Bosan

Biasanya, gue bukan tipe orang yang gampang ngerasa bosan. I always have something to do to spend my time, and I always have a good reason to smile and laugh everyday. Malah jujur, gue suka ngerasa gengsi mengakui kalo gue lagi bosan sama hidup gue (karena faktanya, rasa bosan itu paling cuma muncul sekitar sejam-dua jam doang kok).

Namun dengan berat hati gue akui… belakangan ini gue lagi ngerasa bosan sama keseharian gue. Kayaknya udah nggak ada lagi hal-hal yang bikin gue ngerasa antusias. Everything feels so ordinary, nothing special, bahkan entah kenapa gue jadi lebih jarang ketawa sampe terpingkal-pingkal. Bahkan, aktivitas harian yang biasanya terasa biasa-biasa aja, mulai terasa sangat-sangat menjengkelkan dan sempet bikin gue ngerasa down.

Contohnya… gue sekarang benci banget naik bis kota. Apalagi kalo harus diri dan berdesakan! Gue kesel sama diri gue sendiri kenapa udah hampir dua tahun kerja masih belum bisa nyicil mobil pribadi. Padahal ya, sebenernya gue bukan tipe orang yang kepengen cepet-cepet punya mobil pribadi lho. Gue lebih prefer apartemen daripada mobil pribadi. Tapi berhubung gue udah mulai eneg sama bis kota dan mulai kesel kalo harus bergantung sama mobil temen sekantor, sekarang gue jadi kepengen banget punya mobil sendiri.

Btw… kenapa jadi nyerempet ke mobil pribadi ya?

Ah, pokoknya hidup gue lagi terasa menyebalkan lah. Apalagi soal kerjaan di kantor. Alamaaak… bukannya gue enggak bersyukur, tapi rasa-rasanya udah ada kali sekitar 20 alasan kenapa gue harus cepet-cepet resign dari kantor ini! Udah bosen banget gue kerja di sini. Udah kebayang lah gimana jadinya aktivitas karier gue sampe lima tahun ke depan kalo gue tetep kerja di perusahaan ini. Malah gue suka berpikir, kayaknya emang pekerjaan ini deh, pangkal dari rasa bosan gue belakangan ini.

Faktor lain yang bikin gue ngerasa lagi bosan adalah… rasanya udah lama banget gue enggak bikin blog yang isinya lucu dan menyenangkan. Abisnya, emang lagi nggak ada hal yang menyenangkan untuk diceritakan sih! Waktu menjelang akhir tahun sempet dapet tim temporer yang asyik banget, tapi yang namanya temporer ya udah, selesai tugas kita langsung bubar. Atau mungkin… karena sebulan belakangan ini gue ngaudit dalam tim kecil makanya gue jadi ngerasa bosan ya? Tapi kayaknya enggak juga deh. Masih mending tim kecil, waktu di perusahaan yang pertama gue malah hampir selalu terjun ke klien sendirian. Tapi waktu itu, meskipun sendirian tapi gue tetep happy-happy aja tuh. Jadi kayaknya… emang gue udah mati rasa kali yaa, sama kerjaan ini?

Persoalan keuangan juga lagi bikin gue bete belakangan ini. Dulu duit gue abis tapi sebagai gantinya, gue jadi punya barang-barang keren yang gue inginkan. Tapi sekitar dua bulan belakangan ini, gue tuh lagi bingung euy… uang gue itu pada ke mana abisnya ya? Soal keuangan juga bikin gue bete. Sekali lagi bukannya gue nggak bersyukur, tapi asli deh, gue mulai ngerasa gaji gue itu kurang banget. Ini juga salah satu alasan kenapa gue pengen resign. Ditambah lagi, ada satu peraturan tidak tertulis di kantor soal charge overtime yang suka bikin gue jengkel setengah mati. Ah, pokoknya balik lagi, gue udah males banget lah sama kerjaan ini!

Di luar kerjaan, gue juga mulai mempertanyakan kehidupan sosial gue yang rasanya udah setahun belakangan ini terasa jalan di tempat. Nggak banyak orang baru yang gue kenal, dan nggak banyak juga hal-hal baru yang gue coba untuk bersenang-senang. Ada sih, rencana pengen ke sana pengen ke sini sama temen lama-lama. Tapi realisasinya? Payah ah, rata-rata cuma ngomongnya doang! Pernah tuh, gue udah capek-capek ngumpulin info, ngitung-ngitung budget, eh…. pas udah deket hari H semuanya malah tiba-tiba punya banyak alesan! Kapok lah gue ngerencanain pergi-pergi kayak gitu lagi. Jadi mungkin… gue harus nyari komunitas baru yang fleksibel buat diajak pergi berpetualang, hehehe…

Tapi… yah… biar gimana juga, gue masih sadar diri kok, kalo gue bukan orang yang paling menderita sejagat raya. Toh kita enggak perlu jadi orang paling menderita sedunia untuk boleh mengeluh… Mengeluh itu hak asasi manusia lho guys, hohoho… Yang jelas, gue nggak mau no action talk only. Kerjaan baru udah mulai dicari (walau dengan belagunya setelah nyari berjam-jam, cuma kirim lamaran 1 biji saja:), dan… gue juga udah mulai merencanakan liburan sama teman-teman baru yang kayaknya lebih fleksibel buat diajak jalan. Lalu soal komunitas baru… hmm, ikut les  atau komunitas sosial tertentu bakalan asyik juga kali yaa?

Pokoknya, gue nggak boleh diam saja! Pasti akan ada cara buat bikin gue happy kembali. Semua badai pasti akan berlalu kan? Lagipula… gue nggak akan pernah bisa memaknai kebahagiaan kalo gue nggak pernah ngerasa bosan! So everybody… let’s find – a positive – way to have some fun! Have a nice day!

He’s Just Not That Into You

It sounds hurt but true: lebih banyak cewek daripada cowok yang dibodohi atas nama cinta. Lebih buruk lagi, kita para cewek sering kali menyangkal bahwa pada dasarnya kita hanya sedang dibodohi. Kita tidak bisa berhenti bersikap naïf, sok bijak dengan selalu berpikiran positif, dan yang paling buruk, kita menaruh harapan terlalu tinggi terdahap seseorang yang sebetulnya tidak benar-benar mencintai kita.

Sebetulnya gue bukan penggemar buku psikologi soal cinta-cintaan. Tapi karena suka sama filmnya, gue mulai tertarik baca buku yang berjudul He’s Just Not That Into You. Gue pun mulai membaca… dan seperti biasa, gue menandai bagian yang gue sukai dengan cara melipat ujung halamannya. Dan ternyata… ada begitu banyak halaman yang gue beri tanda lipat!

 

Jujur ya… gue ngerasa ditampar keras sama buku terjemahan yang dahsyat ini. Gue pikir selama ini gue udah cukup pintar, cukup pemilih, serta cukup cerdas dalam mengambil keputusan… Tapi ternyata, gue juga sering banget dibodohi atas nama cinta.

 

Nah, dalam kesempatan kali ini gue akan menuliskan dengan jujur bagian-bagian dari buku ini yang gue anggap menarik dan gue banget. Buat cewek-cewek, siap-siap ngerasa kaget, dan buat cowok-cowok, mohon maaf kalau elo merasa tersindir dengan tulisan gue ini.

 

  1. Jangan biarkan kata-kata ‘honey’ dan ‘baby’ menipu anda.
  2. Seorang pria tidak benar-benar menyukai anda kalau dia tidak menelepon anda. So girls, berhenti berpikir: sinyal hp lagi error, dia nggak punya pulsa, dia lagi sakit atau sibuk, atau yang paling konyol: hp-nya dijambret orang!
  3. “Bolehkah seorang pria lupa menelepon saya?” Jawabannya, “Tidak.”
  4. Menelepon saat anda berjanji adalah batu bata pertama dari rumah cinta yang anda bangun.
  5. Pria yang baik akan menggunakan telepon. E-mail tidak berlaku (termasuk menurut gue, comment di Facebook juga tidak berlaku:)
  6. Pria tidak pernah terlalu sibuk untuk mendapatkan keinginan mereka. Dan, pria tidak pernah terlalu sibuk untuk menelepon wanita yang benar-benar mereka sukai.
  7. Jangan menjalin hubungan dengan seseorang yang tidak menepati janji. Jadi, jangan pernah berkencan dengan seseorang yang membuat anda menunggu-nunggu telepon darinya.
  8. Seorang pria berkata, “Rasa takut terhadap kedekatan cuma mitos belaka. Itulah yang kami katakan pada wanita ketika kami tidak benar-benar mencintai mereka.”
  9. ‘Tidak ingin merusak persahabatan’ hanyalah akal bulus.
  10. Pada akhirnya, pria pasti berani mengajak kencan seorang wanita yang berstatus lebih tinggi jika dia benar-benar tertarik pada wanita itu.
  11. Orang lain memberi tahu anda siapa dia yang sebenarnya setiap saat. Jadi ketika dia berkata bahwa dia tidak bisa bermonogami, maka anda harus mempercayainya.
  12. Orang yang berselingkuh adalah orang yang punya banyak masalah dan mereka berusaha menyelesaikannya dengan menghancurkan hati anda.
  13. Cowok badung itu brengsek karena mereka menyusahkan, hanya sedikit menghargai diri sendiri, banyak memendam amarah, banyak membenci diri sendiri, serta benar-benar tidak percaya terhadap segala bentuk hubungan percintaan yang penuh kasih sayang.
  14. Seorang pria tidak benar-benar mencintai andai jika dia menghilang dari hidup anda.
  15. Inilah yang dia lakukan selama masa vakum hubungan anda: dia mengendus sekelilingnya untuk mencari orang lain yang lebih baik dari anda, dan jika dia tidak menemukannya, dia merasa kesepian sehingga dia terpaksa kembali ke ‘rumahnya’.
  16. Satu-satunya alasan kenapa dia merindukan anda adalah karena dia sendiri yang lebih memilih untuk tidak memilih anda.
  17. Bila anda tidak bisa mencintai dengan bebas, itu namanya bukan cinta.
  18. Hidup sudah cukup berat tanpa harus memilih seseorang yang bermasalah untuk berbagi hidup.
  19. Saya tidak akan berkencan dengan pria yang membuat saya merasa tidak diinginkan secara fisik.
  20. Pria lebih memilih dilindas gajah daripada memberitahu bahwa dia tidak serius dengan anda. Malah buat yang udah pernah pacaran, cowok lebih memilih memancing pertengkaran hebat daripada minta putus secara langsung!
  21. Binatang peliharaan adalah cara Tuhan untuk berkata kepada anda, “Jangan turunkan standar hanya karena merasa kesepian.”

 

Setelah baca buku ini, gue mulai berbesar hati untuk menerima bahwa pada dasarnya, cowok-cowok itu emang enggak bener-bener suka sama gue. Bukan karena kelulusan, bukan karena jarak jauh, bukan karena dia sibuk kuliah kedokteran, bukan karena dia minder dengan prestasi gue, bukan karena perbedaan besar di antara gue dan dia, bukan karena tidak ingin merusak persahabatan, dan bukan pula karena suatu masa lalu yang sangat sulit untuk ditinggalkan.

 

Intinya jangan pernah takut untuk mengakui bahwa faktanya, dia tidak beanr-benar mencintai kita. Jangan pula merasa rendah diri hanya karena kita ini bukan tipenya dia. Kita juga berhak kok, menetukan tipe cowok idaman yang kita inginkan. Kalau kita tega menolak cinta seorang cowok, kita juga harus berbesar hati kalau gantian kita yang ditolak sama mereka.

 

Jadi daripada buang-buang waktu buat cowok yang enggak benar-benar cinta sama kita, lebih baik kita nikmati hidup sampai nanti kita menemukan seseorang yang mencintai kita dengan layak. Dan jangan lupa, kita BERHAK untuk dicintai secara layak

Limit of Having Nothing to Loose

 

Tahu artinya nothing too loose? Sebuah sikap mental di mana kita merasa kelak tidak akan terpuruk karena kehilangan sesuatu yang pergi atau lepas dari genggaman. Dengan bersikap nothing to loose, kita tidak akan berlama-lama meratapi suatu kegagalan. Hebatnya lagi, kita juga tidak akan merasa terlalu sakit untuk menerima kegagalan itu. Hebatnya lagi, sikap ini bisa membuat kita menjalani hidup dengan lebih santai dan tanpa beban.

 

Hari ini untuk ke sejuta kalinya, gue ngerasa jenuh dan sebal dengan pekerjaan gue. Sepagian kerjaan gue cuma sesekali nelepon klien dan kirim e-mail, lalu sisanya cuma duduk santai, browsing, chatting sama teman, atau ngobrol-ngorbol sama teman-teman sesama auditor. Akibatnya, menjelang sore gue baru mulai pontang-panting nyariin klien. Padahal jam segitu itu udah waktuntya klien bersiap pulang.

 

Untunglah urusan dengan klien berakhir cukup beres untuk hari ini. Tapi bukan berarti pekerjaan gue udah selesai… Masih ada setumpuk dokumen yang harus gue tuntaskan hari ini juga.

 

Ternyata oh ternyata… rasa bete dalam diri gue justru menggila. Pusing ngelihat meja berantakan, sebel ngelihat working paper lecek dan kumel, belum lagi stationery gue jatuh-jatuhan melulu… Gue ngerasa kepala gue udah sangat panas sehingga bawaannya pengen cepet-cepet kabur dari kantor klien.

 

Akhirnya jam 5.30 teng, gue putuskan untuk menyerah. I tried to convince myself that the job can wait until Monday. Screw the job, gue ajak Arleen, temen gue untuk ninggalin kerjaan lalu pergi nonton ke Planet Hollywood. Kita di sana bukan cuma nonton satu film, melainkan nonton dua film berturut-turut.

 

Jujur selama duduk di dalam bioskop gue tidak memikirkan unfinished job itu sama sekali. Film pertama lucu, dan film ke dua lumayan seru… gue benar-benar tenggelam di dalam cerita. Lagipula sebenarnya, dalam ahti gue tidak lagi  memiliki rasa takut atas terbengkalainya pekerjaan gue sendiri. Yup… gue bersikap nothing to loose dalam urusan pekerjaan gue di perusahaan ini.

 

Entah sejak kapan, gue enggak pernah lagi ambil pusing sama tingkah laku senior dan manajer gue. Gue bahkan mulai berani menanggapi omongan menyebalkan dari salah satu senior dengan sikap jenaka yang pada akhirnya malah mengundang tawa. Gue ngerasa, menjalani pekerjaan yang gue anggap membosankan ini aja sudah cukup berat, jadi ngepain juga gue nambahin beban dengan terus-terusan mikirin pendapat atasan tentang gue?

 

Jeleknya, gue juga semakin cuek saat menjalani kewajiban gue di kantor ini. Kerja seadanya, suka menunda-nunda, males nanya-nanya terlalu detail ke pihak klien, males pula sering-sering diskusi tentang kerjaan sama para senior… Karena jujur di dalam hati gue ngerasa, toh masih banyak perusahaan bonafid di luar sana. I’m not gonna die just because of loosing this job right?

 

Selesai nonton film, gue nungguin Arleen dapet taksi untuk nganter dia sampe tempat kosnya. Setelah dia dapet taksi, gue langsung naik bis menuju Cawang untuk nanti sambung lagi naik angkot menuju rumah tante di Kali Malang.

 

Saat sudah duduk manis di dalam bis, barulah gue teringat sama tanggung jawab gue. Kerjaan ini harusnya udah selesai satu minggu yang lalu. Sungguh lucu gue bersikap santai begini hanya karena toh bukan cuma gue yang pekerjaannya belum selesai. Padahal dalam engagement sebelumnya, gue pernah membereskan pekerjaan gue seminggu lebih cepat daripada teman-teman lainnya. Saat mereka masih sibuk minta data ke klien, gue malah udah beres-beres dan mengembalikan semua data kepada klien.

 

Sampai sini gue baru mulai ngerasa bersalah. It’s definitely not me. I have to do the things those I can do today rather than waiting for tomorrow. Akhirnya secara spontan gue memutuskan untuk turun di kantor klien di daerah Pancoran. Gue  balik lagi ke dalam ruangan untuk membereskan beberapa pekerjaan yang masih harus dikerjakan, lalu membawa pulang beberapa dokumen untuk diteruskan di rumah besok.

 

Setelah pekerjaan beres, gue pulang ke rumah dengan dua tumpuk dokumen untuk diperiksa. Dalam perjalanan pulang itu, gue mulai mengambil suatu kesimpulan baru… bersikap nothing too loose pun ada batasannya.

 

Nothing too loose bisa menjadi excuse untuk kita bersikap malas dan tidak bertanggung jawab. Sikap ini juga membuat kita menganggap enteng suatu hal serta tidak menghargai dan mensyukuri segala sesuatunya. Nothing too loose pada akhirnya bisa membuat kita menjelma menjadi looser ataupun quitter.

 

In this point, I realize that I need to stop taking my job for granted. Memang benar masih banyak perusahaan bonafid lain di luar sana. Tapi di perusahaan ini, gue punya tanggung jawab, punya kewajiban, punya begitu banyak hal untuk dikerjakan sebaik-baiknya. I’ve lost several things in my life, BUT, I have never been a looser in my whole life. Jadi kenapa gue harus merusak sejarah hidup gue dengan menjelma menjadi orang yang tidak bertanggung jawab?

 

Hidup itu suatu pilihan. Gue menyadari sepenuhnya bahwa gue pun punya pilihan untuk pergi jauh dari perusahaan ini. Akan tetapi, setelah memmperhitungkan plus minus untuk karier masa depan, gue memutuskan untuk tidak cepat-cepat angkat kakidari perusahaan ini. Jadi karena gue udah memilih untuk bertahan sementara waktu, maka gue harus rela menghadapi hal-hal tidak menyenangkan atas pilihan yang gue buat itu.

 

Lain kali pasti gue akan merasa bosan lagi, kesal lagi, panas dan ngomel-ngomel lagi… Dan bila itu terjadi lagi, mungkin yang gue butuhkan hanya pergi sebentar untuk nonton film atau pergi berbelanja untuk menjenihkan pikiranJ

 

Akhir kata, I want to thank God for making this weekend not too bad for me. Hopefully next week will be much much much better than this. Have a ncie weekend!

MOS SMA, 7 Tahun Yang Lalu…

Hari ini, Ilham, adik sepupu gue, lagi sibuk bikin name tag buat kegiatan MOS besok pagi. Jadi ceritanya, adik sepupu gue ini baru saja masuk SMA. Dan… aktivitasnya menggunting dan menempelkan karton itu mengingatkan gue sama masa SMA gue sendiri.

Tujuh tahun yang lalu, gue juga pastinya pernah mengikuti kegiatan MOS. Waktu itu, gue dan Cicing, teman pertama gue di SMA 5, sibuk nyiapin berbagai keperluan mulai dari pita merah putih, karton, tali rapia, spidol dan lain sebagainya.

Selain atribut MOS yang identik dengan culun dan aneh itu, ada dua hal yang tidak pernah gue lupakan dari acara MOS SMA: surat cinta untuk salah satu kakak kelas, dan pertemuan pertama gue dengan cowok yang kemudian bolak-balik gue taksir selama tiga tahun di SMA.

Yang pertama, kita bahas dulu soal surat cinta. Please let me hide his name, gue juga kan enggak mau dituduh melakukan pencemaran nama baik;) Gue inget banget di surat cinta yang wajib dibuat oleh semua anak baru itu, gue menulis…

“Saya suka sama kakak soalnya penampilan kakak itu unik. Terutama… sepatu kakak yang mengkilap itu. Saya baru tahu ada orang yang pakai sepatu pantofel ke sekolah. Maksud saya… udah kayak bapak saya kalo mau pergi ke kantor setiap hari.”

Menurut gue saat itu, surat itu lucu dan pasti lain dari yang lain. Baru di kemudian hari gue mengetahui bahwa… sepatu pantofel dipakai ke sekolah itu sesuatu yang sangat wajar. Bahkan, sepatu pantofel jadi atribut wajib buat anggota Pramuka dan Paskibra… Yeah, begitulah dodolnya seorang anak baru SMA yang selama 3 tahun di SMP diwajibkan memakai sepatu warrior berwarna hitam-putih. Tahu kan, sepatu warrior… yang sekarang sering disebut-sebut sepatu Converse itu?

Lupakan soal si kakak kelas bersepatu pantofel, karena setelah itu benar-benar tidak ada kelanjutan apa-apa. Yang ada malah teman baiknya si Sepatu Pantofel yang entah kenapa suka ngelihatin dan sesekali bermanis-manis sama gue, adik kelasnya. Entah gimana asal mulanya, Intan – salah satu teman gue yang paling gila di SMA, menjuluki temannya Sepatu Pantofel itu dengan sebutan si Kelapa Sawit.

Yang masih gue ingat dari Kelapa Sawit adalah pertanyaan dia waktu gue ikut LDKS di Asrama Haji Pondok Gede. Waktu itu gue baru selesai antri mengambil makan siang. Di ujung meja prasmanan, si Kelapa Sawit melempar senyum sama gue, terus bertanya, “Riffa kok makannya sedikit banget? Nanti pingsan lho…”

Waktu itu gue cuma senyum-senyum tanpa menjawab apa-apa, lalu malam harinya, enggak ada angin nggak ada hujan, si Kelapa Sawit sok-sok galak sama gue pas acara jurit malam sedang berlangsung. Waktu dia lagi ngomel, gue membayangkan sebuah pohon kelapa (yang bentuknya mirip dengan pohon kelapa yang biasa gue lihat di pinggir pantai) sedang ngomel-ngomel sambil bertolak pinggang. Waktu itu gue pikir, mungkin Intan kasih dia nama Kelapa Sawit karena tubuhnya yang jangkung dan kurus itu.

Tujuh tahun kemudian alias beberapa bulan yang lalu, saat sedang dalam perjalanan menuju pedalaman Riau, barulah untuk pertama kalinya gue melihat bentuk pohon kelapa sawit itu seperti apa… pohonnya kuntet dengan daun yang menjulur sampai ke tanah. Oh oh… berarti tidak seharusnya gue menjuluki cowok itu dengan sebutan Kelapa Sawit, iya kan?

Well, balik lagi ke topik MOS SMA. Hal ke dua yang tidak akan pernah gue lupakan dari MOS SMA adalah pertemuan pertama gue dengan cowok yang di kemudian hari gue beri julukan si Bolong – lagi-lagi, nama si Bolong ini hasil pemberian Intan dan gue juga enggak pernah tanya kenapa gue dan teman-teman se-gank terus menjulukinya si Bolong, sampai sekarang.

Awalnya, gue benar-benar enggak tahu ada si Bolong di dalam gugus gue. Well, gugus itu semacam kelas sementara selama MOS berlangsung. Gue masih ingat, waktu itu gue dan Bolong tergabung di Gugus 6. Jadi siang itu, sedang dilakukan pemilihan Ketua Gugus 6, dan Bolong adalah salah satu calon yang diajukan oleh teman-teman SMP-nya. Lalu, dengan malu-malu, si Bolong berjalan pelan ke depan kelas. Saat itulah, dari meja gue yang terletak di pojok kanan paling depan, gue pertama kali melihat dan mengenal Bolong.

Waktu itu, saat melihat wajahnya yang masih bersih dan bersinar cerah, dengan polosnya gue berpikir begini di dalam hati, “He is gonna be someone for me, during this high school.”

Dan memang benar, nama Bolong selalu datang dan pergi di diary SMA gue selama tiga tahun lamanya. Beberapa kali gue sempat naksir bahkan cukup dekat dengan cowok lain, tapi tetap saja, selalu ada Bolong di hati gue, sampai akhirnya kelulusan memisahkan gue dan dia.

Jangan juga kamu menanyakan kelanjutan cerita gue dengan si Bolong setelah lulus SMA. Setelah lulus, tidak disangka-sangka akan sangat mudah melupakan dia. Gue mulai asyik sama cowok-cowok Chinese yang gue anggap imut di kampus, yang tentu saja, perbedaan mencolok antara gue dan cowok-cowok imut itu bikin rasa suka gue sama mereka juga tidak pernah terwujud menjadi kenyataan.

Entah kenapa, teman-teman SMA gue enggak pernah ada yang percaya kalo gue bilang gue udah lupa sama si Bolong. Salah gue juga yang terlalu hobi curhat sehingga jangan-jangan, hampir semua orang yang pernah sekelas sama gue juga tahu kalo gue pernah naksir berat sama si Bolong. Tapi bener deh, setelah lulus, segalanya menjadi benar-benar mudah. Malah, gue lupa apa alasannya, gue pernah nulis begini sama si Bolong via SMS beberapa bulan setelah kelulusan, “Tolong ya, elo jadi cowok jangan suka kegeeran!” Selain itu, sejak beberapa tahun yang lalu, gue tidak lagi tertarik dengan ide reuni SMA hanya gara-gara Bolong pernah bilang begini sama gue, “Udahlah Fa, reuninya nanti aja lagi, kalo kita udah pada kangen.”

Hah, emangnya dia pikir gue bikin reuni karena kangen sama dia gitu? Jadi ya sudah, gue enggak perlu lagi repot-repot mengabulkan permintaan reuni dari teman-teman sekelas. Gue toh sekali-dua kali dalam setahun masih suka ketemuan sama teman-teman dekat gue di SMA dulu.

Bagi gue, si Sepatu Pantofel, Kelapa Sawit, Bolong, serta cowok-cowok lainnya itu hanya bagian dari masa lalu yang menyenangkan. Menceritakan mereka di dalam blog, menanyakan kabar mereka sekarang, tidak sama dengan masih suka atau cinta lama bersemi kembali. Malah percaya deh, ketika kamu sudah bisa menulis dan menertawakannya, berarti kamu benar-benar sudah melupakan orang ybs. Dan bagi gue, menertawakan masa lalu adalah hal sangat menyenangkan untuk dilakukan.

So… let us look back and smile! Cheers!

Seventeen Nice Stuffs This Week

Here we go…

  1. Dapet pujian dari orang yang tidak terduga;
  2. Menertawakan diri sendiri… kenapa dulu pernah tergila-gila sama orang yang aneh banget;
  3. Having special dinner with my families;
  4. Main The Sims 3 dan berkhayal punya pacar seorang dokter, bule, tinggi, ganteng, pinter, baik hati, romantis, setia, penyayang, hahaha… ngarang sepuasnya!
  5. Main sama anak-anak kucing gue yang makin gede makin lucu aja;
  6. Shopping gila-gilaan. Dua tas baru, dua kemeja, dua pasang sepatu, dua bros cantik, terus gue lupa beli apaan lagi;
  7. Borong novel dan menikmati setiap lembar dari novel-novel best seller itu;
  8. Ngegosip via chatting sama Nova, Monyk, Ntep, dan Alex Djong. Acara gosip kita serasa lebih seru daripada infotainment lho;
  9. Devi, an old friend from high school, suddenly called me after several years passed us by;
  10. Diajakin secara keroyokan via chat room sama Dandy, Avi, Dini, dan Icha buat ikut makan di Fish and Co. Ajakan makan siang paling seru yang pernah gue terima;
  11. Berani menolak beberapa hal yang hanya akan menyakiti perasaan gue lagi. They were so much easier than I’ve ever thought.
  12. Ngisi dua tes IQ kemudian saling pamer hasil tes sama Nova, Dandy, dan terakhir sama Avi juga;
  13. Terima telepon dari Mr. Rajesh yang sok-sok-an bisa ngomong pake Bahasa Indonesia;
  14. Nulis novel, perkembangannya udah lumayan. Satu hari satu halaman, 30 hari 300 halaman kan?
  15. Pake high heels dan rok, terus berasa jadi cewek paling keren sedunia deh, hahaha…
  16. Melihat tingkah konyol seorang teman lalu tiba-tiba bersyukur gue pernah dididik keras sama orang tua gue; dan
  17. Absen main Facebook selama dua minggu, dan entah kenapa, masa-masa ini adalah dua minggu terbaik dalam beberapa bulan belakangan ini.

My Best Friend is Pregnant

Sebetulnya, udah ada banyak banget temen-temen jaman sekolah yang udah married dan punya anak. Waktu reuni SMP aja ada lho yang dateng sambil gendong anak! Waktu gue dkk lagi asyik ngomongin soal skripsi, eh… dia malah ngomongin soal proses induksi waktu mau melahirkan anaknya! Tapi soal mereka udah punya anak, gue nggak terlalu excited. Mungkin karena dulu enggak gitu akrab kali ya…

TAPI, waktu tau sahabat gue dari jamannya masih ingusan lagi hamil tiga bulan, jujur gue ngerasa ada suatu perasaan yang berbeda. My partner in doing stupid things… seorang teman yang gue anggap imut, polos, masih naif dsb… sebentar lagi mau jadi ibu!

Besides… well… pregnancy comes from a long progress right? Jadi rasanya aneh aja waktu tau sahabat gue yang polos itu sudah melewati proses yang panjang itu, hehe…

Padahal sebenernya sejak dikabarin dia mau married ya gue juga udah tau setelah married abis itu hamil. Tapi tetep aja… rasanya pengen senyum-senyum sendiri kalo inget dia yang dulu nggak suka kecentilan ngegebet cowok – kayak gue di masa SMA, hehe – akhirnya malah married duluan dan udah mau punya bayi!

So… congrats buat calon Mami. Dijaga kandungannya baik-baik. Dikasih pantangan sama dokter ya sabar-sabarin aja. Dan… well… kalo anak kamu lahir aku dipanggil tante dong ya? Hihihihi… tante Riffa… gimana kedengarannya? Cocok nggak? Hehe… I wish all the best for you and your baby:)

India Versus Jawa

Hari ini, ada satu lagi kejadian dodol yang gue alami.

Ceritanya hari ini gue, Mbak Del, Kak Monyk, dan Alex balik lagi ke klien kita yang di Cibitung. Lalu tadi, sementara gue, Del, dan Monyk lagi bikin working paper di lantai satu, si Alex ditugasin buat nagih data ke ruangan manajer dan asisten manajer di lantai dua.

Belasan menit sudah berlalu tapi Alex belum juga balik dari lantai dua. Tiba-tiba, dia malah nelepon Mbak Del pake hp-nya. Tapi entah kenapa, Mbak Del kelihatan bingung sama omongannya Alex. Akhirnya, karena dia enggak ngerti si Alex ngomong apaan, Mbak Del minta gue buat gantian ngomong sama si Alex.

“Hallo, Lex, ada apa?”

“Bla bla bla… rampung iki?”

Lho, si Alex kenapa ngomong pake bahasa Jawa. “Lex… ini Riffa, kenapa lo ngomong pake bahasa Jawa?”

“Iya, tau… bla bla bla…” dia ngomong Jawa lagi.

“Hei, I don’t understand you. What’s wrong?”

Bukannya jawab, Alex malah ngomong entah apa dan akhirnya telepon itu dia tutup begitu aja.

Lalu kata Monyk, mungkin si Djong pengen nyampein sesuatu yang rahasia sehingga terpaksa ngomong bahasa Jawa. Soalnya, kalo ngomong pake bahasa Inggris atau bahasa Indonesia takutnya kedengeran sama dua klien kita yang dua-duanya orang India asli itu. Akhirnya, gue pun diminta naik ke lantai 2 buat menemui Alex.

Pas sampe di atas…

“Lex, elo tadi kenapa sih?” tanya gue begitu Alex keluar dari ruangan si orang India.

Si Alex malah ketawa-tawa. “Tadi tuh gue sengaja ngomong Jawa. Abisnya gue sebel, dari tadi mereka berdua ngomong pake bahasa India melulu! Jadi ya gue bales aja ngomong sama elo pake bahasa Jawa biar gantian mereka yang bingung, hahahaha…”

Fuh… beginilah akibatnya kalo punya temen sekantor yang super aneh, hehe…

Where Rainbows End

Gue baru aja selesai baca novel yang berjudul Where Rainbows End. Novel ini bercerita tentang Alex dan Rosie, dua orang yang sudah bersahabat sejak umur 5 tahun, tetapi baru menyatu sebagai sepasang kekasih saat sudah berusia 50 tahun! Setelah sekian banyak rintangan, cobaan, dan gangguan, akhirnya mereka bisa leluasa mengutarakan cinta…

Seperti biasa, gue penggemar berat kisah cinta platonik alias kisah cinta antar sahabat, dan Where Rainbows End baru aja bergabung dalam daftar novel favorit gue.

Kenapa novel ini diberi judul Where Raibows End? Karena ada satu adegan yang menyebutkan, si Rosie ini ibarat seseorang yang tidak pernah letih mencari tempat di mana pelangi akan berakhir. Lalu meski tidak disebutkan di akhir cerita, gue ingin menyimpulkan bahwa pelangi itu dimulai dari hati kita lalu berakhir di dalam hati orang yang kita cintai.

Novel ini seperti hendak menyampaikan bahwa kita tidak selalu mendapatkan apa saja yang kita inginkan dalam hidup ini. Seringkali, kita harus terlebih dahulu melewati begitu banyak jalan berliku nan terjal sebelum sampai di tempat tujuan. Sama seperti Rosie dan Alex yang harus menunggu 45 tahun untuk mengabadikan cinta mereka berdua…

Meski begitu, jujur gue pribadi tidak menginginkan hal seperti itu terjadi dalam hidup gue nanti. Nunggu orang yang gue cintai selama 45 tahun? Yang bener aja! Masa’ gue dan dia baru bersatu saat sudah mulai berkeriput, sudah mulai sakit-sakitan, dan sudah tidak lagi memiliki jiwa muda yang menggelora?

I want to spend a lot of time with someone whom I love. I want to have two or three children and watch them growing up together with my beloved one. I want to have him in every important moment of my life. So why should I wait for 45 years if I already found the person when I was young?

Intinya, gue cuma mau bilang, kebahagiaan dalam hal mencintai dan dicintai itu seringkali harus dicari. Kalo kata film Prime: love is work. Lalu kalo kata film My Best Friend’s Wedding: if you love somebody, say it, or the moment will pass you by.

Cinta memang jatuh dari atas langit; dia datang sendiri tanpa pernah kita minta kehadirannya di dalam hati. Akan tetapi, memperoleh kebahagiaan bersama orang yang kita cintai tidak turun begitu saja dari atas langit! Butuh perjuangan, pengorbanan, bahkan luka dan air mata untuk membuat cinta itu menjadi abadi.

Well, sebut gue sok tahu, karena gue terus aja berteori kayak gini meskipun gue sendiri belum menemukan seseorang yang gue cari, hehe… Tapi, kalo nanti gue udah ketemu sama orangnya, I will have my rainbow ends inside his heart (tanpa perlu menunggu jadi nenek-nenek terlebih dahulu, hehe…).

Happy hunting for your rainbow!

 

I’m Sick Today

Selama ini gue meyakini bahwa apabila gue sampe enggak masuk sekolah/kuliah/kerja bisa dipastikan hanya karena satu dari dua macam penyakit berikut ini:

  1. Radang tenggorokan, penyakit yang paling sering gue derita dengan level terparah gue sampe berhalusinasi ngelihat Lingmoco masuk ke kamar gue sambil membawa baskom berisi kompresan! Tau kan… Lingmoco si kakak seperguruannya Bibi Lung di serial Yoko bertahun-tahun yang lalu itu?
  2. Infeksi lambung. Seumur hidup baru pernah menderita penyakit ini dua kali dan dua-duanya terjadi persis pada saat gue sedang berusaha untuk menaikkan berat badan… See? Badan kurus itu bukan maunya gue!

Nah, selama seminggu ini, gue ngerasain gejala yang tidak mirip dengan gejala khas radang tenggorokan dan gejala khas infeksi lambung.

Gejala pertama: Sejak dua minggu yang lalu badan gue pegel-pegel melulu. Setiap nginjek lantai sehabis bangun tidur tuh rasanya kaki gue agak-agak gimana gitu. Kemudian level pegelnya badan gue nambah parah gara-gara gue sok-sok-an nge-gym diikuti dengan olahraga renang selama setengah jam.

Gejala ke dua: Pusing dan sakit kepala yang juga termasuk penyakit langganan gue itu kumat lagi. Tapi so far rasa sakitnya masih bisa ditahan sehingga gue enggak pernah ngerasa sampe harus bolos cuma gara-gara pusing atau sakit kepala.

Gejala ke tiga: Pegel-pegel mulai berubah jadi rasa sakit. Pertamanya sakit di siku tangan kiri. Rasanya tuh kayak nyeri-nyeri yang kalo dipaksakan bawa yang berat-berat, maka akan terasa nyeri yang menjalar sampe ke punggung.

Gejala ke empat: Gantian kaki kiri (mulai dari telapak kaki sampe betis) gue yang terasa sakit. Rasa sakit itu awalnya hanya terasa setiap kali berubah posisi dari duduk diam menjadi berjalan. Tapi tadi malam… alamaaak… kaki gue serasa dipuntir dari dalam!

Gejala ke lima: Cepet capek dan cepet kehabisan napas yang berpengaruh terhadap rusaknya konsentrasi. Kemaren pagi, setelah setor muka di lantai 5, gue naik tangga ke ruang locker di lantai 6. Sampai lantai enam, gue langsung ngos-ngosan karena capek. Lalu begitu gue masukkin kunci ke pintu locker, aduuuh… kenapa kuncinya nggak mau masuk sih? Pas gue lihat lagi… oh la la… ternyata gue salah ngeluarin kunci! Yang gue keluarin itu ternyata kunci gembok rumah tante gue!

Gejala ke enam: Perut serasa enggak enak (tapi gue pikir bisa jadi karena lapar dan/atau karena PMS).

Gejala ke tujuh: Tadi pagi, begitu mendengar alarm berbunyi, gue langsung bangkit dari tempat tidur, tapi… ouch! Kepala gue berat banget! Ok, gue berbaring lagi… sampe tau-tau tante gue masuk ke kamar lalu bertanya, “Kamu nggak kerja?”

Gue ambil hp lalu melihat jam yang tertera di layar… What??? Udah jam 8 pagi?!? Mencoba bangun lagi… ternyata kepala gue masih sakit, badan gue juga pegel-pegel setengah mati.

Tante gue langsung mebghampiri, “Sakit ya?”

Gue enggak menjawab dan berusaha mengumpulkan nyawa.

Si Tante meraba jidat gue… “Yee, badannya panas nih! Udah enggak usah kerja.”

Dan jadilah hari ini gue enggak pergi kerja. Ah… ternyata bukan cuma radang tenggorokan dan infeksi lambung yang berhasil bikin gue membolos! Eh, tapi masa’ gue dikira pura-pura sakit karena ada interview di perusahaan lain lho. Jadi ceritanya, pas gue ijin sakit, senior gue di EY bales begini via SMS:

Yasud nga apa2,istirahat dl aja riff n salam buat dokter wawannya ya.he3

Padahal gue beneran lagi sakit lhooo, suer, hehe… Hhhh… perut gue masih aja mual nih! Payah deh.

 

Impian, Yang Tertunda…

Badan terasa lengket… pegal-pegal… kepengen mandi dan pergi tidur. Tapi dari tadi gue masih ngotot ingin menulis sesuatu untuk blog ini. Ketik… hapus… ketik lagi… hapus lagi… Bingung mencari kata-kata, merangkai kalimat, tapi rasanya kok ya hati ini resah dan gelisah kalo belum menyampaikan uneg-uneg yang bahkan udah sampe kebawa mimpi ini…

Ok, jadi masalahnya adalah: gue sedang mengalami dilema soal karier, cita-cita, dan masa depan gue. Gue udah kehilangan soul untuk mempertahankan pekerjaan gue sebagai auditor. Gue ngerasa gue enggak bekerja cukup baik untuk EY. Dateng telat, lebih memilih baca e-mail lucu daripada nyelesain pekerjaan, nunda ini nunda itu sampe akhirnya bener-bener kelupaan, niat dateng ke kantor cuma buat ngeceng doang…

Gue jadi ngerasa malu sama diri gue sendiri. Gue ngerasa nggak pantas dengan segala macam pujian yang pernah gue terima di kantor ini. Gue ngerasa ilmu pengetahuan gue enggak banyak berkontribusi, gue ngerasa tingkat ketelitian gue menurun tajam, ah, pokoknya gue kangen banget dengan Riffa yang masih bekerja untuk Accurate.

Dulu di kantor yang lama, gue rela lembur tanpa dibayar. Enggak ada yang nyuruh lembur, tapi gue kepengen lembur, untuk menyempurnakan pekerjaan gue. Prinsip gue saat itu, gue enggak mau ninggalin klien dengan database yang belum sempurna. Tapi sekarang? Pulang tango serasa anugerah! Duduk gelisah, pikiran kacau, setiap kali malam datang menjelang sedangkan gue masih aja berpakaian rapi, di depan laptop, di kantor klien.

Dulu gue rela hari ini klien di Tangerang besoknya klien di Cikarang. Gue rela bangun Subuh kalo si kantor klien letaknya jauh dari rumah, rela bersusah payah untuk mencapai kantor klien yang terletak di berbagai penjuru kota, bahkan gue rela untuk membantu klien di hari Sabtu maupun Minggu. Tapi kalo sekarang? Abis shalat Subuh gue tidur lagi sampe jam 7. Kalo bisa enggak usahlah bolak-balik ke kantor klien melulu. Males banget disuruh balik ke kantor klien yang di Cibitung itu… Kerja Sabtu-Minggu? Please deh, kapan gue punya waktu untuk bersenang-senang?!?

Aduh, Tuhan… gue yang pemalas ini mirip banget dengan gue waktu jaman-jaman baru jadi anak SMA! Gue pengen kerja yang rajin, kerja yang cepat, selesai tepat waktu… Tapi gimana ya, gue enggak cinta sama kerjaan gue… I have no soul for working on it! Malah mungkin, sisi iblis dalam diri gue membisiki gue seperti ini, “Udah… enggak usah terlalu diniatin… toh sebentar lagi elo mau cabut dari sini kan?” Padahal sampe sekarang gue masih aja nyangkut di sini…

Sebenernya siapapun juga bisa aja resign terus cari kerja di tempat yang lain. Tapi gue enggak mau mengulangi kesalahan yang sama: meninggalkan pekerjaan lama untuk pekerjaan baru yang belum tentu cocok untuk gue lakoni. Intinya, gue enggak boleh lagi terburu-buru seperti dulu.

Sejujurnya gue punya satu pekerjaan impian, tapi untuk mencapainya, gue harus bersabar. Masih banyak yang harus gue upgrade dalam diri gue ini supaya bisa diterima di profesi impian tersebut. Sekarang gue sedang mencari perusahaan yang setidaknya menawarkan profesi yang mirip-mirip dengan profesi impian gue. Anggap saja sebagai batu loncatan menuju impian yang sebenarnya itu. Dan selama gue belum menemukan pekerjaan yang sesuai dengan keinginan, gue jelas harus tetap bertahan di EY, iya kan?

Makanya, karena bertekad untuk resign tidak pernah berhasil membuat gue benar-benar resign, sekarang gentian sisi malaikat dalam diri gue yang seolah berkata, “Kerja harus yang niat… suka nggak suka, kamu kan digaji sama EY untuk menyelesaikan pekerjaan itu!”

Yeah, kali aja dengan begitu, gue bakalan nemu pekerjaan sesuai keinginan sehingga akhirnya bisa resign dengan terencana;) Wish me luck yaa, hehe…