A journey to remember

Even if I Fail a Hundred Times…

Posted on: January 17, 2014

Sejak kecil dulu, bokap sering bilang gue ini enggak jago matematika. Gue butuh waktu yang luar biasa lama hanya untuk menghapal perkalian 1 sampai 10. Nilai matematika gue sampe pernah dapet merah waktu SMA dulu. Gue juga gampang banget lupa sama segala sesuatu yang berhubungan dengan angka. Gue cuma ingat tanggal lahir gue sendiri, dan gue cuma hapal luar kepala nomor hp gue dan nomor hp bokap gue. Itupun nomor bokap pernah sengaja gue hapalkan buat keperluan future emergency aja.

Kelemahan gue terkait angka terus terbawa sampai gue mulai kerja. Gue bukan tipe accounting manager yang akan langsung ingat saat ditanya, “Tahun lalu PBT kita berapa ya?” Duh… jangankan net income tahun lalu… Net income bulan ini pun, bisa jadi gue udah lupa lagi. Nggak heran kalo gue jadi ketergantungan banget sama kalkulator dan Excel sheet. Makanya tiap kali meeting, bisa dipastikan gue masuk ke ruang meeting dengan membawa si laptop dalam pelukan, hehehe.

Awalnya, kelemahan gue yang satu ini sama sekali tidak gue anggap sebagai a big thing. At least, gue udah terbukti bisa more than survive kerja di bidang finance and accounting yang notabene sangat identik dengan angka-angka. Dengan modal jago Excel saja sudah cukup bikin gue ngerasa safe dalam menjalani pekerjaan sehari-hari. Everything was fine, until I found out that I need to obtain GMAT score if I wish to apply for MBA program. Right when I knew about this, I was dead inside. Masalahnya adalah: GMAT terkenal dengan tes matematika yang luar biasa susahnya 😦

Gue menghabiskan waktu lebih dari satu tahun lamanya hanya untuk apply for GMAT preparation class. Tidak pernah terbayang di benak gue bahwa someday gue harus ikutan ‘kursus matematika’. Dengan alasan sibuk dan sering lembur, gue menunda aplikasi gue itu. Gue terus menunda… sampai pada akhir tahun 2013, gue seperti mendapatkan ‘a wake-up call’. Dalam sekejap, gue langsung sadar… kalo gue bener-bener pengen kejar beasiswa MBA, maka suka nggak suka, gue harus bersedia menghadapi GMAT. Maka tanpa pikir panjang, gue langsung daftar kursusnya dan langsung bayar di muka keesokan harinya.

Sejak kemarin, ceritanya gue terpaksa ikut motivational training and annual sales meeting yang diselenggarakan selama 3 hari 2 malam di salah satu hotel di Jakarta. Padahal besok itu hari pertama gue kursus, eh gue malah harus nginep di hotel segala. Jadilah tadi malam gue lembur di kamar hotel hanya untuk belajar GMAT. Maksud gue at least, saat hari pertama kursus, gue udah punya bayangan lengkap GMAT itu seperti apa. Ibaratnya jaman kuliah dulu, gue harus baca bukunya dulu, minimal satu bab, sebelum kelasnya dimulai.

Tadi malam, dalam rangka belajar, gue download software simulasi GMAT yang disediakan MBA.com. Lalu tanpa pikir panjang, gue memulai simulation test perdana gue. Session pertama masih gampang, karena writing itu kan emang udah hobi gue banget. Tapi begitu gue mulai masuk ke sesi qualitative… baru soal pertama, gue langsung frustasi. Banyak soal yang saking susahnya, gue asal nge-klik aja salah satu pilihan yang ada. Badan langsung terasa capek, kepala panas, pusing, stres, pesimis dan putus asa…

Berbagai pikiran negatif langsung melintas di benak gue…

“Aduh… besok lusa di tempat kursus, udah pasti gue yang paling oon.”

“Aduh… jangan-jangan GMAT score gue di bawah rata-rata manusia pada umumnya.”

“Aduh… mana mungkin gue bisa dapet beasiswa MBA kalo perkalian 1 sampe 10 pun gue udah ada yang lupa-lupa inget.”

“Apa mendingan gue apply beasiswa tahun depan aja ya? Tahun ini udah nggak keburu kayaknya… GMAT gue pasti masih jeblok gini nilainya…”

Sampai akhirnya… “Aduh sudahlah… gue kerja jadi Accountant seumur hidup juga nggak papa lah. Mungkin, gue cuma belum menemukan accounting job yang tepat?

Dalam keadaan putus asa, gue tekan “Pause Exam” di layar laptop gue. Gue hentikan sejenak simulasi GMAT gue itu. Gue langsung beranjak ke kamar mandi, bersihin make-up, cuci muka, dan ganti baju tidur. Saat itulah, tiba-tiba gue teringat dengan video yang diputar di motivational training kemarin pagi. Pernah dengar Nick Vujicic? Pria asal Australia yang terlahir tanpa lengan dan kaki…

Di video itu, Nick memperagakan dirinya tengah terjatuh. Dan dalam keadaan tengkurap, dia berkata kepada audience-nya, “I’m down here. Face down. And I have no arms, no legs. It should be impossible for me to get back up. But it’s not. You see, I’ll try 100 times to get up.  And if I fail 100 times… if I fail and I give up, do you think I’m ever going to get up? No. But if I fail, I try again, and again, and again.”

Setelah mengingat video itu, gue bilang sama diri gue sendiri, “Even if I fail a hundred times, I will try again a hundred times. Again, and again, and again.”

Waktu di Binus dulu, gue pernah terpaksa mengikuti mata kuliah matematika bisnis. It was a nightmare for me… but you know what? Gue bukan cuma berhasil lulus dari mata kuliah itu, tapi juga bisa bawa pulang angka 90 di transkip nilai gue. Gimana caranya? Gue belajar dari 0; belajar dari buku matematika anak SMP (atau SD?) yang membahas soal aljabar dasar. Satu buku matematika bisnis pun gue lalap habis dari halaman pertama hingga halaman terakhir. Gue lalu berpikir… jika waktu kuliah dulu gue bisa dapat nilai 90, kenapa sekarang tidak?

GMAT memang jauh lebih sulit daripada matematika bisnis, tapi jika tidak dicoba dulu, bagaimana gue bisa tahu berapa nilai yang akan gue bawa pulang? Kalaupun nantinya gue gagal mendapatkan skor yang gue inginkan, bukankah gue masih bisa mencoba lagi?

Gue pun bertekad… gue akan mengikuti kursus gue dengan baik. Apapun yang terjadi, gue akan selalu berusaha datang tepat waktu. Gue akan memanfaatkan waktu luang yang gue punya untuk berlatih lagi dan lagi. Kemudian daripada bengong, lebih baik gue melatih otak gue untuk berhitung tanpa bantuan kalkulator. Gue juga bertekad akan kembali mencari buku-buku matematika anak sekolah untuk mengingat kembali rumus-rumus luas dan volume.

Besok, gue akan memulai hari pertama gue kursus GMAT. Kursus memang tidak jaminan gue akan dapat skor bagus. Sudah dapat skor bagus pun, tidak jaminan gue berhasil mendapatkan beasiswa. Bahkan dengan gelar MBA di tangan pun, belum tentu gue bakal diterima kerja di perusahaan impian… Tapi apapun yang terjadi nanti, malam ini gue kembali merasakan satu hal: rasa bahagia karena gue tahu gue sedang mengejar sesuatu yang berarti dalam hidup gue ini.

Malam ini gue sibuk berceloteh soal kursus GMAT gue ke teman-teman kantor. Soal essay yang sudah gue tulis sejak satu tahun yang lalu, soal masih bingung mau minta referensi sama siapa, soal beasiwa dan cita-cita besar gue… Hanya dengan bercerita, sudah bikin gue ngerasa bahagia.

So here I go again… I tell myself again that I will never ever give up my big dreams. Even if I fail a hundred times, I will try again a hundred times.

Please pray for me yaa, guys. Wish me luck!

Advertisements

2 Responses to "Even if I Fail a Hundred Times…"

Hi Riffa,
Saya juga membuka kursus gmat. Saya lulusan jurusan matematika dari UCLA di USA, specialized di math sectionnya gmat. Lokasi saya di daerah Pantai Indah Kapuk. email me at mathtutornorthjakarta@gmail.com jika riffa ataupun teman riffa berminat. Terimakasih.

Sher. G

Hi Sher,

Ok… thanks untuk infonya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

My Blog Counter

  • 908,110 visits since May 2011

My Blog Categories

My Blog Archives

Click the pictures below to visit my Instagram...

The beauty of diversity. I'm glad that I met them along my career path at Lazada. Just a little help like this could mean everything to me and The Lens Story. Many thanks! ❤️
📷: @thelenstory 👚: @adidaswomen 👕: @nike 
#friends #friendshipgoals #diversity #photography #photooftheday #canon #snapseed #thelenstory Find someone who loves you properly.
The one who never intentionally let you wait for him.
The one who never makes you have to wonder how he truly feels about you.
The one who will definitely catch you and hold you tight as you fall for him.
The one who gives you all he has to be a better man, to fix what goes wrong, to fight for you and to never let you go.
You are too old for another Mr. Wrong, reward yourself with the right one.
Love yourself enough to leave your past, you deserve better.
📷: @thelenstory
💄: @yuficarolin.mua
👗: @calla.atelier
👠: @charleskeithofficial 
#love #life #quote #photography #photooftheday #thelenstory I'm not perfect. I make mistakes. I do the things I'm not proud of. I give up, sometimes. I hurt people, mostly the ones that I actually care about. I have a lot of flaws, but at least, I'm trying hard to be a better person. I'm no saint nor angel, but I'm not a pure evil either. I'm simply a human who is trying to be the very best that I can be. I'll never stop learning, until my very last breath.
📷 @thelenstory
💄 @yuficarolin.mua
👗 @calla.atelier
👠 @charleskeithofficial
#photooftheday #beauty #photography #quote #thelenstory

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

About Me

What my blog is all about? It's all about my life; my very own fairy tale, that I would love to share. This is my story, my ups and downs, it's a journey to remember.

%d bloggers like this: