The Big Buddha Hongkong

Gue selalu tertarik mengunjungi tempat yang terkenal memiliki sesuatu yang serba ‘paling’ di dunia. Salah satunya, patung Buddha paling besar di dunia yang terletak di kawasan Tung Chung, Hongkong. Gue tau enggak banyak yang bisa gue lakukan di sana. Tapi, melihat dan ambil foto di depan sesuatu yang serba ‘paling’ itu wajib hukumnya buat gue.

Buat sampai di The Big Buddha, naik MTR sampai ke stasiun Tung Chung, cari exit B lalu jalan kaki menuju stasiun cable car Ngong Ping. Ada dua pilihan cable car di sini: cable car dengan crystal cabin alias cable car yang bagian lantainya terbuat dari kaca sehingga kita bisa melihat pemandangan di bawah kaki kita, dan yang satunya lagi cable car yang biasa-biasa aja.

Ada yang menarik dari Ngong Ping cable car di sini… Track-nya itu lho… curam banget! Temen gue si Puja sampe ketakutan begitu melihat kabel yang menukik turun di depan sana. Dan menurut dia, turunannya itu berasa banget ngerinya. Tapi kalo menurut gue sih, enggak ada seremnya sama sekali yah. Tapi ketinggiannya emang sadis banget sih… Sampe memberi efek tekanan udara ke kuping gue saking tingginya.

Sampai di atas, kita masih perlu jalan kaki menuju The Big Buddha melewati Ngong Ping Village. Enggak ada yang menarik di Ngong Ping Village, tapi tetep ada beberapa spot yang bagus buat foto-foto. Kemudian untuk sampai ke Big Buddha, kita harus terlebih dahulu menapaki ratusan anak tangga.

Here it is... The Big Buddha!

Setelah capek-capek sampai ke atas… pemandangan yang kita dapet termasuk worth it kalo menurut gue. Selain patung Budha yang emang gede banget, pemandangan bukit-bukitnya itu juga bagus banget. Hongkong ini emang ajaib banget lah. Bisa-bisanya perkotaan yang dipenuhi gedung pencakar langit letaknya tidak berjauhan dari dataran tinggi yang masih terpelihara keasriannya.

View from the top.

Overall menurut gue, kalo kalian stay agak lama di Hongkong, boleh lah sempetin mampir ke Big Buddha. Sekalian mampir ke Citygate buat belanja barang branded – asli – dengan harga relatif murah. Nantikan post tersendiri untuk Citygate di blog gue ini yaa.

Don’t Go Breaking My Heart

Entah kenapa, gue kepengen banget nonton film Don’t Go Breaking My Heart di Blitz Megaplex. Walaupun pilihan jam tayangnya tinggal sedikit, gue tetep bela-belain nonton film yang diputar jam setengah sepuluh malam itu.

Don’t Go Breaking My Heart bercerita tentang Zhi En, gadis yang baru saja putus karena dikhianati pacarnya setelah 7 tahun pacaran. Saat sedang patah hati itu, Zhi En berkenalan dengan 2 cowok baru dalam waktu yang hampir bersamaan. Cowok pertama namanya Shen Ran, cowok charming yang sangat sukses di usia muda. Shen Ran ini ceritanya udah cukup lama naksir sama Zhi En yang sering dia lihat dari jendela kantornya. Cowok yang ke dua bernama Qi Hong, seorang arsitek berbakat yang sedang mengalami depresi saat bertemu dengan Zhi En.

Setelah patah hati habis-habisan di awal film, akhirnya Zhi En mulai benar-benar move on setelah berkenalan dengan Qi Hong. Cowok ini mengarahkan Zhi En untuk mengubah penampilannya, mengajaknya bersenang-senang, serta bersedia menampung semua barang peninggalan mantan pacar yang masih tertinggal di apartemen Zhi En. Selain semua benda mati, Zhi En juga memberikan Qi Hong seekor kodok yang dulu dipelihara mantan pacarnya.

Di akhir pertemuan mereka, Zhi En membelikan satu set pensil warna untuk Qi Hong. Dia ingin Qi Hong menggunakan pensil warna itu untuk kembali berkarya. Dia juga memotivasi Qi Hong untuk berhenti minum-minum dan juga bangkit dari keterpurukannya. Pada saat itulah, Qi Hong mulai jatuh cinta kepada Zhi En. Qi Hong lalu mengajak Zhi En untuk bertemu lagi beberapa hari kemudian, dan dia berjanji, pada pertemuan selanjutnya itu, Qi Hong akan menunjukan hasil karya terbarunya.

Sayangnya di hari yang sudah dijanjikan, Zhi En juga punya janji kencan dengan Shen Ran untuk yang pertama kalinya. Ternyata Zhi En lebih tertarik pada Shen Ran sehingga melupakan janjinya kepada Qi Hong. Jadilah Qi Hong menunggu Zhi En yang tidak pernah datang ke tempat pertemuan mereka pada waktu yang telah dijanjikan.

Ironisnya, pada saat Zhi En tengah menunggu Shen Ran di café yang telah disepakati, Shen Ran malah tidak datang karena tergoda dengan ajakan kencan semalam dari cewek lain yang berpenampilan sangat menggoda. Tapi dasar Shen Ran cowok penggoda… Meski awalnya Zhi En sangat marah dengan ketidakhadiran dia di kencan pertama mereka, toh akhirnya mereka berdua jadian juga.

Akting Louis Koo si pemeran Shen Ran cukup berhasil memesona penonton. Aura bad boy-nya itu kerasa banget. Ngelihat betapa kerasnya usaha Shen Ran mengejar Zhi En bikin penonton jadi terbius… Zhi En disuruh bantu memillih mobil mewah, apartemen mewah sekaligus furniture-nya, yang ternyata, semua itu dibelikan Shen Ran untuk Zhi En! Saat itu gue sempet berpikir, cewek mana juga yang bisa menolak? Ya pantes aja lah kalo akhirnya Zhi En tetep jatuh ke pelukan Shen Ran…

Tiga tahun kemudian, Zhi En merasa curiga dengan Shen Ran yang menyimpan banyak kondom di dalam mobilnya. Padalah selama berpacaran, mereka berdua tidak pernah melakukan hubungan intim. Setelah ditanya, Shen Ran pun mengakui bahwa selama ini dia memang masih berkencan dengan perempuan-perempuan lain. Saat Zhi En menjadi murka, dengan entengnya Shen Ran bilang begini, “Aku tidak mau berbohong! Lagipula di dunia ini cuma ada dua jenis lelaki: lelaki yang berselingkuh dan yang ingin berselingkuh. Kamu lebih memilih yang mana?”

Zhi En menjawab, “Aku memilih lelaki yang ke tiga!”

Shen Ran membalas, “Cari saja di planet Mars!”

Tidak lama setelah putusnya Shen Ran dengan Zhi En, cewek ini kembali bertemu dengan Qi Hong, si arsitek depresi yang kini sudah mampu mendirikan perusahaannya sendiri. Qi Hong pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk kembali mendekati Zhi En. Dan tentu saja, Shen Ran tidak tinggal diam. Ada beberapa adegan yang menunjukan dua cowok ini saling berlomba menarik perhatian Zhi En.

Ada satu adegan yang sangat mengharukan di film ini. Ceritanya meski sudah tiga tahun berlalu, Qi Hong masih menyimpan kodok pemberian Zhi En. Saking sayangnya dengan si kodok, Qi Hong menamakan perusahaannya Qi Hong & Frog! Nggak heran kalo semua orang yang mengenal Qi Hong juga tahu bahwa kodok itu merupakan pemberian wanita yang dicintai Qi Hong, dan, bahwa meskipun ada banyak wanita yang mengidolakan Qi Hong, cowok ini tetap menaruh harapan kepada sang pemberi kodok yang sudah tiga tahun putus kontak dengannya itu.

Nah, suatu hari, Zhi En memutuskan pulang ke rumah orang tuanya karena merasa tertekan harus memilih di antara Shen Ran dan Qi Hong. Menghilangnya Zhi En itu kemudian memicu perkelahian antara Shen Ran dengan Qi Hong. Saat mereka sedang berkelahi itulah, si kodok tidak sengaja terinjak hingga mati dalam keadaan yang mengenaskan.

Matinya si kodok langsung mengakhiri perkelahian antara Shen Ran dengan Qi Hong. Shen Ran bahkan meminta maaf kepada Qi Hong yang berlutut terpaku menatap kematian kodoknya. Saat kabar perkelahian tersebut sampai ke telinga Zhi En, cewek ini langsung kirim SMS turut bersedih kepada Qi Hong.

Berdasarkan pengalaman gue pribadi, cowok jaman sekarang ini bawaannya suka ngambek. Makanya saat Zhi En kirim SMS, gue sempat nebak, Qi Hong tidak akan menghiraukan SMS-nya itu. Tapi ternyata, meski si kodok baru saja mati gara-gara ulah mantan pacar Zhi En, dan meski Zhi En baru saja meninggalkan Qi Hong beberapa saat sebelum perkelahian itu, Qi Hong tetap membalas SMS dari Zhi En. Qi Hong bertanya, “Kamu di mana? Di mana alamatnya?”

Segera setelah menerima balasan dari Zhi En, QI Hong langsung naik pesawat menuju rumah orang tua Zhi En. Sesampainya di sana, begitu Zhi En membuka pintu rumahnya, Qi Hong langsung berkata, “Si kodok sudah mati.”

Zhi En yang merasa tersentuh langsung memeluk Qi Hong dengan erat…

Apakah Shen Ran sudah menyerah? Hampir saja dia menyerah sampai di situ. Dia sudah kembali beredar di club langganannya, dan mulai tebar pesona mencari perempuan yang bisa dia ajak tidur. Tapi ternyata, saat dia dan teman kencannya sudah naik taksi menuju hotel, Shen Ran berubah pikiran. Dia kehilangan minat untuk kencan dan memutuskan untuk kembali mengejar Zhi En.

Emang dasar film drama yang menjual mimpi… Bisa-bisanya di akhir cerita, Shen Ran dan QI Hong melamar Zhi En dalam waktu yang bersamaan! Dengan dua cara berbeda yang dua-duanya tuh romantis banget. Lucunya, saat melamar itu, Shen Ran bilang begini, “Sekarang aku sudah jadi mahluk Mars!”

Sampai adegan itu… Yantri – adek gue, bergumam, “Awas aja kalo dia malah nerima Shen Ran!”

Padahal ya… di awal film, adek gue ini juga sempet terpesona banget sama sosoknya Shen Ran. Bahkan, Yantri yang suka ngomelin gue karena sering naksir cowok bandel itu akhirnya mengaku bisa mengerti alesan kenapa gue sampe jatuh hati sama mereka. Tapi begitu ngelihat betapa jelalatannya Shen Ran setiap kali melihat cewek seksi… saat melihat kebiasaan dia mencari pelarian dengan kencan semalam… adek gue kembali lagi pada akal sehatnya. “Hidup itu kan panjang… Masa’ iya sih, Zhi En mau selamanya hidup enggak tenang bareng cowok model Shen Ran? Dia kan bisa janji bakal setia hanya karena masih penasaran sama Zhi En. Belum tentu kalo nanti udah balik lagi dia tetep setia, terutama kalo mereka lagi berantem misalnya.”

Dan lucunya… Gue yang punya kecenderungan naksir bad boy pun, ngerasa ogah banget kalo Zhi En sampe memilih Shen Ran. Walau cuma fiksi belaka, rasanya gue tetep enggak rela kalo Zhi En malah ninggalin Qi Hong. Qi Hong yang penyayang, setia, baik hati, pemaaf pula…

Berkat film ini gue jadi sadar bahwa cowok-cowok bandel emang bisa jadi kelihatan charming (kecuali bad boy wannabe yang lagaknya malah bikin eneg), tapi kalo kita berpikir panjang… kita harusnya lebih memilih cowok yang bisa memberi kita rasa aman. Karena benar kata Zhi En, mencintai playboy itu sangat sulit, dan… sangat sulit dipercaya bahwa playboy bisa berubah jadi setia.

Jadi saran gue buat penggemar-penggemar bad boy lainnya… Kasih kesempatan lah, buat cowok baik-baik yang sayang sama kalian. Cowok terakhir yang gue taksir sama sekali bukan bad boy, dan ternyata rasanya malah lebih menyenangkan loh. Good guy itu lebih caring, lebih pengertian, dan malah sebenarnya, justru good guy ini yang punya potensi buat jadi idol without trying. Cowok baik hati model gini justru ngerasa bersalah kalo tau ada banyak cewek yang bertepuk sebelah tangan karena dia. Beda banget lah sama golongan bad boy yang menganggap hal menyedihkan kayak gitu sebagai suatu kebanggaan.

Kalo masih nggak percaya, langsung ajalah, nonton film ini di Blitz Megaplex. Gue yakin kalo film ini bisa bikin kita jadi sadar kalo sebenernya, bad boy is disgusting. Uups, no offense yah guys, hehehehe.

33 Things I Learned From My EY Teammates

Ada banyak hal yang terjadi selama 2 tahun 7 bulan gue kerja di EY. Ada banyak pula hal-hal mulai dari yang penting sampe yang nggak penting, yang gue pelajari selama gue kerja di sini. Nah, di blog kali ini, gue udah menuliskan hal-hal yang gue pelajari dari teman-teman setim gue di EY. Here we go

  1. Belajar vlook-up dari Monyk, uncheck allow editing directly in cells dari Aga, berbagai hotkey dari Arlin, pivot table dan berbagai fitur Excel lainnya dari Odel;
  2. Ngikutin Ricky bikin folder khusus file yang udah nggak terpakai;
  3. Dapet banyak pengetahuan baru dari trio managers gue, terutama dari Mas Austa dan Ko Dennie;
  4. Tau banyak hal soal oil & gas industry dari bang Ferdy…
  5. Belajar cara ngakalin timesheet dari Odel, hehehehe;
  6. Kalo gue punya folder yang berisi banyak banget file, maka file yang gue anggap paling penting akan gue kasih angka 1 di depan file name-nya, supaya gampang dicari. Yang satu ini gue nyontek idenya Dandy;
  7. Terinspirasi Monyk… Kalo niat resign ditunda-tunda, yang ada malah bakal lama terwujudnya, hehehehe;
  8. Restoran yang pertama kali gue datengin bareng temen-temen di EY: Pancious, Pan O, Takigawa, Ajitei, My Hanoi Villa, Y&Y, Ootoya, Sopra, Cafe Cartel, Pizza Marzano, Sushitei, The King Palace, Spaghetti House, Syailendra, Dcore,  Sop Buntut Borobudur (yang dengan dodolnya gue pesen hotdog di restoran sop buntut), serta beberapa restoran Sunda. Berkat kalian yang doyan banget makan itu gue jadi banyak nyobain jenis makanan baru. Sayangnya sampe akhir gue tetep aja kurus seperti dulu, hehehehe;
  9. Kepengen punya investasi kayak Monyk dan Dandy. Tapi ternyata sampe akhir gue tetep aja belum punya investasi apa-apa (ya kecuali si apartemen dodol itu sih);
  10. Banyak nanya sama Ntep soal pergi ke luar negeri waktu menjelang pertama kalinya gue pergi ke luar negeri. Waktu itu gue takut bakal ada something wrong. Maklum lah, kalo newbie emang emang masih suka stupid, hehehehe;
  11. Pas mau pergi ke Shenzhen, gue nanya lagi sama si Ntep… bahasa mandarinnya makanan ini ada babinya apa enggak itu apa yah?
  12. Baru tau dari Dini bedanya Korsel sama Korut, sama baru tau dari Dini juga kalo Mesir itu letaknya di Benua Afrika, bukan Asia, hehehehehe;
  13. Berkat Luzy dan Dini… gue jadi tau kalo LARD itu artinya lemak babi! Gara-garanya waktu belanja oleh-oleh di Macau, gue udah baca labelnya nyari tulisan pork atau pig di kue kering yang mau gue beli. Pas udah sampe Jakarta… baru ketauan di label itu ada tulisan LARD yang artinya lemak babi… Huhuhu, maaf yaah teman-temanL
  14. Tau dari Dandy cara asyik kalo mau download lagu: dengerin sample lagunya di Top 100 Billboard.com abis itu baru download lagunya via 4Shared;
  15. Entah kenapa, gue udah nggak bisa lagi download lagu dari 4Shared. Abis itu gue jadi bingung mau download di mana lagi. Ada banyak website yang ujung-ujungnya tetep ambil lagu dari 4Shared. Sampe akhirnya gue dikasih tau sama Dini buat download di beemp3.com yang nggak kalah lengkapnya sama 4Shared;
  16. Gue baru tau dari Ica kalo subtitle buat serial tv itu bisa di-download lewat internet;
  17. Dikasih tau Avi kalo pake face paper itu nggak boleh diseret, bisa bikin kotoran yang nempel pindah dari satu sisi ke sisi yang lain. Terjawab lah sudah pertanyaan gue kenapa kok kalo gue pake face paper malah suka bikin muka jadi berjerawat, hehehehe;
  18. Jadi rajin minum air putih… Banyak banget temen di tim yang negur gue gara-gara cuma minum sedikit air dalam sehari;
  19. Soal cinta-cintaan, banyak belajar dari si Nova. Cuit cuiitt…
  20. Berkat Djong, gue jadi makin nggak percaya sama ramalan. Soalnya dulu si Djong pernah ngeramal gue yang sampe akhir nggak pernah terbukti kebenarannya, hehehehehe;
  21. Mendapatkan jawaban jujur dari Aga kalo cowok itu emang suka bohong, huehehehehe. Biasanya kalo cowok lain jawabannya nggak jauh-jauh dari, “Tergantung cowoknya… Nggak semuanya suka bohong kok, Fa.”
  22. Berkat ngobrol-ngobrol  bareng Luzy, gue jadi ngerasa punya teman senasib… Denger ceritanya dia kayak ngedenger cerita diri gue sendiri, hehehehe;
  23. Niru kebiasaannya si Ica… kalo nerima bon di restoran, harus dicek dulu. Sebelumnya gue selalu langsung bayar aja setiap terima bon di restoran… Tapi tetep aja sih, kalo jumlah pesenannya terlalu banyak gue ngecek isi bonnya juga percuma aja secara gue udah lupa sama pesenan gue sendiri, hehehehe;
  24. Berkat kerja di tim ini, gue jadi tau bahwa bisa berteman baik, bahkan bersahabat dengan rekan kerja itu bukan sesuatu yang mustahil. Boleh aja ada gesekan saat kerja bareng, tapi konflik pekerjaan itu tetap enggak boleh merusak pertemanan yang sudah terjalin… cieee;
  25. Dari Hendra, Yoga, dan Jerry, gue jadi tau bahwa baru atau udah lama kenal enggak menentukan panjang-pendek dan personal touch dalam isi kartu ucapan farewell. Meskipun baru kenal sama mereka bertiga, tapi gue suka banget sama amplop yang berisi ucapan dari mereka… Kalimatnya panjang-panjang, lucu, dan personal banget, hehehehe;
  26. Jadi terharu sama si Rini… Bukan cuma bisa memaklumi jelek-jeleknya gue, tapi dia juga rela jadi panitia farewell gue tanpa pernah gue minta. Udah gitu kata Arlin, anehnya Rini yang masih baru itu malah lancar buat urusan penagihan, hehehehe. I really want to have such a big heart like Arlin, Rini, and Nana also:D
  27. Jadi terlatih buat ngomong dengan suara pelan. Secara temen-temen di sini kupingnya udah kayak kelelawar… Cuma ngomong bisik-bisik aja mereka bisa denger loh…
  28. Kecepatan makan gue jadi meningkat… Walau tetep selesai paling akhir, seenggaknya udah lebih cepet daripada dulu;
  29. Gara-gara Dini bilang gini, “Elo kan sama kayak ‘mami’ lo Peh, drama queen.” Gue langsung mikir, “Oh no! I don’t wanna be a drama queen!” Gue udah berusaha berubah, tapi ternyata sampe seminggu yang lalu, Aga masih aja bilang begini, “Gue kira cuma ‘mami’ lo aja Peh yang drama queen, huahahahaha.”
  30. Terinspirasi Dandy yang suka ngobrol sama banyak orang… Tadinya gue tipe orang yang lebih suka nempel sama beberapa orang tertentu aja. Tapi ternyata berteman sama banyak orang itu rasanya menyenangkan^^
  31. Terpacu buat jadi orang sabar, terutama kalo lagi kerja, kayak Nana, Arlin, Dandy, Rini, dan Ko Adi;
  32. Secara nggak sadar kerja di EY bikin gue jadi lebih tangguh. Ngangkat-ngangkat kardus berisi ratusan voucher, ngangkut WP dari dan ke kantornya klien, sama jadi lebih mandiri setelah kerja di sini. Secara cewek-cewek lain di tim ini tangguh-tangguh semua gitu, hehehehe;
  33. Selama kerja di EY, gue banyak belajar gimana cara mendapatkan apa yang gue inginkan, sekaligus belajar nerima kenyataan bahwa kadang-kadang, sekeras apapun gue berusaha, tetep ada hal-hal yang enggak akan pernah bisa gue dapetin. And I think they’re all the things which grew me up🙂

My EY Farewell Dinner

Hari ini, sekitar satu bulan sejak gue resign dari EY, gue baru sempat menggelar farewell dinner buat temen-temen setim. Karena udah terlanjur janji, jadilah gue nraktir farewell di Sopra Ristorante Pacific Place.

Senang rasanya hari ini kumpul lagi sama wajah-wajah yang udah lama gue kenal, yang dulu gue lihat hampir tiap hari, yang kalo lagi musim lembur, gue bisa lihat muka mereka mulai dari pagi sampe pagi lagi. Nyaman juga rasanya kembali denger suara-suara yang tanpa perlu melihat mukanya, gue bisa langsung tau siapa yang lagi berbicara. Setelah seminggu berusaha keras beradaptasi di kantor baru, balik lagi ke tengah-tengah mereka rasanya udah kayak pulang ke rumah, hehehehe.

Berikut ini gue bikin summary hal-hal yang gue sukai dari acara farewell gue hari ini:

  • Gue seneng hari ini banyak yang dateng. Tambah seneng lagi, teman-teman yang gue kira nggak bakal dateng (karena sebelumnya mereka suka absen di acara kantor), hari ini menyempatkan diri untuk hadir di acara gue;
  • Tadinya gue khawatir nggak ada kamera untuk mengabadikan acara ini. Tapi ternyata, akhirnya gue malah punya dua kamera sekaligus. Yang satu minjem sama Dini, satu lagi minjem sama si Luzy, hehehehe;
  • Gue seneng sama kado-kado yang gue terima… Kadonya ada banyak! Serasa lagi berulang tahun, hehehehe. Udah gitu uniknya, barang-barang yang gue terima sebagai kado farewell itu barang-barang yang gue banget atau barang-barang yang emang udah berniat gue beli beberapa hari belakangan ini. Misalnya:
  1. Gue pengen beli dompet baru… Soalnya dompet pinky yang gue beli di Hongkong itu gampang banget kotor. Tapi waktu gue mau beli, gue mikir… Siapa tau nanti dapet dari kado farewell. Dan ternyata bener aja… gue dikasih dompet sama mereka, hehehehe;
  2. Motif tas dan dompet Charles & Keith (merk tas dan sepatu favorit gue) itu bener-bener gue banget: warna hitam dengan pola quilt alias pola yang biasa ditemukan di bed cover;
  3. Dalem sehari gue dapet 3 barang Hello Kitty sekaligus! Yang paling lucu itu penggorengan Hello Kitty. Awalnya gue bingung… kenapa gue dikasih penggorengan yah? Apa maksudnya gue diksuruh belajar masak gitu? Ternyata pas penutupnya dibuka, itu penggorengan berbentuk kepala Kitty! Gue jadi bisa bikin telor atau pancake berbentuk kepala Kitty pake peggorengan ini:D
  4. Kado bajunya juga berguna banget. Soalnya gue tipe orang yang jarang beli baju buat di rumah. Makanya pas mau ngekos gue jadi panik… Baju rumah gue jelek semua! Kebanyakan tangan pendek pula… Ini kado bener-bener berguna banget, hehehehe;
  5. Gue lumayan kaget waktu liat isi kado dari Nana… piring Hello Kitty yang sempet gue taksir waktu lagi browsing di online shop yang ada di Facebook. Ini juga berguna banget buat gue yang baru aja ngekos. Tapi di satu sisi gue ngerasa agak sayang… Takut piringnya dipecahin sama tetangga kamar sebelah, hehehehe;
  6. Gue juga sempet kepikiran mau beli jam buat di kosan. Lagi-lagi gue mikir… Kayaknya jangan belanja apa-apa dulu sampe terima kado farewell. Siapa tau nanti udah dibeliin sama temen-temen gue… Dan yang surprised dari kado jam meja ini, pas jamnya gue balik, eeh, ada dua foto cantik gue di dalam bingkainya! Pasti bakal langsung gue pajang di rak kamar kosan; dan
  7. Kado terakhir isinya kayak parcel… Ada facial wash Acnes, obat jerawat Acnes, kapas Acnes, dan 2 face paper merk Acnes juga (bisa buat stok gue sebulan nih!). Gue sempet mikir-mikir, siapa yang bisa tau gue pake merk ini? Ternyata idenya si Rini yang pernah pergi stocktaking bareng gue. Trus di parcel itu ada satu bungkus cokelat Bueno: cokelat yang gue sering sesumbar cokelat paling enak sedunia, hehehehe.
  • Hal Lain yang bikin gue seneng banget adalah membaca isi kartu ucapan dari teman-teman. Rasanya kayak dapet surat cinta, hehehehe. Ada yang isinya lucu (favorit gue kartu dari Yoga, Hendra, dan Jerry), mengharukan (ada beberapa yang gue nggak sangka mereka punya pandangan seperti itu soal gue… jadi geer, hehehee), ada pula yang bikin kreasi tulisan di kartu ucapan… Yang gue nggak kalah seneng waktu baca kartu dari Ko Dennie, mantan manajer gue. Biasanya dia itu kalo nulis ucapan pendek-pendek banget. Isinya cuma semoga sukses dan tanda tangan. Tapi di kartu gue, Ko Dennie nulis sampe 3 baris, ditambah satu baris bertuliskan ‘good luck’ dan satu baris nama di bawah tanda tangan. Sebenernya yang ini sih gara-gara dulu gue pernah bilang, “Ko, kalo buat gue nanti, harus tulis yang panjang yah, hehehehehe.”
  • Gue seneng hari ini berhasil memberanikan diri untuk melakukan apa yang ingin gue lakukan di farewell ini. Cuma hal kecil, tapi biasanya, gue nggak bakal berani bertindak kayak gitu. Tapi gue pikir, toh gue udah resign. Mau beredar gosip yang aneh-aneh juga gue udah nggak bakalan denger. Jadi ya udah, hajar aja, hehehehe.

Dalam perjalanan pulang menuju rumah, di dalam taksi gue banyak merenung… I had a great life, great friends, great job at EY… Dan jujur aja, gue justru semakin menyadari hal itu setelah gue resign dari EY. EY selalu jadi topik pembicaraan favorit gue di kantor baru. Gue ternyata ngerasa bangga pernah kerja di sini. Dan gue selalu ngerasa happy kalo ditanya begini sama temen-temen baru gue, “Enak nggak kerja di EY?” Karena kalo ada yang nanya kayak gitu, gue jadi punya kesempatan buat menceritakan masa-masa menyenangkan selama gue kerja di kantor ini.

Lalu di akhir perenungan gue itu (aduh, gaya bahasa gue mulai nggak banget nih, hehehehe), gue bertanya-tanya sama diri gue sendiri, “What was that the big reason which pushed me to leave my life in such a great place like this?”

Isi kartu ucapan bisa menjawab pertanyaan gue itu… Gue resign dari EY untuk mengejar cita-cita gue yang lebih besar… Rencana kuliah S2, atau kalo perlu berusaha kejar beasiswa ke luar negeri, dan pastinya, rencana buat merampungkan novel perdana gue. Tapi coba dicatat yah, wishes kalian semoga dengan resign dari EY gue bisa cepet cari jodoh itu sama sekali enggak bener. Nggak pernah tuh, gue punya alesan resign dari EY karena ngerasa susah cari jodoh gara-gara lembur melulu. Tapiii, ya amin aja deh kalo berkat resign status Facebook gue jadi bakal berubah jadi ‘in a relationship’ hehehehehe.

Jadi karena gue udah ninggalin satu bagian yang istimewa dalam hidup gue itu, maka hasilnya harus setimpal. Gue harus segera mengejar impian-impian gue yang sempat terbengkalai semenjak gue mulai kerja di EY. Gue harus make sure bahwa resignation gue tidaklah sia-sia.

All guest, minus Ko Adi yang udah pulang duluan.

Balik lagi ke topik farewell… gue mau ngucapin terima kasih buat semua yang udah dateng. Special thanks buat dua EO gue: Rini sang bendahara dan Arlin yang udah dengan baik hatinya minta dikirimkan daftar menu Sopra langsung ke restorannya. Terima kasih juga buat kado-kadonya, terutama buat temen-temen yang udah menyisihkan waktu buat beli semua kado farewell itu. One additional thanks buat Nana yang ngasih gue private present yang lucu banget itu (si mbak yang kerja di rumah gue langsung histeris ngelihat kado itu saking lucunya, hehehehe). Nggak lupa terima kasih banyak untuk kartu ucapannya… I will keep those cards carefully and I think I will read them again anytime I need support when my life is knocking me down. Wishes di kartu itu juga akan selalu jadi suntikan semangat buat gue mewujudkan impian-impian gue.

Oh iya, buat yang belum tahu, gue berencana bikin reuni 10 tahun sejak tanggal resignation gue. Gue harap sih, kita nggak perlu ya nunggu 10 tahun untuk kumpul-kumpul lagi. Tapi tetep aja, nanti tanggal 4 April 2021, gue pengen kita semua kumpul-kumpul full team. Semoga saat tanggal itu tiba, kita semua udah berhasil mencapai apa yang ingin kita capai dalam 10 tahun ke depan.

Wish you all the best dan jangan lupa mampir-mampir ke Pluit yaaa, hehehehehe.

My First Week in The New Office

 Hari ini tepat seminggu sejak hari pertama gue kerja di kantor baru. Lalu gimana, seminggu pertama gue di kantor ini?

For your information, induk perusahaan dari tempat gue kerja ini dulunya mantan klien gue waktu masih di EY. Jadi boleh dibilang gue udah cukup lama kenal sama atasan gue di sini. Dan sejauh ini, belum ada masalah antara gue dengan atasan. No surprise karena sejak awal, hubungan gue sama dia emang terbilang sangat baik.

Lalu sama rekan-rekan kerja… ini dia yang nggak gue sangka. Dulu, minggu-minggu pertama gue kerja di EY, gue sempet pendiem banget. Sampe dikasih julukan anak autis sama salah satu teman yang lebih senior. Waktu itu gue masuk kerja sendirian, sedangkan tiga anak baru lainnya udah masuk beberapa bulan lebih awal daripada gue. Di sana gue nggak kenal siapa-siapa, dan awalnya, mereka semua kelihatan cool banget gitu. Mau ngobrol juga gue bingung mau ngomongin apa. Bener-bener nggak nyangka pada akhirnya gue bisa berteman baik sama mereka semua, dan, berteman karib dengan beberapa di antaranya. 

Nah, seminggu yang lalu gue sempat khawatir penyakit pendiam gue itu bakal kumat lagi di kantor baru. Udah terbayang hari-hari pertama yang terasa sangat-sangat menyebalkan itu. Gue juga sempat khawatir, gue yang termasuk minoritas di tempat ini (bukan bermaksud untuk rasis, but it does happen so many times in so many places in Indonesia) akan agak-agak tersisih dari pergaulan kantor. Dan yang paling bikin gue panik… Nanti gue makan siang sama siapa??? Tapi ternyata, semua itu cuma sekedar ketakutan gue belaka.

Gue senang hampir semua orang di sini menyambut gue dengan senyum saat gue berkenalan dengan mereka. Ada cukup banyak yang terlebih dahulu membuka obrolan sama gue. Bukannya gue sombong, tapi soal pergaulan gue ini termasuk kaku kalo baru kenal. Rasanya susah banget gitu mau ngajakin orang lain ngobrol duluan. Terus hebatnya lagi, ada orang-orang yang saat berpapasan dengan gue entah di jalan, WC, atau lorong kantor, dengan ramah menyapa gue terlebih dahulu. Sekali lagi bukannya gue nggak mau negur duluan… Masalahnya dalam satu hari gue kenalan dengan begitu banyak orang dan gue enggak bisa langsung inget wajah dan nama mereka satu per satu. Bagian yang paling asyik, gue bisa langsung ngobrol seru bareng dengan beberapa orang teman baru di kantor ini!

Selain lingkungan kantor yang so far cukup menyenangkan, gue juga menyukai kawasan baru tempat gue tinggal. Mall yang terletak persis di sebelah kantor adalah bagian favorit gue dari kawasan ini. Ada banyak toko favorit gue di Emporium Pluit; mall yang bersebelahan sama kantor gue itu. Kalaupun bukan toko favorit gue, kebanyakan toko di sana range harganya masih masuk akal, alias masih terjangkau oleh gaji bulanan gue. Beberapa kali gue nggak sabar pengen cepet pulang cuma karena kepengen mampir ke mall sebelah kantor. Alasannya sih, harus belanja buat keperluan kosan, hehehehe.

The best part of my new job is my new daily routine. Sekarang gue bisa tidur minimal 6 jam setiap hari. Bisa sarapan santai sambil nonton tv, dandan santai sambil nonton tv juga, terus pulang kerja sempet nonton sinetron di RCTI pula. Udah gitu sekarang ini gue enggak lagi mengalami stres dan capek di jalan secara kantor gue cuma 5 menit jalan kaki dari tempat kos. Pulang kerja juga bisa sering tenggo. Kalopun lembur nggak pernah sampe menyentuh jam 10 malam. Dan yang nggak kalah serunya, sekarang gue bisa tampil gaya setiap hari!

Dulu waktu masih di EY, lembur yang bisa sampe lewat tengah malam bikin gue selalu bangun kesiangan. Sadar diri udah kesiangan, yang ada gue jadi jarang banget dandan. Pergi ke kantor cuma pake bedak dan lipbalm aja. Soal pilihan baju juga yang standar-standar aja. Dalam bayangan gue, males banget pake baju keren-keren kalo harus kepanasan di angkot, trus abis itu lanjut lagi desak-desakan di dalam bis TransJ. Jadi gue jelas lebih prefer baju yang nyaman dan nggak bikin ribet, nggak peduli keliatan biasa dan enggak fashionable… Tapi bukan berarti sekarang ini gue dandan abis-abisan loh yaa. Gue tetep dandan natural aja kok. Cuma eye shadow dan maskara, ditambah sedikit eyeliner kalo lagi centil. Soal baju juga enggak yang segimana hebohnya. Bedanya sama dulu cuma soal variasi bajunya aja. Kalo dulu kan cuma kemeja plus celana panjang aja tuh, nah kalo sekarang gue padu sama cardigan/vest/bolero/shoulder cape/syal/obi/kalung panjang.

Hal menyenangkan lainnya, jumlah jerawat di wajah gue udah berkurang drastis karena udah jarang lembur dan jarang tersentuh polusi Jakarta (baca: jarang kena semprot asap bis kota waktu lagi nunggu kendaraan umum). Untuk yang satu ini ditunjang juga sama perawatan intensif yang udah gue mulai sejak beberapa bulan belakangan ini sih. Tapi semenjak resign sampe sekarang, kulit wajah gue jadi lebih mulus lagi dari sebelumnya. Sekarang gue tinggal konsen memudarkan bekas-bekas jerawatnya aja, atau terkadang mengoles obat jerawat untuk mencegah jerawat kecil jadi besar.

Dan ternyata, tampil cantik dan gaya itu rasanya menyenangkan! Gue bukannya nggak sadar ada semakin banyak orang yang sekedar ngelirik atau terang-terangan menatapi gue… Atau orang-orang yang bener-bener nengok waktu gue lewat. Yang paling lucu itu kejadian hari ini… ada satpam gedung kantor yang terus menatapi gue sambil nahan pintu lift buat gue. Saat gue udah masuk lift, dia menoleh sambil bilang begini kepada temannya di luar lift, “Gila cakep banget!” Dan semua orang di dalam lift itu langsung serempak ngelihat ke arah gue, hohohohoho. Tapi sebenernya gue ngerasa si satpam itu agak berlebihan juga sih. Karena muka gue sih masih begini-begini aja, nggak juga super cantik kayak si Julie Estelle, hehehehe.

Anyway… sebenernya enggak pernah terpikir di benak gue untuk kerja di divisi accounting. Jujur saat menerima pekerjaan ini pun, gue masih dihantui rasa takut akan kebosanan yang mungkin mendera. Tapi sejauh ini, gue belum melihat ada peluang untuk bosan. Di sini gue enggak punya tanggung jawab untuk input apapun ke dalam sistem. Gue cuma bertugas untuk monitoring dan review aja. Masalahnya, I’m not good at clerical job such as input transaction into the system. Gue cepet ngerasa jenuh sehingga akhirnya malah jadi enggak teliti saat mengerjakan hal yang berulang itu. Dan yang paling menyenangkan dari pekerjaan ini, gue diberi keleluasaan untuk merapihkan sistem pembukuan di kantor ini. Gue jadi punya ruang untuk berinovasi, mencetuskan ide-ide, yang juga sekaligus menguji dan mengembangkan accounting skill yang gue miliki. Big boss gue cuma bilang, “I want everything in this place is complied with PSAK. I expect you to contribute any change and improvement. Make sure that everything will be ok in the next audit. Since you are an ex-auditor, I’m sure you know what you have to do.”

I know it probably to early for me to conclude that my life is getting better in this place. Lama kelamaan pasti akan ada up and down, berbagai macam konflik, rasa bosan, atau mungkin, rasa ingin segera resign dari kantor ini.  However, sebelum semua itu terjadi, all I want to say is so much thanks to God for this opportunity. Eks bos gue di EY bilang, dia nggak nyangka pada akhirnya gue malah pindah jadi klien. Dan sejujurnya gue juga nggak nyangka bakal bersedia pindah ke kantor klien. Karena sejak awal bekerja, gue enggak pernah mau direkrut sama klien. Tapi di satu sisi gue merasa beruntung… Hanya beberapa hari setelah pulang liburan pasca resign, dalam keadaan CV masih berantakan, gue langsung mendapatkan pekerjaan baru yang dalam beberapa hal tetap sesuai dengan keinginan gue.

Anyway… masih ada banyak plan yang belum gue sempat wujudkan. Gue belum cari dokter gigi baru, belum sempet cari tempat les buat TOEFL preparation, belum mulai nerusin novel gue lagi, bahkan, blog edisi liburan gue masih belum selesai diketik! Well, semoga setelah closing pertama gue nanti, gue bisa mulai mewujudkan rencana-rencana itu, satu per satu. Dan semoga, keputusan gue untuk bekerja di perusahaan ini adalah keputusan terbaik yang bias gue ambil. Well, let us wait and see.