The Truth Is, the True Relationship Doesn’t Always Look Pretty

Waktu kecil dulu, pernah ada teman sekelas yang bilang begini sama gue, “Kata Mama, aku nggak boleh bertemen terlalu deket sama orang lain.” Alasannya? Supaya tidak malah jadi sering ribut. Supaya tidak perlu sakit hati. Dan supaya hidup jadi lebih tentram.

Lalu ceritanya beberapa bulan belakangan ini, gue sedang berusaha untuk reconnecting dengan teman-teman lama gue. Ada beberapa di antaranya yang sempat putus kontak sampai bertahun-tahun lamanya. Hidup gue, dalam sekejap, menjadi lebih ramai daripada sebelumnya. Selalu ada saja kejadian-kejadian yang membuat gue merasa tersentuh. Hanya sekedar Whatsapp di pagi hari yang isinya, “Are you ok?” saja sudah cukup untuk membuat gue merasa tidak sendirian.

And did you know? That kind of warm and deep friendship was definitely not built in just an overnight!

Gue dan sahabat-sabahat gue ini sudah melewati begitu banyak hal. Kita pernah saling mengatakan hal-hal yang tidak seharusnya kita katakan. Melakukan hal-hal yang tidak seharusnya kita lakukan. Pernah saling berpikiran buruk tentang satu sama lainnya. Bahkan seperti yang tadi gue tulis sebelumnya, pernah juga sampai tidak saling berkomunikasi bertahun-tahun lamanya.

Ya, pertemanan itu, semakin dalam memang akan semakin sering ribut. Semakin dekat justru semakin berpotensi untuk bikin kita jadi sakit hati. Dan saat sedang sakit hati, hidup memang jadi terasa semakin jauh dari rasa damai. Tapi tetap saja, untuk diri gue sendiri, gue tidak lantas berkesimpulan bahwa berteman erat itu ‘haram’ hukumnya!

Bertahun-tahun yang lalu, gue pernah punya masalah ekonomi, dan tanpa gue minta, sahabat-sahabat gue datang menawarkan bantuan.

Pernah pula gue nyaris disidang skripsi oleh dosen yang terkenal membenci gue setengah mati, dan saat gue hanya berpasrah diri, malah si sahabat gue yang mengangkat issue ini ke kampus sehingga akhirnya, dosen penguji gue diganti dengan dosen penguji lainnya.

Kemudian ada lagi satu sahabat lainnya dan berkeras membela gue di depan orang-orang lain yang sedang berkumpul untuk membicarakan kejelekan gue. Dengan penuh keyakinan, dia bilang begini, “Riffa nggak kayak begitu orangnya.”

Belum lagi serangkaian kejadian kecil yang selalu berhasil bikin gue ngerasa terharu. Kejutan manis di hari ulang tahun gue. Oleh-oleh lucu yang beneran “gue banget”. Atau sekedar telinga yang tidak pernah bosan mendengar berbagai keluh-kesah dan curhatan gue.

Do you really think you can get all of those things from your just ordinary friends? 

Dari situ gue belajar… jika suatu pertemanan itu isinya hanya haha-hihi dan hal-hal manis lainnya, maka pertemanan itu masih belum seberapa dalamnya. Bukan tipe pertemanan yang akan bertahan selama-lamanya. Bukan pertemanan yang tetap erat mesti jarak dan kesibukan mulai memisahkan satu sama lainnya. Bukan pertemanan yang akan sekuat tenaga saling membantu saat hidup sedang sulit-sulitnya.

Sama halnya dengan hubungan-hubungan lain dalam hidup ini!

Saat masih kencan pertama, isinya tidak jauh dari flirting dan serangkaian pujian yang tidak ada habisnya. Saat mulai pacaran agak lama, mulai saling berani mengatakan isi hati yang sebenarnya, meskipun bisa jadi, hal itu bukan kejujuran yang enak didengar. Lalu saat sudah menikah, mulai tidak ada lagi rasa sungkan untuk menunjukan kepribadian yang sebenar-benarnya.

Kemudian dalam dunia kerja. Jika si bos hanya melulu soal pujian dan tidak sedikit pun ada kritikan, maka dijamin, kita hanya belum kerja cukup lama dan cukup dekat dengan bos kita ini. Semakin sering kerja bareng, sebagus-bagusnya hasil pekerjaan kita, ada kalanya bos akan mulai memberikan feedback. Feedback yang bisa kembali lagi kepada diri kita sendiri: mau kita anggap sebagai saran untuk perbaikan, atau kita anggap sebagai kritik yang penuh dengan kebencian?

Apa inti dari seluruh isi tulisan gue ini? Jika tidak berani sakit hati, maka kita tidak akan pernah memiliki hubungan yang berarti. Tidak akan ada persahabatan yang betul bertahan dalam suka dan duka. Tidak akan ada pernikahan yang bertahan hingga ajal memisahkan. Dan tidak akan ada pekerjaan yang bisa bertahan bertahun-tahun lamanya. Karena kenyataannya, tidak ada satupun hubungan di dunia ini yang akan selamanya terlihat indah.

Belajar meminta maaf. Belajar memaafkan. Belajar mengikhlaskan. Belajar mempertahankan. Jika dua orang dalam satu hubungan itu saling berusaha untuk melakukan semua itu, maka, yang namanya “best friends forever” atau “love until death do us part” itu insyallah, bukan hanya sekedar mitos.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s