Learning From a Kid

Tadi sore di sebuah lift Plaza Semanggi, gue ketemu sama seorang anak perempuan yang sangat lain dari yang lain. Gue yakin usianya belum melebihi sepuluh tahun. Pertama lihat, gue cuma mendapat kesan bahwa she is cute and well dressed. Tapi selama beberapa menit (atau mungkin hanya dalam hitungan detik) gue satu lift sama dia, gue langsung bisa melihat kesitimewaan dalam diri anak itu.

Awalnya gue denger dia ngomong begini saat dia baru saja masuk ke dalam lift, “Lantai 5 dong, tolong…” Suaranya itu jernih banget dan intonasinya terdengar dewasa dan penuh dengan sopan santun.

Di lantai berikutnya, ada orang dari bagian dalam lift yang ingin turun di lantai itu. Lalu dengan kesadaran sendiri, anak tadi melangkah keluar dari dalam lift supaya orang tadi bisa keluar lift dengan leluasa. Kemudian saat giliran gue dan keluarga gue yang turun dari lift, anak itu dengan sukarela menekan tombol OPEN supaya rombongan gue bisa keluar dengan tenang tanpa khawatir akan terjepit pintu lift.

Kedengarannya, apa yang dilakukan anak itu hanya hal yang sederhana. Tapi gue nggak yakin ada banyak anak seumuran dia yang memahami etika seperti itu. Jangankan anak kecil deh, yang udah tua-tua aja masih banyak yang nggak tau tata krama kok. Kita suka ogah memberi jalan kepada orang yang ingin lewat baik di dalam lift maupun di dalam kendaraan umum. Kita suka ‘lupa’ bahwa mengucapkan kata tolong, maaf, dan terima kasih adalah sopan santun yang tidak boleh kita lewatkan. Kita juga suka tidak peduli dengan kenyamanan dan keselamatan orang-orang yang tidak kita kenal.

Selain itu, bertambahnya usia juga membuat kita semakin mati rasa sama yang namanya etika pergaulan. Kita sudah tidak lagi merasa bersalah saat mengucapkan kata-kata yang tingkat bahasanya setara dengan bahasa preman. Kita juga sudah tidak peduli lagi dengan berbagai jenis tata tertib, entah itu tata tertib lalu lintas, budaya mengantri, dan lain sebagainya yang waktu TK dulu selalu diajarkan oleh sang Ibu Guru. Padahal seharusnya, sebagai manusia dewasa kita sudah mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Tapi toh faktanya, semakin dewasa justru membuat hati nurani kita semakin tumpul terhadap berbagai macam aturan di dunia ini.

Anak perempuan di Plaza Semanggi itu kemungkinan besar dididik sangat baik oleh orang tuanya. Dan semoga, kerasnya hidup tidak akan banyak mengurangi idealismenya itu. Makanya, kalo gue punya anak nanti, akan gue ajarkan dia bahwa meskipun orang lain tidak bisa menjaga kesopanannya, bukan berarti dia boleh ikut-ikutan bersikap seenaknya. Karena bagaimanapun, sopan santun adalah cara kita untuk menjaga hubungan baik dengan sesama manusia. So guys, let’s start behaving good okay?

Start From Zero

Setelah sukses dengan satu stand di food court Pasar Kranggan, tiga hari yang lalu nyokap gue buka cabang Pondok Ratu di Warung Tenda Kota Wisata Cibubur. Nyokap dan bokap optimis banget omset di sana bakalan lebih besar daripada yang mereka dapatkan di food court Pasar Kranggan. Lalu lima jam setelah pembukaan di Kota Wisata, bokap nelepon buat bilang bahwa baru ada tiga pengunjung yang mampir ke Warung Tenda mereka itu… Baru keesokan harinya gue tahu bahwa sepanjang hari pertama buka, tidak satupun ayam bakar jagoan nyokap gue yang terjual di Warung Tenda…

Gila ya, ayam bakar yang selama di food court bisa mendatangkan uang jutaan rupiah setiap bulannya malah nggak laku satu biji pun di tempat yang baru. Nyokap pasti sedih hari pertamanya enggak sukses seperti yang dia bayangkan. Untung si babe mau repot-repot nemenin emak di sana…

Lalu tadi malam, bokap nelepon gue lagi, kali ini dengan suara yang terdengar ceria. Bokap gue bilang, “Dagangan hari ini laris manis, makanannnya habis semua!”

Gue jelas kaget, “Kok bisa?”

Bokap ketawa. “Iya, tadi kan sodara-sodara pada mampir makan ke sini. Terus gara-gara tenda kita kelihatan ramai, orang-orang jadi pada penasaran pengen nyobain ayam bakar Mami.”

Gue ikut tertawa mendengar cerita bokap. Dalam begitu banyak hal, seringkali kita harus memulai segala sesuatunya dari nol. Soal seberapa cepat kita bisa merangkak naik, rentang waktunya berbeda-beda untuk setiap orang. Dan seringkali, dukungan dari orang-orang terdekat bisa mempercepat laju pencapaian itu. Dalam kasus ini, para keluarga besar gue adalah ‘sang dewa penyelamat’🙂

Duh, gue jadi malu nih. Gue aja yang anaknya ortu belum sempet mampir ke Warung Tenda dengan alasan sibuk kerja. Meski begitu, doa dan dukungan gue akan selalu menyertai jejak langkah mereka berdua…

Makanya… temen-temen semua bantuin gue juga yaa! Kalo main ke Kota Wisata jangan lupa mampir ke Pondok Ratu! Buka setiap hari dari jam 3 sore sampai jam 12 malam. Kalo mampir, tinggal sebut nama gue aja. Siapa tahu bakal dikasih diskon sama ortu gue, hehe. Ditunggu kedatangannya ya guys!

A Key of Happiness

Gencarnya peredaran novel chicklit ditambah majalah masa kini yang hobi meneriakkan merk-merk papan atas membuat para remaja dan wanita muda lupa apa yang dimaksud dengan unconditional happiness (kebahagiaan tanpa syarat). Kita ngerasa hidup ini baru bisa dibilang indah kalo kita udah bisa nenteng LV ke mana-mana, menginjak Mahnolo di kaki kita, makan siang di restoran sekelas Sushi Tei SETIAP HARINYA, dan pastinya, mengendarai mobil mewah dan kerja di perusahaan multinasional dengan posisi dan gaji yang menggiurkan.

Kita pun lantas menyimpulkan; kita tidak akan pernah merasakan hidup bahagia tanpa segala kemewahan yang gue sebutkan di paragraf pertama.

Selain soal kemewahan, kita juga menganggap hidup tidak sempurna tanpa pacar yang sempurna atau setidaknya mendekati predikat sempurna. Ganteng, tinggi, perut six pack, kaya raya, baik hati, penyayang, setia… Jangankan soal pacar, soal teman dan sahabat pun kita mematok standar yang sama dengan tokoh sahabat yang suka muncul di novel-novel atau persahabatan ala Friends dan Sex and the City.

Lagi-lagi kita menyimpulkan, hidup kita belum terasa bahagia tanpa pacar dan sahabat yang sempurna.

Dan pastinya, sederetan kesempurnaan itu belum lengkap tanpa wajah cantik yang dihiasi kosmetik sekelas MAC, body keren yang ‘dicuci’ tiap hari dengan sabun mandi seharga ratusan ribu rupiah plus spa super mahal ditambah facial rutin setiap bulannya.

Atau yang lebih konyol, cukup banyak fresh graduates yang ngerasa HARUS kerja di bidang entertainment supaya profil diri mereka terlihat completely chic. Mereka nggak tau aja kalo industri hiburan itu terkenal kejam dalam hal borjuisme. Gaji buat pemula jumlahnya nggak seberapa, tapi tetep aja para bos menuntut para anak buahnya untuk selalu tampil ‘wah’. Malah gue pernah baca di salah satu blog ibu kota yang menyebutkan beberapa nama sosialita yang suka ngutang untuk membeli fashion items mereka (dan mohon dicatat bahwa berbulan-bulan dikejar debt collector juga masuk hitungan ngutang!).

Padahal gue yakin banget hidup penulis novel dan artikel di majalah-majalah itu enggak sehebat yang mereka deskripsikan dalam tulisannya. Bahkan faktanya, seberapa banyak sih penulis chicklit yang sama cantiknya, sama tajirnya, dan sama kerennya sampe diperebutkan cowok-cowok maha sempurna seperti tokoh utama dalam tulisan-tulisan mereka? Bukannya bermaksud menjelekkan penulis-penulis itu, tapi come on, wake up! Tulisan mereka itu sama aja kayak dunia dongeng dalam versi yang lebih modern. It’s just something to raise money in commercial matter.

Jujur, gue juga kepengen punya hidup sempurna seperti itu. Koleksi tasnya Chanel emang menggiurkan, LV yang jagoan dalam desain tas juga suka memajang sepatu dengan model yang luar biasa cantiknya. Dan siapapun juga tahu kalo gue punya cita-cita karier setinggi langit… But the point is; I don’t need waiting all of those stuffs just to make myself happy.

Karena realistis ajalah, anak baru lulus kayak kita gini paling juga gajinya berapa sih? Kata orang gaji di EY tergolong lumayan gede, tapi tetep aja, enggak realistis namanya kalo anak baru kayak gue udah ngidam tas monogram keluaran LV! Jadi maksud gue, kalo bener gue harus ngoleksi barang-barang mahal itu hanya untuk bisa bahagia, harus berapa tahun gue menunggu kebahagiaan itu datang menghampiri?

Begitu pula soal pacar dan para sahabat. Sampai sekarang gue belum pernah ngerasain yang namanya punya pacar. Dan sahabat-sahabat gue… mereka masih bisa bête dan bersikap seenak jidat. Mereka nggak selalu tau gimana caranya bersikap bijak saat gue sedang sedih dan gundah gulana. Pokoknya, mereka enggak sama seperti sahabat-sahabat yang ada di novel dan film-film Hollywood itu… Tapi apa iya semua itu lantas membuat hidup gue menjadi suram?

Walau nggak pernah punya pacar, seenggaknya gue pernah beberapa kali ngerasain indahnya diperlakukan istimewa sama cowok-cowok dalam hidup gue. Pernah ngerasain senyum-senyum sendiri di dalam angkot saat baca SMS dari cowok yang gue suka. Pernah ngerasain hebohnya dandan berjam-jam sebelum pergi berdua sama gebetan… Dan pernah mendengar pernyataan suka, sayang, dan cinta dari cowok-cowok istimewa itu…

Soal sahabat, rasanya ada banyak hal yang patut gue syukuri. Ada Puja yang rela bersusah payah ikut mencari bantuan untuk gue yang mendadak bokek. Ada Mitha yang rela bangun tengah malam untuk menampung curhat gue yang lagi patah hati. Ada Intan yang pernah menawarkan hadiah sepasang sandal impian seharga ratusan ribu rupiah. Ada Lisa yang rela menemani gue pergi jauh-jauh ke Depok buat nganterin naskah novel langsung ke tangan penerbitnya. Ada Vera yang BENERAN menyodorkan cowok ganteng hanya supaya gue nggak jomblo melulu. Ada Junet yang mempertemukan gue sama dosen di kampusnya yang telah banyak berjasa dalam penyusunan skripsi gue. Dan ada Stievan yang suka menghibur gue dengan telepon sore-nya… Ditambah lagi beberapa nama sahabat yang belum gue sebutkan dalam kesempatan ini.

Untuk fashion stuff, LV dan Versace jelas masih jauh di awang-awang. Tapi setidaknya, level gue udah naik dari Elizabeth ke Charles and Keith. Parfum udah super duper melejit dari Oriflame ke Guess (pameeer… ada yang seumur hidup baru sekarang ini bisa beli parfum mahal, hehe). Jadi mengingat hari gini cari kerja itu sulit, maka jangankan Charles and Keith, barang selevel Marie Claire juga udah harus kita syukuri! Malah, gue nggak akan rela menukar tas Charles & Keith hitam kesayangan gue dengan merk apapun karena tas model begini udah bertahun-tahun gue cari di berbagai pelosok mall ibu kota.

Soal makanan pengisi perut juga udah sangat-sangat layak untuk disyukuri. Kalo dulu gue suka bingung dengan segelas kopi seharga puluhan ribu, sekarang rasanya si Starbucks itu udah bukan perkara besar lagi. Meski enggak bisa tiap hari makan di restoran mahal, seenggaknya sesekali masih bisa makan sepuasnya di The Buffet sambil cekikikan bareng temen-temen tercinta. Dan perlu diingat bahwa tidak semua orang di Jakarta sudah menikmati lezatnya cheesecake favorit gue itu…

Intinya gue bukan mau pamer, gue hanya ingin mengajak teman-teman semua untuk lebih mensyukuri apa yang sudah kita punya. Gue yakin setiap orang dari kita punya daftar kesenangan tersendiri seperti yang gue tulis dalam blog ini. Ingat bahwa rumput tetangga akan selalu terlihat lebih hijau. Jadi kalo kita mau nengok ke pekarangan tetangga melulu ya nggak bakalan ada abisnya! Nikmati aja apa yang sudah kita punya saat ini sambil terus berusaha mencapai taraf hidup yang lebih baik. Mungkin nasehat untuk ‘lihat ke bawah, jangan selalu lihat ke atas’ udah terdengar basi di telinga kita. Tapi nasehat itu memang benar-benar harus kita praktekkan. Hanya saja kalo gue boleh menambahkan; lihat ke bawah supaya kita bisa lebih mensyukuri hidup kita saat ini, dan lihat ke atas untuk memacu kita agar senatiasa mengukir prestasi.

By the way, gue bisa menulis kayak begini sama sekali bukan karena tiba-tiba gue menjelma jadi orang yang bijaksana. Gue cuma ngerasa lucu waktu ngelihat seorang kenalan yang berusaha keras untuk menjelma jadi cewek ala chicklit. Gue juga  jadi emosi waktu penerbit bilang novel gue kurang up to date. Kata adek gue, bisa jadi itu karena dalam novel gue sama sekali nggak ada nama Mango, Zara, dkk… Padahal gue tau banget merk-merk keren itu sama sekali enggak muncul di Ayat Ayat Cinta dan Laskar Pelangi. Tapi ya sudahlah, barangkali penerbit itu ada benarnya juga. Gue harus catat baik-baik bahwa bakso dan mie ayam udah out of date buat masuk ke dalam menu makan siang tokoh utama di dalam novel gue.

Lalu satu pemicu lagi kenapa gue nulis blog ini; gue eneg banget ngelihat temen yang memaksa bokapnya pergi kerja naik bis supaya mobilnya bisa dia bawa ke kampus setiap hari. Ada pula cewek yang rela tinggal di kosan super sempit (ukurannya tuh cuma dua kali tempat tidur single!) hanya supaya bisa pergi shopping bareng temen-temennya. Malah yang lebih parah, ada orang yang nekad memakai uang bayaran kuliah buat biaya bersenang-senang!

Sekali aja, gue pengen tanya sama para social climber (yang selalu ngotot nyebut dirinya sebagai sosialita, the it girl, the A list, atau apapun yang sejenisnya), “Are you guys happy acting like you are a Paris Hilton?” Gue bahkan pengen nanya sama si Paris Hilton, “Are you happy of being a Paris Hilton?”

Hopefully tulisan dalam blog ini akan selalu mengingatkan gue untuk tidak bertindak bodoh dan senantiasa hidup dengan penuh rasa syukur. Karena bersyukur itu emang bukan hal yang mudah. Bersyukur bukan hanya mensyukuri apa yang sudah kita miliki, tapi juga dengan lapang dada menerima apa saja yang belum bisa kita miliki…

Lalu apa praktek nyata dari teori gue dalam tulisan ini? Gue sedang belajar mencintai pekerjaan gue. Lupakan dulu pekerjaan lain dengan gaji sepuluh juta per bulan itu, karena faktanya, gue belum cukup matang untuk ambil bagian di perusahaan ybs. Gue juga harus berhenti dikit-dikit ngomel gara-gara teman yang baru balas SMS setelah berabad lamanya (baca: rasanya berabad padahal nyatanya baru lewat beberapa jam saja). Soal sahabat, nggak perlulah niru-niru yang ada di tv karena rasanya, gue udah punya sahabat-sahabat terbaik yang bisa ada di dunia ini.

Lalu bicara soal cinta, sekarang gue juga udah memahami dengan baik apa yang dimaksud dengan unconditional love (cinta tanpa syarat). Terlalu banyak syarat dan tuntutan justru akan menjauhklan kita dari cinta impian. Keranjingan sama Twilight bikin kita ngerasa si dia belum cukup romantis kalo belum niru si Edward Cullen. Atau contoh lain, bagi kita setangkai bunga itu enggak romantis karena kita maunya dikasih sebuket bunga dan bukan hanya setangkai saja! Makanya gue bilang, seringkali romantisme justru akan pergi menjauh saat kita mengajukan begitu banyak syarat kepada seseorang yang menawarkan cintanya untuk kita miliki sepenuh hati.

Jadi daripada repot-repot sirik sama orang lain atau  ngutang sana-sini demi penampilan ala cewek chicklit, lebih baik berbagahagialah dengan apa yang kita miliki. Berterima kasih sama orang-orang yang suka sama kita meskipun kita nggak balik suka sama mereka. Bekerja tanpa banyak mengeluh. Belajar memaafkan kesalahan teman, rekan kerja, dan keluarga kita. Dan jangan lupa, pelihara barang-barang yang kita milikimeskipun harganya tidak sampai seratus ribu rupiah.

So the point is; loving each little thing we have is a key of happiness.

Ok guys, have a beautiful life!

I Beg You a Sorry

 

Dalam sebuah perjalanan dinas sekitar lima atau enam bulan yang lalu, gue ditempatkan sekamar dengan temen sekantor yang baru gue kenal di tempat itu. Sebut aja namanya Dinda. Dia orangnya easygoing, enak diajak ngobrol, dan cerewet plus super heboh. It was nice having such a roommate like her.

Saking cocoknya gue ngobrol sama dia, di malam ke dua kita udah asyik ngobrolin soal cowok. Gue cerita tentang cowok yang lagi deket sama gue, dan dia juga cerita soal cowok-cowok di sekitar dia. Lalu si Dinda pun bilang begini sama gue, “Oh iya, tadi temenlo si Randy (bukan nama sebenarnya) ngajakin gue kenalan.”

Dari cara Dinda ngomong, dan dari binar-binar cerah di wajahnya, gue tau si Dinda ngerasa tertarik sama temen cowok gue itu. Ingatan gue pun melayang ke tahun-tahun di mana gue mulai mengenal Randy.

Well, gue akui DULU gue juga pernah suka sama si Randy ini. Bukan suka yang serius, cuma iseng-iseng aja. Gue suka sama dia juga enggak lama, karena beberapa bulan setelah kenal Randy, gue ketemu lagi sama someone-from-the-past. Setelah gue memutuskan untuk say good bye at least for now sama si someone-from-the-past itu, gue sempet coba untuk naksir sama Randy lagi. Cuma bedanya, kali ini rasa suka itu hanya sekedar pelarian belaka. Akhirnya  pelarian itu pun berhenti sekitar satu tahun yang lalu saat gue nemuin cowok baru buat mengisi ruang hati gue (yeah, gue emang tipe orang yang baru bisa melupakan ‘yang lama’ setelah menemukan pengganti ‘yang baru’ hehe).

Dan kalo ditanya alasan kenapa gue nggak jadian sama si Randy, jujur gue jawab karena dia bukan tipe gue dan gue juga sama sekali bukan tipenya dia. Selain itu, ada juga omogan-omongan miring yang bikin gue enggan terus menaruh harapan sama cowok yang satu ini. Makanya gue sama sekali nggak berharap apa-apa setelah tahu gue dan Randy akan bekerja di perusahaan yang sama. Dan begonya, omongan-omongan miring yang gue dengar dari beberapa orang tertentu itu gue sampaikan lagi sama si Dinda.

Gue lupa apa aja yang waktu itu gue ceritain ke Dinda, tapi intinya gue ngomong begini sama dia, “Lebih baik elo jangan sampe naksir sama Randy.”

Waktu itu Dinda cuma manggut-manggut aja. Topik pembicaraan pun beralih ke cowok-cowok lain di sekitar kita.

Kemudian tiga hari yang lalu, gue denger kabar bahwa Dinda dan Randy baru aja JADIAN. Sumpah serapah yang gue tujukan untuk diri sendiripun meluncur deras dari mulut gue. Gue nyesel banget dulu pernah ngomong gitu sama si Dinda. Mau ditaro di mana muka gue ini kalo di kantor nanti gue ketemu sama mereka berdua??? Apa pula yang ada di benaknya Randy kalo tau gue pernah ngomong begitu?

Sampai sekarang gue belum tahu apakah Dinda udah menyampaikan omongan gue itu ke Randy. Tapi cepat atau lambat, Randy pasti tahu kebenarannya. Dan rasanya nggak ada yang bisa gue lakukan selain meminta maaf sama Randy, lewat blog ini…

Ada temen gue yang bilang, “Biar aja si Dinda nerima Randy, nanti juga dia sendiri yang menyesali keputusannya.”

Meski begitu, dalam hati gue tetep ngerasa enggak tenang. Benarkah suatu hari nanti Dinda akan menyesali keputusannya? Lucunya gue malah nggak yakin akan hal itu. Karena setelah dipikir-pikir lagi, gue sama sekali nggak punya bukti bahwa omongan-omongan miring itu benar adanya. Itu kan cuma kata orang; cuma sekedar kabar burung yang beredar di kalangan terbatas…

Malah kalo gue inget ke belakang, Randy itu orangnya cukup baik sama gue. Dia pernah bersedia nganter gue pulang ke rumah ortu di Bekasi meskipun gue udah berkeras bilang bahwa jalanan rumah gue itu jelek dan sempit banget. Sekitar dua bulan yang lalu dia juga pernah nayain kabar gue via personal message di Friendster (dan tidak menutup kemungkinan saat dia kirim message itu dia udah berstatus jadian sama si Dinda). Makanya, I really beg you a sorry for what I’ve said to your girlfriend.

Yeah, lidah memang tidak bertulang. Semoga ini bisa jadi pembelajaran buat gue untuk lebih berhati-hati dalam berucap. Dan gue harap, hal itu nggak akan merusak hubungan baik antara gue, Dinda, dan Randy.

By the way, congratulation for both of you. Wish you all the best 🙂

Resolusi 2009

Resolusi 2009

  1. Nyelesain dan nerbitin novel perdana gue. Novel pertama boleh ditolak penerbit, tapi yang berikutnya harus berhasil! Malu dong udah cerita ke sana-sini tapi novelnya nggak kunjung terbit hehe;
  2. Menuntaskan jerawat dan bekas-bekasnya, biar kelihatan tambah cantik, hehe;
  3. Naikin berat badan, kalo bisa satu bulan satu kilo. Tapi gimana caranya yaa?
  4. Menyempatkan diri untuk berolahraga setiap weekend. Pilihannya: berenang, nge-gym, lari pagi, bersepeda, atau main sepatu roda (iya, sepatu roda empat ala Olga itu, hehe);
  5. Rutin minum susu, makan sayur, buah-buahan, plus vitamin C dan B (supaya kuat lembur nih, hehe);
  6. Bekerja dengan sepenuh hati. Gimana pun, ini pekerjaan yang pernah gue idam-idamkan;
  7. Kursus Bahasa Inggris lagi, seenggaknya ikut kelas persiapan TOEFL;
  8. Kuliah S2, pengennya sih di UI, tapi lebih bagus lagi kalo dapet beasiswa ke luar negeri, hehe;
  9. Having a trip ke tempat yang belum pernah gue datangi sebelumnya;
  10. Yeah, sama seperti orang-orang pada umumnya, gue juga kepengen segera menemukan Mr. Right yang selama ini gue nantikan 🙂

Happy new year 2009!

I’m Moving Out

Sabtu kemaren gue resmi pindah dari rumah kontrakan yang terletak persis di seberang kampus Binus Syahdan. Rumah kontrakan yang udah tua, usang, pengap, namun menyimpan begitu banyak kenangan selama dua tahun gue tinggal di sana. Dinding-dinding rumah kontrakan itu adalah saksi bisu atas begitu banyak hal yang terjadi, mulai dari yang lucu, romantis, sedih, sampai hal-hal seram berbau mistis.

Secara fisik, si kontrakan sebenernya udah nggak enak buat ditinggalin. Tapi tetep aja, sampai kapanpun gue nggak akan pernah lupa bahwa gue bahwa gue pernah tinggal di sana… Tepatnya, gue nggak akan melupakan kenangan yang terukir bersama orang-orang yang pernah menjejakkan kakinya di rumah itu…

Yang pertama Puja dan Natalia; dua orang yang paling sering nongol di kontrakan gue. Mereka juga pernah nginep satu malam di rumah itu. Malam harinya, kita asyik ngerjain cowok-cowok via SMS, abis itu kita seseruan foto-foto mulai dari pose konyol sampe pose seram ala Sadako. Mau liat hasil fotonya? No way…it’s private collection dear;)

Kemudian Mitha, yang belakangan cukup sering nangkring di kontrakan gue. Pernah suatu hari pas pulang kerja, gue nemuin kamar yang tadinya berantakan udah diberesin sama si Mitha! Dulu Puja juga pernah beresin kamar pas gue lagi mandi plus nyingkirin sarang laba-laba di pojokan kamar… Ups, ketahuan deh kalo kamar gue suka berantakan kayak kapal pecah, hehe.

Gebetan gue yang ganteng, lucu, dan romantis itu… Suatu malam, seneng banget rasanya begitu keluar rumah, gue menemukan si gebetan nyengir kuda di depan rumah lagi nunggu gue yang udah sejam sibuk dandan karena tau mau ketemu sama dia, hehe…

Murid-murid les gue: Mitha (yang suka dateng dengan rujak sebagai cemilan), Adhis (satu-satunya tamu yang pernah digigit sama nyamuk di rumah itu), Anita dan Eva (yang suka bawain makanan dan hadiah ultah buat gue), Vina yang kalem abis, lalu Nadia yang pernah mengejutkan gue dengan ceritanya, “Lo tau nggak sih Fa… waktu elo lagi di kamar mandi, gue ngeliat bayangan orang lari ngelewatin pintu kamar lo!”

Pacar-pacar adik gue. Dulu ada Doli yang suka dateng bawa makanan enak, sekarang ada Dhici yang menambahkan cerita, ”Di atas genteng rumah ini kan suka ada kuntilanak lagi nangkring.”

Friska, Lina, Vivi, Heni… pastinya plus Puja dan Natalia yang suka nongkrong di kontrakan kalo lagi ada dosen yang bolos ngajar. Hanya kita, Tuhan, dan dinding-dinding kamar yang boleh tahu apa aja yang kita obrolin di kamar itu;)

Dan pastinya, adik gue Yantri yang tinggal di kamar sebelah. Suatu hari gue pernah ngomel gara-gara dia nyabut kabel kulkas sebelum kita pulang ke rumah ortu. Pas gue omelin, dia malah dengan polosnya ngomong begini, ”Kak Ifa gimana sih, kan Kak Ifa sendiri yang ngajarin kalo mau pulang semua listrik harus dicabut???” Yeah, walau kadang suka dodol, gimanapun gue banyak berutang budi selama tinggal bareng dia di kontrakan itu.

Bagi gue, semua orang yang gue sebut di atas adalah orang-orang yang luar biasa. Hebat banget mereka nggak pernah kapok main ke kontrakan yang sumpek itu. Hopefully, suatu hari nanti gue bisa ngundang mereka untuk datang ke rumah mewah yang adem dan ada kolam renangnya, hehe…

Akhir kata, buat temen-temen sekontrakan, I’m moving out yaa. Sorry for all mistakes I’ve ever done. Sukses buat semuanya. See ya!

Musuh Bebuyutan Gue

Gara-gara tulisan yang berjudul 21 Unforgetable Memories dalam blog ini, ada salah satu temen yang nyeletuk begini, “Baca blog-nya si Riffa deh, ternyata dia banyak musuhnya, dari jaman TK sampe SMA, hehe.”

Setelah gue cek lagi, ternyata emang 5 dari 21 point itu berisi cerita tentang orang-orang yang gue sebut sebagai musuh bebuyutan. Yeah, gue akui bahwa entah kenapa, di mana pun berada gue selaluuu aja nemuin satu orang yang resenya setengah mati. Kalo dibilang hal itu dikarenakan gue terlalu menyebalkan, tapi kok faktanya di mana pun berada gue juga selaluuu aja nemuin satu atau beberapa orang yang jadi sahabat kental gue sampe sekarang.

Salah satu temen lain berkomentar yang cukup mengejutkan gue, “Mungkin karena elo suka ngebunyiin genderang perang kali, Fa. Kalo gue nggak pernah punya musuh tuh.”

Gue cuma tersenyum tanpa menjawab apa-apa. Sampe ada lagi teman lain yang ikutan nimbrung, “Emang biasanya kenapa elo ribut sama mereka?”

Gue jawab secara acak… “Yang pertama karena sirik tanpa alasan, yang ke dua karena cowoknya mutusin dia gara-gara gue, yang ke tiga karena dia suka ngatain gue botak…”

Bukannya ngomentarin jawaban gue, temen gue yang berambut jabrik itu malah ketawa ngakak!

Dari pembicaraan itu gue coba lagi untuk flashback ke belakang. Kenapa kenangan gue di setiap tempat selalu dinodai oleh permusuhan?

Di SD yang lama, gue punya satu musuh. SD yang ke dua (gue pindah sekolah waktu kelas 4), gue juga punya musuh yang berlanjut sampe SMP. Lalu di SMA, gue ketemu lagi satu orang yang paling menyebalkan sejagad raya.

Mari kita bahas satu per satu…

Musuh gue di SD yang lama itu orangnya nggak pernah mau kalah sama gue. Dia ngerasa nilai-nilai dia harus selalu lebih bagus daripada gue, temen dia lebih banyak daripada temen gue, dan baju dia harus selalu lebih bagus daripada baju gue. Yang paling bikin gue sakit hati adalah waktu dia bilang, “Kamu kok jorok banget sih, baju sekolah tiap hari nggak ganti-ganti… Emang kamu nggak punya baju lain ya?”

Waktu kecil gue emang miskin. Karier bokap belum sesukses sekarang. Tapi justru itu yang gue enggak ngerti. Kenapa anak secantik, sepintar, dan sekaya dia harus sirik sama gue yang miskin dan kurus kering itu? Tapi anehnya… setelah gue pindah sekolah, justru si musuh ini orang pertama yang kangen sama gue. Kata Kiki, sahabat gue, si musuh sampe ngomong begini ke sahabat gue itu, “Si jenong apa kabar, Ki? Kapan ya dia mampir ke sekolahan kita?”

Dari sini gue teringat satu kalimat yang sebelumnya enggak pernah gue percaya kebenarannya: batas antara benci dan cinta itu sangatlah tipis.

Gue pun semakin semangat buat mengenang musuh gue selanjutnya. Yup, kali ini musuh gue di SD yang baru di Bekasi. Kehidupan gue sebagai anak baru awalnya baik-baik aja. Semua anak-anak di sana suka ngajak gue main bareng, kecuali DIA. Sampai ketika gue mulai pake jilbab, si musuh yang awalnya nggak pernah ngajak gue ngomong itu tiba-tiba ngomong begini, “Ih… si Riffa kan pake jilbab gara-gara kepalanya botak!”

Gue jelas enggak suka dikatain begitu. Sejak detik itu dia resmi gue blacklist dari daftar teman-teman bermain gue. Dan rupanya aroma permusuhan itu terus menjalar sampe ke SMP. Bedanya sama musuh yang pertama, kali ini gue justru menganggap si cewek ini ngerasa serba lebih kurang daripada gue makanya dia jadi nyari celah aneh-aneh buat ngejatuhin gue.

Waktu SMA lain lagi ceritanya. Musuh bebuyutan gue justru tipe orang yang disukai semua orang KECUALI orang-orang yang dia benci. Dia pintar memanfaatkan wajah innocent dan air matanya untuk membuat orang lain ikut membenci orang-orang yang dia benci. Dan dia tega melakukan APAPUN demi menyakiti lawan-lawannya itu…

Lantas kenapa dia sampe benci sama gue? Semua berawal dari pacar yang mutusin dia secara sepihak karena katanya, dia naksir cewek lain di kelas kita. Entah info dari mana, gosipnya cewek yang ditaksir cowok itu enggak lain gue sendiri… Sampe sekarang rumor itu nggak terbukti kebenarannya. Tapi tetap aja, si cewek innocent ini terus menggencarkan senjata sampai kelulusan memisahkan kita…

Well… kalo gue mencoba berpikiran sedikit lebih bijak sekarang, mungkin semua permasalahan itu kembali lagi pada teori batas yang tipis antara cinta dengan benci. Mungkin musuh di SD yang baru itu pada dasarnya hanya ingin berteman dengan gue. Waktu itu gue dekat dengan semua teman-teman di kelas, kecuali dengan dia. Habis gimana ya, sebagai anak baru rasanya agak sulit mendekati teman yang nggak kelihatan tertarik mendekati gue… Tapi mungkin justru itulah akar permasalahannya…

Begitu juga musuh gue waktu SMA. Andai waktu itu nggak ada ribut-ribut soal cowok, mungkin gue bisa berteman baik dengan dia. Sebelum kejadian itu kita sering ngobrol dan bercanda bareng kok. Jadi mungkin, waktu itu dia kecewa karena orang yang dia anggap baik sama dia (alias gue) ternyata malah bikin dia putus sama pacarnya…

Jadi bolehlah gue ambil kesimpulan bahwa kadang-kadang, musuh adalah sahabat yang kandas di tengah jalan.

Tapi mau gimana lagi yaa… Secara gue cuma manusia biasa yang nggak selalu bisa mengambil keputusan terbaik… Punya musuh emang enggak baik, tapi gimana dong, emang nggak semua orang bisa dijadiin sahabat kan? Lagipula gue yakin pada dasarnya nggak mungkin ada satu orang pun yang bisa disukai oleh SEMUA orang di sekitar dia. Malah setelah dipikir-pikir lagi, musuh-musuh gue masih lebih baik karena mereka memusuhi gue secara terbuka dan bukannya nusuk dari belakang, hehehe…

Lagipula… hmm… rasanya kisah hidup gue nggak akan sekeren sekarang tanpa musuh-musuh gue itu, huahaha…!!!

Statement Menyebalkan

Ini nih omongan orang yang paling terasa panas di kuping gue…

“Elo kok kurus banget sih?” Bertanya sambil menatap seolah gue ini mahluk langka yang aneh gimanaaa gitu. Fyi, porsi makan gue normal, minum susu tiap hari, lumayan suka ngemil, enggak punya penyakit kronis, DAN gue rutin minum obat cacing 1 tahun 2 kali. Jadi please ya, kurus begini bukan maunya gue!

“Jerawatlo kok jadi tambah banyak???” Biasanya yang suka ngomong begitu akhirnya ikut ditumbuhin jerawat juga, hoho, kualat tuh… Sebaliknya sekarnag justru muka gue udah mulai bersih nih, hohohohohoho…

“Di Binus itu gampang dapet nilai.” Hellllooooo, kalo di Binus segampang itu dapet nilai gue udah lulus dengan IPK 4!

“Gue sih nggak mau punya IP terlalu tinggi, takut jadi nggak gaul. Nggak mau kerja di perusahaan bonafid, gaji gede, tapi stres terus…” Sayang banget orang yang suka ngomong gitu. Ucapan itu doa lho guys…

“Cewek itu nggak usah terlalu ambisius ngejar karier. Toh ujung-ujungnya masuk dapur juga.” Ampun ya, hari gini masih ada orang berpikiran begitu? Ibu Kartini bisa nangis di dalam kuburnya kalo begitu terus…

“Jangan suka terlalu pilih-pilih cowok. Nanti keburu perawan tua.” Untuk beberapa orang tertentu yang ngomong begitu, nggak tau kenapa kedengeran di kuping gue kayak begini, “Mending pacaran sama siapa aja yang mau daripada jadi perawan tua.” Terkadang jadi perempuan itu memang menyedihkan…

“Sssst, berisik amat sih?” Teguran ini selalu sukses memporakporandakan kegembiraan gue dkk. Hidup itu enggak fun kalo cuma diem aja!

“Lho, kok adeklo cantik sih Fa?” Oh God.. jadi maksudnya gue jelek gitu???

Again… “Fa, adiklo apa kabarnya?” Gue nggak keberatan ditanyain kayak gitu, tapi gue nggak ngerti kenapa cowok-cowok yang lagi ngedeketin gue juga suka nanya kayak gitu. Jadi sebenernya dia mau deketin gue atau adek gue?

Dan statement yang paling menyebalkan adalah… “Ah, elo Fa, nasehatin gue tapi sendirinya elo juga kayak begitu!”

Haha, itu artinya gue juga suka mengeluarkan statement yang menyebalkan;) Let’s forgive each other aja lah yaa… Atau elo pada ikutin jejak gue aja… tulis hal-hal yang enggak suka elo denger supaya next time gue nggak ngucapin kalimat it di depan elo, hohoho. Thanks for reading!

Minutes to Minutes in My Passage Day

Minutes to minutes in my passage day…

1.     Jam 6.30 si Puja heboh nanyain baju toga itu resletingnya di depan apa di belakang. Dalam keadaan setengah sadar karena baru bangun tidur, gue bilang aja letak resleting itu kan normalnya di belakang;

2.     Setengah jam kemudian, si Puja nelepon lagi dan bilang bahwa resletingnya itu di depan. Katanya dia udah tanya ke anak-anak lain. Tapi gue tetep teguh pada pendirian; gue pake toga dengan resleting di belakang;

3.     Beberapa jam kemudian gue sampe JCC dan menemukan fakta bahwa yang bener itu resletingnya di depan! Arrrghhh…

4.     Jadwal make-up gue ngaret sampe DUA jam! Untungnya gue sampe JCC tepat waktu, hehe;

5.     Seluruh hadirin disuruh nyanyi lagu Indonesia Raya. Awalnya gue ikutan nyanyi, tapi baru bait ke tiga tiba-tiba gue terdiam. Rasanya tuh gue terharu banget berdiri di ruangan itu sambil nyanyiin lagu kebangsaan kita… Saking terharunya sampe nggak bisa ngeluarin suara buat nyanyi, hehe;

6.     Acara pelantikan dimulai dengan pelantikan untuk dua mahasiswa summa cum laude. Salut buat mereka berdua, IPK-nya 3,9 sekian, gila banget deh. IP gue yang cuma segini aja belajarnya mati-matian apalagi yang nyampe 3,9???

7.     Giliran gue maju ke panggung buat dilantik. Pas dipindahin tali topi wisuda sama Dekan, dia nanya gini, “Oh… ini Riffa ya?” Gue jawab, “Iya, Pak,” sambil senyum pastinya. Terus Pak Dekan ngomong lagi, “Selamat yaa, Riffa.” Gue senyum lagi (secara gue nyadar waktu itu gue lagi difoto sama fotografer, hehe), sambil bilang, “Makasih Pak.”

8.     Giliran dikasih tabung sama Bu Ersa, kajur gue… “Riffaaa… gimana masih betah kerja di EY?” tanyanya dengan wajah sumringah. Karena enggak mau ngerusak suasana bahagia di sana, gue jawab aja dengan entengnya, “Masih kok Bu, hehe…” (Senyum lagi soalnya gue kan difoto lagi sama fotografer, hahahaha);

9.     Sampe bawah panggung, disuruh berhenti sama fotografer buat foto. Karena udah bayar cukup mahal, gue langsung pasang pose ala artis yang lagi jalan di atas red carpet, huahaha…

10.   My favorite part is… ketika kita bareng-bareng lempar topi wisuda ke udara! Bahagia banget, terasa banget sekarang ini udah ada gelar SE di belakang nama gue, hehe…

11.   Karena semua kamera dan hp ditiitpin ke adek gue, terpaksa gue nemplok foto di sana-sini dan heboh bilang jangan lupa taro hasilnya di Fs atau di Facebook! Maklum, banci foto, hehehe…

12.   Nggak disangka-sangka, bokap-nyokap yang lagi naik haji nun jauh di Arab itu, nitip dua buket bunga wisuda via adek gue… Senangnya, foto gue jadi keren gara-gara ada buket bunganya! Dapet dua buket pula, kesannya kan kayak gue punya banyak fans gitu, hehe;

13.   Keluar dari ruang pelantikan, ada fotorgrafer nyamperin, mau jual foto gue yang diambil secara candid. Sayangnya dompet gue kebawa di mobil yang satunya lagi yang udah jalan keluar JCC. Si fotografer bilang bayar di mobil gue aja. Ya udah dia ikut gue menuju mobil yang diparkir JAUUUUUUHHHH banget sama supir gue. Dan ternyata…. di mobil gue enggak ada uang buat bayar foto! Untung si fotografer nggak marah… Maaf banget ya, Mas…

14.   Yang lebih buruk lagi, karcis parkir gue juga kebawa di mobil yang satu lagi! Padahal gue juga nggak bakal mampu bayar denda sebesar Rp. 20.000,-. Ya sudahlah, dengan tebal muka supir gue bilang ke petugas pintu parkir bahwa kita kehilangan karcis tapi juga nggak bisa bayar denda atas kehilangan karcis… Untung si mas-mas itu cuma tersenyum dan mempersilahkan mobil gue untuk beranjak pergi… Fiuh…. bikin malu aja!

15.   Abis dari JCC langsung cabut ke Djo photo studio. Sempet was-was karena mobil yang satu lagi (yang berisi om-tante dan adik-adik gue) salah pilih exit tol sehingga harus muter-muter dulu… Untung masih keburu!

16.   Waktunya photo session… Si mas-mas fotografer pada heboh ngarahin gaya kita. “Mbak… kepalanya miring dikit, badannya tegak, senyum sambil bilang, cheeeeeseeee….” Berhubung gue ini customer terakhir mereka, semua fotografer yang ada di ikut turun tangan ngarahin gaya kita sambil bareng-bareng bilang, “Cheeeeeseeee…”.

17.   Ada masalah lagi. Bensin gue udah sekarat. Si koko bosnya Djo Studio (mungkin koko ini yang bernama si DJO) dengan baik hatinya menggambarkan peta menuju pom bensin terdekat… Waktu pagi dia juga dengan senang hati mengatur supaya gue dan adik gue bisa dirias di ruangan tertutup (soalnya kita berdua kan pake jilbab…);

18.   Karena bingung hasil fotonya bagus-bagus banget, gue dengan senang hati membayar extra money buat ambil extra photos, hoho… Gue puas banget foto di Djo. Walau make-up nya ngaret tapi orang di sana ramah-ramah banget. Background-nya juga keren-keren, mas-mas fotografernya baik dan lucu, dan harganya relatif lebih murah! Puas banget pokoknya, highly recommended buat elo semua. Kalau nggak percaya, nantikan aja foto wisuda gue di Fs ini… Hmm, buat foto pre-wedding gue NANTI (yang entah kapan nantinya,itu, hehe) gue juga mau pake fotografernya Djo aja ah, hahahaha…

19.   Secara ajaib, kucing gue si Dippy yang gue kira udah mati tiba-tiba pulang ke rumah dan menyambut kepluangan gue dari acara wisuda! Senangnya…

20.   Pulang dengan perut lapar (sengaja nggak makan dari pagi supaya perut gue kelihatan ramping waktu difoto, hehe). Sampe rumah langsung makan nasi plus gulai ayam diikuti oleh sepiring mie goreng dibikinin adek gue. Katanya sih… sepiring mie itu hadiah wisuda buat gue, hehehe…

21.   Berhubung enggak mau rugi, sisa make-up nggak langsung gue hapus melainkan foto-foto dulu pake kamera hp;)

22.   I love this day. It’s not a perfect day but this day makes me feel perfect. It completed my struggle as a first degree student. Akhirnya perjuangan gue di Binus berakhirlah sudah… Tapi di saat yang sama, hari ini adalah awal baru untuk gue dan sahabat-sahabat gue menapaki kahidupan baru di luar sana… Terharu banget kalo inget jamannya dandan culun waktu POM, awal-awal kuliah yang masih bingung enaknya temenan sama siapa, masa-masa gila-gilaan sama temen kuliah, sampe masa-masa gue berantem terus baikan lagi sama mereka… Soal prestasi kuliah gue emang hasilnya enggak maksimal (I failed to bring my parents to stand on the stage as the parents of summa cum laude student), tapi gue belajar banyak hal tentang hidup di kampus ini, dan yang nggak kalah pentingnya, gue menemukan sahabat-sahabat terbaik selama empat tahun gue kuliah di sini bersama mereka… Meski begitu, dalam hati gue tetep bertekad, “S2 nanti gue harus lulus summa cum laude!”

21 Unforgetable Memories

  1. Waktu TK pernah ada dua orang guru TK yang bisik-bisik begini saat mereka lagi jalan bertiga sama gue, “Ssst, si Riffa kok cara jalannya agak aneh ya? Pasti waktu bayi enggak dibedong sama emaknya.” Hmmph, menyebalkan!
  2. Gue bengong seharian waktu tahu salah satu teman terdekat gue meninggal gara-gara sakit malaria saat usianya masih 6 tahun;
  3. Waktu gue kelas 3 SD, gue punya musuh bebuyutan, namanya Puput. Saking bersaingnya, kita pernah membagi kelas ke dalam dua kubu. Setiap anak sekelas yang baru datang kita samperin sambil nanya, “Kamu mau ikut kelompok Puput atau kelompok aku?”
  4. Gue dengan teganya ngakak abis-abisan waktu tau Rodi, temen sekelas gue di SD kelas 3, sampe menitikkan air mata saat nulis surat buat mamanya di Hari Ibu (kasih hadiah plus surat ke nyokap itu tradisi anak-anak di SD gue). Yang ada seisi kelas melotot ke gue yang dianggap nggak punya hati nurani itu, hehe;
  5. Waktu gue kelas 3 SD dan adik gue kelas 1 SD, kita berdua pernah kehilangan uang buat ongkos padahal kita berdua udah terlanjur naik angkot! Untung waktu itu ada ibu-ibu yang nggak tega ngeliat adik gue nangis, terus kita berdua dibayarin deh ongkosnya…
  6. Waktu naik ke kelas 4 SD, gue terpaksa ikut keluarga pindah ke Bekasi. Gue masih inget di hari terakhir gue di SD Mambaul (SD gue di Jakarta), temen-temen sekelas semuanya berdiri di depan pintu kelas sambil memandangi kepergian gue dengan sedih… Hiks…
  7. Di SD gue yang baru, gue berhasil menangin lomba cerdas cermat dan ngalahin cewek yang langganan jadi juara kelas saat itu. Padahal… gue dan temen-temen setim gue itu enggak pinter-pinter banget! Haha, rangking boleh kalah, tapi cerdas cermat kita juaranya, hehe…
  8. Waktu kelas 6 SD ada anak cewek yang suka ngatain gue botak cuma gara-gara pas kelas 6 itu gue mulai pake jilbab! Enggak tau gue dosa apa sama anak itu yang jelas sampe lulus SMP dia masih suka sirik sama gue. Susah jadi orang beken, haha…
  9. Waktu liburan kenaikan kelas ke 3 SMP, gue ketemu sama first love gue di tur ke Djokja selama 5 hari. Sedihnya dia sempet ngira gue udah kuliah, padahal gue kan masih kelas 3 SMP! Jadilah sang gebetan yang udah kuliah nganggep gue asih anak ingusan… Yang ada malah temennya dia yang heboh ngejar-ngejar gue! Sampe niat mau main pelet segala! Ih…
  10. Waktu kelas 3 SMP ada cowok playboy yang populer, pinter, dan tajir yang berusaha pdkt ke gue. Itu pertama kalinya gue dibilang cantik sama cowok. Sejak itu pula gue BARU sadar bahwa tampang gue ternyata nggak jelek-jelek banget, ya meski nggak secantik adik gue sih, hoho…
  11. 8 Agustus 2001 gue resmi bikin gank sama Junet, Nitya, Intan, dan Vera. Untuk ngeresmiin, kita tulis nama gank di atas meja (pake kapur tulis) lalu nulis nama masing-masing lengkap dengan tanda tangan kita. Sampe sekarang, kita masih merayakan anniversary kita ituJ
  12. Waktu kelas 1 SMA, gue pernah kalah main games dan hukumannya disuruh nembak cowok! Seisi kelas heboh nyorakin, dan si cowok mukanya sampe merah dan tangannya gemetaran, hahaha… Dodolnya pas gue udah selesai nembak si cowok, gue baru sadar dari tadi guru Geografi gue ada di sana! Ups…
  13. Gue sedih banget waktu kalah di pemilihan Ketua OSIS SMA. Bukannya kenapa-napa, masalahnya yang menang itu musuh bebuyutan gue! Sampe sekarang gue masih nggak ngerti kenapa si Ketua OSIS itu benci banget sama gue;
  14. Pegang jabatan penting di 3 organisasi SMA bikin gue jadi populer. Saking ngetopnya, setiap ambil raport nyokap nggak pernah tuh nanya ke gue ruang kelas gue ada di sebelah mana. Dengan pedenya nyokap asal panggil orang terus nanya begini, ”Dek, mau tanya, kelasnya Riffa di mana ya?” Dan SELALU aja dijawab begini, ”Oh, di sana Bu, ayo deh, saya anter.” Haha, at least gue pernah ngerasain asyiknya jadi orang beken, hehe…
  15. Saking bencinya si Ketua OSIS yang gue sebut di nomor 13, cewek yang sok innocent itu NGGAK ngundang gue ke acara perpisahan OSIS sama sekali! Padahal gue wakil dia di organisasi itu! Bukan cuma gue, dia juga nggak ngundang setiap anggota OSIS yang pro sama gue. Huh, pokoknya nama dia nggak bakal pernah ada dalam daftar undangan pesta ultah, reuni, dan pernikahan gue nanti, hoho, balas dendam ceritanya…
  16. Setelah selama satu tahun pergi sekolah jam enam, pulang jam tiga terus PM, dilanjutin bimbel sampe jam 7, lalu belajar lagi di rumah sampe mata mulai ngantuk, di semester terakhir kelas 3 SMA gue harus puas dengan prestasi sebagai runner up… Enggak tau kenapa gue cuma dapet rangking 2 padahal nilai murni UAN gue itu paling tinggi di kelas. Alhasil, seumur hidup gue nggak pernah ngerasain dapet rangking satu. SedihnyaL
  17. Waktu ultah gue yang ke 21, tiba-tiba pas tengah malem di depan pintu rumah udah ada kado dari si Puja. Padahal gue yakin tiga jam sebelumnya kado itu enggak ada di sana. Sampe sekarang si Puja nggak mau ngaku gimana caranya itu kado ada di sana. Soalnya rumah dia tuh jauh banget dari kosan gue. Thanks banget ya Ja!
  18. Masih di ultah gue yang ke 21, temen-temen sekelas maksa gebetan gue buat ngucapin happy birthday ke gue. Pas akhirnya cowok itu nyamperin dan salaman sama gue, si Puja ngomong begini pake mike di kelas, ”Saya terima nikahnya Riffa dengan mas kawin dibayar kredit.” Semuanya langsung ngakak sampe sakit perut.
  19. I was not there when Puja’s father passed away… Gara-garanya waktu itu gue lagi berantem sama dia. Maafin gue ya Ja… Sorry gue nggak nemenin elo di saat terberat dalam hiduplo itu… Semangat ya!
  20. Gue syok berat saat skripsi yang gue kerjain setengah mati (demi skripsi itu gue sampre bolos kerja demi ngejar-ngejar peneliti yang disertasinya gue jadiin referensi, gue bahkan sampe beli 4 buku statistik dan download puluhan artikel penunjang) akhirnya cuma dikasih nilai B… Tapi kesedihan gue sedikit terobati saat skripsi yang nilainya pas-pasan itu lolos seleksi untuk dipresentasikan ke inernational conferenceJ Gue nggak sabar pengen nyodorin print out konferensi ke depan muka salah satu dosen penguji yang arogan banget itu!
  21. Gue kaget banget waktu Stievan, temen sekantor waktu masih di Accurate, tiba-tiba masang foto gue di featured friends Fs dia (di Fs dia cuma pasang 3 ff). Padahal gue baru kenal dia sekitar 8 bulan lho. Yeah… anggap aja itu berarti dari sekian banyak cewek dalam hidupnya (maklum, cowok ganjen, hoho) gue termasuk cewek yang paling penting, hahaha…
  22. Insyaallah, akhir bulan ini usia gue menanjak ke angka 22. Hopefully akan selalu ada lagi kenangan-kenangan, baik pahit maupun manis yang bisa bikin gue senyum-senyum kalo inget itu semua. Karena meskipun enggak semua yang gue tulis di atas adalah pengalaman yang menyenangkan, setidaknya itu semua adalah hal-hal yang telah mendewasakan gue. Thanks for reading!