In Singapore This Week

Ceritanya satu minggu ini, gue terpaksa stay di Singapura buat urusan SAP training. Kinda wrong timing secara kerjaan di kantor lagi banyak-banyaknya. No wonder kalo tiap malem selama gue di sini, gue masih harus buka laptop buat nerusin pekerjaan kantor yang jadi terlantar gara-gara training.

Meski begitu anehnya, selama di sini, gue justru ngerasa lebih relax. Gue malah bisa punya lebih banyak waktu buat spoiling myself selama stay di sini. Dan tiap malam sepanjang minggu ini, gue bisa nikmatin dinner sambil ngobrol haha-hihi bareng temen-temen setim gue. Lain banget sama suasana dinner gue di hari-hari biasanya; cuma sekedar dinner ala kadarnya sambil duduk di depan laptop untuk menyelesaikan pekerjaan yang enggak ada habisnya itu.

Hari Senin malam, selesai training, gue dan teman-teman pergi makan malam ke Bugis Junction. Nyobain makan chicken PERi-PERi di Nando’s yang langsung bikin gue jadi ketagihan!

Kemudian Selasa malam, nemuin restoran sushi yang enak banget di Chinatown (walau kemudian kita tau bahwa restoran sushi yang sama juga ada di Plaza Senayan, hehehe).

Rabu malam belanja-belanja (dan borong banyak camilan!) di Mustafa Center. Puas juga nyobain banyak sample wewangian yang ada di sana dan bawa pulang 3 botol parfum sekaligus.

Kamis siang gue asyik windows shopping di Plaza Singapura dan bawa pulang body lotion dan manicure set sebagai efek termakan bujukan SPG, hehehehe. Kamis malem makan sushi all you can eat, masih disambung acara belanja ke Orchard Road.

Lalu terakhir hari Jum’at, kita mampir makan malam di Esplanade. Makannya sebentar, justru acara ngobrolnya yang lebih lama, and I enjoyed this one last dinner the most. Gue jadi banyak ketawa, dan jadi sempet ‘lupa’ sama satu masalah pribadi yang sebenernya bikin gue lagi bikin gue sedih.

Gue lalu jadi mikir… Padahal selama di sini pun, gue tetep tidur larut malam. Kerjaan tetep banyak banget. Pernah satu kali sampe skip lunch gara-gara ngejar deadline. Tapi kenapa di tengah padatnya jadwal training dan pekerjaan rutin, gue masih sempet santai-santai dan melakukan hal-hal yang udah cukup lama gue tunda selama di Jakarta itu?

Beberapa bulan belakangan ini, sekedar pergi belanja bulanan pun gue enggak sempet. Kalopun ada waktu luang, gue udah kecapekan setengah mati sampe lebih prefer stay at home all day. Terakhir sebelum ke Singapur, adek gue berbaik hati nawarin diri pergi ke Giant buat beliin keperluan-keperluan harian gue. Parfum udah abis tapi malah beli online dan nggak satisfied sama wanginya. Dan udah lama banget kepengen beli mango macchiato-nya KOI tapi enggak pernah punya waktu buat mampir ke mall terdekat. Dan semua itu, dengan mudahnya gue dapetin selama training di Singapura, hanya dalam waktu 5 hari saja.

Balik lagi pertanyaannya… kenapa? Kenapa di sini, gue masih bisa santai-santai, masih sempet beli ini-itu, meskipun sebenernya jadwal kerja nggak kalah padatnya? Setelah gue pikir-pikir lagi, berikut ini jawabannya:

  1. Nggak ada meeting harian. Biasanya di Jakarta, dalam sehari pastilah ada satu sampai lima meeting yang harus gue hadiri. Gara-gara sibuk meeting, paperwork gue suka jadi terlantar sehingga ujung-ujungnya, di saat semua orang udah pulang ke rumah, gue lembur sendirian;
  2. Nggak banyak e-mails masuk. Sebelum pergi ke Singapur, gue udah sibuk ngumumin ke semua orang yang gue kenal di kantor bahwa minggu ini gue SAP training full day. Hasilnya, e-mail yang masuk cuma setengah dari biasanya. Ini juga sama, sekedar bales e-mails aja bisa consume banyak banget waktu gue setiap harinya; dan
  3. MRT di Singapur bikin gue bisa pergi ke sana-sini dengan mudah, cepat (nggak pake macet), dan nyaman. Beda banget sama di Jakarta. Mau mampir sana-sini, bisa jadi udah habis satu sampai dua jam di jalan hanya untuk perjalanan jarak dekat. Ngebayangin harus bermacet ria pun, udah bikin gue jadi males buat mampir-mampir sepulang kerja.

Jujur awalnya, gue males banget ikutan training ini. Kerjaan di kantor bener-bener lagi banyak-banyaknya. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, it’s not that bad. There’s also that one personal thing which made me thing that I was in SG this week for a reason. Now I’m back to Jakarta but will be back to SG next week, the whole week! Dan gue pun mulai asyik listing down minggu depan di SG mau ke mana aja, hehehehe.

5 Hal Yang Bisa Bikin Gue Iri

Pada dasarnya, gue bukan tipe orang yang suka iri. Gue percaya tiap orang punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing, ditambah, gue juga udah happy and satisfied with myself. Tapi tetep aja, namanya juga manusia, gue masih aja suka iri sama cewek-cewek lain. Dalam hal apa saja? Check this out!

  1. Cewek yang jago nyetir. Di mata gue, cewek yang jago nyetirnya itu keren banget lah. I’ve been learning how to drive since a long time ago, yet I still don’t have the courage to drive without somebody else sitting next to me;
  2. Cewek yang mukanya mulus tanpa perlu perawatan khusus. Beda banget sama muka gue, sekali aja lupa cuci muka, paginya pasti langsung ada dua atau tiga jerawat baru. Dulu muka gue pernah jerawatan agak parah, baru mendingan setelah pake produknya Clinique yang harganya relatif mahal kalo buat gue. Ngiri banget lah, sama cewek-cewek yang mesti keluar banyak uang cuma buat dapetin muka mulus…
  3. Orang yang bisa pergi berlibur berkali-kali dalam setahun. Kalo gue? Cuti dalam setahun cuma 12 hari! Mau unpaid leave tapi kok ya sayang kalo gaji gue sampe dipotong cuma karena jalan-jalan. Belum lagi gue punya kerjaan yang sebenernya susah banget buat ditinggal 😦 Jadi sudahlah… untuk sementara, one long trip every year udah cukup buat gue;
  4. Cewek yang pasangannya masuk ke dalam kategori gue banget. Dan sedihnya, cowok-cowok yang tipe-gue-banget-itu semuanya udah punya pacar atau istri. Dalam hati gue sampe suka mikir, “This girl is so lucky to have him.” Tapi untuk yang satu ini, mungkin gue enggak akan lagi ngerasa iri kalo gue juga udah nemuin Mr. Right gue sendiri, hehehehe; dan
  5. Cewek-cewek yang masih bisa pake super high heels. Kenapa gue sampe iri sama mereka? Karena tanpa high heels pun, tinggi gue udah 175 CM, sedangkan banyak banget high heels di toko sepatu yang menurut gue tuh keren-keren banget! Tapi sudahlah… meskipun demikian, gue tetep cinta banget kok, sama kaki panjang gue ini, hehehehe.

Sekian blog nggak penting gue hari ini. Now I’m going back to work 😉

20 Random Things About Me

  1. I don’t believe in zodiac, shio, and so on;
  2. I had a few nicknames from my friends: Ipeh (just because a friend couldn’t spell ‘R’), Uler (because of my last name), Riba (because we just had a chapter about this in class and he found that sounds similar to my name), Nenek, and Chiripa (because of Dulce Maria was such a hit);
  3. I hate sports and I can’t swim;
  4. I kinda hate it when people refuse to pose beside me while taking a picture just because I’m too tall to them;
  5. I also hate it when people says that I have what I’ve earned just because of luck. It’s such an understatement to me. I work hard for everything I’ve achieved;
  6. Back to junior high school, my life was very boring until someone came into my life and taught me how to dream big. I will always owe him for the rest of my life;
  7. I never cheated in the college, not even once. I studied very hard back then;
  8. I’m not good at numbers, but I ended up working as an accountant. I even used to hate accounting back in high school;
  9. My career milestones: started my first job when I was 21, got promotion to Senior level on 23, Assistant Manager on 24, Manager on 25, and Senior Manager on 27. I thought my achievement was awesome, until I found out that the CEO in my Company is on my age!
  10. It took me one year just to learn how to wear contact lenses;
  11. I’m addicted with dark brown eye shadow. I can’t leave the house without it;
  12. I’m a strong believer that beauty, brain, and behavior is not only in beauty pageant. Every girl can get it as long as she’s willing to try hard. We can’t be perfect, but we can be awesome 😉
  13. I’m not good at telling people how I feel. I never say “I love you” to others, not even once;
  14. I’m not good at saying goodbye either. Hug each other and say “I’ll be missing you” is just too much to me;
  15. I used to hate babies until my nephew was born. He’s the only one baby I’ve ever hold on my arms;
  16. When my cats died, I cried much louder than when I cried over the boys who broke my heart;
  17. I was still afraid of ghost until I was a teenager. I used to put an Al-Qur’an beside my pillow to encourage me sleeping alone in my bedroom! But now… I’m not afraid to work overtime alone even in a ghostly office, hehehehe;
  18. I often put something important in my own safe place but then I forget where I put that stuff. The idea of that ‘safe place’ is too extraordinary sometimes 😀
  19. I’ve started writing in a diary since I was a kid. That’s how I learned to write. My blog is my new diary anyway;
  20. I’ve started to write a novel since years ago and never managed to finish it. It’s always a part of my new year’s resolution over and over again. Well, maybe I’ll finish it next year, hehehehe.

What a – Grown up – Girl Really Wants

When I was younger, I thought what I really wanted was a guy who gets me. A charming guy who can make me laugh. A gentle man who knows how to treat me like a lady. The one who can make me feel pretty, make me feel special, make me feel like I’m the only girl in the world. But you know what… as the time goes by, as I’m growing up, I know that all the stuffs I just wrote down here, are no longer the number one things that I really want.

I know so many guys with charming smiles who can make me laugh and make me feel good about myself within seconds. They’re very polite, their pick-up lines are beautiful to hear. But what does it mean anyway if all they want is just to have some fun? It’s just to make them feel like a prince charming with many girls attracted to them. What does it mean to me if they never really want to stay?

In time I eventually understand that I need someone who makes me feel safe. Someone whom I believe will stay with me for better or worse. Not someone who makes me need to put so much efforts just make him stay. Not someone who only treats me as an option. Not someone who keeps making me being scared of him leaving in a blink of eyes. I simply need someone who gives me and him a chance to give our best shot. And believe me when I say, this kind of guy is not always easy to find.

Maybe he’s not someone who always understands me, but at least, he never stops trying to learn. Maybe he’s not always funny, not always nice to me, but I want him to always try to make things right for us. Maybe he’s not the smartest and richest guy I’ve ever met, but I want him to be tough enough to get through the worst possible days. He doesn’t need to be a super wise one, but I need him to accept me with all my flaws. And everytime I say “I” in this blog, believe me again when I say, it represents most of all the girls in the world, especially the mature ones.

It’s still nice to have someone who can make me laugh, who knows how to comfort me, how to make me feel special and so on, but at the end of the day, everything is nothing if he’s not willing to fight for me, fight for our chance. So that’s it; that’s all I (or all the girls on earth) really want is someone who gives his best to keep us as a part of his life. It might sound simple, yet once again, this guy is hard to find.

Jangan Gampang Bilang Resign

Jadi ceritanya, hari Jum’at jam sebelas malam ini, gue masih di kantor. Gara-gara auditor, minta sesuatu yang mengharuskan gue melakukan v-lookup sebanyak 6 kali. Dan masalahnya, untuk satu kali v-look-up, bisa makan waktu sampai lebih dari setengah jam! Jadilah gue pinjam komputer teman sekantor buat nge-blog sementara laptop tercinta gue itu sibuk v-lookup selama berjam-jam lamanya…

Sambil nunggu v-lookup, gue jelas bosan setengah mati. Ngantuk. Udah tiga bulan gue sering lembur. Kurang tidur. Capek. Bawaannya pengen marah-marah melulu. Jadi kurang punya waktu buat bersenang-senang…

Gue lalu jadi ingat… Beberapa bulan yang lalu, kondisi seperti ini, persis seperti ini, pernah jadi salah satu pemicu gue untuk resign dari perusahaan sebelumnya. Lalu… apa itu berarti gue juga akan resign dari kantor gue yang sekarang?

Baru kemarin malam, gue sibuk menasehati salah satu teman bule gue soal mau kerja di manapun, situasinya akan sama saja. Contoh:

  1. Di manapun kita kerja, pasti akan selalu ada orang yang nyebelin setengah mati;
  2. Selalu aja banyak tekanannya. Malah kenyataannya, semakin bagus performance kita, semakin tinggi pula tekanan yang harus kita terima;
  3. Stres dan bikin capek;
  4. Kadang-kadang pasti ada aja rasa bosannya, dsb dsb…

Ada banyak kejadian akhir-akhir ini, yang bikin gue jadi berpikiran, orang yang gampang banget bilang pengen resign itu sama saja dengan anak manja. Padahal, sampai beberapa bulan yang lalu, gue sendiri masih jadi orang yang seperti itu. Kesal dikit sama si bos, sampe rumah langsung sibuk buka Jobstreet, hehehehe.

Kemarin malam, gue bilang begini sama si temen sekantor itu, “I have worked for four different companies. Now after the fourth company, I give up trying to find a perfect one.”

Ya, gue mulai bisa menerima kenyataan bahwa di manapun gue kerja, pasti ada saja rasa tidak enaknya. Akan selalu ada those very bad days. Akan selalu mengalami hal-hal yang bikin gue mempertanyakan, “What the hell am I doing here?”

Tapi anehnya, bukan berarti gue menjalani pekerjaan gue dengan setengah hati. Bukan karena terpaksa. Bukan pula karena udah pasrah. Kenyataannya malah sederhana saja: gue mulai bisa ngerasa ikhlas. Tiap kali ada hari yang menyebalkan, gue mulai bisa mengendalikan perasaan dengan bilang sama diri gue sendiri, “This is only a bad day, not a bad life. Not either a bad job. It’s just one bad day.”

Ya, gue masih suka ngomel-ngomel. Suka curhat soal bla bla bla. Masih sering bangun pagi dan mengeluh betapa capeknya gue dan rasanya kok ya kayak belum tidur sama sekali. Dan tentunya, masih sering juga pasang muka cemberut di kantor. Tapi anehnya, pikiran untuk resign, seperti sudah perlahan menghilang dari benak gue.

Suatu saat, gue pasti resign dari perusahaan ini. Gue enggak mungkin kerja di sini selamanya. Tapi gue pengen, saat gue resign nanti, gue resign dengan alasan yang tepat. Bukan semata-mata karena kesal sama atasan. Bukan karena capek lembur melulu. Bukan karena stres dengan tuntutan kerja. Bukan karena apapun yang pasti akan tetap terjadi di manapun gue pergi bekerja.

Gimanapun, gue tetap tipikal orang yang percaya bahwa segala sesuatu itu terjadi karena satu alasan. Gue nulis begini bukan karena gue mendadak nyesel udah keburu resign dari kantor gue yang dulu-dulu. Malah sebaliknya, berkat pengalaman di 3 perusahaan sebelumnya itulah yang bikin gue jadi menemukan ‘kunci’ untuk stay happy di dunia kerja: ikhlas, ikhlas, dan ikhlas.

Ikhlas menerima kenyataan bahwa atasan juga cuma manusia yang bisa bikin salah.

Ikhlas menerima kenyataan bahwa perusahaan kita bukan Raja Midas yang bisa mengubah segala sesuatu menjadi emas sehingga bisa menggaji kita sampai ratusan juta.

Ikhlas menerima kenyataan dunia kerja memang tidak selalu ramah dan menyenangkan.

Dan tentunya, ikhlas untuk menerima segala kewajiban dan tanggung jawab kita.

Intinya kalo menurut gue, sebelum dikit-dikit bilang resign, cobalah untuk terlebih dulu belajar ikhlas. Try to see things from the bright sides first and do those things sincerely. Jangan sampai kita resign lalu nanti menyesali keputusan kita itu. Jangan resign karena common things yang pasti bisa terjadi di manapun kita bekerja, resign yang seperti itu hanya akan jadi resign yang sia-sia. Harus adaptasi lagi, mulai dari awal lagi, harus ninggalin sesuatu yang sudah kita bangun dengan penuh perjuangan pula… Our current job maybe extremely tough, but think again… what makes you think the next one will be easy? 

Emang sih, pastilah benar ada pekerjaan lain yang sifatnya lebih mudah. Kalo gue mau, gue bisa aja cari pekerjaan lain yang jauh lebih santai. Tapi kalo dilihat dari sisi positifnya, segala kesulitan itu udah bikin gue jadi a better one. Then again… pemikiran bahwa I keep making improvement instead of the tough situations itu bikin gue jadi kepengen nulis begini, sekali lagi, di blog gue ini: “It’s not easy to be me, but it’s fun!” Hehehehe.

It’s almost 12 AM now, let’s go home!

Girl’s Number One Mistake

Beberapa hari yang lalu, gue asyik ngobrol soal sama salah satu teman sekantor tentang kebiasaan cewek yang umumnya terlalu mudah menaruh harapan tinggi. Terlalu mudah jatuh hati. Terlalu mudah mengambil kesimpulan kalau si gebetan juga suka sama kita… Meski dimulai dengan serba mudah seperti itu, giliran akhirnya harus letting go, yang ada ngelupainnya malah susah setengah mati!

Percakapan malam itu bikin gue jadi teringat masa-masa yang lalu…

Penasaran apa dia juga suka sama gue atau enggak.

Sibuk ngumpulin ‘pertanda-pertanda’.

Sibuk nanyain pendapat orang lain tentang perasaan dia ke kita.

Hari ini optimis, besoknya pesimis.

Dan yang paling sedih, suka jadi kesel sendiri, “Kenapa gue sebegininya amat ya? Belum tentu dia juga lagi sibuk mikirin gue!”

Nggak lama setelah obrolan dengan teman gue itu, ceritanya ada cowok yang tiba-tiba suka ngajakin gue ngobrol. Sekali, dua kali, berkali-kali… sampe ujung-ujungnya ngajakin dinner bareng. Reaksi gue? Biasa aja. Secara ngajakin dinner-nya juga rame-rame kok. Tapi ternyata, hal itu bikin temen-temen gue jadi pada heboh. Mereka bilang, “Mau bawa temen itu cuma alibi dia buat jalan bareng elo!”

Gue nggak nanggepin serius. Gue yakin temen-temen gue juga enggak serius. Gue beneran nganggep ajakan dinner itu ya cuma antar teman aja. Tapi gue terus kepikiran… kenapa gue sama sekali enggak kegeeran yah? Bukan karena ini cowok kurang keren atau apa. Malah, dia itu boleh dibilang salah satu cowok paling cakep yang pernah gue kenal. Tapi kenapa gue ngerasa biasa-biasa aja? Dan gue lalu teringat… seandainya cowok itu adalah cowok yang gue suka, berikut ini isi kepala gue jika hal yang sama juga terjadi antara gue dan si gebetan…

  1. Jangan-jangan dia itu sengaja nanya-nanya soal kerjaan gue cuma buat cari topik supaya bisa ngobrol sama gue!
  2. Tadi dia muji-muji gue kayak gitu maksudnya apa ya?
  3. Lalu puncaknya: wah, dia ngajakin gue dinner! Jangan-jangan dia bilang bakal bawa temen-temennya itu cuma alibi buat jalan bareng gue aja! Siapa tau pas hari H, dia bilang temen dia mendadak cancel semua, hehehehe.

Jadi kesimpulannya, masalah cewek-cewek pada umumnya adalah, kalo udah mulai suka sama satu cowok, kita cenderung suka bereaksi berlebihan. Hal-hal kecil yang dilakukan si gebetan jadi kita besar-besarkan. Jadi masuk ke dalam pikiran. Jadi kegeeran. Jadi bikin senyum-senyum sendiri… Buktinya, giliran cowok yang kita nggak suka, mereka melakukan hal besar pun, bisa jadi kelihatan kecil dan enggak ada artinya di mata kita.

Malam itu, gue bilang begini sama teman yang gue ceritakan di awal…

Pada dasarnya, ada dua tanda cowok itu suka sama kita:

  1. Kalau dia memperlakukan kita secara berbeda jika dibandingkan dengan perlakuan dia ke cewek-cewek lainnya, dan
  2. Kalau dia berusaha menunjukkan rasa sukanya itu. Contoh yang paling jelas: ngajak kita untuk nge-date. Further more, he will make it very clear that he wants us to be his girlfriend.

Gue juga bilang sama teman gue itu, “Tapi sayangnya, kalo kita udah suka sama satu cowok, kita cuma fokus sama point 1 itu aja. Kita hanya fokus untuk mengumpulkan fakta-fakta bahwa dia juga suka sama kita, fakta bahwa dia memperlakukan kita secara berbeda. Kita sibuk menebak-nebak. Padahal kenyataannya, kalo dia beneran suka sama kita, dia pasti akan ngelakuin apapun buat jadian sama kita.

As I’ve ever written in this blog, when a guy likes you, it’s obvious. Dengan kata lain, kalo kita masih harus nebak-nebak isi hati dia, maka kemungkinan besar, kita hanya bertepuk sebelah tangan. Kalaupun misalnya, dia juga ada rasa suka sama kita tapi dia tetap tidak melakukan something real untuk menjadikan kita sebagai pasangannya, maka tetap lupakan saja. Kalau sudah begtitu jalan ceritanya, maka hanya soal waktu saja sampai akhirnya nanti dia benar-benar meninggalkan kita.

That’s why I think, girl’s number one mistake in love life is to let herself fall for a guy who is not there, or who is not willing, to ever catch her fall.

I Should be Fine

Today, I suddenly feel like everything will be fine. I may not get everything I want to have. I may even lose that one big thing I always wanted. Somehow I feel, I should be fine.

I have my long-lasting best friends who are always there when I’m down. The ones who always find a way back to me. The ones whom I hope, will always be a part of every stage in my life.

I have great colleagues whom I can trust. The ones to laugh with everyday. The ones who help me out when I need the most.

I have a decent job. I have achieved more that I pictured I would do at this age. And no matter where I work, I always have those bosses who trust and support me tremendously.

I have a loving family who always accept me just the way I am. The ones who will always stand by me. The ones who take a very good care of me.

I’m not perfect, but I never stop trying to bring out the best in me.

I’m not a beauty queen, but I’m happy to see myself in the mirror everyday before I go to work.

I’m not yet a billionaire, but I’m grateful for every little thing I have in life.

And I don’t have a boyfriend yet, but I know how it feels to be loved.

After all of the things I write in this post, how can I not be fine? Life is up and down. I will gain and I will lose some. People come and go. Sometimes I am wanted, but sometimes I am rejected. But that’s okay, because once again, I should be just fine. I don’t need to have everything, and I don’t need to always win, just to be happy.

Seven Keys to Happiness

Gue tipe orang yang percaya bahwa kita enggak perlu jadi orang yang paling kaya raya, paling cantik jelita, paling pintar, dan paling segala-galanya hanya untuk jadi bahagia. Being happy for me is NOT that complicated. We don’t need to have everything, and we don’t need to be perfect, just to be happy. 

How do I do thatHere are seven keys of happiness that always work on me. Check them out!

  1. Mendalami hobi. Kenapa gue suka ngeblog? Because it makes me happy, as simple as that. Belum jadi blog yang punya jutaan penggemar aja gue udah happy kok. I enjoy every process of it, from writing until replying the comments (only if it’s nice and necessary), not to mention new friends I get from this blog. For me it’s so much fun!
  2. Mengejar cita-cita. Kata siapa cita-cita itu hanya untuk anak-anak sampai dengan usia remaja? Sometimes, it takes a lifetime to pursue our biggest dream, but that’ okay! Punya cita-cita bikin hidup kita jadi terasa lebih bermakna, less boring, dan tentunya, bikin kita jadi a happier person. Apalagi kalau nanti mimpi itu jadi kenyataan!
  3. Traveling and see the world. Ini sebenernya gabungan antara hobi dan cita-cita sih ya. Mungkin itu yang bikin gue jadi double-happy tiap kali pergi jalan-jalan 😉 Bahkan anehnya ya, meskipun misalnya ada hal-hal yang tidak menyenangkan selama perjalanan, yang namanya traveling selalu bikin gue jadi kepengen lagi dan lagi! How can’t I? Sekedar lihat foto-foto liburan yang muncul di screensaver laptop, atau sekedar menceritakan pengalaman jalan-jalan gue aja udah bisa bikin gue ngerasa happy lagi, hehehehe;
  4. Dress up, mix and match, wearing heels, and put a little make-up. Gue percaya setiap perempuan itu punya kecantikannya sendiri-sendiri, tinggal gimana cara memaksimalkannya aja. Kenapa banyak fashion blogger yang suka posting outfit of the day-nya mereka? Gue percaya bukan untuk pamer, tapi karena hal itu (baca: usaha untuk mempercantik diri dan membagi hasilnya dengan orang lain) bikin mereka ngerasa happy. Lagi-lagi, kita enggak perlu jadi super-fashionable hanya untuk ngerasa happy. Asalkan kita merasa nyaman dan merasa lebih cantik karenanya, maka itu saja sudah lebih dari cukup;
  5. Surround myself with genuine friends. Catat yah… genuine friends. Fake friends enggak masuk hitungan. It feels good to have some friends to call at night when life knocks us down, some friends who really care, who look back into our past and laugh it all together, and some friends who always stay with us in every stage of our lives;
  6. Get rid of toxic people. Definisi toxic people buat gue sederhana aja: jika keberadaan mereka seringkali bikin gue ngerasa luar biasa enggak nyaman, enggak happy, dan bikin gue ngerasa constantly not good enough, maka mereka adalah toxic people versi gue. Someday I’ll write more about this one; dan
  7. Push myself to be better and better than before. Sebagai manusia biasa, gue juga suka lepas kendali. Too proud of my achievements can make me cocky, too stress with my job can make me so mean, and too busy with my life can make me careless. Gue sadar hal-hal apa saja yang harus gue perbaiki, dan saat gue udah berhasil memperbaiki hal tersebut, rasanya tuh puas banget sama diri gue sendiri. I know it’s not an easy thing to do, it’s a never ending process, and people may not be able to see this, but as long as I know that I’m making an improvement, it’s already enough to make me feel good about myself.

Tujuh hal di atas so far udah bikin gue survive di tengah up and down hidup gue ini. When I’m happy with my life, even the most horrible and hardest things in life will feel easier to get through. Menurut gue, sayang banget kalo kita cuma pasrah saja dengan unhappiness yang kita rasakan. Makanya, tiap kali gue mulai ngerasa unhappy secara terus menerus, gue akan coba evaluasi kembali… which key is currently missing?

Find your keys and have a happy life, folks!

Six Random Stuffs That Make Me Laugh

Gue tipe orang yang suka menghibur diri dengan baca atau nonton yang lucu-lucu. Selalu efektif buat ngurangin rasa sedih. Di tulisan kali ini, gue kepingin share tontonan dan bacaan yang efektif bikin gue ketawa ngakak! Bisa dicoba, siapa tahu apa yang gue anggap lucu juga bisa bikin kalian tertawa lebar.

TV show: How I Met Your Mother

Dari semua serial TV yang pernah gue tonton, ini dia satu serial yang paling gue suka. Saking lucunya, gue bisa ketawa sampe kedengeran dari luar kamar. Jalan ceritanya bukan cuma lucu, tapi juga cukup inspiring. Ada aja life and love lesson yang bisa gue dapati dari serial ini.

Ceritanya tentang perjalanan panjang Ted Mosby selama 8 tahun lamanya hanya untuk menemukan si pujaan hati, yang kemudian menjadi ibu dari anak-anaknya. Selama 8 tahun itu, Ted berkali-kali jatuh cinta kepada the wrong ones. Kebodohan-kebodohan Ted dalam mencari cinta, dan pastinya, ulah teman-teman se-gank dia di serial ini terkenal bisa mengocok perut para penontonnya.

Give it a try! I’m 95% sure you’re gonna love it!

TV show: Friends with Better Lives

Ini serial TV yang masih lumayan baru. Gue lagi seneng nonton ini di channel Starworld. Sama kayak How I Met Your Mother, serial ini juga bercerita tentang satu kelompok pertemanan di usia dewasa. Awalnya gue ngerasa, ada satu cast yang aktingnya kaku dan agak aneh, tapi lama kelamaan, gue jadi terbiasa dan sepertinya, memang image kaku itulah yang ingin disampaikan si penulis cerita.

Kalo dibandingin sama How I Met Your Mother, Friends with Better Lives ini sedikit lebih banyak melempar jokes yang rada-rada berat. Kita mesti mikir dikit dulu untuk mencerna sisi lucu dari lelucon mereka. But once you get it, you’ll find it so funny and unforgettable! Serial ini udah jadi salah satu acara yang gue nanti-nantikan setiap minggunya.

Comic book: Shincan

Ya ya… kesannya shallow banget ya, gue suka baca Shincan? Tapi gimana dong, lucu banget sih, hehehehe. Bukan tipe komik yang bakal gue beliin buat anak atau ponakan gue sih, karena ini kan emang bukan bacaan anak-anak. Tapi justru di situ letak lucunya kan? Hehehehe.

A book based on true story: My Stupid Boss

Pertama kali baca salah satu bukunya, gue langsung suka! Gaya penulisannya terasa pas, saat sedang lebay pun terasa tetap pas, dan pastinya, selalu efektif buat bikin gue ketawa. Ada pula kemiripan-kemiripan karakter si bos yang gue rasa mirip dengan bos-bos gue sendiri yang bikin gue jadi tambah senyun-senyum. Ini satu dari sedikit buku yang berhasil bikin gue ngeborong semua sekuelnya sekaligus. It’s a must read!

Indonesian author: Raditya Dika 

Gue bukan big fan si Raditya Dika sebenernya, tapi gue tetep suka follow Twitter account-nya. Dia suka bikin tweet yang lucu-lucu, atau ngebales tweet dari penggemarnya dengan cara yang nggak kalah lucu. Untuk buku-bukunya gue juga suka, kecuali beberapa judul yang gue anggap terlalu kasar leluconnya buat ukuran gue.

Omong-omong soal Twitter-nya Raditya Dika, gue masih inget saat dia ‘berantem’ sama Mario Teguh via Twitter. Ceritanya, Mario Teguh mengkritik tweets Dika yang suka menyindir kaum jomblo. Ada satu tweet sindirian dari Mario Teguh yang kemudian di-retweet oleh Dika dan diberi komentar pendek: -> Jomblo.

Buat yang suka follow twitter-nya Raditya Dika pastilah ngerti kenapa komentar pendek dia itu gue anggap lucu, hehehehe.

Socmed account: 9GAG

Selain follow 9GAG di Twitter, gue juga sering banget nemuin hasil karya mereka di-share oleh teman-teman gue via berbagai social media lainnya. Kadang ada beberapa lelucon mereka yang bikin gue bingung sih. Udah gue lihatin sampe bermenit-menit lamanya, udah gue baca komentar-komentarnya juga, tapi gue tetep enggak ngerti di mana letak lucunya, hehehe. Tapi di luar itu, gue tetep suka sama hasil karya mereka. Enggak selalu yang berbau-bau humor lho, yang sifatnya menyentuh juga ada. Gue kadang sampe mikir kayaknya gue masih keep Twitter account gue hanya demi follow account-nya 9GAG, hehehehe.

I’m a strong believer that good laugh is the best pain killer. Itu juga sebabnya, kadang kalo lagi sedih, gue suka kontak teman-teman yang pintar melempar lelucon lucu. Tapi yaah… nggak selamanya orang lain itu selalu ada buat kita kan? Makanya, kalo lagi nggak ada orang lain yang bisa bikin gue ketawa, gue tinggal putar DVD buat nonton How I Met Your Mother, mampir ke rak buku buat cari komik-komik lucu, atau ambil HP buat buka Twitter.

Good laugh will never solve your problem, but a good laugh will help you to calm down, think straight, and wise enough to solve all of your problems. Have a good laugh everyone!

Ketika ‘Golongan Darah O’ Jatuh Cinta

Baru-baru ini, berdasarkan rekomendasi seorang teman, gue baca buku komik tentang karakter golongan darah. Judul bukunya: “Simple Thinking About Blood Type” volume 1 & 2 by Park Dong Sun.

Nah, berdasarkan kedua buku itu, gue ingin merangkum karakteristik golongan darah O (golongan darah gue tentunya) saat sedang jatuh cinta. Berikut summary-nya!

  • Golongan darah O yang cenderung mengelompokkan orang berdasarkan teman atau lawan, akan langsung memberikan penilaian pada saat pertemuan pertama. Yang ini asli tipikal gue banget. Saat baru kenal, gue cenderung secara otomatis ‘memisahkan’: yang ini tipe gue, yang ini bukan tipe gue. Dan umumnya, gue cenderung konsisten dengan ‘pembagian’ itu. Cowok yang kemudian gue suka pastilah cowok yang emang sejak awal masuk kategori tipe gue banget itu;
  • Karena semangat hidupnya tinggi, mereka tidak akan melewatkan jam makannya, meskipun terlukai atau berpisah dengan pacarnya. Tipikal yang berusaha membuktikan, “Lihat saja, aku akan hidup dengan baik!” Kalo yang ini nggak seratus persen mirip dengan karakteristik gue. Kalo gue udah bener-bener suka sama seseorang, di awal perpisahan gue tetep cenderung jadi nggak nafsu makan. Tapi untungnya, hal itu enggak pernah berlangsung lama. Sama seperti yang digambarkan oleh buku ini, gue tipe orang yang berusaha keras untuk membuktikan bahwa hidup gue akan baik-baik saja;
  • Golongan darah O yang realistis tidak mengorbankan hidupnya untuk cintaAda ilustrasi di buku ini yang menggambarkan, golongan darah O bukan tipe orang yang rela terjun ke jurang hanya demi cinta, hehehehe. Bisa jadi ada benarnya, tapi… perumpamaannya rada lebay juga sih ini… Emangnya ada gitu, golongan darah yang beneran rela terjun ke jurang? Hehehe;
  • Bila golongan darah O yang realistis diumpamakan dengan puteri duyung, maka ia tidak akan menerima tawaran dari sang penyihir untuk menukar suara dengan sepasang kaki. Ada ilustrasi di buku ini yang menggambarkan si puteri duyung berkomentar, “Kayak enggak ada laki-laki lain saja!” Gambar yang ini bener-bener bikin nyengir 😀
  • Karena bersifat realistis terhadap kehidupan, mereka tidak mengenal permintaan kekanak-kanakan seperti “ambilkan bulan di langit”. This is completely true! Gue bukan cuma enggak pernah mengorbankan ini dan itu, tapi juga enggak (atau mungkin belum, hehehe) pernah menuntut orang lain untuk mengorbankan ini dan itu buat gue;
  • Cewek golongan darah O yang lebih dewasa dan mapan secara finansial bebas bersosialisasi dan sukses. Mereka tidak menganggap penting seorang cowok. Ini kalo buat gue, bisa jadi banyak benarnya, tapi kadang-kadang, tetap ada aja cowok yang gue anggap sebegitu pentingnya. Tapi ya gitu deh… Kadang gue suka lama sadarnya. Di awal-awal, gue cenderung cuek bebek. Not priority, I’m busy with my life, etc etc… Tapi ternyata, giliran udah nyaris saying goodbye, barulah gue panik dan nyadar bertapa pentingnya dia buat gue… I guess it’s something I need to change;
  • Ketika golongan darah O jatuh cinta, bum! Cepat sekali mendidihnya. Tetapi bila menguap, wus! Cepat sekali manjadi dinginnya. Ini juga ada benar dan tidaknya, tergantung seberapa gue suka suka sama cowok-cowok itu. Tapi emang bener sih, di saat sudah ‘mendingin’, gue beneran bisa bertemen sama mereka tanpa bawa-bawa perasaan sedikitpun; dan
  • Daya tarik cewek golongan darah O: ceria, penuh semangat, cerdas. Entah ini bener apa enggak, tapi gue nyadar banget… eskpresi muka gue saat sedang sedih, marah, dan stres itu bener-bener bikin gue enggak ada menarik-menariknya, hehehehe.

Jadi kesimpulannya… seberapa akurat sih, pembagian karakteristik berdasarkan golongan darah ini? Sebenernya gue tipe orang yang realistis banget. Gue enggak percaya zodiak, shio, dsb dsb. Gue enggak percaya karakteristik jutaan manusia di dunia ini bisa dibagi hanya berdasarkan beberapa golongan tertentu saja. Tapi entah kenapa, pembagian karakter ala golongan darah ini terasa lebih akurat buat gue ketimbang pembagian karakter menurut zodiak atau shio. Emang nggak sepenuhnya benar, tapi emang sifat dasar gue mirip-mirip sama isi buku ini. Kesimpulannya sih, menurut gue buku ini cukup menarik dan lumayan menghibur. Hanya saja sayangnya, terjemahannya suka agak aneh! Overall, you can put this book in you to read list.