Kenapa Gue Traveling Sendirian?

Untuk trip gue selanjutnya di bulan depan, gue lebih memilih untuk traveling sendirian ke Bangkok, Thailand. Semua orang yang gue ceritakan soal rencana gue itu selalu kelihatan kaget dan bertanya, “Kenapa sendirian?”

Well, ini jawabannya…

  1. Niat awal ada temen barengannya… tapi tiba-tiba aja pada cancel semua. Satu orang karena nggak boleh sama pacarnya, satu lagi nggak dapet ijin cuti dari bosnya;
  2. Udah bête sama 2 orang pertama, gue jadi nggak excited sama orang-orang lain yang nanya-nanya karena kepengen ikut;
  3. Tiba-tiba gue teringat sama salah satu things to do before 30-nya gue: traveling abroad sendirian. Tadinya gue berniat mewujudkan cita-cita traveling sendirian ini ke Singapura dalam rangka Singapore Great Sale, tapi setelah gue pikir-pikir… apa bedanya sama Bangkok?
  4. Gue pun meneruskan bikin itinerary dan budget meskipun cuma sendirian… dan ternyata, hal itu malah bikin gue jadi excited! Gue bebas pilih hotel yang gue suka, bebas pilih duduk di bangku VIP saat nonton show, dan bebas belanja sepuas-puasnyaa, hehehehe;
  5. I really need a me time right now. Setahun belakangan ini udah jadi tahun yang berat banget buat gue. Dengan segitu banyaknya orang yang harus gue urusin, a short quiet me time will be nice;
  6. Faktor stres sama kerjaan bikin gue jadi malas ribut-ribut sepanjang traveling nanti. Gue kepingin traveling dengan damai… dan tiba-tiba gue teringat sama shopping day gue di Seoul tahun lalu. Waktu itu ceritanya gue mencar sendirian buat belanja keliling Seoul. Dan hasilnya? It was my best day in Seoul 😀
  7. Siapa tahu dengan pergi sendirian bikin gue jadi lebih menghargai teman seperjalanan… supaya next year saat liburan ke Jepang bareng beberapa orang teman, gue udah ikhlas untuk kembali traveling in team. Dalam bayangan gue… bagian paling berat dari traveling sendirian adalah… nanti siapa yang fotoin gue??? Hehehehe.

Lalu bagaimana nanti hasilnya… traveling tanpa ada teman yang mendampingi? Well, tunggu cerita gue di blog ini, 3 minggu lagi 😀

My Bangkok Trip Itinerary

It’s official now… my next destination will be: Bangkok. Berikut ini itinerary gue selama 4 hari 3 malam di Bangkok nanti:

First day

  1. First thing to do in Bangkok: shopping! Tujuan pertama gue: MBK yang letaknya persis sebelahan sama hotel gue;
  2. Acara belanja selanjutnya: Asiatique Riverfront. Di sini banyak butik-butik mungil yang menjual barang-barang yang sifatnya eksklusif. Gue udah list down nama toko yang pengen gue datengin di mall ini. Lalu saat matahari terbenam, gue mau cobain naik ferris wheel-nya juga aah;
  3. Masih di area Asiatique, gue mau nonton Calypso ladyboy show. Gue suka banget nonton show sejenis di Phuket dan penasaran pengen nonton yang satu ini juga. Semoga bakalan sama lucunya dengan Simon Cabaret Phuket;

Second Day

  1. After breakfast in the hotel, gue akan langsung melangkahkan kaki ke Siam Discovery Mall;
  2. Masih di Siam Discovery, gue mau mampir ke Madame Tussauds. I had a great time in Madame Tussauds Hongkong and I wish to have the such a day in Bangkok;
  3. Pindah ke mall Siam Paragon… Kalo di sini sih, gue banyakan cuma window shopping aja kali yaa. Soalnya ini tipe mall model Pacific Place gitu deh… Paling nanti di sini gue mau numpang makan siang di foodcourt-nya yang terkenal luas banget itu, sekalian cari-cari hadiah mainan buat ponakan gue. Katanya siih, banyak pilihan mainan lucu di tempat ini;
  4. Belanja ke Platinum fashion mall. Baju-baju di sini terkenal murah meriah, bisa ditawar, cocok buat oleh-oleh, plus, ukuran bajunya keci-kecil. Jadi cocok lah buat ukuran badan gue, hehehehe; dan
  5. Nonton Siam Niramit. Supaya lebih menyenangkan, ceritanya gue mau booking VIP seat, gaya kan, hehehehe.

Third Day

  1. Hari ini gue mau mengunjungi The Grand Palace, Wat Pho, dan Wat Arun. Paling cuma foto-foto sebentar karena gue bukan tipe orang yang seneng liburan di tempat-tempat budaya atau keagaamaan kayak gini;
  2. Abis itu gue mau balik ke mall terfavorit gue di Bangkok. Jadi di hari terakhir jalan-jalan gue ini, gue akan balik lagi entah ke MBK, Platinum, atau Siam Paragon, manapun yang paling gue sukai saat berkunjung ke sana; dan
  3. Malam terakhir gue di Bangkok… gue mau nyobain dinner on cruise! Kayaknya keren aja gitu… makan malam di atas cruise yang berlayar menyuri Chao Praya river… Dan yang paling gue nanti-nantikan: berfoto dengan latar belakang The Grand Palace dan Wat Arun di malam hari! Semoga gue berhasil dapet gambar yang kerenn, hehehehe.

My South Korea Trip Budget

Here it is… finally, my last post about my Korea trip last year. Budget yang gue tulis di sini 90% akurat, semuanya nyaris sesuai dengan actual expenditures gue kecuali buat urusan makanan. Selama di Korea, gue banyak jajan dan beberapa beli makanan yang harganya melebihi budget. Tapi sebetulnya, meal budget di bawah ini udah cukup banget kok.

So here we gobudget liburan gue, 9 hari 8 malam, termasuk liburan 2 malam di pulau Jeju:

Description  Per person  Remarks
 In KRW   In IDR 
Flight Jkt-Seoul       217,024    1,823,000 Air Asia round trip
Flight Seoul-Jeju       158,600    1,332,240 Jeju Air round trip
AirAsia Baggage       109,777       922,124 20 & 35 KG
Hotel – Incheon        50,160       421,340 Sky Hotel 1 night
Hotel – Jeju        63,333       532,000 Jazz Village 2 nights
Hostel – Seoul       133,333    1,120,000 Hongdae Guesthouse
Breakfast – 11 times        33,000       277,200 Fixed budget per meal
Lunch – 11 times        77,000       646,800 Fixed budget per meal
Dinner – 11 times        77,000       646,800 Fixed budget per meal
Entrance fee – Jeju        52,800       443,520 Various tourist attractions
Entrance fee – Seoul       215,000    1,806,000 Various tourist attractions
Airport transfer Gimpo        11,667        98,000 By train
Airport transfer Jeju          5,000        42,000 Taxi, 3 persons in 1 car
Car rental Jeju        60,000       504,000 www.jejudotourguide.com
Transport cost – Seoul        62,300       523,320 By train, and sometimes taxi
Bike rental in Nami        20,000       168,000 2 hours rental
Total budget   1,345,993  11,306,344

Ada pun tempat-tempat yang harganya sudah termasuk dalam ‘entrance fee‘ antara lain:

Jeju:

  1. Teddy Bear Museum;
  2. Ripley’s Believe It or Not;
  3. Chocolate Land;
  4. Trick Art Museum;
  5. Sunrise Peak;
  6. Manjanggul Cave;
  7. Maze Park;
  8. Jeongbang waterfall;
  9. Cheonjiyeon waterfall;
  10. Oeldogae rock;
  11. Jeju Glass Castle; and
  12. Jeju Loveland.

Seoul:

  1. Nami Island;
  2. Petite France;
  3. Korean Folk Village;
  4. N Seoul Tower;
  5. Everland;
  6. DMZ;
  7. Jump Show;
  8. Nanta Show;
  9. 68 City Observation Deck;
  10. Lotte World;
  11. Gyeongbokgung Palace; and
  12. Seodaemun Prison.

Please take note gue pergi ke sana satu tahun yang lalu; bulan Mei 2012. Bisa jadi, harga per hari ini sudah berbeda dengan harga saat itu. Happy budgeting!

People in South Korea

Beberapa bulan menjelang keberangkatan ke Korsel, gue nonton video yang di-share salah satu teman Twitter gue. Isinya menampilkan reaksi penduduk Seoul saat menghadapi turis asing yang nyasar. Saat turis yang nyasar itu diperankan oleh bule berambut pirang, semua orang Korea yang ditanya menjawabnya dengan friendly. Tapi saat turisnya diperankan oleh orang Indonesia… si orang Indonesia itu selalu aja dicuekin!

Sejujurnya gue sempat worry… gimana kalo nanti gue nyasar??? Whatever it is, the show must go on, right?

Lalu benarkah isi video itu… bahwa penduduk Korsel tidak ramah terhadap turis Indonesia?

Secara singkat gue jawab, video itu TIDAK benar sama sekali!

Berikut daftar pertolongan dan keramahan yang gue terima dari Penduduk Korsel…

  1. Tidak pernah sekalipun gue dicuekin saat hendak bertanya soal jalan;
  2. Pernah ada cowok yang rela mengantar kita berjalan kaki hingga sampai di tempat tujuan;
  3. Pernah ada kakek-kakek petugas kebersihan stasiun MRT yang meskipun tidak bisa Bahasa Inggris, dia tetap berusaha keras untuk menunjukkan arah;
  4. Staf di Hongdae Guesthouse menawarkan diri membuatkan sebuah kartu yang bisa gue tunjukkan ke penjual makanan supaya gue tidak diberikan makanan yang mengandung babi;
  5. Ada pula cowok yang bersedia bantu gue ngecekin makanan beku di dalam minimarket satu per satu… hanya untuk sekedar memastikan makanan tersebut tidak mengandung unsur babi;
  6. Andy Choi, tour guide gue selama di Jeju, orangnya ramah, baik hati, dan pengertian banget. Dia juga udah banyak bantu gue cari makanan yang tidak mengandung babi;
  7. Masih soal makanan, petugas hotel di Jeju bantu kasih daftar restoran yang bisa kita kunjungi, dan menyampaikan hal itu ke supir taksi yang dia pesan khusus untuk gue dan teman-teman;
  8. Ada mahasiswi yang bantu menanyakan ke gue dalam bahasa Inggris, “Ingin makan apa?” kemudian dia menterjemahkan jawaban gue ke ibu-ibu yang berjualan makanan ringan di sana;
  9. Pramuniaga di salah satu toko di Insa-dong dengan baik hatinya membukakan payung untuk gue saat melihat gue kerepotan dengan begitu banyaknya kantong belanjaan;
  10. Ibu-ibu penjual minuman di jeju tersenyum lebar sama gue, menyentuh betis gue, kemudian mengacungkan jempol dengan wajah berseri-seri. Beginilah resiko punya kaki jenjang ala personel SNSD, hehehehe;
  11. Seorang eksmud di salah satu gedung bank membantu gue mencari mesin ATM yang bisa menerima international card. Dia juga bantu mengubah bahasa mesin menjadi English;
  12. Beberapa penduduk lokal (kebanyakan sih cowok) ngajak gue ngobrol soal negara asal, ke Korsel dalam rangka apa, dsb dsb…

Gue memang tidak sampai 2 minggu tinggal di Korsel… tapi semua itu membuat gue sangat-sangat yakin bahwa penduduk Korsel mempunyai keramahan yang luar biasa. Sama sekali tidak benar mereka mendiskriminasi turis dari Indonesia.

Kemudian soal penampilan gue yang berjilbab… ya memang sering jadi pusat perhatian sih. Suka ada aja orang-orang yang terang-terangan melihat gue dari ujung kaki sampai ujung kepala. Tapi kalo gue sih enggak ambil pusing. Gue menganggapnya sama kayak orang Indonesia ngelihat turis bule di Jakarta; suka dilihatin tapi bukan bermaksud untuk melecehkan. Ada sih, satu bapak-bapak yang setelah diterjemahkan oleh turis lain, bapak-bapak itu berkomentar bahwa gue akan lebih cantik kalo nggak pake jilbab. Tapi daripada sewot, gue dengan pedenya menjawab, “I’m beautiful just the way I am.”

Well, kalo mau positive thinking… sebetulnya itu sama aja dengan pujian kalo gue ini cantik kaaan? Hehehehe.

Penginapan di Seoul

Selama berlibur di Seoul, gue dan teman-teman sempat menginap di 2 tempat yang berbeda. Yang pertama di Sky Hotel Incheon, dan satu lagi Hongdae Guest House yang terletak dekat dengan Hongik University. Berikut ulasannya!

 

Sky Hotel

Sky

Kamar mandi Sky Hotel yang girly banget itu…

Untuk 2 malam pertama, kita memutuskan untuk menginap di kawasan bandara. Kenapa? Karena di hari pertama, kita baru tiba nyaris tengah malam, kemudian besok lusanya, kita harus naik penerbangan pertama dari Seoul menuju Jeju.

Sky Hotel ini sebetulnya tidak terletak di dalam kawasan bandara, tapi enaknya, kita bisa minta dijemput dari bandara, jam berapapun, tanpa dikenakan biaya tambahan. Jadi begitu mendarat di Incheon, gue tinggal cari ‘Tourist Information’, lalu pinjam telepon untuk menghubungi Sky Hotel, setelah itu kita tinggal menunggu jemputan di pintu keluar yang telah ditentukan. Sayangnya mereka hanya melayani free shuttle to Incheon, tidak ke Gimpo (bandara tempat Jeju Air beroperasi). Untunglah mereka setuju untuk mengantar kita sampai stasiun MRT supaya kita tidak usah jalan kaki sambil bawa-bawa koper.

Dari segi kebersihan dan kualitas furniture, gue dan teman-teman tidak menemukan masalah. Air panasnya mengalir dengan lancar dan petugas hotelnya pun terbilang ramah untuk ukuran hotel dengan harga terjangkau seperti ini. Makin menyenangkan karena dekorasinya yang girly; teman-teman gue sampai bergantian foto sendiri-sendiri di dalam kamar mandi imutnya, hehe…

Dari segi lokasi juga cukup menyenangkan kalo menurut gue. Persis di seberang hotel, terdapat 2 minimarket tempat gue beli sarapan, dan kita hanya perlu berjalan kaki sekitar lima sampai sepuluh menit untuk sampai ke stasiun MRT terdekat. Saat malam harinya pun, tidak sulit buat kita mencari tempat untuk makan. Lokasi yang strategis untuk kita yang membutuhkan penginapan dekat bandara dengan harga yang masih terjangkau.

 

Hongdae Guesthouse

Sepulangnya dari Jeju, gue dan teman-teman langsung check-in ke Hongdae Guesthouse. Memang hanya Guesthouse, tapi lokasinya sangat-sangat dekat dengan stasiun MRT. Sederhana tapi fasilitasnya cukup memadai, ada water heater, water dispenser, bahkan seperangkat komputer yang dilengkapi dengan high-speed wi-fi! Dari segi kebersihan tidak kita temukan ada masalah, dan keramahan staf di sana terasa berkesan buat kita semua. Benar-benar melebihi ekspektasi kita banget deh.

Kamar yang kita tempati itu modelnya mirip-mirip loft apartment; terdiri dari 2 lantai, dan sebetulnya bisa menampung sampai 7 orang. 4 orang di lantai bawah, dan 3 orang di lantai atas. Untuk yang tidur di lantai atas harus hati-hati… ceiling-nya sangat rendah sehingga tidak memungkinkan untuk berdiri. Intinya sih, rawan kejedot kalo belum terbiasa, hehehe… Oh ya, meskipun kapasitas kamar untuk 7 orang, kamar mandi dalam kamar tetap cuma ada satu sehingga butuh waktu yang cukup lama sampai gue dan 5 orang teman seperjalanan selesai mandi.

Lantai bawah...

Lantai bawah

Hongdae 2

Lantai atas

Hongdae Guesthouse letaknya berseberangan dengan kompleks pertokoan yang ramai dikunjungi oleh mahasiswa dan mahasiswi dari Hongik University. Banyak café, fast food restaurant, bahkan, Hello Kitty Café favorit gue itu juga letaknya tidak jauh dari sini. Ada pula semacam warung tenda yang menjual berbagai jenis camilan khas Korea. Favorit gue itu malah okonomiyaki yang sebetulnya makanan khas Jepang. Pulang dari Korea, gue langsung pesan okonomiyaki saat tengah makan siang di Sushitei, hehehehe.

Hongdae Guesthouse ini sebetulnya memang cukup populer di kalangan backpackers Indonesia. Staf di sana bahkan mengaku kenal dengan salah satu penulis traveling book di Indonesia yang memang pernah mengulas tentang guesthouse ini di salah satu buku perjalanannya. Isi buku itu emang bener banget deh… Hongdae Guesthouse is highly recommended for budget travelers.

Shopping in Seoul

Dalam setiap aktivitas traveling, biasanya gue selalu punya satu hari khusus untuk belanja oleh-oleh. Saat hendak berangkat ke Korsel pun, gue udah list down shopping area di Seoul yang ingin gue kunjungi. Berikut laporannya!

Namdaemun market

Kalo mau belanja oleh-oleh murah meriah, di sini tempatnya! Tipe pasar yang harganya bisa ditawar, terutama kalau kita beli dalam jumlah besar. Tapiii, nawarnya jangan kelewat sadis ya! Pedagang di sana suka tersinggung kalo kita nawar terlalu murah. Mereka bakal bilang, “This is made in Korea, not China!” Oh ya, pedagang di sana umumnya menguasai basic English. Nggak jago, tapi sudah cukup untuk mempermudah transaksi jual-beli.

Toko-toko di Namdaemun umumnya menjual jenis barang yang sama persis, jadi jangan malas compare harga sebelum membeli. Oleh-oleh favorit gue di sini set sendok + sumpit (ada banyak jenis, makin bagus kualitas bahan, ukiran, dan kemasannya, harganya juga makin mahal), gantungan boneka Teddy Bear yang pake hanbok (jangan beli gantungan jenis ini di tempat lain, karena di Namdaemun udah paling murah dan kualitasnya juga bagus), dan berbagai macam gantungan kunci (dari semua negara yang pernah gue kunjungi, gantungan kunci khas Korea ini yang paling lucu). Untuk oleh-oleh makanan, nori di sana enak banget. Ada banyak jenisnya, jadi jangan ragu untuk minta sampel sebelum membeli. Trus banyak dijual teh ginseng, tapi… rasa tehnya nggak enak banget! Kalo kata yang jual siih, teh ini berkhasiat untuk menyehatkan jantung.

Namdaemun terbagi jadi dua: area indoor dan outdoor. Take note area indoor tutup di hari Minggu. Tapi nggak usah khawatir, belanja di area outdoor-nya saja udah cukup kok. Gue juga dateng ke sana waktu hari Minggu. Hanya saja kata penjual di sana, aksesoris yang berbau Korean pop star lebih banyak dijual di dalam gedung.

Untuk sampai ke Namdaemun market, naik kereta line 4, turun di stasiun Hoehyeon dan keluar di Exit 5. Begitu melangkah keluar dari stasiunnya, di situlah Namdaemun market. Banyak turis yang bilang Namdaemun market itu kumuh, tapi kalo menurut gue, masih lebih bagus daripada pasar Tanah Abang lama, hehehehe. Gue pribadi suka belanja di sini, dan cuma Namdaemun saja satu-satunya shopping area yang gue kunjungi sampai 2 kali.

This slideshow requires JavaScript.

 

Dongdaemun

Dongdaemun ini terkenal sebagai pusat grosirnya Seoul. Mirip-mirip tanah abang, satu kompleks pusat perbelanjaan yang terdiri dari beberapa shopping mall. Hanya saja bedanya, Dongdaemun ini ukurannya jauh lebih luas daripada Tanah Abang. Saking luasnya, di kawasan shopping complex ini sampai ada 2 MRT station. Meski begitu, nggak usah takut nyasar! Kita dapat dengan mudah menemukan peta di dalam stasiun MRT yang menampilkan berbagai pusat perbelanjaan di kawasan tersebut.

Untuk sampai di Dongdaemun shopping complex, kita bisa memilih untuk turun di statsiun Dongdaemun History & Culture Park. Saat hendak mencari jalan keluar stasiun, gue menemukan pintu masuk menuju Goodmorning City. Jadilah Goodmorning City tempat pemberhentian pertama gue untuk belanja.

Konsep Goodmorning City dan juga shopping malls lainnya di Dongdaemun itu menyerupai ITC di Jakarta. Isinya deretan toko yang menjual berbagai jenis fashion items yang harganya masih bisa ditawar. Kalo kamu penggemar baju-baju Korea yang sering dijual di online shops itu, maka di sinilah pusat belanjanya!

Melihat baju-baju lucu itu, sudah tentu gue tidak sabar ingin segera membeli. Tapi saat itu gue berpikir… Goodmorning City terlihat terlalu bagus untuk tempat belanja murah (dan memang harganya enggak semurah Namdaemun) sehingga gue memutuskan untuk terlebih dulu membandingkan harga dengan mall lain di Dongdaeumun. Tapi sayangnya, begitu gue keluar gedung, ternyata sedang turun hujan yang cukup deras. Gue pun kembali lagi ke dalam mall untuk mencari payung… and thank God it was raining… pencarian payung membawa gue pada payung Hello Kitty yang lucuuuu banget. Untuk barang yang kemungkinan besar memang asli Sanrio itu, harga yang hanya Rp. 120.000 sudah tentu termasuk murah. Gue pernah lihat payung setipe ini dijual dengan harga di atas Rp. 300.000 di salah satu Facebook online shop. Such a tempting profit huh?

Keluar dari Goodmorning City, gue masuk ke AM/PM. Mall ke dua ini terlihat lebih tua dan lebih sederhana daripada Goodmorning City. Barang-barang yang dijual hampir sama persis, dan di sinilah akhirnya gue putuskan untuk membeli baju-baju dan sepatu lucu untuk dibawa pulang. Gue juga menyempatkan makan siang di foodcourt dalam mall ini.

Puas belanja di AM/PM, gue putuskan untuk beralih ke Insa-dong. Padahal sebetulnya, masih banyak mall di Dongdaemun yang belum gue datangi. Ada pula satu mall yang seluruh lantainya khusus menjual sepatu! Tapi karena keterbatasan waktu, gue lebih memilih untuk beralih ke Insa-dong.

 

Insa-dong

Insa-dong ini sebetulnya daerah yang khusus menjual barang-barang seni. Ada beberapa art gallery, atau sekedar toko kecil yang khusus menjual kerajinan tangan yang umumnya bernuansa tradisional Korea. Jangan bayangkan Insa-dong ini seperti pasar grosir ala Tanah Abang yah, karena Insa-dong ini konsepnya beberapa ruas jalan yang di kanan-kirinya berjejer toko-toko. Suasananya jauh lebih rapih daripada Namdaemun, lebih bersih, dan kualitas barang-barangnya juga lebih bagus. Tapi tentu saja, harganya pun bisa berkali-kali lipat lebih mahal daripada Namdaemun.

Dua hal yang paling gue suka dari Insa-dong adalah premium Korean t-shirt dan berbagai souvenir Hello Kitty. Gue berhasil menemukan boneka Hello Kitty yang mengenakan hanbok di salah satu toko souvenir di Insa-dong (barang-barang HK di toko itu semuanya asli Sanrio, jadi jangan heran jika melihat label harganya). Di toko yang sama, gue juga membeli beberapa buah t-shirt yang bertuliskan kaligrafi Korea. Tanpa perlu melihat label harga, sudah jelas terlihat t-shirt ala Insa-dong ini mempunyai kualitas yang lebih baik dan juga terlihat lebih mewah daripada t-shirt ala Namdaemun. Padahal t-shirt yang gue beli di Namdaemun itu saja kualitas produknya udah termasuk bagus lho.

Saat berkunjung di Insa-dong, gue beberapa kali bolak-balik menyusuri jalan yang sama, just to make sure I did not miss anything out there. Gue suka sama suasananya, suka pula sama keramahan pramuniaganya, kualitas produknya, yang mana semua itu membuat gue ngerasa apa yang gue beli itu emang worth the price. So if you have more budgets to buy something for your families, lovers, or best friend, this is definitely the right place to shop.

P.s.: salut buat badan pariwisata Korea… mereka sadar di Insa-dong ini banyak turisnya, sehingga jangan kaget kalau melihat ada 2 orang yang menyusuri jalan dengan payung bertuliskan “Tourist Information”. They were so helpful to find the shop I was looking for. Thanks!

 

Myeong-dong

Myeong-dong ini konsepnya lebih mirip ke Insa-dong daripada Namdaemun, hanya saja, Myeong-dong ini lebih luas, lebih ramai, produknya lebih bervariasi, dan lebih banyak menjual barang-barang dengan well-known brand. Jangan heran jika kalian menemukan ada lebih dari satu toko Etude dan Face Shop di shopping area ini. Gue berhasil melengkapi daftar titipan make-up teman-teman gue saat berbelanja di Myeong-dong. Sekedar info, kosmetik made-in Korea dijual dengan harga yang jauh lebih murah daripada harga jual di Indonesia. Selisih harganya bisa lebih dari 50% lho.

Selain menyediakan merk-merk yang terbilang populer, ada pula beberapa toko kecil yang menjual  produk-produk yang sifatnya eksklusif. Ada satu toko yang harga handmade souvenir-nya luar biasa mahal, tapi ada juga yang masih terjangkau. I bought two very cute pens in that store. Ada pula toko sepatu kecil, yang letaknya agak tersembunyi di ujung jalan, yang menjual koleksi sepatu yang tampak manis dan feminim. Hanya saja sayangnya, bahkan ukuran sepatu terbesar di sana pun masih nggak muat buat gue 😦

Oh ya, gue juga sempat menemukan beberapa toko pakaian yang konsepnya mirip-mirip factory outlet di Indonesia. Toko-toko ini biasanya terdiri dari 2 lantai yang cukup luas dengan berbagai koleksi t-shirt yang lucu-lucu, mulai dari t-shirt bergambar Hello Kitty sampai Korean premium t-shirt ala di Insa-dong. So if you want to do some fashion shopping, then Myeong-dong could be a good choice.

 

Everland Souvenir Shop

Sama seperti kegemaran gue belanja di Disneyland, gue juga seneng banget waktu belanja di Everland. Di sana gue beli satu boneka little fox yang baru pertama kali gue lihat di kebun binatang Everland, dan beberapa souvenir Teddy Bear. Saking lucunya benda-benda itu, dalam hati gue berujar… “Aduh… ikhlas nggak yaa, gue kasih ini ke orang lain? Apa gue simpen buat diri gue sendiri aja yaah?” Hehehehe.

Barang yang dijual di toko ini ya tipikal toko-toko dalam amusement park lah yaa. Ada t-shirt, mug, boneka, pulpen, pensil, aksesoris rambut, dan masih banyak lagi! Untuk harga jelas relatif mahal. Gue beli oleh-oleh di sini cuma untuk teman-teman yang gue anggap teman baik aja. Yup… pada akhirnya, semua benda lucu itu berhasil gue ikhlaskan untuk orang lain, hohohoho.

 

Kesimpulannya, gue bisa bilang Namdaemun itu the best place buat belanja oleh-oleh, Insa-dong the best place buat belanja barang-barang yang sifatnya unik, dan Dongdaemun the best place untuk beli baju dan sepatu lucu dengan harga relatif murah. Buat yang niat bisnis, sudah tentu harus datang ke Dongdaemun. Pedagang di sana sudah terbiasa mengekspor barangnya ke negara lain. Jika kita serius mau jadi partner bisnis, mereka akan kasih kartu nama dan katalog produk terbaru akan selalu mereka kirim via e-mail.

If someday I go back to Seoul, I definitely will go back to Insa-dong and Dongdaemun. My shopping day in Seoul was my best day during that trip and I simply want to have such another great day like that! And maybe next time… I’ll be there for a business purpose too, hehehehe.

Gara-gara Mario Teguh

Beberapa waktu yang lalu, Mario Teguh bikin status begini di Facebook page-nya:

“Kita berdoa sebelum makan. Tapi banyak orang memotret makanannya dan share via BB atau iPhone, agar temannya iri. ASIMH.”

Jadi ceritanya, Mario Teguh sedang gemar menulis status yang berbau-bau ‘humor’. ASIMH itu sendiri merupakan singkatan dari: Awas Status Ini Mengandung Humor.

Pertanyaannya… benarkah status itu dia buat murni untuk melucu? Gue kok malah jadi teringat sama teman-teman yang suka sengaja membuat lelucon yang sebetulnya dimaksudkan untuk menyindir orang-orang tertentu ya? Dan kenapa Mario Teguh malah ikut-ikutan jadi orang sinis seperti itu?

Kalau mau positive thinking, bisa saja Mario Teguh tidak bermasuk bilang bahwa SEMUA orang yang suka upload foto makanan itu berniat pamer. Tapi entah kenapa, hal ini malah mengingatkan gue sama seorang teman yang pernah menulis status yang menyudutkan wanita karier. Dia berdalih, dia bikin status itu untuk menyindir salah satu temannya, tapi ternyata, banyak sekali teman Facebook-nya merasa tersinggung dengan isi statusnya itu. Lagi-lagi gue berpikiran… kenapa Mario Teguh malah ikut-ikutan jadi orang usil?

Lebih buruknya lagi, status Mario Teguh terkait upload foto makanan itu disukai oleh ratusan penggemarnya! Bukan cuma itu… para penggemar status itu malah menambahkan begitu banyak komentar yang isinya justru lebih provokatif dari isi status itu sendiri.

Yang paling gue ingat adalah komentar dari salah satu penggemar Mario Teguh yang intinya mengatakan, di Facebook itu memang banyak orang sombong. Dia setuju bahwa upload foto makanan itu sama dengan pamer, dan upload foto-foto dan cerita liburan ke luar negeri itu namanya tidak tahu diri! Masih menurut orang yang sama, harusnya daripada dipakai buat jalan-jalan ke luar negeri, lebih baik uang tersebut dipakai untuk menolong orang-orang yang tidak mampu! Ouch…

Akhir tahun lalu, seorang teman Facebook pernah share opini seorang warga negara asing yang pernah tinggal di Indonesia. Ceritanya, si bule ini sedang menjawab pertanyaan, “What do you think about Indonesia?” Berikut ini kutipan jawabannya (tidak gue ganti satu kata pun):

“People get jealous easily when it comes to wealth, they become sensitive when talking to richer people.”

“Almost all poor people don’t like rich people. Any activities made by rich people often considered as “showing off” by lower-middle class people like for example, if you buy branded handbags like Louis Vuitton or Gucci, people might think you’re buying those stuffs only for showing off, this research has been done by sociologists.

“My friend’s Mercedes engine broke down in the middle of the road and many people laughed at him saying, “How come an expensive car could have problems” and they will mock you. Being a rich person in Indonesia could be hard sometimes as it’s hard to get friends. If you’re rich in Indonesia, try to cover up your wealth, don’t let them know if you’re rich or else they will get jealous at you.

Baca komentar si bule itu rasanya memang tidak mengenakkan… tapi gue benar-benar bisa mengerti dengan apa yang dia rasakan. Padahal mobil gue bukan Mercy atau BMW, handbag gue juga belum sampe ke level LV dan Gucci, tapi tetap saja… meskipun gue sama sekali belum sekaya itu, gue sendiri sudah merasakan bahwa tidaklah mudah menjadi orang kaya di Indonesia. I already realize that the richer you are here, the more enemies you would have just by doing nothing.

Gara-gara Mario Teguh, berbagai pikiran acak berebut muncul di benak gue…

Di Indonesia ini, bikin status check-in di fast food restaurant dianggap wajar. Tapi bikin status check-in di restoran hotel bintang lima, itu dianggap pamer. Gue sendiri sesekali masih suka makan di Pizza Hut dan KFC, tapi gue tetap ngerasa tidaklah adil buat orang-orang yang lebih mampu yang memang setiap harinya hanya makan siang di restoran menengah ke atas. Jika semua check-in mereka dianggap pamer, berarti mereka nggak boleh pernah check-in hanya supaya tidak dianggap pamer gitu? Jadi hanya orang menengah ke bawah yang boleh memanfaatkan fitur check-in?

Kemudian, gue suka upload foto liburan gue sama sekali bukan untuk pamer… Traveling itu salah satu hobi gue, dan salah satu hal yang paling berharga dari pergi liburan itu adalah foto-fotonya, dan Facebook merupakan salah satu media penyimpanan yang palig aman. My laptop could crash someday, but my pictures in Facebook, they will still stay safe

Gue juga suka nulis cerita perjalanan gue di blog ini bukan untuk menyombong. Saat tengah mempersiapkan perjalanan, gue sering merasa terbantu dengan tulisan dari blogger lain. Makanya setelah pulang dari liburan, gue juga ingin melakukan hal yang sama: membantu traveler lain untuk mempersiapkan perjalanannya.

Dan ya, gue juga sesekali suka upload foto makanan dan minuman gue ke Facebook disertai dengan tulisan berisi pendapat gue soal menu tersebut. Ingin pamer? Come on… nggak semuanya makanan mahal kok. Ada pula satu gelas Thai Ice Tea seharga Rp. 15.000 yang gue sharing di situ. Gue cuma senang berbagi info makanan dan minuman enak, apalagi yang namanya menulis itu kan memang hobi nomor satunya gue. Jadi apa salahnya sih?

Sekali lagi gue nggak tahu maksud sebenarnya dari Mario Teguh. Seram juga kalo blog gue ini dibanjiri hujatan dari para penggemar fanatiknya Mario Teguh, hehehehe. Intinya sih, gara-gara status Mario Teguh, gue jadi terinspirasi buat bikin tulisan ini. Gue jadi teringat betapa di Indonesia ini, sangat mudah sekali untuk kita dicap sombong dan suka pamer oleh orang-orang di lingkungan kita sendiri.

Like this blog or hate this blog, let’s just learn a lesson from itUpload foto makanan, foto liburan, itu nggak dosa, enggak pula merugikan orang lain sama sekali. Yang dosa dan merugikan itu justru kalau kita mengotori hati dengan pikiran buruk. Kalaupun benar orang ybs berniat pamer, so what? Apakah upaya pamer mereka itu bikin hidup kita jadi susah? Enggak kan? Malah kalo menurut gue, saat melihat keberhasilan orang lain, daripada sibuk menjelek-jelekkan orang ybs, kenapa kita tidak berdoa dalam hati supaya kelak, kita juga bisa sama suksesnya dengan mereka?

Balik lagi ke Mario Teguh… ada lagi nih salah satu status dia di Twitter yang menurut gue kurang pantas untuk ukuran motivator seperti dia. Begini isi tweet-nya:

“Jangan terlalu bangga jika anak kecil anda sudah bisa bahasa Inggris. Semua anak kecil di Inggris juga begitu.”

Apa pendapat gue? Jangan deh, nanti blog ini bisa nggak selesai-selesai, hehehe. Yang jelas segera setelah gue baca tweet Mario Teguh yang terakhir gue kutip itu, gue langsung memutuskan untuk unfollow dia. Daripada gue jadi ngerasa tersindir terus-terusan (yang padahal dia juga gak kenal sama gue), lebih baik gue unfollow saja kan?

Jeju Glass Castle

Oh my God… udah tepat setahun sejak liburan gue ke Korsel tapi rangkaian trip story di blog gue ini masih aja belum selesai! So here I am… bertekad buat menyelesaikan tulisan gue itu di minggu ini, hehehehe.

Today I’m going to write about Jeju Glass Castle, sejenis museum yang menampilkan berbagai jenis masterpieces yang terbuat dari kaca. Cuma di tempat ini gue pernah melihat taman bunga yang terbuat dari kaca, kereta labu Cinderella, mirror maze, dan berbagai jenis exhibit cantik lainnya. Kumpulan benda-benda kaca itu tersebar mulai dari museum indoor sampai dengan outdoor park. Favorit gue tentu saja outdoor park-nya 🙂

Check the slide below for my favorite pictures in this place!

This slideshow requires JavaScript.

Jeju Glass Castle mungkin bukan atraksi yang menarik buat semua orang, tapi kalo buat gue, it felt like a new experience. Menyenangkan buat cuci mata, menyenangkan juga buat foto-foto. Lokasi Jeju Glass Castle relatif dekat ke bandara dan agak jauh dari Jungmun Resort. Hope this could give you a clue in preparing the itinerary.