Dalam Suka dan Duka

Gue tipe orang yang sangat percaya bahwa “dalam suka dan duka” adalah prinsip yang paling mendasar dalam setiap jenis relationship. Bukan cuma soal cinta-cintaan, tapi juga dalam hubungan antar saudara, antar sahabat, antar rekan kerja… Gue sejak dulu selalu meyakini, di saat kita senang, semua orang bisa jadi teman. Tapi di saat kita sedang susah, itu belum tentu. Karena itulah gue selalu berusaha keras untuk mempertahankan orang-orang yang pernah sangat berjasa di masa-masa sulit gue terdahulu.

Tapi sekarang, gue mulai melihat sisi baru dari definisi suka dan duka. Dulu, gue hanya fokus pada kata “duka”, dan gue tidak menyangka… bahwa ibarat dua sisi mata uang, masih ada kata “suka” yang ternyata juga memiliki makna yang tidak kalah mendalam.

Gue punya beberapa orang, yang bukan berasal dari keluarga inti gue, yang pernah cukup sampai sangat berjasa dalam perjalanan hidup gue. Gue juga punya beberapa teman baik yang dulu menemani di masa-masa cupu gue dulu. Kata orang, teman sejati adalah teman yang sudah menemani sejak kita belum menjadi siapa-siapa. Teman yang datang setelah kita mulai bersinar bisa saja orang-orang yang mendekat karena ada maunya. Tapi kenyataannya, bukan itu yang gue dapati…

Entah kenapa, gue beberapa kali merasa dimusuhi oleh orang-orang terdekat gue dulu.

Ada teman masa kecil yang suka tiba-tiba bikin status Facebook atau Twitter yang jelas-jelas nyindir gue. Tidak menyebut nama, tapi semua yang dia sindir itu, sangat erat berkaitan dengan gue. It’s too obvious to be considered as a coincidence.

Ada pula yang tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba saja dia menasehati nyokap tentang gue, yang bukannya bikin nyokap berterima kasih, yang ada malah bikin nyokap jadi sewot dengan nasehatnya itu. Jelas terlihat orang ini sedang berusaha keras untuk membuat gue kelihatan jelek. Padahal dulu, orang ini pernah beberapa kali mengulurkan tangannya di masa-masa tersulit gue.

Ada lagi beberapa teman lama yang dulu suka ngajak kumpul-kumpul, tiba-tiba susah banget diajak ketemunya. Gue sampe mikir… Gue juga tipe orang yang sering kerja lembur, bukan tipe yang bisa pukang tenggo setiap harinya. Kadang weekend tetep harus berkutat sama kerjaan. Tapi gue bisa kok, nyisihin waktu buat temen-temen gue. Tapi kenapa mereka enggak bisa ngelakuin hal yang sama?

Kemudian yang paling bikin kecewa, ada teman yang entah kenapa, tidak mengundang gue ke salah satu acara pentingnya. Padahal hampir semua orang terdekat gue tahu bahwa gue berteman baik sama cewek yang satu ini. Gue sampe bingung… Kenapa? Padahal terakhir kali gue ketemu sama dia, semuanya baik-baik aja… Everything was fun as usual. Anehnya lagi, giliran teman-teman yang dia bilang suka ngomongin dia di belakang, malah diundang ke acaranya itu…

Gue sering curhat sama adek gue soal tingkah laku orang-orang itu… Kalau misalkan sedang ada konflik antara gue dengan mereka, maka gue bisa ngerti kenapa mereka bersikap seperti itu. Tapi masalahnya, jangankan ada konflik, ketemu face to face aja udah jarang kok. Setiap kali ngobrol via YM, atau bertukar comment di social media, semuanya baik-baik aja kok. Jadi sebenarnya gue salah apa sama mereka?

Setiap kali gue mempertanyakan hal itu, adek gue selalu menjawab, “Mereka cuma iri sama Kak Ifa.”

Awalnya gue enggak begitu setuju sama pendapat adek gue itu. Kenapa juga mereka harus iri sama gue? Gue belum jadi miliarder. Kerja juga belum jadi direktur. Jadi rasanya enggak mungkin mereka bersikap antipasti seperti itu hanya karena merasa iri… Lagipula sebetulnya gue agak-agak tidak percaya bahwa orang-orang baik seperti mereka bisa bersikap menyakiti hati hanya karena merasa iri. Gue juga tidak percaya bahwa mereka tidak lagi peduli dengan hubungan baik yang sudah bertahun-tahun terpelihara.

Tapi lama kelamaan, semakin gue berusaha menyangkal, semakin jelas terbukti bahwa kenyataannya, mereka tidak bisa lagi menemani gue di saat suka. Dengan berat hati gue harus akui… orang yang dulu sering menolong gue itu, sepertinya merasa terancam melihat cepatnya perjalanan karier gue. Padahal sampai hari ini, gue belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan dia dan segala kekayaannya. Kemudian soal teman-teman gue… yang ini gue takut salah ngomong. Gue rasa mereka punya alasan sendiri yang belum tentu gue ketahui. Yang jelas cuma satu: they’re no longer here when I’m willing to share them the happiness I’ve gained.

Jadi kesimpulannya, orang-orang yand dulu menemani gue di masa-masa sulit, kini tidak lagi menemani gue di masa-masa bahagia. Dari sinilah gue belajar… Definisi suka dan duka bukan hanya tetap menemani di saat duka, tetapi juga tetap mendukung, tidak iri, dan juga tidak merasa terancam, di saat kita sedang mendulang suka.

Pernah ada seorang teman lama yang bilang… gue beruntung karena di manapun gue berada, pada akhirnya gue akan selalu menemukan teman-teman dan sahabat baru. Meskipun yang lama mulai menghilang, Tuhan seperti selalu memberikan orang-orang baru sebagai gantinya.

Well, teman gue itu memang benar… Meskipun di awal gue tipe orang yang sangat sulit beradaptasi, di akhir gue malah bisa berteman akrab dengan orang-orang yang awalnya terasa sangat asing buat gue itu. Tapi gue maunya… meskipun punya teman-teman baru, bukan berarti yang lama bisa dilupakan dong? Ada banyak kenangan dengan teman-teman lama yang tidak dapat tergantikan oleh teman-teman baru…

Tapiii, yaah… kalau melihat perkembangannya jadi seperti ini, ya mau bagaimana lagi? Gue enggak bisa maksa orang lain untuk tetap stay jadi teman gue kan? Jadi gue rasa, daripada sibuk mikirin mereka yang udah beranjak pergi, ya lebih baik gue nikmati kebersamaan gue dengan teman-teman baru gue. Anggap saja gugur satu tumbuh seribu… Yang penting kan, gue udah berusaha mempertahankan. Jadi kalau memang sudah tidak bisa, ya sudahlah yaa. Jangan sampai gue kehilangan teman-teman yang peduli sama gue cuma gara-gara terlalu fokus sama teman-teman yang sudah tidak lagi peduli sama gue.

Since I always do believe that everything happens for a reason, then now I’m trying to believe that this is the best way out for me. Maybe it’s true that they are no longer the right persons to stay here with me. Just let go… and move forward into our own new lives.

Dunia Yang Tidak Pernah Bisa Gue Mengerti

Dulu, gue pernah mengenal sepasang suami-isteri yang terlihat sangat serasi, harmonis, dan romantis. Tipe pasangan yang membuat siapapun akan merasa iri hanya dengan melihat kebersamaan mereka. Suami yang sukses dengan perusahaannya sendiri, istri yang cantik dan berpenampilan menarik, anak-anak yang sangat lucu dan menggemaskan… Si suami juga terlihat sangat menyayangi anak-anaknya. Terlepas dari sikapnya yang relatif cool dan cowok banget, saat sudah berhadapan dengan si anak, dia akan langsung menghujani anaknya itu dengan ciuman dan pelukan. Gue hanya pernah mengenal pasangan ini sebentar, tapi gue langsung merasa tersentuh. Benar-benar tipe rumah tangga yang sangat ideal.

Seiring berlalunya waktu, tiba-tiba gue mendengar kabar yang sangat mengejutkan: pasangan ini sudah berada di ambang perceraian! Kemudian ceritanya, saat ini mereka sedang berusaha untuk rujuk meski belum kembali tinggal dalam satu atap yang sama.

Terus terang gue heran… kenapa si istri sampai mengajukan gugatan cerai? Si suami kelihatan cinta banget kok, sama istrinya itu… Dia juga kelihatan seperti ayah yang baik. Dan kalau menurut feeling gue, dia juga bukan tipe suami atau ayah yang suka memukuli anak-istrinya. Apalagi dengan segala kekayaan yang dimiliki sang suami… sangat tidak mungkin kurangnya materi menjadi pemicu keretakan rumah tangga. Jadi kenapa si istri sampai meminta cerai?

Beberapa bulan kemudian, gue kembali mendengar kabar mengejutkan soal sang suami. Kabarnya, dia baru saja membujuk seorang teman perempuan yang sedang berkujung ke Jakarta untuk minum di klub malam. Sepulang dugem, si cowok dengan baik hatinya mengantar teman gue itu kembali ke hotelnya. Bukan cuma mengantar sampai depan lobi, melainkan terus mengantar sampai depan kamar. Kemudian gilanya, si cowok ini bilang dia kepingin nginep di kamar hotel teman cewek gue itu!

Untunglah temen cewek gue ini masih cukup sadar untuk bilang tidak. Tapi memang dasar buaya darat… Setelah ditolak mentah-mentah, dia malah nekad pesan kamar di sebelah cewek itu! Tidak lama kemudian, dia mulai mengetuk pintu kamar si cewek, berkali-kali, memohon-mohon supaya diperbolehkan masuk oleh teman gue itu.

Semalaman, si cewek jadi merasa ketakutan. Esok paginya, tanpa berpikir panjang lagi, dia langsung mengambil penerbangan pertama untuk pulang ke daerah asalnya…

Akhirnya gue pun tahu dengan sendirinya, alasan kenapa sang istri menuntut cerai suami yang seolah tampak sempurna itu.

Mendengar semua itu, membuat gue kembali berpikir tentang sebuah dunia yang tidak pernah bisa gue mengerti. Dunia di mana orang-orangnya membiarkan minuman keras, atau bahkan pil-pil ekstasi, mengambil alih alam sadar mereka, di mana one night stand sudah menjadi satu hal yang biasa, yang bahkan di mana membayar perempuan sewaan pun sudah bukan lagi menjadi hal yang luar biasa.

Apa sebetulnya yang membuat mereka, orang-orang dari dunia itu, sulit sekali melepaskan diri dari hal-hal yang lebih banyak merugikan daripada menguntungkan diri mereka itu?

Misalnya pasangan yang gue ceritakan di atas. Kenapa begitu sulit buat sang suami meninggalkan kebiasaan buruk yang jelas-jelas telah mengancam kelangsungan rumah tangganya? Bagaimana bisa dia rela menukar istrinya yang cantik dan anak-anak yang dicintainya dengan kesenangan satu malam seperti itu? Kalau memang semua itu hanya pelarian atas ketidakbahagiaan dengan rumah tangganya, lalu kenapa dia masih berusaha rujuk dengan istrinya? Dan anehnya lagi, kalau memang ingin rujuk, kenapa masih belum mengubah kebiasaan jeleknya?

Gue di sini tidak ingin bersikap menghakimi… Sekali lagi gue hanya ingin mempertanyakan, siapa tahu lewat blog ini gue mendapatkan jawaban, hal apa yang membuat mereka sangat sulit lepas dari godaan dunia yang nyaris tidak ada gunanya itu? Karena enggak usah lah bawa-bawa soal dosa, agama, dan api neraka segala macam. Asalkan mau berpikir jernih, mestinya semua orang bisa melihat dengan sendirinya bahwa segala kenikmatan itu hanyalah kenikmatan yang menjerumuskan. Hanya kenikmatan sesaat, yang akan menghilang seiring berlalunya malam.

Gue pernah punya seorang teman yang bilang… dia merasa bahagia dengan dunianya yang seperti itu. Kebahagiaan yang tidak bisa gue mengerti, yang juga sangat gue ragukan kebenarannya, terutama karena gue mengenal orang ini dengan sangat baik. Teman gue itu pastilah tidak tahu bahwa di luar sana, masih ada banyak berbagai jenis kebahagiaan yang lebih menentramkan. Di luar sana, ada orang-orang yang berbahagia dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang berbahagia dengan pekerjaannya, agamanya, atau dengan persahabatan dan keluarga yang dimilikinya. Dan sebetulnya, kebahagiaan seperti itulah yang sifatnya lebih kekal dan murni. Karena kebahagiaan yang sejati, adalah kebahagiaan yang tidak merugikan diri.

Terkadang kita sulit membedakan antara kesenangan dengan kebahagiaan. Jadi meskipun masih tidak mengerti, bolehlah gue menyimpulkan… orang-orang itu memang bersenang-senang, tetapi soal bahagia, gue yakin itu belum tentu. Jadi marilah kita lihat kembali… apakah yang selama ini kita sebut sebagai kesenangan, merupakan suatu kebahagiaan.

The Mall Princess

Iseng-iseng, gue kepengen membahas tentang the mall princess; istilah yang gue bikin sendiri buat cewek-cewek di mall yang ciri-cirinya sebagai berikut:

  1. Biasa ditemukan di mall mewah seperti Senayan City, Plaza Senayan, Pacific Place, dsb dsb… gue cuma pernah nemu satu kali yang model begini di mall Pondok Gede. Itu juga orangnya rada maksa, agak-agak kelihatan seperti socialite wannabe;
  2. Kulit wajah mulusss, kulit badan juga mulus;
  3. Rambut seperti baru keluar dari salon;
  4. Badannya relatif seksi, atau cenderung kurus, enggak pernah gue lihat ada yang gemuk;
  5. Full make-up, atau minimal bedak, eye shadow, mascara, blush on, dan lipstick;
  6. Fashionable, dengan barang-barang yang terlihat mahal;
  7. Hak sepatu minimal 10 CM, dan jarang ada yang pakai sendal model jepit apalagi sendal karet kayak Crocs;
  8. Biasanya bawa tas ukuran sedang sampai besar. Cara bawanya bukan disampirkan di punggung/dikepit under arms, melainkan cuma digantungkan di siku tangan yang ditekuk;
  9. Rata-rata wanginya menyebar ke mana-mana… Gue sampe penasaran, supaya bisa tercium sewangi itu, harus berapa kali semprot ya, waktu pake parfumnya?
  10. Kalau jalan di mall, posisinya pasti di tengah jalan, bukan di pinggir jalan mepet sama toko-toko;
  11. Gaya jalan ala peragawati, dengan pinggul yang relatif lebih bergoyang jika dibandingkan dengan cewek-cewek pada umumnya. I guess the mall corridor is their personal catwalk

Sebetulnya, gue sih enggak ada sentimen pribadi yang gimana-gimana banget sama the mall princess ini. Malah gue akui, melihat cewek-cewek itu rasanya jadi hiburan tersendiri. Meskipun sama-sama cewek, tapi tetap aja rasanya menyenangkan melihat cewek-cewek yang seolah baru keluar dari halaman mode Cosmopolitan. Padahal secara wajah, mereka itu tidak selalu terlahir cantik. Tapi dengan kulit mulus dan segala atributnya itu selalu berhasil bikin mereka jadi sangat enak untuk dilihat.

Ya, gue tidak ada sentimen pribadi sama mereka, kecuali satu hal: kalau jalan di mall, mereka merasa sepanjang jalan mall adalah milik mereka. Kalau berpapasan dengan orang lain, mereka enggak bakal pernah mau minggir, atau nggak mau untuk sekedar memiringkan badan. Mereka maunya, orang lain yang membuka jalan buat mereka.

Minggir untuk memberi jalan buat mereka emang bukan hal yang sulit, tapi buat gue, kalau sampai gue rela minggir demi mereka, hal itu tanda kurangnya respek dari gue terhadap diri gue sendiri. Makanya saat tidak sengaja berhadapan dengan cewek-cewek itu di mall, gue akan tetap jalan lurus. Saat berpapasan, gue hanya akan memiringkan badan gue sedikit, dan sisanya, dia juga harus memiringkan badannya supaya bisa sama-sama lewat. Kalau dia masih ngotot jalan lurus, ya rasakan saja ketabrak badan gue dan tersandung jatuh dengan super high heel kesayangannya itu…

Tidak ada siapapun di dunia ini yang berhak mengklaim fasilitas umum sebagai milik mereka. Bahkan, jika mall itu punya bapak mereka pun, mereka tetap tidak boleh bersikap sok. Apa artinya mall si papi tanpa pengunjung yang ramai berdatangan? Selain itu, mereka boleh aja menenteng hand bag yang hanya dijual di butik eksklusif. Tapi sejak kapan ada aturan orang yang cuma bawa tas Guess atau Charles & Keith harus rela minggir buat mereka yang bawa the Birkin bag?

If you girls are the mall princess like I mention in this blog, please no offense. But please next time, stop acting like you are the only precious person in the mall! Kemudian buat cewek-cewek lainnya… come on, put more appreciation for yourself! Jangan membuat para tuan puteri itu semakin berada di atas angin! Show them your pride, even when you don’t have any LV in your fashion statement. We all are precious, no matter what we wear and where we go to shop. Be classy, and be proud for being you; the only you in the world.

The Things I Love About Being 20’s

Belakangan ini, ada banyak hal yang membuat gue ngerasa suka banget sama usia gue yang sekarang ini. Kalo Edward Cullen bisa punya umur 18 tahun selamanya, maka kayaknya gue lebih suka kalo bisa punya umur 20-an selamanya, hehehehehe. Apa alasannya? Kenapa gue bilang gue suka banget dengan usia kepala dua ini?

  1. Pada usia ini, gue mulai punya pendapatan yang memadai. Senang rasanya bisa pergi belanja pake uang sendiri, kemudian pulang ke rumah dengan berbagai jenis shopping bag di tangan gue. Emang bukan hal yang patut ditiru, tapiii, selama hobi belanja ini enggak bikin hidup gue atau hidup orang lain jadi susah ya enggak papa dong? Yang penting gue hepi, hehehehehe;
  2. Pada usia ini pula gue tidak lagi bergantung sama orang lain untuk mewujudkan impian gue buat melihat dunia. Setelah satu kali berhasil memberanikan diri pergi liburan ke luar negeri, gue langsung ketagihan!
  3. Banyak yang bilang, pintu karier terbuka lebih lebar untuk mereka yang masih muda dan berstatus single. Ini artinya, gue masih punya banyak kesempatan untuk mengejar mimpi sekuat tenaga!
  4. Sesuatu yang dilakukan oleh orang yang usianya masih dua puluhan akan dianggap lebih hebat ketimbang apabila hal yang sama dilakukan oleh orang lain yang usianya lebih tua. Cuma orang pada usia 20-an yang paling sering mendapat pujian seperti ini: “Hebat ya, masih muda karier-nya udah sukses.”
  5. Older people start to see me as a whole person, not just a kid whose opinion could be ignored;
  6. I met so many new best friends in this 20’s age;
  7. I also found the real definition of falling in love within this age;
  8. Pada usia ini, belum ada keriput, belum ada kulit yang mengendur, badan masih relatif lebih segar bugar… I love being young and energetic 🙂
  9. Kalo umur 20-an, masih bisa pake baju imut-imut ala ABG, tapi udah bisa juga pake baju yang modelnya lebih dewasa;
  10. Gue udah nggak lagi dilarang-larang ortu nggak buat pergi hang-out malem-malem, dan juga belum ada suami yang punya hak buat ngatur-ngatur jam malam gue;
  11. Gue ngerasa banyak mengalami perubahan kepribadian di usia ini. Selain itu, ada pula banyak pengalaman berharga yang membentuk gue jadi lebih baik daripada gue semasa ABG dulu;
  12. Kalo di umur segini, gue masih bisa bilang begini saat ada orang di kantor yang manggil gue dengan sebutan Ibu/Mbak/ada juga yang manggil gue Cici, “Panggil Riffa aja, saya kan masih muda lho.”
  13. Gue masih bisa menyebutkan berbagai macam kalimat yang diakhiri dengan, “…. mumpung masih muda.”
  14. Pada usia ini, saat harus mengambil keputusan penting tentang hidup dan masa depan, yang perlu gue lakukan hanya menimbang diri gue sendiri. Belum ada suami dan anak-anak yang harus ikut gue pertimbangkan bagaimana kalau mereka begini dan bagaimana kalau mereka begitu; dan
  15. Sampai pada umur yang sekarang, gue masih belum ngerti kenapa ada statement yang bilang bahwa menanyakan umur itu sifatnya tidak sopan. Karena entah kenapa, belakangan ini gue justru ngerasa seneng dan bangga kalo ditanya umur gue berapa. Seems like gue emang seneng banget sama usia 20-an, hehehehehe.

Gue enggak bilang jadi teenager itu buruk, atau melewati usia 30-an, 40-an, dst… itu suram. Karena menurut gue, setiap usia itu pasti memiliki keunggulannya sendiri-sendiri. Cuma semasa ABG doang kita bisa hidup seolah enggak ada beban. Enggak harus mikirin biaya hidup, dikejar-kejar deadline pekerjaan yang enggak ada habisnya, dan masih belum banyak merasakan sedihnya dikecewakan sama orang-orang di sekitar kita. Kalo soal usia 30 dan 40-an… well gue belum bisa comment secara umur gue sendiri masih baru aja ampe angka 25. Tapi dalam bayangan gue… dengan asumsi karier gue tetap naik sedikit demi sedikit, mungkin di kepala 3 nanti gue udah punya cukup duit buat beli Birkin bag, hehehehehe.

2011 Achievements

Saat pergantian tahun menuju 2011 satu tahun yang lalu, gue bikin status yang isinya, gue ngerasa tahun 2011 akan jadi tahun yang berkilau buat gue. Setelah patah hati habis-habisan nyaris sepanjang tahun 2010, setelah bekerja sangat keras nyaris sepanjang tahun yang sama, gue ngerasa 2011 akan jadi waktunya buat gue memetik hasil. Lalu bagaimana realisasinya?

Tanpa berniat untuk pamer, berikut ini daftar pencapaian gue selama tahun 2011 yang istimewa ini:

  1. Memberanikan diri untuk resign dari EY, meski pada saat itu, gue belum mendapatkan pekerjaan pengganti. Waktu itu, audit engagement gue baru saja selesai. Jadi daripada keburu mulai engagement baru dan akhirnya malah susah cari timing lain buat resign, akhirnya gue beranikan resign efektif 4 April 2011. Gue beranikan diri untuk meninggalkan zona nyaman gue, meninggalkan teman-teman yang sudah akrab sama gue (padahal gue ini tipe orang yang susah akrab sama orang baru), serta berani meninggalkan nama besar EY untuk sesuatu yang belum pasti. Makanya buat gue, resign dari EY adalah suatu achievement karena akhirnya, gue berani meninggalkan EY untuk mengejar mimpi gue yang lebih besar;
  2. Mewujudkan mimpi masa kecil buat main ke Disneyland 😀 Dan ternyata memang benar, Disneyland was awesome! Kota Hongkong itu sendiri juga menyenangkan buat liburan. Tambah senang karena waktu itu perginya bareng sahabat-sahabat yang udah saling kenal luar dalam sehingga enggak ada istilah jaim sepanjang liburan itu. Kita bebas foto gaya konyol yang bahkan berhasil memancing tawa orang-orang asing yang kita nggak kenal sama sekali. I think that was one of unforgettable trips in my whole life;
  3. Berhasil dapat kerjaan baru hanya dua minggu setelah resign dari EY. Selama masa pencarian kerja, sebenernya gue udah sempet coba tes dan interview di beberapa tempat, tapi tetep enggak ada satupun yang sesuai keinginan gue. Sampe tiba-tiba, enggak lama setelah gue balik dari Hongkong (yup… gue pergi traveling ke 4 negara dalam keadaan pengangguran, hehehehe), mantan klien gue nelepon nawarin kerjaan! Saringan masuk gue cuma interview langsung sama CEO, langsung diterima, dan besoknya langsung mulai kerja. Berakhir sudah 2 minggu menganggur yang sangat-sangat menyebalkan itu, hehehehe;
  4. Berhasil move on. Setelah lebih dari satu tahun terjebak patah hati terparah seumur hidup gue sama satu cowok yang itu-itu aja, akhirnyaaa, di tahun 2011 gue berhasil naksir beberapa cowok baru. Meskipun sama 3 atau 4 cowok baru itu juga enggak ada kelanjutannya, seenggaknya udah bisa naksir cowok baru aja udah bagus banget lah buat gue. Tetep enggak berhasil jadian pun gue enggak berkecil hati kok. Soalnya untuk jatuh cinta yang selanjutnya, gue ingin menentukan sendiri kepada siapa gue mau jatuh cinta. Kalo dari awal gue tau hubungan gue sama mereka enggak akan ada masa depannya, atau gue tau bahwa ada satu atau beberapa hal tentang dia yang enggak akan pernah bisa gue terima, jadi ya udah, mendingan langsung cut aja saat itu juga… sebelum terlanjur jatuh terlalu dalam. It has come to me the time to be wise in love;
  5. Bikin blog pake domain gue sendiri! Bikin domain ternyata enggak seribet yang gue kira. Yang bikin lebih seneng, dibanding blog-blog gue sebelumnya, blog baru inilah yang paling ramai pengunjung. Gue juga jadi bisa berkenalan sama beberapa orang baru berkat blog ini. So yes, this new blog, and this blog readers are also categorized as my achievement of the year 🙂 ;
  6. Mendapatkan lebih banyak sahabat. Tahun 2011 ini bisa dibilang puncak keakraban gue sama beberapa teman setim di EY. Di kantor baru pun, nggak disangka gue bisa ketemu satu teman yang punya potensi buat gue jadiin sahabat. Buat gue, semua sahabat yang berhasil gue miliki adalah achievement. Gue pernah baca di buku Chicken Soup for The Teenage Souls: “Sahabat adalah hadiah terbaik yang dapat kita berikan kepada diri kita sendiri.” So yes… I have given one more gift to myself this year, hehehehe; dan
  7. Promotion at work 🙂 Dulu gue pernah iseng-iseng mikir… keren kali yah kalo bisa jadi manajer muda di umur 25. Nggak sangka ternyata, persis di hari ulang tahun gue yang ke 25, gue dapet kepastian bahwa gue akan mendapatkan promotion ke level manajer. Emang bukan manajer yang berkantor di gedung pencakar langit Sudirman seperti yang sangat gue inginkan, tapi untuk langkah awal, gue udah sangat bersyukur kok. Concern gue sekarang, gue ingin berusaha buktiin ke atasan gue bahwa gue bisa mengemban amanat ini dengan baik. I don’t want to make him regret the opportunity he gave to me. Wish me luck yaa guys.

Di tahun 2011, gue masih belum berhasil menerbitkan novel perdana gue. Belum berhasil menginjakkan kaki ke benua Eropa. Belum berhasil dapetin beasiswa S2 ke luar negeri. Belum berhasil pula mengganti status single menjadi in a relationship. Tapi overall, syukur Alhamdulillah, tahun 2011 tetap tahun yang berkilau buat gue. Bukan cuma soal 7 hal yang gue sebutkan di atas… tapi juga pendewasaan diri yang banyak gue rasakan sepanjang tahun ini. Insyaallah tahun 2011 ini adalah tahun yang telah menjadikan gue lebih baik dari gue yang sebelumnya.

Kalau tahun 2011 adalah tahun yang berkilau, maka gue ingin tetap bersinar terang di tahun 2012. Ingin tetap berusaha memperbaiki diri, tetap berusaha mengejar mimpi, dan yang paling penting, ingin tetap ingat untuk menginjak bumi di kala mimpi-mimpi gue mulai terwujud menjadi nyata.

Selamat tahun baru 2012 untuk semua pembaca blog gue, dan semoga di tahun yang baru, kalian semua juga akan semakin bersinar terang 🙂 Keep visiting my blog in 2012 yaa guys. Have a blast!

Hidden Treasures in My Old Bedroom

Gara-gara tuntutan pekerjaan, gue jadi harus balik lagi tinggal ke rumah ortu di Ujung Aspal, Bekasi. Ceritanya supaya terasa nyaman, gue pun melakukan renovasi kecil-kecilan untuk kamar gue itu. Setelah renovasi selesai, gue dan nyokap mulai ngeberesin isi kamar yang gue tempati sampai SMA itu. Semua barang-barang lama yang sudah berdebu kita keluarin satu per satu, kemudian kita ganti dengan barang-barang gue yang relatif baru.

Selama ngeberesin kamar tidur gue itulah, gue nemuin banyak benda lama yang lumayan bikin gue senyum-senyum sendiri. Berikut ini daftar ‘harta karun’ yang menyimpan rahasia kecil yang lama tersimpan di kamar tidur gue itu…


Gantungan kunci inisial “B”

Waktu nyokap nemuin bandul gantungan kunci yang udah putus itu, si Mami langsung nanya, “Ini B apaan? Bebek?” Gue cuma nyengir… sambil mengenang betapa dulu gue pernah naksir setengah mati sama si Mr. B. Selama beberapa tahun lamanya, gue sempat berpikir bahwa nolak cowok ini adalah kesalahan terbesar dalam hidup gue. He was the first person who made me believe that I was smart and pretty, hehehehehe. Makanya setelah gue mulai nemuin cowok-cowok baru pun, bandul itu masih gue simpan rapih di dalam laci lemari. Lalu apa yang gue lakukan sama si bandul B waktu kemaren beres-beres kamar? I threw that B away into a trash bag. Mr. B is simply my sweet past memory, that’s it.


Kertas ulangan harian Kimia yang nilainya cuma 36

Gue langsung terkikik geli melihat nilai 36 di selembar kertas itu. Rasanya gue udah hampir lupa gimana rasanya jadi pelajar bodoh yang enggak peduli sama angka merah di raport gue 😀 Gila yaa, kalo gue dapet nilai segitu setelah kuliah, gue bisa stres setengah mati deh. Secara waktu kuliah itu, dapet nilai 84 aja gue udah stres. Soalnya kalo di kampus gue, 84 itu cuma B, bukan A. Waktu gue bilang sama nyokap soal kertas kucel bernilai 36 itu, si Mami berkomentar, “Pasti deh, dulu itu sengaja diumpetin nilainya dari Mami.” Dalam hati gue nyengir… dulu gue emang suka ngumpetin nilai jelek di bawah alas kertas lemari baju gue, hehehehehe.

Surat yang gue tulis buat teman sebangku

Dulu itu, gue pernah ngerasa enggak nyaman sama salah satu teman sebangku gue. Padahal awalnya, gue menganggap dia teman terbaik gue di kelas itu. Sayangnya, dia itu tipe orang yang kelihatan enggak butuh teman. Untuk menyelamatkan pertemanan yang hampir karam, gue pun menulis surat dan berniat memberikan surat itu pada saat perpisahan. Tapi sayangnya, karena satu alasan yang gue sendiri udah lupa, dua lembar surat itu cuma tersimpan di dalam laci meja belajar gue aja.

Membaca ulang surat gue itu membuat gue kembali ingat bahwa cewek inilah yang dulu berperan besar dalam transformasi dari Riffa yang sering remedial jadi Riffa yang melesat ke 3 besar di kelas. Dia pula orang pertama yang ngajarin gue pelajaran akuntansi (serius deh, dulu itu gue susah banget bedain account mana aja yang masuk ke Balance Sheet sama account mana aja yang masuk ke Income Statement). Nggak nyangka banget setelah kuliah, gue malah dikenal sebagai guru les privat akuntansi di Binus. Mengingat semua itu, gue jadi nyesel dulu udah batal ngasih surat itu ke dia. Andai dulu surat itu gue kasih, mungkin, sampai hari ini gue masih berteman baik sama si mantan teman sebangku…

Foto-foto jaman dulu

Beberapa hari yang lalu, ada teman sekantor yang komentar begini waktu ngelihat foto gue jaman SMA di screensaver laptop, “Hahahaha, masih culun.”

Nah, begitu gue nemuin koleksi foto lama waktu  lagi beres-beres kamar, gue jadi nyengir sendiri… ternyata jaman dulu itu gue emang culun banget. Pake baju kelonggaran dan enggak ada keren-kerennya, jilbab suka miring-miring, muka kelihatan kucel dan super-oily pula… ckckckck.

Oh iya, gue juga nemuin koleksi photo box yang lucu-lucu banget! Ada banyak variasi frame lucu bareng teman-teman yang beberapa di antaranya gue udah enggak ingat siapa aja nama-nama mereka. Kemudian soal tampang gue di photo box… entah kenapa, kalo di photo box gue selalu kelihatan imut-imut, hehehehehe.


Foto masa kecil mantan gebetan gue

Gue bener-bener lupa lho, kalo gue pernah punya foto cowok itu waktu masih SD. Gue juga udah lupa gimana caranya foto imut itu bisa ada sama gue… Apalagi seinget gue, dulu itu gue enggak naksir-naksir banget sama cowok ini. Tapi kenapa gue bisa sampe punya foto kecilnya dia yaa? Bener-bener udah lupa…


Name tag gue waktu masa orientasi di Binus

Di belakang name tag yang terbuat dari kertas karton itu, terdapat sebuah tabel yang memuat daftar kesalahan gue. Isinya:

  • Datang terlambat;
  • Bawa barang yang bukan keperluan POM; dan
  • Nggak pake ribet.

Gue langsung nyengir begitu baca kesalahan gue yang nomor 3. Gue bener-bener udah enggak inget kenapa dulu gue sampe dihukum karena ribet. No wonder kalo orang-orang terdekat gue suka bilang gue ini ribet. Secara yaa, senior yang baru kenal gue sehari-dua hari aja bisa bilang gue ribet, hehehehe.


Botol-botol sample wewangian Oriflame

Kalo yang ini sebenernya hasil temuan si nyokap. Jadi dulu waktu masih kuliah, gue sempet ikutan bisnis Orfilame buat nambah-nambah uang jajan. Hasilnya lumayan, bisa buat biaya gue bersenang-senang dan buat beli keperluan kosmetik gue sendiri. Sayangnya semenjak punya gaji kantoran, hobi bisnis itupun gue tinggalkan. Padahal gue ini udah hobi dagang dari jaman masih SD lho. Mungkin nanti, kalo gue udah ngerasa puas sama pencapaian gue di dunia kerja kantoran, dan saat gue juga udah bosan jadi anak buah orang lain, mungkiiin… gue akan kembali terjun ke dunia bisnis gue sendiri.

Membereskan kamar, kemudian menulis blog ini bikin gue jadi bernostalgia… Dan entah kenapa, jadi semakin jelas terasa bahwa ada beberapa hal dalam hidup gue yang rasanya seperti keajaiban. Gue yang sekarang udah jauh berbeda dengan gue yang dulu. Udah enggak ada lagi si cewek ABG yang suka minder, sering dapet nilai jelek, pake baju asal-asalan, serta cewek yang having no clue bagaimana caranya mempertahankan persahabatan. Proses transformasi itu emang tidak pernah mudah. Bahkan terkadang gue ngerasa, gue udah bersikap terlalu keras sama diri gue sendiri. Tapi pada akhirnya, sama seperti ngeberesin kamar yang berantakan dan penuh debu, segala jerih payah dan rasa capek gue itu pasti akan terbayar lunas. Kemudian hari ini… I love my life as well as I love my new bedroom, hehehehehe.

My Outstation Business Trips

Makassar, 10 Desember 2011

Dua minggu belakangan ini banyak gue habiskan di luar kota. Minggu lalu di kantor cabang Surabaya, minggu ini di kantor salah satu customer terbesar gue di Makassar. Dua kota di dua pulau yang berbeda, tapi dua-duanya sama-sama membuat gue ngerasa sangat nyaman walau sedang berada di kota yang sama sekali baru buat gue itu. Gue bener-bener ngerasa sangat tersanjung, terbantu, dan sangat berterima kasih sama teman-teman dari kantor cabang dan kantor klien gue ini. Dibawa makan ke tempat yang enak-enak, anter-jemput ke sana-sini, ditemenin jalan-jalan dan hunting oleh-oleh, dan terutama untuk teman-teman di Makassar, gue udah banyak banget ngerepotin mereka buat urusan akomodasi dan transportasi. Yang paling gue suka dari semua itu adalah, mereka bener-bener tulus membantu dan peduli banget sama gue.

Waktu di Surabaya, ada kenalan yang takut banget gue sampe ketinggalan pesawat. Bukan cuma bantu berhentiin taksi dengan cara mende mobilnya ke taksi dan memberikan klakson serta isyarat, dia juga turun dari mobil cuma buat ngasih petunjuk jalan tercepat menuju airport ke supir taksinya. Dalam hati gue berpikir, kalo gue jadi dia, gue enggak bakal segitu baeknya. Paling juga si tamu gue drop di mall yang ada taxi stopper-nya, abis itu gue langsung cabut deh, hehehehehe.

Waktu di Makassar itu lebih hebat lagi. Saat staff GA di kantor Jakarta udah nyerah nyariin hotel buat gue (padahal tiket pesawat udah terlanjur dipesan!), malah staf di kantor Makassar yang sibuk telepon sana-sini nyariin hotel yang masih kosong buat gue. Dia juga rela bayarin hotel itu untuk 4 malam pake uangnya sendiri dulu. Trus waktu gue ngotot mau ke hotel naik taksi aja, ada staf lain di sana yang juga ngotot kepengen jemput gue ke bandara, alasannya, karena gue baru pertama kali datang ke sana dan dia takut gue kenapa-napa. Dan selama di sana, sampe si big boss-nya pun, ikutan repot ngaturin orang-orang buat anter-jemput gue. Kalo staf-staf dia lagi sibuk semua, dia sendiri yang turun tangan jemput atau nganterin gue cari makan. Udah gitu yang bikin gue kaget, selama di Makassar itu gue bener-bener jarang banget keluar uang. Sampe tiket masuk Trans Studio dan biaya jajan gue selama di theme park itu juga dibayarin sama staf yang disuruh nemenin gue main! Bener-bener klien yang baik hati 🙂

Rasa berterima kasih yang teramat dalam ini bikin gue jadi berpikir… kalo someday gantian mereka yang datang ke Jakarta, mereka bakal gue bawa ke mana aja yah? Soalnya selama gue di Surabaya dan Makassar, mereka itu selalu usaha banget buat bawa gue ke tempat yang cuma ada di kota mereka aja.

Nah, berhubung pagi ini gue lagi kurang kerjaan, berikut ini daftar tempat yang bakal gue tunjukkin ke tamu-tamu luar kota gue kelak:

  1. Untuk restoran, gue bakal bawa mereka ke Kiyadon (buat yang suka Japanese food terutama sushi), The Duck King (buat yang suka Chinese food), Pancious (buat yang suka western foods), dan Nanny’s Pavilion (buat cewek yang banci foto). Biasanya sih, orang-orang di daerah itu bawa gue ke tempat makan khas daerah mereka masing-masing. Tapi secara ini Jakarta gitu lho, apa sih makanan khas daerah sini? Masa’ iya gue bawa mereka makan kerak telor? Jadi sebagai gantinya, gue bakal bawa mereka ke restoran favorit gue yang cuma ada di Jakarta dan sekitarnya (tapi kalo Duck King ada di Surabaya juga sih). So far setiap kali gue makan di 4 restoran itu, apapun yang gue pesen, enggak pernah enggak enak. Dijamin tamu-tamu itu nanti bakal ketagihan makan di sana;
  2. Buat destinasi jalan-jalan, ada 5 pilihan: Monas (ini serius lho… banyak turis yang ngerasa belum sampe Jakarta kalo belum foto-foto depan Monas), Ancol/Dufan, ice skating di mall Taman Anggrek, Waterboom, atau kalo orangnya hobi nonton, bakal gue bawa ke Blitz Megaplex. Kenapa Blitz? Karena interiornya yang keren dan pilihan film yang belum tentu ada di jaringan 21. Kalo mereka dateng ke Jakarta agak lama, mungkin gue bakal ajak mereka ke Bandung (Kawah Putih dan Trans Studio) atau ke Taman Safari Bogor kali yaa; dan
  3. Kalo mereka mau keliling mall Jakarta, bakal gue bawa ke Pacific Place (terutama kalo mereka dateng bawa anak yang masih kecil), ke FX buat nyobain perosotan Atmosfear, ke Grand Indonesia atau Central Park buat lihat air mancurnya yang terkenal itu (padahal gue sendiri belum pernah lihat, hehehehehe), sama ITC Mangga Dua kalo mereka suka belanja murah yang bisa pake nawar.

Di luar 3 point itu, gue belum kebayang mau ke mana lagi. Lagian sebenernya tamu yang mau dateng juga belum ada tuh, ini kan baru berkhayal aja, hehehehe… Tapi yang jelas gue bakal males banget kalo diminta nemenin ke museum bersejarah atau Taman Mini (tapi kalo mereka emang pengen banget, ya apa boleh buat), dan gue pasti bakalan tegas say no kalo mereka minta ditemenin dugem. Ini jilbab mau dikemanain kalo gue masuk-masuk ke tempat dugem?

Anyway, walau perjalanan luar kota ini asli bikin gue capek banget. Secara yaah, gue di luar kota bukan berarti kerjaan di Jakarta bisa ditinggal lho. Soalnya sepulang kerja, begitu sampe hotel, gue langsung nyalain laptop lagi buat nerusin kerjaan kantor Jakarta! Tapi meskipun jadi ekstra capek, so far gue ngerasa 2 perjalanan ini cukup menyenangkan. Ketemu banyak orang baru, melihat pemandangan baru, mengenal budaya dan bahasa baru, apalagi di Makassar gue sempet mampir ke Trans Studio segala 😀 Tambah menyenangkan karena ditemani orang-orang yang juga menyenangkan.

Makanya gue harap, kalo kelak gue kedatangan tamu, gue juga akan bikin mereka ngerasa punya perjalanan menyenangkan di Jakarta; kota yang meskipun macet dan selalu sibuk tapi tetap menjadi kota favorit kesayangan gue, hehehehehe.

My Fabulous 25th Birthday

Udah lewat 7 hari, tapi baru sekarang gue sempet nulis tentang ultah gue yang ke 25. Kalo tahun lalu gue sharing isi ucapan ultah yang gue anggap paling menarik, maka tahun ini gue cuma pengen sharing hal-hal yang gue rasakan di ulang tahun yang ke 25 ini.

Waktu ultah gue tanggal 30 November kemaren, gue lagi dinas luar kota ke Surabaya. Ini udah tahun ke tiga gue melewati hari ulang tahun di luar Jakarta. Tapi seenggaknya, tahun ini jauh lebih baik: gue ultah di kota Surabaya dan bukannya di pedalaman Riau yang serba jauh ke mana-mana itu, hehehehe.

Pas tanggal ultah gue itu sih nothing special lah yaa. Perayaan ultah gue justru udah diselenggarain kecil-kecilan bareng keluarga gue sekitar 3 hari sebelum hari H di Anyer. Acaranya menyenangkan (kecuali bagian tetep dikejar-kejar kerjaan meskipun lagi liburan), banyak ketawa (thanks to keluarga besan yang lucu-lucu), dan juga foto-foto keren yang pastinya langsung gue upload ke Facebook segera setelah acaranya selesai 😀

Dua hari setelah ultah, gue juga ngundang temen-temen satu divisi buat syukuran kecil-kecilan di Ta Wan Emporium. Ceritanya sih, perayaan 3 in 1: birthday, promotion, and farewell party also 😀 Ada hal yang menarik di sini… Waktu gue dan teman-teman udah berangkat rame-rame dari kantor ke Emporium, 3 atasan gue (1 direktur, 2 manajer), enggak ikut pergi bareng kita-kita. Katanya, nanti mereka nyusul.

Begitu sampe Ta Wan, nggak lama kemudian makanan yang udah gue pesan by phone langsung terhidang di meja satu per satu. Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit… trio bos gue itu belum datang-datang juga. Makanan di meja udah hampir habis, tapi mereka masih enggak kelihatan batang hidungnya. Gue SMS 2 dari 3 orang itu, tapi enggak ada yang bales!

Waktu itu, dalam hati gue mulai bete. Kenapa sih, mereka enggak mau dateng? Padahal sampe beberapa jam sebelumnya, mereka bilang pasti dateng. Berbagai pikiran buruk mulai melintas di benak gue. Tapi ternyata, persis setelah makanan udah habis semua, baru lah tiga orang itu menampakkan batang hidungnya.

Nogbrol-ngobrol sebentar, tiba-tiba si big boss bilang begini, “Makan-makannya udah kan? Kalo gitu sekarang potong kue.”

Gue langsung bingung… Potong kue? Gue kan enggak bawa kue?

Ternyata oh ternyata… si trio bos itu dateng ke Ta Wan bawa kue ultah buat gue! Tau-tau aja, salah satu temen gue itu udah bawa kue-nya ke meja di depan gue. Senangnyaaa… tahun ini gue tiup lilin sampe dua kali: satu kali bareng keluarga, satu kali lagi bareng temen-temen sekantor, hehehehehe.

Setelah nyanyiin lagu ultah (yang anehnya, malah justru si big boss gue itu yang paling semangat nyanyinya), gue tiup lilin, terus potong kue. Waktu itu gue sempet bingung… mau kasih first cake buat siapa?

Pilihannya bisa Yuli atau Ratna, 2 direct staffs gue di kantor. Kayaknya mereka berdua itu deh, yang paling sering gue bikin susah…

Ada juga Chrisnata, temen curhat favorit gue di sana.

Bisa juga buat si big boss yang kemungkinan besar, dia itu lah yang berinisiatif beliin gue kue.

Tapi akhirnya, first cake itu gue kasih ke Ko Adi. Kenapa Adi? Alasannya:

  1. Gue udah lama kenal sama Adi. Dia itu temen setim gue waktu di EY dulu;
  2. Adi juga salah satu orang yang banyak kerja bareng gue di kantor. Kadang suka jadi korban kejudesan gue. Maafkan gue yah Ko, hohohoho;
  3. Kalo gue kasih ke Ratna atau ke Yuli, takutnya salah satu dari mereka bisa kecewa karena gue lebih condong ke si orang pertama itu;
  4. Kalo gue kasih ke Christ, nanti bisa timbul gosip yang aneh-aneh. Soalnya Christ ini masih single, beda sama Adi yang udah married; dan
  5. Kalo gue kasih ke big boss, nanti dikira ngejilat bos, hehehehehe.

Hari itu gue ngerasa, gue emang selalu bisa berteman baik sama teman-teman di kantor-kantor sebelumnya, tapi jujur yaah, baru di kantor ini gue punya bos-bos yang segitu baiknya. Semua bos gue, di mana pun perusahaannya, selalu sangat percaya sama gue serta sangat mendukung perkembangan karier gue juga. Tapi kalo diinget-inget, bos-bos di 2 perusahaan gue sebelumnya, jangankan ngasih kejutan, ngasih ucapan selamat ultah aja enggak pernah sama sekali kok.

Terus nih yaah, sebenernya ini pertama kalinya gue dikasih surprise kue ultah sama orang lain. Gue lihat, banyak temen gue yang udah sering dapet surprise kue, sehingga kayaknya buat mereka, hal itu udah biasa banget. Gue jadi mikir… gue juga pengen dikasih surprise kue ultah. Padahal yah, gue udah pernah dapet beberapa surprise yang jauh lebih wow daripada kue ultah. Terus biasanya, temen-temen atau keluarga gue ngasih surprise dalam bentuk kado dari masing-masing orang. Total harga kado itu kalo dijumlahin emang bisa lebih mahal daripada satu kue ultah, tapi gue tetep pengen. Dan nggak disangka-sangka, yang pertama ngasih gue surprise kue ultah malah bos gue di kantor baru. Thank you yah, boss!

Overall, ultah gue yang ke 25 ini adalah ulang tahun yang paling dipenuhi oleh rasa syukur. Rasa syukur itu benar-benar terasa memenuhi hati gue pada saat-saat menjelang ulang tahun gue itu. Padahal gue masih aja belum berhasil dapetin beasiswa S2, novel gue belum jadi-jadi, dan gue masih aja jomblo seperti tahun-tahun kemarin. Tapi bener deh, tiba-tiba aja, gue jadi bisa melihat begitu banyak hal yang sangat patut untuk gue syukuri di usia seperempat abad ini. It feels like I have lived my life right, feel so blessed, and feel so happy for every little thing I have in this life. Makanya, kalo ada istilah sweet seventeen, maka buat gue, ada pula istilah fabulous twenty five 🙂

Sejujurnya gue ngerasa, segera setelah ini, hidup gue akan kembali dipenuhi dengan tekanan yang berpotensi bikin gue jadi stres. Ada banyak adaptasi, tanggung jawab, dan juga resiko baru yang harus gue hadapi sebentar lagi. Jadi mumpung gue belum stres dan belum mulai mengeluh lagi, maka kali ini, sekali lagi, gue sempatkan untuk bersyukur kepada Allah atas segala anugerah yang telah Ia berikan dalam hidup gue. Thank God for giving me a chance to live within these 25 colorful years, and thank God for making my life as fabulous as I have until today 🙂

Tentang Mimpi

Ada yang bilang, kalau kita mimpiin seseorang, itu berarti orang yang bersangkutan lagi mikirin kita. Baru-baru ini gue baca quotes di wall salah satu temen Facebook gue, bahwa ternyata hal itu sifatnya bukan mistis, melainkan berdasarkan hasil studi psikologi – entah gimana logikanya, yang jelas begitulah yang gue baca.

Terlepas bener atau enggaknya, gue justru lebih percaya bahwa orang yang paling sering kita mimpikan adalah orang yang paling sulit kita lupakan. Soalnya gue sering ngerasa, mimpi itu bisa berarti 3 hal:

  1. Wujud dari kekhawatiran atau rasa takut;
  2. Keinginan yang terpendam; dan
  3. Gambaran akan masa depan.

Untuk point yang ke tiga emang sifatnya agak kontroversial yah. Gue sendiri bukan orang percaya sama ilmu tafsir mimpi. Tapi kalo secara psikologis, gue percaya bahwa seringkali, sebetulnya kita sendiri udah tahu sama apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Hanya saja, kita berusaha menepis pikiran itu karena merasa takut kalau sampai hal itu benar-benar terjadi dalam hidup kita. Jadi kalo menurut teori sok taunya gue, masa depan yang berusaha kita ingkari itulah yang kemudian mendatangkan mimpi yang bentuknya mirip ramalan.

Dulu waktu SMA, gue bisa tiba-tiba kangen sama gebetan masa SMP hanya karena tiba-tiba mimpiin dia. Efek dari mimpi itu, gue jadi kangen sama dia. Dan pernah, saking kangennya, gue sampe repot-repot mengusulkan acara reuni SMP hanya supaya gue bisa ketemu sama dia lagi!

Tapi sekarang, gue udah enggak pernah lagi tuh, mimpiin dia kayak jaman dulu itu. Kalaupun pernah pasti udah enggak berkesan lagi karena buktinya gue udah lupa kapan terakhir mimpiin dia. Jadi kalo menurut gue, gue udah enggak pernah kangen sama dia bukan karena udah enggak pernah mimpiin dia lagi, melainkan sebaliknya: gue udah enggak pernah mimpiin dia karena gue udah ikhlas dengan masa lalu gue dan dia. Gue udah enggak punya lagi rasa khawatir bahwa jangan-jangan, dulu itu gue udah melakukan kesalahan besar dengan tidak memilih dia. Gue juga udah enggak punya keinginan untuk ketemu lagi sama dia, apalagi sampe meneruskan kisah yang udah lama berakhir itu. Dan pastinya, gue udah menyadari sepenuhnya bahwa tidak akan pernah ada lagi masa depan antara gue dengan dia.

Semalem tiba-tiba aja, gue mimpiin seseorang yang sebenernya udah cukup lama enggak gue pikirin. Mimpinya terasa nyata banget. I could feel his touch when he hold my hand, and I could feel his warmth when he hugged me in that dream.

Jadi ceritanya, di mimpi itu gue dan dia duduk berdampingan di ruang tamu yang tidak gue kenal. Meski duduk sebelahan, kita berdua hanya saling diam. Nggak lama kemudian gue bilang, “Sekarang gue tau apa salah gue dulu… Harusnya waktu itu, gue enggak ngediemin elo kayak begini… iya kan?”

Ngedenger gue ngomong gitu, dia langsung menoleh dan mengulurkan tangan kirinya. Adegan selanjutnya… well, bukan sesuatu yang bisa gue sharing via blog ini. Maklum, gue tau blog readers gue banyak yang masih berusia di bawah 18 tahun, hihihihihi.

Intinya, ketika bangun gue kembali menyadari… bahwa dalam hati kecil, gue masih enggak bisa berhenti bertanya-tanya… apa sebenernya salah gue waktu itu? Dan meksipun gue udah enggak berusaha menjalin komunikasi sama dia, gue juga masih penasaran… what was that between us?

Kemudian soal adegan romantis itu… yeaaah, gue rasa itu salah satu keinginan terpendam gue kali yah, hehehehehhe.

Kalo soal kehangatan yang bener-bener gue rasain, begitu pagi hari gue baru sadar kalo ternyata badan gue emang agak panas 😀 Seems like I’ve been so tired at work recently.

Untunglah mimpi itu enggak sampe bikin gue kangen sama orang ini. Rasanya satu tahun patah hati udah cukup, gue enggak mau memperpanjang lagi. Tapi jujur… hari ini gue jadi kembali bertanya-tanya… Kapan ya, gue bisa benar-benar melupakan cowok ini seperti gue yang udah berhasil melupakan gebetan-gebatan gue jaman ABG dulu? Ironisnya di saat yang sama, gue juga berpikir kenapa gue selalu aja jadi orang yang mengharapkan time-will-heal? Kenapa gue cuma bisa terjebak dalam kenangan, lalu berharap waktu lah yang akan menghapus semua kenangan itu? Kenapa untuk soal cinta-cintaan, gue enggak pernah berhasil jadi orang yang bertahan? Jadi orang yang berusaha mengubah keadaan… Atau lebih tepatnya, jadi orang yang berusaha mewujudkan mimpi untuk jadi kenyataan.

Seriously... kalo lagi terjebak dalam keadaan seperti ini, gue bener-bener berharap dulu gue terlahir sebagai laki-laki. A guy could try his best to catch the girl of his dream, while a girl… she only could hope for somebody who is willing to take her as a part of his dream. Big sigh…

P.s.: Sialnya lagi, cowok-cowok yang menjadikan kita sebagai gadis impiannya itu justru belum tentu cowok yang masuk kriteria cowok impian kita. Big sigh again

Apa Ya, Hubungannya Emansipasi Dengan Cewek Berdiri di Bis?

Hari ini gue baca tweet salah satu teman yang isinya bercerita tentang cowok-cowok dalam bis TransJ yang tidak mau memberi tempat duduk buat seorang ibu hamil. Hal ini mengingatkan gue sama pengalaman gue sendiri di Patas 6. Waktu itu, cowok-cowok di Patas yang gue tumpangi enggak ada yang mau mengalah sama nenek-nenek yang untuk berjalan saja sudah harus memakai tongkat! Adik gue juga pernah mengeluhkan hal yang sama: selalu ada saja cowok yang menolak memberikan tempat duduknya untuk ibu hamil atau manula di dalam bis umum.

Hal ini juga ngingetin gue sama salah satu thread di Kaskus yang isinya menyindir emansipasi wanita. Menurut mereka (cowok yang menulis thread yang kemudian banyak disetujui oleh cowok-cowok lainnya), adalah sangat aneh kalo cewek masih minta dikasih tempat duduk di jaman di mana mereka menuntut emansipasi. Intinya menurut mereka, kalo cewek minta diberikan kesamaan kedudukan, maka jangan tanggung-tanggung. Jangan mau emansipasi hanya untuk bagian yang enak-enaknya aja, kira-kira begitu pendapat mereka.

Nah, kalau begitu apa boleh gue simpulkan bahwa jangan-jangan, cowok-cowok yang dikeluhkan oleh gue, temen gue, dan adek gue itu juga ngotot mempertahankan tempat duduknya atas nama emansipasi?

Sebetulnya gue masih enggak ngerti apa hubungannya emansipasi sama nggak mau ngasih tempat duduk buat cewek di bis. Dan bukan cuma soal tempat duduk di bis umum aja lho yaa. Semakin lama gue juga semakin sering mendengar kritik-kritik lain yang mirip-mirip tempat duduk di bis ini. Lama-lama gue jadi gemes sendiri… apa emang cowok-cowok itu aja yang suka cari pembenaran atau mereka emang enggak benar-benar mamahami esensi dari emansipasi yang dulu diperjuangkan oleh Ibu Kartini itu?

Emansipasi yang dulu diperjuangkan oleh mendiang Ibu Kartini adalah kesamaan hak perempuan dalam hal mengenyam pendidikan. Kalau dikembangkan lebih luas, emansipasi di sini adalah kesamaan hak perempuan dalam mengejar cita-cita. Dalam definisi yang lebih konkret dalam dunia kerja masa kini, emansipasi berarti kesamaan hak untuk perempuan memperoleh pekerjaan, memperoleh imbalan, serta memperoleh promosi dari perusahaan yang memperkerjakan dia. Sudah nggak jaman lagi anak cewek nggak boleh sekolah, dan sudah nggak jaman lagi perempuan enggak boleh duduk di tampuk pimpinan perusahaan. It’s simply a fair competition, guys.

Jadi coba ya… gue tanya ulang: apa sih hubungannya emansipasi dengan berdiri di bis? Kalaupun kalian masih mau ngotot dengan pendapat ngaco itu, ya sudahlah ya… gue ngalah aja. Gue sih enggak pernah tersinggung kok sama cowok-cowok yang ngebiarin gue diri di bis umum. Tapi please yaa, masa’ sih kalian masih mau sebegitu ngototnya duduk sementara di depan kalian ada ibu-ibu hamil, atau ada orang tua yang sudah seusia kakek-nenek kalian? Emansipasi tidak berarti excuse buat laki-laki bersikap tidak gentle. Dan harap dicatat bahwa emansipasi tidak berarti melemahkan kedudukan laki-laki. Jadi nggak usah segitu sentimennya.

Sepertinya ada satu hal yang terlewat dalam pemahaman kita soal emansipasi yaitu fakta bahwa sampai kapanpun, laki-laki dan perempuan tidak akan pernah 100% sama. Jadi jangan lupa bahwa mau diperjuangkan sampai sekeras apapun, faktanya, tidak akan ada pergerakan perempuan yang bisa membuat mereka bisa menjadi lebih kuat secara fisik daripada laki-laki. Kalau dirata-ratakan, tetap saja kalian tetap jauh lebih kuat secara fisik daripada kami. Jadi apa kalian – yang terlahir lebih kuat itu – tidak merasa malu mempertahankan tempat duduk sementara ada ibu hamil dan manula yang lebih berhak?

Jujur yah… kadang gue ngerasa kalaupun ada cowok yang ngasih tempat duduknya buat perempuan muda, biasanya, karena perempuan itu terlihat menarik secara fisik. Makanya, kadang gue suka iseng menjadikan hal itu sebagai parameter apakah hari itu gue tampil ok. Kalo sampe ada cowok yang ngasih gue tempat duduk, berarti hari itu gue lagi kelihatan cantik, hehehehehe.

At the end of the blog, gue pengen kasih satu bocoran buat cowok-cowok di luar sana: semandiri apapun seorang perempuan, dia tetap akan lebih memilih laki-laki yang bisa memperlakukan dia sebagai perempuan. Tambahan dari gue, di saat yang sama, gue lebih memilih laki-laki yang juga bisa menghargai dan mendukung hak gue untuk mengejar cita-cita setinggi yang gue bisa. Bukan berarti gue mau enaknya aja. Karena balik lagi ke atas: emansipasi itu enggak ada hubungannya sama gue boleh diperlakukan seenaknya, hehehehehe. Tapi serius deh, cowok gentle itu selalu kelihatan keren dan macho banget di mata cewek manapun 😉

Jadi mulai sekarang, kalo pengen jadi cowok yang kebanjiran fans, nggak usah repot-repot dandan keren ala selebritis. Berikan tempat duduk buat ibu-ibu yang lebih tua, bantu teman-teman perempuan yang sedang membawa barang berat – tidak peduli dia cantik atau biasa-biasa aja, atau hal-hal kecil seperti menyebrang di sisi luar dan menahan pintu buat kita aja udah bikin kalian kelihatan keren lho.

Nah, sekarang kalian lihat kan? Emansipasi tidak mengubah sudut pandang kami tentang sisi maskulin pria manapun di muka bumi ini. So, start to be a gentle one!