Shopping in Hongkong

Hongkong memang terkenal sebagai salah satu shopping destination di kawasan Asia. Makanya sejak jauh-jauh hari, gue udah terlebih dahulu mencari informasi tempat belanja favorit di negara itu. Berikut ulasan 3 tempat belanja yang gue singgahi selama berlibur di Hongkong.

Citygate

Kalo mau cari barang bermerk yang terjamin keasliannya dalam harga yang relatif lebih murah, maka Citygate pilihan yang tepat untuk berbelanja. Tadinya gue cuma berniat beli sendal Crocs aja, tapi ternyata di dalam Citygate, gue jadi tergoda untuk masuk ke toko Mango, Guess, Giordano, dan Esprit. Begitu masuk ke outlet Mango, gue langsung syok. Ada banyak kaos lucu yang kalau dirupiahkan, harganya enggak sampe Rp. 200.000! Ada pula obi yang dijual seharga Rp. 150.000. Begitu juga di Giordano. Harga kaos cowok di sini enggak sampe Rp. 100.000! Untuk Guess harga kurang lebih sama dengan harga di Indo. Tapi kalo Crocs-nya beneran lebih murah! Sendal Crocs (model yang sama) di Indonesia harganya sekitar Rp. 300.000, sedangkan gue beli di Citygate hanya sekitar Rp. 170.000 aja. Dan itu pun masih dalam kriteria normal price lho. Untuk barang yang didiskon, harganya bisa di bawah Rp. 100.000! Sayangnya koleksi jibbitz di Crocs Citygate jumlahnya sedikit banget. Kurang bervariasi pula. Padahal tadinya gue kepengen sekalian borong jibbitz-nya juga. However gue ngerasa betah belanja di Citygate. Di sini kita bisa belanja nyaman, bisa bayar pake kartu kredit, dan pegawai tokonya juga ramah-ramah banget. Untuk sampai ke sini, naik MTR ke stasiun Tung Chung, kemudian cari exit C, kamu langsung akan sampai di shopping mall ini.

Ladies Market

Pasar malam yang terletak di pinggir jalan ini masih jauh lebih populer daripada Citygate. Belum lengkap acara belanja di Hongkong kalau belum belanja di sini. Namanya juga pasar malam di pinggir jalan, ya jangan harap suasana nyaman dengan pedagang yang pasti ramah. Berikut ini tips dari gue buat shopper yang kepengen belanja di Ladies Market:

  1. Harus pinter-pinter nawar kalo mau belanja di sini. Dan, harus tahan banting kalo misalkan pedagang di sana marah-marah gara-gara kita nawar kelewat sadis. Nggak usah diambil hati dan langsung pergi aja kalo nemu pedagang yang kayak gini,
  1. Sebelum memutuskan untuk membeli, survey harga dulu! Ada banyak pedagang di sana yang menjual barang yang sama persis. Di awal coba aja tawar sampe 50%, terus lihat bakal mentok di harga berapa.
  1. Pedagang di sana terbagi jadi 3 jenis:
  • Ibu-ibu: Pedagang galak biasanya ibu-ibu paruh baya. Kalo lagi tawar menawar sama mereka tuh rasanya deg-degan.
  • Perempuan dengan usia relatif muda: Paling enak belanja sama mereka. Mereka lebih sabar buat diajak negosiasi harga. Ada pula beberapa dari mereka yang punya sifat humoris dan jago berbahasa Inggris.
  • Laki-laki: Lebih tegas dalam berdagang. Mereka biasanya malas menindaklanjuti pembeli yang sejak awal udah nawar harga terlalu sadis. Tapi tenang aja, selama di sana gue enggak nemuin pedagang cowok yang suka marah-marah.
  1. Lebih baik jangan hampiri pedagang yang sudah mulai membereskan barang dagangannya. Biasanya mereka udah nggak mau melayani pembeli kalo udah mau pulang kayak gitu. Apalagi kalo yang dagang ibu-ibu!
  1. Idealnya datang ke sini sebelum jam 10 malam supaya sempat survey harga dan sempat lihat-lihat dari ujung sampai ke ujung.
  1. Daripada menawar secara lisan, gunakan kalkulator. Enggak banyak pedagang di sana yang bisa Bahasa Inggris. Biasanya, pedagang-pedagang muda yang lebih fasih berbahasa Inggris.
  1. Gue dapet tips dari traveler lain, pedagang di sini lebih menghormati pembeli yang kelihatan punya USD di dalam dompetnya. Dan lebih baik bicara sama mereka dalam Bahasa Inggris daripada daripada Bahasa Mandarin. Soalnya pedagang di Hongkong kebanyakan kurang suka dengan orang-orang Cina daratan.
  1. Ladies Market identik dengan barang imitasi yang sebenarnya bisa kita temukan di Indonesia, di ITC Mangga Dua misalnya. Oleh karena itu tidak ada salahnya kalau kita terlebih dahulu mencari patokan harga barang serupa di Indonesia. Misalnya harga dompet tiruan Gucci dan Anna Sui (dua merk yang paling banyak dijual imitasinya di Ladies Market).

Daripada barang-barang imitasi, gue justru lebih suka belanja barang-barang yang tidak bermerk di Ladies Market. Di sana ada banyak kalung dan gelang lucu, dompet dan tas cantik yang belum pernah gue dengar nama merk-nya, serta beberapa souvenir yang bisa gue beli untuk dijadikan oleh-oleh. Souvenir favorit gue itu gantungan tas dalam beraneka bentuk (gantungan ini bisa berfungsi sebagai penghias tas atau alat untuk menggantung tas kita supaya tidak kotor), beraneka cermin lipat, atau sekedar gantungan kunci, gunting kuku, dan souvenir magnet bertuliskan Hongkong. Untuk barang-barang seperti ini, makin banyak beli maka harga satuannya akan semakin murah!

Untuk sampai ke Ladies Market, naik MTR sampai stasiun Mongkok cari exit E2. Keluar dari stasiun MTR, tinggal ikutin petunjuk jalan menuju Ladies Market. Kalaupun nyasar ya tanya aja, orang-orang di sana pasti tahu kita mau ke mana.

Disneyland

Stephanie, temen sekantor gue waktu masih di EY, sering bilang bahwa belanja souvenir di Disneyland itu rasanya menyenangkan banget. Ada banyak barang lucu yang bikin kita betah berlama-lama di dalam tokonya. Makanya sejak awal, gue udah menyiapkan budget ekstra untuk acara belanja di theme park ini.

Di dalam Disneyland ada banyak toko kecil yang tersebar di dalam taman, ada pula beberapa booth kecil yang terletak di pinggir jalan. Tips dari gue, daripada belanja di toko-toko kecil itu, lebih baik belanja di toko utama yang terletak di Main Street. Dari luar kelihatannya kayak beberapa toko yang terpisah, tapi sebenarnya kalo dilihat dari dalam, semua toko itu memanjang jadi satu. Nah, semua yang dijual di toko-toko kecil atau di booth pinggir jalan komplet tersedia dia satu toko utama ini.

Harga barang di Disneyland jelas relatif mahal. Tapi pastinya, harga mahal itu emang sebanding sama desain lucu dan kualitas barang yang ok punya. Berikut ini daftar harga barang satuan yang ada di struk belanja gue. Siapa tau bisa jadi input untuk kalian menyiapkan budget:

  1. Tumbler: 70 HKD;
  2. Pin: 45, 55, & 65 HKD;
  3. T-shirt: 180 & 280 HKD;
  4. Gantungan kunci: 60 HKD;
  5. Cookies jar: 60 HKD;
  6. Satu pasang cangkir & tatakannya: 120 HKD;
  7. Dua pasang sumpit: 60 HKD;
  8. Tempat pensil (bisa juga buat tempat make-up): 80 HKD;
  9. Mini frame: 50 HKD;
  10. Gunting kuku: 60 HKD; dan
  11. Gantungan kunci berbentuk boneka Piglet mini: 60 HKD.

Sebetulnya ada satu lagi kawasan belanja yang cukup terkenal di Hongkong: Nathan road. Terdapat jejeran toko di sepanjang Nathan road ini. Katanya sih, turis asing suka belanja barang elektronik di tempat ini. Tapi berhubung gue nggak berniat beli barang elektronik, jadi ya gue lewat Nathan Road hanya untuk cari makan aja. Kalo kalian mau belanja di tempat ini, perlu diingat 3 hal berikut ini:

  1. Hati-hati barang palsu atau rakitan;
  2. Pastikan barang yang ditawarkan dengan barang yang kemudian dibungkus adalah satu barang yang sama;
  3. Jangan mau kalau sampai diajak jalan untuk melihat barang di bagian dalam atau di tempat lain;
  4. Pelajari harga normal dari barang yang ingin kita beli dan harus gigih menawar sampai tingkat harga yang masuk akal; dan
  5. Pikir-pikir soal garansi. Seberapa yakin kalian soal garansi produk itu? Apa iya kartu garansi tetap berlaku di Indonesia? Bisa aja kan… ada produk yang cuma punya garansi toko.

Mengingat ribetnya seluk-beluk belanja barang elektronik di Nathan Road yang banyak gue baca dari blog lain itu, gue jadi enggak pernah berniat untuk belanja di sana. Padahal gue punya rencana beli kamera digital, tapi lebih baik gue belanja di Indonesia aja deh. Jangankan di luar negeri, di Indonesia aja gue kurang percaya sama keaslian barang-barang yang dijual di Glodok. Lebih baik beli di dealer resmi atau toko elektronik terpercaya seperti EC atau Dbest, walau lebih mahal yang penting hati tenang, hehehehe.

Madame Tussauds & Victoria Peak

Salah satu objek wisata yang wajib didatangi saat berlibur ke Hongkong adalah Madame Tussauds alias museum patung lilin. Tadinya gue kira, paling juga cuma lihat-lihat patung tiruan selebritis, foto-foto sebentar terus pulang. Tapi ternyata, sekedar foto-foto di sana itu rasanya udah sangat menyenangkan! Ada banyak properti yang dipinjamkan supaya bisa kita pakai untuk berfoto, yang membuat momentpengambilan foto itu jadi terasa lucu dan menyenangkan.  Misalnya, mahkota dan jubah kerajaan untuk befoto di atas singgasana di tengah keluarga kerajaan Inggris, gaun ala Marilyn Monroe, topi dan tongkat buat foto bareng ‘Madonna’, dan yang paling lucu, baju sumo alias baju berbusa tebal yang membuat badan kita langsung sama besarnya dengan pemain sumo beneran! Kalo mau terasa serunya, harus kreatif saat bergaya dan nggak usah malu-malu! Seru rasanya nahan cekikikan waktu sedang difoto, atau saat sedang mengambil foto teman yang berpose konyol. Selain itu kita juga boleh menyentuh patung-patung yang ada di sana! Jangan kaget kalo lihat di Facebook gue ada foto gue lagi pelukan sama ‘Brad Pitt’, hehehehe.

'Brad Pitt' and Me

Di dalam Madame Tussauds ada semacam rumah hantu yang bisa kita kunjungi tanpa biaya tambahan. Di sini kita disuruh jalan berbaris saat memasuki rumah hantu itu. Dan bisa ditebak, di dalamnya akan ada orang-orang yang bertugas untuk menakut-nakuti kita. Waktu itu gue masuk ke sana cuma berdua sama Puja. Karena takut, Puja nyuruh gue yang berdiri di depan dia. Dan pastinya, selalu ada rasa deg-degan setiap kali gue harus buka pintu, tirai, atau saat harus berbelok di lorong-lorong gelap itu. Tapi ternyata, anehnya justru selama di sana, gue enggak melihat satupun hantu yang berusaha nakut-nakutin kita itu! Gue bisa denger ada suara ledakan dan suara hantu yang sedang beraksi, tapi gue tetep enggak pernah lihat wajah mereka sama sekali! Yang sering lihat justru si Puja yang sepanjang jalan histeris teriak-teriak sampe sakit leher segala, hehehehe.

Madame Tussauds terletak di dalam gedung Victoria Peak, sebuah shopping mall yang terletak di ketinggian. Nah, kalo udah sampe di Victoria Peak, sekalian aja beli tiket buat mengunjungi The Terrace yang terletak di lantai paling atas. Dari The Terrace, kita bisa melihat pemandangan kota Hongkong yang tampak sangat spektakuler itu. Lagi-lagi, The Terrace merupakan lokasi yang bagus buat foto-foto. Coba ambil foto saat langit sedang cerah supaya pemandangan gedung-degung di bawah sana bisa terlihat jelas sebagai background foto kita itu.

View from The Terrace

Untuk sampai ke Victoria Peak, gue dan teman-teman terlebih dahulu naik tram sampai ke atas. Nah, untuk sampai ke stasiun tram itu sendiri, kita harus naik MTR sampai ke Central lalu cari exit J2. Abis itu tinggal ikuti papan petunjuk jalan menuju stasiun tram. Dan pastinya, sepanjang perjalanan menuju stasiun tram, jangan lupa buat fot-foto! Central itu kawasan bisnisnya Hongkong yang penuh dengan gedung pencakar langit yang kelihatan keren banget! Waktu nonton film yang lokasi syutingnya di Hongkong, gue sampe norak banget, dikit-dikit bilang begini sama adek gue, “Ih… itu kan gedung di Central yang ada di foto gue!”

Aaah, traveling emang bisa jadi aktivitas yang menyenangkan buat banci foto kayak gue. Memories in pictures will be endless, bisa gue kenang sampe tua nanti, hehehehe.

The Big Buddha Hongkong

Gue selalu tertarik mengunjungi tempat yang terkenal memiliki sesuatu yang serba ‘paling’ di dunia. Salah satunya, patung Buddha paling besar di dunia yang terletak di kawasan Tung Chung, Hongkong. Gue tau enggak banyak yang bisa gue lakukan di sana. Tapi, melihat dan ambil foto di depan sesuatu yang serba ‘paling’ itu wajib hukumnya buat gue.

Buat sampai di The Big Buddha, naik MTR sampai ke stasiun Tung Chung, cari exit B lalu jalan kaki menuju stasiun cable car Ngong Ping. Ada dua pilihan cable car di sini: cable car dengan crystal cabin alias cable car yang bagian lantainya terbuat dari kaca sehingga kita bisa melihat pemandangan di bawah kaki kita, dan yang satunya lagi cable car yang biasa-biasa aja.

Ada yang menarik dari Ngong Ping cable car di sini… Track-nya itu lho… curam banget! Temen gue si Puja sampe ketakutan begitu melihat kabel yang menukik turun di depan sana. Dan menurut dia, turunannya itu berasa banget ngerinya. Tapi kalo menurut gue sih, enggak ada seremnya sama sekali yah. Tapi ketinggiannya emang sadis banget sih… Sampe memberi efek tekanan udara ke kuping gue saking tingginya.

Sampai di atas, kita masih perlu jalan kaki menuju The Big Buddha melewati Ngong Ping Village. Enggak ada yang menarik di Ngong Ping Village, tapi tetep ada beberapa spot yang bagus buat foto-foto. Kemudian untuk sampai ke Big Buddha, kita harus terlebih dahulu menapaki ratusan anak tangga.

Here it is... The Big Buddha!

Setelah capek-capek sampai ke atas… pemandangan yang kita dapet termasuk worth it kalo menurut gue. Selain patung Budha yang emang gede banget, pemandangan bukit-bukitnya itu juga bagus banget. Hongkong ini emang ajaib banget lah. Bisa-bisanya perkotaan yang dipenuhi gedung pencakar langit letaknya tidak berjauhan dari dataran tinggi yang masih terpelihara keasriannya.

View from the top.

Overall menurut gue, kalo kalian stay agak lama di Hongkong, boleh lah sempetin mampir ke Big Buddha. Sekalian mampir ke Citygate buat belanja barang branded – asli – dengan harga relatif murah. Nantikan post tersendiri untuk Citygate di blog gue ini yaa.

Don’t Go Breaking My Heart

Entah kenapa, gue kepengen banget nonton film Don’t Go Breaking My Heart di Blitz Megaplex. Walaupun pilihan jam tayangnya tinggal sedikit, gue tetep bela-belain nonton film yang diputar jam setengah sepuluh malam itu.

Don’t Go Breaking My Heart bercerita tentang Zhi En, gadis yang baru saja putus karena dikhianati pacarnya setelah 7 tahun pacaran. Saat sedang patah hati itu, Zhi En berkenalan dengan 2 cowok baru dalam waktu yang hampir bersamaan. Cowok pertama namanya Shen Ran, cowok charming yang sangat sukses di usia muda. Shen Ran ini ceritanya udah cukup lama naksir sama Zhi En yang sering dia lihat dari jendela kantornya. Cowok yang ke dua bernama Qi Hong, seorang arsitek berbakat yang sedang mengalami depresi saat bertemu dengan Zhi En.

Setelah patah hati habis-habisan di awal film, akhirnya Zhi En mulai benar-benar move on setelah berkenalan dengan Qi Hong. Cowok ini mengarahkan Zhi En untuk mengubah penampilannya, mengajaknya bersenang-senang, serta bersedia menampung semua barang peninggalan mantan pacar yang masih tertinggal di apartemen Zhi En. Selain semua benda mati, Zhi En juga memberikan Qi Hong seekor kodok yang dulu dipelihara mantan pacarnya.

Di akhir pertemuan mereka, Zhi En membelikan satu set pensil warna untuk Qi Hong. Dia ingin Qi Hong menggunakan pensil warna itu untuk kembali berkarya. Dia juga memotivasi Qi Hong untuk berhenti minum-minum dan juga bangkit dari keterpurukannya. Pada saat itulah, Qi Hong mulai jatuh cinta kepada Zhi En. Qi Hong lalu mengajak Zhi En untuk bertemu lagi beberapa hari kemudian, dan dia berjanji, pada pertemuan selanjutnya itu, Qi Hong akan menunjukan hasil karya terbarunya.

Sayangnya di hari yang sudah dijanjikan, Zhi En juga punya janji kencan dengan Shen Ran untuk yang pertama kalinya. Ternyata Zhi En lebih tertarik pada Shen Ran sehingga melupakan janjinya kepada Qi Hong. Jadilah Qi Hong menunggu Zhi En yang tidak pernah datang ke tempat pertemuan mereka pada waktu yang telah dijanjikan.

Ironisnya, pada saat Zhi En tengah menunggu Shen Ran di café yang telah disepakati, Shen Ran malah tidak datang karena tergoda dengan ajakan kencan semalam dari cewek lain yang berpenampilan sangat menggoda. Tapi dasar Shen Ran cowok penggoda… Meski awalnya Zhi En sangat marah dengan ketidakhadiran dia di kencan pertama mereka, toh akhirnya mereka berdua jadian juga.

Akting Louis Koo si pemeran Shen Ran cukup berhasil memesona penonton. Aura bad boy-nya itu kerasa banget. Ngelihat betapa kerasnya usaha Shen Ran mengejar Zhi En bikin penonton jadi terbius… Zhi En disuruh bantu memillih mobil mewah, apartemen mewah sekaligus furniture-nya, yang ternyata, semua itu dibelikan Shen Ran untuk Zhi En! Saat itu gue sempet berpikir, cewek mana juga yang bisa menolak? Ya pantes aja lah kalo akhirnya Zhi En tetep jatuh ke pelukan Shen Ran…

Tiga tahun kemudian, Zhi En merasa curiga dengan Shen Ran yang menyimpan banyak kondom di dalam mobilnya. Padalah selama berpacaran, mereka berdua tidak pernah melakukan hubungan intim. Setelah ditanya, Shen Ran pun mengakui bahwa selama ini dia memang masih berkencan dengan perempuan-perempuan lain. Saat Zhi En menjadi murka, dengan entengnya Shen Ran bilang begini, “Aku tidak mau berbohong! Lagipula di dunia ini cuma ada dua jenis lelaki: lelaki yang berselingkuh dan yang ingin berselingkuh. Kamu lebih memilih yang mana?”

Zhi En menjawab, “Aku memilih lelaki yang ke tiga!”

Shen Ran membalas, “Cari saja di planet Mars!”

Tidak lama setelah putusnya Shen Ran dengan Zhi En, cewek ini kembali bertemu dengan Qi Hong, si arsitek depresi yang kini sudah mampu mendirikan perusahaannya sendiri. Qi Hong pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk kembali mendekati Zhi En. Dan tentu saja, Shen Ran tidak tinggal diam. Ada beberapa adegan yang menunjukan dua cowok ini saling berlomba menarik perhatian Zhi En.

Ada satu adegan yang sangat mengharukan di film ini. Ceritanya meski sudah tiga tahun berlalu, Qi Hong masih menyimpan kodok pemberian Zhi En. Saking sayangnya dengan si kodok, Qi Hong menamakan perusahaannya Qi Hong & Frog! Nggak heran kalo semua orang yang mengenal Qi Hong juga tahu bahwa kodok itu merupakan pemberian wanita yang dicintai Qi Hong, dan, bahwa meskipun ada banyak wanita yang mengidolakan Qi Hong, cowok ini tetap menaruh harapan kepada sang pemberi kodok yang sudah tiga tahun putus kontak dengannya itu.

Nah, suatu hari, Zhi En memutuskan pulang ke rumah orang tuanya karena merasa tertekan harus memilih di antara Shen Ran dan Qi Hong. Menghilangnya Zhi En itu kemudian memicu perkelahian antara Shen Ran dengan Qi Hong. Saat mereka sedang berkelahi itulah, si kodok tidak sengaja terinjak hingga mati dalam keadaan yang mengenaskan.

Matinya si kodok langsung mengakhiri perkelahian antara Shen Ran dengan Qi Hong. Shen Ran bahkan meminta maaf kepada Qi Hong yang berlutut terpaku menatap kematian kodoknya. Saat kabar perkelahian tersebut sampai ke telinga Zhi En, cewek ini langsung kirim SMS turut bersedih kepada Qi Hong.

Berdasarkan pengalaman gue pribadi, cowok jaman sekarang ini bawaannya suka ngambek. Makanya saat Zhi En kirim SMS, gue sempat nebak, Qi Hong tidak akan menghiraukan SMS-nya itu. Tapi ternyata, meski si kodok baru saja mati gara-gara ulah mantan pacar Zhi En, dan meski Zhi En baru saja meninggalkan Qi Hong beberapa saat sebelum perkelahian itu, Qi Hong tetap membalas SMS dari Zhi En. Qi Hong bertanya, “Kamu di mana? Di mana alamatnya?”

Segera setelah menerima balasan dari Zhi En, QI Hong langsung naik pesawat menuju rumah orang tua Zhi En. Sesampainya di sana, begitu Zhi En membuka pintu rumahnya, Qi Hong langsung berkata, “Si kodok sudah mati.”

Zhi En yang merasa tersentuh langsung memeluk Qi Hong dengan erat…

Apakah Shen Ran sudah menyerah? Hampir saja dia menyerah sampai di situ. Dia sudah kembali beredar di club langganannya, dan mulai tebar pesona mencari perempuan yang bisa dia ajak tidur. Tapi ternyata, saat dia dan teman kencannya sudah naik taksi menuju hotel, Shen Ran berubah pikiran. Dia kehilangan minat untuk kencan dan memutuskan untuk kembali mengejar Zhi En.

Emang dasar film drama yang menjual mimpi… Bisa-bisanya di akhir cerita, Shen Ran dan QI Hong melamar Zhi En dalam waktu yang bersamaan! Dengan dua cara berbeda yang dua-duanya tuh romantis banget. Lucunya, saat melamar itu, Shen Ran bilang begini, “Sekarang aku sudah jadi mahluk Mars!”

Sampai adegan itu… Yantri – adek gue, bergumam, “Awas aja kalo dia malah nerima Shen Ran!”

Padahal ya… di awal film, adek gue ini juga sempet terpesona banget sama sosoknya Shen Ran. Bahkan, Yantri yang suka ngomelin gue karena sering naksir cowok bandel itu akhirnya mengaku bisa mengerti alesan kenapa gue sampe jatuh hati sama mereka. Tapi begitu ngelihat betapa jelalatannya Shen Ran setiap kali melihat cewek seksi… saat melihat kebiasaan dia mencari pelarian dengan kencan semalam… adek gue kembali lagi pada akal sehatnya. “Hidup itu kan panjang… Masa’ iya sih, Zhi En mau selamanya hidup enggak tenang bareng cowok model Shen Ran? Dia kan bisa janji bakal setia hanya karena masih penasaran sama Zhi En. Belum tentu kalo nanti udah balik lagi dia tetep setia, terutama kalo mereka lagi berantem misalnya.”

Dan lucunya… Gue yang punya kecenderungan naksir bad boy pun, ngerasa ogah banget kalo Zhi En sampe memilih Shen Ran. Walau cuma fiksi belaka, rasanya gue tetep enggak rela kalo Zhi En malah ninggalin Qi Hong. Qi Hong yang penyayang, setia, baik hati, pemaaf pula…

Berkat film ini gue jadi sadar bahwa cowok-cowok bandel emang bisa jadi kelihatan charming (kecuali bad boy wannabe yang lagaknya malah bikin eneg), tapi kalo kita berpikir panjang… kita harusnya lebih memilih cowok yang bisa memberi kita rasa aman. Karena benar kata Zhi En, mencintai playboy itu sangat sulit, dan… sangat sulit dipercaya bahwa playboy bisa berubah jadi setia.

Jadi saran gue buat penggemar-penggemar bad boy lainnya… Kasih kesempatan lah, buat cowok baik-baik yang sayang sama kalian. Cowok terakhir yang gue taksir sama sekali bukan bad boy, dan ternyata rasanya malah lebih menyenangkan loh. Good guy itu lebih caring, lebih pengertian, dan malah sebenarnya, justru good guy ini yang punya potensi buat jadi idol without trying. Cowok baik hati model gini justru ngerasa bersalah kalo tau ada banyak cewek yang bertepuk sebelah tangan karena dia. Beda banget lah sama golongan bad boy yang menganggap hal menyedihkan kayak gitu sebagai suatu kebanggaan.

Kalo masih nggak percaya, langsung ajalah, nonton film ini di Blitz Megaplex. Gue yakin kalo film ini bisa bikin kita jadi sadar kalo sebenernya, bad boy is disgusting. Uups, no offense yah guys, hehehehe.

33 Things I Learned From My EY Teammates

Ada banyak hal yang terjadi selama 2 tahun 7 bulan gue kerja di EY. Ada banyak pula hal-hal mulai dari yang penting sampe yang nggak penting, yang gue pelajari selama gue kerja di sini. Nah, di blog kali ini, gue udah menuliskan hal-hal yang gue pelajari dari teman-teman setim gue di EY. Here we go

  1. Belajar vlook-up dari Monyk, uncheck allow editing directly in cells dari Aga, berbagai hotkey dari Arlin, pivot table dan berbagai fitur Excel lainnya dari Odel;
  2. Ngikutin Ricky bikin folder khusus file yang udah nggak terpakai;
  3. Dapet banyak pengetahuan baru dari trio managers gue, terutama dari Mas Austa dan Ko Dennie;
  4. Tau banyak hal soal oil & gas industry dari bang Ferdy…
  5. Belajar cara ngakalin timesheet dari Odel, hehehehe;
  6. Kalo gue punya folder yang berisi banyak banget file, maka file yang gue anggap paling penting akan gue kasih angka 1 di depan file name-nya, supaya gampang dicari. Yang satu ini gue nyontek idenya Dandy;
  7. Terinspirasi Monyk… Kalo niat resign ditunda-tunda, yang ada malah bakal lama terwujudnya, hehehehe;
  8. Restoran yang pertama kali gue datengin bareng temen-temen di EY: Pancious, Pan O, Takigawa, Ajitei, My Hanoi Villa, Y&Y, Ootoya, Sopra, Cafe Cartel, Pizza Marzano, Sushitei, The King Palace, Spaghetti House, Syailendra, Dcore,  Sop Buntut Borobudur (yang dengan dodolnya gue pesen hotdog di restoran sop buntut), serta beberapa restoran Sunda. Berkat kalian yang doyan banget makan itu gue jadi banyak nyobain jenis makanan baru. Sayangnya sampe akhir gue tetep aja kurus seperti dulu, hehehehe;
  9. Kepengen punya investasi kayak Monyk dan Dandy. Tapi ternyata sampe akhir gue tetep aja belum punya investasi apa-apa (ya kecuali si apartemen dodol itu sih);
  10. Banyak nanya sama Ntep soal pergi ke luar negeri waktu menjelang pertama kalinya gue pergi ke luar negeri. Waktu itu gue takut bakal ada something wrong. Maklum lah, kalo newbie emang emang masih suka stupid, hehehehe;
  11. Pas mau pergi ke Shenzhen, gue nanya lagi sama si Ntep… bahasa mandarinnya makanan ini ada babinya apa enggak itu apa yah?
  12. Baru tau dari Dini bedanya Korsel sama Korut, sama baru tau dari Dini juga kalo Mesir itu letaknya di Benua Afrika, bukan Asia, hehehehehe;
  13. Berkat Luzy dan Dini… gue jadi tau kalo LARD itu artinya lemak babi! Gara-garanya waktu belanja oleh-oleh di Macau, gue udah baca labelnya nyari tulisan pork atau pig di kue kering yang mau gue beli. Pas udah sampe Jakarta… baru ketauan di label itu ada tulisan LARD yang artinya lemak babi… Huhuhu, maaf yaah teman-temanL
  14. Tau dari Dandy cara asyik kalo mau download lagu: dengerin sample lagunya di Top 100 Billboard.com abis itu baru download lagunya via 4Shared;
  15. Entah kenapa, gue udah nggak bisa lagi download lagu dari 4Shared. Abis itu gue jadi bingung mau download di mana lagi. Ada banyak website yang ujung-ujungnya tetep ambil lagu dari 4Shared. Sampe akhirnya gue dikasih tau sama Dini buat download di beemp3.com yang nggak kalah lengkapnya sama 4Shared;
  16. Gue baru tau dari Ica kalo subtitle buat serial tv itu bisa di-download lewat internet;
  17. Dikasih tau Avi kalo pake face paper itu nggak boleh diseret, bisa bikin kotoran yang nempel pindah dari satu sisi ke sisi yang lain. Terjawab lah sudah pertanyaan gue kenapa kok kalo gue pake face paper malah suka bikin muka jadi berjerawat, hehehehe;
  18. Jadi rajin minum air putih… Banyak banget temen di tim yang negur gue gara-gara cuma minum sedikit air dalam sehari;
  19. Soal cinta-cintaan, banyak belajar dari si Nova. Cuit cuiitt…
  20. Berkat Djong, gue jadi makin nggak percaya sama ramalan. Soalnya dulu si Djong pernah ngeramal gue yang sampe akhir nggak pernah terbukti kebenarannya, hehehehehe;
  21. Mendapatkan jawaban jujur dari Aga kalo cowok itu emang suka bohong, huehehehehe. Biasanya kalo cowok lain jawabannya nggak jauh-jauh dari, “Tergantung cowoknya… Nggak semuanya suka bohong kok, Fa.”
  22. Berkat ngobrol-ngobrol  bareng Luzy, gue jadi ngerasa punya teman senasib… Denger ceritanya dia kayak ngedenger cerita diri gue sendiri, hehehehe;
  23. Niru kebiasaannya si Ica… kalo nerima bon di restoran, harus dicek dulu. Sebelumnya gue selalu langsung bayar aja setiap terima bon di restoran… Tapi tetep aja sih, kalo jumlah pesenannya terlalu banyak gue ngecek isi bonnya juga percuma aja secara gue udah lupa sama pesenan gue sendiri, hehehehe;
  24. Berkat kerja di tim ini, gue jadi tau bahwa bisa berteman baik, bahkan bersahabat dengan rekan kerja itu bukan sesuatu yang mustahil. Boleh aja ada gesekan saat kerja bareng, tapi konflik pekerjaan itu tetap enggak boleh merusak pertemanan yang sudah terjalin… cieee;
  25. Dari Hendra, Yoga, dan Jerry, gue jadi tau bahwa baru atau udah lama kenal enggak menentukan panjang-pendek dan personal touch dalam isi kartu ucapan farewell. Meskipun baru kenal sama mereka bertiga, tapi gue suka banget sama amplop yang berisi ucapan dari mereka… Kalimatnya panjang-panjang, lucu, dan personal banget, hehehehe;
  26. Jadi terharu sama si Rini… Bukan cuma bisa memaklumi jelek-jeleknya gue, tapi dia juga rela jadi panitia farewell gue tanpa pernah gue minta. Udah gitu kata Arlin, anehnya Rini yang masih baru itu malah lancar buat urusan penagihan, hehehehe. I really want to have such a big heart like Arlin, Rini, and Nana also:D
  27. Jadi terlatih buat ngomong dengan suara pelan. Secara temen-temen di sini kupingnya udah kayak kelelawar… Cuma ngomong bisik-bisik aja mereka bisa denger loh…
  28. Kecepatan makan gue jadi meningkat… Walau tetep selesai paling akhir, seenggaknya udah lebih cepet daripada dulu;
  29. Gara-gara Dini bilang gini, “Elo kan sama kayak ‘mami’ lo Peh, drama queen.” Gue langsung mikir, “Oh no! I don’t wanna be a drama queen!” Gue udah berusaha berubah, tapi ternyata sampe seminggu yang lalu, Aga masih aja bilang begini, “Gue kira cuma ‘mami’ lo aja Peh yang drama queen, huahahahaha.”
  30. Terinspirasi Dandy yang suka ngobrol sama banyak orang… Tadinya gue tipe orang yang lebih suka nempel sama beberapa orang tertentu aja. Tapi ternyata berteman sama banyak orang itu rasanya menyenangkan^^
  31. Terpacu buat jadi orang sabar, terutama kalo lagi kerja, kayak Nana, Arlin, Dandy, Rini, dan Ko Adi;
  32. Secara nggak sadar kerja di EY bikin gue jadi lebih tangguh. Ngangkat-ngangkat kardus berisi ratusan voucher, ngangkut WP dari dan ke kantornya klien, sama jadi lebih mandiri setelah kerja di sini. Secara cewek-cewek lain di tim ini tangguh-tangguh semua gitu, hehehehe;
  33. Selama kerja di EY, gue banyak belajar gimana cara mendapatkan apa yang gue inginkan, sekaligus belajar nerima kenyataan bahwa kadang-kadang, sekeras apapun gue berusaha, tetep ada hal-hal yang enggak akan pernah bisa gue dapetin. And I think they’re all the things which grew me up🙂