Berdebat Panjang Lebar… Haruskah?

Gue baru aja nemuin quote keren dari seorang teman Facebook. Begini isi quote-nya:

Pick your battles. You don’t have to show up at every argument you’re invited to – Mandy Hale.

Quote itu mengingatkan gue dengan beberapa orang teman yang seneng banget mendebat semua yang gue katakan, sampai hal-hal terkecil sekalipun. Gue suka musiknya Britney Spears, dia bilang lebih bagusan Christina Aguilera soalnya bla bla bla. Gue pengen apply beasiswa ke Australia, dia bilang pendidikan di Aussie itu jelek karena bla bla bla. Pokoknya apapun yang gue suka, mereka enggak suka. Dan apapun yang gue approve, mereka akan selalu disapprove. Padahal faktanya:

  1. Argumentasi mereka belum tentu disertai dengan fakta; dan
  2. Tidak ada siapa yang benar dan siapa yang salah dalam hal selera. Apa yang bagus menurut gue tidak harus bagus pula menurut orang lain.

Nggak lama kemudian, saat gue sedang asyik main Pinterest, gue nemuin satu quote keren lainnya, yang ternyata, quote itu datangnya dari Mandy Hale juga. Begini isinya:

The less you respond to rude, critical, argumentative people… the more peaceful your life will become – Mandy Hale.

Gue pikir ada benarnya juga sih… Gue cukup sering jadi mendadak emosional hanya gara-gara perdebatan enggak penting, perdebatan berkepanjangan, dan perdebatan yang sebenarnya cuma atas nama gengsi si pendebat saja. Kadang saat gue udah terbukti benar pun, mereka akan tetep ngotot setengah mati. Ada pula yang sampe ngarang-ngarang fakta ala mereka sendiri. Padahal kalo dipikir lagi… apa sih, manfaatnya buat gue?

Kemudian… the most shocking part is… sepertinya, gue sendiri pun terkenal sebagai orang yang critical dan argumentative. Gue terkenal sebagai orang yang nggak mau kalah dan selalu memperjuangkan apa yang gue yakini kebenarannya. Dan gue juga jadi ingat… gue sampe pernah mempertanyakan kesahihan (keaslian) dari sebuah hadits yang isinya:

Rasulullah bersabda, “Aku menjamin sebuah rumah di dasar surga bagi siapa saja yang meninggalkan debat berkepanjangan meskipun dia berada dalam pihak yang benar.”

Saat itu gue berpikir… apa salahnya berdebat panjang? Bukankah terkadang memang tidak mudah untuk menyamakan pendapat dengan banyak orang? Dan tentunya, memperjuangkan argumentasi itu bisa butuh waktu yang relatif lebih lama sampai akhirnya gue memenangkan perdebatan itu, iya kan?

Tapi sekarang gue sadar… bahwa pada intinya, tidak ada yang salah dengan perdebatan, atau brainstorming, asalkan ada manfaatnya dan tidak memakan waktu yang berkepajangan. Tidak pula mengada-ada, tidak pula dengan terlalu memojokkan pihak lawannya. Tidak perlu pula gue selalu meladeni argumentasi yang dilontarkan semua orang. Seperti kata si Mandy Hale, we have to pick our battle. Kalau boleh gue tambahkan, pick our battle and don’t waste our energy on arguing something which is not worth our valuable time.

Konkretnya, mulai saat ini gue bertekad…

  1. Terlalu lama memperdebatkan mana film terbaik di tahun 2013 itu useless… Menang dari perdebatan macam ini sama sekali enggak ada untungnya buat gue. Diskusi buat seru-seruan boleh aja, tapi nggak perlu sampe saling ngotot;
  2. Gue enggak usah mendebat saat teman gue cerita tentang betapa sukanya dia dengan lagu barunya Linkin Park… Buat gue, lagu mereka itu berisik, tapi bukan berarti teman gue juga harus berpendapat yang sama…
  3. Untuk urusan pekerjaan, gunakan fakta, bukan opini semata. Jika fakta yang ada masih terus saja diperdebatkan, solusinya cuma satu: lakukan voting atau elevate to higher management. Berlama-lama debat kusir nggak akan pernah mendatangkan solusi; dan
  4. Betul kata Mandy Hale… supaya hidup lebih tentram, gue enggak usah meladeni semua argumentasi yang datang kepada gue.

Sebetulnya kalau gue ingat-ingat lagi, sejak gue tahu soal hadits yang tadi gue kutip itu, gue udah sedikit mengurangi perdebatan panjang yang enggak bermanfaat sih. Gue pernah berhenti menimpali soal social media mana yang paling keren, gue bahkan pernah dengan tegas menegur seorang teman yang terlalu sering mengkritik segala hal yang gue punya. Capek aja gitu meladeni semua perdebatan nggak penting yang dia lontarkan soal hidup gue sendiri. Dalam urusan pekerjaan pun, gue tidak lagi suka buang-buang waktu meributkan sesuatu yang tidak penting. Fokus gue bukan lagi pendapat gue harus menang, melainkan apa solusi yang terbaik untuk perusahaan tempat gue bekerja?

Hasilnya, ternyata memang benar… meninggalkan debat kusir itu banyak manfaatnya, dan meninggalkan teman yang terlalu suka mengkritik juga bikin hidup gue jadi lebih bahagia. Secara yaaah, orang-orang yang kelewat suka mengkritik segala hal dalam hidup gue itu sebetulnya cuma suka ngerusak kebahagiaan orang lain aja. Mereka enggak seneng dengan hal-hal baik dan menyenangkan dalam hidup gue sehingga mereka berusaha cari celah untuk bikin gue jadi kecil hati. So be careful!

Life is too short to be wasted on useless debates, so be smart! It’s okay to fight for what we believe is right, but do find a smart way to bring it. Even if we finally lose the arguments, then that’s okay too. Lose one argumentation doesn’t turn us to be a loser. I even believe… the first person who leaves a long useless debate is the true winner among them.

When I Miss My Old Friends

True friends Tadi malam, gue menghabiskan waktu berjam-jam untuk membaca ulang kumpulan tulisan lama dalam blog gue sendiri. Serangkaian tulisan yang mengingatkan gue dengan betapa menyenangkannya masa-masa yang sudah lalu itu. Tulisan yang bikin gue sadar… ada banyak orang dalam tulisan itu, yang sudah tidak lagi menemani keseharian gue beberapa tahun belakangan ini.

It seems like in the past two or three years, so many huge disappointments hit me over and over again. Banyak hal terjadi yang bikin gue jadi kehilangan kepercayaan sama beberapa orang teman yang sebetulnya, cukup berarti dalam hidup gue. Mulai dari teman-teman dari bangku sekolah sampai dengan teman-teman seperjuangan di EY dulu. Kejadiannya bermacam-macam, kesamaannya, gue selalu berakhir dengan pemikiran, “I have a new life, and I’m okay with losing them if they are not worth keeping like this.

Ada beberapa teman yang memang sebaiknya gue lupakan, secara mereka juga udah lupa gitu aja sama gue, atau karena apa yang sudah mereka lakukan benar-benar unacceptable buat gue, tapi ada juga beberapa orang yang setelah gue pikir-pikir lagi, mungkin dulu… sikap gue terlalu berlebihan. Ada pula dua atau tiga orang yang gue harap, keadaannya bisa sedikit berbeda supaya gue bisa tetap berteman baik dengan mereka semua.

Gue pernah ninggalin sahabat gue begitu saja hanya karena merasa sudah dibohongi. Tapi belakangan gue menyadari… siapa sih, yang tidak pernah berbohong sama sekali? Honest person is hard to find and if I insist about this, perhaps I will only end up all alone.

Gue juga pernah jadi kehilangan teman justru karena traveling bareng. Kejadian tidak menyenangkan selama perjalanan bikin gue jadi ngerasa malas keep in touch dengan mereja. Tapi kemudian gue berpikir… kenapa gue ngebiarin satu trip yang hanya berlangsung selama beberapa hari itu merusak pertemanan yang sudah berlangsung bertahun-tahun lamanya? Gue sendiri bukan travel partner yang sempurna, jadi kenapa gue harus menyalahkan mereka sepenuhnya atas trip yang gue anggap tidak menyenangkan itu?

Ada pula teman cowok yang dulu banyak mewarnai keseharian gue. Kadang, gue kangen sama obrolan ngalor-ngidul kita, sama acara curhat-curhatan kita, bahkan… gue kangen dengan lelucon konyol yang dulu seringkali gue bilang tidak kreatif karena isi leluconnya selalu itu lagi dan lagi. Gue sering berharap, seandainya dulu gue dan dia nggak pernah iseng-iseng flirting, mungkin, gue dan dia masih bisa berteman baik sampai saat ini.

Ada satu lagi teman cowok yang sebetulnya sampai sekarang pun, gue enggak ngerti apa yang salah antara gue dan dia. Mungkin gue yang salah sangka, mungkin emang dia-nya aja yang enggak jelas apa maunya, tapi kalo mengingat hari-hari yang pernah gue lewatin bareng dia, apalagi kalo mengingat betapa baiknya dia dulu sama gue, gue jadi berharap seharusnya, gue jangan pernah menganggap dia lebih dari sekedar teman. Someday I want to be friends with him again, but it’s just not now.

Yang paling ironis, gue juga kehilangan teman baik karena urusan pekerjaan. Rasa kecewa karena service yang gue anggap tidak memadai membuat gue seperti harus memilih antara teman atau pekerjaan. Kalau gue pilih teman, ya sudah, harusnya gue biarkan saja report gue selesai ala kadarnya. Tapi jelas gue harus memilih pekerjaan… gue harus bisa bersikap tegas. Hanya saja masalahnya, saat itu gue bersikap kelewat tegas sehingga ujung-ujungnya, gue jadi kehilangan teman.

Memang benar bahwa dalam hidup ini, kita tidak boleh takut kehilangan orang-orang yang tidak patut dipertahankan. Tapi sekarang gue sadar… kadang-kadang, gue menjadikan hal itu excuse untuk lari dari masalah. Gue lebih memilih untuk back-off ketimbang harus repot-repot memperbaiki hal-hal yang harus diperbaiki untuk bisa mempertahankan pertemanan gue dengan mereka. Bahkan parahnya… saat mereka ingin berbaikan pun, gue tetap lebih memilih untuk menjaga jarak hanya karena takut konflik yang sama akan terulang lagi! And honestly… now I regret that decision and start to hope that I can make it right.

Tadinya gue pikir, yang sudah berlalu ya biarkan saja berlalu. Lebih baik gue fokus dengan teman-teman baru yang gue punya, atau dengan sahabat-sahabat lama yang masih setia menemani. Tapi setelah baca kumpulan tulisan gue bertahun-tahun yang lalu itu, gue jadi sadar… hidup gue akan lebih menyenangkan seandainya gue masih punya mereka untuk berbagi cerita, untuk menghabiskan waktu di akhir pekan, atau untuk sekedar chatting ngalor-ngidul seperti dulu… Kalau dipikir sekarang, aneh rasanya gue bisa nggak tahu apa kabar mereka, begitu pula sebaliknya, aneh rasanya kalau mereka tidak lagi tahu hal-hal besar yang terjadi sama hidup gue…

Sorry FriendsBanyak yang bilang, true friends will always find a way back to each other. Dan emang bener sih… kalo pada dasarnya sudah bersahabat erat banget, pasti akan selalu ada cara untuk berbaikan kembali. Tapi ya gue nggak tau juga… siapa yang bisa balik lagi kayak dulu, serta siapa yang hanya tinggal kenangan… I’ve tried to make-up with some of them, and frankly… I intentionally write this on my blog just to let them know how much I miss them.

Maybe we can be friends like we used to be, but if we can’t, I simply want to say… thank you for the memories and I’m so sorry for all the mistakes I’ve done. If it’s true that everything in life has its own price, then maybe losing you as friends was the price I’ve got to pay for my learning process to be a grown up. Yet again… it would be nice to have you back in my life. Whatever it will be, I sincerely wish you all a wonderful life  🙂

Serba-serbi Gengsi

Pernah dengar tentang cewek yang dikejar-kejar hutang kartu kredit karena ngotot beli Louis Vuitton asli hanya supaya kelihatan keren di depan teman-temannya?

Ada pula orang yang ngotot kalo traveling harus naik SQ, nginepnya harus di hotel bintang 5, lalu sepulang liburan… limit kartu kredit langsung mentok dan baru lunas 3 bulan kemudian.

Lalu ada lagi cowok yang menjauhi gebetannya karena setelah dipikir-pikir, dia enggak mau punya pacar yang agak gemuk, atau yang kulitnya gelap, atau kurang cakep. Kalo kata dia sih, kurang keren buat dijadiin gandengan ke kondangan. Atau alasan populer lainnya: malu sama mantan pacar kalo si pacar baru enggak lebih ok daripada si mantan.

Yang paling ironis, kisah pencari kerja yang cuma mau kerja di perusahaan besar yang terkenal. Buat dia, percuma gaji besar dan prospek karier-nya bagus jika perusahaannya itu nggak ada yang kenal. Alhasil, jadi pengangguran berbulan-bulan.

Apa kesamaan dari empat orang itu? Gengsi. Mereka tipe orang yang menempatkan gengsi di atas segala-galanya.

Sampai beberapa waktu yang lalu, gue sendiri tipe orang yang sangat mementingkan gengsi. Gue gengsi kalo cuma beli Avanza, gue mulai ngefans sama tas kulit asli, merk kosmetik, facial dan body care hanya beli yang sekelas MAC, Lancome, Clinique, L’occitane, atau minimal The Body Shop. Sampai suatu hari, gue baca berita tentang Oprah Winfrey.

Siapa yang nggak kenal Oprah Winfrey? Sukses dan terkenal sebagai salah satu wanita paling kaya di dunia. Mungkin kita mengira, kalau sudah sekaya dia, semua orang akan respek. Nggak akan ada SPG yang memandang kita sebelah mata, nggak akan ada teman yang ogah bergaul sama kita hanya karena dianggap kurang kaya, nggak akan ada orang kaya yang sok dan menghina kita yang masih hidup serba pas-pasan ini…

Tapi kenyataannya… apa iya orang yang paling kaya sedunia itu akan selalu mendapatkan perlakuan istimewa? Dan apa iya… dengan segala hal yang bergengsi, kita akan lantas merasa nyaman dan puas dengan diri kita sendiri?

Balik lagi ke Oprah Winfrey, isi berita yang gue maksud itu memuat curhatan Oprah tentang perlakuan tidak hormat seorang SPG kepada dirinya di sebuah toko tas mewah di Zurich. Menurut Oprah, saat dia minta diambilkan sebuah tas kulit buaya asli, SPG itu malah menjawab, “Terlalu mahal untukmu!” Hal itu membuat Oprah merasa dilecehkan hanya karena dia berkulit hitam.

Pemilik toko tas kemudian membantah pernyataan Oprah tersebut. Dia bilang, karyawannya sudah melayani Oprah dengan baik dan bahkan sudah menunjukkan semua tas yang ada di toko itu kepadanya. Hanya saja memang, saat Oprah minta diambilkan tas kulit buaya yang super mahal itu, sang SPG malah berinisiatif menunjukkan tas lain yang mirip namun dengan harga yang lebih murah.

Bisa jadi Oprah yang benar, bisa jadi pula pernyataan sang pemilik toko yang lebih benar. Yang manapun itu, gue jadi belajar dua hal:

  1. Jika memang benar Oprah dilecehkan oleh si SPG, itu artinya… tidak peduli seberapa kayanya kita, tidak peduli seberapa terlihat kayanya kita ini (baju bagus, make-up sempurna, tas dan sepatu mengkilat, perhiasan mewah plus jam tangan mahal), hal itu tetap tidak menjadi jaminan bahwa kita tidak akan pernah diperlakukan tidak hormat oleh orang lain; atau
  2. Jika memang benar bahwa sebetulnya, Oprah hanya salah sangka, itu artinya… tidak peduli seberapa banyak kekayaan yang kita miliki, hal itu tidak menjamin kita akan bebas dari rasa insecurity. Bisa jadi, dalam hati kecilnya, Oprah masih merasa minder dengan kulit hitamnya, sehingga salah paham yang terkecil sekalipun bisa memicu amarah dalam dirinya.

Sebetulnya, sudah sejak dulu gue memahami bahwa gengsi sering dijadikan tameng oleh orang-orang yang merasa insecure dengan dirinya sendiri. Dia merasa dirinya belum cukup keren jika belum punya ini-itu. Dia merasa dirinya belum cukup jantan kalau belum menggandeng perempuan cantik dan berpostur sempurna. Dan dia merasa haus akan kekaguman orang lain, dia tidak merasa percaya diri, dia takut dipandang sebelah mata, atau bisa juga, takut akan dikucilkan, sehingga ujung-ujungnya, mereka rela melakukan apa saja, rela mengorbankan apa saja, hanya demi menyembunyikan rasa takutnya itu.

Bedanya, kini gue menyadari… berkaca dari cerita Oprah tersebut, bahwa kenyataannya, gengsi bukan segala-galanya, dan gengsi juga tidak menjamin segala-galanya.

Buat apa punya tas mahal kalau kita sampai takut mendengar telepon masuk, terutama jika telepon dari nomor tidak dikenal, hanya karena kita takut telepon itu datang dari debt collector?

Buat apa punya pacar keren kalau dalam hati, kita terus terkenang sama mantan pacar atau gebetan yang kita tinggalkan hanya karena dia kurang bisa kita pamerkan?

Dan buat apa memaksakan diri kerja di perusahaan bergengsi meskipun sebetulnya kita benci setengah mati dengan pekerjaan kita di tempat itu?

Look at Oprah… semua yang dia pakai sudah serba mahal, karier juga sudah sukses setengah mati, tapi tetap saja ada kalanya, hal-hal tidak menyenangkan masih bisa terjadi seolah semua yang dia punya itu belum cukup bergengsi.

Saat gue sharing pendapat dengan salah satu sahabat di kantor, dia menimpali dengan cerita tentang atasan kita yang pernah dengan cueknya pakai handphone murah yang harganya tidak sampai lima ratus ribu rupiah. Jadi ceritanya, iPhone 5 si bos baru saja rusak total, digantikan dengan iPhone 5 baru lainnya. Eeeh, nggak lama kemudian, iPhone 5 yang barunya itu rusak lagi karena tersiram air, sehingga butuh waktu beberapa minggu untuk memperbaikinya. Selama menunggu iPhone 5 selesai direparasi, si bos membeli satu hp Nokia murah meriah sebagai hp sementara.

Teman gue bilang, “Bukannya malu, dia malah pamerin hp murahnya dan ngejadiin itu sebagai lucu-lucuan. Orang-orang juga malah jadi ketawa dan enggak nganggep remeh hp murahnya itu.”

Ya, gue setuju banget sama pendapat teman gue. Bos gue itu jabatannya Direktur, punya rumah seharga milyaran rupiah, jelas enggak bergengsi banget kalo dia sampe pake hp seharga ratusan ribu saja. Itu satu lagi bukti bahwa sebetulnya, gengsi itu hanya soal mindset, alias… soal pola pikir kita sendiri, serta soal bagaimana cara kita membawa diri kita sendiri. Karena pada dasarnya, bukan cara orang lain memperlakukan kita yang menyakiti perasaan kita, melainkan bagaimana cara kita menanggapinya.

SPG yang kurang ajar bukan karena ada yang salah dalam diri kita, melainkan ada yang salah dalam diri SPG itu sendiri. Mereka itu wajib memperlakukan customer-nya dengan baik.

Teman yang cuma mau berteman dengan orang yang punya tas Channel asli justru bukan teman yang sejati. Mereka bukan teman yang akan tetap setia dalam suka dan duka.

Teman yang menghina kita hanya karena pacar kita dianggap kurang rupawan juga bukan teman yang patut dipertahankan. Mereka hanya orang-orang yang akan selalu mencari celah untuk membuat kita merasa buruk dan kecil hati.

Mereka semua boleh saja bersikap seenaknya, tapi yang paling penting, jangan biarkan mereka melukai perasaan kita. Jangan biarkan mereka membuat kita jadi gelap mata. Jangan biarkan mereka membuat kita menempatkan gengsi di atas segala-galanya. Mengutip salah satu tweet yang pernah gue baca, “Don’t spend the money that we don’t have to buy the things that we don’t need just to impress the people that we don’t like.”

Gue akui, kemewahan itu menyenangkan, dan barang-barang mahal itu memang menawarkan kualitas produk di atas rata-rata. Tapi kembali lagi… beli benda-benda itu hanya jika memang kita membutuhkannya, dan hanya jika kita mampu untuk membelinya. Kemudian saat hendak mengambil keputusan, bukan pikirkan apa yang paling bergengsi, melainkan… apa yang paling akan membuat kita merasa nyaman dan bahagia?

Finally… tell this to yourself: you don’t need to be richest, the prettiest, not either having the coolest boyfriend ever, just make you feel like the happiest person on earth.

10 Gifts I Want for My Birthday

Berhubung sebentar lagi gue mau ultah, gue mau bikin list daftar barang yang gue pegenin buat kado ultah tahun ini. Kali aja keluarga dan temen-temen gue kebetulan baca lalu mereka berinisiatif buat beliin gue barang-barang ini, hehehehe.

  1. Dompet baru… pengennya warna hitam. Dua dompet yang gue pakai tahun ini cuma gue pake beberapa bulan saja karena warnanya cepat kelihatan kotor. Jadi mendingan beliin warna hitam;
  2. Aroma therapy-nya The Body Shop, beliin yang aromanya paling lembut. Jangan cuma beli refill-nya doang yah, sama botol dan kayu-kayunya juga, hehehehe;
  3. Casing lucu buat iPhone 5, atau Gemini, atau Notes 10.1 gue. Gue ini kan semacam collector casing hp yang lucu-lucu 😀
  4. Kalo perlu sekalian beliin gue tablet baru, yang lama udah lecet-lecet, hehehehe. P.s.: I love iPhone, but I’m not an iPad big fan. Beliin gue Android aja ok, minimal 10.1 inchi… (seolah bakal beneran ada yang beliin gue kado semahal ini, hehehehe);
  5. I’m a bag collector too. Lagi pengen beli Furla dan Bonia, tapi merk lain juga boleh deh. Kalo bisa warnanya putih dan bahannya nggak gampang kotor;
  6.  Syal rajut yang hangat… kalo perlu satu set sama gloves-nya, buat Japan trip awal tahun depan;
  7. Spring coat, yang modelnya pake pita ikat di pinggang dan bagian bawahnya agak mengembang. Waktu kapan itu nemuin model ini di Max Mara PS, tapi nggak berani masuk takut harganya kemahalan, huhuhuhu;
  8. Kalo perlu sekalian sama tiket pesawat buat liburan tahun depan, hohohoho. Kalo tiket Jepang udah beli, tapi rencananya pengen balik lagi ke Phuket. Jadi beliin tiket pesawat Jakarta-Phuket PP aja ok…
  9. New digital camera… pengen beli EOS M. Beliin yang warna putih yah!
  10. Peak season udah mulai… bakal lebih sering pake kacamata daripada softlens. Jadi pengen punya kacamata baru… kemaren nemu kacamata Dior di Melawai, kayaknya keren, hohohoho.

Abis bikin list ini… gue malah stres. 10 hal di atas bisa jadi sebetulnya shopping list gue sendiri. Padahal gue sedang berniat buat belajar berhemat! Apartemen udah mau kebangun dan belum ada cukup duit buat ngedekor plus beli-beli perabotnya! Fufufufu… Makanya, kalo ada yang bantu beliin 10 benda itu buat kado ultah gue, waah, gue bakal terbantu dan berterima kasih sekali, hahahaha.

Apakah Kamu si ‘Kutu Loncat’?

Percaya nggak percaya, kutu loncat alias orang yang hobi pindah-pindah kerja, umumnya tidak mau mengakui bahwa mereka memang pantas dijuluki kutu loncat. Makanya bisa jadi, diri kita pun hanya si kutu loncat in denial. Lalu bagaimana cara kita introspeksi tentang seberapa kutu loncatnya diri kita ini?

Setelah gue amati para kutu loncat di sekitar gue, berikut ini ciri-ciri mereka pada umumnya!

  1. Ciri yang paling mudah, masa kerja kutu loncat sangat-sangat pendek. Kutu loncat yang paling parah bisa berganti kerja setiap tahunnya, tapi sebetulnya… berganti pekerjaan setiap tiga tahun sekali masih masuk hitungan kutu loncat juga lho;
  2. Ada yang bilang 3 tahun sekali itu masih wajar, ada juga yang bilang tidak wajar. Jadi memang masih ambigu. Maka mari kita teliti ciri-ciri si kutu loncat yang lainnya: kutu loncat sering menjadi alasan ‘tidak cocok dengan atasan/rekan kerja’ sebagai alasan untuk resign. Di manapun kita kerja, pasti akan ada saja orang yang menyebalkan setengah mati. Jika kita tidak bisa berdamai dengan hal tersebut, tidak heran kalau kita jadi sering banget ngetik surat resign;
  3. Kutu loncat cenderung membenci orang-orang yang sering kerja bareng mereka. Makanya untuk acara makan siang, mereka lebih memilih teman sekantor yang jarang berurusan dengan mereka. Kutu loncat mudah sekali melihat kualitas buruk rekan kerjanya dan cenderung mudah melupakan sisi baiknya, sehingga balik lagi ke point 2, ujung-ujungnya, mereka resign dalam waktu singkat;
  4. Kutu loncat biasanya suka menempatkan diri mereka sendiri sebagai korban, sebagai orang yang didzalimi, diperlakukan tidak adil, dsb dsb… Padahal bisa jadi, justru mereka sendiri yang sedang mendzalimi orang yang mereka tuduh mendzalimi itu…
  5. Mereka tipe yang terlalu suka mengenang masa-masa kerja di kantor terdahulu, terlalu sering bilang kangen, ada pula yang sampe kepingin balik lagi, padahal dulu, waktu masih kerja di tempat lama, dia benci setengah mati sama mantan kantornya itu. Berhati-hati sama tipe staf yang sudah menunjukkan ciri-ciri ini… biasanya, pengunduran diri mereka hanya tinggal hitungan bulan;
  6. Tidak suka mengeluh tentang pekerjaan bukan berarti tidak memiliki potensi sebagai kutu loncat. Malah menurut pengamatan gue, orang yang suka curhat itu justru lebih tahan banting ketimbang orang yang suka memendam perasaan. Saat curhat, beban di hati akan sedikit berkurang sehingga keinginan untuk resign akan berangsur hilang. Sebaliknya, orang yang tertutup cenderung menumpuk beban perasaan dan saat sudah tidak tahan, mereka lebih memilih untuk melarikan diri;
  7. Kutu loncat sering pindah-pindah kerja dengan alasan merasa tidak cocok dengan lingkungan kerjanya, padahal bisa jadi sebenarnya, mereka sendiri yang tidak pernah berusaha keras untuk beradaptasi;
  8. Banyak kutu loncat alergi setengah mati dengan kritik dari rekan kerja, termasuk kritk dari atasannya sendiri. Tipe orang seperti ini, saat dikritik, akan sibuk membenci dan bukannya sibuk berusaha memperbaiki diri. Tidak adanya perbaikan hanya membuat jumlah kritik yang mereka terima jadi semakin banyak, sehingga ujung-ujungnya, mereka lebih memilih untuk lari dari sumber kritiknya. Padahal kenyataannya… tidak ada tempat kerja yang bebas kritik. Terus-terusan berusaha cari kantor bebas kritik = menjelma jadi kutu loncat;
  9. Kutu loncat biasanya tidak mempunyai kemampuan untuk bekerja under pressure. Makanya, kalau tidak mau punya karyawan yang mendadak kabur saat pekerjaan sedang sulit-sulitnya, jangan pernah rekrut si kutu loncat!
  10. Terlalu mudah bosan. Tidak semua kutu loncat resign karena alasan bosan, tapi orang yang terlalu mudah bosan dengan pekerjaannya, cenderung berakhir menjadi kutu loncat. Tapi kabar baiknya, tipe pembosan biasanya tidak akan mengulang kesalahannya dengan cara apply ke pekerjaan yang sama persis sehingga pada suatu titik, mereka akan berhenti jadi kutu loncat setelah berhasil menemukan jenis pekerjaan yang mereka sukai.

Gue tidak bilang semua kutu loncat itu jelek. Gue sendiri pernah satu kali punya karyawan kutu loncat yang kerja bareng gue enggak sampe satu tahun. Meski begitu, gue enggak nyesel pernah terima dia jadi bagian dari tim gue. Karena meskipun cuma sebentar, dia udah ngeberesin banyak hal dalam masa kerja dia yang singkat itu. Tapi tetap saja… untuk ke depannya, gue lebih prefer karyawan yang bisa bekerja dengan baik dalam jangka waktu yang lebih lama. Akan lebih sulit untuk create improvement kalau sebentar-sebentar karyawan gue ada yang resign.

Saran gue buat teman-teman yang suka jadi kutu loncat… if it doesn’t make you happier, not either make you a better person, then stop it. Belajar jadi orang yang tangguh, yang mau memperbaiki diri, dan bukan malah jadi orang yang suka lari dari masalah. You have to know when you must stop and when you must keep on going. Good luck!