Green Lantern Review

Pernah ngerasa takut terhadap kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi di masa yang akan datang? Yang saking takutnya, pada akhirnya kamu lebih memilih untuk lari dari masalah? Kemudian dalam urusan relationship, pernahkah kamu tiba-tiba merasa takut memiliki kedekatan emosional dengan orang-orang di sekitar kamu? Kalau pernah adalah jawaban kamu untuk satu atau dua pertanyaan di atas, berarti kamu wajib nonton film Green Lantern.

Sama seperti film superhero lainnya, Green Lantern bercerita tentang cowok yang tadinya bukan siapa-siapa tiba-tiba aja mendapatkan kekuatan super sehingga mulai dikenal sebagai pahlawan. Terus sama standarnya dengan film-film lainnya, di film ini juga ada cewek yang diam-diam dicintai sang hero yang kemudian dijadikan sandera oleh musuhnya, dan adegan bertarung di mana jagoan pasti kalah duluan, baru setelah kita berpikir, “Ah, mustahil! Gimana dia bisa menang?” eh ternyata ada aja cara buat si jagoan mengalahkan musuh bebuyutannya. Dan pastinya, di akhir film ada adegan tambahan yang menunjukkan bahwa meskipun musuh besar sudah musnah, bukan berarti dinasti kejahatannya sudah habis sampai di situ.

Yang membedakan Green Lantern dari film sejenis pada umumnya adalah karakter tokoh utamanya. Biasanya, sosok manusia biasa seorang superhero itu identik dengan cowok baik-baik, dan kebanyakan sih, kelihatan cupu dan nerd alias enggak ada keren-kerennya sampe mereka berubah menjadi sosok jagoan. Nah, kalo di film ini, jangan harap bakal ngelihat Ryan Reynolds tampil cupu dengan kacamata tebal! Sejak awal, Ryan Reynolds sudah tampil keren seperti biasanya, hehehehe.

Hal Jordan yang diperankan oleh si ganteng Ryan Reynolds itu dikisahkan memiliki kepribadian yang suka memberontak dengan image playboy yang suka ganti-ganti teman kencan. Di luar sifat selengeannya, sebetulnya, Hal menyimpan rasa takut yang begitu besar dalam menjalani hidupnya. Dan bila rasa takut itu sudah mulai menghantui pikirannya, maka Hal akan lebih memilih untuk lari dari masalah. Dia lebih suka play safe dan menghindar dari kemungkinan terburuk di masa yang akan datang. Akan tetapi lucunya, Hal ini kelewat gengsi untuk mengakui rasa takutnya itu. Dia enggak mau ada seorang pun yang tahu soal insecurity dalam diri dia itu.

Meskipun diam-diam Hal menyimpan begitu banyak rasa takut dalam dirinya, anehnya, cincin sakti yang kemudian menjadi sumber kekuatannya itu malah memilih Hal untuk dijadikan superhero perwakilan dari planet Bumi. Padahal syarat utama dari terpilihnya sang superhero oleh cincin itu adalah seseorang yang tidak memiliki rasa takut sama sekali. Karena ceritanya, rasa takut akan melemahkan mereka dan menguatkan musuh pada saat yang bersamaan. Makanya di awal-awal, Hal sempat merasa pesimis dan menilai bahwa cincin sakti itu telah salah memilih perwakilan.

Soal jalan cerita enggak perlu gue jabarkan secara detail lah yaa. Yang gue bisa bilang cuma overall menurut gue, filmnya bagus, ada pula beberapa dialog yang lumayan lucu, special effect-nya keren dan lumayan bikin kita jadi tiba-tiba kaget, dan ya itu tadi, Ryan Reynolds-nya ganteng banget, hehehehe. Buat cowok-cowok, tenang aja… di film ini juga ada Blake Lively (pemeran Serena di serial Gossip Girl) yang juga cantik dan seksi banget. Cowok yang duduk di sebelah gue sampe ngomong begini sama ceweknya, “Tuh kamu kalo punya badan kayak gitu dong.”

Lagi-lagi buat gue, the best part of the movie is the moral of the story. Film ini mengajarkan kita bahwa rasa takut adalah suatu hal yang sifatnya sangat-sangat manusiawi. Akan tetapi, bukan berarti kita boleh dikalahkan oleh rasa takut kita itu! Karena sebenarnya, tidak ada orang di dunia ini yang tidak memiliki rasa takut. Yang ada hanyalah orang-orang yang berani untuk melawan rasa takutnya sendiri.

Balik lagi ke paragraf pembuka, film ini mengingatkan gue untuk tetap berani menghadapi apapun yang terjadi dalam hidup gue. Berani menghadapi kemungkinan terburuk demi mendapatkan kemungkinan yang terbaik, berani mengambil resiko, serta berani untuk mengakui kekurangan yang sudah pasti kita miliki.

Masih nyambung sama judul blog gue sebelumnya, Green Lantern semakin memantapkan gue untuk menerapkan prinsip baru gue: setelah memutuskan satu pilihan yang terbaik, gue harus tetap konsisten sampai akhir, apapun rintangan dan apapun resikonya. Karena sebetulnya, alasan terbesar gue gampang berubah-ubah pikiran itu berasal dari rasa takut terhadap kemungkinan terburuk yang melekat dalam pilihan awal gue itu, sehingga akhirnya, gue lebih memilih untuk berubah pikiran a.k.a melarikan diri.

It’s okay to fear of something, but it’s not okay to walk away just because of being afraid to face the risk.

New Point of View

Beberapa bulan belakangan ini, gue lagi sibuk berpikir… apa ya, yang salah sama gue? Karena entah kenapa, ada satu hal yang terus terjadi berulang-ulang. Mau dalam urusan apapun, mulai dari urusan pekerjaan, teman, sampai urusan cinta-cintaan, selalu aja ada satu benang merah yang bikin gue berpikir, “Lho, kok bisa keulang lagi yah?”

Kalo diinget-inget, hal kayak gini udah terjadi sejak jaman SMP-SMA dulu. Mau sama siapapun dan kayak gimanapun orangnya, ending-nya tetep begitu lagi begitu lagi.

Sampai akhirnya, ada satu kejadian yang memberikan gue that one big clue: ending yang sama terus berulang karena dalam menghadapi masalah apapun, gue ini selalu mengulang satu kesalahan yang sama.

Sekarang gue baru ngeh kalo selama ini, dalam menghadapi suatu permasalahan, gue sering, dan selalu sangat mudah berubah pikiran. Pola mudah berubah pikiran itulah kesalahan yang selalu bikin gue terjebak dalam pola yang sama. Apa alasannya? Kenapa gue bisa dengan mudah berubah pikiran?

  1. Karena emosi yang tadinya meluap-luap itu udah mulai reda;
  2. Karena gue orangnya suka enggak tegaan;
  3. Karena di tengah jalan, ada sesuatu yang menginspirasi dan mengubah pikiran gue;
  4. Karena gue suka terpengaruh sama omongan dan pendapat orang lain;
  5. Karena gue takut salah mengambil keputusan dan juga takut enggak bisa menyelesaikan keputusan gue itu dengan baik;
  6. Karena gue masih menyimpan harapan yang sebenernya udah enggak perlu; dan
  7. Karena gue benci sama orang yang nggak open minded sehingga gue enggak mau dituduh berpikiran sempit dan nggak fleksibel.

Di satu sisi, bersikap fleksibel dan mau menerima input itu emang sifat yang sangat baik. Tapi kok kenyataannya, hal itu justru bikin gue jadi going nowhere ya? Sering mengubah keputusan ternyata enggak berhasil bikin gue sampe ke tujuan sehingga selalu aja pada akhirnya, semua hal itu left unfinished, kandas di tengah jalan, atau apapun lah namanya yang mirip-mirip kayak begitu. Sehingga gue menyimpulkan, di satu sisi lainnya… bersikap fleksibel dengan keputusan yang sudah kita ambil bisa menjadi senjata makan tuan.

Jujur belakangan, gue agak menyesali sifat plin-plan gue itu. Niatnya sih baik, tapi yang ada gue malah jadi capek sendiri. Ada pula satu atau dua hal yang semakin ke sini justru semakin jelas terlihat bahwa sebenarnya, keputusan yang paling pertama gue ambil itu adalah keputusan yang paling tepat. Tapi kenapa waktu itu gue malah lebih memilih untuk mendengarkan pendapat orang lain? Padahal gue yang ngejalanin, gue yang paling tau, tapi kenapa gue ngebiarin orang lain bersikap begitu sok tau?

Gue nggak nyalahin orang lain, atau nyalahin keadaan, sehingga semuanya jadi begini. Yang gue salahkan justru diri gue sendiri… kenapa waktu itu gue enggak mengikuti kata hati gue sendiri?

Akhirnya sekitar satu bulan belakangan ini, gue udah memutuskan… Saat ada keputusan penting yang harus gue ambil, gue akan pikirkan dulu seribu kali tentang hal yang akan gue putuskan itu. I’m gonna ask myself what do I want, and I am gonna be open to any suggestion in the same time. Tapi setelah gue mendapatkan satu keputusan yang terbaik, maka gue nggak akan lagi membiarkan satu hal apapun dengan mudahnya mengubah pendirian gue itu.

I’m afraid it might be too soon to make any conclusion. Tapi yang udah gue rasa… hal ini justru bikin hidup gue jadi lebih mudah. Everytime I get confused in the middle of something, instead of saying what if what if, I would say to myself, “I already to chose it and I have to deal with this.”

Karena sebenarnya, mau keputusan apapun yang kita ambil, akan tetap ada resikonya masing-masing. Jadi kalo kita sering berpindah haluan, yang ada kita justru sedang mengalami kemunduran: dari yang tadinya sudah hampir terbiasa dengan resiko yang ada, kita malah jadi harus beradaptasi lagi sama resiko yang baru lagi.

Mungkin hal ini bakal bikin gue jadi orang yang lebih keras kepala. Hal ini juga berpotensi bikin orang-orang terdekat gue menganggap gue tidak lagi menghiraukan nasehat mereka. Tapi sekali lagi gue bilang, my life, my risk, my choice. Lagipula sebetulnya, saat gue datang buat curhat, yang gue butuhkan bukan persetujuan dari kalian, melain dukungan meskipun sebetulnya, kalian tidak sependapat dengan jalan pikiran gue itu. So please no hard feeling yaa. I only want to make-up with my life and share you my new point of view.

My Korea Itinerary: Jeju Island

First day in Jeju

  1. Teddy Bear Museum, yang katanya sih, Teddy Bear Museum di Jeju ini ukurannya lebih luas daripada museum sejenis di NSeoul Tower. Tapi, koleksi boneka di Nseoul Tower masih lebih bagus daripada museum Jeju. Jadi daripada bingung, kita berencana datengin dua-duanya, supaya nggak ada penyesalan di kemudian hari, hehehehe;
  2. Ripley’s Believe It or Not Museum. Museum ini menampilkan replika atau gambar dari hal-hal yang unbelievable but true;
  3. Cheonjeyeon waterfall. Salah satu objek wisata alam yang terkenal cantik di Jeju Island itu adalah 3 air terjun ternamanya, yang salah satunya si Cheonjeyeon ini; dan
  4. Jungmun beach & resort. Jungmun ini merupakan pantai paling populer di Jeju Island. Ada juga pertunjukan lumba-lumba yang bisa kita saksikan di kawasan resort ini.

Second day in Jeju

  1. Trick Art Museum. Isinya merupakan gambar-gambar 3D yang menampilkan optical illusion art. Jadi yang dipamerkan itu bukan sekedar gambar biasa melainkan gambar yang bisa ‘menipu’ pandangan mata kita;
  2. Sunrise Peak. Kalau kamu googling Jeju Island, akan keluar gambar pantai yang dikelilingi bunga-bunga berwarna kuning. Nah, pemandangan cantik itu bisa kita dapati di Sunrise Peak, salah satu world’s natural wonder;
  3. Manjanggul cave, the longest lava tube in the world; dan
  4. Maze park alias taman labirin. Jadi di sini, kita bisa main di taman labirin gitu deh. Katanya sih, tempat ini lumayan sering buat dijadiin lokasi syuting serial dan film Korea.

Last day in Jeju

  1. Cheonjiyeon & Jeongbang waterfall. Ini adalah 2 dari 3 air terjun terpopuler yang tadi gue sebutkan di atas;
  2. Oedolgae rock, sebuah tebing yang punya pemandangan spektakuler;
  3. Yongduam rock, batu karang berbentuk kepala naga;
  4. Jeju Glass Castle, theme park yang menampilkan berbagai hal yang terbuat dari kaca; dan
  5. Jeju Love Land. Buat yang ini, gue agak malu mendeskirpsikannya… Jadi kalian googling aja sendiri lah ya, Jeju Love Land ini tempat apaan, hehehehe.

My Korea Itinerary: Seoul & Surrounds

Iseng-iseng gue mau sharing rencana perjalanan gue ke Korea tahun depan . Ya kali aja ada temen yang udah berpengalaman dan bisa kasih input buat itinerary gue ini. Sengaja gue pecah jadi 2 judul blog (Seould & Surrounds dan Jeju Island) supaya lebih enak dilihat secara bisa panjang banget kalo 2 itinerary itu disatuin di sini.

Sebelumnya gue mau memperkenalkan teman-teman seperjalanan gue dulu nih. Karena dalam blog ini, gue akan beberapa kali menyebut nama mereka berlima: Dini, Luzy, Avi, Nesni, dan Tiara.

Ok, here we goItinerary gue dan teman-teman untuk daerah Seoul dan sekitarnya.

First day in Seoul (will visit other province outside Seoul this day)

  1. Dae Jang Geum theme park. Buat yang suka nonton Jewel In The Palace, pastinya udah enggak asing lagi sama nama Dae Jang Geum. Sebagai the big fans of Jang Geum, gue jelas ngerasa harus dateng ke tempat ini. Jadi setting istana yang dulu sengaja dibuat jadi lokasi syuting, sampai sekarang masih dipelihara dan dibuka untuk umum. Selain serasa di istana beneran, di sini kita juga bisa foto-foto pake hanbok, sama bisa juga nyobain penjara ala Korea dan kendaraan tardisionalnya Korea di jaman dulu;
  2. Makan siang di Lotte Department Store. Kenapa gue secara spesifik menyebutkan nama Lotte? Soalnya ini salah satu lokasi syutingnya Secret Garden, serial favoritnya Luzy. Katanya ada banyak orang yang sengaja dateng ke sini cuma buat berfoto sambil meniru pose tokoh utama cowok di salah satu eskalator dalam mall ini;
  3. Petite France, pusat kebudayaan Prancis yang juga merupakan salah satu lokasi syutingnya Secret Garden. Tempatnya lucu, bagus buat foto-foto. Di dalamnya ada beberapa tourist attraction yang pastinya enggak jauh-jauh dari budaya Prancis. Hmm, biar lebih menghayati, gue juga mau nonton Secret Garden dulu aaah, hehehehehe;
  4. Nami Island alias lokasi syutingnya Winter Sonata. Sebenernya, gue juga enggak pernah nonton Winter Sonata, tapiii, kayaknya ini salah satu tempat yang wajib dikunjungi kalo liburan ke Seoul. Udah gitu kalo gue lihat dari gambar-gambarnya, pemandangan di pulau ini kelihatan cantik banget lho. Jadi mungkin supaya lebih menghayati, sebelum pergi gue juga harus nonton Winter Sonata dulu 😀

Second day in Seoul

  1. Rumah Full House! Kalo ini serial favorit kita semua. Udah dari dulu gue mengidam-idamkan pengen masuk ke rumahnya Yong Jae dan Han Jie Eun di serial Full House itu. Jadi sampe sekarang, rumah Full House itu masih dijadiin tempat wisata di Seoul lho. Walaupun bakal lumayan susah buat sampe ke sana, tapi kita harus berjuaaang, hehehehe;
  2. Korean Folk Village alias replika pedesaan tradisional Korea di jaman buyut-buyut kita dahulu. Ini juga pernah jadi salah satu lokasi syutingnya Jewel In The Palace. Selain replika pedesaan, ada juga pertunjukan tarian Korea yang katanya sih, aksi akrobatiknya itu spektakuler banget;
  3. Namdaemun Gate dan pasar Namdaemun. Kalo ini sih udah jelaaas, waktunya belanja, hehehehe. Kalo mau belanja oleh-oleh yang ada tulisan Korea-nya, yang di sinilah tempatnya. Si Namdaemun Gate itu mah cuma numpang foto-foto aja lah. Namanya juga salah satu Korea’s number one national treasure, jadi gimana pun tetap wajib untuk dikunjungi, hohohoho; dan
  4. N Seoul Tower. Tahu adegan di mana Gun Pyo dan Jan Di di BFF terjebak di dalam tower sehingga terpaksa bermalam di dalam kereta monorail? N Seoul Tower ini lah lokasi syutingnya. Entah kenapa, adegan di tempat ini berkesan banget kalo buat gue. Selain itu, di sini juga ada museum Teddy Bear yang tersohor itu. Terus yang terakhir… tempat anak-anak muda suka masang gembok cinta juga adanya di tempat ini.

Third day in Seoul (ini juga lokasinya agak jauh dari Seoul)

Full day: Everland.

Amusement park ini populer banget di kalangan orang Indonesia. Hampir semua paket tur Seoul di Indonesia itu ada mampir ke taman bermain outdoor ini. Selain 15 wahana yang bisa dicoba, di Everland ini ada juga semacam Waterboom dan kebun binatangnya. Gue agak-agak tertarik nih sama ‘Waterboom’ indoor-nya. Bentuknya itu pemandian air panas yang ada saunanya gitu deh. Korea banget nggak tuh kesannya, hehehehe.

Fouth day in Seoul

  1. DMZ. Ide awal dateng dari Dini, pengen dateng ke DMZ yang secara singkat, merupakan daerah perbatasan antara Korea  Utara dengan Korea Selatan. Selain melihat-lihat daerah perbatasan, nanti kita juga boleh coba masuk ke terowongan bawah tanah yang bentuknya mirip kayak tambang batu bara. Well, kapan lagi toh, punya kesempatan masuk-masuk ke tempat aneh kayak begini?
  2. Makan siang di Cheonggyecheon stream. Sebenernya ini tuh cuma sungai tengah kota yang dipercantik yah. Awalnya enggak ada di itinerary gue, tapi berhubung Luzy dan Tiara ngusulin tempat ini dalam waktu yang hampir bersamaan, gue jadi penasaran juga. Bisa lah disisipin ke itinerary yang udah padat ini… itung-itung sekalian cari makan siang;
  3. Jump Show. Gue jadi pengen nonton live show ini gara-gara nonton film Thailand yang judulnya Hello Stranger. Dan ternyata, Jump Show ini emang populer banget di Korea sana. Show-nya lucu dan unforgettable. Tiketnya emang mahal banget (bahkan lebih mahal daripada tiket masuk Everland), tapi mumpung ke sana ya hajar aja laah;
  4. World Cup Park. Ini sih udah cukup jelas… stadium piala dunia yang dikelilingi sama taman yang biasa dijadikan tempat piknik. Buat gue sih, sekedar foto dengan latar belakang stadiumnya aja udah cukup, hehehehe; dan
  5. 68 City, gedung pencakar langit kebanggaan kota Seoul. Kata Tiara, ada banyak serial Korea yang syuting di tempat ini. Setelah gue cari info, kelihatannya ok juga. Pemandangan di sekitarnya kelihatan cantik, dan di dalam gedungnya, ada sea world dan museum lilin yang sepertinya boleh juga buat dicoba. Oh ya, the best view dari Hanggang river juga bisa didapetin dari tempat ini.

Fifth Day in Seoul

Full day: Lotte World.

Lotte World mengklaim dirinya sebagai the biggest indoor amusement park in the world yang sejajar dengan Disneyland. Ukurannya emang lebih kecil daripada Everland, tapi justru jumlah wahananya jauh lebih banyak daripada Everland.

Last day in Seoul

  1. Gyeongbokgung Palace. Kayaknya liburan ke Korea itu belum afdol yah, kalo belum mengunjungi istana-istana papan atasnya. Apalagi pemandangannya bagus, and again, bagus juga buat befoto ria, hehehehehe. Di dalam kompleks istana ini ada juga museum nasionalnya Korea yang katanya sih, wajib buat dikunjungi;
  2. Seodaemun Prison, museum yang dulunya bekas penjara. Kalo ini idenya Dini sama Avi. Jadi si penjara ini dulunya lokasi penyiksaan tentara jaman perang melawan Jepang. Jadi nanti di sana kita bisa merasakan betapa mencekamnya suasana penyiksaan di tempat itu. Malah ada salah satu ruangan di sana yang namanya “The Torture Room”, hiiiiyyy… bakal serem kayak Lubang Buaya nggak yah? Hehehehehe;
  3. Nanta Show. Ini juga salah satu show lucu terpopuler di Korea. Hopefully, pas gue ke sana, show ini masih ada. Soalnya kalo gue lihat di website-nya, periode show ini cuma sampe Desember 2011. Smeoga diperpanjang sampe gue dateng ke sana, hehehehe; dan
  4. Hello Kitty Café & Coffee Prince Café (kebetulan letaknya berdekatan). Jangan tanya kenapa gue pengen ke Hello Kitty Café… gue ini kan banci pink yang gila Hello Kitty, hehehehe. Kalo Cofee Prince, si Tiara yang pengen ke sana. Gue sih ayo aja. Jadi lagi-lagi, kayaknya gue harus nonton serialnya dulu supaya lebih menghayati, hohohohoho.

Setelah dari Hello Kitty & Coffee Prince Café, kita langsung balik ke hostel, ngambil koper, kemudian cabut ke bandara mengejar penerbangan terakhir menuju Malasyia (yup, kita harus transit dulu di bandara KL).

Why Do I Blog?

  1. Because I’m not good on expressing my feeling to others… I never say that I love my families, friends, or whoever it is, except in my blog 😀
  2. I want to let people around me know that I highly appreciate their presences in my life. Again, I’m not good on making people believe that they are important to me until I share some things about them in this blog. That’s why sometimes, I write about people in my daily activities to let them know, and to let the others know the way I feel about them;
  3. Sometimes, it’s better for me to give an advice to somebody through this blog. I’m afraid if I tell this straight to them, my intonation, expression, and gestures would hurt the people whom I talk to;
  4. I could stay true in blog. I could pretend like I’m okay in my Facebook status, but I don’t know why… I only could write something which is actually on my mind in this blog;
  5. I could share so many useful information through this blog… even to strangers who google something until they find what they’re looking for in this blog;
  6. I want to share my dreams to others… and hope that it could inspire the readers to have a dream then try to make it come true;
  7. I could meet certain new people though this blog. It’s nice having new friends who support me to keep writing and pursue my dream as a professional writer;
  8. This blog is a documentation of my journey of life. I love it when I read the things I wrote back in the past. Memories could be erased as the time goes by, but this blog… it would be an eternity;
  9. Seeing increasing number in my blog statistic is very addictive, hehehehehe; and
  10. Finally, I write a blog because writing is a part of me. It makes me happy, it is a thing which I want to do for the rest of my life. I easily get bored at work, but… I never can get enough of writing something.

Everything Happens For a Reason

Tugas terakhir gue di EY bisa dibilang tugas paling sulit yang harus gue jalanin selama hampir 4 tahun gue terjun di dunia kerja. Waktu itu ceritanya, gue ketiban kerjaan maha dahsyat itu gara-gara ada satu senior di tim gue yang menyatakan resign sebelum musim audit dimulai.

Waktu belum tau tugas maha dahsyat itu bakal diwarisin ke gue, si mantan senior pernah bilang begini ke gue, “Kasian orang yang nerusin kerjaan gue yang ini. Bisa nangis darah setiap hari.”

Waktu itu gue cuma manggut-manggut aja. Gue pikir enggak mungkin gue yang dipilih bos-bos buat gantiin mantan senior secara masih banyak temen setim yang lebih senior daripada gue. Tapi nggak disangka-sangka… kerjaan maha dahsyat itu malah diwariskan ke gue! Makanya di kemudian hari, gue sesekali iseng nyindir-nyindir mantan senior gue itu, “Gara-gara elo resign nih, jadi bikin gue susah.”

Mau nggak mau gue harus kerjain si tugas maha dahsyat itu. Dalam perjalananannya, terus terang gue banyak mengeluh. Gue ngerasa kerjaan itu termasuk susah tapi nggak banyak manfaat yang gue dapetin. Gue nggak ngerasa jadi tambah pinter gara-gara pekerjaan maha dahsyat itu. Secara yah, kerjaan itu cuma nggak jauh-jauh dari konsol sehingga nggak nambah knowledge gue dalam bidang lain sama sekali.

Ngelihat gue ngeluh melulu, teman seperjuangan yang juga dengan apesnya ketiban tugas buat kerja setim bareng gue ngurusin konsol klien istimewa itu, bilang begini sama gue, “Semua hal itu terjadi pasti ada alesannya, Peh. Mungkin sekarang elo belum tau apa gunanya. Tapi nanti, pasti elo tau kalo kerjaan ini juga ada manfaatnya buat elo.”

Singkat cerita, setelah melewati jam lembur gila-gilaan ditambah sakit-sakitan sampe sempet masuk UGD segala, akhirnya kerjaan itu bisa gue selesaikan dengan baik. Dengan selesainya pekerjaan itu, akhirnya… gue bisa resign dari EY dengan hati yang tenang… I had done my best and it was a right time for me to leave.

Bebeberapa bulan kemudian, ada satu kejadian yang mengingatkan gue sama nasehat si mantan teman seperjuangan di tim konsol: everything happens for a reason. Dan rasanya sekarang, kalo mau gue kumpulin dalam bentuk daftar, gue udah tau alasan-alasan apa yang membuat pekerjaan maha dahsyat itu pernah terjadi dalam working history gue.

  1. Berkat kerjaan itu, otak gue jadi lebih encer. Sangat membantu pekerjaan gue sekarang yang dituntut untuk sering berpikir gimana caranya memecahkan masalah yang terjadi di divisi gue;
  2. Nggak disangka-sangka, ternyata masih ada ilmu baru soal konsol yang gue dapetin dari tugas terakhir itu. Lagi-lagi, hal itu sangat membantu pekerjaan gue yang sekarang;
  3. Dalam engagement terakhir itu, gue banyak belajar untuk berbesar hati;
  4. Kerjaan maha dahsyat itu juga ngelatih gue buat lebih sabar dalam mengahadapi orang-orang sulit; dan
  5. Di tugas terakhir itu pula gue jadi punya teman baru. Gue emang enggak selalu akur-akur sama si teman seperjuangan, tapi pada akhirnya, mengenal si teman seperjuangan itu termasuk salah satu hal menyenangkan yang pernah gue lewati selama kerja di EY.

Jadi kesimpulannya, if everything happens for a reason, then that very difficult job happened to me was simply to make me a better person.

Lagipula entah kenapa, dan mungkin kedengerannya bakalan aneh banget… tapi gue bangga pernah jadi bagian dari tim konsol. Bangga pajang foto sendal samaan yang dimiliki tiga member dari tim konsol 2010 di Facebook, dan bangga juga setiap kali foto bareng temen-temen seperjuangan gue itu. So may be… the last reason why it happened to me was the memory itself 🙂

Ini dia... tiga sendal Konichiwa tim konsol 2010-2011.

P.S: Buat temen-temen EY gue… gue nulis kayak gini bukan berarti gue mau balik lagi loh yaa. It was a great memory, tapi kalo disuruh ngulang lagi mah, gue ogah banget, hehehehehe.

Kenapa Bad Boy Itu Menarik?

Apa sih definisi bad boy itu? Bad boy itu tipe cowok yang suka break the rule, bukan tipe cowok alim yang serba strict. Soal level kebandelan, tergantung lingkungan masing-masing. Buat lingkungan yang cenderung baik-baik, cowok yang suka dugem aja udah masuk kriteria bad boy. Tapi buat lingkungan yang lebih bebas, seseorang baru dicap ‘bad’ kalo kenakalannya udah lebih dari sekedar dugem di akhir pekan.

Nah, entah kenapa, biasanya bad boy itu termasuk bandel juga buat urusan cewek. Bukan tipe cowok yang bisa dipercaya, diragukan kesetiannya, punya track record sama banyak cewek, dan bukan juga cowok yang punya prospek baik buat dijadikan pendamping hidup. Tapi kenapa tetap saja, bad boy itu malah kelihatan menarik di mata cewek-cewek pada umumnya? Alasannya karena…

  1. Mereka pintar bikin cewek merasa diinginkan;
  2. Mereka pintar bikin cewek ngerasa cantik;
  3. Bad boy is not a good listener, mereka bisa aja selalu lupa kalo kita ini enggak suka makanan pedas misalnya. Tapi, mereka itu pinter banget baca pikiran cewek. Gue sampe suka heran, “Lho, kok dia tau ya, gue punya pikiran seperti itu?”
  4. Cewek-cewek suka ngerasa tertantang buat ngebuktiin bahwa mereka bisa mengubah bad boy itu;
  5. Bad boy justru bukan tipe cowok yang selalu memperlakukan cewek seperti ratu sepanjang waktu. Tapi anehnya, justru hal ini yang bikin cewek jadi penasaran. Biasanya, justru cewek-cewek populer yang suka punya pikiran seperti itu;
  6. They know what to do to make us smile and laugheven in our worst day and worst mood;
  7. Mereka pintar mencari timing yang tepat. Makanya walaupun mereka suka datang dan pergi sesuka hati, pada akhirnya, kita cenderung tetap menerima mereka kembali kan?
  8. Mereka pintar cari kata-kata yang ingin kita dengar… termasuk, yang bisa bikin kita luluh kalo lagi marah sama mereka;
  9. Mereka justru lebih pemaaf daripada cowok baik-baik. Kita ini kan emang suka terharu banget tuh, sama orang yang bisa maafin ledakan-ledakan emosional kita itu…
  10. Mereka bukan tipe cowok yang ngerasa minder sama cewek-cewek superior (baca: cerdas dan karier memukau). Kepercayaan diri itulah yang bikin bad boy jadi kelihatan lebih menarik di mata cewek-cewek superior itu;
  11. Sebaliknya, bad boy juga bukan tipe cowok yang gampang ilfil sama cewek-cewek lemot. Jarang terjadi mereka ilfil sama cewek yang nggak sengaja saying something stupid di depan mereka;
  12. Biasanya bad boy bukan tipe cowok yang suka banget ngatur-ngatur. Kemungkinannya cuma 2: kita jadi ngerasa nyaman karena diberi keleluasaan, atau… kita malah jadi penasaran sama sikap mereka yang kelihatan cuek bebek itu; dan
  13. Katanya siiih, some of them are good in bed. Tapi serius deh, misalkan bener mereka good in bed, apa enggak pernah kepikiran bahwa hal itu berkat hasil practice sama banyak cewek di masa lalu mereka? Belum lagi cewek-cewek yang nggak jelas asal-usulnya… euuwww…

Dengan 13 nilai plus di atas (kecuali point ke 13 yah… I don’t really think it’s an advantage), pastinya emang cenderung lebih sulit buat lepas dari mereka. Padahal kalo menurut gue, emang udah seharusnya kita walk away dari cowok model begini. Tanpa berpasangan sama mereka aja hidup itu udah banyak banget masalahnya. Jadi buat apa sih, cari cowok yang kemungkinan besar bakal nambahin daftar masalah dalam hidup kita? Ini pula alasan kenapa pada akhirnya, cewek tetap lebih memilih menikahi cowok baik-baik yang bener-bener sayang sama mereka. Secara yaa, setelah capek sakit hati diperlakukan seenaknya sama cowok-cowok bandel itu, begitu ketemu sama cowok yang memperlakukan kita dengan baik pastilah rasanya kayak heaven on earth. Nah, gimana kita mau ngerasain that heaven on earth kalo kita masih aja bolak-balik terjebak sama bad boy?

Tips dari gue yang mau get rid of bad boy, jangan kasih mereka peluang sedikit pun untuk ambil bagian/untuk hadir kembali dalam hidup kita. Sekali aja kita bales SMS/YM/BBM mereka, maka pasti deh ujung-ujungnya mereka berhasil merebut hati kita lagi. Most of bad boy is not a fighter… tolak aja sekali dua kali, nanti mereka juga nggak bakal balik-balik lagi. Mungkin nanti, berbulan-bulan dari sekarang, mereka bisa aja iseng-iseng mencoba dateng lagi. Tapi tetep jangan terpengaruh! Mereka itu cuma lagi iseng-iseng berhadiah aja. Asal kita konsisten, kita pasti bisa lepas dari mereka. Good luck ya, girls!

Susahnya Jadi Atasan…

  1. Bosen setiap hari harus tanda tangan setumpuk dokumen…
  2. Kerja tidak lagi tinggal menerima instruksi… melainkan mencari sendiri pemecahan atas setiap masalah yang tengah terjadi;
  3. A leader shall work as perfect as possible. Beda banget sama anak baru lulus kuliah yang masih bisa dimaklumi seperti, “Maklum lah masih banyak salah… namanya juga anak baru.”
  4. Semakin tinggi jabatan, semakin tinggi pula ekspektasi dari big boss. Kerjaan makin aneh, makin banyak, dan makin susah;
  5. Susah konsentrasi kerja, dikit-dikit ada yang datang meminta bantuan;
  6. Harus rela meluangkan waktu buat membagi ilmu sama anak buah… di tengah pekerjaan yang sedang padat-padatnya;
  7. Susah ngendaliin emosi kalo anak buah salah melulu, ngajuin pertanyaan yang sama berulang-ulang, kerjanya super lama pula! Sigh…
  8. Setelah heboh marah-marah, yang ada nyesel sendiri… Jadi malu sama diri sendiri, serta sama orang-orang di sekitar gue juga;
  9. Kadang suka dihantui pikiran, “Aduh, jangan aja nanti nih anak resign gara-gara gue!”
  10. Anak buah yang bikin kesalahan, atasan juga yang disalahin dan atasan juga yang harus nanggung akibat dari kesalahan anak itu…
  11. Peluang buat disebelin orang jadi makin besar, hehehehe; dan
  12. Suka penasaran… pernah nggak ya, staf-staf gue itu ngomongin gue yang jelek-jelek waktu mereka lagi di toilet?
  13. Dilema saat harus menilai kinerja bawahan yang tidak memuaskan;
  14. Lebih dilema lagi kalo harus memecat, menyatakan demosi, atau tidak mengangkat bawahan sebagai staf permanen; dan
  15. Semakin tinggi jabatan, biasanya semakin sedikit pula teman dekatnya. Berteman dekat dengan bawahan semakin lama menjadi semakin sulit.

Singkatnya sih, semakin tinggi semakin besar pula angin yang menerpa. 15 hal di atas mungkin belum tentu dialami oleh semua orang, tapi gue yakin, setiap atasan pasti punya permasalahan tersendiri yang dulunya tidak pernah mereka alami waktu posisi mereka masih berada di level staf biasa. It’s not as easy as we thought it was.

Jadi kalo menurut gue, daripada sibuk menghitung-hitung renumerasi yang diterima atasan, lebih baik kita hitung-hitung berapa besar tanggung jawab yang harus mereka pikul. Begitu pula kalo kita punya cita-cita untuk duduk di bangku pimpinan. Daripada keseringan berkhayal soal fasilitas yang akan kita dapatkan, lebih baik kita instropeksi diri… sudahkah kita memiliki kualitas yang diperlukan untuk dipercaya menjadi seorang leader?

Tips Sukses Kuliah Ala Gue

Gue baca status temen-temen gue, kayaknya sekarang ini lagi musim masuk kuliah yah? Anak-anak kuliahan di kosan gue juga udah pada balik dari kampungnya masing-masing. Nah, dalam rangka kuliah sudah dimulai, gue mau kasih tips-tips yang semoga aja bisa bermanfaat khususnya buat teman-teman yang baru saja memulai tahun pertama di kampusnya masing-masing.

  1. Jangan dibiasakan mencontek saat mengerjakan TM atau PR dari dosen. Mengerjakan tugas adalah salah satu cara belajar yang paling menyenangkan. Saat mengerjakan tugas, kita punya tantangan yang harus selesai. Makanya gue bilang, mengerjakan tugas itu bisa jadi lebih menyenangkan ketimbang baca buku pelajaran misalnya;
  2. Jangan malas baca buku! Ada perbedaan kualitas antara orang yang membaca dengan yang malas atau jarang membaca. Biasanya, bisa kelihatan dari luasnya knowledge saat mereka sedang membicarakan sesuatu. Trust me, reading books could expand your knowledge more than you know it, and… you will be proud of yourself, proud of your own knowledge;
  3. Meringkas buku pelajaran bisa menjadi salah satu opsi untuk belajar efektif. Meringkas buku sama saja membaca buku itu lebih dari satu kali. Lebih asyiknya lagi, saat nanti menjelang ujian, kalian enggak perlu lagi nenteng-nenteng buku tebal itu. Kalian tinggal baca ulang aja isi ringkasan kalian yang hanya sebanyak beberapa lembar itu;
  4. Rajin mencari kisi-kisi yang diberikan dosen di kelas lain. Untuk satu mata kuliah yang sama, bisa ada lebih dari satu dosen, dan belum tentu dosen yang akan membuat soal ujian itu adalah dosen yang mengajar di kelas kita. Dan menurut gue, memanfaatkan kisi-kisi itu bukan dosa. Secara yah, kisi-kisi itu kan diberikan secara sukarela sama dosen ybs. Jadi kalo kisi-kisi adalah sebuah dosa, maka… dosa itu adalah dosanya dosen, bukan dosanya mahasiswa, hehehehe;
  5. TAPI jangan cuma belajar berdasarkan isi kisi-kisi! Belajar lebih banyak dari soal yang keluar di ujian itu bukan suatu kerugian kok. Lebih banyak belajar akan bikin kita makin pintar. Jadi kenapa harus takut rugi? Lagian percaya deh, apapun yang kalian pelajari, pasti aka nada manfaatnya untuk diri kalian sendiri. Mungkin belum terasa sekarang, tapi nanti di dunia kerja, akan terlihat jelas karyawan mana yang pintar serta karyawan mana yang ilmu pengetahuannya itu serba ngepas;
  6. Niatkan sejak awal, bahwa kalian tidak akan pernah mencontek selama ujian berlangsung. Bertekad untuk tidak mencontek akan membuat kita semakin rajin untuk belajar. Secara saat ujian nanti, kita cuma akan mengandalkan diri kita sendiri tanpa bantuan dari siapapun;
  7. Mengajar bisa menjadi salah satu cara belajar yang paling efektif. Otak kita akan terus berputar saat mengajar sehingga akan mengasah knowledge kita dengan sendirinya. Apalagi kalo kita punya murid yang kritis dan hobi nanya… dijamin deh, dengan mengajar pasti bakal bikin kita menjadi semakin pintar;
  8. Jangan takut sama dosen yang suka seenak jidat. Misalnya, dosen yang ngasal ngasih nilai (satu kelas, entah benar entah salah, semuanya dikasih nilai 80), terutama dosen yang suka mendiskreditkan suku atau agama tertentu. Memang kecil kemungkinan kita berhasil melawan dosen ybs. Tapi, berani melawan itu perlu untuk memberi efek jera terhadap dosen ybs. Memang ada potensi buat merugikan diri kita sendiri, tapi anggap aja amal buat adik-adik kelas kita. Ditambah lagi, berani melawan ketidakadilan akan menjadi kebanggaan yang meningkatkan kepercayaan diri kita untuk selama-lamanya;
  9. Boleh sibuk berorganisasi, tapi kuliah harus tetap jadi prioritas nomor satu;
  10. Jangan suka cari muka sama dosen. Kecil kemungkinan hal itu bisa berhasil bikin nilai kita jadi bagus. Kalau kita memang pintar, tanpa perlu cari muka, dosen-dosen pasti akan mengenal kita dengan sendirinya kok; dan
  11. Saat ada forum kelas, ajukan pertanyaan yang berkualitas, jangan pertanyaan asal hanya supaya kelihatan aktif. Caranya? Baca buku! Saat baca buku, suka ada aja pertanyaan yang terlintas di benak kita tapi tidak terjawab di buku ybs. Kalau kepingin dikenal sama dosen, ini dia salah satu cara yang efektif untuk menarik perhatian mereka.

Kenapa serius belajar saat kuliah itu sangat-sangat penting? Karena…

  1. Saat melamar kerja nanti, enggak akan ada perusahaan yang minta ijazah SD-SMP-SMA kalian. Yang diminta itu cuma transkip dan ijazah D3/S1 kalian. Jadi boleh dibilang, jadi enggak penting di mata perusahaan rangking berapa kalian di sekolah dulu, melainkan berapa IPK dan berapa nilai C di transkip kalian;
  2. Kalo kalian punya cita-cita buat kerja di perusahaan bonafid, kemungkinan besar mereka punya persyaratan IPK minimum 3 ke atas. Gue malah pernah lho, dateng interview ke perusahaan yang minta IP minimum 3,7. Sebagai kompensasinya, perusahaan yang minta IP gede itu nawarin benefit yang relatif gede juga. Jadi boleh dibilang, IPK nantinya akan menjadi alat kita untuk mengetuk pintu perusahaan impian;
  3. Gue sering melihat, besarnya IP menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kepercayaan diri seseorang di dunia kerja. Ada beberapa orang yang sangat capable dalam pekerjaannya, tetapi ternyata mereka sendiri malah ngerasa agak minder dengan kapasitas diri mereka hanya karena waktu kuliah dulu, IP mereka termasuk ngepas. Padahal dalam banyak hal, percaya diri itu penting untuk memudahkan kita dalam melakukan segala sesuatunya; dan
  4. Lebih baik capek belajar saat kuliah daripada mengejar ketertinggalan setelah bekerja. Gue enggak bilang mustahil untuk mengejar ketertinggalan, tapi tetap lebih enak kalo kita bekerja dalam keadaan sudah siap karena setelah bekerja, otomatis kita jadi tidak punya banyak waktu untuk mempelajari materi yang sebenarnya saat kuliah dulu sudah pernah diajarkan. Jadi saat bekerja nanti, kita tinggal menerapkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang sudah lama kita miliki.

Pada akhirnya, IPK tetap bukan segala-galanya. Orang yang IP-nya gede banget belum tentu kerjanya bagus banget. Apalagi orang-orang yang IPK gede dari hasil nyontek! Jadi sebenarnya, yang paling penting adalah ilmu pengetahuan di balik IPK yang kita miliki, dan, kampus adalah tempat yang paling baik untuk menimba ilmu ketimbang SD-SMA. Selama kuliah itu, kita punya lebih banyak waktu luang kalo dibandingkan jaman sekolah, dan pelajaran yang didapatkan sudah sesuai dengan jurusan masing-masing.

Good luck buat teman-teman yang baru aja memulai kehidupan baru sebagai mahasiswa. Wish you all the best 🙂

Kenapa Cowok Suka Bikin Cewek Jadi Geer?

Belakangan ini, ada beberapa orang yang meng-google keyword: kenapa cowok suka bikin cewek geer, yang akhirnya, pencarian google orang-orang tersebut menyambungkan mereka ke blog gue ini. Dan gue pun jadi terinspirasi buat nulis blog yang bertema: kenapa cowok suka bikin cewek geer?

Berikut ini adalah jawabannya, yang gue dapat langsung dari teman-teman cowok gue, dan ada juga yang berdasarkan pengalaman pribadi gue.

Karena cowok senang diperhatikan…

Ada teman gue yang bilang waktu dia masih lebih muda, dia suka sengaja bermanis-manis sama cewek buat menarik perhatian mereka. Dengan begitu, cewek-cewek itu juga akan berbalik memperhatikan dia. Dan si teman gue ini dulunya sangat-sangat menikmati hujan perhatian dari cewek-cewek di sekitarnya. Katanya hidup dia jadi terasa lebih menyenangkan. Itu saja, as simple as that.

Karena enggak mau kehilangan fans…

Kalo menurut gue sih ya, harus diakui bahwa cewek itu adalah salah satu ‘aksesoris’-nya cowok-cowok. Makin banyak aksesoris, makin keren dan akan makin mendongkrak ego mereka. Biasanya cowok yang sudah dewasa (baca ya: dewasa, bukan tua… orang yang tua secara usia belum tentu sudah dewasa secara kepribadian) akan berhenti tebar pesona. Biasanya sih, mereka berhenti tebar pesona kalo udah nemuin satu cewek yang bener-bener bikin mereka ngerasa klop.

Karena mereka dididik sama orang tuanya untuk memperlakukan cewek dengan baik…

Jangan keburu geer kalo ada cowok yang menawarkan diri membawakan barang berat milik kita, atau yang dengan baik hatinya menunggu sampai kita mendapat taksi di malam hari. Atau hal-hal kecil seperti membukakan pintu untuk kita. Karena bisa jadi, hal itu memang biasa dia lakukan kepada semua perempuan yang dia kenal. Bisa jadi, dia menjadi gentle seperti itu berkat didikan orang tuanya. Misalnya di keluarga gue… Anak-anak cowok dididik untuk bantu membawakan barang-barang berat milik saudara perempuannya. Jadi sebelum geer, coba dilihat dulu. Does he also do the same thing to any other girl?

Karena pada dasarnya, dia memang tipe cowok yang baik hati…

Baru-baru ini, gue seperti mengalami déjà-vu. Ada teman cowok yang melakukan sesuatu yang dulu juga pernah dilakukan sama mantan gebetan gue. Jujur dulu gue sempat geer sehingga ujung-ujungnya gue malah jadi naksir sama mantan gebetan gue itu. Tapi kali ini, gue jelas enggak boleh geer. Kenapa? Karena teman cowok gue yang satu ini terkenal cinta dan setia banget sama istrinya! Gue lihat persamaannya, dua orang cowok ini emang terkenal dengan kebaikan hatinya. Jadi mungkin, dulu gebetan gue itu juga enggak ada niat bikin gue jadi geer, tapi emang gue-nya aja yang salah mengartikan kebaikan hatinya.

Karena mereka menganggap kita teman baik…

Ada beberapa sahabat cewek gue yang suka SMS atau telepon gue untuk memastikan gue udah sampe rumah dengan selamat setelah gue pulang dari hang-out bareng mereka di malam hari. Banyak juga yang kalo pergi makan bareng gue, mereka peduli banget sama menu makanan yang gue suka dan yang enggak gue suka. Ada pula teman-teman cewek yang tidak dalam rangka apa-apa, tiba-tiba aja nraktir gue makan malem. Nah, kalo hal yang sama dilakukan sama cowok, jujur bisa-bisa gue salah sangka. Padahal sebetulnya niat mereka, baik teman cowok dan teman cewek, itu ya sama-sama aja: mereka memperlakukan kita dengan baik karena mereka menganggap kita teman baik mereka. Makanya sekarang kalo ada cowok yang ngajakin makan terus gue dibayarin ya udah, alhamdulillah, hehehehehe.

Menurut gue sih, cewek-cewek nggak usah pusing lah, soal beginian. Kalo cowok itu emang benar-bener suka sama kita, dia pasti bakalan bilang. Apapun rintangannya, dia pasti akan tetap bilang. Jadi sampai dia jelas-jelas bilang suka, ya mendingan jangan salah sangka dulu. Menurut pengalaman pribadi gue, kalo kita sampe harus menebak-nebak isi hati dia, maka besar kemungkinan kita hanya salah sangka saja. Karena ya itu tadi… kalo mereka beneran suka sama kita, mereka pasti kepengen kita tahu dengan cara bilang langsung. Jadi mendingan berhenti berusaha mengumpulkan ‘tanda-tanda’ itu. Just enjoy his attention and don’t take it seriously. Lagipula sebenernya asyik juga kan… diperlakukan sebagai cewek sama cowok-cowok itu? Hehehehehe.