And Now I Know How It Feels…

GIVING ADVICES RULE

Dulu

Gue suka bingung tiap kali baca majalah yang bilang bahwa sebaiknya, kita tidak memberikan advice jika tidak diminta. Bisa jadi, teman ybs hanya ingin didengarkan. Gue pikir, apa salahnya memberikan saran? I’m well known as a great advisor, and what’s wrong with that?

Sekarang

Sekarang gue tau betapa enggak enaknya dinasehati panjang lebar di saat sebenarnya, gue hanya sedang ingin menumpahkan uneg-uneg. Apalagi kalau nasehatnya terkesan menyalahkan gue… Bukannya gue enggak mau terima input, tapi ‘digurui’ saat hati sedang panas yang ada malah bikin hati tambah panas! Niatnya curhat supaya hati lega, yang ada malah tambah kesal…

Sudah sejak beberapa bulan belakangan ini, gue menahan diri untuk tidak asal kasih nasehat. Gue harus cari timing yang pas, kata-kata yang tepat, bahkan, intonasi dan raut wajah yang pas saat mengatakannya. Kemudian untuk posisi sebaliknya, gue juga mulai pilih-pilih tempat curhat. Gue akan lebih memilih curhat dengan teman yang bisa bikin gue ngerasa nyaman, bukan malah bikin gue tambah uring-uringan…

 

STOP COMPLAINING

Dulu

Setiap kali ada teman yang menegur agar jangan suka mengeluh, gue berpikir dalam hati… apa salahnya? Gue kan, hanya ingin mengungkapkan isi hati, supaya lega. Toh yang penting, meskipun gue mengungkapkan keluhan, segala hal yang harus gue kerjakan ya akan tetap gue kerjakan. Makanya dulu itu gue sering bilang sama teman-teman gue, “Aduh kalian ini… kalo misalkan gue curhat, bukan berarti gue lagi ngeluh.”

Sekarang

Sejak mulai menduduki posisi manajerial di kantor, gue jadi merasakan betapa tidak enaknya berhadapan dengan bawahan yang suka mengeluh. Malah terkadang, hal-hal kecilpun, mereka keluhkan dengan cara yang dibesar-besarkan. Belakangan ini, gue jadi berkaca dengan diri gue sendiri… Gue sendiri pun, masih aja jadi bawahan yang suka mengeluh. Kalau dipikir-pikir… kasihan si bos punya bawahan kayak gue.

Makanya, mulai hari ini gue bertekad, gue akan batasi status BBM, Facebook, dan Twitter yang isinya berbau keluhan. Gue juga akan berusaha mengurangi celotehan gue yang nggak penting-penting banget itu. Untuk urusan curhat, gue cuma akan curhat satu kali untuk satu topik dan hanya kepada satu orang tertentu aja. Kasihan juga teman-teman gue kalo keseringan dengerin curhatan gue yang itu-itu aja, hehehehe.

 

KEBIASAAN NGAMBEK

Dulu

Waktu SMA, ada temen cowok gue yang bilang gini, “Gue paling kesel kalo cewek udah mulai ngambek… Bikin bingung!”

Pikir gue saat itu… namanya juga orang lagi marah. Ya manusiawi lah kalo muka jadi cemberut, jadi males ngomong, atau kalopun ngomong jadi ketus dikit… Gue malah serem sama orang yang tetep tersenyum manis meskipun di hatinya sedang tersimpan dendam kesumat sama orang ybs… Kesannya palsu dan muna banget nggak sih?

Sekarang

Sekarang gue memahami apa yang dimaksud dengan ngambek yang menyebalkan. Muka cemberut, bersungut-sungut, tapi tidak mau mengutarakan letak permasalahannya. Diajak bicara terbuka pun, reaksinya malah menyebalkan. Kalo udah ngambek, maunya dibaik-baikin, segala sesuatu harus diturutin, dan… orang ybs harus bisa baca pikiran kita tanpa perlu kita ucapkan secara verbal. Atau tren terbaru, ngomong langsung sih enggak, tapi sengaja bikin status di social media buat nyindir-nyindir pihak ybs. Gimana masalah mau selesai jika kita bereaksi childish seperti itu?

Sampai sekarang gue masih berusaha keras untuk menghilangkan kebiasaan ngambek. Gue udah nggak pernah lagi sih, sengaja nyuekin orang yang lagi ngomong sama gue, atau sengaja bertingkah menyebalkan, hanya supaya dia berasa gue lagi kesel sama dia… Tapi tetep aja, ekspresi muka gue di saat sedang marah itu yang susah banget buat dipoles. Kalo kata bos gue, “Kamu ini kalo lagi stres mukanya jelek, suka cemberut. Jangan suka cemberut.”

Tapi sudahlah. Mengubah kebiasaan jelek kan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Yang penting kan, muka boleh cemberut, tapi sikap gue tetap koperatif, dan kerjaan pun tetap gue selesaikan dengan ikhlas. Kalo nanti gue udah pinter nahan emosi buat enggak sembarangan ngoceh di saat marah, baru deh, gue urusin ekspresi masalah ekspresi muka gue itu…

30 Things to Do Before 30

Untuk pertama kalinya, bertambahnya usia tidak membuat gue senang pada saat ultah yang ke 26 bulan November 2012 yang lalu. Awalnya gue bingung… kenapa? Yang jelas bukan karena gue ngerasa udah dikejar deadline married… tapi apa? Baru kemudian gue sadari, usia gue semakin dekat ke kepala 3, sedangkan masih banyak impian di usia kepala 2 yang masih belum berhasil gue wujudkan.

Kemudian beberapa hari yang lalu, gue menemukan artikel menarik di majalah Chic bulan Januari 2013. Judul tulisannya: “132 Things to Do Before 30.” Gue pun jadi kepingin bikin tulisan yang sama!

Tulisan ini akan gue jadikan guideline dalam hidup gue 4 tahun ke depan… Dan berikut ini daftarnya, gue urutkan dari hal-hal yang insyaallah akan terealisasi dalam waktu dekat. Doakan gue berhasil mewujudkan semuanya tepat waktu yaa!

  1. Pergi ke dokter ahli gizi supaya naik berat badan minimal 10 kg;
  2. Ganti facial care gue jadi Clinique semua, dan body care jadi L’occitane semua;
  3. Traveling sendirian ke luar negeri;
  4. Lihat bunga sakura bermekaran di Jepang;
  5. Mulai investasi reksadana atau logam mulia;
  6. Berani nyetir mobil sendiri… itu SIM jangan cuma jadi pajangan doang, hehehehe;
  7. Beli mobil pertama… mobil fasilitas kantor nggak masuk hitungan, hehehe;
  8. Nonton konser penyanyi luar negeri;
  9. Tinggal di apartemen pribadi… Harus banyak-banyak berdoa supaya apartemen gue cepet kelar dibangun;
  10. Pelihara kucing Persia, asli, dan harus yang bersertifikat!
  11. Duduk di business class saat bepergian dengan pesawat;
  12. Tidur di hotel bintang 5 saat menginap di luar negeri;
  13. Liburan keliling Eropa… Italy, France, Germany, Spain, Netherland, UK;
  14. Punya 1 tas Louis Vuitton… kalo bisa beli langsung di Paris;
  15. Lihat salju!
  16. Terbitkan novel perdana;
  17. Membukukan tulisan-tulisan terbaik di blog gue;
  18. Membawa novel gue ke layar lebar;
  19. Tampil di cover majalah atau tabloid Ibu Kota, huahahaha, serius loh ini;
  20. Naikin GMAT score, kalo perlu ikutan kursus;
  21. Coba apply beasiswa S2 ke luar negeri… sekali lagi;
  22. Ambil minimal satu gelar profesi;
  23. Mendapatkan pekerjaan di salah satu kantor impian;
  24. Mulai merintis bisnis kecil-kecilan;
  25. Ngerasain berlibur naik kapal pesiar;
  26. Umrah, trus lanjut ke Dubai nyobain naik unta, plus ke Mesir lihat pyramid;
  27. Menghampiri mantan gebetan dan bertanya, “What was that between us?”
  28. Berbaikan dengan sahabat-sahabat lama yang pernah gue tinggalkan. Siapa tahu, mereka sudah berubah;
  29. Meet my Mr. Right… no more drama, no more heartbroken, no more cowok-cowok yang nggak jelas apa maunya, hehehehe; dan
  30. Merayakan ultah gue yang ke 30… ngundang teman-teman dekat dari jaman SD sampai kerja.

My Best Moments in 2012

Awalnya gue ngerasa, nggak ada something special sepanjang tahun 2012. Untuk urusan kerja, nggak ada promotion seperti tahun 2011. Kemudian untuk urusan cinta-cintaan, setelah belasan tahun lamanya, baru saat 2012 itu aja gue mengalami yang namanya enggak punya gebetan selama satu tahun penuh. Resolusi 2012 gue juga masih saja tidak tercapai. Berat badan masih belum naik, novel masih belum selesai diketik, masih boros dan gila shopping… Betul-betul tahun yang flat kalo menurut gue.

Kemudian beberapa hari yang lalu, saat tinggal 1 hari menjelang tahun baru, ada satu kejadian kecil yang membuat gue menyadari sesuatu. Ceritanya gue sedang makan malam bareng 3 orang teman kantor, dan tanpa gue sadari, gue bisa dengan mudah menebak menu makanan yang ingin dipesan salah satu teman gue. Saat itulah gue tahu dengan sendirinya… ini dia pencapaian 2012 gue… dua orang sahabat baru yang gue dapatkan di tahun 2012.

Pertemanan gue dengan mereka boleh dibilang sesuatu yang nggak terduga. Satu orang teman cowok yang awalnya hanya sering ngobrol untuk urusan pekerjaan, dan satu orang teman cewek yang mulai akrab justru melalui Yahoo Messenger. Setahun belakangan ini, mereka berdua adalah orang pertama yang gue cari untuk berbagi cerita. Sesekali, mereka bikin gue jengkel, begitu pula sebaliknya, tapi pada akhirnya, gue selalu berpikir, “Orang lain boleh aja sebel sama gue tanpa alasan yang jelas… yang penting, gue punya mereka berdua yang akan selalu support gue.”

Kemudian selain dua sahabat baru, di kantor masih ada beberapa teman lain yang juga sudah mewarnai hari-hari gue. Partner gosip, partner cekikikan sampai tertawa terpingkal-pingkal, bahkan partner yang setia mendengarkan keluh-kesah gue yang seolah tidak ada habisnya… And not forget to mention my boss. Terlepas dari segala kekurangannya, tetap ada cukup banyak moment di mana gue ngerasa, gue beruntung punya bos nyentrik kayak dia.

Jadi kesimpulannya, 2012 was not as bad as I thought it was. Malah kalau dikpikir-pikir lagi, I had many great moments during that year!

This slideshow requires JavaScript.

Berawal dari family trip ke Singapura di bulan Februari. Only Singapore, not far from Indonesia, but it was fun too. Gue dan keluarga sangat-sangat menikmati kunjungan kita ke Universal Studio. Ortu dan adek-adek gue juga excited banget belanja-belanja di sana. Semoga lain waktu, gue bisa bawa mereka jalan-jalan ke tempat yang lebih spektakuler 🙂

Nggak lama kemudian, ada lagi short trip ke Bandung bareng temen-temen kantor. Cuma mampir ke Trans Studio, tapi menyenangkan! Puas ketawa-tawa, puas sama wahana yang sebetulnya cuma gitu-gitu aja, puas foto-foto meski dengan kamera ala kadarnya…

Setelah itu masih ada South Korea trip di bulan Mei… Memang bukan perjalanan terbaik yang pernah gue punya, tapi gue tetap selalu merasa senang dan bangga tiap kali bercerita soal perjalanan itu.

Kemudian pertama kalinya nonton Disney on Ice dan Indonesian Idol live in Ancol. Keduanya gue tonton bareng salah satu teman terbaik gue di EY. It felt so good to know that I still have an old friend to have fun with!

Ada pula 2 acara kantor, satu di Bogor, dan satu lagi di Lembang, yang gue lewati dengan banyak tawa. Puas banget rasanya ketawa sampe sakit perut seperti saat-saat itu… I think those were ones of the best laughter I’ve ever had.

Di akhir Oktober, gue dan beberapa orang teman pergi liburan ke Karimunjawa. Karimunjawa was not a spectacular island for me, but the trip was still spectacular for me. Banyak pengalaman baru, dan juga… pulang dengan membawa teman-teman baru!

Malam ulang tahun gue di penghujung November juga sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya… Gue terpaksa melewatkan malam ultah di kantor bersama 3 orang colleagues, dan persis jam 12 malam, si bos menyodorkan lighter-nya dan nyuruh gue make a wish lalu meniup api dari lighter-nya itu! Only a small occasion, but at least, it was something I’ll never forget.

Tiba pada malam pergantian tahun… I had a pretty good time with my office mates. Masak bareng-bareng, bakar jagung yang ternyata gagal total, karokean dengan fasilitas seadanya, dan membunyikan terompet sambil deg-degan takut diomelin tetangga, hehehehe. We also had a sharing session, then for a while, we closed our eyes just to pray for a better year.

Finally… yes, I didn’t have a boyfriend, no more promotion at work, and so many failed resolutions… but so what? I still had great friends around, and of course, my beloved nephew who was born in June 2012. My house feels like a different place since the day he was born and I always have such a good time with this cute baby.

Gue menutup tahun 2012 dengan rasa syukur, dan dengan harapan besar, untuk memulai tahun yang membawa perubahan. Seperti birthday wish di malam ultah gue itu… “Hope that I would change my life, in the new age, in the new year!”

So happy new year 2013 everyone! Wish you have a great year ahead 🙂

Mulutmu, Harimaumu

First of all, mari kita ingat kembali… Pernahkah kita melakukan 3 hal yang gue sebutkan di bawah ini?

Mulut tidak berhenti mengomentari berbagai detail dari pernikahan seorang teman… Makanan terlalu pedas, makanan sudah hampir habis, AC kurang dingin, kebersihan kurang terjaga, make-up si pengantin terlalu menor, dsb dsb… Setiap kali ketemu satu tamu lain yang kita kenal, mulut kita ini langsung sibuk melontarkan berbagai kekurangan dari pernikahan teman kita itu.

Kantor sedang mengadakan kegiatan rapat kerja tahunan, dan kita tidak henti-hetinya menggosipkan kinerja panitia raker. Pengumuman yang terlambat, instruksi yang kurang jelas, koordinasi yang kacau balau, acara ngaret lima belas menit, dst dst…

Atau saat sedang pergi berlibur dengan beberapa orang teman. Kita terus menerus mengungkapkan kekecewaan kita terhadap furniture hotel yang sudah tua, tour guide yang tidak pandai berbahasa Inggris, makanan yang rasanya aneh, sampai live show yang membosankan dan bikin ngantuk.

Pernahkah kita melakukan ketiga hal tersebut di atas?

To be honest, gue pernah. Bahkan cukup sering. No wonder kalau gue ini terkenal cerewet dan tukang komplain. Pikir gue saat itu, gue kan cuma menyuarakan isi hati. Gue tipe orang yang ngerasa, segala sesuatu itu harus diungkapkan, supaya hati jadi lega. Toh segala yang gue ucapkan itu sifatnya fakta, bukan gosip atau fitnah belaka… Jadi gue yakin betul, tidak ada yang salah dari melakukan hal-hal yang seperti itu.

Gue berpikiran tidak ada yang salah, sampai gue tiba pada suatu waktu di mana tiba-tiba saja, gantian gue sendiri yang sering menjadi objek gosip favoritnya orang-orang di sekitar gue.

Gue kenal seorang cewek yang senaaang sekali mengumbar kejelekan orang lain. Give her fifteen minutes to talk, then she will badmouth at least 3 other names. Dan sialnya lagi, gue tahu bahwa di belakang gue, dia juga suka sekali menjelek-jelekan gue tanpa bukti atau tanpa alasan yang kuat.

Kemudian ada lagi seorang cowok yang setiap kali ada event kantor, mulutnya tidak bisa berhenti ngoceh tentang berbagai kekurangan dari event tersebut. Gue sampai berpikir, kalo gue yang jadi panitia, gue pasti bakal kesal banget sama cowok itu. Lagipula memangnya apa dia yakin, dia bisa melakukan persiapan yang lebih baik jika gantian dia yang jadi panitia?

Dari situ, cara pandang gue langsung berubah total.

Mari kita bahas lagi 3 kondisi yang gue sebutkan di atas.

Yang pertama soal melontarkan banyak kritik atas pernikahan orang lain. Pertanyaan gue, jika kita sendiri yang menikah, relakah kita bila segala upaya untuk mewujudkan pesta pernikahan yang sempurna malah dikritik tiada henti oleh teman-teman kita sendiri?

Setiap orang, khususnya perempuan, selalu berusaha keras untuk mewujudkan pesta pernikahan impian mereka. Segala makanan yang disajikan itupun, mereka siapkan untuk menyenangkan tamu-tamunya, bukan untuk mengenyangkan perut mereka sendiri. Jadi apa susahnya sih, menahan mulut untuk tidak berkomentar negatif? Hargailah upaya keras sang pengantin, dan jangan rusak kesenangan mereka, atau kesenangan keluarga besarnya, dengan terus menerus menyampaikan kritik yang bukan tidak mungkin akan sampai ke telinga mereka. Senang merusak kebahagiaan orang lain adalah pertanda ketidakbahagiaan dalam hidup kita sendiri.

Kemudian soal mengkritik kinerja orang lain di kantor. Pertanyaan gue, beranikah kita menyampaikan kritik itu langsung kepada orang ybs? Langsung kepada atasan kita sendiri, misalnya? Dan senangkah diri kita ini jika mengetahui ada orang lain yang suka menikam punggung kita dari belakang?

Terkadang, mulut kita cenderung suka membesarkan sesuatu. Hal yang sebetulnya kecil, sengaja kita buat menjadi besar. Misalnya saat kita bilang, “Ih, di kantor ini emang banyak yang sebel sama dia tau. Kerjanya nggak becus sih.” Padahal kenyataannya, yang sebal sama orang tersebut cuma dua atau tiga orang saja. Pada dasarnya kita sendiri pun tahu, keadaan tidak sampai sebegitu buruknya, hanya kita saja yang membesar-besarkan. Atau bisa jadi kita tidak punya bukti, melainkan hanya sekedar iri, makanya kita hanya berani ngomongin mereka di belakangnya saja. Dan coba dengar suara hati kita sendiri… pantaskah kita disebut orang baik hati jika mulut ini seringkali mengucapkan fitnah?

Jika kita punya kritik, sampaikan langsung kepada orang ybs, disertai bukti, dan saran perbaikan untuk diri mereka. Jika tidak punya bukti, tidak pula punya saran yang lebih baik, maka jangan bicara. As simple as that.

Yang terakhir soal traveling. Yang namanya group traveling, sudah pasti ada PIC untuk setiap kebutuhan liburan. Misalnya, si A khusus cari dan booking hotel, sedangkan si B mengurus tiket pesawat. Sebagai PIC, teman kita juga pastinya menginginkan hal yang terbaik untuk liburan kita itu. Tapi jika ternyata kenyataannya di luar ekspektasi, ya sudahlah, mau apa lagi? Ngoceh tidak akan memperbaiki keadaan, yang ada malah bikin teman yang sudah susah payah menyiapkan jadi merasa bersalah, atau bisa juga, jadi sakit hati gara-gara mendengar ocehan kita itu. Jangan gara-gara ketidakpuasan kita jadi merusak holiday mood semua orang.

Besides, believe it or not, segala sesuatu dalam liburan itu sebetulnya tergantung sudut pandang kita. Di liburan terakhir, gue kaget saat melihat boat yang akan gue tumpangi untuk island hoping. Bentuknya mirip perahu nelayan bo, beda banget sama boat gue waktu di Phuket. Actually I was shock, but I prefer to stay silent and enjoy the ride. Then you know what? Perjalanan menggunakan ‘perahu nelayan’ itu akhirnya malah jadi perjalanan yang paling seru sepanjang hidup gue. Untuk detailnya, baca di sini.

Intinya sekarang ini, gue sedang banyak melihat bukti bahwa memang benar, mulut itu bisa lebih tajam daripada pedang. Dan jangan kita lupa… kalau kata pribahasa, mulutmu, harimaumu. Bisa jadi segala ocehan yang keluar dari mulut kita itu kelak akan balik menyerang diri kita sendiri.

Balik lagi ke contoh di atas…

Saat kelak gue married, gue akan pikir dua kali sebelum ngundang teman yang gue tahu suka mengkritik pernikahan orang lain.

Kemudian di kantor, gue paling malas melibatkan staf yang suka ngeluh. Kerja bareng mereka cuma bikin kuping panas dan bikin capek hati secara apapun yang gue lakukan akan selalu dianggap salah. Kemudian jangan lupa… sering mengeluhkan hasil pekerjaan orang lain sama saja menghadiahkan diri kita sendiri sebuah resiko untuk balik dikeluhkan oleh orang lain.

Kalau soal traveling, gue nggak akan mau lagi pergi bareng sama temen jalan yang mulutnya rese-rese selama perjalanan, hehehehehe.

Mulut ada cerminan kualitas hati. Orang yang selalu mengumbar kejelekan orang lain menandakan kedengkian, dan orang yang selalu meneriakan kata-kata kotor menandakan ketidakbahagiaan. Kendalikanlah mulut saat bicara. Jika ingin curhat, lakukan secara terbatas dan bukan terus menerus curhat sama semua orang! Bahagiakan diri kita sendiri, dengan mengendalikan kata-kata kita sendiri.

Self-assessment Today

Hari ini, entah kenapa, tiba-tiba aja gue ngerasa perlu mengevaluasi perjalanan hidup gue sampai saat ini. Gue pun mulai menilai berbagai aspek dalam hidup gue sendiri. Kemudian seperti biasa, gue kepingin berbagi hasil penilaian itu melalui blog ini. Rasanya kok ya belum lengkap kalo belum gue share lewat tulisan gitu, hehehehe.

Career

  1. I’m sure I’m doing well in this first year as a manager, but after this, where will I go? Setelah gue jadi manajer, selanjutnya apa? I’m suddenly afraid of standing still and going nowhere;
  2. I said I was doing well… but NOT extraordinary. Gue ngerasa bahasa Inggris gue, terutama active English, masih kurang bule, kurang keren, kurang fasih, kurang lancar… IELTS score gue aja masih 6.5, belum 8. Kemudian presentation skill dan confidence level gue juga masih harus ditingkatkan. Still have so many areas of improvement!
  3. Masih belum berhasil mendapatkan pekerjaan impian… hiiks;
  4. Anehnya, gue juga mulai bertanya-tanya… si pekerjaan impian itu, memang benar-benar sesuatu yang akan jadi passion gue, atau hanya sekedar ambisi untuk mendapatkan pekerjaan yang gue anggap bergengsi? Hmm… what is my passion, anyway?
  5. Di sisi lain, I’m also making an excellent progress. Mulai bisa nahan diri untuk enggak maki-maki anak buah (I haven’t done this in the last 10 months!), mulai belajar untuk memaafkan anak buah yang dengan teganya ngomongin gue di belakang, kemudian mencoba cari solusinya dengan kepala dingin (and I made it!), dan sekarang mulai berusaha bersikap lebih kalem terhadap klien-klien yang gue anggap menyebalkan.

Friendship

  1. I lost many best friends in the last 2 years… Kebanyakan sih karena gue udah kehilangan kepercayaan sama mereka, tapi ada juga yang karena gue mulai ngerasa, elo kok ngakunya sahabat tapi kenapa memperlakukan gue seperti musuh? Awalnya gue takut kalo begini terus, lama-lama gue cuma bakal end-up seorang diri, tapi sekarang gue sadar… gue enggak perlu takut kehilangan orang-orang yang hanya membuat gue ngerasa takut dibohongi, atau takut ditikam dari belakang. Sebetulnya gue kangen sama mereka, tapi sampai mereka belajar dari kesalahan dan berjanji untuk berubah, maka gue lebih memilih untuk tetap seperti ini saja;
  2. Di saat yang sama, gue juga mulai belajar memaafkan… Ya, gue maafkan, tapi memang untuk kembali sama persis seperti dulu, gue masih butuh waktu. Gue perlu yakin bahwa kali ini, keadaannya akan berbeda;
  3. Gue selalu yakin, di mana ada tempat baru, di situ ada sahabat baru. Baru-baru ini gue menyadari… di kantor yang sekarang, gue punya beberapa teman baik, dan di antaranya lagi, ada 2 orang yang sudah bisa gue sebut sebagai sahabat, yang juga menganggap gue sebagai sahabat baru mereka. Keberadaan mereka udah bikin hidup gue di kantor jadi sedikit lebih mudah. Tiap kali ada orang yang bicara buruk tentang gue, mereka nggak akan ragu buat bilang, “Riffa enggak gitu kok…” I really thank them for just saying such a simple statement;
  4. Oh ya… di tengah sulitnya mencari teman yang bisa dipercaya, dari hasil self assessment ini gue juga jadi menyadari bahwa gue punya 2 orang sahabat yang selalu bisa gue percaya; satu orang sahabat lama di kampus Binus, satu lagi sahabat baru di kantor yang sekarang. Gue belum pernah menangkap basah mereka sedang berbohong sehingga secara otomatis, gue enggak pernah sekalipun mempertanyakan apapun yang keluar dari mulut mereka.

Love Life

  1. Ini dia yang paling menyedihkan… sepanjang tahun 2012 ini, gue enggak naksir satu cowokpun. Nggak satupun! Hiiks…
  2. Ok, sekarang gue akui… dulu itu gue salah berdoa. Jadi ceritanya, setelah susah payah menuntaskan patah hati gue di hampir sepanjang tahun 2011, gue berpikiran, “It’s okay to be single, as long as not single and broken hearted.” Ternyata nggak gitu juga sih… Faktanya, being single and not in love with somebody is not okay either, hehehehe. Gue nggak bakal bisa berjodoh dengan siapapun kalo gue enggak berani ngambil resiko untuk patah hati kan?
  3. Right, kalau begitu, gue ralat doa gue… Hope God will give me another chance with another man… and please, give me a good one for this time 😀 Yaah, mau good or bad, selalu ada aja yang bisa gue pelajari kok. Intinya sih saat ini, gue kangen banget sama rasanya jatuh cinta. Senyum-senyum sendiri kalo inget dia, rasa nggak sabar kepengen cepet ketemu sama dia, nyimpen semua yang berhubungan sama dia seolah sedang menyimpan intan berlian, rasa bahagia waktu akhirnya dia bilang cinta… aaaah, I really miss those moments 😉

Health

  1. Ini dia yang masih perlu banyak banget perbaikan. Mulai sekarang gue bertekad, suka nggak suka sama makanannya, harus makan minimal setengah porsi. Jam sepuluh malam sudah harus tidur. Rajin minum vitamin, jangan cuma dijadiin pajangan doang. Perbanyak makan sayur dan bua-buahan. Perbanyak minum air putih. Dan… uhm… mulai berolahraga kali yaa;
  2. Harus daftar asuransi kesehatan, tapi kali ini harus lebih teliti. Baru aja punya pengalaman buruk sama perusahaan asuransi yang katanya nomor satu di Indonesia. Kalo nanti masalahnya udah clear, akan gue sharing di blog ini detail konfliknya, supaya teman-teman lain bisa lebih cermat memilih asuransi.

Family         

  1. Lagi betah di rumah… karena ada ponakan yang lucu dan menggemaskan (meskipun ngengeng dan suka ileran, hehehehe);
  2. Ngelihat perjuangan adek gue selama hamil, melahirkan, dan membesarkan anaknya bikin gue jadi sadar… Allah sudah merencanakan segala sesuatu tepat pada waktunya. My sister might be ready for a kid, but I’m not her, not now. Itu pula yang bikin gue semakin terpacu untuk mengejar impian gue, as soon as possible, mumpung gue masih belum punya prioritas lain selain diri gue sendiri. Gue yakin kelak, Allah juga akan memberikan gue keturunan yang baik di saat gue juga sudah siap menjadi ibu yang baik. Untuk sementara, jadi aunty yang baik aja udah cukup lah ya, hehehehe.

Jadilah Diri Sendiri; Versi Terbaik dari Diri Kita Sendiri

Waktu jaman SD sampai SMA dulu, masih ngetren yang namanya ngisi-ngisi buku diary. Itu lho… kita nyebar buku diary kosong buat diisi sama teman-teman kita. Pada saat itu, gue seringkali menemukan tulisan begini di dalam diary semua orang yang pernah gue baca, “Just be yourself”.

Waktu itu gue berpikir… Apakah memang si penulis berniat menasehati pemilik buku untuk jadi diri sendiri, atau itu hanya sekedar kata-kata penghias diary saja? Saking pasarannya tulisan itu bikin gue enggak mau ikut-ikutan menulis pesan yang sama. Gue kan just be myself gitu, hehehehe.

Tulisan “just be yourself” itu bisa jadi hanya sekedar penghias untuk meramaikan tampilan diary. Tapi sebetulnya, tulisan itu banyak benarnya. Dan kenyataannya, menjadi diri sendiri tidak selalu mudah untuk semua orang, atau mungkin, tidak selalu mudah untuk diri kita sendiri.

Ada orang yang ikut-ikutan melakukan sesuatu hanya supaya tidak dicap cupu, kuper, nggak gaul dsb…

Banyak pula bermunculan copy cat… Hobinya meniru segala sesuatu yang dilakukan oleh orang lain meskipun sebetulnya, hal itu belum tentu cocok untuk dirinya sendiri.

Ada lagi orang-orang yang membeli suatu benda yang nggak diperlukan hanya karena enggak mau kalah sama orang lain.

Atau tipikal orang-orang yang senang mengiyakan semua perkataan orang lain, seolah dia tidak punya pendapatnya sendiri.

Gue pernah melihat seorang teman yang punya kepribadian unik. Kalem, dewasa, keibuan, dan punya beberapa kebiasaan yang membuat dia kelihatan menarik. Sayangnya saat dia mulai berganti teman, tiba-tiba dia seperti kehilangan jati diri. Suka kecentilan, kelewat heboh, yang mana hal itu tidak terlihat cocok untuk kepribadian dia. In my opinion, she’s no longer as attractive as she used to be.

Kemudian gue juga sering merasa risih saat ada orang lain yang jelas-jelas berusaha meniru gue. Senang sih, bisa menjadi inspirasi buat orang lain. Tapi to be honest… kalau mereka sebegitu obvious-nya, gue malah jadi berpikir, “Elo ini nganggep gue temen atau saingan sih?”

Gue akui gue pernah membeli sebuah tas yang sama persis seperti yang dimiliki teman baik gue. Bukan karena nggak mau kalah, tapi memang karena gue suka sama modelnya. Dan kebetulan, gue punya cukup uang untuk membeli tas itu.

Gue beli tablet juga karena tergiur melihat tablet teman-teman gue. Lagi-lagi bukan karena gue nggak mau kalah, bukan pula untuk pamer, tapi karena gue yakin tablet itu bakal bermanfaat buat gue dan harganya pun masih sesuai dengan kapasitas kantong.

Gue juga pernah meniru trik-trik yang dilakukan orang lain, biasanya dalam hal pekerjaan… Bukan karena ingin jadi copy cat, tapi karena gue melihat trik itu memang cara yang paling efektif untuk melakukan suatu hal.

Dan gue juga suka secara nggak sadar ketularan gaya bicara orang lain. Kalau yang itu asli nggak disengaja… bukan diniatiin atau apa.

Intinya, tidak masalah meniru orang lain, asalkan masih pada tempatnya, ada kegunaannya, dan ada batas-batasnya. Terobsesi ingin menjadi mirip seperti orang-orang tertentu tidak akan membuat hidup kita jadi lebih baik. Apa yang baik untuk orang lain belum tentu baik untuk diri kita, dan apa yang kelihatan keren dan menyenangkan untuk orang lain juga belum tentu berlaku sama untuk kita. Malah menurut pengamatan gue, orang yang paling bahagia adalah orang yang tahu bagaimana cara menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri.

Menjadi diri sendiri itu sebetulnya tidaklah sulit. Langkah awalnya, cintailah diri kita sendiri! Gali potensi yang kita punya, kembangkan hobi, nikmati hidup dan belajar bersyukur sampai hal yang sekecil-kecilnya… maka dijamin, gantian orang lain yang akan ingin meniru kehidupan kita. Good luck!

Bermaafan Via Broadcast BBM… Cukupkah?

Awal Ramadhan tahun ini, Lisa, sahabat gue sejak jaman masih ABG sampai dengan sekarang, memberi tahu gue tentang broadcast message via BB (gue emang masih awam soal BB… baru mulai pake beberapa bulan belakangan ini soalnya). Katanya, jika teks yang kita terima berwara ungu, maka itu berarti, pesan itu dikirimkan secara massal melalui fitur broadcast message. Saat itu, Lisa juga mengungkapkan opininya bahwa mengirimkan broadcast message yang isinya memohon maaf, entah itu dalam rangka menyambut Ramadhan maupun Idul Fitri, sifatnya tidaklah sopan.

Hal ini mengingatkan gue terhadap prinsip yang sudah gue pegang sejak pertama kali menggenggam hp gue sendiri belasan tahun yang lalu. Sejak awal, gue tidak pernah mengirimkan template SMS lebaran yang sudah jadi kepada teman-teman dekat gue. Maksudnya, gue tidak pernah tinggal copy-paste atau tinggal forward pesan yang sudah pernah gue kirimkan untuk orang lain kepada mereka. Gue akan ketik satu per satu, case by case, sebelum mengirimkan pesan tersebut.

Kenapa begitu?

Alasannya sederhana…  Coba ingat kembali… Apa sih, tujuan kita mengirimkan SMS lebaran? Untuk meminta maaf atas kesalahan yang pernah kita perbuat bukan? Dan apakah kamu yakin… dengan mengirimkan template pesan standar yang kamu kirimkan ke SEMUA orang bisa menghapus luka atas kesalahan yang pernah kamu perbuat kepada orang ybs?

Misalkan gue pernah memarahi rekan kerja saat sedang stres dengan pekerjaan, gue akan dengan spesifik menyebutkan mohon dimaafkan segala kesalahan yang pernah gue perbuat selama gue bekerja dengan dia. Gue ingin dia tahu bahwa gue menyesali ketidakmampuan gue dalam menahan emosi, dan gue ingin memperbaikinya.

Misalkan gue pernah bertindak ekstrim dengan meninggalkan begitu saja seseorang yang pernah dekat dengan gue, tanpa memberi penjelasan apa-apa, saat lebaran, gue akan menyatakan secara eksplisit penyesalan gue atas tindakan gue saat itu. Gue ingin dia tahu bahwa gue hanya butuh waktu untuk menenangkan diri sehingga bersikap acuh tak acuh seperti itu.

Nah… pertanyaan gue… Apakah sekedar kalimat standar saja mampu menjelaskan semua penyesalan gue itu? Akankah terketuk pintu hati orang-orang itu untuk memaafkan gue setelah membaca beberapa baris kalimat yang isinya lebih mendekati formalitas atau bahkan, hanya sekedar basa-basi belaka?

Jadi sudah jelas… Jika gue tidak menyetujui penggunaan template standar untuk semua orang, maka terlebih lagi, gue sangat-sangat tidak menyetujui pengiriman SMS lebaran melalui fitur broadcast.

Pengiriman pesan lebaran melalui broadcast BBM mengingatkan gue sama e-mail yang banyak gue terima dari berbagai perusahaan dagang, atau beberapa kantor klien dan mantan klien. Gue tahu bahwa e-mail itu mereka kirimkan secara otomatis… kepada semua alamat e-mail yang tersimpan dalam database mereka. Dan gue tidak merasa perlu tersinggung… because it’s just a business matter. It’s a part of business relationship strategy.  Tapi apakah pantas, jika cara yang sama persis, kita gunakan dalam kehidupan pertemanan? Dalam hubungan antar tetangga? Bahkan… dalam hubungan antar rekan kerja? Apakah begitu cara kita memperlakukan mereka… seolah ini semua hanya demi kepentingan bisnis belaka?

Sistem broadcast ini membuat gue berpikiran… setidaknya sistem copy-paste atau forward template masih jauh lebih baik. Setidaknya, mereka menyisihkan lebih banyak waktu untuk mengirimkannya satu per satu… Tapi tetap saja, gue masih teguh berpikiran, diperlukan usaha yang jauh lebih bernilai, untuk memohon maaf atas kesalahan yang pernah kita perbuat. Tidak apa menggunakan sistem template, selama orang yang kita tuju, bukanlah orang yang jelas-jelas pernah kita sakiti perasaannya. Dan pastikan pula, bahwa orang itu bukanlah orang-orang terdekat yang sesungguhnya berhak mendapat lebih dari sekedar basa-basi belaka.

Selain soal text message lebaran, izinkan gue menyentil sedikit tentang ucapan selamat ulang tahun. Template text lucu-lucu dari BB sudah menjadi favorit semua orang. Tidak ada salahnya kok, karena kadang template itu isinya sangat kreatif dan cukup menghibur. Tapi… bisakah bertaburannya icon smiley dan gambar lucu itu menyampaikan tulusnya doa kita KHUSUS hanya untuk mereka yang sedang berulang tahun di hari itu? Template lucu bisa menghibur, tetapi, hal itu tidak akan pernah bisa menyentuh hati mereka yang sedang merayakan hari lahirnya.

Mengetik dua atau tiga kalimat tidaklah sulit. Kecuali kamu ini selebritis yang dihujani ribuan ucapan dalam sehari, maka membalas satu per satu tidak akan memakan waktu seharian penuh. Mengirimkannya satu per satu, tidak akan membuat jari-jari kamu menjadi kram. Jadi, kirimkanlah secara layak, secara yang seharusnya kamu lakukan. Pahamilah makna bermaafan di hari raya. Dan pahamilah, bukan bermaafan via broadcast message yang selama ini Tuhan inginkan.

Gue tahu tulisan gue kali ini akan menyentil begitu banyak pihak… Sama sekali bukan untuk memancing permusuhan… Gue hanya ingin mencari cara untuk mengingatkan pentingnya makna Idul Fitri yang sesungguhnya. Jangan pernah kita biarkan kecanggihan teknologi merusak makna silaturahmi. Dan gue hanya merasa, hari ini, satu malam menjelang Idul Fitri 2012, sebagai waktu yang tepat untuk menyampaikan isi hati gue terkait hal ini.

Akhir kata, gue ingin mengucapkan minal aidzin walfaidzin kepada semua pembaca blog yang tentunya, sebagian besar tidak gue kenal secara personal. Mohon maaf jika ada tulisan di blog ini yang tidak berkenan di hati teman-teman semua. Apapun agama teman-teman yang sedang membaca tulisan ini, gue tetap ingin memohon maaf yang sama. Selamat berlebaran buat teman-teman yang merayakan, dan pastinya, selamat berlibur untuk kita semua 🙂

Percakapan Siang Itu, Lebih dari 10 Tahun yang Lalu…

Waktu jaman ABG dulu, gue pernah patah hati berat sama salah satu gebetan yang tiba-tiba aja ngejauh tanpa ada penyebab yang jelas. Dalam keadaan emosi, gue ngomong begini sama Intan, salah satu teman baik gue di SMA, “Liat aja nanti… dia nggak mungkin bisa nemuin cewek yang lebih baik daripada gue. Someday dia bakal nyesel dan bakal gantian dia yang ngejar-ngejar gue.”

Waktu itu, dengan kalemnya Intan jawab begini, “Jangan gitu… Belum tentu Allah ngebales dengan cara seperti itu. Bisa aja Allah ngebales ketulusan elo sekarang dengan ngasih elo cowok yang jauh lebih baik.”

Percakapan siang itu cuma satu dari sekian banyak obrolan gue sama Intan. Sesuatu yang gue rasa udah dilupakan sama temen gue itu. Tapi buat gue, nasehat pendek itu udah jadi sesuatu yang mengubah pola pikir gue, sejak saat itu dan hingga saat ini.

Sekarang, saat ada orang lain yang sangat-sangat menyakiti perasan gue, maka gue tidak pernah lagi mengucapkan atau bahkan, tidak pernah pula terlintas dalam pikiran gue untuk bersumpah-serapah mendoakan hal-hal jelek akan menimpa orang yang bersangkutan. Menurut gue, balasan berupa hal-hal baik dari Tuhan untuk hidup gue jauh lebih menyenangkan daripada melihat hal-hal buruk menimpa hidup orang-orang yang pernah menyakiti perasaan gue itu. Mereka ketimpa sial juga gue enggak dapet untung apa-apa kan? Dan hal ini bukan berlaku dalam urusan cinta-cintaan aja lho. Dalam hubungan pertemanan, keluarga, bahkan dalam pekerjaan pun, gue menerapkan pola pikir yang sama.

Lalu apa timbal balik yang gue dapatkan?

Gue nggak bisa sebutkan secara detail di sini lah ya… Jatuhnya nggak bagus dan kesannya bisa kayak orang lagi pamer. But one thing for sure, I’ve got a happy life in return 🙂

Karakter Golongan Darah “O”

Berawal dari foto yang di-share salah satu teman, gue jadi nemuin Facebook page yang menarik, namanya Blood Type Comics. Isinya berbagai macam komik yang menggambarkan perbedaan karakter 4 golongan darah. Yang bikin gue kaget adalah… it’s absolutely true! Berikut ini gue rangkum sifat dasar si golongan darah O (yup, I’m an O) berdasarkan kumpulan komik di Facebook page ini:

Anger Management

“Talk to a third party to vent. They can de-stress, but people around them will be exhausted.”

Gue langsung nyengir baca bagian ini. Gue emang terkenal sebagai orang yang suka curhat. Gue membagi teman curhat gue berdasarkan topiknya. Si A buat dengerin curhat gue soal kerjaan, si B khusus denger soal masalah keluarga, si C dan D buat dengerin curhat gue soal cowok (soal ini masih terbagi lagi… si C khusus denger curhatan gue tentang si E, dan si D khusus denger soal kisah gue sama si F). Cuma ada ada dua sahabat lama yang sudah sangat-sangat dekat dengan gue yang pernah mendengar hampir semua cerita penting dalam hidup gue.

Kenapa gue membagi-bagi curhatan gue? Karena topik yang gue ceritakan itu belum tentu dianggap menarik oleh semua orang. Kemudian belakangan ini, untuk urusan gebetan, gue lebih memilih untuk curhat sama teman yang tidak mengenal cowok itu. Selain itu… yaaah, gue juga enggak mau temen-temen gue sampe exhausted cuma gara-gara dengerin semua kisah hidup gue, hehehehehe.

Inside Their Hearts

Inquisitive, likes to win…

Selalu ingin tahu? Menyukai kemenangan? Yeah, well… that’s me.

Gue tipe orang yang gampang banget penasaran. Ada satu teman di EY, dan satu lagi teman di Niro, yang dua-duanya seneng banget sengaja bikin gue jadi penasaran. Mereka tau banget gue ini bisa jadi cacing kepanasan kalo lagi penasaran.

Kemudian soal menyukai kemenangan… pada dasarnya siapa sih, yang mau mengalami kekalahan? Cuma bedanya, gue emang tipe orang yang berusaha lebih keras untuk memenangkan hal-hal yang gue anggap penting dalam hidup gue. The euphoria of a glory is pretty addictive to me. Gue rasa sifat ini justru bisa jadi sifat positif, selama gue tidak lantas menghalalkan berbagai macam cara.

Smart Phone

“For type O, the smartphone is the mean of expressing their own character. They become the number one devotee of their own phone, and start spreading rumors about it.”

O is likely saying, “Yo! I got the latest smartphone!” or “Did you try this application? It is the best!” or “Trust me! This is the right phone!”

Gue nyengir paling lebar saat baca komik bertema Smart Phone ini. Coba klik blog gue yang ini dan yang ini. Nah, see? I’m definitely an O, hehehehehe.

Gue bukan tipe orang yang ganti hp setahun dua kali. Setahun sekali aja belum tentu gue ganti. Tapi sekalinya ganti, gue pengen hp yang canggih. Itulah alasannya gue ngotot mempertahankan Android dan selalu menolak buat ganti BB. Walaupun akhirnya gue pake BB, si Android tetap jadi andalan karena BB gue itu khusus buat CDMA aja. Tapi kalo kata beberapa orang teman gue, “Yaah… apapun alasannya, akhirnya elo pake BB juga, hahahahaha,” atau, “Gue masih takjub akhirnya elo beli BB, hahahahaha.”

Yeaaah, whatever.

P.s.: Kayaknya gue sedang mempertimbangkan bikin review di blog tentang BB CDMA gue, hehehehehe.

Reaction when given a bowl of marshmallows

“Due to their strong survival instincts, they stash the marshmallows away for future needs. But also they tend to forget where they left them.”

Pada komik soal marshmallow ini, si O digambarkan menyimpan mangkuknya di dalam kulkas, supaya awet dan akan dimakan saat dibutuhkan. Tapi setelah itu, si O malah lupa… di mana dia menyimpan mangkuk marshmallow-nya?

Gue juga sering mengalami hal kayak gitu lho. Gue suka sok-sok menyimpan sesuatu di tempat yang aman, tapi akhirnya gue malah lupa… kemaren gue simpan di mana??? Makin brilian ide yang gue punya, semakin besar pula potensi gue buat lupa, hehehehe.

Type O Overview

  1. Have the strongest need for survival;
  2. Have great motivation when there’s a goal, but promptly lose their will once the goal is blurred. Kalo gue, butuh waktu agak lama untuk bangkit kembali. Dan biasanya, keberadaan orang-orang yang mendukung gue adalah salah satu faktor terpenting yang membuat gue jadi pantang menyerah;
  3. Are both an idealist… and a realist. Ini bener banget loh. Meskipun gue tipe orang yang idealis, gue tetap orang yang realistis. Bukan berarti nggak punya pendirian… gue hanya berpikir, kadang-kadang hal terbaik yang bisa terjadi sama kita itu belum tentu hal yang 100% mirip dengan idealisme kita. Bersikap realistis membuat hidup gue jadi lebih mudah, tetapi mempertahankan idealisme juga tetap penting untuk memastikan setidaknya, my life is still on the right track;
  4. Used to forming cliques and high wary of those outside cliques. Yup… dari jaman sekolah sampai kerja, gue tetap tipe orang yang suka nge-gank. Gue benar-benar membedakan perlakuan gue terhadap teman yang gue anggap dekat dengan teman yang gue anggap biasa-biasa aja;
  5. Tends to focus on a single thing, thus more people in professional line of work;
  6. Honest and opinionated, thus more people who lives with principles and ideals; and
  7. Emotional, but will not back-stab others.

Dari 7 point di atas, yap… memang itulah garis besar kepribadian gue. Gue sampe bingung… ini cuma kebetulan atau semua orang yang punya golongan darah O mempunya kepribadian yang serupa?

Well, gue bakal iseng-iseng cari orang dengan golongan darah O… untuk kemudian gue observasi apakah mereka punya kesamaan dengan gue dalam hal-hal di atas? Just curious 😀

Rainbow After the Rain

Kemarin sore di kantor, gue menasehati salah satu teman yang tetap menghisap rokoknya meski baru saja sembuh sakit satu hari sebelumnya. Dengan entengnya, teman gue ini menjawab, “Nggak papa lah ngerokok… Hidup ini enggak enak, jadi ngepain hidup lama-lama?”

Gue malah cekikikan sambil membalas, “Hidup saya sih menyenangkan kok. Nggak papa hidup lama.”

Sambil tertawa kecil, teman gue membalas lagi, “Yakin menyenangkan? Kerja lembur melulu kayak gini emangnya enak?”

Gue malah nyengir… sambil melanjutkan dalam hati… Ya, meskipun sering lembur gila-gilaan, meskipun semakin sering ngerasa tertekan sama kerjaan sampe sempet meneteskan air mata waktu lagi sibuk ngetik di depan laptop saking stresnya, dan meskipun gue punya banyak kekurangan di sana-sini, gue tetap bahagia sama hidup gue.

Bicara soal pekerjaan… rasa-rasanya benar apa yang pernah dibilang sama teman sekantor gue yang lainnya: jika gue mau berpikir jernih, maka sebetulnya, gue punya lebih banyak hal untuk disyukuri daripada hal-hal untuk gue keluhkan. Lagipula sebetulnya wajar-wajar saja kalo makin ke sini makin banyak masalah pekerjaan yang harus gue hadapi. Memangnya apa yang gue harapkan? Posisi dan fasilitas manajer tapi beban dan tanggung jawab ala fresh graduate gitu?

Kemudian soal makin banyaknya jumlah orang yang seneng banget ngegosipin gue di belakang… yaah, gue rasa itu emang udah sepaket sama pencapaian yang gue punya lah yaa. Gue percaya bahwa dalam hidup ini, when we gain some, we will also lose some in the same time. Suatu kelebihan pasti akan satu paket dengan satu kekurangan lainnya. Jadi achiever di usia muda emang bisa bikin bangga, tapi resikonya, jadi lebih rentan sama omongan orang. Jadi ya sudahlah… Gue emang enggak bisa nutup mulut orang lain supaya enggak ngomongin gue yang jelek-jelek, TAPI, gue pasti bisa nutup telinga gue rapat-rapat dari omongan yang sengaja diucapkan hanya untuk mengurangi kebahagiaan yang gue punya.

Di luar pekerjaan dan mimpi-mimpi yang jadi bisa gue wujudkan sebagai hasil dari jerih payah gue itu, alhamdulillah… gue masih punya banyak hal kecil lainnya yang sangat patut untuk gue syukuri.

Gue punya ortu yang suka masakin gue makanan enak-enak.

Adek-adek yang meskipun tengil tapi selalu jadi supporter nomor satu buat gue.

Kucing-kucing lucu yang suka nganter gue pergi kerja dengan berdiri berjejer di pinggir garasi lalu malam harinya saat gue pulang, mereka kembali berjejer menyambut gue di tempat yang sama.

Gue juga punya sahabat-sahabat yang meskipun enggak selalu akur, tapi mereka tetep selalu siap sedia mendengar curhat gue di tengah malam sekalipun.

Di kantor gue punya teman-teman yang selalu bisa memaafkan kekhilafan gue saat sedang stres berat sama pekerjaan.

Gue juga punya bos yang meskipun tidak sempurna, tapi setidaknya bos gue yang satu ini sangat peduli dengan kenyamanan anak buahnya.

Dengan semua yang ada dalam hidup gue itu… bagaimana mungkin gue bisa bersikap tidak bersyukur?

Gue baru aja selesai buka-buka koleksi blog lama gue yang berkategori “About Life”. Membaca koleksi tulisan gue sendiri rasanya seperti melihat grafik kehidupan. Sangat jelas terlihat dari ‘grafik’ itu bahwa hidup memang selalu naik dan turun seperti roller coaster. Sehingga pada akhirnya gue jadi optimis… dulu gue pernah susah, tapi gue juga pernah senang. Kemarin gue juga baru aja ngerasa sangat susah, tapi hari ini gue kembali merasa senang. Jadi untuk selanjutnya, setiap kali gue kembali merasa hidup di bawah tekanan besar, gue hanya perlu mengingat bahwa tidak lama lagi, badai pasti akan berlalu. Yang perlu gue lakukan hanya bersabar, sambil terus berusaha sebaik-baiknya. Nanti setelah badai itu berlalu, insyaallah… gue akan kembali menemukan indahnya pelangi di langit yang biru 🙂