Have You Been a Ms. Right for Your Future Mr. Right?

Belakangan ini, sejak usia gue mulai melewati seperempat abad, gue semakin sering menemukan teman-teman perempuan yang sudah mulai harap-harap cemas soal pasangan hidupnya. Ada yang jadi rajin ikut aerobic, nge-gym, rajin facial, diet ketat, dengan harapan, tubuh yang ideal akan menarik perhatian cowok-cowok di sekitar mereka. Ada pula yang hobi menyemangati diri dengan follow begitu banyak Twitter Account yang khusus membahas soal jodoh. Dan tentunya, semakin banyak pula teman-teman cewek yang gencar minta dicarikan jodoh oleh teman-teman terdekatnya.

Gue tidak bilang bahwa apa yang mereka lakukan itu salah… Bukan pula berarti gue ingin jomblo selama-lamanya…Gue juga tentunya tidak mau menghabiskan sisa hidup gue tanpa sang Mr. Right. It’s fun to live my life as a single lady, but it’s always merrier when I have someone to share my life with. Jadi pada dasarnya, gue cuma ingin bilang, gue mempunyai pendekatan yang berbeda dengan teman-teman perempuan gue itu.

Lalu apa pendekatan yang gue lakukan dalam rangka cepat-dapat-jodoh? Sebetulnya nyaris tidak ada… Karena yang gue lakukan hanya satu, dan yang hanya satu itu pun, tidak secara khusus gue lakukan semata-mata agar enteng jodoh. Yang gue lakukan itu sifatnya sederhana saja: berusaha memperbaiki diri gue sendiri dulu. Kenapa begitu? Karena gue ingin, saat gue bertemu dengan my Mr. Right, gue sendiri juga sudah siap menjadi the Mrs. Right buat si dia.

Dalam hati kecil, gue mengakui bahwa jika gue bertemu ‘si dia’ sekarang, mungkin, gue masih belum cukup baik untuk dia dan malah akan berakhir patah hati seperti sebelum-sebelumnya. Saat ini, gue masih jadi gue yang mementingkan karier di atas segala-galanya. Gue masih gue yang sulit mengekspresikan perasaan gue yang sebenarnya. Gue masih suka curigaan dan suka mendramatisir keadaan. Gue masih belum cukup sabar, toleransi masih belum cukup tinggi, sehingga dengan besar hati gue menyadari, gue belum bisa menjadi ‘the right one’ for someone out there.

Sejujurnya, kesadaran bahwa I’m not yet good enough itu justru gue dapati saat mengamati teman-teman yang gue sebutkan di awal tulisan ini. Ada beberapa di antara mereka yang menurut gue, bukan diet ketat yang mereka perlukan, melainkan upaya keras untuk berhenti bertingkah kasar di saat sedang marah, kelewat egois, kelewat manja, kelewat demanding, dan masih banyak sifat-sifat jelek lainnya.

Gue tidak bilang bahwa semua orang yang sudah berpasangan itu berarti mereka sudah punya behavior yang sangat baik. Jika semua orang yang sudah married punya sifat yang sudah sempurna, maka tidak akan pernah ada yang namanya perceraian, iya kan? However… I prefer to look at this positively. Setidaknya buat gue, saat Tuhan tidak kunjung mengabulkan doa yang gue panjatkan, selalu terbukti bahwa hal tersebut terjadi semata hanya karena satu hal: gue belum siap untuk menerima anugerah tersebut. And sincerely… I’m okay with that. Gue justru senang jika benar Tuhan tidak asal mengabulkan doa gue tanpa peduli apakah hal itu baik atau buruk untuk kehidupan gue ini…

Selain itu buat gue, sekedar menjadi someone’s girlfriend or someone’s wife saja sama sekali tidak cukup. I want to be a girl who makes him feels like at home everytime he’s right next to me. I want to be a girl who makes his worst days better than before. I want to be his best friend, his best supporter, his best listener, and his best partner in better and worse. I simply want him to feel proud to have me in his life, and I want to be someone whom he says in his prayers, “Thank God for giving her as a part of my life.” And honestly… I am not yet that girl whom I wish I could be.

Nah, sekarang, daripada sibuk bertanya-tanya, “Where is my Mr. Right?” lebih baik, cobalah bertanya dulu kepada diri sendirinya, “Have I been a Ms. Right for my future Mr. Right?”

Sulitnya Menjadi Wanita Karier di Indonesia

Tadi pagi, gue nemuin iklan Pantene Philippine yang di-share dosen gue dulu via Twitter. Iklan berdurasi satu menit yang menyoroti kontrasnya opini masyarakat tentang pria yang sukses dengan karier-nya jika dibandingkan dengan wanita yang juga sukses dengan karier-nya. Nonton iklan ini bener-bener bikin gue merinding! Satu dari sedikit iklan yang bikin gue ngerasa terharu. Kepingin lihat iklannya? Ini link Youtube-nya.

Iklan ini dibuat oleh Pantene Philippine yang bisa jadi mengisyaratkan, hal serupa masih sering terjadi di negara tersebut, sama seperti yang gue rasakan saat berkarier di negara tercinta ini. Berikut ini kerasnya label sosial atas perjalanan karier gue sendiri.

I’m bossy

Pernah ada seorang teman yang membocorkan… ada beberapa orang di kantor yang menganggap gue ini tipe orang yang bossy. Setelah gue cari tahu, ternyata penyebabnya sederhana saja: gue suka ngasih-ngasih tugas yang disertai dengan specific deadline.

Gue kaget bukan karena ada orang lain yang bicara buruk tentang gue. Gue udah bisa terima kenyataan bahwa memang benar, semakin tinggi pohon, semakin kencang angin yang menerpa. Yang bikin gue kaget adalah… kenapa memberikan tugas yang disertai dengan tanggal pengumpulan dikategorikan sebagai sifat bossy? That is my responsibility as their boss.

Padahal gue sudah menyertai semua kalimat gue dengan kata ‘tolong’ dan ‘terima kasih’. Malah terkadang, gue bertanya pada mereka apakah deadline itu doable untuk mereka achieve? Tapi tetap saja… label bossy melekat erat di diri gue. Ironisnya lagi, di kantor jelas-jelas ada bos lain yang suka memerintahkan anak buahnya untuk melakukan hal-hal remeh yang sama sekali tidak berhubungan dengan pekerjaan. Tapi apa komentar orang lain tentang dia? Orang-orang hanya dengan santai merespon, “Ya wajarlah, namanya juga boss.”

Dan… ya… Bos lain yang gue bilang suka memerintahkan hal-hal remeh tetapi tidak dibenci oleh karyawan kantor itu laki-laki, bukan perempuan seperti gue.

Gue sombong dan suka pamer

Ada lagi satu temuan yang pernah bikin gue ngerasa syok: gue sombong dan suka pamer. Lagi-lagi, julukan itu ditujukan ke gue hanya karena hal-hal yang luar biasa sepele. Jadi ceritanya, baru-baru ini, gue mengetahui ada rekan kerja yang tidak suka saat gue bilang begini kepada orang lain, “Oh… iya… saya kerja untuk dua perusahaan. Di Bogor, saya pegang finance and accounting. Kalo di Pluit sini saya cuma pegang Accounting-nya saja.”

Masalahnya… di kantor ada cukup banyak orang, khususnya the new comers, yang suka bertanya, “Jadi kamu itu kerja di Bogor atau Pluit?” Mereka juga suka bertanya-tanya, “Kenapa di Pluit office bisa sampai 3 orang manajer di divisi finance-nya?” Dan kalau jawaban yang gue kutip di atas itu dianggap sombong, jadi seharusnya gue jawab apa gitu?

Menurut teman gue yang berpendapat demikian, statement gue itu kesannya gue ngerasa gue ini yang paling hebat dan paling banyak kerjaannya. Seriously… I’m just speechless. Di kantor, memang hanya gue satu-satunya manajer perempuan yang bekerja untuk 2 company sekaligus. Ada beberapa manajer lain yang juga melakukan hal yang sama, yang juga selalu menjawab pernyataan yang sama jika diajukan pertanyaan yang sama. Pertanyaan gue sekarang, kenapa hanya gue yang dianggap sombong dan suka pamer hanya karena menjawab telah bekerja untuk 2 perusahaan sekaligus?

Perempuan sukses dengan karier-nya = calon perawan tua

Ini dia… label sosial yang paling gue benci soal perempuan yang sukses dengan karier-nya.  Dua tahun yang lalu, saat gue baru saja mendapatkan promotion ke managerial level, bukannya mengucapkan selamat, seorang kerabat malah bilang bilang begini ke nyokap gue, “Hati-hati itu si Riffa… Di kantor gue, cewek-cewek kayak dia biasanya susah dapet jodoh.”

Tentu akan lain cerita kalo gue ini terlahir sebagai laki-laki… Gue yakin, tidak mungkin ada orang yang berpendapat, “Riffa akan jadi perjaka tua karena karier-nya sudah terlalu tinggi buat ukuran laki-laki.”

Gue akui, memang benar bahwa semakin tinggi pencapaian karier perempuan, maka umumnya, semakin tinggi pula ekspektasi kami terhadap si calon Mr. Right. Women tend to want someone who is ‘more’ than us and I think, that is a very normal behavior. Memang tidak semua perempuan sukses menginginkan pasangan yang lebih sukses daripada mereka, tapi kasus pertikaian rumah tangga karena si istri lebih sukses daripada suaminya itu bukan hanya terjadi di sinetron saja. Makanya wajar jika kami menginginkan cowok yang serba lebih, yang pada akhirnya, membuat kami semakin sulit menjatuhkan pilihan.

Dari sudut pandang sebaliknya, ada beberapa teman cowok yang mengakui… mereka cenderung tidak memilih perempuan yang terlihat lebih sukses daripada mereka. Malah, beberapa teman cowok pernah menasehati, “Elo itu kalo di depan cowok yang elo suka, sesekali pura-pura bego aja! Ngalah aja! Jangan kelihatan terlalu pintar.” Lagi-lagi, hal ini udah mempersedikit jumlah pilihan yang gue punya.

Akan tetapi… haruskah gue menjadikan hal itu sebagai alasan untuk berhenti mengejar cita-cita setinggi langitnya gue itu? Definitely no, a big NO. Sama seperti tagline-nya iklan Pantene yang tadi gue share: “Don’t let labels hold you back. Be strong and shine.”

If your career achievements make you feel happy, worthy, and proud for who you are, then never ever let those labels stop you. Don’t let them define you, keep going and be the best that you can be. Always remember: there’s always a price that we’ve got to pay for everything good in life. Those labels maybe are the price those we’ve got to pay for our success… but those exclusive leather handbags totally worth the price right? Hehehehe.