I Beg You a Sorry

 

Dalam sebuah perjalanan dinas sekitar lima atau enam bulan yang lalu, gue ditempatkan sekamar dengan temen sekantor yang baru gue kenal di tempat itu. Sebut aja namanya Dinda. Dia orangnya easygoing, enak diajak ngobrol, dan cerewet plus super heboh. It was nice having such a roommate like her.

Saking cocoknya gue ngobrol sama dia, di malam ke dua kita udah asyik ngobrolin soal cowok. Gue cerita tentang cowok yang lagi deket sama gue, dan dia juga cerita soal cowok-cowok di sekitar dia. Lalu si Dinda pun bilang begini sama gue, “Oh iya, tadi temenlo si Randy (bukan nama sebenarnya) ngajakin gue kenalan.”

Dari cara Dinda ngomong, dan dari binar-binar cerah di wajahnya, gue tau si Dinda ngerasa tertarik sama temen cowok gue itu. Ingatan gue pun melayang ke tahun-tahun di mana gue mulai mengenal Randy.

Well, gue akui DULU gue juga pernah suka sama si Randy ini. Bukan suka yang serius, cuma iseng-iseng aja. Gue suka sama dia juga enggak lama, karena beberapa bulan setelah kenal Randy, gue ketemu lagi sama someone-from-the-past. Setelah gue memutuskan untuk say good bye at least for now sama si someone-from-the-past itu, gue sempet coba untuk naksir sama Randy lagi. Cuma bedanya, kali ini rasa suka itu hanya sekedar pelarian belaka. Akhirnya  pelarian itu pun berhenti sekitar satu tahun yang lalu saat gue nemuin cowok baru buat mengisi ruang hati gue (yeah, gue emang tipe orang yang baru bisa melupakan ‘yang lama’ setelah menemukan pengganti ‘yang baru’ hehe).

Dan kalo ditanya alasan kenapa gue nggak jadian sama si Randy, jujur gue jawab karena dia bukan tipe gue dan gue juga sama sekali bukan tipenya dia. Selain itu, ada juga omogan-omongan miring yang bikin gue enggan terus menaruh harapan sama cowok yang satu ini. Makanya gue sama sekali nggak berharap apa-apa setelah tahu gue dan Randy akan bekerja di perusahaan yang sama. Dan begonya, omongan-omongan miring yang gue dengar dari beberapa orang tertentu itu gue sampaikan lagi sama si Dinda.

Gue lupa apa aja yang waktu itu gue ceritain ke Dinda, tapi intinya gue ngomong begini sama dia, “Lebih baik elo jangan sampe naksir sama Randy.”

Waktu itu Dinda cuma manggut-manggut aja. Topik pembicaraan pun beralih ke cowok-cowok lain di sekitar kita.

Kemudian tiga hari yang lalu, gue denger kabar bahwa Dinda dan Randy baru aja JADIAN. Sumpah serapah yang gue tujukan untuk diri sendiripun meluncur deras dari mulut gue. Gue nyesel banget dulu pernah ngomong gitu sama si Dinda. Mau ditaro di mana muka gue ini kalo di kantor nanti gue ketemu sama mereka berdua??? Apa pula yang ada di benaknya Randy kalo tau gue pernah ngomong begitu?

Sampai sekarang gue belum tahu apakah Dinda udah menyampaikan omongan gue itu ke Randy. Tapi cepat atau lambat, Randy pasti tahu kebenarannya. Dan rasanya nggak ada yang bisa gue lakukan selain meminta maaf sama Randy, lewat blog ini…

Ada temen gue yang bilang, “Biar aja si Dinda nerima Randy, nanti juga dia sendiri yang menyesali keputusannya.”

Meski begitu, dalam hati gue tetep ngerasa enggak tenang. Benarkah suatu hari nanti Dinda akan menyesali keputusannya? Lucunya gue malah nggak yakin akan hal itu. Karena setelah dipikir-pikir lagi, gue sama sekali nggak punya bukti bahwa omongan-omongan miring itu benar adanya. Itu kan cuma kata orang; cuma sekedar kabar burung yang beredar di kalangan terbatas…

Malah kalo gue inget ke belakang, Randy itu orangnya cukup baik sama gue. Dia pernah bersedia nganter gue pulang ke rumah ortu di Bekasi meskipun gue udah berkeras bilang bahwa jalanan rumah gue itu jelek dan sempit banget. Sekitar dua bulan yang lalu dia juga pernah nayain kabar gue via personal message di Friendster (dan tidak menutup kemungkinan saat dia kirim message itu dia udah berstatus jadian sama si Dinda). Makanya, I really beg you a sorry for what I’ve said to your girlfriend.

Yeah, lidah memang tidak bertulang. Semoga ini bisa jadi pembelajaran buat gue untuk lebih berhati-hati dalam berucap. Dan gue harap, hal itu nggak akan merusak hubungan baik antara gue, Dinda, dan Randy.

By the way, congratulation for both of you. Wish you all the best 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s