Be Grateful for Every Little Thing We Have

Dua minggu yang lalu, saat kebetulan enggak ada orang rumah yang bisa jemput gue pulang kerja, gue terpaksa pulang naik taksi biru. Saking macetnya, perut gue keburu lapar. Gue lalu bilang begini sama bapak supirnya, “Pak, saya nggak jadi pulang deh. Tolong cari mall terdekat aja ya, saya mau cari makan.”

Si pak supir itu dengan polosnya lalu menjawab, “Emangnya di semua mall itu pasti ada tempat makan ya, Mbak?”

Gue sempet terdiam… Pertanyaan yang agak aneh kalo menurut gue. “Hmm… ya iya, Pak… Udah pasti.”

Ngelihat gue kebingungan, si bapak supir menjelaskan, “Saya udah hampir dua tahun kerja di Jakarta belum pernah mampir ke mall, Mbak.”

Gue jadi kaget… “Oh ya? Kenapa, Pak?”

“Ya boro-boro mikirin ke mall, Mbak… Hasil kerja aja cuma ngepas buat hidup sehari-hari.”

Gue terdiam… Hal ini mengingatkan gue saat bertahun-tahun lalu, ada salah satu ART gue yang mengaku belum pernah nonton film di bioskop. Padahal, rumah dia hanya berjarak beberapa ratus meter dari mall terdekat di daerah Grogol!

Pikiran gue lalu melompat ke cerita si Mami soal anak-anak yang berebut baju bekas pakai yang sudah tidak gue inginkan. Kegembiraan mereka itulah yang membuat gue tidak pernah tertarik untuk bikin garage sales atau yang semacamnya. I’m glad if such simple thing can make other people so happy like that.

Yang terakhir, pikiran gue melompat lagi ke cerita Mami soal anak tetangga yang terlihat sangat menikmati cheesecake pertamanya. Kata Mami, matanya sampai terpejam sambil bilang, “Ehhhmmm… enak banget ya, kuenya.”

Guys… mall yang sudah kita anggap membosankan itu masih menjadi misteri bagi begitu banyak saudara kita di luar sana. Tiket bioskop yang affordable untuk kita masih dianggap terlalu mahal oleh mereka. Dan makanan yang sering tidak kita habiskan itu merupakan suatu kemewahan tersendiri untuk mereka semua…

Intinya, syukurilah hal-hal terkecil yang kita punya, karena bagi begitu banyak orang di luar sana, semua itu adalah anugerah. Untuk teman-teman sesama Muslim… bersyukurlah, maka niscaya Allah akan menambah nikmatmu 🙂

The Beauty of Falling in Love

I don’t know why but people always get me wrong when I look bright and happy and smile a lot more than I usually do. They think I’m happy because:

  1. A promotion at work;
  2. Salary increase;
  3. I’m about to travel somewhere soon;
  4. Just had a new bag;
  5. And so on… except the fact than I’m currently falling in love.

I don’t understand why some people think I’m not interested to fall in love. A colleague once asked to my best friend, “Isn’t she interested to find a man? She’s very dedicated to her work.”

Oh well… of course I do. I really do. I want to find a way back into love but I don’t spend my times wasted just to figure out the things I should do to get a boyfriend anytime soon. I think it explains why people never guess my happiness as an effect of falling in love. Yes, I can be happy with my achievements at work, with my upcoming trips and so on, but sometimes, I’m happy because I’m just falling in love too.

Falling in love makes the hardest days become easier. Make the burdens on my back even lighter. Why? Because it distracts me from the sorrow I’ve got to face in life. It makes my heart feel warm, flutter, it gives me some more things to look forward to. Looking forward to meeting him, to his texts, to his calls… The heartbeat when I saw his name on my screen is just priceless!

When I fall in love, I cherish every little moment I have with him. Even a simple hello will always make my day. A joke will sound twice fun to me if it comes from him. I can’t help myself smiling alone just by remembering our stupid conversations. Call me stupid but I do reread our old conversations when he’s not around, and again, I’m giggling alone like a teenager.

Dressing up and putting some make-up on my face is never as fun as when I know that I will meet him soon. I usually dress up only for myself, but then, the thought of what he will think of me will also count. I will only smile and say thanks when some random guys say I look pretty, but if it’s being said by him, the world has never been as beautiful as that moment.

I have so many reasons to be happy and to be thankful in life, but I won’t deny that falling in love always makes my life even more remarkable than before. There’s nothing can beat the beauty of falling in love.

So guys, next time please make a better guess. If you see me stay calm in the situation that usually drives my rage, if you see my eyes sparkling when I talk, or if you catch me smiling alone when I walk, well… there’s a possibility that I’m in love. I’m not that cold anyway, hehehehe.

Adios XL Axiata!

Sebenernya, ini bukan pertama kalinya gue kecewa sama service provider di Indonesia. Tapi karena sebelum-sebelumnya Customer Service perusahaan yang bersangkutan selalu bisa memberikan solusi hanya dengan telepon atau e-mail, jadi ya sudahlah, enggak usah diperpanjang. Tapi kali ini, gue bener-bener fed-up sama XL Indonesia.

Singkatnya, tiba-tiba aja hari ini simbol 3G di layar hp gue hilang berjam-jam lamanya. Lalu pas mau pake buat telepon, eh langsung terputus gitu aja. Gue lalu jadi ingat… tiga hari yang lalu, XL kirim SMS nyuruh gue melakukan pembayaran untuk tagihan bulan ini yang jumlahnya hanya 150ribu-an, jika tidak, nomornya akan diblokir. SMS itu gue cuekin secara pembayaran kartu XL gue kan otomatis dilakukan via kartu kredit, jadi ya sudah, nanti juga secara otomatis akan nge-charge ke kartu kredit gue seperti bulan-bulan sebelumnya.

Setelah tahu kartu XL gue diblokir, hal pertama yang terlintas di benak gue jangan-jangan kartu kredit gue bermasalah. Sebenernya gue yakin banget limit kartu kredit gue masih lebih dari cukup, tapi ya just to be sure, gue cek sisa limit dan ternyata masih sisa banyak banget! Ya jelas masih banyak secara tanggal 23 yang lalu tagihan karu kreditnya sudah gue bayar sesuai tagihan kok.

Karena bingung mau gimana lagi, gue pinjem hp bokap gue buat telepon ke call center XL. Awalnya, si mbak-mbak yang terima telepon gue enggak punya jawabannya. Gue disuruh nunggu dan katanya akan ditelepon balik. Dan benar ditelepon balik (masih ke hp bokap tentunya, secara nomor gue udah diblokir), tapi yang bikin kaget, katanya nomor gue diblokir karena kartu kredit gue udah expired!

Ya langsung sewot dong gue. Kartu kredit gue expired tahun 2018 kok. Si mbaknya sempet pamit lagi sebentar, tapi abis itu dia tetep kekuekuh menurut data di sistem dia, kartu kredit gue udah expired di 2014 dan gue harus dateng ke XL center buat update data kartu kredit. Gue makin kesel denger jawabannya. Apa yang mesti di-update? Bulan lalu dan bulan kemarin, data kartu kredit gue masih sama persis, expired-nya 2018!

Si mbaknya terus ngoceh-ngoceh apa gitu tapi bodo amat lah. Gue tutup teleponnya. Percuma juga dengerin dia ngoceh, enggak membantu sama sekali.

Yang gue bingung dari XL:

  1. Kok bisa ya, mereka ngarang alasan kartu kredit gue udah expired? Itu kan alasan bodoh yang gampang banget dibuktiinnya; dan
  2. Misal bener kartu kredit gue udah expired, masa’ iya enggak ada warning dari mereka untuk update data kartu kredit gue?

Dua tahun yang lalu, gue pernah dapet e-mail dari WordPress memberitahukan bahwa kartu kredit gue sudah akan expired, dan WordPress juga menyediakan link buat gue update data kartu kreditnya. Menurut gue, begitu etika bisnis yang benar dan bukan asal blokir saja! Trus ya itu tadi, untuk kasus gue ini, kartu kredit gue bahkan belum expired!

Tapi sudahlah. Mau ngotot juga bingung mau ngotot ke siapa. Semua CS ya hanya sekedar representative yang jadi korban dari buruknya sistem perusahaan mereka sendiri. Gue rasa mereka sendiri enggak gitu ngerti apa yang salah dari kartu pasca bayar gue ini.

Senin nanti, gue akan datang ke XL Center terdekat. Bukan buat update data, tapi buat bayar sisa tagihan dan tutup saja nomor hp gue itu sekalian. Setelah dipikir-pikir, pake XL banyak masalahnya. Suka SPAM yang isinya Elevania lah (padahal gue nggak pernah belanja di situ), sinyal 3G-nya putus-putus melulu, suka mendadak putus kalo dipake telepon agak lama, push e-mail banyak error dan sering delay, waktu di Anyer dan Lembang malah enggak bisa akses internet sama sekali. Jadi sudahlah… meskipun merepotkan, mendingan gue ganti nomor hp aja. Satu kali repot untuk kemudahan di kemudian hari.

In Singapore This Week

Ceritanya satu minggu ini, gue terpaksa stay di Singapura buat urusan SAP training. Kinda wrong timing secara kerjaan di kantor lagi banyak-banyaknya. No wonder kalo tiap malem selama gue di sini, gue masih harus buka laptop buat nerusin pekerjaan kantor yang jadi terlantar gara-gara training.

Meski begitu anehnya, selama di sini, gue justru ngerasa lebih relax. Gue malah bisa punya lebih banyak waktu buat spoiling myself selama stay di sini. Dan tiap malam sepanjang minggu ini, gue bisa nikmatin dinner sambil ngobrol haha-hihi bareng temen-temen setim gue. Lain banget sama suasana dinner gue di hari-hari biasanya; cuma sekedar dinner ala kadarnya sambil duduk di depan laptop untuk menyelesaikan pekerjaan yang enggak ada habisnya itu.

Hari Senin malam, selesai training, gue dan teman-teman pergi makan malam ke Bugis Junction. Nyobain makan chicken PERi-PERi di Nando’s yang langsung bikin gue jadi ketagihan!

Kemudian Selasa malam, nemuin restoran sushi yang enak banget di Chinatown (walau kemudian kita tau bahwa restoran sushi yang sama juga ada di Plaza Senayan, hehehe).

Rabu malam belanja-belanja (dan borong banyak camilan!) di Mustafa Center. Puas juga nyobain banyak sample wewangian yang ada di sana dan bawa pulang 3 botol parfum sekaligus.

Kamis siang gue asyik windows shopping di Plaza Singapura dan bawa pulang body lotion dan manicure set sebagai efek termakan bujukan SPG, hehehehe. Kamis malem makan sushi all you can eat, masih disambung acara belanja ke Orchard Road.

Lalu terakhir hari Jum’at, kita mampir makan malam di Esplanade. Makannya sebentar, justru acara ngobrolnya yang lebih lama, and I enjoyed this one last dinner the most. Gue jadi banyak ketawa, dan jadi sempet ‘lupa’ sama satu masalah pribadi yang sebenernya bikin gue lagi bikin gue sedih.

Gue lalu jadi mikir… Padahal selama di sini pun, gue tetep tidur larut malam. Kerjaan tetep banyak banget. Pernah satu kali sampe skip lunch gara-gara ngejar deadline. Tapi kenapa di tengah padatnya jadwal training dan pekerjaan rutin, gue masih sempet santai-santai dan melakukan hal-hal yang udah cukup lama gue tunda selama di Jakarta itu?

Beberapa bulan belakangan ini, sekedar pergi belanja bulanan pun gue enggak sempet. Kalopun ada waktu luang, gue udah kecapekan setengah mati sampe lebih prefer stay at home all day. Terakhir sebelum ke Singapur, adek gue berbaik hati nawarin diri pergi ke Giant buat beliin keperluan-keperluan harian gue. Parfum udah abis tapi malah beli online dan nggak satisfied sama wanginya. Dan udah lama banget kepengen beli mango macchiato-nya KOI tapi enggak pernah punya waktu buat mampir ke mall terdekat. Dan semua itu, dengan mudahnya gue dapetin selama training di Singapura, hanya dalam waktu 5 hari saja.

Balik lagi pertanyaannya… kenapa? Kenapa di sini, gue masih bisa santai-santai, masih sempet beli ini-itu, meskipun sebenernya jadwal kerja nggak kalah padatnya? Setelah gue pikir-pikir lagi, berikut ini jawabannya:

  1. Nggak ada meeting harian. Biasanya di Jakarta, dalam sehari pastilah ada satu sampai lima meeting yang harus gue hadiri. Gara-gara sibuk meeting, paperwork gue suka jadi terlantar sehingga ujung-ujungnya, di saat semua orang udah pulang ke rumah, gue lembur sendirian;
  2. Nggak banyak e-mails masuk. Sebelum pergi ke Singapur, gue udah sibuk ngumumin ke semua orang yang gue kenal di kantor bahwa minggu ini gue SAP training full day. Hasilnya, e-mail yang masuk cuma setengah dari biasanya. Ini juga sama, sekedar bales e-mails aja bisa consume banyak banget waktu gue setiap harinya; dan
  3. MRT di Singapur bikin gue bisa pergi ke sana-sini dengan mudah, cepat (nggak pake macet), dan nyaman. Beda banget sama di Jakarta. Mau mampir sana-sini, bisa jadi udah habis satu sampai dua jam di jalan hanya untuk perjalanan jarak dekat. Ngebayangin harus bermacet ria pun, udah bikin gue jadi males buat mampir-mampir sepulang kerja.

Jujur awalnya, gue males banget ikutan training ini. Kerjaan di kantor bener-bener lagi banyak-banyaknya. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, it’s not that bad. There’s also that one personal thing which made me thing that I was in SG this week for a reason. Now I’m back to Jakarta but will be back to SG next week, the whole week! Dan gue pun mulai asyik listing down minggu depan di SG mau ke mana aja, hehehehe.

Stop Budaya Bertanya, “Kapan Married?”

Awalnya, malam ini gue lagi asyik nerusin report yang udah lama gue tunda… sampai tiba-tiba, notifikasi Facebook gue berbunyi pelan. Begitu gue berganti layar ke halaman Facebook, ternyata ada comment baru dari temannya teman gue soal status yang intinya berisi sebuah curhatan rasa kesal karena lebaran selalu identik dengan pertanyaan: “Kapan married?”

Sama seperti kaum jomblo pada umumnya, gue juga paling males kalo ditanya kapan merit. Alasan gue:

  1. Kata siapa gue pengen buru-buru merit? Someday I want to, but it’s not my biggest wish right know. Daripada sok tahu mendoakan supaya gue cepet-cepet nyusul 2 adek gue yang udah pada merit itu, mendingan ya mbok doain supaya beasiswa S2 gue tembus gitu… kan ceritanya supaya itu doa tepat sasaran, hehehehe;
  2. Sebagian besar orang yang nanya kapan merit itu adalah orang-orang yang dulunya, saat mereka masih single, mereka juga paling bete kalo ditanyain, “Kapan married?” Kalo pun mau bales dendam, ya bales dendamnya jangan sama gue atuh… Kan yang dulu suka iseng tanya-tanya kapan merit sama mereka itu bukan gue orangnya…
  3. Gue enggak suka dikasihani hanya karena gue belum merit… terutama kalo dikasihaninya sama orang-orang yang sorry to say… pernikahan mereka sendiri gue tau banget penuh dengan derita dan air mata. Is it a kind of invitation to join your ‘misery club’? Kalo berurusan sama orang kayak gini, rasanya gue pengen ngebales, “Mendingan elo urusin deh tuh, rumah tanggalo sendiri…”
  4. Ada beberapa hater yang menggunakan pertanyaan ini semata-mata untuk membuat gue ngerasa ‘incomplete‘. Dari dulu, mereka emang seneng cari-cari celah buat nyindir gue. Padahal kadang lucunya, si hater itu sendiri juga masih belum merit lho. What a world
  5. I’m still 26… and this question always makes me feel like I’m an old woman!

Gue yakin tiap orang punya alasan sendiri-sendiri kenapa mereka masih berstatus lajang. Ada yang masih ingin dengan leluasa mengejar cita-citanya, ada yang merasa belum cukup mapan, ada yang karena faktor belum dapat restu orang tua, atau sederhana saja, mereka masih melajang karena masih belum menemukan pasangan yang tepat. Apapun alasannya, apa susahnya sih, menahan mulut untuk tidak mengajukan pertanyaan usil itu? Ngepain juga nanyain kapan merit kepada orang-orang yang kalian tahu persis mereka tidak berencana menikah dalam waktu dekat? Mereka merit atau nggak merit toh nggak ada untung-ruginya buat kalian?

Mungkin pertanyaan macam ini udah semacam tradisi turun menurun kali ya… Buat beberapa orang, bisa jadi ini bukan a big deal, tapi ada pula orang-orang yang merasa dihantui, atau merasa tertekan dengan pertanyaan ini. Gue kenal beberapa orang yang sampai alergi datang ke resepsi pernikahan, ada pula yang sampai takut pulang kampung, hanya karena takut ditanya kapan merit!

Lalu bagaimana dengan gue sendiri? Kalo gue sih… lebih memilih untuk jaga jarak dengan orang-orang ybs. Masalahnya, tipe orang yang kayak gini ini bukan cuma senang menanyakan kapan merit sampai berulang-ulang saja, tapi mereka juga akan terus-menerus kepo dengan urusan hidup gue di tahap-tahap selanjutnya. Nggak worth keeping aja gitu kalo menurut gue.

Finally… saran gue buat teman-teman yang masih single… gue ngerti, hati pasti panas, tapi sebisa mungkin, bereaksi tenang-tenang aja. Don’t give them a satisfaction, not either a new juicy gossip, by being angry with their question. Jangan pula terbebani dengan pertanyaan macam ini… karena faktanya, banyak orang yang jadi lantas sembarang pilih pasangan hidup hanya karena capek ditanya kapan merit!

Lebih baik nikmati saja sisa-sisa hidup kita sebagai lajang, karena sekalinya kita getting married, masa-masa itu tidak akan pernah terulang kembali. Makanya kalo gue bersyukur masih single di umur segini… soalnya gue ini kan tipe orang yang punya banyak banget keinginan, dan gue maunya saat merit nanti, gue udah puas dengan berbagai macam keinginan gue itu. Gue udah puas dengan pencapaian karier gue, level pendidikan gue, udah puas jalan-jalan melihat dunia, udah puas keluyuran tanpa perlu mikir ada keluarga yang menunggu di rumah… sehingga pada waktunya gue menikah, gue sudah lebih ikhlas sekaligus sudah siap memulai hidup yang benar-benar baru. Getting married for forever is a long time… a very very long time, so why should we do it in a rush? What’s wrong with enjoying our short single times?

So guys… let’s move on! Mari kita anggap aja pertanyaan kapan merit itu sebagai the art of life. Kemudian yang paling penting… mari kita jadi generasi pertama yang berhenti mengajukan pertanyaan nggak penting ini. Kalau nanti kita sudah merit, jangan gantian usil nanya-nanya kapan merit kepada kenalan yang masih single! Kalaupun masih pengen tetep membudayakan pertanyaan ini… ya sudahlah… Pastikan saja pernikahan kalian sendiri akan selalu happily ever after, supaya kalian enggak malu sama kaum single yang kalian tanya-tanya itu.

 

P.s.: Semoga enggak ada yang tersinggung sama tulisan gue ini yah… Mumpung masih suasana lebaran, mohon dimaafkan kalo ada salah-salah kata, hehehehe.

My Best Moments in 2012

Awalnya gue ngerasa, nggak ada something special sepanjang tahun 2012. Untuk urusan kerja, nggak ada promotion seperti tahun 2011. Kemudian untuk urusan cinta-cintaan, setelah belasan tahun lamanya, baru saat 2012 itu aja gue mengalami yang namanya enggak punya gebetan selama satu tahun penuh. Resolusi 2012 gue juga masih saja tidak tercapai. Berat badan masih belum naik, novel masih belum selesai diketik, masih boros dan gila shopping… Betul-betul tahun yang flat kalo menurut gue.

Kemudian beberapa hari yang lalu, saat tinggal 1 hari menjelang tahun baru, ada satu kejadian kecil yang membuat gue menyadari sesuatu. Ceritanya gue sedang makan malam bareng 3 orang teman kantor, dan tanpa gue sadari, gue bisa dengan mudah menebak menu makanan yang ingin dipesan salah satu teman gue. Saat itulah gue tahu dengan sendirinya… ini dia pencapaian 2012 gue… dua orang sahabat baru yang gue dapatkan di tahun 2012.

Pertemanan gue dengan mereka boleh dibilang sesuatu yang nggak terduga. Satu orang teman cowok yang awalnya hanya sering ngobrol untuk urusan pekerjaan, dan satu orang teman cewek yang mulai akrab justru melalui Yahoo Messenger. Setahun belakangan ini, mereka berdua adalah orang pertama yang gue cari untuk berbagi cerita. Sesekali, mereka bikin gue jengkel, begitu pula sebaliknya, tapi pada akhirnya, gue selalu berpikir, “Orang lain boleh aja sebel sama gue tanpa alasan yang jelas… yang penting, gue punya mereka berdua yang akan selalu support gue.”

Kemudian selain dua sahabat baru, di kantor masih ada beberapa teman lain yang juga sudah mewarnai hari-hari gue. Partner gosip, partner cekikikan sampai tertawa terpingkal-pingkal, bahkan partner yang setia mendengarkan keluh-kesah gue yang seolah tidak ada habisnya… And not forget to mention my boss. Terlepas dari segala kekurangannya, tetap ada cukup banyak moment di mana gue ngerasa, gue beruntung punya bos nyentrik kayak dia.

Jadi kesimpulannya, 2012 was not as bad as I thought it was. Malah kalau dikpikir-pikir lagi, I had many great moments during that year!

This slideshow requires JavaScript.

Berawal dari family trip ke Singapura di bulan Februari. Only Singapore, not far from Indonesia, but it was fun too. Gue dan keluarga sangat-sangat menikmati kunjungan kita ke Universal Studio. Ortu dan adek-adek gue juga excited banget belanja-belanja di sana. Semoga lain waktu, gue bisa bawa mereka jalan-jalan ke tempat yang lebih spektakuler 🙂

Nggak lama kemudian, ada lagi short trip ke Bandung bareng temen-temen kantor. Cuma mampir ke Trans Studio, tapi menyenangkan! Puas ketawa-tawa, puas sama wahana yang sebetulnya cuma gitu-gitu aja, puas foto-foto meski dengan kamera ala kadarnya…

Setelah itu masih ada South Korea trip di bulan Mei… Memang bukan perjalanan terbaik yang pernah gue punya, tapi gue tetap selalu merasa senang dan bangga tiap kali bercerita soal perjalanan itu.

Kemudian pertama kalinya nonton Disney on Ice dan Indonesian Idol live in Ancol. Keduanya gue tonton bareng salah satu teman terbaik gue di EY. It felt so good to know that I still have an old friend to have fun with!

Ada pula 2 acara kantor, satu di Bogor, dan satu lagi di Lembang, yang gue lewati dengan banyak tawa. Puas banget rasanya ketawa sampe sakit perut seperti saat-saat itu… I think those were ones of the best laughter I’ve ever had.

Di akhir Oktober, gue dan beberapa orang teman pergi liburan ke Karimunjawa. Karimunjawa was not a spectacular island for me, but the trip was still spectacular for me. Banyak pengalaman baru, dan juga… pulang dengan membawa teman-teman baru!

Malam ulang tahun gue di penghujung November juga sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya… Gue terpaksa melewatkan malam ultah di kantor bersama 3 orang colleagues, dan persis jam 12 malam, si bos menyodorkan lighter-nya dan nyuruh gue make a wish lalu meniup api dari lighter-nya itu! Only a small occasion, but at least, it was something I’ll never forget.

Tiba pada malam pergantian tahun… I had a pretty good time with my office mates. Masak bareng-bareng, bakar jagung yang ternyata gagal total, karokean dengan fasilitas seadanya, dan membunyikan terompet sambil deg-degan takut diomelin tetangga, hehehehe. We also had a sharing session, then for a while, we closed our eyes just to pray for a better year.

Finally… yes, I didn’t have a boyfriend, no more promotion at work, and so many failed resolutions… but so what? I still had great friends around, and of course, my beloved nephew who was born in June 2012. My house feels like a different place since the day he was born and I always have such a good time with this cute baby.

Gue menutup tahun 2012 dengan rasa syukur, dan dengan harapan besar, untuk memulai tahun yang membawa perubahan. Seperti birthday wish di malam ultah gue itu… “Hope that I would change my life, in the new age, in the new year!”

So happy new year 2013 everyone! Wish you have a great year ahead 🙂

A Pretty Cat Named Woochie

Enam tahun yang lalu, Mitha, sahabat gue dari bangku kuliah, menunjukkan sebuah foto di layar hp-nya. Foto sebuah kardus sepatu yang berisi lima ekor bayi kucing lucu. Sekali lihat, gue langsung jatuh hati sama satu ekor kucing yang menatap lurus ke arah kamera. Warnanya abu-abu, matanya cantik, terlihat sehat, gue pun langsung setuju buat adopsi kucing lucu itu dari Mitha. Dalam hati gue langsung tau, kucing itu akan gue kasih nama Woochie.

Sore itu, gue ditemani Yantri, datang ke rumah Mitha untuk menjemput Woochie. Kucingnya memang benar lucu, menggemaskan, dengan buntut panjang yang meruncing sampai ke ujung. Sepanjang perjalanan, di dalam mobil, Woochie enggak bisa berhenti mengeong. Untunglah begitu sampai di rumah, Woochie langsung terlihat nyaman, dan tertidur pulas di kursi ruang tamu.

Woochie kecil lincahnya bukan main. Berlarian ke sana-sini, mencakar semua yang terlihat menarik perhatiannya, tapi kalo udah capek, Woochie suka datang menghampiri hanya untuk minta dipangku. Selain itu entah kenapa, Woochie sedari kecil kecil udah suka banget tidur di dalam kardus kecil, kantong plastik, atau benda penyimpanan apapun yang berbentuk kotak kecil. Di pagi hari, saat gue keliling rumah mencari Woochie, dia suka dengan lucunya menampakkan diri dari balik kardus tempat dia tidur. Kepala mungilnya yang menyembul dari balik kardus itu bikin gemes! Udah enggak kehitung ada berapa banyak foto Woochie yang pernah gue abadikan.

Sifat Woochie mulai berubah setelah melahirkan anak-anak generasi pertama. Anak-anak kucing yang enggak kalah lucu sama maminya. Hanya saja entah kenapa, tidak pernah ada satupun anak Woochie yang sama persis seperti dia. Setiap dia baru melahirkan, gue selalu aja berharap setidaknya ada satu ekor kitten yang menyerupai muka lucu induknya.

Woochie was sleeping.

Woochie sudah melahirkan belasan anak, tapi sejak dulu sampai sekarang, anak-anak Woochie tidak pernah bertahan sampai tahunan lamanya. Ada yang mati saat masih bayi, ada yang hilang secara tiba-tiba, atau, berangsur pergi dari rumah dan migrasi ke kawasan lain yang tidak jauh dari rumah setelah mereka mulai dewasa. All of those other cats always come and go, all of them, except Woochie.

Woochie itu selalu setia sama gue. Dia nggak pernah nggak pulang ke rumah gue. Di saat lagi bad mood dan nggak mau dipegang-pegang (biasanya saat sedang hamil besar), Woochie bakal marah banget kalo disentuh dikiiit aja. Dia bakal marah sama semua orang, semua… kecuali sama gue. Dia juga tau banget di mana letak pintu kamar gue. Dia suka ngotot minta masuk dengan cara mencakar-cakar pojokan daun pintu kamar gue. Dan kalo gue lagi pergi dalam waktu yang lama, dia suka berdiri depan pintu kamar, mengeong, tanpa tahu kalau sebenarnya, kamar gue itu sedang dalam keadaan kosong.

Hal yang selalu bikin gue sedih dari kucing kesayangan adalah… mereka tidak pernah mati di depan gue. Mereka semua selalu aja tiba-tiba menghilang… dan tidak pernah lagi kembali untuk pulang. Kadang suka ada feeling dengan sendirinya bahwa saat itu, kucing kesayangan sudah tiada…

Berkali-kali, gue ngomong gini sama si Woochie (yeaah… gue emang aneh, suka ngomong sama kucing), “Woochie, kamu kalo mati jangan kayak Dippy, enggak jelas matinya di mana… Stay here, so that I could see you for the last time.”

Gue sadar usia Woochie sudah bertambah tua. Tapi Woochie masih kelihatan cantik, masih pintar, masih punya banyak akal untuk menjebol tempat gue menyimpan biksuit kesukaannya. Woochie ini juga pinter banget akting… Mukanya bisa berubah-ubah dari muka pengen, muka judes, sampe muka lempeng ala kucing kebanyakan. Gue ingat dia pernah pura-pura terkulai di atas lantai… ngambek, karena seharian itu dia belum gue kasih makan. Gimanapun Woochie kucing yang kuat. Gue enggak pernah lihat dia sakit dalam waktu yang lama. Bahkan, saat wabah misterius mengambil tujuh ekor nyawa kucing di rumah gue, Woochie tetep aja sehat walafiat. Makanya gue selalu ngerasa… Woochie adalah kucing yang paling setia, yang akan menemani gue dalam waktu yang lama.

Hari ini, gue pulang ke rumah, sepulang kerja, seperti biasa. Yang tidak biasa, tiba-tiba aja bokap gue bilang gini, “Si Woochie mati…”

Setelah mobil terparkir sempurna, gue buka pintu mobil, dan menemukan Woochie terkulai di pinggiran garasi. Posenya sama persis seperti saat dulu dia ngambek karena belum makan, hanya saja kali ini, Woochie benar-benar sudah pergi… Tubuhnya kaku, matanya sedikit terbuka, dan napasnya sudah tidak berhembus. Woochie sudah pergi… tapi setidaknya, dia menepati janji… untuk membiarkan gue melihat dia yang terakhir kali…

Jujur belakangan ini, perhatian gue untuk Woochie udah banyak berkurang. Karena dia suka nakal, dia jadi makin sering dilarang masuk rumah. But Woochie never gave up, she never walked away just because of that. She never walked away, until today… she passed away, still in my house, still in the place where she grew up.

Setelah Woochie dikuburkan, pandangan gue tertuju kepada seekor anak kucing yang baru dilahirkan Woochie tiga bulan yang lalu. Anak kucing itu bersembunyi takut-takut di balik pot… mengingatkan gue sama Woochie kecil yang bersembunyi di balik kardus. Gue baru menyadari… akhirnya, ada juga anak Woochie yang terlihat sangat mirip dengan induknya.

Menurut adek bungsu gue, Woochie emang terlihat kurang sehat belakangan ini. Dan kalau gue pikir lagi… well… kalo gue boleh lebay sedikit, Woochie seperti pergi di saat yang menurut dia lebih tepat. Woochie pergi, meninggalkan seekor anak yang mirip banget sama dia. Gue langsung bilang begini sama kitten yang belum sempat gue beri nama itu, “Nama kamu Woochie juga… sama kayak si Mami.”

Gue masih nggak nyangka Woochie mati hari ini. Mata gue masih berkaca-kaca, nulis blog sambil netesin air mata… Tanpa berpikir lama, meskipun sebenarnya gue belum selesai bikin materi training untuk besok pagi, gue langsung buka laptop… untuk menulis blog ini. Gue ingin menulis untuk Woochie, kucing yang telah setia menemani, enam tahun lamanya…

Bye bye Woochie. Hope that you have reached a better place. Thanks for being so cute all the time, thanks for just sitting there and listening to my stupid stories. Rest in peace, Woochie… I will miss you.

Karakter Golongan Darah “O”

Berawal dari foto yang di-share salah satu teman, gue jadi nemuin Facebook page yang menarik, namanya Blood Type Comics. Isinya berbagai macam komik yang menggambarkan perbedaan karakter 4 golongan darah. Yang bikin gue kaget adalah… it’s absolutely true! Berikut ini gue rangkum sifat dasar si golongan darah O (yup, I’m an O) berdasarkan kumpulan komik di Facebook page ini:

Anger Management

“Talk to a third party to vent. They can de-stress, but people around them will be exhausted.”

Gue langsung nyengir baca bagian ini. Gue emang terkenal sebagai orang yang suka curhat. Gue membagi teman curhat gue berdasarkan topiknya. Si A buat dengerin curhat gue soal kerjaan, si B khusus denger soal masalah keluarga, si C dan D buat dengerin curhat gue soal cowok (soal ini masih terbagi lagi… si C khusus denger curhatan gue tentang si E, dan si D khusus denger soal kisah gue sama si F). Cuma ada ada dua sahabat lama yang sudah sangat-sangat dekat dengan gue yang pernah mendengar hampir semua cerita penting dalam hidup gue.

Kenapa gue membagi-bagi curhatan gue? Karena topik yang gue ceritakan itu belum tentu dianggap menarik oleh semua orang. Kemudian belakangan ini, untuk urusan gebetan, gue lebih memilih untuk curhat sama teman yang tidak mengenal cowok itu. Selain itu… yaaah, gue juga enggak mau temen-temen gue sampe exhausted cuma gara-gara dengerin semua kisah hidup gue, hehehehehe.

Inside Their Hearts

Inquisitive, likes to win…

Selalu ingin tahu? Menyukai kemenangan? Yeah, well… that’s me.

Gue tipe orang yang gampang banget penasaran. Ada satu teman di EY, dan satu lagi teman di Niro, yang dua-duanya seneng banget sengaja bikin gue jadi penasaran. Mereka tau banget gue ini bisa jadi cacing kepanasan kalo lagi penasaran.

Kemudian soal menyukai kemenangan… pada dasarnya siapa sih, yang mau mengalami kekalahan? Cuma bedanya, gue emang tipe orang yang berusaha lebih keras untuk memenangkan hal-hal yang gue anggap penting dalam hidup gue. The euphoria of a glory is pretty addictive to me. Gue rasa sifat ini justru bisa jadi sifat positif, selama gue tidak lantas menghalalkan berbagai macam cara.

Smart Phone

“For type O, the smartphone is the mean of expressing their own character. They become the number one devotee of their own phone, and start spreading rumors about it.”

O is likely saying, “Yo! I got the latest smartphone!” or “Did you try this application? It is the best!” or “Trust me! This is the right phone!”

Gue nyengir paling lebar saat baca komik bertema Smart Phone ini. Coba klik blog gue yang ini dan yang ini. Nah, see? I’m definitely an O, hehehehehe.

Gue bukan tipe orang yang ganti hp setahun dua kali. Setahun sekali aja belum tentu gue ganti. Tapi sekalinya ganti, gue pengen hp yang canggih. Itulah alasannya gue ngotot mempertahankan Android dan selalu menolak buat ganti BB. Walaupun akhirnya gue pake BB, si Android tetap jadi andalan karena BB gue itu khusus buat CDMA aja. Tapi kalo kata beberapa orang teman gue, “Yaah… apapun alasannya, akhirnya elo pake BB juga, hahahahaha,” atau, “Gue masih takjub akhirnya elo beli BB, hahahahaha.”

Yeaaah, whatever.

P.s.: Kayaknya gue sedang mempertimbangkan bikin review di blog tentang BB CDMA gue, hehehehehe.

Reaction when given a bowl of marshmallows

“Due to their strong survival instincts, they stash the marshmallows away for future needs. But also they tend to forget where they left them.”

Pada komik soal marshmallow ini, si O digambarkan menyimpan mangkuknya di dalam kulkas, supaya awet dan akan dimakan saat dibutuhkan. Tapi setelah itu, si O malah lupa… di mana dia menyimpan mangkuk marshmallow-nya?

Gue juga sering mengalami hal kayak gitu lho. Gue suka sok-sok menyimpan sesuatu di tempat yang aman, tapi akhirnya gue malah lupa… kemaren gue simpan di mana??? Makin brilian ide yang gue punya, semakin besar pula potensi gue buat lupa, hehehehe.

Type O Overview

  1. Have the strongest need for survival;
  2. Have great motivation when there’s a goal, but promptly lose their will once the goal is blurred. Kalo gue, butuh waktu agak lama untuk bangkit kembali. Dan biasanya, keberadaan orang-orang yang mendukung gue adalah salah satu faktor terpenting yang membuat gue jadi pantang menyerah;
  3. Are both an idealist… and a realist. Ini bener banget loh. Meskipun gue tipe orang yang idealis, gue tetap orang yang realistis. Bukan berarti nggak punya pendirian… gue hanya berpikir, kadang-kadang hal terbaik yang bisa terjadi sama kita itu belum tentu hal yang 100% mirip dengan idealisme kita. Bersikap realistis membuat hidup gue jadi lebih mudah, tetapi mempertahankan idealisme juga tetap penting untuk memastikan setidaknya, my life is still on the right track;
  4. Used to forming cliques and high wary of those outside cliques. Yup… dari jaman sekolah sampai kerja, gue tetap tipe orang yang suka nge-gank. Gue benar-benar membedakan perlakuan gue terhadap teman yang gue anggap dekat dengan teman yang gue anggap biasa-biasa aja;
  5. Tends to focus on a single thing, thus more people in professional line of work;
  6. Honest and opinionated, thus more people who lives with principles and ideals; and
  7. Emotional, but will not back-stab others.

Dari 7 point di atas, yap… memang itulah garis besar kepribadian gue. Gue sampe bingung… ini cuma kebetulan atau semua orang yang punya golongan darah O mempunya kepribadian yang serupa?

Well, gue bakal iseng-iseng cari orang dengan golongan darah O… untuk kemudian gue observasi apakah mereka punya kesamaan dengan gue dalam hal-hal di atas? Just curious 😀

Kenapa Traveling Saat Remaja Justru Terasa Lebih Mudah?

Hari ini gue dan Nitya, teman baik gue di bangku SMA, flash back tentang beberapa perjalanan yang dulu pernah kita lakukan bersama-sama.

Selintas gue bertanya sama Nitya, “Kenapa ya… traveling di usia yang sekarang ini rasanya jadi lebih ribet? Sekarang ini gue jadi ngerasa harus selektif banget pilih teman seperjalanan, dan jadi punya prinsip untuk enggak pergi dengan jumlah orang terlalu banyak. Padahal dulu waktu SMA, pergi sama siapapun asyik-asyik aja, dan waktu pergi belasan orang pun, rasanya tetap asyik-asyik aja.”

Adik ipar gue menimpali, “Mungkin karena waktu jaman dulu itu kalo liburan tinggal terima beres… Jadi semuanya udah lancar.”

Nitya langsung bereaksi, “Enggak juga… liburan kita dulu nggak begitu.”

Dan cerita-cerita itu pun kembali meluncur dari mulut gue…

Tentang liburan naik bis umum dari Kampung Rambutan.

Naik bis antar kota yang penuh sesak sampai tidak semua orang kebagian tempat duduk.

Numpang duduk di kantor polisi, selama berjam-jam, sambil nunggu teman yang akan datang menjemput.

Sewa kopaja untuk sampai ke Anyer, dan di tengah jalan tol, eeeh… si Kopaja malah mogok!

Kemudian begitu tiba di Anyer, cuaca super panaaas… Kita pun terpaksa tidur dengan semua jendela dan pintu terbuka lebar demi mendapatkan hawa segar.

Terdengar seperti bencana? But it was fun! Kita malah asyik foto-foto di pinggir jalan tol sambil menunggu Kopaja diperbaiki dan bukannya sibuk ngedumel karena kepanasan.

Coba lihat hal-hal tidak menyenangkan yang pernah gue alami saat traveling di usia dewasa…

Teman yang wajahnya cemberut setiap kali nyasar di jalan.

Teman yang wajahnya cemberut saat mengunjungi tempat yang tidak dia sukai.

Masih mending kalau cuma cemberut, ada pula yang tidak mau menemani gue ke tempat yang sangat-sangat ingin gue datangi tapi tidak mereka sukai.

Teman yang terus mengeluh tentang buruknya fasilitas ini-itu padahal sebetulnya, mereka sendiri yang tidak mau keluar banyak uang untuk biaya liburan.

Teman yang enggak mau ikutan sibuk mempersiapkan ini-itu, tetapi giliran sepanjang liburan kerjaannya merintah ini-itu seenak udel.

Teman yang sangat perhitungan, tidak mau dia sampai rugi, tapi tidak keberatan bikin temannya jadi rugi.

Atau yang paling mengherankan, gue pernah dua kali mengalami ‘nightmare’ saat mengunjungi amusement park. Datang beramai-ramai, tapi semua orang tidak mau beli tiket terusan (entah dengan alasan bad mood atau harga tiket yang lebih mahal) dan dengan baik hatinya bilang mereka akan tunggu di luar selagi gue naik wahana-wahana itu SENDIRIAN. Padahal ya… mana enak sih, ngantri mainan sendirian? Dan buat apa gue datang ke sana bawa teman kalau gue hanya asyik bermain sendirian?

Insiden amusement park itu terjadi sama gue dua kali, dengan dua rombongan yang berbeda… sehingga sampai sekarang gue masih heran… kenapa? Kenapa selalu kesannya, mengunjungi amusement park itu adalah ide pribadi gue dan bukan atas kesepakatan bersama? Malah pada salah satu kejadian tersebut, sebenarnya saat itu gue sendiri tidak begitu kepingin datang ke sana. Bukannya gue enggak suka amusement park, tapi masalahnya pada saat itu ada 2 amusement park yang akan kita datangi sedangkan menurut gue, cukup pilih satu yang terbaik saja. Akhirnya gue tetap ikut ke kedua amusement park itu karena ada salah satu teman yang bilang dia suka amusement park dan ingin mencoba keduanya. Tapi saat sudah tiba, orang yang dulu memberi statement ingin main di sana malah bersikap seolah-olah datang ke sana adalah idenya gue!

Saat usia kanak-kanak sampai remaja dulu, amusement park yang gue datangi dengan teman-teman tidak pernah jauh-jauh dari Dufan. Hanya Dufan, tapi selalu menyenangkan. Kenangan rasa gembira yang selalu gue rasakan saat mengunjungi Dufan adalah hal yang membuat gue selalu menyukai amusement park. Tapi kenapa sekarang bisa lain ceritanya?

Anyer, 11 tahun yang lalu… Salah satu perjalanan yang paling menyenangkan semasa gue SMA.

Gue akui sekarang ini, gue sendiri bukan orang yang selalu bersikap menyenangkan sepanjang liburan… Gue suka ngerasa capek kalo nyasar melulu. Apalagi gue ini emang tipe orang yang malu bertanya sehingga sesat di jalan. Gue juga suka kesal kalau teman seperjalanan gue tidak disiplin dan serba ngaret, atau terlalu sering ceroboh sehingga mengganggu rencana perjalanan. Makanya gue heran… dulu, gue tidak begini. Atau setidaknya, gue tidak pernah merasa jengkel hanya karena hal-hal tidak berjalan sesuai rencana.

Jadi kenapa? Kenapa sekarang ini, gue sampai mengalami perjalanan yang malah bikin gue pengen pulang, mendapatkan teman perjalanan yang menyebalkan, atau bahkan, kenapa gue sendiri bisa bersikap sebagai teman perjalanan yang tidak menyenangkan?

Traveling nightmare seperti ini bukan hanya pernah terjadi sama gue… Sebelum gue mengalaminya sendiri, gue sudah pernah beberapa kali mendengar keluhan sejenis dari teman-teman atau dari beberapa travel writers. Dan kalau gue ingat-ingat kembali… semua keluhan orang lain pun, terjadi saat usia mereka sudah masuk kepala 2.

Jadi kenapa? Apa yang membuat perjalanan ala remaja terasa lebih mudah?

Sampai saat tulisan ini gue post, gue masih belum menemukan jawabannya. Tapi daripada repot-repot mencari jawabannya, gue lebih memilih untuk tetap bersikap selektif. Teman seperjalanan yang gue anggap menyenangkan akan gue pertahankan, untuk diajak pergi lagi di kemudian hari. Kemudian gue juga sedang berpikir… gimana kalo gue coba bepergian dengan travel mate semasa remaja dulu? Gue kepingin tahu apakah bepergian dengan mereka setelah dewasa masih sama menyenangkannya seperti dulu?

Jika ternyata jawabannya adalah YA (bebepergian dengan mereka tetap menyenangkan meski sudah sama-sama berusia dewasa), berarti kemungkinan besar, I was simply a lucky teenager: I had a lot of friends who were fun to travel with. Tapi jika jawabannya adalah TIDAK… well, mungkin gue harus kembali menganalisis, atau mungkin, justru gue yang harus instropeksi.

Traveling is supposed to be fun, and it supposed to make you closer to your friends, not breaking up with them as the journey end. Back to the past, traveling was always an unforgettable memory between me and my old friends.

Intinya gue cuma ingin punya cerita perjalanan yang menyenangkan, yang bisa kembali gue ceritakan kepada anak-cucu gue nanti, atau… untuk sekedar kembali dikenang saat gue berkumpul dengan teman-teman seperjalanan. I did it very well when I was a teenager, and I shall do it better after I’m a grown up. Otherwise, my traveling activity is just a waste of time, money, and energy. That’s it.

Disney on Ice: Let’s Celebrate!

Tahun 2010, gue pertama kali denger soal pertunjukan Disney on Ice yang sedang mampir di Jakarta. Sayangnya, saat periode show itu ceritanya gue lagi bokek. Maklum, waktu itu masih jamannya kerja jadi junior auditor, duit masih serba ngepas. Satu tahun kemudian, Disney on Ice kembali mampir ke Jakarta. Sayangnya lagi, bentrok sama rencana liburan gue ke Hongkong dan sekitarnya. Jadi ya sudahlah… gue pikir tunggu tahun depan lagi. Sampai akhirnya tibalah bulan April 2012… sudah saatnya gue nonton live show ini!

Tadinya gue nyaris batal nonton pertunjukan ini. Susah banget cari orang yang mau temenin gue nonton karena bermacam-macam alasan. Kebanyakan karena faktor harga yang relatif mahal, ada pula yang jadwalnya bentrok, atau tidak tertarik nonton karena katanya, ini pertunjukan buat anak-anak kecil, hehehehehe.

Sampai Minggu pagi tanggal 22 April 2011 (hari terakhir Disney on Ice Jakarta 2012 digelar), sudah gue ikhlaskan nggak jadi nonton Disney on Ice tahun ini. Insyaallah masih ada tahun depan. Tapi tiba-tiba si Nana, teman baik gue waktu di EY, kirim Whatsapp ngajakin nonton live show ini! Yaaay, akhirnya gue jadi nonton^^

Soal jalan cerita sih nggak terlalu penting lah yaa. Intinya sih tokoh-tokoh Disney itu menampilkan berbagai jenis perayaan. Ada perayaan ultah, Halloween, Valentine, Natal, dsb… Tokoh-tokoh Disney itu menampilkan tarian di atas arena ice skating menggunakan kostum yang berbeda-beda, disesuaikan dengan tema perayaannya.

Berikut ini, plus-minus dari Disney on Ice: Let’s Celebrate yang gue saksikan minggu lalu.

PLUS:

  1. Para pemainnya benar-benar terlatih. Saat nonton, dalam hati gue berpikir… “Kalo dia sampe jatuh atau kepeleset gimana ya?” Tapi ternyata sampai akhir acara, nggak ada satu pemain pun yang gue lihat mengalami kecelakaan saat pentas;
  2. Atraksinya memukau. Penonton selalu bertepuk tangan dengan riuhnya setiap kali para pemain di depan baru saja menampilkan atraksi yang rasa-rasanya impossible untuk bisa kita lakukan sendiri. Kalo kata Nana, ada beberapa pemain yang terlihat seperti sedang ‘terbang’ saking lincahnya;
  3. Kostumnya lucu-lucu! Disney benar-benar all out buat urusan kostum. Terlihat mewah, cute, dan sangat sesuai dengan tema yang sedang ditampilkan;
  4. Simple but looks sweet decorations. Kereta-kereta esnya juga lumayan lucu, walau jumlahnya tidak terlalu banyak;
  5. Gue suka banget sama tema Valentine. Pada tema ini, setiap pasangan dalam keluarga besar Disney (misalnya Cinderella dengan pangerannya, Jasmine dengan Aladdin, dsb…) ditampilkan untuk menari berpasang-pasangan. Suasananya romantis, diiringi lagu-lagu yang sudah familiar di telinga kita (misalnya, A Whole New World, Beauty and the Beast, Reflection, dsb…). Gue sampe sempet agak-agak merinding waktu nonton tema ini, hehehehehe; dan
  6. Mayoritas pemainnya cantik dan ganteng. Ada cowok di tema Hawaii yang tampil topless. Gila yaa, perutnya six pack dan tampangnya mirip-mirip Ashton Kutcher gituu, hihihihihi.

MINUS

  1. Atraksinya emang keren, tapi banyak pengulangan, sehingga lama-lama kelihatannya biasa-biasa saja;
  2. Formasi tariannya kurang rapih. Ada pula beberapa tarian yang sebetulnya masih bisa dipercantik. Tapi mungkin memang lebih sulit ya, menari ala ice skating kayak gitu, makanya jadi kelihatan kurang all out;
  3. Nggak ada acara foto bareng para pemainnya. Padahal gue pengen banget foto bareng Minnie Mouse yang pake kostum kimono warna pink;
  4. They speak English all the times. Suasana pasti akan jauh lebih meriah jika mereka menggunakan bahasa yang dimengerti oleh seluruh penontonnya. Tapi gue amazing juga sih sama anak-anak jaman sekarang. Ada cukup banyak anak yang bisa menjawab yang diajukan oleh Mickey Mouse dalam bahasa Inggris yang menurut gue tuh lumayan rumit; dan
  5. Kurang banyak unsur kejutan. Kalaupun ada, sifatnya masih nanggung. Tapi setelah gue pikir-pikir, mungkin karena keterbatasan ruangan aja kali yaa. Tapi lebih banyak kejutan (misalnya kembang api warna-warni yang meriah) bisa bikin pertunjukan tambah berkesan.

Kesimpulannya, buat gue nonton pertunjukan ini udah masuk kategori lumayan. Lumayan buat menjawab rasa penasaran gue, lumayan buat cuci mata, dengan harga yang lumayan mahal juga, hehehehe.

However kalo menurut gue, if you want to make your kids happy, you could just bring them to watch this show! Anak-anak kecil di sana tuh ya, baru ngelihat Mickey dadah-dadah aja udah histeris saking senengnya. Mirip-mirip lah sama ABG kalo ngelihat artis idolanya di panggung konser… Jadi nanti kalo ponakan gue udah gedean, atau kalo gue sendiri udah punya anak, gue bakal bawa mereka nonton pertunjukan ini. Tapi sebelumnya, mereka bakal gue kasih kursus Bahasa Inggris dulu supaya bisa ngejawab pertanyaan yang diajukan Mickey Mouse, hehehehehe.