Jeju TrickArt Museum

Gue pertama kali dengar soal Trick Art Museum di Jeju ini dari Tiara, salah satu teman seperjalanan gue. Awalnya gue enggak gitu excited, tapi begitu gue buka website-nya, wellit looks like an exciting place! Dan ternyata bener aja… it was a fun place for everyone. Bahkan setelah pulang ke Indonesia pun, gue paling senang memamerkan foto-foto gue di museum ini.

Apa itu TrickArt museum?

Umumnya, Trick Art museum menampilkan lukisan-lukisan 3 dimensi yang membuat kita seolah menyatu dengan lukisan tersebut jika difoto. Contoh gampangnya lukisan jerapah dan daun. Jika kita difoto dengan pose sedang memegang daun tersebut, maka pada hasil fotonya akan terlihat kita seperti sedang memberi makan daun kepada si jerapah!

Foto favorit gue di TrickArt adalah foto yang jika hasilnya di-rotate, akan terlihat seperti gue bisa menempel di sudut tembok! Lihat hasil fotonya di bawah ini…

Kemudian yang ini… lukisan 3D favorit gue yang lainnya…

Atau yang ini…

Dan yang ini…

Bukan cuma trik lukisan 3 dimensi lho

Sebagian besar memang lukisan 3 dimensi, tapi ada juga trik yang berbentuk sebuah ruangan. Setiap ruangan mempunyai trik menarik yang berbeda-beda. Contohnya…

Jadi kalau kamu melihat ada pintu masuk menuju sebuah ruangan, jangan dilewatkan! I got some of the best pictures in such a room like this.


Ketahui cara dan jarak terbaik untuk mengambil gambar!

Ada cukup banyak objek foto yang sudah diberi petunjuk posisi terbaik untuk sang pengambil gambar. Lihatlah lantai di sekitar objek dan cari gambar sepasang telapak kaki, di situlah posisi yang terbaik untuk mengambil gambar. Kemudian untuk foto di mana teman gue terlihat besar sedangkan gue terlihat kecil (lihat foto di atas), ada lubang khusus untuk meletakkan kamera yang terletak di tembok luar ruangan triknya. The effect is not going to work unless you put the camera on the right place.

Berspose lah secara maksimal! Nggak usah malu-malu 🙂

Sekedar berdiri atau duduk di depan objek foto tidak akan berhasil membuat fotonya terlihat ‘hidup’. Bakal lebih bagus lagi kalo kita jago akting saat difoto! Misalnya, akting ketakutan saat sedang berfoto ‘di dalam’ mulut naga, atau akting apapun yang sesuai dengan tema objeknya. Oh ya, untuk urusan pose, jika kamu bingung bagaimana harus berpose, cukup contek saja contoh di gambar. Ada contoh gambar untuk setiap objek di TrickArt Museum.

Be perfectionist for a perfect picture!

Contoh have to be perfect ada pada foto di bawah ini…

Supaya terlihat seolah-olah benar baru keluar dari dalam lubang (padahal aslinya hanya sedang tengkurap sambil mengangkat badan ke atas), maka kedua kaki teman gue ini tidak boleh terlihat di layar kamera. Kedua kaki harus benar-benar lurus dengan badan. Trik ala gue untuk menyembunyikan kaki adalah dengan cara menyilangkan kedua kaki gue itu… and it works! Intinya, pastikan saat mengambil foto, posisi seluruh anggota tubuh kita sudah cukup sesuai untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Jika belum berhasil, silahkan dicoba kembali 😉

You have to visit TrickArt Museum if you visit Jeju

Gue sangat merekomendasikan museum ini buat teman-teman yang berencana liburan ke Jeju. Lokasinya memang lumayan jauh dari pusat kota (secara hampir semua tourist attraction yang menarik di Jeju itu jaraknya relatif banget dari bandara), but totally worth it.

Sebetulnya selain di Jeju, museum yang sejenis juga terdapat di Seoul, dekat dengan stasiun subway Hongik University. Akan tetapi berhubung gue tidak coba datang ke museum TrickArt di Seoul, maka gue tidak begitu yakin apakah hasil foto di sana akan sama bagusnya dengan museum yang di Jeju. Atau kalau memang kalian cuma akan mampir ke Seoul dan tidak mampir ke Jeju, ya silahkan dicoba. Kalau sudah mampir ke museum sejenis ini di Seoul, jangan lupa sharing ceritanya untuk gue yaa. Ditunggu lho 🙂

Aplikasi Visa Korea Selatan

Tulisan ini gue tulis berdasarkan pengalaman gue, dan 5 orang teman yang baru saja pulang berlibur ke Korea Selatan. Jadi, tulisan ini hanya berlaku untuk aplikasi visa dalam rangka wisata.

Untuk persyaratan resmi dari kedubes Korsel untuk Indonesia, klik di sini.

Dari semua persyaratan resmi di link atas, ternyata tidak semuanya dianggap wajib oleh pihak kedutaan. Misalnya fotokopi NPWP dan SPT tahunan. Gue kelupaan submit, tapi ternyata tidak diminta dan visa gue tetap lolos. Begitu pula dengan fotokopi SIUP. Ada teman gue yang tidak submit, tapi ternyata tidak juga jadi masalah dan visanya tetap lolos. Tapi konon katanya, makin banyak dokumen yang kita serahkan, maka makin akan mendukung disetujuinya visa yang kita ajukan.

Daftar dokumen yang gue serahkan (semuanya dalam bentuk fotokopi, kecuali passport):

  1. Kartu keluarga, akta kelahiran, KTP, passport;
  2. Bukti keuangan: surat referensi bank, mutasi rekening bank selama 3 bulan terakhir, Jamsostek statement;
  3. Tiket pesawat pulang-pergi dan hotel booking confirmation (gue punya 3 hotel di Korsel, 1 hotel sudah dibayar lunas, 2 hotel lainnya baru bayar booking fee saja);
  4. Rencana perjalanan gue selama di Korsel. Isinya gue mau ke mana aja, sama ada info berapa entrance fee-nya. Banyak yang bilang, meskipun tidak diwajibkan, hal ini tetap penting untuk memberitahu pihak kedubes bahwa tujuan perjalanan kita memang jelas untuk liburan (dan bukan kepengen jadi imigran gelap yang cari kerja di sana) sekaligus sebagai bukti bahwa kita sudah well prepared for the holiday. Besaran entrance fee juga gue masukkan supaya pihak konsuler tahu bahwa gue sudah punya bayangan berapa banyak uang yang akan gue butuhkan; dan
  5. Bukti pembelian tiket Nanta dan Jump show. Ini sih sebenernya iseng-iseng aja gue lampirin… Sebagai bukti bahwa gue udah niat banget buat liburan ke saya. Dan siapa tau ajaa, si petugas konsuler jadi nggak tega nolak visa gue karena tau gue udah keluar lumayan banyak duit buat berlibur ke Korsel, hehehehehe.

Mitos yang terbukti tidak benar soal aplikasi visa Korsel:

  1. Tabungan minimal harus sekian puluh juta rupiah. Soal ini sudah gue tanya ke pihak konsuler. Yang mereka lihat bukan seberapa banyak uang di rekening, melainkan apakah tiap bulannya, kita mempunyai pemasukan tetap. However, saran gue supaya aman, kita sudah harus punya cukup dana untuk membiayai perjalanan kita tersebut. Ada saran dari travel writer lain untuk submit budget details kita saat aplikasi visa dan kita sudah harus keep di rekening sejumlah uang yang tertera dalam total budget kita itu;
  2. Paspor kosong akan sulit mendapatkan visa. Dari 5 orang teman perjalanan gue, ada beberapa yang paspornya masih kosong, dan beberapa lainnya belum terdapat banyak stampel imigrasi, tapi visa mereka lolos semua tuh;
  3. Orang yang bekerja di perusahaan yang tidak terkenal akan lebih sulit proses aplikasinya;
  4. Ibu rumah tangga yang tidak bekerja tetapi pergi tanpa suaminya akan sulit mendapatkan visa; dan
  5. Akan lebih mudah mengurus visa via travel agent. Tidak semua travel agent berpengalaman untuk urusan visa sehingga bisa jadi, mereka tidak bisa bersikap sigap saat aplikasi kita mengalami kendala. Ada pula travel agent yang suka bersikap lebay. Gue pernah baca blogger lain yang ditolak travel agent ternamauntuk bantu apply visa ke Korsel karena jumlah uang di rekeningnya tidak sampai 50 juta! Setelah dia urus sendiri, ternyata visa Korsel-nya lolos-lolos saja tuh. Jadi lebih baik kita urus sendiri, supaya jika nanti ada dokumen yang kurang bisa langsung kita siapkan.

Overall menurut gue, visa Korsel tidak masuk kategori sulit. Asalkan lengkap dokumennya, jelas tujuan perjalanannya serta punya cukup dana untuk membiayainya, maka gue yakin, visa Korsel akan kita dapatkan. Buat yang baru akan apply, good luck!

And the Journey Began…

Dari semua perjalanan gue sebelumnya, perjalanan menuju Korea Selatan ini paling bikin gue ngerasa deg-degan. Takut visa gue ditolak, takut tiba-tiba dilarang pergi sama bos di kantor, serta takut perjalanan akan berubah menjadi malapetaka karena untuk pertama kalinya, gue pergi traveling dengan orang-orang yang tidak seberapa dekat dengan gue.

Untunglah ternyata, aplikasi visa gue berjalan dengan mulus. Tidak ada dokumen yang dianggap kurang, dan visa gue pun bisa selesai tepat pada waktunya. Setelah visa Korsel sudah melekat di dalam paspor, gue malah jadi heran… kenapa gue harus takut ditolak ya? Memangnya ada hal apa yang bisa bikin visa gue jadi ditolak?

Selanjutnya soal ijin cuti. Meski gue udah sounding dari jauh-jauh hari soal rencana perjalanan gue ini ke atasan, tetep aja ada rasa khawatir si bos tiba-tiba menarik ijin cuti tersebut in the last minutes. Di hari terakhir gue bekerja sebelum cuti panjang, di ruangannya, si bos bilang begini, “Eh kamu jangan lupa lho… staf kamu ada banyak.”

Gue langsung berdiri mematung… “Emangnya kenapa, Pak?”

“Jangan lupa oleh-oleh! Kamu harus beli banyak oleh-oleh, hahahahaha.”

Fiuuuh… kalo cuma oleh-oleh sih enteng lah yaa, hehehehehe. Akhirnya tidak ada satu orang pun yang menjegal rencana cuti panjang itu. Meskipun gue harus rela lembur sampe enggak tidur satu malam menjelang keberangkatan, dan meskipun audited figures gue juga belum selesai-selesai, yang penting akhirnya gue tetep bisa pergi. Kemudian lagi-lagi, sesaat sebelum berangkat ke bandara, gue berpikir, “Kenapa gue takut banget dilarang cuti ya? My boss is not a cruel person like that, hehehehehe.”

Kemudian soal traveling dengan teman yang tidak seberapa akrab… well, ternyata selama perjalanan 11 hari 10 malam itu, gue justru ngerasa paling klik sama Tiara, temannya teman yang baru gue kenal dalam perjalanan ini. Gue sama dia punya gaya traveling yang sama: suka dandan tiap pagi tapi tetap berusaha selesai on time, hobi foto tapi tidak perlu sampai terlalu banyak pose dalam satu tempat yang sama, hobi belanja tapi tidak lantas menomorduakan itinerary, dan yang paling gue suka, dia enggak pernah memaksakan keinginan atau pendapat dia sendiri. Traveling in group, even it’s a small one, needs a huge of tolerance to keep the journey fun for everyone.

Nah, sekarang, mari kita mulai mengupas perjalanan yang gue share dalam blog ini. Selama berlibur di Korsel, ada banyak sekali ide tulisan yang terlintas di benak gue. Jadi saking banyaknya, kayaknya sih rangkaian tulisan ini baru selesai paling cepat 2 minggu dari sekarang. So keep visiting my blog to read the complete stories yaa, guys. See you in the next post!

The Things I’ve Done for Upcoming Holiday

Tahun lalu, gue pernah bikin blog yang isinya hal-hal yang harus gue siapkan sebelum liburan ke Malasyia, Hongkong, dan sekitarnya. Buat yang belum baca, klik di sini.

Tadinya tahun ini gue mau bikin tulisan yang sama, tapi ternyata awal tahun ini justru lebih hectic daripada awal tahun lalu. Sebelum sempat menulis, tahu-tahu saja gue sudah mempersiapkan semua yang gue butuhkan untuk liburan ke Korsel, 3 hari lagi.

Jadi sebagai gantinya, gue kepingin nulis hal-hal yang sudah gue persiapkan untuk liburan kali ini. Siapa tahu aja bisa jadi input buat teman-teman yang juga sedang menyiapkan acara berlibur.

  1. Beli digital camera! Sebetulnya gue udah niat beli kamera sejak beberapa tahun yang lalu. Tapi karena begitu banyak hal, enggak pernah jadi terwujudkan. Padahal gue udah berkali-kali browsing, compare products, sampe mencatat kode barang yang gue inginkan. Malah pernah udah hampir beli, tapi batal karena stok kamera warna pink-nya sedang kosong. Tahun ini pun gue hampir aja gagal beli, gara-gara seri yang gue inginkan masih langka di pasaran. Rasanya sayang beli gadget kalau bukan yang paling baru, karena toh gue jarang-jarang beli yang beginian. Tapi akhirnyaa, setelah gagal cari di PIM dan Semanggi, gue berhasil menemukan kamera incaran di Pacific Place. Nantikan review gue untuk si digicam imut-imut di blog ini yaa;
  2. Beli boots lucu, berwarna beige, yang tingginya bisa diatur sesuai keinginan. Tadinya gue enggak ada niat beli boots, tapi gara-gara chatting sama Rere, teman sekantor yang juga punya obsesi berlibur ke Korsel, tiba-tiba gue juga jadi kepengen punya boots. Selain supaya keren, ya kali aja bener di Korsel masih terlalu dingin buat gue… Tapi kalo ternyata pake boots cuma bikin kaki gue jadi nggak nyaman, itu sih tenang aja… gue sudah siapkan sandal jepit andalan di dalam koper, hehehehe;
  3. Beli little backpack. Ini juga tadinya enggak ada di agenda belanja gue. Gimanapun menurut gue, handbag terlihat lebih fashionable daripada backpack. Tapi begitu gue teringat betapa ribetnya narik-narik koper naik-turun eskalator menuju subway station di Hongkong dan Singapur… gue langsung memutuskan untuk beli backpack, sebagai pengganti handbag selama traveling. Kenapa lebih baik backpack daripada handbag? Karena saat menarik koper beroda, handbag itu cenderung merepotkan gara-gara suka melorot di bahu! Untungnya backpack yang gue beli di Charles & Keith itu modelnya manis, feminim, dan bisa dipakai menyerupai handbag juga! Really love this cute little backpack;
  4. Beli 2 buah syal murah meriah. Sebetulnya bukan berarti gue sengaja cari barang murah, tapi luckily gue menemukan syal cantik dengan harga murah meriah waktu lagi belanja bulanan di Plaza Cibubur. Bukan tipe syal rajut tebal yang menghangatkan, tapi lebih ke syal kain yang cuma buat gaya-gayaan, hehehehe. Notes: salah satu hal yang membuat foto liburan terlihat menarik adalah penampilan kita yang terlihat seperti turis. Misalnya, kacamata hitam, long coat, atau syal yang jarang dipakai oleh orang-orang di negara tropis;
  5. Beli majalah Cosmopolitan (yang ukuran mini) dan novel untuk teman perjalanan. Bengong-bengong di pesawat selama hampir 10 jam bisa bikin gue mati bosan, apalagi gue cuma terbang naik AirAsia yang nggak punya fasilitas hiburan elektronik ala Garuda…
  6. Beli Pop Mie dan cereal buat sarapan selama di Korsel, atau buat mengisi perut just in case enggak cocok sama makanannya. Sebetulnya gue tipe orang yang menentang tradisi cuma makan Pop Mie selama traveling, tapi kadang-kadang, keberadaan makanan instan ini penting supaya magh enggak kumat (misalnya saat udah kesiangan buat cari sarapan, atau udah makan tapi masih nggak kenyang). Di luar itu, tetap harus cari makanan yang layak untuk jaga kesehatan. Meskipun gue terkenal suka pilih-pilih makanan, tapi anehnya kalo lagi traveling abroad, gue justru jarang rewel suka makanan. Keinginan untuk liburan sepuas hati dengan tubuh sehat mengalahkan rasa makanan yang nggak enak, hehehehe;
  7. Siapin obat-obatan, mulai dari obat magh, Troches, Albothyl (just in case sariawan gue kumat), obat khusus dari dokter gigi gue, sampe obat diare. Jangan ketawa pas baca tulisan obat diare yaa. Sakit perut adalah penyakit yang paling sering menyerang turis asing. Perbedaan iklim dan jenis bumbu makanan berpotensi bikin sakit perut. Jadi daripada repot nerangin sama pegawai minimarket yang belum tentu ngerti Bahasa Inggris, ya mendingan bawa aja obat yang sudah biasa kita pakai;
  8. Ngurus surat cuti, kemudian transfer kerjaan ke staf-staf di kantor… dengan harapan mereka enggak bakal ganggu gue selama liburan, hehehehe;
  9. Hal-hal standar yang biasa dilakukan turis sebelum traveling abroad: ngurus visa, tuker duit ke money changer, dan packing. Yang paling sulit, tentu saja urusan packing! Koper gue enggak seberapa besar, dan gue emang ngotot nggak pengen bawa koper besar supaya enggak susah bawanya (maklum, liburan on budget, ke mana-mana naik tranportasi umum). Awalnya sempat overload, tapi akhirnya selesai dengan baik. Baju tidur gue hemat, mayoritas baju berbahan ringan,  ada baju yang akan di-mix-and-match, produk perawatan wajah yang nggak perlu udah gue singkirkan (setelah dipikir-pikir, gue nggak bakal punya waktu bukan tetep melakukan maskeran rutin seminggu sekali selama liburan nanti), dan beberapa barang yang pasti mudah ditemukan di minimarket negara manapun juga sudah gue keluarkan. Well, for me it’s the art of packing 😉
  10. Mengistirahatkan kaki dari banyak jalan. Weekend ini gue stay di rumah all day long, semua urusan belanja sudah gue bereskan sepanjang minggu kemaren. Tapi sebelnya niih, biasanya over-excited bikin gue jadi nggak bisa tidur! Tapi nggak papa lah… Gue toh masih punya banyak waktu untuk tidur sepanjang penerbangan ke Korsel nanti. Sekarang yang penting… report April gue harus selesai secepatnya! Now leave the blog and continue working, hehehehe.

Menanti Air Asia Super Big Sale Selanjutnya

Sudah sejak hampir 3 tahun yang lalu, bulan Maret buat gue selalu identik dengan sibuk mikir… tahun depan mau liburan ke mana?

Kenapa selalu bulan Maret? Alasannya:

  1. Bulan Maret identik dengan peak season buat hampir semua orang yang bekerja di bidang accounting & audit. Nah, di tengah aktivitas kerja yang menggila, merencanakan liburan selalu jadi hiburan buat gue. Cuma dengan ngebayanginnya aja udah bikin gue senang, hehehehe; dan
  2. Alasan utamanya adalah… karena di awal bulan Mei, Air Asia akan menggelar super big sale tahunannya. Kenapa gue bilang super big sale? Karena memang cuma di program promosi setahun sekali inilah harga tiket Air Asia akan jauh lebih murah dari harga jual mereka di bulan-bulan lainya.

Sebagai gambarannya, berikut ini ‘daftar prestasi’ gue beli tiket murah Air Asia di super big sale setiap bulan Mei tersebut. Harga di bawah ini belum termasuk bagasi dan airport tax yaa.

  1. Jakarta-KL, KL-Macau, Hongkong-KL, KL-Jakarta cuma Rp. 577.200;
  2. Jakarta-Singapore-Jakarta cuma Rp. 40,000; dan
  3. Jakarta-Korsel-Jakarta cuma Rp. 1,458,000.

Untuk acara super big sale tahun ini, gue sempet salah mengira. Gue kira acara super big sale udah dimulai sejak kemarin sampai 3 hari ke depan! Begitu tahu sebentar lagi akan dimulai, gue langsung panik! Gue belum bikin rencana liburan ke mana-mana! Padahal kalo mau dapet tiket paling murah, maka harus beli sejak detik pertama program big sale itu dimulai.

Dalam keadaan panik… gue berpikir cepat. Kali ini, gue mau jalan sama siapa?

Tiba-tiba gue kepikiran sama si Lili, rekan kerja gue di kantor cabang Surabaya. Lili juga suka traveling, dan anaknya nggak ribet. Waktu gue tugas di Surabaya, gue punya feeling kayaknya Lili ini tipe orang yang enak diajak traveling. Dia juga orangnya rajin cari-cari info kalo mau traveling. Jadi ya sudah… Gue pun YM Lili dan awalnya kita punya 3 options: Jepang, Cina, atau Vietnam.

Vietnam enggak terlalu jadi option kalo buat gue. Tiket pesawat ke Vietnam, tanpa super big sale pun, harganya sudah relatif murah. Yang bikin gue dilema antara Jepang atau Cina.

Jepang sebenernya gue pengen banget. Malah tahun lalu, tadinya gue pengen beli tiket ke Jepang untuk perjalanan tahun ini. Too bad Jepang diguncang gempa dahsyat yang mengakibatkan bocornya nuklir… Gue pun langsung mengurungkan niat buat pergi ke sana, dan pada saat super big sale Mei 2011, gue akhirnya lebih memilih beli tiket pesawat ke Korsel untuk liburan Mei tahun ini. Kebetulan ada beberapa temen gue di EY yang juga berminat liburan ke sana. Gue sendiri juga tiba-tiba mupeng ke Korsel cuma karena nonton film Thailand yang lokasi syutingnya di Korsel, hehehehe.

Option ke dua adalah Cina… Gue pernah ke RRC cuma sebatas kota Shenzhen-nya saja. Dan katanya siiih, ada banyak kota lain di Cina yang punya pemandangan alam spektakuler. Awalnya gue agak ragu-ragu karena katanya, orang-orang di RRC itu jorok.

Dalam keadaan masih ragu-ragu mau pergi ke Jepang atau Cina, gue YM lagi teman-teman gue di subsidiary office. Gue pernah pergi liburan ke Bandung sama salah satu dari mereka dan dia ini tipe orang yang jago mengkoordinasi keuangan selama perjalanan. Anaknya juga asyik dan nggak rese waktu diajak jalan. Kemudian yang satunya lagi teman yang cukup dekat sama gue di mantan kantor itu (sekarang gue kerja di holding company, udah bukan di subsidiary). Dia juga suka traveling dan enggak kelihatan kayak orang yang suka ribet kalo diajak jalan.

Setelah diskusi selama beberapa menit, ternyata mereka juga kepengen ikut liburan ke Cina. Hahahaha, I like it… Bener-bener tipe orang yang nggak pake ribet 😀 Jadi diputuskanlah sudah… saat Air Asia super big sale nanti… kita akan beli tiket PP ke RRC. Yaaayy…

Saat hati sedang senang karena sudah tahu mau ke mana sama siapa, barulah gue buka web Air Asia… Ternyata oh ternyata… big sale yang sekarang sedang digelar ini ternyata bukan super big sale yang gue maksud! Periode penerbangan big sale yang ini cuma sampe bulan Januari 2013, sedangkan gue berencana liburan bulan Mei 2013.

Kenapa gue pilih bulan Me?

  1. Di negara yang punya 4 musim, cuaca di bulan Mei itu menyenangkan. Belum masuk summer tapi sudah tidak lagi super duper dingin seperti saat sedang winter; dan
  2. Kalo bulan Mei, gue udah selesai diaudit, workload juga sudah jauh lebih berkurang jika dibandingkan dengan akhir sampai awal tahun.

Jadi sepertinya, super big sale yang gue nanti-nantikan itu memang rutin diadakan Air Asia pada bulan Mei setiap tahunnya. Syukurlah kalau masih bulan Mei… Gue dan teman-teman jadi masih punya cukup waktu untuk berpikir… mau beli tiket pergi ke dan pulang dari kota Cina yang mana?

Well… kalau persiapan traveling ke Korsel untuk Mei tahun ini sudah selesai, gue akan langsung prepare rencana perjalanan gue ke Cina tahun depan. Aaah… rasanya udah enggak sabar menanti Air Asia super big sale yang selanjutnya. Penasaran bakal dapet tiket murah berapa lagi untuk penerbangan selanjutnya, hehehehehe.

P.s.: Sebentar lagi gue akan sharing tips & trick mendapatkan tiket paling murah pada saat Air Asia super big sale. So stay tune, hehehehe.

Songs of the Sea

Berdasarkan rekomendasi beberapa orang teman, gue pun tidak melewatkan pertunjukkan Songs of the Sea saat berlibur ke Singapura satu bulan yang lalu. Berlokasi di Sentosa Island, gue sengaja menaruh agenda nonton Songs of the Sea setelah puas berkunjung ke Universal Studio yang juga berada di tempat yang sama.

Tadinya gue kira, Songs of the Sea merupakan pertunjukan air indoor yang mirip-mirip The House of Dancing Water-nya Macau. Tapi ternyataaa, Songs of the Sea ini merupakan pertunjukkan outdoor yang diadakan di pinggir laut! Gue sampe mikir… kalo sampe hujan, tiket yang sudah gue beli secara online itu bisa hangus dong? Untunglah malam itu langit sedang cerah sehingga gue dan keluarga bisa menikmati show ini tanpa ada gangguan sama sekali.

Pada saat pertunjukkan belum dimulai, yang tampak di depan (terletak beberapa meter dari pinggir pantai) hanyalah sederetan rumah panggung yang terbuat dari kayu dan bambu. Ada pula beberapa properti ‘panggung’ berupa bebatuan dan obor. Benar-benar setting panggung yang biasa-biasa saja, pikir gue pada awalnya.

Songs of the Sea bercerita tentang nyanyian seorang pemuda Singapura yang saking merdunya, nyanyian itu bisa membangunkan sang dewa-dewi yang tengah tertidur pulas di dasar lautan. Setiap kali ada dewa atau dewi yang berhasil dibangunkan oleh nyanyian pemuda itu, maka penonton akan menyaksikan pertunjukkan air yang tampak cantik dan spektakuler.

Selain permainan air, Songs of the Sea juga banyak memainkan laser, sorotan lampu, semburan api, dan kembang api sebagai bagian dari pertunjukkan. Uniknya, dalam pertunjukkan ini kita juga bisa melihat semburan air yang dijadikan ‘layar proyeksi’ untuk menampilkan wajah cantik sang dewi yang sempat tertidur pulas itu. Lagi-lagi, gue terkesan dengan kecanggihan teknologi yang ditampilkan objek wisata negara tetangga yang satu ini.

Tiket masuk untuk menyaksikan pertunjukkan ini tidak mahal, hanya SGD 10 untuk kursi biasa, dan SGD 15 untuk premium seats. Saran gue, jika punya budget berlebih, ambillah premium seats. Posisinya persis di tengah sehingga kita bisa lebih menikmati cantiknya permainan air di depan sana. Berbeda dengan standard seats yang jika kita datang terlambat, kita cuma akan kebagian bangku di pinggiran yang letaknya jauh dari ‘the main stage’. Oh ya, sebaiknya jangan pilih tempat duduk di barisan depan. Selain karena rentan terkena percikan air, saat pertunjukan api pun akan menimbulkan rasa panas melebihi mereka yang duduk di deretan belakang. Makanya, supaya bisa leluasa memilih tempat duduk, lebih baik datang sebelum pintu masuknya dibuka. After that… welcome and enjoy the show 🙂

Disneyland Hongkong Vs Universal Studio Singapore

Gue pernah nanya sama sepupu dan salah satu klien tentang kunjungan mereka ke Universal Studio Singapura (USS). Menurut pendapat mereka berdua, USS itu biasa-biasa aja. Itulah alasannya gue tidak menaruh harapan terlalu tinggi saat mengunjungi amusement park tersebut. Pikir gue, “Disneyland must be much better than USS. I had so much fun in Disneyland Hongkong last year. The park was amazing and cute! I don’t think USS will compare to it.”

Begitu turun dari monorail dan berjalan menuju pintu masuk USS, gue langsung berpikiran, “Nah, see? It’s not as cute as Disneyland!”

Lalu pertanyaannya sekarang… apa benar tidak ada hal istimewa dari USS? Dan apa benar feeling gue bahwa USS masih kalah menarik daripada Disneyland? Berikut ini perbandingannya…

Kriteria #1: The entrance gate & the ticket.

USS terlihat lebih sederhana untuk urusan the entrance gate. Selain globe besar bertuliskan ‘Universal Studio’ yang sudah menjadi ciri khas USS itu, kalo menurut gue tidak ada hal menarik lain dari tampak depan amusement park ini. Berbeda dengan Disneyland yang dari MTR-nya saja pun sudah kelihatan imut-imut. Tidak terhitung ada berapa foto yang gue ambil mulai dari menjejakkan kaki di stasiun MTR Disneyland line sampai kemudian resmi masuk ke arena bermainnya.

Selain pintu masuk yang lebih sederhana, USS juga tidak punya tiket masuk yang imut-imut seperti Disneyland. Kalau di Disneyland, print out online ticket yang gue bawa dari Jakarta harus ditukar dengan tiket masuk berbentuk slim card yang super cute. Tadinya gue kira kartu itu harus dikembalikan begitu pulang dari Disneyland, tapi ternyata kartu itu memang diberikan untuk dibawa pulang! Yaaay… senangnya 🙂 Beda banget sama USS yang benar-benar menjadikan selembar kertas HVS yang gue bawa dari Jakarta sebagai tiket masuk!

Jadi sudah jelas… untuk kriteria pertama, Disneyland pemenangnya.

Kriteria #2: The Character Greetings

Di Disneyland ada banyak banget banget karakter yang gue kepengen foto bareng mereka. Ada Mickey & Minnie Mouse, Winnie the Pooh, Tinker Bell, sampe tiruan Rapunzel lengkap dengan rambut super panjangnya. Sayangnya, cuma buat berfoto dengan mereka aja harus rela antri panjang dulu… Makanya dari semua karakter, cuma foto bareng Rapunzel aja yang gue ikutan. Gue bahkan rela ngeluarin uang lebih buat menebus foto gue bareng si Rapunzel. The picture looks so cute!

Di USS juga ada banyak sesi buat meet the characters. Ada Woody Wood Pecker, Bumble Bee-nya Transformers, ada pula tiruan Cleopatra yang terlihat cantik dan sensual. Awalnya gue nggak gitu kepengen foto bareng Bumble Bee, tapi lama-lama gue penasaran… si Bumble Bee itu orang yang menyamar jadi robot atau memang beneran robot yang bisa bergerak dan berjalan sendiri? Dan ternyata bener aja lho… si Bumble Bee di USS itu emang asli robot yang ukurannya lebih tinggi dari manusia pada umumnya! Kemudian setelah Bumble Bee, gue juga foto bareng Woody Wood Pecker yang kocak banget! Si badut Woody suka bikin gerakan-gerakan lucu yang bisa dengan jeniusnya memancing tawa orang lain. Taking picture with Woody was so much fun!

Buat krtiteria ke dua ini agak berat… Tokoh-tokoh Disney jelas lebih cute, tapi Bumble Bee juga unik dan befoto bareng Woody bisa jadi kenangan yang tidak terlupakan. Jadi buat kriteria ini, gue putuskan dua-duanya seri. Baik Disneyland maupun USS sama-sama all out dalam menampilkan karakter andalan mereka masing-masing.

Kriteria #3: The Souvenirs Shops

Udah sejak awal gue dikasih tau sama temen gue bahwa belanja di Disneyland akan sangat-sangat menyenangkan. Ada banyak barang-barang lucu yang bikin kita betah berlama-lama di dalam toko. Saking penasarannya, gue sampe kebawa mimpi lagi belanja di tokonya Disneyland, hehehehe.

Dan ternyata emang bener… belanja di Disneyland itu terasa menyenangkan! Ada berbagai jenis produk, mulai dari gantungan kunci sampai t-shirt imut-imut yang berhasil bikin gue jadi kalap belanja. Uang HKD sudah hampir habis? Kartu kredit Visa gue pun tergeseklah sudah…

Beda sama toko-toko di USS yang malah bikin gue pesimis bakal keluar toko dengan menjinjing shopping bags.Pilihan barangnya kurang variatif, model bajunya lempeng-lempeng banget, dan tokoh-tokoh andalan mereka juga enggak ada yang terlihat imut kalo menurut gue. Kalaupun akhirnya tetap beli ya cuma karena gue ngerasa harus bawa sesuatu buat teman-teman dan juga harus beli kenang-kenangan buat diri gue sendiri. Akhirnya souvenirs yang gue beli di USS itu juga tetap terlihat unik dan menarik sih… tapi tetap tidak sebanding dengan Disneyland.

Lagi-lagi… pemenangnya adalah Disneyland.

Kriteria #4: Jungle River Cruise VS Jurrasic Park Rapids Adventure

Sekarang gue akan mulai membandingkan wahana-wahana andalan di masing-masing tempat. Dimulai dari wahana yang berpotensi bikin basah-basahan.

Perahu ala Jungle River Cruise terlihat jauh lebih santai daripada rafting ala Jurrasic Park Rapids Adventure-nya USS. Terlihat lebih santai karena ada tour guide yang memandu sepanjang perjalanan. Dan sepanjang perjalanan itu pula kita ngerasa deg-degan akan segera jadi basah kuyup! Tapi ternyata sampai turun dari perahu, baju gue masih kering sentosa. Kalaupun ada sedikit cipratan-cipratan air tetap enggak bakal bikin baju kita terlihat basah.

Jauh berbeda dengan Jurrasic Park Rapids Adventure yang sudah terasa menegangkan sejak awal. Perahunya bulat dan harus pakai seatbelt, melaju di atas derasnya arus air di sepanjang track. Rasanya cukup menegangkan setiap kali melihat ada turunan curam di depan sana. Ada satu hal yang mengejutkan saat rafting di USS ini… Tiba-tiba saja perahu kita masuk ke sebuah bangunan tua dan mentok di ujung jalan buntu. Saat semua orang sedang bingung kenapa kita malah dihadapkan sama sebuah tembok, tiba-tiba aja perahu kita itu terangkat ke atas dan jreng-jreng… sesampainya di lantai 2, kita langsung melihat ada turunan curam di depan sana dan tahu-tahu saja… byuuurrr, perahu meluncur ke bawah dan semua orang pasti terkena cipratan air. Ada yang basah sedang-sedang, ada pula yang beneran basah kuyup.

Untuk kamu yang tidak mau basah-basahan, sejak di luar wahana sudah dijual jas mirip mantel hujan untuk dipakai selama rafting. Kalaupun sudah terlanjur basah-basahan, di luar juga tersedia ruangan pengering badan yang pastinya, tetap harus bayar beberapa dollar Singapura untuk menikmati fasilitas umum tersebut.

Pemenang kriteria ini sudah pasti rafting ala USS. Kejutan di akhirnya itu benar-benar tidak terduga! And yes… sometimes get wet could be so much fun, hehehehehe.

Kriteria #5: Stitch Encounter VS Donkey Live.

Dua atraksi seperti ini tidak pernah gue temukan yang sejenisnya di Indonesia. Semacam show di mana tokoh di layar bisa berinteraksi secara live dengan penontonnya. Stitch dan Donkey sama-sama akan menunjuk salah satu penonton untuk dijadikan objek lelucon mereka. Diajak berkenalan, diajak ngobrol, melempar lelucon, dan pastinya, akan dikerjain dengan sangat lucu oleh Stitch dan Donkey.

Pertama kali melihat show di Stitch Encounter, gue langsung takjub… Gue beberapa kali nengok ke langit-langit mencoba mencari di mana letak orang di balik layar yang menggerakan tokoh Stitch secara live itu. Waktu itu ceritanya, Stitch berkeras bahwa dia sudah pernah melihat wajah penonton yang dijadikan ‘korban’ (kita sebut saja si Mr. X) di suatu tempat sebelumnya. Kemudian Stitch tiba-tiba bilang bahwa Mr. X itu adalah buronan luar angkasa yang sudah lama dia cari! Dan nggak lama kemudian… muncullah foto close up Mr. X di layar lebar yang dibingkai sebuah frame dengan tulisan, “Wanted”. Semua orang pun tertawa geli melihat lelucon tersebut…

Untuk kriteria ini, gue lebih suka sama Stitch Encounter Disneyland. Donkey Live agak membosankan di awal… pakai nyanyi-nyanyi dan disuruh berdiri segala. Lelucon ala Donkey juga tidak selucu leluconnya Stitch. Plus, tokoh Stitch di layar lebar itu terlihat lebih hidup. Ekspresi wajah Stitch bisa ikut berubah-ubah seiring dengan intonasi suaranya, tidak seperti ekspresi Donkey yang lempeng-lempeng saja itu…

Kriteria #6: Space Mountain VS Revenge of the Mummy

Nope… Revenge of the Mummy itu bukan rumah hantu, melainkan indoor roller coaster di USS, sama seperti Space Mountain di Disneyland.

Dari semua wahana Disneyland, gue paling suka sama Space Mountain. Saat naik roller coaster ini tuh rasanya seperti sedang terbang di langit malam yang bertabur bintang. Menegangkan… itu sudah pasti. Tegang tapi bikin ketagihan! Gue sampai naik wahana ini sebanyak dua kali, bahkan teman-teman gue sampai naik tiga atau empat kali!

Space Mountain memang keren… tapi ternyata, Revenge of the Mummy jauh lebih keren! Bukan cuma jauh lebih menegangkan, melainkan juga ada unsur kejutan dalam wahana itu. Jadi ceritanya, kereta yang kita tumpangi menemui jalan buntu. Gue langsung beprikir, “Ah, bakal sama kayak arung jeram tadi nih! Pasti sebentar lagi tembok di depan akan terbuka dan tau-tau aja ada turunan curam di depan sana.”

Tapi ternyata bukan itu yang kemudian terjadi… Tiba-tiba aja, kereta itu mundur ke belakang, berbelok, dan langsung meluncur turun dengan cepatnya! Woow, it was very thrilling and cool! Rasanya seperti benar-benar meluncur cepat di tengah kegelapan. Saking seramnya gue sampe enggak berani membuka mata satu kali pun, hehehehe.

So yes… the winner is USS this time.

Kriteria #7: Mickey’s PhilharMagic VS Shrek 4D Adventure

Mickey’s PhilharMagic juga salah satu wahana favorit gue di Disneyland Hongkong. Alur ceritanya lucu, efek 3D-nya sangat terasa, lengkap dengan cipratan air dan juga aroma kue mengikuti adegan yang tampil di layar lebar. Saking canggihnya efek 3D di tempat ini sampai-sampai kita merasa seperti sedang meluncur turun meskipun bangku yang kita duduki itu sebenarnya tidak bergerak sama sekali! Bener-bener pertunjukan 3D yang bukan cuma sekedar goyang-goyangin bangku seperti pertunjukan sejenis di Indonesia.

Berbeda dengan Mickey’s PhilharMagic yang dipenuhi oleh tokoh-tokoh kartun andalan Disney, maka Shrek 4D Adventure ya cuma menampilkan Shrek, Fiona, dan kawan-kawan serta musuhnya. Dan serius deh… I never think that Shrek is cute! Kemudian selain kalah imut, jalan cerita pertunjukan 4D ini juga kalah lucu sama Mickey’s PhilharMagic. Tapi soal kecanggihan teknologi… Shrek 4D memberikan lebih banyak kejutan yang tidak terduga!

Kalau cuma semprotan air saat si Donkey bersin, hal yang serupa juga ada di Disneyland. Yang surprising adalah saat Shrek diserang kawanan kelelawar dari arah bawah, di saat yang sama terasa ada hembusan angin kencang yang menggelitik dari bawah bangku! Bangku yang bisa bergoyang itu juga ritmenya pas, sangat seirama dengan pergerakan tokoh-tokoh di layarnya. Soal efek 4D-nya jangan ditanya… gue sampe beberapa kali refleks menutup mata karena barang-barang yang dilempar di layar itu seolah benar-benar sedikit lagi mengenai wajah gue. It was very cool!

Lagi-lagi gue bingung menentukan pemenangnya… Mickey 3D was simple but awesome. Shrek 4D was also awesome but I never like Shrek. Jadi buat yang ini juga jatuhnya seri saja lah, biar adil, hehehehehe.

Kriteria #8: High School Musical Performance VS USS Street Dance

Gue nggak bisa cerita banyak soal High School Musical live performance di Disneyland karena waktu itu gue enggak nonton pertunjukan itu dari awal sampai selesai. Cuma lihat sebentar… setelah itu langsung beranjak ke tempat lain karena merasa bosan.

Beda banget sama pertunjukkan street dance di USS yang berhasil bikin gue jadi terkesima. Gue tetap berdiri di tengah kerumunan sampai para performers yang kelihatan ganteng dan keren itu selesai dengan tariannya. Saat menonton atraksi mereka tuh rasanya seperti sedang menonton film Step Up secara langsung! Tadinya gue kira, gerakan-gerakan rumit seperti itu cuma bisa terjadi di film layar lebar yang bisa jadi cuma sekedar hasil video editing saja. Tapi ternyata emang beneran ada orang-orang yang bisa melakukan gerakan tari sekeren itu! I was very impressed.

Jadi tanpa perlu disimpulkan pun, sudah jelas para street dancer di USS itu keluar sebagai pemenangnya.

Tidak ada tandingannya di USS: Disney Street Parade

Disney Street Parade merupakan perpaduan sempurna antara musik, tarian, dan kereta-kereta lucu yang ditumpangi oleh berbagai macam tokoh favorit keluaran Disney. Ada satu kereta cantik yang memuat 3 puteri cantik pentolan Disney, kereta madu ala Winnie the Pooh, sampai kereta masa depan yang ditumpangi Stitch dan awak kapalnya. Melihat parade ini rasanya benar-benar memanjakan mata dan bikin hati jadi terasa senang. Dan sesuai judul… gue tidak menemukan hal yang sejenis waktu main di USS. Kalaupun ada parade yang sejenis, rasanya gue tidak akan terlalu excited. I don’t thikn Madagascar and Shrek will be cute enough for such a parade like this.

This slideshow requires JavaScript.

Tidak ada tandingannya di USS part 2: Disneyland fireworks!

Kembang api di Disneyland itu bukan kembang api biasa yang sudah sering kita lihat setiap kali pergantian tahun. Kembang api di sana jadi terlihat sangat istimewa karena diluncurkan persis di atas istana puterti tidur yang tampak sangat menawan di malam hari. Ada pula permainan lampu dan musik yang menghiasi pertunjukan ini. Rasanya seperti sedang berada di negeri fairy tale yang rupawan. Benar-benar penutup yang manis dan sempurna untuk kunjungan kita ke Disneyland Hongkong.

Tidak ada tandingannya di Disneyland: Trasnformers The Ride – The Ultimate 3D Battle

Pada saat masih berdiri di dalam antrian, awalnya gue bingung… Katanya pertunjukan 3D, kacamata 3D-nya juga sudah disediakan, tapi kok enggak kelihatan ada bangku dan layar lebarnya? Yang kelihatan malah beberapa mobil atap terbuka yang untuk satu unitnya bisa memuat sekitar 12 orang. Setelah semua penumpang duduk dan memakai kacamata, mobil itu akan berangkat dan menghilang dari pandangan mata.

Ternyata ya… mobil itu berjalan menuju sebuah ruangan sempit dan kita akan langsung berhadapan dengan layar berukuran raksasa begitu sampai di ruangan itu. Jadi ceritanya, mobil kita ini adalah salah satu jagoan di pertempuran melawan robot-robot jahat. Saat bertempur itulah efek 3D mulai terasa. Kalau biasanya cuma bangku yang bergoyang, maka kali ini mobil yang kita tumpangi lah yang bergerak naik turun, maju mundur, atau berpindah ke tempat lain mengikuti alur ceritanya.

Jadi kalo soal keren sih jangan ditanya lagi deh… Rasanya tuh seperti menaiki wahana dari masa depan! Bener banget tagline yang dijanjikan oleh wahana ini: “ride the movie” karena rasanya kita memang seperti sedang ikut bertempur melawan robot jahat di dalam film! Misalnya saat ada ledakan di layar, maka akan muncul pula percikan api yang terasa cukup panas. Kemudian waktu ceritanya mobil kita dilempar robot jahat dari puncak gedung pencakar langit, ya ampuuun, itu tuh rasanya kayak bener-bener lagi duduk di dalam mobil yang sedang terjun bebas!

Baru kali ini gue naik wahana 3D sampai berteriak heboh saking serunya. Udah enggak kehitung berapa kali gue berseru, “Gilaaa, keren banget!” Saking kerennya, gue sampe rela antri panjang lagi buat kembali mencoba wahana yang sangat-sangat mengesankan ini. Jangan takut copot jantung atau apa… soalnya rugi banget kalo udah sampe USS tapi enggak coba naik wahana yang satu ini. Seriously, it’s a must try!

Kesimpulan Akhir

Pada akhirnya… gue malah jadi bingung kalo ditanya, mana yang lebih bagus, Disneyland Hongkong atau Universal Studio Singapura?

Gue akui bahwa secara teknologi, USS masih lebih unggul daripada Disneyland. Agak-agak wajar mengingat USS ini kan masih lebih baru daripada Disneyland Hongkong. Tapi buat gue, pergi ke Disneyland itu rasanya seperti impian masa kecil yang jadi kenyataan. Donald Duck, Mickey Mouse dan kawan-kawan sudah menjadi teman bermain gue sejak masa kanak-kanak. Bahkan setelah dewasa pun, gue masih suka memakai aksesoris atau baju-baju lucu keluaran Disney. Makanya, bisa bermain ke tempat yang serba Disney tentu saja terasa menyenangkan! Rasanya seperti memasuki dunia mereka gitu. Hal itulah yang membuat gue sulit mengatakan bahwa USS masih lebih bagus daripada Disneyland.

Jadi supaya adil begini saja… Anak-anak kecil dan perempuan yang menyukai tokoh-tokoh Disney pasti menyukai Disneyland. Orang-orang yang lebih suka permainan santai juga lebih cocok datang ke Disneyland. Tapi buat para adrenalin junkie, USS bisa jadi sarana uji nyali. Kalau berani, silahkan coba coba roller coaster Battestar Galactica kebanggaan mereka. Gue sih enggak berani naik… Cuma dengan ngelihat aja gue udah ngerasa ngeri setengah mati, hehehehehe.

Kesimpulannya, Disneyland dan USS punya kelebihan dan keunikannya masing-masing. Tidak penting mana yang lebih bagus, karena yang lebih penting, kita menikmati kunjungan ke amusement park tersebut. Kalau punya dana lebih, bolehlah coba datang ke dua tempat ini. Mahal tapi worth it kalau menurut gue.

Oh ya, setelah gue pikir-pikir kemudian… Alasan kenapa sepupu gue pernah bilang USS itu biasa-biasa aja adalah karena dia datang ke sana waktu USS masih baru buka, wahananya belum lengkap dibuka semua. Kemudian kalo klien yang di awal gue ceritakan… dia pasti bilang Universal Studio Singapur itu biasa-biasa saja karena sebelumnya, dia sudah lebih dulu mendatangi Universal Studio America. Nah, gara-gara itu pula gue jadi penasaran… Kalo yang di Singapura aja udah keren banget, maka yang di Amerika itu seberapa kerennya lagi???

Dan ya… gue yang tadinya enggak gitu tertarik berlibur ke Amerika, sekarang udah mulai kepengen berlibur ke sana… Mungkin nanti, setelah gue berhasil mewujudkan impian berlibur keliling Eropa, maka keliling Amerika akan jadi target liburan gue selanjutnya. Nggak tanggung-tanggung, gue kepengen mampir ke Disneyland dan Universal Studio America juga. Kalau nanti mimpi itu sudah terwujud, isnyaallah akan gue sharing lagi hasil observasi gue via blog ini 🙂

Doakan impian gue itu akan terwujud kelak yaa! Cheers!

Hope the Holiday Will Make Me Feel Better

Entah kenapa, sekitar seminggu belakangan ini gue ngerasa apa yang biasa disebut orang lain sebagai galau. Bermula dari suatu sore di mana-mana tiba-tiba gue ngerasa super bad mood, bosan, dan yang paling parah, gue jadi males ngomong. Buat orang seperti gue, kalau masih suka ngomel-ngomel, itu hal biasa. Tapi kalo udah sampe males berdebat, males ngomong, itu yang udah bahaya… Apalagi kalo udah sampe jarang senyum dan jarang ketawa… bener-bener udah masuk kategori bad mood tingkat tinggi.

Dulu gue pernah bilang sama salah satu temen gue di EY. Definisi bahagia buat gue itu simpel aja: asalkan dalam satu hari gue bisa sekali aja tertawa senang, berarti hari itu adalah hari yang bahagia buat gue. Dan ya… belakangan ini, gue jarang punya alasan untuk tertawa. Belakangan ini, entah kenapa, gue jarang sekali memiliki hari yang bahagia.

Udah sebulan lebih, gue menghabiskan belasan jam dalam sehari, dari Senin hingga Minggu, hanya untuk bekerja. Setelah semua kerja keras itupun, nyatanya report gue tetap saja selesai terlambat. Pernah di suatu malam, tiba-tiba gue ngerasa capek… Gue jadi mempertanyakan apa yang sebenarnya sedang gue kejar dengan jam kerja yang menggila seperti itu? Dan apa sebetulnya yang bisa gue dapatkan terutama kalau pada akhirnya, pekerjaan gue tetap saja selesai terlambat…

Bekerja lembur sebetulnya bukan hal baru buat gue. Tapi kerja lembur yang terasa membebani, kerja lembur yang sebetulnya tidak ikhlas gue jalani, serta kerja lembur yang sering membuat gue ngerasa sendiri… semua itu benar-benar hal yang baru terjadi dalam hidup gue. Sehingga kadang, gue jadi ngerasa kangen sama suasana kerja lembur waktu masih di EY… Kerja lembur yang sesekali diselingi acara curhat atau sekedar ngobrol ngalor ngidul sampe pernah, berjam-jam gue dan teman gue lewati hanya untuk ngobrol ini-itu, sampai tanpa terasa, pagi hari sudah datang menjelang…

Sebetulnya gue juga enggak yakin… apakah semua rasa tidak nyaman ini berasal dari pekerjaan. Dan rasanya agak-agak tidak pantas kalau gue menyalahkan semua ini kepada pekerjaan. Gue punya pekerjaan yang baik, prestasi yang baik terutama untuk ukuran orang yang baru berusia 25, gue juga punya bos yang meskipun tidak sempurna, gue bisa bilang dia itu bos terbaik yang pernah gue punya… Belum lagi teman-teman yang makin lama terasa makin dekat sama gue, yang suka tiba-tiba nraktir gue mulai dari es jeruk, es kelapa muda, Come Buy, sampe makan bimbimbap di Han Gang, serta teman-teman yang sabar menghadapi kejudesan gue dan seorang teman yang kebaikan hatinya suka bikin gue terkejut…

Ada seorang sahabat yang bilang… mungkin gue hanya perlu istirahat. Mungkin gue hanya merasa lelah setelah harus menyelesaikan begitu banyak masalah sejak hari pertama gue mulai bekerja. Atau mungkin, gue hanya butuh ketetapan hati untuk meninggalkan apa yang saat ini sudah gue miliki untuk sesuatu yang lebih baik lagi…

Jadi singkatnya, gue butuh lepas sejenak dari pekerjaan gue. Butuh bersenang-senang, supaya setelah itu, gue bisa berpikir jernih… tentang apa yang terbaik buat gue, serta tentang apa yang sebenarnya saat ini gue ingini…

Kebetulan hari Senin gue dan keluarga akan pergi liburan. Nggak jauh-jauh, cuma ke Singapura 3 hari 2 malam. Tujuan utamanya sudah pasti Universal Studio. Dan seperti biasa, gue selalu menyukai amusement park. Terlepas dari amusement park, gue selalu menyukai aktivitas traveling. Gue suka berada di tempat baru, melihat suasana kota yang jauh berbeda dengan Jakarta, suka berfoto ria di tempat-tempat yang sebelumnya hanya gue lihat di lembar buku atau layar kaca… Dan semua itu, selalu membuat gue ngerasa bahagia.

So yes… I hope that the upcoming holiday, will definitely make me feel better. Happy holiday for me then 🙂

My Korea Itinerary: Jeju Island

First day in Jeju

  1. Teddy Bear Museum, yang katanya sih, Teddy Bear Museum di Jeju ini ukurannya lebih luas daripada museum sejenis di NSeoul Tower. Tapi, koleksi boneka di Nseoul Tower masih lebih bagus daripada museum Jeju. Jadi daripada bingung, kita berencana datengin dua-duanya, supaya nggak ada penyesalan di kemudian hari, hehehehe;
  2. Ripley’s Believe It or Not Museum. Museum ini menampilkan replika atau gambar dari hal-hal yang unbelievable but true;
  3. Cheonjeyeon waterfall. Salah satu objek wisata alam yang terkenal cantik di Jeju Island itu adalah 3 air terjun ternamanya, yang salah satunya si Cheonjeyeon ini; dan
  4. Jungmun beach & resort. Jungmun ini merupakan pantai paling populer di Jeju Island. Ada juga pertunjukan lumba-lumba yang bisa kita saksikan di kawasan resort ini.

Second day in Jeju

  1. Trick Art Museum. Isinya merupakan gambar-gambar 3D yang menampilkan optical illusion art. Jadi yang dipamerkan itu bukan sekedar gambar biasa melainkan gambar yang bisa ‘menipu’ pandangan mata kita;
  2. Sunrise Peak. Kalau kamu googling Jeju Island, akan keluar gambar pantai yang dikelilingi bunga-bunga berwarna kuning. Nah, pemandangan cantik itu bisa kita dapati di Sunrise Peak, salah satu world’s natural wonder;
  3. Manjanggul cave, the longest lava tube in the world; dan
  4. Maze park alias taman labirin. Jadi di sini, kita bisa main di taman labirin gitu deh. Katanya sih, tempat ini lumayan sering buat dijadiin lokasi syuting serial dan film Korea.

Last day in Jeju

  1. Cheonjiyeon & Jeongbang waterfall. Ini adalah 2 dari 3 air terjun terpopuler yang tadi gue sebutkan di atas;
  2. Oedolgae rock, sebuah tebing yang punya pemandangan spektakuler;
  3. Yongduam rock, batu karang berbentuk kepala naga;
  4. Jeju Glass Castle, theme park yang menampilkan berbagai hal yang terbuat dari kaca; dan
  5. Jeju Love Land. Buat yang ini, gue agak malu mendeskirpsikannya… Jadi kalian googling aja sendiri lah ya, Jeju Love Land ini tempat apaan, hehehehe.

My Korea Itinerary: Seoul & Surrounds

Iseng-iseng gue mau sharing rencana perjalanan gue ke Korea tahun depan . Ya kali aja ada temen yang udah berpengalaman dan bisa kasih input buat itinerary gue ini. Sengaja gue pecah jadi 2 judul blog (Seould & Surrounds dan Jeju Island) supaya lebih enak dilihat secara bisa panjang banget kalo 2 itinerary itu disatuin di sini.

Sebelumnya gue mau memperkenalkan teman-teman seperjalanan gue dulu nih. Karena dalam blog ini, gue akan beberapa kali menyebut nama mereka berlima: Dini, Luzy, Avi, Nesni, dan Tiara.

Ok, here we goItinerary gue dan teman-teman untuk daerah Seoul dan sekitarnya.

First day in Seoul (will visit other province outside Seoul this day)

  1. Dae Jang Geum theme park. Buat yang suka nonton Jewel In The Palace, pastinya udah enggak asing lagi sama nama Dae Jang Geum. Sebagai the big fans of Jang Geum, gue jelas ngerasa harus dateng ke tempat ini. Jadi setting istana yang dulu sengaja dibuat jadi lokasi syuting, sampai sekarang masih dipelihara dan dibuka untuk umum. Selain serasa di istana beneran, di sini kita juga bisa foto-foto pake hanbok, sama bisa juga nyobain penjara ala Korea dan kendaraan tardisionalnya Korea di jaman dulu;
  2. Makan siang di Lotte Department Store. Kenapa gue secara spesifik menyebutkan nama Lotte? Soalnya ini salah satu lokasi syutingnya Secret Garden, serial favoritnya Luzy. Katanya ada banyak orang yang sengaja dateng ke sini cuma buat berfoto sambil meniru pose tokoh utama cowok di salah satu eskalator dalam mall ini;
  3. Petite France, pusat kebudayaan Prancis yang juga merupakan salah satu lokasi syutingnya Secret Garden. Tempatnya lucu, bagus buat foto-foto. Di dalamnya ada beberapa tourist attraction yang pastinya enggak jauh-jauh dari budaya Prancis. Hmm, biar lebih menghayati, gue juga mau nonton Secret Garden dulu aaah, hehehehehe;
  4. Nami Island alias lokasi syutingnya Winter Sonata. Sebenernya, gue juga enggak pernah nonton Winter Sonata, tapiii, kayaknya ini salah satu tempat yang wajib dikunjungi kalo liburan ke Seoul. Udah gitu kalo gue lihat dari gambar-gambarnya, pemandangan di pulau ini kelihatan cantik banget lho. Jadi mungkin supaya lebih menghayati, sebelum pergi gue juga harus nonton Winter Sonata dulu 😀

Second day in Seoul

  1. Rumah Full House! Kalo ini serial favorit kita semua. Udah dari dulu gue mengidam-idamkan pengen masuk ke rumahnya Yong Jae dan Han Jie Eun di serial Full House itu. Jadi sampe sekarang, rumah Full House itu masih dijadiin tempat wisata di Seoul lho. Walaupun bakal lumayan susah buat sampe ke sana, tapi kita harus berjuaaang, hehehehe;
  2. Korean Folk Village alias replika pedesaan tradisional Korea di jaman buyut-buyut kita dahulu. Ini juga pernah jadi salah satu lokasi syutingnya Jewel In The Palace. Selain replika pedesaan, ada juga pertunjukan tarian Korea yang katanya sih, aksi akrobatiknya itu spektakuler banget;
  3. Namdaemun Gate dan pasar Namdaemun. Kalo ini sih udah jelaaas, waktunya belanja, hehehehe. Kalo mau belanja oleh-oleh yang ada tulisan Korea-nya, yang di sinilah tempatnya. Si Namdaemun Gate itu mah cuma numpang foto-foto aja lah. Namanya juga salah satu Korea’s number one national treasure, jadi gimana pun tetap wajib untuk dikunjungi, hohohoho; dan
  4. N Seoul Tower. Tahu adegan di mana Gun Pyo dan Jan Di di BFF terjebak di dalam tower sehingga terpaksa bermalam di dalam kereta monorail? N Seoul Tower ini lah lokasi syutingnya. Entah kenapa, adegan di tempat ini berkesan banget kalo buat gue. Selain itu, di sini juga ada museum Teddy Bear yang tersohor itu. Terus yang terakhir… tempat anak-anak muda suka masang gembok cinta juga adanya di tempat ini.

Third day in Seoul (ini juga lokasinya agak jauh dari Seoul)

Full day: Everland.

Amusement park ini populer banget di kalangan orang Indonesia. Hampir semua paket tur Seoul di Indonesia itu ada mampir ke taman bermain outdoor ini. Selain 15 wahana yang bisa dicoba, di Everland ini ada juga semacam Waterboom dan kebun binatangnya. Gue agak-agak tertarik nih sama ‘Waterboom’ indoor-nya. Bentuknya itu pemandian air panas yang ada saunanya gitu deh. Korea banget nggak tuh kesannya, hehehehe.

Fouth day in Seoul

  1. DMZ. Ide awal dateng dari Dini, pengen dateng ke DMZ yang secara singkat, merupakan daerah perbatasan antara Korea  Utara dengan Korea Selatan. Selain melihat-lihat daerah perbatasan, nanti kita juga boleh coba masuk ke terowongan bawah tanah yang bentuknya mirip kayak tambang batu bara. Well, kapan lagi toh, punya kesempatan masuk-masuk ke tempat aneh kayak begini?
  2. Makan siang di Cheonggyecheon stream. Sebenernya ini tuh cuma sungai tengah kota yang dipercantik yah. Awalnya enggak ada di itinerary gue, tapi berhubung Luzy dan Tiara ngusulin tempat ini dalam waktu yang hampir bersamaan, gue jadi penasaran juga. Bisa lah disisipin ke itinerary yang udah padat ini… itung-itung sekalian cari makan siang;
  3. Jump Show. Gue jadi pengen nonton live show ini gara-gara nonton film Thailand yang judulnya Hello Stranger. Dan ternyata, Jump Show ini emang populer banget di Korea sana. Show-nya lucu dan unforgettable. Tiketnya emang mahal banget (bahkan lebih mahal daripada tiket masuk Everland), tapi mumpung ke sana ya hajar aja laah;
  4. World Cup Park. Ini sih udah cukup jelas… stadium piala dunia yang dikelilingi sama taman yang biasa dijadikan tempat piknik. Buat gue sih, sekedar foto dengan latar belakang stadiumnya aja udah cukup, hehehehe; dan
  5. 68 City, gedung pencakar langit kebanggaan kota Seoul. Kata Tiara, ada banyak serial Korea yang syuting di tempat ini. Setelah gue cari info, kelihatannya ok juga. Pemandangan di sekitarnya kelihatan cantik, dan di dalam gedungnya, ada sea world dan museum lilin yang sepertinya boleh juga buat dicoba. Oh ya, the best view dari Hanggang river juga bisa didapetin dari tempat ini.

Fifth Day in Seoul

Full day: Lotte World.

Lotte World mengklaim dirinya sebagai the biggest indoor amusement park in the world yang sejajar dengan Disneyland. Ukurannya emang lebih kecil daripada Everland, tapi justru jumlah wahananya jauh lebih banyak daripada Everland.

Last day in Seoul

  1. Gyeongbokgung Palace. Kayaknya liburan ke Korea itu belum afdol yah, kalo belum mengunjungi istana-istana papan atasnya. Apalagi pemandangannya bagus, and again, bagus juga buat befoto ria, hehehehehe. Di dalam kompleks istana ini ada juga museum nasionalnya Korea yang katanya sih, wajib buat dikunjungi;
  2. Seodaemun Prison, museum yang dulunya bekas penjara. Kalo ini idenya Dini sama Avi. Jadi si penjara ini dulunya lokasi penyiksaan tentara jaman perang melawan Jepang. Jadi nanti di sana kita bisa merasakan betapa mencekamnya suasana penyiksaan di tempat itu. Malah ada salah satu ruangan di sana yang namanya “The Torture Room”, hiiiiyyy… bakal serem kayak Lubang Buaya nggak yah? Hehehehehe;
  3. Nanta Show. Ini juga salah satu show lucu terpopuler di Korea. Hopefully, pas gue ke sana, show ini masih ada. Soalnya kalo gue lihat di website-nya, periode show ini cuma sampe Desember 2011. Smeoga diperpanjang sampe gue dateng ke sana, hehehehe; dan
  4. Hello Kitty Café & Coffee Prince Café (kebetulan letaknya berdekatan). Jangan tanya kenapa gue pengen ke Hello Kitty Café… gue ini kan banci pink yang gila Hello Kitty, hehehehe. Kalo Cofee Prince, si Tiara yang pengen ke sana. Gue sih ayo aja. Jadi lagi-lagi, kayaknya gue harus nonton serialnya dulu supaya lebih menghayati, hohohohoho.

Setelah dari Hello Kitty & Coffee Prince Café, kita langsung balik ke hostel, ngambil koper, kemudian cabut ke bandara mengejar penerbangan terakhir menuju Malasyia (yup, kita harus transit dulu di bandara KL).