Sulitnya Menjadi Wanita Karier di Indonesia

Tadi pagi, gue nemuin iklan Pantene Philippine yang di-share dosen gue dulu via Twitter. Iklan berdurasi satu menit yang menyoroti kontrasnya opini masyarakat tentang pria yang sukses dengan karier-nya jika dibandingkan dengan wanita yang juga sukses dengan karier-nya. Nonton iklan ini bener-bener bikin gue merinding! Satu dari sedikit iklan yang bikin gue ngerasa terharu. Kepingin lihat iklannya? Ini link Youtube-nya.

Iklan ini dibuat oleh Pantene Philippine yang bisa jadi mengisyaratkan, hal serupa masih sering terjadi di negara tersebut, sama seperti yang gue rasakan saat berkarier di negara tercinta ini. Berikut ini kerasnya label sosial atas perjalanan karier gue sendiri.

I’m bossy

Pernah ada seorang teman yang membocorkan… ada beberapa orang di kantor yang menganggap gue ini tipe orang yang bossy. Setelah gue cari tahu, ternyata penyebabnya sederhana saja: gue suka ngasih-ngasih tugas yang disertai dengan specific deadline.

Gue kaget bukan karena ada orang lain yang bicara buruk tentang gue. Gue udah bisa terima kenyataan bahwa memang benar, semakin tinggi pohon, semakin kencang angin yang menerpa. Yang bikin gue kaget adalah… kenapa memberikan tugas yang disertai dengan tanggal pengumpulan dikategorikan sebagai sifat bossy? That is my responsibility as their boss.

Padahal gue sudah menyertai semua kalimat gue dengan kata ‘tolong’ dan ‘terima kasih’. Malah terkadang, gue bertanya pada mereka apakah deadline itu doable untuk mereka achieve? Tapi tetap saja… label bossy melekat erat di diri gue. Ironisnya lagi, di kantor jelas-jelas ada bos lain yang suka memerintahkan anak buahnya untuk melakukan hal-hal remeh yang sama sekali tidak berhubungan dengan pekerjaan. Tapi apa komentar orang lain tentang dia? Orang-orang hanya dengan santai merespon, “Ya wajarlah, namanya juga boss.”

Dan… ya… Bos lain yang gue bilang suka memerintahkan hal-hal remeh tetapi tidak dibenci oleh karyawan kantor itu laki-laki, bukan perempuan seperti gue.

Gue sombong dan suka pamer

Ada lagi satu temuan yang pernah bikin gue ngerasa syok: gue sombong dan suka pamer. Lagi-lagi, julukan itu ditujukan ke gue hanya karena hal-hal yang luar biasa sepele. Jadi ceritanya, baru-baru ini, gue mengetahui ada rekan kerja yang tidak suka saat gue bilang begini kepada orang lain, “Oh… iya… saya kerja untuk dua perusahaan. Di Bogor, saya pegang finance and accounting. Kalo di Pluit sini saya cuma pegang Accounting-nya saja.”

Masalahnya… di kantor ada cukup banyak orang, khususnya the new comers, yang suka bertanya, “Jadi kamu itu kerja di Bogor atau Pluit?” Mereka juga suka bertanya-tanya, “Kenapa di Pluit office bisa sampai 3 orang manajer di divisi finance-nya?” Dan kalau jawaban yang gue kutip di atas itu dianggap sombong, jadi seharusnya gue jawab apa gitu?

Menurut teman gue yang berpendapat demikian, statement gue itu kesannya gue ngerasa gue ini yang paling hebat dan paling banyak kerjaannya. Seriously… I’m just speechless. Di kantor, memang hanya gue satu-satunya manajer perempuan yang bekerja untuk 2 company sekaligus. Ada beberapa manajer lain yang juga melakukan hal yang sama, yang juga selalu menjawab pernyataan yang sama jika diajukan pertanyaan yang sama. Pertanyaan gue sekarang, kenapa hanya gue yang dianggap sombong dan suka pamer hanya karena menjawab telah bekerja untuk 2 perusahaan sekaligus?

Perempuan sukses dengan karier-nya = calon perawan tua

Ini dia… label sosial yang paling gue benci soal perempuan yang sukses dengan karier-nya.  Dua tahun yang lalu, saat gue baru saja mendapatkan promotion ke managerial level, bukannya mengucapkan selamat, seorang kerabat malah bilang bilang begini ke nyokap gue, “Hati-hati itu si Riffa… Di kantor gue, cewek-cewek kayak dia biasanya susah dapet jodoh.”

Tentu akan lain cerita kalo gue ini terlahir sebagai laki-laki… Gue yakin, tidak mungkin ada orang yang berpendapat, “Riffa akan jadi perjaka tua karena karier-nya sudah terlalu tinggi buat ukuran laki-laki.”

Gue akui, memang benar bahwa semakin tinggi pencapaian karier perempuan, maka umumnya, semakin tinggi pula ekspektasi kami terhadap si calon Mr. Right. Women tend to want someone who is ‘more’ than us and I think, that is a very normal behavior. Memang tidak semua perempuan sukses menginginkan pasangan yang lebih sukses daripada mereka, tapi kasus pertikaian rumah tangga karena si istri lebih sukses daripada suaminya itu bukan hanya terjadi di sinetron saja. Makanya wajar jika kami menginginkan cowok yang serba lebih, yang pada akhirnya, membuat kami semakin sulit menjatuhkan pilihan.

Dari sudut pandang sebaliknya, ada beberapa teman cowok yang mengakui… mereka cenderung tidak memilih perempuan yang terlihat lebih sukses daripada mereka. Malah, beberapa teman cowok pernah menasehati, “Elo itu kalo di depan cowok yang elo suka, sesekali pura-pura bego aja! Ngalah aja! Jangan kelihatan terlalu pintar.” Lagi-lagi, hal ini udah mempersedikit jumlah pilihan yang gue punya.

Akan tetapi… haruskah gue menjadikan hal itu sebagai alasan untuk berhenti mengejar cita-cita setinggi langitnya gue itu? Definitely no, a big NO. Sama seperti tagline-nya iklan Pantene yang tadi gue share: “Don’t let labels hold you back. Be strong and shine.”

If your career achievements make you feel happy, worthy, and proud for who you are, then never ever let those labels stop you. Don’t let them define you, keep going and be the best that you can be. Always remember: there’s always a price that we’ve got to pay for everything good in life. Those labels maybe are the price those we’ve got to pay for our success… but those exclusive leather handbags totally worth the price right? Hehehehe.