Tonight in Shell

Malam ini sepulang kerja, gue mampir dulu ke Shell dekat kantor. Pom bensin yang sudah biasa gue datangi, tapi baru malam ini gue memperhatikan sesuatu yang sangat menarik perhatian gue.

Seperti biasa, begitu masuk ke kawasan Shell, petugasnya mengarahkan mobil gue menuju tempat yang masih kosong. Awalnya, gue udah ngerasa ada yang berbeda dari petugas itu, tapi gue masih belum benar-benar sadar apa yang membedakan dia dengan petugas lainnya. Baru pada saat si petugas Shell itu datang mendekat ke kaca mobil, gue menyadari… petugas laki-laki itu hanya mempunyai satu tangan saja.

I knew that it was not polite to keep staring at him, so I tried to look away, but my bad, I couldn’t help myself looking at him once in a while.  

Sama seperti petugas lainnya, dia dengan cekatan mengisi bahan bakar mobil gue. Dia juga dengan cekatan membersihkan kaca depan mobil gue. He could do it as fast as his colleagues, and of course, with a bright wide smile on his humble face.

Dalam perjalanan pulang, begitu banyak pikiran acak menyerbu masuk ke benak gue.

I’m proud of him for doing his best at work.

I’m proud of Shell for giving him that job opportunity.

And I’m proud that tonight, I managed to learn that I need to complain a little bit less.

Gue suka mengeluh sama sakit kepala yang tiba-tiba datang saat pekerjaan sedang banyak-banyaknya. Mengeluh capek dan kurang tidur. Mengeluh soal mata berkantung, jerawat-jerawat kecil, kerutan halus di sekitar mata… Tiba-tiba saja, gue ngerasa manja. I tend to forget to count my blessing much more than I count my problems in life.

Gue tipe orang yang percaya bahwa setiap orang punya jalan hidupnya masing-masing. Gue juga percaya bahwa tidak pernah ada kerja keras yang sia-sia. Jadi tidak, gue tidak perlu merasa kasihan meskipun petugas Shell itu hanya punya satu tangan. I know that if he works hard, works smart, behave and do the right things at work, he will find his way to success in life.

He can do it, I can do it, all of us can do it. Just do our best, and let God do the rest.

Let’s call it a night and sleep tight!

The Choices

Belum lama ini, gue menemukan quote yang awalnya gue pikir biasa-biasa saja, tapi kemudian, quote itu ‘menghantui’ pikiran gue sampai berhari-hari lamanya. Secara singkat, isi quote-nya:

“Pada awalnya, semua orang bangga dengan pilihannya, tapi pada akhirnya, tidak semua orang setia pada pilihannya. Karena yang tersulit dalam hidup bukanlah memilih, tapi bertahan pada pilihan tersebut.”

Kalau dipikir-pikir lagi, quote ini bisa berlaku untuk begitu banyak hal…

Saat baru putus dan menemukan pacar baru, kita akan berpikiran, “My new boyfriend is the best! My ex-boyfriend? I can’t believe I was dating him!”

Tapi kemudian, saat si pacar baru mulai menunjukkan sifat aslinya… Saat kita tahu betapa menyebalkannya dia di saat sedang bad mood. Saat kita tahu bahwa dia tidak seperti yang kita kira sebelumnya. Saat kita mulai meragukan pilihan kita itu, bisa saja kita malah mulai berpikiran… “My ex-boyfriend could do better than this.”

Atau misalkan untuk urusan pekerjaan baru. Kita bangga dapat pekerjaan baru dengan better salary, better position, better working environment, dsb dsb. Kita sampai berpikiran, “I’m so lucky to get this job.” Tapi masih kah kita berpikiran demikian setelah si pekerjaan baru mulai menunjukkan sisi buruknya?

Awalnya, kita mulai punya satu atau dua rekan kerja yang tidak kita sukai. Lalu ternyata, si bos yang tampak charming saat job interview itu suka bertingkah irritating saat sedang dikejar-kejar deadline. Kemudian pekerjaan mulai menumpuk, mulai terlibat office politic, mulai capek dan lain sebagainya, sehingga akhirnya, kita malah jadi berpikiran, “What am I doing here?”

Pada akhirnya gue setuju… bertahan pada satu pilihan sebetulnya justru lebih sulit daripada menentukan pilihan itu sendiri. Tapi kalau boleh gue tambahkan sendiri, meskipun mempertahankan pilihan itu sulit, bukan berarti mengakhiri hal tersebut untuk memulai dengan pilihan baru lainnya pasti akan terasa lebih mudah!

There’s always that high and low in every decision we make. Mau dicari sampai kapan pun, tidak akan pernah ada pilihan yang sempurna. Apapun yang kita pilih, segala sesuatunya tidak akan pernah terwujud persis seperti yang kita inginkan pada awalnya. Jadi jangan pernah berharap kita akan punya pasangan yang sempurna, pekerjaan yang sempurna, bahkan tidak akan pernah ada tempat tinggal dan kendaraan yang sempurna.

Meski demikian, bukan berarti kita tidak pernah boleh menyerah. Ada kalanya, mengakhiri sebuah pilihan adalah pilihan yang terbaik untuk hidup kita. Hanya saja, pastikan dulu bahwa kita sudah berjuang sampai ‘titik darah penghabisan’ sebelum akhirnya memutuskan untuk menyerah. Jika tidak, pilihan kita untuk mengakhiri hal tersebut hanya akan jadi satu lagi pilihan hidup yang nantinya kita sesali di kemudian hari.

Let me close this post with another remarkable quote about making choices: “When you feel like quitting, think about why you started.”

Don’t give up too soon, there’s a chance that this too, will pass.

How do I Know that I Like Someone New?

Belum lama ini, gue mengajukan pertanyaan sederhana ke salah satu teman gue, “How do you know that you like this guy?” Pertanyaan yang kemudian, diam-diam gue tanyakan pada diri gue sendiri. Bagaiamana dengan diri gue sendiri? Bagaimana gue bisa tahu bahwa gue suka sama seseorang?

Jika pertannyaan yang sama diajukan kepada gue, berikut ini jawaban gue:

  1. Gejala paling awal: gue jadi sering mikirin dia;
  2. Gue mulai nervous kalo ada dia. Hal-hal yang bisa dengan mudah gue lakukan dengan orang lain, seperti say hi duluan, akan jadi terasa lebih sulit dan bikin nervous;
  3. Gue jadi bersemangat kalo tahu akan ketemu sama dia;
  4. Gue mulai penasaran sama cewek-cewek di sekitar dia. Itu pacarnya bukan ya? Giliran bukan cowok yang gue suka, belum tentu gue tahu mereka itu single atau taken…
  5. I will be very curious when he’s not around. Mesti nahan-nahan diri buat enggak tanya-tanya ke orang lain, “Dia di mana ya?”
  6. His opinion does matter to me. Gue jadi suka berpikiran, “What will he think if I wear this dress?” atau “What will he think if say this or do that?”
  7. Dia jadi kelihatan lebih lucu di mata gue. Jokes yang nggak lucu-lucu banget aja bisa bikin gue sampe senyum-senyum sendiri!
  8. Tahap terakhir di mana gue paling yakin kalo gue suka sama seseorang adalah saat mulai terlintas di benak gue, “How does it feel to be his girlfriend?”

And what about you? How do you know that you’re in like with someone new?

Is There Any Easy Way to Deal with Broken Hearted?

broken heartAn old friend once asked me, “What should I do to get him out of my mind?” Or, to move on and leave him behind. To start fresh. To get back the days before our heart was broken into pieces.

I wish I had a good answer to this question. I wish I knew how to make this moving on thing easier for us. But no… It’s sad but no, there is no such a thing like an easy way to deal with broken hearted. We only need to get used to it until finally, someday we will just know that we’ve moved on already.

We need to get used to his absence in our lives. There’s no more him to listen to our stupid stories. There’s no more him to enlighten our days. There’s no more him to look forward to, ever. We need to live with the fact that things will never be the same again.

Or if we fall for someone that we can’t have, all that we need to do is giving up our hopes. Let it go. He may be there for us, he may make us laugh, he may be everything we want from a guy we love, but he may never be ours. Be strong enough to accept the fact that he doesn’t belong with us.

I know that there’s a lot things we can do to get rid of him. We can hang out and have some fun, we can also try to find someone new, yet at the end of the day, everything is nothing if we’re still hoping that he will find his way back to us.

Moving on will never be easy. There is no magic that is capable to make us forget him in a blink of eyes. This is one of the times we learn that we can’t always have what we want to get. This is how we learn to live with a big heart as a wise grown-up.

Just hang on, be strong, and we’ll get there. Someday, we will wake up in the morning, look back, and smile ourselves knowing that we have gracefully left that past behind us.

A Friendship Should be ‘Easy’… Just like a Kid

Tiba-tiba aja, gue teringat sama persahabatan di masa kecil gue dulu. Dan tiba-tiba aja, gue jadi mulai membanding-bandingkan… Gue jadi mulai kepikiran, kenapa ya, bersahabat setelah dewasa justru jadi semakin sulit dan sangat rumit? Just like a group of kids make friends with each other, a friendship is supposed to be ‘easy’!

Sama seperti anak kecil yang masih polos, kita seharusnya bilang terus terang apa yang kita inginkan, atau apa yang kita rasakan. Our friends are not a mind reader! Memberi pertanda-pertanda dan berharap mereka akan mengerti dengan sendirinya justru hanya akan memperumit keadaan. What if they took our signals wrong?

Persahabatan tumbuh karena kebersamaan. Make time for your friends! Mengutip dari Mandy Hales, “Terlalu sibuk itu hanya mitos. Setiap orang meluangkan waktu untuk hal-hal yang penting untuk mereka.” Hargai persahabatan yang pernah kita bangun, luangkan waktu, jangan hanya muncul kalau ada perlu 😉

Waktu kita kecil dulu, kita sering bingung harus bilang apa saat teman bercerita baru saja dimarahi sama ortunya. Kita hanya bisa duduk, mendengarkan, atau terkadang, ikut menangis bareng sama mereka. Just keep it that way! Seringkali, teman bercerita hanya ingin didengarkan. Bukan untuk diceramahi! If they need your advice, they will let you know.

Be genuine, just like an innocent. Ikut senang saat teman bahagia, bukannya iri dan diam-diam mencari ‘celah’ ketidaksempurnaan dalam diri mereka. Bertanya karena peduli, bukan hanya karena penasaran dan ingin tahu. Mean it when we say that we will always have their back! Make a pinky swear without crossing any finger behind our back.

And then when our life is knocking us down, let them help. Jangan malah diusir, jangan malah melampiaskan amarah pada orang yang salah, jangan malah mendramatisir keadaan… Bersikap seperti itu hanya akan memperburuk keadaan. It’s too much drama if we expect them to do “a true friend will always find a way back to me” thing. Pushing them away may make them feel unwanted instead.

Kemudian di saat kita sedang merasa sendiri atau ingin ditemani, it’s okay to let them know. Masih ingat saat kecil dulu, kita berdiri di depan rumah sahabat sambil berteriak, “Kita main yuuk!” Enggak usah takut ‘ditolak’ sama teman sendiri. Kalo emang ngajak mereka ketemuan udah mulai sama sulitnya dengan bikin janji sama Presiden RI… itu tandanya kita sudah harus cari teman baru. It’s simple.

Yang terakhir, jangan jadi orang yang terlalu ‘sulit’. Jangan maunya dibujuk-bujuk hanya supaya bisa ikut. Jangan ribet dan terlalu banyak syaratnya. Just go and enjoy the show! Just run and bruise your knees! Just be grateful that you still have friends to have some fun.

A friendship should be simple. Pure. Sincere. Just like an innocent kid. Let’s keep it that way.

My Most Favorite Online Shops

Belakangan ini, ceritanya gue sedang mengalami writer’s block. Kehabisan ide, bingung mau nulis apa, semua yang gue tulis entah kenapa jadi kelihatan enggak enak buat dibaca… Akibatnya, waktu luang gue di rumah jadi gue habiskan buat belanja online! Sampai akhirnya gue kepikiran… kalo gitu kenapa gue enggak tulis soal online shopping aja? Soal online shops kesukaan gue itu!

Finally… my writer’s block is over, hehehehe.

.

Zalora

I think I am one of Zalora number one fans, hehehehe. Hampir tiap bulan (atau tiap minggu?) gue belanja di e-commerce yang masih sodaraan sama Lazada ini. Beli atasan, bawahan, dress, sampai pernah juga nekad beli sepatu online di Zalora.

Selain suka belanja di Zalora, gue juga suka banget sama fashion label-nya mereka. Modelnya feminim dan mostly gue banget. Pilihan warnanya juga cantik dan sesuai dengan selera gue. Udah enggak kehitung ada berapa baju merk Zalora yang ada di dalam lemari gue.

Hal lain yang gue suka dari Zalora; banyak banget extra discount-nya! Belanja pake CC BCA atau HSBC gue, udah pasti dapat extra discount 15%. Belum lagi discount vouchers dari Zalora yang bisa sampe 30%! I think Zalora is the most generous online shop in Indonesia 🙂

One other best thing about Zalora is the product display. Gue paling nyaman dengan Zalora ketimbang kompetitor mereka untuk urusan yang satu ini. Gue bisa lihat produknya dari depan, belakang, lalu ditambah foto zoom-in supaya kita bisa lihat tekstur bahannya! Ada pula informasi soal ukuran tubuh dan ukuran pakaian yang dikenakan oleh model katalognya. It helps me a lot to decide the clothing size.

Saking sukanya sama Zalora, Jujur kadang-kadang, gue berpikiran… harusnya gue kerja di Zalora aja, jangan di Lazada, hehehehe.

.

Shopatvelvet

Shopatvelvet ini salah satu local brands kesukaan gue. Website mereka khusus menjual fashion items produksi mereka sendiri. Design-nya sederhana tapi terlihat cantik dan enggak pasaran. Emang sih, makin lama makin banyak merk lain yang meniru design-nya mereka, tapi gue tetep ngefans sama merk yang satu ini!

Oh ya, hebatnya Shopatvelvet, ada cukup banyak produk keluaran mereka yang laris terjual hanya dalam hitungan jam! Makanya tiap kali mereka baru launching new collection, dijamin gue bakalan heboh! Bangun tidur langsung belanja online demi dapetin produk terbaru mereka yang gue suka. Bravo for the owner of Shopatvelvet!

.

Berrybenka

Lagi-lagi, Berrybenka ini spesialis fashion items. Harga barang yang gue beli dari Berrybenka umumnya lebih murah daripada barang yang gue beli dari Zalora. Senang rasanya ngelihat Berrybenka terus berkembang dengan bisnisnya. Mulai dari menyediakan fitur wishlist (finally!), loyalty program, dan tentu saja fashion label-nya juga!

Speaking of Loyalty Program, satu hal ini pula yang bikin gue makin suka belanja di sini. Ada level Silver, Gold, sampe Platinum. Jadi berasa special aja gitu, hehehehe. Apa lagi nantinya, Platinum customers akan punya customer service representative khusus untuk Platinum members!

Kemudian untuk fashion label Berrybenka, gue paling suka sama celebrity collection-nya. Jadi ceritanya, mereka bekerja sama dengan tiga artis lokal untuk meluncurkan serangkaian koleksi yang gue suka banget! Ada beberapa design yang gue enggak gitu suka dengan pilihan warnanya sih, tapi gue tetep suka! Malah kalo menurut gue, label Berrybenka punya lebih banyak trending items daripada labelnya Zalora.

I’m so proud that Indonesia has fast growing local e-commerce like Berrybenka. Best of luck!

.

StrawberryNET

StrawberryNET ini bisa dibilang spesialis produk-produk kecantikan. Rasanya enggak ada online shop lain di Asia yang punya koleksi kosmetik dan wewangian sebanyak StrawberryNET. And the best part about this shop, it’s free shipping plus free import tax and duty across the nations! Yang masih harus bayar shipping cost hanya produk parfum dan itupun masih relatif murah buat ukuran international shipping.

Sayangnya kalau bicara soal harga, belanja di StrawberryNET belum tentu lebih murah daripada harga counter, terutama kalau nilai tukar Rupiah sedang melemah. Jadi harus rajin-rajin bandingin harga sebelum beli. Strategi gue ya apalagi kalo bukan bandingin dulu sama harga di Lazada? Hehehehe.

Yang selalu gue nanti-nantikan dari StrawberryNET adalah daily deals-nya mereka. Untuk produk-produk yang dijual dalam daily deals rasanya udah pasti paling murah deh. Diskonnya aja bisa sampai 80% lho. Udah dapet special price, masih bisa ditambah pula dengan loyalty discount plus promo-promo mereka yang lainnya! Jarang ada online shop yang berani kasih multi-discounts seperti ini.

Satu-satunya kekurangan belanja di StrawberryNET ya sudah pasti masa tunggunya lebih lama secara produknya dikirim dari negara lain. Tapi kalo emang bisa dapet harga murah, atau kalo barangnya termasuk langka di Indonesia, ya kenapa tidak?

.

Lazada

Awal-awal kerja di Lazada, gue suka bingung… Kenapa ya, penjualan Lazada bisa sebegitu gedenya? Kenapa orang-orang suka banget belanja di sini? Beli barang elektronik bukannya lebih enak beli offline? Kalo barangnya rusak di pengiriman gimana coba?

Tapi belakangan ini… gue sendiri jadi rajin belanja di Lazada. Bukan karena gue kerja di sini dan dapet diskon khusus karyawan lho ya, secara emang beneran nggak ada diskon karyawan di kantor gue, tapi lebih karena ternyata, Lazada itu serba ada! It’s so much more than an electronic online shop.

Bedak dan eyeliner L’oreal gue, pembersih muka Clinique, mascara Lancome, eye shadow Mac, sabun mandi Cottage, Burberry EDP, sampe kapas berbentuk lingkaran yang jarang ada di supermarket itu semuanya ada di Lazada. Intinya, hampir semua merk yang biasa gue pake lengkap tersedia di Lazada! Belum lagi barang-barang unik seperti sarung buat koper dan mesin uap buat facial ternyata ada juga di website kantor gue itu. Berkat Lazada, gue jadi jarang banget pergi ke supermarket buat belanja bulanan, hehehehe.

Honestly, I’m glad that I decided to work in Lazada. Gue jadi tahu belakang layarnya, rahasia suksesnya, sampai suka duka dalam ‘membesarkan’ e-commerce baby sampai jadi top player seperti sekarang ini. Mungkin suatu hari, gue akan kepingin membangun online shop gue sendiri. Who knows? Hehehehe.

My Appreciation to Lazada

IMG_4569Today is exactly one year since the very first day I started working at Lazada Indonesia. One year working with Lazada, one year I met with so many new colleagues along the journey. The colleagues who shared these crazy workloads together, the ones who have my back everytime this ‘world’ seems to turn against me, and also the ones who keep me laugh even in the worst possible times.

My highest gratitude goes to my team who have sincerely accepted me as their leader. This one team who understands how I can be so cranky early in the morning, how I can be so annoying when something goes very wrong; it’s simply a team who supports me to fight the barriers and run toward the finish lines. I am nothing without their hard works, their contributions, their long hours at work, and their patience to constantly deal with this ‘tough life’, all together as a team.

Despite all of my grumpy attitudes, I’m so thankful for having these bosses as my boss. They trust my capability more than I trust myself, they give me chances to grow and prove myself, and they do everything in their powers to help me out everytime I’m in a big trouble. We’re not always aligned, not always being nice to each other, but at the end of the day, I know that once again in my career path, I am blessed to have them as my bosses.

I’m also thankful for other teammates in my department, especially the ones who end up as my good friends along the way. The chit chat, the encouragement, the jokes and laugh that we share together are just priceless! Having a helpful colleague is one thing, but having a good friend is one other extraordinary thing in life. I rarely find a place where many people sincerely support each other with no envy.

I’m also lucky enough to have a few friends from other departments who helped me a lot during my early times working for Lazada. I knew nothing about e-commerce and all systems involved in it back then, but they were all glad to let me know how it worked, as detailed as possible. They were all busy, but they always had times to answer my questions, to solve my problems, and of course, to share that not-so-important ‘news’ in between.

The last one, I’m also glad to have a few colleagues in regional team that have helped me so many times in the past few months. Sometimes I bother them with stupid questions that apparently I can answer by myself, yet they are still willing to find me the answers to my questions. I’m also glad that we still manage to have a good laugh apart from our crazy pressures at work.

I know that the tittle to this post is my appreciation to Lazada, yet all that I wrote is the people who work with me. But the thing is, what does define a company anyway? Company is only a name written on a piece of paper, and why should I say thank you to a piece of paper? It’s the people who work with me that has made Lazada a company that matters to me.

So guys, even though it looks like I’m angry all the time, the truth is I’m so happy to work with you. And yes, if you think that I wrote about YOU in this post, then this post is indeed all about you 😉

Let’s keep on rocking!

Be Grateful for Every Little Thing We Have

Dua minggu yang lalu, saat kebetulan enggak ada orang rumah yang bisa jemput gue pulang kerja, gue terpaksa pulang naik taksi biru. Saking macetnya, perut gue keburu lapar. Gue lalu bilang begini sama bapak supirnya, “Pak, saya nggak jadi pulang deh. Tolong cari mall terdekat aja ya, saya mau cari makan.”

Si pak supir itu dengan polosnya lalu menjawab, “Emangnya di semua mall itu pasti ada tempat makan ya, Mbak?”

Gue sempet terdiam… Pertanyaan yang agak aneh kalo menurut gue. “Hmm… ya iya, Pak… Udah pasti.”

Ngelihat gue kebingungan, si bapak supir menjelaskan, “Saya udah hampir dua tahun kerja di Jakarta belum pernah mampir ke mall, Mbak.”

Gue jadi kaget… “Oh ya? Kenapa, Pak?”

“Ya boro-boro mikirin ke mall, Mbak… Hasil kerja aja cuma ngepas buat hidup sehari-hari.”

Gue terdiam… Hal ini mengingatkan gue saat bertahun-tahun lalu, ada salah satu ART gue yang mengaku belum pernah nonton film di bioskop. Padahal, rumah dia hanya berjarak beberapa ratus meter dari mall terdekat di daerah Grogol!

Pikiran gue lalu melompat ke cerita si Mami soal anak-anak yang berebut baju bekas pakai yang sudah tidak gue inginkan. Kegembiraan mereka itulah yang membuat gue tidak pernah tertarik untuk bikin garage sales atau yang semacamnya. I’m glad if such simple thing can make other people so happy like that.

Yang terakhir, pikiran gue melompat lagi ke cerita Mami soal anak tetangga yang terlihat sangat menikmati cheesecake pertamanya. Kata Mami, matanya sampai terpejam sambil bilang, “Ehhhmmm… enak banget ya, kuenya.”

Guys… mall yang sudah kita anggap membosankan itu masih menjadi misteri bagi begitu banyak saudara kita di luar sana. Tiket bioskop yang affordable untuk kita masih dianggap terlalu mahal oleh mereka. Dan makanan yang sering tidak kita habiskan itu merupakan suatu kemewahan tersendiri untuk mereka semua…

Intinya, syukurilah hal-hal terkecil yang kita punya, karena bagi begitu banyak orang di luar sana, semua itu adalah anugerah. Untuk teman-teman sesama Muslim… bersyukurlah, maka niscaya Allah akan menambah nikmatmu 🙂

There is No Such a Thing like “Perfect Timing” at Work

Baru-baru ini, gue ngerasa bahwa yang namanya “perfect timing” itu sebetulnya nyaris enggak pernah ada dalam dunia kerja. Berusaha cari “the right time” ujung-ujungnya malah bikin kita melupakan atau menelantarkan hal penting yang ingin kita lakukan tersebut.

Contohnya…

Kita ingin menegur kinerja anak buah yang kita anggap kurang teliti, tapi karena tim kita sedang sibuk kejar deadline, kita lantas berpikiran, “Jangan sekarang ditegurnya, supaya dia fokus dulu menyelesaikan pekerjaannya.” Lalu kenyataannya? Selalu ada saja deadline yang baru lagi dan lagi, sehingga pada akhirnya, kita malah jadi lupa untuk memberikan feedback untuk si anak buah. Akibatnya? Hasil kerja dia terus saja banyak salahnya karena dia tidak merasa ada yang perlu dia perbaiki.

Contoh lain, gue pernah menyarankan tim gue untuk ambil kursus Bahasa Inggris di luar jam kerja. Tapi karena masih masa sibuk, kita pikir ya sudah nanti saja kursusnya. Kenyataannya? “Nanti saja” terus menjadi “nanti saja”, kesibukan seolah tidak pernah ada akhirnya, sehingga lewat enam bulan kemudian, masih belum ada satupun yang memulai kursusnya.

Atau contoh yang terjadi sama diri gue sendiri… gue pengen banget ambil cuti panjang, pengen refreshing, pengen jalan-jalan… tapi gue pikir nanti saja kalau ini dan itu sudah selesai gue kerjakan. Lalu kenyataannya? Cuti gue terancam hangus sembilan hari 😦

So guys… if we always wait for the right time just to do the right things at work, then maybe, we will have no time at all. Who knows that tomorrow you’ll be much busier than you are today? I don’t know how it goes somewhere else, but in my workplace, that working madness just never ends.

Emang sih, sangat tidak mungkin kita melakukan SEMUA hal dalam satu waktu yang bersamaan. Yang namanya prioritas tetap selalu ada. Hanya saja kembali lagi, jangan jadikan ‘waktu yang tepat’ sebagai satu-satunya pertimbangan untuk menentukan prioritas. Do what you’ve got to do, no need to wait that right time to come and make your own time instead!

Work smart and make time to do what you need to do TODAY.

10 Things I Always Like from a Guy

The more and more I think about it, the more I know the things that I always like from a guy. A combination of ten things listed below will make myself end up falling for someone. And the more I think about it again, I believe it’s not only working for me, but also for millions of girls out there. Must read for the guys, these are the things that will make you loveable 😉

  1. He knows how to console me and how to make me laugh, especially in my very bad days;
  2. Knows the details about me: what I like, I dislike, the things I do and I will never do, then… it will be nice if he lets me know that he knows me well;
  3. Gives up his seat for me, holds the door, carries my heavy boxes… you know, the gentleman things will never get old;
  4. Offers me some help when I need the most without being asked. It will make him some kind of superhero, hehehehe;
  5. Successfully solving my problems that I’m still struggling with. It just impresses me;
  6. Trying so hard to fulfilling his promises to me. It’s hard to find nowadays so that it impresses me too;
  7. Looks for me when I’m not around. It will let me know that I matter to him. It may not apply in certain conditions such as working environment though;
  8. He doesn’t yell me back when I’m so angry to him. It touches my heart and cools me down in no time;
  9. Treats me differently. I like nice guys, but he MUST be nicer with me rather than any other girls. It’s important to make me feel special 😉
  10. He knows how to flirt without being cheesy. I love it more when he flirts and makes me laugh in the same time. The more creative he is, the more chances he steals my attention.