You Know You’re Happy With Your Life If You…

You know you’re already happy with your job if you no longer compare it with the previous one, or when finding a new job never crosses your mind again not because you’re afraid to quit, but simply because you know you already have the best one.

You know you’re already happy with your love life when you stop talking about your Ex like all the time, or when you have stopped calling and texting them just because you still feel something is missing or just because you’re afraid that you have lost your best one.

You know you’re already happy with your friendship when you no longer have to try hard just to show off how many friends you already have, or when the warmth of true friendship touches your heart in better and worse.

You know you’re already happy with your families when you sincerely accept them as a part of your life instead of feeling trapped just because you have no other choice other than sticking with them.

You know you’re happy with who you are when you stopped trying to become someone else. You could accept and deal with your flaws, and you sincerely feel grateful for all the good things in you.

You know you’re happy with your choices when you stop constantly asking yourself, “What if I took that other decision?” You will also stop trying so hard just to convince yourself that you have made the right decisions.

You know you’re happy with your achievements when you stopped trying to bring people down just because it looks like they have achieved much more than you do. You will sincerely accept the fact that every people have their own path and their own definition of success.

Finally, you know you’re happy with your life when you could stay strong, stay positive, and stay enjoying your life even when things around you are not always pretty. You know that your life is not perfect but you also know how to deal with it. You no longer wait for perfection to come just be happy with the life you already have.

Happiness will never come to someone who just sits and hopes miracle will come and bring some joys. We have to work very hard just to be happy with our job. We have to push ourselves to become a good person if we want to be surrounded by many good friends. We have to fight and never give up in order to live happily ever after with our soulmates. In a few words, we need to work hard just to be happy.

Life is beautiful, only if you know how to live in it. Wish you have a happy life! 🙂

Kriteria Cowok Idaman Gue

Waktu jamannya masih ABG dulu, gue pernah nulis begini di buku diary gue…

Kriteria cowok idaman:

  1. Ganteng;
  2. Senyumnya manis;
  3. Humoris… harus jago bikin gue ketawa;
  4. Badannya atletis;
  5. Lebih tinggi dari gue;
  6. Perhatian;
  7. Pinter;
  8. Bisa main gitar;
  9. Jago main basket (sumpah deh… kayaknya dulu itu gue kebanyakan nonton FTV, hehehehe);
  10. Ngetop di sekolah… misalnya, pengurus OSIS;
  11. Bisa nyetir mobil;
  12. Sabar; dan
  13. Penyayang binatang, khususnya kucing.

Lalu bagaimana dengan sekarang? Apa kriteria cowok idaman gue sekarang?

Tadinya gue berniat nulis di blog ini tentang kriteria cowok idaman gue setelah beranjak dewasa… Jauh berbeda dengan rangkaian kriteria di atas tentunya, tapi entah kenapa… gue malah bingung mau nulis apa.

Ganteng nggak lagi penting? Tapi mayoritas gue naksirnya sama cowok-cowok ganteng. Lalu soal bentuk badan yang harus atletis… kenyataannya naksir cowok chubby pun gue udah pernah. Soal tinggi badan sih ya pengennya tetep yang lebih tinggi yah, tapi gimana kalo nanti gue malah naksir sama cowok yang enggak lebih tinggi dari gue? Gue juga tetep paling suka sama cowok lucu yang jago bikin gue tertawa lebar, tapi enggak menutup kemungkinan kelak gue malah berjodoh sama cowok cool yang lebih pendiam daripada gue kan?

I finally realized… writing down my dream guy criteria is no longer as easy as it used to be.

Ada banyak pengalaman buruk dengan Mr. Wrongs (Mr. Wrong with ‘s’… karena jumlahnya lebih dari satu, hehe) yang bikin gue merubah pikiran soal kriteria cowok idaman. Some of them already had almost all the things I need from a guy, but our relationship still failed to work. Tapi masalahnya, bukan berarti gue udah nggak kepengen cari cowok yang sama idealnya juga sih…

Nah… see? It’s complicated!

Setelah gue pikir-pikir sejenak… ya, gue memang kesulitan menulis hal-hal yang gue inginkan dari my future Mr. Right. Tapi ternyata, jauh lebih mudah untuk gue menuliskan hal-hal yang tidak akan pernah gue inginkan dari pasangan gue nanti. Sepertinya pengalaman buruk dengan Mr. Wrongs itu udah banyak membuka mata gue soal hal-hal yang sifatnya unacceptable buat gue. Berikut ini daftarnya!

7 things I will never want to have in my future Mr. Right:

  1. He treats me like an option. Gue nggak pernah berhasil menjalani hubungan dengan cowok yang sejak awal sudah terlihat ragu-ragu. Sepertinya buat mereka, gue ini bukan priority, melainkan hanya sekedar option. Ada pula yang jelas-jelas cuma ‘balik’ ke gue di saat dia sedang down, feel lonely, stress, dsb dsb… Finally… I realized this fact: they will always keep an option until finally, they find their own priority out there;
  2. Has a HUGE security issue. Cowok yang kayak gini umumnya punya sifat yang complicated dan menjalani hubungan sama mereka itu jadi cenderung banyak ‘drama’-nya. Bisa dikit-dikit ribut hanya karena hal-hal kecil yang bikin mereka ngerasa terancam;
  3.  Has a too HUGE ego issue. Cowok yang egonya terlalu tinggi cenderung suka menghalalkan berbagai cara untuk memuaskan ego dalam diri mereka. Nggak boleh gue salah dikit, mereka langsung sakit hati dan melampiaskannya dengan malakukan hal-hal yang bisa melambungkan ego mereka setinggi-tingginya;
  4. Easily gives up in his life. What if someday he gives up on me?
  5. Suka bersikap pasrah dalam menjalani hidup. Tipe kayak gini bukan tipe yang gigih mencari solusi, melainkan tipe orang setiap kali ada masalah, mereka cenderung berharap masalah itu akan selesai dengan sendirinya. They are simply not my type of persons;
  6. Terbiasa berbohong dengan mudahnya, bahkan tanpa dipikir terlebih dulu. Gue cuma nggak mau menghabiskan sisa hidup gue dengan selalu berpikir dalam hati, “Ini dia lagi ngomong jujur atau cuma lagi bohong seperti biasanya?”
  7. Tidak mampu memaafkan kesalahan orang lain. Sekuat apapun gue berusaha untuk memperbaiki diri, gue tetap tidak akan pernah bisa menjadi manusia yang sempurna. Kelak pasti ada kalanya, gue menyakiti perasaan orang yang benar-benar gue sayangi. Makanya, lebih baik sejak awal gue cari cowok yang punya sifat pemaaf daripada menjalin hubungan yang hanya akan bertahan seumur jagung.

Nggak munafik, punya cowok ganteng bisa bikin gue ngerasa bangga, tapi… itu nggak jaminan akan bikin gue jadi lebih bahagia. Buat apa ganteng kalo sifatnya lembek, gampang nyerah, dan cuma bisa pasrah sama nasib? Tapi ya itu tadi… bukan berarti gue udah nggak pengen punya pacar ganteng lho ya, hehehehe.

Intinya sih, sama seperti cewek-cewek pada umumnya, setelah dewasa gue jadi lebih wise dalam menilai lawan jenis. Berdasarkan pengalaman pribadi, gue tahu betul bahwa romance relationship dengan cowok yang punya setidaknya 1 dari 7 issues di atas tidak akan pernah berhasil buat gue. Bisa saja berhasil untuk orang lain, tapi tidak untuk gue. If it totally failed in my past, I do believe it will always fail again in nearest future.

Seperti yang pernah gue tulis di sini, penting untuk kita ‘merumuskan’ kriteria cowok idaman di usia 20-an supaya kita tidak malah berakhir dengan cowok yang salah. Nah… sekarang… apa kriteria cowok atau cewek idaman kamu? Just think and write it down in your own book!

Bersahabat dengan Rekan Kerja? Kenapa tidak?

Beberapa waktu yang lalu, seorang sahabat pernah cerita tentang teman-teman lamanya. Dia bilang, “Dulu sih akrab, tapi setelah lulus atau setelah pindah kerja, komunikasi jadi putus.”

Gue lalu berpikir, dan teringat dengan diri gue sendiri. Gue juga pernah mengalami hal yang sama. Makin ke sini, jumlah sahabat dari bangku sekolah malah makin sedikit. Padahal dulu akrab banget, temen curhat, temen hang out, temen haha-hihi dan bergosip ria… tapi sekarang, jangankan bagaimana kabar mereka… mereka kerja di mana, punya pacar namanya siapa, atau sekarang tinggal di mana pun gue udah nggak tau lagi.

Lalu gue juga jadi teringat… setelah bekerja pun hal yang sama kembali terulang. Misalnya sekarang, gue punya sahabat baru di kantor baru yang belum sampai 3 tahun berteman dengan gue. Meski belum sampai 3 tahun, pertemanan gue dengan dia justru lebih erat ketimbang hubungan gue dengan sahabat gue di kantor yang dulu, yang notabene, sudah gue kenal sejak hampir 5 atau 6 tahun yang lalu.

Ujung-ujungnya, gue juga teringat sama sahabat baik gue sejak kuliah dulu. Syukurnya sampai sekarang, gue dan dia masih keep in touch. Dia masih jadi tempat curhat favorit gue, dan hopefully, gue juga masih jadi temen curhat favoritnya dia, hehehe. Meski begitu, gue tahu bahwa di kantornya, dia punya sahabat baru yang sepertinya, lebih akrab dengan dia ketimbang dengan gue yang sudah dia kenal jauh lebih lama.

Nah… sampai sini, gue malah jadi heran. Kenapa justru banyak orang yang bilang bahwa berteman dengan rekan kerja itu mustahil hukumnya? Karena kalo buat gue, bisa jadi, mayoritas teman terdekat kita saat ini adalah teman sekantor kita sendiri. Kenapa begitu?

  1. Untuk maintain friendship, tentu diperlukan kebersamaan. Dengan teman kantor, secara otomatis, kita sering banget menghabiskan waktu bersama dengan mereka. Beda dengan teman-teman lama yang juga sibuk dengan pekerjaannya masing-masing;
  2. Tidak diperlukan appointment untuk having fun dengan teman-teman kantor. We could have fun with them in lunch time, in the pantry, in office outing, office party, etc… Beda sama teman-teman luar kantor yang terkadang, bikin appointment sama mereka bisa jadi lebih susah daripada bikin janji sama Presiden RI…
  3. Biasanya, kerja bareng identik dengan menanggung suka dan duka bersama-sama. Punya satu bos menyebalkan yang sama, sama-sama lembur sampai tengah malam, atau sama-sama membenci satu peraturan kantor yang dinilai unfair. Dan biasanya, berbagi suka-duka ini yang secara otomatis mendekatkan kita dengan orang lain; dan
  4. Punya satu topik (biasanya gosip kantor) yang sama-sama diminati kedua belah pihak. Ngomongin gosip kantor dengan teman SMA tentu terasa kurang greget karena mereka tidak mengenal lingkungan dan orang-orang yang sama dengan kita. Lagi-lagi, tanpa kita sadari, gosip kantor sudah bikin kita jadi lebih akrab dengan rekan kerja.

Makanya kalau menurut gue, rugi banget jika kita lebih memilih untuk jaga jarak dengan teman kantor kita sendiri. Jaga jarak dengan rekan kerja = kehilangan kesempatan untuk mendapatkan sahabat baru. Belum lagi, berteman baik dengan rekan kerja juga bisa membantu pekerjaan kita di kantor lho. Berteman baik dengan atasan akan membuat mereka menaruh kepercayaan lebih kepada kita, hidup kita di kantor juga biasanya akan terasa jadi lebih mudah. Berteman baik dengan bawahan akan membuat mereka lebih tulus dan ikhlas untuk membantu kita. Dan berteman baik dengan rekan kerja lainnya bisa menjadi extra support di saat-saat tersulit kita di kantor. Kemungkinan kita di-backstab juga akan mengecil jika kita bisa berteman baik dengan kompetitor kita sendiri. It sounds great, right?

Memang benar, berteman dengan rekan kerja itu juga ada resikonya, tapi kenapa tidak dicoba dulu? Tidak semua orang akan berubah kurang ajar dan tidak profesional hanya karena merasa sudah akrab… Yang penting satu prinsipnya: jika keakraban kita dengan mereka pada akhirnya malah put us in danger, dan saat kita sudah harus memilih antara pekerjaan atau teman, sebagai seorang yang bekerja secara profesional, kita tetap harus memilih pekerjaan ketimbang teman. Kita tidak boleh membenarkan sesuatu yang salah sehingga sampai merugikan perusahaan hanya karena faktor terlanjur akrab dengan rekan kerja ybs.

So simply be good to your colleagues, because perhaps, they could be a good friend, even a very good friend you’ll ever have along the way.

Buat gue, dalam hidup ini, ada 5 tingkatan dalam pertemanan:

  1. Cuma kenal nama (acquaintance);
  2. Teman (friend);
  3. Teman baik (good friend);
  4. Sahabat (best friend); dan
  5. Sahabat sejati (true friend/BFF – best friends forever).

Banyak orang bisa lanjut sampai tahap ke empat, tapi belum tentu bisa terus bertahan sampai tahap ke lima. Sahabat sejati tidak mengenal usia, tidak mengenal jarak, dan sahabat sejati akan selalu punya waktu untuk satu sama lainnya. Sahabat sejati akan selalu memaafkan, dan sebaliknya, akan selalu memantaskan diri agar layak untuk dimaafkan. True friends are hard to find, and who knows you can find yours in the office?

Satu hal lagi yang membuat gue berpikir kita justru bisa menemukan true friend di kantor adalah karena: jika mereka bisa menyingkirkan faktor uang, jabatan, konflik pekerjaan, dan persaingan hanya untuk menjadi sahabat kita, maka mereka adalah orang yang memang benar-benar layak untuk dijadikan sahabat. Jadi sekali lagi… kenapa tidak dicoba dulu?

5 Quotes Which Changed My Life the Most

Mungkin istilah ‘quotes which changed my life’ terlalu lebay lah yaah. Itu cuma untuk sekedar kasih judul tulisan yang bagus buat blog gue aja sebenernya 😀 Lebih tepat kalo gue bilang, “5 statements those influenced me the most.” But can’t you see? They are not appealing as a blog title, hehehehe.

Berikut ini adalah 5 kalimat yang pernah gue dengar dan terasa berkesan banget kalo buat gue. Lima statement yang bener-bener berpengaruh sama hidup gue banget. Berikut ini daftar lengkapnya!

 

“Jangan terlalu keras sama dirilo sendiri”

Awalnya, gue ngerasa tersinggung dinasehati seperti itu. Masalahnya:

  1. Kalo gue enggak keras sama diri gue sendiri, gue enggak akan jadi apa-apa!
  2. Yang nasehatin gue itu sama sekali bukan teman deket gue di kampus… What did she know about me?

Karena memang benar lho… Kita itu harus keras sama diri kita sendiri. Jangan suka memaklumi kemalasan kita sendiri, memanjakan kekurangan dan kelemahan kita sendiri ketimbang berusaha untuk memperbaikinya, dan tentunya, jangan gampang menyerah dalam menjalani hidup! Jadi apa salahnya bersikap keras terhadap diri sendiri? It has taken me to so many new levels in my life.

Meski begitu, pada akhirnya, entah persisnya sejak kapan, gue mulai menyadari kebenaran dari nasehat teman gue itu. Gue akan tetap keras sama diri gue sendiri, tapi, ada kalanya, gue harus beristirahat sejenak.

Kadang… saat tumpukan pekerjaan sudah terlalu menggila tanpa ada habisnya, saat gue sudah harus menahan emosi sampai suara gue bergetar saking marahnya, saat gue ngerasa capek dan mendadak air mata menetes dengan sendirinya, saat tidur sudah tidak pernah lagi nyenyak dan menyenangkan, gue tahu bahwa sudah saatnya gue taking a break.

Kemudian satu lagi… gue juga jadi menyadari… sekeras apapun gue berusaha, kegagalan pasti akan tetap ada. Lalu saat kegagalan besar itu melanda, sebagai manusia biasa, gue punya hak untuk meratapinya sejenak. No matter how great my life is, there is still one day or two where I only want to do nothing at home. I will stay on my bed all day long, watching boring TV shows and mourning and feeling sorry for myself. Karena kenyataannya, terus-terusan berusaha terlihat kuat tidak pernah membuat beban gue jadi terasa lebih ringan! Tidak ada salahnya membuang satu atau dua hari yang berharga hanya untuk berduka, yang penting setelah itu, gue kembali siap untuk menjalani hidup gue kembali.

Dan setelah gue pikir lagi, bisa jadi… itu dia yang teman gue maksud, “Jangan terlalu keras dengan diri sendiri.”

Now I really thank her for giving me that advice 🙂

 

“Yang paling penting itu bukan gimana caranya meminimalisasi expense, tapi gimana cara memaksimalkan income.”

Yang satu ini sebetulnya bukan nasehat buat gue, tapi salah satu prinsip yang pernah diutarakan salah satu senior gue dulu. Ceritanya waktu itu kita sedang membahas soal pentingnya berhemat di tengah harga kebutuhan pokok yang terus naik, dan begitulah pendapat senior gue itu.

Saat itu gue pikir… iya juga sih. Bukannya gue menentang hidup hemat lho yaa, tapi gue bener-bener ngerasa sengsara banget kalo lagi harus berhemat gila-gilaan :p

Gue ngerasa bersyukur pernah mendengar prinsip senior gue itu tepat di awal karier profesional gue sekitar 5 tahun yang lalu. Punya prinsip kayak gitu bikin gue jadi semangat kerja. Nggak peduli betapa membosankannya pekerjaan gue, betapa menyebalkannya atasan, rekan kerja, atau klien gue gue, pokoknya gue harus tetap bekerja dengan maksimal untuk mendapatkan hasil yang juga maksimal! Gue bahkan punya target… tiap tahun, penghasilan gue harus naik minimal 20%. Hasilnya? Alhamdulilah, penghasilan gue saat ini sudah sekitar 500% melebihi penghasilan gue 5 tahun yang lalu.

Prinsip seperti itu bisa jadi terdengar sombong di telinga orang lain, tapi apa salahnya sih punya pemikiran seperti itu? Nggak ngerugiin siapa-siapa juga kan… Ngejar prinsip seperti ini memang bikin capek, tapi gue banyak belajar bahwa many good things in life are hard to find. Dan meskipun uang itu bukan segala-galanya, tapi tetep aja… hidup bakal jadi luar biasa susah kalo lagi nggak punya uang… Mengutip salah satu quote yang cukup populer di kalangan social media, “Money can’t buy happiness, but it’s more comfortable to cry in a Mercedes than on a bicycle.” 😀

Always try, always fight, before you quit and give it up

Beberapa waktu yang lalu, gue nemuin quote ini di Path: “Before you act, listen. Before you react, think. Before you spend, earn. Before you criticize, wait. Before you pray, forgive. Before you quit, try.” – William Arthur.

Satu kalimat terakhir itulah yang kemudian seperti jadi jawaban atas berbagai pertanyaan dalam benak gue sendiri.

“Sampe kapan gue harus ngejar cita-cita gue yang setinggi langit itu?”

“Harus gue apain sahabat gue yang mulai bertingkah menyebalkan setengah mati itu?”

“Gue harus stay atau resign dari pekerjaan gue yang sekarang?”

Dan jawaban dari semua pertanyaan itu hanya satu: “Before I quit, try.”

Pemikiran kayak gitu bikin gue jadi lebih yakin untuk tetap memperjuangkan sesuatu, dan… bikin gue jadi lebih yakin saat sudah harus merelakan sesuatu untuk pergi dari hidup gue. Setidaknya, gue sudah berusaha sekeras yang gue bisa, bahkan terkadang, gue berusaha sampai melebihi batas kemampuan gue sendiri. Jika gue sudah sampai berusaha sekeras itu dan tetap tidak berhasil, serta jika mempertahankan lebih banyak kerugian ketimbang manfaatnya, maka gue akan tahu dengan sendirinya… sudah waktunya untuk gue letting go. Only by doing this I could let go with no future regrets, at all.

“Live your life forgivingly, but if it’s too painful to hang on, let go”

Kalo yang satu ini asli quote bikinan gue sendiri. Berawal dari penyesalan gue karena udah ninggalin begitu banyak teman baik di waktu yang lalu, gue jadi sadar… gue harus belajar memaafkan. Karena kenyataannya, siapapun orangnya, dan sebaik apapun kepribadian mereka, akan tetap ada kalanya mereka menyakiti perasaan gue sebegitu dalamnya. Jika gue tidak pernah mau memaafkan, bisa-bisa gue cuma hidup sendirian!

Meski begitu, ada pula beberapa orang yang bikin gue merasa bersyukur sudah merelakan mereka dari hdiup gue. Hidup gue jadi terasa lebih baik dalam artian yang sebenarnya. Ada orang-orang yang entah kenapa, setelah dewasa berubah menjadi orang yang sangat sinis, atau cenderung membawa banyak pengaruh buruk buat gue. Selalu mengatakan hal buruk tentang gue sepanjang waktu, tidak suka melihat gue bahagia, terlalu sering berbohong lagi dan lagi, atau tidak pernah mau menyisihkan waktunya buat gue. Jika sudah sampai seperti itu, buat apa gue pertahankan?

Intinya sih, gue harus tahu kapan waktunya harus memaafkan, serta kapan waktunya harus merelakan. Tadinya gue pikir, hanya merelakan saja yang bisa bikin hidup gue terasa lebih mudah, tapi ternyata, mau memaafkan juga udah bikin hidup gue jadi terasa jauh lebih mudah. Gue jadi punya sahabat-sahabat yang tidak terduga, hidup gue jadi lebih damai, dan hati gue jadi lebih sedikit dipenuhi dengan amarah. Tapi jika memaafkan sama saja dengan memberikan kesempatan untuk mereka secara konstan menyakiti perasaan gue lagi dan lagi, maka ya sudahlah… diikhlaskan saja. Ikhlaskan, lepaskan, dan jangan pernah ada rasa dendam. Bahkan saat melepaskan pun, harus dilakukan dengan penuh maaf!

Oh ya, mau tahu kunci untuk bisa memaafkan dengan mudah? Gampang aja, kuncinya adalah: saat sedang sangat marah, cobalah untuk mengingat-ingat kebaikan mereka pada kita! Jangan dulu berkomunikasi dengan mereka saat hati sedang panas-panasnya, kemudian saat hati sudah mendingin, barulah dicari solusi supaya masalah yang sama tidak terulang lagi. Bagaimanapun, memaafkan itu memang tidaklah mudah, jadi sebaiknya, carilah solusi supaya tidak perlu sering-sering berhadapan dengan keadaan di mana kita harus berusaha keras untuk memaafkan.

“Bukan perkataan orang lain, dan bukan tindakan orang lain yang menyakiti perasaan kita, melainkan diri kita sendiri.”

Ucapan training manager di kantor gue yang satu ini emang bener banget deh. Tidak selalu berhasil memang, apalagi buat gue yang termasuk tipe orang yang sangat sensitif. Tapi setidaknya, prinsip ini udah beberapa kali menenangkan emosi gue di saat nyaris meledak karena mendengar perkataan atau tindakan orang lain yang menyakiti perasaan gue. Frekuensi marah-marah gue juga jadi berkurang sedikit demi sedikit. Lagi-lagi, gue jadi punya sesuatu yang bikin hidup gue terasa lebih damai, lebih mudah, dan lebih menyenangkan!

30 Things to Do Before 30 – The 2013 Check List!

Awal tahun 2013, gue sempat menulis blog ini. Sebagai lanjutan dari tulisan tersebut, mulai tahun ini, tiap kali hari ulang tahun gue baru saja berlalu, gue akan kembali update di blog ini, things to do apa saja yang sudah berhasil gue penuhi, serta apa saja yang masih belum terealisasi. Gue harap, hal ini akan menjadi reminder untuk gue supaya gue tetap fokus mengejar hal-hal yang ingin gue wujudkan sebelum usia 30.

Nah, berhubung ulang tahun gue yang ke 27 baru saja berlalu, berikut ini update untuk tahun 2013.

Sudah terealisasi di usia 26

  1. Ganti facial care gue jadi Clinique semua, dan body care jadi L’occitane semua. Hasilnya? Kulit gue jadi terasa lembuuuut banget. It’s really worth every penny for me;
  2. Traveling sendirian ke luar negeri. Hal ini ternyata salah satu wish yang cukup berat untuk diwujudkan. Malam hari sebelum pergi ke Bangkok sendirian, gue sempet nervous… Gue sampe mikir, “Apa gue batal pergi aja yah? Gue pake cutinya buat istirahat di rumah…” Tapi syukurlah, gue tetep pergi meskipun sendiri. Dan hasilnya? It was one of the best trips in my life! I’ll write more about this later;
  3. Beli mobil pertama. Dan senengnya lagi, mobil yang gue beli persis banget mobil yang kepengen gue punya sejak bertahun-tahun yang lalu. Hanya saja sayangnya, gue masih belum berani berlama-lama nyetir sendiri, hehehe;
  4. Tidur di hotel bintang 5 saat menginap di luar negeri. Ini nggak tanggung-tanggung, tahun ini gue mewujudkan keinginan ini sampe dua kali! Awalnya gara-gara nginep di hotel bintang 5 Bangkok, pas ke Singapur beberapa bulan kemudian, gue jadi ketagihan! The comfort is just priceless;
  5. Berbaikan dengan sahabat-sahabat lama yang pernah gue tinggalkan. Memang tidak semuanya, tapi at least, gue udah berbaikan dengan salah satu sahabat terbaik gue 🙂

Masih belum terealisasi

  1. Pergi ke dokter ahli gizi supaya naik berat badan minimal 10 kg. Sibuk kerja bikin gue lupa sama niat yang ini, hehehe. Tahun depan aja gue mulainya 😀
  2. Lihat bunga sakura bermekaran di Jepang. Ini juga insyaallah pergi tahun depan… Udah beli tiketnya, dan kalau semuanya lancar, gue akan pergi ke Jepang bulan Mei 2014!
  3. Mulai investasi reksadana atau logam mulia. Rencananya, selisih kenaikan gaji awal tahun depan akan gue investasikan ke reksadana;
  4. Berani nyetir mobil sendiri. Sekarang gue udah berani nyetir sendiri sih… Tapi masih di jalur yang sama, itupun cuma sebentar dan harus ada yang nemenin di sebelah gue 😀 Semoga tahun depan udah lancar;
  5. Nonton konser penyanyi luar negeri. Kalo ini sih, belum gue wujudkan karena emang tahun ini belum ada penyanyi favorit gue yang ngadain konser di Indonesia;
  6. Tinggal di apartemen pribadi… Rencananya, akhir tahun depan apartemen gue udah rampung. Doakan lancar yaa!
  7. Pelihara kucing Persia asli. Ini gue wujudkan nanti aja kalo udah punya apartemen sendiri;
  8. Duduk di business class saat bepergian dengan pesawat. Kalo ini sih, bisa gue wujudkan kapan aja gue pengen sebenernya. Cuma belum ada waktu yang cocok aja;
  9. Liburan keliling Eropa… Pengennya pergi tahun depan, tapi jatah cuti tahun depan udah abis buat Japan trip plus lebaran… hiiks. Karena 2015 pengen umrah dulu, si Eropa ini baru terealisasi tahun 2016 sepertinya;
  10. Punya 1 tas Louis Vuitton, beli langsung di Paris. Otomatis ini harus nunggu gue traveling ke Paris dulu;
  11. Lihat salju. Ini agak susah sebenernya… secara kalo lagi musim salju, kerjaan gue di kantor sedang sibuk-sibuknya!
  12. Terbitkan novel perdana. Ini sudah 50% rampung, semoga bisa selesai tahun depan;
  13. Membukukan tulisan-tulisan terbaik di blog gue. Ini bakal jadi proyek gue setelah novel perdana selesai;
  14. Membawa novel gue ke layar lebar… Such a big dream right? Hehehehe;
  15. Tampil di cover majalah atau tabloid Ibu Kota, huahahaha, masih serius loh ini;
  16. Naikin GMAT score, kalo perlu ikutan kursus. Insyaallah gue mulai kursus pertengahan Januari 2014;
  17. Coba apply beasiswa S2 ke luar negeri… sekali lagi. Gue udah siapin essay untuk apply Fulbright scholarship. Doakan yaa!
  18. Ambil minimal satu gelar profesi. Misal beasiswa gue tahun depan gagal lagi, gue pengen langsung ambil PPAK. Gue cuma nggak pengen jalan di tempat aja gitu;
  19. Mendapatkan pekerjaan di salah satu kantor impian;
  20. Mulai merintis bisnis kecil-kecilan;
  21. Ngerasain berlibur naik kapal pesiar. Sekarang gue agak ragu sama yang ini… Soalnya, bos gue baru aja bilang, cruise trip itu penuh banget sama penjudi! Hmmm…
  22. Umrah, trus lanjut ke Dubai nyobain naik unta, plus ke Mesir lihat pyramid. Rencananya sih, mau pergi bareng keluarga tahun 2015 nanti;
  23. Menghampiri mantan gebetan dan bertanya, “What was that between us?”. Kalo yang ini, bukannya gue belum berani, tapi belum dapet chance-nya aja;
  24. Meet my Mr. Right. Ini sih entah kapan deh, hehehehe; dan
  25. Merayakan ultah gue yang ke 30… ngundang teman-teman dekat dari jaman SD sampai kerja.

Semoga tahun 2014 nanti, akan lebih banyak yang bisa terwujud. Keep fighting!

I’m 27 and Single, but I’m Not Worried

Sampai beberapa bulan yang lalu, gue paling sebal tiap kali ada orang lain yang bertanya, “Kapan married?” Jika yang bertanya adalah teman yang sudah merit, dalam hati gue berpikir, “Jadi elo pikir gue ngiri sama elo gitu?” Kemudian jika yang bertanya itu sendirinya juga belum merit, gue berpikiran, “I’m not yet married but I’m not a desperate single like you.”

Sounds harsh? Yes indeed… Gue sampe pernah menulis blog yang satu ini.

Satu bulan yang lalu, pada saat soft-skill training di kantor, ada satu quote keren yang diucapkan oleh trainer-nya. “Bukan perkataan orang lain, dan bukan tindakan orang lain yang menyakiti perasaan kita, melainkan diri kita sendiri.”

Dari situ gue belajar… Bisa jadi, orang lain tidak berniat menyakiti perasaan gue, tapi cara gue yang menanggapinya dengan penuh emosi lah yang kemudian menyakiti perasaan gue sendiri. Dalam tingkatan yang lebih tinggi, sebetulnya kita itu bisa lho, tidak ambil pusing omongan orang yang memang berniat menyakiti kita. Jika kita tidak ambil hati, maka kita tidak akan sakit hati!

Kebenaran dari teori itu sangat gue rasakan manfaatnya di hari ulang tahun gue yang ke 27 yang baru saja berlalu itu. Biasanya, gue paling sebal dengan ucapan “semoga cepat ketemu jodoh” yang diucapkan teman dan keluarga. Who says that finally getting married is my biggest wish? Bener-bener tipe birthday wish yang sedikit ngerusak kebahagiaan di hari ultah gue banget deh. Tapi ternyata tahun ini, ucapan yang sama tidak lagi membuat gue ngerasa jengkel. Sekarang gue hanya menanggapinya dengan pemikiran, “Ah… itu kan memang standard wishes-nya orang Indonesia!”

Gue tahu tetap ada orang-orang di luar sana yang sengaja menjadikan masalah jodoh sebagai alat untuk membuat gue ngerasa incomplete, tapi kalo dipikir lagi… why should I let a douche bag ruin my good day? Stay calm and enjoy my life is the best revenge for them after all 😀 Malah sebetulnya gue tersanjung… kalo ada orang yang sampe sebegitu ngototnya berusaha cari celah buat bikin gue unhappy, pastilah di mata mereka, hidup gue ini udah awesome banget, hehehehe. Jadi bener deh… pola pikir seperti ini udah bikin hidup gue terasa lebih damai daripada sebelumnya.

Finally… frankly, the thing is… I just never find a married couple which makes me want to be married like them.

Saat lihat ada teman yang ambil S2 di luar negeri, gue akui gue ngerasa iri. Gue juga pengen kuliah di kampus ternama di luar negeri.

Saat lihat teman yang berfoto di depan Eiffel, gue jadi nggak sabar pengen cepet-cepet pergi ke Paris, Venice, Roma, dan Santorini.

Saat baca sederetan tweet-nya Raditya Dika, gue jadi kepingin bisa nerbitin buku yang disukai oleh banyak orang seperti dia.

Dan saat berkumpul di tengah orang-orang yang sudah berada di puncak karier-nya, gue selalu bertekad di dalam hati, “Kelak… gue juga harus bisa seperti mereka!”

But honestly… I just never feel the same way about marriage. I still have so many wishes, and at least until today, marriage is not yet any of them.

Melebihi tahun-tahun sebelumnya, ulang tahun kali ini bikin gue sangat-sangat mensyukuri perjalanan hidup gue selama 27 tahun ini. Gue bersyukur dengan mimpi-mimpi yang mulai tercapai satu per satu. Bersyukur karena gue tidak pernah menyerah untuk mengejar impian. Bersyukur karena gue sudah tumbuh dewasa menjadi pribadi yang gue inginkan. Bersyukur karena gue tidak pernah lelah berusaha untuk memperbaiki diri gue sendiri. Bersyukur untuk teman dan sahabat yang gue punya. Dan bersyukur gue selalu bisa bertahan pada apapun yang terjadi dalam hidup gue, dan bersyukur karena pada akhirnya… gue selalu bisa menemukan kebahagiaan di tengah ketidaksempurnaan.

I’m 27 and I’m still single… but I am okay with that, and I am not worried about it, at all. I’m so blessed and I can’t be more grateful for all I have.

Happy birthday to me! 🙂