Ketika ‘Golongan Darah O’ Jatuh Cinta

Baru-baru ini, berdasarkan rekomendasi seorang teman, gue baca buku komik tentang karakter golongan darah. Judul bukunya: “Simple Thinking About Blood Type” volume 1 & 2 by Park Dong Sun.

Nah, berdasarkan kedua buku itu, gue ingin merangkum karakteristik golongan darah O (golongan darah gue tentunya) saat sedang jatuh cinta. Berikut summary-nya!

  • Golongan darah O yang cenderung mengelompokkan orang berdasarkan teman atau lawan, akan langsung memberikan penilaian pada saat pertemuan pertama. Yang ini asli tipikal gue banget. Saat baru kenal, gue cenderung secara otomatis ‘memisahkan’: yang ini tipe gue, yang ini bukan tipe gue. Dan umumnya, gue cenderung konsisten dengan ‘pembagian’ itu. Cowok yang kemudian gue suka pastilah cowok yang emang sejak awal masuk kategori tipe gue banget itu;
  • Karena semangat hidupnya tinggi, mereka tidak akan melewatkan jam makannya, meskipun terlukai atau berpisah dengan pacarnya. Tipikal yang berusaha membuktikan, “Lihat saja, aku akan hidup dengan baik!” Kalo yang ini nggak seratus persen mirip dengan karakteristik gue. Kalo gue udah bener-bener suka sama seseorang, di awal perpisahan gue tetep cenderung jadi nggak nafsu makan. Tapi untungnya, hal itu enggak pernah berlangsung lama. Sama seperti yang digambarkan oleh buku ini, gue tipe orang yang berusaha keras untuk membuktikan bahwa hidup gue akan baik-baik saja;
  • Golongan darah O yang realistis tidak mengorbankan hidupnya untuk cintaAda ilustrasi di buku ini yang menggambarkan, golongan darah O bukan tipe orang yang rela terjun ke jurang hanya demi cinta, hehehehe. Bisa jadi ada benarnya, tapi… perumpamaannya rada lebay juga sih ini… Emangnya ada gitu, golongan darah yang beneran rela terjun ke jurang? Hehehe;
  • Bila golongan darah O yang realistis diumpamakan dengan puteri duyung, maka ia tidak akan menerima tawaran dari sang penyihir untuk menukar suara dengan sepasang kaki. Ada ilustrasi di buku ini yang menggambarkan si puteri duyung berkomentar, “Kayak enggak ada laki-laki lain saja!” Gambar yang ini bener-bener bikin nyengir 😀
  • Karena bersifat realistis terhadap kehidupan, mereka tidak mengenal permintaan kekanak-kanakan seperti “ambilkan bulan di langit”. This is completely true! Gue bukan cuma enggak pernah mengorbankan ini dan itu, tapi juga enggak (atau mungkin belum, hehehe) pernah menuntut orang lain untuk mengorbankan ini dan itu buat gue;
  • Cewek golongan darah O yang lebih dewasa dan mapan secara finansial bebas bersosialisasi dan sukses. Mereka tidak menganggap penting seorang cowok. Ini kalo buat gue, bisa jadi banyak benarnya, tapi kadang-kadang, tetap ada aja cowok yang gue anggap sebegitu pentingnya. Tapi ya gitu deh… Kadang gue suka lama sadarnya. Di awal-awal, gue cenderung cuek bebek. Not priority, I’m busy with my life, etc etc… Tapi ternyata, giliran udah nyaris saying goodbye, barulah gue panik dan nyadar bertapa pentingnya dia buat gue… I guess it’s something I need to change;
  • Ketika golongan darah O jatuh cinta, bum! Cepat sekali mendidihnya. Tetapi bila menguap, wus! Cepat sekali manjadi dinginnya. Ini juga ada benar dan tidaknya, tergantung seberapa gue suka suka sama cowok-cowok itu. Tapi emang bener sih, di saat sudah ‘mendingin’, gue beneran bisa bertemen sama mereka tanpa bawa-bawa perasaan sedikitpun; dan
  • Daya tarik cewek golongan darah O: ceria, penuh semangat, cerdas. Entah ini bener apa enggak, tapi gue nyadar banget… eskpresi muka gue saat sedang sedih, marah, dan stres itu bener-bener bikin gue enggak ada menarik-menariknya, hehehehe.

Jadi kesimpulannya… seberapa akurat sih, pembagian karakteristik berdasarkan golongan darah ini? Sebenernya gue tipe orang yang realistis banget. Gue enggak percaya zodiak, shio, dsb dsb. Gue enggak percaya karakteristik jutaan manusia di dunia ini bisa dibagi hanya berdasarkan beberapa golongan tertentu saja. Tapi entah kenapa, pembagian karakter ala golongan darah ini terasa lebih akurat buat gue ketimbang pembagian karakter menurut zodiak atau shio. Emang nggak sepenuhnya benar, tapi emang sifat dasar gue mirip-mirip sama isi buku ini. Kesimpulannya sih, menurut gue buku ini cukup menarik dan lumayan menghibur. Hanya saja sayangnya, terjemahannya suka agak aneh! Overall, you can put this book in you to read list.

Recently I’ve Learned…

Recently I’ve learned…

When you really love somebody, you won’t really have an exact reason why you love him that much.

You might be in love with his kindness, yet you’re still in love with him when he’s careless in his very bad day.

When you really love somebody, you might be surprised, or maybe shocked, with the real him that you never knew before. However at the end of the day, you still love him for who he is.

You can’t stop loving this person just because he doesn’t dress the way you want to. Not either just because he doesn’t always behave like a prince charming. You love him just the way he is.

When you find the one whom you really love with all of your heart, you will understand the reasons why people say that love is blind. He might lie to you, break his promises, even break your heart… but you still love him anyway.

A real love is not always easy to understand. It may come unexpectedly. Not to someone whom you ever imagine. Not at the time that you choose to fall in love.

Yet real love is real love. Now that I understand it, next I’m hoping to feel it, to someone, who feels it back to me.

20 Rules to Live By

Based on some other great quotes, life advice from remarkable authors, and of course, based on my own experiences, here are 20 rules I do to live by. You don’t need to agree with this all, your life is your own rule, but I hope at least, it will inspire you to define yours. Enjoy the blog!

  1. Expectation kills your happiness. Set your goals, focus on it but keep your expectation low;
  2. Pick your battle. You don’t need to reply every argument coming to you and you don’t need to be angry for all the things irritating you. Save your energy to fight for something worthy;
  3. But then it’s okay to be angry, as long as the anger gives you more benefit over the harms it may bring;
  4. Say exactly what you mean, ask instead of assuming, and always remember: people are not mind reader!
  5. You can’t please everyone and you don’t have to do that at all. So stop trying so hard to be a ‘people pleaser’;
  6. You don’t need to be friends with ALL people on earth. Having haters is normal, especially if you happen to be an awesome one 😉
  7. Find your happy place, because sometimes, happiness is simply being in the right place. However, at the end of the day, happiness is in your hand. You only need to find a place which suits you the best;
  8. Love yourself first. It’s okay to spend money for decent foods, nice clothes, holiday trips, or any other things those make you happy. Reward yourself for all of the hard works you’ve done;
  9. Don’t be afraid to say “yes” or “no”. Be a brave one!
  10. Every human on earth has fear inside their heart, but the brave people will fight their own fear in order to shape their own destiny;
  11. If it feels wrong, don’t do it. But if it feels right, then you’ve got to do it for whatever it takes;
  12. Dream, believe, and make it happen!
  13. Let go of the things that you can’t control, but before that, make sure that you have given all of your best fights;
  14. Stay away from negative people. Don’t be with someone who doesn’t appreciate your efforts and constantly make you feel bad about yourself;
  15. Find a couple of friends whom you can trust to share your life with. Keeping all of those burdens alone will drive you crazy;
  16. If a guy keeps making you wondering how he feels about you for months, then it’s time to move on. If he really wants you, he will make it obvious. At the end of the day, you won’t want to be with someone who doesn’t want you back;
  17. Think before you speak. Your words will be the sword who kill you back. It’s not easy, but doable;
  18. Learn to forgive. No matter how good they are, their flaws will eventually hurt and break your heart. They’re not perfect, and neither you are;
  19. No matter how cruel and horrible this life is, never ever give up on being a good person. Don’t do revenge, don’t blame people for your mistakes, try to be honest, sincerely help the others and do the right things even when nobody is watching;
  20. At the end of the day, no matter how hard you try, you will never ever be a perfect person. However, never stop doing your best! You don’t need to be perfect, but you’ve got to be awesome!

The Dream Guy; Based on a Popular Chick Flick

Ceritanya gue baru aja selesai baca novel yang sangat-sangat populer di kalangan kaum hawa. Awalnya gue kira, cuma cowok-cowok aja yang seneng baca novel model begitu, tapi ternyata…. mayoritas penggemarnya justru kalangan perempuan! Saat novel ini hendak diangkat ke layar lebar pun, cewek-cewek dari berbagai kalangan mulai heboh setengah mati saking nggak sabarnya pengen lihat visualisasi dari novel favorit mereka itu.

Novel kontroversial yang enggak bisa gue sebutkan namanya ini kalo dari segi jalan cerita sih bukan salah satu yang terbaik yang pernah gue baca. Mirip-mirip novel Harlequin kalo menurut gue. Kalo nanti udah jadi film, menurut gue ini bisa jadi salah satu film yang pantes masuk kategori ‘chick flick’. Lalu kenapa novel ini bisa begitu mendunia dan bikin cewek-cewek jadi tergila-gila? Jawabannya sederhana: novel ini menampilkan si cowok impian yang diam-diam diidamkan oleh perempuan pada umumnya.

Apa aja sih, kriteria cowok dalam novel ini yang bikin para pembaca perempuannya jadi sebegitu terpesona? Berikut ini daftar kriteria-nya 😉

 

Gentleman and treat us like a lady

Meskipun sekarang ini sudah jamannya emansipasi, perempuan pada umumnya tetap senang diperlakukan sebagai perempuan. Bantuin bawa barang-barang berat, bukain pintu, dan tentu saja, jangan biarkan kita (para perempuan) keluar uang buat biaya kencan, hehehehe. Cowok yang masih model begini kelihatan keren dan cowok banget di mata perempuan pada umumnya.  

 

Caring and put our safety first

Lagi-lagi, meski udah jaman emansipasi, perempuan tetap saja perempuan; tetap senang diperhatikan, tetap senang dijaga, dan tetap senang diperlakukan seolah ‘barang pecah belah’. Ngelihat si dia peduli banget sama kesehatan dan keselamatan kita bisa bikin kita jadi jatuh cinta. Bahkan cewek yang paling mandiri dan paling pemberani pun, akan merasa nyaman dan aman saat menemukan tipikal pasangan yang seperti ini. Seems like that prince charming concept will never get old.

 

Protective (or maybe just a little bit) and get jealous (also just a little bit please) easily

Harus gue akui, cowok yang lagi cemburu itu kelihatan sexy and cute 😉 Efeknya emang jadi protefktif, suka jadi banyak aturan soal kedekatan kita dengan cowok-cowok lain (mulai dari teman hingga rekan kerja). However, it feels good to see how someone can be so afraid of losing us to another man. It secretly makes us feel loved 😉 Tapiii, untuk yang satu ini harus hati-hati banget sih. Beda cewek beda pula kadar toleransinya. It’s okay to be protective, but don’t make us feel suffocated just because of it.

 

Spoil us with gifts and surprises (addition from me, give us the thoughtful one, not the expensive one)

Senang banget rasanya saat dikasih surprise sama si dia, terutama kalo kado yang dikasih sifatnya thoughtful. Misalnya, sesuatu yang sudah lama kita idam-idamkan, sesuatu yang benar-benar sedang kita butuhkan, sesuatu yang tidak terduga dan unforgettable, atau sesuatu yang bisa jadi pengingat atas kenangan lampau kita dengan si dia. Emang asyik juga sih, punya pasangan yang bisa kasih Audi untuk hadiah ulang tahun seperti yang diceritakan dalam novel ini, tapi realitanya, ada berapa banyak sih cowok yang setajir itu? Hehehe.

 

Good looking and well groomed

Just like the boys, girls are also proud to be with someone who can make any other girl envies us just at a blink of eyes. Itulah sebabnya, meskipun katanya penampilan bukan yang nomor satu, cowok ganteng dan keren tetap bisa bikin kita tergila-gila. Ditambah lagi kalo mereka tipikal yang pinter pilih baju, rapih, wangi, dan rajin cukuran, hehehe. However for me, all of the good qualities inside can beat all of the outside 😉

 

Good id bed

No comment for this one, hehehehe.

 

Pertanyaan berikutnya… cowok kayak dalam novel ini beneran ada nggak sih? Pertanyaan yang sulit secara gue enggak mengenal SEMUA cowok yang ada di muka bumi ini. But one thing for sure: expectation could kill our happiness. Boleh aja tergila-gila sama cowok dalam chick flick kayak gini, tapii, jangan menjadikan tokoh utama di dalam cerita sebagai standar cowok impian!

Ingat cerita tentang teman gue yang diberi setangkai bunga oleh pacarnya? Tadinya gue kira dia akan sangat hepi dengan bunga itu, tapi ternyata, dia malah merasa biasa-biasa saja karena dikiranya, si pacar akan membawa satu buket bunga mawar di perayaan anniversary mereka, dan bukan hanya satu tangkai. Dari situ gue belajar… ekspektasi yang terlalu tinggi dapat mengecilkan segala sesuatu yang tidak menyerupainya meskipun sebetulnya, hal kecil itu pun, merupakan satu hal kecil yang dapat membahagiakan kita.

That’s why for me, chick flick is an entertainment, but reality is reality. Though if someday I end up with this kind of guy, well… just consider it as a bonus for me then, hehehehe.

Idul Fitri: A Perfect Chance to Start Over

Satu hal yang paling gue suka dari Ramadhan dan Idul Fitri adalah kesempatan untuk kembali memulai dari awal. Dosa-dosa dihapuskan dan seluruh umat saling memaafkan. Karena sebaik-baiknya manusia, pastilah tidak luput dari kesalahan. Begitu pula dengan diri gue sendiri.

Gue tipe orang yang menjunjung tinggi kejujuran. Dalam hal terkecil sekalipun, gue selalu berusaha untuk bersikap dan berkata jujur. I have the courage to tell people the truth, even if it’s not always pretty. Tapi ada kalanya, seringkali tanpa gue sadari, gue tetap pernah mengucapkan kebohongan. I did it in the name of white lie, but who knows… what I called as white lie was actually the safest way to protect myself anyway.

Gue juga pada dasarnya enggak suka berbuat jahat. I really really want to be a good person. Gue sering menolak melakukan sesuatu dengan alasan tidak tega. Tapi tetap ada kalanya, tekanan, konflik yang berkepanjangan, atau mungkin, tuntutan pekerjaan, tanpa gue sadari memaksa gue untuk bersikap sebaliknya. Tanpa pernah gue niatkan, pastilah gue pernah berbuat atau berkata-kata yang dapat menyakiti perasaan orang lain.

Seringkali, segera setelah menyadari gue baru saja melakukan sesuatu yang tidak gue inginkan, gue akan langsung ngerasa nggak enak, menyesal, dsb dsb… Gue tentu akan selalu berusaha keras untuk memperbaiki diri sendiri, tapi tetap saja… gue cuma manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan. Sekeras apapun gue berusaha, gue tidak akan pernah bisa jadi sempurna. I was not born to be perfect and people might get hurt by my imperfection.

That’s why I’m so relieved to know that people will at least try to forgive me in this holy day. I’m grateful that they give me a chance to start over, and on top of that, I’m grateful that God give me a chance to redeem my faults.

Sebaliknya, kesadaran yang sama juga mendorong gue untuk belajar memaafkan. Jika masih luar biasa sulit untuk gue bisa memaafkan, gue juga enggak bisa berpura-pura. Tapi setidaknya di dalam hati, gue selalu berjanji pada diri sendiri, pasti akan tiba saatnya gue memaafkan dari lubuk hati gue yang paling dalam.

Lalu bagaimana dengan orang-orang yang tidak pernah memantaskan diri untuk dimaafkan? Well, sometimes, for some people I know, the best way to forgive them is by letting go. Kenapa begitu? Karena dengan gue membiarkan mereka pergi, maka dengan sendirinya, gue sudah tidak lagi memberi mereka kesempatan untuk melakukan hal-hal yang nantinya bikin gue kembali harus bersusah payah hanya untuk bisa memaafkan mereka.

I believe that forgiveness is something that we’ve got to earn. It’s not something which always comes free. Therefore in this opportunity, please do accept my deepest apology. I’m so sorry for every pain I’ve put you through and I hope, you would like to give me a chance to start over.

Happy Ied for my blog readers who celebrate. And of course, happy happy holiday!

Tu Me Manques

il_570xN.371987770_stnnPeople says, we don’t really know what we feel about somebody until we start missing their presences in our life. And it can happen in every kind of relationships on earth.

I knew how much I cared about my nephew in my first out of town trip after he was born. Knowing that he was sick during my departure made me feel worried all the time. It felt like I wanted to go back home soon just to see that he was okay.

I knew how wonderful my best friends were after I realized how lousy other friends could be. Too bad that the terrible fight we had before made me couldn’t text them just to say hi. There were some times I really wanted to share the news about my life but I couldn’t. When I finally made up with them, it felt like a few parts of me were coming back.

I knew what a great boss that I used to have after knowing that other people might not do the same favors he did to me. It felt bad to realize that he had no obligation to be that good to me but he did. I’m happier with my new life now, I’m okay with my new boss, but frankly sometimes I think, “It would be different if it were him.”

Finally, most of the time, I knew that I loved somebody when they start missing from my life. In the worst scenario, it could happen when they left me for good. My life was falling apart, broken heart, and bla bla bla.  But sometimes, it could also happen in such an unexpected time. If I feel bad knowing that he will leave just for a holiday trip for instance, at that moment I will know I have that one feeling for him.

Unfortunately, I’m not good on missing somebody. I hope I could just grab my phone and text them first. But all that I can do is mourning the long gone past or looking at the calendar and counting days if I know for sure they will still come back. That’s why I really hate missing somebody.

I hate wondering whether they’re also thinking of me. I hate wondering whether they will say hello to me first. I hate wondering whether something will change upon their return. I also hate knowing that I no longer have somebody to talk those stupid things, to laugh those hilarious jokes, to work things out together, or simply just to see them somewhere in my daily life. And for me, it’s not a pleasant thing to feel this way.

Do you know in French, you don’t really say “I miss you” when you actually miss somebody? They will say instead, “Tu me manques” which means “You are missing from me”. It sounds nice to me, and, it describes better how I feel about missing somebody. I miss them, simply because they are missing from my life. And I really really… want to have them back.

Apa Kabar Aplikasi Beasiswa MBA Gue?

Rencananya, tahun ini gue kepengen coba, sekali lagi, apply beasiswa MBA entah itu ke US, UK, atau Aussie. Awal tahun 2014, dengan penuh semangat, gue pernah menulis blog yang ini. Pertanyaannya sekarang, berhasil kah gue menembus beasiswa yang gue idam-idamkan itu?

Well, jangankan berhasil atau gagal… sekedar coba mengirimkan aplikasinya pun enggak jadi gue realisasikan di tahun 2014 ini! Kenapa bisa begitu? Jawabannya sederhana: gue ngerasa masih belum siap.

Hari pertama gue ikut GMAT Preparation Class, gue masih menikmati tiap menit dalam kursus itu. Gue excited ketemu teman-teman baru yang juga mempunyai cita-cita yang sama dengan gue. Senang bisa berbagi cita-cita, berbagi cerita, informasi, serta tips dan trik terkait big dreams kita itu. Ada beberapa teman yang terlihat luar biasa pintar, dan beberapa teman lainnya yang bisa berbahasa Inggris dengan luar biasa fasihnya.

Awalnya, suasana kelas yang seperti itu masih membuat gue ngerasa bersemangat, sampai akhirnya gue masuk ke pertemuan ke dua, ke tiga… semakin lama, gue semakin ngerasa tertinggal di belakang. Dan yang paling enggak pernah gue sangka-sangka, gue ketinggalan pelajaran justru karena kendala bahasa!

Jadi di tempat kursus GMAT gue itu, pengajarnya orang Amerika asli, dan tentunya, dia selalu membawakan materi kursus dalam bahasa Inggris. Gue sering ngerasa dia bicara terlalu cepat serta banyak menggunakan istilah-istilah yang enggak bisa gue pahami. Yang bikin gue ngerasa makin down, nyaris semua teman sekelas gue terlihat bisa mengikuti materi pelajaran dengan mudahnya!

That was the first time in my life I realized that my English is not good enough. MY 6.5 IELTS score is far from enough.

Saat sedang luar biasa frustasi dengan ketertinggalan gue itu, gue menemukan satu lagi hal yang bikin gue jadi makin patah semangat: kampus yang gue minati mewajibkan seluruh international students untuk punya skor IELTS minimum 7.0.

Gue tahu, skor 6.5 itu gue dapatkan sudah lebih dari 2 tahun yang lalu, saat gue masih baru bergabung dengan Niro, perusahaan gue sebelumnya. Setelah hampir 3 tahun kerja di Niro, gue yakin English gue sudah mengalami kemajuan secara di sana gue lebih aktif berbahasa Inggris untuk keperluan pekerjaan. Memang cuma ada 2 expatriates di sana, plus sesekali berkomunikasi dengan HQ team di Malaysia, tapi gue yakin itu pun udah banyak improve English skill gue. Tapi tetap saja, semua itu toh nyatanya nggak bikin gue bisa survive di kelas GMAT! I mean, if I’m not good enough for the preparation class, then what makes me think I will survive in the real class? Apalagi ceritanya, gue ngincer kampus-kampus yang masuk dalam World Top 10

Akhirnya dengan berat hati gue putuskan… gue masih harus menunda, satu tahun lagi. Tapi tentu saja, gue enggak pengen satu tahun berikutnya itu jadi satu tahun yang sia-sia! Gue pun memutuskan… untuk pekerjaan gue selanjutnya HARUS pekerjaan yang mewajibkan gue speaking English setiap harinya. Itulah sebabnya, di awal tahun ini gue menghadiri 3 job interview yang gue tahu sejak awal, gue akan berhadapan langsung dengan expatriates di sana. Lalu kenapa akhirnya gue lebih memilih kerja untuk Lazada? Karena saat interview, gue lihat di sini paling banyak jumlah bulenya 😀

Gue nggak tahu apakah kerja di sini bisa bantu gue mencapai big dream gue itu… Tapii, yah… at least, I’m doing something real to get there. Once again, please wish me luck!

Arfa, My Adorable Nephew

IMG_5597 New

Dulunya, gue bukan tipe cewek yang ngefans sama bayi-bayi lucu. Gue bahkan nggak pernah tertarik buat ngegendong bayi-bayi lucu yang gue kenal. I was not a big fan of cute babies, until my nephew was born, two years ago.

Gue dapat kabar Arfa udah lahir saat masih perjalanan pulang dari kantor ke rumah. Begitu gue udah sampe di rumah sakit, Arfa sudah dimandikan, sudah terbungkus selimut di dalam kotak kaca. Saat pertama lihat si ponakan, gue berpikiran, “Bayi kalo baru lahir tampangnya mirip semua. Masih belum ada lucu-lucunya.”

I was not yet a big fan of my own nephew until he was seven days old. Waktu gue mau pergi kerja, gue lihat si ponakan baru saja dicukur rambutnya sama nyokap. The bold baby Arfa looked so cute to me 😀

Makin ke sini jelas gue makin sayang sama ponakan gue ini. Bukan karena keharusan, tapi emang karena Arfa itu bayi pintar dan lucu yang bikin gemes!

Berikut ini daftar kelucuan Arfa yang gue rangkum selama dua tahun ini.

 

Arfa si bayi yang suka gemesan!

Banyaknya orang yang gemas dengan kelucuan Arfa bikin dia jadi suka bales ngegemesin orang lain yang ada di dekat dia. Kalo Arfa gemas sama orang lain, dia akan menghampiri, menyentuh tangan atau kaki orang itu, bibirnya mengerucut sambil bilang, “Eeehhmmm, gemes!” Trus kadang-kadang di pagi hari, Arfa buka pintu kamar gue, masuk ke dalam, naik ke atas tempat tidur gue, terus dia peluk gue dengan gaya gemesnya supaya gue bangun tidur 😀 Aaah… how can I not love this baby?

 

‘Nyolot’ sama aunty-nya 😀

Sudah sejak bayi gue ngelarang Arfa masukin jari ke dalam mulut. Lucunya, si baby Arfa malah suka sengaja masukin jarinya ke mulut tiap kali dia lihat gue! Malah kalo kata maminya, pernah satu kali Arfa refleks masukin jari ke dalam mulut hanya karena dia dengar suara gue dari luar kamarnya! Kadang sambil sengaja masukin jari, si Arfa sekalian nyengir dan ngelihatin gue dengan tampang jahilnya itu 😀

 

No no no no!

Sering mendengar kata, “Arfa, no!” bikin Arfa jadi suka meniru kata yang sama. Pernah ada masanya, saat ada orang tua yang bilang “No”, Arfa akan balas bilang, “No no no no.” Terkadang, dia akan bilang begitu sambil menggoyangkan jari telunjuknya! Lucunya lagi, karena sering dilarang naik ke atas tangga, Arfa suka berdiri di bawah tangga lalu dia ngoceh sendiri, “No no no no!” Well… meskipun dia sendiri bilang ‘no’, tapi tetap saja dia nekad naik ke atas tangga!

 

 

Hobi nyanyi

Udah sejak umur satu tahun Arfa hobi nyanyi. Hebatnya, meskipun belum bisa ngomong, Arfa ini jago banget bersenandung dengan nada yang akurat! Kita bisa mengenali judul lagu yang dia nyanyikan meskipun liriknya masih asal-asalan. Sekarang, di umur dua tahun, meskipun masih cadel, lirik lagunya sudah bisa Arfa nyanyikan dengan nayris sempurna! Kurang lebih ada sepuluh lagu yang Arfa bisa, termasuk 2 lagu in English. Lucunya, Arfa suka nyanyi gini tiap kali lihat ada orang lain yang pakai topi, “Topi saya bundaar.” Terus begitu tiap kali dia lihat orang lewat yang pake topi 😀

 

Nggak suka lihat orang lain tidur

Entah kenapa, Arfa paling nggak suka lihat orang lain sedang tidur. He will do everything to wake us up. Mulai dari digemesin, dicubit, digoyang-goyang… Arfa ini juga hapal banget kalo tiap pagi, dalam perjalanan menuju kantor (yup, Arfa suka ikut nganter gue pergi kerja), gue suka ketiduran di jok belakang. Itulah sebabnya sesekali, Arfa bakal nengok ke belakang hanya untuk bilang, “Aunty bobo.” Kalo lagi kurang kerjaan, dia bisa terus-terusan ngoceh begitu sampe gue kebangun! Emang bayi yang pantang menyerah deh, hehehehe.

 

Aunty… cepet!

Setiap kali hendak pergi sekeluarga, emang nyaris selalu gue yang selesai dandan belakangan. Kemudian suatu hari, gue denger Arfa teriak begini dari bawah tangga rumah gue (kamar gue ada di lantai dua), “Aunty cepet, aunty! Aunty cepet!” Hari ini juga begitu… Padahal gue nggak berencana ikut pergi bareng Arfa dan ortunya, tapi anak itu tetep teriak gini dari bawah tangga, “Aunty cepet! Aunty lama.” Sometimes I can’t believe he’s only two years old!

 

Dua tahun terakhir ini, Arfa udah bawa warna tersendiri dalam hidup gue. There’s a kind of happiness that I never felt before. Sekedar ngelihat Arfa sedang happy pun, udah bikin gue ikutan ngerasa happy. I enjoy being an aunt and I believe that I have been the best aunt that he could ever have 😉

Happy birthday, Arfa! Grow awesome and keep making me proud of you, okay! Even though you’re not always behaving as a good kid, then that’s okay too. You will eventually learn and I’ll still love you for better or worse. Have a great life, kiddo!

When a Guy Likes You, It’s Obvious

Berawal dari suggested page di Facebook, gue jadi nemuin artikel ini. Artikel yang bikin gue senyum-senyum sendiri, yang tanpa gue sadari, ada beberapa wajah cowok yang melintas di benak gue selagi membaca artikel itu sampai habis. Selesai membaca, gue langsung share ke Facebook page gue dengan menambahkan comment, What do you think? I think it will be nice if it’s true ;)”

Seperti yang diakui oleh penulis artikel tersebut, cewek-cewek itu umumnya gemar sekali bertanya-tanya… “He likes me, he likes me not…” Tampaknya artikel “10 Signs He’s Into You” jauh lebih populer ketimbang artikel “10 Signs She’s Into You.” Padahal kalo menurut gue, bener juga apa yang dibilang oleh si penulis di paragraf pertama artikelnya, “When a guy likes you, it’s obvious.”

Dulu, gue pernah menghabiskan begitu banyak waktu untuk mempertanyakan isi hati cowok yang sedang dekat dengan gue. Bahkan bodohnya, gue hobi menanyakan pendapat teman-teman gue yang juga mengenal si cowok itu. Dan bodohnya lagi, gue lebih percaya pendapat teman-teman cewek yang bilang, “Elo cuma salah sangka” meskipun sebenarnya, teman-teman cewek gue itu sama sekali enggak akrab dengan gebetan gue itu.

Ironisnya, seiring berjalannya waktu, barulah sedikit demi sedikit gue menyadari bahwa si mantan gebetan itu emang beneran pernah suka sama gue. Semakin lama justru semakin gue berpikiran, “Enggak mungkin dia sampe segitunya kalo bukan karena suka sama gue!” And at the time where I realized that I was wrong, I was already too late.

Jadi bener deh, girls… When a guy likes you, it’s obvious.

Saat ketertarikan mereka masih terbatas ketertarikan fisik (biasanya di awal-awal kenal), mungkin mereka tidak akan langsung melakukan aksi pendekatan yang sifatnya disengaja. Tapi memang benar, tanpa mereka sadari, bahasa tubuh mereka sudah akan terlihat berbeda dengan sendirinya. Mereka akan berdiri atau duduk dengan jarak yang sangat dekat dengan kita, posisi tubuh selalu condong ke arah kita, dan tentunya, dia nyaris tidak pernah bisa mengalihkan pandangan matanya.

Kemudian saat mereka sudah berniat untuk melakukan pendekatan, mereka akan mulai selalu mencari cara untuk bertemu dengan kita, as often as possible. Jika kamu mengenal mereka di tempat kerja, jangan heran jika mereka tiba-tiba datang ke ruang kerja kamu hanya untuk membahas topik-topik yang nggak ada penting-pentingnya. Mereka akan mulai berusaha mengenal kita lebih dalam, hingga akhirnya, he will text you first, call you first, and he will ask you out for your first date. As simple as that.

Jadi kesimpulannya, kalo kamu jarang melihat wajah dia, kalo dia cuma cari kamu saat ada perlunya, kalo bahasa tubuhnya terlihat sama saja dengan bahasa tubuh dia saat sedang berinteraksi dengan cewek-cewek lainnya, then forget him, you’re likely having no hope.

But the tricky part is… sudah menunjukkan ciri-ciri ketertarikan pun, belum tentu itu berarti mereka punya niat untuk menjalin hubungan dengan kita lho. Ada beberapa cowok yang kalo suka banget duduk dan berdiri dengan posisi yang sangat dekat dengan gue. Ada pula beberapa yang saat duduk bersebelahan, mereka malah suka bersandar ke lengan kursi gue ketimbang lengan kursi mereka sendiri. Ada pula yang sampe suka menyentuh bahu atau tangan gue saat sedang ngobrol berdua, baik yang sifatnya sengaja dan ‘tidak sengaja’. Belum lagi pandangan mata yang dengan intens mengamati tiap sudut di wajah gue ini…

Secara gue tahu betul bahwa mereka tidak bereaksi seperti itu saat sedang berinteraksi dengan cewek-cewek lainnya, maka gue bisa dengan yakin menyimpulkan bahwa mereka memang tertarik sama gue entah secara fisik atau secara personality, TAPI, bukan berarti mereka juga tertarik untuk melakukan pendekatan lebih. Dengan kata lain, kalo baru sampe tahap ini, jangan keburu menaruh harapan tinggi! Apalah artinya tatapan mata yang sedemikian intens jika mereka tidak berminat untuk menjadikan kita lebih dari sekedar teman, kenalan, atau rekan kerja?

Honestly sekarang ini, gue pribadi lebih memilih untuk menikmati up and down yang gue rasakan di masa-masa awal perkenalan dan pendekatan. Trying to guess how he feels about me is fun! Rasanya seru dan bikin deg-degan kayak lagi naik roller coaster 😀

Pokoknya udah nggak ada lagi deh tuh… rasa frustasi karena nggak bisa berhenti bertanya-tanya, “Dia suka nggak sih sama gue?” Atau, “Mau dibawa ke mana sih hubungan gue sama dia ini?” Karena bisa jadi, rasa frustasi kita itu sendiri yang justru menutup jalan untuk bisa jadian sama si gebetan… Kalo belum apa-apa udah kelihatan ribet, rumit, dan sulit, gimana ke depannya nanti coba?

So just take it simple… if he really likes you, it’s obvious. He will sure try to let you know. Then if he really wants to be with you, he will find a way, no matter what and no matter how. But if you end up questioning his feeling for you until months, then maybe, you’ve got to move on.

Because Yesterday was History, but Today is a Gift

Pernah nggak sih… kamu berharap dalam hati si mantan pacar nggak akan pernah nemuin orang lain yang lebih baik daripada kita? Atau berharap si musuh bebuyutan kita kelak hidupnya susah dan nggak bahagia? Atau dalam hal pekerjaan, kita berharap si mantan kantor bakal jadi berantakan setelah kita resign dari perusahaan itu?

Gue pernah, dan menurut gue, itu satu perasaan yang sifatnya manusiawi. Hanya saja sekarang gue menyadari, segera setelah kita menemukan a better place, or a better someone, maka semua harapan-harapan buruk akan kita lupakan dengan sendirinya.

That’s how I feel about my past right now.

Melihat salah satu mantan gebetan hidupnya makin nggak bener nggak lagi bikin gue sesumbar, “Untung dulu gue nggak jadi sama dia!” Gue cuma bisa geleng-geleng kepala melihat kebandelannya itu.

Dengar kabar orang yang dulu pernah gue suka setengah mati akan getting married dalam waktu dekat tidak lagi bikin gue lantas freaking out. There’s no longer such a crazy thought like he will get left in the altar or something 😀

Gue juga enggak lagi kepingin tahu kabar dari orang yang pernah bikin gue sakit hati setengah mati. Knowing she screwed up with everything is no longer a headline for me. Toh hidup dia susah enggak bikin hidup gue jadi lebih mudah?

Dan yang terakhir, gue enggak lagi berpikiran si mantan kantor akan kembali berantakan setelah gue tinggal pergi. I’m hoping they will be just fine so that they will never ever contact me again just to fix the chaos they’ve made. Rasa bangga bahwa gue meninggalkan good legacy di sana sudah lebih dari cukup.

And you know what… feeling this way about my past has really made me feel good about myself.

Terus mengenang luka lama bisa bikin gue jadi enggak aware dengan keberadaan cowok-cowok baru yang menaruh perhatian sama gue.

Terus mikirin si musuh bebuyutan bisa bikin gue jadi lupa mikirin hal-hal baik untuk diri gue sendiri.

Dan terus terlibat dengan masalah-masalah di kantor lama bisa bikin gue jadi enggak fokus dengan karier gue di kantor baru.

Intinya adalah, terus melihat ke belakang bisa membuat kita lupa untuk tetap melihat ke depan.

Lalu bagaimana caranya gue bisa sampai pada pemikiran yang very comforting seperti ini? Well, honestly, I don’t know how to answer this. I simply think that once we have a good life, we will eventually lose interest to look back into our past. So why don’t you try to find your better life for the starter?

Coba mulai dari mencintai diri sendiri dulu. Do what you love to do, what makes you happy, which makes you proud of being you and makes you love yourself even more. Konon katanya, love yourself first, and the rest will follow.

Kemudian buat yang teman-teman yang berkarier, jangan takut untuk terus mencoba sampai kita berhasil mendapatkan tempat yang kita inginkan. There is no such a thing like a perfect place to work, but somewhere out there, there is indeed a happy place to work.

Yang terakhir soal orang-orang yang pernah menyakiti perasaan kita di waktu yang lalu… simply think this way: the best revenge for them is being as awesome as we can be 😉 Dan gimana kita bisa bikin diri kita sendiri jadi awesome kalo kita malah sibuk mikirin orang lain yang bahkan tidak kita sukai?

Masih ingat kutipan berikut ini dari Kungfu Panda the movie?

“Yesterday is history, tomorrow is a mystery, but today is a gift. That is why it is called the ‘present’.

And I prefer to cherish my gift and make the most of it rather than keep looking back into the unchanged history named past.