A journey to remember

Jangan Gampang Bilang Resign

Posted on: October 17, 2014

Jadi ceritanya, hari Jum’at jam sebelas malam ini, gue masih di kantor. Gara-gara auditor, minta sesuatu yang mengharuskan gue melakukan v-lookup sebanyak 6 kali. Dan masalahnya, untuk satu kali v-look-up, bisa makan waktu sampai lebih dari setengah jam! Jadilah gue pinjam komputer teman sekantor buat nge-blog sementara laptop tercinta gue itu sibuk v-lookup selama berjam-jam lamanya…

Sambil nunggu v-lookup, gue jelas bosan setengah mati. Ngantuk. Udah tiga bulan gue sering lembur. Kurang tidur. Capek. Bawaannya pengen marah-marah melulu. Jadi kurang punya waktu buat bersenang-senang…

Gue lalu jadi ingat… Beberapa bulan yang lalu, kondisi seperti ini, persis seperti ini, pernah jadi salah satu pemicu gue untuk resign dari perusahaan sebelumnya. Lalu… apa itu berarti gue juga akan resign dari kantor gue yang sekarang?

Baru kemarin malam, gue sibuk menasehati salah satu teman bule gue soal mau kerja di manapun, situasinya akan sama saja. Contoh:

  1. Di manapun kita kerja, pasti akan selalu ada orang yang nyebelin setengah mati;
  2. Selalu aja banyak tekanannya. Malah kenyataannya, semakin bagus performance kita, semakin tinggi pula tekanan yang harus kita terima;
  3. Stres dan bikin capek;
  4. Kadang-kadang pasti ada aja rasa bosannya, dsb dsb…

Ada banyak kejadian akhir-akhir ini, yang bikin gue jadi berpikiran, orang yang gampang banget bilang pengen resign itu sama saja dengan anak manja. Padahal, sampai beberapa bulan yang lalu, gue sendiri masih jadi orang yang seperti itu. Kesal dikit sama si bos, sampe rumah langsung sibuk buka Jobstreet, hehehehe.

Kemarin malam, gue bilang begini sama si temen sekantor itu, “I have worked for four different companies. Now after the fourth company, I give up trying to find a perfect one.”

Ya, gue mulai bisa menerima kenyataan bahwa di manapun gue kerja, pasti ada saja rasa tidak enaknya. Akan selalu ada those very bad days. Akan selalu mengalami hal-hal yang bikin gue mempertanyakan, “What the hell am I doing here?”

Tapi anehnya, bukan berarti gue menjalani pekerjaan gue dengan setengah hati. Bukan karena terpaksa. Bukan pula karena udah pasrah. Kenyataannya malah sederhana saja: gue mulai bisa ngerasa ikhlas. Tiap kali ada hari yang menyebalkan, gue mulai bisa mengendalikan perasaan dengan bilang sama diri gue sendiri, “This is only a bad day, not a bad life. Not either a bad job. It’s just one bad day.”

Ya, gue masih suka ngomel-ngomel. Suka curhat soal bla bla bla. Masih sering bangun pagi dan mengeluh betapa capeknya gue dan rasanya kok ya kayak belum tidur sama sekali. Dan tentunya, masih sering juga pasang muka cemberut di kantor. Tapi anehnya, pikiran untuk resign, seperti sudah perlahan menghilang dari benak gue.

Suatu saat, gue pasti resign dari perusahaan ini. Gue enggak mungkin kerja di sini selamanya. Tapi gue pengen, saat gue resign nanti, gue resign dengan alasan yang tepat. Bukan semata-mata karena kesal sama atasan. Bukan karena capek lembur melulu. Bukan karena stres dengan tuntutan kerja. Bukan karena apapun yang pasti akan tetap terjadi di manapun gue pergi bekerja.

Gimanapun, gue tetap tipikal orang yang percaya bahwa segala sesuatu itu terjadi karena satu alasan. Gue nulis begini bukan karena gue mendadak nyesel udah keburu resign dari kantor gue yang dulu-dulu. Malah sebaliknya, berkat pengalaman di 3 perusahaan sebelumnya itulah yang bikin gue jadi menemukan ‘kunci’ untuk stay happy di dunia kerja: ikhlas, ikhlas, dan ikhlas.

Ikhlas menerima kenyataan bahwa atasan juga cuma manusia yang bisa bikin salah.

Ikhlas menerima kenyataan bahwa perusahaan kita bukan Raja Midas yang bisa mengubah segala sesuatu menjadi emas sehingga bisa menggaji kita sampai ratusan juta.

Ikhlas menerima kenyataan dunia kerja memang tidak selalu ramah dan menyenangkan.

Dan tentunya, ikhlas untuk menerima segala kewajiban dan tanggung jawab kita.

Intinya kalo menurut gue, sebelum dikit-dikit bilang resign, cobalah untuk terlebih dulu belajar ikhlas. Try to see things from the bright sides first and do those things sincerely. Jangan sampai kita resign lalu nanti menyesali keputusan kita itu. Jangan resign karena common things yang pasti bisa terjadi di manapun kita bekerja, resign yang seperti itu hanya akan jadi resign yang sia-sia. Harus adaptasi lagi, mulai dari awal lagi, harus ninggalin sesuatu yang sudah kita bangun dengan penuh perjuangan pula… Our current job maybe extremely tough, but think again… what makes you think the next one will be easy? 

Emang sih, pastilah benar ada pekerjaan lain yang sifatnya lebih mudah. Kalo gue mau, gue bisa aja cari pekerjaan lain yang jauh lebih santai. Tapi kalo dilihat dari sisi positifnya, segala kesulitan itu udah bikin gue jadi a better one. Then again… pemikiran bahwa I keep making improvement instead of the tough situations itu bikin gue jadi kepengen nulis begini, sekali lagi, di blog gue ini: “It’s not easy to be me, but it’s fun!” Hehehehe.

It’s almost 12 AM now, let’s go home!

Advertisements

6 Responses to "Jangan Gampang Bilang Resign"

Hi Riffa, di umur 27 ini, secara udah kerja lima tahun…, niat gue kerja lebih ke berkah penghasilannya dan bergairang di tempat kerja.

Tapi gue beneran trauma kerja di Big 4 sampe jadi pasien psikiater, makanya sekarang gue kerja di perusahaan yang bisa dibilang “santai” tapi tetep profesional (perusahaan media group dengan managemen bisa dibilang kekeluargaan dan gak diaudit, tapi lumayan rapi accountingnya)…, Itung2 untuk melatih manajerial skill gue, sampe gue “sembuh” lagi untuk menjajal perusahaan menengah atas.

Sisi positif gue pernah kerja di Big 4, adalah gue jadi tau kalo gue gak bisa kerja cuma demi duit. Itu bikin gue gak happy, dan gue juga gak mau jadi tuker peran ama laki gue. hhhahahhahaa.

Sekarang ukuran sukses karir gue adalah gue bisa membuat suasana kerja gak kayak di neraka dan gue bisa menjaga gairah gue. Masalah jenjang karir gue pasrahkan ke Allah. Ambisi tetap ada, tapi gue jaga aja kewajarannya..

Eh jadi kepanjangan curcol, abis riffa bagus tulisannya. Realistis. Moga gue juga bisa “more than survive” kayak riffa pas di company.

Hehehe… Thank you, Widia 🙂

Kalo sampe ke psikiater segala udah masuk kategori ‘extraordinary’ sih. As long as it makes us happy and satisfied, then go for it.

Good luck yaa!

Hi, Kak Riffa. seneng bisa nemu blog kamu. ini jawaban yang aku cari selama ini. aku baru lulus tahun ini dan udah kerja di KAP second tier. kalo aku cerita sama temen-temen tentang gaji aku, mereka selalu bilang itu ga sesuai sama biaya pendidikan yang udah dikeluarin. awalnya aku kena kompor juga ditambah pas kerja nemu temen kerja yang ga nyenengin dan sempat merasa ga bersyukur dan menyesal ambil kerjaan ini. tapi aku teringat sama janji Allah kalo kita bersyukur maka Dia akan menambah rejeki kita. dan mungkin ini udah jalannya aku nemu blog kakak untuk menguatkan kalo setiap tempat kerja ga bisa memenuhi setiap keinginan kita.

Hi Retno

Selama masih lebih banyak benefit-nya, then hang on! Benefit itu nggak selalu soal gaji anyway. Ilmu yang kita dapatkan juga masuk hitungan benefit lho. Just do your best and let God do the rest.

Bener2 butuh bacaan kaya gini. Gue baru kerja 6 bulan di KAP Second Tier belagu amat, udah pengen resign aja. Harusnya gue bisa tahu diri dan banyak belajar dulu.

Makasih mba Riffa atas tulisanya.

Gue masih sering ngeluh ke diri sendiri, tapi mudah2 gue kuat nyelesain 2 tahun di KAP ini.

Hi!

I’m glad if this post helps! Semangat yaa. Jangan gampang nyerah! Coba dulu sekuat tenaga sebelum akhirnya memutuskan resign.

Good luck!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

My Blog Counter

  • 899,829 visits since May 2011

My Blog Categories

My Blog Archives

Click here to read my tweets…

Click the pictures below to visit my Instagram...

The beauty of diversity. I'm glad that I met them along my career path at Lazada. Just a little help like this could mean everything to me and The Lens Story. Many thanks! ❤️
📷: @thelenstory 👚: @adidaswomen 👕: @nike 
#friends #friendshipgoals #diversity #photography #photooftheday #canon #snapseed #thelenstory Find someone who loves you properly.
The one who never intentionally let you wait for him.
The one who never makes you have to wonder how he truly feels about you.
The one who will definitely catch you and hold you tight as you fall for him.
The one who gives you all he has to be a better man, to fix what goes wrong, to fight for you and to never let you go.
You are too old for another Mr. Wrong, reward yourself with the right one.
Love yourself enough to leave your past, you deserve better.
📷: @thelenstory
💄: @yuficarolin.mua
👗: @calla.atelier
👠: @charleskeithofficial 
#love #life #quote #photography #photooftheday #thelenstory I'm not perfect. I make mistakes. I do the things I'm not proud of. I give up, sometimes. I hurt people, mostly the ones that I actually care about. I have a lot of flaws, but at least, I'm trying hard to be a better person. I'm no saint nor angel, but I'm not a pure evil either. I'm simply a human who is trying to be the very best that I can be. I'll never stop learning, until my very last breath.
📷 @thelenstory
💄 @yuficarolin.mua
👗 @calla.atelier
👠 @charleskeithofficial
#photooftheday #beauty #photography #quote #thelenstory

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

About Me

What my blog is all about? It's all about my life; my very own fairy tale, that I would love to share. This is my story, my ups and downs, it's a journey to remember.

%d bloggers like this: