kantor… Sejak itu, gue jadi mikir, “Apalagi kalo nanti gue udah jadi milyarder yah? Ada seberapa banyak lagi orang-orang yang cuma mau manfaatin gue?” Dari situ gue ngerasa, dengan asumsi gue makin sukses seiring dengan pertambahan usia, maka semakin lama akan semakin sulit untuk menemukan genuine friends. Itulah alasannya… mumpung di umur segini gue belum tajir-tajir banget, gue mulai melakukan apa yang dibilang oleh penulis artikel ini, “Surround myself with people that I would like to keep around.
  3. Dengan asumsi umur 30-an gue udah merit, maka gue setuju bahwa usia 20-an adalah usia terbaik untuk mencari sahabat sejati. Soalnya kalo gue lihat, social times perempuan yang sudah menikah itu menurun drastis terutama setelah melahirkan anak pertama. Apalagi kalau udah ada anak ke dua dan seterusnya?
  4. Berdasarkan pengamatan gue terhadap para orang tua di sekitar gue… memang benar lho, mayoritas sahabat mereka itu sahabat dari usia 20-an. Mayoritas dari mereka, sudah tidak begitu tertarik mencari teman baru di usia mereka yang sekarang. Biasanya sih, karena mereka lebih memilih untuk fokus kepada pekerjaan dan keluarga mereka masing-masing.

 

Date the Wrong Persons

Untuk dua kalimat pertama dalam poin ini, gue setuju banget: “I am a strong believer that in order to date the right person, you first have to date the wrong person. Otherwise you will always question whether or not you made the right decision by committing.” Gue sendiri juga jadi punya gambaran soal kriteria Mr. Right setelah gue tahu cowok seperti apa yang pasti masuk kriteria Mr. Wrong-nya gue.

Sebetulnya poin ini mengandung nasehat yang keren… tapi sayangnya, si penulis merusak nasehat keren ini dengan kalimat lanjutan, “Dating can be pricy, so you may just want to skip the dinner and just sleep around a bit.”

Just sleep around kok kesannya murahan banget gitu, hehehehe.

 

Overall, gue pribadi suka banget sama artikel itu. Nyaris semua hal yang tertulis di situ adalah hal-hal yang sudah gue terapkan sejak pertama kali menginjak usia 20-an.

I always try to let go of my past and look forward to my future.

I’ve stopped acting like a teenager and embrace the fact that I am an adult now.

I’ve dressed much better than my teen ages. I put some make-up, take care of the pimples, collecting nice dresses, shoes, and handbags. And yes… I wear high heels everyday!

I start accumulating my fortune from my own hard work.

I always try to adapt with rapid changes in life without leaving my principals behind.

I definitely have outlined the most important characteristic in the man I’m looking for. I will write down more about this later.

I’ve tried so hard to reestablish my good relationship with my parents.

I’ve surrounded myself with my best friends those I want to keep for the rest of my life. I’ve removed some but I will always fight for some others too.

Find work that I love doing… Yes, I’m still working on it and hope I could achieve it immediately!

I’ve tried to get my dream body… but it’s terribly hard for me to gain more weight, hehehehe.

I read much more news to keep up to date with current events… but you know, sometimes a nice game after whole day work looks more tempting, hehehehe.

I never stop reading, no matter how busy I am. People say I’m already good on doing my job, however, that’s not an excuse for me to stop reading more books.

I’ve clearly outlined my life goals! My genuine blog readers must know this so well, hehehe.

Get out of debt… I still have car and apartment installments but I want to repay them before 30.

Begin to put money in the bank and learn to leave it there… It’s difficult but I’m trying, hehehe.

I’ve got my own place… but too bad I’ve chosen wrong developer who hasn’t finished building the apartment since 3 years ago!

I’ve supported myself, and yes, I am a survivor on my own feet.

 

Setuju tidak setuju dengan isi artikel ini, satu hal yang pasti: jangan sia-siakan usia kepala 2. Mulailah bekerja keras dan belajar bersikap bijaksana. Banyak keputusan penting yang kita buat di usia ini; keputusan-keputusan yang akan mempengaruhi jalan hidup kita selama-lamanya… Jadi, pastikanlah kita sudah mengambil keputusan yang tepat!

Prinsip gue, jangan bersantai-santai, kita tidak hidup selama-lamanya… tapi jangan juga menjalani hidup dengan terburu-buru… nikmati tiap fase kehidupan, karena fase itu tidak akan terulang dua kali. Bahagiakanlah diri kita sendiri, dan lakukanlah hal-hal yang dapat membuat kita bangga terhadap diri kita sendiri! Makanya… gue ingin mengisi usia kepala 2 gue dengan hal-hal bermanfaat; hal-hal yang gue tahu akan selalu gue banggakan hingga akhir usia 🙂

Enjoy you 20’s, work hard, and hope you’ll have such a good time!

5 ‘Mantra’ Andalan

Sebelum gue mulai, jangan salah sangka dulu yah… Mantra yang gue maksud di sini bukan mantra sihir atau guna-guna, tapi kalimat andalan yang sering gue bilang sama diri gue sendiri di saat-saat tertentu. Semacam kalimat penyemangat buat diri sendiri kali yaah.

Nah, berikut ini, daftar mantra andalan gue:

Semua badai pasti berlalu, pasti…

Ini kalimat yang pernah dua kali gue jadikan status Facebook, plus sering gue sebutkan dalam hati, saat gue sedang melewati masa-masa yang luar biasa sulit. Kadang di saat panik dan tertekan, gue suka lupa bahwa semua kesulitan itu pasti akan berlalu, dan hanya dengan mengingat semua itu nantinya akan berlalu, selalu bikin gue jadi lebih tenang.

God will give the best way out, just right in time…

Nah, kalimat yang ini biasa gue ucapkan kalo udah mulai nggak sabaran… kenapa sih, doa gue masih belum dikabulkan sama Tuhan? Kalimat ini merupakan upaya gue untuk kembali percaya bahwa Tuhan akan memberikan jalan keluar yang terbaik buat gue, tepat pada waktunya.

Whatever will be, will be…

Kalo pada akhirnya gue mulai pasrah, udah mulai nyerah, ini dia kalimat andalan gue… Ada kalanya, sekeras apapun gue berusaha, tetap ada hal-hal yang tidak akan pernah bisa gue kendalikan. Jadi ya sudah… apa yang akan terjadi, terjadilah.

I want to be a big girl so that I can be a big person…

Ada kalanya, tidak peduli sekeras apapun gue berusaha, hasil kerja keras gue itu belum tentu diapresiasi oleh orang lain. Malah entah kenapa, semakin ke sini semakin banyak aja orang yang senang meremehkan pencapaian yang gue punya. Kadang rasanya gue pengen marah, pengen ngebales rasa sakit hati gue, tapi gue selalu bilang sama diri gue sendiri… gue harus belajar berbesar hati. Gue punya banyak doa, karenanya gue sangat ingin jadi orang yang pantas dikabulkan segala doa-doanya. I do really hope that I could be a big girl who deserves to be a big person.

Someday I’ll live the life I’ve been dreaming of…

Belakangan ini, gue sering ngerasa karier gue stuck di situ-situ aja. Ada pula beberapa hal yang bikin gue ngerasa, “I deserve much better than this!” Kalo cuma mau nurutin emosi, gue bisa aja kabur secepatnya. Tapi masalahnya, my dream is much bigger than that! Gue punya mimpi besar yang perlu upaya luar biasa keras dan waktu yang sangat lama untuk bisa sampai ke sana. Makanya, di saat-saat seperti ini, gue selalu bilang sama diri gue sendiri… “Sabar… suatu hari, gue pasti bisa menjalani hidup sesuai impian.”

It’s difficult… but doable…

Gue nyadar banget bahwa prinsip-prinsip gue itu susahnya setengah mati buat diwujudkan… It’s so hard to live with principal and idealism like this. Tapi gimanapun gue percaya… kita harus menetapkan standar setinggi-tingginya supaya sejatuh-jatuhnya nggak bakalan jatuh banget. Besides, it doesn’t feel like me if I don’t fight for my own principal. Segala sesuatu yang baik itu biasanya memang susah untuk dijalankan, tapi jika hasilnya bisa bikin gue jadi orang yang lebih baik, kenapa tidak? Memang susah, tapi tidak mustahil! 

Dear God

Dear God;

Today I have something to ask… I would like to humbly ask for Your guidance.

My dear God… please help me to see my mistakes, clearly, as well as I could easily see other people’s mistakes.

Please God… don’t let me take a wrong direction. Don’t let me make a decision when I’m angry. Don’t let anything or anyone cloud my own judgment. Please guide me to always do the right things in my life.

Please let me being surrounded by good people. I may be someday in the same places with the bad guys, but please God… don’t ever let me being a part of them. Protect me from their influences and don’t ever let me think it’s okay to do those horrible things just because they do it all the times.

God… thank you for the decent life You have given to me. Please keep me away from being greedy, from taking the pennies I don’t deserve, and from worship money beyond everything. Please bless me for everything I do to earn my life, my dreams, my future.

My dearest God… as I do always try to be a good person, then I believe You already have a good man to stay with me for the rest of my life. I may fall for the wrong ones sometimes, but please God, don’t let me be blinded continuously. Kindly wake me up and give me strength to walk away.

If I finally have found my Mr. Right, please give me strength to hold on, to never give up on him, to love him and cherish every moment with him until my last breath. When hard times come to us, please do remind me to the very first days I fell in love and to every single day which ever made me want to be with him for eternity.

Dear God… you are the One who knows all of my flaws. I don’t always fulfill my promises to You, missed my Prayer to get close to You, I make mistakes, I hurt the people whom I love, but at the end of my life, I only want to be remembered as a good person. So please… I’ll always need You to guide me walking on the right path. Maybe someday I’ll get lost, but please… do always give me a way back home.

 

With love;

Riffa.

Because Finally, Life is a Solo Trip

Seperti yang gue tulis sebelumnya, salah satu harapan gue dari solo trip ke Bangkok minggu lalu adalah kepingin punya me time, supaya gue bisa berpikir lebih jernih tanpa terdistorsi omongan-omongan orang lain tentang hidup yang gue jalani. Harapan gue, saat pulang, stres gue sudah hilang, hati gue lebih lapang, dan gue mulai bisa menyelesaikan rentetan masalah gue, satu per satu.

Lalu bagaimana hasilnya? Berhasilkah?

Selama di Bangkok, boro-boro gue punya waktu untuk merenung. Waktu gue sebagian besar habis untuk belanja, makan, belanja lagi, nonton show, abis itu belanja lagi… Bahkan saat sedang duduk di dalam skytrain pun, otak gue selalu sibuk dengan berbagai hal. Sibuk mengamati gaya berpakaian orang Thailand, sibuk mengamati pemandangan di luar jendela, sibuk mikir nanti di blog gue mau nulis apa, atau tentu saja, sibuk berpikir, “Ini gue nggak nyasar kan ya? Nggak salah ambil kereta? Stasiun yang gue tuju udah kelewatan belum ya?”

Seriously, I had no time to think about my problems, not either the reality I had to face after the trip was over. I really enjoyed every minute of it. Bahkan saat nyasar pun, gue sibuk berpikir, “Ah, sial, gue salah pilih hotel! Hotel yang ini kelihatan lebih mewah, atau hotel yang itu lebih deket ke stasiun skytrain…” Atau itu tadi, sibuk merangkai kata dalam kepala soal petunjuk jalan yang akan gue sharing di blog supaya para pembaca nggak bakal nyasar kayak gue, hehehehe.

Barulah saat hari terakhir gue di Bangkok, saat gue duduk diam di dalam taksi menuju bandara… gue kembali teringat, bahwa masa ‘hibernasi’ gue akan segera berakhir. Gue pun mulai sibuk memikirkan langkah-langkah yang harus gue ambil. Dan anehnya, solusi yang muncul di kepala gue sebetulnya masih sama dengan solusi yang pernah terlintas di benak gue sejak jamannya masih di Jakarta. Lho, kalo begitu sih, gue tetep nggak dapet inspirasi apa-apa dong dari perjalanan gue itu?

Pada titik itulah gue menyadari… solo trip tidak akan mengubah keadaan. Pergi liburan tidak akan mengubah sikap orang-orang yang menyakiti perasaan gue. Tidak pula membuat mereka jadi bisa memahami isi hati gue. Orang-orang juga akan tetap selalu sibuk dengan komentar-komentar mereka. Dan apapun yang memang ditakdirkan untuk terjadi, suka tidak suka, siap tidak siap, akan tetap terjadi dan akan tetap harus gue hadapi.

However, since everything happens for a reason, at least that solo trip has made me learn that whatever happens in life, I will always survive even if I’m all alone. Gue pun kembali teringat dengan mimpi-mimpi yang belum berhasil gue wujudkan, dan teringat bahwa pada dasarnya, gue hanya bisa mengandalkan diri gue sendiri untuk meraih semua impian itu. Sama seperti Bangkok trip gue… Gue kepingin liburan, tapi nggak ada satupun teman yang bisa diajak pergi dadakan. I wanted this so bad, so if I had to go there by myself, then be it. Lalu hasilnya? It was one of the best trips in my whole life.

Gue bersyukur punya begitu banyak sahabat yang mengisi perjalanan hidup gue. Terkadang saat melihat betapa baiknya mereka sama gue, gue suka bertanya-tanya di dalam hati, “What kind of good deeds I’ve ever done that makes me deserve this?” But again… no matter how many great people I have around me, there is still some times when everything I have is simply just me. All those dreams, my future life, the way I live my life… it all depends on me. Yes, it’s all on me, because finally… life is a solo trip.

Kenapa Gue Traveling Sendirian?

Untuk trip gue selanjutnya di bulan depan, gue lebih memilih untuk traveling sendirian ke Bangkok, Thailand. Semua orang yang gue ceritakan soal rencana gue itu selalu kelihatan kaget dan bertanya, “Kenapa sendirian?”

Well, ini jawabannya…

  1. Niat awal ada temen barengannya… tapi tiba-tiba aja pada cancel semua. Satu orang karena nggak boleh sama pacarnya, satu lagi nggak dapet ijin cuti dari bosnya;
  2. Udah bête sama 2 orang pertama, gue jadi nggak excited sama orang-orang lain yang nanya-nanya karena kepengen ikut;
  3. Tiba-tiba gue teringat sama salah satu things to do before 30-nya gue: traveling abroad sendirian. Tadinya gue berniat mewujudkan cita-cita traveling sendirian ini ke Singapura dalam rangka Singapore Great Sale, tapi setelah gue pikir-pikir… apa bedanya sama Bangkok?
  4. Gue pun meneruskan bikin itinerary dan budget meskipun cuma sendirian… dan ternyata, hal itu malah bikin gue jadi excited! Gue bebas pilih hotel yang gue suka, bebas pilih duduk di bangku VIP saat nonton show, dan bebas belanja sepuas-puasnyaa, hehehehe;
  5. I really need a me time right now. Setahun belakangan ini udah jadi tahun yang berat banget buat gue. Dengan segitu banyaknya orang yang harus gue urusin, a short quiet me time will be nice;
  6. Faktor stres sama kerjaan bikin gue jadi malas ribut-ribut sepanjang traveling nanti. Gue kepingin traveling dengan damai… dan tiba-tiba gue teringat sama shopping day gue di Seoul tahun lalu. Waktu itu ceritanya gue mencar sendirian buat belanja keliling Seoul. Dan hasilnya? It was my best day in Seoul 😀
  7. Siapa tahu dengan pergi sendirian bikin gue jadi lebih menghargai teman seperjalanan… supaya next year saat liburan ke Jepang bareng beberapa orang teman, gue udah ikhlas untuk kembali traveling in team. Dalam bayangan gue… bagian paling berat dari traveling sendirian adalah… nanti siapa yang fotoin gue??? Hehehehe.

Lalu bagaimana nanti hasilnya… traveling tanpa ada teman yang mendampingi? Well, tunggu cerita gue di blog ini, 3 minggu lagi 😀

Gara-gara Mario Teguh

Beberapa waktu yang lalu, Mario Teguh bikin status begini di Facebook page-nya:

“Kita berdoa sebelum makan. Tapi banyak orang memotret makanannya dan share via BB atau iPhone, agar temannya iri. ASIMH.”

Jadi ceritanya, Mario Teguh sedang gemar menulis status yang berbau-bau ‘humor’. ASIMH itu sendiri merupakan singkatan dari: Awas Status Ini Mengandung Humor.

Pertanyaannya… benarkah status itu dia buat murni untuk melucu? Gue kok malah jadi teringat sama teman-teman yang suka sengaja membuat lelucon yang sebetulnya dimaksudkan untuk menyindir orang-orang tertentu ya? Dan kenapa Mario Teguh malah ikut-ikutan jadi orang sinis seperti itu?

Kalau mau positive thinking, bisa saja Mario Teguh tidak bermasuk bilang bahwa SEMUA orang yang suka upload foto makanan itu berniat pamer. Tapi entah kenapa, hal ini malah mengingatkan gue sama seorang teman yang pernah menulis status yang menyudutkan wanita karier. Dia berdalih, dia bikin status itu untuk menyindir salah satu temannya, tapi ternyata, banyak sekali teman Facebook-nya merasa tersinggung dengan isi statusnya itu. Lagi-lagi gue berpikiran… kenapa Mario Teguh malah ikut-ikutan jadi orang usil?

Lebih buruknya lagi, status Mario Teguh terkait upload foto makanan itu disukai oleh ratusan penggemarnya! Bukan cuma itu… para penggemar status itu malah menambahkan begitu banyak komentar yang isinya justru lebih provokatif dari isi status itu sendiri.

Yang paling gue ingat adalah komentar dari salah satu penggemar Mario Teguh yang intinya mengatakan, di Facebook itu memang banyak orang sombong. Dia setuju bahwa upload foto makanan itu sama dengan pamer, dan upload foto-foto dan cerita liburan ke luar negeri itu namanya tidak tahu diri! Masih menurut orang yang sama, harusnya daripada dipakai buat jalan-jalan ke luar negeri, lebih baik uang tersebut dipakai untuk menolong orang-orang yang tidak mampu! Ouch…

Akhir tahun lalu, seorang teman Facebook pernah share opini seorang warga negara asing yang pernah tinggal di Indonesia. Ceritanya, si bule ini sedang menjawab pertanyaan, “What do you think about Indonesia?” Berikut ini kutipan jawabannya (tidak gue ganti satu kata pun):

“People get jealous easily when it comes to wealth, they become sensitive when talking to richer people.”

“Almost all poor people don’t like rich people. Any activities made by rich people often considered as “showing off” by lower-middle class people like for example, if you buy branded handbags like Louis Vuitton or Gucci, people might think you’re buying those stuffs only for showing off, this research has been done by sociologists.

“My friend’s Mercedes engine broke down in the middle of the road and many people laughed at him saying, “How come an expensive car could have problems” and they will mock you. Being a rich person in Indonesia could be hard sometimes as it’s hard to get friends. If you’re rich in Indonesia, try to cover up your wealth, don’t let them know if you’re rich or else they will get jealous at you.

Baca komentar si bule itu rasanya memang tidak mengenakkan… tapi gue benar-benar bisa mengerti dengan apa yang dia rasakan. Padahal mobil gue bukan Mercy atau BMW, handbag gue juga belum sampe ke level LV dan Gucci, tapi tetap saja… meskipun gue sama sekali belum sekaya itu, gue sendiri sudah merasakan bahwa tidaklah mudah menjadi orang kaya di Indonesia. I already realize that the richer you are here, the more enemies you would have just by doing nothing.

Gara-gara Mario Teguh, berbagai pikiran acak berebut muncul di benak gue…

Di Indonesia ini, bikin status check-in di fast food restaurant dianggap wajar. Tapi bikin status check-in di restoran hotel bintang lima, itu dianggap pamer. Gue sendiri sesekali masih suka makan di Pizza Hut dan KFC, tapi gue tetap ngerasa tidaklah adil buat orang-orang yang lebih mampu yang memang setiap harinya hanya makan siang di restoran menengah ke atas. Jika semua check-in mereka dianggap pamer, berarti mereka nggak boleh pernah check-in hanya supaya tidak dianggap pamer gitu? Jadi hanya orang menengah ke bawah yang boleh memanfaatkan fitur check-in?

Kemudian, gue suka upload foto liburan gue sama sekali bukan untuk pamer… Traveling itu salah satu hobi gue, dan salah satu hal yang paling berharga dari pergi liburan itu adalah foto-fotonya, dan Facebook merupakan salah satu media penyimpanan yang palig aman. My laptop could crash someday, but my pictures in Facebook, they will still stay safe

Gue juga suka nulis cerita perjalanan gue di blog ini bukan untuk menyombong. Saat tengah mempersiapkan perjalanan, gue sering merasa terbantu dengan tulisan dari blogger lain. Makanya setelah pulang dari liburan, gue juga ingin melakukan hal yang sama: membantu traveler lain untuk mempersiapkan perjalanannya.

Dan ya, gue juga sesekali suka upload foto makanan dan minuman gue ke Facebook disertai dengan tulisan berisi pendapat gue soal menu tersebut. Ingin pamer? Come on… nggak semuanya makanan mahal kok. Ada pula satu gelas Thai Ice Tea seharga Rp. 15.000 yang gue sharing di situ. Gue cuma senang berbagi info makanan dan minuman enak, apalagi yang namanya menulis itu kan memang hobi nomor satunya gue. Jadi apa salahnya sih?

Sekali lagi gue nggak tahu maksud sebenarnya dari Mario Teguh. Seram juga kalo blog gue ini dibanjiri hujatan dari para penggemar fanatiknya Mario Teguh, hehehehe. Intinya sih, gara-gara status Mario Teguh, gue jadi terinspirasi buat bikin tulisan ini. Gue jadi teringat betapa di Indonesia ini, sangat mudah sekali untuk kita dicap sombong dan suka pamer oleh orang-orang di lingkungan kita sendiri.

Like this blog or hate this blog, let’s just learn a lesson from itUpload foto makanan, foto liburan, itu nggak dosa, enggak pula merugikan orang lain sama sekali. Yang dosa dan merugikan itu justru kalau kita mengotori hati dengan pikiran buruk. Kalaupun benar orang ybs berniat pamer, so what? Apakah upaya pamer mereka itu bikin hidup kita jadi susah? Enggak kan? Malah kalo menurut gue, saat melihat keberhasilan orang lain, daripada sibuk menjelek-jelekkan orang ybs, kenapa kita tidak berdoa dalam hati supaya kelak, kita juga bisa sama suksesnya dengan mereka?

Balik lagi ke Mario Teguh… ada lagi nih salah satu status dia di Twitter yang menurut gue kurang pantas untuk ukuran motivator seperti dia. Begini isi tweet-nya:

“Jangan terlalu bangga jika anak kecil anda sudah bisa bahasa Inggris. Semua anak kecil di Inggris juga begitu.”

Apa pendapat gue? Jangan deh, nanti blog ini bisa nggak selesai-selesai, hehehe. Yang jelas segera setelah gue baca tweet Mario Teguh yang terakhir gue kutip itu, gue langsung memutuskan untuk unfollow dia. Daripada gue jadi ngerasa tersindir terus-terusan (yang padahal dia juga gak kenal sama gue), lebih baik gue unfollow saja kan?

This Girl is On Fire!

Sudah jadi cita-cita sejak jamannya masih kanak-kanak, gue kepingin ngerasain kuliah di luar negeri. Setelah kerja, keinginan untuk hal itu terasa semakin kuat. Gue kepingin banting setir, kepingin kerja jadi Business Consultant di Consulting Company papan atas, dan untuk itu, gue harus punya gelar MBA. Secara program MBA itu cuma ada di luar negeri dan terkenal sangat mahal, beasiswa sudah jadi satu-satunya option buat gue.

Dua tahun yang lalu, gue pernah coba apply beasiswa yang disediakan pemerintah Australia. Gue pilih MBA meskipun sebetulnya tidak ada di preferred program mereka. Lalu hasilnya? Gagal, tentu saja, secara sampe sekarang gue masih di sini-sini aja 😀 Kemudian dari hasil ngobrol-ngobrol sama beberapa blog reader yang pernah dapet MBA scholarshipgue disarankan coba Fullbright (program beasiswa US) dan harus kejar GMAT score setinggi-tingginya. 

Sejujurnya, saat tahu soal GMAT, semangat gue sempat mengendur. I’m not good at Math, at all. Itulah alasannya kenapa gue bisa jago Microsoft Excel, salah satunya demi menutupi kekurangan gue buat urusan matematika 😀 Kemudian sempat ada kenalan yang menyemangati… GMAT score masih bisa didongkrak dengan kursus. Yang penting, good English and knows the trick. Gue pun mulai nge-Google, dan ketemu satu tempat kursus GMAT yang paling populer di Jakarta: PASCAL. Gue simpan link-nya, dan berniat daftar jika ada waktu luang.

Seiring berjalannya waktu, soal ikut GMAT preparation class seolah terlupakan dengan sendirinya. Dan tau-tau aja, gue malah udah siap-siap mau ambil PPAK! Kenapa gue malah memprioritaskan PPAK meskipun dalam hati kecil, gue kepingin banting setir dan meninggalkan dunia akuntansi?

Well, accounting is my comfort zone. There’s no doubt, I am good at it. Gue pernah coba karier jadi accounting software consultant, auditor, lalu sekarang, company accountant, dan semuanya selalu berjalan mulus. Dan gue khawatir… keberhasilan yang sama tidak akan gue dapatkan kalo gue banting setir. Makanya, gue pikir PPAK bakal lebih sesuai buat gue daripada GMAT program

Alasan lainnya, bekerja jadi business consultant sama saja gue kembali kepada kehidupan karier tanpa jeda. Crazy overtime and working from client to client… Gue masih ingat gimana beratnya hidup dengan jam tidur kurang dari 6 jam setiap harinya. Bangun tidur susahnya setengah mati, jadi dapet penyakit yang nggak pernah gue derita sebelumnya, nggak punya cukup waktu buat mikirin penampilan… Do I really want to go back to that kind of life? Belum lagi kenyataan bahwa banting setir = kembali memulai dari 0. Padahal di bidang akuntansi, gue udah sampe level managerial dan insyaallah, gue punya peluang di masa depan untuk sampai di level direksi. Jadi kenapa gue harus banting setir?

Kemudian beberapa waktu belakangan ini, ada serangkaian kejadian yang kembali mengingatkan gue sama impian yang sempat terlupakan itu. Karena suatu company event, gue jadi berkenalan dengan beberapa orang yang punya cool job. They all have the job that I’ve always wanted. Gue terpana banget dengan hanya sekedar ngelihat name cards mereka, dengan sekedar ngelihat betapa kerennya gerak-gerik serta betapa pintarnya mereka… Gue sampe bertanya-tanya sama diri gue sendiri, “Why am I still here?”

Di saat yang sama, gara-gara kesibukan kerja, gue jadi telat daftar kuliah PPAK gelombang bulan April. Kelas yang gue inginkan udah keburu penuh! Kalau mau, gue harus ambil kelas yang lokasinya jauh banget dari kantor, atau, ikut di lokasi yang diinginkan tapi itupun nanti, baru mulai bulan Agustus! Gila gue pikir… November sampai dengan bulan Mei tahun berikutnya itu busy season-nya accounting. Mana sanggup gue kuliah sambil kerja gila-gilaan dalam waktu yang bersamaan?

Puncaknya malam ini, dosen gue di Binus bikin kultwit tentang beasiswa S2 di luar negeri. Baca serangkaian tweet Ibu dosen bikin gue kembali on fire. Gue emang payah di Matematika, tapi Business Math gue di Binus berhasil dapet A dengan belajar dan latihan 2 kali lebih keras. Kemudian soal jam kerja, lho buktinya, gue kerja jadi Company Accountant juga pun, 4 bulan belakangan ini gue lembur gila-gilaan dan so far gue masih survive aja tuh. Jadi apa salahnya sih, gue coba lagi… coba sekali lagi? Lagipula bukankah… hal ini masih jadi bagian 30 things to do before 30-nya gue?

Memang benar, ikut kelas persiapan belum tentu berhasil dongkrak GMAT score gue. GMAT score sudah menjulang pun, enggak jaminan gue pasti dapet beasiswanya. Dengan beasiswa di tanganpun, enggak jaminan gue bisa diterima kerja di perusahaan impian. Dan yang paling buruk, mendapatkan pekerjaan impian pun bukan berarti gue akan benar-benar bisa menikmatinya. Tapiii, itu semua kan masih dalam bentuk kemungkinan. Mungkin, gue akan gagal, tapi… mungkin, gue juga bisa berhasil.

Gagal atau berhasil, yang penting gue coba dulu. Gue nggak mau terus-terusan menjadi orang yang hanya bisa menatapi betapa kerennya kartu nama orang lain. I have to give it a good fight, my best fight, before I give it up. Kalau ternyata kapasitas otak gue memang enggak akan pernah sampe untuk GMAT yang pantas masuk ke kelas MBA di universitas papan atas, ya sudah, yang penting gue tahu bahwa gue sudah mencoba.

So now… stop talking and tomorrow, first thing in the morning, I will call PASCAL right away to register my name in May 2013 class. Wish me luck!