A journey to remember

A Pretty Cat Named Woochie

Posted on: August 13, 2012

Enam tahun yang lalu, Mitha, sahabat gue dari bangku kuliah, menunjukkan sebuah foto di layar hp-nya. Foto sebuah kardus sepatu yang berisi lima ekor bayi kucing lucu. Sekali lihat, gue langsung jatuh hati sama satu ekor kucing yang menatap lurus ke arah kamera. Warnanya abu-abu, matanya cantik, terlihat sehat, gue pun langsung setuju buat adopsi kucing lucu itu dari Mitha. Dalam hati gue langsung tau, kucing itu akan gue kasih nama Woochie.

Sore itu, gue ditemani Yantri, datang ke rumah Mitha untuk menjemput Woochie. Kucingnya memang benar lucu, menggemaskan, dengan buntut panjang yang meruncing sampai ke ujung. Sepanjang perjalanan, di dalam mobil, Woochie enggak bisa berhenti mengeong. Untunglah begitu sampai di rumah, Woochie langsung terlihat nyaman, dan tertidur pulas di kursi ruang tamu.

Woochie kecil lincahnya bukan main. Berlarian ke sana-sini, mencakar semua yang terlihat menarik perhatiannya, tapi kalo udah capek, Woochie suka datang menghampiri hanya untuk minta dipangku. Selain itu entah kenapa, Woochie sedari kecil kecil udah suka banget tidur di dalam kardus kecil, kantong plastik, atau benda penyimpanan apapun yang berbentuk kotak kecil. Di pagi hari, saat gue keliling rumah mencari Woochie, dia suka dengan lucunya menampakkan diri dari balik kardus tempat dia tidur. Kepala mungilnya yang menyembul dari balik kardus itu bikin gemes! Udah enggak kehitung ada berapa banyak foto Woochie yang pernah gue abadikan.

Sifat Woochie mulai berubah setelah melahirkan anak-anak generasi pertama. Anak-anak kucing yang enggak kalah lucu sama maminya. Hanya saja entah kenapa, tidak pernah ada satupun anak Woochie yang sama persis seperti dia. Setiap dia baru melahirkan, gue selalu aja berharap setidaknya ada satu ekor kitten yang menyerupai muka lucu induknya.

Woochie was sleeping.

Woochie sudah melahirkan belasan anak, tapi sejak dulu sampai sekarang, anak-anak Woochie tidak pernah bertahan sampai tahunan lamanya. Ada yang mati saat masih bayi, ada yang hilang secara tiba-tiba, atau, berangsur pergi dari rumah dan migrasi ke kawasan lain yang tidak jauh dari rumah setelah mereka mulai dewasa. All of those other cats always come and go, all of them, except Woochie.

Woochie itu selalu setia sama gue. Dia nggak pernah nggak pulang ke rumah gue. Di saat lagi bad mood dan nggak mau dipegang-pegang (biasanya saat sedang hamil besar), Woochie bakal marah banget kalo disentuh dikiiit aja. Dia bakal marah sama semua orang, semua… kecuali sama gue. Dia juga tau banget di mana letak pintu kamar gue. Dia suka ngotot minta masuk dengan cara mencakar-cakar pojokan daun pintu kamar gue. Dan kalo gue lagi pergi dalam waktu yang lama, dia suka berdiri depan pintu kamar, mengeong, tanpa tahu kalau sebenarnya, kamar gue itu sedang dalam keadaan kosong.

Hal yang selalu bikin gue sedih dari kucing kesayangan adalah… mereka tidak pernah mati di depan gue. Mereka semua selalu aja tiba-tiba menghilang… dan tidak pernah lagi kembali untuk pulang. Kadang suka ada feeling dengan sendirinya bahwa saat itu, kucing kesayangan sudah tiada…

Berkali-kali, gue ngomong gini sama si Woochie (yeaah… gue emang aneh, suka ngomong sama kucing), “Woochie, kamu kalo mati jangan kayak Dippy, enggak jelas matinya di mana… Stay here, so that I could see you for the last time.”

Gue sadar usia Woochie sudah bertambah tua. Tapi Woochie masih kelihatan cantik, masih pintar, masih punya banyak akal untuk menjebol tempat gue menyimpan biksuit kesukaannya. Woochie ini juga pinter banget akting… Mukanya bisa berubah-ubah dari muka pengen, muka judes, sampe muka lempeng ala kucing kebanyakan. Gue ingat dia pernah pura-pura terkulai di atas lantai… ngambek, karena seharian itu dia belum gue kasih makan. Gimanapun Woochie kucing yang kuat. Gue enggak pernah lihat dia sakit dalam waktu yang lama. Bahkan, saat wabah misterius mengambil tujuh ekor nyawa kucing di rumah gue, Woochie tetep aja sehat walafiat. Makanya gue selalu ngerasa… Woochie adalah kucing yang paling setia, yang akan menemani gue dalam waktu yang lama.

Hari ini, gue pulang ke rumah, sepulang kerja, seperti biasa. Yang tidak biasa, tiba-tiba aja bokap gue bilang gini, “Si Woochie mati…”

Setelah mobil terparkir sempurna, gue buka pintu mobil, dan menemukan Woochie terkulai di pinggiran garasi. Posenya sama persis seperti saat dulu dia ngambek karena belum makan, hanya saja kali ini, Woochie benar-benar sudah pergi… Tubuhnya kaku, matanya sedikit terbuka, dan napasnya sudah tidak berhembus. Woochie sudah pergi… tapi setidaknya, dia menepati janji… untuk membiarkan gue melihat dia yang terakhir kali…

Jujur belakangan ini, perhatian gue untuk Woochie udah banyak berkurang. Karena dia suka nakal, dia jadi makin sering dilarang masuk rumah. But Woochie never gave up, she never walked away just because of that. She never walked away, until today… she passed away, still in my house, still in the place where she grew up.

Setelah Woochie dikuburkan, pandangan gue tertuju kepada seekor anak kucing yang baru dilahirkan Woochie tiga bulan yang lalu. Anak kucing itu bersembunyi takut-takut di balik pot… mengingatkan gue sama Woochie kecil yang bersembunyi di balik kardus. Gue baru menyadari… akhirnya, ada juga anak Woochie yang terlihat sangat mirip dengan induknya.

Menurut adek bungsu gue, Woochie emang terlihat kurang sehat belakangan ini. Dan kalau gue pikir lagi… well… kalo gue boleh lebay sedikit, Woochie seperti pergi di saat yang menurut dia lebih tepat. Woochie pergi, meninggalkan seekor anak yang mirip banget sama dia. Gue langsung bilang begini sama kitten yang belum sempat gue beri nama itu, “Nama kamu Woochie juga… sama kayak si Mami.”

Gue masih nggak nyangka Woochie mati hari ini. Mata gue masih berkaca-kaca, nulis blog sambil netesin air mata… Tanpa berpikir lama, meskipun sebenarnya gue belum selesai bikin materi training untuk besok pagi, gue langsung buka laptop… untuk menulis blog ini. Gue ingin menulis untuk Woochie, kucing yang telah setia menemani, enam tahun lamanya…

Bye bye Woochie. Hope that you have reached a better place. Thanks for being so cute all the time, thanks for just sitting there and listening to my stupid stories. Rest in peace, Woochie… I will miss you.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Advertisements

My Blog Counter

  • 935,890 visits since May 2011

My Blog Categories

My Blog Archives

Click here to read my tweets…

Click the pictures below to visit my Instagram...

We can’t control whatever life throws at us, but we definitely can control our reaction toward anything that can possibly happen to us.
It’s our decision whether or not we set ourselves free from miseries.
It’s our action that makes our life either colorful or plain boring.
It’s our behavior that leads us to feel merry or lonely.
And it’s certainly our own choices that bring us happiness in life.
Life is too short to be lonely, unhappy, and to be less proud of who we are.
Make the most of every day in your life, be happy with the little and the big things, make your life not only worth living, but also worth to celebrate!
You tell this to yourself, “Happiness starts now!” I’ve been working as a pre-wedding conceptor in past couple of months and I really enjoy seeing how two people so much in love with each other.
With that being said, instead of rushing myself to my own wedding, I’d rather tell myself to take my time. I want my wedding to be a lifetime event, I want this to be something worth fighting for, and for that, I need the right man who also shares the same wishes as mine.
I still have to find someone who clearly tells me what he wants, the one who never makes me have to wonder where he stands, the one who will certainly catch me when I fall. And maybe, it takes times until I find him. But that’s okay! Good things take times, do they? Either you are my friend, enemy, or just somebody I know. The choice is yours.

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

About Me

What my blog is all about? It's all about my life; my very own fairy tale, that I would love to share. This is my story, my ups and downs, it's a journey to remember.

%d bloggers like this: