New Friends in the New Office

Banyak yang bilang, bisa berteman dekat dengan teman-teman sekantor itu sifatnya mustahil. Persaingan dunia kerja, serta berbagai gesekan yang lazim terjadi dalam aktivitas kerja sehari-hari, secara otomatis akan bikin kita jadi susah akrab dengan mereka. Akan tetapi anehnya, di dua kantor gue yang pertama (Accurate dan EY), gue enggak pernah mengalami hal itu.

Gue pernah punya temen yang deket banget sama gue waktu di Accurate. Kalopun akhirnya berantem sampe bikin gue ngambek, bisa gue pastikan masalahnya itu sama sekali enggak ada hubungannya sama pekerjaan.

Tadinya gue pikir, gue bisa berteman baik sama rekan gue di Accurate itu karena gue nyaris enggak pernah ngerjain 1 proyek yang sama bareng temen gue ini. Tapi ternyata, setelah kerja di EY pun, gue juga bisa berteman baik, bahkan bersahabat dengan dua di antaranya, meskipun kita sering ketemu di kantor, kerja bareng dalam satu proyek yang sama, dan canggihnya, kita masih bisa berteman baik meskipun saat kerja bareng itu, pastilah ada aja konflik pekerjaan yang bikin kita ngerasa sama-sama bete.

Meski berhasil membuktikan bahwa berteman baik dengan rekan kerja bukan sesuatu yang mustahil untuk dilakukan, entah kenapa, sejak awal mulai kerja di perusahaan ke tiga, gue sempat merasa ragu. Ada beberapa hal yang membuat posisi gue jadi agak sulit yang juga berpotensi bikin orang-orang jadi ngerasa bête dengan keberadaan gue. Makanya sejak awal, gue enggak banyak berharap. Bahkan ketika sudah lewat beberapa bulan dan keakraban gue dengan teman-teman sekantor belum banyak perkembangan, gue sempat bilang begini sama salah satu sahabat gue di Binus dulu, “Gue rasa bukan berarti gue sial dapet kerja di sini. Kayaknya emang gue-nya aja yang beruntung waktu kerja di Accurate dan EY kemaren. Karena normalnya, berteman sama rekan kerja itu emang susah.”

Karena ekspektasi gue yang kelewat rendah itulah yang bikin gue nggak ngerasa perlu hang out bareng temen-temen di sini. Kalo makan siang pun, gue lebih memilih makan sendiri di ruangan gue daripada ikut makan rame-rame di meja panjang depan ruangan. Gue juga nggak pernah tertarik buat nge-add Facebook account mereka, dan waktu gue upload foto resmi satu divisi gue ke Facebook pun, gue asal taruh aja foto itu di album “Whatever”. Gue nggak pernah kepikiran buat bikin folder foto baru khusus buat foto bareng temen-temen gue di sini karena toh, setelah itu enggak bakal ada lagi foto-foto baru bareng mereka. Satu foto itu pun kepengen banget gue upload cuma karena di foto itu, gue kelihatan keren pake blazer, hehehehehe.

Hingga akhirnya sampailah gue di hari ini, hampir 6 bulan semejak hari pertama gue datang ke sini. Ceritanya tadi siang, gue sama 3 orang teman sekantor sepakat makan siang bareng dilanjutkan ngopi-ngopi di Starbucks Emporium. Enggak ada yang istimewa dari acara ngopi-ngopi itu, tapi entah kenapa, gue ngerasa seneng aja. Tadi itu gue bisa ketawa lepas, bahkan temen gue ada yang ketawa sampe sakit perut, hanya karena lelucon antar teman waktu foto-foto bareng. Begitu sampai kantor, kita pun mulai saling nge-add Facebook account masing-masing. Dan bukan cuma itu… Gue juga upload foto-foto itu ke Facebook, plus, gue buat satu album baru bernamakan perusahaan gue saat ini: “NCSI.”

Sebetulnya kalau gue ingat-ingat lagi, pertemanan di sini enggak juga sebegitu buruknya. Two faces dan backstabbers pasti ada, tapi tidak semuanya. Selain teman-teman cewek yang tadi nge-Bucks bareng, ada lagi satu teman cowok yang sering gue jadikan tempat curhat. Ada lagi satu teman lainnya yang waktu jamannya gue belum ikutan katering, sering jadi teman makan siang bareng gue. Ada pula rekan kerja di kantor cabang yang sesekali suka chatting ngalor-ngidul bareng gue. Bahkan sebenarnya, sama bos kecil dan bos besar gue di divisi ini pun, gue termasuk akur-akur bahkan lebih akur kalo dibandingin sama hubungan gue dengan bos-bos gue di 2 perusahaan sebelumnya. Jadi sebetulnya, tiba-tiba hari ini gue ngerasa… bukan soal kali ini gue sial atau apa, tapi persoalannya adalah, gue tidak memberikan diri gue sendiri kesempatan untuk berteman baik dengan mereka semua.

Hal ini kembali ngingetin gue sama masa-masa awal gue kerja di EY dulu. Hari pertama gue terjun ke tim gue, dari sekian banyak orang yang berjabat tangan sama gue buat berkenalan, cuma satu orang aja yang kenalan sama gue sambil tersenyum ramah. Yang lainnya? Mukanya serius-serius dan cuma kenalan sambil lalu aja. Setelah itu, gue juga jarang banget kedengeran suaranya sampe sempet dijulukin autis sama salah satu senior gue di sana. Bahkan yang lebih buruk, ada pula satu cewek yang entah kenapa, kelihatan jelas kalo dia tuh sebel banget sama gue.

Tapi coba lihat sekarang… Siapa yang sangka gue bisa berteman baik dengan orang-orang yang dulu tampak asing di EY itu? Yang paling enggak disangka-sangka, si temen cewek yang dulu sebel banget sama gue itu akhirnya berubah jadi salah satu teman terbaik gue di EY! Bahkan setelah gue resign dari EY pun, gue masih menjalin komunikasi sama mereka, dan masih sesekali hang out bareng mereka. Bisa dipastikan dalam setiap bulan semenjak gue resign, pasti ada aja satu atau dua kali gue ketemuan sama satu atau beberapa teman setim gue di sana.

Gue harap apa yang gue rasakan hari ini sifatnya bukan sementara. Gue harap, sama seperti dengan teman-teman gue waktu di EY dulu, maka kali ini pun, gue ingin bisa berteman baik dengan teman-teman di kantor baru. Meskipun gue akan tetap ngoceh kalo ada yang salah dalam melakukan pekerjaannya, meskipun gue masih akan sering makan siang di ruangan gue sendiri (soalnya kan asyik, bisa makan sambil browsing), dan meskipun di luar sana gue udah punya cukup banyak teman-teman yang luar biasa, gue tetap ingin menjalin hubungan baik dengan mereka.

Seperti kata orang-orang bijak, satu musuh saja itu sudah terlalu banyak, akan tetapi, seribu orang teman tetap tidak akan pernah terasa cukup. Besides, the more the merrier right? Semoga kali ini pun, di tempat ini pun, gue ingin punya banyak hal yang bisa gue kenang di kemudian hari 🙂

I Suddenly Feel Good Today

Ada kejadian hari ini, yang enggak bisa gue ceritakan di sini, yang membuat gue merasa lebih bersyukur dengan hidup yang gue miliki. Bukan karena baru aja naik gaji, bukan karena berhasil lolos beasiswa, bukan karena sebentar lagi mau pergi liburan ke luar negeri, bukan pula karena lagi jatuh cinta atau karena punya gebetan baru.

Gue bersyukur meskipun gaji gue bukan yang paling gede sedunia, setidaknya sekarang gue bisa beli es krim dan kue favorit tanpa perlu berpikir dua kali.

Bersyukur gue bisa beli baju, sepatu, tas baru, atau apapun… tanpa perlu terlebih dulu meminta kepada ortu seperti dulu.

Bersyukur karena setelah dewasa, gue mampu menjadi seorang anak yang tidak terus membebani kedua orang tua.

Bersyukur meskipun masih belum berhasil mendapatkan pekerjaan impian selanjutnya, setidaknya sejauh ini, di manapun gue bekerja, gue selalu saja punya atasan yang sangat-sangat mempercayai gue.

Bersyukur karena telah diberi kekuatan untuk bertumbuh dari gadis kecil yang penuh dengan rasa minder menjadi wanita dewasa yang memiliki kepercayaan diri, yang mampu menghargai serta mencintai diri gue sendiri.

Bersyukur karena di manapun gue berada, gue selalu memiliki setidaknya satu orang teman yang di kemudian hari menjadi sahabat-sahabat terbaik yang menemani gue dalam suka dan duka.

Bersyukur karena meskipun masih aja menyandang status jomblo, setidaknya gue masih punya begitu banyak kenangan manis dan pernah merasakan indahnya dicintai.

Bersyukur karena mampu merasa cantik tanpa perlu terlebih dulu menjadi pemenang dalam kontes ratu sejagat, dan meskipun selalu saja ada orang-orang yang berusaha membuat gue merasa sebaliknya.

Bersyukur karena gue bisa menjadi orang yang ikut bahagia atas kebahagiaan orang lain… Senang tahun depan, insyaallah, gue akan punya keponakan-keponakan baru, dan turut senang buat salah satu sahabat yang akan segera melangsungkan pernikahannya.

Bersyukur karena berhasil melawan rasa takut, berani mengambil keputusan besar, berani mengambil resiko, berani meninggalkan rasa nyaman untuk mengejar impian yang lebih besar… meskipun tidak selalu berhasil, setidaknya gue mencoba.

Bersyukur punya kucing – kampung – yang lucu-lucu, punya blog yang terus berkembang dari hari ke hari, bersyukur mulai bisa mendatangi satu per satu tempat yang dulu hanya bisa gue lihat di layar televisi, bersyukur untuk hal-hal kecil yang bisa gue banggakan, dan hal-hal kecil yang bisa membuat gue tersenyum dan tertawa lepas.

Kesimpulannya, gue bersyukur telah mampu menjadi seseorang yang tahu bagaimana caranya berbahagia meski hidup tidak selalu ramah, dan meski gue tidak selalu berhasil mendapatkan segala sesuatu yang gue ingini.

Hidup ini, sampai kapanpun, akan selalu up and down. Bukan enggak mungkin, besok-besok gue akan bikin blog yang isinya dipenuhi dengan keluhan. Tetapi seperti yang gue tulis dalam status Facebook gue malam ini:

Thank God for the rainbow after the storm and hurricane, for the smiles and laughs after the tears, for the people who always trust me, support me, forgive me, be with me for better and worse. Life is up and down, but just like the sun in the sky, I will always rise again until the world ends.”

Intinya gue yakin, meski hidup itu tidak selamanya bahagia, hidup itu juga tidak selamanya susah dan menderita. Malah sebetulnya, berkat segala kesulitan itu, gue jadi lebih bisa memaknai segala kemudahan lain yang akan datang di kemudian hari.

Berkat patah hati, gue jadi lebih menghargai orang-orang yang mencintai gue, meskipun belum tentu gue balik mencintai mereka.

Berkat sakit hati, gue jadi lebih bisa merasakan indahnya persahabatan dengan orang-orang yang juga berusaha menjaga persahabatan mereka dengan gue.

Dan pastinya, di balik semua pekerjaan yang luar biasa sulit itu, di balik berbagai konflik, berbagai kehilangan, berbagai cobaan… semuanya selalu ada hikmah yang insyaallah, bisa membuat gue jadi seseorang yang lebih baik daripada sebelumnya.

Menurut gue, penting untuk menjadi orang yang pandai bersyukur, dan tidak perlu menunggu tercapainya ini-itu hanya untuk mengucap rasa syukur di dalam hati. Bersyukurlah selagi ada kesempatan. Karenanya detik ini, mumpung gue punya kesempatan untuk memanjatkan rasa syukur, maka gue ingin sekali mengungkapkan rasa syukur untuk segala hal dalam hidup gue, sekaligus berbagi lewat blog ini yang siapa tahu, bisa menjadi pengingat untuk teman-teman semua agar senantiasa mensyukuri setiap hal kecil yang menghiasi hari-hari kalian.

Be grateful and wish you all a great life, folks 🙂

Tragedi Yue Yue, dan Matinya Hati Nurani Manusia

Berawal dari tweet-nya Nana, temen setim gue waktu di EY, gue jadi penasaran pengen lihat video kecelakaan tragis yang menimpa Yue Yue, anak berusia 2 tahun di Foshan, Republik Rakyat Cina. Video yang didapatkan dari rekaman CCTV ini dijamin asli, bukan rekayasa. Coba aja search Yue Yue di youtube.com, nanti juga kamu pasti akan menyimpulkan hal yang sama: kejadian ini sama sekali bukan berita bohong.

Rekaman berawal dari gambar Yue Yue yang sedang berjalan sendirian, dengan posisi di tengah jalan yang cukup banyak dilalui kendaraan bermotor. Dari ujung jalan terlihat mobil yang mendekati si malang Yue Yue. Gue yakin sebenarnya pengendara mobil itu bisa lihat dengan jelas bahwa ada balita yang berada persis di depan mobilnya. Tapi pengendara ini enggak menghentikan laju mobilnya sama sekali sampai akhirnya menabrak Yue Yue. Setelah melindas Yue Yue, mobil ini sempat berhenti (posisi Yue Yue berada di kolong mobil). Akan tetapi, bukannya turun untuk menyelamatkan balita itu, eeh, pengemudi ini malah kembali tancap gas dan melindas Yue Yue lagi dengan roda belakang mobilnya!

Yang mengenaskan adalah… saat Yue Yue terkapar tidak berdaya di tengah jalan itu, dalam keadaan masih hidup dan berlumuran darah, ada banyak orang yang lewat melintasi dia, tapi tidak ada satupun yang tergerak untuk memberikan pertolongan! Tragisnya lagi, beberapa menit kemudian muncul mobil ke dua yang juga dengan santainya melindas Yue Yue yang masih dalam keadaan hidup itu!

Menurut berita yang beredar, total ada 18 orang yang melewati dan melihat keberadaan Yue Yue, tapi tidak ada satupun dari 18 orang itu yang peduli kepada penderitaan gadis kecil ini. Sebagian besar (atau mungkin semuanya?) dari 18 orang itu sama sekali tidak terlihat kaget, bingung, khawatir, atau yang sejenisnya saat melihat balita ini terkapar berlumuran darah di tengah jalan. Reaksi mereka cuma sedikit melirik sambil terus berjalan seolah mereka cuma sedang melihat seekor anjing yang terlindas di tengah jalan.

Sampai akhirnya, datanglah saksi ke 19, seorang wanita tua pemulung sampah, yang tergerak untuk menghampiri, mengangkat Yue Yue, memindahkan dia ke pinggir jalan, kemudian berteriak mencari pertolongan. Akhirnya Yue Yue dilarikan ke rumah sakit, tapi sayangnya, meski tim dokter sudah berusaha keras untuk menyelamatkan nyawanya, akhirnya Yue Yue menghembuskan napas terakhirnya setelah terlebih dahulu dinyatakan brain dead.

Yue Yue, before and after the accident.

Semua video yang beredar di Youtube menampilkan banyak banget comment yang menyudutkan orang-orang Cina. Mereka menghujat orang-orang Cina sebagai orang yang tidak punya hati. Banyak orang yang berpendapat, hal yang sama tidak akan pernah terjadi di negara mereka masing-masing. Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Entah kenapa, yang pertama terlintas di benak gue adalah kenangan buruk saat gue melihat dengan mata kepala gue sendiri seekor kucing dilindas mobil pick-up. Mobil pick-up itu terus melaju dengan cueknya, entah si supir sadar atau tidak sadar baru saja melindas seekor kucing. Saat gue sedang berpikir gimana cara menyelamatkan si kucing malang, sudah ada 2 laki-laki yang datang menghampiri dan menyelamatkan kucing itu dari tengah jalan.

Gue juga jadi ingat sama salah satu blog yang pernah gue baca yang bercerita tentang perjuangan sekelompok anak muda di Bandung untuk menyelamatkan seekor anjing yang tertabrak mobil di tengah jalan tol. Bukannya gue mau membandingkan manusia dengan binatang… tapi intinya adalah, di Indonesia sini, bahkan binatang pun, diperlakukan jauh lebih baik daripada yang dilakukan 18 saksi dan 2 pengemudi yang tidak punya hati di Cina itu.

Dari begitu banyak comment yang mencaci maki orang Cina di Youtube, ada salah satu comment yang datang dari warga negara RRC. Dia bilang, tidak adil jika semua orang memukul rata seluruh penduduk Cina itu sama sadisnya dengan 20 orang tidak berperasaan yang terlibat dalam tragedi Yue Yue.

Gue sih nggak mau ikut-ikutan nge-judge bahwa semua orang Cina itu sama kejamnya dengan 20 orang itu lah ya… Tapi serius deh, sampe ada 2 pelaku dan 18 saksi mata? Apa sih, yang ada di otak mereka saat itu? Tidakkah mereka punya rasa takut bahwa setelah ini, mereka akan terus hidup dengan dihantui rasa bersalah? Dan yang paling penting adalah, hidup seperti apa yang telah dijalani oleh kedua puluh orang itu hingga mereka bisa sampai kehilangan hati nurani seperti itu?

Penting untuk kita semua memelihara dengan baik hidupnya hati nurani dalam diri kita masing-masing. Jangan membiasakan diri untuk mematikan hati nurani, mulai dari hal yang terkecil sekalipun. Mau seberat apapun hidup ini, mau sepusing apapun dengan permasalahan yang menimpa diri kita sendiri, bukan berarti kita boleh bersikap tidak peduli kepada penderitaan orang-orang lain di sekitar kita. Karena gue yakin, 18 saksi, terutama 2 pelaku dalam kasus Yue Yue, tidak semerta-merta menjelma menjadi orang yang tidak berperasaan seperti itu. Mereka pasti sudah terbiasa mengabaikan hal-hal kecil, membiasakan diri mereka untuk terbebas dari rasa belas kasihan, sehingga saat menghadapi hal besar seperti inipun, mereka bisa bersikap seolah tidak ada gadis kecil yang sedang meregang nyawa persis di hadapan mereka.

Rest in peace Yue Yue, dan semoga Tuhan menguatkan kedua orang tua gadis kecil yang ditinggalkan. Dan semoga, kejadian yang sama tidak akan pernah terulang lagi, di belahan bumi manapun di dunia ini.

Why Should They So Obsess With My Money?

I am a type of person who never denies that money is important. How could I survive with my life without it? Let’s say that money doesn’t buy us happiness, but in fact, have you ever seen a happy homeless out there? And don’t you feel happy everytime you buy something you desire, or when you go somewhere you’ve been dreaming of? Buying your dreams stuffs and visiting your dream places need certain amount of money right? So who says money can’t buy you happiness? You need money to buy the things which make you happy. Agree or disagree, in fact… money takes a significant role in your happiness. So I think… you’re a kind of hypocrite if you are saying that money is not important.

Until lately… something happened to me and changed a little bit of my perspective about money. I have just met certain people who praised money so much more than I do. I don’t want to tell anyone the details here… but here is the summary: they are the people who always watch my back, always look for any chance to bring me down, and can’t help themselves from bragging something which they think is better than me. They try so much effort so that they could have a chance to look down at me, create scenarios to make things which I’m so proud of becomes worthless, and always curious with my life by pretending like they care about my hard times. They don’t care with the fact that I might get hurt with their words.

Since I was in the college, I started to wonder why people so cared about my test scores. And now I started to wonder why people so care about my salary. It’s no longer a GPA competition; it has turned to be a money competition between us. But the question is… who told them that we have a competition in here? Because in fact, I never consider that I’m currently competing my annual income with whoever’s in this world. And the funny thing is… why should they treat me like a competitor in a competition while in fact, there is no trophy at stake? It’s not like somebody would get a prize if their salary exceeds mine right?

Sometimes I wonder whether I’ve done something wrong which make people act like that to me. Have I ever, back in the past, did something which might hurt them so that they want to do me a revenge? Am I that kind of snob girl whom they want to knock-down? I never disclose to anyone of them how much taxes I have to pay every year, how many incremental I have achieved every year, not even mentioning my salary figure without being asked. So seriously… why should they treat me as bad as they treat an enemy?

I think it’s gonna be a waste of time if I keep asking what did I do wrong which makes me deserve this. Let’s just taking the bright side… Seeing people so cared about my money has made me realize that having a lot of money doesn’t guarantee that you would be happy with your life. The people whom I mention here are people whom I can say that they are rich. One of them has a rich daddy, one of them works in a reputable multinational company, and one of them has monthly salary which is I know higher than me. So can’t you see the way I see this? A lot of money doesn’t make them satisfy with their life. It feels like they still have to bad mouth me, or brag me, or show me off to gain more satisfaction maybe? Whatever their reasons, the point is that, if they are already happy with the huge money they have, then why should they still think it’s gonna be fun to bring me down?

I still need money to live my life. I know that I can not having so much fun without sufficient money. I also can not fulfill my dreams to see the world without certain money in my bank account. I still say that money is important. I just now realize that having a lot of money is not enough to make you happy. There is one more thing that you shall do to be happy with your money: you have to know how to be grateful with every cent you have in your pocket. I’m not judging that those people are not grateful with their incomes. They probably are, but they do not do it properly. Trying to show off is not a part of being grateful right?

I also learn that I don’t want to be such a person like them. I don’t need to be the richest just to be the happiest. I only need to focus with my own career and if I make a comparison, I do it so that I know how much the market price to avoid me from being underpaid. I will not do any comparison just to make me feel like I’m the best among them. I do believe that there is always a higher sky above the sky. So if I have to act like them, I will never get my own happiness because there will always be someone out there whose salary is higher than me. Besides, someone who has less money than me today could be someone who is richer than me in the future. So I think… there is no need for me to put myself in an imaginary competition like that. Being acknowledged as the richest won’t add more numbers in my bank account right? Even Forbes never gives any prize to the richest people they mention in their magazine!

Regarding all of those bad mouths… well I think, the only thing I need to do is growing fabulous so that they will have to spend much more times to figure out certain new ways to bring me down, hehehehe.

Apakah Kamu Si Tukang Dengki?

Apa sih definisi dengki? Perasaan iri yang berlebihan saat melihat keberhasilan orang lain, yang membuat kita menjadi merasa benci pada orang tersebut, yang juga membuat kita berusaha mencari cara untuk merusak kebahagiaannya itu.

Nah, berdasarkan hasil ngobrol dengan salah satu teman terbaik gue, berikut ini ciri-ciri konkret sifat pendengki. Ambil pulpen, dan buat catatan dari 10 point di bawah ini, ada berapa point yang cukup sering kamu lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Semakin banyak point yang kamu punya, semakin parah pula sifat iri dan dengki yang tersimpan dalam hatimu.

  1. Kamu suka mengatakan bahwa kamu tidak menginginkan sesuatu yang baru saja dimiliki/terjadi pada teman kamu. Contoh 1: “Elo ngepain kuliah di Aussie segala? Gue sih ogah kuliah di sana. Aussie kan jelek!” Contoh 2: “Elo buang-buang duit aja ih, beli iPad segala. Gue sih sayang duitnya deh. Kalo udah punya laptop, buat apa beli iPad lagi?”
  2. Kamu suka mencari sisi buruk dari pilihan hidup orang lain yang selangkah lebih maju daripada kamu. Contoh 1: “Kuliah S2 di mana? Hah? Di kampus xxx? Itu kan kampus yang enggak terkenal. Kenapa nggak kuliah di Prasmul aja sih?” Contoh 2: “Hah? Serius lo, mau pergi ke Paris naik AirAsia? Pesawat murah kayak gitu emangnya aman? Nggak bakal jatuh?”
  3. Kamu suka mengecilkan kesuksesan yang diraih oleh orang lain. Contoh 1: “Ah, cuma bikin bisnis warnet aja apa susahnya sih?” Contoh 2: “Ah, kalo cuma mobil murah gitu sih, gue juga bisa beli!”
  4. Kamu suka mencari cara untuk merusak kebahagiaan orang lain. Contoh 1: “Eh, pacar baru lo kok ndut-ndut gitu sih?” Contoh 2: “Ah, pas backpacking nanti elo nggak bakal bisa nikmatin deh. Emangnya elo kuat ke mana-mana jalan kaki?” Contoh 3: “Kamar tidur gue masih lebih luas daripada apartemenlo itu… Kenapa nggak ambil yang lebih besar sih?”
  5. Kamu suka membuat teman kamu yang cantik itu jadi merasa jelek. Contoh 1: “Elo gendutan ya?” Contoh 2: “Baju itu bikin elo kelihatan tambah kurus.” Contoh 3: “Itu mukalo kenapa jadi banyak jerawatnya?” Contoh 4: “Potongan rambutlo nggak cocok sama karakter wajah elo.” – Pokoknya kamu akan selalu memanfaatkan setiap celah yang ada buat menyindir dia, TAPI, giliran dia lagi kelihatan fabulous, kamu diam saja alias tidak pernah memberikan pujian;
  6. Kamu berusaha keras mengumpulkan fakta untuk membuktikan bahwa nobody is perfect, dan kamu akan merasa lega, senang, atau yang sejenisnya, saat tahu bahwa hidup seseorang itu tidak sempurna seperti yang terlihat dari luar. Contoh 1: “Dia cantik, pintar, disukai sama banyak orang… tapi penyakitan. Dunia memang adil.” Contoh 2: “Dia gajinya gede, sering ditugasin ke luar negeri, barangnya bermerk semua, punya mobil dan rumah pribadi, tapi dia susah cari jodohnya. Nggak banget deh.” Contoh 3: Kamu rajin memantau profil Facebook salah seorang teman, kemudian saat dia bikin status yang isinya sedih, kamu langsung berujar dalam hati, “Nah kan, akhirnya dia lagi down.
  7. Kamu suka membuat orang lain jadi berkecil hati… supaya dia tidak semakin jauh melampaui kamu. Contoh 1: “Kamu nggak mungkin bisa lolos audisi itu. Pesaingnya kan cantik dan seksi banget.” Contoh 2: “Bisnis makanan itu resikonya besar lho. Bla bla bla… – (Apapun bisnis yang direncanakan oleh teman kamu, kamu akan selalu punya daftar resiko untuk disampaikan kepada mereka).”
  8. Kamu suka membuat orang lain, terutama yang terlihat terlihat hebat di mata kamu, merasa tidak diinginkan. Contoh 1: “Mereka semua itu ngedeketin elo cuma karena elo pintar, cuma karena ada maunya!” Contoh 2: “Gue rasa elo cuma salah sangka. Cowok (keren) itu nggak mungkin naksir sama elo… dia cuma nganggep elo sebagai teman – (padahal kamu tau banget bahwa dari semua tanda-tanda itu, si cowok emang naksir sama teman kamu itu) .”
  9. Kamu selalu aktif memantau gaji beberapa orang teman kamu. Begitu kamu tahu gaji kamu baru aja naik melebihi dia, kamu akan langsung pamer. Contoh 1: “Gaji gue sekarang udah 2 digit lho… gimana kalo elo pindah kerja ke tempat gue aja?” Contoh 2: “SPT gue tahun ini kecil… Cuma 80 juta. – (padahal kamu tahu kisaran SPT dia itu cuma 70jutaan).”
  10. Kamu suka bikin status di Social Media, yang isinya bertujuan untuk merusak kebahagiaan orang lain. Contoh 1: Waktu ada teman upload foto liburan dia keliling Eropa, kamu langsung bikin status: “Buat apa sih, nyumbang banyak devisa buat negara lain? Lebih baik memajukan pariwisata dalam negeri, nggak kalah bagusnya kok.” Contoh 2: Waktu tau ada teman yang baru aja naik pangkat jadi manajer, kamu langsung bikin status, “Tujuan hidup seorang wanita itu bukan untuk mengejar karier setinggi-tingginya, melainkan mengabdi kepada suaminya.”

Sebetulnya gue nggak ngerti kenapa seseorang bisa sampai merasakan dengki. Setiap orang itu memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, jadi kenapa harus iri? Emang sih, kenyataannya emang selalu ada aja orang-orang yang terlihat seolah memiliki segalanya. Tapi kamu nggak tahu kan, seberapa keras jerih payah dia untuk mendapatkan dan mempertahankan semua itu? Jadi menurut gue, daripada merasa iri, apalagi sampai dengki, kenapa kita tidak jadikan sosok teman kita itu sebagai motivasi untuk bisa jadi lebih baik lagi?

Lagipula sebenarnya  apa sih, untungnya buat kita bersikap dengki? Merusak kebahagiaan orang lain tidak akan pernah bisa membuat kita jadi lebih bahagia, dan berkata buruk tentang kesuksesan orang lain juga tidak akan membuat hidup kita jadi lebih baik. Kalau begitu buat apa kita mempertaruhkan hubungan baik dengan orang lain hanya karena kita merasa iri dengan kehidupannya?

Dari sisi sebaliknya, jangan pernah membiarkan seseorang merusak kebahagiaan yang tengah kamu rasakan. Dan sebetulnya, kalau sampai ada orang yang melakukan 10 hal di atas, maka berbangga lah! Hidup kamu pasti kelihatan keren banget di mata mereka, makanya mereka sampe sebegitunya, hehehehe.

Akan tetapi di satu sisi, jangan juga selalu melihat saran yang diberikan orang lain sebagai wujud dari rasa iri mereka kepada kamu. Harus pintar-pintar membedakan, mana yang memberikan kritik karena peduli, serta mana yang hanya sedang merasa iri. Bagaimana membedakannya? Orang yang peduli bukan hanya asal bicara, dia juga akan bersedia melakukan hal konkret untuk membantu kamu agar bisa menjadi atau mendapatkan hal yang lebih baik.

Kalian boleh setuju dan boleh enggak setuju dengan apa yang gue tulis dalam blog ini. Tapi tiga hal yang pasti:

  1. Sifat iri dan dengki bukan sifat yang disukai oleh Tuhan, apapun agamamu;
  2. Sifat ini hanya akan membuat kamu dibenci oleh orang lain. Semakin lama, akan semakin sedikit orang yang merasa nyaman saat ngobrol bareng kamu sehingga pada akhirnya, sifat ini akan menjauhkan kamu dari persahabatan; dan
  3. Sifat iri dan dengki dapat menjauhkan kamu dari kebahagiaan.

Next Shot: Erasmus Mundus Scholarship

Berawal dari comment pembaca di blog gue ini, gue jadi nemuin teaser tentang beasiswa Erasmus Mundus untuk intake 2012. Sebenernya gue udah lama denger tentang beasiswa ini, tapi karena setau gue daftar jurusannya itu bukan bidang gue, jadi ya udah, gue nggak pernah follow up. Tapi begitu gue lihat teaser beasiswa itu… gue langsung mupeng! Gue baru tau bahwa penerima beasiswa ini nantinya akan kuliah di minimal 2 negara di Eropa dan menerima minimal 2 gelar master! Wow, sounds great right?

Gue pun langsung memulai proses Google untuk cari info lebih lanjut tentang Erasmus Mundus. Tahun ini, ada 131 master courses yang ditawarkan program beasiswa ini. Dalam hati gue berpikir, masa’ sih, dari sekian banyak pilihan, enggak ada satupun yang cocok buat gue?

Gue mulai baca satu per satu master courses yang ditawarkan… dan akhirnya, gue menemukan 2 master courses yang kelihatan menarik buat gue: Economic Development and Growth, dan Law and Economics.

Sampe situ gue masih agak ragu-ragu… Beda sama beasiswa ADS yang udah gue apply dan masih menunggu kabar itu, di Erasmus ini kita enggak bisa pilih kampus sendiri. Bukannya sok, gue cuma enggak mau asal kuliah di luar negeri. Di luar negeri juga tapi kalo kampusnya enggak reputable ya buat apa juga? Terus gue sempat khawatir sama bahasa pengantar pas kuliahnya nanti. Let’s say gue ditempatkan di Rotterdam dan Paris. Masa’ iya gue harus belajar bahasa Belanda dan Prancis sekaligus? Udah gitu gue kan maunya ngambil program MBA atau yang mirip-mirip MBA…

Pagi ini, begitu bangun tidur gue langsung nyalain laptop. Gue harus cari info tentang universitas yang ambil bagian dalam program ini. Beberapa menit kemudian, berdasarkan hasil Google ke sana-sini, gue tau bahwa universitas-universitas yang ikut program Economic Development and Growth itu ternyata termasuk salah satu top universities di negaranya masing-masing. Not the best but not bad at all. Prospective career yang ditawarkan program ini juga ternyata masih matching sama dream career gue. Udah gitu, reputasi beasiswa ini juga dikenal dalam skala internasional. Dan yang nggak kalah menggiurkan, stipend alias ‘uang jajan’ yang diberikan oleh penyedia beasiswa Erasmus itu jumlahnya lebih dari cukup dan bahkan katanya, masih cukup buat biaya jalan-jalan, hehehehehe. Soal bahasa, ternyata mayoritas bahasa pengantar kuliahnya tetap in English lho. Buat bahasa sehari-hari sih, selama liburan di Hongkong dan Cina aja gue bisa survive kok, meskipun gue sama sekali enggak bisa bahasa Kanton dan Mandarin. Jadi anggap aja selama di sana, gue ini turis yang lagi liburan sambil kuliah, hehehehehe.

Jadiii, kesimpulannya, weekend ini gue akan mulai isi formulir, menyiapkan dokumen, nyicil ngetik motivation letter, diakhiri dengan merenung cari orang yang kira-kira bersedia jadi referee gue. Waktu tahun lalu, gue pernah hampir apply beasiswa ke US. Manajer gue di EY udah bersedia kasih recommendation letter. Tapi masalahnya, sekarang manajer-manajer yang pernah deket sama gue itu udah pada resign! Nah, kira-kira masih acceptable nggak yaa, recommendation letter dari mereka? Pokoknya weekend ini, gue harus cari info sebanyak-banyaknya.

Wish me luck yaa, guys.

P.s.: buat yang juga berminat ikutan, klik di sini.

Ciri-ciri Alat Bantu Make-up Berkualitas

Kualitas alat-alat bantu punya pengaruh yang signifikan sama hasil akhir make-up kita. Bedak yang bagus belum tentu terlihat sempurna kalau spons-nya tidak menunjang. Dan menurut pengalaman gue, spons bawaan dari bedak yang gue beli belum tentu spons bedak yang paling cocok untuk gue pakai. Berikut ini 5 alat kosmetika yang pernah gue pakai disertai dengan ciri-ciri dari alat berkualitas baik.

Powder sponge

  1. Saat diaplikasikan, spons bedak yang baik tidak terasa kesat atau tidak membuat kulit wajah kita terasa seperti sedang ditarik oleh spons tersebut;
  2. Tidak membuat sapuan bedak terlihat cakey. Terkadang, wajah terlihat cakey belum tentu salah bedaknya. Bisa jadi, spons bedak yang kita pakai itu yang tidak cocok dengan tekstur bedak dan/atau tekstur kulit wajah kita. Coba ganti-ganti merk spons bedak sampai menemukan yang paling cocok; dan
  3. Ciri-ciri khusus spons bedak favorit gue: bahannya lentur, empuk, warnanya mendekati cokelat susu, dan pori-pori  spons terlihat di permukaan. Merk yang biasa gue pakai: Tamia (tapi ada banyak jenis spons keluaran Tamia, yang gue suka yang warna cokelat susu), dan merk Carrefour alias spons produksi in-house-nya Carrefour.

Eyeshadow applicator

  1. Bisa dengan mudah membaurkan eyeshadow. Tidak perlu mengaplikasikan sampai berulang-ulang. Tapi kalau pada dasarnya eyeshadow yang kamu pakai memang berkualitas rendah, mau sebagus apapun aplikatornya ya akan tetap susah dibaurkan, hehehehe;
  2. Bubuk eyeshadow tidak berjatuhan ke daerah bawah mata;
  3. Terasa lembut di kelopak mata, tidak terasa kesat; dan
  4. Ciri-ciri khusus applicator favorit gue: gue lebih suka yang terbuat dari busa lembut dan empuk ketimbang yang terbuat dari bulu-bulu. Gue suka yang ukurannya tidak terlalu besar, bentuknya melancip ke ujung, gagangnya pendek, dan busanya tidak terlalu tebal. Merk yang biasa gue pakai: Oriflame.

Pelentik bulu mata

  1. Ada per-nya. Menurut pengalaman gue, per itu berfungsi sebagai kontrol supaya gue enggak menjepit bulu mata terlalu kencang;
  2. Ada pelapis di gagang penjepitnya yang terbuat dari besi itu… supaya alat ini enggak meninggalkan bekas yang tercetak di ujung jari telunjuk dan jempol gue;
  3. Tidak mudah karatan, mudah dibersihkan (besinya juga harus bisa dibersihkan lho, bukan cuma karetnya aja), dan karet di alat penjepit bulunya bisa diganti dengan mudah;
  4. Ciri-ciri khusus penjepit favorit gue: harus warna pink 🙂 Merk favorit: Tamia yang penjepit besi, bukan yang penjepit plastik.

Kuas blush-on

  1. Berukuran besar;
  2. Bulu-bulu padat dengan ujung membulat;
  3. Terasa halus saat diaplikasikan ke kulit wajah;
  4. Bubuk blush-on tidak berjatuhan; dan
  5. Merk favorit: enggak punya, soalnya belum nemu yang cocok. Biasanya tukang rias salon yang suka punya kuas blush-on semantap ini.

Sikat alis

  1. Bisa menyikat alis dengan rapih… bukan malah bikin bubuk dari pensil alis berantakan ke mana-mana;
  2. Tidak terasa kasar di kulit;
  3. Tidak mudah renggang; dan
  4. Merk favorit: ini juga belum ketemu… semua yang pernah gue pake enggak ada yang berkesan istimewa.

Green Lantern Review

Pernah ngerasa takut terhadap kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi di masa yang akan datang? Yang saking takutnya, pada akhirnya kamu lebih memilih untuk lari dari masalah? Kemudian dalam urusan relationship, pernahkah kamu tiba-tiba merasa takut memiliki kedekatan emosional dengan orang-orang di sekitar kamu? Kalau pernah adalah jawaban kamu untuk satu atau dua pertanyaan di atas, berarti kamu wajib nonton film Green Lantern.

Sama seperti film superhero lainnya, Green Lantern bercerita tentang cowok yang tadinya bukan siapa-siapa tiba-tiba aja mendapatkan kekuatan super sehingga mulai dikenal sebagai pahlawan. Terus sama standarnya dengan film-film lainnya, di film ini juga ada cewek yang diam-diam dicintai sang hero yang kemudian dijadikan sandera oleh musuhnya, dan adegan bertarung di mana jagoan pasti kalah duluan, baru setelah kita berpikir, “Ah, mustahil! Gimana dia bisa menang?” eh ternyata ada aja cara buat si jagoan mengalahkan musuh bebuyutannya. Dan pastinya, di akhir film ada adegan tambahan yang menunjukkan bahwa meskipun musuh besar sudah musnah, bukan berarti dinasti kejahatannya sudah habis sampai di situ.

Yang membedakan Green Lantern dari film sejenis pada umumnya adalah karakter tokoh utamanya. Biasanya, sosok manusia biasa seorang superhero itu identik dengan cowok baik-baik, dan kebanyakan sih, kelihatan cupu dan nerd alias enggak ada keren-kerennya sampe mereka berubah menjadi sosok jagoan. Nah, kalo di film ini, jangan harap bakal ngelihat Ryan Reynolds tampil cupu dengan kacamata tebal! Sejak awal, Ryan Reynolds sudah tampil keren seperti biasanya, hehehehe.

Hal Jordan yang diperankan oleh si ganteng Ryan Reynolds itu dikisahkan memiliki kepribadian yang suka memberontak dengan image playboy yang suka ganti-ganti teman kencan. Di luar sifat selengeannya, sebetulnya, Hal menyimpan rasa takut yang begitu besar dalam menjalani hidupnya. Dan bila rasa takut itu sudah mulai menghantui pikirannya, maka Hal akan lebih memilih untuk lari dari masalah. Dia lebih suka play safe dan menghindar dari kemungkinan terburuk di masa yang akan datang. Akan tetapi lucunya, Hal ini kelewat gengsi untuk mengakui rasa takutnya itu. Dia enggak mau ada seorang pun yang tahu soal insecurity dalam diri dia itu.

Meskipun diam-diam Hal menyimpan begitu banyak rasa takut dalam dirinya, anehnya, cincin sakti yang kemudian menjadi sumber kekuatannya itu malah memilih Hal untuk dijadikan superhero perwakilan dari planet Bumi. Padahal syarat utama dari terpilihnya sang superhero oleh cincin itu adalah seseorang yang tidak memiliki rasa takut sama sekali. Karena ceritanya, rasa takut akan melemahkan mereka dan menguatkan musuh pada saat yang bersamaan. Makanya di awal-awal, Hal sempat merasa pesimis dan menilai bahwa cincin sakti itu telah salah memilih perwakilan.

Soal jalan cerita enggak perlu gue jabarkan secara detail lah yaa. Yang gue bisa bilang cuma overall menurut gue, filmnya bagus, ada pula beberapa dialog yang lumayan lucu, special effect-nya keren dan lumayan bikin kita jadi tiba-tiba kaget, dan ya itu tadi, Ryan Reynolds-nya ganteng banget, hehehehe. Buat cowok-cowok, tenang aja… di film ini juga ada Blake Lively (pemeran Serena di serial Gossip Girl) yang juga cantik dan seksi banget. Cowok yang duduk di sebelah gue sampe ngomong begini sama ceweknya, “Tuh kamu kalo punya badan kayak gitu dong.”

Lagi-lagi buat gue, the best part of the movie is the moral of the story. Film ini mengajarkan kita bahwa rasa takut adalah suatu hal yang sifatnya sangat-sangat manusiawi. Akan tetapi, bukan berarti kita boleh dikalahkan oleh rasa takut kita itu! Karena sebenarnya, tidak ada orang di dunia ini yang tidak memiliki rasa takut. Yang ada hanyalah orang-orang yang berani untuk melawan rasa takutnya sendiri.

Balik lagi ke paragraf pembuka, film ini mengingatkan gue untuk tetap berani menghadapi apapun yang terjadi dalam hidup gue. Berani menghadapi kemungkinan terburuk demi mendapatkan kemungkinan yang terbaik, berani mengambil resiko, serta berani untuk mengakui kekurangan yang sudah pasti kita miliki.

Masih nyambung sama judul blog gue sebelumnya, Green Lantern semakin memantapkan gue untuk menerapkan prinsip baru gue: setelah memutuskan satu pilihan yang terbaik, gue harus tetap konsisten sampai akhir, apapun rintangan dan apapun resikonya. Karena sebetulnya, alasan terbesar gue gampang berubah-ubah pikiran itu berasal dari rasa takut terhadap kemungkinan terburuk yang melekat dalam pilihan awal gue itu, sehingga akhirnya, gue lebih memilih untuk berubah pikiran a.k.a melarikan diri.

It’s okay to fear of something, but it’s not okay to walk away just because of being afraid to face the risk.

New Point of View

Beberapa bulan belakangan ini, gue lagi sibuk berpikir… apa ya, yang salah sama gue? Karena entah kenapa, ada satu hal yang terus terjadi berulang-ulang. Mau dalam urusan apapun, mulai dari urusan pekerjaan, teman, sampai urusan cinta-cintaan, selalu aja ada satu benang merah yang bikin gue berpikir, “Lho, kok bisa keulang lagi yah?”

Kalo diinget-inget, hal kayak gini udah terjadi sejak jaman SMP-SMA dulu. Mau sama siapapun dan kayak gimanapun orangnya, ending-nya tetep begitu lagi begitu lagi.

Sampai akhirnya, ada satu kejadian yang memberikan gue that one big clue: ending yang sama terus berulang karena dalam menghadapi masalah apapun, gue ini selalu mengulang satu kesalahan yang sama.

Sekarang gue baru ngeh kalo selama ini, dalam menghadapi suatu permasalahan, gue sering, dan selalu sangat mudah berubah pikiran. Pola mudah berubah pikiran itulah kesalahan yang selalu bikin gue terjebak dalam pola yang sama. Apa alasannya? Kenapa gue bisa dengan mudah berubah pikiran?

  1. Karena emosi yang tadinya meluap-luap itu udah mulai reda;
  2. Karena gue orangnya suka enggak tegaan;
  3. Karena di tengah jalan, ada sesuatu yang menginspirasi dan mengubah pikiran gue;
  4. Karena gue suka terpengaruh sama omongan dan pendapat orang lain;
  5. Karena gue takut salah mengambil keputusan dan juga takut enggak bisa menyelesaikan keputusan gue itu dengan baik;
  6. Karena gue masih menyimpan harapan yang sebenernya udah enggak perlu; dan
  7. Karena gue benci sama orang yang nggak open minded sehingga gue enggak mau dituduh berpikiran sempit dan nggak fleksibel.

Di satu sisi, bersikap fleksibel dan mau menerima input itu emang sifat yang sangat baik. Tapi kok kenyataannya, hal itu justru bikin gue jadi going nowhere ya? Sering mengubah keputusan ternyata enggak berhasil bikin gue sampe ke tujuan sehingga selalu aja pada akhirnya, semua hal itu left unfinished, kandas di tengah jalan, atau apapun lah namanya yang mirip-mirip kayak begitu. Sehingga gue menyimpulkan, di satu sisi lainnya… bersikap fleksibel dengan keputusan yang sudah kita ambil bisa menjadi senjata makan tuan.

Jujur belakangan, gue agak menyesali sifat plin-plan gue itu. Niatnya sih baik, tapi yang ada gue malah jadi capek sendiri. Ada pula satu atau dua hal yang semakin ke sini justru semakin jelas terlihat bahwa sebenarnya, keputusan yang paling pertama gue ambil itu adalah keputusan yang paling tepat. Tapi kenapa waktu itu gue malah lebih memilih untuk mendengarkan pendapat orang lain? Padahal gue yang ngejalanin, gue yang paling tau, tapi kenapa gue ngebiarin orang lain bersikap begitu sok tau?

Gue nggak nyalahin orang lain, atau nyalahin keadaan, sehingga semuanya jadi begini. Yang gue salahkan justru diri gue sendiri… kenapa waktu itu gue enggak mengikuti kata hati gue sendiri?

Akhirnya sekitar satu bulan belakangan ini, gue udah memutuskan… Saat ada keputusan penting yang harus gue ambil, gue akan pikirkan dulu seribu kali tentang hal yang akan gue putuskan itu. I’m gonna ask myself what do I want, and I am gonna be open to any suggestion in the same time. Tapi setelah gue mendapatkan satu keputusan yang terbaik, maka gue nggak akan lagi membiarkan satu hal apapun dengan mudahnya mengubah pendirian gue itu.

I’m afraid it might be too soon to make any conclusion. Tapi yang udah gue rasa… hal ini justru bikin hidup gue jadi lebih mudah. Everytime I get confused in the middle of something, instead of saying what if what if, I would say to myself, “I already to chose it and I have to deal with this.”

Karena sebenarnya, mau keputusan apapun yang kita ambil, akan tetap ada resikonya masing-masing. Jadi kalo kita sering berpindah haluan, yang ada kita justru sedang mengalami kemunduran: dari yang tadinya sudah hampir terbiasa dengan resiko yang ada, kita malah jadi harus beradaptasi lagi sama resiko yang baru lagi.

Mungkin hal ini bakal bikin gue jadi orang yang lebih keras kepala. Hal ini juga berpotensi bikin orang-orang terdekat gue menganggap gue tidak lagi menghiraukan nasehat mereka. Tapi sekali lagi gue bilang, my life, my risk, my choice. Lagipula sebetulnya, saat gue datang buat curhat, yang gue butuhkan bukan persetujuan dari kalian, melain dukungan meskipun sebetulnya, kalian tidak sependapat dengan jalan pikiran gue itu. So please no hard feeling yaa. I only want to make-up with my life and share you my new point of view.