Three Years Journey with Lazada


Today, April 21 2017, is my third anniversary with Lazada. And the third year was definitely the craziest! I managed to do the things I always wanted to do with my career, I had countless exciting opportunities, but in the same time, I had to go through a pressure I never thought I would ever have to deal with!

Things at work have been rough in the past couple of months, but suddenly today, I whispered to myself, “I have nothing to worry about. I have my team with me.”

And suddenly I know, I just know, everything has been going back to the right track again.

Thanks to my team for enduring the ups and downs, for the late nights, and for supporting me to get back up on my feet again. I really hope to work with you in a longer haul! Also thanking my former teammates for being a part of this incredible team. I can’t make it this far without each and everyone of you!

And did you know? Today is the first time I ever worked for a company exceeding three years! Last time, I left my former employer right on the third anniversary day with that company. I don’t know what the future brings, I don’t know how much longer I’ll stay at Lazada, but the fourth year… bring it on!

What Is the Scariest Super Human Gift?

Berawal dari iklan Asia’s Next Top Model season 5, gue jadi teringat tayangan lainnya (entah kartun TV atau film Hollywood yang pernah gue tonton), yang mana salah satu tokoh utamanya bilang begini, “Dari semua kekuatan supernatural, yang paling mengerikan adalah kemampuan untuk membaca pikiran orang lain.”

Gue sudah lupa alasan kenapa tokoh itu berpendapat demikian, tetapi semakin bertambah usia gue, semakin gue mengerti bahwa isi pikiran manusia memang bisa jadi sesuatu yang “mengerikan”. Mampu membaca isi pikiran orang lain belum tentu akan menjadi pengalaman yang menyenangkan.

Kenyataannya, jumlah orang yang jujur dengan perkataannya itu sangat-sangat sedikit. Banyak orang yang tidak berani mengemukakan pendapat, tidak berani mengakui kesalahan, mengakui kekurangan dalam diri sendiri, atau tidak berani untuk sekedar menjadi diri sendiri. Mengetahui isi hati mereka yang sebenarnya bisa jadi sesuatu yang mengejutkan, bisa membuat kita tidak lagi merasa mengenal orang yang kita kenal.

Selain masalah keberanian, pada umumnya, setiap orang itu senang menilai perbuatan orang lainnya (bisa baik, bisa juga buruk). Yang paling mengejutkan tentu saja penilaian buruk seseorang tentang diri kita ini! Penilaian jelek yang muncul dalam benak mereka itu bisa timbul karena begitu banyak hal.

Karena perbedaan latar belakang, pengalaman, dan sudut pandang.

Karena rasa tidak percaya diri, atau rasa tidak aman (insecurity) yang berujung pada rasa iri.

Karena rasa benci dan rasa dendam yang terpendam (bisa jadi karena sebetulnya, masalah yang ada hanya masalah sepele yang tidak pantas untuk dibesar-besarkan).

Atau karena ketidakbahagiaan yang membuat mereka jadi membenci orang lain yang terlihat baik-baik saja dengan hidupnya.

Mendengar isi kepala seseorang saat hatinya sedang tidak berada pada kondisi yang baik, bisa jadi hanya melukai orang yang tidak bersalah apa-apa. Dan mendengar understatement yang memojokkan identitas seseorang (SARA misalnya), pasti hanya akan menyulut konflik antar golongan. Itulah sebabnya, mampu membaca isi pikiran orang lain itu benar-benar bisa menjadi mimpi terburuk!

Tapi… secara kemampuan membaca pikiran itu sifatnya fiktif belaka, maka sebetulnya tidak perlu dipikirkan juga. Lalu buat apa gue membahas topik supernatural di blog gue ini? Karena jika suatu waktu kita tersakiti oleh perkataan orang lain, coba baca kembali semua isi tulisan gue ini.

Ada kalanya, seseorang membiarkan mulut mereka mengucapkan persis apa yang ada dalam hati mereka. Atau bisa juga sebaliknya, mereka mengucapkan kebohongan yang terasa sangat sulit untuk kita percaya. Dan sebelum hati kita “tersayat” terlalu dalam, coba pikir kembali… Kenapa mereka sampai tega mengucapkan hal-hal tersebut?

Baca kembali paragraf di atas tentang keberanian. Kalimat yang menyakitkan bisa jadi hanya sebentuk usaha untuk menyembunyikan fakta yang sebenarnya. Terkadang, seseorang memang bisa tega menyakit perasaan orang lainnya hanya demi melindungi diri mereka sendiri.

Kemudian jika ingin bicara soal motif kenapa mereka mengucapkan hal-hal yang menyakitkan hati, baca kembali empat kemungkinan yang gue tulis di atas.  Maybe it’s not you, it’s them.

Ada satu nasehat yang mati-matian berusaha gue terapkan selama lima tahun belakangan ini; “Bukan orang lain yang bisa menyakiti perasaan kita, tetapi diri kita sendiri. Kita tidak akan sakit hati jika bukan karena kita yang membiarkan mereka menyakiti perasaan kita.”

Sekali lagi, boleh saja instropeksi, tapi jangan juga terlalu keras pada diri sendiri. Jangan sampai kita jadi membenci diri sendiri, hanya karena ulah orang yang sebetulnya sedang membenci diri dia sendiri.

Life is too short to be unhappy, remember?


What Kind of Traveler Am I?

What kind of traveler am I? Sea girl, city, mountain, or what? I would say; I’m down with everything.

I always love the blue sea, the corals surrounded by colorful fishes, the sounds of the waves and the clear blue sky! The best sea I’ve been? No doubt: Santorini Greece! The best white sandy beach? I’d still say Phi-phi island, Thailand. And the best underwater? Menjangan and Belitung, both in Indonesia. I can barely wait for my upcoming trip to Gili Trawangan next week!

I also love the mountain breeze. The sounds of the river, birds, and the crickets at night! And I’ve never been in any place compares to Ubud, Indonesia. It’s just the best!

Now let’s talk about the cities. The skyscrapers, the exquisite architectural design, and of course, the shopping town! My favorite? Singapore. Tokyo is too crowded, Seoul’s smell is a bit too strong to me, and Hongkong is good, but it’s hard to find decent halal food (not to mention the affordable ones). The next big city I’m planning to explore is Paris. Not only the cities, I’m also planning to live and explore the villages in France too!

Other than the modern vibes of the cities, I’m also enjoying the heartwarming traditional and religious sites. The best one is of course Kabah in Mekah. Being there somehow made me feel like coming home! Umraj is definitely different with any other trip I’ve ever had. The mosques in Turkey are also lovely and I love them too. From other religions, the golden shrine in Kyoto is beautiful and the monasteries in Meteora Greece are mind blowing!

What about the activities? Oh I love doing so many things a trip has to offer.

I can spend all day in an amusement park. I’ll be there before it opens and I’ll only leave after it closes. The best amusement park? Universal Studio, Singapore. Disneysea Tokyo at the second place. I always love every amusement park I’ve ever been though. I’m even a big fan of Dufan Jakarta! Can’t wait for my first visit to Disneyland Paris end of this year!

Next up is shopping. It’s common to me to spend one whole day just to shop from one place to another. From traditional markets (the best one: Ladies Market, Hongkong and Damnoen Saduak, Thailand) to air conditioned shopping malls (my favorite: Platinum Fashion Mall, Thailand), and of course, the outlet for branded items: one in Johor Bahru Malaysia, Gotemba Japan, and Citygate Hongkong. Now I look forward to visiting La Valee Village in France!

Now let’s go to the museums. I’m that kind of person who takes my times in a museum. I enjoy reading every passage in Andrea Hirata museum, Belitung Indonesia, or reading all stories behind the heartbreaking pictures in Saigon war museum. And one more thing: the cutest Teddy Bear museum in Jeju (speaking of Jeju, it reminds me to other museum for adults, hehehehe). I love museum so much I’m planning to buy three days Museum pass in Paris! I’m pretty sure it will be the greatest museum experience ever!

And not to be missed: watching the live show! From traditional show in Greece (the Greek wedding live show!) or Japan (you know, the geisha apprentice show), until ladyboy cabaret show in Phuket. The funniest I’ve watched: Nanta Show, South Korea. The most breathtaking: between The House of Dancing Water in Macau and Phuket FantaSea in Thailand. Coming up next: Moulin Rouge cabaret show in France!

Finally, here’s one activity that I always love to do wherever and whenever I go: taking pictures and having fun with it. At first, I only loved to let someone else taking pictures of me, but lately, I also enjoy taking selfies and many other random pictures with my phone. It’s really the best camera phone ever!

See? There is no short answer to the question I wrote in this blog title! Or if I really have to describe my traveling type in a few words, here is my answer: I am simply a happy traveler 🙂 And by the way, I know that I mentioned France a couple of times in this post, and that’s only because I know that I’m gonna love every day I spend in that country!

I’m still looking for a travel mate by the way. Join me? Hehehehe.


At the End of the Day, the Right Person Will Stay

Pernah berandai-andai seharusnya kita tidak begini dan tidak begitu supaya beberapa orang tertentu tetap tinggal dalam hidup kita? Gue pernah. Sempat beberapa kali menyalahkan diri sendiri atas kehilangan gue itu. Sampai suatu hari, jawaban seorang teman seperti membuat gue melihat sisi lain dari masalah yang gue hadapi.

Waktu itu gue bilang begini, “Kalau waktu itu gue enggak kasih dia promotion, dia enggak akan stres sampai akhirnya malah resign.

Teman gue ini malah menjawab, “Gue rasa enggak juga. Sifatnya dia emang udah begitu. Enggak promote juga dia akan tetap resign. Akan ada aja alasan lain buat dia resign.”

Percakapan hari itu mengingatkan gue dengan kehilangan-kehilangan lain yang pernah gue hadapi. Setelah gue pikir-pikir, gue mulai menemukan benang merahnya. Sehingga pada akhirnya gue berkesimpulan… Kita bisa kehilangan seseorang karena dua hal; untuk memberikan kita pelajaran, atau untuk membuat kita menghargai orang-orang yang tetap tinggal.

Memang benar bahwa bisa jadi, kita harus berusaha instropeksi diri setiap kali ada seseorang yang memutuskan untuk pergi. Bisa jadi itu memang salah kita sehingga siapapun orangnya tidak akan pernah bisa tahan dengan perangai kita, tapi bisa jadi juga, mereka hanya bukan orang yang tepat. Dengan orang yang salah, sebaik apapun kita berusaha tidak akan pernah cukup untuk membuat mereka tetap tinggal. Jika sudah demikian, kehilangan mereka pada dasarnya hanya mengajarkan kita rasa syukur dan apresiasi kepada orang-orang yang tetap tinggal.

Dalam konteks apapun, bisa dalam hal pekerjaan, pertemanan, bahkan percintaan, apapun yang terjadi, orang yang tepat akan tetap berusaha untuk tinggal. Mau dicari sampai ke manapun, tetap tidak akan pernah ada orang yang sempurna. Bedanya, orang yang tepat adalah orang yang tetap bertahan serta tetap berusaha untuk mengatasi ketidaksempurnaan itu.

Boleh instropeksi diri, tapi jangan terlalu keras pada diri sendiri. Hargai diri kita sendiri karena setidaknya, kita adalah salah satu orang yang tidak pernah menyerah terhadap diri kita sendiri.

Once again I’m telling you… the rest of the world may give up on you, but never ever giving up on yourself. So long you keep believing in yourself, you’re on the right way.

My Dream Future Dates

Gue tipe traveler yang ‘pantang’ mengunjungi beberapa tempat tertentu sampai saatnya gue sudah married nanti. Rasanya aneh saja kalau gue datang ke tempat-tempat ini bareng keluarga, teman-teman, apalagi jika malah datang sendirian! So there I save some places to be visited with my future husband!

Selain tempat-tempat untuk kencan impian, ada juga beberapa hal yang sifatnya couple activity. Apa saja? Check this out!

Honeymoon in Maldives resorts

Gue sengaja menulis resorts (pakai s) karena gue berniat pindah dari satu resort ke resort lainnya selama bulan madu gue itu! Minimal 3 resorts dan masing-masing tinggal selama dua malam, hehehehe. Salah satu resort-nya tentu harus yang letaknya above the sea itu!

Riverside bale picnic at Hanging Gardens Ubud


Pernah dengar infinity pool di Hanging Gardes Ubud yang tersohor itu kan? Selain infinity pool, hotel ini juga terkenal dengan paket couple picnic-nya. Lokasi pikniknya di atas bale di pinggir sungai Ubud yang cantik itu! My husband (only God knows who) and I can really make a great picture by the river! 😎

Just one night at Marina Bay Sands hotel

Ya, gue pengen ke sini apa lagi kalau bukan karena infinity pool-nya! Bisa aja sih, gue datang ke sini bareng teman atau keluarga, tapi masalahnya, enggak pernah ada orang yang mau gue ajak sharing cost menginap di sini… Room rate-nya dianggap terlalu mahal… hiiks. Jadi ya sudahlah. Someday I’ll stay there with my husband!

A week in Italy

Ada alasan kenapa gue hanya berencana pergi ke Prancis akhir tahun ini: karena gue maunya, nanti datang ke Italia sama suami gue aja, hehehehe. Secara ini Italia, negerinya Romeo dan Juliet! Rome and Venice, I’ll save you for later!

Naik perahu berdua, di mana saja!

Jenisnya boleh kayak, pedal boats, speed boat, boleh apa saja yang penting cuma berdua saja, hehehehe. Tapi untuk mewujudkan ini… mesti banget cari suami yang jago berenang, secara gue enggak bisa berenang sama sekali, hehehehe.

Naik banana boat bareng

Sebenarnya gue udah kapok naik banana boat. Terakhir kali naik banana boat, pulangnya gue kena sinusitis untuk yang pertama kalinya. Tapi berhubung banana boat ini udah jadi dream date gue sejak jaman dulu banget, jadi ya udah, nanti gue naik ini bareng sama pasangan gue aja 😀


Gue sebenarnya bukan tipe orang yang senang camping, tapi sesekali pengen juga pergi camping sekalian nge-date, hehehehe.

Keren kan, isi wish list gue yang ini? Emang masih angan-angan sih, secara calon suami juga masih belum ada. But well… all of the great things in my life always started with a dream 😉

Semoga gue dan si future husband punya umur dan rejeki yang cukup untuk bisa mewujudkan semuanya, satu per satu. Amiin!

Bijaksanakah Menyebarluaskan Berita Orang yang Baru Pindah Agama?

Apa yang kita rasakan saat melihat orang dari agama lain berpindah memeluk agama yang juga kita yakini? Bangga, haru, tersentuh… Tapi bagaimana rasanya jika kita melihat kejadian yang sebaliknya? Seseorang dari agama kita berganti meyakini agama lainnya? Marah, kesal, kecewa?

Jika kita tidak suka melihat orang lain keluar dari agama kita, maka menurut gue, sebaiknya tidak perlu ikut menyebarluaskan berita, gambar, atau video orang lain yang baru saja memeluk agama kita. Jangan merusak tali persaudaraan antar agama dengan sesuatu yang tidak begitu jelas apa manfaatnya.

Berpindah agama, kenyataannya, tidak semudah yang terlihat di video 30 detik. Ada orang tua dan anggota keluarga lainnya yang merasa kecewa. Ada teman-teman dan tetangga yang memandangnya sebelah mata. Ada konflik batin yang luar biasa sebelum akhirnya seseorang memutuskan untuk mengganti sesuatu yang dia yakini bertahun-tahun lamanya. Dan umumnya, mereka tidak menyukai publikasi yang berlebihan. Kenapa? Karena mereka tidak mau menyakiti perasaan orang-orang dengan agama yang mereka tinggalkan… Jika mereka saja enggan untuk menyebarluaskan, kenapa malah kita yang lebih semangat untuk sharing sana-sini?

Jangan pernah berpikir bahwa siapa tahu, berita yang kita sebarkan itu akan “mengilhami” orang lain untuk ikut memeluk agama yang kita yakini kebenarannya. Berpindah keyakinan sama sekai tidak sesederhana itu! Keyakinan tidak datang dari sekadar berita pendek, keyakinan datang dari dalam diri sendiri. Dari pembelajaran yang bisa jadi sudah berlangsung bertahun-tahun lamanya. Jadi sekali lagi, sebelum berbagi berita yang kontroversial seperti itu, tanya kembali pada diri kita sendiri… apa manfaatnya? Jika efek negatifnya lebih banyak dari manfaatnya, maka sebaiknya, jangan dilakukan.

Selain masalah publikasi, menurut gue, akan lebih baik lagi jika kita tidak meributkan keputusan seseorang terkait agama yang dipeluknya. Agama adalah urusan masing-masing orang, dan kita harus bisa menghargai keputusan mereka, sama seperti kita ingin dihargai sebagai orang yang tetap meyakini agama kita sendiri.

What did I See from the Guys I Used to Like?

Last year, someone asked me repeatedly, “What do you like from him?” 

I went blank and I barely gave her any good answer. Having said real love didn’t always need a reason, deep down I knew that I did have reason in every little thing I did. I knew I had it, I just didn’t know what to say. I didn’t know what I should do to make people understand.

As time went by, as I met many guys I never wanted to be with, I started to understand what I liked from the guys I wanted to be with.

I used to like them because they made me feel special. They were never the guy who flirted with many random girls.

I also liked the way they stood for themselves. I always like the guys who know how to make a statement. Not a people pleaser who is too afraid to fight for his thoughts.

And yes, it’s true that I have certain feelings for smart guys. I liked them because they made me learn something new. It makes a man more like a man when they are expert at what they do.

Finally, I used to fall for them because they managed to make me fall for them. The little things they did just worked well to me. 

There I said it… the reasons why I liked the guys I liked. Why didn’t I tell these reasons earlier? Because sometimes, I need to lose something before I understand how previous it was. 

Sounds stupid? I know. And maybe I was. But at least, now I learn something.

Find a Man Who Knows What He Wants with You

A friend asked me, “What should I do to make him make the next move? It’s going nowhere. I should convince him, shouldn’t I?”

I asked her back, “Why would you want to be with someone who needs to be convinced just to be with you? If it takes him a long time just to date you, how much times longer he needs to propose you? And if you have to put a great effort to convince him to be with you, chances are, you’ll always have to work harder to make him stay. Is that really what you want for yourself? For your future?”

Find a man who knows for sure what he wants with you. And the one who makes a real effort to make it happen. He doesn’t need to be as charming or as successful as you want from your dream guy, but he has to want you and love you the way you deserve it. 

Or else, don’t settle fot the less. You deserve better. You know you deserve better.

People Can Change, Can’t They?

Gue sangat sering mendengar statement seperti ini tentang orang-orang di sekitar gue, “Dia udah enggak bisa berubah. Sampai kapanpun, dia akan tetap kayak gitu.”

Seringkali, gue juga ikut terbawa arus. Sering merasa frustasi karena berkali-berkali terbentur masalah yang sama dengan orang yang sama bikin gue jadi pesimis. Harapan bahwa keadaan bisa membaik, mereka bisa berubah jadi lebih baik, lama kelamaan mulai pudar dengan sendirinya.

Kemudian hari ini, di salah satu hari santai gue, saat sedang asyik bermalasan di atas kasur dengan setumpuk bantal dan selimut tebal, tiba-tiba saja gue teringat dengan diri gue yang dulu. Ada begitu banyak hal yang sudah berubah dari diri gue sendiri.

Gue yang dulunya penakut, sekarang malah dikenal sebagai orang yang sangat berani dalam begitu banyak hal (I’ll write more about this later).

Gue yang dulunya pesimis dan minder, sekarang sudah selalu optimis dan punya kepercayaan yang besar terhadap diri gue sendiri.

Gue yang dulunya paling malas bersosialisasi, sekarang justru tidak terbayang jika harus hidup tanpa ada sahabat yang menemani.

Atau yang paling ekstrim, gue yang tadinya pemalas dan sering dapat nilai jelek di sekolah, sekarang alhamdulillah, mulai berhasil mewujudkan karier yang dulu gue impikan untuk diri gue sendiri.

Selain empat hal yang baru saja gue sebutkan, ada pula beberapa kebiasaan jelek gue yang sekarang sudah benar-benar jadi bagian dari masa lalu gue. Malu rasanya kalau ingat dulu gue pernah berperilaku seperti itu. Sehingga pada akhirnya gue berpikiran, “Jika gue bisa berubah, kenapa orang lain tidak bisa?”

Memang benar butuh waktu yang lama untuk seseorang bisa mengubah karakter buruk mereka. Orang yang baru mengenal gue satu atau dua tahun tentu tidak dapat mengenali perubahan dalam diri gue ini, tapi orang yang sudah mengenal gue sejak lama, pastilah tahu betul bedanya gue yang sekarang dengan gue di waktu yang lalu. Atau misalkan teman gue di kantor yang lama bekerja kembali dengan gue di kantor yang sekarang, pastilah mereka bisa mengenali perbedaan-perbedaan dalam diri gue ini.

Bagaimana cara agar bisa berubah jadi lebih baik?

Tidak ada cara yang mudah, tentunya. Prosesnya panjang, dan kadang, terasa berat untuk dilewati. Tidak menutup kemungkinan, perubahan justru datang dari tamparan keras yang pernah kita terima di waktu yang lalu. Awalnya, tentu ada up and down. Kadang bisa berubah, kadang kembali lagi ke bad habit kita itu. Terus begitu, hingga lama kelamaan, kita mulai perlahan terlahir kembali menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri.

Dibutuhkan waktu lama, sangat lama, atau bahkan, perlu berusaha sepanjang hidup kita, untuk bisa menjadi pribadi yang benar-benar kita inginkan. Makanya, diperlukan konsistensi, kesabaran, dan pantang menyerah untuk bisa memperbaiki diri! Jangan pula frustasi saat menyadari bahwa sebetulnya, sekeras apapun kita berusaha, kita tetap tidak akan pernah bisa menjadi sempurna.

Langkah pertama dari perubahan adalah mengakui bahwa ada sesuatu yang harus diperbaiki. Mulai dari situ dulu! Jika belum apa-apa kita sudah merasa sempurna, jika kita selalu merasa tidak ada yang salah dari diri kita sendiri, ya jangan kaget jika hidup kita akan tetap begitu-begitu saja. Jangan kaget jika bertahun-tahun dari sekarang, kita tetap menjadi kita yang bertingkah laku tidak sesuai dengan usia!

Sampai kapanpun, kita tetap tidak akan bisa menyenangkan semua orang. Kita tetap tidak akan pernah bisa punya hati persis seperti malaikat. Kita tetap manusia biasa yang dibekali dengan perasaan dengan segala keterbatasannya. TAPI, semua itu tidak boleh jadi alasan untuk bisa bersikap seenaknya saja! Cintai diri kita apa adanya, tapi tetap berusaha untuk menjadi versi terbaik yang kita bisa.

Be better and make yourself proud!

Five Qualities of People I Most Enjoy to Work With

Berawal dari tulisan ini, gue jadi terinspirasi untuk menulis artikel yang sejenis: lima kualitas yang paling gue sukai di dunia kerja. Check this out!

  1. Always get things done. Gue paling malas kerja bareng orang yang banyak ide tanpa ada realisasi. Atau, ada realisasi, tapi tidak tahu bagaimana cara menyelesaikannya dengan baik. Tipikal rekan kerja yang hanya akan buang-buang jam kerja tim gue saja! Sebaliknya, gue paling senang kerja bareng orang yang betulan mampu get things done, bahkan dalam situasi tersulit sekalipun! Paling lega rasanya saat kerja bareng kolega yang seperti ini! They have really made my life at work become easier!
  2. Always do the extra miles (including always think of everything one step ahead!). Gue paling kagum saat tahu bahwa ada rekan kerja yang ternyata sudah punya solusi untuk mengantisipasi masalah yang baru gue sadari bisa saja terjadi di masa depan nanti. Tipe orang yang bersedia meluangkan lebih banyak waktu untuk memikirkan pekerjaannya baik-baik dan juga bersedia untuk bekerja lebih keras untuk memberikan lebih banyak nilai tambah dalam pekerjaannya itu;
  3. Tidak suka hitung-hitungan. Apa definisi hitung-hitungan menurut gue? Pulang kerja mesti banget selalu tenggo. Sedikit-sedikit menolak sesuatu hanya dengan dalih, “Itu bukan kerjaan gue.”  
  4. Knows what they do, understands the business, inside out. Gue sangat menikmati kerja bareng atau sekedar ngobrol dengan orang yang bisa membuat gue jadi lebih knowledgable. Bidang gue atau bukan, gue tetap suka mempelajari hal baru dari mereka! Menurut gue, tipe pekerja seperti ini adalah aset untuk perusahaan tempat mereka bekerja; dan
  5. Supportive and help each other. Banyak orang yang sangat egois saat sudah berurusan dengan pekerjaan. Hanya peduli dengan KPI dan kepentingan mereka sendiri saja, atau kalau perlu, menjadikan orang lain sebagai kambing hitam hanya untuk menyelamatkan karier mereka sendiri! Itu sebabnya, saat menemukan rekan kerja yang tulus bersikap suportif (terutama di saat-saat sulit), rasanya seperti menemukan barang langka!