Telepon Salah Sambung

 

Waktu lagi asyik nge-post tulisan baru di blog gue, tiba-tiba hp gue berdering dan menujukkan nomor aneh +96650xxxxxxx .

 

Dengan santai gue jawab, “Hallo…”

 

Si penelpon (cowok) langsung membalas dengan Bahasa Cina. Berhubung gue nggak ngerti bahasanya, yang ketangkep di kuping gue cuma kalimat seperti, “Sisieni, sisieni…”

 

Karena bingung, gue cuma bilang, “Halo ini siapa ya?”

 

Dia malah bales dengan deretan kalimat lain yang lebih nggak gue mengerti.

 

Masih bingung, gue tanya lagi, “Anda mau bicara sama siapa? Kayaknya salah sambung deh.“

 

Bla bla bla… Gue tambah nggak ngerti dia ngomong apa. Pikiran gue mulai melayang ke Gen FM. Tau kan… acara Salah Sambung Gen FM yang suka ngerjain orang pagi-pagi via telepon?

 

Gue pun mencoba tenang. “Who is this?“ tanya gue.

 

“Do you speak English?”

 

“Yes, I do. Whom are you looking for?”

 

“I’m looking for your husband. Somebody gave me this number.”

 

WHAT??? My husband dari Perancis??? Gue mulai mikir-mikir; temen gue yang mana yang tega ngerjain gue lewat Gen FM?!?

 

“Well… I think you got a wrong number. When did you get this number and who it was?”

 

“The number is 0817xxxxxx. It’s your number, right?”

 

“Yes, that is my number. But I think he gave you wrong number.”

 

“Ah… ok… I’m sorry for bother you.”

 

“That’s ok.”

 

“Bye.”

 

Telepon pun dimatikan tanpa diakhiri dengan kalimat, “Selamat kamu masuk Salah Sambung di Gen FM.“

 

Fiuh… ternyata beneran cuma telepon salah sambung! No hp gue ini emang canggih banget. Ada lah orang-orang yang suka nyariin seseorang bernama Agung, dikira telepon seorang dokter, sampe hari ini, ditelepon sama orang asing dengan Bahasa Cina bercampur Ingris.

 

Ngomong-ngomong soal Cina, gong xi fat chai yaa!  Xin nien khuai le… (Please jangan tanya gue apa artinya, cos gue cuma copy-paste dari tulisan orang lain, hehe).

 

Pasukan Jihad Untuk Palestina

Bukan sekali dua kali gue denger pernyataan seperti ini, “Ngepain sih orang Indonesia repot-repot ngurusin Palestina? Pake mau pergi ke sana segala… Apa mereka enggak takut mati konyol?”

Sebetulnya ya, gue paling males ngebahas soal konflik di salah satu kawasan Timur Tengah itu. Kenapa? Karena pasti bahasan itu ujung-ujungnya hanya mendsikreditkan agama Islam atau Nasrani. Jangan aja gara-gara Palestina-Israel lagi ’berantem’ terus gue sama temen gue itu jadi ikutan ’berantem’ juga…

Tapi, statement yang gue kutip di awal bener-bener mendorong gue untuk mengeluarkan opini. Lewat tulisan ini gue mau balik bertanya, ”Kenapa kita harus mempertanyakan orang-orang yang dengan sukarela pergi ke sana untuk memberikan BANTUAN?”

Coba bayangkan…

  • Suatu malam elo lagi tidur nyenyak tau-tau ada bom jatuh di atas genteng rumahlo;
  • Masih mending kalo elo langsung mati, tapi gimana kalo elo malah hidup dengan tangan buntung atau tubuh penuh dengan luka berlumuran darah?
  • Karena serangan dari pihak lawan, elo terpaksa berbulan-bulan atau bahkan mungkin bertahun-tahun hidup di tepat pengungsian yang katanya berbau tidak sedap dengan fasilitas yang sangat minim;
  • Sepanjang hari dalam setiap detiknya elo ngerasa waswas dengan anggota keluargalo yang mungkin lagi pergi cari makanan dan tidak pernah kembali lagi karena tertembus peluru atau terkena serangan bom berikutnya;
  • Elo juga nggak bisa hidup tenang karena  khawatir akan muncul lagi serangan yang dilakukan oleh pihak lawan;
  • Dan hiduplo enggak tenang karena ayah dan saudara laki-lakilo terpaksa maju ke medan perang untuk membela bangsanya… Nggak ada yang bisa jamin mereka akan pulang dengan selamat atau pulang dengan tubuh utuh yang segar bugar.

Nah, kalo elo berada dalam posisi-posisi tersebut di atas, apa lagi yang elo harapkan selain memperoleh PERTOLONGAN? Dalam agama Islam, semua umat Islam itu bersaudara. Dan apa pantas kita membiarkan saudara kita hidup terlunta-lunta sementara kita hidup enak di Indonesia sini? Jadi apa salahnya jika para kaum jihad itu mencoba untuk memberikan pertolongan? Kalaupun akhirnya perjuangan mereka sia-sia, setidaknya mereka sudah mencoba…

Jangan dikira pergi ke medan perang itu keputusan gampang! Mereka juga punya keluarga, punya kehidupan, hanya bedanya; mereka punya hati nurani yang jauh lebih peka daripada kita yang hanya berdiam diri.

Jadi terlepas apapun agama yang kita anut, terlepas siapa di antara Israel dan Palestina yang terlebih dulu memulai perselisihan, ada baiknya kita mendukung niat baik orang-orang yang ingin pergi membela Palestina. Israel itu udah banyak ’antek-anteknya’ dan tidak seharusnya mereka menyerang warga sipil seperti itu. Jadi cobalah berhenti memojokkan para pasukan Jihad. Jangan persulit mereka denagn pandangan sinis dan cibiran yang melukai hati. Sekali lagi gue bilang, seandainya kita (baca: orang Indonesia) yang dijatuhi rentetan bom, apa kita masih bisa menganggap sinis orang-orang yang berniat menolong kita?

Tidak banyak yang bisa gue lakukan untuk Palestina. Gue pergi jihad yang ada nanti gue malah ngerepotin orang lain… Jadi besar harapan gue, setidaknya tulisan ini bisa jadi salah satu bentuk kepedulian gue untuk Palestina. Semoga dengan ini gue bisa mengetuk hati teman-teman semua untuk sama-sama menyalurkan bantuan atau sekedar dukungan moral. Mereka yang terlunta-lunta di sana juga manusia biasa seperti kita. Mereka punya keluarga, punya rekan dan sahabat, punya mimpi dan impian… mereka semua punya KEHIDUPAN yang telah dihancurkan oleh peperangan.

Mari kita panjatkan doa, semoga perang antara Israel-Palestina dapat segera diakhiri dan tidak akan terulang lagi, selamanya…

After One Year Working

Gue ingin mengawali tulisan ini dengan keluhan. Tepatnya, keluhan yang gue rasakan semenjak mulai menapakkan kaki di dunia kerja…

Bekerja membuat gue nyaris kehilangan waktu buat diri gue sendiri. Waktu masih kerja sambil nyusun skripsi, waktu luang gue habis buat ngumpulin data, baca buku dan artikel penunjang, bimbingan, ngetik, dan ngedit isi skripsi gue. Setelah skripsi selesai, gue malah pindah ke EY persis di saat musim lembur di sana baru saja akan dimulai. Kalo sebelumnya jam lima ’teng’ gue langsung ’go’, makali ini istilah ’tenggo’ baru berlaku kalo gue bisa pulang kantor jam 7 malam. Selebihnya? Mostly kita pulang antara jam 9- 12 malam. Untungnya situasi seperti ini nggak akan terjadi sepanjang tahun. Musim lembur akan berakhir kira-kira bulan Maret 2009.

Selain itu, gue juga jadi kehilangan waktu untuk merawat diri. Facial ke salon kecantikan wajah, luluran seminggu sekali, atau sekedar cuci muka sehari tiga kali dan keramas setiap hari. Kayaknya kalo weekend enakan tidur sepuasnya, nonton DVD, pergi shopping, atau seseruan gosip sama temen-temen gue. Soal cuci muka sehari tiga kali, emang bisa-bisa aja kalo gue mau cuci muka gue (pake sabun) di sela-sela kesibukan kantor. Tapi gue kan pake jilbab, yang artinya, untuk cuci muka gue harus buka jilbab dan daleman jilbab gue, cuci muka, terus jilbabnya dipake lagi! Bikin males dan buang-buang waktu.

Dan akibat dari semua itu adalah tubuh kelelahan, jerawat merajalela, rambut rontok, mood jadi drop, dan berat badan yang nggak naik-naik meskipun udah makan sebanyak apapun (cuma naik satu kilo selama empat bulan itu nggak bisa dianggap sebagai kenaikan yang berarti kan?). Selain itu, konsentrasi gue juga jadi agak kacau. Sering salah ketik ’2009’ jadi ’2008’, suka salah ngomong, salah pesen makanan waktu di restoran, sampe hal-hal kecil lain yang dodol dan bikin malu.

Yang paling menyebalkan dan yang sedang gue alami akhir-akhir ini adalah: gue bahkan udah kesulitan untuk menikmati weekend! Selain karena hari Sabtu tetep kerja, masalah lainnya adalah kalopun hari Minggu libur gue tetep aja males pergi-pergi untuk menghibur diri. Gimana nggak males kalo sekujur tubuh rasanya pegel-pegel dan suhu tubuh cenderung terasa lebih hangat? Bawaannya tuh pengen nempel sama sofa atau kasur di kamar melulu! Sesekali masih gue paksain pergi ke luar terutama untuk keperluan shopping. Tapi sekali lagi anehnya, gue juga jadi kurang menikmati acara shopping! Males aja gitu muter-muter terus bolak-balik ke fitting room melulu. Jadi sekalinya nemu barang yang pas ya langsung aja gue ambil dua pcs dengan warna yang berbeda.

Rasanya masa di mana gue leluasa bersenang-senang itu seperti sudah jadi masa lalu… Dan imlek tahun ini adalah pertanda sudah satu tahun gue mencicipi dunia kerja. Satu tahun yang penuh kerja keras, rasa letih, dan pastinya, penuh dengan pembelajaran yang tidak ternilai harganya dan tidak terbeli oleh apapun di dunia ini. Jadi terlepas segala keluhan yang gue ungkapkan di sini, bekerja memberi lebih banyak kontribusi dalam proses pendewasaan diri gue.

Dengan bekerja, gue mempelajari bahwa seringkali kita harus bisa menahan ego pribadi demi nama baik perusahaan. Gue mempelajari bagaimana cara menghadapi orang yang paling menyebalkan sekalipun. Politik kantor itu emang kejam, tapi bukan berarti kita harus ikutan jadi orang jahat kan? Makanya diperlukan kematangan emosi untuk menghadapi orang-orang menyebalkan dengan cara yang paling cerdas. Dan untuk mencapai hal itu, kita harus terlebih dahulu berhenti bersikap naif dan menerima fakta bahwa tidak semua orang bisa dijadikan teman seperjuangan. 

Dinamika dunia kerja juga membentuk mental gue dalam menjalani hidup yang semakin berat. Nggak lantas down lalu benci sama atasan yang mengajukan kritik. Nggak lantas merasa rendah diri saat ada klien atau rekan kerja yang bersikap sombong. Mencoba memaafkan saat terjadi perselisihan. Dan yang sedang gue pelajari akhir-akhir ini adalah; bagaimana caranya mengeluarkan keluhan di saat dan dengan cara yang tepat. Agak sulit untuk tidak mengeluh terutama apabila teman yang ada di samping kita adalah orang yang sangat suka mengeluhkan pekerjaannya.

Akhirnya, gue ingin menutup tulisan ini dengan ucapan syukur ke khadirat Allah Swt. Tanpa rezeki yang diberikan-Nya, gue nggak akan pernah bisa curi start untuk kerja sebelum lulus kuliah. Tanpa kekuatan dan kemudahan yang Ia limpahkan, gue nggak akan bertahan untuk tetap bekerja dan nyusun skripsi di saat yang bersamaan. Lalu tanpa ridha dan anugerah dari-Nya, hari ini gue nggak akan  berdiri sebagai satu bagian dari perusahaan raksasa yang pernah gue impikan… Harapan gue, tahun demi tahun akan terus gue lewati dengan banyak belajar, banyak bersyukur, dan tidak pernah berhenti untuk senantiasa berusaha memperbaiki diri. Amien.