10 Random Thoughts – Beauty and the Beast 2017 Movie

I watched this movie a couple of weeks back and I just managed to write down my thoughts.

Here we go!

  1. The village and the castle are beautiful! Can’t wait to visit the real castle and village that inspired this fairy tale!
  2. Emma is the most beautiful Belle I’ve seen;
  3. The prince is also cute… except when he puts too much make-up on his face;
  4. I really love the songs! I always love the songs. They reminded me of the broadway show I used to watch! Both are enjoyable!
  5. Promoting gay in this popular fairy tale? Really? They’re kidding me!
  6. A beast becomes a better person only in a week? Even normal people don’t change that fast!
  7. And two people can fall in love only in a week? Come on!
  8. It’s true that there’s always a good side in every people we know though;
  9. The Paris short trip is a nice touch. It fills the gap about Belle’s mother;
  10. I like how they keep most of the original story lines. I just regret the gay casts in this movie.

Obat Anti Baper: Cari Personal Project!

Akhir tahun lalu, gue sempat benci banget sama weekends dan weekdays nights. Pekerjaan sudah selesai, di kosan cuma sendirian, sehingga bawaannya jadi galau melulu. Masalah pribadi yang bisa gue lupakan selama seharian sibuk bekerja mulai kembali lagi ‘menghantui’ pikiran gue.

Langkah pertama, gue salurkan lewat tulisan. Socmed dan blog, sampai lama-lama gue malas sendiri lihat timelines gue yang dipenuhi dengan kesedihan.

Langkah ke dua, cari teman curhat. Sampai lama-lama gue kasihan juga sama teman-teman gue karena mesti mendengar curhatan gue yang isinya itu-itu saja.

Langkah ke tiga, pergi jalan-jalan. Ketemuan sama teman-teman, nonton, belanja, apa saja selama bukan hanya berdiam diri di rumah. Sampai lama-lama gue sadar… tagihan kartu kredit gue semakin naik mendekati limit, hehehehe.

Coba langganan Netflix, akhirnya gue malah bosan. Main sama ponakan, lumayan bikin capek kalo kelamaan. Sampai suatu hari gue kepikiran untuk merayakan ultah gue yang ke 30. Minta bantuan adik ipar karena mustahil banget gue bisa urus ini-itu sendirian menimbang jam kerja gue yang sudah termasuk di atas rata-rata pekerja kantoran pada umumnya. Dan sejak itu, tanpa gue sadari, frekuensi baper gue jadi berkurang dengan sendirinya.

Gue punya kesibukan di luar jam kerja. Ada excitement yang membuat gue melupakan masalah pribadi gue. Intinya, gue punya hal lain yang lebih terasa menyenangkan untuk gue pikirkan. Pesta ultah juga jatuhnya lumayan costly sih, tapi yang penting, kesibukan dan kesenangan yang gue dapatkan betul-betul ampuh untuk mengalihkan pikiran gue! Gue benar-benar menikmati mulai dari tahap persiapan, hari H, bahkan sampai beberapa hari setelah acaranya selesai.

Asyiknya lagi, saat pikiran sudah mulai tenang, gue mulai bisa melihat permasalahan pribadi gue dengan lebih jelas. Gue mulai bisa mengambil keputusan cerdas. Kemudian perlahan, gue juga mulai merasa ikhlas.

Berawal dari situ, gue jadi ketagihan untuk bikin personal projects! Ada satu lagi family project yang sedang gue rintis (tapi gue belum bisa cerita sekarang!), kemudian selain itu, di awal tahun 2017 ini, gue langsung booking 4 tiket pesawat sekaligus! Gue bertekad harus menyempatkan diri untuk jalan-jalan setidaknya tiga bulan satu kali!

Dan benar saja, menyibukkan diri dengan personal projects ini terus terbukti ampuh mengurangi frekuensi galau gue. Masalah pribadi akan selalu ada, tapi tidak worth it kalau gue menghabiskan waktu sampai berjam-jam setiap minggunya hanya untuk bermuram durja!

Sisi positif lainnya, family projects ini hopefully bisa jadi salah satu sarana supaya gaji gue dari kantor jadi lebih well spent. Gue juga banyak belajar hal-hal yang sebelumnya hanya gue pahami dari kulit luarnya saja. Kemudian soal jadwal traveling rutin gue itu juga betul-betul ide yang brilian! Baru selesai satu trip, gue langsung sibuk menyiapkan trip yang lainnya lagi. Mulai dari bikin itinerary, cari tempat menginap, sampai menyiapkan mau pakai baju apa betul-betul pengalih pikiran yang terasa menyenangkan!

Sekali lagi, hidup itu terlalu pendek untuk merasa tidak bahagia, dan gue percaya… akan selalu ada cara untuk kita membahagiakan diri kita sendiri. Start making your own plans and make it happen! Start from now!

When I Care About You, I Will Try to Correct You

This morning, I read this one lovely quote by Abdulbary Yahya on Instagram, “Those who love us will correct us.”

And it reminds me of myself… That’s exactly what I always do to the people whom I care about: I try to correct them. It’s not because I feel like I’m always right, it’s just because I do care about these people.

When it looks like they’re making mistakes, I’ll tell them; right on their faces. I won’t just stay quiet and watch them drown. It just doesn’t feel right.

When I want to keep them as a part of my life, I’ll tell them how I feel about them. And that includes when I’m hurt, disappointed, and angry. I tell it all hoping that we’re both aware that we’ve got to find a way to make things right.

I correct them because I want them to be a better one. I want them to be prouder of themselves by doing the right things. I want them to be happier with being the very best version of themselves. I might be wrong, everyone can be wrong, but at least, I make time to give it a try because I want what’s best for them.

I know that I don’t always put the words nicely. I know that the way I take care of someone can seem so tough. But again, if I have to try that hard just to tell you the words, if I still manage to correct you in that kind of tough situation, then that’s just another sign how I really care about your life. I put all that great efforts just for you, not myself. It’s a sign that in that very moment, I think of you more than I think of my own sake.

The truth is, love is not always pretty.

Love between two lovers is not always a beautiful romance. Love is not merely the flowers and candle light dinners.

Love between the families is not only the warmth of a home, but also the tough love to make each other better and wiser.

Love between two best friends is not always a laughter and joy. If you’re always happy with your friendship with them, then probably, you’re not close enough with them.

So again, if I’m willing to fight all those ugly moments just to remind you to do the right things, then I only do that because I truly care about your life. Otherwise, why would I bother to multiply my life problems by picking a fight just to correct you?

So yes, when I care about you, I will try to correct you. And that’s not going to change.

Six Years After EY

Kemarin sore, mantan senior gue di EY dulu ceritanya upload gambar yang di-tag ke gue via Path. Tertulis di dalam gambar: “Whenever you join, however long you stay, the exceptional experience of EY will last a lifetime.” 

Posting itu mengingatkan gue bahwa bulan Apil tahun ini, sudah genap 6 tahun sejak gue memutuskan untuk resign dari EY. Dan memang benar, pernah bekerja untuk EY, meski hanya 2 tahun 8 bulan, sudah jadi pengalaman tersendiri  yang tidak terlupakan buat gue. Andai saja gue ngerasa cocok dengan profesi sebagai auditor, maka kemungkinan besar, gue masih tetap bekerja di EY hingga hari ini.

Apa yang membuat EY begitu berkesan buat gue?

Beda orang tentu bisa beda juga jawabannya, tapi buat gue, working environment di EY tetap yang terbaik yang pernah gue rasakan. Nyaris tidak ada office politic, hubungan yang erat dengan hampir semua orang di dalam tim, belajar bareng-bareng, lembur bareng-bareng, curhat, joking, dan ngobrol dari satu topik acak ke topik lainnya. 

Tidak pernah selama gue kerja di EY terpikir untuk resign karena tekanannya, stresnya, atau capeknya. Ada pressure, tapi terasa lebih manageable. Segala hal buruk yang pernah gue alami di sana terasa lebih mudah untuk dilewati, dan waktu itu, gue punya keyakinan yang sangat kuat bahwa apapun yang terjadi, gue tidak akan harus melewatinya sendirian. Keyakinan seperti itu, kenyataannya, tidak selalu mudah ditemukan di lingkungan kerja lain pada umumnya.

Tidak pernah pula selama di EY gue membenci rekan kerja sampai terasa ke ubun-ubun. Ada konflik, ada drama, tapi tidak seberapa. Tidak pernah ada cerita rekan kerja bermuka dua, tidak pernah pula gue merasa ada rekan kerja yang diam-diam berusaha menjatuhkan karier gue. Membangun pertemanan di dunia kerja tidak pernah terasa sulit selama hampir tiga tahun bekerja di EY.

Satu hal lagi yang paling gue sukai dari EY adalah people development-nya. Gue tidak pernah harus pusing memikirkan training untuk gue dan tim gue karena semuanya sudah disiapkan oleh EY. Benar-benar terima beres saja! Enggak perlu cari-cari sendiri, daftar sendiri, dan enggak perlu pusing dengan budget-nya segala, hehehehe.

Jika akhirnya gue tetap memutuskan untuk resign dari EY, hal itu murni karena gue merasa bosan. Tidak ada yang salah dari pekerjaan gue di sana, hanya saja sayangnya, profesi auditor memang tidak terasa tepat buat gue. Bukan profesi yang tercipta buat gue. Gue tidak menyesal resign dari EY, tapi gue juga tidak menyesal pernah jadi bagian dari EY.

Finally, the greatest part of EY is that I am not who I am today without my tenure in that one great company. Every chance I got, every achievement I earned, all of that was begun with all the things I learned at Ernst & Young.

If you ask me how much I would recommend EY, the answer is definitely 5 out of 5.