Disneyland Hongkong

Tujuan pertama gue di Hongkong apa lagi kalo bukan Disneyland… Udah dari jaman masih SD gue mengimpikan untuk datang ke taman bermainnya Disney. Saking semangatnya, gue udah beli tiket dari jauh-jauh hari, udah catet baik-baik rute MTR menuju Disneyland, bahkan, gue udah bikin daftar wahana yang wajib gue coba just in case nggak punya cukup waktu buat nyobain semuanya. Karena banyak orang yang bilang, satu hari di Disneyland itu enggak akan cukup.

Baru sampe Sunnybay (stasiun MTR menuju Disneyland), gue dan temen-temen udah keburu heboh foto-foto. Kereta Disneyland-nya lucu banget! Jendelanya berbentuk kepala Mickey Mouse, dan interior keretanya juga terasa Disney banget. Begitu sampe stasiun Disneyland, tinggal ikut aja ke mana orang lain pada melangkah… Nggak lama kita akan disambut gate besar yang bertuliskan, “Welcome to Disneyland”.

Lagi-lagi, baru sampe pintu masuk aja udah banyak spot bagus buat foto-foto. Tapi tahan diri… kelamaan foto-foto nanti malah nggak sempet nyobain semua wahananya! Hal pertama yang harus dilakukan setelah beli tiket dan masuk ke dalam Disneyland adalah minta guide map dan juga times guide, semacam jadwal pertunjukan di sana. Sekedar foto bareng sama badut Mickey Mouse pun ada jadwalnya lho. Dan supaya nggak rugi, jangan sampe ketinggalan nonton show Festival of The Lion King, The Golden Mickey, street parade, dan pastinya, pertunjukan kembang api di malam hari.

Selama di sana, gue sempat mencoba semua wahana yang gue inginkan. Kalaupun ada yang terlewat ya karena gue emang nggak kepengen nyobain wahana yang gue anggap biasa banget itu (misalnya flying dumbo dan mad tea cups). Sepertinya mengunjungi Disneyland pada hari kerja di bulan April itu emang waktu yang strategis ya… Selain karena sudah lewat musim dingin tapi belum masuk ke musim panas, suasana theme park juga nggak seramai yang gue kira. Buktinya, kita sempat mencoba semua yang ingin kita coba. Dan berikut ini daftar atraksi yang menurut gue sangat-sangat WAJIB untuk dicoba:

Space Mountain

Space Mountain ini roller coaster indoor yang seru banget! Track-nya enggak gitu serem, enggak ada tuh lintasan 360 derajat yang bikin posisi kepala kita jadi di bawah… Trus pemandangan di dalemnya itu bagus banget! Rasanya kayak lagi terbang di antara bintang-bintang. Gue naik ini sampe dua kali, dan dua temen gue, mereka naik ini sampe 4 kali!

Mickey’s PhillarMagic

Yang ini bener-bener pertunjukan 3D yang paling keren yang pernah gue saksikan. Efek 3D-nya itu terasa banget! Misalnya waktu ceritanya kita ngikutin Aladdin naik karpet terbang… Waktu karpetnya menukik turun, rasanya kita kayak ikut turun beneran! Saat ada barang-barang yang dilempar juga rasanya kayak udah persis di depan muka kita. Beda jauh lah sama bioskop 3D di Indonesia. Dan yang paling unik, saat ada banyak makanan di layar, maka akan tercium wangi kue! Kemudian saat ada adegan yang melibatkan air, maka akan ada percikan air betulan! It was so entertaining!

The Many Adventures of Winnie The Pooh

Di wahana ini kita naik ke atas semacam kereta mengelilingi boneka The Pooh dan kawan-kawan yang ceritanya, mereka sedang heboh mencari pencuri madu. Naik wahana ini menyenangkan karena mereka (Pooh dan kawan-kawan) kelihatan lucu banget! Nuansanya tuh mewah, serasa melihat dari dekat isi rumahnya si Winnie The Pooh.

Stitch Encounter

Awalnya gue agak bingung… ini pertunjukan apa sih? Dibilang live show, tapi kok nggak ada panggung. Adanya cuma layar berukuran besar sama satu orang MC di depan layar. Saat show dimulai, MC itu berinteraksi dengan Stitch di layar kaca. Tadinya gue kira, suara Stitch itu cuma rekaman. Tapi ternyata, suara Stitch itu suara orang secara langsung loh. Jadi bukan cuma sekedar interaksi antara MC dengan Stitch, tapi juga interaksi Stitch dengan penonton. Ada banyak jokes yang dilempar oleh Stitch yang bisa banget bikin kita ketawa. Tapi untuk bisa menikmati show ini, kita harus jago Bahasa Inggris! Akan sulit memahami isi leluconnya kalo kita enggak pandai berbahasa Inggris. Dan bisa tambah gawat kalo kita dipilih oleh Stitch untuk ngobrol langsung sama dia!

Tarzan Tree House

Ceritanya, kita akan naik rakit menuju rumah pohonnya Tarzan. Gue agak kecewa sih, sama rakitnya. Itu rakit cuma nyebrang ke depan dikit, langsung sampe ke rumahnya Tarzan. Tapi kalo rumah pohonnya itu sendiri sih keren banget! Rasanya kayak naik ke rumah pohon beneran. Sempet ngelewatin air terjun dan juga jembatan untuk sampai ke rumahnya Tarzan. Sayangnya begitu sampai di atas, kita nggak boleh bener-bener masuk ke dalam ruangan. Kita cuma bisa lihat dari luar jendela aja. Yang lucu itu, di atas ada pegawai Disneyland yang meminjamkan pigura kertas untuk kita foto-foto. Dan hasil fotonya tuh jadi lucu banget! Pokoknya rumah pohon Tarzan ini salah satu tempat yang pas banget buat berfoto ria.

Jungle River Cruise

Kalo yang satu ini, kita benar-benar diajak untuk berkeliling sungai. Dan ternyata di dalam sana bukan cuma sungai biasa! Kita dibawa mengelilingi lembah, kawanan gajah yang bisa sewaktu-waktu nyemprotin air dari belalainya, sampai melewati sarang perompak segala! Yang keren, ceritanya kita diserang sama perompak dan saat ada api, di atas air muncul kobaran api yang beneran terasa panas!

Selain 6 wahana di atas, masih ada banyak lagi wahana yang bisa kita coba. Tapi kalo menurut gue, wahana-wahana lainnya itu nggak jauh beda sama wahana di Dufan. Kalo ada waktu lebih, bolehlah tetep dicoba.

Waktu di sana gue nggak sempet nonton show-nya Lion King karena keasyikan belanja. Nggak juga nonton show Mickey Mouse karena kebetulan waktu itu show-nya sedang tutup. Nonton show High School Musical dan street parade juga cuma sebentar, soalnya temen-temen gue nggak gitu suka nonton pertunjukan sih. Untunglah waktu street parade gue masih sempet ngambil banyak foto kereta-kereta parade yang lucu-lucu banget!

Sleeping Beauty Castle at Night

Gue akui Disneyland akan terasa lebih menyenangkan buat orang-orang yang banci foto. Selain ada banyak badut mulai dari Mickey Mouse, The Pooh, sampe Rapunzel, sekedar eksterior tokonya aja tuh udah bagus banget buat foto-foto. Selain itu, toko di sana banyak menjual souvenir Disney yang lucu-lucu banget! Gue menghabiskan waktu 2 jam hanya untuk acara belanja. Keluar dari toko, gue bawa dua kantong plastik berisi belanjaan gue, hehehehe. Untuk detail dari belanja di Disneyland, tunggu posting gue yang khusus membahas acara shopping selama di Hongkong.

Oh ya, kalau main ke Disneyland, jangan pernah pulang sebelum melihat pertunjukan kembang apinya. Perpaduan antara kembang api di atas istana, permainan lampu, dan juga iringan musik yang merdu bikin pertunjukan kembang api di sana jadi lain dengan yang lain. Rugi banget kalo udah sampe Disneyland tapi melewatkan pertunjukan kembang apinya.

Overall gue sangat-sangat menikmati Disneyland. Tempat ini salah satu tempat wisata yang saat sedang bersenang-senang di sana, gue langsung berbisik begini di dalam hati, “Kelak gue harus ke sini lagi sama keluarga gue. They also have to enjoy this place!”

Well, hope someday I could go back to Disneyland and bring my family along with me 🙂

One Day Going Around Beautiful Macau

Kalo pengen ke Hongkong, bakal mubazir banget kalo enggak sekalian mampir ke Macau. Dalam perjalanan gue kemarin, gue terlebih dahulu mengunjungi Macau (naik pesawat dari KL menuju Macau), keliling kota seharian penuh, baru malam harinya, kita naik night ferry menuju Hongkong.

Macau emang identik dengan tempat main judi. Suasana kasino di negara kecil ini jauh lebih mewah daripada kasino di Genting Highland. Gue jelas enggak ikutan main judi selama di Macau. Tapi gue sempet masuk ke dalam gedung kasino buat foto-foto dan sekedar ngelihat kayak gimana bagian dalam kasino alas Las Vegas itu.

Kasino-kasino di Macau memang terkenal bagus buat jadi tempat foto-foto. Eksterior dan interiornya kelihatan sangat cantik, mewah, dan menawan. Nggak heran kalo Macau sering jadi pilihan untuk lokasi foto pre-wedding. Bicara soal foto-foto, boleh aja ambil foto di lobi kasino, tapi, begitu masuk ke tempat main judinya, biasanya kita dilarang buat ambil gambar.

Selain judi, boleh dibilang nyaris nggak ada aktivitas lain yang bisa kita lakukan selama di Macau. Selama di sana, aktivitas gue cuma sighseeing, naik gondola di The Venetian, foto-foto, dan belanja oleh-oleh cemilan khas Macau. Sebenernya ada beberapa aktivitas menarik di Macau Tower, seperti bungee jumping dan sky-walking. Sempet tergoda pengen nyobain sky-walking, tapi nggak kesampean karena kita batal mengunjungi Macau Tower karena udah keburu frustasi sempat nyasar agak lama di negara itu.

Begitu keluar dari pesawat yang baru saja mendarat di Macau airport, gue dan terman-teman langsung disambut dinginnya udara Macau hari itu. Nggak sia-sia gue udah nyiapin syal buat dipakai selama di Macau, karena menurut perkiraan cuaca yang gue lihat di internet, suhu Macau hari itu berkisar antara 10-15 derajat celcius. Tips buat traveler lainnya, membaca perkiraan cuaca adalah sangat penting untuk dilakukan sebelum kita pergi berkunjung ke suatu negara, supaya nggak salah kostum! Indonesia bisa aja panas setengah mati, tapi negara lain bisa jadi masih mengharuskan kita mengenakan baju hangat.

Tadinya, kita berencana menggunakan jasa travel agent untuk pergi berkeliling Macau. Tapi di bandara, kita sempat kenalan sama TKI yang udah lama menetap di sana. Dia bilang, pakai travel agent cuma buang-buang uang. Lebih baik kita memanfaatkan fasilitas shuttle bus gratis yang banyak disediakan oleh hotel dan kasino papan atas di Macau. Terus gue tanya, bagaimana dengan barang-barang bawaan kita? Dengan entengnya Mbak itu menjawab, “Setiap kasino pasti nyediain penitipan barang, gratis!”

Kita pun tergoda buat pergi keliling Macau hanya dengan modal peta dan sedikit petunjuk dari TKIitu. Maka keluar dari bandara, kita langsung mencari bis gratis, dan berhasil menemukan bis menuju The Venetian, salah satu tempat yang ada di dalam daftar perjalanan gue.

Gondola @ Venetian Resort

The Venetian ini terdiri dari hotel, kasino, dan juga pusat perbelanjaan. Saran gue, meskipun kalian enggak berniat main judi, belanja, atau nginep di The Venetian, kalian tetap harus mengunjungi tempat ini kalau sedang berlibur di Macau. Suasana The Venetian ini Italia banget. Bener-bener surga buat banci foto kayak gue ini. Kalaupun nggak suka foto-foto, sekedar jalan-jalan dan menikmati cantiknya tempat ini udah lumayan menyenangkan kok.

Sesampainya di The Venetian, kita langsung dengan pedenya masuk ke lobi gedung. Nggak perlu cari lama, kita bisa langsung menemukan antrian turis yang ingin menitipkan koper-kopernya. Setelah itu, karena sudah kehausan dan enggak tau harus beli minuman ke mana, temen-temen gue mengikuti saran TKI di bandara tadi: setiap kasino pasti menyediakan minuman gratis.

Setelah ngembat tiga botol air mineral, kita langsung mengikuti papan petunjuk menuju The Grand Canal Shoppes alias mall di dalam The Venetian. Saat tiba di The Grand Canal Shoppes inilah baru kita benar-benar terasa seperti sedang berada di kota Venesia: bangunan khas Italia dengan sungai buatan lengkap dengan gondola dan pengayuhnya.

Mumpung udah sampe sana, kita relakan bayar cukup mahal hanya untuk naik gondola satu putaran. Saat gondola mulai dikayuh, kita melihat ada banyak koin di dalam kolam. Dan pengayuhnya bercerita… kalau kita make a wish sebelum melempar koin, maka permintaan kita itu akan terkabul, dan, kelak kita akan kembali lagi ke tempat itu. Hohohoho, bahkan mitosnya pun sangat indetik dengan mitos ala Italia. Sekedar iseng, gue dan Puja ikut-ikutan melempar koin. Bukan berarti gue percaya takhayul atau musyrik… It was a holiday and I did it just for fun! Lalu, apa iya wishes gue saat itu terkabul? Dan apa iya kelak gue akan kembali lagi ke Macau? Well, let us see later!

Setelah puas foto-foto di The Venetian, kita mulai beranjak menuju Senado Square, semacam kumpulan ruko dengan nuansa yang Portugal banget. Jadi Macau ini dulunya daerah jajahan Portugis, sehingga jangan heran kalau di sana ada banyak nama jalan dalam bahasa Portugis.

Sekedar sharing, kita sempat kesulitan saat membaca rute bis di Macau. Kita udah coba ambil bis dengan nomor yang menurut tourist map akan membawa kita menuju Senado Square. Tapi ternyata kita malah nyasar entah ke mana. Akhirnya karena udah bingung mau gimana lagi, kita terpaksa stop taksi dan minta diantar ke Senado Square.

Oh ya, penduduk Macau itu tidak pandai berbahasa Inggris. Dan yang gue maksud dengan tidak pandai berbahasa Inggris itu benar-benar tidak pandai sama sekali. Waktu gue bilang “thank you” sama si supir taksi, dia diam saja. Tapi waktu temen gue bilang ”xie xie”, supir taksi itu langsung tersenyum, manggut-manggut, sambil mengacungkan jempol tangan kanannya… Makanya, kalo sampe nyasar di Macau, lebih baik tanya ke sesama turis asing, atau cari orang yang kelihatan masih muda aja. Dan satu lagi, punya tourist map itu wajib hukumnya! Jadi kalo mau tanya jalan atau memberi petunjuk ke supir taksi, tinggal tunjukkan saja gambar yang ada di tourist map itu.

Lagi-lagi Senado Square ini tempat yang bagus buat foto-foto. Tempat yang tepat pula untuk mencari makanan. Buat yang nggak berani makan aneh-aneh, di Senado Square ada McD… Gue nggak berani bilang McD itu halal. Yang jelas di sana, ada menu ayam yang bisa gue pesan. Gue nggak berani deh, masuk ke restoran yang tidak mencantumkan nama menu dalam bahasa Inggris.

Setelah makan siang di McD, kita beranjak menuju reruntuhan Gereja St. Paul. Sepanjang perjalanan menuju St. Paul, kita disuguhi pemandangan pertokoan yang beda banget dengan suasana di Indonesia. Selalu ada aja spot yang bagus buat foto-foto. Oh ya, St. Paul ini letaknya berdekatan dengan Senado Square. Kita tinggal jalan kaki mengikuti papan petunjuk yang ada di sana. Kalopun kita sempat kehilangan arah, lagi-lagi, tinggal tunjukan saja gambar St. Paul yang ada di tourist map. Meskipun nggak bisa Bahasa Inggris, mereka akan menunjukkan jalan menggunakan jari telunjuk.

Ruin of St. Paul Church

Dari reruntuhan St. Paul, ikuti jalan ke atas menuju benteng kuno sisa penjajahan bangsa Portugis. Pemandangan alam di sana cantik banget! Jadi nggak gitu terasa capek naik-naik tangga untuk sampai ke atas benteng. Tapi sebenernya kalo males naik-naik tangga, kita bisa naik eskalator di Museu De Macau, kemudian begitu sampai lantai paling atas, langsung cari pintu keluar ke arah benteng kuno.

Setelah mengunjungi St. Paul dan benteng kuno, gue sempatkan belanja oleh-oleh di pasar yang kita lewati saat berjalan menuju St. Paul. Mulai dari snack khas Macau sampai souvenir, semuanya lengkap tersedia di sini. Dan pastinya, jangan lupa cobain egg tart khas Macau yang rasanya enak banget! Oh ya, buat teman-teman sesama muslim, hati-hati ya, kalo belanja makanan di sini. Gue sempet beli egg roll (sejenis kue semprong) yang ternyata mengandung lemak babi! Udah gitu penjual di sana kayaknya nggak ngerti kalo gue (yang pake jilbab ini) nggak boleh makan olahan babi dalam bentuk apapun. Mereka cuek aja menyodorkan ke gue tester kue yang ternyata mengandung lemak babi tersebut… Sigh…

Selain The Venetian, The Grand Lisboa juga terkenal dengan kecantikan arsitekturnya. Kita bisa sampe ke sana hanya dengan berjalan kaki dari Senado Square. Tadinya, kita berniat numpang bis Grand Lisboa menuju bandara, terus dari bandara naik lagi bis ke The Venetian (Macau itu kecil, jarak antara pusat kota ke bandara itu sangat dekat bila dibandingkan negara lain pada umumnya). Sayangnya, gue lihat di Grand Lisboa, semua orang harus menunjukan semacam karcis supaya bisa naik ke dalam bis. Jadi ya sudah, kita terpaksa naik taksi lagi menuju The Venetian (koper-koper kita masih ada di Venetian).

Setelah mengambil koper-koper di Venetian, kita langsung berjalan kaki menyusuri gedung itu menuju West Lobby, tempat di mana kita bisa menemukan bis gratis menuju terminal ferry. Yup, sudah waktunya kita beranjak menuju Hongkong.

Sampai di terminal ferry, enggak usah bingung… Di sana akan ada orang yang menanyakan apakah kita sudah punya tiket untuk naik ferry. Percaya aja sama orang itu dan ikuti ke mana dia melangkah… Dia akan membawa kita menuju loket resmi penjualan tiket. Setelah beli tiket, tinggal ikuti petunjuk jalan yang ada di sana. Dan pastinya, kita harus terlebih dahulu melewati imigrasi Macau sebelum masuk ke ruang tunggu ferry.

Kalo gue baca di internet, seharusnya ada extra charge untuk koper yang kita bawa. Tapi ternyata, kita bisa bebas membawa koper-koper itu ke atas ferry tanpa dikenakan biaya tambahan. Di dalam ferry, sudah ada ruangan kecil khusus untuk menyimpan barang bawaan kita yang berukuran besar. Taruh saja koper-koper di ruangan itu tanpa perlu disuruh oleh petugasnya.

Overall, kecuali bagian nyasarnya, gue cukup menikmati jalan-jalan di Macau. Pemandangan kota yang sama tidak akan pernah kita temukan di Hongkong. Gue juga suka sama penduduk asli sana. Meskipun tidak bisa bahasa Inggris, mereka akan sekuat tenaga berusaha menolong kita yang sedang nyasar. Sempat ada bapak-bapak di sana yang dengan baik hatinya menuliskan huruf Cina di atas kertas untuk ditunjukkan kepada supir bis, supaya kita bisa sampai di tempat tujuan. Tapi tetap saja, pada akhirnya kita tetap lebih memilih naik taksi, supaya bisa langsung sampe ke tempat tujuan.

Tips buat yang kepingin naik bis umum di Macau… siapkan uang pas sebelum naik bis. Di setiap halte bis, ada daftar rute bis lengkap dengan harga yang harus kita bayar. Saat naik bis, langsung masukkan uang koin ke kotak yang tersedia di sebelah supir. Nah, kalau sampai kita enggak punya uang pas, jangan harap bakal dikasih uang kembalian!

Dua hal yang terlewat pada kunjungan pertama gue ke Macau itu adalah Macau Tower dan pertunjukan The House of Water Dancing. Teman-teman gue nggak mau nonton karena harga tiketnya yang mahal banget. Tadinya gue mau nonton sendiri, tapi gue agak khawatir mereka bakalan nyasar kalo gue tinggal sebentar untuk nonton pertunjukan itu. Well, kalo mitos koin di Venetian itu benar, maka di kunjungan berikutntya, gue nggak akan lagi melewatkan Macau Tower dan water dancing itu. See you later Macau!

Hotel & Transportasi di Kuala Lumpur

Tips untuk hotel di KL:

  1. Harga hotel di Malasyia relatif murah, terutama di Tune Hotel. Kalo lagi promo, price per night di Tune Hotel bisa cuma 1 ringgit aja! Tapi itu baru tempat tidurnya aja loh yaa. Kalo mau tambah AC, tv, akses internet, dan breakfast, harus bayar lagi;
  2. Kalo pengen cari hotel bandara dan punya budget lebih, gue merekomendasikan Pan Pacific. Hotel inilah yang paling dekat dengan KLIA dan LCCT (dua bandara di KL). Ada layanan shuttle bus gratis, bahkan katanya, kita bisa check-in di bandara sekalian nunggu barang-barang kita keluar dari bagasi pesawat. Tapi sayangnya, shuttle bus gratisan dari hotel ini tidak beroperasi 24 jam. Jadi kurang strategis buat yang ngejar penerbangan dini hari;
  3. Kalo tujuan utama kalian untuk belanja di KL, pilih hotel di daerah Bukit Bintang. Di kawasan ini ada BB Plaza, Sungai Wang Plaza, dan juga cukup dekat dengan Suria KLCC. Harga hotel di kawasan ini relatif lebih mahal, tapi hotel yang harganya murah meriah juga masih ada kok;
  4. Solusi lain buat traveler yang harus mengejar early flight, cari aja hotel di kawasan KL Sentral. Dari terminal Sentral ada bis-bis bandara yang beroperasi 24 jam. Harga bisnya juga murah kok, cuma 8-10 ringgit untuk sekali jalan. Jadi buat traveler on budget, lebih baik cari hotel murah di KL Sentral lalu untuk pergi ke bandara tinggal jalan kaki menuju terminal. Dengan cara ini jatuhnya bisa lebih murah daripada nginep di hotel manapun yang dekat bandara; dan
  5. Gue sangat merekomendasikan hotel gue selama di Malasyia buat teman-teman yang ingin liburan dengan budget terbatas. Namanya My Hotel, terletak enggak jauh dari terminal bis di KL Sentral. Hotelnya murah tapi nggak kelihatan murahan, stafnya ramah, kamarnya bersih (walaupun linen-nya nggak sekinclong hotel berbintang), dan kamar yang gue dapet bebas bau (termasuk bau asap rokok) dan bebas serangga (baca: nyamuk dan kecoa). Breakfast dari hotel ini juga lumayan… Kita dikasih voucher sarapan di café yang terletak persis di sebelah hotel.

Tips untuk transportasi di KL:

  1. Ada dua jenis bandara di KL: KLIA dan LCCT. LCCT ini bandara khusus penerbangan murah. Jadi kalo kalian pergi naik Air Asia, udah pasti adanya di LCCT. Jadi kalau nanti cari bis menuju bandara, lihat-lihat dulu, itu bis menuju KLIA atau LCCT? Kalopun nggak sengaja nyasar di bandara yang salah, di masing-masing bandara tersedia shuttle bus menuju satu bandara lainnya itu;
  2. Begitu keluar dari bagian inspeksi bea cukai di bandara, langsung cari loket yang menjual tiket bis. Katanya siih, beli tiket di loket harganya lebih murah daripada bayar langsung di dalam bis. Setelah beli tiket, tinggal jalan kaki menuju terminal bis bandara. Tanya aja sama penjual tiket kita harus jalan ke arah mana. Sesampainya di terminal bis, akan ada banyak petugas operator bis yang meneriakkan nama bisnya. Kita tinggal tunjukkan tiket bis kepada mereka untuk memastikan kita sudah naik bis yang benar;
  3. Biasanya petugas di loket bis akan menawarkan tiket round-trip dengan harga yang lebih murah daripada beli satuan. Tapi tips gue buat traveler yang mengejar early flight, lebih baik beli one way aja. Karena pada saat kita pulang nanti, belum tentu bis yang sudah kita beli tiketnya sedang stand-by pada waktu kita tiba di terminal. Dan perlu dicatat, tidak semua jenis bis beroperasi 24 jam;
  4. Ada beberapa tempat seperti bandara, terminal Sentral, stasiun Sentral dan masih banyak lagi, yang mengharuskan kita membeli voucher taksi alias tidak bisa bayar cash langsung ke supirnya. Jadi kita tinggal cari aja papan petunjuk menuju loket buat beli voucher taksi. Nanti di depan loket, tinggal bilang sama kasirnya alamat detail yang ingin kita tuju. Abis itu kita tinggal keluar dan menyerahkan voucher taksi kepada pengemudinya;
  5. Kalo kita stop taksi di pinggir jalan, hampir bisa dipastikan mereka tidak akan menggunakan argonya. Makanya sebelum pergi, cari info dulu berapa harga taksi yang sewajarnya untuk jarak yang akan kita tempuh. Dan pastinya jangan ragu untuk menawar harga!
  6. Naik monorail di Malasyia jauh lebih murah daripada naik taksi. Nggak usah takut nyasar… Peta rute Monorail mereka jelas banget kok. Sama kayak bis TransJ di Indonesia, monorail mereka juga terdiri dari beberapa koridor. Jadi bisa aja untuk sampai ke suatu tempat, kita harus transit untuk ganti kereta. Oh ya, monorail di sana bersih, dan full AC. Selain itu menurut pengalaman gue, kita justru akan bebas nyasar kalo naik kereta daripada naik bis umum. Yang penting begitu sampe stasiun kereta, langsung minta peta ukuran kecilnya;
  7. Sistem pembayaran monorail yang gue pilih selama di KL itu sistem beli one way ticket. Jadi setiap mau naik monorail, gue harus ngantri dulu buat beli tiketnya. Harga tiket tertera di atas jendela loket. Makin jauh stasiun yang kita tuju, makin mahal pula harga tiketnya. Oh iya, kalo kita sampe harus transit, maka di stasiun berikutnya kita harus ngantri tiket dan bayar lagi yaa. Kayaknya cuma busway di Indonesia doang yang mau transit berapa kalipun harganya tetep sama, hehehehehe; dan
  8. Satu orang harus beli satu tiket terpisah (tiket dalam bentuk kartu) yang dipegang sendiri-sendiri. Lalu sebelum masuk, lebih baik lihat dulu cara orang-orang di sana memasukan tiketnya di depan palang. Modelnya agak beda sama busway di Indo yang setelah kartunya masuk tidak akan keluar lagi. Karena kalo di monorail KL, kartu yang udah kita masukkan itu akan keluar lagi. Setelah keluar, ambil kartunya, berjalan melewati palangnya, dan simpan kartu itu baik-baik. Nanti saat hendak keluar dari stasiun tujuan, masukkan lagi kartu itu dan kali ini, kartu itu tidak akan keluar lagi.

Berlibur di Malasyia

Awalnya gue agak-agak males liburan ke Malasyia. Denger-denger, penduduk sana benci banget sama orang Indonesia. Konon katanya, bahkan supir taksi dan tour guide di sana berani melecehkan turis dari Indonesia! Tapi berhubung tiket gue mengharuskan transit di Malasyia, ya apa boleh buat… Daripada bengong dua hari ya mending sekalian jalan-jalan!

Lalu apa benar, penduduk di Malasyia itu sama kurang ajarnya dengan isu yang banyak beredar di Indonesia? Belum sampai setengah hari tiba di Kuala Lumpur, gue langsung bikin status begini di Facebook gue, “So far penduduk Malasyia sopan & ramah meskipun mereka tau gue orang Indo… Sama sekali nggak kayak dugaan gue sebelumnya.”

Dan sampai gue menghabiskan 3 malam di Malasyia pun, gue tetap memiliki kesimpulan yang sama. Selama di sana gue dua kali naik taksi, dan dua-duanya ramah banget sama gue dan dua orang teman gue. Kita bisa asyik bercanda seolah udah lama kenal. Selain itu selama di Malasyia, kita bertiga cukup sering nyasar sehingga harus sering-sering nanyain petunjuk jalan ke penduduk sana. Dan ternyata, semua orang yang kita tanyakan pentunjuk jalan selalu menjawab pertanyaan kita dengan ramah! Malah waktu pertama kali kita naik monorail, petugas di sana dengan baik hatinya menjelaskan rute monorail, sistem transit, dan sistem ticketing mereka.

Hari pertama di Malasyia, gue dan teman-teman langsung pergi menuju Petronas. Tapi ternyata di tengah jalan, akan lebih efisien kalo kita mampir dulu di BB Plaza dan Sungai Wang Plaza. Dua shopping mall itu emang udah masuk ke dalam daftar perjalanan gue. Tujuan utama ke BB Plaza karena gue dan Natalia kepengen beli parfum Avon, merk yang udah lama bangkrut di Indonesia. Kemudian di Sungai Wang, gue kepengen belanja oleh-oleh. Katanya sih, barang-barang di sana terkenal murah. Sayangnya waktu di Sungai Wang, temen-temen udah nggak sabar kepengen cabut. Maklum, hari itu kita masih punya agenda ke Petronas, Batu Caves, dan Masjid Jamek. Jadilah di Sungai Wang gue cuma beli 2 t-shirt lucu selevel Joger yang in total harganya nggak sampe 50 ringgit (Rp. 145.000).

Abis dari BB Plaza dan Sungai Wang (dua mall ini terhubung satu sama lainnya), kita lanjut naik monorail menuju Petronas. Sampe sana, gue yang terobsesi foto bareng the twin towers sampe ke ujung-ujungnya mulai cari cara supaya bisa bikin foto sesuai keinginan. Beberapa menit berusaha ngambil foto dari depan Petronas tapi gagal terus! Bisa sih… ambil foto tower-nya sampe atas, tapi gue-nya nggak kelihatan! Akhirnya kita pindah ke bagian belakangan gedung, dan coba lagi foto dari belakang. Ternyata hasilnya sama aja. Paling mentok gue cuma kelihatan keciiil banget. Itupun udah dalam keadaan muka super gosong! Baru kemudian gue tahu… Waktu di awal gue udah bener ngambil foto dari depan Petronas. Tapi sayangnya, waktu itu di sana lagi ada panggung berukuran besar yang bikin gue nggak bisa mundur untuk ngambil foto. Yaah, gugur deh cita-cita gue masang profil picture di depan Petronas, hehehehe.

Selain foto-foto, gue dan temen-temen sempat belanja oleh-oleh di Suria KLCC, shopping mall yang terletak di dalam twin towers. Beda dengan BB Plaza dan Sungai Wang, Suria KLCC punya konsep mall kelas atas dengan berbagai toko branded di dalamnya. Kalo di Indonesia sini selevel sama Pacific Place atau Senayan City kali yaah… Walau sorry to say, secara interior, Pacific Place masih lebih unggul daripada Suria KLCC. Waktu belanja di Suria KLCC itu, gue dan temen-temen lebih prefer belanja di booth kecil yang berjejeran di tengah-tengah lorong mall itu. Ada banyak aksesoris lucu yang menurut pengamatan gue, punya kualitas di atas rata-rata, dengan harga yang relatif murah. Di sana gue beli tiga bros ukuran besar seharga in total 50 ringgit, yang kalo gue beli barang sejenis di Centro atau Metro, harga satuannya pasti di atas seratus ribu rupiah. Bros-bros yang gue beli itu kemudian dikemas dalam kotak cantik yang terpisah, kemudian dikemas lagi dalam kantong jala yang berpita… Kemasan bros ini bener-bener bikin oleh-oleh yang satu ini kelihatan mewah dan mahal banget, hehehehe.

Selanjutnya kita pergi naik taksi menuju Batu Caves, pulang-pergi (naik satu taksi yang sama), kita bayar in total 60 ringgit. Kenapa naik taksi? Soalnya monorail nggak sampe ke sana dan kita terlalu cupu untuk berani naik bis umum, hehehehe. Oh iya, batu Caves ini adalah kuil umat Hindu India yang terkenal dengan patung dewa tertinggi di dunia. Dan buat sampe ke atas kuilnya… kita harus terlebih dahulu mendaki lebih dari 200 anak tangga!

Gue baca di website lain, gua besar di Batu Caves itu bau banget, dan banyak monyetnya pula. Tapi waktu gue ke sana, gue nggak mencium bau aneh dan nggak juga melihat monyet satu ekor pun. Hmm, apa karena lagi turun hujan lantas monyet-monyet itu pada ngumpet?

Untuk lihat bagusnya gua di Batu Caves, masuk dan naik terus sampe bagian gua yang paling dalam. Selain itu menyaksikan ritual sembahyang umat Hindu di sana juga lumayan menarik. Dan uniknya, turis yang bukan penganut Hindu pun boleh ikut dalam ritual ibadah mereka.

Tujuan terakhir gue di Malasyia adalah Genting Highland. Bukan mau main judi loh yaa, kita cuma pengen mengunjungi taman bermainnya aja. Tadinya kita berencana pergi ke Genting naik bis, yang dilanjutkan naik cable car sampai atas. Tapi karena sudah kehabisan tiket bis, jadilah kita naik taksi… Supir taksi buka harga 90 ringgit, berhasil ditawar cuma sampe 85 ringgit. Sebenernya sih bisa aja kita naik taksi sampe ke atas. Tapi kayaknya belum lengkap pergi ke Genting kalo nggak sekalian nyobain cable car-nya. Pemandangannya bagus, dan makin ke atas makin tertutup kabut sampe akhirnya yang terlihat di luar jendela cuma kabutnya aja! Oh ya, jadi waktu itu kita diantar supir taksi cuma sampe stasiun cable car-nya aja. Begitu sampai di atas, kita tinggal ikuti papan petunjuk menuju Genting Theme Park.

Genting Theme Park dibagi menjadi taman bermain indoor dan taman bermain outdoor. Tiket untuk kedua taman bermain ini dijual terpisah, dan tips dari gue, sebelum beli tiket untuk taman bermain outdoor, lihat-lihat dulu cuaca di luar sana. Genting itu sering banget turun hujan… dan bener aja, selama di sana gue cuma sempet main di indoor theme park-nya doang. Secara konsep, Genting nggak bagus-bagus banget kalo menurut gue. Apalagi taman bermain indoor-nya… aduh, pilihan wahananya cupu-cupu banget. Bener-bener mirip taman bermain yang suka ada di mall-mall Jakarta gitu deh. Taman bermain indoor Genting itu lebih cocok buat anak-anak kalo menurut gue. Selama di sana gue cuma nyobain 3 wahana. Yang satu kereta-keretaan tapi jalannya di langit-langit, abis itu naik bumper car (yang lumayan sukses bikin gue ketawa-tawa), lalu yang terakhir gue nonton pertujunkan 4D. Bumper car sih sama aja lah ya, kayak bumper car di Dufan. Arena di Dufan malah lebih luas daripada di Genting itu. Pertunjukan 4D-nya juga nggak gitu berkesan banget kalo buat gue. Meskipun bangkunya ikut bergerak, efek 4D-nya tetap kurang terasa. Masih lebih seru 3D show di Disneyland: bangkunya tetap diam tapi rasanya kita kayak ikut meluncur turun dan seolah benar-benar masuk ke dalam layar.

Di indoor theme park itu ada juga The Snow World (tempat salju buatan), rumah hantu, dan museum Ripley. Untuk menikmati tiga wahana itu, kita harus bayar lagi. Kayaknya sih menarik, tapi sayang gue nggak sempet nyobain ketiga wahana tambahan itu. Mungkin lain kali, kalo gue balik lagi berlibur di Malasyia. Selain itu, kalo nanti balik lagi ke Malasyia, gue mau pergi ke Sunway Lagoon (theme park yang juga punya kolam renang ala Waterboom), dan kepengen menghabiskan lebih banyak waktu buat belanja di sana. Dan pastinya, harus coba sekali lagi, ambil foto gue di depan Petronas, hehehehe.

One of My Dreams is About to Come True

Sejak pertama kali tahu di dunia ini ada Disneyland dan Dinsney World… gue langsung mupeng. Gue pengen banget ke sana… Amusement park dalam nuansa Disney pastinya imut-imut dan lucu banget! Dalam pikiran gue yang waktu itu masih anak-anak… Di sana itu ada istana Cinderella, ada badut Mickey Mouse, ada rumahnya Winnie the Pooh! Gue yang waktu SD rajin banget beli majalah Donal Bebek jelas kepingin banget menginjakkan kaki ke taman bermain itu.

Awalnya setahu gue, Disneyland paling dekat itu adanya di Jepang: negara dengan living cost yang sangat tinggi. Makanya dulu gue pikir, bakalan masih lama banget baru gue bisa sampe ke Disneyland Jepang. Sampai kemudian beberapa tahun yang lalu, gue dengar Disneyland baru aja buka cabang di Hongkong! Then soon I knew that after I grew up, I would go to Disneyland Hongkong.

Alhamdulillah satu tahun yang lalu, gue berhasil dapet tiket murah buat pergi ke Hongkong via Malasyia dan Macau. Jadi gue terbang ke KL, nginep satu malam di sana, abis itu gue terbang ke Macau, jalan-jalan dulu seharian penuh di sana, baru malam harinya, gue naik ferry menuju Hongkong. Kemudian di hari ke enam, gue naik pesawat dari Hongkong menuju KL, nginep lagi 2 malem di KL, baru di hari terakhir kita naik pesawat pulang ke Jakarta.

Tadinya gue berencana nginep di hotel Disney yang terkenal lucu banget itu… Pengen juga main di Disneyland dua hari berturut-turut… Tapi berhubung gue nggak pergi sendiri dan harus mendengarkan pendapat teman-teman gue, jadi ya sudah, semoga satu hari di Disney udah cukup buat gue nanti. Soal nginep di hotelnya… well, I simply think that it’s not gonna be the last time I visit Hongkong. Kalo someday gue udah punya anak, pastilah nanti gue kepengen bawa anak gue main di Disneyland. Nah, buat liburan keluarga nanti, gue maunya nginep di hotel Disney dan main ke tamannya dua hari berturut-turut, hehehehe.

Dua hari lagi gue berangkat ke Malasyia untuk mewujudkan impian gue semasa kecil: main di Disneyland dan belanja souvenir sebanyak-banyaknya (soal belanja souvenir ini gue sampe dua kali kebawa mimpi loh, hehehehe). Thank God untuk tahun ini, satu lagi tempat berlibur impian gue akan berhasil gue kunjungi. Semoga semuanya lancar, bisa tiba di sana dan kembali lagi ke Jakarta dengan selamat.

Well, for all of my blog readers, nantikan cerita seru liburan gue di blog ini yaa! I will be off posting my blog for the next 10 days but I promise you, as soon as I return, I will share you all tips and experiences regarding this trip. Happy holiday for me then, hehehe.

Last Day at EY

Akhirnya… setelah tertunda satu tahun lamanya, hari ini udah hari terakhir gue kerja di EY. Kadang rasanya masih nggak nyangka, akhirnya gue berani resign dari EY… Padahal gue belum dapet kerjaan baru loh. Terus gimana, rasanya resign dari EY?

Well… jujur semenjak seminggu yang lalu, mulai terasa sedihnya mau ninggalin EY. Tiba-tiba seminggu yang lalu, waktu mau tidur gue terbayang sama gedung BEJ lantai 5 di zone 2 (tempat gue dan teman-teman biasa duduk kalo lagi di kantor). Gue ngebayangin gue keluar dari lift di lantai 5, nempelin id card ke alat sensor di depan pintu masuk, masukkin password supaya pintunya bisa dibuka, kemudian melangkah masuk menuju zone 2… ngelewatin booth manajer-manajer gue (yang biasa diiringi deg-degan kalo gue datengnya kelewat siang), sampai akhirnya celingak-celinguk di zone 2 nyari tempat duduk yang masih kosong.

Terus tiba-tiba gue sedih harus berpisah sama laptop yang udah dua tahun nemenin gue. Nemenin gue lembur, chatting berjam-jam, nulis novel, ngetik personal diary… Ini laptop bener-bener saksi perjalanan hidup gue 2 tahun belakangan ini banget deh. Nggak nyangka pisah sama si laptop lemot bisa bikin gue sedih juga. Padahal kemaren-kemaren gue sering marahin si laptop karena suka lemot di saat yang genting, hehehehe.

Sebenernya gue seneng akhirnya berani membuat langkah baru dalam hidup gue. Kalo pagi hari selama seminggu belakangan ini juga rasanya langkah gue enteng banget. Tapi entah kenapa kalo udah malem, gue suka ngerasa agak-agak gimanaaa gitu. Terus sedih rasanya waktu mulai beresin meja kerja gue di kantor klien, beresin loker gue di kantor EY, beresin file kerjaan buat ditransfer ke temen setim…

Semalem gue sampe mikir begini di dalam hati, “Kenapa gue ngerasa sedih yah? Ini kan keputusan gue sendiri! Dan kenapa temen-temen gue yang udah duluan resign nggak ada yang kelihatan sedih di hari terakhir mereka?”

Tadi sore, setelah gue balikin laptop dan id card ke asset management EY, gue balik lagi ke lantai 5 buat pamit sama temen-temen yang ada di sana. Aneh banget rasanya waktu tadi mau masuk ke kantor harus nunggu dibukain pintu dari dalem sama orang lain… Dan waktu melangkah menuju zone 2… entah kenapa gue jadi deg-degan.

Yang pertama gue hampiri itu si Arlene, temen yang udah dua kali kerja satu engagement sama gue, pernah juga satu kali tugas ke luar kota bareng gue. Gue sempet bingung, enaknya bilang apa… Suara gue juga sempet agak gemeteran waktu pamit sama Arlin. Entah dia nyadar apa enggak sama perubahan suara gue itu… Abis dari Arlin, gue keliling zone 2 buat nyalamin temen-temen yang gue kenal. Abis itu, barulah gue pamit sama 3 manajer gue… Sempet ngobrol-ngobrol sama mereka, haha-hihi seperti biasa, salaman, abis itu gue naik ke lantai 7, nyari Luzy, temen seperjuangan gue di engagement terakhir. Terus di lantai 7, gue, Luzy, dan Listya asyik foto-foto narsis yang sempet ngalangin orang-orang yang mau lewat, hehehehe.

Pintu kaca... saksi bisu setiap perpisahan.

Abis dari EY gue langsung beranjak ke kantor klien yang kebetulan letaknya deket banget sama kantor EY di BEJ. Gue sengaja ke sana karena sebagian besar temen-temen setim gue masih sibuk di kantor klien. Sampe sana gue langsung ngajak mereka foto bareng. As usual kalo mau foto-foto pastilah pake acara heboh dulu. Setelah foto-foto, again, gue salamin temen gue satu per satu…

Setelah selesai bersalam-salaman, gue pun pulang ke rumah… Tadinya sempet mau pergi nonton, tapi nggak jadi karena filmnya nggak ada yang menarik. Kemudian sambil nunggu bis, gue bikin status begini di Facebook gue, “Biasanya orang lain kalo hari terakhir kerja sibuk bawa-bawa kardus dan kantong plastik. Kalo gue malah sibuk nenteng-nenteng kamera digital buat foto-foto, hehehehe.”

Begitu sampe rumah… gue menyadari satu hal: hari ini pun, di mata orang lain, gue enggak kelihatan sedih sama sekali. Malah ada beberapa teman di kantor yang bilang, “Si Ipeh mukanya sumringah banget.” Waktu gue lagi ngobrol-ngobrol sama si bos, ada temen yang lewat, sempet ngegodain gue yang mau resign sambil ketawa-tawa. Gue juga ikut ketawa, nyengir-nyengir, cekikikan… Ditambah lagi isi status Facebook gue itu juga sama sekali enggak menunjukkan kesedihan yang gue rasakan…

Jadi ternyata, begitulah rasanya resign dari EY… Lega, seneng, dan bangga sama diri sendiri karena udah berani mengambil keputusan besar, tapi tetap sedih, khawatir, dan sedikit takut untuk melangkah pergi.

Gimana kalo kerjaan baru gue malah nggak lebih baik dari EY?

Gimana kalo temen-temen di tempat baru nggak asyik kayak di EY?

Gimana kalo tiba-tiba gue kangen sama temen-temen di EY?

Gimana kalo resign dari EY nggak bikin gue jadi lebih happy?????

Ternyata yah, ada untungnya juga temen-temen yang paling deket sama gue di EY udah pada resign duluan. Seandainya hari ini gue yang resign duluan dan ninggalin mereka semua sekaligus… haduuuh, nggak kebayang deh gimana rasanya. Dan sekarang gue jadi tau… Gue rasa waktu itu mereka  (temen-temen yang udah resign duluan) juga sama kayak gue: sedih, tapi nggak mau kelihatan sedih.

Gimanapun, dan apapun yang gue rasakan beberapa hari belakangan ini, insyaallah gue enggak nyesel mutusin untuk resign. Kalo emang gue udah tau nggak ingin selamanya kerja di sini, ya kenapa harus nunggu lagi? Life is short, dan gue takut nggak keburu mencapai apa yang gue inginkan kalo nggak buru-buru resign. Lagipula toh, gue udah nunggu cukup lama untuk resign dari sini. So I do believe this is a right thing for me to do.

Bye bye EY… Sure I’m gonna miss you so:)