Windows of The World, Shenzhen

Waktu liburan kemaren, gue pergi berlibur ke Shenzhen pulang-pergi dari Hongkong dalam satu hari yang sama. Tujuan utama gue ke sana apa lagi kalo bukan mengunjungi Windows of The World! WOTW ini semacam theme park yang memuat begitu banyak miniatur bangunan-bangunan yang populer di seluruh dunia. Mulai dari Taj Mahal, menara Eiffel, sampe candi Borobudur pun tersedia miniaturnya di WOTW.

Untuk sampe ke Shenzhen dari Hongkong, naik MTR sampe stasiun Lo Wu. Setibanya di Lo Wu, kita harus terlebih dahulu melewati imigrasi Hongkong. Pada saat itu, passport kita akan dicap dan dinyatakan sudah meninggalkan Hongkong pada tanggal itu. Setelah itu kita akan jalan kaki melewati jembatan perbatasan Hongkong-Shenzhen. Oh ya, sampai di titik ini, mulai hati-hati sama barang bawaan yah! DI Shenzhen itu ada banyak copet!

Setelah tiba di sisi Shenzhen, naik satu lantai untuk memproses visa on arrival. Urus visa di sini mestinya enggak sampe 30 menit, asalkan sistem komputernya lagi nggak error kayak yang waktu itu terjadi sama gue. Selesai urusan visa, turun lagi ke bawah, isi formulir imigrasi Cina dan seperti biasa, abis itu langsung antri buat urusan imigrasi.

Selesai urusan imigrasi, selamat datang di Cina! Untuk sampe ke WOTW, langsung aja jalan kaki menuju stasiun MTR Luo Hu. Di stasiun MTR Cina ini, Octopus Card (kartu yang bisa dipakai untuk bayar MTR di Hongkong) udah nggak berlaku lagi. Kalo cuma sehari di Shenzhen sih, cukup beli one way ticket aja. Cara belinya gampang kok. Ada pilihan menu in English di self service engine-nya. Pilih Shenzhen Metro Line 1, kemudian pilih lagi stasiun Shijiezhichuang (Window of the World). Oh iya, kalo mau beli tiket di sini, harus siapin uang pas yang sesuai sama mesinnya. Jadi misalkan si mesin cuma bisa terima uang 10 RMB, ya masukinnya harus uang 10 RMB juga. Waktu itu gue sempet bingung kenapa uang gue ditolak sama mesinnya. Untunglah ada petugas cleaning service yang baik hati. Dia emang nggak bisa bahasa Inggris, tapi dia langsung ambil uang 20 RMB dari tangan gue, dia bawa ke customer service, trus ditukerin jadi pecahan 10 RMB. Padahal jelas-jelas ada tulisan 10 RMB di depan mesin itu… Jadi malu, hehehehe.

WOTW terletak persis di seberang stasiun MTR. Baru sampe depannya aja… gue dan teman-teman langsung gatel pengen foto-foto! Dan WOTW ini emang asli surga buat semua banci foto! Gue nemuin ada beberapa pasang calon pengantin yang ambil foto prewed di tempat ini.

Nah… Di bawah ini slideshow foto-foto gue dan teman-teman di WOTW. Bisa buat bukti betapa asyiknya foto-foto di WOTW, hehehehe.

This slideshow requires JavaScript.

Selain begitu banyak miniatur, di WOTW juga ada beberapa wahana yang bisa kita coba. Ada cable car, flume ride, ski indoor, sama ada pertunjukan 3D atau 4D kalo nggak salah. Kalo kita nggak mau capek jalan kaki juga ada ATV yang disewakan. Satu ATV cuma boleh ditumpangi maksimal dua orang dewasa aja. Tapi, kalo mau naik semua itu, harus bayar lagi! Ticket booth untuk semua permainan itu tersedia di dalam taman, berdekatan dengan masing-masing wahana.

Oh iya, selain wahana-wahana tadi, ada juga pertunjukan tarian yang cukup mewah di teater utamanya setiap hari dimulai jam 7 malam. Untuk pertunjukan yang satu ini kita bisa nonton gratis kok. Kalo kata keluarganya om gue yang udah pernah nonton, pertunjukan ini bagus banget. Mereka sampe beli CD resminya gitu buat diputer ulang di rumah. Tapi kalo menurut gue dan temen-teman, pertunjukan di WOTW ini masih kalah bagus sama pertunjukan sejenis yang pernah kita tonton di Thailand. Kalo kata Natalia, wajar aja soalnya yang di Thailand itu harganya jauh lebih mahal, hehehehehe.

Overall, gue lumayan menikmati acara jalan-jalan ke WOTW. Udah gitu lucunya, di sana gue sempat dua kali diajakin foto bareng loh. Awalnya, waktu mereka nunjukin kamera, gue pikir mereka minta tolong difotoin. Tapi waktu mereka malah merangkul lengan gue, barulah gue ngerti mereka pengen foto bareng gue… Kenapa bisa begitu? Kayaknya sih, karena gue pake jilbab yah. Kalo di Hongkong masih ada beberapa pendatang yang pake jilbab. Tapi kalo di Cina, enggak ada satupun yang gue temui lho. Pantes lah selama di sana gue sering banget diliatin orang-orang… Besides, penduduk Cina emang beda banget sama penduduk Hongkong yang cuek abis itu. Kalo di Hongkong, gue mau heboh foto-foto di dalem kereta juga nggak bakal ada yang peduli. Tapi waktu di Cina, gue cuma lagi duduk manis aja pake diliatin sampe segitunya…

Well, sisi positif dari berkunjung ke WOTW adalah semakin memotivasi gue untuk mengunjungi bangunan aslinya. Eiffel dan museum Louvre di Paris, Pisa di Italia, Taj Mahal di India, Pyramid di Mesir! Aaah, semoga gue bisa cepat-cepat diberi rezeki dan usia yang cukup sama Tuhan supaya bisa sampe ke sana. Amin amin amin, hehehehe.

Hotel & Transportasi di Hongkong

Hotel tips:

  • Semurah-murahnya hotel di Hongkong, tetep aja jatuhnya lebih mahal daripada standar hotel di Indonesia. Jadi jangan surprised kalo melihat harga hotel mereka di Agoda.com misalnya. Padahal harga jual di Agoda itu emang udah lebih murah daripada harga langsung dari hotelnya loh. Makanya kalo berniat nginep di hotel, beli voucher di Agoda aja. Gue nggak berani rekomendasiin website lain karena belum pernah coba. Kalo Agoda, so far gue udah pernah 3 kali beli voucher sama mereka dan belum pernah kecewa;
  • Cari tempat menginap yang dekat dengan stasiun MTR. Karena jangan salah… dari pintu masuk ke stasiun sampe kita ketemu sama keretanya aja tuh bisa 5-10 menit jalan kaki lho. Jadi kamu bakal harus jalan kaki tambah jauh kalo pilih hotel/hostel kamu jauh dari stasiun MTR;
  • Kebanyakan traveler on budget lebih memilih nginep di hostel daripada hotel. Dan di sana itu emang ada banyak pilihan hostel. Yang paling populer itu hostel-hostel di dalam gedung Chungking Mansion. Gedung ini bisa jadi populer karena letaknya yang emang strategis banget. Tapi kalo gue dua dan orang teman gue sih enggak gitu suka ya, sama suasana di dalam gedung ini. Selain gedungnya kumuh (gue ngelihat ada kecoa di lobi dekat lift!), banyak orang berbadan besar dan seram, di sana itu suka ada banyak orang yang ngelihatin kita dengan cara yang bikin risih. Selama di Hongkong, cuma di gedung ini doang gue ngelihat ada lift yang bagian dalamnya dipasang CCTV yang tersambung ke monitor yang menempel di tembok dekat lift lantai dasar. Waktu itu dengan parnonya gue berpikir… CCTV dibuat transparan kayak gitu supaya enggak ada yang berani macem-macem di dalam lift, hehehehe;
  • Lalu di mana gue menginap selama berlibur di Hongkong? Gue menginap di hotel YMCA Salisbury. Eiitts, bukan berarti gue banyak duit makanya nginep di sana yah. Room rate kamar ini sebenernya mahal banget, kecuali untuk dormitory room-nya. Lihat gambar supaya memahami apa yang dimaksud dengan dormitory room ini. Kamar ini kita sewa per bed, bukan per room. Satu kamar ada 4 tempat tidur, jadi kalo kita sewa cuma 3 saja, maka kita harus bersedia sharing dengan 1 orang asing lainnya. Tapi jangan khawatir… di dalam kamar tersedia lemari dan brangkas yang kuncinya dipegang sendiri-sendiri;

The dormitory room.

  • Di dormitory room kita emang enggak ada tv dan kulkas, tapi yang penting, tetap ada AC, sangat bersih, pelayanan profesional (kamar tetap dibersihkan setiap hari), lalu yang nggak kalah penting, furniture-nya bagus dan kokoh sehingga buat kamu yang tidur di bawah enggak usah takut nggak bisa tidur karena suara berisik dari kasur atas. Harga sewa ruangan ini hanya 264 HKD per bed per night (including tax and service charge). Untuk kamar tipe dormitory nggak bisa pesen online lewat Agoda. Sebagai gantinya, cukup kirim e-mail ke YMCA Hongkong dari jauh-jauh hari, karena katanya sih, dormitory room sana cepet banget penuhnya.

Transportation tips:

  • Kalo mau gampang dan bebas nyasar, ke mana-mana naik MTR udah pilihan yang paling ok. Selain bebas nyasar, naik MTR itu nyaman (bersih dan full AC) dan cepat sampai ke tujuan;
  • Supaya lebih praktis, lebih baik kita pake Octopus Card untuk naik MTR daripada bolak-balik beli tiket sekali jalan (ditambah lagi, harga khusus Octopus untuk semua rute emang lebih murah daripada harga one way ticket). Jadi begitu sampe stasiun MTR Hongkong manapun, langsung cari customer service-nya. Terus bilang aja sama petugas di dalam loket, “I want to buy Octopus Card.” Waktu itu, petugas minta 150 HKD ke gue; 50 HKD untuk deposit, 100 HKD bisa gue gunakan buat bayar tiket. Deposit 50 HKD itu bisa gue dapatkan kembali kalo kartu Octopus-nya udah gue kembalikan. Tapi kalo kamu mau bawa pulang buat kenang-kenangan juga nggak papa kok. Tapi ya itu tadi, uang depositnya akan hangus kalo kita bawa pulang kartunya;
  • Cara pake Octopus Card itu gampang aja. Kita tinggal tempel kartunya untuk membuka palang otomatis saat mau masuk stasiun (pada saat ini saldo belum dipotong), kemudian tempel lagi kartu itu pada saat kita hendak keluar dari stasiun tujuan (pada saat inilah saldo Octopus kita akan terpotong). Pada saat tempel kartu untuk keluar ini kita bisa melihat besarnya saldo yang dipotong untuk perjalanan itu pada layar dekat tempat tempel kartu, sekaligus melihat sisa saldo kita pada layar yang sama;
  • Pastikan saldo kita cukup sebelum keluar dari satu stasiun. Kalo saldonya nggak cukup, bukan cuma palangnya enggak mau terbuka, melainkan bakal terdengar suara alarm yang berisik banget. Untuk reload kartu, kayaknya sih kebanyakan orang reload pake mesin alias self service. Tapi berhubung kita ini turis cupu, kita tetap lebih memilih reload lewat customer service, hehehehe. Oh iya, kamu enggak usah takut kelebihan reload. Pada saat mengembalikan Octopus Card nanti, kita bisa sekalian minta refund saldo kartu yang belum terpakai;
  • Masing-masing rute punya tarif yang berbeda-beda. Rute airport dan Disneyland merupakan dua rute yang paling mahal. Selain itu, semakin jauh kita berpergian, atau semakin sering kita transit dalam suatu perjalanan, maka semakin besar juga saldo yang akan dipotong dari Octopus Card. Untuk persiapan budget, kamu bisa klik link ini: http://www.mtr.com.hk/eng/homepage/cust_index.html. Manfaatkan journey planner pada website ini untuk merencanakan perjalanan. Kamu tinggal masukkan dari mana mau ke mana untuk dapat informasi tarif perjalanan sekaligus informasi transit (jika memang rute perjalanan kita itu mengharuskan kita untuk transit);

Train to Disneyland.

  • Kalo mau mampir ke Shenzhen dari Hongkong, kita bisa naik MTR sampe stasiun Lo Wu. Kalo mau ke Macau, kita naik MTR sampe stasiun Sheung Wan, kemudian jalan kaki menuju terminal ferry untuk nyebrang ke sana. Detail perjalanan Hongkong-Macau atau Hongkong-Shenzhen sudah ada di posting khusus dua negara itu di blog gue ini;
  • Fyi, gue pernah ditipu sama supir taksi di Hongkong. Ceritanya waktu itu kita naik taksi menuju bandara. Angka di argo waktu itu nggak sampe 300 HKD, tapi tiba-tiba supirnya minta tambahan  400 HKD buat toll and tunnel fee! Gue udah coba ngomong pake bahasa Inggris, gue tanya, mana bukti bayar tolnya? Nggak masuk akal bayar tol bisa semahal itu! Tapi entah si supir taksi nggak bisa bahasa Inggris atau cuma pura-pura nggak bisa bahasa Inggris, yang ada dia terus ngomel-ngomel, dan setelah semua uang dikumpulin, kita bertiga cuma punya sekitar 400 HKD. Jadilah semua sisa uang kita melayang ke supir taksi penipu itu… Kenapa gue yakin banget dia menipu? Karena begitu sampe Jakarta, gue langsung nge-google dan ada blogger yang juga nginep di YMCA cuma bayar taksi 275 HKD udah termasuk biaya tol! Huhuhuhuhuhu, emang dasar gue lagi apes:((

Avenue of Stars & Symphony of Light

Salah satu tourist attraction yang cukup terkenal di Hongkong adalah Victoria Harbor, daerah pinggir laut Hongkong dengan view gedung-gedung pencakar langit yang spektakuler. Kemudian setiap hari jam 7 malam waktu setempat, ada pertujunkan lampu yang diberi nama Symphony of Light. Pada pertunjukan ini, seluruh gedung yang terletak di pinggir laut akan ikut ambil bagian. Permainan lampu dari gedung-gedung itu selalu seirama dengan alunan musik yang mengiringinya.

Kalo menurut gue sih ya, pertunjukan lampu ini enggak sehebat yang gue kira. Victoria Harbor itu kan panjang, jadi agak susah ngikutin gedung di sebelah mana aja yang sedang memainkan lampunya. Jadi idealnya, nonton pertunjukan ini harus di posisi tengah.

Selain Symphony of Light, keberadaan Avenue of Stars juga jadi daya tarik sendiri dari Victoria Harbor. Tahu kan, Avenue of Stars? Tempat deretan cap tangan dari selebritis itu loh… Cap tangan artis-artis ini tersebar dari ujung sampai ke ujung di Victoria Harbor. Dan pastinya, di sana itu cuma ada cap tangan artis-artis Cina dan Hongkong aja. Bakal sia-sia kalo kamu cari cap tangan artis Hollywood di sini.

Hal menarik yang jangan sampai dilewatkan kalo mampir ke sini apa lagi kalo bukan foto-foto. Coba datang dari waktu masih sore, saat gedung-gedung di seberang laut masih terlihat jelas. Lalu ambil foto lagi saat mulai gelap dan lampu-lampu gedung mulai dinyalakan. Tapi untuk foto malam ini, diperlukan kamera canggih untuk hasil foto yang ciamik. Soalnya kamera digital biasa aja kurang mampu mengambil detail dari panorama gedung di malam hari. Nggak heran kalo jasa fotografer komersil lumayan laris di Victoria Harbor.

Victoria Harbor at Noon

Victoria Harbor at Night

Avenue of Stars

Untuk sampai ke Victoria Harbor, naik MTR sampai stasiun East Tsim Tha Tsui, lalu cari exit J, kemudian tinggal ikuti papan petunjuk menuju Avenue of Star. Ada banyak spot bagus buat foto-foto di sepanjang perjalanan menuju Avenue of Star. Jadi pastikan kamera digital kamu enggak ketinggalan di hotel ya, hehehehehe.