A Key of Happiness

Gencarnya peredaran novel chicklit ditambah majalah masa kini yang hobi meneriakkan merk-merk papan atas membuat para remaja dan wanita muda lupa apa yang dimaksud dengan unconditional happiness (kebahagiaan tanpa syarat). Kita ngerasa hidup ini baru bisa dibilang indah kalo kita udah bisa nenteng LV ke mana-mana, menginjak Mahnolo di kaki kita, makan siang di restoran sekelas Sushi Tei SETIAP HARINYA, dan pastinya, mengendarai mobil mewah dan kerja di perusahaan multinasional dengan posisi dan gaji yang menggiurkan.

Kita pun lantas menyimpulkan; kita tidak akan pernah merasakan hidup bahagia tanpa segala kemewahan yang gue sebutkan di paragraf pertama.

Selain soal kemewahan, kita juga menganggap hidup tidak sempurna tanpa pacar yang sempurna atau setidaknya mendekati predikat sempurna. Ganteng, tinggi, perut six pack, kaya raya, baik hati, penyayang, setia… Jangankan soal pacar, soal teman dan sahabat pun kita mematok standar yang sama dengan tokoh sahabat yang suka muncul di novel-novel atau persahabatan ala Friends dan Sex and the City.

Lagi-lagi kita menyimpulkan, hidup kita belum terasa bahagia tanpa pacar dan sahabat yang sempurna.

Dan pastinya, sederetan kesempurnaan itu belum lengkap tanpa wajah cantik yang dihiasi kosmetik sekelas MAC, body keren yang ‘dicuci’ tiap hari dengan sabun mandi seharga ratusan ribu rupiah plus spa super mahal ditambah facial rutin setiap bulannya.

Atau yang lebih konyol, cukup banyak fresh graduates yang ngerasa HARUS kerja di bidang entertainment supaya profil diri mereka terlihat completely chic. Mereka nggak tau aja kalo industri hiburan itu terkenal kejam dalam hal borjuisme. Gaji buat pemula jumlahnya nggak seberapa, tapi tetep aja para bos menuntut para anak buahnya untuk selalu tampil ‘wah’. Malah gue pernah baca di salah satu blog ibu kota yang menyebutkan beberapa nama sosialita yang suka ngutang untuk membeli fashion items mereka (dan mohon dicatat bahwa berbulan-bulan dikejar debt collector juga masuk hitungan ngutang!).

Padahal gue yakin banget hidup penulis novel dan artikel di majalah-majalah itu enggak sehebat yang mereka deskripsikan dalam tulisannya. Bahkan faktanya, seberapa banyak sih penulis chicklit yang sama cantiknya, sama tajirnya, dan sama kerennya sampe diperebutkan cowok-cowok maha sempurna seperti tokoh utama dalam tulisan-tulisan mereka? Bukannya bermaksud menjelekkan penulis-penulis itu, tapi come on, wake up! Tulisan mereka itu sama aja kayak dunia dongeng dalam versi yang lebih modern. It’s just something to raise money in commercial matter.

Jujur, gue juga kepengen punya hidup sempurna seperti itu. Koleksi tasnya Chanel emang menggiurkan, LV yang jagoan dalam desain tas juga suka memajang sepatu dengan model yang luar biasa cantiknya. Dan siapapun juga tahu kalo gue punya cita-cita karier setinggi langit… But the point is; I don’t need waiting all of those stuffs just to make myself happy.

Karena realistis ajalah, anak baru lulus kayak kita gini paling juga gajinya berapa sih? Kata orang gaji di EY tergolong lumayan gede, tapi tetep aja, enggak realistis namanya kalo anak baru kayak gue udah ngidam tas monogram keluaran LV! Jadi maksud gue, kalo bener gue harus ngoleksi barang-barang mahal itu hanya untuk bisa bahagia, harus berapa tahun gue menunggu kebahagiaan itu datang menghampiri?

Begitu pula soal pacar dan para sahabat. Sampai sekarang gue belum pernah ngerasain yang namanya punya pacar. Dan sahabat-sahabat gue… mereka masih bisa bête dan bersikap seenak jidat. Mereka nggak selalu tau gimana caranya bersikap bijak saat gue sedang sedih dan gundah gulana. Pokoknya, mereka enggak sama seperti sahabat-sahabat yang ada di novel dan film-film Hollywood itu… Tapi apa iya semua itu lantas membuat hidup gue menjadi suram?

Walau nggak pernah punya pacar, seenggaknya gue pernah beberapa kali ngerasain indahnya diperlakukan istimewa sama cowok-cowok dalam hidup gue. Pernah ngerasain senyum-senyum sendiri di dalam angkot saat baca SMS dari cowok yang gue suka. Pernah ngerasain hebohnya dandan berjam-jam sebelum pergi berdua sama gebetan… Dan pernah mendengar pernyataan suka, sayang, dan cinta dari cowok-cowok istimewa itu…

Soal sahabat, rasanya ada banyak hal yang patut gue syukuri. Ada Puja yang rela bersusah payah ikut mencari bantuan untuk gue yang mendadak bokek. Ada Mitha yang rela bangun tengah malam untuk menampung curhat gue yang lagi patah hati. Ada Intan yang pernah menawarkan hadiah sepasang sandal impian seharga ratusan ribu rupiah. Ada Lisa yang rela menemani gue pergi jauh-jauh ke Depok buat nganterin naskah novel langsung ke tangan penerbitnya. Ada Vera yang BENERAN menyodorkan cowok ganteng hanya supaya gue nggak jomblo melulu. Ada Junet yang mempertemukan gue sama dosen di kampusnya yang telah banyak berjasa dalam penyusunan skripsi gue. Dan ada Stievan yang suka menghibur gue dengan telepon sore-nya… Ditambah lagi beberapa nama sahabat yang belum gue sebutkan dalam kesempatan ini.

Untuk fashion stuff, LV dan Versace jelas masih jauh di awang-awang. Tapi setidaknya, level gue udah naik dari Elizabeth ke Charles and Keith. Parfum udah super duper melejit dari Oriflame ke Guess (pameeer… ada yang seumur hidup baru sekarang ini bisa beli parfum mahal, hehe). Jadi mengingat hari gini cari kerja itu sulit, maka jangankan Charles and Keith, barang selevel Marie Claire juga udah harus kita syukuri! Malah, gue nggak akan rela menukar tas Charles & Keith hitam kesayangan gue dengan merk apapun karena tas model begini udah bertahun-tahun gue cari di berbagai pelosok mall ibu kota.

Soal makanan pengisi perut juga udah sangat-sangat layak untuk disyukuri. Kalo dulu gue suka bingung dengan segelas kopi seharga puluhan ribu, sekarang rasanya si Starbucks itu udah bukan perkara besar lagi. Meski enggak bisa tiap hari makan di restoran mahal, seenggaknya sesekali masih bisa makan sepuasnya di The Buffet sambil cekikikan bareng temen-temen tercinta. Dan perlu diingat bahwa tidak semua orang di Jakarta sudah menikmati lezatnya cheesecake favorit gue itu…

Intinya gue bukan mau pamer, gue hanya ingin mengajak teman-teman semua untuk lebih mensyukuri apa yang sudah kita punya. Gue yakin setiap orang dari kita punya daftar kesenangan tersendiri seperti yang gue tulis dalam blog ini. Ingat bahwa rumput tetangga akan selalu terlihat lebih hijau. Jadi kalo kita mau nengok ke pekarangan tetangga melulu ya nggak bakalan ada abisnya! Nikmati aja apa yang sudah kita punya saat ini sambil terus berusaha mencapai taraf hidup yang lebih baik. Mungkin nasehat untuk ‘lihat ke bawah, jangan selalu lihat ke atas’ udah terdengar basi di telinga kita. Tapi nasehat itu memang benar-benar harus kita praktekkan. Hanya saja kalo gue boleh menambahkan; lihat ke bawah supaya kita bisa lebih mensyukuri hidup kita saat ini, dan lihat ke atas untuk memacu kita agar senatiasa mengukir prestasi.

By the way, gue bisa menulis kayak begini sama sekali bukan karena tiba-tiba gue menjelma jadi orang yang bijaksana. Gue cuma ngerasa lucu waktu ngelihat seorang kenalan yang berusaha keras untuk menjelma jadi cewek ala chicklit. Gue juga  jadi emosi waktu penerbit bilang novel gue kurang up to date. Kata adek gue, bisa jadi itu karena dalam novel gue sama sekali nggak ada nama Mango, Zara, dkk… Padahal gue tau banget merk-merk keren itu sama sekali enggak muncul di Ayat Ayat Cinta dan Laskar Pelangi. Tapi ya sudahlah, barangkali penerbit itu ada benarnya juga. Gue harus catat baik-baik bahwa bakso dan mie ayam udah out of date buat masuk ke dalam menu makan siang tokoh utama di dalam novel gue.

Lalu satu pemicu lagi kenapa gue nulis blog ini; gue eneg banget ngelihat temen yang memaksa bokapnya pergi kerja naik bis supaya mobilnya bisa dia bawa ke kampus setiap hari. Ada pula cewek yang rela tinggal di kosan super sempit (ukurannya tuh cuma dua kali tempat tidur single!) hanya supaya bisa pergi shopping bareng temen-temennya. Malah yang lebih parah, ada orang yang nekad memakai uang bayaran kuliah buat biaya bersenang-senang!

Sekali aja, gue pengen tanya sama para social climber (yang selalu ngotot nyebut dirinya sebagai sosialita, the it girl, the A list, atau apapun yang sejenisnya), “Are you guys happy acting like you are a Paris Hilton?” Gue bahkan pengen nanya sama si Paris Hilton, “Are you happy of being a Paris Hilton?”

Hopefully tulisan dalam blog ini akan selalu mengingatkan gue untuk tidak bertindak bodoh dan senantiasa hidup dengan penuh rasa syukur. Karena bersyukur itu emang bukan hal yang mudah. Bersyukur bukan hanya mensyukuri apa yang sudah kita miliki, tapi juga dengan lapang dada menerima apa saja yang belum bisa kita miliki…

Lalu apa praktek nyata dari teori gue dalam tulisan ini? Gue sedang belajar mencintai pekerjaan gue. Lupakan dulu pekerjaan lain dengan gaji sepuluh juta per bulan itu, karena faktanya, gue belum cukup matang untuk ambil bagian di perusahaan ybs. Gue juga harus berhenti dikit-dikit ngomel gara-gara teman yang baru balas SMS setelah berabad lamanya (baca: rasanya berabad padahal nyatanya baru lewat beberapa jam saja). Soal sahabat, nggak perlulah niru-niru yang ada di tv karena rasanya, gue udah punya sahabat-sahabat terbaik yang bisa ada di dunia ini.

Lalu bicara soal cinta, sekarang gue juga udah memahami dengan baik apa yang dimaksud dengan unconditional love (cinta tanpa syarat). Terlalu banyak syarat dan tuntutan justru akan menjauhklan kita dari cinta impian. Keranjingan sama Twilight bikin kita ngerasa si dia belum cukup romantis kalo belum niru si Edward Cullen. Atau contoh lain, bagi kita setangkai bunga itu enggak romantis karena kita maunya dikasih sebuket bunga dan bukan hanya setangkai saja! Makanya gue bilang, seringkali romantisme justru akan pergi menjauh saat kita mengajukan begitu banyak syarat kepada seseorang yang menawarkan cintanya untuk kita miliki sepenuh hati.

Jadi daripada repot-repot sirik sama orang lain atau  ngutang sana-sini demi penampilan ala cewek chicklit, lebih baik berbagahagialah dengan apa yang kita miliki. Berterima kasih sama orang-orang yang suka sama kita meskipun kita nggak balik suka sama mereka. Bekerja tanpa banyak mengeluh. Belajar memaafkan kesalahan teman, rekan kerja, dan keluarga kita. Dan jangan lupa, pelihara barang-barang yang kita milikimeskipun harganya tidak sampai seratus ribu rupiah.

So the point is; loving each little thing we have is a key of happiness.

Ok guys, have a beautiful life!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s